Today, Love Is Begin PART 16

Today, Love is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

PART 16

 

Kim bum pulang ke rumah dengan suasana hati yang tidak baik. Ia marah dan kesal. Ia sampai membanting pintu rumahnya cukup keras. Membuat soo jin yang sedang tiduran di sofa seraya menonton televisi sangat kaget.
“Yak…..” kesal soo jin. Tapi kim bum tak menghiraukannya, dan langsung berjalan menuju kamarnya. Soo jin mengerutkan keningnya.
“Hey….soal so eunni….” ujar soo jin tiba-tiba. Kim bum mendadak menghentikan langkahnya dengan tangan yang sudah memegang knop pintu.
“Aku menyukainya, dia gadis yang baik dan penuh semangat.” Ujar soo jin. “Jadi, suatu hari nanti aku ingin mengajaknya ke Daegu !” Lanjutnya.
Kim bum langsung memutar kepalanya untuk melihat soo jin dengan mata yang sudah membulat.

 

-today love is begin-

 

“Oh…..jadi kau…” ujar kim bum.
Soo jin menatap kim bum bingung. “Mwoya?” Tanyanya.
“Tch…..” kim bum berdecak. “Kau memanfaatkan gadis polos itu, huh?” Tanya kim bum.
“Maksudmu, so eunnie?” Tanya soo jin.
“Kau memanfaatkannya selagi dia adalah kekasihku, kan? Memintanya agar dia bisa membujukku untuk pergi ke Daegu. Benar kan?” Nada bicara kim bum meninggi. Soo jin membelalakkan matanya dan ia pun bangkit dari duduknya.
“YAK !!!” Teriak soo jin. Emosinya tersulut juga. Kim bum menatap soo jin dengan tatapan menantang.
“APA MAKSUDMU DENGAN MEMANFAATKAN?! AKU SAMA SEKALI TIDAK MEMANFAATKAN SO EUNNIE !!!” Teriak soo jin.
“KALAU BUKAN KAU, SIAPA LAGI HUH?” Kim bum balas berteriak. “DENGAN TIBA-TIBA DIA MEMINTAKU UNTUK PERGI KE DAEGU, SUDAH JELAS INI ULAHMU !” lanjutnya.
“LALU??? JIKA AKU MEMANG MEMANFAATKANNYA, APA YANG AKAN KAU LAKUKAN KEPADAKU? HEOH???” Soo jin berkacak pinggang, seakan ia menantang sang adik.
“Jangan bawa-bawa dia ke dalam urusan ini !” Nada bicara kim bum akhirnya merendah. “Antara aku, kau, dan wanita tua itu tidak ada hubungannya dengan so eun.” Lanjutnya lalu berbalik hendak masuk ke dalam kamar. Namun tiba-tiba……
PLAK~~~~~
Soo jin menampar kim bum dengan keras. Kim bum langsung memegangi pipinya itu dan menatap soo jin dengan wajah kaget.
“SAMPAI KAPAN?” Tanya soo jin. “SAMPAI KAPAN KAU AKAN TERUS SEPERTI INI KEPADA IBUMU, HUH? KAU MEMANG TIDAK TAHU DENGAN JELAS JIKA DIA BEGITU MERINDUKAN ANAK LAKI-LAKINYA. KAU SELALU MENGHINDAR SETIAP KALI KAU MERASA JIKA KAU JUGA MERINDUKAN EOMMA. JANGAN LAGI BERSIKAP SEAKAN KAU TIDAK PEDULI, PADAHAL NYATANYA KAU JUGA MERINDUKAN EOMMA KAN? SUDAH BERAPA TAHUN? LEBIH DARI 10 TAHUN KAN? KAU BELUM PERNAH BERTEMU LAGI DENGAN EOMMA?!” Mata soo jin sampai memerah menahan tangis. Meskipun dia adalah sosok kakak yang kasar dan tegar dari luar, tapi jika sudah menyangkut soal ibu dan adiknya ini, hatinya mendadak rapuh. Kim bum masih membisu.
“Jika kau terus memendamnya seperti itu, rasa sakit di hatimu akan semakin besar. Jika kau rindu padanya, akui saja kau rindu ! Jika kau memang membencinya, akui saja kau benci. Tapi jangan dengan cara seperti ini ! Aku sudah lelah menyikapi perilaku bocah sepertimu ! Aku tahu kau memang sakit hati dengan kejadian yang lalu, tapi kau tidak pernah tahu jika eomma benar-benar tulus menyayangimu ! Dia begitu menderita saat jauh dari anak laki-lakinya yang masih kecil.” Jelas soo jin. Yeah, air matanya menetes, namun dengan cepat ia menghapusnya.
“Aku harap, kau ingin memikirkannya lebih matang.” Ujar soo jin lalu ia masuk ke dalam kamarnya. Sementara itu, kim bum masih membisu di tempat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, bahkan untuk berfikir saja pun tidak bisa.

 

-today love is begin-

 

So eun terus saja berguling-guling di kasurnya. Meskipun sudah malam, tapi ia masih merasa cemas. Ia cemas denga kim bum. Tadi siang, ia baru saja melakukan kesalahan kepada kim bum. Ia tidak menyangka jika kim bum akan sangat sensitif seperti itu jika menyangkut ibunya. So eun menyesal dan merasa bersalah.
“Eottohkae???” Ujarnya gelisah. Ponsel tak pernah lepas dari tangannya, bimbang antara menghubungi kim bum atau membiarkannya saja.
“Jika menghubunginya pun, dia pasti tidak akan menjawab.” Ujarnya.
“Huaaaa bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan???” So eun mengacak rambutnya.
“Eo……apakah aku menghubungi soo jin eonni saja?” Pikirnya. So eun segera mencari nomor ponsel soo jin di ponselnya. Tapi sesaat sebelum ia menyentuh layar hijau untuk mulai menelpon, tangannya tiba-tiba terhenti.
“Ini sudah malam, jika aku menghubunginya aku akan mengganggu.” Ujarnya. So eun pun membatalkan niatnya.
“Haaaaaah….” Ia menghela nafasnya dan memilih menyimpan ponselnya.
“Mungkin besok akan lebih baik.” Gumamnya.

 

-today love is begin-

 

Soo jin terbangun dari tidurnya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Soo jin memang baru tidur sekitar 3 jam yang lalu setelah sebelumnya ia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Soo jin perlahan mendudukkan dirinya dan mengurut pundaknya. Tidur sesingkat ini cukup membuat kepalanya sedikit pusing. Ia pun tak makan malam dan terus berada di kamar setelah ia menampar sang adik dan mengoceh kepadanya kemarin sore. Soo jin pun keluar dari kamarnya dan pergi menuju dapur. Ia mengambil air mineral dan meminumnya. Perutnya sedikit keroncongan, namun setelah ia melihat isi kulkas, ternyata tidak ada apa-apa disana. Ia juga penasaran apakah kim bum sudah bangun atau belum. Dengan memberanikan diri ia pun berjalan menuju kamar adiknya.
Tok tok tok~~~
Soo jin mengetuk pintu kamar kim bum hingga tiga kali. Namun belum juha ada sautan.
Tok tok~~~
“bummie~~~~~” panggil soo jin. “Kau sudah bangun? Aku akan membeli makanan ke mini market~ kau tunggu aku dan jangan sarapan di luar, ara? Sebagai permintaan maafku aku akan membuatkanmu sarapan.” Ujar soo jin.
Hening…tak ada tanda-tanda yang diberikan kim bum dari dalam kamar.
“Bummie???” Panggil soo jin seraya mengetuk pintu kembali. Soo jin penasaran, ia pun memegang knop pintu kamar kim bum dan memutarnya. Ternyata pintunya tidak di kunci. Dengan perlahan soo jin membukanya, ia menyembulkan kepalanya ke dalam kamar sang adik. Tapi ternyata, tak ada siapa-siapa di dalam.
“Apa dia sudah bangun?” Pikir soo jin. Soo jin pun memutar kepalanya ke arah kamar mandi tapi ternyata tak ada tanda-tanda kim bum baru memakai kamar mandi. Semuanya masih terlihat sama seperti kemarin sore. Soo ji mengerutkan keningnya.

 

-today love is begin-

 

“Hoooaaammm…” Il woo menguap lebar seraya berjalan keluar dari kamarnya. Di sofa di ruang tempat menonton terlihat kim bum tengah tiduran. Il woo membulatkan matanya.
“WAAAAAAAAAAAAAAAAAA” Il woo berteriak kaget. Kim bum yang memang tidak sepenuhnya tidur langsung menutup kedua telinganya.
“B….bum-ah!??? Kenapa kau ada disini?” Kaget il woo seraya perlahan-lahan mendekati kim bum.
Kim bum mendesah lalu mendudukkan dirinya. “Kau tidak ingat?” Tanya kim bum. Il woo tampak kebingungan, ia ikut mendudukan dirinya di samping kim bum.
“Benar-benar idiot !” Ejek kim bum. Il woo menatap kim bum dengan penuh tanda tanya, pasalnya ia sama sekali tidak ingat kenapa kim bum bisa sampai ada di rumahnya. Rumah kecil yang hanya ia tinggali sendiri ini.
“Akh….” Kim bum mengurut pelipisnya. Ia tidak bisa tidur semalaman, hingga pagi ini pun.
“Aku memang belum ingat sepenuhnya kenapa kau bisa ada di rumahku. Tapi, aku akan mengambilkan minum dulu untukmu.” Ujar il woo lalu berjalan menuju dapur.
Kim bum menundukkan kepalanya. Perkataan kakanya terus saja berputar-putar dan tidak mau pergi dari pikirannya. Membuat dirinya pusing.
“Minumlah.” Il woo menyodorkan segelas air putih kepada kim bum. Kim bum menerimanya dan meminumnya sedikit.
“Kau kelihatan banyak pikiran. Apa sesuatu telah terjadi?” Tanya il woo.
“Ani….gwaenchana.” balas kim bum. Il woo menatap kim bum aneh, tapi ia hanya bisa angguk-angguk saja.
“Kalau begitu, sekarang bisa kau ceritakan kenapa kau ada disini?” Tanya il woo. Kim bum menatap il woo tak menyangka. Laki-laki ini tak mengingatnya sama sekali?

 

Flashback
Kim bum sudah berdiri di depan pintu rumah il woo. Ia sudah beberapa kali mengetuk pintu.
“Eo….siapa itu?” Suara il woo terdengar surau di telinga kim bum. Tak lama kemudian pintu pun terbuka.
“Oh….kau kim bum.” Ujar il woo setengah tidur saat ia melihat ternyata yang mengetuk pintu adalah kim bum. Mata il woo pun bahkan hanya terbuka sedikit. Setelah kim bum masuk, il woo kembali berjalan menuju kamarnya dengan langkah lemas dan mata tertutup. Ia meninggalkan kim bum yang masih berdiri di dekat pintu. Bahkan il woo pun lupa menutup kembali pintunya dan membuat kim bum yang menutup pintunya.
“Aku akan menginap malam ini di rumahmu.” Ujar kim bum.
“Hmm…oke oke.” Balas il woo lalu langsung menghilang di balik pintu kamarnya. Kim bum menghela nafasnya lalu menidurkan dirinya di sofa.
End of Flashback

 

“Eo….benarkah?” Tanya il woo. ” Aku benar-benar tidak mengingatnya.” Ujarnya.
“Aku mungkin berjalan dan bicara sambil tidur, aku benar-benar mengantuk kemarin.” Tambahnya.
“Tidak masalah kau ingat atau tidak. Tapi terimakasih sudah mengizinkanku tidur disini.” Balas kim bum.
“Yak…..” Il woo menyenggol lengan il woo. “Kau seperti bukan kepada sahabat saja….tidur semaumu disini pun aku tak apa.” Ujarnya.
Kim bum menyunggingkan senyumnya sedikit. Sangat sedikit.
“Heh…..sekarang ini kau terlihat aneh, sesuatu pasti sedang terjadi kan? Benar? Wajahmu tidak bisa membohongiku !” Il woo menatap menyelidik wajah kim bum. Kim bum diam.
“Ah….apakah dengan so eun-ssi?” Tebak il woo.
“Ani.” Jawab kim bum. Il woo mengerutkan keningnya. “Lalu?” Tanyanya.
“Aku memang sedang banyak pikiran, tapi aku tidak ingin membahasnya.” Balas kim bum.
“Arasseo arasseo……” Il woo mengerti. “Ah ya jam 10 pagi ini aku ada kerja part time, aku mungkin akan pulang sampai malam.” Il woo memberi tahu. Kim bum mengangguk. “Lagipula nanti pun aku akan pergi.” Balas kim bum.
“Yasudah kalau begitu.” Il woo berjalan menuju kamar mandi.

 

-today love is begin-

Ting tong~~~~
So eun sudah berdiri di depan apartemen kim bum. Sebelumnya ia cukup ragu untuk datang kesini. Namun setelah berfikir cukup lama, akhirnya so eun pun memutuskan untuk datang ke apartemen kim bum untuk berbicara kepadanya langsung.
Ting tong~~~~
So eun kembali menekan bel. Tak lama kemudian pintu pun terbuka.
“Oh….so eunnie.” Ternyata soo jin yang membukakan pintu.
“Eonni, selamat siang.” So eun membungkukkan badannya.
“Aku kira siapa yang datang, kajja masuklah.” Soo jin menyuruh so eun masuk. So eun pun masuk ke dalam dengan perasaan gelisah. Apa yang harus ia katakan saat bertemu dengan kim bum sekarang? Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana caranya ia bertatap muka secara langsung dengan kim bum setelah kejadian kemarin? Mungkin kim bum masih kecewa padanya.
So eun duduk di kursi dengan perasaan tegang.
“Aku akan membawa minum dulu.” Ujar soo jin.
“Ah….gwaenchana eonni. Kau tidak perlu repot-repot.” Tolak so eun halus.
“Ehhh…..wae?” Tanya soo jin.
“Ummm….sebenarnya…” So eun meremas tangannya. “Aku kemari ingin bertemu dengan bum-ah. Mungkin dia masih marah padaku, jadi aku ingin bicara dan minta maaf langsung padanya.” jelas so eun. Soo jin mengurungkan niatnya pergi ke dapur dan ikut duduk di samping so eun.
“Anak itu belum juga pulang. Sepertinya kemarin malam di pergi gara-gara aku.” Ujad soo jin. So eun langsung menatap soo jin.
“Haaah….” Soo jin menghela nafasnya. “Kakak macam apa aku ini? Dengan begitu mudah menampar adiknya dengan keras? Sudah tak terhitung berapa kali tangan ini menamparnya.” Soo jin menatap telapak tangannya.
“Eonni….” panggil so eun. “Mian….aku mungkin tidak bisa membujuk kim bum untuk pergi ke daegu menemui ibunya kim bum dan eonni. Aku rasa jika aku melakukannya, aku akan terlihat ikut campur.” Jelas so eun.
Soo jin tersenyum. “Ani….seharusnya aku yang minta maaf. Tidak seharusnya aku melibatkanmu. Memang cukup sulit bagi bummie untuk menerimanya. Membiarkannya untuk berfikir sendiri memang lebih baik. Aku juga tak seharusnya memaksa dia.” Balas soo jin. So eun hanya menatap saja kakak kekasihnya itu.

 

-today love is begin-

So eun sedari tadi terus menghubungi kim bum. Tapi sampai sekarang ponsel kim bum belum juga aktif. So eun benar-benar gelisah. Tiba-tiba ia teringat dengan jung il woo. Ia mencoba menghubunginya tapi ternyata sama saja, sibuk ! Yeah kita tahu kan, il woo sedang kerja paruh waktu jadi mungkin ia sibuk dan tak sempat mengangkat telponnya, atau bahkan ia meletakkan ponselnya dimana saja. So eun menghela nafasnya. Apa lagi yang harus ia lakukan? Bagaimana ia bisa tahu keberadaan kim bum jika ponselnya kim bum saja tidak aktif? Hari sudah mulai gelap. So eun khawatir dengan kondisi kim bum sekarang. Apakah semalam ia menginap di rumah temannya-il woo? Lalu apakah dia makan dengan baik? Yah hal-hal seperti itulah yang berkecamuk di kepala so eun.
“Bagaimana ini???” So eun resah. “Apakah aku harus menunggu beberapa saat lagi lalu kembali mencoba menghubunginya nanti?” Pikirnya. So eun langsung menjatuhkan dirinya ke atas kasur dengan ponsel yang masih ada dalam genggaman tangannya.

 

-today love is begin-

Kim bum berjalan dengan lesu di sekitar jalanan sepi di daerah Seokchon di dekat Taman Danau Seokchon. Ia menghela nafasnya, udara malam ini cukup dingin, angin pun berhembus cukup kencang. Mungkin udara dingin ini dikarenakan faktor dari danau seokchon juga. Sedari siang tadi, kim bum memang tak tentu arah berjalan seperti ini. Ia hanya ingin menyejukkan pikirannya dan juga hatinya. Kim bum pun merogoh ponselnya yang sedari tadi ia matikan. Saat ia mulai meng-aktifkan ponselnya, sudah muncul puluhan notifikasi panggilan tak terjawab dari kim so eun. Beberapa di antaranya juga dari kim soo jin-sang kakak. Kim bum menatap layar ponselnya sebentar, lalu ia berjalan mendekati salah satu kursi yang menghadap danau seokchon. Ia duduk di sana. Melihat danau seokchon yang menenangkan. Angin pun meniupkan helaian rambutnya.
Tiba-tiba layar ponselnya menyala, nada dering terdengar. Ternyata so eun yang menghubunginya. Kim bum menyentuh layarnya itu, mengangkat telpon so eun.
“Kim bum-ah !!!” Terdengar nada cemas di nada so eun bercampur rasa bahagia. Kim bum memilih me-loudspeaker kan suaranya.
“Kim bum-ah……kau dimana sekarang?” Tanya so eun. Kim bum tak menjawabnya. Ia malah hanya mendengarkan saja suara so eun itu.
“Aku sangat khawatir…..sudah beberapa kali aku menghubungimu tapi ponselmu terus saja tidak aktif, apalagi setelah aku tahu dari kakakmu kalau kau tidak kembali ke rumahmu dari kemarin malam. Dimana sekarang?”
Kim bum masih belum menjawab. Ia hanya sedang ingin mendengarkan suara so eun ditemani udara malam yang cukup dingin dengan pemandangan danau Seokchon yang cantik.
“Bum-ah…..” panggil so eun.
“Temani aku !” Akhirnya kim bum membuka suara. “Teruslah bicara. Aku ingin mendengar suaramu lebih lama.” Tambahnya.
“Tapi, dimana kau sekarang?” Tanya so eun.

 

-today love is begin-

So eum cepat-cepat bergegas pergi dari rumahnya. Orangtuanya sempat bingung dengan so eun. Namun mereka tak sempat mencegahnya karena so eun sudah keburu pergi dengan cepat.
Danau Seokchon tidak terlalu jauh dari rumahnya, jadi so eun memilih untuk menaiki bus saja sekitar 15 menit, lalu berjalan kaki ke taman danau Seokchon sekitar 10 menit. Disana so eun sudah bisa melihat punggung kim bum. Kim bum ternyata masih disana melihat danau Seokchon.
So eun berlari. “Bum-ah….” panggilnya. Kim bum menoleh, lalu so eun duduk di samping kim bum.
“Kau datang.” Ujar kim bum.
“Mian…..aku tak bisa datang cepat.” Balas so eun dengan nafas ngos-ngosan. Kim bum terkekeh, so eun melihatnya dengan ekspresi bingung.
“Apa kau tidak marah padaku?” Tanya so eun masih melihat kim bum dari samping. Kim bum belum menjawab.
“Aku takut karena aku terlalu ikut campur tentang masalahmu dengan ibumu, lalu kau marah dan benci kepadaku.” Lanjut so eun.
“Aku memintamu datang kesini, untuk menghiburku kan?” Balas kim bum tak menghiraukan pertanyaan so eun. “Temani aku dan hibur aku disini !” Ujarnya.
“Ta….tapi, tak ada satu lelucon pun yang ada di otakku. Jika aku mengatakan sesuatu yang lucu, tapi kau tidak tertawa, aku akan merasa tidak berguna.” Balas so eun.
Kim bum menghela nafasnya. Lalu ia melirik ke samping, melihat so eun yang sedang menatapnya dengan wajah polos. Kim bum perlahan mengangkat tangan kanannya dan menyentuh pipi so eun. So eun kaget dengan apa yang kim bum lakukan.
“Kau hangat.” Ujar kim bum.
“A……tanganmu dingin sekali !” Pekik so eun. “Sudah berama lama kau berada di luar?” Tanya so eun.
Kim bum perlahan melepaskan tangannya dari pipi so eun dan kembali melihat ke arah danau.
“Hari ini, terlalu banyak yang aku pikirkan.” Ujar kim bum. So eun sudah tahu dengan jelas. Yang kim bum pikirkan pasti soal ibunya. So eun lalu semakin merapat mendekati kim bum. Ia meraih ke dua tangan kim bum. Kim bum cukup kaget.
“Jika kau kedinginan. Aku akan menghangatkanmu.” Ujar so eun seraya meletakkan kedua tangan kim bum di kedua pipinya. Kim bum menatap tepat mata so eun.
“Aku tak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya. Kau terlihat menyedihkan sekali.” Ujar so eun. Kim bum masih diam. “Aku rasa, kau lebih baik bersikap kasar saja daripada menyedihkan sepert ini.” So eun memanyunkan bibirnya. Kim bum menatap so eun semakin dalam.
“Aku…..” ujar kim bum. “Setelah aku memikirkannya, aku akan pergi ke Daegu.” Lanjut kim bum yang membuat so eun benar-benar kaget. So eun tak menyangka kim bum berubah pikiran sangat cepat.
“Jinjjaru?” Tanya so eun, ia tak bisa menyembunyikan lagi rasa senangnya. So eun tersenyum sangat lebar.

 

-today love is begin-

 

“Eonni………….miaaaaaaan aku telaaaaaat !” So eun berlari menghampiri soo jin dan kim bum yang sedang duduk menunggunya di halte bus. Soo jin langsung berdiri.
“Gwaenchana.” Balas soo jin. Nafas so eun masih ngos-ngosan.
“Aku membawa oleh-oleh yang dibuat oleh ibuku.” Ujar so eun.
“Jinjja?” Tanya soo jin. So eun mengangguk.
“Aku tak tahu apa yang disukai oleh ibunya eonni dan bum-ah, jadi aku meminta eomma untuk membuatkan beberapa makanan.” Ujar so eun.
“Huaaaa gomawoyo so eunnie.” Soo jin terlihat senang. Sementara kim bum masih duduk di kursi. Ini adalah kali pertamanya lagi, dia pergi ke Daegu untuk menemui sang ibu setelah beberapa tahun lamanya. Jujur, sebenarnya ia juga tidak tahu kesan apa yang harus ia berikan saat bertemu dengan ibunya nanti. Diam? Menyapa? Atau……
“Busnya sudah tiba.” Ujar soo jin. Soo jin dan so eun segera naik ke dalam bus yang akan membawa mereka ke stasiun kereta api. Kim bum juga perlahan ikut menaiki bus seraya membawa satu koper besar di tangannya.
Tak lama, mereka pun tiba di stasiun. Hanya menunggu beberapa menit disana. Kereta api jurusan Daegu pun sudah menanti dan mereka segera naik. Selama perjalanan pun kim bum hanya diam saja, berbeda dengan so eun dan soo jin yang terus saja mengobrol. Tampaknya so eun begitu antusias akan bertemu dengan ibunya kim bum. Perjalan ke Daegu cukup memakan waktu lama. Soo jin tengah tertidur sementara so eun menikmati pemandangan alam lewat jendela. Ia duduk di samping kim bum. Sementata soo jin di depan mereka. Tiba-tiba so eun menyentuh-nyentuh lengan kim bum dengan telunjuknya.
“Hey….bum-ah.” Panggil so eun. Kim bum menoleh.
“Aku penasaran, seperti apa ibumu itu?” Tanya so eun. Kim bum diam sejenak.
“Dia hanya wanita tua biasa.” Balas kim bum.
“Maksudku…..jika lebih spesifik….orang seperti apa dia? Apakah ramah? Mudah bergaul? Atau…..”
“Sudah bertahun-tahun aku tak bertemu dengannya.” Potong kim bum. “Jadi aku tak terlalu mengingat hal itu.” Lanjutnya.
“A…..mian…..aku hanya penasaran, terlebih……soo jin eonni sudah susah payah untuk mengajakku.” So eun mengerucutkan bibirnya.
“Lebih baik kau tidur saja ! Perjalanan masih jauh.” Suruh kim bum.

 

-today love is begin-

“Eommaaaaaa….” soo jin berteriak sambil masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang ia tinggali bersama ibunya di Daegu.
“Ah….kau sudah pulang soo jinnie.” Ibunya keluar dari dapur. Namun ekspresi wajahnya berubah menjadi kaget saat ia melihat anak laki-lakinya ada disini.
“Ah ya, aku membawa bummie juga kemari.” Ujar soo jin yang menyadari kekagetan ibunya itu. Kim bum juga tampak diam.
“Dan ini so eunnie. Dia pacarnya bummie.” Ujar soo jin enteng. So eun mendadak nervous diperkenalkan oleh soo jin kepada ibunya sang kekasih.
“Perkenalkan, namaku kim so eun. Bagaimana kabar eommonim?” So eun membungkukkan badannya 90 derajat.
“Senang bertemu denganmu so eunnie.” Ibunya kim bum tersenyum. So eun kaget dipanggil akrab oleh ibunya kim bum padahal mereka baru saja bertemu. Ini mengingatkannya pada soo jin.
“Aku ke kamar dulu. So eunnie, aku simpan tasmu dan baju-bajumu di kamarku, ya?” Ujar soo jin lalu masuk ke dalam kamarnya sambil membawa koper miliknya dan tas besar milik so eun.
“Terimakasih karena sudah mau datang kemari, aku sangat senang.” Ujar ibunya kim bum dengan senyum ramahnya. So eun sedikit terkesima dengan senyumnya itu. Senyum yang menyejukkan. Matanya ibu kim bum pun beralih menatap kepada sang anak-kim bum. Terlihat tatapan yang amat rindu dari matanya kepada kim bum.
“Sudah sangat lama, kim bummie.” Ujarnya. Kim bum hanya menatap ibunya saja.
“Bagaimana kabarmu?” Tanya sang ibu.
“Seperti biasa, normal.” Jawab kim bum seraya memalingkan pandangannya.
“Ah….arrasseo…..arrasseo…..normal adalah yang terbaik.” Balas sang ibu. Kim bum diam.
So eun hanya memerhatikan saja percakapan singkat antara anak dan ibu itu yang terasa begitu canggung. Lalu ia teringat dengan oleh-oleh yang ia bawa.
“Ah ya….umm…..aku membawa oleh-oleh untuk eommonim. Meskipun tidak seberapa tapi aku harap kau menyukainya.” So eun menyerahkan sekotak besar berisi makanan buatan ibunya pada ibu kim bum.
“Aigooooo.” Ibu kim bum menerimanya dengan sangat senang. “seharusnya kau tak usah repot-repot, tapi aku dengan senang hati menerimanya.” Ujarnya dengan senyum yang tampak cerah. Tak terlihat sama sekali wanita di depannya ini adalah wanita yang sudah tua.
“Kalian pasti lapar kan? Perjalanan memang cukup jauh.” Ujar ibunya kim bum. “Aku akan menyiapkan dulu makanan, kalian istirahatlah dulu.” Suruhnya, lalu ia pun masuk ke dalam dapur. Tak kama keluarlah soo jin dari kamarnya.
“Dimana eomma?” Tanya soo jin yang hanya melihat kim bum dan so eun di ruang tengah.
“Eommonim ada di dapur, eonni.” Jawab so eun. Soo jin mengangguk lalu masuk ke dalam dapur.
“Bum-ah….” panggil so eun. Kim bum menatapnya. “Ibumu sangat ramah, dia cantik dan mudah bergaul. Aku menyukainya.” Bisik so eun.
“Dia hanya berakting.” Balas kim bum datar.
“Ne???”

 

-today love is begin-

Makanan sudah tersaji di meja di ruang tengah. Mereka berempat duduk berhadapan. So eun duduk di samping kim bum, dan soo jin dengan ibunya.
“Woooah sepertinya lezat sekali.” Ujar soo jin melihat makanan-makanan itu yang melambai-lambai padanya minta dimakan.
“Kebetulan tadi eomma baru selesai memasak, ditambah ada oleh-oleh juga dari so eunnie.” Ujar ibunya kim bum. Soo jin mengangguk faham.
“Kajja….makanlah !” Suruh ibunya kim bum seraya mengambil mangkuk nasi milik so eun dan mengisinya, lalu ia menyodorkan semangkuk nasi itu kepada so eun.
“Ah…..gomawo…” so eun menerima semangkuk nasi itu.
“Bummie, kau juga.” Ibunya hendak mengambil mangkuk nasi milik kim bum. Tapi kim bum menolak.
“Aku bisa sendiri.” Ujarnya, lalu menyangkul nasi itu oleh dirinya. Muncul sedikit suasana tidak nyaman disana.
So eun dan soo jin makan cukup lahap, sementara kim bum dan ibunya terlihat tak berselera. Terasa canggung memang, seorang anak dan ibu yang sudah lama tidak bertemu dipertemukan kembali dalam situasi seperti ini, situasi dimana kim bum tak menyukai ibunya sendiri dan ibunya yang memiliki rasa rindu sangat menggebu pada anak yang seperti tak menyukainya itu. Ibu kim bum menyudahi makannya, dan memilih untuk minum soju yang tersedia di meja.
“Eomma, kau akan minum?” Tanya soo jin.
“Hanya sedikit.” Ujar ibunya.
“Jangan terlalu banyak, kau akan memalukan jika sudah mabuk.” Ujar soo jin.
“Tenang saja.” Balas ibunya itu enteng.
Hampir setengah botol soju yang dihabiskan ibunya kim bum. Tingkahnya jadi aneh dan memalukan. Ia mengambil dua lembar rumput laut kering dan menempelkannya di kedua alisnya.
“Lihat ! Lihatlah kemari !” Perintah ibunya kim bum. “Aku punya alis tebal seperti rumput laut ini kekekek.” Ujarnya. So eun hanya nyengir saja.
“Eomma, kau sudah minum terlalu banyak.” Ujar soo jin.
“So eunnie lihatlah !” Ibunya kim bum mendekatkan wajahnya pada so eun. Ia menunjuk alisnya. “Alisku sangat tebal, iya kan?” Tanyanya. So eun melihat alis ibunya kim bum itu.
“Ah ne.” Jawab so eun.
“Kau ingin menyentuhnya? Ayo sentuhlah !” Tawarnya. “Umm….” so eun berfikir sejenak lalu melirik ke arah kim bum yang sudah kelihatan sangat tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
“Eomma, jangan menyuruh so eunnie melakukan hal yang aneh.” Ujar soo jin.
“Waeyo? Ini tidak aneh. Dia adalah kekasihnya anakku, aku hanya ingin dia juga menyukaiku.” Balasnya.
“Hehehe.” So eun hanya nyengir.
“So eunnie, ngomong-ngomong apa yang kau sukai dari anakku, huh?” Tanya ibunnya kim bum.
“Ehhh?” So eun mendadak gerogi. Soo jin tersenyum penuh arti mendengar pertanyaan ibunya itu.
“Meskipun aku sudah tahu alasannya so eunnie menyukai bocah tak tahu diri seperti dia. Tapi tidak ada salahnya so eunnie menceritakannya kembali.” Ujar soo jin memancing kim bum. Kim bum sudah menatap soo jin dengan tatapan ‘mati kau’ nya.
“Ayo ceritakan so eunni, aku ingin mendengarnya !” Suruh ibunya kim bum.
“Umm…..” so eun tampak malu dan bingung memulainya dari mana.
“Yak so eun, kau jangan……”
Soo jin langsung membekap mulut kim bum dengan kuat. “Kau diamlah !” Suruh soo jin pada kim bum, lalu ia juga menahan leher dan kepala kim bum dengan lengannya. Kim bum benar-benar kesal dengan tingkah kakaknya.
“Ayo so eunnie kau bisa memulai ceritanya ! Jangan hiraukan anak ini !” Perintah soo jin. So eun tampak ragu, apalagi setelah ia melihat ekspresi kim bum.
“Yak lepaskan !” Akhirnya kim bum bisa melepaskan diri dari kakanya. Kim bum langsung berdiri.
“Yak….kau mau kemana?” Tanya soo jin.
“Ke ruangan sebelah.” Balas kim bum masih dengan nada kesalnya.
“Duduklah disini ! Sudah lama kita tak berkumpul seperti ini.” Pinta ibunya.
“Aku merasa sangat tidak nyaman. Jadi aku lebih baik pindah tempat saja. Kalian bisa bercerita apa yang kalian inginkan tanpa aku.” Ujar kim bum lalu meinggalkan mereka.
“Aiyuuuh anak itu !!!” Geram soo jin.
“Gwaenchana soo jinnie.” Ujar ibunya. “Mungkin dia malu saat topik pembicaraan kita mengarah pada kisah cintanya kekekekek.” Lanjutnya.
“Yeah, kau benar juga eomma.” Balas soo jin.
Sesuai apa yang diminta oleh ibunya kim bum, so eun pun menceritakan kisah cintanya dengan kim bum. Dimulai saat berpura-pura pacaran untuk menyombongkan diri kepada teman-temannya, sampai pacaran sungguhan seperti ini. Ibunya kim bum pun sudah lelah sepertinya, ia sampai ketiduran di ruang tengah dengan kepala yang ia letakkan di meja.
“Eomma…” panggil soo jin.
“Huh?” Ibunya itu membuka matanya sedikit.
“Jika kau ingin tidur, lebih baik kau tidur di kamarmu !” Suruh soo jin.
“Ani…..aku ingin mengobrol dengan so eunnie lebih lama.” Tolaknya.
“So eunnie ceritakan lebih banyak lagi !!! Malam ini mari habiskan waktu untuk mendengarkan kisah cintanya so eunnie !” Ujar ibunya kim bum dengan semangat dan masih setengah mabuk.
“Tsk….” soo jin berdecak lalu membantu ibunya berdiri.
“Kajja ! Aku akan membantumu tidur di dalam kamar !” Soo jin membopong tubuh ibunya. So eun hendak membantu tapi soo jin menolaknya.
“Arrasseo….arrasseo….aku akan tidur !” Ujar ibunya. “Selamat malam so eunnie. Kita mengobrol lagi besok, oke?” Pintanya setengah mengantuk.
“Ah ne.” So eun mengangguk. “Selamat malam.” Ujarnya.

 

-today love is begin-

 

“Aku minta maaf karena sifat ibuku, dia memang kekanak-kanakkan saat dia sudah mabuk.” Ujar soo jin. Saat ini ia sedang mencuci piring di dapur dan so eun membantunya.
“Gwaenchanayo, aku menikmatinya. Eommonim adalah orang yang keren, dia ramah dan mudah bergaul.” Balas so eun.
“Dia memang seperti itu.” Ujar soo jin sambil menyunggingkan sedikit senyumnya. “Aku rasa dia sangat senang bertemu dengan so eunnie.” So eun menatap soo jin.
“Meskipun dia selalu dalam semangat yang tinggi. Tapi jika bertemu dengan anaknya sendiri setelah beberapa tahun lamanya, aku rasa dia akan sangat canggung dan tak tahu apa yang harus dia lakukan. Tapi, karena kehadiran so eunnie disini. Itulah yang membuatnya merasa senang dan bisa menyembunyikan rasa canggungnya.” Cerita soo jin. So eun masih menatap kakak sang kekasih itu.
“Jadi….itulah mengapa eonni mengajakku ke Daegu, untuk membuat eommonim senang?” Tanya so eun.
Soo jin menatap so eun, lalu tersenyum.
“Meskipun dari luar dia terlihat selalu bersemangat dan menyenangkan, tapi dari dalam dia sangat kesepian.” Ujar soo jin. So eun terdiam.
‘Mungkinkah itu yang dimaksud kim bum? Dia hanya berakting?’ Batin so eun.

 

-today love is begin-

So eun baru selesai mandi dan ia sudah berpakaian baju tidur. So eun berniat menemui kim bum, jadi sekeluarnya dari kamar mandi ia langsung menuju kamarnya kim bum.
Tok tok tok~ so eun mengetuk pintu.
“Bum-ah, apa kau sedang tidak sibuk? Ini aku.” Ujar so eun dari balik pintu. Kim bum yang sedang duduk di lantai kamarnya sembari menonton televisi pun menoleh ke arah pintu.
“Ah….masuklah !” Balas kim bum. Perlahan so eun pun membuka pintunya dan masuk ke dalam. Ia melihat kim bum tengah fokus pada televisi, lalu ia pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
“Apa yang sedang kau tonton?” Tanya so eun.
“Hanya acara yang membosankan.” Balas kim bum. “Ngomong-ngomong, apa kau baru saja selesai mandi?” Tanya kim bum seraya memperhatikan rambut so eun yang basah.
“Ah iya. Kau juga harus segera mandi !” Balas so eun.
“Bagaimana acara mengobrolmu? Apa kau merasa senang sekarang, huh?” Tanya kim bum.
“Aku sangat senang.” Jawab so eun dengan bersemangat. “Ibumu sangat menyenangkan dan seperti teman. Tapi dia terlalu banyak minum dan akhirnya tertidur.” Lanjut so eun.
Kim bum menyunggingkan senyumnya sedikit. Hanya sedikit. “Aku mengerti.” Balasnya. “Itulah keadaan keluargaku yang tak ada harapan.” Lanjutnya. So eun cukup terkesiap mendengarnya. Melihat kim bum yang tadi baru saja tersenyum meskipun sangat sedikit, itu membuktikan bahwa dia tak sepenuhnya membenci ibunya. Sebenarnya, dia juga ingin memiliki hubungan baik dengan ibunya. Itulah mengapa dia pada akhirnya mengambil keputusan untuk pergi ke Daegu bersama soo jin dan juga so eun. So eun tersenyum melihat kim bum yang kini sedikit menundukkan kepalanya.
“Bum-ah….” panggil so eun. Kim bum kembali menoleh. “Aku….aku saaaaangaaaaaat menyukai ibumu. Saaaaangaaaaat !” Ujar so eun.
“Huh?” Tanya kim bum.
“Hari ini aku sangat senang bisa bicara banyak dengan ibumu. Sungguh !” Ujarnya dengan mata yang berbinar-binar. “Meskipun hanya hal kecil, tapi dia dengan senang hati mendengarkanku. Dia menyenangkan dan juga benar-benar ramah.” Jelasnya. “Oleh karena itu, mari pergi bersama lagi ke Daegu lain kali !” Ajak so eun. “Ne?” Tanyanya. Bukannya menjawab, kim bum malah menatap so eun dengan aneh.
“Apa yang baru saja terjadi padamu?” Tanya kim bum. Lalu kim bum menopang dagunya dengan tangannya. Melihat reaksi kim bum yang seperti itu membuat so eun ciut. Ia sudah menggebu-gebu dan bersemangat menceritakannya kepada kim bum, tapi kim bum malah bertanya apa yang telah terjadi padanya. So eun pun hanya bisa diam saja. Terjadi keheningan beberapa menit di antara mereka. Menyadari so eun tak bicara lagi, kim bum pun memutar bola matanya dan melirik so eun. Ia melihat so eun tengah menunduk seraya memain-mainkan jari tangannya. Tiba-tiba kim bum mengangkat tangannya secara perlahan dan memegang rambut so eun. So eun menoleh.
“Seharusnya kau pergi untuk mengeringkan rambutmu !” Ujar kim bum.
“A..ah….ne….tadi aku berniat mengeringkan rambutku nanti setelah aku menemuimu.” Balas so eun. Entah kenapa jantungnya berdegup sangat cepat saat kim bum memegang beberapa helaian rambutnya itu.
“Heh…..” kim bum menyunggingkan senyumnya lalu menatap tepat ke mata so eun. Perlahan ia juga melepaskan tangannya yang memegang rambut so eun. Perasaan so eun semakin tak karuan saja di saat kim bum secara perlahan mendekatkan wajahnya pada wajahnya yang sudah benar-benar memerah. So eun langsung saja menutup matanya.

 

To Be Continued

FF ini akan berakhir di part 17. Seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya, kemungkinan Part 17 akan di protect, atau bahkan kemungkinan juga tidak. Jika misalnya part 17 nanti di protect, kalian bisa minta Pasword lewat twitter, fb, atau bbm. Kalian bisa lihat di About author soal fb dan twitter. Yang mau minta pw lewat email pun bisa. Cukup kirim ke alamat email cie.resi96@gmail.com. Jangan lupa juga ya sertakan Uname kalian saat minta pw ke saya sesuai Uname yang kalian pakai saat berkomentar di woprdpress saya. PIN : 75ADDEB8

Today, Love Is Begin PART 15

Today, Love Is Begin

kbkse110
Main cast : Kim So Eun& Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkinakanada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuktokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

PART 15
“Kalau begitu, kim bum-ssi…..kau pasti punya banyak waktu di hari libur nanti kan?” Tanya so eun.
“Hmmm.” Kim bum mengangguk. So eun tersenyum.
“Ah ya….ngomong-ngomong……kau pernah bilang kau sudah lama tak bertemu dengan ibumu, kan?” Tanya so eun, mengingatkan pada ibunya.
“Siapa yang bilang seperti itu?” Raut wajah kim bum berubah menjadi kesal.
“Tentu saja kau ! Waktu itu kau bilang ibumu tinggal jauh darimu.” Balas so eun. Kim bum diam.
“Apakah kau akan pergi menemui ibumu liburan nanti?” Tanya so eun.
“Tidak !” Jawab kim bum cepat. “Aku tidak ingin menjadi dekat dengannya !” Tambah kim bum dengan ekspresi wajah yang berubah tidak bersahabat. So eun menatap kaget kim bum.
“Ah….a….arasseo….” balas so eun. Ia tahu kim bum memang sudah lama tidak bertemu dengan ibunya. Tapi alasan kenapa ibunya tinggal jauh dengannya, belum so eun ketahui.
“Kim bum-ssi, memangnya dimana ibumu tinggal?” tanya nirin.
“Daegu.” Jawab kim bum singkat.
“Bukankah akan lebih baik jika pergi kesana untuk menemuinya meskipun hanya sebentar? Kenapa kau tidak mau pergi?” Nirin rupanya tak bisa membaca ekspresi wajah kesal kim bum. Ia malah bertanya hal yang mungkin tidak ingin kim bum jawab.
“Ah nirin-ah, kim bum-ssi pasti punya alasan sendiri kenapa ia tidak mau pergi hehe.” Malah so eun yang menjawab, ini ia lakukan agar kim bum tak berujung marah.
“Aku sedang tidak ingin membicarakannya.” Ujar kim bum. Nirin mengangguk mengerti.
Tapi tiba-tiba kim bum menghentikan langkahnya saat ia menangkap seseorang yang tidak asing di matanya sedang berdiri beberapa meter di depannya.
“Waeyo kim bum-ssi?” Tanya so eun heran. Ia melihat ekspresi kaget di wajah kim bum. Kim bum tidak menjawab, lalu so eun pun memilih mengikuti arah pandangan kim bum. So eun melihat ada seorang perempuan dengan perawakan tinggi sekitar 168 cm berjalan menghampiri mereka. Perempuan itu memakai kacamata dan terlihat begitu fashionable dengan baju-baju dan aksesoris yang ia kenakan. Perempuan itu juga terliat cantik dan mempesona.
Perlahan, wanita itu membuka kacamatanya, dan matanya menunjukkan kekagetan saat melihat kim bum.
“Bum-ah? Kim bum-ah???” Panggilnya dengan wajah kaget. Kim bum juga masih menunjukkan wajah kagetnya. Sekarang so eun juga ikutan kaget. Sementara nirin tidak mengerti dengan situasi seperti ini.

 

Apa yang akan terjadi lagi dengan kisahku dengan kim bum-ssi…..setelah semua masalah terselesaikan satu persatu, apakah masalah baru akan muncul lagi???? Perempuan itu? Siapa perempuan itu? Apakah perempuan itu perempuan di masa lalunya kim bum-ssi? Aku tidak pernah melihat kim bum-ssi sekaget ini. OH MY GOD !!!! Jika itu benar, apa yang akan terjadi denganku?

-today love is begin-

 

“Bum-ah, benarkah ini kau???” Tanya wanita itu yang kini memperhatikan kim bum dari atas sampai bawah.
“Aigoooooo, kebetulan sekali kita bertemu disini. Barusaja aku akan menghubungimu.” Ujar wanita itu.
Mendengar wanita itu berbicara nonformal bahkan memanggil kim bum dengan akrab, membuat so eun menarik kesimpukan bahwa hubungan antara wanita ini dengan kim bum sangat dekat. Tapi so eun masih was-was, takut jika wanita cantik yang berdiri di hadapan mereka punya hubungan khusus dengan kim bum di masa lalu.
“Kau….” barulah kim bum bersuara. “Kenapa kau berkeliaran di Seoul? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya kim bum enteng. Ia tak suka dan tak nyaman dengan kehadiran wanita ini.
“MWO? Berkeliaran katamu !??” Pekik wanita itu. “KAUUU !” Wanita itu terlihat geram.
Plaaak~~~~ wanita itu menampar pipi kim bum cukup keras. So eun dan nirin shock berat dengan apa yang mereka lihat.
Kim bum memegangi pipinya dan menatap tak suka wanita itu.
“Sekali lagi kau berani berkata tidak sopan padaku, aku tak segan untuk menamparmu tiga kali lebih keras !!!” Ancam wanita itu. Wajah wanita itu pun terlihat mengerikan kini, image seorang wanita feminim yang ada dipikiran so eun menghilang setelah melihat kelakuan wanita ini.
“K…kim bum-ssi, gwaenchana?” Bisik so eun. Kim bum hanya diam. kini bagaikan ada kilatan petir dari mata kim bum dan wanita itu saat bertatapan satu sama lain.
“Kim bum-ssi, siapa dia?” Tanya nirin. Kim bum berdecak sebal.
“Dia?” Kim bum menunjuk wanita itu. “Hehhh….” lalu ia memalingkan wajahnya dari wanita itu. So eun penasaran siapa sebenarnya wanita ini. Setelah melihat apa yang terjadi barusan, so eun berfikir mana mungkin jika wanita ini adalah wanita dimasa lalunya kim bum setelah mereka yang saling benci seperti ini.
“Dia……dia kakakku.” Jawab kim bum dengan nada tidak ikhlas. Wanita itu baru menyadari keberadaan dua orang perempuan di dekatnya- so eun dan nirin. So eun benar-benar kaget dan tidak menyangka bahwa wanita ini adalah kakaknya kim bum.
‘O…omo….jadi kim bum-ssi punya kakak perempuan?’ Batin so eun.
“Ah….apakah mereka temanmu?” Tanya wanita itu pada kim bum.
“Kenalkan mereka padaku !” Pintanya. Kim bum berdecak sebal.
“Annyeooooonnngggg………” kakak kim bum itu merubah ekspresinya yang tadi kelihatan menakutkan menjadi seramah mungkin saat menyapa so eun dan nirin. Ia tersenyum lebar kepada mereka.
“Senang bertemu dengan kalian, aku Kim Soo Jin. Terimakasih sudah mau berteman dengan adikku Bummie.” Kakak kim bum yang ternyata bernama kim soo jin ini memamerkan senyum terbaiknya. Kim bum malah merasa terganggu dengan sikap kakaknya yang dibuat seimut itu.
‘Bummie?’ Batin so eun. So eun menahan senyumnya, ternyata lelaki dingin dan kasar seperti kim bum dipanggil dengan nama seimut itu oleh kakaknya. So eun tidak menduga.
“Aku Shin ni rin.” Balas nirin seraya membungkukkan tubuhnya. Melihat nirin, so eun pun cepat-cepat ikut membungkuk.
“Aku Kim so eun, senang bisa bertemu dengan kakaknya kim bum-ssi.” Ujar so eun. Kim soo jin tersenyum.

 

-today love is begin-

 

“Aku tidak menduga ternyata kim bum-ssi punya kakak perempuan !” Ujar nirin kalem. Saat ini mereka berempat-kim bum, so eun, nirin, dan soo jin- sedang berada di cafe di dekat tempat tadi mereka bertemu.
“Oh jinjja? Apakah anak ini tidak pernah mengatakan sesuatu tentangku?” Tanya soo jin. Kim bum hanya menopang dagunya dan ekspresi wajahnya terlihat kesal. So eun hanya nyengir saja.
“Yeah….mungkin karena aku hanya datang ke Seoul setiap tiga tahun sekali. Aku tinggal dengan ibuku di Daegu.” Lanjut soo jin, lalu ia meminum jus alpukat pesanannya.
“So eun-ah, kau juga tidak tahu soal ini?” Bisik nirin. So eun menggeleng. Nirin mengangguk mengerti.
“Ah….apakah diantara kalian berdua ini semuanya temannya bummie?” Tanya soo jin.
“Ah iya, aku teman satu kelasnya.” Balas nirin. So eun mendadak kikuk dan gerogi. Untuk mengatakan ia adalah kekasihnya kim bum kepada kakaknya kim bum terasa sangat mendebarkan untuknya. Sejenak so eun menatap kim bum, tapi kim bum sedang melihat ke arah lain masih dengan menopang dagunya. So eun tahu pasti kim bum kesal karena kehadiran kakaknya.
“Aku…..aku kekasihnya.” Ujar so eun akhirnya. Kim bum langsung mengalihkan pandangannya pada so eun. Begitu pula soo jin yang terlihat agak kaget, pasalnya ternyata kim bum bisa juga punya kekasih.
“Heehhh….kekasih ya?” Gumam soo jin. “Kalau begitu, terimakasih karena sudah mau menjadi pasangannya bummie.” Soo jin tersenyum pada so eun, sementara kim bum berdecak sebal dengan kata-kata sok bijak yang keluar dari mulut kakaknya.
“Jika dia kurang ajar, beri saja dia pelajaran !” Lanjut soo jin.
“Eehh?” So eun tidak menyangka dengan respon positif dari kakaknya kim bum.
“Ah ya….baiklah…!!!” Jawab so eun semangat.
“Haaah….” soo jin menghela nafasnya.
“Sebenarnya aku masih ingin mengobrol bersama kalian disini. Tapi aku harus istirahat dan segera pulang.” Ujar soo jin, lalu ia bangkit dari duduknya.
“Memangnya kemana kau akan pulang?” Tanya kim bum.
“Tentu saja apartemenmu !” Jawab soo jin. Kim bum menghela nafasnya.
“Kau…..cepat kau bawakan koperku !” Perintah soo jin pada kim bum.
“Mwo? Kenapa kau tidak memanggil taksi saja? Merepotkan !!!” Kesal kim bum.
Pletaaaakkk~~~~ soo jin menjitak kepala kim bum dengan keras. Kim bum geram, soo jin berdiri menghadap kim bum dengan tatapan membunuhnya. So eun dan nirin mendadak takut.
“Baiklah jika kau tidak mau. Aku akan pergi ke apartemenmu lebih cepat darimu dan aku akan mengacak-acak semua bajumu lalu aku akan merobeknya seperti kertas !!! Seperti waktu itu.” Ancam soo jin dengan muka antagonis yang tergambar dari wajahnya. Kim bum akhirnya memilih pasrah dan membawa koper milik kakaknya itu.
So eun dan nirin menatap soo jin dengan takut. Ia tak menyangka jika wanita secantik dia begitu kejam terhadap sang adik.
‘Mereka ternyata begitu mirip’ batin so eun. ‘Cara mereka berbicara dan kata-kata kasar yang mereka ucapkan….wajah mereka yang berubah drastis menjadi menyeramkan….mereka ternyata memang mirip. Mungkin itulah alasan kenapa kim bum-ssi tidak pernah mau menceritakan keluarganya.’
“Baiklah kalau begitu kami pergi dulu, ne? Semoga kita bisa bertemu dan mengobrol lagi….sampai jumpa….” soo jin melambaikan tangannya pada so eun dan nirin sebentar lalu berjalan lebih dulu meninggalkan kim bum.
“Aku pergi.” Pamit kim bum pada so eun dan nirin. Lalu ia pun mulai menarik kopernya dan mengikuti soo jin. Kim bum sendiri tampak ogah-ogahan menarik koper itu.
“YAK….percepat jalanmu !!!” Suruh soo jin.
“Diam !” Kesal kim bum. Bagaimana bisa ia jalan dengan cepat disaat ia membawa koper yang seberat ini?
So eun dan nirin yang masih berada di dalam cafe hanya terbengong saja melihat tingkah mereka yang tidak akur.

 

-today love is begin-

 

“Dimana appa?” Tanya soo jin setelah mereka sampai di apartemen yang ditinggali kim bum bersama ayahnya.
“Dia masih bekerja, dia sedang berada di ilsan.” Balas kim bum. Soo jin langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa dan mengeluarkan ponselnya, kim bum menatapnya kesal.
“Hmmph…..dia masih gila kerja, huh?” Ujar soo jin. “Bukankah sia-sia saja dia bekerja keras untuk menghidupi keluarga tapi dia pun tak pernah menemui keluarganya?” Lanjut soo jin enteng.
“Itulah dia, kan?” Balas kim bum seraya meletakkan koper milik soo jin itu di dekat meja.
“Yeah baiklah….tapi aku juga sedikit merasa lega, aku akan tidur di kamarnya.” Ujar soo jin.
“Lebih baik daripada kau tidur di kamarku.” Balas kim bum lalu hendak berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.
“Selama libur dari kuliah, aku akan tinggal disini. Yeah mungkin sekitar 5 hari atau mungkin lebih.” Soo jin memberi tahu.
“HAH???” Kim bum mengurungkan niatnya menuju dapur. “Tidakkah itu terlalu lama? Bagiku hanya dua hari pun kau sudah cukup tinggal disini !!” Balas kim bum.
“KAUUU !!!!” Soo jin melayangkan bantal sofa yang ada di dekatnya kepada kim bum. Tapi dengan cepat kim bum menangkapnya dan menatap geram kakaknya itu.
“Kenapa kau benci sekali aku disini, huh? Aku hanya ingin berlibur di Seoul dan menghilangkan rasa penatku saat di Daegu….di Daegu tidak semaju di Seoul, kau tahu !? Aku akan menghabiskan waktuku di Seoul jika bisa sampai aku pingsan !” Jelas soo jin.
“Tsk…..” kim bum berdecak. “Terserah kau saja !” Balas kim bum akhirnya, lalu ia pun berjalan ke arah dapur.
“Ah ya…..ngomong-ngomong kekasihmu itu, Kim so eun-ssi kan?” Kim bum menolehkan wajahnya untuk melihat sang kakak. Tapi kemudian ia tak peduli dan masuk ke dapur untuk mengambil minum.
“Hmmmpph….ternyata masih ada perempuan yang tertarik dan tertipu dengan penampilanmu, huh?” Ejek soo jin. “Jatuh cinta kepada ‘bocah’ menjengkelkan sepertimu !!!” Lanjutnya.
Kim bum hanya menghela nafasnya. Ia sedang tidak ingin berdebat karena ia sedang lelah. Ia pun membuka pintu lemari es dan mengambil botol air mineral dari sana.
“Bahkan jika kau bukanlah adikku, aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu !” Ejeknya lagi.
Kim bum kembali menghela nafasnya. “Itu bukan urusanmu.” Ujarnya pelan.
“Heeeh….apa yang kau katakan!!??” Tanya soo jin curiga.
“Ani.” Jawabnya. Lalu kim bum meneguk air mineral itu dan menyenderkan punggungnya pada lemari es.
“Lagipula, kau pasti hanya bermain-main saja kan? Kau berpura-pura menyukainya dan bersikap ramah padanya, lalu tak lama kemudian kau akan menyakitinya, setelah itu kau akan memutuskannya. Haaah aku merasa kasihan kepada gadis itu.” Ujar soo jin enteng.
“Jika itu yang kau pikirkan, maka lebih baik kau tidak usah ikut campur !” Balas kim bum. Kim bum kembali meneguk air mineralnya.
“Yak ! Tentu saja aku harus ikut campur ! Aku tidak bisa membiarkan adikku yang kurang ajar ini bersikap seperti itu kepada perempuan !” Soo jin marah-marah. Kim bum menghela nafasnya lalu berjalan keluar dari dapur.
“Itulah kenapa, semuanya akan baik-baik saja selama aku tidak bermain-main kan?” Balas kim bum dengan kalemnya.
Mendengar jawaban yang keluar dari mulut adiknya itu soo jin merasa kaget. Ia tak pernah menyangka adiknya akan mengatakan kata-kata seperti itu.
Soo jin menatap kim bum masih dengan wajah bengongnya, kim bum menatap soo jin dengan tatapan aneh.
“Aigoooooo…..tidak mungkin !!! Jadi maksudmu, kau itu serius dengannya?” Pekik soo jin. Kim bum diam.
“EEEHH……..BWAHAHAHAHAHAHAH…..kau bercanda kan??? Mana mungkin bocah sepertimu…..” soo jin menggantungkan ucapannya.
“HAHAHAHAHAHA aigoooo.” Soo jin tertawa hingga ia memegangi perutnya. Kim bum merasa terganggu dengan reaksi kakaknya itu.
“Apakah ada yang lucu?” Kesal kim bum.
“Ekekekk….” soo jin menghapus air matanya yang keluar akibat tertawanya yang puas itu.
“Membayangkan kau memang sungguh-sungguh dan serius dengan kim so eun-ssi entah kenapa membuatku ingin tertawa…..tiga tahun tidak bertemu, kau sudah banyak berubah, huh? Sepertinya aku harus mengatakan ini kepada eomma ekekekk…..” ujar soo jin.
“Yak…..” kesal kim bum. “Ini bukan urusanmu, jadi jangan ikut campur !” Suruh kim bum lalu segera masuk ke dalam kamarnya.
Slaaaam~~~ kim bum menutup pintunya dengan keras. Melihat reaksi kim bum yang seperti itu membuat soo jin berpikir.
“Hmmm….jadi dia benar-benar serius huh? Aku benar-benar tidak percaya…..” gumam soo jin.

 

-today love is begin-

 

Keesokan harinya, Hari Minggu

So eun masih tertidur nyenyak di kasur empuknya. Maklumlah hari ini hari libur jadi pukul 8 KST ia masih asik bergumul dengan selimutnya.
Drrrrttt drrrttttt drrrrttt
Barulah disaat ponselnya bergetar, so eun mulai membuka matanya meskipun terasa sulit. Masih dengan setengah tidur, so eun pun menjangkau ponselnya yang ia simpan di meja di samping tempat tidurnya. Dia menatap layar ponselnya itu, ada sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
“Yeobosaeyo?” Jawab so eun masih dengan suaranya yang lemas.
“Ah kim so eun-ssi? Mian…..apakah aku membangunkanmu?” Tanya orang disebrang sana.
“Hmmm….ani….siapa ini?” Tanya so eun.
“Ah, aku kakaknya bummie….” jawab orang itu yang ternyata adalah kim soo jin.
Mengetahui yang menghubunginya adalah kakak sang kekasih, dalam hitungan detik so eun langsung mendudukan dirinya di atas kasur.
“Ah ne, selamat pagiiii !” Suara so eun mendadak bersemangat. Ia tak menyangka kakaknya kim bum akan menghubunginya sepagi ini.
“Mian aku terlalu mendadak menelponmu, kau pasti kaget kan?” Tanya soo jin.
“Aniyo !!! Gwaenchanaaa !!” Balas so eun cepat.
“Ngomong-ngomong aku mencuri nomor ponselmu dari ponselnya bummie hahaha, jika dia tahu aku menyentuh ponselnya mungkin dia akan mengusirku haha.” Cerita soo jin.
“Aah…benarkah?” Tanya so eun. “Jadi kim bum-ssi tidak mengetahuinya?”
“Yeah, setelah aku mencuri nomormu, dia lalu pergi ke rumah temannya.” Jawab soo jin.
“Arasseo.” Balas so eun.
“Ah ya kim so eun-ssi~~~ apa hari ini kau punya waktu?” Tanya soo jin.
“Ah iya…aku tidak punya rencana apapun hari ini.” Jawab so eun.
“Sungguh?” Tanya soo jin memastikan, nada suaranya terlihat senang. So eun mengerutkan keningnya.
“Kalau begitu bagaimana jika kita bertemu jam 10 nanti??? Semenjak bummie pergi, aku tidak ada teman~~” ajak soo jin. Mata so eun membulat. Ia tidak menyangka soo jin akan mengajaknya bertemu. Apakah ini pertemuan khusus yang dibuat soo jin untuk lebih mengenal kekasih adiknya??? Jantung so eun berdebar lebih kencang dari biasanya.
“So eun-ssi???” Soo jin heran karena so eun tak kunjung menjawab.
“Ah ya baiklah~~~” jawab so eun akhirnya dengan bersemangat.
“Aku senang mendengarnya, kalau begitu sampai bertemu nanti so eunnie~” soon jin langsung memutuskan sambungan telponnya.
“So eunnie?” Gumam so eun.

 

-today love is begin-

 

Saat ini so eun dan soo jin sudah berada si sebuah cafe di jalanan apgujeong. Mereka duduk berhadapan. Makanan yang mereka pesan belum tiba.
“Maaf sudah merepotkanmu untuk menemuiku.” Ujar soo jin.
“Ah….gwaenchana.” balas so eun. Entah kenapa melihat soo jin menatapnya membuat so eun tegang.
“Kau tahulah aku tidak terlalu mengenal Seoul, kemari pun hanya tiga tahun sekali. Dan anak itu malah pergi ke rumah temannya, aku tidak punya teman lain selain kau so eunnie.” Jelas soo jin. “Boleh kan aku memanggilmu so eunnie? Agar terasa lebih dekat.” Lanjut soo jin.
“Ah….” pipi so eun bersemu merah. “Gwaenchana eo…eonni.” balas so eun. Soo jin tersenyum.
“Ah ya….dan juga selain itu aku ingin bertemu dengan so eunnie secara pribadi.” Ujar soo jin. So eun cukup kaget. Seperti yang ia duga sebelumnya, mungkin kakaknya kim bum ingin mendekatkan dirinya dengan so eun.
‘Gilaaa ini benar-benar membuatku tegang !!! Lebih tegang daripada kim bum-ssi yang akan menciumku !!!’ Batin so eun. ‘Aku penasaran, apakah maksud soo jin eonni ingin bertemu denganku secara pribadi adalah karena ia ingin mengujiku apakah aku cocok dengan adiknya atau tidak?? Ah….ini sangat menakutkan !!!! Tapi bagaimanapun juga, mungkin ini adalah kesempatanku untuk mengambil hatinya soo ji eonni juga’ so eun berupaya menyemangati dirinya sendiri.
“Oh….jinjjaru? Aku senang jika eonni ingin bertemu denganku secara pribadi hehehe.” Ujar so eun. “Jika kau ingin, aku bisa menghabiskan waktuku bersamu soo jin eonni, aku akan menemanimu kemanapun kau ingin pergi hari ini.” Lanjut so eun dengan senyum lebarnya. Soo jin menatap so eun takjub.
“Aigoooo…..jinjja? Jeongmal gomawoyo so eunni….kau memang gadis yang baik.” Puji soo jin.
“Eheheheh.” So eun hanya nyengir saja. Tak lama dari itu, makanan pesanan mereka pun datang. Mereka memilih untuk menikmati makanan mereka dulu sembari mengobrol sedikit-sedikit.
“So eunnie….” ujar soo jin, ia menatap so eun cukup serius. So eun langsung berhenti mengunyah dan membalas tatapan soo jin. Tiba-tiba saja ia deg-degan lagi.
“Apa kau benar-benar menyukai adikku?” Tanya soo jin. Dengan cepat so eun mengangguk yakin.
“Aku sangat menyukai kim bum-ssi, lelaki yang membuatku jatuh cinta hanya dia !” Jawab so eun. Soo jin terkekeh mendengarya. So eun menatap soo jin bingung.
“Aku hanya tidak menyangka, adikku yang menyebalkan seperti itu bisa disukai oleh perempuan baik sepertimu.” Ujar soo jin. Pipi so eun memerah seketika. Bolehkah ia menganggap ucapan soo jin barusan sebagai pujian?
Soo jin menghela nafas. “Kau tidak menyesal berkencan dengannya? kau pasti sudah mengenal betul sifatnya kan? Adikku kasar dan tak berperasaan.” Ujar soo jin.
“Ani…..aku sama sekali tidak menyesal !” Jawab so eun cepat. “Sekarang dia sudah sedikit berubah, memang dulu dia selalu berkata kasar dan bersikap seenaknya bahkan kepada kekasihnya sendiri. Tapi aku senang, sekarang dia sudah sedikit berubah.” Jawab so eun.
“Jinjjayo?” Soo jin tak menyangka. So eun mengangguk yakin.
“Heeeh aku sedikit lega, perempuan yang menjadi kekasih adikku adalah so eunnie.” Ujar soo jin. So eun mendadak malu. “Tampaknya so eunnie sudah banyak merubah adikku. Pada awalnya aku sangat kaget dan benar-benar tidak percaya, bahwa dia begitu serius denganmu.” Lanjut soo jin.
“Ne?” So eun belum mengerti.
“Haaaah……” soo jin mengeluarkan nafasnya dengan lega. Ia menyudahi makannya.
“Setelah ini, temani aku ke mall ya so eunnie?” Pinta soo jin. Ia mengabaikan pertanyaan so eun. “Aku ingin berkeliling jika bisa sampai aku pingsan haha.” Lanjutnya.
“Ah ye……” Jawab so eun dengan bersemangat.

 

-today love is begin-

 

So eun menemani soo jin berbelanja di sebuah mall, so eun berjalan kesana kemari mengikuti soo jin yang memeilih-milih baju di lantai 2, lalu mereka pergi ke lantai 3 dimana tempat semua macam tas berada, setelah itu soo jin menuju lantai 4 untuk membeli sepatu. So eun sendiri tidak menyangka soo jin akan berbelanja sebanyak itu. Ia cukup kelelahan harus mengikuti soo jin yang sedikit agak rewel ketika memilih baju, tas, dan sepatu. Beberapa kali soo jin memilih baju dan mencobanya, tapi kemudian dia tak jadi membelinya dan kembali memilih baju yang lain.
“Soo jin eonni, apakah sudah selesai?” Tanya so eun setelah soo jin membayar di kasir dan membawa barang-barang belanjaannya yang bejibun.
“Belum, masih ada yang harus aku beli. Dimana tempat perhiasan dan aksesoris so eunni?” Tanya soo jin. So eun serasa ingin terjun saja dari lantai 4 ini. Tangan soo jin sudah dipenuhi oleh kantong belanjaan, tapi masih ada yang harus dibeli??????
“Itu….di lantai 8 eonni.” Jawab so eun.
“Oh? Baiklah kajjaaaa !” Soo jin berjalan lebih dulu. Sementara so eun mengikutinya dari belakang dengan langkah gontai.
“Dia sama sekali tidak terlihat kelelahan.” Gumam so eun takjub.
Mereka berdua-soo jin dan so eun- sudah berada di depan lift. Namun sepertinya lift sedang penuh sehingga mereka menunggu cukup lama. Soo jin terlihat tak sabaran.
“Ah kalau sepeti ini lebih baik naik elevaror saja !” Ujar soo jin. So eun langsung melongo menatap soo jin.
“Elevator? Jinjja? Dari lantai 4 menuju lantai 8? Eonni…..itu akan sangat melelahkan !” Ujar so eun.
“Gwaenchana……akan lebih baik juga dari pada naik tangga kan? Aku masih kuat, lagi pula aku masih harus pergi ke toko kue, buku…..yeahhh aku sangat ingin menghabiskan waktu sampai kakiku tak mampu menopang tubuhku lagi hahaha.” Balas soo jin. So eun melongo hebat.
“Tapi eonni, tidakkah lebih baik kita menunggu sebentar lagi?” Tanya so eun.
“Waeyo so eunni? Apa kau lelah? Jika kau lelah kau bisa beristirahat ! Aku sendiri saja ke lantai 8, jangan memaksakan dirimu !” Balas soo jin. So eun menggeleng cepat.
“Aniyooo !!! Aku sama sekali tidak lelah !!!” Dusta so eun.
“Jinjja???” Soo jin memastikan.
“Ne…..aku akan menemani soo jin eonni.” Balas so eun.
“Baiklah…..kajjaaaa !!!” Soo jin berjalan diikuti dengan so eun. Bisa dibayangkan dari lantai 4 sampai lantai 8? Meskipun menggunakan elevator tapi tetal saja kaki so eun sudah benar-benar lelah dan ia tidak mampu lagi berjalan, hingga akhirnya saat so eun sudah sampai di lantai 8 ia memilih duduk dikursi yang ada disana. Sementara soo jin sibuk memilih beberapa aksesoris.
Setelah dari mall, lalu mereka pergi ke toko buku. Kemudian ke toko kaset, toko kue, dan ke beberapa tempat yang inhin didatangi oleh soo jin. Kaki so eun sampai gempor karena kakinya terus bergerak kesana kemari hingga sore seperti ini. So eun tidak bisa protes begitu saja kepada soo jn, memngingat dia adalah kakaknya kim bum. Dan sekarang so eun bisa bernafas lega, ia bisa duduk mengistirahatkan kakinya yang sudah benar-benar kelelahan. Saat ini, so eun dan soo jin sedang berada di sebuah cafe. Karena soo jin merasa lapar, dan so eun yang sangat ingin beristirahat, akhirnya mereka pergi ke sebuah cafe terdekat. Soo jin memesan jus stoberi dan juga makanan manis, sementara so eun hanya memesan jus lemon saja, tapi sampai tiga gelas saking ia hausnya.
“Wooooah gomawo so eunnie, ini benar-benar menyenangkan.” Ujar soo jin menatap so eun dengan wajah gembira. So eun memaksakan senyum cerahnya.
“Jika eonni senang, aku juga senang hehe.” Balasnya.
“Ah ya aku sampai lupa….” ujar soo jin.
“Ne?” Tanya so eun.
“Sebenarnya……alasan aku mengajakmu bertemu adalah karena aku ingin berbicara soal bummie denganmu.” Ujar soo jin. So eun menatap soo jin dengan penuh tanda tanya.
“Sifat bummie memang seperti itu, kasar dan yeah…..menyebalkan. Orang tua kami bercerai saat bummie masih berumur 5 tahun dan umurku 9 tahun. Eomma membawaku ke Daegu dan bummie tetap tinggal di Seoul bersama appa. Pada waktu itu bummie merengek dan menangis habis-habisan karena ia ingin ikut bersama eomma, tapi reaksi yang diberikan eomma malah dingin terhadapnya. Bahkan ia tidak pergi untuk memeluk bummie dan menghapus air matanya. Eomma malah tak menunjukkan sama sekali wajahnya di depan bummie. Dan appa menahan tubuh bummie yang terus berontak ingin bersama eomma. Tanpa berkata apapun, eomma langsung membawaku pergi meninggalkan bummie. Tangisan dia semakin keras dan aku juga ikut sedih pada saat itu. Saat aku dan eomma sudah sampai menaiki bus, barulah eomma menangis. Aku tahu, sebenarnya eomma juga sedih meninggalkan bummie, tapi inilah yang hanya bisa ia lakukan.” Cerita soo jin panjang lebar. So eun mendengarkan dengan seksama cerita dari soo jin itu. Akhirnya ia jadi cukup mengerti mengenai masalah kim bum dengan ibunya. Ternyata kim bum adalah seorang anak malang. So eun jadi iba.
“Dan pasti kau juga terkejut kan dengan sikapku yang kasar padanya?” Tanya soo jin. So eun menatap soo jin bingung, bingung ia harus berekasi seperti apa.

 

Flash Back

Enam tahun yang lalu. Soo jin dan semua teman satu kelasnya pergi ke seoul dalam acara studytour sekaligus penelitian mengenai tumbuhan yang tercemar polusi. Saat itu, soo jin tak sengaja melihat kim bum tengah duduk di sebuah bangku di dekat tempat penelitiannya. Soo jin tentu saja terkejut, tidak menduga bahwa secara kebetulan ia akan bertemu dengan adik satu-satunya. Ia pun menghampiri kim bum untuk memastikan.
“Bummie?” Tanya soo jin saat ia sudah berada di depan kim bum. Kim bum yang sedang asik bermain game lewat ponselnya pun perlahan mengangkat kepalanya. Ia menatap soo jin dengan ekpresi datar. Bahkan tatapannya terlihat jika ia tidak senang dengan kehadiran orang lain di dekatnya. Tapi nampaknya soo jin tidak peduli, saking rindunya pada sang adik ia pun langsung memeluk kim bum. Kim bum kaget.
“Kau sudah tumbuh besar rupanya.” Ujar soo jin. Kim bum langsung melepaskan pelukan soo jin dan ia berdiri dari duduknya.
“Apa-apaan kau? Kenapa kau memelukku dengan tiba-tiba?” Kesal kim bum.
“Yak bummie, kau tidak ingat denganku?” Soo jin menunjuk dirinya sendiri.
“Untuk apa aku mengingat orang yang sudah lama tidak aku lihat.” Balas kim bum enteng. Soo jin terbelalak. Apakah remaja laki-laki yang berdiri di hadapannya ini benar-benar adiknya?
“Mwo?”
“Kau…..kenapa kau tiba-tiba muncul di Seoul?” Itulah pertanyaan yang keluar dari mulut kim bum. Soo jin geram.
“KAU !!!”
PLAK~~~ Soo jin menampar pipi kim bum cukup keras. Kim bum membukatkan matanya.
“KENAPA KAU MENAMPARKU???” Teriak kim bum.
“APAKAH ITU SIKAPMU SAAT KAU BERTEMU LAGI DENGAN KAKAKMU YANG SUDAH LAMA TIDAK BERTEMU?” Soo jin balas berteriak.
“MEMANGNYA KENAPA JIKA HANYA BERTEMU? AKH APPO !” Kim bum memegangi pipinya yang bekas di tampar soo jin.
“Siapa yang telah mengajarkanmu bersikap seperti ini? Apakah kau bergaul dengan preman huh? Sudah lama tidak bertemu, sikapmu benar-benar membuatku takjub !” Ujar soo jin.
“Tsk….kau sungguh banyak bicara, kau mengangguku saja.” Kim bum lalu berjalan meninggalkan soo jin.
“Yak mau kemana kau? Aku belum selesai bicara denganmu !” Soo jin menahan baju adiknya itu.
“Apa yang kau lakukan?” Kesal kim bum.
“Yak…..eomma merindukanmu ! Datanglah ke Daegu !” Pinta soo jin.
“Dia tidak merindukanku !” Balas kim bum. “Seharusnya dia yang mengunjungiku, bukan anaknya !” Lanjutnya. Soo jin menatap kim bum kaget. Kim bum melepaskan tangan kakaknya yang menahan bajunya, lalu ia pun pergi.
“Yak bummie…..”
“Soo jin-aaaaahhh~~~~~” soo jin mengurungkan niatnya untuk menahan kim bum kembali karena temannya memanggil.
“Apa yang sedang kau lakukan? Kita harus segera menyelesaikan penelitiannya !” Teriak temannya itu.
“Ah ya….” balas soo jin. Sebelum menghampiri temannya, soo jin kembali melirik ke arah kemana tadi sang adik pergi.
“Awas kau…..lihat saja apa yang akan aku lakukan.” Geram soo jin, lalu ia pun menghampiri teman-temannya.

End of Flash Back

 

“Yah seperti itulah, setelah kejadian itu beberapa minggu kemudian aku kembali ke Seoul lalu merobek-robek semua baju anak itu.” Cerita soo jin. So eun hanha bisa mendengarkan saja cerita soo jin tanpa bisa memberikan komentar. Itulah alasannya kenapa kim bum bersikap dingin dan kasar. Yah, so eun mengerti sekarang.
“Sikapku yang kasar padanya juga aku lakukan karena aku tidak ingin hubungan persaudaraan dengannya menjadi canggung, jika aku selalu bertengkar dengannya aku merasa nyaman karena aku tak merasa canggung.” Ujarnya. So eun mengangguk.
“Ah ya, mungkin sekitar minggu depan aku akan kembali ke Daegu. Bisakah aku meminta bantuan padamu so eunnie?” Tanya soo jin.
“Ne?” Tanya so eun.
“Eomma….sudah bertahun-tahun dia tudak bertemu dengan bummie, semenjak perceraian itu. Bisakah kau membujuk bummie untuk pergi ke daegu dan bertemu dengan eomma?” Pinta soo jin. So eun diam seraya berfikir sejenak.
“Semenjak kau adalah kekasihnya, mungkin dia akan menuruti permintaanmu.” Ujar soo jin. So eun akhirnya mengangguk.
“Baiklah, aku akan mencoba berbicara dengannya.” Balas so eun. Soo jin tersenyum.
“Gomawoyo so eunnie~”

 

-today love is begin-

 

Kim bum sedang berada di rumah il woo. Dia sedang asik membaca komik milik ilwoo, sedangkan yang empunya sedang heboh sendiri bermain game di PS4 nya.
“AAHHH GILAAAA !!!!” Tiba-tiba il woo berteriak karena ia baru saja kalah main. Kim bum mendelik menatap il woo yang sampai guling-guling.
“Manusia aneh.” Gumamnya, lalu kembali hanyut ke dalam komik.
Ddddrrrtttt…….dddrrrtttt……drrrttttt
Ponsel kim bum bergetar, dengan ogah-ogahan ia pun meraih ponselnya yang tergeletak tak berdaya di kursi di samping tempatnya duduk. Ternyata kakaknya yang menelpon.
“Ya….ada apa?” Tanya kim bum langsung.
“Cepat temui aku di jalan di dekat MR cafe !” Balas soo jin.
“HAH?”
“Aku bilang, temui aku di jalan di dekat MR cafe !!!” Soo jin mengulang perkataannya
“Kenapa aku harus kesana? Menyusahkan !” Balas kim bum.
“Yak !!! Aku membawa banyak barang belanjaan ! Aku tidak bisa membawanya seorang diri !” Soo jin berteriak-teriak lewat telpon. Kim bum menjauhkan ponselnya daei telinga. Menatap ponsel miliknya dengan kesal.
“Lalu kenapa kau tidak memanggil taksi saja dan meminta orang lain membantumu? Apakah aku ini seorang budak? Kenapa juga harus membawa barang-barangmu!?” Kim bum kesal. Pasalnya sang kakak selalu menyusahkan dirinya. Padahal saat ini ia sedang bersantai ria di rumah il woo.
“Apa kau bodoh huh? Sudah jelas aku menghubungimu karena aku tidak bisa melakukannya, kan? Lagipula apa kau tak peduli dengan kekasihmu, huh? Kau akan mencampakkannya saja?” Tanya soo jin. Kim bum membulatkan matanya.
“So eun bersamamu??? Kenapa dia…..”
“Tidak penting alasan kenapa dia bersamaku. Yang penting adalah sekarang so eunnie tidak bisa berjalan, kakinya kram dan lecet.” Potong soo jin.
“Kau mengerti? Jika kau mengerti, maka cepatlah kemari !” Suruh soo jin.
“Apa kau melakukan sesuatu yang aneh padanya?” Tanya kim bum. Il woo yang kembali asik bermain game, melirik kim bum yang sedang bertelponan dengan ekspresi penuh tanda tanya.
“Ani….” balas soo jin. “Dia membuatku kesal, jadi aku memberikan kekasihmu sedikit pelajaran.” Dusta soo jin.
Kim bum terdiam mendengar perkataan soo jin barusan.
“Bum-ah, apakah ada yang terjadi?” Tanya il woo penasaran. Kim bum masih diam.

 

-today love is begin-

 

“Yak ! Kau telat !” Itulah yang pertama keluar dari mulut soo jin saat ia melihat kim bum baru saja datang.
“Lagipula siapa yang menyuruhmu menunggu?” Balas kim bum. “dimana dia?” Tanyanya karena ia tak melihat so eun bersama dengan kakaknya.
“Dia sedang di toilet.” Jawab soo jin.
“Bukankah kau bilang dia tak bisa berjalan?” Tanya kim bum. Soo jin mengangguk.
“Dia menolakku untuk membantunya, jadi dia ke toilet sendiri.” Balas soo jin.
“Tsk……” kim bum berdecak lalu hendak berjalan menuju ke toilet.
“Hei….kau mau kemana?” Tanya soo jin.
“Dalam situasi seperti ini aku tidak bisa hanya diam saja.” Jawab kim bum. Soo jin menatap kim bum takjub. Lalu ia tertawa.
“Hahaha kau memang banyak berubah.” Ujarnya.
Kim bum tak peduli, ia kembali melangkah menuju toilet. Tapi belum juga kim bum sampai disana, ia melihat so eun baru saja keluar dari toilet dengan langkah yang tertatih-tatih. Kim bum langsung menghampirinya.
“Yak….kau tidak apa-apa?” Tanya kim bum seraya membantu so eun.
“K…KIM BUM-SSI !!!” Kaget so eun. “Kenapa kau ada disini?” Tanya so eun. Kim bum tak menjawab, ia malah membantu so eun berjalan.
“Apa yang dilakukan perempuan itu hingga kau seperti ini?” Tanya kim bum.
“Ne?” tanya balik so eun.
“Ah so eunnie, apa kau sudah merasa lebih baik?” Soo jin berjalan menghampiri mereka dengan membawa barang belanjaannya yang bejibun di masing-masing kedua tangannya itu.
“Ah ye.” Balas so eun.
“Syukurlah, aku menghubungi bummie agar dia bisa mengantarmu pulang. Kau tahu kan belanjaanku sangat banyak jadi aku tidak bisa mengantarmu dengan keadaanku yang seperti ini.” Jelas soo jin. Kim bum langsung menatap soo jin.
“Hei bummie, antarkan so eunnie pulang ! Taksi sudah menungguku, aku duluan ya.” Pamit soo jin. Lalu ia pun pergi meninggalkan mereka-kim bum dan so eun- yang masih terbengong-bengong dengan soo jin. Kim bum bengong karena bukannya soo jin memintanya datang untuk membawa barang-barangnya? Dan so eun bengong kenapa soo jin malah meminta kim bum mengantarnya.
Kim bum pun kembali membantu so eun berjalan. Namun so eun terlihat sangat menahan rasa sakitnya.
“Wae?” Tanya kim bum. So eun menatap kim bum dengan wajah yang mengkhawatirkan.
Akhirnya mereka pun memilih duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari toilet itu. Kim bum berjongkok dan langsung membuka sepatu flat milik so eun tanpa meminta izin terlebih dahulu.
“Oucchh….” so eun meringis.
“Kakimu lecet, jempolnya juga bengkak.” Ujar kim bum. So eun mengangguk.
“Tunggu sebentar.” Ujar kim bum dan segera pergi untuk membeli plester. So eun hanya bisa diam dan menunggu di tempat. Memang, berjalan kesana-kemari dengan menggunakan sepatu flat ini cukup membuatnya tersiksa. Bahkan kakinya sampai lecet dan merah-merah seperti ini. So eun juga tidak bisa menyalahkan soo jin, karena ia sendiri yang terlalu memaksakan diri dan sudah terlanjut berkata bersedia menemani kakak sang kekasih kemana pun.
Tak lama kemudian, kim bum datang juga.
“Kakimu tidak akan terlalu sakit jika sudah di tempeli plester.” Ujar kim bum seraya menempeli plester itu di jempol dan beberapa bagian kaki so eun yang lecet.
“Gesekan antara jempol dan ujung kakimu tidak akan terlalu kasar karena terhalangi oleh plester.” Ujar kim bum lagi.
“Gomawo.” Balas so eun. Setelah selesai memasangkan plester di kaki so eun, kim bum pun berdiri.
“Ayo kita pulang !” Ajak kim bum. Namun so eun malah diam di tempat duduknya. Ia menatap kim bum dengan eskpresi seakan ia tidak kuat jika harus berjalan lebih lama lagi.
“Heeeeh…..” kim bum mendesah. Lalu berjongkok membelakangi so eun. So eun menatap bingung kim bum.
“Naiklah !” Suruh kim bum.
“Eh???”
“Kakimu sakit kan? Jad naiklah ! Aku tidak ingin mendengarmu merengek-rengek !” Ujar kim bum.
“Tapi…..aku berat, kau tahu?” Balas so eun. Kim bum memutar kepalanya untuk menatap so eun.
“Cepat !!! Orang-orang akan mengaggapku aneh karena berjongkok terus seperti ini !” Kesal kim bum.
Dengan perlahan so eun pun naik ke punggung kim bum. Tangannya membawa sepasang sepatu flatnya.
“Benarkan? Aku berat?” Tanya so eun setelah kim bum menggendongnya.
“Kau harus menurunkan berat badanmu !” Balas kim bum. So eun memanyunkan bibirnya tapi kemudian ia tersenyum. Ia senang, pasalnya baru pertama kali kim bum menggendongnya seperti ini, dan kim bum sendiri yang menawarkan diri. So eun sangat senang. Perubahan kim bum ternyata sangat pesat.
“So eun, memangnya apa yang telah wanita itu lakukan kepadamu?” Tanya kim bum.
“Maksudmu soo jin eonni?” Tanya so eun.
“Jika dia melakukan hal yang macam-macam dan aneh lagi padamu, aku tidak akan membiarkannya !” Ujar kim bum. So eun mengerutkan keningnya.
“Memangnya soo jin eonni telah membuat hal yang macan-macam denganku?” Tanya so eun bingung.
“Dia memberimu pelajaran makanya kakimu lecet seperti ini, kan?” Jawab kim bum.
“Heh? Pelajaran? Aniii…..” balas so eun. “Aku dan soo jin eonni sangat bersenang-senang hari ini, dia sama sekali tidak melakukan hal yang macam-macam padaku.” Lanjut so eun.
“Mwo? Tsk…..jadi dia membohongiku.” Ujar kim bum.
“Waeyo?” Tanya so eun. “Ani.” Jawab kim bum.
“Eiiii…..kau mengkhawatirkanku?” Goda so eun.
“Siapa yang tidak khawatir, huh?” Balas kim bum kesal. So eun tersenyum lalu memeluk leher kim bum.
“Lalu kenapa kakimu bisa lecet seperti itu?” Tanya kim bum.
“Ini karena……kami mengunjungi semua tempat dengan berjalan kaki…..soo jin eonni benar-benar kuat, huh? Aku saja sudah tidak kuat lagi.” Cerita so eun.
Kim bum menghela nafasnya. “Lain kali biarkan saja dia, jangan ikuti semua keinginannya !” Suruh kim bum. So eun mengangguk lalu tersenyum.
“Kim bum-ssi, bolehkan aku memanggilmu bummie?” Pinta so eun.
“Mwo? Shireo !” Tolak kim bum.
“Wae???? Soo jin eonni juga memanggilmu seperti itu ! Aku kekasihmu ! Apakah aku tidak boleh memanggilmu seperti itu juga???” Tanya so eun.
“Aku tidak suka dengan panggilan seperti itu !” Balas kim bum.
“Hmmppph…..kau tidak asik !!! Apakah harus terus memanggil satu sama lain dengan formal, kim bum-ssi…..so eun-ssi….seperti itu???” So eun memanyunkan bibirnya. Kim bum menghela nafasnya.
“Bum-ah, kau boleh memanggilku begitu.” Balas kim bum akhirnya.
“Eo???? Jinjja?” So eun senang. Kim bum mengangguk.
“Oke oke…..kau pun harus memanggilku so eun-ah !!!” Pinta so eun.
“Ara !” Balas kim bum.
“Hehehe…..” so eun memeluk leher kim bum tambah erat. Lalu so eun mendekatkan bibirnya ke telinga kim bum.
“Aku menyukaimu !” Bisiknya.
“Yak ! Kau membuatku merinding !” Protes kim bum karena hawa hangat yang keluar dari mulut so eun begitu terasa di telinganya. So eun malah tertawa.

 

-today love is begin-

 

Semua murid SMA Chungju sedang bergumul di depan papan pengumuman. Disana juga terlihat ada so eun yang sedang mendesak masuk ke dalam gumulan itu. Ya, hari ini adalah hari pengumuman hasil ujian mereka kemarin. Yang akan menunjukkan apakah mereka naik ke kelas tiga atau tidak.
“Woooooaaa !!!!” So eun berteriak.
“Daebaaaaak ! Nilaiku memuaskaaaaan !!!!” Semua orang yang ada disana spontan memusatkan perhatian mereka kepada so eun. Namun so eun tidak peduli. Yang penting sekarang adalah dia mendapat nilai yang memuaskan dengan hasil usahanya sendiri.
“Woooaah, kau hebat juga ternyata.” Tahu-tahu kim bum sudah berada di samping so eun. So eun menoleh dan melihat kim bum berdiri di sampingnya.
“Bum-ah…..kau lihat kan? Nilaiku tidak ada yang buruk !” Ujar so eun.
Kim bum mengangguk-anggukan kepalanya.
“Tapi kau tidak akan pernah bisa mengejar nilaiku.” Balas kim bum.
“Huh?” So eun bingung. Lalu kim bum menunjuk ke arah paling kiri papan pengumuman dengan telunjuknya.
Di peringkat satu sesekolah, tertera nama Kim sang beom disana. So eun membulatkan matanya, lalu menatap kim bum takjub. Kim bum hanya tersenyum saja lalu menunjuk peringkat so eun dengan menggerakkan kepalanya. So eun melihat peringkat dirinya.
“235?” Gumamnya. “Sejauh itukah????” Ujarnya lagi.
“Yak bum-ah…..kau licik sekaliiiii~” rengek so eun.
“Kapasitas otakmu tidak sama denganku, jadi bermimpi sajalah jika kau ingin mendapat nilai sempurna !” Ejek kim bum.
“Aiuuuhh….kau kejam sekali !” So eun hendak memukul dada kim bum tapi kim bum keburu menahan lengannya. Kim bum terkekeh.
“Kau ingin kemana hari ini?” Tanya kim bum belum melepaskan tangan so eun.
“Huh? Aku tidak akan kemana-mana.” Jawab so eun polos. Kim bum menghela nafasnya.
“Apakah aku harus mengulang tiap pertanyaanku?” Ujar kim bum kesal. So eun malah menatap kim bum dengan wajah yang polos dan itu semakin membuat kim bum gemas.
“Hari ini, jika kau ingin pergi ke suatu tempat, katakan padaku!” Suruh kim bum. “Aku akan mengabulkannya.” Lanjut kim bum.
“Huh?” Tiba-tiba so eun teringat dengan perkataan soo jin untuk membujuk kim bum menemui ibunya di Daegu.

 

-today love is begin-

 

Saat ini, kim bum dan so eun sedang duduk di bangku taman sekolah. So eun yang meminta kim bum untuk berbicara disini. Dan kim bum menurutinya.
“Yasudah, katakan !” Suruh kim bum. So eun terlihat memain-mainkan jari tangannya. Ia ragu untuk mengatakannya kepada kim bum. Namun, karena melihat suasan hati kim bum yang terlihat baik saat ini, jadi so eun memutuskan untuk mengatakannya sekarang juga.
“Mmmm….” so eun perlahan menatap kim bum. “Bum-ah….” panggilnya. Kim bum balas menatap so eun.
“Aku….ingin ke Daegu.” Ujar so eun.
“Mwo???” Mata kim bum membulat. “Kenapa kau……”
“Aku ingin bertemu dengan ibumu.” Potong so eun. Kim bum terdiam. Ia menatap so eun tanpa berkedip dengan wajah kagetnya. Bagaimana bisa so eun mengatakan daegu dan ibunya semudah itu?
“Yak…..siapa yang menyuruhmu?” Marah kim bum. Suasana hati kim bum sekarang sudah berubah.
So eun menggeleng. “Tidak ada yang menyuruhku.” Balas so eun.
“Tsk…..sungguh !” Kim bum kesal.
“Bum-ah, ibumu sudah lama tak bertemu denganmu, dia sangat merindukanmu ! Temuilah dia !” Ujar so eun. Kim bum menatap so eun dengan tatapan tajam, lalu ia berdiri dari duduknya.
“Kau tidak tahu apa-apa tentang ibuku !” Marah kim bum.
“Bum-ah….panggil so eun.
“Tsk……” Kim bum lalu pergi meninggalkan so eun. Namun so eun keburu mencegahnya, ia menahan baju kim bum.
“Bum-ah…..bagaimana pun juga dia ibumu.” Ujar so eun. Kim bum melepaskan tangan so eun yang memegang bajunya cukup keras.
“Kau tidak mengerti apa-apa ! jadi jangan ikut campur meskipun kau kekasihku !” Perintah kim bum. Lalu meninggalkan so eun tanpa berkata apa-apa lagi. So eun terdiam di tempatnya. Ia tahu dan ia mengerti, kenapa kim bum sebegitu tidak sukanya kepada ibunya setelah ia mendengar cerita dari soo jin. Tapi bagaimana pun juga, seorang ibu pasti akan selalu merindukan anaknya kan?

 

-today love is begin-

 

Kim bum pulang ke rumah dengan suasana hati yang tidak baik. Ia marah dan kesal. Ia sampai membanting pintu rumahnya cukup keras. Membuat soo jin yang sedang tiduran di sofa seraya menonton televisi sangat kaget.
“Yak…..” kesal soo jin. Tapi kim bum tak menghiraukannya, dan langsung berjalan menuju kamarnya. Soo jin mengerutkan keningnya.
“Hey….soal so eunni….” ujar soo jin tiba-tiba. Kim bum mendadak menghentikan langkahnya dengan tangan yang sudah memegang knop pintu.
“Aku menyukainya, dia gadis yang baik dan penuh semangat.” Ujar soo jin. “Jadi, suatu hari nanti aku ingin mengajaknya ke Daegu !” Lanjutnya.
Kim bum langsung memutat kepalanya untuk melihat soo jin dengan mata yang sudah membulat.

 

To Be Continued

Bukannya apa-apa ya, tapi saya cuman agak kesel aja sama readers yang cuma ngomen “daebak”, “next thor”, “cepet lanjut ya thor”, bahkan ada ya cuma komen “(y)” doang di ff saya HAHAHAHAHA……Saya udah capek-capek nulis, tapi tanggepan kalian cuman kaya gitu aja…..yah tapi saya gak peduli, lebih mending ada yang komen seperti itu daripada yang gak komen sama sekali (SILENT READERS) Jujur aja ya saya suka banget sama komen yang panjang yang bacanya tuh bikin saya jadi bersemangat buat lanjutin ff nya….tapi yaaaah saya gak maksa, terserah pads diri readers aja….saya juga udah bersyukur masih ada yang mau komen. Maaf ya kalo misalkan ada yang tersinggung, saya gak bermaksud apa-apa….cuman ingin melupkan saja……oh ya buat ending dari part ini, kemungkinan akan saya PROTECT. Bagi readers yang mau tanya soal PASWORD bisa lihat AKUN FB SAMA TWITTER AUTHOR DI ABOUT AUTHOR. Kalian bisa Add atau follow saya. Bisa juga invite BBM saya 75ADDEB8. Jangan lupa sertakan ID kalian saat meminta PASWORD. ID yang kalian gunakan saat berkomentar di ff saya. Thanks

Today, Love Is Begin PART 14

Today, Love is Begin

kbkse110

 

Main cast : Kim So Eun& Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

 

Sebelumnya Author (Resi R aka Shin Ni Rin) mau minta maaf dulu sama readers takutnya di part ini kalian bakal jadi gak suka sama yang namanya Shin Ni Rin akakakak…..Tapi semoga aja deh kalian bisa menerimanya dengan lapang karena author membuat diri author ada ‘sesuatu’ dengan kim bum di part ini. Author sendiri sih seneng karena ada kejadian yang ‘sesuatu’ sama kim bum tapi gatau sama readersnya ahahahaha apakah akan seneng (gak mungkin !), marah, gak rela, ngamuk, atau sebagainya akakakak……*Apa iniii? okelah abaikan saja author yang gila ini hahaha selamat membaca aja deh :)

 

PART 14

 

“Baiklah, selamat malam.” Ujar so eun lalu berbalik tanpa memperhatikan langkahnya dan ia menginjak jalan yang bolong hingga ia hampir saja terjatuh. Namun dengan cepat kim bum menarik pinggang so eun hingga mendekat padanya.
“Ahh…” so eun terkejut.
“Perhatikan langkahmu bodoh !!!” Ujar kim bum.
“M..mian….gomawo….” ujar so eun seraya sedikit memundurkan tubuhnya dari kim bum. Tapi ternyata kim bum malah mempererat tangannya yang merangkul pinggang so eun.
“Eeeh?” So eun kaget karena kim bum tak juga melepaskan tangannya dari pinggangnya. So eun tambah terkejut lagi saat kim bum menenggelamkan wajahnya di pundak so eun.
“Kk…kim bun-ssi….a…ada apa?” So eun mencoba mundur sedikit dan mengangkat kepalanya untuk menatap wajah kim bum. Tapi dengan cepat kim bum malah memeluknya dengan sangat erat, seakan ia tidak ingin so eun melihat wajahnya yang sekarang ini.
“Eeeehhh?” So eun benar-benar kaget pasalnya kim bum memeluknya begitu erat.
“K…kim bum-ssi !Sakit !!! Ini sakiiit !!!” Protes so eun karena pelukan kim bum yang sangat erat hingga tak bisa membuatnya bergerak.
“Diam !” Suruh kim bum.
“Tapi ini sangat sakit !!! Aku tidak bisa berna……”
“yak diamlah ! Sampai aku mengatakan ‘ok’ jadi diamlah !” Potong kim bum. Kim bum bahkan menahan kepala so eun dengan erat.So eun jadi terdiam juga, pipinya mulai memanas dan sudah terlihat merah. Lalu so eun tersenyum dan balas memeluk kim bum dengan erat juga.
Wajah kim bum sendiri juga memerah. Salah satu alasan ia memeluk so eun dan tidak ingin melepaskannya adalah karena ia tidak ingin so eun melihat wajahnya yang memerah seperti sekarang ini. Sudah hampir 5 menit berlalu mereka masih berpelukan.
“Umm…bukankah ini sudah cukup, kim bum-ssi?” Tanya so eun karena kim bum belum juga melepaskan pelukannya.
“Kau sangat berisik, diam !!!!” Balas kim bum. So eun pun hanya bisa menurut saja.
“Dengar !” Perintah kim bum. “Aku akan mengatakannya sekarang dan aku hanya akan mengatakannya satu kali.”Lanjutnya.So eun mengangguk.
“Aku-suka-padamu !” Aku kim bum dengan penekanan di setiap kata-katanya. So eun tersenyum mendengarnya.”Kau sudah mendengarnya, kau puas?” Tanya kim bum.
So eun kembali mengangguk.”Aku juga sangaaaat menyukaimu, kim bum-ssi.”Balas so eun.Bisa dibayangkan bagaimana perasaan so eun sekarang ini?Ia sendiri tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata saking senangnya. So eun terus tersenyum di pelukan kim bum. Sementara kim bum sendiri merasa malu setelah mengatakan kata-kata itu. Tak seperti biasanya bahkan wajahnya pun memerah.
‘Bahkan sampai aku mati pun, aku tidak akan pernah menunjukkan wajahku yang seperti ini kepadanya !’ Batin kim bum.

 

Tidak ada yang lebih baik dari hari ini ! Ini adalah ulang tahun yang terbaik !!! Terimakasih kim bum-ssi, aku sangat menyukaimu !aku beruntung karena aku jatuh cinta kepadamu. Meskipun aku tahu ada sedikit keterpaksaan saat kau mengatakan kau suka padaku.Aku tidak apa-apa karena aku tahu kau bukanlah tipe laki-laki seperti itu.Hanya dengan sikapmu saja kepadaku aku sudah cukup tahu jika kau juga sangat menyukaiku tanpa kau mengatakannya.

-today love is begin-

 

Chungju Highschool

“Wooooah sudah tidak terasa, sebentar lagi kita akan naik ke kelas 3.” Ujar bo young.
“Kau benar.”Timpal hye rim.
“Berarti hanya tersisa 2 bulan lagi?”Tanya so eun.Bo young mengangguk.Saat ini mereka bertiga duduk saling berhadapan di meja masing-masing sambil menunggu bel masuk berbunyi.
“Aku harus mulai mempersiapkan diriku, aku harus belajar dengan giat mulai sekarang.Apalagi nilaiku sebelumnya begitu mengkhawatirkan.” Cerita bo young. Ia lalu menghembuskan nafasnya.
“Aku juga sepertinya harus mengurangi waktu kencan dengan kekasihku.”Timpal hye rim.
“Tapi aku rasa kau tidak perlu khawatir so eun-ah, kau punya kekasih yang pintar seperti kim bum. Kalian pasti akan belajar bersama, benar kan?” Tanya bo young.
“Eehh?Kau benar hehe.Tapi…” so eun menggantungkan ucapannya.
“Waeyo?” Tanya hye rim.
“Aku belum membicarakannya dengan dia. Lagipula jika aku belajar bersamanya, yang ada nanti aku tidak bisa berkonsentrasi dan malah ingin beromantis ria dengannya.”Lanjut so eun.
“heeeeehhh…..” bo young dan hye rim geleng-geleng kepala.
“so eun-ah, meskipun ini cukup sulit untukmu. Tapi coba tahanlah sedikit saja !” ujar bo young. So eun menatap bo young dengan aneh. “setelah ujian selesai, kau akan bisa beromantis ria dengan kim bum-ssi. jadi kali ini mari seriuslah dalam belajar !!!” lanjut bo young dengan nada menggebu-gebu. Hye rim hanya mengangguk-anggukan saja kepalanya menyetujui ucapan bo young.
“eh? Haha tentu saja.”Balas so eun.
‘heeeh….aku meminta kim bum-ssi untuk mengajariku pun yang ada dia hanya akan menolak dan mengatai aku bodoh…..tidak ada cara lain selain aku harus belajar sendiri dengan giat.’ Batin so eun.ia lalu menghembuskan nafasnya, terlihat raut wajah lemas dari so eun. melihat itu bo young dan hye rim mengerutkan keningnya.
“waeyo so eun?” tanya hye rim.
“eh? Aaah ani hehe.”Balas so eun.

 

-today love is begin-

 

Meskipun bel istirahat sudah berbunyi sekitar 10 menit yang lalu. Tapi kim bum masih berada di dalam kelasnya. Ia tampak bosan menunggu seseorang yang tak kunjung datang seperti biasanya. Kim bum bahkan mengetuk-ketukkan pensilnya ke atas meja seraya menopang dagunya.
“kemana dia? apakah sengaja membuatku menunggu lama?” gerutunya. Kim bum melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10.10 KST. Ia lalu mendesah dan mengeluarkan ponselnya. Ia mengetikkan sesuatu disana.
Hey bodoh ! kenapa kau lama sekali? aku sudah kelaparan !

lalu kim bum pun menekan tombol kirim di layar ponselnya.
1 menit
2 menit
-
5 menit
Belum ada juga balasan dari so eun. Dengan kesal kim bum bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kelasnya so eun.

Entah apa yang merasuki diri so eun, disaat teman-temannya yang lain pergi ke kantin untuk makan, ia malah berdiam diri di kelas. Bahkan so eun pun menolak ajakan bo young dan hye rim. Saat ini so eun sedang mencoba untuk belajar. Meskipun cukup sulit baginya untuk membiasakan hal ini, tapi ia punya tekad sendiri ingin berhasil dalam ujian tanpa mengikuti ujian ulang. Dan satu yang paling ia inginkan diantara alasan-alasan lain, yaitu ia ingin bisa satu kelas dengan kim bum. Siapa tahu jika ia belajar dengan sungguh-sungguh dan mendapat nilai baik dalam ujian, ia akan masuk ke kelas terbaik bersama dengan kim bum. Kini so eun tampak sibuk mempelajari rumus-rumus matematika, setelahnya ia juga mengerjakan latihan-latihan soal. Sangat sulit memang bagi so eun, terlebih ia paling buruk dalam pelajaran matematika.
“wooooah soal latihan ini benar-benar memojokkanku? Tidakkah ada yang lebih mudah???” omelnya seakan ia memaki buku-buku itu di depan matanya.
“so eun-ah, kim bum-ssi mencarimu !” ujar salah satu temannya pada so eun.
eh?” bingung so eun. Lalu ia mengarahkan pandangannya menuju pintu. Disana ia sudah melihat kim bum berdiri seraya melipat kedua tangannya dengan ekpresi yang tidak bersahabat. So eun tidak tahu apa alasannya kim bum mencarinya, dan kenapa ekspresi wajahnya seperti itu. Dengan segera so eun pun menghampirinya.
“kim bum-ssi? Ada apa? tak biasanya kau mencariku.” Tanya so eun dengan wajah polosnya. Tanpa basa-basi lagi kim bum langsung memencet hidung so eun dengan gemas.
“Ouuuch…..” so eun berusaha melepaskan tangan kim bum yang memencet hidungnya. “lepaskan kim bum-ssi ! s…sakit ouch….” Mohon so eun.Teman-teman so eun yang berada di dalam kelas memerhatikan mereka berdua. Barulah kim bum melepaskan tangannya. So eun langsung memegang hidungnya, hidungnya jadi memerah kini.
“kenapa kau tak membalas pesan dariku? Istirahat sudah hampir selesai, kau tahu?” kesal kim bum.
“eh?” so eun bingung. “kau mengirimiku pesan?” tanya so eun. Bukannya menjawab, kim bum malah menatap so eun dengan tatapan kesal.
“aaaaa mian-mian…..ponselku di simpan di dalam tas jadi aku tak menyadarinya.” Ujar so eun cepat.
“tsk…..”
“eheheh memangnya pesan apa yang kau kirim? Adakah sesuatu yang penting?” tanya so eun. kim bum menghela nafasnya.
“kau bawa bekal?” tanya kim bum tak mengindahkan pertanyaan so eun.
“bekal? A….ani…aku bangun kesiangan jadi tidak sempat membuat bekal.”Jawab so eun.
“lalu?” tanya kim bum.
“eh? Lalu?” tanya balik so eun bingung. Kim bum membuang nafasnya dengan kesal.
“lalu apa kau tidak ke kantin atau semacamnya? Aku tadi menunggumu, tapi kau tak kunjung datang juga. Aku sudah sangat lapar, kau tahu?” jelas kim bum dengan nada sedikit kesal.
“ooo….jadi kau menungguku? Miaaaaan~” so eun merapatkan kedua telapak tangannya dan menatap kim bum dengan tatapan memohon.
“heeehh…” lagi dan lagi kim bum hanya menghela nafasnya.
“kalau begitu ayo pergi ke kantin ! jangan membuatku kesal karena lapar ! sebentar lagi istirahatnya pun akan berakhir.” Ajak kim bum yang hendak berjalan lebih dulu. Tapi so eun malah menahan lengan kim bum dengan gerakan cepat. Kim bum menatap so eun heran. “wae?” tanyanya.
“Ummm~~~ miaaaaan, aku tidak bisa menemanimu ke kantin sekarang ini, aku sedang sibuk kim bum-ssi. Jadi kau makan sendiri saja, arasseo?Tidak apa-apa kan?” ujar so eun.Kim bum tak menjawab dan malah menatap so eun dengan aneh.
“Wae? Kenapa lagi?” tanya so eun karena kim bum hanya menatapnya saja. “yasudah sana cepat kau pergi ke kantin ! sebelum bel masuk berbunyi !!” so eun mendorong-dorong punggung kim bum untuk segera pergi. Kim bum tidak menolak atau apa, ia hanya pasrah saja kali ini.
“kalau begitu, selamat maaaakaaan, jangan pikirkan aku ne?” ujar so eun lalu ia segera kembali masuk ke dalam kelasnya. kim bum terdiam beberapa saat di tempatnya berdiri.
“ada apa dengannya? Dia aneh sekali.” Gumam kim bum.

 

-today love is begin-

 

“so eun bahkan melewati waktu makan hanya untuk belajar, aku rasa dia sangat bersungguh-sungguh kali ini.” ujar bo young dengan mulut yang penuh dengan makanan.
“yeah kau benar.” Balas hye rim seraya mengaduk-aduk jus jerus dengan sedotan. Lalu tak sengaja matanya menangkap kim bum yang tengah makan sendirian.
“Eo…bukankah itu kim bum-ssi?” Tanya hye rim dengan mata yang menatap ke tempat duduk kim bum.
“Ne?Dimana?” Tanya bo young. Hye rim menunjuk dengan tangannya.
“Ah benar, itu kim bum-ssi.” Ujar bo young. “Bahkan so eun membiarkan kim bum-ssi makan sendirian demi belajar ckckck.” Lanjutnya. Hye rim hanya mengangguk. Lalu mereka berdua malah memilih memerhatikan kim bum dengan seksama, tak memperdulikan lagi makanan mereka yang sudah tersisa sedikit.
“Kim bum-ssi kelihatan sedang tidak senang.”Ujar hye rim.Ia melihat ekspresi wajah kim bum ketika makan tampak tidak berselera, sesekali ia juga melihat kim bum mengerutkan keningnya.
“Bahkan aura di sekelilingnya pun menjadi hitam.” tambah bo young. “Mungkin dia kecewa karena so eun menolak untuk makan bersama dengannya.” Pikir bo young.
“Hmmm…mungkin saja.” Balas hye rim. Tepat pada saat mereka masih memperhatkan kim bum sambil mengomentarinya, mata kim bum menatap ke arah mereka berdua.
“Ah dia melihat ke arah kita?” Tanya hye rim kalem. Bo young mengangguk. Tapi setelah mereka sadar tatapan kim bum menjadi menyeramkan, mereka berdua langsung memalingkan wajah dan berpura-pura makan kembali.
“Tsk…..ada apa dengan dua wanita itu? Membuatku tambah kesal !” Ujar kim bum menyudahi aktifitas makannya.

 

-today love is begin-

 

Sepulang sekolah

“Mworago?” Tanya ulang kim bum. Ia menatap so eun dengan bingung.
“Miaaaan~” so eun merapatkan kedua telapak tangannya.”Aku tidak bisa pulang bersama denganmu sekarang ini, miaaaan~ aku ada urusan.”Ujar so eun.Kim bum masih menatap so eun.”Ada sesuatu yang harus aku kerjakan, jadi kau pulang sendiri saja, ne?”Lanjut so eun.
“Heh, sejak kapan kau punya urusan?” Ejek kim bum.
“Sudahlah, kau tidak perlu tahu apa urusanku.”Balas so eun. Kim bum mengerutkan keningnya. “Ah aku bisa telat~.” So eun menepuk jidatnya sendiri setelah melihat jam tangannya. “Kalau begitu aku pergi lebih dulu ne kim bum-ssi, aku buru-buru….annyeong….” so eun melambaikan tangannya dan segera pergi menghindar dari kim bum.
Kim bum masih menatapi punggung so eun dengan kening berkerut.”Kenapa hari ini dia menjadi aneh?” Gumam kim bum.
So eun berhenti berlari dan memilih bersembunyi di belokan koridor.Nafasnya sedikit ngos-ngosan.
“Fiiuuhhh….” so eun merasa lega karena ia berhasil membohongi kim bum.
“Bagaimana pun juga aku tidak ingin dia menganggapku begitu bodoh, aku harus bisa belajar sendiri.”Gumam so eun. Lalu ia sedikit menyembulkan kepalanya dari balik dinding melihat ke tempat dimana tadi kim bum berada. So eun sudah tidak melihat kim bum disana yang berarti kim bum sudah pergi.
“Baiklah….sudah aman….” ujarnya lalu ia keluar dari persembunyian dengan mengendap-endap. Setelah memastikan kim bum benar-benar pergi, barulah so eun ngacir menuju lantai tiga.

 

Kim bum berjalan sendirian, semenjak so eun tidak bisa pulang bersamanya kim bum jadi merasa bosan karena tidak ada orang yang begitu cerewet di dekatnya dan ia tidak bisa mengejek so eun habis-habisan. Lalu dengan begitu saja suatu tempat terlintas di kepalanya.Kim bum pun memutar arah dan kembali. Ketika di persimpangan koridor, ia tak sengaja bertemu dengan nirin.
“Oh kim bum-ssi?” Sapa nirin.
“Ah hey.” Sapa balik kim bum.
“Kau belum pulang?Kemana so eunni?Kenapa kau tidak bersamanya?”Tanya nirin beruntun.
“Gadis itu ada urusan.” Jawab kim bum.
“Oh arasseo.”Balas nirin.
“Kau sendiri kenapa masih ada disini?” Tanya kim bum. Sekolah memang sudah agak sepi.
“Aku ingin meminjam beberapa buku di perpustakaan, mengingat sebentar lagi ujian kenaikan kelas akan segera dilaksanakan.”Jawab nirin. Kim bum mengangguk.
“Kebetulan aku juga hendak akan ke sana.” Balas kim bum.
“Oh….kalau begitu ayo kita ke perpustakan bersama !”Ajak nirin. Kim bum mengangguk lalu mereka pun berjalan bersama menuju perpustakaan.

 

Setelah memilih beberapa buku di lemari, so eun pun duduk di bangku paling pojok di perpustakaan. Dengan alasan ia ingin mencoba untuk fokus dan serius. Kali ini so eun memilih belajar matematika, bahasa inggris, dan juga kimia.Yeah dia memang anak sains meskipun otaknya tak terlalu memenuhi kriteria untuk masuk ke jurusan sains.
“Semangaaat….kau pasti bisa Kim so eun !!!”So eun mengepalkan tangannya di udara lalu mulai membuka buku pelajaran bahasa inggris.

 

Kim bum dan nirin sedang sibuk mencari dan memilih beberapa buku yang mereka butuhkan.
“Kau membutuhkan buku apa saja kim bum-ssi?” Tanya nirin sambil memilih-milih buku matematika yang paling bagus.
“Hanya beberapa buku bacaan.” Jawab kim bum yang masih sibuk mencari.
“Eh? Jadi kau tidak meminjam buku pelajaran?”Tanya nirin.
“Aku hanya memanfaatkan catatanku saja, lagipula aku lebih mengerti apa yang aku tulis di buku catatan dari pada di buku paket.” Jawab kim bum.
“Hmm…arasseo…bagaimanapun juga kau memang siswa pintar jadi tak terlalu membutuhkan buku paket haha.” Ujar nirin.
“Sesekali aku hanya butuh buku bacaan untuk membuang rasa jenuh setelah belajar.” Balas kim bum. Nirin menatap kim bum takjub.
“kau bahkan memilih membaca buku saat kau jenuh, aku malah akan lebih memilih bermain game, tidur, atau semacamnya.” Ujar nirin.
“Ah dimana buku kimia?”Tanya nirin terlebih pada dirinya sendiri. Lalu ia pun melihat papan kecil dengan tulisan kimia di rak paling atas. Karena tubuh nirin yang kurang tinggi ia pun mengambil kursi khusus untuk mengambil buku-buku yang di simpan di rak paling atas, setelah itu ia menaikinya.

 

“Aigoooo~~” so eun mengacak-acak rambutnya.”Sudah hampir 10 menit aku membaca tapi tak ada satu pun kata yang aku mengerti, apa aku ini sebegitu bodohnya?”So eun merutuki dirinya sendiri.”Aku butuh kamus….aku harus mencarinya.” Ujarnya lalu bangkit berdiri untuk mencari kamus.

 

“Apa kau tidak memberi tahu so eunnie jika ujian kenaikan kelas sebentar lagi? Aku khawatir dia lupa dan nantinya akan mengikuti ujian ulang.”Ujar nirin seraya sibuk memilih-milih dan melihat buku kimia dengan terbitan paling baik.
“Gadis seperti dia hanya akan mengeluh jika mengetahuinya.” Balas kim bum. “Tapi aku akan mencoba berbicara dengannya.”Lanjutnya.
“Bagaimana pun juga, selama aku kenal dengan so eunni, dia punya semangat yang luar biasa, meskipun otaknya hanya sedikit yang bekerja.”Ujar nirin.
“Yeah…..otaknya begitu lamban.” Balas kim bum.
Tiba-tiba ada seorang siswa yang berjalan begitu terburu-buru hingga ia tak sengaja menyenggol kursi yang dinaiki nirin hingga kursi itu pun oleng dan nirin kehilangan keseimbangan. Siswa yang menyenggol pun hanya mengucapkan ‘maaf’ saja dan langsung pergi.Sepertinya memang ada sesuatu yang sangat penting sehingga siswa itu buru-buru pergi.
“Omo !!! Hwaaa…..” nirin sudah benar-benar kehilangan keseimbangan dan ia pun jatuh menimpa kim bum. Kim bum juga tidak keburu menahan tubuh nirin hingga ia juga terjatuh duduk ke lantai.

 

“Aiishh…dimana mereka meletakkan kamus korea-inggris???”Tanya so eun pada dirinya sendiri. Saat ia mencari kamus itu ternyata ia tak sengaja melihat nirin dan kimi bum. So eun kaget karena kim bum juga ternyata berada di perpustakaan. Yang lebih kagetnya lagi adalah saat so eun melihat nirin terjatuh dan menimpa tubuh kim bum. Apalagi sesuatu yang tidak ingin ia ketahui, tidak ingin ia lihat, dan tidak ingin hal itu terjadi, terlihat dengan jelas oleh mata kepalaya sendiri. Ia melihat bibir nirin menyentuh bibir kim bum. Sukses membuat so eun shock berat !!!! Matanya membulat sempurna, mulutnya terbuka lebar, dan ia mematung di tempat.

 

Kim bum dan nirin sama-sama membulatkan mata mereka akibat kecelakaan yang terjadi sekarang ini. Insiden ciuman ini memang sangat sangaaaat tidak di sengaja, dan mereka berdua sangaaaaaat tidak mengharapkan hal ini terjadi.Tapi mau bagaimana lagi toh sudah begini jadinya.Nirin dengan cepat langsung menjauhkan wajahnya. Dan tiba-tiba saja……
Buk~~~ sesuatu telah terjatuh. Ternyata so eun yang masih shock melihat kejadian ini tak sengaja menjatuhkan buku catatan kecil miliknya yang ia bawa. Kim bum dan nirin langsung melihat ke asal suara dan sama-sama terkejut melihat so eun ada disana. Mata kim bum dan nirin membulat dengan sempurna.
‘Mungkinkah dia melihatnya?’ Batin kim bum khawatir.
Menyadari kim bum dan nirin menyadari keberadaanya, dengan cepat so eun pun kabur dari sana masih dengan wajah shocknya. Kim bum dan nirin sama-sama segera bangkit dan berdiri.
“M…mian kim bum-ssi.” Ujar nirin canggung.
“Ah ya….apa kau baik-baik saja?” Tanya kim bum.
“Ah iya….” jawab nirin.Suasana di antara mereka berdua jadi sangat canggung. Terlebih so eun melihat insiden barusan, membuat kim bum maupun nirin khawatir.
“B..bagaimana dengan so eunni, dia mungkin melihatnya tadi.” Ujar nirin was-was dan khawatir.
“Gwaenchana, aku akan berbicara dengannya.” Balas kim bum kalem. Padahal sebenarnya hatinya tidak tenang.
“Eh?” Nirin menatap kim bum.
“Jika kau yang bicara padanya, mungkin saja akan terasa sulit untukmu semenjak kau adalah sahabat dekatnya kan? Mungkin saja dia juga akan sulit mengerti. Jadi lebih baik aku saja yang bicara padanya.” Jelas kim bum.
“B..baiklah, meskipun aku masih ragu dan takut apakah dia akan marah padaku dan tak ingin mengenaliku lagi atau tidak.” Ujar nirin. “Tapi…….”
“Aku harus pergi.” Potong kim bum. Ia sepertinya harus mengejar so eun dan berbicara dengannya. Lalu kim bum pun segera pergi dari perpustakaan.
Nirin memegangi keningnya. “Aku sangat khawatir.” Ujarnya.

 

-today love is begin-

 

Kim bum mencoba menghubungi so eun beberapa kali, tapi telpon darinya tak kunjung di angkat juga. Kim bum juga mencoba mencari so eun siapa tahu so eun belum terlalu jauh dari sekitar sekolah, tapi kim bum tak juga menemukannya.
“Haaahh…..” kim bum membuang nafas beratnya. “Dia pasti akan salah faham dan berujung marah.” Gumam kim bum. Kini ia mencoba menghubungi so eun satu kali lagi tapi masih tak diangkat juga oleh so eun. Pada akhirnya kim bum pun memilih mengirimkan pesan.

 

Ada dimana kau sekarang? Mari kita bicara !

 

Pesan yang diketik kim bum berhasil terkirim. Tapi sudah sekitar 10 menit berlalu tak juga ada balasan. Kim bum mendesah. “Pasti dia memang salah faham.” Ujarnya.

 

-today love is begin-

 

So eun sendiri duduk lemas di bangku kayu di pinggir jalan. Ia mengabaikan beberapa panggilan dari kim bum. Ia menatap lurus ke depan dengan mata kosong, sedari tadi ia juga malah melamun. Melihat kejadian dimana bibir kekasihnya-kim bum menyentuh bibir sahabat baiknya-nirin membuatnya benar-benar shock….!!!! Pikiran-pikiran aneh mulai memenuhi otaknya, dimulai dari kemungknan nirin akan menyukai kim bum, kim bum yang meninggalkannya karena nirin lebih baik daripada dirinya yang gadis bodoh, mereka saling menyukai, dan….dan…dan……
“WAAAAAAA ANDWAEEEE !!!” So eun tiba-tiba berteriak sangat kencang sehingga membuat para pejalan kaki memusatkan perhatian padanya. Mereka menatap aneh ke arah so eun, sementara yang diperhatikan malah tidak peduli.
“Eotteokae???? Eotteokae? Bagaimana jika semua itu terjadiiii????” So eun mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
“ANDWAEEE !!! AKU TIDAK MAU !!!”

 

-today love is begin-

 

Keesokan harinya, Chungju Highschool

Semenjak dari tadi pagi, mulai pelajaran pertama dimulai sampai waktu istirahat tiba, so eun terus saja murung, ia tak semangat seperti biasanya. Bahkan bo young dan hye rim yang menyadari hal itu pun merasa aneh. Lalu ia melihat so eun perlahan bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kelas dengan lemas.
“So eun-ah kau mau kemana?” Teriak bo young. So eun tak menjawab dan ia hampir saja menabrak dinding di dekat pintu keluar.
“So eun-ah….” bo young segera menghampiri so eun diikuti hye rim di belakangnya.
“Ada apa denganmu? Kau tidak apa-apa?” Tanya bo young.
“Iya….aku tidak apa-apa.” Balas so eun dengan lemas.
“Hehhh…” hye rim menghela nafasnya. “Ayo kita makan di kantin !” Ajaknya.
“Kajja so eun.” Bo young menarik tangan so eun. Tapi so eun menahannya.
“Maaf, tapi aku sedang ingin menyendiri.” Tolaknya lalu pergi meninggalkan mereka dengan langkah gontai.
‘Aku sudah berusaha melupakannya, tapi kenapa kejadian kemarin masih terngiang-ngiang di kepalaku.’ Batin so eun. Ia pun memilih atap sekolah untuk menjadi tempatnya menyendiri.
So eun memojokkan dirinya dengan duduk di sudut dinding atas sekolah setinggi 1,2 meter itu. Entah kenapa ia merasa dirinya begitu menyedihkan. Meskipun semalaman kim bum terus menghubunginya dan mengirimkan beberapa pesan tapi tak ada satupun yang ia angkat maupun ia baca. So eun memeluk kedua lututnya dan tatapannya kembali kosong.
‘Kenapa aku sangat merasa terganggu? Itu hanya kecelakaan kan?’ Batinnya. Di sekitarnya pun sudah bermunculan aura-aura gelap seperti suasana hatinya sekarang ini.
“Operasi plastik, huh? Dengan teknologi canggih mungkin para ahli bisa mengembalikan bentuk bibir mereka ke keadaan semula sebelum mereka berciuman, kan? Mungkin saja itu bisa dilakukan, kan?” Gumam so eun.
“Jika saja aku punya mesinnya, aku sendiri yang akan melakukannya.” So eun semakin ngaco saja.
“Waaaa apa yang ada di kepalaku???? Kenapa aku menjadi begitu menyedihkan dan depresi seperti ini????” So eun memegangi kepalanya frustasi.
“Aku harus melupakannya, itu hanya kecelakaan ! Hanya kecelakaan !!!” Ujarnya.
Tap tap tap~~~ ada suara langkah kaki yang mendekat. Begitu so eun mengangkat kepalanya perlahan, ia melihat sosok kim bum tengah berdiri de depannya.
“Akhirnya aku menemukanmu juga.” Ujar kim bum.
“HUAAAAAAA……!” So eun malah berteriak kaget dan langsung berdiri.
“Kenapa kemarin kau tak juga mengangkat telpon atau membalas pesan dariku, huh? Aku perlu bicara denganmu !” Ujar kim bum.
“Ani !!! Aku baik-baik saja, aku tak terlalu memikirkan kejadian itu, aku sudah melupakannya !” Balas so eun cepat. Kim bum menatap so eun aneh.
“Ah ya aku pergi !” So eun buru-buru kabur tanpa kim bum sempat mencegahnya. Kim bum menatap kepergian so eun dengan kecewa bercampur kesal.
“Tsk….” kesalnya.

 

-today love is begin-

 

Di setiap so eun bertemu dengan kim bum, atau berpapasan dengannya, so eun malah terus saja kabur dan menghindar tanpa alasan. Membuat kim bum kebingungan dan tidak nyaman dengan reaksi so eun seakan dia seperti hantu ataupun penjahat yang membuat so eun takut. Mulai saat tadi ketika di atap gedung sekolah, mereka tak sengaja bertemu saat sama-sama keluar dari toilet, lalu saat berpapasan di koridor, saat di ruang guru, dan sebagainya so eun terus saja kabur.

 

Bel pulang sudah berbunyi. Kim bum langsung menuju kelasnya so eun dan berdiri menyender di dinding seraya menunggu so eun keluar. Saat ia menunggu so eun, lalu datanglah nirin menghampririnya.
“Kim bum-ssi?” Panggil nirin.
“Ah, kau nirin-ssi.” Balas kim bum. Lalu kim bum menghela nafas.
“Dia masih belum mau berbicara denganku, mana bisa aku bicara dengannya ketika dia selalu kabur dariku seperti itu?” Kesal kim bum.
“Aku rasa ini memang sulit untuk ia terima, tapi aku juga akan berusaha berbicara dengannya. Tak hanya kau, dia juga menghindariku. Aku tidak ingin hubunganku dengan so eunni menjadi canggung.” Balas nirin.
Tak lama dari itu so eun pun keluar dari kelasnya dengan langkah gontai. Ia tak menyadari ada kim bum dan nirin yang menunggunya.
“Oiii….” panggil kim bum.
Deg~~~ so eun langsung mengangkat wajahnya. Ia melihat ada kim bum dan nirin.
“HUAAAA !!!” So eun kembali berteriak dan hendak kabur lagi, tapi kim bum keburu menahan tangannya.
“Jangan terus-terusan menghindar seperti itu !” Ujar kim bum. So eun menunduk.
“Aku sudah menunggumu, jadi ayo pulang bersama !” Ajak kim bum seraya menarik tangan so eun. Kali ini so eun mencoba pasrah. Nirin pun mengikuti dari belakang.
“Tapi bisakah…..kau melepaskan tanganku?” Pinta so eun. Kim bum melirik so eun lalu mengendurkan pegangan tangannya. Kini so eun pun melepaskan tangan kim bum dari tangannya. Kim bum menghela nafas lalu kembali berjalan. So eun mengikutinya dari belakang dengan langkah pelan, nirin mensejajarkan langkahnya dengan so eun. Nirin ingin bicara, tapi melihat so eun yang murung seperti itu, ia jadi mengurungkan niatnya. Kim bum menoleh ke belakang, so eun berjalan sangat pelan dan tertinggal jauh darinya.
“Yak ! Percepatlah sedikit langkahmu ! Aku akan pegi meninggalkanmu jika kau seperti ini !” Kim bum terpaksa mengancam agar so eun mempercepat langkahnya. Bukannya lebih cepat, so eun malah menghentikan langkahnya.
“Gwaenchana, kau bisa pergi !” Balas so eun lemas. “Aku ingin menyendiri untuk mendinginkan kepalaku.” Lanjutnya dengan kepala yang tertunduk.
Kim bum membuang nafas kesal dengan reaksi so eun tersebut.
“Sampai kapan kau akan terus seperti ini huh??? Menjadi sangat murung karena hal yang tidak penting, tidak akan mengubah apapun !!!” Lanjut kim bum.
“Kim bum-ssi, kata-katamu terlalu……” sanggah nirin.
“INI BUKAN KEINGINANKU MENJADI MURUNG DAN MENYEDIHKAN SEPERTI INI, KAU TAHU !!!??” Teriak so eun, memotong perkataan nirin. Kim bum dan nirin sama-sama terkejut.
“Aku tahu aku tidak bisa melakukan apa-apa tentang apa yang sudah terjadi kepada kalian ! Aku sedang berusaha untuk kembali kepada diriku yang sebelumnya ! Bersikap normal dan bersikap seperti biasa seperti aku tidak pernah melihat kejadian itu ! Tapi…..sampai saat ini aku masih belum bisa melakukannya ! Orang yang sangat merasa terganggu kali ini adalah diriku sendiri.” Ujar so eun panjang lebar. Bukannya membalas perkataan so eun, kim bum malah berjalan mendekat dan melihat wajah so eun dengan seksama. Menyadari hal itu so eun langsung mundur dan mencegah kim bum semakin mendekat.
“Hey…..” panggil kim bum.
“A…..miaaaan~” dengan cepat so eun menutup wajahnya dengan telapak tangannya. “Sudah cukup.” Lanjutnya.
“Hah?” Kim bum bingung.
“A…ani, jangan dengarkan perkataanku ! Soal sikapku, aku akan menenangkan dan menyelesaikannya oleh diriku sendiri ! Aku benar-benar minta maaf !” Ujar so eun.
Kim bum menatap so eun tidak mengerti. “Apa maksudmu?” Tanyanya.
“A..ani….gwaenchana !!! Kalau begitu, sampai jumpa besooook !!!” So eun lagi dan lagi lari kabur dari kim bum.
“Yak hei So eun !!” Teriak kim bum. Namun ia tak sempat untuk mengejarnya. Akhirnya Kim bum dan nirin pun terdiam di tempat mereka.
“Dari reaksinya, ternyata dia masih curiga kepada kita huh….sangat mudah untuk membaca pikirannya.” Ujar nirin. “Yeah dia bilang akan menenangkan dirinya sendiri, jadi tidak ada salahnya kita membiarkannya.” Lanjutnya.
“Tch…..” kim bum malah berdecak lalu pergi meninggalkan nirin.
“Eh? Apa kau akan pergi mengejarnya?” Tanya nirin.
“Jika aku membiarkannya maka semuanya tidak akan selesai, kan?” Balas kim bum seraya menolehkan wajahnya kepada nirin lalu ia melanjutkan langkahnya. Mendengar jawaban kim bum, nirin pun tersenyum.
“Dari cara kim bum-ssi berbicara, dia hanya tidak bisa meninggalkan so eun sendirian.” Gumamnya masih dengan tersenyum.

 

-today love is begin-

 

So eun baru saja mengunci lokernya setelah ia mengambil buku catatan yang ia perlukan untuk di rumah nanti. Ia masih terlihat murung.
“Oooiii, gadis murung yang berdiri disana !!” So eun shock dan langsung menegakkan punggungnya mendengar suara kim bum.
“Aku belum selesai bicara denganmu !” Ujarnya. Tanpa menengok ke arah kim bum, so eun langsung mengambil ancang-ancang dan berlari sekencang mungkin.
“Yak….jangan lari !!!” Cegah kim bum lalu ikut mengejar so eun.
“Aku bilang jangan lari !!!” Kim bun berhasil meraih lengan so eun. “Waaaa….” so eun berteriak.
“Apa kau sedang bermain-main denganku!? Membuatku berlari untuk mengejarmu !?” Kesal kim bum.
“A…aku tidak tahu !!! Itu karena kim bun-ssi mengejutkanku , padahal aku sudah bilang aku baik-baik saja ! Aku akan menenangkan diriku dan menyelesaikannya dengan sendiri !” Balas so eun. “Pergilaaah !” Suruh so eun seraya melepaskan tangan kim bum yang menahan tangannya. Lalu so eun memilih menutup wajahnya dengan kedua lengannya.
“Jangan menghindariku !!” Kim bum mengambil kedua tangan so eun dengan tangannya. Ia lalu menatap mata so eun serius.
“Katakan padaku sekarang !” Suruh kim bum. So eun memalingkan wajahnya dari kim bum.
“Ani……sudah aku bilang aku tidak apa-apa !” Tolak so eun.
“Katakan ! Apa yang kau pikirkan sampai kau terus kabur dan menghindar dariku?” Pertanyaan kim bum mulai melunak. Ia masih menatap so eun serius. So eun perlahan membalas tatapan kim bum.
“Aku……aku rasa…..aku iri dengan nirin….” ujar so eun akhirnya.
“Hah? Tapi itu hanya……” ujar kim bum.
“Itu karena semenjak waktu itu, setelah dari zone park…..” so eun memotong perkataan kim bum. “Kau belum pernah menciumku lagi, jadi…..” so eun tak melanjutkan kata-katanya. Setelah ia mengatakan soal ‘cium’ kepada kim bum, ia jadi merasa malu sendiri. Kim bum pasti sangat jijik dan merasa terganggu dengan perkataannya barusan. Jadi ia memilih untuk diam. Namun tiba-tiba………
CUP~~~
Kim bum mendaratkan ciuman cepat di bibir so eun. So eun membulatkan matanya karena kaget. Ia tak menyangka kim bum akan menciumnya disaat suasana seperti ini. So eun langsung merapatkan bibirnya dengan kening berkerut. Kim bum menatap aneh so eun.
“Ekspresi macam apa itu? Tak bisakah kau membuat ekspresi yang lain?” Ujar kim bum.
“I…itu karena….aku sangat bingung~~~” balas so eun. Kim bum mengerutkan keningnya.
“Di samping aku senang dengan kejadian barusan, tapi aku juga merasa aku seperti orang yang begitu bodoh !” Lanjutnya.
“Kau memang bodoh !” Balas kim bum. So eun menatap kim bum perlahan.
“Semua laki-laki punya hasrat untuk mencium perempuan, tapi tidak denganku tanpa beberapa ‘alasan’. Kejadian kemarin hanyalah sebuah kecelakaan ! Aku maupun nirin-ssi benar-benar tidak menduganya, jadi jangan membuat dirimu murung dan menyedihkan lagi karena hal yg tidak penting, arasseo?” Nasehat kim bum. So eun hanya menatap kim bum dengan polos, lalu mengangguk pelan.
“Janganlah untuk mencoba menghindariku lagi ! Aku benar-benar tidak nyaman dengan sikapmu yang seperti itu !” Perintah kim bum. So eun kembali menangguk dengan pelan lagi. Ia kini menatap mata kim bum dengan ekpresi tanpa dosanya. Kim bum tidak tahan dengan ekspresi imut so eun seperti itu, ia lalu perlahan mendekatkan wajahnya pada so eun dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celana-gaya cool. So eun pun memejamkan matanya, dan mereka berciuman kembali dan kali ini cukup lama.

 

-today love is begin-

 

Akhirnya, setelah masa perjuangan so eun dalam belajar tanpa bantuan kim bum. Ia pun bisa mengerjakan soalnya dengan cukup lancar meskipun masih ada beberapa soal yang cukup sulit bagi so eun. Ia cukup bangga dengan dirinya sendiri. Setelah ia di beri vitamin macam ‘ciuman’ oleh kim bum sekitar 1 bulan yang lalu, semangatnya dalam belajar jadi menggebu-gebu dan menuai sukses saat ia menghadapi soal-soal ujiannya. Hari ini ujian hari terkahir pun selesai. So eun berjalan keluar kelas dengan senang. Ia berpapasan dengan nirin di koridor.
“Nirin-ahhh~~~” so eun merangkul lengan nirin. Nirin menatap aneh so eun.
“Waeyo? Kau tiba-tiba seperti ini?” Tanya nirin. So eun malah tak memberikan jawaban.
“Bagaimana dengan ujiannya menurutmu?” Tanya nirin.
“Lumayaaaaan, aku bisa mengerjakannya !” Balas so eun dengan senyum cerahnya.
“Ah begitukah? Syukur kalau begitu.” Balas nirin. Saat mereka sedang asyik mengobrol, muncullah kim bum.
“Ah kim bum-ssi.” Panggil so eun.
“Kau bisa mengerjakan soalnnya gadis ceroboh?” Tanya kim bum.
“Tentu~~~.” Jawab so eun cepat.
“Baguslah kalau begitu, jangan permalukan aku jika nanti kau ikut ujian ulang lagi.” Ujar kim bum.
“Tidak akan !!! Kali ini nilaiku akan memuaskan !” Bantah so eun.
“Um yeah yeah…..” kim bum hanya angguk-angguk.
“Ah ya….ini berarti setelah pengumuman nilai ujian, akan libur pajang kan?” Tanya so eun. Nirin menatap so eun.
“Setelah ujian selesai, kita akan punya banyak waktu untuk bermain nirin-ah….ayo kita habiskan waktu untuk jalan-jalan dan bermain nirin-ah….!” Ajak so eun. Mereka punya waktu dua minggu untuk berlibur.
“Tapi, sepertinya aku tidak bisa menghabiskan waktuku sesering mungkin denganmu so eun-ah.” Balas nirin.
“Waeyo? Apa kau akan berlibur dengan keluargamu?” Tanya so eun. Kali ini pihak laki-laki (kim bum) diabaikan oleh mereka yang asyik mengobrol.
“Kami sekeluarga akan pergi ke rumah nenekku di Busan, mian.” Jawab nirin.
“Ah….arasseo…..” so eun mengangguk mengerti. Lalu so eun teringat dengan kim bum. Ia langsung memasang wajah cerah menatap kim bum.
“Kalau begitu, kim bum-ssi…..kau pasti punya banyak waktu di hari libur nanti kan?” Tanya so eun.
“Hmmm.” Kim bum mengangguk. So eun tersenyum.
“Ah ya….ngomong-ngomong……kau pernah bilang kau sudah lama tak bertemu dengan ibumu, kan?” Tanya so eun, mengingatkan pada ibunya.
“Siapa yang bilang seperti itu?” Raut wajah kim bum berubah menjadi kesal.
“Tentu saja kau ! Waktu itu kau bilang ibumu tinggal jauh darimu.” Balas so eun. Kim bum diam.
“Apakah kau akan pergi menemui ibumu liburan nanti?” Tanya so eun.
“Tidak !” Jawab kim bum cepat. “Aku tidak ingin menjadi dekat dengannya !” Tambah kim bum dengan ekspresi wajah yang berubah tidak bersahabat. So eun menatap kaget kim bum.
“Ah….a….arasseo….” balas so eun. Ia tahu kim bum memang sudah lama tidak bertemu dengan ibunya. Tapi alasan kenapa ibunya tinggal jauh dengannya, belum so eun ketahui.
“Kim bum-ssi, memangnya dimana ibumu tinggal?” tanya nirin.
“Daegu.” Jawab kim bum singkat.
“Bukankah akan lebih baik jika pergi kesana untuk menemuinya meskipun hanya sebentar? Kenapa kau tidak mau pergi?” Nirin rupanya tak bisa membaca ekspresi wajah kesal kim bum. Ia malah bertanya hal yang mungkin tidak ingin kim bum jawab.
“Ah nirin-ah, kim bum-ssi pasti punya alasan sendiri kenapa ia tidak mau pergi hehe.” Malah so eun yang menjawab, ini ia lakukan agar kim bum tak berujung marah.
“Aku sedang tidak ingin membicarakannya.” Ujar kim bum. Nirin mengangguk mengerti.
Tapi tiba-tiba kim bum menghentikan langkahnya saat ia menangkap seseorang yang tidak asing di matanya sedang berdiri beberapa meter di depannya.
“Waeyo kim bum-ssi?” Tanya so eun heran. Ia melihat ekspresi kaget di wajah kim bum. Kim bum tidak menjawab, lalu so eun pun memilih mengikuti arah pandangan kim bum. So eun melihat ada seorang perempuan dengan perawakan tinggi sekitar 168 cm berjalan menghampiri mereka. Perempuan itu memakai kacamata dan terlihat begitu fashionable dengan baju-baju dan aksesoris yang ia kenakan. Perempuan itu juga terliat cantik dan mempesona.
Perlahan, wanita itu membuka kacamatanya, dan matanya menunjukkan kekagetan saat melihat kim bum.
“Bum-ah? Kim bum-ah???” Panggilnya dengan wajah kaget. Kim bum juga masih menunjukkan wajah kagetnya. Sekarang so eun juga ikutan kaget. Sementara nirin tidak mengerti dengan situasi seperti ini.

 

Apa yang akan terjadi lagi dengan kisahku dengan kim bum-ssi…..setelah semua masalah terselesaikan satu persatu, apakah masalah baru akan muncul lagi???? Perempuan itu? Siapa perempuan itu? Apakah perempuan itu perempuan di masa lalunya kim bum-ssi? Aku tidak pernah melihat kim bum-ssi sekaget ini. OH MY GOD !!!! Jika itu benar, apa yang akan terjadi denganku?

To Be Continued

 

Mian jika ceritanya kurang menarik dan terlalu monoton. Tapi saya harap kalian menyukainya dan meninggalkan komen di ff ini.

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya.

 

Curhat : Alhamdulillah berkat doa dari semuanya akhirnya pada tanggal 20 Mei 2014 saya dinyatakan lulus dari SMA dan Alhamdulillah dengan nilai yang cukup memuaskan. Alhamdulillah juga saya bisa diterima di UNPAD Prodi Tekpang lewat jalur SNMPTN :D Hasil yang begitu membuat saya senang setelah selama ini berusaha dan berdo’a hehehe. Setelah melewati masa ‘galau’ dan perasaan yang tak karuan saat menunggu hasil pengumuman SNMPTN, dengan ragu-ragu saya coba buat cek di webnya pada tanggal 27 Mei 2014 dan akhirnya dinyatakan luluuuuus…..saya sampai nangis karena terharu hehehe gak nyangka banget soalnya. Sekali lagi terimakasih ya bagi readers yang sudah mau mendo’akan…..semoga ini adalah jalan terbaik yang diberikan ALLAH SWT kepada saya dan semoga saya bisa menjalankannya dengan baik karena ini masih awal dari perjuangan :’) sekian deh edisi curhatnya hehehe hanya ingin berbagi kesenangan aja hehe

 

Today, Love Is Begin PART 13

Today, Love Is Begin

kbkse110
Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

PART 13

“So eun-ssi….” panggil kim bum. So eun menoleh dengan mulut yang sibuk mengunyah. Ia melihat kim bum mendekat ke arahnya dengan mulut yang sedikit terbuka.
“Eh? Apa yang kau lakukan? Kenapa mulutmu terbuka seperti itu?” Tanya so eun bingung. Rupanya ia belum faham apa maksud kim bum membuka mulutnya seperti itu.
“Aku membuka mulutku karena aku punya maksud !” Balas kim bum kesal karena so eun yang tidak mengerti dengan maksudnya.
“Eh…? Ah ya aku mengerti, lalu apa?” Tanya so eun, rupanya ia masih belum faham juga.
“Itu !” Dengan kesal kim bum pun menunjuk teoppeoki yang berada di atas paha so eun.
So eun menatap mengikuti arah tangan kim bum.
“Apa kau mau menyuapiku?” Tanya kim bum.
“Eehhh!?” So eun terkejut. Benarkah apa yang baru saja ia dengar? Kim bum memintanya untuk menyuapinya?
“T…tapi….bukankah kau membenci hal-hal yang seperti ini?” Tanya so eun memastikan.
“Sangat jelas sekali jika aku membencinya. Tapi, bukankah hal yang seperti itu yang ingin kau lakukan, kan?” Tanya balik kim bum. So eun menatap kim bum dengan tatapan tidak menyangka.
“Jika kau mengerti, cepat suapi aku teoppeoki itu !” Pinta kim bum.
“Ah….a..arasseo…” so eun segera menyumpit teoppeokinya.
“A…apakah aku juga harus mengatakan ‘ahh~’? Tanya so eun.
“Ya, terserah padamu.” Balas kim bum. Pipi so eun terasa panas dan memerah kini. Ini adalah yang pertama kalinya ia menyuapi kim bum.
“Ahh~…” ucap so eun lalu ia pun menyuapi teoppeoki itu kepada kim bum. Kim bum dengan cepat melahapnya.
“Ternyata melakukan hal yang seperti ini sangat memalukan.” Ujar so eun. Pipinya masih memerah dan terasa semakin panas saja.
“Kau bukan satu-satunya yang merasa seperti itu. Aku berkali-kali lipat merasa malu dibanding kau.” Balas kim bum. So eun menahan tawanya hingga akhirnya ia pun tak bisa menahannya lagi.
“Ekekekkkkkkkekekkk…” so eun menutupi wajahnya yang merah itu dengan tangannya sambil tertawa senang.
“Tapi…..aku benar-benar sangat senang kekekkkkekk…..” ujarnya.
“Kenapa kau begitu merasa senang hanya karena hal seperti ini?” Tanya kim bum seraya bangkit dari duduknya.
“Tapi aku benar-benar senaaang~” balas so eun yang tidak bisa menyembunyikan senyumnya yang lebar lagi.
“Meskipun kau membencinya, tapi kau masih mau melakukannya untukku ! Aku benar-benar senang~” lanjutnya. Kim bum menatap so eun lalu menyunggingkan senyum setelahnya.
“Jika kau senang itu juga sudah cukup membuatku senang.” Ujar kim bum pelan.
“Ne?” Tanya so eun. Rupanya ia tak mendengar dengan jelas apa yang baru saja kim bum katakan.
“Sudah waktunya kita pulang, kajja !” Ajak kim bum lalu berjalan lebih dulu dari so eun. So eun tersenyum lalu segera mensejajarkan langkahya dengan kim bum.
“Boleh aku menggenggam tanganmu?” Pinta so eun.
“Tidak boleh!” Tolak kim bum.
“Kalau begitu hanya menggandeng lenganmu? Boleh ya?” So eun menunjukkan wajah memelasnya.
“Terserah~” balas kim bum. Akhirnya so eun pun menggandeng lengan kim bum dengan erat dan tak henti-hentinya ia tersenyum. Kim bum juga menyunggingkan senyumnya untuk itu.

 

Hanya aku yang menyukai kim bum-ssi, dan dia yang menyukaiku. Itu sudah cukup membuatku senang. Sebelumnya mungkin aku terlalu terobsesi untuk melakukan hal-hal romantis seperti pasangan kekasih lain. Tapi sekarang, tidak peduli apa yang kita lakukan, atau kemana kita pergi, selama kita baik-baik saja dan merasa nyaman satu sama lain. Aku rasa, itu lebih baik.

-today love is begin-

 

“Ooohh lihatlah ! Mereka bersama lagi?” Tanya seorang siswi perempuan bertubuh gemuk pada ke tiga temannya saat ia melihat so eun dan kim bum makan bersama di kantin.
“Bukankah hubungan mereka baru saja berakhir?” Balas siswi dengan rambut pendek sebahu.
“Jika hubungan mereka berakhir, lalu kenapa mereka bersama-sama seperti itu? Lihatlah~ mereka tampak seperti pasangan yang normal-normal saja.” Tambah siswi dengan rambut yang diikat satu. Ia melihat so eun dan kim bum sedang mengobrol, ia juga melihat so eun yang tersenyum bahagia.
“Kalian tahu? Keadaan kim bum-ssi saat hubungannya dengan so eun-ssi kacau dia tampak sangat menyeramkan !” Cerita temannya yang satu lagi yang berwajah bulat dengan rambut yang digerai.
“Jincha?” Pekik ke tiga temannya yang lain.
“Apa kau tidak mendengar gosip?” Tanyanya. Mereka serentak menggeleng.
“Saat hubungan mereka kacau, ada teman satu kelas kim bum-ssi yang memberikan kim bum-ssi sebuah cupcake. Dan kalian ingin tahu bagaimana reaksi kim bum-ssi pada saat itu?” Ujarnya. Ketiga temannya serentak mengangguk dengan wajah mereka yang menggambarkan ekspresi penasaran.
“Dia bilang…..’jauhkan benda itu ! Jauhkan benda menjijikan itu dariku sekarang !’ ” siswi dengan rambut digerai itu meniru kata-kata dan ekspresi wajah kim bum waktu itu. Ketiga temannya yang lain memasang wajah terkejutnya.
“Benarkah kim bum-ssi berkata seperti itu?” Tanya siswi yang bertubuh gemuk. Siswi dengan rambut digerai itu mengangguk dengan cepat.
“Aku tidak menyangka dia bisa berubah menakutkan seperti itu karena soal perempuan.” Ujar siswi dengan rambut sebahu itu.
“Aku rasa, kim bum-ssi sudah benar-benar jatuh cinta pada so eun-ssi…..betapa beruntungnya diaaaa~” timpal siswi dengan rambut yang diikat satu. Mereka semua kompak mengangguk.
“Aku jadi iri~” ujar siswi yang gemuk.

 

“Kenapa kau tidak mau?” Kesal so eun. Ia mengerucutkan bibirnya.
“Terlalu banyak orang disini ! Apa kau tidak malu jika mereka semua melihat?” Balas kim bum. So eun menghela nafasnya. Sesendok nasi yang hendak ia suapkan kepada kim bum pun dengan terpaksa ia makan sendiri.
“Apakah setiap istirahat kita harus makan di atap gedung agar aku bisa menyuapimu?” Ujar so eun. Kim bum menatap so eun lalu membuang nafasnya.
“Wae?” Tanya so eun.
“Apa kau tidak sadar kau berubah menjadi manja?” Kesal kim bum. “Tidakkah kau merasa jika aku jadi terganggu dengan sikapmu yang seperti ini? Bersikaplah seperti biasanya saat di depanku !” Suruh kim bum. So eun semakin memanyunkan bibirnya.
“Aku bukan manja ! Hanya saja aku ingin melakukan sesuatu yang romantis denganmu ! Seperti yang orang lain lakukan…..” balas so eun.
“Tapi kau tahu betul kan aku membenci hal menggelikan seperti itu?” Ujar kim bum. So eun menunduk.
“Aku mengerti, bahkan sangat mengerti. Tapi hanya untuk sekali-kali kan tidak masalah~.” jawab so eun. Ia kini mengaduk-aduk nasinya.
“heehh~ kau memang benar-benar mengganggu !” Balas kim bum.
“Benar, aku memang selalu membuatmu terganggu.” Timpal so eun.
“Jika kau mengerti akan hal itu, jadi berhentilah untuk meminta hal-hal yang menggelikan denganku.” Ujar kim bum.
“Arasseo….araseo……” balas so eun dengan lemas.
“Karena aku lebih suka kau yang apa adanya di depanku, jadi bersikaplah seperti biasanya !” Ujar kim bum seraya menatap lurus so eun.
“Baiklah~ aku mengerti~.” So eun masih saja membalasnya dengan lemas.
“Anak penurut…..” balas kim bum seraya tangannya menepuk-nepuk pelan kepala so eun.

 

-today love is begin-

 

“Kau dan kim bum-ssi sekarang pacaran sungguhan!?” Pekik nirin saat ia mendengar cerita so eun. So eun mengangguk dengan semangat. So eun dan nirin bertemu saat mereka sama-sama dipanggil ke ruang guru untuk mengumpulkan sesuatu. Dan kini mereka berjalan di koridor menuju kelas mereka masing-masing seraya mengobrol.
“Aigoooo~ kenapa aku telat mengetahuinya, bagaimana bisa kalian jadi resmi berkencan? Bukankah kau hampir saja menyerah?” Tanya nirin bertubi-tubi.
“Ceritanya panjang sekali nirin-ah, aku rasa seharian pun tidak akan selesai.” Balas so eun. Nirin menatap so eun dengan tatapan aneh lalu kemudian geleng-geleng kepala.
“Tapi setidaknya aku ikut senang sekarang, kau tidak akan murung lagi kan? Menangis-nangis lagi karena kim bum-ssi kan? Karena sekarang kau sudah resmi menjadi kekasihnya.” Ujar nirin.
“Tentu saja tidak~ bahkan aku masih merasa jika ini adalah mimpi….” so eun memegangi pipinya yang bersemu merah.
“Yeah yeah….sebenarnya aku juga tidak menyangka kim bum-ssi bisa menyukai orang sepertimu, terasa aneh bagiku…..bukankah seharusnya dia memiliki tipe perempuan yang sangat tinggi?” Balas nirin kalem.
“Yak kau tidak boleh berkata seperti itu nirin-ah, perkataanmu sedikit menusuk hatiku.” Ujar so eun dengan wajah yang dibuat semenyedihkan mungkin. Ia juga memegangi dadanya.
“Tapi aku memang benar-benar tidak menyangka. Lagipula setelah kalian resmi berkencan, apakah sikap kimbum-ssi sudah berubah?” Tanya nirin.
“Itu…….sedikit…sangat sedikit.” Jawab so eun lemas.
“Sudah ku duga.” Balas nirin.
“Yeah terserah…..aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Yang terpenting sekarang adalah aku sedang menantikan sesuatu di bulan ini.” Ujar so eun.
“Eh?” Nirin menatap so eun tidak mengerti.
“Ulang tahunku.” Ujar so eun dengan nada senang.
“Ah aku mengerti, sekarang sudah memasuki bulan september rupanya.” Balas nirin sambil angguk-angguk kepala.
“Nirin-ah, apa jangan-jangan kau tidak mengingatnya?” Tanya so eun curiga.
“Tentu saja aku ingat, tanggal 6 kan?” Balas nirin cepat.
“Ternyata kau masih ingat.” So eun tersenyum senang. “Aku sangat menantikan ulang tahunku kali ini, karena ini akan menjadi yang pertama kalinya bagiku merayakannya dengan kim bum-ssi…….huaaaa aku benar-benar tidak sabar ingin segera membuat momen romantis bersamanya kali ini~” so eun memegangi pipinya dengan mata yang terpejam. Pipinya bersemu merah karena ia kini sedang membayangkan tentang sikap romantis kim bum kepadanya, dimulai memberikan kejutan dan memberikannya sebucket mawar merah. Nirin menampakkan ekpresi wajah aneh melihat so eun seperti itu.
“Tapi so eun-ah…..apakah kim bum-ssi tahu kapan ulang tahunmu?” Pertanyaan yang keluar dari mulut nirin itu berhasil membuat so eun menghentikan langkahnya. Ia diam beberapa saat bagaikan patung. Apa yang ditanyakan nirin telah membuatnya tersindir, apalagi memang benar jika kim bum belum mengetahuinya. Nirin mengerti setelah menyadari reaksi so eun sekarang ini.

 

-today love is begin-

 

“Tanggal 6? Tidak ada yang spesial di hari itu, kan?” Jawab kim bum setelah so eun bertanya tentang tanggal 6 september kepadanya. Mendengar jawaban enteng yang keluar dari mulut kim bum membuat so eun down seketika. Bagaikan ada ribuan truk pengangkut sampah yang menimbun kepalanya. So eun memang sudah menduganya, bahwa kim bum tidak mengetahuinya. Saat ini mereka sedang berjalan pulang dari sekolah bersama.
“Ani….sebenarnya tanggal itu……adalah ulang tahunku.” Ujar so eun dengan kepalanya yang menunduk.
“Ohhhh jadi begitu, baguslah~” balas kim bum singkat. Tanpa ada rasa kaget atau semacamnya pada diri kim bum saat so eun memberitahunya.
“Yeah.” So eun mengangguk dengan lemas.
Hening~ tak ada pembicaraan lagi di antara mereka. Merasa aneh, kim bum pun memutar kepalanya ke samping dan melihat so eun berjalan dengan kepala yang di tekuk. So eun juga kelihatan tidak bersemangat.
“Jangan menampakkan wajah murung seperti itu babo ! Kau tidak pernah memberitahuku sebelumnya, jadi bagaimana bisa aku tahu, kan?” Ujar kim bum seraya menjitak kepala so eun. So eun meringis dan langsung memegangi kepalanya.
“Jika aku tidak memberitahumu dan ternyata kau sudah mengetahuinya secara diam-diam, pasti aku akan merasa sangat tersentuh, kan?” Balas so eun seraya mendonggak menatap kim bum.
“Tidak apa-apa kau tidak memberitahuku, tapi jangan harap aku akan mengetahuinya.” So eun mendengus kesal mendengar ucapan kim bum.
“Lagi pula pasti kau akan berkata ‘aku tidak terlarik’ lagi, kan?” Tanya so eun. Kim bum kini balas menatap so eun.
“Aku tidak punya otak yang sederhana seperti milikmu.” Balas kim bum. “Aku memang tidak terlalu mengingat-ingat tentang merayakan ulang tahun seseorang, tapi…..”
“Ehhh !? Jinchaaa?” Potong so eun. Ia benar-benar tidak menyangka. “Bahkan keluargamu? Atau jung il woo-ssi?” Tanya so eun.
“Yang aku ingat hanya suara mereka saja yang begitu berisik.” Jawab kim bum.
“Hanya itu?” Tanya so eun memastikan. Kim bum tak menjawabnya. “Jadi kalau begitu, bagaimana denganku? Kau tidak akan merayakan ulangtahunku bersama?” Tanya so eun. Kim bum menatapnya. Kini so eun menatap kim bum dengan tatapan penuh harap. Wajahnya ia buat seimut mungkin, membuat kim bum merasa sedikit terganggu.
“Aku tidak tertarik !” Balas kim bum. Benar saja dugaan so eun, kim bum tidak akan mau melakukannya. So eun kembali menampakkan ekpresi murung.
“Jika aku menolak seperti itu, pada akhirnya kau akan mengeluh dan memaksaku lagi, kan? Itu akan menjadi lebih merepotkan.” Lanjut kim bum. So eun kembali mengangkat wajahnya dan menatap kim bum. Mendengar yang keluar dari mulut kim bum barusan membuat senyum mengembang di bibir so eun.
“Jadi, kau akan meluangkan waktumu untukku pada tanggal 6 nanti?” Tanya so eun dengan ekspresi senang yang tak bisa ia sembunyikan lagi.
“Ne ne~.” Jawab kim bum.
“Kita akan bersama-sama seharian penuh? Jalan-jalan? Makan? Atau juga membuat kue bersama-sama?” Tanya so eun beruntun. Ekpresi wajah kim bum sudah kelihatan merasa terganggu.
“Apapun tidak masalah, jadi berhentilah bicara ! Kau terlalu berisik !” Balas kim bum.
“Ekekekkkk baiklaaaah~ aku jadi sangat menantikan hari ulang tahunku~” So eun memejamkan matanya saking rasa senang yang tak bisa ia bendung lagi. Pipinya juga mulai merona merah.
“Jadi, apa yang kau inginkan?” Tanya kim bum tiba-tiba.
“Eh?” So eun menatap kim bum bingung.
“Aku bertanya jika ada sesuatu yang kau inginkan.” Balas kim bum jengkel karena ia harus mengulang pertanyannya.
“J..jincha? Apakah tidak apa-apa? Apa kau rela melakukannya hanya untukku?” Tanya so eun memastikan, pasalnya ia tidak menyangka kim bum akan bertanya mengenai apa yang ia inginkan.
“Sudah aku katakan dari awal apapun tidak masalah, daripada jika aku tidak melakukannya, kau pasti akan mengeluh dan memohon-mohon, benar kan?” Balas kim bum. So eun menatap kim bum dengan takjub.
“Itu berarti…..aku bisa meminta apapun?” Tanya so eun.
“Um yeah yeah.” Balas kim bum pasrah.
So eun mulai berpikir-pikir, apa yang harus ia pinta dari kim bum? So eun tiba-tiba tersenyum sendiri dengan wajah yang mulai memerah. Membuat kim bum menatapnya dengan aneh.
“Kalau begitu….baiklah…..uuuummmmmm…….bagaimana dengan CINTA?” Pinta so eun. Ia menatap kim bum seraya memegangi kedua pipinya. Kim bum menatap so eun dengan mata membulat.
“Huh?” Kim bum menghentikan langkahnya.
“Kau tahu kan…..aku sangat ingin cinta dari kim bum-ssi atau semacamnya.” Jelas so eun. Pipinya semakin memerah saja.
“Apa kau bodoh? Dimana aku bisa membeli hal yang semacam itu? Katakan sesuatu yang lain saja, sesuatu selain itu !” Ujar kim bum.
“Bukankah kau sudah bilang aku bisa meminta apa saja darimu.” Balas so eun dengan pipi yang menggembung. Kim bum lalu mencubit kedua pipi so eun dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah so eun.
“Mintalah sesuatu yang bisa aku beli dengan uang ! Pasti ada sesuatu baik itu benda atau semacamnya yang kau inginkan, kan?” Ujar kim bum.
“Tidak ada yang aku inginkan selain itu.” Jawab so eun dengan polosnya. Cubitan tangan kim bum di pipi so eun semakin keras, membuat so eun meringis. Tiba-tiba saja ponsel so eun berdering dan kim bum perlahan melepaskan cubitannya. Dengan segera so eun mengangkat telponnya yang ternyata dari sang ibu.
“Yobeosaeyo eomma…….ah ye arasseo……..aku akan kesana sekarang……ne.” So eun kembali memasukan ponselnya ke dalam tas saat obrolan dengan sang ibu di telpon selesai.
“Kim bum-ssi, sepertinya kita akan berpisah disini. Eommaku meminta untuk menemuinya di kantor appaku. Kalau begitu sampai bertemu besok~” so eun berjalan menuju zebra cross dan kebetulan lampu pejalan kaki sedang menyala.
“Hei….tunggu sebentar !” Pinta kim bum.
“Mian~ aku buru-buru ! Tentang waktu dan tempat untuk merayakannya, kita bicarakan lagi lain waktu, oke?” Teriak so eun seraya berjalan mundur dan melambai-lambaikan tangannya kepada kim bum saat ia menyebrangi jalan bersama pejalan kaki lainnya.
“Y…ya….Hei….” teriak kim bum. Ia pun hanya bisa diam di tempat dengan aura gelap di sekitarnya. Pasalnya, bagaimana bisa ia memberikan so eun ‘CINTA?’ cinta bukanlah sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Lalu apa yang harus ia lakukan?

 

-today love is begin-

 

“AHAHAHAHA ! bukankah itu akan lebih baik jika kau hanya memberikan cinta kepada so eun-ssi sebanyak yang ia mau!? Ternyata….so eun-ssi bisa juga mengatakan sesuatu yang sangat lucu, huh? Hahahahah.” Il woo tak kuasa untuk menahan tawanya setelah ia mendengar cerita kim bum. Sementara itu kim bum hanya menopang dagunya dengan ekspresi wajah kesal karena il woo yang begitu berisik. Seperti biasa, saat ini il woo sedang ada di apartemen kim bum.
“Dengan wajah yang seserius itu kau tiba-tiba bertanya tentang hal ini kepadaku. Ahahahah pasti kau merasa terganggu dengan permintaan so eun-ssi itu, benar kan?” Il woo masih belum bisa menghentikan tawanya. Bahkan ia sampai memegangi perutnya.
“Ani, aku sama sekali tidak merasa terganggu.” Balas kim bum enteng.
“Ternyata, kau sudah menjadi lebih ramah sekarang ini, huh? So eun-ssi sedikit demi sedikit sudah bisa merubahmu kekekekekk kau begitu menyukainya ternyata, huh?” Ujar il woo panjang lebar. Tidak ada reaksi dari kim bum, il woo pun menghentikan tawanya dan melihat kim bum yang duduk di depannya masih dengan menopang dagu. Aura wajah kim bum terlihat menakutkan, ia menatap il woo dengan tatapan membunuhnya. Il woo jadi ketakutan dan shock.
“A…aahhh…kim bum-ah…..ekspresi macam apa itu? Jangan marah ! Aku hanya memberimu pujian heheheh.” Il woo tertawa hambar untuk mencairkan sedikit suasana, terlebih kim bum menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat.
“Huft….” kim bum membuang nafasnya.
“Jadi, apakah kau akan mengabulkan permintaan so eun-ssi itu?” Tanya il woo kemudian.
“Bagaimana bisa aku mengabulkannya? Dia meminta sesuatu yang aneh, yang bahkan tidak bisa dibeli oleh uang. Itu sangat bodoh !” Jawab kim bum kesal.
“Bukankah kau satu-satunya yang bodoh itu?” Balas il woo. “Ini adalah tentang ulangtahun kekasihmu ! Paling tidak kau harus mencoba menyingkirkan rasa gengsi dan harga dirimu itu ! Terlebih kau sangat menyukai so eun-ssi juga, kan?” Lanjutnya.
“Kau pikir semudah itu menuruti permintaannya?” Balas kim bum.
“Bukan seperti itu ! Aku hanya ingin melihat sisi lain darimu !” Ujar il woo. Kim bum mendesah lalu ia menyenderkan tubuhnya ke sandaran sopa.
“Lagi pula, aku tidak mengerti maksud ‘CINTA’ yang ia inginkan. Semuanya terlalu abstrak hingga aku pun belum faham.” Ujar kim bum. Il woo langsung menatap kim bum dengan mata yang membulat.
“Ehhh……kim bum-ah, apa kau ini benar-benar manusia?” Pekik il woo. Kim bum menatap il woo dengan aneh, pasalnya il woo memasang wajah terkejutnya.
“Kalau begitu apa yang harus aku lakukan, huh?” Tanya kim bum.
“Um~ tentu saja kau harus memuji so eun-ssi sebanyak yang kau bisa, katakanlah sesuatu yang bisa membuatnya senang. Misalnya, kau bisa memuji penampilannya, katakan padanya jika dia cantik, lucu, atau semacamnya.” Usul il woo. Kim bum menatap il woo dengan datar, bagaimana bisa ia melakukan hal semacam itu disamping ia membenci hal yang menggelikan? Mendengar usulan il woo saja sudah membuatnya malas.
“Baiklah…..jika kau tidak ingin melakukannya. Bagaimana jika kau mengajaknya menonton ke bioskop? Atau mengajaknya makan di restoran? Atau mengajaknya jalan-jalan ke suatu tempat yang akan membuatnya takjub?” Usul il woo lagi dengan bersemangat, seakan-akan ia begitu pandai dalam hal menyenangkan hati perempuan.
“Apa kau baik-baik saja melakukan hal semacam itu? Hal yang begitu menggelikan?” Tanya kim bum. Mendengar pertanyaan kim bum, il woo menghela nafasnya.
“Lagipula, kenapa kau sangat benci melakukan hal-hal romantis seperti itu? Apa jangan-jangan kau malu, huh?” Tanya balik il woo.
“Aku tidak malu ! Hanya saja aku tidak ingin melakukan sesuatu yang genit seperti memuji atau merayu perempuan.” Jawabnya enteng.
“Lalu? Kenapa dengan itu semua?” Tanya il woo lagi. “Jika kau mau mencoba untuk mengatakan sesuatu kepada so eun-ssi yang ingin so eun-ssi dengar, bukankah dia akan merasa sangat senang? Pernahkah kau berpikir seperti itu meskipun hanya sekali?” Ujar il woo panjang lebar. Kim bum hanya menatapnya saja.
“Aku tidak pernah memikirkannya.” Balas kim bum.
“Kau…..kau belum sadar juga?” Kini giliran il woo yang kesal. Dibalik otak kim bum yang encer soal pelajaran, ternyata kim bum sangat bodoh soal urusan perempuan. Il woo jadi gemas sendiri melihatnya.
“Membuat hati perempuan senang tidak butuh mengeluarkan banyak tenaga ! Hal seperti itu sangatlah normal, apalagi untuk menyenangkan kekasihmu sendiri, kan? Jika saja so eun-ssi kekasihku, dengan senang hati aku akan melakukan apa saja agar dia senang dan semakin menyukaiku.” Jelas il woo yang kini sukses membuat kim bum diam dan berpikir.

 

-today love is begin-

 

Chungju Highschool

Kim bum baru saja hendak duduk di kursi kantin setelah ia memesan makanan. Tapi tiba-tiba dua orang perempuan duduk begitu saja di hadapannya.
“Annyeong kim bum-ssi !” Sapa bo young. Kim bum mengerutkan keningnya. Di depannya kini sudah ada bo young dan hye rim yang menatapnya seraya tersenyum penuh arti.
“Kami sudah mendengarnya kim bum-ssi, dari mulut so eun sendiri !” Ujar bo young setengah berbisik.
“Mwo?” Kim bum mengerutkan keningnya. Apa maksud dari dua perempuan di depannya ini? Kenapa tiba-tiba duduk dan berbicara tidak jelas? Ia jadi ingin cepat-cepat menyingkir dari sini.
“Kau bilang pada so eun jika kau akan memberikan cintamu sebagai hadiah, benar bukan?” Goda bo young. Sontak kim bum membulatkan matanya.
“Huh? Apa maksud kalian?” Kim bum tidak mengerti.
“Aku tidak menyangka, ternyata masih ada laki-laki sepopuler dirimu yang berani berkata seperti itu.” Ujar hye rim.
“Kau sangaaaat kereeeen kim bum-ssi !!!” Bo young mengacungkan jempolnya di depan wajah kim bum.
Kim bum sudah muak dengan kedua perempuan ini, mereka sudah membuatnya naik darah. Tapi sebisa mungkin kim bum menahannya karena tak mungkin ia menunjukkan sisi aslinya di depan orang banyak kan?
“Bo young-ah…….hye rim-ah…..apakah kalian sudah memesan makanannya?” Teriak so eun seraya berjalan menghampiri mereka.
“Eh? Kim bum-ssi? Kau disini juga?” So eun baru menyadari keberadaan kim bum. Kim bum langsung menatap so eun dengan tatapan marah lalu berdiri dari duduknya.
“Ikut bersamaku sebentar !” Kim bum langsung menarik tangan so eun pergi menjauhi mereka.
“E..eeh? Wae? Ada apa?” Beberapa pertanyaan muncul di kepala so eun karena kim bum secara tidak biasa menarik tangannya begitu saja.
Kim bum baru berhenti menarik tangan so eun setelah mereka berada di tempat sepi.
“Wae? Kenapa tiba-tiba kau…..ouchh !” So eun meringis karena tiba-tiba kim bum mencubit kedua pipinya cukup keras.
“Kenapa kau selalu mengobrol tanpa henti kepada mereka tentang sesuatu yang tidak perlu, huh? Bukankah yang kau ceritakan itu begitu memalukan, hmmm?” Kim bum semakin gemas saja mencubit pipi so eun di samping ia merasa sangat kesal.
“M…mianhae~.” Balas so eun. Kedua tangannya juga menahan tangan kim bum yang mencubit pipinya.
“Jangan katakan hal-hal memalukan lagi ! Atau aku akan mengunci mulutmu agar kau diam !” Ancam kim bum.
“M…mianhae….jeongmal mianhae…..aku terlalu senang hingga aku tak sengaja mengatakannya.” Balas so eun. “Pipiku sakit~.” Lanjut so eun. Perlahan kim bum pun melepaskan tangannya dari pipi so eun. So eun langsung mengusap-usap pipinya yang sedikit memerah karena bekas cubitan kim bum.
“Lagi pula, aku tidak pernah mengatakan akan melakukan apa yang kau inginkan.” Ujar kim bum.
“M..mwo? Kau tidak mau melakukannya?” Pekik so eun. “Jadi artinya, aku tidak akan mendapat apapun? Setelah aku benar-benar menantikannya?” So eun bersuara cukup keras.
“Kau sangat berisik ! Bukan itu maksudku ! Hanya saja akun tidak akan melakukan apa yang kau inginkan sebelumnya !” Balas kim bum kesal.
“Kalau begitu?” Tanya so eun. Kim bum diam. Ia tidak tahu juga harus menjawab apa, pasalnya ia belum memikirkan apa yang harus ia berikan untuk so eun. Bertanya kepada il woo kemarin pun rasanya sangat buang-buang waktu. Melihat kim bum yang hanya diam saja, so eun pun berpikir sejenak. Ia menopang dagunya.
“Baiklah aku mengerti, aku mengganti permintaan hadiah untuk ulangtahunku !” Ujar so eun dengan cepat. Kim bum menatap so eun.
“Maaf karena sudah meminta sesuatu yang aneh darimu, kau pasti merasa terganggu, kan?” Lanjut so eun.
Kim bum menghela nafasnya. “Seharusnya kau menyadari itu dari awal.” Balas kim bum. “Lalu?” Tanyanya.
“Umm….kau tahu kan, kita sekarang sudah resmi berkencan….” so eun meremas-remas tangannya. “Setelah aku berpikir kembali, dari awal kita berkencan kau belum pernah mengatakanya kepadaku dengan jelas kan?” Lanjut so eun.
Kim bum mengerutkan keningnya. “Mengatakan apa maksudmu?” Tanya kim bum.
” ‘aku suka padamu’, kau belum pernah mengatakan itu kepadaku.” Ujar so eun malu. Kim bum sedikit terkejut. Memang benar, ia belum pernah mengatakan itu kepada so eun dengan jelas.
“Aku sangat ingin mendengarkan kata-kata itu dari mulutmu~~~ tidak apa-apa jika kau ingin mengatakannya sekarang juga, dengan senang hati aku akan mendengarkannya? Atau….haruskah aku merekamnya?” So eun tampak bersemangat kali ini. Kim bum menatap so eun dengan tatapan aneh.
“Hanya aku yang akan memutuskan jenis hadiah seperti apa yang akan aku berikan.” Balas kim bum akhirnya.
“W..wae?” So eun kecewa.
“Sudahlah, jangan banyak meminta !” Balas kim bum lalu ia menyentil kening so eun. Alhasil so eun pun meringis kesakitan.

 

-today love is begin-

 

“Aku benar-benar tidak sabar menunggu hari ulang tahunku.” Ujar so eun. Nirin yang berjalan di sampinnya langsung menatap so eun. Hari ini so eun tidak pulang bersama kim bum, karena kim bum ada urusan di club karya tulis ilmiahnya.
“Bagaimana reaksi kim bum-ssi tentang ulang tahunmu?” Tanya nirin.
“Tidak ada yang spesial, terlebih dia sudah menolak dua permintaanku.” Cerita so eun.
“Memangnya apa permintaanmu?” Tanya nirin penasaran.
“Aku hanya….hanya memintanya untuk memberikanku cinta dan memintanya untuk berkata ‘aku suka padamu’. Hanya itu saja, tapi dia terus menolak.” Jawab so eun. Nirin terkekeh geli mendengarnya.
“Waeyo?” Tanya so eun.
“Jelas saja dia menolak, jika saja kau meminta sesuatu yang lebih masuk akal, aku yakin dia akan menurutinya.” Balas nirin.
“Tapi mungkin saja dia mengabulkan keinginanku kan? Tidak ada yang tidak mungkin karena nanti adalah hari ulang tahunku, kau tahu?” Ujar so eun dengan percaya dirinya. “Tapi meskipun itu tidak terjadi, aku baik-baik saja ! Cukup kim bum-ssi merayakannya denganku, aku akan sangat senang.” Lanjutnya. Nirin ikut tersenyum mendengarnya.
“Baiklah jika itu akan membuatmu senang.” Balasnya. Senyum so eun semakin lebar.

 

-today love is begin-

 

Kim bum sedang duduk di lantai seraya menyalakan laptopnya yang ia simpan di atas meja. Ia berniat untuk mencari hadiah untuk so eun lewat online shop. Tapi sebelum ia memutuskan akan memesan apa, terlebih dahulu ia mengetikkan keyword hadiah ulang tahun untuk dijadikan referensi. Setelah ia mencari-cari, kebanyakan hadiah yang muncul adalah semacam perhiasan, boneka, dan bunga. Kim bum benci dengan boneka, apalagi dengan bunga. Ia pun memutuskan untuk memilih perhiasan di salah satu online shop. Setelah melihat-lihat, ada sebuah gelang dengan rantai berbentuk bunga-bunga kecil berwarna ungu yang kim bum rasa lumayan cocok untuk so eun.
“Benda ini tidak apa-apa, kan?” Gumamnya. Tanpa pikir panjang lagi, kim bum pun mengklik kolom ‘beli’ disana. Setelah selesai, kim bum pun segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka sebelum tidur. Saat ia mengelap wajahnya sambil bercermin, tiba-tiba ia teringat dengan perkataan so eun siang tadi di sekolah.
‘aku suka padamu’, kau belum pernah mengatakan itu kepadaku. Aku sangat ingin mendengarkan kata-kata itu dari mulutmu~~~ ‘
Kim bum menatap dirinya di cermin dengan serius. Ia kemudian membuka mulutnya perlahan.
“Aku……” kim bum terdiam beberapa detik. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana harus mengatakan kata-kata itu kepada so eun.
“Aku suka pa…………aiiiiissshhh…..” kim bum mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Ia berusaha mencoba, tapi kenapa lidahnya mendadak kelu dan seperti tidak mau mengatakan kata-kata itu? Sebenarnya ia ingin mengatakan yang sejujurnya kepada so eun soal perasaannya dan mengatakan aku juga suka padamu, tapi rasanya sulit sekali. Kim bum pun meninju dinding di dekat cermin.
“bodoh !” Ujarnya terlebih kepada diri sendiri.

 

-today love is begin-

 

Akhirnya ulang tahun so eun pun tiba juga, 6 Sepember. So eun benar-benar bersemangat hingga ia sedikit merias wajahnya. Sepulang sekolah so eun dan kim bum akan pergi jalan-jalan untuk merayakan ulang tahunnya. So eun merasa jika ulang tahunnya kali ini sangat spesial karena untuk yang pertamakalinya ia merayakannya dengan kim bum-orang yang ia sukai dan tentunya kini sudah menjadi kekasih resminya.
“Gawaaat ! Kenapa jantungku jadi berdetak lebih cepat seperti ini?” Ujar so eun seraya memegangi dadanya.
“Aku ingin tahu bagaimana reaksi kim bum saat melihat penampilanku. Tidak aneh kan?” So eun memutar tubuhnya di depan cermin. Untuk perayaan ulang tahunnya kali ini, so eun memilih memakai dress biru langit selutut tanpa lengan. Di bagian lehernya ada motif bunga-bunga mawar berwarna putih. So eun juga tak lupa menjepit rambutnya untuk lebih mempercantik diri.
Setalah selesai, cepat-cepat so eun pun bergegas menuju halte tempat dimana mereka janjian sebelumnya. Tepat saat so eun sudah sampai, kim bum pun juga baru tiba disana. So eun langsung berlari kecil menghampiri kim bum.
“Kim bum-ssi !” Panggil so eun dengan senyum lebarnya.
“Ah, sangat jarang sekali kau datang tepat waktu, huh !” Ujar kim bum yang melihat so eun datang sesuai waktu yang sudah ditentukan.
“Hehehe hanya sekali-kali…” so eun nyengir seraya membenarkan rambutnya.
Kim bum menatap so eun dengan seksama, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan penampilan so eun.
“Apa kau….berdandan, huh?” Tanya kim bum. Pipi so eun langsung bersemu merah, ternyata kim bum memberikan reaksi soal penampilannya, berarti kim bum memperhatikannya kan?
“Eh…? Ah ya, aku sedikit merias wajahku hehe.” So eun salah tingkah, ia membenarkan rambutnya berkali-kali. “Um~ bagaimana menurutmu?” Tanya so eun. Ia benar-benar berharap kim bum akan memberikan pujian untuknya.
“Soal itu…..” jawab kim bum menggantung. So eun pun langsung menengadahkan wajahnya menatap kim bum dengan wajah penasaran. Melihat ekspresi wajah so eun yang seperti itu, kim bum pun langsung memalingkan wajahnya ke depan.
“Tidak ada bedanya, kan? Mau kau berdandan atau tidak bagiku kau tetap sama saja.” Jawab kim bum akhirnya.
“Eh? Ah ya hehe tidak ada bedanya.” Ujar so eun mengulang kata-kata kim bum. Sebenarnya ia agak kecewa, tapi tidak masalah selama kim bum sedikit memperhatikan penampilannya sekarang ini.
Tepat pada saat itu, bus yang ditunggu pun datang. Kim bum dan so eun pun segera masuk ke dalam bus itu. Mereka duduk di kursi paling belakang.
“Ah ya, apa kita langsung ke bioskop saja? Atau makan terlebih dahulu? Masih ada waktu tersisa sebelum film di mulai.” Ujar so eun kepada kim bum.
“Jika kita pergi kesana sesaat sebelum film dimlai, disana akan sudah dipenuhi banyak orang !” Balas kim bum.
“Jebaaal~ aku belum makan apa-apa setelah pulang sekolah.” Ujar so eun seraya mengerucutkan bibrinya. Kim bum menatap so eun lalu menghela nafasnya.

 

Restoran

“Woooaaa makanannya kelihatan lezat sekali~” takjub so eun saat makanan yang mereka pesan sudah tersimpan di atas meja. “Aku harus mengambil fotonya kalau begitu.” So eun segera mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya dan mengambil beberapa gambar dari makanan itu. Kim bum menatap aneh ke arah so eun.
“Apa yang kau lakukan? bagaimana jika orang lain melihat, huh? Kau membuatku malu saja !” Protes kim bum.
“Gwaenchana~ lagipula aku ingin mengabadikannya….hari ini adalah hari yang spesial.” Balas so eun. “Ataukah aku harus mengambil gambar kim bum-ssi juga?” Tawar so eun.
“Tidak, terimakasih.” Tolak kim bum. “Segera hentikan kerjaanmu itu dan cepat makanlah !” Suruh kim bum. Tapi so eun tidak mendengar, ia malah nekad mengambil gambar kim bum. Dengan segera kim bum pun merebut ponsel so eun, ia juga melotot padanya.
“Kim bum-ssi~” protes so eun.
“Apa kau mau aku melempar ponselmu ke sungai lagi, huh?” Ancam kim bum.
“A…andwae…..andwae….jangan lakukan ! Baiklah aku akan segera makan.” So eun langsung mengulurkan kedua tangannya ke depan kim bum dan merentangkan telapak tangannya.
Kim bum berdecak lalu menyimpan ponsel so eun di atas meja di dekat makanan pesanannya. Dengan sedikit cemberut, so eun pun mulai menyantap makanannya. Kim bum juga kembali memakan makanannya.
“Ummmm~ enak sekali~” mata so eun langsung berbinar saat pertama kali ia merasakan makanannya.
“Kau ingin mencobanya kim bum-ssi?” Tawar so eun seraya mengangkat sendoknya di depan wajah kim bum.
“Ani, kau habiskan saja.” Tolak kim bum.
“Huh padahal sangat enak, kau akan menyesal jika tidak mencobanya.” Oceh so eun seraya sibuk mengunyah. Ia juga makan dengan lahap sekarang.
Kim bum memperhatikan so eun sebentar lalu ia pun merogoh sesuatu di dalam saku celananya.
“Ini, untukmu !” Kim bum menyodorkan kotak kecil dengan bungkus kado berwarna merah muda ke hadapan so eun.
“Eeeeh? Apa itu?” So eun langsung berhenti mengunyah dan menatap kotak kecil yang diberikan kim bum dengan wajah sedikit kaget.
“Hadiah untukmu.” Jawab kim bum, lalu ia menopang dagunya dan menatap so eun.
“Wooooaaa jeongmal??? Wooaaa aku sangat senang sekali~~~” wajah so eun bersemu merah dan matanya berbinar melihat hadiah yang sekarang sudah ada di tangannya.
“Boleh aku membukanya?” So eun menatap kim bum.
“Buka saja.” Balas kim bum.
Dengan tidak sabaran so eun pun membuka hadiah itu. Ia sangat penasaran benda apa yang kim bum berikan untuknya?
“Woooaaaa ini benar-benar cantik, aku menyukainya…..” so eun menatap sebuah gelang dengan bunga-bunga ungu di sekelilingnya.
“Bagaimana iniiii? Aku sangat senang !!!! Terimakasih kim bum-ssi, aku saaaaangaaaaat menyukainya….” ujar so eun. So eun tak bisa menyembunyikan semburat bahagia di wajahnya. Ia tidak menyangka kim bum akan memberikannya sebuah gelang.
“Hmmm…” kim bum hanya mengangguk.
“Gelang ini dan juga kalung, aku sudah menerima dua benda dari kim bum-ssi.” So eun tersenyum lebar. Kim bum hanya menatap so eun saja masih dengan menopang dagu.
“Akan sangat menyenangkan jika aku bisa mengoleksi barang-barang dari kim bum-ssi kekekekek…..” mata so eun sampai menghilang karena senyumnya yang begitu lebar.
“Jadi maksudmu, aku harus menghabiskan uangku untuk membelikanmu barang-barang seperti itu, huh?” Balas km bum.
“Eeehhhh? A…ani….ani….” so eun menggibas-gibaskan tangannya di depan kim bum.
“Bukan seperti itu maksudku~ ” so eun mengerucutkan bibirnya. Kim bum tersenyum melihat so eun seperti itu. Teringat kembali dengan permintaan so eun waktu itu kepadanya. Haruskah ia mengatakannya sekarang kepada so eun jika ia juga menyukainya?
“So eun-ssi….” panggil kim bum. So eun langsung mengalihkan matanya dari gelang itu dan menatap kim bum. Kim bum sendiri mulai menurunkan tangannya yang tadi menopang dagu. Ia lipat kedua tangannya di atas meja dan kim bum mencondongkan wajahnya mendekati so eun. So eun bingung melihat kim bum seperti itu. Apalagi kim bum menatap tepat ke mata so eun, dengan wajah serius. So eun jadi gugup melihatnya.
1 detik
2 detik
3 detik
Kim bum masih menatap so eun dengan serius tanpa mengatakan apa-apa. Hingga di detik ke 5 ia mulai membuka mulutnya.
“So eun aku……” kim bum menggantungkan ucapannya. So eun sudah deg-degan sendiri menanti apa yang akan kim bum katakan. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia juga merasakan pipinya mulai memanas.
1 detik
2 detik
Kim bum belum juga melanjutkan kata-katanya.
“Aku ingin pergi ke toilet sebentar.” Lanjut kim bum akhirnya. Entah kenapa, sangat sulit sekali bagi kim bum untuk mengatakan ‘aku menyukaimu’ pada so eun. Ia belum pernah mengatakan kata-kata itu kepada perempuan jadi ia merasa sulit untuk mengatakannya, apalagi setelah ia melihat wajah so eun.
“Aa…ya…pergilah.” balas so eun. Kim bum langsung berdiri dari duduknya dan segera pergi ke toilet, sementara so eun diam di tempat dengan beberapa dugaan di kepalanya tentang apa yang akan kim bum katakan.
So eun memegangi dadanya. “Jantungku….” ujarnya.

Bukannya masuk ke dalam toilet, kim bum malah menyandarkan tubuhnya di dinding lorong menuju toilet. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia tidak bisa mengatakannya. Ia merasa dirinya begitu bodoh. Kim bum diam disana selama beberapa menit sambil menenangkan hatinya, wajahnya juga sedikit berkeringat. Ia tidak nyaman dengan dirinya yang sekarang ini.

 

-today love is begin-

 

Kini kim bum dan so eun berjalan menuju bioskop yang memang cukup dekat dengan restoran yang tadi mereka singgahi. Sekembalinya kim bum dari toilet, belum ada lagi pembicaraan di antara mereka membuat suasan menjadi canggung. Entah kenapa kepala kim bum tiba-tiba dipenuhi oleh teriakan-teriakan jung il woo yang menyemangati dirinya. “Hwaiting bum-ah !!!! Hwaiting !!!!”
‘Apaan ini? Kenapa suara anak itu terus terngiang-ngiang di kepalaku?’ Batin kim bum.
Sementara itu, so eun terus saja menundukkan kepalanya. Ia benar-benar tidak nyaman dengan suasana seperti ini. Suasana canggung diantara dirinya dengan kim bum. Tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat, so eun memegangi dadanya. Teringat lagi dengan aksi kim bum saat di restoran tadi.
‘Sebenarnya apa yang akan dikatakan kim bum-ssi? Kenapa aku jadi deg-degan seperti ini? Apakah kim bum-ssi hendak mengatakan jika dia menyukaiku?’ Batin so eun. Perlahan ia mengangkat kepalanya, dan menatap kim bum diam-diam. Pipinya mendadak menjadi merah.
‘Apakah benar ia hendak mengatakan itu padaku tadi?’ Batinnya.
Merasa so eun sedang memperhatikannya, kim bum pun langsung menoleh menatap so eun dan dengan cepat tangannya menutup mata so eun.
“Jangan menatapku seperti itu !” Perintah kim bum.
“Eeeh? W..wae?” Tanya so eun.
“Tatapanmu sangat menganggu ! Membuatku tidak nyaman !” Balas kim bum yang kini sudah melepaskan tangannya yang menutup mata so eun.
“Uuu m…mian.” balas so eun.
“Kita akan nonton film kan? Jadi percepatlah langkahmu !” Suruh kim bum. Ia lalu berjalan lebih dulu, sementara so eun masih diam di tempat.
‘Ah ya, kim bum-ssi mana mungkin akan mengatakan hal yang seperti itu, kan? Aku terlalu banyak berharap.’ Batin so eun lalu ia pun mengikuti langkah kim bum.

 

Bioskop

“MMWWWOO? sudah penuh!?” Pekik so eun pada petugas bioskop yang bekerja di bagian pembelian tiket.
“Silakan beli saja tiket film lain.” Ujar petugas itu.
“Ah ye.” So eun menunduk lalu menghampiri kim bum yang tengah melihat-lihat poster beberapa film yang dipajang.
“Waeyo?” Tanya kim bum yang heran karena melihat ekspresi murung so eun.
“Kita kehabisan tiketnya, padahal aku ingin sekali menonton film itu bersamamu.” Jawab so eun. Bukannya menghibur, kim bum malah mencubit gemas pipi so eun.
“Bukankah sudah aku katakan sebelumnya kita tak harus pergi makan duluuu, huh? Penuh kan?” Kesal kim bum.
“M..miaaan.” so eun berusaha melepas tangan kim bum yang mencubit pipinya. Kim bum menghela nafasnya.
“Apakah tidak apa-apa kita menonton film lain saja, kim bum-ssi?” Tanya so eun. Kim bum hanya menatap so eun dengan wajah kesal.
“Ah….masih ada satu film yang akan diputar sekarang, film itu !” So eun menunujuk poster film romance dengan judul confession. Mata kim bum mengikuti arah telunjuk so eun.
“Tapi….pasti kim bum-ssi tidak akan mau menonton film seperti itu, kan?” So eun menggaruk tengkuknya. Kim bum terdiam sejenak seraya memperhatikan poster film itu.
“Kalau begitu, ayo kita nonton lain kali saja ! Untuk hari ini kita habiskan jalan-jalan atau semacamnya~ kim bum-ssi tidak suka dengan……”
“Haruskah kita menontonnya?” Potong kim bum.
“Huuh?” So eun menatap kim bum kurang yakin.
“Cepatlah dan beli tiketnya !” Suruh kim bum. So eun menatap kim bum tidak percaya.
“Huh? Aa…apa kau yakin? Itu film romantis kau tahu?” Balas so eun.
“Terserah padaku aku ingin menonton film macam apa, kan? Apa kau keberatan dengan hal itu!?” Tiba-tiba kim bum marah dan menatap so eun dengan kesal.
“A….arasseo.” balas so eun akhirnya.

 

So eun sangat menikmati film dengan judul confession ini. Filmnya sendiri bercerita tentang seorang laki-laki yang ingin menyatakan perasaannya pada perempuan yang ia sukai namun begitu sulit untuk ia ungkapkan. Hanya untuk mengatakan 3 kata ‘aku suka padamu’ atau ‘aku cinta padamu’ serasa sulit bagi si pemeran laki-laki itu untuk mengatakannya. Hal ini jelas sekali menyindir kim bum. Apa yang ia alami sama percis dengan apa yang ada di film itu. Lama-lama ia merasa terganggu dan menyesal juga memilih menonton film ini.
“Filmnya sangat romantis, aku menyukainya. Pemeran laki-lakinya juga keren.” Ujar so eun setelah film tersebut selesai.
“Oh begitukah?” Balas kim bum. So eun mengangguk.
“Aiiih….aku benar-benar kesal dengan tokoh laki-laki itu? Apa susahnya mengatakan ‘suka’ pada perempuan yang ia sukai? Apakah harus sampai perempuan itu mengalami kecelakaan terlebih dahulu baru ia berani mengatakannya?” Oceh seorang perempuan dengan rambut kriting yang berjalan di belakang kim bum saat bubaran dari menonton film itu.
“Kau benar, lelaki seperti itu adalah lelaki yang pengecut. Untung saja pacarku tidak seperti itu.” Balas temannya dengan rambut sebahu.
Kim bum mulai terganggu dengan perkataan-perkataan kedua perempuan itu karena ia merasa tersindir.
“Kim bum-ssi setelah ini haruskan kita pergi ke nam……”
GRAB~ So eun tak melanjutkan perkataannya karena tiba-tiba kim bum menarik tangannya sehingga tubuhnya mendekat ke kim bum. So eun terkejut.
“K…kim bum-ssi?” Kaget so eun. Kim bum menatap so eun dengan serius tepat pada matanya. Selama beberapa detik kim bum hanya menatapnya saja sehingga so eun menatap kim bum dengan bingung. Menatap wajah polos so eun yang menatapnya membuat kim bum kembali mengurungkan niatnya untuk mengatakan kata-kata itu.
“Tch…” kim bum berdecak sebal. Ia sebal dengan dirinya sendiri.
“A…ada apa kim bum-ssi?” Tanya so eun. Kim bum menghela nafasnya seraya memejamkan matanya sebentar.
“Ani, rambutmu hanya sedikit kusut.” Dusta kim bum seraya merapikan rambut so eun dengan cepat lalu setelah itu berpaling dan berjalan meninggalkan so eun.
“Aah…g..gomawo.” so eun memegangi rambutnya.
“Yeah.” Balas kim bum. ‘Kenapa aku jadi bodoh seperti ini?’ Batin kim bum.
So eun memeperhatikan punggung kim bum seraya tersenyum senang. ‘Kim bum-ssi sangat perhatian padaku hari ini, dia bahkan merapikan rambutku.’ Senang so eun yang masih memegangi rambutnya. Ia pun lalu segera mengejar kim bum.
“Hehe kim bum-ssi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Haruskah kita pergi ke namsan tower atau ke sungai han?” Tawar so eun. Kim bum masih diam.
“Kim bum-ssi….” so eun menyentuh lengan kim bum.
“Terserah~ kemana saja asal kau menyukainya !” Jawab kim bum akhirnya. Senyum di bibir so eun mengembang.
“Baiklaaaah, aku ingin melihat pemandangan kota dari atas namsan tower !!!” Ujar so eun. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya lagi saat ini.

 

-today love is begin-

 

So eun dan kim bum menikmati pemandangan kota seoul dari atas namsan tower. So eun terlihat senang sekali, dan tanpa so eun tahu kim bum memperhatikan dirinya.
“Harusnya kita membeli gembok dan menguncinya disini.” Ujar so eun. Kim bum tersadar dan langsung memalingkan wajahnya.
“Heh kau percaya dengan hal yang seperti itu?” Timpal kim bum.
“Kenapa harus tidak percaya? Aku hanya ingin saja di namsan tower ini ada gembok cinta milik aku dan kim bum-ssi.” Balas so eun. Kim bum hanya menghela nafasnya. Lalu mereka pun kembali diam seraya menikmati lampu-lampu yang menghiasi kota seoul di malam hari.
“Woooa jeongmal yeoppeuda~~~ ini adalah pertama kalinya aku berdiri disini dengan orang yang aku sukai, sangat menyanangkan. Apa kau juga merasakan hal yang sama denganku kim bum-ssi?” Tanya so eun seraya menoleh ke samping dan menatap kim bum. Tapi kim bum tidak merespon, ia menatap lurus jauh ke depan.
“Kim bum-ssi, apa kau mendengarku?” Tanya so eun.
“Eh? Huh?” Kim bum baru tersadar. Ternyata barusan ia sedang melamun.
“Kau kelihatan aneh, apa sesuatu telah terjadi?” Tanya so eun khawatir.
“Ani, aku hanya sedikit muak saja.” Jawab kim bum. ‘Muak dengan diriku sendiri’ lanjut kim bum dalam hati.
“Eeh? Kalau begitu haruskan kita turun saja dan pulang?” Tanya so eun. Ia masih merasa khawatir dengan kim bum karena sedari tadi kim bum bersikap aneh.
“Ani…ani…lagipula kau ingin melihat pemandangan kota dari atas namsan tower, kan? Jadi diamlah dan lihat saja pemandangannya !” Balas kim bum. So eun menatap kim bum cukup lama sementara kim bum sendiri menatap lurus ke depan.
‘Di tempat seperti ini begitu banyak pasangan lain yang juga ingin menikmati pemandangan kota. Meskipun kim bum-ssi benci dengan tempat seperti ini, tapi dia masih berdiri disini menemaniku. Aku sangat senang’ batin so eun yang masih memperhatikan kim bum.
“Haaah anginnya sangat sejuk~” ujar so eun sambil tersenyum, angin itu menerpa rambutnya. Ia kini ikut menatap lurus ke depan. Kim bum menoleh menatap so eun, tepat pada saat so eun masih tesenyum senang.
‘Apa yang sulit dengan kata-kata itu? Melihatnya senang membuatku senang juga. Tidak apa aku mengatakannya sekarang hanya untuk membuatnya senang, kan?’ Batin kim bum.
“So eun…..” panggil kim bum sambil tersenyum. So eun langsung menoleh.
“Ne?” Tanya so eun.
“Dengarkan baik-baik, aku hanya akan mengatakannya satu kali.” Ujar kim bum. So eun menatap kim bum dengan bingung kini. Senyumnya yang tadi tersungging perlahan menghilang digantikan dengan wajahnya yang bengong.
“Ne?” Tanya so eun lagi. Kim bum menatap so eun dengan seksama dan bersiap mengatakan sesuatu. Tapi entah kenapa, lagi dan lagi lidahnya terasa kelu. Seperti ada sesuatu yang menahan lidahnya hingga sulit bagi kim bum untuk mengatakannya.
“Tch….” kim bum kesal dengan dirinya sendiri.
“Kau….riasan wajahmu dan penampilanmu tidak terlalu buruk….” ujar kim bum. Tiba-tiba itulah yang keluar dari mulut kim bum. Kim bum langsung menundukkan kepalanya frustasi.
“Ahh….” wajah so eun langsung memerah setelah mendengarnya.
“J..jinjayo?” Tanya so eun memastikan seraya memegangi pipinya.
“Aku senaaaang, tadinya aku khawatir dengan riasan wajahku dan penampilanku, itu karena kim bum-ssi tidak berkomentar apa-apa. Tapi sekarang aku benar-benar senang !!!” Ujar so eun. “Ekekekekek gomawooooo.” Lanjutnya dengan senyum cerahnya. Kim bum masih kelihatan frustasi karena belum juga berhasil mengatakan kata-kata yang ingin so eun dengar.

 

-today love is begin-

 

“Terimakasih sudah mengantarku sampai rumah.” Ujar so eun saat ia sudah berada di depan rumahnya. Kim bum berdiri di hadapan so eun.
“Tidak apa-apa.” Balas kim bum. Tiba-tiba keduanya saling diam. Entah kenapa so eun merasa tidak ingin hari ini berakhir sekarang, ia masih ingin menghabiskan waktu bersama kim bum. Kim bum memperhatikan so eun yang kini tengah menunduk seperti ingin mengatakan sesuatu.
‘Aku rasa ini sudah cukup. Aku menemaninya seharian dan juga memberikannya hadiah. Aku rasa hanya dengan itu dia sudah cukup senang, kan?’ Batin kim bum. Ia lalu menghela nafasnya.
‘Lagipula, bagaimana seorang lak-laki mengatakan ‘aku suka padamu’ dihadapan wajah orang lain?’ Batin kim bum.
“Baiklah….” kim bum menepuk kepala so eun. “Aku pulang.” Ujarnya lalu pergi meninggalkan so eun.
“Aah….tunggu !” Panggil so eun. Kim bum menghentikan langkahnya dan menoleh menatap so eun.
“Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku saat ini. Ini adalah hari ulangtahunku yang benar-benar spesial. Menghabiskan waktu bersama kim bum-ssi membuatku merasa jika aku terlahir di hari yang sangat spesial.” Cerita so eun. “Jeongmal gomawoyo~~~ aku sangat menyukaimu kim bum-ssi !!!” Lanjut so eun. Senyumnya mengembang hingga matanya juga ikut tersenyum. Kim bum nampak kaget, mendengar so eun mengatakan ia menyukainya terdengar begitu mudah dan mengalir begitu saja. Kenapa dirinya tidak bisa?
“Baiklah, selamat malam.” Ujar so eun lalu berbalik tanpa memperhatikan langkahnya dan ia menginjak jalan yang bolong hingga ia hampir saja terjatuh. Namun dengan cepat kim bum menarik pinggang so eun hingga mendekat padanya.
“Ahh…” so eun terkejut.
“Perhatikan langkahmu bodoh !!!” Ujar kim bum.
“M..mian….gomawo….” ujar so eun seraya sedikit memundurkan tubuhnya dari kim bum. Tapi ternyata kim bum malah mempererat tangannya yang merangkul pinggang so eun.
“Eeeh?” So eun kaget karena kim bum tak juga melepaskan tangannya dari pinggangnya. So eun tambah terkejut lagi saat kim bum menenggelamkan wajahnya di pundak so eun.
“Kk…kim bun-ssi….a…ada apa?” So eun mencoba mundur sedikit dan mengangkat kepalanya untuk menatap wajah kim bum. Tapi dengan cepat kim bum malah memeluknya dengan sangat erat, seakan ia tidak ingin so eun melihat wajahnya yang sekarang ini.
“Eeeehhh?” So eun benar-benar kaget pasalnya kim bum memeluknya begitu erat.
“K…kim bum-ssi ! Sakit !!! Ini sakiiit !!!” Protes so eun karena pelukan kim bum yang sangat erat hingga tak bisa membuatnya bergerak.
“Diam !” Suruh kim bum.
“Tapi ini sangat sakit !!! Aku tudak bisa berna……”
“yak diamlah ! Sampai aku mengatakan ‘ok’ jadi diamlah !” Potong kim bum. Kim bum bahkan menahan kepala so eun dengan erat. So eun jadi terdiam juga, pipinya mulai memanas dan sudah terlihat merah. Lalu so eun tersenyum dan balas memeluk kim bum dengan erat juga.
Wajah kim bum sendiri juga memerah. Salah satu alasan ia memeluk so eun dan tidak ingin melepaskannya adalah karena ia tidak ingin so eun melihat wajahnya yang memerah seperti sekarang ini. Sudah hampir 5 menit berlalu mereka masih berpelukan.
“Umm…bukankah ini sudah cukup, kim bum-ssi?” Tanya so eun karena kim bum belum juga melepaskan pelukannya.
“Kau sangat berisik, diam !!!!” Balas kim bum. So eun pun hanya bisa menurut saja.
“Dengar !” Perintah kim bum. “Aku akan mengatakannya sekarang dan aku hanya akan mengatakannya satu kali.” Lanjutnya. So eun mengangguk.
“Aku-suka-padamu !” Aku kim bum dengan penekanan di setiap kata-katanya. So eun tersenyum mendengarnya. “Kau sudah mendengarnya, kau puas?” Tanya kim bum.
So eun kembali mengangguk. “Aku juga sangaaaat menyukaimu, kim bum-ssi.” Balas so eun. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan so eun sekarang ini? Ia sendiri tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata saking senangnya. So eun terus tersenyum di pelukan kim bum. Sementara kim bum sendiri merasa malu setelah mengatakan kata-kata itu. Tak seperti biasanya bahkan wajahnya pun memerah.
‘Bahkan sampai aku mati pun, aku tidak akan pernah menunjukkan wajahku yang seperti ini kepadanya !’ Batin kim bum.

 

Tidak ada yang lebih baik dari hari ini ! Ini adalah ulang tahun yang terbaik !!! Terimakasih kim bum-ssi, aku sangat menyukaimu ! aku beruntung karena aku jatuh cinta kepadamu. Meskipun aku tahu ada sedikit keterpaksaan saat kau mengatakan kau suka padaku. Aku tidak apa-apa karena aku tahu kau bukanlah tipe laki-laki seperti itu. Hanya dengan sikapmu saja kepadaku aku sudah cukup tahu jika kau juga sangat menyukaiku tanpa kau mengatakannya.

To Be Continued

Mian jika ceritanya kurang memuaskan, tapi saya harap kalian menyukainya.

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya.

Today, Love Is Begin PART 12

Today, Love Is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

 

PART 12

 

“AGAR AKU BISA MENGERTI DAN PAHAM, COBA KATAKANLAH SEMUANYA DENGAN JELAS !” Teriak so eun, tangisannya semakin deras saja. Kim bum diam beberapa saat tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
“Sudah aku katakan sebelumnya bahwa kau adalah milikku. Itu adalah disaat kau memintaku untuk menjadi pacar palsumu, kan? Tapi sekarang berbeda.” Jelas kim bum. So eun menatap kim bum kini, tangisnya sudah cukup mereda.
“Sekarang kau tidak sesederhana untuk membunuh waktu atau semacamnya.” Lanjut kim bum.
“Lalu? Dengan kata lain?” Tanya so eun.
Kim bum mengerutkan keningnya, memperlihatkan ekspresi wajahnya yang kelihatan tidak nyaman.
“Jadi…..ini adalah….ini adalah apa yang biasa oleh orang-orang sebut sebagai ‘suka’ mungkin.” Jawab kim bum akhirnya. So eun menatap kim bum tanpa berkedip sedikitpun. “Wae? Apakah aku salah?” Tanya kim bum.Bukannya menjawab, so eun malah menatap kim bum dengan mata yang berkaca-kaca hendak mengeluarkan kembali air mata.

“Kau sedang tidak berbohong, kan?” tanya so eun. “kau tidak percaya padaku?” tanya balik kim bum. “bukan seperti itu…..aku hanya……aku hanya takut kau sedang mempermainkanku lagi, aku takut semua yang kau katakan barusan itu ternyata hanya lelucon lagi, aku takut……” Air mata so eun kini kembali membasahi pipinya. Melihat so eun kembali menangis, membuat kim bum tidak tega. Ia menatap so eun dengan tatapan yang teduh, tidak seperti tatapan sebelumnya. “apa yang harus aku lakukan agar kau percaya?” kim bum memegang kedua pipi so eun dan menghapus air matanya. So eun menatap kim bum dengan matanya yang sembab. Tidak tahu kenapa, air matanya malah jatuh kembali, so eun tidak bisa menahannya. Semua yang ia rasakan terlalu campur aduk, antara kesal, sedih, senang, semuanya bercampur menjadi satu.
“Kenapa….kenapa baru sekarang?” tangis so eun. Kim bum masih menatap so eun dengan tatapan teduh dan lembut. “kenapa baru sekarang kau menyadarinya? Hiks….hiks…..” Kim bum kembali menghapus air mata so eun.
“Hikss….hiksss….Selama ini kau sudah benar-benar membuatku bingung ! Hikss…..” Karena so eun yang tak juga berhenti menangis, kim bum pun menarik tubuh so eun dan mengusap-usap kepalanya.
“Menangislah ! Menangislah sesukamu !” Ujar kim bum. Bukannya menyuruh so eun berhenti menangis, ia malah menyuruh so eun untuk menangis. Sementara itu, so eun masih menangis di dada kim bum.
“Apakah itu artinya kau dan aku berkencan sungguhan sekarang ini?”tanya so eun.
“Baiklah~ Kau bisa menganggapnya seperti itu.” Balas kim bum. So eun tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya lagi saat ini. Ia langsung melebarkan tangannya dan memeluk kim bum dengan erat.
“Kau tidak akan marah aku memelukmu seperti ini?” Tanya so eun.
“Um~ yeah yeah, terserah~ lakukan saja apa yang kau mau.” Balas kim bum yang kemudian kedua tangannya pun kini melingkar di tubuh so eun meskipun pelukannya tidak seerat yang dilakukan so eun.

 

Aku tidak ingin melupakan malam ini. Perjuanganku selama ini akhirnya berakhir di malam ini. Dia bahkan menciumku dan mengaku jika dia juga menyukaiku meskipun cara mengungkapkan perasaannya itu tidaklah manis menurut ukuranku. Tapi aku senang, hasilnya berbuah manis. Akhirnya hari ini pun cinta dimulai.

-today love is begin-

 

“Kau sangat berisik !” Kesal kim bum. Pagi ini mereka berangkat ke sekolah bersama. Dan selama perjalanan dari mulai rumah so eun sampai mereka sampai di sekolah mulut so eun tidak mau diam, dia terus berbicara dan banyak berangan-angan tentang hubungan mereka yang kini sudah resmi berkencan.
“Yak memangnya kenapa? Perasaan kita sudah sama dan kita saling menyukai, tapi kenapa perlakuanmu padaku tidak juga berubah?” Balas so eun. Kim bum menghembuskan nafasnya.
“Dari awal sifatku memang seperti ini, tidak ada yang bisa merubahnya ! Sepanjang jalan kau terus mengulang kata-kata yang sama. Apa kau itu radio rusak?” Ujar kim bum. Ia melihat so eun mengerucutkan bibirnya.
“Itu karena…..sejujurnya, aku masih belum mempercayainya jika sekarang kita……”
“Jadi kau tidak percaya denganku? Kau pikir aku sedang membohongimu?” Potong kim bum. Ia menatap so eun dengan wajah kesal.
“A…aniya~ bukan seperti itu maksudku.” So eun menggibas-gibaskan kedua tangannya.
“Hanya saja….apa yang sudah terjadi benar-benar tidak terduga. Aku selalu berpikir apakah ini bukan mimpi? Membagi kasih sayang dengan seseorang yang aku sukai terdengar sangat aneh untuk dikatakan. Tapi meskipun begitu, aku merasa sangat senang ! Bersama-sama membagi cinta dengan orang yang aku sukai benar-benar terasa seperti mimpi.” So eun memegangi pipinya yang memerah dan memanas saat mengatakan kata-kata itu.
“Heh….berhentilah mengatakan ‘membagi kasih sayang dan cinta’ !” Balas kim bum. So eun menatap kim bum. “Kata-kata itu membuatku merinding !” Lanjutnya dengan enteng. So eun membulatkan matanya. “Kau benar-benar……” kesal so eun. Tapi kim bum menampakan wajah tanpa berdosanya sehingga so eun pun tak melanjutkan kata-katanya, jika pun ia mengomel sekarang pastilah kim bum akan menghiraukannya. Pada akhirnya so eun pun hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
“So eun-ah….kim bum-ssi!?” Pekik bo young yang berpapasan dengan mereka saat di koridor. Bo young dan hye rim menatap so eun dengan tatapan penuh pertanyaan.
“Kalian….” balas so eun.
“Kenapa kalian berdua datang bersama?” Tanya hye rim.
“Bukankah hubungan kalian baru saja berakhir?” Timpal bo young.
“Ah….itu….” so eun menggaruk tengkuknya. Ia bingung untuk menjawab pertanyaan kedua temannya itu.
“Maaf jika aku dan so eun sudah membuat kalian bingung. Beberapa waktu lalu sedang ada pertengkaran kecil diantara kami. Tapi sekarang…..” kim bum menarik so eun dan merangkulnya. “Kami sudah berkencan kembali.” Lanjut kim bum seraya menunjukan senyum terbaiknya di depan bo young dan hye rim.
“Benar hehehe.” Tambah so eun. Bo young dan hye rim masih menatap mereka dengan bingung.
“Baiklah jika tidak ada lagi yang ingin kalian tanyakan, kami pergi ke kelas lebih dulu.” Ujar kim bum lalu berjalan meninggalkan mereka.
“Aku duluan ya bo young-ah hye rim-ah….annyeong !” So eun pun segera mengikuti kim bum.
“Heh jadi hanya pertengkaran kecil huh?” Gumam hye rim seraya memperhatikan punggung kim bum dan so eun. Ia melipat kedua lengannya di dada. Bo young mengangguk setuju.
“Eh….tapi, bagaimana dengan laki-laki itu?” Pekik bo young.
“Sudah aku duga, ini memang tidak akan pernah terjadi, mengkhianati laki-laki sepopuler kim bum-ssi benar-benar mustahil.” Ujar hye rim.
“Yaaa kau benar hye rim-ah…..sangat mustahil !” Balas bo young sambil angguk-angguk kepala.

“Jangan pernah mengatakan hal-hal yang aneh kepada mereka meskipun mereka adalah temanmu !” Ujar kim bum. So eun mendonggakan kepalanya untuk menatap kim bum.
“Kau tahu kau adalah milikku sekarang, jadi jangan mengatakan atau melakukan hal yang macam-macam yang bisa membuatku marah !” Tambah kim bum. So eun terpukau dengan kata-kata kim bum tersebut, ia menatap kim bum dengan mata berbinar seraya menahan senyumnya. Menyadari hal itu, kim bum menatap so eun dengan aneh.
“Ada apa dengan ekspresi wajahmu?” Tanya kim bum. Ia mulai merasa terganggu. Senyum so eun malah semakin mengembang lalu ia menggelengkan kepalanya.
“Aku mengerti~ sekarang aku pacarnya kim bum-ssi dan aku akan berusaha mematuhi perkataanmu.” Balas so eun dengan senang hati. Kim bum sedikit menyunggingkan senyumnya lalu memegang puncak kepala so eun. “Bagus~.” Ujarnya.
“Ah ya, satu pertanyaan untukmu !” Ujar so eun. Kim bum menurunkan pandangannya untuk menatap so eun.
“Apakah kau punya waktu di hari minggu?” Tanya so eun.
“Wae?” Tanya balik kim bum.
“Um~ haruskah kita pergi ke suatu tempat? Hanya kita berdua?” Tawar so eun, ia menatap kim bum dengan penuh harapan.
“Aku tidak punya rencana apa-apa. Haruskan kita bertemu?” Balas kim bum menjawab harapan so eun yang amat besar itu. Senyum so eun langsung merekah setelahnya.
‘Ini akan menjadi kencan pertamaku dengan kim bum-ssi setelah kami menjadi pasangan kekasih yang resmi ! Huaaa aku benar-benar sangat menantinya ! Aku ingin melakukan hal-hal yang belum pernah aku dan kim bum-ssi lakukan sebelumnya. Kencan ini akan menjadi kencan terbaik kekekekek.’ Batin so eun.

 

-today love is begin-

 

Hari minggu pun tiba. So eun yang begitu menanti-nantikan hari ini pergi lebih awal ke tempat mereka janjian dengan bersemangat. Ia memakai dress berwarna putih selutut dengan cardigan warna biru toska. Ia tampak sederhana tapi tetap terlihat menarik.
“Kim bum-ssi !” So eun melambai-lambaikan tangannya saat ia melihat sosok kim bum tak jauh dari tempatnya duduk sekarang ini. Kim bum sendiri memakai kemeja kotak-kotak warna merah-hitam dengan celana jeansnya yang berwarna hitam. Kim bum tampak berjalan santai dengan memasukan tangan kanannya ke dalam saku celana. Ia bahkan tak membalas lambaian tangan so eun.
“Sejak kapan kau sudah ada disini?” Tanya kim bum saat ia sudah berada di hadapan so eun.
“Um….sekitar sepuluh menit yang lalu mungkin?” Jawab so eun tak yakin.
“Aku pikir kau akan terlambat, tapi ternyata kau datang lebih awal. Haruskah aku bertepuk tangan untukmu?” Ujar kim bum.
“Bisakah sekali saja kau mengatakan kata-kata manis padaku? Kau selalu seperti ini.” So eun berubah menjadi lemas. Padahal yang ia inginkan untuk kencan pertama mereka kali ini kim bum akan bersikap manis padanya. Tapi nyatanya tidak sama sekali.
“Heh…..mian mian.” Balas kim bum. “Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?” Tanya kim bum.
Wajah so eun kembali bersemangat mendengar pertanyaan kim bum. “Ah ya, aku sudah membuat daftar rencana apa saja yang harus kita lakukan.” Balas so eun dengan nada semangat. Kim bum menatap so eun dengan kening berkerut.
“Bagaimana jika pergi ke taman bunga sakura? Aku sangat ingin pergi ke sana.” Ujar so eun.
“Huh? Taman bunga sakura?” Ulang kim bum.
“Hmm…” so eun mengangguk dengan semangat.
“Sekarang sudah masuk musim semi, dan bunga sakura sudah saatnya untuk bermekaran ! Di taman bunga sakura juga ada banyak tempat dan permainan yang bisa kita lakukan.” Jelas so eun.
“Aku menolak !” Balas kim bum enteng.
“M…mwo? Wae???” Tanya so eun kecewa. Ia tidak berpikir sebelumnya jika kim bum akan menolak untuk pergi ke taman bunga sakura.
“Tempat seperti itu akan dipenuhi oleh banyak orang.” Jawab kim bum.
“Gwaenchana~ anggap saja orang-orang disana hanya angin.” Balas so eun.
“Bukan itu masalahnya, aku hanya tidak ingin membuang-buang waktu di tempat yang tidak aku sukai.” Jelas kim bum. So eun diam tanpa berkata apa-apa lagi.
“Lebih baik kita pulang dan menonton Film di apartemenku !” Ajak kim bum. So eun tetap diam. “Hey….” panggil kim bum.
“Ini adalah kencan pertama, tapi kenapa kau malah menolaknya!?” Tahu-tahu so eun menangis. Kim bum terkejut dibuatnya.
“Hey….kenapa kau malah menangis?” Kaget kim bum.
“Aku hanya ingin kencan yang normal seperti yang dilakukan pasangan lain, apakah itu salah?” Air mata so eun turun semakin deras. Kim bum yang melihatnya pun jadi tidak tega dan akhirnya pun mengalah.
“Baiklah, kita pergi.” Ujar kim bum akhirnya. So eun langsung mengangkat kepalanya dan menatap kim bum.
“Jinja?” Tanya so eun. Kim bum mengangguk. Dengan cepat so eun pun menghapus air matanya. Senyum kembali tersungging di bibirnya.

 

-today love is begin-

 

“Uwaaaa………!!!!” So eun berteriak senang saat mereka sudah sampai dia taman bunga sakura. Bunga sakura yang baru bermunculan sangat indah dengan warnanya yang benar-benar cantik. So eun kagum hingga matanya pun berbinar-binar.
“Bukankah mereka sangat cantik?” Ujar so eun. Matanya tak henti menunjukkan kekagumannya saat melihat bunga sakura.
“Apanya yang menarik dengan bunga yang mekar?” Balas kim bum. Berbeda dengan so eun, ia benar-benar tidak nyaman dengan suasana seperti ini, apalagi tempatnya sangat ramai dan jauh dari kata tenang. Dari awal kim bum memang tidak suka dengan hal-hal yang berbau keramaian.
“Kau sudah mengalah dan setuju untuk pergi kesini, jadi jangan memasang wajah tidak senang seperti itu !” Ujar so eun. “Pasanglah ekpresi senang di wajahmu mengingat ini adalah kencan yang pertama untuk kita !” Suruh so eun.
“Sedari tadi kau terus saja berkata kencan !” Balas kim bum. So eun memanyunkan bibirnya.
Selain mereka, ternyata banyak juga pasangan-pasangan lain yang sedang berkencan di taman bunga sakura. Inilah salah satu yang juga membuat kim bum tidak nyaman pergi ke tempat seperti ini. So eun melihat pasangan lain saling bergandengan tangan dengan mesra, si pria dan si wanita pun tampak mengobrol dengan bahagia. Berbeda dengan dirinya dan kim bum. Mereka malah saling diam bahkan tidak bergandengan tangan. Membuat so eun iri kepada pasangan-pasangan kencan lain. So eun diam-diam mencuri pandang kepada kim bum, berharap kim bum akan menggenggam tangannya kemudian seperti pasangan lain. Karena kim bum yang tak kunjung melakukan tindakan apa-apa, akhirnya so eun pun yang mencoba untuk menggenggam tangan kim bum duluan. Ia melihat tangan kanan kim bum yang bebas, perlahan so eun mengangkat tangannya dan tinggal sedikit lagi tangannya akan menggenggam tangan kim bum. Tapi tiba-tiba kim bum memasukan tangannya ke dalam saku celananya. Membuat so eun down seketika dan langsung menundukkan kepalanya. Kim bum yang menyadari itu menatap so eun dengan heran.
“Wae?” Tanya kim bum.
“Apa kau membencinya juga?” Tanya so eun dengan nada yang terdengar putus asa.
“Huh?” Kim bum tidak mengerti.
“Berpegangan tangan dengaku, kau membencinya?” Ulang so eun.
“Sebenarnya apa yang kau bicarakan?” Kim bum masih belum mengerti kenapa tiba-tiba so eun bertanya seperti itu kepadanya.
“Lihatlah pasangan-pasangan lain !” So eun menunjuk beberapa orang pasangan kencan di sekitar mereka. Kim bum mengerutkan keningnya.
“Mereka saling berpegangan tangan dengan mesra, tapi kau dan aku……..apakah di dalam kepalamu tidak terpikirkan sedikitpun untuk menggenggam tanganku?” Tanya so eun.
Kim bum mengerti, ternyata itu yang di maksud so eun. Lalu kemudian ia menghela nafasnya.
“Maaf saja, tapi aku tidak suka mengumbar kemesraan di tempat umum.” Balas kim bum enteng.
“W..waaee? Semua orang melakukannya !” Ujar so eun.
“Bukan itu masalahnya.” Balas kim bum. “Ah sudahlah, lupakan !” Tambahnya. Kim bum pun melanjutkan langkahnya diikuti oleh so eun yang semakin kesini semakin lemas saja karena pada kenyataannya kencan pertamanya tidak sesuai dengan harapan. Tak ada pembicaraan lagi diantara mereka hingga so eun yang kembali bicara lebih dulu.
“Kim bum-ssi, bagaimana jika kita foto bersama?” Tawar so eun. “Sangat sayang jika kita tidak mengambil gambar saat bunga sakura bermunculan.” Tambahnya.
“Aku menolak !” Kim bum mengulangi kata-katanya saat ia menolak untuk pergi ke tempat ini.
“Kenapa lagi!?” Tanya so eun. Kim bum tak menjawabnya. Tiba-tiba so eun berjalan lebih dulu meninggalkannya menuju sepasang kekasih yang sedang duduk santai di bangku kayu di bawah pohon-pohon sakura.
“Ah maaf mengganggu, bisakah aku meminta bantuan?” Pinta so eun. Sepasang kekasih itu menatap so eun dengan bingung.
“Tolong fotokan aku dengan kekasihku, bolehkah?” Pinta so eun seraya mengeluarkan kamera dari dalam tas kecilnya.
“Ah baiklah.” Belum juga si pria mengambil kamera milik so eun, tangan so eun sudah di tarik oleh kim bum menjauh dari pasangan kekasih itu. Membuat sepasang kekasih itu saling tatap dengan wajah bengong.
“Kau tidak perlu meminta bantuan kepada mereka. Aku akan mengambil gambar untukmu !” Ujar kim bum.
Klik~ kim bum pun mngambil beberapa gambar so eun di bawah pohon sakura. So eun membuat bentuk V dengan tangannya dan bergaya selucu mungkin.
“Aku rasa ini sudah cukup, sudah saatnya kita pulang !” Kim bum menyerahkan kembali kamera so eun.
“Eh? Shireo !!! Kita belum melakukan apa-apa !” Tolak so eun.
“Bukankah kita sudah puas melihat bunga-bunga itu? aku juga sudah memenuhi keinginanmu untuk bisa melihat bunga sakura, kan?” Balas kim bum. So eun diam. “Dan yang terpenting adalah tempat ini benar-benar membuatku tidak nyaman !” Lanjutnya. “Kajja !” Kim bum berjalan lebih dulu meninggalkan so eun.
“E…tunggu !” So eun menahan lengan kim bum.
“Kajja ! Ikuti aku sebentar !” So eun menarik lengan kim bum secara paksa. Kim bum hendak menolak tapi pada akhirnya ia hanya bisa menyerah saja.
“Ha? Naik sepeda?” Pekik kim bum saat ternyata so eun membawanya ke tempat peminjaman sepeda.
“Ya, kita harus naik sepeda pasangan ini sebelum kita pulang !!!” Paksa so eun.
“Aku sangat ingin bersepeda mengitari taman sakura ! Jebaaaaal kim bum-ssi~ aku mohon padamu !” So eun merapatkan kedua telapak tangannya memohon pada kim bum agar ia mau melakukannya.
“Shireo !!!” Tolak kim bum. “Jika kau ingin bersepeda, kau bisa bersepeda sendiri ! Aku sedang tidak ingin membuang-buang tenaga.” Balas kim bum.
Bam~ tiba-tiba so eun melempari kepala kim bum dengan tas kecilnya.
“KAU….!!!!” Kim bum memegangi kepalanya.
“DARI AWAL KAU HANYA BILANG TIDAK, TIDAK, DAN TIDAK ” APA KAU TIDAK MERASA JIKA DIRIMU BEGITU EGOIS !!???” Teriak so eun. Kim bum membulatkan matanya.
“AKU MERASAKANNYA ! LAGI PULA KAU MERENCANAKAN INI DAN ITU TANPA PERSETUJUANKU, MANA BISA AKU MENGIKUTI SEMUA KEINGINANMU YANG JELAS-JELAS TIDAK AKU SUKAI?” kim bum balas berteriak. Semua orang disekitar mereka yang sedang mengantri untuk meminjam sepeda pun memperhatikan mereka.
“AKU TIDAK MEMINTAMU UNTUK MENURUTI KEINGINANKU. AKU HANYA BERTANYA ! TIDAK MASALAH SEBERAPA BESAR KAU MEMBENCINYA, TAPI BUKANKAH AKAN LEBIH BAIK JIKA KAU MENURUTI KEINGINANKU DAN PASRAH? KAU INI PACARKU.” so eun kehabisan tenaganya karena berteriak-teriak seperti ini.
“Lagi pula ternyata tidak ada bedanya dari sebelumnya, bahkan disaat kita sudah resmi berkencan….” so eun menurunkan nada suaranya.
“Apakah aku aneh karena aku ingin banyak melakukan sesuatu bersama-sama denganmu? Pergi ke beberapa tempat bersama-sama? Dan membuat banyak kenangan manis yang menyenangkan? Aku rasa itu sangatlah normal kenapa aku menginginkannya ! Lanjut so eun. Kim bum diam.
“Ah baiklah~ sudah cukup ! Aku akan bersepeda sendirian !” Ujar so eun lalu pergi meninggalkan kim bum tanpa kim bum mengejarnya atau apa.
Pada akhirnya so eun menyewa sepeda hanya untuk satu orang. Ia menggoes sepedanya mengikuti rute yang sudah dibuat untuk bersepeda. Angin menerpa rambutnya dan cahaya matahari terasa hangat. So eun bisa melihat pohon-pohon sakura berjejeran di sepanjang jalan. Tapi dibalik itu semua so eun tak begitu menikmati perjalanannya menggunakan sepeda. Beradu mulut dengan kim bum di hari pertama mereka berkencan membuatnya menjadi lemas.
“Kim Sang Bum ! Kau bodoh !” Kesal so eun. Ia tidak peduli mengatakannya dengan cukup keras karena kim bum tidak berada di dekatnya sekarang.
“Kau sama sekali tidak mengerti perasaan perempuan ! Jika kau adalah kekasihku bukankah seharusnya kau mencoba untuk membuatku senang meskipun hanya sedikit?” So eun mendesah. Ia melihat begitu banyak pasangan kekasih yang bersepeda bersama-sama, mereka mengumbar kasih sayang mereka dan itu semua pada akhirnya membuat so eun iri.
“Dia benar-benar bodoh !” So eun mempercepat genjotan sepedanya.
‘Kenapa semuanya selalu menjadi seperti ini? Meskipun aku tidak ingin bertengkar dengannya. Tapi….pada akhirnya aku akan menghabiskan tenaga untuk marah hanya karena hal kecil. Meskipun aku tahu dia tidak suka hal-hal yang menggelikan seperti ini.’ Batin so eun.

 

-today love is begin-

 

Kim bum memilih menunggu so eun dan duduk di bangku kayu di tepi-tepi jalan di dekat pohon sakura. Dia mendesah. Sebenarnya ia sedikit menyesal sudah marah-marah di depan so eun. Ia sebenarnya tidak menginginkan hal ini, tapi ia tidak bisa mengontrol dirinya dan mulutnya meskipun sudah mencoba. Ia yakin pasti so eun kecewa padanya. Lalu tiba-tiba sepasang kekasih datang dan duduk di sebelah kim bum. Melihat si perempuan yang menggandeng pacarnya dengan manja membuat kim bum terganggu. Apalagi setelah mendengar obrolan mereka yang menurut kim bum begitu meggelikan. Kim bum diam-diam melirik ke arah mereka dan berakhir terkejut karena dia menoleh di saat yang kurang tepat. Dia melihat sepasang kekasih itu berciuman. Dengan cepat kim bum pun kembali memalingkan wajahnya.
“Apa-apaan mereka?” Gumam kim bum pelan lalu berdiri dari duduknya dan memilih untuk menjauh. Sudah 15 menit berlalu dan so eun belum juga kembali, kim bum pun berencana untuk menghubunginya. Panggilan pertama dan kedua tidak dijawab, hingga akhirnya di panggilan ketiga so eun pun mengangkatnya.
“Dimana kau sekarang? Apa kau sudah selesai?” Tanya kim bum langsung.
“Yeah, aku di dekat kolam ikan, wae?” Tanya balik so eun.
“Tunggu disana ! Aku akan kesana sekarang.”
Sambungan telpon pun terputus. Kim bum segera bergegas ke tempat dimana so eun berada. Sekitar 10 menit so eun menunggu akhirnya kim bum pun datang juga. Ia melihat so eun tengah duduk melamun di bangku di dekat kolam. Kim bum menghampirinya.
“Apa kau sudah merasa senang sekarang?” Tanya kim bum tanpa ikut duduk di samping so eun. So eun tersadar dari lamunannya dan melihat sudah ada kim bum di dekatnya.
“Ah….kim bum-ssi…” ujar so eun.
“Kau senang?” Ulang kim bum.
“Um~ yah sedikit.” Balas so eun.
Hening~ tak ada pembicaraan lagi di antara mereka. Setelah tadi mereka bertengkar karena hal sepele, sekarang mereka merasa sedikit canggung satu sama lain.
“Um~~~ sambil menunggumu tadi, aku membeli teoppeoki. Haruskah kita memakannya?” So eun mengangkat satu kantong plastik berisi dua bungkus teoppeoki didalamnya.
“Kebetulan, aku juga sedikit lapar.” Kim bum mengusap tengkuknya lalu ikut duduk di samping so eun.
So eun memberikan satu bungkus teoppeoki kepada kim bum, dan yang satunya lagi untuknya.
“Maaf….” ujar so eun. Kim bum menoleh. “Seharusnya aku menyadari itu, bahwa kau tidak suka dengan…..”
“Sudahlah, jangan dipikirkan ! Aku sudah melupakannya.” Potong kim bum lalu ia memakan teoppeokinya.
“Kau tahu? Hanya aku saja yang bersepeda sendirian, yang lain bersepeda dengan pasangan masing-masing. Aku merasa tidak nyaman hingga akhirnya aku pun tak melanjutkan perjalanan dan memilih berhenti disini.” Cerita so eun.
“Oh, benarkah?” tanya kim bum. So eun mengangguk. “kau tidak terlalu seberapa.” ujar kim bum. So eun menatap kim bum tidak mengerti. “Ada kejadian yang benar-benar menggelikan untuk dilihat, dan aku tak sengaja melihatnya.” Balas kim bum. So eun menoleh menatap kim bum.
“Apa itu?” Tanyanya.
“Sepasang kekasih berciuman di dekatku, bahkan mereka tak peduli dengan keberadaanku disana, aku merasa terganggu hingga aku pun menjauh. Benar-benar pemandangan yang menggelikan.” Cerita kim bum. So eun malah tertawa mendengarnya, pasalnya baru pertama kali ini ia mendengar kim bum bercerita tentang hal seperti itu.
“Hahaha tapi selama mereka saling menyayangi, aku rasa tidak masalah.” Balas so eun lalu menyantap teoppeokinya.
“Haruskah di depan umum seperti itu juga?” Ujar kim bum. So eun kembali tertawa.
“Kau tampaknya memang sudah merasa senang sekarang, huh?” Ujar kim bum. So eun tersenyum, lalu ia mengangkat kepalanya melihat bunga sakura yang berada di atas mereka.
“Kim bum-ssi….” panggil so eun. “Di kencan kita yang berikutnya, ayo kita menonton film seperti yang kim bum-ssi inginkan.” Ujar so eun.
“Bukankah kau tidak menyukainya?” Tanya kim bum.
“Jangan berkata seperti itu ! Benar jika aku punya selera sendiri, tapi…..kim bum-ssi juga sudah berusaha mengikuti keinginanku yang bahkan kau sendiri tidak menyukainya. Maka dari itu demi membuat kim bum-ssi senang dan tidak merasa terganggu, ayo kita lakukan apa yang kau suka.” Jelas so eun.
“Kau dengan cepat berubah pikiran huh?” Ujar kim bum seraya ia menatap so eun.
“Ahahah…..aku mengerti setelah aku berpikir jika ternyata aku sendiri yang egois karena merencanakan sesuatu tanpa bertanya lebih dulu padamu.” Balas so eun.
“Lagipula, hanya makan teoppeoki bersama dengan kim bum-ssi saja sudah sangat menyenangkan !” Lanjutnya seraya tersenyum lebar.
“Jadi, selama aku bersama kim bum-ssi, aku rasa semuanya akan berjalan dengan baik meskipun tidak ada hal yang berjalan romantis. Aku cukup senang !” Senyum so eun semakin mengembang hingga matanya pun ikut tersenyum.
“Um….aku juga mengerti sekarang~ tidak ada orang lain yang lebih baik selain dirimu untuk bisa ada disampingku.” Balas kim bum. So eun tersenyum menatap kim bum lalu ia kembali memakan teoppeokinya yang masih tersisa.
“So eun-ssi….” panggil kim bum. So eun menoleh dengan mulut yang sibuk mengunyah. Ia melihat kim bum mendekat ke arahnya dengan mulut yang sedikit terbuka.
“Eh? Apa yang kau lakukan? Kenapa mulutmu terbuka seperti itu?” Tanya so eun bingung. Rupanya ia belum faham apa maksud kim bum membuka mulutnya seperti itu.
“Aku membuka mulutku karena aku punya maksud !” Balas kim bum kesal karena so eun yang tidak mengerti dengan maksudnya.
“Eh…? Ah ya aku mengerti, lalu apa?” Tanya so eun, rupanya ia masih belum faham juga.
“Itu !” Dengan kesal kim bum pun menunjuk teoppeoki yang berada di atas paha so eun.
So eun menatap mengikuti arah tangan kim bum.
“Apa kau mau menyuapiku?” Tanya kim bum.
“Eehhh!?” So eun terkejut. Benarkah apa yang baru saja ia dengar? Kim bum memintanya untuk menyuapinya?
“T…tapi….bukankah kau membenci hal-hal yang seperti ini?” Tanya so eun memastikan.
“Sangat jelas sekali jika aku membencinya. Tapi, bukankah hal yang seperti itu yang ingin kau lakukan, kan?” Tanya balik kim bum. So eun menatap kim bum dengan tatapan tidak menyangka.
“Jika kau mengerti, cepat suapi aku teoppeoki itu !” Pinta kim bum.
“Ah….a..arasseo…” so eun segera menyumpit teoppeokinya.
“A…apakah aku juga harus mengatakan ‘ahh~’? Tanya so eun.
“Ya, terserah padamu.” Balas kim bum. Pipi so eun terasa panas dan memerah kini. Ini adalah yang pertama kalinya ia menyuapi kim bum.
“Ahh~…” ucap so eun lalu ia pun menyuapi teoppeoki itu kepada kim bum. Kim bum dengan cepat melahapnya.
“Ternyata melakukan hal yang seperti ini sangat memalukan.” Ujar so eun. Pipinya masih memerah dan terasa semakin panas saja.
“Kau bukan satu-satunya yang merasa seperti itu. Aku berkali-kali lipat merasa malu dibanding kau.” Balas kim bum. So eun menahan tawanya hingga akhirnya ia pun tak bisa menahannya lagi.
“Ekekekkkkkkkekekkk…” so eun menutupi wajahnya yang merah itu dengan tangannya sambil tertawa senang.
“Tapi…..aku benar-benar sangat senang kekekkkkekk…..” ujarnya.
“Kenapa kau begitu merasa senang hanya karena hal seperti ini?” Tanya kim bum seraya bangkit dari duduknya.
“Tapi aku benar-benar senaaang~” balas so eun yang tidak bisa menyembunyikan senyumnya yang lebar lagi.
“Meskipun kau membencinya, tapi kau masih mau melakukannya untukku ! Aku benar-benar senang~” lanjutnya. Kim bum menatap so eun lalu menyunggingkan senyum setelahnya.
“Jika kau senang itu juga sudah cukup membuatku senang.” Ujar kim bum pelan.
“Ne?” Tanya so eun. Rupanya ia tak mendengar dengan jelas apa yang baru saja kim bum katakan.
“Sudah waktunya kita pulang, kajja !” Ajak kim bum lalu berjalan lebih dulu dari so eun. So eun tersenyum lalu segera mensejajarkan langkahya dengan kim bum.
“Boleh aku menggenggam tanganmu?” Pinta so eun.
“Tidak boleh!” Tolak kim bum.
“Kalau begitu hanya menggandeng lenganmu? Boleh ya?” So eun menunjukkan wajah memelasnya.
“Terserah~” balas kim bum. Akhirnya so eun pun menggandeng lengan kim bum dengan erat dan tak henti-hentinya ia tersenyum. Kim bum juga menyunggingkan senyumnya untuk itu.

 

Hanya aku yang menyukai kim bum-ssi, dan dia yang menyukaiku. Itu sudah cukup membuatku senang. Sebelumnya mungkin aku terlalu terobsesi untuk melakukan hal-hal romantis seperti pasangan kekasih lain. Tapi sekarang, tidak peduli apa yang kita lakukan, atau kemana kita pergi, selama kita baik-baik saja dan merasa nyaman satu sama lain. Aku rasa, itu lebih baik.

To Be Continued

Mian jika ceritanya kurang memuaskan, saya harap kalian menyukainya.

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya.

Today, Love Is Begin PART 11

Today, Love Is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

 

PART 11

 

“So eun-ssi mianhae, sepertinya dompetku tertinggal di kelas, aku akan kembali untuk mencarinya. Aku tidak akan lama, tunggu sebentar!” Ujar woo bin. So eun menghela nafasnya.
“jika kau tidak menemukan dompetmu, maka aku akan meminjamkan uang lagi padamu !” Balas so eun.
“Gwaenchana hahaha, isi dompetku lumayan banyak. Jadi kau tidak perlu meminjamkan uangmu lagi.” Ujar woo bin. “Baiklah, tunggu sebentar so eun-ssi.” Pinta woo bin. So eun mengangguk. Lalu woo bin pun berlari-lari kecil kembali menuju kelasnya. So eun memilih menunggu di tempat loker. Ia menyenderkan tubuhnya di lemari loker itu seraya menunggu woo bin kembali. Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat, so eun pun menegakkan tubuhnya.
“Woo bin-ssi, ternyata kau cepat sekali !” So eun kaget karena ternyata yang datang bukanlah woo bin, tapi kim bum. Tatapan mereka bertemu.
“Siapa yang kau panggil woo bin?” Tanya kim bum lalu ia berhenti tepat di hadapan so eun.
“M…mianhae, aku salah orang.” Balas so eun dengan kepala yang di tekuk. Ia tidak sanggup melihat wajah kim bum sekarang ini. Lalu tanpa banyak bicara lagi, kim bum melanjutkan langkahnya melewati so eun.
‘Aku baik-baik saja ! Aku baik-baik saja seperti ini.’ Batin so eun

Kenapa semuanya berakhir seperti ini? Apakah setelah aku memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai peliharaanmu, tidakkah terpikirkan olehmu sama sekali untuk mengatakan padaku jika kau sebenarnya menyukaiku? Aku memang terlalu banyak berharap, tapi setelah apa yang aku dengar sendiri, tentang apa yang keluar dari mulutmu, sekarang aku mengerti, jika kau sama sekali tidak memikirkanku sebagai seorang perempuan, bahwa selama ini kau merasa terganggu karena kehadiranku. Aku mengerti meskipun harus menahan rasa sakit yang bergejolak di dalam sini. Di dalam hatiku.

 

-today love is begin-

 

So eun berangkat sekolah bersama dengan nirin. Ia tak sengaja bertemu dengan nirin di halte dan pada akhirnya mereka berangkat bersama. Mata so eun terlihat bengkak setelah ia menangis semalaman. Sikapnya pagi ini juga tak bersemangat seperti biasanya. Nirin menatap khawatir so eun yang sedari tadi hanya melamun saja di dalam bus.
“So eun-ah.” Panggil Nirin. “Apa kau baik-baik saja?” Tannyanya khawatir.
So eun menoleh ke arah nirin yang duduk di sebelahnya. “Aku?” So eun menunjuk dirinya sendiri. “Hahaha memangnya ada apa denganku?” So eun tertawa hambar seraya menepuk bahu nirin. So eun mencoba menyembunyikan perasaannya yang benar-benar terluka saat ini. Nirin mengerutkan keningnya dan menatap so eun curiga.
“Sesuatu telah terjadi padamu dan kim bum-ssi?” Tanya nirin lagi. Ia menatap so eun dengan tatapan mengharap jawaban dari sahabatnya itu. So eun yang tadinya mencoba mengumbar senyum langsung mngubah ekspresinya itu 180 derajat. Ia menghela nafasnya.
“Benar kan?” Tanya nirin memastikan.
“Aku sedang tidak ingin membicarakannya nirin-ah. Mian~.” Balas so eun tanpa menatap sedikit pun ke arah nirin. Nirin memegang pundak so eun.
“Kau begitu menyukainya hingga kau banyak merasakan luka di hatimu so eun-ah, apakah kau akan baik-baik saja jika terus seperti ini?” Tanya nirin. Ia memang tidak memaksa so en untuk bercerita tapi setidaknya ia ingin mencoba menghibur so eun sedikit meskipun ia sendiri bukanlah tipe orang yang bisa menghibur orang dengan baik. “apakah kau tidak pernah berpikir untuk menyerah saja, so eun-ah? Sudah lama kau menyukainya tapi aku lihat sikap kim bum-ssi masih tetap seperti itu kepadamu.” Lanjut nirin. Nirin mendengar desahan nafas so eun seakan-akan so eun juga sudah lelah dengan semuanya.
“Nirin-ah….” panggil so eun. Nirin menatap so eun seraya menunggu kelanjutan ucapan so eun.
“Aku…..sudah menyerah.” Lanjut so eun. Nirin terdiam mendengarnya. “Aku juga….sudah lelah.” Tambahnya.
“So eun-ah.” Nirin mengusap pundak so eun.
“Meskipun aku sudah memutuskan, tapi…..aku masih saja merasa menyesal ! Aku rasa….aku sudah tidak beres nirin-ah.” Ujar so eun dengan lemas.
“So eun-ah, masih banyak laki-laki yang lebih baik dari kim bum-ssi. Percaya padaku !” Balas nirin. So eun sedikit menyunggingkan senyumnya pada nirin.
“Aku ini seperti burung yang baru saja menetas.” Ujar so eun.
“Huh?” Nirin menatap so eun tidak mengerti.
“Meskipun aku merasa menyesal. Tapi, sekarang ini aku menikmati kehidupanku yang bebas seperti burung yang baru saja menetas.” Jelas so eun. Nirin tersenyum mendengarnya.
“Akhirnya kim bum-ssi melepaskanku, aku juga tidak perlu melanjutkan tentang kebohonganku kepada semua teman-teman, setidaknya itu sedikit membuatku lega.” Jelasnya, tampaknya suasana hati so eun sudah sedikit membaik sekarang.
“Yeah yeah….jadi kau pun tak perlu memangis lagi sekarang, oke !” Balas nirin. So eun menatap nirin. Lalu mereka pun tertawa bersama. Setidaknya, mendapati sahabatnya ada di dekatnya, so eun merasa terhibur dan senang. Satu-satunya yang bisa membuat so eun lupa soal hatinya yang sedang terluka. Mulai hari ini, so eun sudah berniat untuk memulai hidup yang baru. Siapa tahu ia akan mendapat cinta yang baru?

 

-today love is begin-

 

So eun sedang berada di lapangan bersama dengan semua teman satu kelasnya. Siang hari ini adalah jadwal pelajaran olah raga. Olah raga yang di mainkan adalah lari estapet sejauh 600 meter. Semua murid di kelas di bagi menjadi 10 kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan 4 orang. So eun menerima bagian paling awal, yaitu lari pertama kali sejauh 150 meter seraya membawa sebuah tongkat sepanjang 30 cm untuk ia berikan kepada teman satu timnya. So eun yang biasanya paling bersemangat dalam pelajaran olah raga, kali ini terasa berbeda, terbukti karena ia adalah pelari ke dua paling bontot dari kelompok lainnya. Setelah so eun memberikan tongkat pada teman satu timnya, so eun pun pergi ke pinggir lapangan lalu mengistirahatkan dirinya disana.
“So eun-ah….” so eun melihat kim woo bin berlari-lari kecil ke arahnya seraya melambaik-lambaikan tangannya. So eun tersenyum dan membalas melambaikan tangannya.
“hosh….hosh…..” woo bin mengambil napasnya dalam-dalam, ia memegang ke dua lututnya. So eun tertawa melihat woo bin yang seperti itu.
“Apa yang membuatmu lari-lari seperti itu woo bin-ssi?” Tanya so eun. Woo bin tidak langsung menjawab, ia malah duduk di samping so eun.
“Aku membawakan ini untukmu hehehe.” Balas woo bin seraya menyerahkan botol minuman isotonik kepada so eun. So eun menatap botol minuman itu lalu mengambilnya.
“Padahal kau tidak usah membuat dirimu repot, lagipula aku tidak memintanya.” Ujar so eun.
“Gwaenchana~ aku hanya sedang ingin berbuat baik saja kepadamu hehehe.” Balas woo bin. So eun tersnyum.
“Gomawoyo woo bin-ssi, aku menerimanya dengan senaaang hahaha.” So eun tertawa lalu meneguk minuman isotonik itu.
“Ehh woo bin-ssi, kenapa kau bisa ada di luar? Pelajaran apa sekarang?” Tanya so eun.
“Kim seonsaengnim keluar kelas lebih awal, dan aku melihat kelasmu sedang olah raga jadi aku kemari untuk menemuimu hehehe.” Woo bin menggaruk tengkuknya.
“Ah begitu rupanya.” So eun mengangguk-anggukan kepalanya.
“Ummm~ So eun-ssi.” Panggil woo bin. So eun menoleh.
“apakah…..tidak apa-apa sekarang setelah kau memutuskan untuk…..”
“Aniyo, aku sangat baik-baik saja woo bin-ssi. Jangan coba untuk mengingatkanku tentang hal itu karena aku sedang mencoba untuk melupakannya.” Balas so eun. Nadanya terdengar biasa-biasa saja, tapi entahlah dengan keadaan hatinya. Woo bin tersenyum.
“Aku senang mendengarnya, aku senang jika so eun-ssi bisa tersenyum seperti itu.” Ujar woo bin. Woo bin memang laki-laki yang ramah dan memahami perasaan orang lain dengan baik.
“Aku juga senang karena kau begitu baik padaku, aku yakin semua orang juga menyadari itu.” Balas so eun. Woo bin tersenyum malu mendengarnya. Wajahnya merona merah.
“Kau terlalu memujiku so eun-ssi.” Ujarnya.
“Hahahaha.” So eun tertawa. Melihat so eun yang sepertinya sudah baik-baik saja membuat woo bin jadi ikut senang. Ia pun tertawa bersama so eun.
Tanpa mereka sadari, ternyata ada empat pasang mata yang sedang memperhatikan mereka dengan tatapan curiga.
“Kau lihat itu kan? So eun dan laki-laki itu?” Tanya bo young pada hye rim.
“Benar, so eun memang benar-benar sudah mengkhianati kim bum-ssi.” Balas hye rim.
“Ugh~ sebenarnya apa yang ada di dalam otak so eun sampai dia rela meninggalkan kim bum-ssi demi laki-laki itu? Aku jadi kesal sendiri melihatnya. Kim bum-ssi itu jauh lebih baik ! Dia populer dan digilai banyak perempuan, sedangkan laki-laki itu? Jika aku menjadi so eun, pasti aku tidak akan pernah melakukan hal itu !” Ujar bo young panjang lebar. Ia bahkan sampai meremas botol air mineral yang ada di tangannya.
“Aku jadi penasaran, bagaimana keadaan kim bum-ssi sekarang ini?” Gumam hye rim.
“Hmmm~ aku juga, sepertinya kita harus mengintrogasi so eun tentang hal ini ! Aku butuh penjelasan kenapa so eun-ssi memutuskan hubungannya dengan kim bum-ssi.” Balas bo young.
“Mwo? Apa yang baru saja kalian bicarakan?” Tanya min ah teman satu kelas mereka yang tak sengaja mendengar obrolan bo young dan hye rim.
“Kalian bilang hubungan so eun-ssi dan kim bum-ssi berakhir?!” Pekiknya. Min ah bahkan menutup mulutnya karena saking tidak percaya. Bo young dan hye rim saling tatap lalu tatapan mereka beralih pada min ah. Mereka pun mengangguk.
“OMO ! jadi benar?” Pekik min ah.
“Yak ! Apa kau tidak lihat so eun-ssi sedang mengobrol dengan akrab bersama laki-laki lain sekarang?” Hye rim kesal karena min ah ikut campur ke dalam obrolan mereka. Min ah menatap mereka tidak mengerti, lalu bo young menunjuk ke arah so eun dan woo bin yang masih asyik mengobrol.
“Aigo !” Min ah menutup mulutnya lalu ia segera lari ke kerumunan teman-teman yang lain.
“Hubungan so eun-ssi dan kim bum-ssi sudah berakhir !” Teriak min ah pada teman-teman yang lain, membuat mereka langsung mengerumuni min ah dan berbisik-bisik. Di antara mereka ada yang biasa saja menanggapinya, ada yang kecewa, ada pula yang merasa senang, terutama para perempuan yang mengagumi kim bum. Hal ini pun menjadi obrolan hangat di antara mereka. Sementara itu, so eun dan woo bin pergi dari tempat dan berjalan bersama menuju kantin karena waktu istirahat sebentar lagi. Mereka tidak menyadari kericuhan di antara teman-temannya yang berbisik-bisik tentang mereka karena mereka keburu pergi.

 

-today love is begin-

 

So eun dan woo bin masih asik mengobrol sambil mereka berjalan menuju kantin. So eun tampak nyaman mengobrol bersama woo bin dan woo bin pun terlihat tidak terlalu canggung saat mengobrol bersama so eun kini. Ia juga jadi banyak bicara tak seperti biasanya. Berbicara dengan woo bin setidaknya bisa membuat so eun sedikit melupakan kim bum
“Ah ya so eun-ssi…” panggil woo bin.
“Ne?” Tanya so eun.
“Um~ sebenarnya aku malu untuk mengatakannya, tapi….”
“Tidak usah malu padaku woo bin-ssi, katakan saja ! Memangnya ada apa?” Tanya so eun. Woo bin terlihat memain-main kan jarinya.
“Um~ apa….apa pada hari minggu kau punya waktu, so eun-ssi?” Tanya woo bin.
“Minggu?” Gumam so eun seraya mengerutkan keningnya mengingat-ingat apakah ia bebas di hari minggu atau tidak.
“Aku ada waktu, waeyo?” Tanya so eun.
“Aku…ingin mengajakmu jalan-jalan heheh, itu pun jika kau mau.” Woo bin menggaruk-garuk tengkuknya untuk menghilangkan rasa gerogi yang menyergapnya.
“Eiiii~ sudah ada kemajuan darimu woo bin-ssi?” So eun menyenggol lengan woo bin dengan sikutnya.
“Kau sudah berani mengajak bermain orang lain setelah kau berani menyapa banyak orang, kemajuan yang bagus !” So eun mengacungkan jempolnya. Woo bin hanya menyunggingkan senyum canggungnya.
“Baiklah ! Ayo kita pergi di hari minggu ! Lagipula akan sangat membosankan jika aku diam di rumah.” Dengan senang so eun menerima ajakan woo bin. Senyum di bibir woo bin pun mengembang, raut bahagia dari wajahnya tidak bisa di sembunyikan.
“Terimakasih so eun-ssi ! Aku pasti akan membuatmu senang nanti hehe.” Balas woo bin.
“Aku pegang janjimu itu !” Ujar so eun, lalu ia tertawa. Woo bin juga ikut tertawa. Ia senang karena sekarang so eun sudah banyak tersenyum dan tertawa tidak seperti beberapa hari yang lalu.
“Ah….” tiba-tiba woo bin menghentikan langkahnya.
“Wae?” Tanya so eun bingung. Ia menatap woo bin bingung lalu mengikuti arah pandangan woo bin. Ia mendapati kim bum sedang bersama dengan seorang perempuan. Mereka berdua sedang berdiri di dekat taman sekolah.
‘Kim bum-ssi…..dan seorang perempuan….’ batin so eun.
So eun langsung berbalik arah dan mendorong tubuh woo bin untuk ikut berbalik juga.
“palli palli woo bin-ssi kita harus kembali! Aku rasa aku meninggalkan sesuatu !” So eun masih saja mendorong-dorong punggung woo bin.
‘Apa yang sedang mereka lakukan? Kenapa aku merasa suasana di antara mereka seperti suasana……..a..apakah kim bum-ssi sedang mengungkapkan perasaannya pada gadis itu? A..atau….sebaliknya?’ Pikir so eun.
“Palli woo bin-ssi !” Kini so eun berhenti mendorong tubuh woo bin dan berjalan lebih dulu dari woo bin dengan langkah lebar dan cepat. So eun tak memerhatikan langkahnya karena pikirannya sedang dipenuhi oleh dugaan-dugaan tentang kenapa kim bum bisa berduaan dengan seorang perempuan hingga kaki so eun pun tersandung sesuatu.
“KYAAAAA~” triak so eun. Blug~ so eun pun terjatuh ke tanah.
Kim bum menajamkan pendengarannya saat ia mendengar teriakan seseorang, suara seseorang yang sangat tidak asing di telinganya.
“SO EUN-SSI !” teriak woo bin lalu ia pun segera berlari menghampiri so eun yang kini tengah berusaha bangkit untuk duduk.
Mendengar nama so eun, kim bum langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara, dan ia melihat woo bin sedang membantu so eun untuk duduk.
“So eun-ssi, kau tidak apa-apa?” Tanya woo bin cemas.
“ouch~” so eun meringis seraya memegangi lututnya. Matanya sampai berkaca-kaca menahan sakit.
“Lututmu berdarah !” Pekik woo bin.
“Aku tidak menyadari ada batu di depanku.” Ujar so eun.
“Ayo cepat kita ke ruang kesehatan !” Woo bin membantu so eun berdiri dan memapahnya menuju ruang kesehatan. Kim bum melihat langkah so eun tertatih-tatih.
“kim bum-ssi.” Suara ga in-teman satu club karya ilmiahya menyadarkan kim bum.
“Ah….” Kim bum memalingkan wajahnya dari so eun dan ia kembali menatap ga in.
“Terimakasih atas kerja samanya, aku akan menyampaikan proposal yang kau buat kepada pembimbing.” Ujar ga in.
“Eoh.” Kim bum mengangguk.
“Kalau begitu aku duluan.” Ujar ga in lalu pergi meninggalkan kim bum. Setelah ga in pergi, kim bum kembali mengarahkan pandangannya ke tempat tadi so eun berada, tapi kini so eun sudah menghilang.

 

-today love is begin-

 

“Huh? Dokternya tidak ada disini?” Tanya so eun.
“Ne, aku akan mencarinya setelah membersihkan lukamu.” Balas woo bin lalu ia pun mengambil kotak P3K yang tersimpan di atas rak peralatan kesehatan.
Kini Woo bin tengah mencoba untuk membersihkan luka so eun dengan antiseptik. Tangannya tampak gemetar karena ia belum pernah melakukan hal ini sebelumnya.
“Gwaenchana woo bin-ssi, biar aku saja.” Tolak so eun.
“Aniya~ aku bisa melakukannya.” Balas woo bin. Ia mengoleskan antiseptik di luka so eun dengan hati-hati.
“Ouch~” so eun mencoba menahan perih akibat reaksi dari antiseptik itu.
“M..mian.” ujar woo bin, dengan tangan yang cukup gemetar woo bin pun menempelkan plaster di lutut so eun.
“Selesai !” Woo bin pun membereskan kotak P3K itu dan menyimpannya kembali ke tempat asal. Ia lalu mencuci tanganya yang habis mengobati so eun. “Baiklah kalau begitu aku akan mencoba mencari dokter, kau tunggu disini so eun-ssi.” Ujar woo bin.
“Tidak usah woo bin-ssi, lagi pula lukanya tidak terlalu parah.” Tolak so eun.
“Tidak bisa so eun-ssi ! Jika lukamu tidak ditangani oleh dokter bagaimana jika terjadi infeksi? Itu akan jadi masalah !” Kekeuh woo bin. “Aku akan mencari dokter dan memanggilnya ke sini.” Ujar woo bin.
“terimakasih woo bin-ssi.” So eun mengalah. Woo bin mengangguk lalu bergegas keluar dari ruang kesehatan.
So eun menghembuskan nafas beratnya setelah woo bin pergi. Ia memegangi kepalanya. “Apa yang baru saja aku lakukan? Kenapa begitu ceroboh?” Gumamnya.
Sreeeekkk~ tiba-tiba pintu ruang kesehatan terbuka. So eun kaget bukan main karena yang masuk adalah kim bum. Mata mereka bertemu tapi cepat-cepat so eun memalingkan wajahnya dan memilih untuk menunduk. Kim bum lalu berjalan mendekat menuju lemari penyimpanan obat. Lemari itu terletak di sudut ruangan di dekat pintu masuk.
‘K..kenapa dia kemari? Ke..kenapa disaat aku ada disini dia harus datang? Eoteohkae? Apakah dia sakit?’ Batin so eun. Ia tak sedikit pun berani mengangkat kepalanya.
Sementara itu, kim bum sendiri tengah mencari obat sakit kepala di rak penyimpanan obat itu. Tak tahu ia memang benar-benar sedang sakit kepala atau hanya sebagai alibi saja.
‘Eotteohkae? Jika dia tidak cepat-cepat pergi, suasana disini akan terasa sangat canggung ! Cepat kau pergi jika sudah selesai kim sang bum !’ So eun berteriak di dalam hatinya. Pasalnya, ia sedang tidak ingin berhadapan dengan kim bum saat ini.
“Apa yang terjadi dengan itu?” Tanya kim bum. Membuat so eun langsung mengangkat kepalanya.
“Eh?” Bingungnya.
“Lututmu.” Balas kim bum. So eun melihat ke tempat kim bum berdiri, dan kim bum masih sibuk mencari obat-obatan.
“I..itu…tadi aku tidak hati-hati saat berjalan jadi aku….”
“Heh….itu memang dirimu ! Kau memang tidak pernah berubah sedikit pun.” Kim bum memotong perkataan so eun.
“Eh?” So eun menatap punggung kim bum dengan wajah bingung.
“Kau begitu ceroboh dan membuat orang lain repot !” Ujar kim bum.
“Diam kau !” Balas so eun. “Meskipun aku seperti itu, tapi tetap saja masih ada orang yang menyukaiku! ” lanjutnya. Kini so eun berubah menjadi kesal karena kim bum yang memancingnya lebih dulu.
“Pasti orang itu hanyalah orang yang tidak punya pikiran jernih.” Balas kim bum enteng.
“Dan asal kau tahu, mulai saat ini aku akan menolak orang yang merasa bahwa hanya dirinyalah yang terbaik dari semua orang dan selalu meremehkan orang lain !” So eun tidak ingin kalah dari kim bum.
“Sebenarnya siapa yang sedang kau coba bicarakan?” Tanya kim bum, ia merasa tersindir. So eun diam, ia tidak menjawabnya.
Hening~ tak ada lagi percakapan di antara mereka, membuat suasana menjadi canggung kembali.
“Jadi, bagaimana hubunganmu dengan laki-laki itu?” Tanya kim bum, membuka kembali obrolan.
“Hubungan kami? Kami baik-baik saja !” Balas so eun dengan sedikit nada sombong di setiap ucapannya.
“Heh~ jadi kalian berkencan huh?” Tanya kim bum lagi.
“Bagaimana dengan dirimu sendiri? Setelah aku pergi, bukankah kau jadi punya banyak pilihan untuk memilih perempuan-perempuan yang kau sukai?” Balas so eun.
“Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu sebelumnya? Dari awal, aku tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu !” Kim bum menjawabnya dengan nada dingin, membuat so eun terdiam setelahnya. Tak ada pembicaraan lagi di antara mereka. Sedari tadi so eun menunggu woo bin pun, orang yang di tunggu-tunggu tak kunjung datang. Suasana akan menjadi lebih tidak nyaman jika so eun terus berada disini.
“Hahaha….” so eun berdiri dari duduknya sambil tertawa hambar. “Ternyata sama, kau juga tidak berubah.” Ujar so eun.
“Haaah~ menunggu disini pun tidak ada gunanya, dokter belum juga datang. Baiklah kalau begitu aku pergi.” So eun berjalan tertatih-tatih menuju pintu. Namun tiba-tiba kim bum menghadangnya, membuat langkah so eun terhenti. Kim bum meletakan sebelah tangannya ke dinding sedangkan satu tangannya ia masukan ke dalam saku celana. Kim bum menatap lurus ke mata so eun. So eun membalas tatapan itu dengan mata yang menggambarkan kekagetan.
“Apa kau…..menyukai laki-laki itu?” Tanya kim bum. Ia masih menatap lurus tepat ke mata so eun. Sedangkan so eun kini menurunkan tatapannya dan lebih memilih menatap ke arah dada kim bum.
“itu tidak ada urusannya denganmu, kan?” Balas so eun.
“Jika kau tidak menjawabku dengan jelas, itu berarti kau tidak menyukai huh. Apakah tidak apa-apa kau selalu di dekat laki-laki itu? Aku merasa kasihan kepadanya, kau tahu?” Ujar kim bum, ia sama sekali tidak melepaskan tatapannya kepada so eun. So eun belum mau menjawab.
“Kenapa kau…..”
“Kalau begitu bagaimana dengan perkataanmu sebelumnya?” Tanya kim bum. Kini so eun kembali menatap kim bum. “Bukankah kau bilang dia itu baik dan peduli tentang perasaanmu, bahkan dia itu lebih baik dariku?” Lanjut kim bum. “Bukan tidak mungkin kau akan jatuh cinta pada laki-laki itu, kan? Ataukah kau sudah menyukainya sekarang ini?”
“Aku tidak tahu tentang itu ! Tapi…….” so eun menggantungkan kalimatnya. Kim bum menatap so eun dengan serius. “Tapi aku juga ingin menyukainya ! Itu….itulah yang sedang aku pikirkan sekarang !” Jawab so eun dengan intonasi yang lumayan keras. Mata kim bum membulat mendengarnya.
“BUKANKAH SEKARANG KAU DAN AKU HANYALAH ORANG YANG TIDAK SALING MENGENAL?” ujar so eun dengan nada yang cukup tinggi. “LALU KENAPA KAU MENGIKUTIKU KEMARI? BUKANKAH AKAN LEBIH BAIK JIKA KAU MENINGGALKANKU DISINI SENDIRIAN!?” lanjutnya. “JIKA KAU HANYA MENCOBA UNTUK MEMBUNUH WAKTU, MASIH BANYAK PEREMPUAN LAIN YANG BISA KAU MANFAATKAN, BENAR KAN!?” teriak so eun. Ia ingin mengeluarkan kekesalannya di depan kim bum saat ini. So eun marah karena kim bum tak juga berubah, mulut kim bum masih saja mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Kim bum benar-benar hanya bisa diam setelah melihat so eun teriak-teriak di depannya.
“So eun-ssi miaaan aku sudah membuatmu menunggu lama, dokternya sedang rapat sekarang jadi…….” perkataan woo bin terhenti karena melihat so eun yang sedang bersama kim bum saat ini. Tanpa pikir panjang so eun langsung menghampiri woo bin.
“Terimakasih woo bin-ssi, tapi lututku benar-benar tidak apa-apa. Ayo kita pergi !” So eun menarik lengan woo bin lalu pergi meninggalkan kim bum yang masih mematung di dalam.

 

-today love is begin-

 

So eun pulang bersama nirin kali ini, tidak seperti biasanya yang selalu pulang bersama dengan kim bum.
“So eun-ah kau sudah mendengarnya?” Tanya nirin. So eun menatap nirin dengan wajah bingung.
“Mendengar apa maksudmu?” Tanya balik so eun.
“Tentang kau dan kim woo bin, semuanya sudah menjadi bahan gosip di sekolah ! Semua orang membicarakannya !” Jawab nirin. So eun menampakan keterkejutannya setelah mendengar apa yang dikatakan nirin. Tapi sedetik kemudian ia kembali ke ekspresi wajah yang normal.
“Tidak apa, setidaknya mereka jadi tahu bahwa aku dan kim bum-ssi tidak ada hubungan lagi.” Balas so eun.
“Tapi…..apakah yang mereka bicarakan benar?” Tanya nirin.”mwo?” Tanya balik so eun.
“Kau berhubungan dengan kim woo bin saat ini?” Tanya nirin.
“Kau percaya pada gosip? Bukankah kau adalah orang yang paling anti tentang hal itu?” Ujar so eun.
“Bukannya begitu, aku hanya khawatir, kau baik-baik saja dengan gosip itu?” Tanya nirin.
“Jangan terlalu cemas padaku nirin-ah.” Balas so eun. Nirin menghela nafasnya. “Tapi kim bum-ssi sangat terganggu dengan gosip itu, kau tahu?” Ujar nirin.
“Heeh, aku tidak ingin tahu ! Lagi pula bukankah kau bilang padaku masih banyak laki-laki lain yang lebih baik? Aku rasa, woo bin-ssi adalah orang yang benar-benar baik. Aku senang berteman dengannya.” Jelas so eun.
Nirin angguk-angguk. “Jika itu membuatmu senang, aku tidak bisa melakukan apa-apa.” Balas nirin.
“Dia juga mengajakku jalan-jalan hari minggu nanti.” Cerita so eun.
“Kim woo bin-ssi?” Pekik nirin. Ia sedikit terkejut karena pasalnya yang ia tahu saat satu kelas bersama woo bin di kelas sepuluh woo bin bukanlah laki-laki yang terbilang berani. Dan sekarang so eun bilang woo bin mengajaknya jalan-jalan.
“Kau menerima ajakannya?” Tanya nirin. So eun mengangguk.
“Dia adalah orang yang benar-benar baik, dan dia benar-benar peduli tentang perasaanku. Jadi aku tidak bisa menolaknya.” Balas so eun. Nirin menatap so eun.
“Lagi pula bukan tidak mungkin jika aku bisa menyukai woo bin-ssi, terlebih woo bin-ssi bilang jika dia akan menungguku hingga aku bisa memutuskan siapa yang akan aku pilih.” Jelas so eun.
“Dia telah menyatakan perasaannya padamu?” Kaget nirin. So eun mengangguk. “Aku ingin menyukainya, tapi rasanya sangat sulit.” Balas so eun.
“so eun-ah, jika kau memberikan woo bin-ssi terlalu banyak harapan dan membuatnya menunggu lama untuk mendengar keputusanmu, aku rasa….itu akan menyakitkan untuknya, kan? Kau pasti memahami perasaan seperti itu kan?” Ujar nirin. So eun terdiam mendengarnya. “Kim woo bin-ssi juga sangat menyedihkan, kau tahu? Akan lebih baik jika kau segera memutuskan pilihanmu, meskipun itu sulit untukmu.” Saran nirin. So eu masih diam, ia mencoba untuk memikirkan kata-kata nirin.
“Apa kau mengerti?” Tanya nirin. “Ya.” Balas so eun akhirnya.
‘Seperti yang nirin katakan, akan lebih baik jika aku tidak memberikannya banyak harapan. Aku benar-benar jahat huh? Aku harus segera memutuskan pilihanku’ batin so eun.

 

-today love is begin-

 

Hari minggu

 

Ya, hari ini adalah hari dimana so eun dan woo bin akan pergi jalan-jalan sebagaimana dengan yang sudah di rencanakan. So eun memakai kaos berwarna pink dibalut dengan sweater warna biru langit dan celana pensil. Ia tampak sederhana namun tak sedikitpun mengurangi wajahnya yang cantik alami. So eun bergegas menuju halte di dekat gapjong cake-toko roti dimana sudah ada woo bin yang menunggu disana.
“so eun-ssi !” Woo bin melambaik-lambaikan tangannya saat ia melihat so eun menyebrangi jalan. So eun membalas lambaian woo bin.
“Kau sudah lama menungguku?” Tanya so eun setelah ia berada di hadapan woo bin.
“A…aniya, aku juga baru saja tiba hehehe.” Woo bin menggaruk tengkuknya.
“Baiklah kalau begitu, kita pergi sekarang?” Tanya so eun. Woo bin mengangguk dengan semangat. Mereka pun naik bus yang baru saja berhenti. Mereka akan pergi ke Zone Park dan tujuan pertama jalan-jalan mereka adalah ke museum, woo bin memang tidak pandai memilih tempat karena ini adalah yang pertamakalinya bagi woo bin mengajak seorang perempuan jalan-jalan. Ia belum tahu apa yang disukai perempuan.
Setelah sampai, mereka pun langsung masuk ke dalam museum dan melihat-lihat benda peninggalan berharga pada masa jeoseon disana. Woo bin tampak gembira saat ia melihat benda-benda peninggalan sejarah itu. Tapi berbeda dengan so eun, sedari tadi ia tampak tidak bersemangat dan hanya melamun saja. Setelah puas berkeliling-keliling melihat peninggalan berharga di museum, mereka pun pergi menuju aquarium besar yang tempatnya tak jauh dari tempat mereka berada sekarang- Aquarium EST. Tempat rekreasi ini memperlihatkan ribuan biota air laut yang benar-benar menangumkan. Di mulai ikan-ikan kecil lucu yang berwarna-warni hingga ikan hiu yang besar.
“So eun-ssi lihatlah ! Bukankah warna ikan itu sangat cantik?” Ujar woo bin seraya menunjuk ikan nemo yang berenang-renang di dekat karang laut.
“Yeah cantik.” Balas so eun seadanya, bahkan ia tak sedikitpun melihat ke arah ikat nemo itu. Menyadari ekspresi so eun yang seperti itu woo bin pun menatap so eun dengan khawatir.
“So eun-ssi? Apa kau lelah? Haruskan kita beristirahat sebentar? Atau haruskah aku membelikanmu minuman?” Tawar woo bin dengan ramahnya.
“Eeeh? Mian mian, aku baik-baik saja !” So eun langsung menggibas-gibaskan tangannya.
“Ikan-ikannya sangat cantik dan airnya sangat jernih, jadi aku merasa terpukau hingga aku……”
“Aku mengerti.” Potong woo bin.
“Ah ! Lihatlah lihatlah woo bin-ssi ! Mereka juga sangat cantik !” So eun berjalan lebih dulu meninggalkan woo bin menuju aquarium dimana terdapat ikan jenis moorish idol dengan semangat. Entahlah ia memang benar-benar bersemangat atau hanya akting belaka agar tidak membuat woo bin kecewa. Woo bin pun mengikuti so eun untuk melihatnya.
“Meskipun di dalam tidak banyak pengunjung, tapi ternyata di luar banyak sekali orang-orang huh, apakah karena hari ini hari minggu makanya banyak orang yang jalan-jalan.” Ujar so eun setelah mereka keluar dari aquarium EST.
“Sepertinya begitu.” Balas woo bin.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menangkap mereka sedang berjalan bersama. Orang itu tampak terkejut dan menampakkan wajah bengongnya tanpa melepaskan pandangannya saat melihat so eun dengan laki-laki lain.
“itu….so eun-ssi?” Gumam orang itu. Orang itu melihat so eun tengah asik mengobrol sambil sesekali tertawa.
“Yak il woo-ya ! Ada apa? Kenapa kau berhenti? Ayo cepat kita pergi !” Panggil teman-temannya. Ya, kebetulan il woo dan teman-temannya dari satu kelasnya juga bermain di tempat yang sama dengan tempat yang dikunjungi oleh so eun dan woo bin. Tanpa berpikir panjang, il woo pun lalu kembali menghampiri teman-temannya.

 

-today love is begin-

 

Kim bum sedang berdiam diri di apartemennya. Ia duduk di sopa seraya membaca buku tentang peradaban dunia. Ia menopang dagunya seraya membuka lembar demi lembar halaman buku itu dengan malas. Entah kenapa ia tidak bisa fokus membaca sekarang.
BUKANKAH SEKARANG KAU DAN AKU HANYALAH ORANG YANG TIDAK SALING MENGENAL? LALU KENAPA KAU MENGIKUTIKU KEMARI? BUKANKAH AKAN LEBIH BAIK JIKA KAU MENINGGALKANKU DISINI SENDIRIAN!? JIKA KAU HANYA MENCOBA UNTUK MEMBUNUH WAKTU, MASIH BANYAK PEREMPUAN LAIN YANG BISA KAU MANFAATKAN, BENAR KAN!?
Perkataan so eun dan ekpresi wajahnya saat itu terus saja terngiang di kepalanya. Ia tidak bisa melupakannya. Dengan kesal kim bum pun menutup buku tentang peradaban dunia itu lalu melemparnya ke atas meja. Setelah itu ia membaringkan tubuhnya di sopa dengan satu tangan yang ia angkat untuk menutupi sebagian wajahnya. Kim bum mencoba memejamkan matanya tapi terlalu banyak hal-hal yang ia pikirkan sehingga ia sulit untuk tidur. Tiba-tiba ponselnya berdering, kim bum mendesah lalu dengan malas-malasan ia bangkit dari sopanya dan mengambil ponsel yang ia simpan di atas meja. Terteta nama jung il woo di layar ponselnya. Ternyata il woo yang memanggilnya.
“Yeobosaeyo?” Jawab kim bum saat pertama kalinmengangkat telpon.
“YAK ! SEBENARNYA APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?” kim bum langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya karena tiba-tiba il woo berteriak begitu saja di telpon.
“Yak ! Apa kau mencoba merusak gendang telingaku!? Balas kim bum dengan kesal.
“AKU TIDAK PEDULI APA YANG AKAN TERJADI DENGAN TELINGAMU !” Kim bum mengerutkan keningnya. Sebenarnya ada urusan apa il woo menghubunginya malam seperti ini?
“YANG PENTING SEKARANG ADALAH AKU MELIHAT SO EUN-SSI DI ZONE PARK ! DIA BERSAMA DENGAN LAKI-LAKI LAIN !” kim bum terdiam mendengarnya.
“Aku berpikir untuk memanggilnya, tapi teman-temanku sudah mengajakku untuk segera pergi. Dan kau tahu? AKU MELIHAT MEREKA BEGITU AKRAB SATU SAMA LAIN DAN…..” kim bum langsung mematikan ponselnya tanpa mendengarkan kelanjutan ucapan il woo lebih jelas. Kim bum tampak terdiam seraya memikirkan sesuatu. Mimik wajahnya terlihat serius.

 

-today love is begin-

 

Tut tut tut~
“Eh? OI…..BUM-AH !” teriak il woo karena kim bum tiba-tiba memutuskan sambungan telpon secara sepihak.
“Yak il woo-ya ! Apa kau belum juga selesai?” Ujar teman-temannya yang ternyata sedari tadi menunggu il woo yang sengaja menelpon kim bum untuk meberitahu soal so eun yang sedang bersama laki-laki lain.
“Ah….sudah, mian~” balas il woo lalu memasukan ponselnya ke dalam saku jaket. Ia kembali menghampiri teman-temannya.

“So eun-ssi, apa kau senang hari ini?Sebenarnya aku takut tempat yang sudah aku rencanakan untuk dikunjungi tidak membuatmu senang.” Woo bin menggaruk tengkuknya.
“Aniya~ tentu saja aku senang ! Semuanya cukup membuatku senang hehehehe. Terimakasih woo bin-ssi.” Balas so eun.
“Syukurlah kalau begitu.” Balas woo bin, ia tersenyum. “Sebenarnya….aku melakukan ini semua karena untuk membuatmu senang. Terimkasih karena kau sudah tersenyum di dekatku.” Lanjut woo bin. So eun menatap woo bin tidak percaya.
“Ah aku malu mengatakannya~” woo bin mengusap-usap pundaknya.
‘Apakah sekarang saatnya? Woo bin-ssi benar-benar perhatian padaku, aku harus mengingat perkataan nirin, aku tidak boleh membuatnya terlalu banyak berharap, itu akan membuat woo bin-ssi kecewa’ batin so eun. So eun mengepalkan tangannya kuat. Bagaimana pun juga ia harus mengatakan keputusannya sekarang.
“Woo bin-ssi.” So eun memegang lengan woo bin. “Aku punya sesuatu yang sangat penting yang harus aku katakan padamu !” Ujarnya. Woo bin menatap so eun dengan wajah bingung. So eun menatap woo bin cukup lama tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
‘Jika aku memilih woo bin-ssi, aku yakin dia tidak akan pernah menyakitiku. Dia akan selalu perhatian dan peduli padaku. Dia juga tidak akan membuatku menangis’ batinnya.
“Woo bin-ssi, aku……..” perkataan so eun menggantung. Disaat ia sudah memutuskan untuk memilih woo bin, kenapa tiba-tiba ia teringat lagi dengan kim bum? Tiba-tiba saja sosok kim bum muncul dipikirannya. Wajah kim bum yang tengah marah, tatapannya, dan kini senyumnya. So eun memejamkan matanya. “mianhae~” lanjut so eun akhirnya.
“Meskipun aku sudah berusaha, tapi aku benar-benar tidak bisa menjawab perasaanmu woo bin-ssi, maafkan aku…..” ujar so eun. “Aku sepertinya masih….aku masih menyukai kim bum-ssi meskipun aku sudah susah payah untuk berusaha melupakannya.” Lanjut so eun. Woo bin tak berkedip sedikit pun menatap so eun.
“Sebenarnya aku ingin bisa jatuh cinta pada woo bin-ssi dan menemukan cinta yang baru. Tapi aku benar-benar tidak bisa melupakan laki-laki itu. Aku menyukaimu juga woo bin-ssi, tapi kau adalah teman yang sangat baik untukku, yang selalu peduli pada perasaanku. Aku benar-benar minta maaf.” So eun membungkukkan badannya pada woo bin.
“Aku tidak apa-apa so eun-ssi !” Balas woo bin. “Karena aku mengungkapkan perasaanku disaat kau masih berhubungan dengan kim bum-ssi.” Lanjutnya.
“Mianhae woo bin-ssi.” Ujar so eun sekali lagi.
“Kau tidak perlu minta maaf so eun-ssi ! Aku hanya tidak ingin melihatmu sedih. Pada akhirnya, perasaan so eun-ssi tidak berubah juga pada kim bum-ssi, aku rasa itu tidak bisa tertolong. Mianhae~ pasti aku sudah membuatmu bingung setelah waktu itu aku berkata padamu jika aku akan menunggu. Mianhae~.” Kini malah giliran woo bin yang minta maaf.
“Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah memberikanmu harapan yang sia-sia.” Balas so eun.
Woo bin malah tersenyum. “Meskipun so eun-ssi tidak memilihku. Tapi aku senang karena yang aku sukai adalah so eun-ssi. Jadi….terimakasih.” ujar woo bin.
“Woo bin-ssi….” so eun terharu. Matanya mulai berkaca-kaca. “Kau menang orang yang sangat baik~” ujar so eun. Woo bin tersenyum. Tapi senyumnya kini terhenti saat ia melihat sosok kim bum yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka.
“Ini pasti sudah takdir untukmu, so eun-ssi.” Ujar woo bin yang kini kembali tersenyum. So eun menatap woo bin tidak mengerti lalu mengikuti arah pandangan mata woo bin.
So eun terkejut, matanya sukses membulat. Bahkan mulutnya pun sedikit terbuka karena saking tidak percayanya. Ia tak mengedipkan matanya sedikitpun karena yang tertangkap oleh indera penglihatannya saat ini adalah kim bum. Kim bum yang tengah berjalan mendekat ke arah mereka dengan tatapan lurus menatap so eun.
So eun masih belum berkedip hingga kim bum menarik tangannya untuk mendekat.
“Aku datang untuk membawa perempuan ini. Bolehkah?” Tanya kim bum pada woo bin. So eun masih belum bisa sadar sepenuhnya dengan kejadian yang tak disangka-sangka ini. Woo bin menatap kim bum lalu tersenyum padanya.
“Kali ini, mohon perlakukanlah so eun-ssi dengan lebih baik.” Balas woo bin. Kim bum sedikit menyunggingkan senyumnya pada woo bin lalu ia pun menarik tangan so eun dan membawa so eun pergi bersamanya. Kini so eun sudah sadar, ini bukan halusinasi. Laki-laki yang sedang manarik tangannya adalah kim bun.
“K…kim bum-ssi ! Lepaskan aku !” Pinta so eun. Tapi kim bum tak mendengarkan, ia masih menarik so eun.
“Kim bum-ssi….wae? Lepaskan tanganku !” Kini so eun berusaha berontak tapi kim bum malah semakin mengeratkan genggaman tangannya di pergelangan tangan so eun.
“Wae? Kenapa kau membawaku pergi? Bukankah seharusnya kau melepaskanku dan meninggalkanku sendirian disini? Ketika aku pergi bukankah kau tidak akan pernah merasa menyesal sedikitpun? Bukankah kau senang karena aku tak lagi mengganggumu? Waeee? Ceritakan padaku kenapa kau tiba-tiba……”
“Kau benar-benar punya mulut yang banyak bicara !” Kim bum menarik tangan so eun hingga tubuhnya mendekat lalu mengunci mulut so eun dengan bibirnya. Mata so eun membulat sempurna karena tindakan kim bum yang tidak diduga ini. Kim bum bahkan menahan kepala so eun dengan tangannya. Benarkah ini? Kim bum menciumnya?

kbkse33

Perlahan kim bum pun melepaskan ciumannya. Ia menatap lurus mata so eun dengan serius.
“Kau mengerti sekarang? Jadi berhentilah bertanya ‘kenapa’ !” Ujar kim bum. Wajah so eun masih menampakkan ekspresi kaget hingga sekarang. Namun tiba-tiba matanya berkaca-kaca.
“ANIYO ! AKU TIDAK MENGERTI !” balas so eun. Genangan air sudah muncul di bawah matanya. “AKU TIDAK MENGERTI ! SAMPAI SEKARANG AKU BENAR-BENAR BELUM MENGERTI !” teriak so eun. Air matanya jatuh seakarang.
“Sikapmu ! Sikapmu masih tetap kasar dan tidak berperasaan ! Kau selalu berkata semaumu padaku bahkan kau melihatku dengan tatapan yang kejam ! APAKAH KAU PIKIR AKU INI ORANG YANG BISA SEENAKNYA KAU PERMAINKAN? AKU SUDAH MUAK DENGAN SEMUANYA ! AKU SUDAH LELAH !” so eun akhirnya menangis di depan kim bum. Kim bum terkejut melihatnya tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa sekarang.
“AGAR AKU BISA MENGERTI DAN PAHAM, COBA KATAKANLAH SEMUANYA DENGAN JELAS !” Teriak so eun, tangisannya semakin deras saja. Kim bum diam beberapa saat tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
“Sudah aku katakan sebelumnya bahwa kau adalah milikku. Itu adalah disaat kau memintaku untuk menjadi pacar palsumu, kan? Tapi sekarang berbeda.” Jelas kim bum. So eun menatap kim bum kini, tangisnya sudah cukup mereda.
“Sekarang kau tidak sesederhana untuk membunuh waktu atau semacamnya.” Lanjut kim bum.
“Lalu? Dengan kata lain?” Tanya so eun.
Kim bum mengerutkan keningnya, memperlihatkan ekspresi wajahnya yang kelihatan tidak nyaman.
“Jadi…..ini adalah….ini adalah apa yang biasa oleh orang-orang sebut sebagai ‘suka’ mungkin.” Jawab kim bum akhirnya. So eun menatap kim bum tanpa berkedip sedikitpun. “Wae? Apakah aku salah?” Tanya kim bum. Bukannya menjawab, so eun malah menatap kim bum dengan mata yang berkaca-kaca hendak mengeluarkan kembali air mata.

“Kau sedang tidak berbohong, kan?” tanya so eun. “kau tidak percaya padaku?” tanya balik kim bum. “bukan seperti itu…..aku hanya……aku hanya takut kau sedang mempermainkanku lagi, aku takut semua yang kau katakan barusan itu ternyata hanya lelucon lagi, aku takut……” Air mata so eun kini kembali membasahi pipinya. Melihat so eun kembali menangis, membuat kim bum tidak tega. Ia menatap so eun dengan tatapan yang teduh, tidak seperti tatapan sebelumnya. “apa yang harus aku lakukan agar kau percaya?” kim bum memegang kedua pipi so eun dan menghapus air matanya. So eun menatap kim bum dengan matanya yang sembab. Tidak tahu kenapa, air matanya malah jatuh kembali, so eun tidak bisa menahannya. Semua yang ia rasakan terlalu campur aduk, antara kesal, sedih, senang, semuanya bercampur menjadi satu.
“Kenapa….kenapa baru sekarang?” tangis so eun. Kim bum masih menatap so eun dengan tatapan teduh dan lembut. “kenapa baru sekarang kau menyadarinya? Hiks….hiks…..” Kim bum kembali menghapus air mata so eun.
“Hikss….hiksss….Selama ini kau sudah benar-benar membuatku bingung ! Hikss…..” Karena so eun yang tak juga berhenti menangis, kim bum pun menarik tubuh so eun dan mengusap-usap kepalanya.
“Menangislah ! Menangislah sesukamu !” Ujar kim bum. Bukannya menyuruh so eun berhenti menangis, ia malah menyuruh so eun untuk menangis. Sementara itu, so eun masih menangis di dada kim bum.
“Apakah itu artinya kau dan aku berkencan sungguhan sekarang ini?” tanya so eun.
“Baiklah~ Kau bisa menganggapnya seperti itu.” Balas kim bum. So eun tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya lagi saat ini. Ia langsung melebarkan tangannya dan memeluk kim bum dengan erat.
“Kau tidak akan marah aku memelukmu seperti ini?” Tanya so eun.
“Um~ yeah yeah, terserah~ lakukan saja apa yang kau mau.” Balas kim bum yang kemudian kedua tangannya pun kini melingkar di tubuh so eun meskipun pelukannya tidak seerat yang dilakukan so eun.

 

Aku tidak ingin melupakan malam ini. Perjuanganku selama ini akhirnya berakhir di malam ini. Dia bahkan menciumku dan mengaku jika dia juga menyukaiku meskipun cara mengungkapkan perasaannya itu tidaklah manis menurut ukuranku. Tapi aku senang, hasilnya berbuah manis. Akhirnya hari ini pun cinta dimulai.

To Be Continued

Mian jika ceritanya kurang memuaskan, tapi saya harap kalian menyukainya.

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya.