Today, Love Is Begin PART 16

Today, Love is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

PART 16

 

Kim bum pulang ke rumah dengan suasana hati yang tidak baik. Ia marah dan kesal. Ia sampai membanting pintu rumahnya cukup keras. Membuat soo jin yang sedang tiduran di sofa seraya menonton televisi sangat kaget.
“Yak…..” kesal soo jin. Tapi kim bum tak menghiraukannya, dan langsung berjalan menuju kamarnya. Soo jin mengerutkan keningnya.
“Hey….soal so eunni….” ujar soo jin tiba-tiba. Kim bum mendadak menghentikan langkahnya dengan tangan yang sudah memegang knop pintu.
“Aku menyukainya, dia gadis yang baik dan penuh semangat.” Ujar soo jin. “Jadi, suatu hari nanti aku ingin mengajaknya ke Daegu !” Lanjutnya.
Kim bum langsung memutar kepalanya untuk melihat soo jin dengan mata yang sudah membulat.

 

-today love is begin-

 

“Oh…..jadi kau…” ujar kim bum.
Soo jin menatap kim bum bingung. “Mwoya?” Tanyanya.
“Tch…..” kim bum berdecak. “Kau memanfaatkan gadis polos itu, huh?” Tanya kim bum.
“Maksudmu, so eunnie?” Tanya soo jin.
“Kau memanfaatkannya selagi dia adalah kekasihku, kan? Memintanya agar dia bisa membujukku untuk pergi ke Daegu. Benar kan?” Nada bicara kim bum meninggi. Soo jin membelalakkan matanya dan ia pun bangkit dari duduknya.
“YAK !!!” Teriak soo jin. Emosinya tersulut juga. Kim bum menatap soo jin dengan tatapan menantang.
“APA MAKSUDMU DENGAN MEMANFAATKAN?! AKU SAMA SEKALI TIDAK MEMANFAATKAN SO EUNNIE !!!” Teriak soo jin.
“KALAU BUKAN KAU, SIAPA LAGI HUH?” Kim bum balas berteriak. “DENGAN TIBA-TIBA DIA MEMINTAKU UNTUK PERGI KE DAEGU, SUDAH JELAS INI ULAHMU !” lanjutnya.
“LALU??? JIKA AKU MEMANG MEMANFAATKANNYA, APA YANG AKAN KAU LAKUKAN KEPADAKU? HEOH???” Soo jin berkacak pinggang, seakan ia menantang sang adik.
“Jangan bawa-bawa dia ke dalam urusan ini !” Nada bicara kim bum akhirnya merendah. “Antara aku, kau, dan wanita tua itu tidak ada hubungannya dengan so eun.” Lanjutnya lalu berbalik hendak masuk ke dalam kamar. Namun tiba-tiba……
PLAK~~~~~
Soo jin menampar kim bum dengan keras. Kim bum langsung memegangi pipinya itu dan menatap soo jin dengan wajah kaget.
“SAMPAI KAPAN?” Tanya soo jin. “SAMPAI KAPAN KAU AKAN TERUS SEPERTI INI KEPADA IBUMU, HUH? KAU MEMANG TIDAK TAHU DENGAN JELAS JIKA DIA BEGITU MERINDUKAN ANAK LAKI-LAKINYA. KAU SELALU MENGHINDAR SETIAP KALI KAU MERASA JIKA KAU JUGA MERINDUKAN EOMMA. JANGAN LAGI BERSIKAP SEAKAN KAU TIDAK PEDULI, PADAHAL NYATANYA KAU JUGA MERINDUKAN EOMMA KAN? SUDAH BERAPA TAHUN? LEBIH DARI 10 TAHUN KAN? KAU BELUM PERNAH BERTEMU LAGI DENGAN EOMMA?!” Mata soo jin sampai memerah menahan tangis. Meskipun dia adalah sosok kakak yang kasar dan tegar dari luar, tapi jika sudah menyangkut soal ibu dan adiknya ini, hatinya mendadak rapuh. Kim bum masih membisu.
“Jika kau terus memendamnya seperti itu, rasa sakit di hatimu akan semakin besar. Jika kau rindu padanya, akui saja kau rindu ! Jika kau memang membencinya, akui saja kau benci. Tapi jangan dengan cara seperti ini ! Aku sudah lelah menyikapi perilaku bocah sepertimu ! Aku tahu kau memang sakit hati dengan kejadian yang lalu, tapi kau tidak pernah tahu jika eomma benar-benar tulus menyayangimu ! Dia begitu menderita saat jauh dari anak laki-lakinya yang masih kecil.” Jelas soo jin. Yeah, air matanya menetes, namun dengan cepat ia menghapusnya.
“Aku harap, kau ingin memikirkannya lebih matang.” Ujar soo jin lalu ia masuk ke dalam kamarnya. Sementara itu, kim bum masih membisu di tempat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, bahkan untuk berfikir saja pun tidak bisa.

 

-today love is begin-

 

So eun terus saja berguling-guling di kasurnya. Meskipun sudah malam, tapi ia masih merasa cemas. Ia cemas denga kim bum. Tadi siang, ia baru saja melakukan kesalahan kepada kim bum. Ia tidak menyangka jika kim bum akan sangat sensitif seperti itu jika menyangkut ibunya. So eun menyesal dan merasa bersalah.
“Eottohkae???” Ujarnya gelisah. Ponsel tak pernah lepas dari tangannya, bimbang antara menghubungi kim bum atau membiarkannya saja.
“Jika menghubunginya pun, dia pasti tidak akan menjawab.” Ujarnya.
“Huaaaa bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan???” So eun mengacak rambutnya.
“Eo……apakah aku menghubungi soo jin eonni saja?” Pikirnya. So eun segera mencari nomor ponsel soo jin di ponselnya. Tapi sesaat sebelum ia menyentuh layar hijau untuk mulai menelpon, tangannya tiba-tiba terhenti.
“Ini sudah malam, jika aku menghubunginya aku akan mengganggu.” Ujarnya. So eun pun membatalkan niatnya.
“Haaaaaah….” Ia menghela nafasnya dan memilih menyimpan ponselnya.
“Mungkin besok akan lebih baik.” Gumamnya.

 

-today love is begin-

 

Soo jin terbangun dari tidurnya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Soo jin memang baru tidur sekitar 3 jam yang lalu setelah sebelumnya ia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Soo jin perlahan mendudukkan dirinya dan mengurut pundaknya. Tidur sesingkat ini cukup membuat kepalanya sedikit pusing. Ia pun tak makan malam dan terus berada di kamar setelah ia menampar sang adik dan mengoceh kepadanya kemarin sore. Soo jin pun keluar dari kamarnya dan pergi menuju dapur. Ia mengambil air mineral dan meminumnya. Perutnya sedikit keroncongan, namun setelah ia melihat isi kulkas, ternyata tidak ada apa-apa disana. Ia juga penasaran apakah kim bum sudah bangun atau belum. Dengan memberanikan diri ia pun berjalan menuju kamar adiknya.
Tok tok tok~~~
Soo jin mengetuk pintu kamar kim bum hingga tiga kali. Namun belum juha ada sautan.
Tok tok~~~
“bummie~~~~~” panggil soo jin. “Kau sudah bangun? Aku akan membeli makanan ke mini market~ kau tunggu aku dan jangan sarapan di luar, ara? Sebagai permintaan maafku aku akan membuatkanmu sarapan.” Ujar soo jin.
Hening…tak ada tanda-tanda yang diberikan kim bum dari dalam kamar.
“Bummie???” Panggil soo jin seraya mengetuk pintu kembali. Soo jin penasaran, ia pun memegang knop pintu kamar kim bum dan memutarnya. Ternyata pintunya tidak di kunci. Dengan perlahan soo jin membukanya, ia menyembulkan kepalanya ke dalam kamar sang adik. Tapi ternyata, tak ada siapa-siapa di dalam.
“Apa dia sudah bangun?” Pikir soo jin. Soo jin pun memutar kepalanya ke arah kamar mandi tapi ternyata tak ada tanda-tanda kim bum baru memakai kamar mandi. Semuanya masih terlihat sama seperti kemarin sore. Soo ji mengerutkan keningnya.

 

-today love is begin-

 

“Hoooaaammm…” Il woo menguap lebar seraya berjalan keluar dari kamarnya. Di sofa di ruang tempat menonton terlihat kim bum tengah tiduran. Il woo membulatkan matanya.
“WAAAAAAAAAAAAAAAAAA” Il woo berteriak kaget. Kim bum yang memang tidak sepenuhnya tidur langsung menutup kedua telinganya.
“B….bum-ah!??? Kenapa kau ada disini?” Kaget il woo seraya perlahan-lahan mendekati kim bum.
Kim bum mendesah lalu mendudukkan dirinya. “Kau tidak ingat?” Tanya kim bum. Il woo tampak kebingungan, ia ikut mendudukan dirinya di samping kim bum.
“Benar-benar idiot !” Ejek kim bum. Il woo menatap kim bum dengan penuh tanda tanya, pasalnya ia sama sekali tidak ingat kenapa kim bum bisa sampai ada di rumahnya. Rumah kecil yang hanya ia tinggali sendiri ini.
“Akh….” Kim bum mengurut pelipisnya. Ia tidak bisa tidur semalaman, hingga pagi ini pun.
“Aku memang belum ingat sepenuhnya kenapa kau bisa ada di rumahku. Tapi, aku akan mengambilkan minum dulu untukmu.” Ujar il woo lalu berjalan menuju dapur.
Kim bum menundukkan kepalanya. Perkataan kakanya terus saja berputar-putar dan tidak mau pergi dari pikirannya. Membuat dirinya pusing.
“Minumlah.” Il woo menyodorkan segelas air putih kepada kim bum. Kim bum menerimanya dan meminumnya sedikit.
“Kau kelihatan banyak pikiran. Apa sesuatu telah terjadi?” Tanya il woo.
“Ani….gwaenchana.” balas kim bum. Il woo menatap kim bum aneh, tapi ia hanya bisa angguk-angguk saja.
“Kalau begitu, sekarang bisa kau ceritakan kenapa kau ada disini?” Tanya il woo. Kim bum menatap il woo tak menyangka. Laki-laki ini tak mengingatnya sama sekali?

 

Flashback
Kim bum sudah berdiri di depan pintu rumah il woo. Ia sudah beberapa kali mengetuk pintu.
“Eo….siapa itu?” Suara il woo terdengar surau di telinga kim bum. Tak lama kemudian pintu pun terbuka.
“Oh….kau kim bum.” Ujar il woo setengah tidur saat ia melihat ternyata yang mengetuk pintu adalah kim bum. Mata il woo pun bahkan hanya terbuka sedikit. Setelah kim bum masuk, il woo kembali berjalan menuju kamarnya dengan langkah lemas dan mata tertutup. Ia meninggalkan kim bum yang masih berdiri di dekat pintu. Bahkan il woo pun lupa menutup kembali pintunya dan membuat kim bum yang menutup pintunya.
“Aku akan menginap malam ini di rumahmu.” Ujar kim bum.
“Hmm…oke oke.” Balas il woo lalu langsung menghilang di balik pintu kamarnya. Kim bum menghela nafasnya lalu menidurkan dirinya di sofa.
End of Flashback

 

“Eo….benarkah?” Tanya il woo. ” Aku benar-benar tidak mengingatnya.” Ujarnya.
“Aku mungkin berjalan dan bicara sambil tidur, aku benar-benar mengantuk kemarin.” Tambahnya.
“Tidak masalah kau ingat atau tidak. Tapi terimakasih sudah mengizinkanku tidur disini.” Balas kim bum.
“Yak…..” Il woo menyenggol lengan il woo. “Kau seperti bukan kepada sahabat saja….tidur semaumu disini pun aku tak apa.” Ujarnya.
Kim bum menyunggingkan senyumnya sedikit. Sangat sedikit.
“Heh…..sekarang ini kau terlihat aneh, sesuatu pasti sedang terjadi kan? Benar? Wajahmu tidak bisa membohongiku !” Il woo menatap menyelidik wajah kim bum. Kim bum diam.
“Ah….apakah dengan so eun-ssi?” Tebak il woo.
“Ani.” Jawab kim bum. Il woo mengerutkan keningnya. “Lalu?” Tanyanya.
“Aku memang sedang banyak pikiran, tapi aku tidak ingin membahasnya.” Balas kim bum.
“Arasseo arasseo……” Il woo mengerti. “Ah ya jam 10 pagi ini aku ada kerja part time, aku mungkin akan pulang sampai malam.” Il woo memberi tahu. Kim bum mengangguk. “Lagipula nanti pun aku akan pergi.” Balas kim bum.
“Yasudah kalau begitu.” Il woo berjalan menuju kamar mandi.

 

-today love is begin-

Ting tong~~~~
So eun sudah berdiri di depan apartemen kim bum. Sebelumnya ia cukup ragu untuk datang kesini. Namun setelah berfikir cukup lama, akhirnya so eun pun memutuskan untuk datang ke apartemen kim bum untuk berbicara kepadanya langsung.
Ting tong~~~~
So eun kembali menekan bel. Tak lama kemudian pintu pun terbuka.
“Oh….so eunnie.” Ternyata soo jin yang membukakan pintu.
“Eonni, selamat siang.” So eun membungkukkan badannya.
“Aku kira siapa yang datang, kajja masuklah.” Soo jin menyuruh so eun masuk. So eun pun masuk ke dalam dengan perasaan gelisah. Apa yang harus ia katakan saat bertemu dengan kim bum sekarang? Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana caranya ia bertatap muka secara langsung dengan kim bum setelah kejadian kemarin? Mungkin kim bum masih kecewa padanya.
So eun duduk di kursi dengan perasaan tegang.
“Aku akan membawa minum dulu.” Ujar soo jin.
“Ah….gwaenchana eonni. Kau tidak perlu repot-repot.” Tolak so eun halus.
“Ehhh…..wae?” Tanya soo jin.
“Ummm….sebenarnya…” So eun meremas tangannya. “Aku kemari ingin bertemu dengan bum-ah. Mungkin dia masih marah padaku, jadi aku ingin bicara dan minta maaf langsung padanya.” jelas so eun. Soo jin mengurungkan niatnya pergi ke dapur dan ikut duduk di samping so eun.
“Anak itu belum juga pulang. Sepertinya kemarin malam di pergi gara-gara aku.” Ujad soo jin. So eun langsung menatap soo jin.
“Haaah….” Soo jin menghela nafasnya. “Kakak macam apa aku ini? Dengan begitu mudah menampar adiknya dengan keras? Sudah tak terhitung berapa kali tangan ini menamparnya.” Soo jin menatap telapak tangannya.
“Eonni….” panggil so eun. “Mian….aku mungkin tidak bisa membujuk kim bum untuk pergi ke daegu menemui ibunya kim bum dan eonni. Aku rasa jika aku melakukannya, aku akan terlihat ikut campur.” Jelas so eun.
Soo jin tersenyum. “Ani….seharusnya aku yang minta maaf. Tidak seharusnya aku melibatkanmu. Memang cukup sulit bagi bummie untuk menerimanya. Membiarkannya untuk berfikir sendiri memang lebih baik. Aku juga tak seharusnya memaksa dia.” Balas soo jin. So eun hanya menatap saja kakak kekasihnya itu.

 

-today love is begin-

So eun sedari tadi terus menghubungi kim bum. Tapi sampai sekarang ponsel kim bum belum juga aktif. So eun benar-benar gelisah. Tiba-tiba ia teringat dengan jung il woo. Ia mencoba menghubunginya tapi ternyata sama saja, sibuk ! Yeah kita tahu kan, il woo sedang kerja paruh waktu jadi mungkin ia sibuk dan tak sempat mengangkat telponnya, atau bahkan ia meletakkan ponselnya dimana saja. So eun menghela nafasnya. Apa lagi yang harus ia lakukan? Bagaimana ia bisa tahu keberadaan kim bum jika ponselnya kim bum saja tidak aktif? Hari sudah mulai gelap. So eun khawatir dengan kondisi kim bum sekarang. Apakah semalam ia menginap di rumah temannya-il woo? Lalu apakah dia makan dengan baik? Yah hal-hal seperti itulah yang berkecamuk di kepala so eun.
“Bagaimana ini???” So eun resah. “Apakah aku harus menunggu beberapa saat lagi lalu kembali mencoba menghubunginya nanti?” Pikirnya. So eun langsung menjatuhkan dirinya ke atas kasur dengan ponsel yang masih ada dalam genggaman tangannya.

 

-today love is begin-

Kim bum berjalan dengan lesu di sekitar jalanan sepi di daerah Seokchon di dekat Taman Danau Seokchon. Ia menghela nafasnya, udara malam ini cukup dingin, angin pun berhembus cukup kencang. Mungkin udara dingin ini dikarenakan faktor dari danau seokchon juga. Sedari siang tadi, kim bum memang tak tentu arah berjalan seperti ini. Ia hanya ingin menyejukkan pikirannya dan juga hatinya. Kim bum pun merogoh ponselnya yang sedari tadi ia matikan. Saat ia mulai meng-aktifkan ponselnya, sudah muncul puluhan notifikasi panggilan tak terjawab dari kim so eun. Beberapa di antaranya juga dari kim soo jin-sang kakak. Kim bum menatap layar ponselnya sebentar, lalu ia berjalan mendekati salah satu kursi yang menghadap danau seokchon. Ia duduk di sana. Melihat danau seokchon yang menenangkan. Angin pun meniupkan helaian rambutnya.
Tiba-tiba layar ponselnya menyala, nada dering terdengar. Ternyata so eun yang menghubunginya. Kim bum menyentuh layarnya itu, mengangkat telpon so eun.
“Kim bum-ah !!!” Terdengar nada cemas di nada so eun bercampur rasa bahagia. Kim bum memilih me-loudspeaker kan suaranya.
“Kim bum-ah……kau dimana sekarang?” Tanya so eun. Kim bum tak menjawabnya. Ia malah hanya mendengarkan saja suara so eun itu.
“Aku sangat khawatir…..sudah beberapa kali aku menghubungimu tapi ponselmu terus saja tidak aktif, apalagi setelah aku tahu dari kakakmu kalau kau tidak kembali ke rumahmu dari kemarin malam. Dimana sekarang?”
Kim bum masih belum menjawab. Ia hanya sedang ingin mendengarkan suara so eun ditemani udara malam yang cukup dingin dengan pemandangan danau Seokchon yang cantik.
“Bum-ah…..” panggil so eun.
“Temani aku !” Akhirnya kim bum membuka suara. “Teruslah bicara. Aku ingin mendengar suaramu lebih lama.” Tambahnya.
“Tapi, dimana kau sekarang?” Tanya so eun.

 

-today love is begin-

So eum cepat-cepat bergegas pergi dari rumahnya. Orangtuanya sempat bingung dengan so eun. Namun mereka tak sempat mencegahnya karena so eun sudah keburu pergi dengan cepat.
Danau Seokchon tidak terlalu jauh dari rumahnya, jadi so eun memilih untuk menaiki bus saja sekitar 15 menit, lalu berjalan kaki ke taman danau Seokchon sekitar 10 menit. Disana so eun sudah bisa melihat punggung kim bum. Kim bum ternyata masih disana melihat danau Seokchon.
So eun berlari. “Bum-ah….” panggilnya. Kim bum menoleh, lalu so eun duduk di samping kim bum.
“Kau datang.” Ujar kim bum.
“Mian…..aku tak bisa datang cepat.” Balas so eun dengan nafas ngos-ngosan. Kim bum terkekeh, so eun melihatnya dengan ekspresi bingung.
“Apa kau tidak marah padaku?” Tanya so eun masih melihat kim bum dari samping. Kim bum belum menjawab.
“Aku takut karena aku terlalu ikut campur tentang masalahmu dengan ibumu, lalu kau marah dan benci kepadaku.” Lanjut so eun.
“Aku memintamu datang kesini, untuk menghiburku kan?” Balas kim bum tak menghiraukan pertanyaan so eun. “Temani aku dan hibur aku disini !” Ujarnya.
“Ta….tapi, tak ada satu lelucon pun yang ada di otakku. Jika aku mengatakan sesuatu yang lucu, tapi kau tidak tertawa, aku akan merasa tidak berguna.” Balas so eun.
Kim bum menghela nafasnya. Lalu ia melirik ke samping, melihat so eun yang sedang menatapnya dengan wajah polos. Kim bum perlahan mengangkat tangan kanannya dan menyentuh pipi so eun. So eun kaget dengan apa yang kim bum lakukan.
“Kau hangat.” Ujar kim bum.
“A……tanganmu dingin sekali !” Pekik so eun. “Sudah berama lama kau berada di luar?” Tanya so eun.
Kim bum perlahan melepaskan tangannya dari pipi so eun dan kembali melihat ke arah danau.
“Hari ini, terlalu banyak yang aku pikirkan.” Ujar kim bum. So eun sudah tahu dengan jelas. Yang kim bum pikirkan pasti soal ibunya. So eun lalu semakin merapat mendekati kim bum. Ia meraih ke dua tangan kim bum. Kim bum cukup kaget.
“Jika kau kedinginan. Aku akan menghangatkanmu.” Ujar so eun seraya meletakkan kedua tangan kim bum di kedua pipinya. Kim bum menatap tepat mata so eun.
“Aku tak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya. Kau terlihat menyedihkan sekali.” Ujar so eun. Kim bum masih diam. “Aku rasa, kau lebih baik bersikap kasar saja daripada menyedihkan sepert ini.” So eun memanyunkan bibirnya. Kim bum menatap so eun semakin dalam.
“Aku…..” ujar kim bum. “Setelah aku memikirkannya, aku akan pergi ke Daegu.” Lanjut kim bum yang membuat so eun benar-benar kaget. So eun tak menyangka kim bum berubah pikiran sangat cepat.
“Jinjjaru?” Tanya so eun, ia tak bisa menyembunyikan lagi rasa senangnya. So eun tersenyum sangat lebar.

 

-today love is begin-

 

“Eonni………….miaaaaaaan aku telaaaaaat !” So eun berlari menghampiri soo jin dan kim bum yang sedang duduk menunggunya di halte bus. Soo jin langsung berdiri.
“Gwaenchana.” Balas soo jin. Nafas so eun masih ngos-ngosan.
“Aku membawa oleh-oleh yang dibuat oleh ibuku.” Ujar so eun.
“Jinjja?” Tanya soo jin. So eun mengangguk.
“Aku tak tahu apa yang disukai oleh ibunya eonni dan bum-ah, jadi aku meminta eomma untuk membuatkan beberapa makanan.” Ujar so eun.
“Huaaaa gomawoyo so eunnie.” Soo jin terlihat senang. Sementara kim bum masih duduk di kursi. Ini adalah kali pertamanya lagi, dia pergi ke Daegu untuk menemui sang ibu setelah beberapa tahun lamanya. Jujur, sebenarnya ia juga tidak tahu kesan apa yang harus ia berikan saat bertemu dengan ibunya nanti. Diam? Menyapa? Atau……
“Busnya sudah tiba.” Ujar soo jin. Soo jin dan so eun segera naik ke dalam bus yang akan membawa mereka ke stasiun kereta api. Kim bum juga perlahan ikut menaiki bus seraya membawa satu koper besar di tangannya.
Tak lama, mereka pun tiba di stasiun. Hanya menunggu beberapa menit disana. Kereta api jurusan Daegu pun sudah menanti dan mereka segera naik. Selama perjalanan pun kim bum hanya diam saja, berbeda dengan so eun dan soo jin yang terus saja mengobrol. Tampaknya so eun begitu antusias akan bertemu dengan ibunya kim bum. Perjalan ke Daegu cukup memakan waktu lama. Soo jin tengah tertidur sementara so eun menikmati pemandangan alam lewat jendela. Ia duduk di samping kim bum. Sementata soo jin di depan mereka. Tiba-tiba so eun menyentuh-nyentuh lengan kim bum dengan telunjuknya.
“Hey….bum-ah.” Panggil so eun. Kim bum menoleh.
“Aku penasaran, seperti apa ibumu itu?” Tanya so eun. Kim bum diam sejenak.
“Dia hanya wanita tua biasa.” Balas kim bum.
“Maksudku…..jika lebih spesifik….orang seperti apa dia? Apakah ramah? Mudah bergaul? Atau…..”
“Sudah bertahun-tahun aku tak bertemu dengannya.” Potong kim bum. “Jadi aku tak terlalu mengingat hal itu.” Lanjutnya.
“A…..mian…..aku hanya penasaran, terlebih……soo jin eonni sudah susah payah untuk mengajakku.” So eun mengerucutkan bibirnya.
“Lebih baik kau tidur saja ! Perjalanan masih jauh.” Suruh kim bum.

 

-today love is begin-

“Eommaaaaaa….” soo jin berteriak sambil masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang ia tinggali bersama ibunya di Daegu.
“Ah….kau sudah pulang soo jinnie.” Ibunya keluar dari dapur. Namun ekspresi wajahnya berubah menjadi kaget saat ia melihat anak laki-lakinya ada disini.
“Ah ya, aku membawa bummie juga kemari.” Ujar soo jin yang menyadari kekagetan ibunya itu. Kim bum juga tampak diam.
“Dan ini so eunnie. Dia pacarnya bummie.” Ujar soo jin enteng. So eun mendadak nervous diperkenalkan oleh soo jin kepada ibunya sang kekasih.
“Perkenalkan, namaku kim so eun. Bagaimana kabar eommonim?” So eun membungkukkan badannya 90 derajat.
“Senang bertemu denganmu so eunnie.” Ibunya kim bum tersenyum. So eun kaget dipanggil akrab oleh ibunya kim bum padahal mereka baru saja bertemu. Ini mengingatkannya pada soo jin.
“Aku ke kamar dulu. So eunnie, aku simpan tasmu dan baju-bajumu di kamarku, ya?” Ujar soo jin lalu masuk ke dalam kamarnya sambil membawa koper miliknya dan tas besar milik so eun.
“Terimakasih karena sudah mau datang kemari, aku sangat senang.” Ujar ibunya kim bum dengan senyum ramahnya. So eun sedikit terkesima dengan senyumnya itu. Senyum yang menyejukkan. Matanya ibu kim bum pun beralih menatap kepada sang anak-kim bum. Terlihat tatapan yang amat rindu dari matanya kepada kim bum.
“Sudah sangat lama, kim bummie.” Ujarnya. Kim bum hanya menatap ibunya saja.
“Bagaimana kabarmu?” Tanya sang ibu.
“Seperti biasa, normal.” Jawab kim bum seraya memalingkan pandangannya.
“Ah….arrasseo…..arrasseo…..normal adalah yang terbaik.” Balas sang ibu. Kim bum diam.
So eun hanya memerhatikan saja percakapan singkat antara anak dan ibu itu yang terasa begitu canggung. Lalu ia teringat dengan oleh-oleh yang ia bawa.
“Ah ya….umm…..aku membawa oleh-oleh untuk eommonim. Meskipun tidak seberapa tapi aku harap kau menyukainya.” So eun menyerahkan sekotak besar berisi makanan buatan ibunya pada ibu kim bum.
“Aigooooo.” Ibu kim bum menerimanya dengan sangat senang. “seharusnya kau tak usah repot-repot, tapi aku dengan senang hati menerimanya.” Ujarnya dengan senyum yang tampak cerah. Tak terlihat sama sekali wanita di depannya ini adalah wanita yang sudah tua.
“Kalian pasti lapar kan? Perjalanan memang cukup jauh.” Ujar ibunya kim bum. “Aku akan menyiapkan dulu makanan, kalian istirahatlah dulu.” Suruhnya, lalu ia pun masuk ke dalam dapur. Tak kama keluarlah soo jin dari kamarnya.
“Dimana eomma?” Tanya soo jin yang hanya melihat kim bum dan so eun di ruang tengah.
“Eommonim ada di dapur, eonni.” Jawab so eun. Soo jin mengangguk lalu masuk ke dalam dapur.
“Bum-ah….” panggil so eun. Kim bum menatapnya. “Ibumu sangat ramah, dia cantik dan mudah bergaul. Aku menyukainya.” Bisik so eun.
“Dia hanya berakting.” Balas kim bum datar.
“Ne???”

 

-today love is begin-

Makanan sudah tersaji di meja di ruang tengah. Mereka berempat duduk berhadapan. So eun duduk di samping kim bum, dan soo jin dengan ibunya.
“Woooah sepertinya lezat sekali.” Ujar soo jin melihat makanan-makanan itu yang melambai-lambai padanya minta dimakan.
“Kebetulan tadi eomma baru selesai memasak, ditambah ada oleh-oleh juga dari so eunnie.” Ujar ibunya kim bum. Soo jin mengangguk faham.
“Kajja….makanlah !” Suruh ibunya kim bum seraya mengambil mangkuk nasi milik so eun dan mengisinya, lalu ia menyodorkan semangkuk nasi itu kepada so eun.
“Ah…..gomawo…” so eun menerima semangkuk nasi itu.
“Bummie, kau juga.” Ibunya hendak mengambil mangkuk nasi milik kim bum. Tapi kim bum menolak.
“Aku bisa sendiri.” Ujarnya, lalu menyangkul nasi itu oleh dirinya. Muncul sedikit suasana tidak nyaman disana.
So eun dan soo jin makan cukup lahap, sementara kim bum dan ibunya terlihat tak berselera. Terasa canggung memang, seorang anak dan ibu yang sudah lama tidak bertemu dipertemukan kembali dalam situasi seperti ini, situasi dimana kim bum tak menyukai ibunya sendiri dan ibunya yang memiliki rasa rindu sangat menggebu pada anak yang seperti tak menyukainya itu. Ibu kim bum menyudahi makannya, dan memilih untuk minum soju yang tersedia di meja.
“Eomma, kau akan minum?” Tanya soo jin.
“Hanya sedikit.” Ujar ibunya.
“Jangan terlalu banyak, kau akan memalukan jika sudah mabuk.” Ujar soo jin.
“Tenang saja.” Balas ibunya itu enteng.
Hampir setengah botol soju yang dihabiskan ibunya kim bum. Tingkahnya jadi aneh dan memalukan. Ia mengambil dua lembar rumput laut kering dan menempelkannya di kedua alisnya.
“Lihat ! Lihatlah kemari !” Perintah ibunya kim bum. “Aku punya alis tebal seperti rumput laut ini kekekek.” Ujarnya. So eun hanya nyengir saja.
“Eomma, kau sudah minum terlalu banyak.” Ujar soo jin.
“So eunnie lihatlah !” Ibunya kim bum mendekatkan wajahnya pada so eun. Ia menunjuk alisnya. “Alisku sangat tebal, iya kan?” Tanyanya. So eun melihat alis ibunya kim bum itu.
“Ah ne.” Jawab so eun.
“Kau ingin menyentuhnya? Ayo sentuhlah !” Tawarnya. “Umm….” so eun berfikir sejenak lalu melirik ke arah kim bum yang sudah kelihatan sangat tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
“Eomma, jangan menyuruh so eunnie melakukan hal yang aneh.” Ujar soo jin.
“Waeyo? Ini tidak aneh. Dia adalah kekasihnya anakku, aku hanya ingin dia juga menyukaiku.” Balasnya.
“Hehehe.” So eun hanya nyengir.
“So eunnie, ngomong-ngomong apa yang kau sukai dari anakku, huh?” Tanya ibunnya kim bum.
“Ehhh?” So eun mendadak gerogi. Soo jin tersenyum penuh arti mendengar pertanyaan ibunya itu.
“Meskipun aku sudah tahu alasannya so eunnie menyukai bocah tak tahu diri seperti dia. Tapi tidak ada salahnya so eunnie menceritakannya kembali.” Ujar soo jin memancing kim bum. Kim bum sudah menatap soo jin dengan tatapan ‘mati kau’ nya.
“Ayo ceritakan so eunni, aku ingin mendengarnya !” Suruh ibunya kim bum.
“Umm…..” so eun tampak malu dan bingung memulainya dari mana.
“Yak so eun, kau jangan……”
Soo jin langsung membekap mulut kim bum dengan kuat. “Kau diamlah !” Suruh soo jin pada kim bum, lalu ia juga menahan leher dan kepala kim bum dengan lengannya. Kim bum benar-benar kesal dengan tingkah kakaknya.
“Ayo so eunnie kau bisa memulai ceritanya ! Jangan hiraukan anak ini !” Perintah soo jin. So eun tampak ragu, apalagi setelah ia melihat ekspresi kim bum.
“Yak lepaskan !” Akhirnya kim bum bisa melepaskan diri dari kakanya. Kim bum langsung berdiri.
“Yak….kau mau kemana?” Tanya soo jin.
“Ke ruangan sebelah.” Balas kim bum masih dengan nada kesalnya.
“Duduklah disini ! Sudah lama kita tak berkumpul seperti ini.” Pinta ibunya.
“Aku merasa sangat tidak nyaman. Jadi aku lebih baik pindah tempat saja. Kalian bisa bercerita apa yang kalian inginkan tanpa aku.” Ujar kim bum lalu meinggalkan mereka.
“Aiyuuuh anak itu !!!” Geram soo jin.
“Gwaenchana soo jinnie.” Ujar ibunya. “Mungkin dia malu saat topik pembicaraan kita mengarah pada kisah cintanya kekekekek.” Lanjutnya.
“Yeah, kau benar juga eomma.” Balas soo jin.
Sesuai apa yang diminta oleh ibunya kim bum, so eun pun menceritakan kisah cintanya dengan kim bum. Dimulai saat berpura-pura pacaran untuk menyombongkan diri kepada teman-temannya, sampai pacaran sungguhan seperti ini. Ibunya kim bum pun sudah lelah sepertinya, ia sampai ketiduran di ruang tengah dengan kepala yang ia letakkan di meja.
“Eomma…” panggil soo jin.
“Huh?” Ibunya itu membuka matanya sedikit.
“Jika kau ingin tidur, lebih baik kau tidur di kamarmu !” Suruh soo jin.
“Ani…..aku ingin mengobrol dengan so eunnie lebih lama.” Tolaknya.
“So eunnie ceritakan lebih banyak lagi !!! Malam ini mari habiskan waktu untuk mendengarkan kisah cintanya so eunnie !” Ujar ibunya kim bum dengan semangat dan masih setengah mabuk.
“Tsk….” soo jin berdecak lalu membantu ibunya berdiri.
“Kajja ! Aku akan membantumu tidur di dalam kamar !” Soo jin membopong tubuh ibunya. So eun hendak membantu tapi soo jin menolaknya.
“Arrasseo….arrasseo….aku akan tidur !” Ujar ibunya. “Selamat malam so eunnie. Kita mengobrol lagi besok, oke?” Pintanya setengah mengantuk.
“Ah ne.” So eun mengangguk. “Selamat malam.” Ujarnya.

 

-today love is begin-

 

“Aku minta maaf karena sifat ibuku, dia memang kekanak-kanakkan saat dia sudah mabuk.” Ujar soo jin. Saat ini ia sedang mencuci piring di dapur dan so eun membantunya.
“Gwaenchanayo, aku menikmatinya. Eommonim adalah orang yang keren, dia ramah dan mudah bergaul.” Balas so eun.
“Dia memang seperti itu.” Ujar soo jin sambil menyunggingkan sedikit senyumnya. “Aku rasa dia sangat senang bertemu dengan so eunnie.” So eun menatap soo jin.
“Meskipun dia selalu dalam semangat yang tinggi. Tapi jika bertemu dengan anaknya sendiri setelah beberapa tahun lamanya, aku rasa dia akan sangat canggung dan tak tahu apa yang harus dia lakukan. Tapi, karena kehadiran so eunnie disini. Itulah yang membuatnya merasa senang dan bisa menyembunyikan rasa canggungnya.” Cerita soo jin. So eun masih menatap kakak sang kekasih itu.
“Jadi….itulah mengapa eonni mengajakku ke Daegu, untuk membuat eommonim senang?” Tanya so eun.
Soo jin menatap so eun, lalu tersenyum.
“Meskipun dari luar dia terlihat selalu bersemangat dan menyenangkan, tapi dari dalam dia sangat kesepian.” Ujar soo jin. So eun terdiam.
‘Mungkinkah itu yang dimaksud kim bum? Dia hanya berakting?’ Batin so eun.

 

-today love is begin-

So eun baru selesai mandi dan ia sudah berpakaian baju tidur. So eun berniat menemui kim bum, jadi sekeluarnya dari kamar mandi ia langsung menuju kamarnya kim bum.
Tok tok tok~ so eun mengetuk pintu.
“Bum-ah, apa kau sedang tidak sibuk? Ini aku.” Ujar so eun dari balik pintu. Kim bum yang sedang duduk di lantai kamarnya sembari menonton televisi pun menoleh ke arah pintu.
“Ah….masuklah !” Balas kim bum. Perlahan so eun pun membuka pintunya dan masuk ke dalam. Ia melihat kim bum tengah fokus pada televisi, lalu ia pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
“Apa yang sedang kau tonton?” Tanya so eun.
“Hanya acara yang membosankan.” Balas kim bum. “Ngomong-ngomong, apa kau baru saja selesai mandi?” Tanya kim bum seraya memperhatikan rambut so eun yang basah.
“Ah iya. Kau juga harus segera mandi !” Balas so eun.
“Bagaimana acara mengobrolmu? Apa kau merasa senang sekarang, huh?” Tanya kim bum.
“Aku sangat senang.” Jawab so eun dengan bersemangat. “Ibumu sangat menyenangkan dan seperti teman. Tapi dia terlalu banyak minum dan akhirnya tertidur.” Lanjut so eun.
Kim bum menyunggingkan senyumnya sedikit. Hanya sedikit. “Aku mengerti.” Balasnya. “Itulah keadaan keluargaku yang tak ada harapan.” Lanjutnya. So eun cukup terkesiap mendengarnya. Melihat kim bum yang tadi baru saja tersenyum meskipun sangat sedikit, itu membuktikan bahwa dia tak sepenuhnya membenci ibunya. Sebenarnya, dia juga ingin memiliki hubungan baik dengan ibunya. Itulah mengapa dia pada akhirnya mengambil keputusan untuk pergi ke Daegu bersama soo jin dan juga so eun. So eun tersenyum melihat kim bum yang kini sedikit menundukkan kepalanya.
“Bum-ah….” panggil so eun. Kim bum kembali menoleh. “Aku….aku saaaaangaaaaaat menyukai ibumu. Saaaaangaaaaat !” Ujar so eun.
“Huh?” Tanya kim bum.
“Hari ini aku sangat senang bisa bicara banyak dengan ibumu. Sungguh !” Ujarnya dengan mata yang berbinar-binar. “Meskipun hanya hal kecil, tapi dia dengan senang hati mendengarkanku. Dia menyenangkan dan juga benar-benar ramah.” Jelasnya. “Oleh karena itu, mari pergi bersama lagi ke Daegu lain kali !” Ajak so eun. “Ne?” Tanyanya. Bukannya menjawab, kim bum malah menatap so eun dengan aneh.
“Apa yang baru saja terjadi padamu?” Tanya kim bum. Lalu kim bum menopang dagunya dengan tangannya. Melihat reaksi kim bum yang seperti itu membuat so eun ciut. Ia sudah menggebu-gebu dan bersemangat menceritakannya kepada kim bum, tapi kim bum malah bertanya apa yang telah terjadi padanya. So eun pun hanya bisa diam saja. Terjadi keheningan beberapa menit di antara mereka. Menyadari so eun tak bicara lagi, kim bum pun memutar bola matanya dan melirik so eun. Ia melihat so eun tengah menunduk seraya memain-mainkan jari tangannya. Tiba-tiba kim bum mengangkat tangannya secara perlahan dan memegang rambut so eun. So eun menoleh.
“Seharusnya kau pergi untuk mengeringkan rambutmu !” Ujar kim bum.
“A..ah….ne….tadi aku berniat mengeringkan rambutku nanti setelah aku menemuimu.” Balas so eun. Entah kenapa jantungnya berdegup sangat cepat saat kim bum memegang beberapa helaian rambutnya itu.
“Heh…..” kim bum menyunggingkan senyumnya lalu menatap tepat ke mata so eun. Perlahan ia juga melepaskan tangannya yang memegang rambut so eun. Perasaan so eun semakin tak karuan saja di saat kim bum secara perlahan mendekatkan wajahnya pada wajahnya yang sudah benar-benar memerah. So eun langsung saja menutup matanya.

 

To Be Continued

FF ini akan berakhir di part 17. Seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya, kemungkinan Part 17 akan di protect, atau bahkan kemungkinan juga tidak. Jika misalnya part 17 nanti di protect, kalian bisa minta Pasword lewat twitter, fb, atau bbm. Kalian bisa lihat di About author soal fb dan twitter. Yang mau minta pw lewat email pun bisa. Cukup kirim ke alamat email cie.resi96@gmail.com. Jangan lupa juga ya sertakan Uname kalian saat minta pw ke saya sesuai Uname yang kalian pakai saat berkomentar di woprdpress saya. PIN : 75ADDEB8

Today, Love Is Begin PART 15

Today, Love Is Begin

kbkse110
Main cast : Kim So Eun& Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkinakanada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuktokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

PART 15
“Kalau begitu, kim bum-ssi…..kau pasti punya banyak waktu di hari libur nanti kan?” Tanya so eun.
“Hmmm.” Kim bum mengangguk. So eun tersenyum.
“Ah ya….ngomong-ngomong……kau pernah bilang kau sudah lama tak bertemu dengan ibumu, kan?” Tanya so eun, mengingatkan pada ibunya.
“Siapa yang bilang seperti itu?” Raut wajah kim bum berubah menjadi kesal.
“Tentu saja kau ! Waktu itu kau bilang ibumu tinggal jauh darimu.” Balas so eun. Kim bum diam.
“Apakah kau akan pergi menemui ibumu liburan nanti?” Tanya so eun.
“Tidak !” Jawab kim bum cepat. “Aku tidak ingin menjadi dekat dengannya !” Tambah kim bum dengan ekspresi wajah yang berubah tidak bersahabat. So eun menatap kaget kim bum.
“Ah….a….arasseo….” balas so eun. Ia tahu kim bum memang sudah lama tidak bertemu dengan ibunya. Tapi alasan kenapa ibunya tinggal jauh dengannya, belum so eun ketahui.
“Kim bum-ssi, memangnya dimana ibumu tinggal?” tanya nirin.
“Daegu.” Jawab kim bum singkat.
“Bukankah akan lebih baik jika pergi kesana untuk menemuinya meskipun hanya sebentar? Kenapa kau tidak mau pergi?” Nirin rupanya tak bisa membaca ekspresi wajah kesal kim bum. Ia malah bertanya hal yang mungkin tidak ingin kim bum jawab.
“Ah nirin-ah, kim bum-ssi pasti punya alasan sendiri kenapa ia tidak mau pergi hehe.” Malah so eun yang menjawab, ini ia lakukan agar kim bum tak berujung marah.
“Aku sedang tidak ingin membicarakannya.” Ujar kim bum. Nirin mengangguk mengerti.
Tapi tiba-tiba kim bum menghentikan langkahnya saat ia menangkap seseorang yang tidak asing di matanya sedang berdiri beberapa meter di depannya.
“Waeyo kim bum-ssi?” Tanya so eun heran. Ia melihat ekspresi kaget di wajah kim bum. Kim bum tidak menjawab, lalu so eun pun memilih mengikuti arah pandangan kim bum. So eun melihat ada seorang perempuan dengan perawakan tinggi sekitar 168 cm berjalan menghampiri mereka. Perempuan itu memakai kacamata dan terlihat begitu fashionable dengan baju-baju dan aksesoris yang ia kenakan. Perempuan itu juga terliat cantik dan mempesona.
Perlahan, wanita itu membuka kacamatanya, dan matanya menunjukkan kekagetan saat melihat kim bum.
“Bum-ah? Kim bum-ah???” Panggilnya dengan wajah kaget. Kim bum juga masih menunjukkan wajah kagetnya. Sekarang so eun juga ikutan kaget. Sementara nirin tidak mengerti dengan situasi seperti ini.

 

Apa yang akan terjadi lagi dengan kisahku dengan kim bum-ssi…..setelah semua masalah terselesaikan satu persatu, apakah masalah baru akan muncul lagi???? Perempuan itu? Siapa perempuan itu? Apakah perempuan itu perempuan di masa lalunya kim bum-ssi? Aku tidak pernah melihat kim bum-ssi sekaget ini. OH MY GOD !!!! Jika itu benar, apa yang akan terjadi denganku?

-today love is begin-

 

“Bum-ah, benarkah ini kau???” Tanya wanita itu yang kini memperhatikan kim bum dari atas sampai bawah.
“Aigoooooo, kebetulan sekali kita bertemu disini. Barusaja aku akan menghubungimu.” Ujar wanita itu.
Mendengar wanita itu berbicara nonformal bahkan memanggil kim bum dengan akrab, membuat so eun menarik kesimpukan bahwa hubungan antara wanita ini dengan kim bum sangat dekat. Tapi so eun masih was-was, takut jika wanita cantik yang berdiri di hadapan mereka punya hubungan khusus dengan kim bum di masa lalu.
“Kau….” barulah kim bum bersuara. “Kenapa kau berkeliaran di Seoul? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya kim bum enteng. Ia tak suka dan tak nyaman dengan kehadiran wanita ini.
“MWO? Berkeliaran katamu !??” Pekik wanita itu. “KAUUU !” Wanita itu terlihat geram.
Plaaak~~~~ wanita itu menampar pipi kim bum cukup keras. So eun dan nirin shock berat dengan apa yang mereka lihat.
Kim bum memegangi pipinya dan menatap tak suka wanita itu.
“Sekali lagi kau berani berkata tidak sopan padaku, aku tak segan untuk menamparmu tiga kali lebih keras !!!” Ancam wanita itu. Wajah wanita itu pun terlihat mengerikan kini, image seorang wanita feminim yang ada dipikiran so eun menghilang setelah melihat kelakuan wanita ini.
“K…kim bum-ssi, gwaenchana?” Bisik so eun. Kim bum hanya diam. kini bagaikan ada kilatan petir dari mata kim bum dan wanita itu saat bertatapan satu sama lain.
“Kim bum-ssi, siapa dia?” Tanya nirin. Kim bum berdecak sebal.
“Dia?” Kim bum menunjuk wanita itu. “Hehhh….” lalu ia memalingkan wajahnya dari wanita itu. So eun penasaran siapa sebenarnya wanita ini. Setelah melihat apa yang terjadi barusan, so eun berfikir mana mungkin jika wanita ini adalah wanita dimasa lalunya kim bum setelah mereka yang saling benci seperti ini.
“Dia……dia kakakku.” Jawab kim bum dengan nada tidak ikhlas. Wanita itu baru menyadari keberadaan dua orang perempuan di dekatnya- so eun dan nirin. So eun benar-benar kaget dan tidak menyangka bahwa wanita ini adalah kakaknya kim bum.
‘O…omo….jadi kim bum-ssi punya kakak perempuan?’ Batin so eun.
“Ah….apakah mereka temanmu?” Tanya wanita itu pada kim bum.
“Kenalkan mereka padaku !” Pintanya. Kim bum berdecak sebal.
“Annyeooooonnngggg………” kakak kim bum itu merubah ekspresinya yang tadi kelihatan menakutkan menjadi seramah mungkin saat menyapa so eun dan nirin. Ia tersenyum lebar kepada mereka.
“Senang bertemu dengan kalian, aku Kim Soo Jin. Terimakasih sudah mau berteman dengan adikku Bummie.” Kakak kim bum yang ternyata bernama kim soo jin ini memamerkan senyum terbaiknya. Kim bum malah merasa terganggu dengan sikap kakaknya yang dibuat seimut itu.
‘Bummie?’ Batin so eun. So eun menahan senyumnya, ternyata lelaki dingin dan kasar seperti kim bum dipanggil dengan nama seimut itu oleh kakaknya. So eun tidak menduga.
“Aku Shin ni rin.” Balas nirin seraya membungkukkan tubuhnya. Melihat nirin, so eun pun cepat-cepat ikut membungkuk.
“Aku Kim so eun, senang bisa bertemu dengan kakaknya kim bum-ssi.” Ujar so eun. Kim soo jin tersenyum.

 

-today love is begin-

 

“Aku tidak menduga ternyata kim bum-ssi punya kakak perempuan !” Ujar nirin kalem. Saat ini mereka berempat-kim bum, so eun, nirin, dan soo jin- sedang berada di cafe di dekat tempat tadi mereka bertemu.
“Oh jinjja? Apakah anak ini tidak pernah mengatakan sesuatu tentangku?” Tanya soo jin. Kim bum hanya menopang dagunya dan ekspresi wajahnya terlihat kesal. So eun hanya nyengir saja.
“Yeah….mungkin karena aku hanya datang ke Seoul setiap tiga tahun sekali. Aku tinggal dengan ibuku di Daegu.” Lanjut soo jin, lalu ia meminum jus alpukat pesanannya.
“So eun-ah, kau juga tidak tahu soal ini?” Bisik nirin. So eun menggeleng. Nirin mengangguk mengerti.
“Ah….apakah diantara kalian berdua ini semuanya temannya bummie?” Tanya soo jin.
“Ah iya, aku teman satu kelasnya.” Balas nirin. So eun mendadak kikuk dan gerogi. Untuk mengatakan ia adalah kekasihnya kim bum kepada kakaknya kim bum terasa sangat mendebarkan untuknya. Sejenak so eun menatap kim bum, tapi kim bum sedang melihat ke arah lain masih dengan menopang dagunya. So eun tahu pasti kim bum kesal karena kehadiran kakaknya.
“Aku…..aku kekasihnya.” Ujar so eun akhirnya. Kim bum langsung mengalihkan pandangannya pada so eun. Begitu pula soo jin yang terlihat agak kaget, pasalnya ternyata kim bum bisa juga punya kekasih.
“Heehhh….kekasih ya?” Gumam soo jin. “Kalau begitu, terimakasih karena sudah mau menjadi pasangannya bummie.” Soo jin tersenyum pada so eun, sementara kim bum berdecak sebal dengan kata-kata sok bijak yang keluar dari mulut kakaknya.
“Jika dia kurang ajar, beri saja dia pelajaran !” Lanjut soo jin.
“Eehh?” So eun tidak menyangka dengan respon positif dari kakaknya kim bum.
“Ah ya….baiklah…!!!” Jawab so eun semangat.
“Haaah….” soo jin menghela nafasnya.
“Sebenarnya aku masih ingin mengobrol bersama kalian disini. Tapi aku harus istirahat dan segera pulang.” Ujar soo jin, lalu ia bangkit dari duduknya.
“Memangnya kemana kau akan pulang?” Tanya kim bum.
“Tentu saja apartemenmu !” Jawab soo jin. Kim bum menghela nafasnya.
“Kau…..cepat kau bawakan koperku !” Perintah soo jin pada kim bum.
“Mwo? Kenapa kau tidak memanggil taksi saja? Merepotkan !!!” Kesal kim bum.
Pletaaaakkk~~~~ soo jin menjitak kepala kim bum dengan keras. Kim bum geram, soo jin berdiri menghadap kim bum dengan tatapan membunuhnya. So eun dan nirin mendadak takut.
“Baiklah jika kau tidak mau. Aku akan pergi ke apartemenmu lebih cepat darimu dan aku akan mengacak-acak semua bajumu lalu aku akan merobeknya seperti kertas !!! Seperti waktu itu.” Ancam soo jin dengan muka antagonis yang tergambar dari wajahnya. Kim bum akhirnya memilih pasrah dan membawa koper milik kakaknya itu.
So eun dan nirin menatap soo jin dengan takut. Ia tak menyangka jika wanita secantik dia begitu kejam terhadap sang adik.
‘Mereka ternyata begitu mirip’ batin so eun. ‘Cara mereka berbicara dan kata-kata kasar yang mereka ucapkan….wajah mereka yang berubah drastis menjadi menyeramkan….mereka ternyata memang mirip. Mungkin itulah alasan kenapa kim bum-ssi tidak pernah mau menceritakan keluarganya.’
“Baiklah kalau begitu kami pergi dulu, ne? Semoga kita bisa bertemu dan mengobrol lagi….sampai jumpa….” soo jin melambaikan tangannya pada so eun dan nirin sebentar lalu berjalan lebih dulu meninggalkan kim bum.
“Aku pergi.” Pamit kim bum pada so eun dan nirin. Lalu ia pun mulai menarik kopernya dan mengikuti soo jin. Kim bum sendiri tampak ogah-ogahan menarik koper itu.
“YAK….percepat jalanmu !!!” Suruh soo jin.
“Diam !” Kesal kim bum. Bagaimana bisa ia jalan dengan cepat disaat ia membawa koper yang seberat ini?
So eun dan nirin yang masih berada di dalam cafe hanya terbengong saja melihat tingkah mereka yang tidak akur.

 

-today love is begin-

 

“Dimana appa?” Tanya soo jin setelah mereka sampai di apartemen yang ditinggali kim bum bersama ayahnya.
“Dia masih bekerja, dia sedang berada di ilsan.” Balas kim bum. Soo jin langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa dan mengeluarkan ponselnya, kim bum menatapnya kesal.
“Hmmph…..dia masih gila kerja, huh?” Ujar soo jin. “Bukankah sia-sia saja dia bekerja keras untuk menghidupi keluarga tapi dia pun tak pernah menemui keluarganya?” Lanjut soo jin enteng.
“Itulah dia, kan?” Balas kim bum seraya meletakkan koper milik soo jin itu di dekat meja.
“Yeah baiklah….tapi aku juga sedikit merasa lega, aku akan tidur di kamarnya.” Ujar soo jin.
“Lebih baik daripada kau tidur di kamarku.” Balas kim bum lalu hendak berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.
“Selama libur dari kuliah, aku akan tinggal disini. Yeah mungkin sekitar 5 hari atau mungkin lebih.” Soo jin memberi tahu.
“HAH???” Kim bum mengurungkan niatnya menuju dapur. “Tidakkah itu terlalu lama? Bagiku hanya dua hari pun kau sudah cukup tinggal disini !!” Balas kim bum.
“KAUUU !!!!” Soo jin melayangkan bantal sofa yang ada di dekatnya kepada kim bum. Tapi dengan cepat kim bum menangkapnya dan menatap geram kakaknya itu.
“Kenapa kau benci sekali aku disini, huh? Aku hanya ingin berlibur di Seoul dan menghilangkan rasa penatku saat di Daegu….di Daegu tidak semaju di Seoul, kau tahu !? Aku akan menghabiskan waktuku di Seoul jika bisa sampai aku pingsan !” Jelas soo jin.
“Tsk…..” kim bum berdecak. “Terserah kau saja !” Balas kim bum akhirnya, lalu ia pun berjalan ke arah dapur.
“Ah ya…..ngomong-ngomong kekasihmu itu, Kim so eun-ssi kan?” Kim bum menolehkan wajahnya untuk melihat sang kakak. Tapi kemudian ia tak peduli dan masuk ke dapur untuk mengambil minum.
“Hmmmpph….ternyata masih ada perempuan yang tertarik dan tertipu dengan penampilanmu, huh?” Ejek soo jin. “Jatuh cinta kepada ‘bocah’ menjengkelkan sepertimu !!!” Lanjutnya.
Kim bum hanya menghela nafasnya. Ia sedang tidak ingin berdebat karena ia sedang lelah. Ia pun membuka pintu lemari es dan mengambil botol air mineral dari sana.
“Bahkan jika kau bukanlah adikku, aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu !” Ejeknya lagi.
Kim bum kembali menghela nafasnya. “Itu bukan urusanmu.” Ujarnya pelan.
“Heeeh….apa yang kau katakan!!??” Tanya soo jin curiga.
“Ani.” Jawabnya. Lalu kim bum meneguk air mineral itu dan menyenderkan punggungnya pada lemari es.
“Lagipula, kau pasti hanya bermain-main saja kan? Kau berpura-pura menyukainya dan bersikap ramah padanya, lalu tak lama kemudian kau akan menyakitinya, setelah itu kau akan memutuskannya. Haaah aku merasa kasihan kepada gadis itu.” Ujar soo jin enteng.
“Jika itu yang kau pikirkan, maka lebih baik kau tidak usah ikut campur !” Balas kim bum. Kim bum kembali meneguk air mineralnya.
“Yak ! Tentu saja aku harus ikut campur ! Aku tidak bisa membiarkan adikku yang kurang ajar ini bersikap seperti itu kepada perempuan !” Soo jin marah-marah. Kim bum menghela nafasnya lalu berjalan keluar dari dapur.
“Itulah kenapa, semuanya akan baik-baik saja selama aku tidak bermain-main kan?” Balas kim bum dengan kalemnya.
Mendengar jawaban yang keluar dari mulut adiknya itu soo jin merasa kaget. Ia tak pernah menyangka adiknya akan mengatakan kata-kata seperti itu.
Soo jin menatap kim bum masih dengan wajah bengongnya, kim bum menatap soo jin dengan tatapan aneh.
“Aigoooooo…..tidak mungkin !!! Jadi maksudmu, kau itu serius dengannya?” Pekik soo jin. Kim bum diam.
“EEEHH……..BWAHAHAHAHAHAHAH…..kau bercanda kan??? Mana mungkin bocah sepertimu…..” soo jin menggantungkan ucapannya.
“HAHAHAHAHAHA aigoooo.” Soo jin tertawa hingga ia memegangi perutnya. Kim bum merasa terganggu dengan reaksi kakaknya itu.
“Apakah ada yang lucu?” Kesal kim bum.
“Ekekekk….” soo jin menghapus air matanya yang keluar akibat tertawanya yang puas itu.
“Membayangkan kau memang sungguh-sungguh dan serius dengan kim so eun-ssi entah kenapa membuatku ingin tertawa…..tiga tahun tidak bertemu, kau sudah banyak berubah, huh? Sepertinya aku harus mengatakan ini kepada eomma ekekekk…..” ujar soo jin.
“Yak…..” kesal kim bum. “Ini bukan urusanmu, jadi jangan ikut campur !” Suruh kim bum lalu segera masuk ke dalam kamarnya.
Slaaaam~~~ kim bum menutup pintunya dengan keras. Melihat reaksi kim bum yang seperti itu membuat soo jin berpikir.
“Hmmm….jadi dia benar-benar serius huh? Aku benar-benar tidak percaya…..” gumam soo jin.

 

-today love is begin-

 

Keesokan harinya, Hari Minggu

So eun masih tertidur nyenyak di kasur empuknya. Maklumlah hari ini hari libur jadi pukul 8 KST ia masih asik bergumul dengan selimutnya.
Drrrrttt drrrttttt drrrrttt
Barulah disaat ponselnya bergetar, so eun mulai membuka matanya meskipun terasa sulit. Masih dengan setengah tidur, so eun pun menjangkau ponselnya yang ia simpan di meja di samping tempat tidurnya. Dia menatap layar ponselnya itu, ada sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
“Yeobosaeyo?” Jawab so eun masih dengan suaranya yang lemas.
“Ah kim so eun-ssi? Mian…..apakah aku membangunkanmu?” Tanya orang disebrang sana.
“Hmmm….ani….siapa ini?” Tanya so eun.
“Ah, aku kakaknya bummie….” jawab orang itu yang ternyata adalah kim soo jin.
Mengetahui yang menghubunginya adalah kakak sang kekasih, dalam hitungan detik so eun langsung mendudukan dirinya di atas kasur.
“Ah ne, selamat pagiiii !” Suara so eun mendadak bersemangat. Ia tak menyangka kakaknya kim bum akan menghubunginya sepagi ini.
“Mian aku terlalu mendadak menelponmu, kau pasti kaget kan?” Tanya soo jin.
“Aniyo !!! Gwaenchanaaa !!” Balas so eun cepat.
“Ngomong-ngomong aku mencuri nomor ponselmu dari ponselnya bummie hahaha, jika dia tahu aku menyentuh ponselnya mungkin dia akan mengusirku haha.” Cerita soo jin.
“Aah…benarkah?” Tanya so eun. “Jadi kim bum-ssi tidak mengetahuinya?”
“Yeah, setelah aku mencuri nomormu, dia lalu pergi ke rumah temannya.” Jawab soo jin.
“Arasseo.” Balas so eun.
“Ah ya kim so eun-ssi~~~ apa hari ini kau punya waktu?” Tanya soo jin.
“Ah iya…aku tidak punya rencana apapun hari ini.” Jawab so eun.
“Sungguh?” Tanya soo jin memastikan, nada suaranya terlihat senang. So eun mengerutkan keningnya.
“Kalau begitu bagaimana jika kita bertemu jam 10 nanti??? Semenjak bummie pergi, aku tidak ada teman~~” ajak soo jin. Mata so eun membulat. Ia tidak menyangka soo jin akan mengajaknya bertemu. Apakah ini pertemuan khusus yang dibuat soo jin untuk lebih mengenal kekasih adiknya??? Jantung so eun berdebar lebih kencang dari biasanya.
“So eun-ssi???” Soo jin heran karena so eun tak kunjung menjawab.
“Ah ya baiklah~~~” jawab so eun akhirnya dengan bersemangat.
“Aku senang mendengarnya, kalau begitu sampai bertemu nanti so eunnie~” soon jin langsung memutuskan sambungan telponnya.
“So eunnie?” Gumam so eun.

 

-today love is begin-

 

Saat ini so eun dan soo jin sudah berada si sebuah cafe di jalanan apgujeong. Mereka duduk berhadapan. Makanan yang mereka pesan belum tiba.
“Maaf sudah merepotkanmu untuk menemuiku.” Ujar soo jin.
“Ah….gwaenchana.” balas so eun. Entah kenapa melihat soo jin menatapnya membuat so eun tegang.
“Kau tahulah aku tidak terlalu mengenal Seoul, kemari pun hanya tiga tahun sekali. Dan anak itu malah pergi ke rumah temannya, aku tidak punya teman lain selain kau so eunnie.” Jelas soo jin. “Boleh kan aku memanggilmu so eunnie? Agar terasa lebih dekat.” Lanjut soo jin.
“Ah….” pipi so eun bersemu merah. “Gwaenchana eo…eonni.” balas so eun. Soo jin tersenyum.
“Ah ya….dan juga selain itu aku ingin bertemu dengan so eunnie secara pribadi.” Ujar soo jin. So eun cukup kaget. Seperti yang ia duga sebelumnya, mungkin kakaknya kim bum ingin mendekatkan dirinya dengan so eun.
‘Gilaaa ini benar-benar membuatku tegang !!! Lebih tegang daripada kim bum-ssi yang akan menciumku !!!’ Batin so eun. ‘Aku penasaran, apakah maksud soo jin eonni ingin bertemu denganku secara pribadi adalah karena ia ingin mengujiku apakah aku cocok dengan adiknya atau tidak?? Ah….ini sangat menakutkan !!!! Tapi bagaimanapun juga, mungkin ini adalah kesempatanku untuk mengambil hatinya soo ji eonni juga’ so eun berupaya menyemangati dirinya sendiri.
“Oh….jinjjaru? Aku senang jika eonni ingin bertemu denganku secara pribadi hehehe.” Ujar so eun. “Jika kau ingin, aku bisa menghabiskan waktuku bersamu soo jin eonni, aku akan menemanimu kemanapun kau ingin pergi hari ini.” Lanjut so eun dengan senyum lebarnya. Soo jin menatap so eun takjub.
“Aigoooo…..jinjja? Jeongmal gomawoyo so eunni….kau memang gadis yang baik.” Puji soo jin.
“Eheheheh.” So eun hanya nyengir saja. Tak lama dari itu, makanan pesanan mereka pun datang. Mereka memilih untuk menikmati makanan mereka dulu sembari mengobrol sedikit-sedikit.
“So eunnie….” ujar soo jin, ia menatap so eun cukup serius. So eun langsung berhenti mengunyah dan membalas tatapan soo jin. Tiba-tiba saja ia deg-degan lagi.
“Apa kau benar-benar menyukai adikku?” Tanya soo jin. Dengan cepat so eun mengangguk yakin.
“Aku sangat menyukai kim bum-ssi, lelaki yang membuatku jatuh cinta hanya dia !” Jawab so eun. Soo jin terkekeh mendengarya. So eun menatap soo jin bingung.
“Aku hanya tidak menyangka, adikku yang menyebalkan seperti itu bisa disukai oleh perempuan baik sepertimu.” Ujar soo jin. Pipi so eun memerah seketika. Bolehkah ia menganggap ucapan soo jin barusan sebagai pujian?
Soo jin menghela nafas. “Kau tidak menyesal berkencan dengannya? kau pasti sudah mengenal betul sifatnya kan? Adikku kasar dan tak berperasaan.” Ujar soo jin.
“Ani…..aku sama sekali tidak menyesal !” Jawab so eun cepat. “Sekarang dia sudah sedikit berubah, memang dulu dia selalu berkata kasar dan bersikap seenaknya bahkan kepada kekasihnya sendiri. Tapi aku senang, sekarang dia sudah sedikit berubah.” Jawab so eun.
“Jinjjayo?” Soo jin tak menyangka. So eun mengangguk yakin.
“Heeeh aku sedikit lega, perempuan yang menjadi kekasih adikku adalah so eunnie.” Ujar soo jin. So eun mendadak malu. “Tampaknya so eunnie sudah banyak merubah adikku. Pada awalnya aku sangat kaget dan benar-benar tidak percaya, bahwa dia begitu serius denganmu.” Lanjut soo jin.
“Ne?” So eun belum mengerti.
“Haaaah……” soo jin mengeluarkan nafasnya dengan lega. Ia menyudahi makannya.
“Setelah ini, temani aku ke mall ya so eunnie?” Pinta soo jin. Ia mengabaikan pertanyaan so eun. “Aku ingin berkeliling jika bisa sampai aku pingsan haha.” Lanjutnya.
“Ah ye……” Jawab so eun dengan bersemangat.

 

-today love is begin-

 

So eun menemani soo jin berbelanja di sebuah mall, so eun berjalan kesana kemari mengikuti soo jin yang memeilih-milih baju di lantai 2, lalu mereka pergi ke lantai 3 dimana tempat semua macam tas berada, setelah itu soo jin menuju lantai 4 untuk membeli sepatu. So eun sendiri tidak menyangka soo jin akan berbelanja sebanyak itu. Ia cukup kelelahan harus mengikuti soo jin yang sedikit agak rewel ketika memilih baju, tas, dan sepatu. Beberapa kali soo jin memilih baju dan mencobanya, tapi kemudian dia tak jadi membelinya dan kembali memilih baju yang lain.
“Soo jin eonni, apakah sudah selesai?” Tanya so eun setelah soo jin membayar di kasir dan membawa barang-barang belanjaannya yang bejibun.
“Belum, masih ada yang harus aku beli. Dimana tempat perhiasan dan aksesoris so eunni?” Tanya soo jin. So eun serasa ingin terjun saja dari lantai 4 ini. Tangan soo jin sudah dipenuhi oleh kantong belanjaan, tapi masih ada yang harus dibeli??????
“Itu….di lantai 8 eonni.” Jawab so eun.
“Oh? Baiklah kajjaaaa !” Soo jin berjalan lebih dulu. Sementara so eun mengikutinya dari belakang dengan langkah gontai.
“Dia sama sekali tidak terlihat kelelahan.” Gumam so eun takjub.
Mereka berdua-soo jin dan so eun- sudah berada di depan lift. Namun sepertinya lift sedang penuh sehingga mereka menunggu cukup lama. Soo jin terlihat tak sabaran.
“Ah kalau sepeti ini lebih baik naik elevaror saja !” Ujar soo jin. So eun langsung melongo menatap soo jin.
“Elevator? Jinjja? Dari lantai 4 menuju lantai 8? Eonni…..itu akan sangat melelahkan !” Ujar so eun.
“Gwaenchana……akan lebih baik juga dari pada naik tangga kan? Aku masih kuat, lagi pula aku masih harus pergi ke toko kue, buku…..yeahhh aku sangat ingin menghabiskan waktu sampai kakiku tak mampu menopang tubuhku lagi hahaha.” Balas soo jin. So eun melongo hebat.
“Tapi eonni, tidakkah lebih baik kita menunggu sebentar lagi?” Tanya so eun.
“Waeyo so eunni? Apa kau lelah? Jika kau lelah kau bisa beristirahat ! Aku sendiri saja ke lantai 8, jangan memaksakan dirimu !” Balas soo jin. So eun menggeleng cepat.
“Aniyooo !!! Aku sama sekali tidak lelah !!!” Dusta so eun.
“Jinjja???” Soo jin memastikan.
“Ne…..aku akan menemani soo jin eonni.” Balas so eun.
“Baiklah…..kajjaaaa !!!” Soo jin berjalan diikuti dengan so eun. Bisa dibayangkan dari lantai 4 sampai lantai 8? Meskipun menggunakan elevator tapi tetal saja kaki so eun sudah benar-benar lelah dan ia tidak mampu lagi berjalan, hingga akhirnya saat so eun sudah sampai di lantai 8 ia memilih duduk dikursi yang ada disana. Sementara soo jin sibuk memilih beberapa aksesoris.
Setelah dari mall, lalu mereka pergi ke toko buku. Kemudian ke toko kaset, toko kue, dan ke beberapa tempat yang inhin didatangi oleh soo jin. Kaki so eun sampai gempor karena kakinya terus bergerak kesana kemari hingga sore seperti ini. So eun tidak bisa protes begitu saja kepada soo jn, memngingat dia adalah kakaknya kim bum. Dan sekarang so eun bisa bernafas lega, ia bisa duduk mengistirahatkan kakinya yang sudah benar-benar kelelahan. Saat ini, so eun dan soo jin sedang berada di sebuah cafe. Karena soo jin merasa lapar, dan so eun yang sangat ingin beristirahat, akhirnya mereka pergi ke sebuah cafe terdekat. Soo jin memesan jus stoberi dan juga makanan manis, sementara so eun hanya memesan jus lemon saja, tapi sampai tiga gelas saking ia hausnya.
“Wooooah gomawo so eunnie, ini benar-benar menyenangkan.” Ujar soo jin menatap so eun dengan wajah gembira. So eun memaksakan senyum cerahnya.
“Jika eonni senang, aku juga senang hehe.” Balasnya.
“Ah ya aku sampai lupa….” ujar soo jin.
“Ne?” Tanya so eun.
“Sebenarnya……alasan aku mengajakmu bertemu adalah karena aku ingin berbicara soal bummie denganmu.” Ujar soo jin. So eun menatap soo jin dengan penuh tanda tanya.
“Sifat bummie memang seperti itu, kasar dan yeah…..menyebalkan. Orang tua kami bercerai saat bummie masih berumur 5 tahun dan umurku 9 tahun. Eomma membawaku ke Daegu dan bummie tetap tinggal di Seoul bersama appa. Pada waktu itu bummie merengek dan menangis habis-habisan karena ia ingin ikut bersama eomma, tapi reaksi yang diberikan eomma malah dingin terhadapnya. Bahkan ia tidak pergi untuk memeluk bummie dan menghapus air matanya. Eomma malah tak menunjukkan sama sekali wajahnya di depan bummie. Dan appa menahan tubuh bummie yang terus berontak ingin bersama eomma. Tanpa berkata apapun, eomma langsung membawaku pergi meninggalkan bummie. Tangisan dia semakin keras dan aku juga ikut sedih pada saat itu. Saat aku dan eomma sudah sampai menaiki bus, barulah eomma menangis. Aku tahu, sebenarnya eomma juga sedih meninggalkan bummie, tapi inilah yang hanya bisa ia lakukan.” Cerita soo jin panjang lebar. So eun mendengarkan dengan seksama cerita dari soo jin itu. Akhirnya ia jadi cukup mengerti mengenai masalah kim bum dengan ibunya. Ternyata kim bum adalah seorang anak malang. So eun jadi iba.
“Dan pasti kau juga terkejut kan dengan sikapku yang kasar padanya?” Tanya soo jin. So eun menatap soo jin bingung, bingung ia harus berekasi seperti apa.

 

Flash Back

Enam tahun yang lalu. Soo jin dan semua teman satu kelasnya pergi ke seoul dalam acara studytour sekaligus penelitian mengenai tumbuhan yang tercemar polusi. Saat itu, soo jin tak sengaja melihat kim bum tengah duduk di sebuah bangku di dekat tempat penelitiannya. Soo jin tentu saja terkejut, tidak menduga bahwa secara kebetulan ia akan bertemu dengan adik satu-satunya. Ia pun menghampiri kim bum untuk memastikan.
“Bummie?” Tanya soo jin saat ia sudah berada di depan kim bum. Kim bum yang sedang asik bermain game lewat ponselnya pun perlahan mengangkat kepalanya. Ia menatap soo jin dengan ekpresi datar. Bahkan tatapannya terlihat jika ia tidak senang dengan kehadiran orang lain di dekatnya. Tapi nampaknya soo jin tidak peduli, saking rindunya pada sang adik ia pun langsung memeluk kim bum. Kim bum kaget.
“Kau sudah tumbuh besar rupanya.” Ujar soo jin. Kim bum langsung melepaskan pelukan soo jin dan ia berdiri dari duduknya.
“Apa-apaan kau? Kenapa kau memelukku dengan tiba-tiba?” Kesal kim bum.
“Yak bummie, kau tidak ingat denganku?” Soo jin menunjuk dirinya sendiri.
“Untuk apa aku mengingat orang yang sudah lama tidak aku lihat.” Balas kim bum enteng. Soo jin terbelalak. Apakah remaja laki-laki yang berdiri di hadapannya ini benar-benar adiknya?
“Mwo?”
“Kau…..kenapa kau tiba-tiba muncul di Seoul?” Itulah pertanyaan yang keluar dari mulut kim bum. Soo jin geram.
“KAU !!!”
PLAK~~~ Soo jin menampar pipi kim bum cukup keras. Kim bum membukatkan matanya.
“KENAPA KAU MENAMPARKU???” Teriak kim bum.
“APAKAH ITU SIKAPMU SAAT KAU BERTEMU LAGI DENGAN KAKAKMU YANG SUDAH LAMA TIDAK BERTEMU?” Soo jin balas berteriak.
“MEMANGNYA KENAPA JIKA HANYA BERTEMU? AKH APPO !” Kim bum memegangi pipinya yang bekas di tampar soo jin.
“Siapa yang telah mengajarkanmu bersikap seperti ini? Apakah kau bergaul dengan preman huh? Sudah lama tidak bertemu, sikapmu benar-benar membuatku takjub !” Ujar soo jin.
“Tsk….kau sungguh banyak bicara, kau mengangguku saja.” Kim bum lalu berjalan meninggalkan soo jin.
“Yak mau kemana kau? Aku belum selesai bicara denganmu !” Soo jin menahan baju adiknya itu.
“Apa yang kau lakukan?” Kesal kim bum.
“Yak…..eomma merindukanmu ! Datanglah ke Daegu !” Pinta soo jin.
“Dia tidak merindukanku !” Balas kim bum. “Seharusnya dia yang mengunjungiku, bukan anaknya !” Lanjutnya. Soo jin menatap kim bum kaget. Kim bum melepaskan tangan kakaknya yang menahan bajunya, lalu ia pun pergi.
“Yak bummie…..”
“Soo jin-aaaaahhh~~~~~” soo jin mengurungkan niatnya untuk menahan kim bum kembali karena temannya memanggil.
“Apa yang sedang kau lakukan? Kita harus segera menyelesaikan penelitiannya !” Teriak temannya itu.
“Ah ya….” balas soo jin. Sebelum menghampiri temannya, soo jin kembali melirik ke arah kemana tadi sang adik pergi.
“Awas kau…..lihat saja apa yang akan aku lakukan.” Geram soo jin, lalu ia pun menghampiri teman-temannya.

End of Flash Back

 

“Yah seperti itulah, setelah kejadian itu beberapa minggu kemudian aku kembali ke Seoul lalu merobek-robek semua baju anak itu.” Cerita soo jin. So eun hanha bisa mendengarkan saja cerita soo jin tanpa bisa memberikan komentar. Itulah alasannya kenapa kim bum bersikap dingin dan kasar. Yah, so eun mengerti sekarang.
“Sikapku yang kasar padanya juga aku lakukan karena aku tidak ingin hubungan persaudaraan dengannya menjadi canggung, jika aku selalu bertengkar dengannya aku merasa nyaman karena aku tak merasa canggung.” Ujarnya. So eun mengangguk.
“Ah ya, mungkin sekitar minggu depan aku akan kembali ke Daegu. Bisakah aku meminta bantuan padamu so eunnie?” Tanya soo jin.
“Ne?” Tanya so eun.
“Eomma….sudah bertahun-tahun dia tudak bertemu dengan bummie, semenjak perceraian itu. Bisakah kau membujuk bummie untuk pergi ke daegu dan bertemu dengan eomma?” Pinta soo jin. So eun diam seraya berfikir sejenak.
“Semenjak kau adalah kekasihnya, mungkin dia akan menuruti permintaanmu.” Ujar soo jin. So eun akhirnya mengangguk.
“Baiklah, aku akan mencoba berbicara dengannya.” Balas so eun. Soo jin tersenyum.
“Gomawoyo so eunnie~”

 

-today love is begin-

 

Kim bum sedang berada di rumah il woo. Dia sedang asik membaca komik milik ilwoo, sedangkan yang empunya sedang heboh sendiri bermain game di PS4 nya.
“AAHHH GILAAAA !!!!” Tiba-tiba il woo berteriak karena ia baru saja kalah main. Kim bum mendelik menatap il woo yang sampai guling-guling.
“Manusia aneh.” Gumamnya, lalu kembali hanyut ke dalam komik.
Ddddrrrtttt…….dddrrrtttt……drrrttttt
Ponsel kim bum bergetar, dengan ogah-ogahan ia pun meraih ponselnya yang tergeletak tak berdaya di kursi di samping tempatnya duduk. Ternyata kakaknya yang menelpon.
“Ya….ada apa?” Tanya kim bum langsung.
“Cepat temui aku di jalan di dekat MR cafe !” Balas soo jin.
“HAH?”
“Aku bilang, temui aku di jalan di dekat MR cafe !!!” Soo jin mengulang perkataannya
“Kenapa aku harus kesana? Menyusahkan !” Balas kim bum.
“Yak !!! Aku membawa banyak barang belanjaan ! Aku tidak bisa membawanya seorang diri !” Soo jin berteriak-teriak lewat telpon. Kim bum menjauhkan ponselnya daei telinga. Menatap ponsel miliknya dengan kesal.
“Lalu kenapa kau tidak memanggil taksi saja dan meminta orang lain membantumu? Apakah aku ini seorang budak? Kenapa juga harus membawa barang-barangmu!?” Kim bum kesal. Pasalnya sang kakak selalu menyusahkan dirinya. Padahal saat ini ia sedang bersantai ria di rumah il woo.
“Apa kau bodoh huh? Sudah jelas aku menghubungimu karena aku tidak bisa melakukannya, kan? Lagipula apa kau tak peduli dengan kekasihmu, huh? Kau akan mencampakkannya saja?” Tanya soo jin. Kim bum membulatkan matanya.
“So eun bersamamu??? Kenapa dia…..”
“Tidak penting alasan kenapa dia bersamaku. Yang penting adalah sekarang so eunnie tidak bisa berjalan, kakinya kram dan lecet.” Potong soo jin.
“Kau mengerti? Jika kau mengerti, maka cepatlah kemari !” Suruh soo jin.
“Apa kau melakukan sesuatu yang aneh padanya?” Tanya kim bum. Il woo yang kembali asik bermain game, melirik kim bum yang sedang bertelponan dengan ekspresi penuh tanda tanya.
“Ani….” balas soo jin. “Dia membuatku kesal, jadi aku memberikan kekasihmu sedikit pelajaran.” Dusta soo jin.
Kim bum terdiam mendengar perkataan soo jin barusan.
“Bum-ah, apakah ada yang terjadi?” Tanya il woo penasaran. Kim bum masih diam.

 

-today love is begin-

 

“Yak ! Kau telat !” Itulah yang pertama keluar dari mulut soo jin saat ia melihat kim bum baru saja datang.
“Lagipula siapa yang menyuruhmu menunggu?” Balas kim bum. “dimana dia?” Tanyanya karena ia tak melihat so eun bersama dengan kakaknya.
“Dia sedang di toilet.” Jawab soo jin.
“Bukankah kau bilang dia tak bisa berjalan?” Tanya kim bum. Soo jin mengangguk.
“Dia menolakku untuk membantunya, jadi dia ke toilet sendiri.” Balas soo jin.
“Tsk……” kim bum berdecak lalu hendak berjalan menuju ke toilet.
“Hei….kau mau kemana?” Tanya soo jin.
“Dalam situasi seperti ini aku tidak bisa hanya diam saja.” Jawab kim bum. Soo jin menatap kim bum takjub. Lalu ia tertawa.
“Hahaha kau memang banyak berubah.” Ujarnya.
Kim bum tak peduli, ia kembali melangkah menuju toilet. Tapi belum juga kim bum sampai disana, ia melihat so eun baru saja keluar dari toilet dengan langkah yang tertatih-tatih. Kim bum langsung menghampirinya.
“Yak….kau tidak apa-apa?” Tanya kim bum seraya membantu so eun.
“K…KIM BUM-SSI !!!” Kaget so eun. “Kenapa kau ada disini?” Tanya so eun. Kim bum tak menjawab, ia malah membantu so eun berjalan.
“Apa yang dilakukan perempuan itu hingga kau seperti ini?” Tanya kim bum.
“Ne?” tanya balik so eun.
“Ah so eunnie, apa kau sudah merasa lebih baik?” Soo jin berjalan menghampiri mereka dengan membawa barang belanjaannya yang bejibun di masing-masing kedua tangannya itu.
“Ah ye.” Balas so eun.
“Syukurlah, aku menghubungi bummie agar dia bisa mengantarmu pulang. Kau tahu kan belanjaanku sangat banyak jadi aku tidak bisa mengantarmu dengan keadaanku yang seperti ini.” Jelas soo jin. Kim bum langsung menatap soo jin.
“Hei bummie, antarkan so eunnie pulang ! Taksi sudah menungguku, aku duluan ya.” Pamit soo jin. Lalu ia pun pergi meninggalkan mereka-kim bum dan so eun- yang masih terbengong-bengong dengan soo jin. Kim bum bengong karena bukannya soo jin memintanya datang untuk membawa barang-barangnya? Dan so eun bengong kenapa soo jin malah meminta kim bum mengantarnya.
Kim bum pun kembali membantu so eun berjalan. Namun so eun terlihat sangat menahan rasa sakitnya.
“Wae?” Tanya kim bum. So eun menatap kim bum dengan wajah yang mengkhawatirkan.
Akhirnya mereka pun memilih duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari toilet itu. Kim bum berjongkok dan langsung membuka sepatu flat milik so eun tanpa meminta izin terlebih dahulu.
“Oucchh….” so eun meringis.
“Kakimu lecet, jempolnya juga bengkak.” Ujar kim bum. So eun mengangguk.
“Tunggu sebentar.” Ujar kim bum dan segera pergi untuk membeli plester. So eun hanya bisa diam dan menunggu di tempat. Memang, berjalan kesana-kemari dengan menggunakan sepatu flat ini cukup membuatnya tersiksa. Bahkan kakinya sampai lecet dan merah-merah seperti ini. So eun juga tidak bisa menyalahkan soo jin, karena ia sendiri yang terlalu memaksakan diri dan sudah terlanjut berkata bersedia menemani kakak sang kekasih kemana pun.
Tak lama kemudian, kim bum datang juga.
“Kakimu tidak akan terlalu sakit jika sudah di tempeli plester.” Ujar kim bum seraya menempeli plester itu di jempol dan beberapa bagian kaki so eun yang lecet.
“Gesekan antara jempol dan ujung kakimu tidak akan terlalu kasar karena terhalangi oleh plester.” Ujar kim bum lagi.
“Gomawo.” Balas so eun. Setelah selesai memasangkan plester di kaki so eun, kim bum pun berdiri.
“Ayo kita pulang !” Ajak kim bum. Namun so eun malah diam di tempat duduknya. Ia menatap kim bum dengan eskpresi seakan ia tidak kuat jika harus berjalan lebih lama lagi.
“Heeeeh…..” kim bum mendesah. Lalu berjongkok membelakangi so eun. So eun menatap bingung kim bum.
“Naiklah !” Suruh kim bum.
“Eh???”
“Kakimu sakit kan? Jad naiklah ! Aku tidak ingin mendengarmu merengek-rengek !” Ujar kim bum.
“Tapi…..aku berat, kau tahu?” Balas so eun. Kim bum memutar kepalanya untuk menatap so eun.
“Cepat !!! Orang-orang akan mengaggapku aneh karena berjongkok terus seperti ini !” Kesal kim bum.
Dengan perlahan so eun pun naik ke punggung kim bum. Tangannya membawa sepasang sepatu flatnya.
“Benarkan? Aku berat?” Tanya so eun setelah kim bum menggendongnya.
“Kau harus menurunkan berat badanmu !” Balas kim bum. So eun memanyunkan bibirnya tapi kemudian ia tersenyum. Ia senang, pasalnya baru pertama kali kim bum menggendongnya seperti ini, dan kim bum sendiri yang menawarkan diri. So eun sangat senang. Perubahan kim bum ternyata sangat pesat.
“So eun, memangnya apa yang telah wanita itu lakukan kepadamu?” Tanya kim bum.
“Maksudmu soo jin eonni?” Tanya so eun.
“Jika dia melakukan hal yang macam-macam dan aneh lagi padamu, aku tidak akan membiarkannya !” Ujar kim bum. So eun mengerutkan keningnya.
“Memangnya soo jin eonni telah membuat hal yang macan-macam denganku?” Tanya so eun bingung.
“Dia memberimu pelajaran makanya kakimu lecet seperti ini, kan?” Jawab kim bum.
“Heh? Pelajaran? Aniii…..” balas so eun. “Aku dan soo jin eonni sangat bersenang-senang hari ini, dia sama sekali tidak melakukan hal yang macam-macam padaku.” Lanjut so eun.
“Mwo? Tsk…..jadi dia membohongiku.” Ujar kim bum.
“Waeyo?” Tanya so eun. “Ani.” Jawab kim bum.
“Eiiii…..kau mengkhawatirkanku?” Goda so eun.
“Siapa yang tidak khawatir, huh?” Balas kim bum kesal. So eun tersenyum lalu memeluk leher kim bum.
“Lalu kenapa kakimu bisa lecet seperti itu?” Tanya kim bum.
“Ini karena……kami mengunjungi semua tempat dengan berjalan kaki…..soo jin eonni benar-benar kuat, huh? Aku saja sudah tidak kuat lagi.” Cerita so eun.
Kim bum menghela nafasnya. “Lain kali biarkan saja dia, jangan ikuti semua keinginannya !” Suruh kim bum. So eun mengangguk lalu tersenyum.
“Kim bum-ssi, bolehkan aku memanggilmu bummie?” Pinta so eun.
“Mwo? Shireo !” Tolak kim bum.
“Wae???? Soo jin eonni juga memanggilmu seperti itu ! Aku kekasihmu ! Apakah aku tidak boleh memanggilmu seperti itu juga???” Tanya so eun.
“Aku tidak suka dengan panggilan seperti itu !” Balas kim bum.
“Hmmppph…..kau tidak asik !!! Apakah harus terus memanggil satu sama lain dengan formal, kim bum-ssi…..so eun-ssi….seperti itu???” So eun memanyunkan bibirnya. Kim bum menghela nafasnya.
“Bum-ah, kau boleh memanggilku begitu.” Balas kim bum akhirnya.
“Eo???? Jinjja?” So eun senang. Kim bum mengangguk.
“Oke oke…..kau pun harus memanggilku so eun-ah !!!” Pinta so eun.
“Ara !” Balas kim bum.
“Hehehe…..” so eun memeluk leher kim bum tambah erat. Lalu so eun mendekatkan bibirnya ke telinga kim bum.
“Aku menyukaimu !” Bisiknya.
“Yak ! Kau membuatku merinding !” Protes kim bum karena hawa hangat yang keluar dari mulut so eun begitu terasa di telinganya. So eun malah tertawa.

 

-today love is begin-

 

Semua murid SMA Chungju sedang bergumul di depan papan pengumuman. Disana juga terlihat ada so eun yang sedang mendesak masuk ke dalam gumulan itu. Ya, hari ini adalah hari pengumuman hasil ujian mereka kemarin. Yang akan menunjukkan apakah mereka naik ke kelas tiga atau tidak.
“Woooooaaa !!!!” So eun berteriak.
“Daebaaaaak ! Nilaiku memuaskaaaaan !!!!” Semua orang yang ada disana spontan memusatkan perhatian mereka kepada so eun. Namun so eun tidak peduli. Yang penting sekarang adalah dia mendapat nilai yang memuaskan dengan hasil usahanya sendiri.
“Woooaah, kau hebat juga ternyata.” Tahu-tahu kim bum sudah berada di samping so eun. So eun menoleh dan melihat kim bum berdiri di sampingnya.
“Bum-ah…..kau lihat kan? Nilaiku tidak ada yang buruk !” Ujar so eun.
Kim bum mengangguk-anggukan kepalanya.
“Tapi kau tidak akan pernah bisa mengejar nilaiku.” Balas kim bum.
“Huh?” So eun bingung. Lalu kim bum menunjuk ke arah paling kiri papan pengumuman dengan telunjuknya.
Di peringkat satu sesekolah, tertera nama Kim sang beom disana. So eun membulatkan matanya, lalu menatap kim bum takjub. Kim bum hanya tersenyum saja lalu menunjuk peringkat so eun dengan menggerakkan kepalanya. So eun melihat peringkat dirinya.
“235?” Gumamnya. “Sejauh itukah????” Ujarnya lagi.
“Yak bum-ah…..kau licik sekaliiiii~” rengek so eun.
“Kapasitas otakmu tidak sama denganku, jadi bermimpi sajalah jika kau ingin mendapat nilai sempurna !” Ejek kim bum.
“Aiuuuhh….kau kejam sekali !” So eun hendak memukul dada kim bum tapi kim bum keburu menahan lengannya. Kim bum terkekeh.
“Kau ingin kemana hari ini?” Tanya kim bum belum melepaskan tangan so eun.
“Huh? Aku tidak akan kemana-mana.” Jawab so eun polos. Kim bum menghela nafasnya.
“Apakah aku harus mengulang tiap pertanyaanku?” Ujar kim bum kesal. So eun malah menatap kim bum dengan wajah yang polos dan itu semakin membuat kim bum gemas.
“Hari ini, jika kau ingin pergi ke suatu tempat, katakan padaku!” Suruh kim bum. “Aku akan mengabulkannya.” Lanjut kim bum.
“Huh?” Tiba-tiba so eun teringat dengan perkataan soo jin untuk membujuk kim bum menemui ibunya di Daegu.

 

-today love is begin-

 

Saat ini, kim bum dan so eun sedang duduk di bangku taman sekolah. So eun yang meminta kim bum untuk berbicara disini. Dan kim bum menurutinya.
“Yasudah, katakan !” Suruh kim bum. So eun terlihat memain-mainkan jari tangannya. Ia ragu untuk mengatakannya kepada kim bum. Namun, karena melihat suasan hati kim bum yang terlihat baik saat ini, jadi so eun memutuskan untuk mengatakannya sekarang juga.
“Mmmm….” so eun perlahan menatap kim bum. “Bum-ah….” panggilnya. Kim bum balas menatap so eun.
“Aku….ingin ke Daegu.” Ujar so eun.
“Mwo???” Mata kim bum membulat. “Kenapa kau……”
“Aku ingin bertemu dengan ibumu.” Potong so eun. Kim bum terdiam. Ia menatap so eun tanpa berkedip dengan wajah kagetnya. Bagaimana bisa so eun mengatakan daegu dan ibunya semudah itu?
“Yak…..siapa yang menyuruhmu?” Marah kim bum. Suasana hati kim bum sekarang sudah berubah.
So eun menggeleng. “Tidak ada yang menyuruhku.” Balas so eun.
“Tsk…..sungguh !” Kim bum kesal.
“Bum-ah, ibumu sudah lama tak bertemu denganmu, dia sangat merindukanmu ! Temuilah dia !” Ujar so eun. Kim bum menatap so eun dengan tatapan tajam, lalu ia berdiri dari duduknya.
“Kau tidak tahu apa-apa tentang ibuku !” Marah kim bum.
“Bum-ah….panggil so eun.
“Tsk……” Kim bum lalu pergi meninggalkan so eun. Namun so eun keburu mencegahnya, ia menahan baju kim bum.
“Bum-ah…..bagaimana pun juga dia ibumu.” Ujar so eun. Kim bum melepaskan tangan so eun yang memegang bajunya cukup keras.
“Kau tidak mengerti apa-apa ! jadi jangan ikut campur meskipun kau kekasihku !” Perintah kim bum. Lalu meninggalkan so eun tanpa berkata apa-apa lagi. So eun terdiam di tempatnya. Ia tahu dan ia mengerti, kenapa kim bum sebegitu tidak sukanya kepada ibunya setelah ia mendengar cerita dari soo jin. Tapi bagaimana pun juga, seorang ibu pasti akan selalu merindukan anaknya kan?

 

-today love is begin-

 

Kim bum pulang ke rumah dengan suasana hati yang tidak baik. Ia marah dan kesal. Ia sampai membanting pintu rumahnya cukup keras. Membuat soo jin yang sedang tiduran di sofa seraya menonton televisi sangat kaget.
“Yak…..” kesal soo jin. Tapi kim bum tak menghiraukannya, dan langsung berjalan menuju kamarnya. Soo jin mengerutkan keningnya.
“Hey….soal so eunni….” ujar soo jin tiba-tiba. Kim bum mendadak menghentikan langkahnya dengan tangan yang sudah memegang knop pintu.
“Aku menyukainya, dia gadis yang baik dan penuh semangat.” Ujar soo jin. “Jadi, suatu hari nanti aku ingin mengajaknya ke Daegu !” Lanjutnya.
Kim bum langsung memutat kepalanya untuk melihat soo jin dengan mata yang sudah membulat.

 

To Be Continued

Bukannya apa-apa ya, tapi saya cuman agak kesel aja sama readers yang cuma ngomen “daebak”, “next thor”, “cepet lanjut ya thor”, bahkan ada ya cuma komen “(y)” doang di ff saya HAHAHAHAHA……Saya udah capek-capek nulis, tapi tanggepan kalian cuman kaya gitu aja…..yah tapi saya gak peduli, lebih mending ada yang komen seperti itu daripada yang gak komen sama sekali (SILENT READERS) Jujur aja ya saya suka banget sama komen yang panjang yang bacanya tuh bikin saya jadi bersemangat buat lanjutin ff nya….tapi yaaaah saya gak maksa, terserah pads diri readers aja….saya juga udah bersyukur masih ada yang mau komen. Maaf ya kalo misalkan ada yang tersinggung, saya gak bermaksud apa-apa….cuman ingin melupkan saja……oh ya buat ending dari part ini, kemungkinan akan saya PROTECT. Bagi readers yang mau tanya soal PASWORD bisa lihat AKUN FB SAMA TWITTER AUTHOR DI ABOUT AUTHOR. Kalian bisa Add atau follow saya. Bisa juga invite BBM saya 75ADDEB8. Jangan lupa sertakan ID kalian saat meminta PASWORD. ID yang kalian gunakan saat berkomentar di ff saya. Thanks

Today, Love Is Begin PART 14

Today, Love is Begin

kbkse110

 

Main cast : Kim So Eun& Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

 

Sebelumnya Author (Resi R aka Shin Ni Rin) mau minta maaf dulu sama readers takutnya di part ini kalian bakal jadi gak suka sama yang namanya Shin Ni Rin akakakak…..Tapi semoga aja deh kalian bisa menerimanya dengan lapang karena author membuat diri author ada ‘sesuatu’ dengan kim bum di part ini. Author sendiri sih seneng karena ada kejadian yang ‘sesuatu’ sama kim bum tapi gatau sama readersnya ahahahaha apakah akan seneng (gak mungkin !), marah, gak rela, ngamuk, atau sebagainya akakakak……*Apa iniii? okelah abaikan saja author yang gila ini hahaha selamat membaca aja deh :)

 

PART 14

 

“Baiklah, selamat malam.” Ujar so eun lalu berbalik tanpa memperhatikan langkahnya dan ia menginjak jalan yang bolong hingga ia hampir saja terjatuh. Namun dengan cepat kim bum menarik pinggang so eun hingga mendekat padanya.
“Ahh…” so eun terkejut.
“Perhatikan langkahmu bodoh !!!” Ujar kim bum.
“M..mian….gomawo….” ujar so eun seraya sedikit memundurkan tubuhnya dari kim bum. Tapi ternyata kim bum malah mempererat tangannya yang merangkul pinggang so eun.
“Eeeh?” So eun kaget karena kim bum tak juga melepaskan tangannya dari pinggangnya. So eun tambah terkejut lagi saat kim bum menenggelamkan wajahnya di pundak so eun.
“Kk…kim bun-ssi….a…ada apa?” So eun mencoba mundur sedikit dan mengangkat kepalanya untuk menatap wajah kim bum. Tapi dengan cepat kim bum malah memeluknya dengan sangat erat, seakan ia tidak ingin so eun melihat wajahnya yang sekarang ini.
“Eeeehhh?” So eun benar-benar kaget pasalnya kim bum memeluknya begitu erat.
“K…kim bum-ssi !Sakit !!! Ini sakiiit !!!” Protes so eun karena pelukan kim bum yang sangat erat hingga tak bisa membuatnya bergerak.
“Diam !” Suruh kim bum.
“Tapi ini sangat sakit !!! Aku tidak bisa berna……”
“yak diamlah ! Sampai aku mengatakan ‘ok’ jadi diamlah !” Potong kim bum. Kim bum bahkan menahan kepala so eun dengan erat.So eun jadi terdiam juga, pipinya mulai memanas dan sudah terlihat merah. Lalu so eun tersenyum dan balas memeluk kim bum dengan erat juga.
Wajah kim bum sendiri juga memerah. Salah satu alasan ia memeluk so eun dan tidak ingin melepaskannya adalah karena ia tidak ingin so eun melihat wajahnya yang memerah seperti sekarang ini. Sudah hampir 5 menit berlalu mereka masih berpelukan.
“Umm…bukankah ini sudah cukup, kim bum-ssi?” Tanya so eun karena kim bum belum juga melepaskan pelukannya.
“Kau sangat berisik, diam !!!!” Balas kim bum. So eun pun hanya bisa menurut saja.
“Dengar !” Perintah kim bum. “Aku akan mengatakannya sekarang dan aku hanya akan mengatakannya satu kali.”Lanjutnya.So eun mengangguk.
“Aku-suka-padamu !” Aku kim bum dengan penekanan di setiap kata-katanya. So eun tersenyum mendengarnya.”Kau sudah mendengarnya, kau puas?” Tanya kim bum.
So eun kembali mengangguk.”Aku juga sangaaaat menyukaimu, kim bum-ssi.”Balas so eun.Bisa dibayangkan bagaimana perasaan so eun sekarang ini?Ia sendiri tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata saking senangnya. So eun terus tersenyum di pelukan kim bum. Sementara kim bum sendiri merasa malu setelah mengatakan kata-kata itu. Tak seperti biasanya bahkan wajahnya pun memerah.
‘Bahkan sampai aku mati pun, aku tidak akan pernah menunjukkan wajahku yang seperti ini kepadanya !’ Batin kim bum.

 

Tidak ada yang lebih baik dari hari ini ! Ini adalah ulang tahun yang terbaik !!! Terimakasih kim bum-ssi, aku sangat menyukaimu !aku beruntung karena aku jatuh cinta kepadamu. Meskipun aku tahu ada sedikit keterpaksaan saat kau mengatakan kau suka padaku.Aku tidak apa-apa karena aku tahu kau bukanlah tipe laki-laki seperti itu.Hanya dengan sikapmu saja kepadaku aku sudah cukup tahu jika kau juga sangat menyukaiku tanpa kau mengatakannya.

-today love is begin-

 

Chungju Highschool

“Wooooah sudah tidak terasa, sebentar lagi kita akan naik ke kelas 3.” Ujar bo young.
“Kau benar.”Timpal hye rim.
“Berarti hanya tersisa 2 bulan lagi?”Tanya so eun.Bo young mengangguk.Saat ini mereka bertiga duduk saling berhadapan di meja masing-masing sambil menunggu bel masuk berbunyi.
“Aku harus mulai mempersiapkan diriku, aku harus belajar dengan giat mulai sekarang.Apalagi nilaiku sebelumnya begitu mengkhawatirkan.” Cerita bo young. Ia lalu menghembuskan nafasnya.
“Aku juga sepertinya harus mengurangi waktu kencan dengan kekasihku.”Timpal hye rim.
“Tapi aku rasa kau tidak perlu khawatir so eun-ah, kau punya kekasih yang pintar seperti kim bum. Kalian pasti akan belajar bersama, benar kan?” Tanya bo young.
“Eehh?Kau benar hehe.Tapi…” so eun menggantungkan ucapannya.
“Waeyo?” Tanya hye rim.
“Aku belum membicarakannya dengan dia. Lagipula jika aku belajar bersamanya, yang ada nanti aku tidak bisa berkonsentrasi dan malah ingin beromantis ria dengannya.”Lanjut so eun.
“heeeeehhh…..” bo young dan hye rim geleng-geleng kepala.
“so eun-ah, meskipun ini cukup sulit untukmu. Tapi coba tahanlah sedikit saja !” ujar bo young. So eun menatap bo young dengan aneh. “setelah ujian selesai, kau akan bisa beromantis ria dengan kim bum-ssi. jadi kali ini mari seriuslah dalam belajar !!!” lanjut bo young dengan nada menggebu-gebu. Hye rim hanya mengangguk-anggukan saja kepalanya menyetujui ucapan bo young.
“eh? Haha tentu saja.”Balas so eun.
‘heeeh….aku meminta kim bum-ssi untuk mengajariku pun yang ada dia hanya akan menolak dan mengatai aku bodoh…..tidak ada cara lain selain aku harus belajar sendiri dengan giat.’ Batin so eun.ia lalu menghembuskan nafasnya, terlihat raut wajah lemas dari so eun. melihat itu bo young dan hye rim mengerutkan keningnya.
“waeyo so eun?” tanya hye rim.
“eh? Aaah ani hehe.”Balas so eun.

 

-today love is begin-

 

Meskipun bel istirahat sudah berbunyi sekitar 10 menit yang lalu. Tapi kim bum masih berada di dalam kelasnya. Ia tampak bosan menunggu seseorang yang tak kunjung datang seperti biasanya. Kim bum bahkan mengetuk-ketukkan pensilnya ke atas meja seraya menopang dagunya.
“kemana dia? apakah sengaja membuatku menunggu lama?” gerutunya. Kim bum melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10.10 KST. Ia lalu mendesah dan mengeluarkan ponselnya. Ia mengetikkan sesuatu disana.
Hey bodoh ! kenapa kau lama sekali? aku sudah kelaparan !

lalu kim bum pun menekan tombol kirim di layar ponselnya.
1 menit
2 menit
-
5 menit
Belum ada juga balasan dari so eun. Dengan kesal kim bum bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kelasnya so eun.

Entah apa yang merasuki diri so eun, disaat teman-temannya yang lain pergi ke kantin untuk makan, ia malah berdiam diri di kelas. Bahkan so eun pun menolak ajakan bo young dan hye rim. Saat ini so eun sedang mencoba untuk belajar. Meskipun cukup sulit baginya untuk membiasakan hal ini, tapi ia punya tekad sendiri ingin berhasil dalam ujian tanpa mengikuti ujian ulang. Dan satu yang paling ia inginkan diantara alasan-alasan lain, yaitu ia ingin bisa satu kelas dengan kim bum. Siapa tahu jika ia belajar dengan sungguh-sungguh dan mendapat nilai baik dalam ujian, ia akan masuk ke kelas terbaik bersama dengan kim bum. Kini so eun tampak sibuk mempelajari rumus-rumus matematika, setelahnya ia juga mengerjakan latihan-latihan soal. Sangat sulit memang bagi so eun, terlebih ia paling buruk dalam pelajaran matematika.
“wooooah soal latihan ini benar-benar memojokkanku? Tidakkah ada yang lebih mudah???” omelnya seakan ia memaki buku-buku itu di depan matanya.
“so eun-ah, kim bum-ssi mencarimu !” ujar salah satu temannya pada so eun.
eh?” bingung so eun. Lalu ia mengarahkan pandangannya menuju pintu. Disana ia sudah melihat kim bum berdiri seraya melipat kedua tangannya dengan ekpresi yang tidak bersahabat. So eun tidak tahu apa alasannya kim bum mencarinya, dan kenapa ekspresi wajahnya seperti itu. Dengan segera so eun pun menghampirinya.
“kim bum-ssi? Ada apa? tak biasanya kau mencariku.” Tanya so eun dengan wajah polosnya. Tanpa basa-basi lagi kim bum langsung memencet hidung so eun dengan gemas.
“Ouuuch…..” so eun berusaha melepaskan tangan kim bum yang memencet hidungnya. “lepaskan kim bum-ssi ! s…sakit ouch….” Mohon so eun.Teman-teman so eun yang berada di dalam kelas memerhatikan mereka berdua. Barulah kim bum melepaskan tangannya. So eun langsung memegang hidungnya, hidungnya jadi memerah kini.
“kenapa kau tak membalas pesan dariku? Istirahat sudah hampir selesai, kau tahu?” kesal kim bum.
“eh?” so eun bingung. “kau mengirimiku pesan?” tanya so eun. Bukannya menjawab, kim bum malah menatap so eun dengan tatapan kesal.
“aaaaa mian-mian…..ponselku di simpan di dalam tas jadi aku tak menyadarinya.” Ujar so eun cepat.
“tsk…..”
“eheheh memangnya pesan apa yang kau kirim? Adakah sesuatu yang penting?” tanya so eun. kim bum menghela nafasnya.
“kau bawa bekal?” tanya kim bum tak mengindahkan pertanyaan so eun.
“bekal? A….ani…aku bangun kesiangan jadi tidak sempat membuat bekal.”Jawab so eun.
“lalu?” tanya kim bum.
“eh? Lalu?” tanya balik so eun bingung. Kim bum membuang nafasnya dengan kesal.
“lalu apa kau tidak ke kantin atau semacamnya? Aku tadi menunggumu, tapi kau tak kunjung datang juga. Aku sudah sangat lapar, kau tahu?” jelas kim bum dengan nada sedikit kesal.
“ooo….jadi kau menungguku? Miaaaaan~” so eun merapatkan kedua telapak tangannya dan menatap kim bum dengan tatapan memohon.
“heeehh…” lagi dan lagi kim bum hanya menghela nafasnya.
“kalau begitu ayo pergi ke kantin ! jangan membuatku kesal karena lapar ! sebentar lagi istirahatnya pun akan berakhir.” Ajak kim bum yang hendak berjalan lebih dulu. Tapi so eun malah menahan lengan kim bum dengan gerakan cepat. Kim bum menatap so eun heran. “wae?” tanyanya.
“Ummm~~~ miaaaaan, aku tidak bisa menemanimu ke kantin sekarang ini, aku sedang sibuk kim bum-ssi. Jadi kau makan sendiri saja, arasseo?Tidak apa-apa kan?” ujar so eun.Kim bum tak menjawab dan malah menatap so eun dengan aneh.
“Wae? Kenapa lagi?” tanya so eun karena kim bum hanya menatapnya saja. “yasudah sana cepat kau pergi ke kantin ! sebelum bel masuk berbunyi !!” so eun mendorong-dorong punggung kim bum untuk segera pergi. Kim bum tidak menolak atau apa, ia hanya pasrah saja kali ini.
“kalau begitu, selamat maaaakaaan, jangan pikirkan aku ne?” ujar so eun lalu ia segera kembali masuk ke dalam kelasnya. kim bum terdiam beberapa saat di tempatnya berdiri.
“ada apa dengannya? Dia aneh sekali.” Gumam kim bum.

 

-today love is begin-

 

“so eun bahkan melewati waktu makan hanya untuk belajar, aku rasa dia sangat bersungguh-sungguh kali ini.” ujar bo young dengan mulut yang penuh dengan makanan.
“yeah kau benar.” Balas hye rim seraya mengaduk-aduk jus jerus dengan sedotan. Lalu tak sengaja matanya menangkap kim bum yang tengah makan sendirian.
“Eo…bukankah itu kim bum-ssi?” Tanya hye rim dengan mata yang menatap ke tempat duduk kim bum.
“Ne?Dimana?” Tanya bo young. Hye rim menunjuk dengan tangannya.
“Ah benar, itu kim bum-ssi.” Ujar bo young. “Bahkan so eun membiarkan kim bum-ssi makan sendirian demi belajar ckckck.” Lanjutnya. Hye rim hanya mengangguk. Lalu mereka berdua malah memilih memerhatikan kim bum dengan seksama, tak memperdulikan lagi makanan mereka yang sudah tersisa sedikit.
“Kim bum-ssi kelihatan sedang tidak senang.”Ujar hye rim.Ia melihat ekspresi wajah kim bum ketika makan tampak tidak berselera, sesekali ia juga melihat kim bum mengerutkan keningnya.
“Bahkan aura di sekelilingnya pun menjadi hitam.” tambah bo young. “Mungkin dia kecewa karena so eun menolak untuk makan bersama dengannya.” Pikir bo young.
“Hmmm…mungkin saja.” Balas hye rim. Tepat pada saat mereka masih memperhatkan kim bum sambil mengomentarinya, mata kim bum menatap ke arah mereka berdua.
“Ah dia melihat ke arah kita?” Tanya hye rim kalem. Bo young mengangguk. Tapi setelah mereka sadar tatapan kim bum menjadi menyeramkan, mereka berdua langsung memalingkan wajah dan berpura-pura makan kembali.
“Tsk…..ada apa dengan dua wanita itu? Membuatku tambah kesal !” Ujar kim bum menyudahi aktifitas makannya.

 

-today love is begin-

 

Sepulang sekolah

“Mworago?” Tanya ulang kim bum. Ia menatap so eun dengan bingung.
“Miaaaan~” so eun merapatkan kedua telapak tangannya.”Aku tidak bisa pulang bersama denganmu sekarang ini, miaaaan~ aku ada urusan.”Ujar so eun.Kim bum masih menatap so eun.”Ada sesuatu yang harus aku kerjakan, jadi kau pulang sendiri saja, ne?”Lanjut so eun.
“Heh, sejak kapan kau punya urusan?” Ejek kim bum.
“Sudahlah, kau tidak perlu tahu apa urusanku.”Balas so eun. Kim bum mengerutkan keningnya. “Ah aku bisa telat~.” So eun menepuk jidatnya sendiri setelah melihat jam tangannya. “Kalau begitu aku pergi lebih dulu ne kim bum-ssi, aku buru-buru….annyeong….” so eun melambaikan tangannya dan segera pergi menghindar dari kim bum.
Kim bum masih menatapi punggung so eun dengan kening berkerut.”Kenapa hari ini dia menjadi aneh?” Gumam kim bum.
So eun berhenti berlari dan memilih bersembunyi di belokan koridor.Nafasnya sedikit ngos-ngosan.
“Fiiuuhhh….” so eun merasa lega karena ia berhasil membohongi kim bum.
“Bagaimana pun juga aku tidak ingin dia menganggapku begitu bodoh, aku harus bisa belajar sendiri.”Gumam so eun. Lalu ia sedikit menyembulkan kepalanya dari balik dinding melihat ke tempat dimana tadi kim bum berada. So eun sudah tidak melihat kim bum disana yang berarti kim bum sudah pergi.
“Baiklah….sudah aman….” ujarnya lalu ia keluar dari persembunyian dengan mengendap-endap. Setelah memastikan kim bum benar-benar pergi, barulah so eun ngacir menuju lantai tiga.

 

Kim bum berjalan sendirian, semenjak so eun tidak bisa pulang bersamanya kim bum jadi merasa bosan karena tidak ada orang yang begitu cerewet di dekatnya dan ia tidak bisa mengejek so eun habis-habisan. Lalu dengan begitu saja suatu tempat terlintas di kepalanya.Kim bum pun memutar arah dan kembali. Ketika di persimpangan koridor, ia tak sengaja bertemu dengan nirin.
“Oh kim bum-ssi?” Sapa nirin.
“Ah hey.” Sapa balik kim bum.
“Kau belum pulang?Kemana so eunni?Kenapa kau tidak bersamanya?”Tanya nirin beruntun.
“Gadis itu ada urusan.” Jawab kim bum.
“Oh arasseo.”Balas nirin.
“Kau sendiri kenapa masih ada disini?” Tanya kim bum. Sekolah memang sudah agak sepi.
“Aku ingin meminjam beberapa buku di perpustakaan, mengingat sebentar lagi ujian kenaikan kelas akan segera dilaksanakan.”Jawab nirin. Kim bum mengangguk.
“Kebetulan aku juga hendak akan ke sana.” Balas kim bum.
“Oh….kalau begitu ayo kita ke perpustakan bersama !”Ajak nirin. Kim bum mengangguk lalu mereka pun berjalan bersama menuju perpustakaan.

 

Setelah memilih beberapa buku di lemari, so eun pun duduk di bangku paling pojok di perpustakaan. Dengan alasan ia ingin mencoba untuk fokus dan serius. Kali ini so eun memilih belajar matematika, bahasa inggris, dan juga kimia.Yeah dia memang anak sains meskipun otaknya tak terlalu memenuhi kriteria untuk masuk ke jurusan sains.
“Semangaaat….kau pasti bisa Kim so eun !!!”So eun mengepalkan tangannya di udara lalu mulai membuka buku pelajaran bahasa inggris.

 

Kim bum dan nirin sedang sibuk mencari dan memilih beberapa buku yang mereka butuhkan.
“Kau membutuhkan buku apa saja kim bum-ssi?” Tanya nirin sambil memilih-milih buku matematika yang paling bagus.
“Hanya beberapa buku bacaan.” Jawab kim bum yang masih sibuk mencari.
“Eh? Jadi kau tidak meminjam buku pelajaran?”Tanya nirin.
“Aku hanya memanfaatkan catatanku saja, lagipula aku lebih mengerti apa yang aku tulis di buku catatan dari pada di buku paket.” Jawab kim bum.
“Hmm…arasseo…bagaimanapun juga kau memang siswa pintar jadi tak terlalu membutuhkan buku paket haha.” Ujar nirin.
“Sesekali aku hanya butuh buku bacaan untuk membuang rasa jenuh setelah belajar.” Balas kim bum. Nirin menatap kim bum takjub.
“kau bahkan memilih membaca buku saat kau jenuh, aku malah akan lebih memilih bermain game, tidur, atau semacamnya.” Ujar nirin.
“Ah dimana buku kimia?”Tanya nirin terlebih pada dirinya sendiri. Lalu ia pun melihat papan kecil dengan tulisan kimia di rak paling atas. Karena tubuh nirin yang kurang tinggi ia pun mengambil kursi khusus untuk mengambil buku-buku yang di simpan di rak paling atas, setelah itu ia menaikinya.

 

“Aigoooo~~” so eun mengacak-acak rambutnya.”Sudah hampir 10 menit aku membaca tapi tak ada satu pun kata yang aku mengerti, apa aku ini sebegitu bodohnya?”So eun merutuki dirinya sendiri.”Aku butuh kamus….aku harus mencarinya.” Ujarnya lalu bangkit berdiri untuk mencari kamus.

 

“Apa kau tidak memberi tahu so eunnie jika ujian kenaikan kelas sebentar lagi? Aku khawatir dia lupa dan nantinya akan mengikuti ujian ulang.”Ujar nirin seraya sibuk memilih-milih dan melihat buku kimia dengan terbitan paling baik.
“Gadis seperti dia hanya akan mengeluh jika mengetahuinya.” Balas kim bum. “Tapi aku akan mencoba berbicara dengannya.”Lanjutnya.
“Bagaimana pun juga, selama aku kenal dengan so eunni, dia punya semangat yang luar biasa, meskipun otaknya hanya sedikit yang bekerja.”Ujar nirin.
“Yeah…..otaknya begitu lamban.” Balas kim bum.
Tiba-tiba ada seorang siswa yang berjalan begitu terburu-buru hingga ia tak sengaja menyenggol kursi yang dinaiki nirin hingga kursi itu pun oleng dan nirin kehilangan keseimbangan. Siswa yang menyenggol pun hanya mengucapkan ‘maaf’ saja dan langsung pergi.Sepertinya memang ada sesuatu yang sangat penting sehingga siswa itu buru-buru pergi.
“Omo !!! Hwaaa…..” nirin sudah benar-benar kehilangan keseimbangan dan ia pun jatuh menimpa kim bum. Kim bum juga tidak keburu menahan tubuh nirin hingga ia juga terjatuh duduk ke lantai.

 

“Aiishh…dimana mereka meletakkan kamus korea-inggris???”Tanya so eun pada dirinya sendiri. Saat ia mencari kamus itu ternyata ia tak sengaja melihat nirin dan kimi bum. So eun kaget karena kim bum juga ternyata berada di perpustakaan. Yang lebih kagetnya lagi adalah saat so eun melihat nirin terjatuh dan menimpa tubuh kim bum. Apalagi sesuatu yang tidak ingin ia ketahui, tidak ingin ia lihat, dan tidak ingin hal itu terjadi, terlihat dengan jelas oleh mata kepalaya sendiri. Ia melihat bibir nirin menyentuh bibir kim bum. Sukses membuat so eun shock berat !!!! Matanya membulat sempurna, mulutnya terbuka lebar, dan ia mematung di tempat.

 

Kim bum dan nirin sama-sama membulatkan mata mereka akibat kecelakaan yang terjadi sekarang ini. Insiden ciuman ini memang sangat sangaaaat tidak di sengaja, dan mereka berdua sangaaaaaat tidak mengharapkan hal ini terjadi.Tapi mau bagaimana lagi toh sudah begini jadinya.Nirin dengan cepat langsung menjauhkan wajahnya. Dan tiba-tiba saja……
Buk~~~ sesuatu telah terjatuh. Ternyata so eun yang masih shock melihat kejadian ini tak sengaja menjatuhkan buku catatan kecil miliknya yang ia bawa. Kim bum dan nirin langsung melihat ke asal suara dan sama-sama terkejut melihat so eun ada disana. Mata kim bum dan nirin membulat dengan sempurna.
‘Mungkinkah dia melihatnya?’ Batin kim bum khawatir.
Menyadari kim bum dan nirin menyadari keberadaanya, dengan cepat so eun pun kabur dari sana masih dengan wajah shocknya. Kim bum dan nirin sama-sama segera bangkit dan berdiri.
“M…mian kim bum-ssi.” Ujar nirin canggung.
“Ah ya….apa kau baik-baik saja?” Tanya kim bum.
“Ah iya….” jawab nirin.Suasana di antara mereka berdua jadi sangat canggung. Terlebih so eun melihat insiden barusan, membuat kim bum maupun nirin khawatir.
“B..bagaimana dengan so eunni, dia mungkin melihatnya tadi.” Ujar nirin was-was dan khawatir.
“Gwaenchana, aku akan berbicara dengannya.” Balas kim bum kalem. Padahal sebenarnya hatinya tidak tenang.
“Eh?” Nirin menatap kim bum.
“Jika kau yang bicara padanya, mungkin saja akan terasa sulit untukmu semenjak kau adalah sahabat dekatnya kan? Mungkin saja dia juga akan sulit mengerti. Jadi lebih baik aku saja yang bicara padanya.” Jelas kim bum.
“B..baiklah, meskipun aku masih ragu dan takut apakah dia akan marah padaku dan tak ingin mengenaliku lagi atau tidak.” Ujar nirin. “Tapi…….”
“Aku harus pergi.” Potong kim bum. Ia sepertinya harus mengejar so eun dan berbicara dengannya. Lalu kim bum pun segera pergi dari perpustakaan.
Nirin memegangi keningnya. “Aku sangat khawatir.” Ujarnya.

 

-today love is begin-

 

Kim bum mencoba menghubungi so eun beberapa kali, tapi telpon darinya tak kunjung di angkat juga. Kim bum juga mencoba mencari so eun siapa tahu so eun belum terlalu jauh dari sekitar sekolah, tapi kim bum tak juga menemukannya.
“Haaahh…..” kim bum membuang nafas beratnya. “Dia pasti akan salah faham dan berujung marah.” Gumam kim bum. Kini ia mencoba menghubungi so eun satu kali lagi tapi masih tak diangkat juga oleh so eun. Pada akhirnya kim bum pun memilih mengirimkan pesan.

 

Ada dimana kau sekarang? Mari kita bicara !

 

Pesan yang diketik kim bum berhasil terkirim. Tapi sudah sekitar 10 menit berlalu tak juga ada balasan. Kim bum mendesah. “Pasti dia memang salah faham.” Ujarnya.

 

-today love is begin-

 

So eun sendiri duduk lemas di bangku kayu di pinggir jalan. Ia mengabaikan beberapa panggilan dari kim bum. Ia menatap lurus ke depan dengan mata kosong, sedari tadi ia juga malah melamun. Melihat kejadian dimana bibir kekasihnya-kim bum menyentuh bibir sahabat baiknya-nirin membuatnya benar-benar shock….!!!! Pikiran-pikiran aneh mulai memenuhi otaknya, dimulai dari kemungknan nirin akan menyukai kim bum, kim bum yang meninggalkannya karena nirin lebih baik daripada dirinya yang gadis bodoh, mereka saling menyukai, dan….dan…dan……
“WAAAAAAA ANDWAEEEE !!!” So eun tiba-tiba berteriak sangat kencang sehingga membuat para pejalan kaki memusatkan perhatian padanya. Mereka menatap aneh ke arah so eun, sementara yang diperhatikan malah tidak peduli.
“Eotteokae???? Eotteokae? Bagaimana jika semua itu terjadiiii????” So eun mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
“ANDWAEEE !!! AKU TIDAK MAU !!!”

 

-today love is begin-

 

Keesokan harinya, Chungju Highschool

Semenjak dari tadi pagi, mulai pelajaran pertama dimulai sampai waktu istirahat tiba, so eun terus saja murung, ia tak semangat seperti biasanya. Bahkan bo young dan hye rim yang menyadari hal itu pun merasa aneh. Lalu ia melihat so eun perlahan bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kelas dengan lemas.
“So eun-ah kau mau kemana?” Teriak bo young. So eun tak menjawab dan ia hampir saja menabrak dinding di dekat pintu keluar.
“So eun-ah….” bo young segera menghampiri so eun diikuti hye rim di belakangnya.
“Ada apa denganmu? Kau tidak apa-apa?” Tanya bo young.
“Iya….aku tidak apa-apa.” Balas so eun dengan lemas.
“Hehhh…” hye rim menghela nafasnya. “Ayo kita makan di kantin !” Ajaknya.
“Kajja so eun.” Bo young menarik tangan so eun. Tapi so eun menahannya.
“Maaf, tapi aku sedang ingin menyendiri.” Tolaknya lalu pergi meninggalkan mereka dengan langkah gontai.
‘Aku sudah berusaha melupakannya, tapi kenapa kejadian kemarin masih terngiang-ngiang di kepalaku.’ Batin so eun. Ia pun memilih atap sekolah untuk menjadi tempatnya menyendiri.
So eun memojokkan dirinya dengan duduk di sudut dinding atas sekolah setinggi 1,2 meter itu. Entah kenapa ia merasa dirinya begitu menyedihkan. Meskipun semalaman kim bum terus menghubunginya dan mengirimkan beberapa pesan tapi tak ada satupun yang ia angkat maupun ia baca. So eun memeluk kedua lututnya dan tatapannya kembali kosong.
‘Kenapa aku sangat merasa terganggu? Itu hanya kecelakaan kan?’ Batinnya. Di sekitarnya pun sudah bermunculan aura-aura gelap seperti suasana hatinya sekarang ini.
“Operasi plastik, huh? Dengan teknologi canggih mungkin para ahli bisa mengembalikan bentuk bibir mereka ke keadaan semula sebelum mereka berciuman, kan? Mungkin saja itu bisa dilakukan, kan?” Gumam so eun.
“Jika saja aku punya mesinnya, aku sendiri yang akan melakukannya.” So eun semakin ngaco saja.
“Waaaa apa yang ada di kepalaku???? Kenapa aku menjadi begitu menyedihkan dan depresi seperti ini????” So eun memegangi kepalanya frustasi.
“Aku harus melupakannya, itu hanya kecelakaan ! Hanya kecelakaan !!!” Ujarnya.
Tap tap tap~~~ ada suara langkah kaki yang mendekat. Begitu so eun mengangkat kepalanya perlahan, ia melihat sosok kim bum tengah berdiri de depannya.
“Akhirnya aku menemukanmu juga.” Ujar kim bum.
“HUAAAAAAA……!” So eun malah berteriak kaget dan langsung berdiri.
“Kenapa kemarin kau tak juga mengangkat telpon atau membalas pesan dariku, huh? Aku perlu bicara denganmu !” Ujar kim bum.
“Ani !!! Aku baik-baik saja, aku tak terlalu memikirkan kejadian itu, aku sudah melupakannya !” Balas so eun cepat. Kim bum menatap so eun aneh.
“Ah ya aku pergi !” So eun buru-buru kabur tanpa kim bum sempat mencegahnya. Kim bum menatap kepergian so eun dengan kecewa bercampur kesal.
“Tsk….” kesalnya.

 

-today love is begin-

 

Di setiap so eun bertemu dengan kim bum, atau berpapasan dengannya, so eun malah terus saja kabur dan menghindar tanpa alasan. Membuat kim bum kebingungan dan tidak nyaman dengan reaksi so eun seakan dia seperti hantu ataupun penjahat yang membuat so eun takut. Mulai saat tadi ketika di atap gedung sekolah, mereka tak sengaja bertemu saat sama-sama keluar dari toilet, lalu saat berpapasan di koridor, saat di ruang guru, dan sebagainya so eun terus saja kabur.

 

Bel pulang sudah berbunyi. Kim bum langsung menuju kelasnya so eun dan berdiri menyender di dinding seraya menunggu so eun keluar. Saat ia menunggu so eun, lalu datanglah nirin menghampririnya.
“Kim bum-ssi?” Panggil nirin.
“Ah, kau nirin-ssi.” Balas kim bum. Lalu kim bum menghela nafas.
“Dia masih belum mau berbicara denganku, mana bisa aku bicara dengannya ketika dia selalu kabur dariku seperti itu?” Kesal kim bum.
“Aku rasa ini memang sulit untuk ia terima, tapi aku juga akan berusaha berbicara dengannya. Tak hanya kau, dia juga menghindariku. Aku tidak ingin hubunganku dengan so eunni menjadi canggung.” Balas nirin.
Tak lama dari itu so eun pun keluar dari kelasnya dengan langkah gontai. Ia tak menyadari ada kim bum dan nirin yang menunggunya.
“Oiii….” panggil kim bum.
Deg~~~ so eun langsung mengangkat wajahnya. Ia melihat ada kim bum dan nirin.
“HUAAAA !!!” So eun kembali berteriak dan hendak kabur lagi, tapi kim bum keburu menahan tangannya.
“Jangan terus-terusan menghindar seperti itu !” Ujar kim bum. So eun menunduk.
“Aku sudah menunggumu, jadi ayo pulang bersama !” Ajak kim bum seraya menarik tangan so eun. Kali ini so eun mencoba pasrah. Nirin pun mengikuti dari belakang.
“Tapi bisakah…..kau melepaskan tanganku?” Pinta so eun. Kim bum melirik so eun lalu mengendurkan pegangan tangannya. Kini so eun pun melepaskan tangan kim bum dari tangannya. Kim bum menghela nafas lalu kembali berjalan. So eun mengikutinya dari belakang dengan langkah pelan, nirin mensejajarkan langkahnya dengan so eun. Nirin ingin bicara, tapi melihat so eun yang murung seperti itu, ia jadi mengurungkan niatnya. Kim bum menoleh ke belakang, so eun berjalan sangat pelan dan tertinggal jauh darinya.
“Yak ! Percepatlah sedikit langkahmu ! Aku akan pegi meninggalkanmu jika kau seperti ini !” Kim bum terpaksa mengancam agar so eun mempercepat langkahnya. Bukannya lebih cepat, so eun malah menghentikan langkahnya.
“Gwaenchana, kau bisa pergi !” Balas so eun lemas. “Aku ingin menyendiri untuk mendinginkan kepalaku.” Lanjutnya dengan kepala yang tertunduk.
Kim bum membuang nafas kesal dengan reaksi so eun tersebut.
“Sampai kapan kau akan terus seperti ini huh??? Menjadi sangat murung karena hal yang tidak penting, tidak akan mengubah apapun !!!” Lanjut kim bum.
“Kim bum-ssi, kata-katamu terlalu……” sanggah nirin.
“INI BUKAN KEINGINANKU MENJADI MURUNG DAN MENYEDIHKAN SEPERTI INI, KAU TAHU !!!??” Teriak so eun, memotong perkataan nirin. Kim bum dan nirin sama-sama terkejut.
“Aku tahu aku tidak bisa melakukan apa-apa tentang apa yang sudah terjadi kepada kalian ! Aku sedang berusaha untuk kembali kepada diriku yang sebelumnya ! Bersikap normal dan bersikap seperti biasa seperti aku tidak pernah melihat kejadian itu ! Tapi…..sampai saat ini aku masih belum bisa melakukannya ! Orang yang sangat merasa terganggu kali ini adalah diriku sendiri.” Ujar so eun panjang lebar. Bukannya membalas perkataan so eun, kim bum malah berjalan mendekat dan melihat wajah so eun dengan seksama. Menyadari hal itu so eun langsung mundur dan mencegah kim bum semakin mendekat.
“Hey…..” panggil kim bum.
“A…..miaaaan~” dengan cepat so eun menutup wajahnya dengan telapak tangannya. “Sudah cukup.” Lanjutnya.
“Hah?” Kim bum bingung.
“A…ani, jangan dengarkan perkataanku ! Soal sikapku, aku akan menenangkan dan menyelesaikannya oleh diriku sendiri ! Aku benar-benar minta maaf !” Ujar so eun.
Kim bum menatap so eun tidak mengerti. “Apa maksudmu?” Tanyanya.
“A..ani….gwaenchana !!! Kalau begitu, sampai jumpa besooook !!!” So eun lagi dan lagi lari kabur dari kim bum.
“Yak hei So eun !!” Teriak kim bum. Namun ia tak sempat untuk mengejarnya. Akhirnya Kim bum dan nirin pun terdiam di tempat mereka.
“Dari reaksinya, ternyata dia masih curiga kepada kita huh….sangat mudah untuk membaca pikirannya.” Ujar nirin. “Yeah dia bilang akan menenangkan dirinya sendiri, jadi tidak ada salahnya kita membiarkannya.” Lanjutnya.
“Tch…..” kim bum malah berdecak lalu pergi meninggalkan nirin.
“Eh? Apa kau akan pergi mengejarnya?” Tanya nirin.
“Jika aku membiarkannya maka semuanya tidak akan selesai, kan?” Balas kim bum seraya menolehkan wajahnya kepada nirin lalu ia melanjutkan langkahnya. Mendengar jawaban kim bum, nirin pun tersenyum.
“Dari cara kim bum-ssi berbicara, dia hanya tidak bisa meninggalkan so eun sendirian.” Gumamnya masih dengan tersenyum.

 

-today love is begin-

 

So eun baru saja mengunci lokernya setelah ia mengambil buku catatan yang ia perlukan untuk di rumah nanti. Ia masih terlihat murung.
“Oooiii, gadis murung yang berdiri disana !!” So eun shock dan langsung menegakkan punggungnya mendengar suara kim bum.
“Aku belum selesai bicara denganmu !” Ujarnya. Tanpa menengok ke arah kim bum, so eun langsung mengambil ancang-ancang dan berlari sekencang mungkin.
“Yak….jangan lari !!!” Cegah kim bum lalu ikut mengejar so eun.
“Aku bilang jangan lari !!!” Kim bun berhasil meraih lengan so eun. “Waaaa….” so eun berteriak.
“Apa kau sedang bermain-main denganku!? Membuatku berlari untuk mengejarmu !?” Kesal kim bum.
“A…aku tidak tahu !!! Itu karena kim bun-ssi mengejutkanku , padahal aku sudah bilang aku baik-baik saja ! Aku akan menenangkan diriku dan menyelesaikannya dengan sendiri !” Balas so eun. “Pergilaaah !” Suruh so eun seraya melepaskan tangan kim bum yang menahan tangannya. Lalu so eun memilih menutup wajahnya dengan kedua lengannya.
“Jangan menghindariku !!” Kim bum mengambil kedua tangan so eun dengan tangannya. Ia lalu menatap mata so eun serius.
“Katakan padaku sekarang !” Suruh kim bum. So eun memalingkan wajahnya dari kim bum.
“Ani……sudah aku bilang aku tidak apa-apa !” Tolak so eun.
“Katakan ! Apa yang kau pikirkan sampai kau terus kabur dan menghindar dariku?” Pertanyaan kim bum mulai melunak. Ia masih menatap so eun serius. So eun perlahan membalas tatapan kim bum.
“Aku……aku rasa…..aku iri dengan nirin….” ujar so eun akhirnya.
“Hah? Tapi itu hanya……” ujar kim bum.
“Itu karena semenjak waktu itu, setelah dari zone park…..” so eun memotong perkataan kim bum. “Kau belum pernah menciumku lagi, jadi…..” so eun tak melanjutkan kata-katanya. Setelah ia mengatakan soal ‘cium’ kepada kim bum, ia jadi merasa malu sendiri. Kim bum pasti sangat jijik dan merasa terganggu dengan perkataannya barusan. Jadi ia memilih untuk diam. Namun tiba-tiba………
CUP~~~
Kim bum mendaratkan ciuman cepat di bibir so eun. So eun membulatkan matanya karena kaget. Ia tak menyangka kim bum akan menciumnya disaat suasana seperti ini. So eun langsung merapatkan bibirnya dengan kening berkerut. Kim bum menatap aneh so eun.
“Ekspresi macam apa itu? Tak bisakah kau membuat ekspresi yang lain?” Ujar kim bum.
“I…itu karena….aku sangat bingung~~~” balas so eun. Kim bum mengerutkan keningnya.
“Di samping aku senang dengan kejadian barusan, tapi aku juga merasa aku seperti orang yang begitu bodoh !” Lanjutnya.
“Kau memang bodoh !” Balas kim bum. So eun menatap kim bum perlahan.
“Semua laki-laki punya hasrat untuk mencium perempuan, tapi tidak denganku tanpa beberapa ‘alasan’. Kejadian kemarin hanyalah sebuah kecelakaan ! Aku maupun nirin-ssi benar-benar tidak menduganya, jadi jangan membuat dirimu murung dan menyedihkan lagi karena hal yg tidak penting, arasseo?” Nasehat kim bum. So eun hanya menatap kim bum dengan polos, lalu mengangguk pelan.
“Janganlah untuk mencoba menghindariku lagi ! Aku benar-benar tidak nyaman dengan sikapmu yang seperti itu !” Perintah kim bum. So eun kembali menangguk dengan pelan lagi. Ia kini menatap mata kim bum dengan ekpresi tanpa dosanya. Kim bum tidak tahan dengan ekspresi imut so eun seperti itu, ia lalu perlahan mendekatkan wajahnya pada so eun dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celana-gaya cool. So eun pun memejamkan matanya, dan mereka berciuman kembali dan kali ini cukup lama.

 

-today love is begin-

 

Akhirnya, setelah masa perjuangan so eun dalam belajar tanpa bantuan kim bum. Ia pun bisa mengerjakan soalnya dengan cukup lancar meskipun masih ada beberapa soal yang cukup sulit bagi so eun. Ia cukup bangga dengan dirinya sendiri. Setelah ia di beri vitamin macam ‘ciuman’ oleh kim bum sekitar 1 bulan yang lalu, semangatnya dalam belajar jadi menggebu-gebu dan menuai sukses saat ia menghadapi soal-soal ujiannya. Hari ini ujian hari terkahir pun selesai. So eun berjalan keluar kelas dengan senang. Ia berpapasan dengan nirin di koridor.
“Nirin-ahhh~~~” so eun merangkul lengan nirin. Nirin menatap aneh so eun.
“Waeyo? Kau tiba-tiba seperti ini?” Tanya nirin. So eun malah tak memberikan jawaban.
“Bagaimana dengan ujiannya menurutmu?” Tanya nirin.
“Lumayaaaaan, aku bisa mengerjakannya !” Balas so eun dengan senyum cerahnya.
“Ah begitukah? Syukur kalau begitu.” Balas nirin. Saat mereka sedang asyik mengobrol, muncullah kim bum.
“Ah kim bum-ssi.” Panggil so eun.
“Kau bisa mengerjakan soalnnya gadis ceroboh?” Tanya kim bum.
“Tentu~~~.” Jawab so eun cepat.
“Baguslah kalau begitu, jangan permalukan aku jika nanti kau ikut ujian ulang lagi.” Ujar kim bum.
“Tidak akan !!! Kali ini nilaiku akan memuaskan !” Bantah so eun.
“Um yeah yeah…..” kim bum hanya angguk-angguk.
“Ah ya….ini berarti setelah pengumuman nilai ujian, akan libur pajang kan?” Tanya so eun. Nirin menatap so eun.
“Setelah ujian selesai, kita akan punya banyak waktu untuk bermain nirin-ah….ayo kita habiskan waktu untuk jalan-jalan dan bermain nirin-ah….!” Ajak so eun. Mereka punya waktu dua minggu untuk berlibur.
“Tapi, sepertinya aku tidak bisa menghabiskan waktuku sesering mungkin denganmu so eun-ah.” Balas nirin.
“Waeyo? Apa kau akan berlibur dengan keluargamu?” Tanya so eun. Kali ini pihak laki-laki (kim bum) diabaikan oleh mereka yang asyik mengobrol.
“Kami sekeluarga akan pergi ke rumah nenekku di Busan, mian.” Jawab nirin.
“Ah….arasseo…..” so eun mengangguk mengerti. Lalu so eun teringat dengan kim bum. Ia langsung memasang wajah cerah menatap kim bum.
“Kalau begitu, kim bum-ssi…..kau pasti punya banyak waktu di hari libur nanti kan?” Tanya so eun.
“Hmmm.” Kim bum mengangguk. So eun tersenyum.
“Ah ya….ngomong-ngomong……kau pernah bilang kau sudah lama tak bertemu dengan ibumu, kan?” Tanya so eun, mengingatkan pada ibunya.
“Siapa yang bilang seperti itu?” Raut wajah kim bum berubah menjadi kesal.
“Tentu saja kau ! Waktu itu kau bilang ibumu tinggal jauh darimu.” Balas so eun. Kim bum diam.
“Apakah kau akan pergi menemui ibumu liburan nanti?” Tanya so eun.
“Tidak !” Jawab kim bum cepat. “Aku tidak ingin menjadi dekat dengannya !” Tambah kim bum dengan ekspresi wajah yang berubah tidak bersahabat. So eun menatap kaget kim bum.
“Ah….a….arasseo….” balas so eun. Ia tahu kim bum memang sudah lama tidak bertemu dengan ibunya. Tapi alasan kenapa ibunya tinggal jauh dengannya, belum so eun ketahui.
“Kim bum-ssi, memangnya dimana ibumu tinggal?” tanya nirin.
“Daegu.” Jawab kim bum singkat.
“Bukankah akan lebih baik jika pergi kesana untuk menemuinya meskipun hanya sebentar? Kenapa kau tidak mau pergi?” Nirin rupanya tak bisa membaca ekspresi wajah kesal kim bum. Ia malah bertanya hal yang mungkin tidak ingin kim bum jawab.
“Ah nirin-ah, kim bum-ssi pasti punya alasan sendiri kenapa ia tidak mau pergi hehe.” Malah so eun yang menjawab, ini ia lakukan agar kim bum tak berujung marah.
“Aku sedang tidak ingin membicarakannya.” Ujar kim bum. Nirin mengangguk mengerti.
Tapi tiba-tiba kim bum menghentikan langkahnya saat ia menangkap seseorang yang tidak asing di matanya sedang berdiri beberapa meter di depannya.
“Waeyo kim bum-ssi?” Tanya so eun heran. Ia melihat ekspresi kaget di wajah kim bum. Kim bum tidak menjawab, lalu so eun pun memilih mengikuti arah pandangan kim bum. So eun melihat ada seorang perempuan dengan perawakan tinggi sekitar 168 cm berjalan menghampiri mereka. Perempuan itu memakai kacamata dan terlihat begitu fashionable dengan baju-baju dan aksesoris yang ia kenakan. Perempuan itu juga terliat cantik dan mempesona.
Perlahan, wanita itu membuka kacamatanya, dan matanya menunjukkan kekagetan saat melihat kim bum.
“Bum-ah? Kim bum-ah???” Panggilnya dengan wajah kaget. Kim bum juga masih menunjukkan wajah kagetnya. Sekarang so eun juga ikutan kaget. Sementara nirin tidak mengerti dengan situasi seperti ini.

 

Apa yang akan terjadi lagi dengan kisahku dengan kim bum-ssi…..setelah semua masalah terselesaikan satu persatu, apakah masalah baru akan muncul lagi???? Perempuan itu? Siapa perempuan itu? Apakah perempuan itu perempuan di masa lalunya kim bum-ssi? Aku tidak pernah melihat kim bum-ssi sekaget ini. OH MY GOD !!!! Jika itu benar, apa yang akan terjadi denganku?

To Be Continued

 

Mian jika ceritanya kurang menarik dan terlalu monoton. Tapi saya harap kalian menyukainya dan meninggalkan komen di ff ini.

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya.

 

Curhat : Alhamdulillah berkat doa dari semuanya akhirnya pada tanggal 20 Mei 2014 saya dinyatakan lulus dari SMA dan Alhamdulillah dengan nilai yang cukup memuaskan. Alhamdulillah juga saya bisa diterima di UNPAD Prodi Tekpang lewat jalur SNMPTN :D Hasil yang begitu membuat saya senang setelah selama ini berusaha dan berdo’a hehehe. Setelah melewati masa ‘galau’ dan perasaan yang tak karuan saat menunggu hasil pengumuman SNMPTN, dengan ragu-ragu saya coba buat cek di webnya pada tanggal 27 Mei 2014 dan akhirnya dinyatakan luluuuuus…..saya sampai nangis karena terharu hehehe gak nyangka banget soalnya. Sekali lagi terimakasih ya bagi readers yang sudah mau mendo’akan…..semoga ini adalah jalan terbaik yang diberikan ALLAH SWT kepada saya dan semoga saya bisa menjalankannya dengan baik karena ini masih awal dari perjuangan :’) sekian deh edisi curhatnya hehehe hanya ingin berbagi kesenangan aja hehe

 

Today, Love Is Begin PART 13

Today, Love Is Begin

kbkse110
Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

PART 13

“So eun-ssi….” panggil kim bum. So eun menoleh dengan mulut yang sibuk mengunyah. Ia melihat kim bum mendekat ke arahnya dengan mulut yang sedikit terbuka.
“Eh? Apa yang kau lakukan? Kenapa mulutmu terbuka seperti itu?” Tanya so eun bingung. Rupanya ia belum faham apa maksud kim bum membuka mulutnya seperti itu.
“Aku membuka mulutku karena aku punya maksud !” Balas kim bum kesal karena so eun yang tidak mengerti dengan maksudnya.
“Eh…? Ah ya aku mengerti, lalu apa?” Tanya so eun, rupanya ia masih belum faham juga.
“Itu !” Dengan kesal kim bum pun menunjuk teoppeoki yang berada di atas paha so eun.
So eun menatap mengikuti arah tangan kim bum.
“Apa kau mau menyuapiku?” Tanya kim bum.
“Eehhh!?” So eun terkejut. Benarkah apa yang baru saja ia dengar? Kim bum memintanya untuk menyuapinya?
“T…tapi….bukankah kau membenci hal-hal yang seperti ini?” Tanya so eun memastikan.
“Sangat jelas sekali jika aku membencinya. Tapi, bukankah hal yang seperti itu yang ingin kau lakukan, kan?” Tanya balik kim bum. So eun menatap kim bum dengan tatapan tidak menyangka.
“Jika kau mengerti, cepat suapi aku teoppeoki itu !” Pinta kim bum.
“Ah….a..arasseo…” so eun segera menyumpit teoppeokinya.
“A…apakah aku juga harus mengatakan ‘ahh~’? Tanya so eun.
“Ya, terserah padamu.” Balas kim bum. Pipi so eun terasa panas dan memerah kini. Ini adalah yang pertama kalinya ia menyuapi kim bum.
“Ahh~…” ucap so eun lalu ia pun menyuapi teoppeoki itu kepada kim bum. Kim bum dengan cepat melahapnya.
“Ternyata melakukan hal yang seperti ini sangat memalukan.” Ujar so eun. Pipinya masih memerah dan terasa semakin panas saja.
“Kau bukan satu-satunya yang merasa seperti itu. Aku berkali-kali lipat merasa malu dibanding kau.” Balas kim bum. So eun menahan tawanya hingga akhirnya ia pun tak bisa menahannya lagi.
“Ekekekkkkkkkekekkk…” so eun menutupi wajahnya yang merah itu dengan tangannya sambil tertawa senang.
“Tapi…..aku benar-benar sangat senang kekekkkkekk…..” ujarnya.
“Kenapa kau begitu merasa senang hanya karena hal seperti ini?” Tanya kim bum seraya bangkit dari duduknya.
“Tapi aku benar-benar senaaang~” balas so eun yang tidak bisa menyembunyikan senyumnya yang lebar lagi.
“Meskipun kau membencinya, tapi kau masih mau melakukannya untukku ! Aku benar-benar senang~” lanjutnya. Kim bum menatap so eun lalu menyunggingkan senyum setelahnya.
“Jika kau senang itu juga sudah cukup membuatku senang.” Ujar kim bum pelan.
“Ne?” Tanya so eun. Rupanya ia tak mendengar dengan jelas apa yang baru saja kim bum katakan.
“Sudah waktunya kita pulang, kajja !” Ajak kim bum lalu berjalan lebih dulu dari so eun. So eun tersenyum lalu segera mensejajarkan langkahya dengan kim bum.
“Boleh aku menggenggam tanganmu?” Pinta so eun.
“Tidak boleh!” Tolak kim bum.
“Kalau begitu hanya menggandeng lenganmu? Boleh ya?” So eun menunjukkan wajah memelasnya.
“Terserah~” balas kim bum. Akhirnya so eun pun menggandeng lengan kim bum dengan erat dan tak henti-hentinya ia tersenyum. Kim bum juga menyunggingkan senyumnya untuk itu.

 

Hanya aku yang menyukai kim bum-ssi, dan dia yang menyukaiku. Itu sudah cukup membuatku senang. Sebelumnya mungkin aku terlalu terobsesi untuk melakukan hal-hal romantis seperti pasangan kekasih lain. Tapi sekarang, tidak peduli apa yang kita lakukan, atau kemana kita pergi, selama kita baik-baik saja dan merasa nyaman satu sama lain. Aku rasa, itu lebih baik.

-today love is begin-

 

“Ooohh lihatlah ! Mereka bersama lagi?” Tanya seorang siswi perempuan bertubuh gemuk pada ke tiga temannya saat ia melihat so eun dan kim bum makan bersama di kantin.
“Bukankah hubungan mereka baru saja berakhir?” Balas siswi dengan rambut pendek sebahu.
“Jika hubungan mereka berakhir, lalu kenapa mereka bersama-sama seperti itu? Lihatlah~ mereka tampak seperti pasangan yang normal-normal saja.” Tambah siswi dengan rambut yang diikat satu. Ia melihat so eun dan kim bum sedang mengobrol, ia juga melihat so eun yang tersenyum bahagia.
“Kalian tahu? Keadaan kim bum-ssi saat hubungannya dengan so eun-ssi kacau dia tampak sangat menyeramkan !” Cerita temannya yang satu lagi yang berwajah bulat dengan rambut yang digerai.
“Jincha?” Pekik ke tiga temannya yang lain.
“Apa kau tidak mendengar gosip?” Tanyanya. Mereka serentak menggeleng.
“Saat hubungan mereka kacau, ada teman satu kelas kim bum-ssi yang memberikan kim bum-ssi sebuah cupcake. Dan kalian ingin tahu bagaimana reaksi kim bum-ssi pada saat itu?” Ujarnya. Ketiga temannya serentak mengangguk dengan wajah mereka yang menggambarkan ekspresi penasaran.
“Dia bilang…..’jauhkan benda itu ! Jauhkan benda menjijikan itu dariku sekarang !’ ” siswi dengan rambut digerai itu meniru kata-kata dan ekspresi wajah kim bum waktu itu. Ketiga temannya yang lain memasang wajah terkejutnya.
“Benarkah kim bum-ssi berkata seperti itu?” Tanya siswi yang bertubuh gemuk. Siswi dengan rambut digerai itu mengangguk dengan cepat.
“Aku tidak menyangka dia bisa berubah menakutkan seperti itu karena soal perempuan.” Ujar siswi dengan rambut sebahu itu.
“Aku rasa, kim bum-ssi sudah benar-benar jatuh cinta pada so eun-ssi…..betapa beruntungnya diaaaa~” timpal siswi dengan rambut yang diikat satu. Mereka semua kompak mengangguk.
“Aku jadi iri~” ujar siswi yang gemuk.

 

“Kenapa kau tidak mau?” Kesal so eun. Ia mengerucutkan bibirnya.
“Terlalu banyak orang disini ! Apa kau tidak malu jika mereka semua melihat?” Balas kim bum. So eun menghela nafasnya. Sesendok nasi yang hendak ia suapkan kepada kim bum pun dengan terpaksa ia makan sendiri.
“Apakah setiap istirahat kita harus makan di atap gedung agar aku bisa menyuapimu?” Ujar so eun. Kim bum menatap so eun lalu membuang nafasnya.
“Wae?” Tanya so eun.
“Apa kau tidak sadar kau berubah menjadi manja?” Kesal kim bum. “Tidakkah kau merasa jika aku jadi terganggu dengan sikapmu yang seperti ini? Bersikaplah seperti biasanya saat di depanku !” Suruh kim bum. So eun semakin memanyunkan bibirnya.
“Aku bukan manja ! Hanya saja aku ingin melakukan sesuatu yang romantis denganmu ! Seperti yang orang lain lakukan…..” balas so eun.
“Tapi kau tahu betul kan aku membenci hal menggelikan seperti itu?” Ujar kim bum. So eun menunduk.
“Aku mengerti, bahkan sangat mengerti. Tapi hanya untuk sekali-kali kan tidak masalah~.” jawab so eun. Ia kini mengaduk-aduk nasinya.
“heehh~ kau memang benar-benar mengganggu !” Balas kim bum.
“Benar, aku memang selalu membuatmu terganggu.” Timpal so eun.
“Jika kau mengerti akan hal itu, jadi berhentilah untuk meminta hal-hal yang menggelikan denganku.” Ujar kim bum.
“Arasseo….araseo……” balas so eun dengan lemas.
“Karena aku lebih suka kau yang apa adanya di depanku, jadi bersikaplah seperti biasanya !” Ujar kim bum seraya menatap lurus so eun.
“Baiklah~ aku mengerti~.” So eun masih saja membalasnya dengan lemas.
“Anak penurut…..” balas kim bum seraya tangannya menepuk-nepuk pelan kepala so eun.

 

-today love is begin-

 

“Kau dan kim bum-ssi sekarang pacaran sungguhan!?” Pekik nirin saat ia mendengar cerita so eun. So eun mengangguk dengan semangat. So eun dan nirin bertemu saat mereka sama-sama dipanggil ke ruang guru untuk mengumpulkan sesuatu. Dan kini mereka berjalan di koridor menuju kelas mereka masing-masing seraya mengobrol.
“Aigoooo~ kenapa aku telat mengetahuinya, bagaimana bisa kalian jadi resmi berkencan? Bukankah kau hampir saja menyerah?” Tanya nirin bertubi-tubi.
“Ceritanya panjang sekali nirin-ah, aku rasa seharian pun tidak akan selesai.” Balas so eun. Nirin menatap so eun dengan tatapan aneh lalu kemudian geleng-geleng kepala.
“Tapi setidaknya aku ikut senang sekarang, kau tidak akan murung lagi kan? Menangis-nangis lagi karena kim bum-ssi kan? Karena sekarang kau sudah resmi menjadi kekasihnya.” Ujar nirin.
“Tentu saja tidak~ bahkan aku masih merasa jika ini adalah mimpi….” so eun memegangi pipinya yang bersemu merah.
“Yeah yeah….sebenarnya aku juga tidak menyangka kim bum-ssi bisa menyukai orang sepertimu, terasa aneh bagiku…..bukankah seharusnya dia memiliki tipe perempuan yang sangat tinggi?” Balas nirin kalem.
“Yak kau tidak boleh berkata seperti itu nirin-ah, perkataanmu sedikit menusuk hatiku.” Ujar so eun dengan wajah yang dibuat semenyedihkan mungkin. Ia juga memegangi dadanya.
“Tapi aku memang benar-benar tidak menyangka. Lagipula setelah kalian resmi berkencan, apakah sikap kimbum-ssi sudah berubah?” Tanya nirin.
“Itu…….sedikit…sangat sedikit.” Jawab so eun lemas.
“Sudah ku duga.” Balas nirin.
“Yeah terserah…..aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Yang terpenting sekarang adalah aku sedang menantikan sesuatu di bulan ini.” Ujar so eun.
“Eh?” Nirin menatap so eun tidak mengerti.
“Ulang tahunku.” Ujar so eun dengan nada senang.
“Ah aku mengerti, sekarang sudah memasuki bulan september rupanya.” Balas nirin sambil angguk-angguk kepala.
“Nirin-ah, apa jangan-jangan kau tidak mengingatnya?” Tanya so eun curiga.
“Tentu saja aku ingat, tanggal 6 kan?” Balas nirin cepat.
“Ternyata kau masih ingat.” So eun tersenyum senang. “Aku sangat menantikan ulang tahunku kali ini, karena ini akan menjadi yang pertama kalinya bagiku merayakannya dengan kim bum-ssi…….huaaaa aku benar-benar tidak sabar ingin segera membuat momen romantis bersamanya kali ini~” so eun memegangi pipinya dengan mata yang terpejam. Pipinya bersemu merah karena ia kini sedang membayangkan tentang sikap romantis kim bum kepadanya, dimulai memberikan kejutan dan memberikannya sebucket mawar merah. Nirin menampakkan ekpresi wajah aneh melihat so eun seperti itu.
“Tapi so eun-ah…..apakah kim bum-ssi tahu kapan ulang tahunmu?” Pertanyaan yang keluar dari mulut nirin itu berhasil membuat so eun menghentikan langkahnya. Ia diam beberapa saat bagaikan patung. Apa yang ditanyakan nirin telah membuatnya tersindir, apalagi memang benar jika kim bum belum mengetahuinya. Nirin mengerti setelah menyadari reaksi so eun sekarang ini.

 

-today love is begin-

 

“Tanggal 6? Tidak ada yang spesial di hari itu, kan?” Jawab kim bum setelah so eun bertanya tentang tanggal 6 september kepadanya. Mendengar jawaban enteng yang keluar dari mulut kim bum membuat so eun down seketika. Bagaikan ada ribuan truk pengangkut sampah yang menimbun kepalanya. So eun memang sudah menduganya, bahwa kim bum tidak mengetahuinya. Saat ini mereka sedang berjalan pulang dari sekolah bersama.
“Ani….sebenarnya tanggal itu……adalah ulang tahunku.” Ujar so eun dengan kepalanya yang menunduk.
“Ohhhh jadi begitu, baguslah~” balas kim bum singkat. Tanpa ada rasa kaget atau semacamnya pada diri kim bum saat so eun memberitahunya.
“Yeah.” So eun mengangguk dengan lemas.
Hening~ tak ada pembicaraan lagi di antara mereka. Merasa aneh, kim bum pun memutar kepalanya ke samping dan melihat so eun berjalan dengan kepala yang di tekuk. So eun juga kelihatan tidak bersemangat.
“Jangan menampakkan wajah murung seperti itu babo ! Kau tidak pernah memberitahuku sebelumnya, jadi bagaimana bisa aku tahu, kan?” Ujar kim bum seraya menjitak kepala so eun. So eun meringis dan langsung memegangi kepalanya.
“Jika aku tidak memberitahumu dan ternyata kau sudah mengetahuinya secara diam-diam, pasti aku akan merasa sangat tersentuh, kan?” Balas so eun seraya mendonggak menatap kim bum.
“Tidak apa-apa kau tidak memberitahuku, tapi jangan harap aku akan mengetahuinya.” So eun mendengus kesal mendengar ucapan kim bum.
“Lagi pula pasti kau akan berkata ‘aku tidak terlarik’ lagi, kan?” Tanya so eun. Kim bum kini balas menatap so eun.
“Aku tidak punya otak yang sederhana seperti milikmu.” Balas kim bum. “Aku memang tidak terlalu mengingat-ingat tentang merayakan ulang tahun seseorang, tapi…..”
“Ehhh !? Jinchaaa?” Potong so eun. Ia benar-benar tidak menyangka. “Bahkan keluargamu? Atau jung il woo-ssi?” Tanya so eun.
“Yang aku ingat hanya suara mereka saja yang begitu berisik.” Jawab kim bum.
“Hanya itu?” Tanya so eun memastikan. Kim bum tak menjawabnya. “Jadi kalau begitu, bagaimana denganku? Kau tidak akan merayakan ulangtahunku bersama?” Tanya so eun. Kim bum menatapnya. Kini so eun menatap kim bum dengan tatapan penuh harap. Wajahnya ia buat seimut mungkin, membuat kim bum merasa sedikit terganggu.
“Aku tidak tertarik !” Balas kim bum. Benar saja dugaan so eun, kim bum tidak akan mau melakukannya. So eun kembali menampakkan ekpresi murung.
“Jika aku menolak seperti itu, pada akhirnya kau akan mengeluh dan memaksaku lagi, kan? Itu akan menjadi lebih merepotkan.” Lanjut kim bum. So eun kembali mengangkat wajahnya dan menatap kim bum. Mendengar yang keluar dari mulut kim bum barusan membuat senyum mengembang di bibir so eun.
“Jadi, kau akan meluangkan waktumu untukku pada tanggal 6 nanti?” Tanya so eun dengan ekspresi senang yang tak bisa ia sembunyikan lagi.
“Ne ne~.” Jawab kim bum.
“Kita akan bersama-sama seharian penuh? Jalan-jalan? Makan? Atau juga membuat kue bersama-sama?” Tanya so eun beruntun. Ekpresi wajah kim bum sudah kelihatan merasa terganggu.
“Apapun tidak masalah, jadi berhentilah bicara ! Kau terlalu berisik !” Balas kim bum.
“Ekekekkkk baiklaaaah~ aku jadi sangat menantikan hari ulang tahunku~” So eun memejamkan matanya saking rasa senang yang tak bisa ia bendung lagi. Pipinya juga mulai merona merah.
“Jadi, apa yang kau inginkan?” Tanya kim bum tiba-tiba.
“Eh?” So eun menatap kim bum bingung.
“Aku bertanya jika ada sesuatu yang kau inginkan.” Balas kim bum jengkel karena ia harus mengulang pertanyannya.
“J..jincha? Apakah tidak apa-apa? Apa kau rela melakukannya hanya untukku?” Tanya so eun memastikan, pasalnya ia tidak menyangka kim bum akan bertanya mengenai apa yang ia inginkan.
“Sudah aku katakan dari awal apapun tidak masalah, daripada jika aku tidak melakukannya, kau pasti akan mengeluh dan memohon-mohon, benar kan?” Balas kim bum. So eun menatap kim bum dengan takjub.
“Itu berarti…..aku bisa meminta apapun?” Tanya so eun.
“Um yeah yeah.” Balas kim bum pasrah.
So eun mulai berpikir-pikir, apa yang harus ia pinta dari kim bum? So eun tiba-tiba tersenyum sendiri dengan wajah yang mulai memerah. Membuat kim bum menatapnya dengan aneh.
“Kalau begitu….baiklah…..uuuummmmmm…….bagaimana dengan CINTA?” Pinta so eun. Ia menatap kim bum seraya memegangi kedua pipinya. Kim bum menatap so eun dengan mata membulat.
“Huh?” Kim bum menghentikan langkahnya.
“Kau tahu kan…..aku sangat ingin cinta dari kim bum-ssi atau semacamnya.” Jelas so eun. Pipinya semakin memerah saja.
“Apa kau bodoh? Dimana aku bisa membeli hal yang semacam itu? Katakan sesuatu yang lain saja, sesuatu selain itu !” Ujar kim bum.
“Bukankah kau sudah bilang aku bisa meminta apa saja darimu.” Balas so eun dengan pipi yang menggembung. Kim bum lalu mencubit kedua pipi so eun dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah so eun.
“Mintalah sesuatu yang bisa aku beli dengan uang ! Pasti ada sesuatu baik itu benda atau semacamnya yang kau inginkan, kan?” Ujar kim bum.
“Tidak ada yang aku inginkan selain itu.” Jawab so eun dengan polosnya. Cubitan tangan kim bum di pipi so eun semakin keras, membuat so eun meringis. Tiba-tiba saja ponsel so eun berdering dan kim bum perlahan melepaskan cubitannya. Dengan segera so eun mengangkat telponnya yang ternyata dari sang ibu.
“Yobeosaeyo eomma…….ah ye arasseo……..aku akan kesana sekarang……ne.” So eun kembali memasukan ponselnya ke dalam tas saat obrolan dengan sang ibu di telpon selesai.
“Kim bum-ssi, sepertinya kita akan berpisah disini. Eommaku meminta untuk menemuinya di kantor appaku. Kalau begitu sampai bertemu besok~” so eun berjalan menuju zebra cross dan kebetulan lampu pejalan kaki sedang menyala.
“Hei….tunggu sebentar !” Pinta kim bum.
“Mian~ aku buru-buru ! Tentang waktu dan tempat untuk merayakannya, kita bicarakan lagi lain waktu, oke?” Teriak so eun seraya berjalan mundur dan melambai-lambaikan tangannya kepada kim bum saat ia menyebrangi jalan bersama pejalan kaki lainnya.
“Y…ya….Hei….” teriak kim bum. Ia pun hanya bisa diam di tempat dengan aura gelap di sekitarnya. Pasalnya, bagaimana bisa ia memberikan so eun ‘CINTA?’ cinta bukanlah sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Lalu apa yang harus ia lakukan?

 

-today love is begin-

 

“AHAHAHAHA ! bukankah itu akan lebih baik jika kau hanya memberikan cinta kepada so eun-ssi sebanyak yang ia mau!? Ternyata….so eun-ssi bisa juga mengatakan sesuatu yang sangat lucu, huh? Hahahahah.” Il woo tak kuasa untuk menahan tawanya setelah ia mendengar cerita kim bum. Sementara itu kim bum hanya menopang dagunya dengan ekspresi wajah kesal karena il woo yang begitu berisik. Seperti biasa, saat ini il woo sedang ada di apartemen kim bum.
“Dengan wajah yang seserius itu kau tiba-tiba bertanya tentang hal ini kepadaku. Ahahahah pasti kau merasa terganggu dengan permintaan so eun-ssi itu, benar kan?” Il woo masih belum bisa menghentikan tawanya. Bahkan ia sampai memegangi perutnya.
“Ani, aku sama sekali tidak merasa terganggu.” Balas kim bum enteng.
“Ternyata, kau sudah menjadi lebih ramah sekarang ini, huh? So eun-ssi sedikit demi sedikit sudah bisa merubahmu kekekekekk kau begitu menyukainya ternyata, huh?” Ujar il woo panjang lebar. Tidak ada reaksi dari kim bum, il woo pun menghentikan tawanya dan melihat kim bum yang duduk di depannya masih dengan menopang dagu. Aura wajah kim bum terlihat menakutkan, ia menatap il woo dengan tatapan membunuhnya. Il woo jadi ketakutan dan shock.
“A…aahhh…kim bum-ah…..ekspresi macam apa itu? Jangan marah ! Aku hanya memberimu pujian heheheh.” Il woo tertawa hambar untuk mencairkan sedikit suasana, terlebih kim bum menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat.
“Huft….” kim bum membuang nafasnya.
“Jadi, apakah kau akan mengabulkan permintaan so eun-ssi itu?” Tanya il woo kemudian.
“Bagaimana bisa aku mengabulkannya? Dia meminta sesuatu yang aneh, yang bahkan tidak bisa dibeli oleh uang. Itu sangat bodoh !” Jawab kim bum kesal.
“Bukankah kau satu-satunya yang bodoh itu?” Balas il woo. “Ini adalah tentang ulangtahun kekasihmu ! Paling tidak kau harus mencoba menyingkirkan rasa gengsi dan harga dirimu itu ! Terlebih kau sangat menyukai so eun-ssi juga, kan?” Lanjutnya.
“Kau pikir semudah itu menuruti permintaannya?” Balas kim bum.
“Bukan seperti itu ! Aku hanya ingin melihat sisi lain darimu !” Ujar il woo. Kim bum mendesah lalu ia menyenderkan tubuhnya ke sandaran sopa.
“Lagi pula, aku tidak mengerti maksud ‘CINTA’ yang ia inginkan. Semuanya terlalu abstrak hingga aku pun belum faham.” Ujar kim bum. Il woo langsung menatap kim bum dengan mata yang membulat.
“Ehhh……kim bum-ah, apa kau ini benar-benar manusia?” Pekik il woo. Kim bum menatap il woo dengan aneh, pasalnya il woo memasang wajah terkejutnya.
“Kalau begitu apa yang harus aku lakukan, huh?” Tanya kim bum.
“Um~ tentu saja kau harus memuji so eun-ssi sebanyak yang kau bisa, katakanlah sesuatu yang bisa membuatnya senang. Misalnya, kau bisa memuji penampilannya, katakan padanya jika dia cantik, lucu, atau semacamnya.” Usul il woo. Kim bum menatap il woo dengan datar, bagaimana bisa ia melakukan hal semacam itu disamping ia membenci hal yang menggelikan? Mendengar usulan il woo saja sudah membuatnya malas.
“Baiklah…..jika kau tidak ingin melakukannya. Bagaimana jika kau mengajaknya menonton ke bioskop? Atau mengajaknya makan di restoran? Atau mengajaknya jalan-jalan ke suatu tempat yang akan membuatnya takjub?” Usul il woo lagi dengan bersemangat, seakan-akan ia begitu pandai dalam hal menyenangkan hati perempuan.
“Apa kau baik-baik saja melakukan hal semacam itu? Hal yang begitu menggelikan?” Tanya kim bum. Mendengar pertanyaan kim bum, il woo menghela nafasnya.
“Lagipula, kenapa kau sangat benci melakukan hal-hal romantis seperti itu? Apa jangan-jangan kau malu, huh?” Tanya balik il woo.
“Aku tidak malu ! Hanya saja aku tidak ingin melakukan sesuatu yang genit seperti memuji atau merayu perempuan.” Jawabnya enteng.
“Lalu? Kenapa dengan itu semua?” Tanya il woo lagi. “Jika kau mau mencoba untuk mengatakan sesuatu kepada so eun-ssi yang ingin so eun-ssi dengar, bukankah dia akan merasa sangat senang? Pernahkah kau berpikir seperti itu meskipun hanya sekali?” Ujar il woo panjang lebar. Kim bum hanya menatapnya saja.
“Aku tidak pernah memikirkannya.” Balas kim bum.
“Kau…..kau belum sadar juga?” Kini giliran il woo yang kesal. Dibalik otak kim bum yang encer soal pelajaran, ternyata kim bum sangat bodoh soal urusan perempuan. Il woo jadi gemas sendiri melihatnya.
“Membuat hati perempuan senang tidak butuh mengeluarkan banyak tenaga ! Hal seperti itu sangatlah normal, apalagi untuk menyenangkan kekasihmu sendiri, kan? Jika saja so eun-ssi kekasihku, dengan senang hati aku akan melakukan apa saja agar dia senang dan semakin menyukaiku.” Jelas il woo yang kini sukses membuat kim bum diam dan berpikir.

 

-today love is begin-

 

Chungju Highschool

Kim bum baru saja hendak duduk di kursi kantin setelah ia memesan makanan. Tapi tiba-tiba dua orang perempuan duduk begitu saja di hadapannya.
“Annyeong kim bum-ssi !” Sapa bo young. Kim bum mengerutkan keningnya. Di depannya kini sudah ada bo young dan hye rim yang menatapnya seraya tersenyum penuh arti.
“Kami sudah mendengarnya kim bum-ssi, dari mulut so eun sendiri !” Ujar bo young setengah berbisik.
“Mwo?” Kim bum mengerutkan keningnya. Apa maksud dari dua perempuan di depannya ini? Kenapa tiba-tiba duduk dan berbicara tidak jelas? Ia jadi ingin cepat-cepat menyingkir dari sini.
“Kau bilang pada so eun jika kau akan memberikan cintamu sebagai hadiah, benar bukan?” Goda bo young. Sontak kim bum membulatkan matanya.
“Huh? Apa maksud kalian?” Kim bum tidak mengerti.
“Aku tidak menyangka, ternyata masih ada laki-laki sepopuler dirimu yang berani berkata seperti itu.” Ujar hye rim.
“Kau sangaaaat kereeeen kim bum-ssi !!!” Bo young mengacungkan jempolnya di depan wajah kim bum.
Kim bum sudah muak dengan kedua perempuan ini, mereka sudah membuatnya naik darah. Tapi sebisa mungkin kim bum menahannya karena tak mungkin ia menunjukkan sisi aslinya di depan orang banyak kan?
“Bo young-ah…….hye rim-ah…..apakah kalian sudah memesan makanannya?” Teriak so eun seraya berjalan menghampiri mereka.
“Eh? Kim bum-ssi? Kau disini juga?” So eun baru menyadari keberadaan kim bum. Kim bum langsung menatap so eun dengan tatapan marah lalu berdiri dari duduknya.
“Ikut bersamaku sebentar !” Kim bum langsung menarik tangan so eun pergi menjauhi mereka.
“E..eeh? Wae? Ada apa?” Beberapa pertanyaan muncul di kepala so eun karena kim bum secara tidak biasa menarik tangannya begitu saja.
Kim bum baru berhenti menarik tangan so eun setelah mereka berada di tempat sepi.
“Wae? Kenapa tiba-tiba kau…..ouchh !” So eun meringis karena tiba-tiba kim bum mencubit kedua pipinya cukup keras.
“Kenapa kau selalu mengobrol tanpa henti kepada mereka tentang sesuatu yang tidak perlu, huh? Bukankah yang kau ceritakan itu begitu memalukan, hmmm?” Kim bum semakin gemas saja mencubit pipi so eun di samping ia merasa sangat kesal.
“M…mianhae~.” Balas so eun. Kedua tangannya juga menahan tangan kim bum yang mencubit pipinya.
“Jangan katakan hal-hal memalukan lagi ! Atau aku akan mengunci mulutmu agar kau diam !” Ancam kim bum.
“M…mianhae….jeongmal mianhae…..aku terlalu senang hingga aku tak sengaja mengatakannya.” Balas so eun. “Pipiku sakit~.” Lanjut so eun. Perlahan kim bum pun melepaskan tangannya dari pipi so eun. So eun langsung mengusap-usap pipinya yang sedikit memerah karena bekas cubitan kim bum.
“Lagi pula, aku tidak pernah mengatakan akan melakukan apa yang kau inginkan.” Ujar kim bum.
“M..mwo? Kau tidak mau melakukannya?” Pekik so eun. “Jadi artinya, aku tidak akan mendapat apapun? Setelah aku benar-benar menantikannya?” So eun bersuara cukup keras.
“Kau sangat berisik ! Bukan itu maksudku ! Hanya saja akun tidak akan melakukan apa yang kau inginkan sebelumnya !” Balas kim bum kesal.
“Kalau begitu?” Tanya so eun. Kim bum diam. Ia tidak tahu juga harus menjawab apa, pasalnya ia belum memikirkan apa yang harus ia berikan untuk so eun. Bertanya kepada il woo kemarin pun rasanya sangat buang-buang waktu. Melihat kim bum yang hanya diam saja, so eun pun berpikir sejenak. Ia menopang dagunya.
“Baiklah aku mengerti, aku mengganti permintaan hadiah untuk ulangtahunku !” Ujar so eun dengan cepat. Kim bum menatap so eun.
“Maaf karena sudah meminta sesuatu yang aneh darimu, kau pasti merasa terganggu, kan?” Lanjut so eun.
Kim bum menghela nafasnya. “Seharusnya kau menyadari itu dari awal.” Balas kim bum. “Lalu?” Tanyanya.
“Umm….kau tahu kan, kita sekarang sudah resmi berkencan….” so eun meremas-remas tangannya. “Setelah aku berpikir kembali, dari awal kita berkencan kau belum pernah mengatakanya kepadaku dengan jelas kan?” Lanjut so eun.
Kim bum mengerutkan keningnya. “Mengatakan apa maksudmu?” Tanya kim bum.
” ‘aku suka padamu’, kau belum pernah mengatakan itu kepadaku.” Ujar so eun malu. Kim bum sedikit terkejut. Memang benar, ia belum pernah mengatakan itu kepada so eun dengan jelas.
“Aku sangat ingin mendengarkan kata-kata itu dari mulutmu~~~ tidak apa-apa jika kau ingin mengatakannya sekarang juga, dengan senang hati aku akan mendengarkannya? Atau….haruskah aku merekamnya?” So eun tampak bersemangat kali ini. Kim bum menatap so eun dengan tatapan aneh.
“Hanya aku yang akan memutuskan jenis hadiah seperti apa yang akan aku berikan.” Balas kim bum akhirnya.
“W..wae?” So eun kecewa.
“Sudahlah, jangan banyak meminta !” Balas kim bum lalu ia menyentil kening so eun. Alhasil so eun pun meringis kesakitan.

 

-today love is begin-

 

“Aku benar-benar tidak sabar menunggu hari ulang tahunku.” Ujar so eun. Nirin yang berjalan di sampinnya langsung menatap so eun. Hari ini so eun tidak pulang bersama kim bum, karena kim bum ada urusan di club karya tulis ilmiahnya.
“Bagaimana reaksi kim bum-ssi tentang ulang tahunmu?” Tanya nirin.
“Tidak ada yang spesial, terlebih dia sudah menolak dua permintaanku.” Cerita so eun.
“Memangnya apa permintaanmu?” Tanya nirin penasaran.
“Aku hanya….hanya memintanya untuk memberikanku cinta dan memintanya untuk berkata ‘aku suka padamu’. Hanya itu saja, tapi dia terus menolak.” Jawab so eun. Nirin terkekeh geli mendengarnya.
“Waeyo?” Tanya so eun.
“Jelas saja dia menolak, jika saja kau meminta sesuatu yang lebih masuk akal, aku yakin dia akan menurutinya.” Balas nirin.
“Tapi mungkin saja dia mengabulkan keinginanku kan? Tidak ada yang tidak mungkin karena nanti adalah hari ulang tahunku, kau tahu?” Ujar so eun dengan percaya dirinya. “Tapi meskipun itu tidak terjadi, aku baik-baik saja ! Cukup kim bum-ssi merayakannya denganku, aku akan sangat senang.” Lanjutnya. Nirin ikut tersenyum mendengarnya.
“Baiklah jika itu akan membuatmu senang.” Balasnya. Senyum so eun semakin lebar.

 

-today love is begin-

 

Kim bum sedang duduk di lantai seraya menyalakan laptopnya yang ia simpan di atas meja. Ia berniat untuk mencari hadiah untuk so eun lewat online shop. Tapi sebelum ia memutuskan akan memesan apa, terlebih dahulu ia mengetikkan keyword hadiah ulang tahun untuk dijadikan referensi. Setelah ia mencari-cari, kebanyakan hadiah yang muncul adalah semacam perhiasan, boneka, dan bunga. Kim bum benci dengan boneka, apalagi dengan bunga. Ia pun memutuskan untuk memilih perhiasan di salah satu online shop. Setelah melihat-lihat, ada sebuah gelang dengan rantai berbentuk bunga-bunga kecil berwarna ungu yang kim bum rasa lumayan cocok untuk so eun.
“Benda ini tidak apa-apa, kan?” Gumamnya. Tanpa pikir panjang lagi, kim bum pun mengklik kolom ‘beli’ disana. Setelah selesai, kim bum pun segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka sebelum tidur. Saat ia mengelap wajahnya sambil bercermin, tiba-tiba ia teringat dengan perkataan so eun siang tadi di sekolah.
‘aku suka padamu’, kau belum pernah mengatakan itu kepadaku. Aku sangat ingin mendengarkan kata-kata itu dari mulutmu~~~ ‘
Kim bum menatap dirinya di cermin dengan serius. Ia kemudian membuka mulutnya perlahan.
“Aku……” kim bum terdiam beberapa detik. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana harus mengatakan kata-kata itu kepada so eun.
“Aku suka pa…………aiiiiissshhh…..” kim bum mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Ia berusaha mencoba, tapi kenapa lidahnya mendadak kelu dan seperti tidak mau mengatakan kata-kata itu? Sebenarnya ia ingin mengatakan yang sejujurnya kepada so eun soal perasaannya dan mengatakan aku juga suka padamu, tapi rasanya sulit sekali. Kim bum pun meninju dinding di dekat cermin.
“bodoh !” Ujarnya terlebih kepada diri sendiri.

 

-today love is begin-

 

Akhirnya ulang tahun so eun pun tiba juga, 6 Sepember. So eun benar-benar bersemangat hingga ia sedikit merias wajahnya. Sepulang sekolah so eun dan kim bum akan pergi jalan-jalan untuk merayakan ulang tahunnya. So eun merasa jika ulang tahunnya kali ini sangat spesial karena untuk yang pertamakalinya ia merayakannya dengan kim bum-orang yang ia sukai dan tentunya kini sudah menjadi kekasih resminya.
“Gawaaat ! Kenapa jantungku jadi berdetak lebih cepat seperti ini?” Ujar so eun seraya memegangi dadanya.
“Aku ingin tahu bagaimana reaksi kim bum saat melihat penampilanku. Tidak aneh kan?” So eun memutar tubuhnya di depan cermin. Untuk perayaan ulang tahunnya kali ini, so eun memilih memakai dress biru langit selutut tanpa lengan. Di bagian lehernya ada motif bunga-bunga mawar berwarna putih. So eun juga tak lupa menjepit rambutnya untuk lebih mempercantik diri.
Setalah selesai, cepat-cepat so eun pun bergegas menuju halte tempat dimana mereka janjian sebelumnya. Tepat saat so eun sudah sampai, kim bum pun juga baru tiba disana. So eun langsung berlari kecil menghampiri kim bum.
“Kim bum-ssi !” Panggil so eun dengan senyum lebarnya.
“Ah, sangat jarang sekali kau datang tepat waktu, huh !” Ujar kim bum yang melihat so eun datang sesuai waktu yang sudah ditentukan.
“Hehehe hanya sekali-kali…” so eun nyengir seraya membenarkan rambutnya.
Kim bum menatap so eun dengan seksama, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan penampilan so eun.
“Apa kau….berdandan, huh?” Tanya kim bum. Pipi so eun langsung bersemu merah, ternyata kim bum memberikan reaksi soal penampilannya, berarti kim bum memperhatikannya kan?
“Eh…? Ah ya, aku sedikit merias wajahku hehe.” So eun salah tingkah, ia membenarkan rambutnya berkali-kali. “Um~ bagaimana menurutmu?” Tanya so eun. Ia benar-benar berharap kim bum akan memberikan pujian untuknya.
“Soal itu…..” jawab kim bum menggantung. So eun pun langsung menengadahkan wajahnya menatap kim bum dengan wajah penasaran. Melihat ekspresi wajah so eun yang seperti itu, kim bum pun langsung memalingkan wajahnya ke depan.
“Tidak ada bedanya, kan? Mau kau berdandan atau tidak bagiku kau tetap sama saja.” Jawab kim bum akhirnya.
“Eh? Ah ya hehe tidak ada bedanya.” Ujar so eun mengulang kata-kata kim bum. Sebenarnya ia agak kecewa, tapi tidak masalah selama kim bum sedikit memperhatikan penampilannya sekarang ini.
Tepat pada saat itu, bus yang ditunggu pun datang. Kim bum dan so eun pun segera masuk ke dalam bus itu. Mereka duduk di kursi paling belakang.
“Ah ya, apa kita langsung ke bioskop saja? Atau makan terlebih dahulu? Masih ada waktu tersisa sebelum film di mulai.” Ujar so eun kepada kim bum.
“Jika kita pergi kesana sesaat sebelum film dimlai, disana akan sudah dipenuhi banyak orang !” Balas kim bum.
“Jebaaal~ aku belum makan apa-apa setelah pulang sekolah.” Ujar so eun seraya mengerucutkan bibrinya. Kim bum menatap so eun lalu menghela nafasnya.

 

Restoran

“Woooaaa makanannya kelihatan lezat sekali~” takjub so eun saat makanan yang mereka pesan sudah tersimpan di atas meja. “Aku harus mengambil fotonya kalau begitu.” So eun segera mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya dan mengambil beberapa gambar dari makanan itu. Kim bum menatap aneh ke arah so eun.
“Apa yang kau lakukan? bagaimana jika orang lain melihat, huh? Kau membuatku malu saja !” Protes kim bum.
“Gwaenchana~ lagipula aku ingin mengabadikannya….hari ini adalah hari yang spesial.” Balas so eun. “Ataukah aku harus mengambil gambar kim bum-ssi juga?” Tawar so eun.
“Tidak, terimakasih.” Tolak kim bum. “Segera hentikan kerjaanmu itu dan cepat makanlah !” Suruh kim bum. Tapi so eun tidak mendengar, ia malah nekad mengambil gambar kim bum. Dengan segera kim bum pun merebut ponsel so eun, ia juga melotot padanya.
“Kim bum-ssi~” protes so eun.
“Apa kau mau aku melempar ponselmu ke sungai lagi, huh?” Ancam kim bum.
“A…andwae…..andwae….jangan lakukan ! Baiklah aku akan segera makan.” So eun langsung mengulurkan kedua tangannya ke depan kim bum dan merentangkan telapak tangannya.
Kim bum berdecak lalu menyimpan ponsel so eun di atas meja di dekat makanan pesanannya. Dengan sedikit cemberut, so eun pun mulai menyantap makanannya. Kim bum juga kembali memakan makanannya.
“Ummmm~ enak sekali~” mata so eun langsung berbinar saat pertama kali ia merasakan makanannya.
“Kau ingin mencobanya kim bum-ssi?” Tawar so eun seraya mengangkat sendoknya di depan wajah kim bum.
“Ani, kau habiskan saja.” Tolak kim bum.
“Huh padahal sangat enak, kau akan menyesal jika tidak mencobanya.” Oceh so eun seraya sibuk mengunyah. Ia juga makan dengan lahap sekarang.
Kim bum memperhatikan so eun sebentar lalu ia pun merogoh sesuatu di dalam saku celananya.
“Ini, untukmu !” Kim bum menyodorkan kotak kecil dengan bungkus kado berwarna merah muda ke hadapan so eun.
“Eeeeh? Apa itu?” So eun langsung berhenti mengunyah dan menatap kotak kecil yang diberikan kim bum dengan wajah sedikit kaget.
“Hadiah untukmu.” Jawab kim bum, lalu ia menopang dagunya dan menatap so eun.
“Wooooaaa jeongmal??? Wooaaa aku sangat senang sekali~~~” wajah so eun bersemu merah dan matanya berbinar melihat hadiah yang sekarang sudah ada di tangannya.
“Boleh aku membukanya?” So eun menatap kim bum.
“Buka saja.” Balas kim bum.
Dengan tidak sabaran so eun pun membuka hadiah itu. Ia sangat penasaran benda apa yang kim bum berikan untuknya?
“Woooaaaa ini benar-benar cantik, aku menyukainya…..” so eun menatap sebuah gelang dengan bunga-bunga ungu di sekelilingnya.
“Bagaimana iniiii? Aku sangat senang !!!! Terimakasih kim bum-ssi, aku saaaaangaaaaat menyukainya….” ujar so eun. So eun tak bisa menyembunyikan semburat bahagia di wajahnya. Ia tidak menyangka kim bum akan memberikannya sebuah gelang.
“Hmmm…” kim bum hanya mengangguk.
“Gelang ini dan juga kalung, aku sudah menerima dua benda dari kim bum-ssi.” So eun tersenyum lebar. Kim bum hanya menatap so eun saja masih dengan menopang dagu.
“Akan sangat menyenangkan jika aku bisa mengoleksi barang-barang dari kim bum-ssi kekekekek…..” mata so eun sampai menghilang karena senyumnya yang begitu lebar.
“Jadi maksudmu, aku harus menghabiskan uangku untuk membelikanmu barang-barang seperti itu, huh?” Balas km bum.
“Eeehhhh? A…ani….ani….” so eun menggibas-gibaskan tangannya di depan kim bum.
“Bukan seperti itu maksudku~ ” so eun mengerucutkan bibirnya. Kim bum tersenyum melihat so eun seperti itu. Teringat kembali dengan permintaan so eun waktu itu kepadanya. Haruskah ia mengatakannya sekarang kepada so eun jika ia juga menyukainya?
“So eun-ssi….” panggil kim bum. So eun langsung mengalihkan matanya dari gelang itu dan menatap kim bum. Kim bum sendiri mulai menurunkan tangannya yang tadi menopang dagu. Ia lipat kedua tangannya di atas meja dan kim bum mencondongkan wajahnya mendekati so eun. So eun bingung melihat kim bum seperti itu. Apalagi kim bum menatap tepat ke mata so eun, dengan wajah serius. So eun jadi gugup melihatnya.
1 detik
2 detik
3 detik
Kim bum masih menatap so eun dengan serius tanpa mengatakan apa-apa. Hingga di detik ke 5 ia mulai membuka mulutnya.
“So eun aku……” kim bum menggantungkan ucapannya. So eun sudah deg-degan sendiri menanti apa yang akan kim bum katakan. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia juga merasakan pipinya mulai memanas.
1 detik
2 detik
Kim bum belum juga melanjutkan kata-katanya.
“Aku ingin pergi ke toilet sebentar.” Lanjut kim bum akhirnya. Entah kenapa, sangat sulit sekali bagi kim bum untuk mengatakan ‘aku menyukaimu’ pada so eun. Ia belum pernah mengatakan kata-kata itu kepada perempuan jadi ia merasa sulit untuk mengatakannya, apalagi setelah ia melihat wajah so eun.
“Aa…ya…pergilah.” balas so eun. Kim bum langsung berdiri dari duduknya dan segera pergi ke toilet, sementara so eun diam di tempat dengan beberapa dugaan di kepalanya tentang apa yang akan kim bum katakan.
So eun memegangi dadanya. “Jantungku….” ujarnya.

Bukannya masuk ke dalam toilet, kim bum malah menyandarkan tubuhnya di dinding lorong menuju toilet. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia tidak bisa mengatakannya. Ia merasa dirinya begitu bodoh. Kim bum diam disana selama beberapa menit sambil menenangkan hatinya, wajahnya juga sedikit berkeringat. Ia tidak nyaman dengan dirinya yang sekarang ini.

 

-today love is begin-

 

Kini kim bum dan so eun berjalan menuju bioskop yang memang cukup dekat dengan restoran yang tadi mereka singgahi. Sekembalinya kim bum dari toilet, belum ada lagi pembicaraan di antara mereka membuat suasan menjadi canggung. Entah kenapa kepala kim bum tiba-tiba dipenuhi oleh teriakan-teriakan jung il woo yang menyemangati dirinya. “Hwaiting bum-ah !!!! Hwaiting !!!!”
‘Apaan ini? Kenapa suara anak itu terus terngiang-ngiang di kepalaku?’ Batin kim bum.
Sementara itu, so eun terus saja menundukkan kepalanya. Ia benar-benar tidak nyaman dengan suasana seperti ini. Suasana canggung diantara dirinya dengan kim bum. Tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat, so eun memegangi dadanya. Teringat lagi dengan aksi kim bum saat di restoran tadi.
‘Sebenarnya apa yang akan dikatakan kim bum-ssi? Kenapa aku jadi deg-degan seperti ini? Apakah kim bum-ssi hendak mengatakan jika dia menyukaiku?’ Batin so eun. Perlahan ia mengangkat kepalanya, dan menatap kim bum diam-diam. Pipinya mendadak menjadi merah.
‘Apakah benar ia hendak mengatakan itu padaku tadi?’ Batinnya.
Merasa so eun sedang memperhatikannya, kim bum pun langsung menoleh menatap so eun dan dengan cepat tangannya menutup mata so eun.
“Jangan menatapku seperti itu !” Perintah kim bum.
“Eeeh? W..wae?” Tanya so eun.
“Tatapanmu sangat menganggu ! Membuatku tidak nyaman !” Balas kim bum yang kini sudah melepaskan tangannya yang menutup mata so eun.
“Uuu m…mian.” balas so eun.
“Kita akan nonton film kan? Jadi percepatlah langkahmu !” Suruh kim bum. Ia lalu berjalan lebih dulu, sementara so eun masih diam di tempat.
‘Ah ya, kim bum-ssi mana mungkin akan mengatakan hal yang seperti itu, kan? Aku terlalu banyak berharap.’ Batin so eun lalu ia pun mengikuti langkah kim bum.

 

Bioskop

“MMWWWOO? sudah penuh!?” Pekik so eun pada petugas bioskop yang bekerja di bagian pembelian tiket.
“Silakan beli saja tiket film lain.” Ujar petugas itu.
“Ah ye.” So eun menunduk lalu menghampiri kim bum yang tengah melihat-lihat poster beberapa film yang dipajang.
“Waeyo?” Tanya kim bum yang heran karena melihat ekspresi murung so eun.
“Kita kehabisan tiketnya, padahal aku ingin sekali menonton film itu bersamamu.” Jawab so eun. Bukannya menghibur, kim bum malah mencubit gemas pipi so eun.
“Bukankah sudah aku katakan sebelumnya kita tak harus pergi makan duluuu, huh? Penuh kan?” Kesal kim bum.
“M..miaaan.” so eun berusaha melepas tangan kim bum yang mencubit pipinya. Kim bum menghela nafasnya.
“Apakah tidak apa-apa kita menonton film lain saja, kim bum-ssi?” Tanya so eun. Kim bum hanya menatap so eun dengan wajah kesal.
“Ah….masih ada satu film yang akan diputar sekarang, film itu !” So eun menunujuk poster film romance dengan judul confession. Mata kim bum mengikuti arah telunjuk so eun.
“Tapi….pasti kim bum-ssi tidak akan mau menonton film seperti itu, kan?” So eun menggaruk tengkuknya. Kim bum terdiam sejenak seraya memperhatikan poster film itu.
“Kalau begitu, ayo kita nonton lain kali saja ! Untuk hari ini kita habiskan jalan-jalan atau semacamnya~ kim bum-ssi tidak suka dengan……”
“Haruskah kita menontonnya?” Potong kim bum.
“Huuh?” So eun menatap kim bum kurang yakin.
“Cepatlah dan beli tiketnya !” Suruh kim bum. So eun menatap kim bum tidak percaya.
“Huh? Aa…apa kau yakin? Itu film romantis kau tahu?” Balas so eun.
“Terserah padaku aku ingin menonton film macam apa, kan? Apa kau keberatan dengan hal itu!?” Tiba-tiba kim bum marah dan menatap so eun dengan kesal.
“A….arasseo.” balas so eun akhirnya.

 

So eun sangat menikmati film dengan judul confession ini. Filmnya sendiri bercerita tentang seorang laki-laki yang ingin menyatakan perasaannya pada perempuan yang ia sukai namun begitu sulit untuk ia ungkapkan. Hanya untuk mengatakan 3 kata ‘aku suka padamu’ atau ‘aku cinta padamu’ serasa sulit bagi si pemeran laki-laki itu untuk mengatakannya. Hal ini jelas sekali menyindir kim bum. Apa yang ia alami sama percis dengan apa yang ada di film itu. Lama-lama ia merasa terganggu dan menyesal juga memilih menonton film ini.
“Filmnya sangat romantis, aku menyukainya. Pemeran laki-lakinya juga keren.” Ujar so eun setelah film tersebut selesai.
“Oh begitukah?” Balas kim bum. So eun mengangguk.
“Aiiih….aku benar-benar kesal dengan tokoh laki-laki itu? Apa susahnya mengatakan ‘suka’ pada perempuan yang ia sukai? Apakah harus sampai perempuan itu mengalami kecelakaan terlebih dahulu baru ia berani mengatakannya?” Oceh seorang perempuan dengan rambut kriting yang berjalan di belakang kim bum saat bubaran dari menonton film itu.
“Kau benar, lelaki seperti itu adalah lelaki yang pengecut. Untung saja pacarku tidak seperti itu.” Balas temannya dengan rambut sebahu.
Kim bum mulai terganggu dengan perkataan-perkataan kedua perempuan itu karena ia merasa tersindir.
“Kim bum-ssi setelah ini haruskan kita pergi ke nam……”
GRAB~ So eun tak melanjutkan perkataannya karena tiba-tiba kim bum menarik tangannya sehingga tubuhnya mendekat ke kim bum. So eun terkejut.
“K…kim bum-ssi?” Kaget so eun. Kim bum menatap so eun dengan serius tepat pada matanya. Selama beberapa detik kim bum hanya menatapnya saja sehingga so eun menatap kim bum dengan bingung. Menatap wajah polos so eun yang menatapnya membuat kim bum kembali mengurungkan niatnya untuk mengatakan kata-kata itu.
“Tch…” kim bum berdecak sebal. Ia sebal dengan dirinya sendiri.
“A…ada apa kim bum-ssi?” Tanya so eun. Kim bum menghela nafasnya seraya memejamkan matanya sebentar.
“Ani, rambutmu hanya sedikit kusut.” Dusta kim bum seraya merapikan rambut so eun dengan cepat lalu setelah itu berpaling dan berjalan meninggalkan so eun.
“Aah…g..gomawo.” so eun memegangi rambutnya.
“Yeah.” Balas kim bum. ‘Kenapa aku jadi bodoh seperti ini?’ Batin kim bum.
So eun memeperhatikan punggung kim bum seraya tersenyum senang. ‘Kim bum-ssi sangat perhatian padaku hari ini, dia bahkan merapikan rambutku.’ Senang so eun yang masih memegangi rambutnya. Ia pun lalu segera mengejar kim bum.
“Hehe kim bum-ssi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Haruskah kita pergi ke namsan tower atau ke sungai han?” Tawar so eun. Kim bum masih diam.
“Kim bum-ssi….” so eun menyentuh lengan kim bum.
“Terserah~ kemana saja asal kau menyukainya !” Jawab kim bum akhirnya. Senyum di bibir so eun mengembang.
“Baiklaaaah, aku ingin melihat pemandangan kota dari atas namsan tower !!!” Ujar so eun. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya lagi saat ini.

 

-today love is begin-

 

So eun dan kim bum menikmati pemandangan kota seoul dari atas namsan tower. So eun terlihat senang sekali, dan tanpa so eun tahu kim bum memperhatikan dirinya.
“Harusnya kita membeli gembok dan menguncinya disini.” Ujar so eun. Kim bum tersadar dan langsung memalingkan wajahnya.
“Heh kau percaya dengan hal yang seperti itu?” Timpal kim bum.
“Kenapa harus tidak percaya? Aku hanya ingin saja di namsan tower ini ada gembok cinta milik aku dan kim bum-ssi.” Balas so eun. Kim bum hanya menghela nafasnya. Lalu mereka pun kembali diam seraya menikmati lampu-lampu yang menghiasi kota seoul di malam hari.
“Woooa jeongmal yeoppeuda~~~ ini adalah pertama kalinya aku berdiri disini dengan orang yang aku sukai, sangat menyanangkan. Apa kau juga merasakan hal yang sama denganku kim bum-ssi?” Tanya so eun seraya menoleh ke samping dan menatap kim bum. Tapi kim bum tidak merespon, ia menatap lurus jauh ke depan.
“Kim bum-ssi, apa kau mendengarku?” Tanya so eun.
“Eh? Huh?” Kim bum baru tersadar. Ternyata barusan ia sedang melamun.
“Kau kelihatan aneh, apa sesuatu telah terjadi?” Tanya so eun khawatir.
“Ani, aku hanya sedikit muak saja.” Jawab kim bum. ‘Muak dengan diriku sendiri’ lanjut kim bum dalam hati.
“Eeh? Kalau begitu haruskan kita turun saja dan pulang?” Tanya so eun. Ia masih merasa khawatir dengan kim bum karena sedari tadi kim bum bersikap aneh.
“Ani…ani…lagipula kau ingin melihat pemandangan kota dari atas namsan tower, kan? Jadi diamlah dan lihat saja pemandangannya !” Balas kim bum. So eun menatap kim bum cukup lama sementara kim bum sendiri menatap lurus ke depan.
‘Di tempat seperti ini begitu banyak pasangan lain yang juga ingin menikmati pemandangan kota. Meskipun kim bum-ssi benci dengan tempat seperti ini, tapi dia masih berdiri disini menemaniku. Aku sangat senang’ batin so eun yang masih memperhatikan kim bum.
“Haaah anginnya sangat sejuk~” ujar so eun sambil tersenyum, angin itu menerpa rambutnya. Ia kini ikut menatap lurus ke depan. Kim bum menoleh menatap so eun, tepat pada saat so eun masih tesenyum senang.
‘Apa yang sulit dengan kata-kata itu? Melihatnya senang membuatku senang juga. Tidak apa aku mengatakannya sekarang hanya untuk membuatnya senang, kan?’ Batin kim bum.
“So eun…..” panggil kim bum sambil tersenyum. So eun langsung menoleh.
“Ne?” Tanya so eun.
“Dengarkan baik-baik, aku hanya akan mengatakannya satu kali.” Ujar kim bum. So eun menatap kim bum dengan bingung kini. Senyumnya yang tadi tersungging perlahan menghilang digantikan dengan wajahnya yang bengong.
“Ne?” Tanya so eun lagi. Kim bum menatap so eun dengan seksama dan bersiap mengatakan sesuatu. Tapi entah kenapa, lagi dan lagi lidahnya terasa kelu. Seperti ada sesuatu yang menahan lidahnya hingga sulit bagi kim bum untuk mengatakannya.
“Tch….” kim bum kesal dengan dirinya sendiri.
“Kau….riasan wajahmu dan penampilanmu tidak terlalu buruk….” ujar kim bum. Tiba-tiba itulah yang keluar dari mulut kim bum. Kim bum langsung menundukkan kepalanya frustasi.
“Ahh….” wajah so eun langsung memerah setelah mendengarnya.
“J..jinjayo?” Tanya so eun memastikan seraya memegangi pipinya.
“Aku senaaaang, tadinya aku khawatir dengan riasan wajahku dan penampilanku, itu karena kim bum-ssi tidak berkomentar apa-apa. Tapi sekarang aku benar-benar senang !!!” Ujar so eun. “Ekekekekek gomawooooo.” Lanjutnya dengan senyum cerahnya. Kim bum masih kelihatan frustasi karena belum juga berhasil mengatakan kata-kata yang ingin so eun dengar.

 

-today love is begin-

 

“Terimakasih sudah mengantarku sampai rumah.” Ujar so eun saat ia sudah berada di depan rumahnya. Kim bum berdiri di hadapan so eun.
“Tidak apa-apa.” Balas kim bum. Tiba-tiba keduanya saling diam. Entah kenapa so eun merasa tidak ingin hari ini berakhir sekarang, ia masih ingin menghabiskan waktu bersama kim bum. Kim bum memperhatikan so eun yang kini tengah menunduk seperti ingin mengatakan sesuatu.
‘Aku rasa ini sudah cukup. Aku menemaninya seharian dan juga memberikannya hadiah. Aku rasa hanya dengan itu dia sudah cukup senang, kan?’ Batin kim bum. Ia lalu menghela nafasnya.
‘Lagipula, bagaimana seorang lak-laki mengatakan ‘aku suka padamu’ dihadapan wajah orang lain?’ Batin kim bum.
“Baiklah….” kim bum menepuk kepala so eun. “Aku pulang.” Ujarnya lalu pergi meninggalkan so eun.
“Aah….tunggu !” Panggil so eun. Kim bum menghentikan langkahnya dan menoleh menatap so eun.
“Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku saat ini. Ini adalah hari ulangtahunku yang benar-benar spesial. Menghabiskan waktu bersama kim bum-ssi membuatku merasa jika aku terlahir di hari yang sangat spesial.” Cerita so eun. “Jeongmal gomawoyo~~~ aku sangat menyukaimu kim bum-ssi !!!” Lanjut so eun. Senyumnya mengembang hingga matanya juga ikut tersenyum. Kim bum nampak kaget, mendengar so eun mengatakan ia menyukainya terdengar begitu mudah dan mengalir begitu saja. Kenapa dirinya tidak bisa?
“Baiklah, selamat malam.” Ujar so eun lalu berbalik tanpa memperhatikan langkahnya dan ia menginjak jalan yang bolong hingga ia hampir saja terjatuh. Namun dengan cepat kim bum menarik pinggang so eun hingga mendekat padanya.
“Ahh…” so eun terkejut.
“Perhatikan langkahmu bodoh !!!” Ujar kim bum.
“M..mian….gomawo….” ujar so eun seraya sedikit memundurkan tubuhnya dari kim bum. Tapi ternyata kim bum malah mempererat tangannya yang merangkul pinggang so eun.
“Eeeh?” So eun kaget karena kim bum tak juga melepaskan tangannya dari pinggangnya. So eun tambah terkejut lagi saat kim bum menenggelamkan wajahnya di pundak so eun.
“Kk…kim bun-ssi….a…ada apa?” So eun mencoba mundur sedikit dan mengangkat kepalanya untuk menatap wajah kim bum. Tapi dengan cepat kim bum malah memeluknya dengan sangat erat, seakan ia tidak ingin so eun melihat wajahnya yang sekarang ini.
“Eeeehhh?” So eun benar-benar kaget pasalnya kim bum memeluknya begitu erat.
“K…kim bum-ssi ! Sakit !!! Ini sakiiit !!!” Protes so eun karena pelukan kim bum yang sangat erat hingga tak bisa membuatnya bergerak.
“Diam !” Suruh kim bum.
“Tapi ini sangat sakit !!! Aku tudak bisa berna……”
“yak diamlah ! Sampai aku mengatakan ‘ok’ jadi diamlah !” Potong kim bum. Kim bum bahkan menahan kepala so eun dengan erat. So eun jadi terdiam juga, pipinya mulai memanas dan sudah terlihat merah. Lalu so eun tersenyum dan balas memeluk kim bum dengan erat juga.
Wajah kim bum sendiri juga memerah. Salah satu alasan ia memeluk so eun dan tidak ingin melepaskannya adalah karena ia tidak ingin so eun melihat wajahnya yang memerah seperti sekarang ini. Sudah hampir 5 menit berlalu mereka masih berpelukan.
“Umm…bukankah ini sudah cukup, kim bum-ssi?” Tanya so eun karena kim bum belum juga melepaskan pelukannya.
“Kau sangat berisik, diam !!!!” Balas kim bum. So eun pun hanya bisa menurut saja.
“Dengar !” Perintah kim bum. “Aku akan mengatakannya sekarang dan aku hanya akan mengatakannya satu kali.” Lanjutnya. So eun mengangguk.
“Aku-suka-padamu !” Aku kim bum dengan penekanan di setiap kata-katanya. So eun tersenyum mendengarnya. “Kau sudah mendengarnya, kau puas?” Tanya kim bum.
So eun kembali mengangguk. “Aku juga sangaaaat menyukaimu, kim bum-ssi.” Balas so eun. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan so eun sekarang ini? Ia sendiri tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata saking senangnya. So eun terus tersenyum di pelukan kim bum. Sementara kim bum sendiri merasa malu setelah mengatakan kata-kata itu. Tak seperti biasanya bahkan wajahnya pun memerah.
‘Bahkan sampai aku mati pun, aku tidak akan pernah menunjukkan wajahku yang seperti ini kepadanya !’ Batin kim bum.

 

Tidak ada yang lebih baik dari hari ini ! Ini adalah ulang tahun yang terbaik !!! Terimakasih kim bum-ssi, aku sangat menyukaimu ! aku beruntung karena aku jatuh cinta kepadamu. Meskipun aku tahu ada sedikit keterpaksaan saat kau mengatakan kau suka padaku. Aku tidak apa-apa karena aku tahu kau bukanlah tipe laki-laki seperti itu. Hanya dengan sikapmu saja kepadaku aku sudah cukup tahu jika kau juga sangat menyukaiku tanpa kau mengatakannya.

To Be Continued

Mian jika ceritanya kurang memuaskan, tapi saya harap kalian menyukainya.

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya.

Today, Love Is Begin PART 12

Today, Love Is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

 

PART 12

 

“AGAR AKU BISA MENGERTI DAN PAHAM, COBA KATAKANLAH SEMUANYA DENGAN JELAS !” Teriak so eun, tangisannya semakin deras saja. Kim bum diam beberapa saat tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
“Sudah aku katakan sebelumnya bahwa kau adalah milikku. Itu adalah disaat kau memintaku untuk menjadi pacar palsumu, kan? Tapi sekarang berbeda.” Jelas kim bum. So eun menatap kim bum kini, tangisnya sudah cukup mereda.
“Sekarang kau tidak sesederhana untuk membunuh waktu atau semacamnya.” Lanjut kim bum.
“Lalu? Dengan kata lain?” Tanya so eun.
Kim bum mengerutkan keningnya, memperlihatkan ekspresi wajahnya yang kelihatan tidak nyaman.
“Jadi…..ini adalah….ini adalah apa yang biasa oleh orang-orang sebut sebagai ‘suka’ mungkin.” Jawab kim bum akhirnya. So eun menatap kim bum tanpa berkedip sedikitpun. “Wae? Apakah aku salah?” Tanya kim bum.Bukannya menjawab, so eun malah menatap kim bum dengan mata yang berkaca-kaca hendak mengeluarkan kembali air mata.

“Kau sedang tidak berbohong, kan?” tanya so eun. “kau tidak percaya padaku?” tanya balik kim bum. “bukan seperti itu…..aku hanya……aku hanya takut kau sedang mempermainkanku lagi, aku takut semua yang kau katakan barusan itu ternyata hanya lelucon lagi, aku takut……” Air mata so eun kini kembali membasahi pipinya. Melihat so eun kembali menangis, membuat kim bum tidak tega. Ia menatap so eun dengan tatapan yang teduh, tidak seperti tatapan sebelumnya. “apa yang harus aku lakukan agar kau percaya?” kim bum memegang kedua pipi so eun dan menghapus air matanya. So eun menatap kim bum dengan matanya yang sembab. Tidak tahu kenapa, air matanya malah jatuh kembali, so eun tidak bisa menahannya. Semua yang ia rasakan terlalu campur aduk, antara kesal, sedih, senang, semuanya bercampur menjadi satu.
“Kenapa….kenapa baru sekarang?” tangis so eun. Kim bum masih menatap so eun dengan tatapan teduh dan lembut. “kenapa baru sekarang kau menyadarinya? Hiks….hiks…..” Kim bum kembali menghapus air mata so eun.
“Hikss….hiksss….Selama ini kau sudah benar-benar membuatku bingung ! Hikss…..” Karena so eun yang tak juga berhenti menangis, kim bum pun menarik tubuh so eun dan mengusap-usap kepalanya.
“Menangislah ! Menangislah sesukamu !” Ujar kim bum. Bukannya menyuruh so eun berhenti menangis, ia malah menyuruh so eun untuk menangis. Sementara itu, so eun masih menangis di dada kim bum.
“Apakah itu artinya kau dan aku berkencan sungguhan sekarang ini?”tanya so eun.
“Baiklah~ Kau bisa menganggapnya seperti itu.” Balas kim bum. So eun tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya lagi saat ini. Ia langsung melebarkan tangannya dan memeluk kim bum dengan erat.
“Kau tidak akan marah aku memelukmu seperti ini?” Tanya so eun.
“Um~ yeah yeah, terserah~ lakukan saja apa yang kau mau.” Balas kim bum yang kemudian kedua tangannya pun kini melingkar di tubuh so eun meskipun pelukannya tidak seerat yang dilakukan so eun.

 

Aku tidak ingin melupakan malam ini. Perjuanganku selama ini akhirnya berakhir di malam ini. Dia bahkan menciumku dan mengaku jika dia juga menyukaiku meskipun cara mengungkapkan perasaannya itu tidaklah manis menurut ukuranku. Tapi aku senang, hasilnya berbuah manis. Akhirnya hari ini pun cinta dimulai.

-today love is begin-

 

“Kau sangat berisik !” Kesal kim bum. Pagi ini mereka berangkat ke sekolah bersama. Dan selama perjalanan dari mulai rumah so eun sampai mereka sampai di sekolah mulut so eun tidak mau diam, dia terus berbicara dan banyak berangan-angan tentang hubungan mereka yang kini sudah resmi berkencan.
“Yak memangnya kenapa? Perasaan kita sudah sama dan kita saling menyukai, tapi kenapa perlakuanmu padaku tidak juga berubah?” Balas so eun. Kim bum menghembuskan nafasnya.
“Dari awal sifatku memang seperti ini, tidak ada yang bisa merubahnya ! Sepanjang jalan kau terus mengulang kata-kata yang sama. Apa kau itu radio rusak?” Ujar kim bum. Ia melihat so eun mengerucutkan bibirnya.
“Itu karena…..sejujurnya, aku masih belum mempercayainya jika sekarang kita……”
“Jadi kau tidak percaya denganku? Kau pikir aku sedang membohongimu?” Potong kim bum. Ia menatap so eun dengan wajah kesal.
“A…aniya~ bukan seperti itu maksudku.” So eun menggibas-gibaskan kedua tangannya.
“Hanya saja….apa yang sudah terjadi benar-benar tidak terduga. Aku selalu berpikir apakah ini bukan mimpi? Membagi kasih sayang dengan seseorang yang aku sukai terdengar sangat aneh untuk dikatakan. Tapi meskipun begitu, aku merasa sangat senang ! Bersama-sama membagi cinta dengan orang yang aku sukai benar-benar terasa seperti mimpi.” So eun memegangi pipinya yang memerah dan memanas saat mengatakan kata-kata itu.
“Heh….berhentilah mengatakan ‘membagi kasih sayang dan cinta’ !” Balas kim bum. So eun menatap kim bum. “Kata-kata itu membuatku merinding !” Lanjutnya dengan enteng. So eun membulatkan matanya. “Kau benar-benar……” kesal so eun. Tapi kim bum menampakan wajah tanpa berdosanya sehingga so eun pun tak melanjutkan kata-katanya, jika pun ia mengomel sekarang pastilah kim bum akan menghiraukannya. Pada akhirnya so eun pun hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
“So eun-ah….kim bum-ssi!?” Pekik bo young yang berpapasan dengan mereka saat di koridor. Bo young dan hye rim menatap so eun dengan tatapan penuh pertanyaan.
“Kalian….” balas so eun.
“Kenapa kalian berdua datang bersama?” Tanya hye rim.
“Bukankah hubungan kalian baru saja berakhir?” Timpal bo young.
“Ah….itu….” so eun menggaruk tengkuknya. Ia bingung untuk menjawab pertanyaan kedua temannya itu.
“Maaf jika aku dan so eun sudah membuat kalian bingung. Beberapa waktu lalu sedang ada pertengkaran kecil diantara kami. Tapi sekarang…..” kim bum menarik so eun dan merangkulnya. “Kami sudah berkencan kembali.” Lanjut kim bum seraya menunjukan senyum terbaiknya di depan bo young dan hye rim.
“Benar hehehe.” Tambah so eun. Bo young dan hye rim masih menatap mereka dengan bingung.
“Baiklah jika tidak ada lagi yang ingin kalian tanyakan, kami pergi ke kelas lebih dulu.” Ujar kim bum lalu berjalan meninggalkan mereka.
“Aku duluan ya bo young-ah hye rim-ah….annyeong !” So eun pun segera mengikuti kim bum.
“Heh jadi hanya pertengkaran kecil huh?” Gumam hye rim seraya memperhatikan punggung kim bum dan so eun. Ia melipat kedua lengannya di dada. Bo young mengangguk setuju.
“Eh….tapi, bagaimana dengan laki-laki itu?” Pekik bo young.
“Sudah aku duga, ini memang tidak akan pernah terjadi, mengkhianati laki-laki sepopuler kim bum-ssi benar-benar mustahil.” Ujar hye rim.
“Yaaa kau benar hye rim-ah…..sangat mustahil !” Balas bo young sambil angguk-angguk kepala.

“Jangan pernah mengatakan hal-hal yang aneh kepada mereka meskipun mereka adalah temanmu !” Ujar kim bum. So eun mendonggakan kepalanya untuk menatap kim bum.
“Kau tahu kau adalah milikku sekarang, jadi jangan mengatakan atau melakukan hal yang macam-macam yang bisa membuatku marah !” Tambah kim bum. So eun terpukau dengan kata-kata kim bum tersebut, ia menatap kim bum dengan mata berbinar seraya menahan senyumnya. Menyadari hal itu, kim bum menatap so eun dengan aneh.
“Ada apa dengan ekspresi wajahmu?” Tanya kim bum. Ia mulai merasa terganggu. Senyum so eun malah semakin mengembang lalu ia menggelengkan kepalanya.
“Aku mengerti~ sekarang aku pacarnya kim bum-ssi dan aku akan berusaha mematuhi perkataanmu.” Balas so eun dengan senang hati. Kim bum sedikit menyunggingkan senyumnya lalu memegang puncak kepala so eun. “Bagus~.” Ujarnya.
“Ah ya, satu pertanyaan untukmu !” Ujar so eun. Kim bum menurunkan pandangannya untuk menatap so eun.
“Apakah kau punya waktu di hari minggu?” Tanya so eun.
“Wae?” Tanya balik kim bum.
“Um~ haruskah kita pergi ke suatu tempat? Hanya kita berdua?” Tawar so eun, ia menatap kim bum dengan penuh harapan.
“Aku tidak punya rencana apa-apa. Haruskan kita bertemu?” Balas kim bum menjawab harapan so eun yang amat besar itu. Senyum so eun langsung merekah setelahnya.
‘Ini akan menjadi kencan pertamaku dengan kim bum-ssi setelah kami menjadi pasangan kekasih yang resmi ! Huaaa aku benar-benar sangat menantinya ! Aku ingin melakukan hal-hal yang belum pernah aku dan kim bum-ssi lakukan sebelumnya. Kencan ini akan menjadi kencan terbaik kekekekek.’ Batin so eun.

 

-today love is begin-

 

Hari minggu pun tiba. So eun yang begitu menanti-nantikan hari ini pergi lebih awal ke tempat mereka janjian dengan bersemangat. Ia memakai dress berwarna putih selutut dengan cardigan warna biru toska. Ia tampak sederhana tapi tetap terlihat menarik.
“Kim bum-ssi !” So eun melambai-lambaikan tangannya saat ia melihat sosok kim bum tak jauh dari tempatnya duduk sekarang ini. Kim bum sendiri memakai kemeja kotak-kotak warna merah-hitam dengan celana jeansnya yang berwarna hitam. Kim bum tampak berjalan santai dengan memasukan tangan kanannya ke dalam saku celana. Ia bahkan tak membalas lambaian tangan so eun.
“Sejak kapan kau sudah ada disini?” Tanya kim bum saat ia sudah berada di hadapan so eun.
“Um….sekitar sepuluh menit yang lalu mungkin?” Jawab so eun tak yakin.
“Aku pikir kau akan terlambat, tapi ternyata kau datang lebih awal. Haruskah aku bertepuk tangan untukmu?” Ujar kim bum.
“Bisakah sekali saja kau mengatakan kata-kata manis padaku? Kau selalu seperti ini.” So eun berubah menjadi lemas. Padahal yang ia inginkan untuk kencan pertama mereka kali ini kim bum akan bersikap manis padanya. Tapi nyatanya tidak sama sekali.
“Heh…..mian mian.” Balas kim bum. “Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?” Tanya kim bum.
Wajah so eun kembali bersemangat mendengar pertanyaan kim bum. “Ah ya, aku sudah membuat daftar rencana apa saja yang harus kita lakukan.” Balas so eun dengan nada semangat. Kim bum menatap so eun dengan kening berkerut.
“Bagaimana jika pergi ke taman bunga sakura? Aku sangat ingin pergi ke sana.” Ujar so eun.
“Huh? Taman bunga sakura?” Ulang kim bum.
“Hmm…” so eun mengangguk dengan semangat.
“Sekarang sudah masuk musim semi, dan bunga sakura sudah saatnya untuk bermekaran ! Di taman bunga sakura juga ada banyak tempat dan permainan yang bisa kita lakukan.” Jelas so eun.
“Aku menolak !” Balas kim bum enteng.
“M…mwo? Wae???” Tanya so eun kecewa. Ia tidak berpikir sebelumnya jika kim bum akan menolak untuk pergi ke taman bunga sakura.
“Tempat seperti itu akan dipenuhi oleh banyak orang.” Jawab kim bum.
“Gwaenchana~ anggap saja orang-orang disana hanya angin.” Balas so eun.
“Bukan itu masalahnya, aku hanya tidak ingin membuang-buang waktu di tempat yang tidak aku sukai.” Jelas kim bum. So eun diam tanpa berkata apa-apa lagi.
“Lebih baik kita pulang dan menonton Film di apartemenku !” Ajak kim bum. So eun tetap diam. “Hey….” panggil kim bum.
“Ini adalah kencan pertama, tapi kenapa kau malah menolaknya!?” Tahu-tahu so eun menangis. Kim bum terkejut dibuatnya.
“Hey….kenapa kau malah menangis?” Kaget kim bum.
“Aku hanya ingin kencan yang normal seperti yang dilakukan pasangan lain, apakah itu salah?” Air mata so eun turun semakin deras. Kim bum yang melihatnya pun jadi tidak tega dan akhirnya pun mengalah.
“Baiklah, kita pergi.” Ujar kim bum akhirnya. So eun langsung mengangkat kepalanya dan menatap kim bum.
“Jinja?” Tanya so eun. Kim bum mengangguk. Dengan cepat so eun pun menghapus air matanya. Senyum kembali tersungging di bibirnya.

 

-today love is begin-

 

“Uwaaaa………!!!!” So eun berteriak senang saat mereka sudah sampai dia taman bunga sakura. Bunga sakura yang baru bermunculan sangat indah dengan warnanya yang benar-benar cantik. So eun kagum hingga matanya pun berbinar-binar.
“Bukankah mereka sangat cantik?” Ujar so eun. Matanya tak henti menunjukkan kekagumannya saat melihat bunga sakura.
“Apanya yang menarik dengan bunga yang mekar?” Balas kim bum. Berbeda dengan so eun, ia benar-benar tidak nyaman dengan suasana seperti ini, apalagi tempatnya sangat ramai dan jauh dari kata tenang. Dari awal kim bum memang tidak suka dengan hal-hal yang berbau keramaian.
“Kau sudah mengalah dan setuju untuk pergi kesini, jadi jangan memasang wajah tidak senang seperti itu !” Ujar so eun. “Pasanglah ekpresi senang di wajahmu mengingat ini adalah kencan yang pertama untuk kita !” Suruh so eun.
“Sedari tadi kau terus saja berkata kencan !” Balas kim bum. So eun memanyunkan bibirnya.
Selain mereka, ternyata banyak juga pasangan-pasangan lain yang sedang berkencan di taman bunga sakura. Inilah salah satu yang juga membuat kim bum tidak nyaman pergi ke tempat seperti ini. So eun melihat pasangan lain saling bergandengan tangan dengan mesra, si pria dan si wanita pun tampak mengobrol dengan bahagia. Berbeda dengan dirinya dan kim bum. Mereka malah saling diam bahkan tidak bergandengan tangan. Membuat so eun iri kepada pasangan-pasangan kencan lain. So eun diam-diam mencuri pandang kepada kim bum, berharap kim bum akan menggenggam tangannya kemudian seperti pasangan lain. Karena kim bum yang tak kunjung melakukan tindakan apa-apa, akhirnya so eun pun yang mencoba untuk menggenggam tangan kim bum duluan. Ia melihat tangan kanan kim bum yang bebas, perlahan so eun mengangkat tangannya dan tinggal sedikit lagi tangannya akan menggenggam tangan kim bum. Tapi tiba-tiba kim bum memasukan tangannya ke dalam saku celananya. Membuat so eun down seketika dan langsung menundukkan kepalanya. Kim bum yang menyadari itu menatap so eun dengan heran.
“Wae?” Tanya kim bum.
“Apa kau membencinya juga?” Tanya so eun dengan nada yang terdengar putus asa.
“Huh?” Kim bum tidak mengerti.
“Berpegangan tangan dengaku, kau membencinya?” Ulang so eun.
“Sebenarnya apa yang kau bicarakan?” Kim bum masih belum mengerti kenapa tiba-tiba so eun bertanya seperti itu kepadanya.
“Lihatlah pasangan-pasangan lain !” So eun menunjuk beberapa orang pasangan kencan di sekitar mereka. Kim bum mengerutkan keningnya.
“Mereka saling berpegangan tangan dengan mesra, tapi kau dan aku……..apakah di dalam kepalamu tidak terpikirkan sedikitpun untuk menggenggam tanganku?” Tanya so eun.
Kim bum mengerti, ternyata itu yang di maksud so eun. Lalu kemudian ia menghela nafasnya.
“Maaf saja, tapi aku tidak suka mengumbar kemesraan di tempat umum.” Balas kim bum enteng.
“W..waaee? Semua orang melakukannya !” Ujar so eun.
“Bukan itu masalahnya.” Balas kim bum. “Ah sudahlah, lupakan !” Tambahnya. Kim bum pun melanjutkan langkahnya diikuti oleh so eun yang semakin kesini semakin lemas saja karena pada kenyataannya kencan pertamanya tidak sesuai dengan harapan. Tak ada pembicaraan lagi diantara mereka hingga so eun yang kembali bicara lebih dulu.
“Kim bum-ssi, bagaimana jika kita foto bersama?” Tawar so eun. “Sangat sayang jika kita tidak mengambil gambar saat bunga sakura bermunculan.” Tambahnya.
“Aku menolak !” Kim bum mengulangi kata-katanya saat ia menolak untuk pergi ke tempat ini.
“Kenapa lagi!?” Tanya so eun. Kim bum tak menjawabnya. Tiba-tiba so eun berjalan lebih dulu meninggalkannya menuju sepasang kekasih yang sedang duduk santai di bangku kayu di bawah pohon-pohon sakura.
“Ah maaf mengganggu, bisakah aku meminta bantuan?” Pinta so eun. Sepasang kekasih itu menatap so eun dengan bingung.
“Tolong fotokan aku dengan kekasihku, bolehkah?” Pinta so eun seraya mengeluarkan kamera dari dalam tas kecilnya.
“Ah baiklah.” Belum juga si pria mengambil kamera milik so eun, tangan so eun sudah di tarik oleh kim bum menjauh dari pasangan kekasih itu. Membuat sepasang kekasih itu saling tatap dengan wajah bengong.
“Kau tidak perlu meminta bantuan kepada mereka. Aku akan mengambil gambar untukmu !” Ujar kim bum.
Klik~ kim bum pun mngambil beberapa gambar so eun di bawah pohon sakura. So eun membuat bentuk V dengan tangannya dan bergaya selucu mungkin.
“Aku rasa ini sudah cukup, sudah saatnya kita pulang !” Kim bum menyerahkan kembali kamera so eun.
“Eh? Shireo !!! Kita belum melakukan apa-apa !” Tolak so eun.
“Bukankah kita sudah puas melihat bunga-bunga itu? aku juga sudah memenuhi keinginanmu untuk bisa melihat bunga sakura, kan?” Balas kim bum. So eun diam. “Dan yang terpenting adalah tempat ini benar-benar membuatku tidak nyaman !” Lanjutnya. “Kajja !” Kim bum berjalan lebih dulu meninggalkan so eun.
“E…tunggu !” So eun menahan lengan kim bum.
“Kajja ! Ikuti aku sebentar !” So eun menarik lengan kim bum secara paksa. Kim bum hendak menolak tapi pada akhirnya ia hanya bisa menyerah saja.
“Ha? Naik sepeda?” Pekik kim bum saat ternyata so eun membawanya ke tempat peminjaman sepeda.
“Ya, kita harus naik sepeda pasangan ini sebelum kita pulang !!!” Paksa so eun.
“Aku sangat ingin bersepeda mengitari taman sakura ! Jebaaaaal kim bum-ssi~ aku mohon padamu !” So eun merapatkan kedua telapak tangannya memohon pada kim bum agar ia mau melakukannya.
“Shireo !!!” Tolak kim bum. “Jika kau ingin bersepeda, kau bisa bersepeda sendiri ! Aku sedang tidak ingin membuang-buang tenaga.” Balas kim bum.
Bam~ tiba-tiba so eun melempari kepala kim bum dengan tas kecilnya.
“KAU….!!!!” Kim bum memegangi kepalanya.
“DARI AWAL KAU HANYA BILANG TIDAK, TIDAK, DAN TIDAK ” APA KAU TIDAK MERASA JIKA DIRIMU BEGITU EGOIS !!???” Teriak so eun. Kim bum membulatkan matanya.
“AKU MERASAKANNYA ! LAGI PULA KAU MERENCANAKAN INI DAN ITU TANPA PERSETUJUANKU, MANA BISA AKU MENGIKUTI SEMUA KEINGINANMU YANG JELAS-JELAS TIDAK AKU SUKAI?” kim bum balas berteriak. Semua orang disekitar mereka yang sedang mengantri untuk meminjam sepeda pun memperhatikan mereka.
“AKU TIDAK MEMINTAMU UNTUK MENURUTI KEINGINANKU. AKU HANYA BERTANYA ! TIDAK MASALAH SEBERAPA BESAR KAU MEMBENCINYA, TAPI BUKANKAH AKAN LEBIH BAIK JIKA KAU MENURUTI KEINGINANKU DAN PASRAH? KAU INI PACARKU.” so eun kehabisan tenaganya karena berteriak-teriak seperti ini.
“Lagi pula ternyata tidak ada bedanya dari sebelumnya, bahkan disaat kita sudah resmi berkencan….” so eun menurunkan nada suaranya.
“Apakah aku aneh karena aku ingin banyak melakukan sesuatu bersama-sama denganmu? Pergi ke beberapa tempat bersama-sama? Dan membuat banyak kenangan manis yang menyenangkan? Aku rasa itu sangatlah normal kenapa aku menginginkannya ! Lanjut so eun. Kim bum diam.
“Ah baiklah~ sudah cukup ! Aku akan bersepeda sendirian !” Ujar so eun lalu pergi meninggalkan kim bum tanpa kim bum mengejarnya atau apa.
Pada akhirnya so eun menyewa sepeda hanya untuk satu orang. Ia menggoes sepedanya mengikuti rute yang sudah dibuat untuk bersepeda. Angin menerpa rambutnya dan cahaya matahari terasa hangat. So eun bisa melihat pohon-pohon sakura berjejeran di sepanjang jalan. Tapi dibalik itu semua so eun tak begitu menikmati perjalanannya menggunakan sepeda. Beradu mulut dengan kim bum di hari pertama mereka berkencan membuatnya menjadi lemas.
“Kim Sang Bum ! Kau bodoh !” Kesal so eun. Ia tidak peduli mengatakannya dengan cukup keras karena kim bum tidak berada di dekatnya sekarang.
“Kau sama sekali tidak mengerti perasaan perempuan ! Jika kau adalah kekasihku bukankah seharusnya kau mencoba untuk membuatku senang meskipun hanya sedikit?” So eun mendesah. Ia melihat begitu banyak pasangan kekasih yang bersepeda bersama-sama, mereka mengumbar kasih sayang mereka dan itu semua pada akhirnya membuat so eun iri.
“Dia benar-benar bodoh !” So eun mempercepat genjotan sepedanya.
‘Kenapa semuanya selalu menjadi seperti ini? Meskipun aku tidak ingin bertengkar dengannya. Tapi….pada akhirnya aku akan menghabiskan tenaga untuk marah hanya karena hal kecil. Meskipun aku tahu dia tidak suka hal-hal yang menggelikan seperti ini.’ Batin so eun.

 

-today love is begin-

 

Kim bum memilih menunggu so eun dan duduk di bangku kayu di tepi-tepi jalan di dekat pohon sakura. Dia mendesah. Sebenarnya ia sedikit menyesal sudah marah-marah di depan so eun. Ia sebenarnya tidak menginginkan hal ini, tapi ia tidak bisa mengontrol dirinya dan mulutnya meskipun sudah mencoba. Ia yakin pasti so eun kecewa padanya. Lalu tiba-tiba sepasang kekasih datang dan duduk di sebelah kim bum. Melihat si perempuan yang menggandeng pacarnya dengan manja membuat kim bum terganggu. Apalagi setelah mendengar obrolan mereka yang menurut kim bum begitu meggelikan. Kim bum diam-diam melirik ke arah mereka dan berakhir terkejut karena dia menoleh di saat yang kurang tepat. Dia melihat sepasang kekasih itu berciuman. Dengan cepat kim bum pun kembali memalingkan wajahnya.
“Apa-apaan mereka?” Gumam kim bum pelan lalu berdiri dari duduknya dan memilih untuk menjauh. Sudah 15 menit berlalu dan so eun belum juga kembali, kim bum pun berencana untuk menghubunginya. Panggilan pertama dan kedua tidak dijawab, hingga akhirnya di panggilan ketiga so eun pun mengangkatnya.
“Dimana kau sekarang? Apa kau sudah selesai?” Tanya kim bum langsung.
“Yeah, aku di dekat kolam ikan, wae?” Tanya balik so eun.
“Tunggu disana ! Aku akan kesana sekarang.”
Sambungan telpon pun terputus. Kim bum segera bergegas ke tempat dimana so eun berada. Sekitar 10 menit so eun menunggu akhirnya kim bum pun datang juga. Ia melihat so eun tengah duduk melamun di bangku di dekat kolam. Kim bum menghampirinya.
“Apa kau sudah merasa senang sekarang?” Tanya kim bum tanpa ikut duduk di samping so eun. So eun tersadar dari lamunannya dan melihat sudah ada kim bum di dekatnya.
“Ah….kim bum-ssi…” ujar so eun.
“Kau senang?” Ulang kim bum.
“Um~ yah sedikit.” Balas so eun.
Hening~ tak ada pembicaraan lagi di antara mereka. Setelah tadi mereka bertengkar karena hal sepele, sekarang mereka merasa sedikit canggung satu sama lain.
“Um~~~ sambil menunggumu tadi, aku membeli teoppeoki. Haruskah kita memakannya?” So eun mengangkat satu kantong plastik berisi dua bungkus teoppeoki didalamnya.
“Kebetulan, aku juga sedikit lapar.” Kim bum mengusap tengkuknya lalu ikut duduk di samping so eun.
So eun memberikan satu bungkus teoppeoki kepada kim bum, dan yang satunya lagi untuknya.
“Maaf….” ujar so eun. Kim bum menoleh. “Seharusnya aku menyadari itu, bahwa kau tidak suka dengan…..”
“Sudahlah, jangan dipikirkan ! Aku sudah melupakannya.” Potong kim bum lalu ia memakan teoppeokinya.
“Kau tahu? Hanya aku saja yang bersepeda sendirian, yang lain bersepeda dengan pasangan masing-masing. Aku merasa tidak nyaman hingga akhirnya aku pun tak melanjutkan perjalanan dan memilih berhenti disini.” Cerita so eun.
“Oh, benarkah?” tanya kim bum. So eun mengangguk. “kau tidak terlalu seberapa.” ujar kim bum. So eun menatap kim bum tidak mengerti. “Ada kejadian yang benar-benar menggelikan untuk dilihat, dan aku tak sengaja melihatnya.” Balas kim bum. So eun menoleh menatap kim bum.
“Apa itu?” Tanyanya.
“Sepasang kekasih berciuman di dekatku, bahkan mereka tak peduli dengan keberadaanku disana, aku merasa terganggu hingga aku pun menjauh. Benar-benar pemandangan yang menggelikan.” Cerita kim bum. So eun malah tertawa mendengarnya, pasalnya baru pertama kali ini ia mendengar kim bum bercerita tentang hal seperti itu.
“Hahaha tapi selama mereka saling menyayangi, aku rasa tidak masalah.” Balas so eun lalu menyantap teoppeokinya.
“Haruskah di depan umum seperti itu juga?” Ujar kim bum. So eun kembali tertawa.
“Kau tampaknya memang sudah merasa senang sekarang, huh?” Ujar kim bum. So eun tersenyum, lalu ia mengangkat kepalanya melihat bunga sakura yang berada di atas mereka.
“Kim bum-ssi….” panggil so eun. “Di kencan kita yang berikutnya, ayo kita menonton film seperti yang kim bum-ssi inginkan.” Ujar so eun.
“Bukankah kau tidak menyukainya?” Tanya kim bum.
“Jangan berkata seperti itu ! Benar jika aku punya selera sendiri, tapi…..kim bum-ssi juga sudah berusaha mengikuti keinginanku yang bahkan kau sendiri tidak menyukainya. Maka dari itu demi membuat kim bum-ssi senang dan tidak merasa terganggu, ayo kita lakukan apa yang kau suka.” Jelas so eun.
“Kau dengan cepat berubah pikiran huh?” Ujar kim bum seraya ia menatap so eun.
“Ahahah…..aku mengerti setelah aku berpikir jika ternyata aku sendiri yang egois karena merencanakan sesuatu tanpa bertanya lebih dulu padamu.” Balas so eun.
“Lagipula, hanya makan teoppeoki bersama dengan kim bum-ssi saja sudah sangat menyenangkan !” Lanjutnya seraya tersenyum lebar.
“Jadi, selama aku bersama kim bum-ssi, aku rasa semuanya akan berjalan dengan baik meskipun tidak ada hal yang berjalan romantis. Aku cukup senang !” Senyum so eun semakin mengembang hingga matanya pun ikut tersenyum.
“Um….aku juga mengerti sekarang~ tidak ada orang lain yang lebih baik selain dirimu untuk bisa ada disampingku.” Balas kim bum. So eun tersenyum menatap kim bum lalu ia kembali memakan teoppeokinya yang masih tersisa.
“So eun-ssi….” panggil kim bum. So eun menoleh dengan mulut yang sibuk mengunyah. Ia melihat kim bum mendekat ke arahnya dengan mulut yang sedikit terbuka.
“Eh? Apa yang kau lakukan? Kenapa mulutmu terbuka seperti itu?” Tanya so eun bingung. Rupanya ia belum faham apa maksud kim bum membuka mulutnya seperti itu.
“Aku membuka mulutku karena aku punya maksud !” Balas kim bum kesal karena so eun yang tidak mengerti dengan maksudnya.
“Eh…? Ah ya aku mengerti, lalu apa?” Tanya so eun, rupanya ia masih belum faham juga.
“Itu !” Dengan kesal kim bum pun menunjuk teoppeoki yang berada di atas paha so eun.
So eun menatap mengikuti arah tangan kim bum.
“Apa kau mau menyuapiku?” Tanya kim bum.
“Eehhh!?” So eun terkejut. Benarkah apa yang baru saja ia dengar? Kim bum memintanya untuk menyuapinya?
“T…tapi….bukankah kau membenci hal-hal yang seperti ini?” Tanya so eun memastikan.
“Sangat jelas sekali jika aku membencinya. Tapi, bukankah hal yang seperti itu yang ingin kau lakukan, kan?” Tanya balik kim bum. So eun menatap kim bum dengan tatapan tidak menyangka.
“Jika kau mengerti, cepat suapi aku teoppeoki itu !” Pinta kim bum.
“Ah….a..arasseo…” so eun segera menyumpit teoppeokinya.
“A…apakah aku juga harus mengatakan ‘ahh~’? Tanya so eun.
“Ya, terserah padamu.” Balas kim bum. Pipi so eun terasa panas dan memerah kini. Ini adalah yang pertama kalinya ia menyuapi kim bum.
“Ahh~…” ucap so eun lalu ia pun menyuapi teoppeoki itu kepada kim bum. Kim bum dengan cepat melahapnya.
“Ternyata melakukan hal yang seperti ini sangat memalukan.” Ujar so eun. Pipinya masih memerah dan terasa semakin panas saja.
“Kau bukan satu-satunya yang merasa seperti itu. Aku berkali-kali lipat merasa malu dibanding kau.” Balas kim bum. So eun menahan tawanya hingga akhirnya ia pun tak bisa menahannya lagi.
“Ekekekkkkkkkekekkk…” so eun menutupi wajahnya yang merah itu dengan tangannya sambil tertawa senang.
“Tapi…..aku benar-benar sangat senang kekekkkkekk…..” ujarnya.
“Kenapa kau begitu merasa senang hanya karena hal seperti ini?” Tanya kim bum seraya bangkit dari duduknya.
“Tapi aku benar-benar senaaang~” balas so eun yang tidak bisa menyembunyikan senyumnya yang lebar lagi.
“Meskipun kau membencinya, tapi kau masih mau melakukannya untukku ! Aku benar-benar senang~” lanjutnya. Kim bum menatap so eun lalu menyunggingkan senyum setelahnya.
“Jika kau senang itu juga sudah cukup membuatku senang.” Ujar kim bum pelan.
“Ne?” Tanya so eun. Rupanya ia tak mendengar dengan jelas apa yang baru saja kim bum katakan.
“Sudah waktunya kita pulang, kajja !” Ajak kim bum lalu berjalan lebih dulu dari so eun. So eun tersenyum lalu segera mensejajarkan langkahya dengan kim bum.
“Boleh aku menggenggam tanganmu?” Pinta so eun.
“Tidak boleh!” Tolak kim bum.
“Kalau begitu hanya menggandeng lenganmu? Boleh ya?” So eun menunjukkan wajah memelasnya.
“Terserah~” balas kim bum. Akhirnya so eun pun menggandeng lengan kim bum dengan erat dan tak henti-hentinya ia tersenyum. Kim bum juga menyunggingkan senyumnya untuk itu.

 

Hanya aku yang menyukai kim bum-ssi, dan dia yang menyukaiku. Itu sudah cukup membuatku senang. Sebelumnya mungkin aku terlalu terobsesi untuk melakukan hal-hal romantis seperti pasangan kekasih lain. Tapi sekarang, tidak peduli apa yang kita lakukan, atau kemana kita pergi, selama kita baik-baik saja dan merasa nyaman satu sama lain. Aku rasa, itu lebih baik.

To Be Continued

Mian jika ceritanya kurang memuaskan, saya harap kalian menyukainya.

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya.

Today, Love Is Begin PART 11

Today, Love Is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

 

PART 11

 

“So eun-ssi mianhae, sepertinya dompetku tertinggal di kelas, aku akan kembali untuk mencarinya. Aku tidak akan lama, tunggu sebentar!” Ujar woo bin. So eun menghela nafasnya.
“jika kau tidak menemukan dompetmu, maka aku akan meminjamkan uang lagi padamu !” Balas so eun.
“Gwaenchana hahaha, isi dompetku lumayan banyak. Jadi kau tidak perlu meminjamkan uangmu lagi.” Ujar woo bin. “Baiklah, tunggu sebentar so eun-ssi.” Pinta woo bin. So eun mengangguk. Lalu woo bin pun berlari-lari kecil kembali menuju kelasnya. So eun memilih menunggu di tempat loker. Ia menyenderkan tubuhnya di lemari loker itu seraya menunggu woo bin kembali. Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat, so eun pun menegakkan tubuhnya.
“Woo bin-ssi, ternyata kau cepat sekali !” So eun kaget karena ternyata yang datang bukanlah woo bin, tapi kim bum. Tatapan mereka bertemu.
“Siapa yang kau panggil woo bin?” Tanya kim bum lalu ia berhenti tepat di hadapan so eun.
“M…mianhae, aku salah orang.” Balas so eun dengan kepala yang di tekuk. Ia tidak sanggup melihat wajah kim bum sekarang ini. Lalu tanpa banyak bicara lagi, kim bum melanjutkan langkahnya melewati so eun.
‘Aku baik-baik saja ! Aku baik-baik saja seperti ini.’ Batin so eun

Kenapa semuanya berakhir seperti ini? Apakah setelah aku memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai peliharaanmu, tidakkah terpikirkan olehmu sama sekali untuk mengatakan padaku jika kau sebenarnya menyukaiku? Aku memang terlalu banyak berharap, tapi setelah apa yang aku dengar sendiri, tentang apa yang keluar dari mulutmu, sekarang aku mengerti, jika kau sama sekali tidak memikirkanku sebagai seorang perempuan, bahwa selama ini kau merasa terganggu karena kehadiranku. Aku mengerti meskipun harus menahan rasa sakit yang bergejolak di dalam sini. Di dalam hatiku.

 

-today love is begin-

 

So eun berangkat sekolah bersama dengan nirin. Ia tak sengaja bertemu dengan nirin di halte dan pada akhirnya mereka berangkat bersama. Mata so eun terlihat bengkak setelah ia menangis semalaman. Sikapnya pagi ini juga tak bersemangat seperti biasanya. Nirin menatap khawatir so eun yang sedari tadi hanya melamun saja di dalam bus.
“So eun-ah.” Panggil Nirin. “Apa kau baik-baik saja?” Tannyanya khawatir.
So eun menoleh ke arah nirin yang duduk di sebelahnya. “Aku?” So eun menunjuk dirinya sendiri. “Hahaha memangnya ada apa denganku?” So eun tertawa hambar seraya menepuk bahu nirin. So eun mencoba menyembunyikan perasaannya yang benar-benar terluka saat ini. Nirin mengerutkan keningnya dan menatap so eun curiga.
“Sesuatu telah terjadi padamu dan kim bum-ssi?” Tanya nirin lagi. Ia menatap so eun dengan tatapan mengharap jawaban dari sahabatnya itu. So eun yang tadinya mencoba mengumbar senyum langsung mngubah ekspresinya itu 180 derajat. Ia menghela nafasnya.
“Benar kan?” Tanya nirin memastikan.
“Aku sedang tidak ingin membicarakannya nirin-ah. Mian~.” Balas so eun tanpa menatap sedikit pun ke arah nirin. Nirin memegang pundak so eun.
“Kau begitu menyukainya hingga kau banyak merasakan luka di hatimu so eun-ah, apakah kau akan baik-baik saja jika terus seperti ini?” Tanya nirin. Ia memang tidak memaksa so en untuk bercerita tapi setidaknya ia ingin mencoba menghibur so eun sedikit meskipun ia sendiri bukanlah tipe orang yang bisa menghibur orang dengan baik. “apakah kau tidak pernah berpikir untuk menyerah saja, so eun-ah? Sudah lama kau menyukainya tapi aku lihat sikap kim bum-ssi masih tetap seperti itu kepadamu.” Lanjut nirin. Nirin mendengar desahan nafas so eun seakan-akan so eun juga sudah lelah dengan semuanya.
“Nirin-ah….” panggil so eun. Nirin menatap so eun seraya menunggu kelanjutan ucapan so eun.
“Aku…..sudah menyerah.” Lanjut so eun. Nirin terdiam mendengarnya. “Aku juga….sudah lelah.” Tambahnya.
“So eun-ah.” Nirin mengusap pundak so eun.
“Meskipun aku sudah memutuskan, tapi…..aku masih saja merasa menyesal ! Aku rasa….aku sudah tidak beres nirin-ah.” Ujar so eun dengan lemas.
“So eun-ah, masih banyak laki-laki yang lebih baik dari kim bum-ssi. Percaya padaku !” Balas nirin. So eun sedikit menyunggingkan senyumnya pada nirin.
“Aku ini seperti burung yang baru saja menetas.” Ujar so eun.
“Huh?” Nirin menatap so eun tidak mengerti.
“Meskipun aku merasa menyesal. Tapi, sekarang ini aku menikmati kehidupanku yang bebas seperti burung yang baru saja menetas.” Jelas so eun. Nirin tersenyum mendengarnya.
“Akhirnya kim bum-ssi melepaskanku, aku juga tidak perlu melanjutkan tentang kebohonganku kepada semua teman-teman, setidaknya itu sedikit membuatku lega.” Jelasnya, tampaknya suasana hati so eun sudah sedikit membaik sekarang.
“Yeah yeah….jadi kau pun tak perlu memangis lagi sekarang, oke !” Balas nirin. So eun menatap nirin. Lalu mereka pun tertawa bersama. Setidaknya, mendapati sahabatnya ada di dekatnya, so eun merasa terhibur dan senang. Satu-satunya yang bisa membuat so eun lupa soal hatinya yang sedang terluka. Mulai hari ini, so eun sudah berniat untuk memulai hidup yang baru. Siapa tahu ia akan mendapat cinta yang baru?

 

-today love is begin-

 

So eun sedang berada di lapangan bersama dengan semua teman satu kelasnya. Siang hari ini adalah jadwal pelajaran olah raga. Olah raga yang di mainkan adalah lari estapet sejauh 600 meter. Semua murid di kelas di bagi menjadi 10 kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan 4 orang. So eun menerima bagian paling awal, yaitu lari pertama kali sejauh 150 meter seraya membawa sebuah tongkat sepanjang 30 cm untuk ia berikan kepada teman satu timnya. So eun yang biasanya paling bersemangat dalam pelajaran olah raga, kali ini terasa berbeda, terbukti karena ia adalah pelari ke dua paling bontot dari kelompok lainnya. Setelah so eun memberikan tongkat pada teman satu timnya, so eun pun pergi ke pinggir lapangan lalu mengistirahatkan dirinya disana.
“So eun-ah….” so eun melihat kim woo bin berlari-lari kecil ke arahnya seraya melambaik-lambaikan tangannya. So eun tersenyum dan membalas melambaikan tangannya.
“hosh….hosh…..” woo bin mengambil napasnya dalam-dalam, ia memegang ke dua lututnya. So eun tertawa melihat woo bin yang seperti itu.
“Apa yang membuatmu lari-lari seperti itu woo bin-ssi?” Tanya so eun. Woo bin tidak langsung menjawab, ia malah duduk di samping so eun.
“Aku membawakan ini untukmu hehehe.” Balas woo bin seraya menyerahkan botol minuman isotonik kepada so eun. So eun menatap botol minuman itu lalu mengambilnya.
“Padahal kau tidak usah membuat dirimu repot, lagipula aku tidak memintanya.” Ujar so eun.
“Gwaenchana~ aku hanya sedang ingin berbuat baik saja kepadamu hehehe.” Balas woo bin. So eun tersnyum.
“Gomawoyo woo bin-ssi, aku menerimanya dengan senaaang hahaha.” So eun tertawa lalu meneguk minuman isotonik itu.
“Ehh woo bin-ssi, kenapa kau bisa ada di luar? Pelajaran apa sekarang?” Tanya so eun.
“Kim seonsaengnim keluar kelas lebih awal, dan aku melihat kelasmu sedang olah raga jadi aku kemari untuk menemuimu hehehe.” Woo bin menggaruk tengkuknya.
“Ah begitu rupanya.” So eun mengangguk-anggukan kepalanya.
“Ummm~ So eun-ssi.” Panggil woo bin. So eun menoleh.
“apakah…..tidak apa-apa sekarang setelah kau memutuskan untuk…..”
“Aniyo, aku sangat baik-baik saja woo bin-ssi. Jangan coba untuk mengingatkanku tentang hal itu karena aku sedang mencoba untuk melupakannya.” Balas so eun. Nadanya terdengar biasa-biasa saja, tapi entahlah dengan keadaan hatinya. Woo bin tersenyum.
“Aku senang mendengarnya, aku senang jika so eun-ssi bisa tersenyum seperti itu.” Ujar woo bin. Woo bin memang laki-laki yang ramah dan memahami perasaan orang lain dengan baik.
“Aku juga senang karena kau begitu baik padaku, aku yakin semua orang juga menyadari itu.” Balas so eun. Woo bin tersenyum malu mendengarnya. Wajahnya merona merah.
“Kau terlalu memujiku so eun-ssi.” Ujarnya.
“Hahahaha.” So eun tertawa. Melihat so eun yang sepertinya sudah baik-baik saja membuat woo bin jadi ikut senang. Ia pun tertawa bersama so eun.
Tanpa mereka sadari, ternyata ada empat pasang mata yang sedang memperhatikan mereka dengan tatapan curiga.
“Kau lihat itu kan? So eun dan laki-laki itu?” Tanya bo young pada hye rim.
“Benar, so eun memang benar-benar sudah mengkhianati kim bum-ssi.” Balas hye rim.
“Ugh~ sebenarnya apa yang ada di dalam otak so eun sampai dia rela meninggalkan kim bum-ssi demi laki-laki itu? Aku jadi kesal sendiri melihatnya. Kim bum-ssi itu jauh lebih baik ! Dia populer dan digilai banyak perempuan, sedangkan laki-laki itu? Jika aku menjadi so eun, pasti aku tidak akan pernah melakukan hal itu !” Ujar bo young panjang lebar. Ia bahkan sampai meremas botol air mineral yang ada di tangannya.
“Aku jadi penasaran, bagaimana keadaan kim bum-ssi sekarang ini?” Gumam hye rim.
“Hmmm~ aku juga, sepertinya kita harus mengintrogasi so eun tentang hal ini ! Aku butuh penjelasan kenapa so eun-ssi memutuskan hubungannya dengan kim bum-ssi.” Balas bo young.
“Mwo? Apa yang baru saja kalian bicarakan?” Tanya min ah teman satu kelas mereka yang tak sengaja mendengar obrolan bo young dan hye rim.
“Kalian bilang hubungan so eun-ssi dan kim bum-ssi berakhir?!” Pekiknya. Min ah bahkan menutup mulutnya karena saking tidak percaya. Bo young dan hye rim saling tatap lalu tatapan mereka beralih pada min ah. Mereka pun mengangguk.
“OMO ! jadi benar?” Pekik min ah.
“Yak ! Apa kau tidak lihat so eun-ssi sedang mengobrol dengan akrab bersama laki-laki lain sekarang?” Hye rim kesal karena min ah ikut campur ke dalam obrolan mereka. Min ah menatap mereka tidak mengerti, lalu bo young menunjuk ke arah so eun dan woo bin yang masih asyik mengobrol.
“Aigo !” Min ah menutup mulutnya lalu ia segera lari ke kerumunan teman-teman yang lain.
“Hubungan so eun-ssi dan kim bum-ssi sudah berakhir !” Teriak min ah pada teman-teman yang lain, membuat mereka langsung mengerumuni min ah dan berbisik-bisik. Di antara mereka ada yang biasa saja menanggapinya, ada yang kecewa, ada pula yang merasa senang, terutama para perempuan yang mengagumi kim bum. Hal ini pun menjadi obrolan hangat di antara mereka. Sementara itu, so eun dan woo bin pergi dari tempat dan berjalan bersama menuju kantin karena waktu istirahat sebentar lagi. Mereka tidak menyadari kericuhan di antara teman-temannya yang berbisik-bisik tentang mereka karena mereka keburu pergi.

 

-today love is begin-

 

So eun dan woo bin masih asik mengobrol sambil mereka berjalan menuju kantin. So eun tampak nyaman mengobrol bersama woo bin dan woo bin pun terlihat tidak terlalu canggung saat mengobrol bersama so eun kini. Ia juga jadi banyak bicara tak seperti biasanya. Berbicara dengan woo bin setidaknya bisa membuat so eun sedikit melupakan kim bum
“Ah ya so eun-ssi…” panggil woo bin.
“Ne?” Tanya so eun.
“Um~ sebenarnya aku malu untuk mengatakannya, tapi….”
“Tidak usah malu padaku woo bin-ssi, katakan saja ! Memangnya ada apa?” Tanya so eun. Woo bin terlihat memain-main kan jarinya.
“Um~ apa….apa pada hari minggu kau punya waktu, so eun-ssi?” Tanya woo bin.
“Minggu?” Gumam so eun seraya mengerutkan keningnya mengingat-ingat apakah ia bebas di hari minggu atau tidak.
“Aku ada waktu, waeyo?” Tanya so eun.
“Aku…ingin mengajakmu jalan-jalan heheh, itu pun jika kau mau.” Woo bin menggaruk-garuk tengkuknya untuk menghilangkan rasa gerogi yang menyergapnya.
“Eiiii~ sudah ada kemajuan darimu woo bin-ssi?” So eun menyenggol lengan woo bin dengan sikutnya.
“Kau sudah berani mengajak bermain orang lain setelah kau berani menyapa banyak orang, kemajuan yang bagus !” So eun mengacungkan jempolnya. Woo bin hanya menyunggingkan senyum canggungnya.
“Baiklah ! Ayo kita pergi di hari minggu ! Lagipula akan sangat membosankan jika aku diam di rumah.” Dengan senang so eun menerima ajakan woo bin. Senyum di bibir woo bin pun mengembang, raut bahagia dari wajahnya tidak bisa di sembunyikan.
“Terimakasih so eun-ssi ! Aku pasti akan membuatmu senang nanti hehe.” Balas woo bin.
“Aku pegang janjimu itu !” Ujar so eun, lalu ia tertawa. Woo bin juga ikut tertawa. Ia senang karena sekarang so eun sudah banyak tersenyum dan tertawa tidak seperti beberapa hari yang lalu.
“Ah….” tiba-tiba woo bin menghentikan langkahnya.
“Wae?” Tanya so eun bingung. Ia menatap woo bin bingung lalu mengikuti arah pandangan woo bin. Ia mendapati kim bum sedang bersama dengan seorang perempuan. Mereka berdua sedang berdiri di dekat taman sekolah.
‘Kim bum-ssi…..dan seorang perempuan….’ batin so eun.
So eun langsung berbalik arah dan mendorong tubuh woo bin untuk ikut berbalik juga.
“palli palli woo bin-ssi kita harus kembali! Aku rasa aku meninggalkan sesuatu !” So eun masih saja mendorong-dorong punggung woo bin.
‘Apa yang sedang mereka lakukan? Kenapa aku merasa suasana di antara mereka seperti suasana……..a..apakah kim bum-ssi sedang mengungkapkan perasaannya pada gadis itu? A..atau….sebaliknya?’ Pikir so eun.
“Palli woo bin-ssi !” Kini so eun berhenti mendorong tubuh woo bin dan berjalan lebih dulu dari woo bin dengan langkah lebar dan cepat. So eun tak memerhatikan langkahnya karena pikirannya sedang dipenuhi oleh dugaan-dugaan tentang kenapa kim bum bisa berduaan dengan seorang perempuan hingga kaki so eun pun tersandung sesuatu.
“KYAAAAA~” triak so eun. Blug~ so eun pun terjatuh ke tanah.
Kim bum menajamkan pendengarannya saat ia mendengar teriakan seseorang, suara seseorang yang sangat tidak asing di telinganya.
“SO EUN-SSI !” teriak woo bin lalu ia pun segera berlari menghampiri so eun yang kini tengah berusaha bangkit untuk duduk.
Mendengar nama so eun, kim bum langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara, dan ia melihat woo bin sedang membantu so eun untuk duduk.
“So eun-ssi, kau tidak apa-apa?” Tanya woo bin cemas.
“ouch~” so eun meringis seraya memegangi lututnya. Matanya sampai berkaca-kaca menahan sakit.
“Lututmu berdarah !” Pekik woo bin.
“Aku tidak menyadari ada batu di depanku.” Ujar so eun.
“Ayo cepat kita ke ruang kesehatan !” Woo bin membantu so eun berdiri dan memapahnya menuju ruang kesehatan. Kim bum melihat langkah so eun tertatih-tatih.
“kim bum-ssi.” Suara ga in-teman satu club karya ilmiahya menyadarkan kim bum.
“Ah….” Kim bum memalingkan wajahnya dari so eun dan ia kembali menatap ga in.
“Terimakasih atas kerja samanya, aku akan menyampaikan proposal yang kau buat kepada pembimbing.” Ujar ga in.
“Eoh.” Kim bum mengangguk.
“Kalau begitu aku duluan.” Ujar ga in lalu pergi meninggalkan kim bum. Setelah ga in pergi, kim bum kembali mengarahkan pandangannya ke tempat tadi so eun berada, tapi kini so eun sudah menghilang.

 

-today love is begin-

 

“Huh? Dokternya tidak ada disini?” Tanya so eun.
“Ne, aku akan mencarinya setelah membersihkan lukamu.” Balas woo bin lalu ia pun mengambil kotak P3K yang tersimpan di atas rak peralatan kesehatan.
Kini Woo bin tengah mencoba untuk membersihkan luka so eun dengan antiseptik. Tangannya tampak gemetar karena ia belum pernah melakukan hal ini sebelumnya.
“Gwaenchana woo bin-ssi, biar aku saja.” Tolak so eun.
“Aniya~ aku bisa melakukannya.” Balas woo bin. Ia mengoleskan antiseptik di luka so eun dengan hati-hati.
“Ouch~” so eun mencoba menahan perih akibat reaksi dari antiseptik itu.
“M..mian.” ujar woo bin, dengan tangan yang cukup gemetar woo bin pun menempelkan plaster di lutut so eun.
“Selesai !” Woo bin pun membereskan kotak P3K itu dan menyimpannya kembali ke tempat asal. Ia lalu mencuci tanganya yang habis mengobati so eun. “Baiklah kalau begitu aku akan mencoba mencari dokter, kau tunggu disini so eun-ssi.” Ujar woo bin.
“Tidak usah woo bin-ssi, lagi pula lukanya tidak terlalu parah.” Tolak so eun.
“Tidak bisa so eun-ssi ! Jika lukamu tidak ditangani oleh dokter bagaimana jika terjadi infeksi? Itu akan jadi masalah !” Kekeuh woo bin. “Aku akan mencari dokter dan memanggilnya ke sini.” Ujar woo bin.
“terimakasih woo bin-ssi.” So eun mengalah. Woo bin mengangguk lalu bergegas keluar dari ruang kesehatan.
So eun menghembuskan nafas beratnya setelah woo bin pergi. Ia memegangi kepalanya. “Apa yang baru saja aku lakukan? Kenapa begitu ceroboh?” Gumamnya.
Sreeeekkk~ tiba-tiba pintu ruang kesehatan terbuka. So eun kaget bukan main karena yang masuk adalah kim bum. Mata mereka bertemu tapi cepat-cepat so eun memalingkan wajahnya dan memilih untuk menunduk. Kim bum lalu berjalan mendekat menuju lemari penyimpanan obat. Lemari itu terletak di sudut ruangan di dekat pintu masuk.
‘K..kenapa dia kemari? Ke..kenapa disaat aku ada disini dia harus datang? Eoteohkae? Apakah dia sakit?’ Batin so eun. Ia tak sedikit pun berani mengangkat kepalanya.
Sementara itu, kim bum sendiri tengah mencari obat sakit kepala di rak penyimpanan obat itu. Tak tahu ia memang benar-benar sedang sakit kepala atau hanya sebagai alibi saja.
‘Eotteohkae? Jika dia tidak cepat-cepat pergi, suasana disini akan terasa sangat canggung ! Cepat kau pergi jika sudah selesai kim sang bum !’ So eun berteriak di dalam hatinya. Pasalnya, ia sedang tidak ingin berhadapan dengan kim bum saat ini.
“Apa yang terjadi dengan itu?” Tanya kim bum. Membuat so eun langsung mengangkat kepalanya.
“Eh?” Bingungnya.
“Lututmu.” Balas kim bum. So eun melihat ke tempat kim bum berdiri, dan kim bum masih sibuk mencari obat-obatan.
“I..itu…tadi aku tidak hati-hati saat berjalan jadi aku….”
“Heh….itu memang dirimu ! Kau memang tidak pernah berubah sedikit pun.” Kim bum memotong perkataan so eun.
“Eh?” So eun menatap punggung kim bum dengan wajah bingung.
“Kau begitu ceroboh dan membuat orang lain repot !” Ujar kim bum.
“Diam kau !” Balas so eun. “Meskipun aku seperti itu, tapi tetap saja masih ada orang yang menyukaiku! ” lanjutnya. Kini so eun berubah menjadi kesal karena kim bum yang memancingnya lebih dulu.
“Pasti orang itu hanyalah orang yang tidak punya pikiran jernih.” Balas kim bum enteng.
“Dan asal kau tahu, mulai saat ini aku akan menolak orang yang merasa bahwa hanya dirinyalah yang terbaik dari semua orang dan selalu meremehkan orang lain !” So eun tidak ingin kalah dari kim bum.
“Sebenarnya siapa yang sedang kau coba bicarakan?” Tanya kim bum, ia merasa tersindir. So eun diam, ia tidak menjawabnya.
Hening~ tak ada lagi percakapan di antara mereka, membuat suasana menjadi canggung kembali.
“Jadi, bagaimana hubunganmu dengan laki-laki itu?” Tanya kim bum, membuka kembali obrolan.
“Hubungan kami? Kami baik-baik saja !” Balas so eun dengan sedikit nada sombong di setiap ucapannya.
“Heh~ jadi kalian berkencan huh?” Tanya kim bum lagi.
“Bagaimana dengan dirimu sendiri? Setelah aku pergi, bukankah kau jadi punya banyak pilihan untuk memilih perempuan-perempuan yang kau sukai?” Balas so eun.
“Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu sebelumnya? Dari awal, aku tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu !” Kim bum menjawabnya dengan nada dingin, membuat so eun terdiam setelahnya. Tak ada pembicaraan lagi di antara mereka. Sedari tadi so eun menunggu woo bin pun, orang yang di tunggu-tunggu tak kunjung datang. Suasana akan menjadi lebih tidak nyaman jika so eun terus berada disini.
“Hahaha….” so eun berdiri dari duduknya sambil tertawa hambar. “Ternyata sama, kau juga tidak berubah.” Ujar so eun.
“Haaah~ menunggu disini pun tidak ada gunanya, dokter belum juga datang. Baiklah kalau begitu aku pergi.” So eun berjalan tertatih-tatih menuju pintu. Namun tiba-tiba kim bum menghadangnya, membuat langkah so eun terhenti. Kim bum meletakan sebelah tangannya ke dinding sedangkan satu tangannya ia masukan ke dalam saku celana. Kim bum menatap lurus ke mata so eun. So eun membalas tatapan itu dengan mata yang menggambarkan kekagetan.
“Apa kau…..menyukai laki-laki itu?” Tanya kim bum. Ia masih menatap lurus tepat ke mata so eun. Sedangkan so eun kini menurunkan tatapannya dan lebih memilih menatap ke arah dada kim bum.
“itu tidak ada urusannya denganmu, kan?” Balas so eun.
“Jika kau tidak menjawabku dengan jelas, itu berarti kau tidak menyukai huh. Apakah tidak apa-apa kau selalu di dekat laki-laki itu? Aku merasa kasihan kepadanya, kau tahu?” Ujar kim bum, ia sama sekali tidak melepaskan tatapannya kepada so eun. So eun belum mau menjawab.
“Kenapa kau…..”
“Kalau begitu bagaimana dengan perkataanmu sebelumnya?” Tanya kim bum. Kini so eun kembali menatap kim bum. “Bukankah kau bilang dia itu baik dan peduli tentang perasaanmu, bahkan dia itu lebih baik dariku?” Lanjut kim bum. “Bukan tidak mungkin kau akan jatuh cinta pada laki-laki itu, kan? Ataukah kau sudah menyukainya sekarang ini?”
“Aku tidak tahu tentang itu ! Tapi…….” so eun menggantungkan kalimatnya. Kim bum menatap so eun dengan serius. “Tapi aku juga ingin menyukainya ! Itu….itulah yang sedang aku pikirkan sekarang !” Jawab so eun dengan intonasi yang lumayan keras. Mata kim bum membulat mendengarnya.
“BUKANKAH SEKARANG KAU DAN AKU HANYALAH ORANG YANG TIDAK SALING MENGENAL?” ujar so eun dengan nada yang cukup tinggi. “LALU KENAPA KAU MENGIKUTIKU KEMARI? BUKANKAH AKAN LEBIH BAIK JIKA KAU MENINGGALKANKU DISINI SENDIRIAN!?” lanjutnya. “JIKA KAU HANYA MENCOBA UNTUK MEMBUNUH WAKTU, MASIH BANYAK PEREMPUAN LAIN YANG BISA KAU MANFAATKAN, BENAR KAN!?” teriak so eun. Ia ingin mengeluarkan kekesalannya di depan kim bum saat ini. So eun marah karena kim bum tak juga berubah, mulut kim bum masih saja mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Kim bum benar-benar hanya bisa diam setelah melihat so eun teriak-teriak di depannya.
“So eun-ssi miaaan aku sudah membuatmu menunggu lama, dokternya sedang rapat sekarang jadi…….” perkataan woo bin terhenti karena melihat so eun yang sedang bersama kim bum saat ini. Tanpa pikir panjang so eun langsung menghampiri woo bin.
“Terimakasih woo bin-ssi, tapi lututku benar-benar tidak apa-apa. Ayo kita pergi !” So eun menarik lengan woo bin lalu pergi meninggalkan kim bum yang masih mematung di dalam.

 

-today love is begin-

 

So eun pulang bersama nirin kali ini, tidak seperti biasanya yang selalu pulang bersama dengan kim bum.
“So eun-ah kau sudah mendengarnya?” Tanya nirin. So eun menatap nirin dengan wajah bingung.
“Mendengar apa maksudmu?” Tanya balik so eun.
“Tentang kau dan kim woo bin, semuanya sudah menjadi bahan gosip di sekolah ! Semua orang membicarakannya !” Jawab nirin. So eun menampakan keterkejutannya setelah mendengar apa yang dikatakan nirin. Tapi sedetik kemudian ia kembali ke ekspresi wajah yang normal.
“Tidak apa, setidaknya mereka jadi tahu bahwa aku dan kim bum-ssi tidak ada hubungan lagi.” Balas so eun.
“Tapi…..apakah yang mereka bicarakan benar?” Tanya nirin.”mwo?” Tanya balik so eun.
“Kau berhubungan dengan kim woo bin saat ini?” Tanya nirin.
“Kau percaya pada gosip? Bukankah kau adalah orang yang paling anti tentang hal itu?” Ujar so eun.
“Bukannya begitu, aku hanya khawatir, kau baik-baik saja dengan gosip itu?” Tanya nirin.
“Jangan terlalu cemas padaku nirin-ah.” Balas so eun. Nirin menghela nafasnya. “Tapi kim bum-ssi sangat terganggu dengan gosip itu, kau tahu?” Ujar nirin.
“Heeh, aku tidak ingin tahu ! Lagi pula bukankah kau bilang padaku masih banyak laki-laki lain yang lebih baik? Aku rasa, woo bin-ssi adalah orang yang benar-benar baik. Aku senang berteman dengannya.” Jelas so eun.
Nirin angguk-angguk. “Jika itu membuatmu senang, aku tidak bisa melakukan apa-apa.” Balas nirin.
“Dia juga mengajakku jalan-jalan hari minggu nanti.” Cerita so eun.
“Kim woo bin-ssi?” Pekik nirin. Ia sedikit terkejut karena pasalnya yang ia tahu saat satu kelas bersama woo bin di kelas sepuluh woo bin bukanlah laki-laki yang terbilang berani. Dan sekarang so eun bilang woo bin mengajaknya jalan-jalan.
“Kau menerima ajakannya?” Tanya nirin. So eun mengangguk.
“Dia adalah orang yang benar-benar baik, dan dia benar-benar peduli tentang perasaanku. Jadi aku tidak bisa menolaknya.” Balas so eun. Nirin menatap so eun.
“Lagi pula bukan tidak mungkin jika aku bisa menyukai woo bin-ssi, terlebih woo bin-ssi bilang jika dia akan menungguku hingga aku bisa memutuskan siapa yang akan aku pilih.” Jelas so eun.
“Dia telah menyatakan perasaannya padamu?” Kaget nirin. So eun mengangguk. “Aku ingin menyukainya, tapi rasanya sangat sulit.” Balas so eun.
“so eun-ah, jika kau memberikan woo bin-ssi terlalu banyak harapan dan membuatnya menunggu lama untuk mendengar keputusanmu, aku rasa….itu akan menyakitkan untuknya, kan? Kau pasti memahami perasaan seperti itu kan?” Ujar nirin. So eun terdiam mendengarnya. “Kim woo bin-ssi juga sangat menyedihkan, kau tahu? Akan lebih baik jika kau segera memutuskan pilihanmu, meskipun itu sulit untukmu.” Saran nirin. So eu masih diam, ia mencoba untuk memikirkan kata-kata nirin.
“Apa kau mengerti?” Tanya nirin. “Ya.” Balas so eun akhirnya.
‘Seperti yang nirin katakan, akan lebih baik jika aku tidak memberikannya banyak harapan. Aku benar-benar jahat huh? Aku harus segera memutuskan pilihanku’ batin so eun.

 

-today love is begin-

 

Hari minggu

 

Ya, hari ini adalah hari dimana so eun dan woo bin akan pergi jalan-jalan sebagaimana dengan yang sudah di rencanakan. So eun memakai kaos berwarna pink dibalut dengan sweater warna biru langit dan celana pensil. Ia tampak sederhana namun tak sedikitpun mengurangi wajahnya yang cantik alami. So eun bergegas menuju halte di dekat gapjong cake-toko roti dimana sudah ada woo bin yang menunggu disana.
“so eun-ssi !” Woo bin melambaik-lambaikan tangannya saat ia melihat so eun menyebrangi jalan. So eun membalas lambaian woo bin.
“Kau sudah lama menungguku?” Tanya so eun setelah ia berada di hadapan woo bin.
“A…aniya, aku juga baru saja tiba hehehe.” Woo bin menggaruk tengkuknya.
“Baiklah kalau begitu, kita pergi sekarang?” Tanya so eun. Woo bin mengangguk dengan semangat. Mereka pun naik bus yang baru saja berhenti. Mereka akan pergi ke Zone Park dan tujuan pertama jalan-jalan mereka adalah ke museum, woo bin memang tidak pandai memilih tempat karena ini adalah yang pertamakalinya bagi woo bin mengajak seorang perempuan jalan-jalan. Ia belum tahu apa yang disukai perempuan.
Setelah sampai, mereka pun langsung masuk ke dalam museum dan melihat-lihat benda peninggalan berharga pada masa jeoseon disana. Woo bin tampak gembira saat ia melihat benda-benda peninggalan sejarah itu. Tapi berbeda dengan so eun, sedari tadi ia tampak tidak bersemangat dan hanya melamun saja. Setelah puas berkeliling-keliling melihat peninggalan berharga di museum, mereka pun pergi menuju aquarium besar yang tempatnya tak jauh dari tempat mereka berada sekarang- Aquarium EST. Tempat rekreasi ini memperlihatkan ribuan biota air laut yang benar-benar menangumkan. Di mulai ikan-ikan kecil lucu yang berwarna-warni hingga ikan hiu yang besar.
“So eun-ssi lihatlah ! Bukankah warna ikan itu sangat cantik?” Ujar woo bin seraya menunjuk ikan nemo yang berenang-renang di dekat karang laut.
“Yeah cantik.” Balas so eun seadanya, bahkan ia tak sedikitpun melihat ke arah ikat nemo itu. Menyadari ekspresi so eun yang seperti itu woo bin pun menatap so eun dengan khawatir.
“So eun-ssi? Apa kau lelah? Haruskan kita beristirahat sebentar? Atau haruskah aku membelikanmu minuman?” Tawar woo bin dengan ramahnya.
“Eeeh? Mian mian, aku baik-baik saja !” So eun langsung menggibas-gibaskan tangannya.
“Ikan-ikannya sangat cantik dan airnya sangat jernih, jadi aku merasa terpukau hingga aku……”
“Aku mengerti.” Potong woo bin.
“Ah ! Lihatlah lihatlah woo bin-ssi ! Mereka juga sangat cantik !” So eun berjalan lebih dulu meninggalkan woo bin menuju aquarium dimana terdapat ikan jenis moorish idol dengan semangat. Entahlah ia memang benar-benar bersemangat atau hanya akting belaka agar tidak membuat woo bin kecewa. Woo bin pun mengikuti so eun untuk melihatnya.
“Meskipun di dalam tidak banyak pengunjung, tapi ternyata di luar banyak sekali orang-orang huh, apakah karena hari ini hari minggu makanya banyak orang yang jalan-jalan.” Ujar so eun setelah mereka keluar dari aquarium EST.
“Sepertinya begitu.” Balas woo bin.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menangkap mereka sedang berjalan bersama. Orang itu tampak terkejut dan menampakkan wajah bengongnya tanpa melepaskan pandangannya saat melihat so eun dengan laki-laki lain.
“itu….so eun-ssi?” Gumam orang itu. Orang itu melihat so eun tengah asik mengobrol sambil sesekali tertawa.
“Yak il woo-ya ! Ada apa? Kenapa kau berhenti? Ayo cepat kita pergi !” Panggil teman-temannya. Ya, kebetulan il woo dan teman-temannya dari satu kelasnya juga bermain di tempat yang sama dengan tempat yang dikunjungi oleh so eun dan woo bin. Tanpa berpikir panjang, il woo pun lalu kembali menghampiri teman-temannya.

 

-today love is begin-

 

Kim bum sedang berdiam diri di apartemennya. Ia duduk di sopa seraya membaca buku tentang peradaban dunia. Ia menopang dagunya seraya membuka lembar demi lembar halaman buku itu dengan malas. Entah kenapa ia tidak bisa fokus membaca sekarang.
BUKANKAH SEKARANG KAU DAN AKU HANYALAH ORANG YANG TIDAK SALING MENGENAL? LALU KENAPA KAU MENGIKUTIKU KEMARI? BUKANKAH AKAN LEBIH BAIK JIKA KAU MENINGGALKANKU DISINI SENDIRIAN!? JIKA KAU HANYA MENCOBA UNTUK MEMBUNUH WAKTU, MASIH BANYAK PEREMPUAN LAIN YANG BISA KAU MANFAATKAN, BENAR KAN!?
Perkataan so eun dan ekpresi wajahnya saat itu terus saja terngiang di kepalanya. Ia tidak bisa melupakannya. Dengan kesal kim bum pun menutup buku tentang peradaban dunia itu lalu melemparnya ke atas meja. Setelah itu ia membaringkan tubuhnya di sopa dengan satu tangan yang ia angkat untuk menutupi sebagian wajahnya. Kim bum mencoba memejamkan matanya tapi terlalu banyak hal-hal yang ia pikirkan sehingga ia sulit untuk tidur. Tiba-tiba ponselnya berdering, kim bum mendesah lalu dengan malas-malasan ia bangkit dari sopanya dan mengambil ponsel yang ia simpan di atas meja. Terteta nama jung il woo di layar ponselnya. Ternyata il woo yang memanggilnya.
“Yeobosaeyo?” Jawab kim bum saat pertama kalinmengangkat telpon.
“YAK ! SEBENARNYA APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?” kim bum langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya karena tiba-tiba il woo berteriak begitu saja di telpon.
“Yak ! Apa kau mencoba merusak gendang telingaku!? Balas kim bum dengan kesal.
“AKU TIDAK PEDULI APA YANG AKAN TERJADI DENGAN TELINGAMU !” Kim bum mengerutkan keningnya. Sebenarnya ada urusan apa il woo menghubunginya malam seperti ini?
“YANG PENTING SEKARANG ADALAH AKU MELIHAT SO EUN-SSI DI ZONE PARK ! DIA BERSAMA DENGAN LAKI-LAKI LAIN !” kim bum terdiam mendengarnya.
“Aku berpikir untuk memanggilnya, tapi teman-temanku sudah mengajakku untuk segera pergi. Dan kau tahu? AKU MELIHAT MEREKA BEGITU AKRAB SATU SAMA LAIN DAN…..” kim bum langsung mematikan ponselnya tanpa mendengarkan kelanjutan ucapan il woo lebih jelas. Kim bum tampak terdiam seraya memikirkan sesuatu. Mimik wajahnya terlihat serius.

 

-today love is begin-

 

Tut tut tut~
“Eh? OI…..BUM-AH !” teriak il woo karena kim bum tiba-tiba memutuskan sambungan telpon secara sepihak.
“Yak il woo-ya ! Apa kau belum juga selesai?” Ujar teman-temannya yang ternyata sedari tadi menunggu il woo yang sengaja menelpon kim bum untuk meberitahu soal so eun yang sedang bersama laki-laki lain.
“Ah….sudah, mian~” balas il woo lalu memasukan ponselnya ke dalam saku jaket. Ia kembali menghampiri teman-temannya.

“So eun-ssi, apa kau senang hari ini?Sebenarnya aku takut tempat yang sudah aku rencanakan untuk dikunjungi tidak membuatmu senang.” Woo bin menggaruk tengkuknya.
“Aniya~ tentu saja aku senang ! Semuanya cukup membuatku senang hehehehe. Terimakasih woo bin-ssi.” Balas so eun.
“Syukurlah kalau begitu.” Balas woo bin, ia tersenyum. “Sebenarnya….aku melakukan ini semua karena untuk membuatmu senang. Terimkasih karena kau sudah tersenyum di dekatku.” Lanjut woo bin. So eun menatap woo bin tidak percaya.
“Ah aku malu mengatakannya~” woo bin mengusap-usap pundaknya.
‘Apakah sekarang saatnya? Woo bin-ssi benar-benar perhatian padaku, aku harus mengingat perkataan nirin, aku tidak boleh membuatnya terlalu banyak berharap, itu akan membuat woo bin-ssi kecewa’ batin so eun. So eun mengepalkan tangannya kuat. Bagaimana pun juga ia harus mengatakan keputusannya sekarang.
“Woo bin-ssi.” So eun memegang lengan woo bin. “Aku punya sesuatu yang sangat penting yang harus aku katakan padamu !” Ujarnya. Woo bin menatap so eun dengan wajah bingung. So eun menatap woo bin cukup lama tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
‘Jika aku memilih woo bin-ssi, aku yakin dia tidak akan pernah menyakitiku. Dia akan selalu perhatian dan peduli padaku. Dia juga tidak akan membuatku menangis’ batinnya.
“Woo bin-ssi, aku……..” perkataan so eun menggantung. Disaat ia sudah memutuskan untuk memilih woo bin, kenapa tiba-tiba ia teringat lagi dengan kim bum? Tiba-tiba saja sosok kim bum muncul dipikirannya. Wajah kim bum yang tengah marah, tatapannya, dan kini senyumnya. So eun memejamkan matanya. “mianhae~” lanjut so eun akhirnya.
“Meskipun aku sudah berusaha, tapi aku benar-benar tidak bisa menjawab perasaanmu woo bin-ssi, maafkan aku…..” ujar so eun. “Aku sepertinya masih….aku masih menyukai kim bum-ssi meskipun aku sudah susah payah untuk berusaha melupakannya.” Lanjut so eun. Woo bin tak berkedip sedikit pun menatap so eun.
“Sebenarnya aku ingin bisa jatuh cinta pada woo bin-ssi dan menemukan cinta yang baru. Tapi aku benar-benar tidak bisa melupakan laki-laki itu. Aku menyukaimu juga woo bin-ssi, tapi kau adalah teman yang sangat baik untukku, yang selalu peduli pada perasaanku. Aku benar-benar minta maaf.” So eun membungkukkan badannya pada woo bin.
“Aku tidak apa-apa so eun-ssi !” Balas woo bin. “Karena aku mengungkapkan perasaanku disaat kau masih berhubungan dengan kim bum-ssi.” Lanjutnya.
“Mianhae woo bin-ssi.” Ujar so eun sekali lagi.
“Kau tidak perlu minta maaf so eun-ssi ! Aku hanya tidak ingin melihatmu sedih. Pada akhirnya, perasaan so eun-ssi tidak berubah juga pada kim bum-ssi, aku rasa itu tidak bisa tertolong. Mianhae~ pasti aku sudah membuatmu bingung setelah waktu itu aku berkata padamu jika aku akan menunggu. Mianhae~.” Kini malah giliran woo bin yang minta maaf.
“Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah memberikanmu harapan yang sia-sia.” Balas so eun.
Woo bin malah tersenyum. “Meskipun so eun-ssi tidak memilihku. Tapi aku senang karena yang aku sukai adalah so eun-ssi. Jadi….terimakasih.” ujar woo bin.
“Woo bin-ssi….” so eun terharu. Matanya mulai berkaca-kaca. “Kau menang orang yang sangat baik~” ujar so eun. Woo bin tersenyum. Tapi senyumnya kini terhenti saat ia melihat sosok kim bum yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka.
“Ini pasti sudah takdir untukmu, so eun-ssi.” Ujar woo bin yang kini kembali tersenyum. So eun menatap woo bin tidak mengerti lalu mengikuti arah pandangan mata woo bin.
So eun terkejut, matanya sukses membulat. Bahkan mulutnya pun sedikit terbuka karena saking tidak percayanya. Ia tak mengedipkan matanya sedikitpun karena yang tertangkap oleh indera penglihatannya saat ini adalah kim bum. Kim bum yang tengah berjalan mendekat ke arah mereka dengan tatapan lurus menatap so eun.
So eun masih belum berkedip hingga kim bum menarik tangannya untuk mendekat.
“Aku datang untuk membawa perempuan ini. Bolehkah?” Tanya kim bum pada woo bin. So eun masih belum bisa sadar sepenuhnya dengan kejadian yang tak disangka-sangka ini. Woo bin menatap kim bum lalu tersenyum padanya.
“Kali ini, mohon perlakukanlah so eun-ssi dengan lebih baik.” Balas woo bin. Kim bum sedikit menyunggingkan senyumnya pada woo bin lalu ia pun menarik tangan so eun dan membawa so eun pergi bersamanya. Kini so eun sudah sadar, ini bukan halusinasi. Laki-laki yang sedang manarik tangannya adalah kim bun.
“K…kim bum-ssi ! Lepaskan aku !” Pinta so eun. Tapi kim bum tak mendengarkan, ia masih menarik so eun.
“Kim bum-ssi….wae? Lepaskan tanganku !” Kini so eun berusaha berontak tapi kim bum malah semakin mengeratkan genggaman tangannya di pergelangan tangan so eun.
“Wae? Kenapa kau membawaku pergi? Bukankah seharusnya kau melepaskanku dan meninggalkanku sendirian disini? Ketika aku pergi bukankah kau tidak akan pernah merasa menyesal sedikitpun? Bukankah kau senang karena aku tak lagi mengganggumu? Waeee? Ceritakan padaku kenapa kau tiba-tiba……”
“Kau benar-benar punya mulut yang banyak bicara !” Kim bum menarik tangan so eun hingga tubuhnya mendekat lalu mengunci mulut so eun dengan bibirnya. Mata so eun membulat sempurna karena tindakan kim bum yang tidak diduga ini. Kim bum bahkan menahan kepala so eun dengan tangannya. Benarkah ini? Kim bum menciumnya?

kbkse33

Perlahan kim bum pun melepaskan ciumannya. Ia menatap lurus mata so eun dengan serius.
“Kau mengerti sekarang? Jadi berhentilah bertanya ‘kenapa’ !” Ujar kim bum. Wajah so eun masih menampakkan ekspresi kaget hingga sekarang. Namun tiba-tiba matanya berkaca-kaca.
“ANIYO ! AKU TIDAK MENGERTI !” balas so eun. Genangan air sudah muncul di bawah matanya. “AKU TIDAK MENGERTI ! SAMPAI SEKARANG AKU BENAR-BENAR BELUM MENGERTI !” teriak so eun. Air matanya jatuh seakarang.
“Sikapmu ! Sikapmu masih tetap kasar dan tidak berperasaan ! Kau selalu berkata semaumu padaku bahkan kau melihatku dengan tatapan yang kejam ! APAKAH KAU PIKIR AKU INI ORANG YANG BISA SEENAKNYA KAU PERMAINKAN? AKU SUDAH MUAK DENGAN SEMUANYA ! AKU SUDAH LELAH !” so eun akhirnya menangis di depan kim bum. Kim bum terkejut melihatnya tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa sekarang.
“AGAR AKU BISA MENGERTI DAN PAHAM, COBA KATAKANLAH SEMUANYA DENGAN JELAS !” Teriak so eun, tangisannya semakin deras saja. Kim bum diam beberapa saat tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
“Sudah aku katakan sebelumnya bahwa kau adalah milikku. Itu adalah disaat kau memintaku untuk menjadi pacar palsumu, kan? Tapi sekarang berbeda.” Jelas kim bum. So eun menatap kim bum kini, tangisnya sudah cukup mereda.
“Sekarang kau tidak sesederhana untuk membunuh waktu atau semacamnya.” Lanjut kim bum.
“Lalu? Dengan kata lain?” Tanya so eun.
Kim bum mengerutkan keningnya, memperlihatkan ekspresi wajahnya yang kelihatan tidak nyaman.
“Jadi…..ini adalah….ini adalah apa yang biasa oleh orang-orang sebut sebagai ‘suka’ mungkin.” Jawab kim bum akhirnya. So eun menatap kim bum tanpa berkedip sedikitpun. “Wae? Apakah aku salah?” Tanya kim bum. Bukannya menjawab, so eun malah menatap kim bum dengan mata yang berkaca-kaca hendak mengeluarkan kembali air mata.

“Kau sedang tidak berbohong, kan?” tanya so eun. “kau tidak percaya padaku?” tanya balik kim bum. “bukan seperti itu…..aku hanya……aku hanya takut kau sedang mempermainkanku lagi, aku takut semua yang kau katakan barusan itu ternyata hanya lelucon lagi, aku takut……” Air mata so eun kini kembali membasahi pipinya. Melihat so eun kembali menangis, membuat kim bum tidak tega. Ia menatap so eun dengan tatapan yang teduh, tidak seperti tatapan sebelumnya. “apa yang harus aku lakukan agar kau percaya?” kim bum memegang kedua pipi so eun dan menghapus air matanya. So eun menatap kim bum dengan matanya yang sembab. Tidak tahu kenapa, air matanya malah jatuh kembali, so eun tidak bisa menahannya. Semua yang ia rasakan terlalu campur aduk, antara kesal, sedih, senang, semuanya bercampur menjadi satu.
“Kenapa….kenapa baru sekarang?” tangis so eun. Kim bum masih menatap so eun dengan tatapan teduh dan lembut. “kenapa baru sekarang kau menyadarinya? Hiks….hiks…..” Kim bum kembali menghapus air mata so eun.
“Hikss….hiksss….Selama ini kau sudah benar-benar membuatku bingung ! Hikss…..” Karena so eun yang tak juga berhenti menangis, kim bum pun menarik tubuh so eun dan mengusap-usap kepalanya.
“Menangislah ! Menangislah sesukamu !” Ujar kim bum. Bukannya menyuruh so eun berhenti menangis, ia malah menyuruh so eun untuk menangis. Sementara itu, so eun masih menangis di dada kim bum.
“Apakah itu artinya kau dan aku berkencan sungguhan sekarang ini?” tanya so eun.
“Baiklah~ Kau bisa menganggapnya seperti itu.” Balas kim bum. So eun tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya lagi saat ini. Ia langsung melebarkan tangannya dan memeluk kim bum dengan erat.
“Kau tidak akan marah aku memelukmu seperti ini?” Tanya so eun.
“Um~ yeah yeah, terserah~ lakukan saja apa yang kau mau.” Balas kim bum yang kemudian kedua tangannya pun kini melingkar di tubuh so eun meskipun pelukannya tidak seerat yang dilakukan so eun.

 

Aku tidak ingin melupakan malam ini. Perjuanganku selama ini akhirnya berakhir di malam ini. Dia bahkan menciumku dan mengaku jika dia juga menyukaiku meskipun cara mengungkapkan perasaannya itu tidaklah manis menurut ukuranku. Tapi aku senang, hasilnya berbuah manis. Akhirnya hari ini pun cinta dimulai.

To Be Continued

Mian jika ceritanya kurang memuaskan, tapi saya harap kalian menyukainya.

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya.

Today, Love Is Begin PART 10

Today, Love Is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

 

PART 10
“Ah….” kaget so eun. Tapi untung saja ada seseorang yang menahan lengannya. So eun sendiri cukup kaget ia hampir saja terjatuh.
“So eun-ssi, gwaenchana?” Tanya woo bin. Ternyata ia yang membantu so eun.
“Apa kau baik-baik saja so eun-ssi? Berhati-hatilah ! Perhatikan langkahmu !” Ujar woo bin.
“M…mian.” balas so eun lemas. Ia masih belum bisa fokus sekarang.
“Kau baik-baik saja?” Tanya woo bin sekali lagi. “Kau kelihatan berbeda so eun-ssi.”
“Benarkah?” Tanya so eun dengan nada lemas. Woo bin menatap so eun khawatir.
“Apakah sesuatu telah terjadi? Kau bisa menceritakannya kepadaku, aku akan mendengarnya.” Tawar woo bin.
“Anio, aku baik-baik saja.” Balas so eun.
“Meskipun aku bukanlah orang yang pandai memberikan solusi, tapi aku akan mendengarkan semuanya dengan baik ! Aku akan mencoba membantumu jika aku bisa melakukannya.” Ujar woo bin.
“Karena kau sudah banyak menolongku, jadi aku juga ingin menolongmu ! Aku akan melakukannya agar bisa membuatmu senang !” Woo bin masih berusaha menawarkan dirinya untuk mendengarkan masalah apa yang terjadi pada so eun.
So eun terdiam beberapa lama seraya menatap woo bin.
“Hahah….” so eun tertawa hambar, ia berusaha menyembunyikan ekpresi wajahnya yang sedih. “Kau sangat baik huh, kim woo bin-ssi…..” ujarnya. Kini so eun tidak bisa menahannya lagi. Air matanya pun jatuh dengan seketika. Ia menangis, membuat woo bin kaget dan bingung apa yang harus ia lakukan.
Tangisan so eun semakin deras. “Aku benci….aku benci coklat !” ujarnya.

Aku sudah berusaha. Tapi kenapa akhirnya menjadi seperti ini? Aku benci jika semua yang sudah aku usahakan tidak berjalan indah sesuai dengan yang aku harapakan. Akankah hubunganku yang palsu ini akan terus berlanjut ataukah hanya sampai disini saja?

 

-today love is begin-

 

“MWO??? Kau menolak coklat darinya!?” Pekik jung il woo setelah ia berusaha keras memaksa kim bum untuk bercerita kepadanya mengenai hubungan kim bum dengan so eun sekarang. Tapi setelah kim bum membuka mulutnya, kim bum malah bercerita tentang penolakan sebuah coklat.
“Laki-laki macam apa kau ! Segera temui so eun-ssi dan minta maaf padanya sekarang juga !” Titah il woo. Saat ini il woo sedang ada di apartemen kim bum, berkunjung tanpa diminta dan mengotori tempat tidurnya. Kim bum menghela nafasnya lalu meneguk jus jeruk yang tersimpan di atas meja.
“Kenapa harus aku yang melakukannya? Itu adalah kesalahannya karena sudah membuatku kesal !” Balas kim bum dengan egoisnya. Disaat keadaan seperti ini ia malah masih berpikiran bahwa yang telah ia lakukan pada so eun bukan salahnya.
“Aku yakin so eun-ssi punya alasan lain kenapa dia memberikan coklat itu kepada laki-laki lain. Apakah kau mendengarkan alasan so eun-ssi dengan jelas?” Balas il woo. Dirinya begitu antusias dengan hubungan sahabatnya itu.
“Jikapun aku mendengarkannya, pada akhirnya aku hanya akan marah !” Balas kim bum. Wajahnya kini terlihat sedikit frustasi. Il woo menatap kim bum dengan tatapan menyelidik, lalu ia mendekatkan wajahnya pada kim bum seraya tersenyum penuh arti. Kim bum mengerutkan keningnya melihat perilaku il woo seraya sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang.
“Apakah kau tidak merasa jika caramu berbicara terasa berbeda, bum-ah?” Goda il woo. Kim bum semakin mengerutkan keningnya.
“Lihatlah ! aura wajahmu, gaya bicaramu, dan tatapan matamu menggambarkan jika kau sedang merasa cemburu ! Eiii…..” il woo menyikut tubuh kim bum dengan lengannya.
“Siapa yang yang kau maksud sedang cemburu?” Balas kim bum tidak terima.
“Apakah kau pikir hanya karena peliharaanku itu mengkhianati pemiliknya, maka aku harus merasa cemburu?” Lanjutnya. Il woo geleng-geleng kepala.
“Boleh aku jujur? Caramu berbicara benar-benar tidak lucu ! Kau benar-benar bo-doh soal perasaan wanita !” Ujar il woo seraya menunjuk-nunjuk kepalanya dengan telunjuknya.
“Kau merasa bahwa tidak ada cara untuk so eun-ssi bisa pergi dari sisimu, benar kan?” Tebak il woo.
“Semua kata-kata yang keluar dari mulutmu dan semua yang telah kau lakukan padanya, tidakkah kau berpikir itu terlalu kasar?” Lanjut il woo. Kim bum hanya bisa diam dan mendengarkan perkataan il woo.
“Kau tahu kau bukanlah satu-satunya lelaki di dunia ini, kan? Jika kau terus bersikap seperti itu entah sampai kapan, so eun-ssi juga pasti akan meninggalkanmu, kau tahu?” Jelas il woo. Perkataannya kali ini benar-benar serius. Kim bum terdiam.
“Aku benar kan?” Tanya il woo.
“Ketika itu terjadi, apakah kau tidak akan merasa menyesal?”
Kim bum masih menatap il woo dalam diam, lalu ia menghela nafasnya. “Jadi, itu semua yang ingin kau katakan kepadaku?” Akhirnya kim bum membuka suaranya. Kini ia menatap il woo dengan tatapan kesal.
“Ah sejujurnya aku juga tidak tahu.” Balas il woo cepat lalu memakan keripik kentang yang ada di hadapannya.

 

-today love is begin-

 

So eun sedang duduk di bangku di dekat taman sekolah bersama kim woo bin. Setelah tadi ia tiba-tiba menangis, woo bin panik dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Maka dari itu woo bin pun mengajak so eun untuk duduk dan membelikan sebotol air mineral untuk so eun. Setelah menerima air mineral itu, so eun membukanya dengan perlahan dan meminumnya sedikit. Masih ada sisa genangan air di bawah matanya.
“Apakah kau sudah merasa tenang?” Tanya woo bin hati-hati. Ia benar-benar canggung jika berhadapan dengan perempuan yang habis menangis. So eun mengangguk. Tapi tiba-tiba, tanpa diminta air matanya itu jatuh lagi.
“Hiks hiks….mian~ tiba-tiba saja air mataku…..aku juga tidak tahu alasan hiks kenapa aku menangis seperti ini.” Ujar so eun seraya berusaha menghapus air mata dengan punggung tangannya. Woo bin lagi-lagi panik. Ia pun memegang pundak so eun.
“A…ani…jika kau ingin menangis, menangislah ! A..aku tidak apa-apa.” Balas woo bin. So eun malah memangis semakin kencang sekarang, ia tidak tahu bagaimana ia bisa menghentikannya, dan ia meluapkan semua sesuka hatinya sekarang. “Huaaa hiks….hiks….hiks….”
Sementara itu, woo bin hanya bisa mengunci mulutnya diam-diam. Ia tak berani menganggu so eun yang sedang menangis. Ia menatap ke depan sambil sesekali melihat ke arah so eun. Setelah beberapa menit kemudian akhirnya so eun pun berhenti memangis. Woo bin menatap ke arah so eun untuk memastikan.
“Gomawo woo bin-ssi….aku sudah lebih baik sekarang.” Ujar so eun seraya menghapus sisa genangan air di bawah matanya.
“Um~ me…melihatmu menangis seperti ini. Mungkinkah sesuatu telah terjadi antara so eun-ssi dengan kekasih so eun-ssi?” Tanya woo bin. So eun langsung menatap ke arah woo bin.
“E…eh? Bagaimana kau bisa tahu?” Tanya so eun. Tebakan woo bin tidak melenceng sedikitpun dari apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan kim bum.
“I..itu…itu karena tadi kau bilang kau benci coklat. Apakah itu gara-gara coklat yang kau buat itu?” Tanya woo bin. So eun lalu memalingkan wajahnya dari woo bin, dan memilih untuk menundukkan kepalanya.
“Itu……” so eun menggantungkan ucapannya. ‘Mana mungkin aku mengatakan kalau dia marah karena gara-gara aku memberikannya satu kepada woo bin-ssi, apalagi dia sudah menghina woo bin-ssi.’ Batin so eun. Woo bin menunggu kelanjutan jawaban dari so eun, tapi so eun malah membuat ekpresi kesal di wajahnya.
‘Terkadang aku jadi benci pada laki-laki itu ! Kenapa dia tidak hanya menerima saja coklat dariku? Gggrrr….bukankah dia sendiri yang sudah mengatakan akan memakan apapun dariku asalkan itu bisa dimakan? GGggrrrr…..’
Menatap so eun yang terus saja menampakkan ekpresi marah, membuat woo bin menelan ludahnya. Ia menatap hati-hati pada so eun.
“WOOOAAAH ! DIA SANGAT TIDAK MASUK AKAAAALL !” So eun berteriak dengan kesal seraya meremas-remas tangannya. Jujur saja, ini membuat woo bin sedikit takut. Ia bisa melihat sisi lain dari kim so eun sekarang ini.
“WOOOOAH AKU KESAL SEKALI ! KESAL SEKALIII !” bukan tangannya lagi yang ia remas-remas, kini so eun malah menarik kerah baju woo bin seakan-akan so eun akan mencekiknya dan memakannya. Woo bin benar-benar takut sekarang.
“S..so…so eun-ssi.” Panggil woo bin pelan. Setelah sadar bahwa ia baru saja meluapkan kekesalannya pada woo bin, bahkan hingga menarik kerah baju woo bin. So eun pun langsung melepaskan tangannya itu.
“W…woo bin-ssi, mianhae~” ujar so eun dengan wajah yang kelihatan shock karena apa yang baru saja ia perbuat.
“G..gwaenchana.” balas woo bin.
“Bagaimana ini? Aku pasti membuatmu takut, benar?” Tanya so eun. Woo bin menggeleng. “Aniyo.” Balasnya.
“Mian~ aku terlalu kesalnhingga aku pun jadi sedih.” So eun menundukkan kepalanya lagi.
“So eun-ssi…” woo bin memegang kedua pundak so eun. So eun menatap woo bin, matanya kembali berkaca-kaca dan hendak mengeluarkan air mata lagi.
” jika ada sesuatu yang membuatmu marah, atau sesuatu yang membuatmu sedih. Akan lebih baik jika kau menceritakan apa yang kau rasakan itu kepada seseorang. Meskipun hal itu tidak akan menyelesaikan masalah, tapi kau akan merasa lebih baik setelahnya !” Ujar woo bin. Ia menatap serius pada so eun. Ia peduli karena mengingat kebaikan so eun kepadanya.
“Woo bin-ssi.” Panggil so eun pelan.

 

-today love is begin-

 

“MARAH-MARAH DENGAN ALASAN YANG SANGAT KEKANAK-KANAKAN ! BUKANKAH DIA BENAR-BENAR TIDAK PUNYA PERASAAN? AKU BENAR-BENAR SEBAL DENGAN TIPE LELAKI SEPERTI ITU !!! DIA PIKIR DIA SIAPA? SELALU SEENAKNYA MELUAPKAN KEMARAHAN DENGAN ALASAN YANG TIDAK MASUK AKAL ! DASAR LAKI-LAKI YANG SELALU SALAH PAHAM !” So eun berteriak-teriak meluapkan segala kekesalannya tentang kim bum. Bahkan ia tidak peduli dengan woo bin yang duduk di hadapannya dan juga pengunjung di cafe yang memperhatikannya. Ya benar, saat ini so eun dan woo bin sedang berada di cafe di dekat Chungju Highschool. Woo bin sampai berkeringat dingin melihat so eun yang begitu emosi di depannya. Ia hanya diam tanpa berani berkutik.
“Mianhae….itu semua gara-gara aku mengambil coklatmu, kan?” Woo bin menundukkan kepalanya.
“ANIYO ! ANIYO ! INI SEMUA BUKAN SALAHMU ! KARENA SAMPAI SEKARANG AKU TIDAK PERNAH BERPIKIR BAHWA ITU ADALAH SALAH ! PADA KENYATAANNYA AKU SENANG KARENA DIA TIDAK MENERIMA COKLAT DARIKU ! ITU AKAN LEBIH BAIK DARI PADA AKU MEMBERIKAN COKLAT BUATANKU PADA LELAKI KEJAM SEPERTI DIA !” Nada bicara so eun masih tinggi, itu karena ia masih kesal dengan kim bum.
“L…laki-laki seperti kekasihmu, a…aku selalu mengira bahwa dia adalah laki-laki yang ramah.” Balas woo bin dengan pelan.
“MWO!? KAU SALAH ! SEBENARNYA DIA TIDAK SERAMAH YANG KAU PIKIRKAN ! DIA ITU HANYA BERAKTING DI DEPAN ORANG LAIN ! DIA BENAR-BENAAAAR TAK BERPERASAAN ! DA ADALAH LELAKI YANG BEGITU KELIHATAN NYAMAN SAAT MENGEJEKKU !” Balas so eun. Ia mengambil jeda sedikit, seraya mengambil udara banyak-banyak. Ia rasa meluapkan emosi sehebat ini cukup menguras tenaganya.
“Yaaah…meskipun dia punya sisi wajah yang tampan, tapi dia sudah sering membuatku menangis.” Nada bicara so eun mulai melemah. Ia menatap cangkir berisi coklat hangat di depannya.
“Dia sering mengganggu, dia sangat arogan, dan dia punya mulut yang benar-benar tajam. Mengatakan sesuatu sesuka hatinya yang bahkan dia tidak pernah berpikir bahwa apa yang dia katakan itu menyakiti orang lain.” Lanjut so eun. Woo bin menatap so eun iba.
“So eun-ssi, bolehkah aku mengatakan sesuatu?” Pinta woo bin. So eun menatap woo bin.
“Meskipun begitu, tapi so eun-ssi sangat menyukai kekasih so eun-ssi, kan?” Ujar woo bin. “Meskipun dia sering melakukan sesuatu yang kasar padamu, kenapa…….”
“Hey…..” so eun memotong perkataan woo bin. So eun memasang senyum lemasnya. “Aku penasaran, kenapa kau begitu pengertian woo bin-ssi? Kau memahami perasaan orang lain dengan baik.” Ujar so eun, ia lalu menopang dagunya dan mengaduk-aduk coklat hangat di atas meja dengan sendok.
“Mungkin akan lebih baik jika aku menyerah, benar kan?” Tanya so eun. Woo bin menatap so eun dengan kaget.
“Tiba-tiba aku memutuskan ini hanya karena aku sedang bermasalah dengannya. Meskipun aku sudah memikirkan cara ini, tapi kenapa aku masih belum bisa berhenti menyukainya?” Gumam so eun. “Hahaha….” tiba-tiba so eun tertawa hambar. Sebenarnya ia berusaha menyembunyikan dirinya yang hendak menangis lagi. Ia mencoba menahannya. Karena ternyata, menangis itu begitu melelahkan !
“So eun-ssi….” panggil woo bin. Woo bin menatap so eun dengan serius. So eun juga ikut menatap woo bin dengan tatapan seakan mengartikan ‘wae?’
“Apakah aku kurang baik?” Tanya woo bin pelan, kepalanya menunduk. Ia tidak berani menunjukkan wajahnya yang merah kepada so eun. So eun menatap woo bin dengan ekspresi bengong.
“Eh?”
“Jika dibandingkan dengan kekasihmu, jelas aku jauh dari kata keren, dan aku tidak lebih baik darinya, dari segi apapun. Tapi….yang bisa aku lakukan adalah aku tidak akan pernah membuat so eun-ssi menangis ataupun merasa sedih.” Ujar woo bin. Wajahnya sudah benar-benar merah padam untuk mengumpulkan keberanian mengatakan hal ini kepada so eun.
“Jika berkencan dengan kekasihmu sangat menyakitkan untukmu, jadi…..aku….aku akan selalu ada disini.” Lanjut woo bin.
“Eh? Woo bin-ssi….” ujar so eun. Ia masih belum bisa mencerna dengan baik perkataan woo bin. Apakah ini sebagai penyemangat? Ataukah sebagai pengakuan? So eun belum paham.
“Ah ! K..k..kau tidak perlu memberikan tanggapannya sekarang !” Woo bin mengangkat kedua tangannya di depan dada.
“Aku….aku harap kau memikirkannya terlebih dahulu dengan matang ! Pilihlah salah satu siapa yang akan membuat so eun-ssi merasa senang ! Aku tidak memaksa !” Lanjutnya. So eun malah semakin bengong menatap woo bin. Ia juga tidak tahu apa yang harus ia pikirkan nantinya.

 

-today love is begin-

 

So eun sedang tiduran di kasurnya. Sudah berkali-kali ia membenarkan posisi tidurnya tapi tak ada satu pun yang membuatnya nyaman. Ia juga terus-terusan memikirkan perkataan woo bin kepadanya tadi sore. Otaknya sedang dilanda kebingungan saat ini. Disisi lain ia ingin menghargai kebaikan woo bin, disisi lain entah kenapa ia juga tidak bisa melupakan perasaannya kepada kim bum. So eun merasa dirinya adalah perempuan terbodoh di dunia karena menyukai laki-laki kasar yang selalu mengeluarkan kata-kata tajam padanya.
So eun menghela nafasnya. “Apakah woo bin-ssi serius?” Gumam so eun.
“Aku benar-benar tidak menduganya…..tapi….mungkin saja itu serius, kan? Dia tidak kelihatan seperti orang yang suka bercanda. Tapi…..bagaimana ini?” So eun menatap langit-langit kamarnya.
“Sampai sekarang, kepalaku belum diisi oleh orang lain selain kim bum-ssi, aku bahkan belum pernah memikirkan lelaki lain selain kim bum-ssi. Jadi pilihan apa yang harus aku buat? Pilihan yang akan membuatku paling bahagia, huh?” Gumam so eun. Kini di langit-langit kamarnya pun dipenuhi oleh wajah kim bum yang berputar-putar.

 

-today love is begin-

 

Chungju Highschool
Di dalam kelas, kim bum sedang berdiri di dekat jendela seraya menatap ponselnya. Sudah berkali-kali ia mengecek layar ponselnya, tapi tetap saja tak ada juga pesan yang masuk.
“Tsk !” Kesalnya. Dari kemarin malam sebenarnya ia menunggu, menunggu pesan dari seseorang. Siapa lagi kalau bukan so eun. Bahkan tidurnya pun merasa terganggu karena kepalanya dipenuhi tentang alasan-alasan kenapa so eun tidak mengiriminya pesan seperti biasanya. Tiap menit selalu saja ada pesan yang masuk dari so eun yang membuat kim bum merasa terganggu. Tapi kini sebaliknya, ia merasa terganggu disaat tak ada satupun pesan yang masuk dari so eun.
“Kim bum-ssi….” panggil nirin. Kim bum langsung menoleh ke asal suara.
“Lee seonsaengnim memintamu untuk menemuinya di ruang guru sekarang !” Ujar nirin.
“Ah baiklah.” Balas kim bum lalu segera keluar dari kelasnya.
Kim bum berjalan menuju ruang guru yang berada di lantai bawah. Saat ia berbelok di koridor, ia melihat woo bin baru saja keluar dari kelasnya.
“Heh laki-laki itu…”gumam kim bum.
“Ah…” woo bin kaget karena saat ia memalingkan wajahnya, tepat ada kim bum yang tengah menatapnya.
“S…selamat siang.” Sapa woo bin canggung. Bukannya membalas, kim bum malah melewatinya dengan santai. Woo bin pun hanya menatap punggung kim bum dalam diam. Tapi kemudian, apa yang ada di dalam pikiran woo bin tidak bisa ia sembunyikan lagi. Ia harus membicarakannya dengan kim bum.
“Bolehkah…..kita bicara sebentar?” Pinta woo bin. Membuat kim bum menoleh dan menghentikan langkahnya.

 

-today love is begin-

 

So eun tengah berjalan di koridor seraya membawa kotak bekal di tangannya. Ia menghela nafas.
“Aku butuh ketenangan sekarang ini, makan sendirian di taman pasti akan membuat pikiranku lebih nyaman. Aku tidak bisa berpikir jernih jika teman-teman di kelas sangat berisik.” Gumamnya.
“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” So eun mendengar suara kim bum. Tapi kemudian ia geleng-geleng kepala. Pikirannya sedang kacau jadi mungkin itu hanya perasaannya saja.
“Bisakah kau mengatakannya dengan cepat? Aku tidak punya banyak waktu sekarang.”
So eun berbelok, dan matanya menangkap sosok kim bum dan woo bin sedang berdua di dekat tangga. So eun kaget, lalu ia memundurkan kembali langkahnya dan mengintip di balik dinding.
“Kim bum-ssi dan woo bin-ssi?” Pekik so eun.
“Aku….aku minta maaf.” Ujar woo bin. Kim bum menatap woo bin dengan tatapan tidak bersahabat seraya melipat kedua lengannya di dada.
‘Kenapa mereka berdua……’ pikir so eun. So eun semakin penasaran saja apa yang membuat kedua laki-laki itu bisa bersama? Terlebih lagi suasana yang terasa begitu tegang di antara mereka.
“Mengenai so eun-ssi…..” ujar woo bin menggantung. Mendengar nama so eun disebut, kim bum menatap woo bin dengan serius kini.
“Apakah kau benar-benar….dan sungguh-sungguh menyukainya?” Tanya woo bin. Jantung so eun jadi bedegup sangat cepat saat ia mendengar pertanyaan yang ditujukan woo bin kepada kim bum. Menanti jawaban apa yang akan diberikan kim bum membuat hatinya benar-benar tidak tenang. So eun memilih menyenderkan punggungnya pada dinding seraya memeluk kotak bekalnya.
“Mwo?” Tanya kim bum. “Apa yang aku rasakan kepada perempuan itu tidak ada hubungannya denganmu, kan?” Jawab kim bum enteng.
“K..kalau begitu, aku mohon katakan sesuatu padaku !” Pinta woo bin. Kim bum menatap woo bin tidak mengerti. “Meskipun kalian berdua sedang berkencan, tapi kenapa kau selalu bersikap kasar dan selalu menyakiti so eun-ssi?” Tanya woo bin, butuh keberanian yang besar baginya untuk mengatakan itu kepada kim bum.
“Apa yang kau tahu tentang diriku, heoh?” Tanya kim bum.
“So eun-ssi….kau tahu perasaannya sangat terluka, kan? Aku mengatakan ini karena aku paham hanya karena aku melihat dari luarnya saja.” Ujar woo bin.
“Kalau begitu, kenapa kau tidak mencoba untuk menghiburnya?” Balas kim bum enteng. Woo bin terdiam.
“Tsk….” kim bum mengeluarkan smirknya. “Aku sering melihat perempuan itu marah, kesal, malu, menangis hanya karena diriku. Aku jadi penasaran, kenapa dia belum juga menyerah.” Ujar kim bum. Ia hanya ingin membuat lelaki di depannya ini segera menyerah untuk berbicara tentang so eun. Tapi rupanya, perkatannya itu tanpa ia sadari telah sampai ke telinga so eun sendiri. So eun membulatkan matanya, ia tidak percaya. Woo bin sendiri mengepalkan tangannya karena kesal.
“Dia benar-benar perempuan yang berbeda. Melihat sesuatu seperti itu membuatku…..”
“Aku……” woo bin memotong perkataan kim bum. “Sejak kim so eun menolongku waktu itu, aku berpikir bahwa aku tertarik kepadanya karena sikapnya yang baik dan ramah padaku, tidak pernah ada seorang pun yang mengatakan padaku bahwa aku ini lelaki normal, tapi berbeda dengan kim so eun-ssi ! Setelah berpikir…..ternyata aku menyukai kim so eun-ssi !!! Aku mengungkapkan perasaanku kepadanya kemarin !” Mata kim bum sukses membulat mendengarnya.
“Aku masih menunggu jawab dari kim so eun-ssi !” Lanjutnya. Kim bum tidak berkedip sedikitpun. Apa yang baru saja diceritakan oleh lelaki di depannya membuatnya shock.
“Jika kau sungguh-sungguh menyukai kim so eun-ssi, kau pasti akan memperlakukannya dengan baik. Tapi sekarang semuanya sudah jelas, akan menyakitkan bagi so eun-ssi ketika dia bersamamu !” Woo bin sampai terengah-engah menyampaikan semua apa yang ada di kepalanya kepada kim bum.
Tatapan kim bum berubah menjadi tajam sekarang. “Jangan bicara seperti kau tahu semuanya !” Marahnya.
“Aku tidak mencoba untuk membanggakan diri sendiri, aku berbicara seperti ini karena aku adalah seorang laki-laki. Sebagai laki-laki, laki-laki manapun jika mereka memiliki seorag kekasih, mereka pasti akan melakukan segala cara agar membuat kekasihnya selalu tersenyum, kan?” Ujar woo bin serius, tatapannya pun kali ini tidak ingin kalah dari kim bum. “Tapi…untuk seseorang yang tidak memikirkan perasaan kim so eun-ssi dan hanya memperlakukannya sebagai suatu alat hanya untuk membuat dirinya sendiri itu senang, kau pasti tidak akan mengerti perasaannya, kan?” Kim bum semakin membulatkan matanya saja mendengar perkataan woo bin yang dikiranya cukup berani. Kim bum menggertakan giginya dengan kuat. So eun sendiri yang menguping di balik dinding ikut merasakan guncangan hebat di dalam hatinya.
“Tsk….kalau begitu kenapa kau tidak menjadi kekasih dia saja? Kau akan melakukan segala cara untuk membuatnya senang, kan?” Balas kim bum akhirnya. Ia berusaha mencoba menahan gejolak panas yang menerpa hatinya saat ini. Kini giliran woo bin yang diam.
“Haaah….” kim bum menghela nafasnya. “Berbicara denganmu membuang-buang waktu.” Ujarnya lalu berjalan melewati woo bin dan menuruni anak tangga.
“Kau tidak pernah sungguh-sungguh menyukai kim so eun-ssi, benar kan?” Langkah kim bum kembali terhenti. Ia memutar kepalanya menatap woo bin dengan tatapan geram.
“Dari awal, perempuan itu hanya salah satu cara bagiku untuk membunuh waktu ! Bahkan jika pun dia pergi dariku, aku tidak akan pernah merasa menyesal !” Marah kim bum. Lalu setelahnya ia pun melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga. So eun yang mendengar dengan jelas apa yang keluar dari mulut kim bum itu hanya bisa membuka mulutnya karena terkejut. Matanya juga membulat saking ia tidak percayanya, tatapannya pun kosong. Ia benar-benar tak habis pikir kim bum akan mengatakan hal semacam itu. Jika mungkin bisa, ia ingin membuat telinganya tuli saat ini juga.
Woo bin pun juga begitu, setelah kim bum pergi ia tak berkutik sedikit pun dari tempatnya. Ia menunduk dan berusaha mengintropeksi diri dengan apa yang baru saja ia katakan.
Perlahan woo bin pun berjalan menuju kelasnya kembali, namun ia terkejut karena melihat so eun tengah berdiri di balik dinding. Mungkinkah so eun mendengar semuanya?
“So eun-ssi.” Pekik woo bin. So eun tidak merespon. Semua yang ia dengar sedari tadi benar-benar membuatnya merasa lelah.
“K..kau…kau mendengar semuanya, so eun-ssi?” Tanya woo bin khawatir.
“W…woo bin-ssi.” Panggil so eun, ia menatap lantai, tatapannya kosong.
“Aku….sudah memutuskan.” Lanjutnya lemas.

 

-today love is begin-

 

Sepulang Sekolah
Kim bum baru saja keluar dari kelasnya. Beberapa murid perempuan manyapanya dan seperti biasa kim bum memasang senyum palsu terbaiknya.
“Kim bum-ssi.” Panggil seseorang. Kim bum menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang.
“So eun?” Ucap kim bum. So eun menatap kim bum dengan tatapan sayunya lalu berjalan mendekat ke arah kim bum dengan kepala yang di tekuk.
“Kau butuh sesuatu?” Tanya kim bum.
“Um…” so eun mengangguk. “Aku datang untuk memberitahumu.” Ujar so eun.
Perlahan so eun mengangkat wajahnya dan memasang senyum terbaiknya, senyum terbaik yang ia tunjukan untuk menyembunyikan bagaimana perasannya yang sebenarnya.
“Aku mengundurkan diri sebagai peliharaanmu !” Ujar so eun dengan wajah dibuat seceria mungkin. Seakan-akan saat ini ia sedang baik-baik saja. Kim bum membulatkan matanya.
“Terimakasih untuk semuanya hingga saat ini !” Lanjutnya.
“Ha?” Kim bum masih belum mengerti.
“Yang ingin aku coba untuk aku katakan adalah….kau tidak perlu lagi berpura-pura sebagai kekasihku ! Terkadang, aku merasa lelah terus seperti ini, banyak hal yang sudah terjadi dan itu semua tidak sedikit yang membuatku menghabiskan banyak tenaga dan pada akhirnya membuatku stress hehe.” So eun menggaruk-garuk pelipisnya yang tidak gatal. Kim bum hanya bisa menatap dan mendengarkan so eun saja.
“Um~ kepada kim bum-ssi juga, itu sudah cukup.” Lanjutnya. “Maaf karena aku terlalu berambisi dan sudah membuatmu merasa terganggu !” So eun kembali menundukkan kepalanya.
“Aku mengerti.” Akhirnya kim bum bersuara. Ia juga memasang senyum entah itu senyum palsu yang ia buat untuk menyembunyikan perasaan menyesalnya, ataukah senyum asli karena ia senang karena sudah terbebas dari so eun.
“Baiklah, jadi aku rasa mulai dari sekarang, kau dan aku hanya sebatas orang yang saling tidak mengenal saja.” Ujar kim bum.
“Ah ne.” Balas so eun. Tubuhnya bergetar sekarang, ia merasa tidak kuat lagi harus lama-lama berada di dekat kim bum.
“Ummm~ baiklah ! Itu semua yang ingin aku katakan. Aku berterimakasih atas semua yang telah kau lakukan untukku hingga saat ini.” So eun tiba-tiba bow di depan kim bum.
“Aku juga.” Balas kim bum tanpa balas membungkukkan badannya.
“Kalau begitu, annyeong !” So eun membalikan badannya dan melambaikan tangannya pada kim bum seraya memasang senyum terbaiknya. So eun pun pergi meninggalkan kim bum. Sementara itu, kim bum sendiri masih diam di tempatnya seraya menatap punggung so eun yang semakin menjauh.

 

-today love is begin-

 

So eun berjalan dengan langkah gontai. Ia bahkan tidak naik bus pulang sekolah kali ini, ia lebih memilih berjalan kaki menuju rumahnya yang cukup jauh. Tatapannya pun saat berjalan terlihat kosong, ia berpikir apakah yang sudah ia lakukan itu pilihan yang tepat? Tapi kenapa ia merasa menyesal setelah menyampaikan semuanya? Ia merasa jika ia begitu bodoh ! Hatinya terasa sangat sakit, sesak, bagaikan ada ribuan duri yang menancap disana. So eun tidak bisa menahannya, hingga akhirnya air matanya pun jatuh dengan deras. Tak pernah ia merasa sesakit ini sebelumnya.

 

-today love is begin-

 

Keesokan harinya, Chungju Highschool
Bel istirahat berbunyi, so eun berjalan keluar kelas dan memilih makan sendirian di taman daripada di kantin. Saat ini ia sedang tidak suka dengan keramaian. Bo young dan hye rim yang melihat hal itu merasa curiga. Kemudian mereka saling pandang.
“Apakah kau merasa beberapa hari ini so eun terlihat begitu murung?” Tanya bo young.
“Aku merasakannya.” Balas hye rim.
“Apakah jangan-jangan….hubungannya dengan kim bum-ssi sedang berada di ujung tanduk?” Pikir bo young.
“Molla~ tapi sepertinya begitu.” Balas hye rim. Bo young tampak berpikir, ia mengerutkan keningnya.
“Apa so eun-ssi mendapat lelaki lain sehingga membuat kim bum-ssi marah?” Tebaknya.
“Yak !” Hye rim memukul bo young dengan buku. “Itu tidak akan terjadi, kim bum-ssi adalah lelaki populer, mana mungkin so eun mengkhianatinya. Jika pun seperti itu kasusnya, mungkin kejadiannya terbalik.” Balas hye rim.
“Jadi maksudmu, kim bum-ssi yang memiliki perempuan lain!?” Pekik bo young.
“Hehhh….” hye rim langsung saja memasukan nasi ke dalam mulut bo young agar bo young berhenti bicara.

Saat berjalan di koridor, mata so eun menangkap sosok kim bum yang juga sedang berjalan berlawanan arah dengannya. So eun langsung saja menundukkan kepalanya hingga mereka berpapasan. Mereka bertemu tanpa saling menyapa benar-benar seperti orang yang tidak saling mengenal. Hal seperti ini membuat so eun canggung, tidak so eun saja, tapi rupanya kim bum pun merasakan hal yang sama.
“So eun-ssi.” So eun mengangkat kepalanya saat ada seseorang yang menyapanya. Di depannya berdiri woo bin dengan senyum yang cerah.
“Apa kau akan makan di luar?” Tanya woo bin.
“Ah ne.” Jawab so eun.
“Kalau begitu mari kita makan bersama, kebetulan aku juga bawa bekal.” Ajak woo bin. Mau tidak mau so eun pun menerimanya dan mereka memilih makan siang di dekat lapang olahraga. Mereka duduk di bangku yang menghadap lapangan hijau itu. Posisi itu sangat pas sekali dengan ruangan kelas kim bum di lantai dua. Pemandangan disana akan terlihat dengan jelas dari balik jendela. Apalagi posisi duduk kim bum yang berdampingan dengan jendela.
Kim bum tidak ada selera untuk makan istirahat kali ini, makanya ia memilih untuk membaca buku. Saat ia mengarahkan wajahnya ke arah jendela, tepat di bawah sana ia melihat so eun yang sedang makan siang bersama woo bin. Ia mendadak kesal dan hatinya terasa panas. Sampai-sampai ia menopang dagunya tanpa melepaskan penglihatannya kepada mereka di bawah sana.
“Kim bum-ssi~” dengan malas kim bum pun memutar kepalanya dan menatap seseorang yang memanggil namanya.
“Mwo?” Tanya kim bum dingin.
“Hehehehe…..aku membuatkan cupcake untukmu, maukah kau memakannya?” Tanya orang itu yang ternyata adalah teman sekelasnya. Kim bum menatap tajam cupcake yang dibawa perempuan itu.
“Jauhkan makanan itu!” Suruh kim bum.
“Eh?” Perempuan itu kaget.
“Jauhkan makanan itu sekarang juga dariku ! Aku tidak ingin melihat sesuatu yang menjijikan seperti itu !” Ujar kim bum dingin. Membuat perempuan itu ketakutan.
“M…mianhae…” ujarnya lalu segera menjauh dari kim bum. Kim bum pun kembali menatap ke luar jendela. Memperhatikan so eun dan juga lelaki itu dengan kesal.

“So eun-ssi…” panggilan woo bin membuat so eun tersadar dari lamunannya.
“Ah ne?” Tanya so eun langsung menatap woo bin.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya woo bin.
“Ah…hahaha ani…” balas so eun.
“Ah ya so eun-ssi, di dekat sini ada toko baru dimana kau bisa belanja sambil bermain selama 1 jam hanya dengan 3000 won !” Ujar woo bin.
“Jincha?” So eun berusaha memastikan. Woo bin mengangguk.
“Jika kau mau, ayo kita pergi kesana bersama-sama. Menghilangkan stress?” Tawar woo bin.
“Yah, aku rasa tidak buruk.” Balas so eun.
“Hehehe.” Woo bin tersenyum senang.

 

-today love is begin-

 

Bel pulang sudah berbunyi, woo bin yang keluar lebih dulu menunggu so eun di depan kelasnya.
“So eun-ssi.” Panggil woo bin seraya memamerkan senyumnya.
“Sekarang kita berangkat?” Tanya so eun membalas senyuman woo bin.
“Ne.” Balas woo bin.
“Baiklaaaah~ kajja untuk menghilangkan stress !” Ujar so eun dan berjalan lebih dulu meninggalkan woo bin. So eun membuat langkahnya seperti ia benar-benar sudah melupakan kim bum. Padahal ia sedang berusaha untuk melupakannya. Woo bin pun segera menyusul so eun. Hye rim dan bo young menyembulkan kepala mereka dari balik pintu kelas. Mereka melihat so eun dan woo bin yang sedang berjalan bersama.
“Ternyataaaa….yang mengkhianati itu adalah so eun !” Ujar bo young tak percaya. “Apa yang ada dipikiran so eun hingga ia lebih memilih laki-laki cupu seperti itu? Kim bum-ssi jauh lebih segalanya dibandingkan laki-laki itu !” Lanjutnya.
“Aku setuju.” Balas hye rim.

 

-today love is begin-

 

“So eun-ssi mianhae, sepertinya dompetku tertinggal di kelas, aku akan kembali untuk mencarinya. Aku tidak akan lama, tunggu sebentar!” Ujar woo bin. So eun menghela nafasnya.
“jika kau tidak menemukan dompetmu, maka aku akan meminjamkan uang lagi padamu !” Balas so eun.
“Gwaenchana hahaha, isi dompetku lumayan banyak. Jadi kau tidak perlu meminjamkan uangmu lagi.” Ujar woo bin. “Baiklah, tunggu sebentar so eun-ssi.” Pinta woo bin. So eun mengangguk. Lalu woo bin pun berlari-lari kecil kembali menuju kelasnya. So eun memilih menunggu di tempat loker. Ia menyenderkan tubuhnya di lemari loker itu seraya menunggu woo bin kembali. Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat, so eun pun menegakkan tubuhnya.
“Woo bin-ssi, ternyata kau cepat sekali !” So eun kaget karena ternyata yang datang bukanlah woo bin, tapi kim bum. Tatapan mereka bertemu.
“Siapa yang kau panggil woo bin?” Tanya kim bum lalu ia berhenti tepat di hadapan so eun.
“M…mianhae, aku salah orang.” Balas so eun dengan kepala yang di tekuk. Ia tidak sanggup melihat wajah kim bum sekarang ini. Lalu tanpa banyak bicara lagi, kim bum melanjutkan langkahnya melewati so eun.
‘Aku baik-baik saja ! Aku baik-baik saja seperti ini.’ Batin so eun

 

Kenapa semuanya berakhir seperti ini? Apakah setelah aku memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai peliharaanmu, tidakkah terpikirkan olehmu sama sekali untuk mengatakan padaku jika kau sebenarnya menyukaiku? Aku memang terlalu banyak berharap, tapi setelah apa yang aku dengar sendiri, tentang apa yang keluar dari mulutmu, sekarang aku mengerti, jika kau sama sekali tidak memikirkanku sebagai seorang perempuan, bahwa selama ini kau merasa terganggu karena kehadiranku. Aku mengerti meskipun harus menahan rasa sakit yang bergejolak di dalam sini. Di dalam hatiku.

 

To Be Continued

Mian jika ceritanya kurang memuaskan, tapi saya harap kalian menyukainya.

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya.

Today, Love Is Begin PART 9

Today, love is begin

kbkse110
Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

PART 9

“meskipun itu semua adalah alasanmu, tapi setidaknya kau menghubungiku dulu sebelumnya, jadi tak membuat orang lain repot. Aku sampai berfikir sesuatu yang buruk terjadi padamu.” Ujar kim bum.
“mian~” balas so eun.
Tiba-tiba kim bum mengulurkan tangannya ke arah so eun. So eun menatap kim bum tidak mengerti.
“berikan padaku !” perintah kim bum.
“huh?”
“kemarikan kantong plastik itu !”
So eun pun memberikan ke dua kantong plastik itu pada kim bum. So eun tak sengaja menyentuh tangan kim bum. Tangan kim bum sangat dingin, bahkan lebih dingin dari tangannya. Kim bum pun berbalik dan berjalan lebih dulu dari so eun.
“apakah dia sudah lama berada di luar hanya untuk mencariku?” gumam so eun seraya menatap punggung kim bum. “tangannya dingin sekali.”
“ayo cepat kita pulang ! aku hampir mati kedinginan, dan ini semua karena aku mengkhawatirkan peliharaanku yang bodoh !” ujar kim bum membalikkan tubuhnya menatap so eun.
Tiba-tiba senyum tersungging di wajah so eun. ‘ternyata, dia khawatir padaku.’ Batin so eun lali ia pun berlari kecil untuk mensejajarkan tubuhnya dengan kim bum.
“kalau begitu, biarkan aku menghangatkan tubuhmu, walaupun hanya sedikit.” Ujar so eun yang tanpa diminta langsung menggandeng lengan kim bum. Kim bum cukup kaget dibuatnya. Ia menatap so eun yang berada di sampingnya dengan kening berkerut dan mata yang sedikit membulat.
“ya ya ! lepaskan tanganku !” suruh kim bum.
“tapi ini semua salahku kan? Tidak ada yang bisa aku lakukan selain membuatmu hangat.” Balas so eun.
“aku tidak apa-apa, jadi lepaskan !” pinta kim bum.
“wae? Lagipula aku hanya peliharaanmu kan?” ujar so eun, wajahnya tampak berseri-seri saat ini.
Kim bum yang melihatnya pun jadi tak bisa berbuat apa-apa. “lakukan apa yang kau mau.” Akhirnya kim bum mengalah.
“hehehehe.” So eun malah tersenyum dan semakin mengeratkan tangannya menggandeng lengan kim bum.
“Aku jadi tidak mood untuk mengajarimu malam ini.” Ujar kim bum.
So eun mengerucutkan bibirnya. “miaaaaann.”

Bahkan meskipun tangannya terasa sangat dingin, dia berusaha mencariku, marah, lalu teriak-teriak kepadaku. Sekarang ini, aku merasa jika aku sudah diperlakukan layaknya seorang perempuan. Terkadang aku senang hari ini salju turun cukup lebat. Akankah kim bum-ssi mulai bisa merubah hatinya?

-today love is begin-

Pada akhirnya setelah dua hari kim bum mengajari so eun dengan keras. So eun pun mendapat hasil yang cukup memuaskan saat mengikuti tes ulang. Ia sampai terharu melihat nilai hasil tesnya yang sedang ia pegang sekarang.
“heh, akhirnya kau lulus juga.” Suara nirin mengagetkan so eun.
“nirin-ah, sejak kapan kau ada di sampingku?” Tanya so eun heran.
“karena kau terlalu fokus dengan kertas itu, kau jadi tak menyadari kehadiranku 2 menit yang lalu.” Balas nirin.
“heheh aku senang, aku mendapat nilai yang bagus, dan ini semua berkat kim bum-ssi.” Ujar so eun.
“tidakkah seharusnya kau memberikan sesuatu padanya sebagai rasa terimakasih?” usul nirin. So eun berfikir sejenak mengenai usul nirin.
“ah benar.” Mata so eun berbinar. “aku harus memberikannya sesuatu.” Lanjutnya dengan senyum yang cerah.
“apa kau lapar? Kajja makan di kantin bersama !” ajak nirin lalu berjalan lebih dulu dari so eun.
“nirin-ah tunggu ! tapi apa yang harus aku berikan?” Tanya so eun. wajahnya menggambarkan jika ia sedang berfikir keras.
“tampaknya kim bum-ssi bukanlah tipe laki-laki yang suka mendapat hadiah.” Gumam so eun. nirin menatap sahabatnya itu.
“tidak ada salahnya jika kau mencoba lebih dulu, siapa tahu yang kau pikirkan itu salah.” Balas nirin.
“ah kau benar. Ummm~~ apakah aku membelikannya syal saja?” Tanya so eun, terlebih pada dirinya sendiri.
“ah tidak-tidak….aku harus mengumpulkan uang dulu untuk membelinya, persediaan uangku sedang sedikit sekarang ini.” So eun berbicara sendiri. Sementara nirin hanya menghela nafasnya, lalu kemudian ia menoleh ke arah so eun yang berjalan di sampingnya.
“bagaimana dengan coklat? Jika kau memberikannya coklat, aku rasa tidak akan jadi masalah.” Usul nirin.
“ah kau benaaar, aku bisa membuat coklat dengan tanganku sendiri untuknya~ itu akan terlihat lebih romantis hehehe.” So eun malah senyum-senyum tidak jelas. Usul yang diberikan nirin tidak buruk juga, tidak ada salahanya jika ia mencoba dan membuat coklat yang spesial untuk kim bum.

-today love is begin-

“kim bum-ssi.” Panggil so eun pelan. Kim bum langsung menatap so eun yang berdiri di sampingnya. Saat ini mereka pulang bersama seperti biasanya.
“mwo?” Tanya kim bum. Belum apa-apa so eun sudah tersenyum pada kim bum, membuat matanya itu menyipit. Kim bum mengerutkan keningnya.
“aku meminjam buku ini dari perpustakaan.” So eun menunjukkan sebuah buku pada kim bum. Kim bum menatapnya tidak mengerti.
“buku ini adalah resep membuat coklat.” Lanjutnya. Kim bum semakin tidak mengerti dengan apa yang so eun bicarakan.
“lalu?” tanyanya.
“katakan padaku, jenis coklat seperti apa yang kau suka? Aku akan membuatkannya untukmu.” Ujar so eun semangat. Ia menatap kim bum dengan penuh harapan.
“aku tidak suka coklat” balas kim bum enteng.
“ne?” so eun sedikit kaget.
“apapun makanan yang rasanya manis aku tidak menyukainya.” Ujar kim bum. Membuat so eun langsung down seketika saat mendengarnya.
“ah…..begitu ya.” Nada bicara so eun terdengar sangat kecewa sekali.
“wae?” Tanya kim bum yang menyadari perubahan ekspresi wajah so eun. So eun menggeleng dengan lemas sebagai jawabannya. Kim bum menatap so eun heran, tapi setelahnya ia tidak terlalu ambil pusing.
“hufft~” so eun menghela nafasnya, kepalanya juga sedikit menunduk sekarang.
‘padahal aku ingin sekali membuatkan kim bum-ssi coklat, tapi….jika dia memang tidak menyukainya….aku rasa lebih baik memberikan kim bum-ssi sesuatu yang lain saja.’ Batin so eun.
Kim bum memperhatikan so eun yang jadi tidak bersemangat seperti itu, lalu matanya melihat buku resep yang masih di pegang oleh so eun. Kim bum jadi merasa tidak tega juga melihatnya.
“haaah benar-benar merepotkan.” Ujar kim bum. So eun sedikit mengangkat kepalanya dan mendongak menatap kim bum.
“coklat rasa kopi, atau coklat tanpa gula.” Ujar kim bum.
“huh?” so eun tidak mengerti.
“jika kau memberikanku sesuatu yang bisa dimakan, maka aku tidak akan menolaknya.” Ujar kim bum pelan tanpa sedikit pun menatap ke wajah so eun. Awalnya so eun tidak menyangka kim bum akan mengatakan hal seperti itu, tapi kemudian senyum so eun pun langsung mengembang setelah mendengarnya.
“Ji..jincha? arasseo ! aku akan membuat coklat tanpa rasa manis sedikit pun untukmu.” Ujar so eun semangat.
“hmm.” Kim bum hanya angguk-angguk saja.
“aku akan membuatnya dengan rasa yang kau inginkan sampai kau terharu dan meneteskan air mata !” so eun mengatakannya cukup keras karena ia saking senang dan bersemangat.
“ya ya ya, terserah kau saja !” balas kim bum.
“kekekekkk aku akan membeli bahan-bahannya malam ini.” Ujar so eun seraya tersenyum cerah dan melihat-lihat isi buku resep yang ia bawa.
Kim bum yang melihat so eun sesenang itu, entah kenapa ujung kedua birbinya pun sedikit terangkat. Rupanya ia tersenyum tanpa so eun mengetahuinya.

-today love is begin-

“baiklah, aku akan membuktikan kepada kim bum-ssi jika aku bisa membuat coklat sesuai permintaannya.” Gumam so eun seraya mengepalkan tangannya ke udara. Lalu ia pun sibuk memilih bahan-bahan yang akan ia gunakan untuk membuat coklat. Setelah selasai, ia pun menuju kasir dan mengantri disana.
“tsk….kau lama sekali, cepatlah ! aku sedang buru-buru !” Pria berumur sekitar 27 tahun yang berdiri di depan so eun mengomel pada seseorang yang sedang membayar di kasir.
“ma..maaf ahjeossi. Tunggu sebentar !” Ujar orang itu.
‘apa yang terjadi?’ batin so eun, lalu ia pun memiringkan sedikit tubuhnya untuk melihat. “dompetku….sebenarnya dimana tadi aku menyimpan dompetku?” orang itu terlihat gelisah seraya mengaduk-aduk tasnya. Wajahnya bahkan sudah pucat pasi.
“yak anak muda ! aku hampir terlambat, cepatlah !” ujar pria berumur 27 tahun itu lagi.
Setelah mengamati orang itu dengan seksama, so eun kaget karena ternyata orang itu adalah orang yang ia kenal. Teman satu kelasnya saat di kelas 10.
“maafkan saya, sepertinya saya harus mengembalikan semua barang ini.” Orang itu membungkukkan badannya pada kasir.
“kim woo bin-ssi.” Panggil so eun. Orang yang dipanggil pun menoleh.
“s..so eun-ssi?” Tanya woo bin memastikan.
“aku yang akan membayarnya. Berapa harganya?” Tanya so eun pada kasir, saat ini ia berdiri di samping woo bin.
“so eun-ssi….” Woo bin hendak menolak tapi keburu dipotong oleh so eun.
“gwaenchana, kau bisa membayarnya padaku lain kali.” Ujar so eun. woo bin hanya menatap so eun tidak enak.
“berapa harga semuanya?” Tanya so eun lagi.
“ah….5000 won.” Jawab kasir perempuan itu. “baiklah.” Balas so eun lalu memberikan uang 5000 won pada sang kasir.

-today love is begin-

“Wae? Apa ada yang terjadi?” Tanya so eun pada woo bin saat woo bin mengecek ponselnya yang baru saja bergetar.
“Kakakku mengirim pesan, dan ternyata dompetku tertinggal di atas meja.” Jawab woo bin.
“Syukurlah~ dompetmu tidak hilang.” Balas so eun seraya menyunggingkan senyumnya. Kim woo bin adalah teman sekelas so eun saat di kelas sepuluh. Selama satu tahun sekelas dengan kim woo bin, so eun memang tidak terlalu akrab dengannya karena pribadi woo bin yang tertutup dan tidak suka banyak bicara, ditambah lagi woo bin begitu pemalu dan tidak pandai bergaul. Jadinya so eun tidak terlalu akrab dengannya.
“Maafkan aku so eun-ssi, aku akan mengembalikan uangnya kepadamu secepatnya, jadi dimana rumah….”
“Gwaenchana gwaencahan~” so eun langsung memotong perkataan woo bin.
“Kau bisa mengembalikannya besok di sekolah, tidak usah terburu-buru.” Lanjut so eun seraya mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya.
“Aku benar-benar minta maaf.” Woo bin menundukkan kepalanya.
“Kita berdua tidak begitu akrab dan aku sudah merepotkanmu.” Ujar woo bin.
“Sudah ku bilang tidak apa-apa, aku bukanlah seseorang yang hanya akan diam saja disaat seseorang yang aku kenal sedang kesulitan.” Balas so eun seraya mengacungkan ibu jarinya ke wajah woo bin.
So eun tersenyum kikuk. “Jadi, jangan terlalu mengkhawatirkannya oke?” Pinta so eun. Woo bin terdiam beberapa saat, lalu dengan cepat ia mengangguk.
“Ne, kamsahamnida.” Ujarnya.
“Hehe, terlebih saat ini hatiku sedang dalam suasana yang baik. Aku akan membuatkan seseorang sesuatu yang akan membuatnya terharu sampai meneteskan air mata.” Cerita so eun dengan semangatnya, bahkan ia menghiraukan angin dingin yang berhembus menusuk pipinya malam ini.
Woo bin menyunggingkan senyumnya sedikit ragu dan canggung.
So eun pun menatap woo bin dengan tatapan menyelidik, membuat woo bin sedikit tidak enak.
“Woo bin-ssi, tidakkah kau merasa rambutmu terlalu panjang?” Ujar so eun. “Maksudku…rambutmu menutupi sebagian wajahmu, jadi aku tidak bisa melihat wajahmu dengan jelas.” Tambahnya masih tetap menatap woo bin dengan seksama.
“N…ne? Mi…mian.” woo bin malah menundukkan kepalanya. Ia begitu malu saat ini karena berbicara hanya berdua dengan seorang perempuan yang tak begitu dekat dengannya meskipun mereka saling mengenal.
“E..eh? Kenapa kau malah minta maaf?” So eun jadi merasa bersalah setelah mengatakan kata-kata tadi kepada woo bin.
“Aku hanya merasa, orang-orang disekitarmu juga tidak akan bisa melihat wajahmu, sangat disayangkan.” Tambah so eun.
“Sebenarnya….tidak ada seorang pun yang merasa nyaman saat mereka melihat wajahku.” Aku woo bij dengan nada rendah. So eun agak kaget mendengarnya.
“Yak jangan berpikiran yang buruk, semua orang tidak seperti itu.” Balas so eun. Woo bin masih menunduk.
“Jadi cobalah saat kau berbicara dengan orang lain, tataplah mereka, dan tidak ada salahnya jika kau sedikit memotong rambutmu hehe, itu hanya usulku.” Ujar so eun. Woo bin senang karena so eun sangat ramah padanya.
Tapi tiba-tiba tangan so eun menyingkirkan rambut woo bin yang menutupi sebelah matanya.
“Jika seperti, kau kelihatan tampan.” Ujar so eun.
“Aah…” Woo bin langsung mundur ke belakang dengan wajah yang memerah.
“Mian…” ujar woo bin.
“Eh?” So eun merasa jika seharusnya ia yang meminta maaf, tapi kenapa malah lelaki ini. So eun menghela nafasnya. Woo bin kini malah nemalingkan wajahnya dari so eun, menutupi rona merah pada wajahnya.
“Hei woo bin-ssi, apakah jangan-jangan kau takut padaku?” Tanya so eun.
“A..ani..ani…bukan seperti itu, so eun-ssi adalah orang yang sangat baik.” Dengan cepat woo bin menyanggah, ia tidak mau lagi membuat orang disekitarnya tidak nyaman.
“Ah ya baiklah, kalau begitu lakukan yang terbaik oke? Buat orang-orang jadi nyaman di dekatmu !” Ujar so eun. Woo bin menganggukkan kepalanya pelan.
“So eun-ssi, apakah kau tidak apa-apa terlalu lama berada di luar malam-malam begini? Bukankah kau punya sesuatu yang harus kau lakukan di rumah?” Ujar woo bin.
“Ah !” So eun baru mengingatnya.
“Kau benar woo bin-ssi, aku melupakannya.” Ujar so eun.
“Aku minta maaf, kalau begitu aku akan mengantarmu sampai rumah.” Ujar woo bin.
“Kau terlalu banyak minta maaf, padahal tidak punya salah apa-apa. Gwaenchana, aku bisa pulang sendiri.” Tolak so eun.
“Oh arasseo.” Balas woo bin.
“Baiklah kalau begitu aku pulang dulu, mari kita lakukan yang terbaik !” So eun mengepalkan tangannya dan mengangkatnya ke atas. Woo bin tersenyum.
“Ah ya, selamat bertemu lagi besok.” Ujar woo bin dengan senyumnya yang sedikit ragu, ia juga membungkukkan badannya sebentar pada so eun. So eun pun pergi dengan arah yang berlawanan dengan woo bin. Woo bin sangat berterimakasih kepada so eun, karena dia sudah menolongnya dan bersikap ramah padanya. Woo bin merasa senang.

-today love is begin-

So eun sudah selesai membuat coklat, meskipun ada beberapa yang gagal tapi akhirnya ia berhasil juga. So eun menatap beberapa coklat yang sudah ia bentuk berupa bentuk hati itu dengan bahagia.
“Baiklaaaah, semuanya bagus !” Ujar so eun senang. So eun mengambil salah satu satu coklat itu dan mencicipinya sedikit.
“Uummm~ sangat lezaaaat !” Mata so eun sampai berbinar-binar, ia sendiri tidak menyangka coklat buatannya seenak ini. Terlebih ini adalah coklat buatan tangannya sendiri untuk yang pertamakalinya tanpa bantuan sang ibu.
“Hihihi, kim bum-ssi pasti akan meneteskan air mata kali ini, dan akan menyadari apa saja kesalahannya kepadaku selama ini ! Kekekekek.” so eun tertawa geli sendiri membayangkannya.
“Jika seperti ini, pasti semuanya akan berjalan dengan lancar…haaa aku jadi ingin cepat-cepat besok !” So eun pun membungkus coklat-coklat itu ke dalam dua kantong kertas kecil yang bermotif bunga-bunga. Yang satu berwarna merah, dan yang satu berwarna biru.
“hihihihi.” So eun tak bisa berhenti tersenyum senang.

-today love is begin-

Keesokan harinya, Chungju Highschool

So eun menyimpan dua bungkus coklat itu ke dalam loker. Ia rasa lebih baik jika memberikannya saat istirahat kepada kim bum. Jadi ia menyimpannya lebih dulu ke dalam loker, agar lebih aman. So eun tersenyum.
“Jaga baik-baik diri kalian di dalam sini, oke?” So eun berbicara pada coklat-coklat itu seakan coklat itu mengerti apa yang dia katakan. So eun pun menutup loker itu lalu menguncinya.
“Kim so eun-ssi !” So eun langsung menoleh ke sumber suara ketika ada orang yang memanggilnya. So eun melihat woo bin sedang berjalan ke arahnya cukup semangat pagi ini. Tidak seperti kemarin malam yang kelihatan murung.
“Selamat pagi so eun-ssi.” Sapa woo bin, dia sudah berdiri di hadapan so eun.
“Ah woo bin-ssi, selamat pagi juga.” Balas so eun seraya memamerkan senyumnya.
“Aku akan mengembalikan uangmu.” Ujar woo bin lalu memberikan uang 5000 won kepada so eun.
“Ah ye, terimakasih.” So eun menerima uang itu.
“Ah ya so eun-ssi. Dengarkan aku !” Pinta woo bin dengan nada biacara yang semangat.
“Ne? Memangnya ada apa?” Tanya so eun menatap woo bin penasaran.
“B…baru saja pagi ini, aku mengucapkan selamat pagi kepada semua orang yang aku lihat. Dan mereka semua membalas sapaanku juga dengan ekpresi yang normal.” Cerita woo bin dengan senangnya.
“Ahahahah, benarkan? Bukankah aku sudah mengatakannya kepadamu jangan berpikir tentang hal buruk yang mereka pikirkan tentangmu !” balas so eun, ia tertawa.
Woo bin tambah melebarkan senyumnya. “Aku benar-benar senang semua orang ramah padaku. Aku berterimakasih kepadamu kim so eun-ssi.” Ujar woo bin, ia membuat matanya menghilang karena senyumnya.
“Kim woo bin-ssi, kau belum memotong rambutmu?” Tanya so eun membuat woo bin berhenti tersenyum.
“Aku….”
“Lihatlah…..” so eun kembali menyingkirkan rambut woo bin yang menghalangi sebelah matanya seperti kemarin malam. Membuat woo bin terdiam dan pipinya mulai memerah.
“Seperti yang sudah aku katakan kemarin, kau itu tampan ! Jika kau memotong rambutmu pasti kau akan populer !” Ujar so eun. Woo bin menatap so eun tanpa berkedip, ia merasakan pipinya panas, dan woo bin pun langsung memalingkan wajahnya dari so eun.
“A..ani, terimakasih.” Ujar woo bin. So eun menatapnya heran.
“Aku lebih nyaman dengan rambut seperti ini hehehe !” Ujar woo bin seraya mengipas-ngipas wajahya dengan tangannya. Kini so eun dan woon bin berjalan bersama menuju kelas mereka masing-masing.
“Lagi pula jika nantinya aku populer, akan sulit untuk menyukai hanya satu orang haha.” Woo bin berusaha membuat lelucon agar rasa gugupnya menghilang di dekat so eun. So eun tertawa.
“Baiklah, aku mengerti.” Balas so eun.
“Kim bum-ssi, selamat pagi !” Sapa seorang murid perempuan yang berpapasan dengannya.
Kim bum memasang senyum palsu terbaiknya. “Ah selamat pagi.” Balas kim bum. Saat itu juga, kim bum melihat so eun sedang berjalan dengan laki-laki lain beberapa meter di depannya. Mereka berjalan memunggungi kim bum. Mereka tampak mengobrol satu sama lain dengan akrab, itu yang kim bum tangkap dari penglihatannya. Terlebih lagi laki-laki itu tersenyum dengan senangnya saat mengobrol dengan so eun. Entah kenapa, kim bum merasa hatinya tidak nyaman saat melihatnya.
“Jika mengingat saat-saat kelas 10, aku tidak terlalu menyadari kehadiranmu woo bin-ssi, karena kau terlalu pendiam.” Ujar so eun.
“Hahaha sepertinya itu benar, aku memang tidak pandai bergaul. Makanya mungkin kau dan teman-teman yang lain kurang menyadari keberadaanku.” Balas woo bin seraya tertawa renyah. Mengobrol dengan so eun membuatnya nyaman.
“Ahh….apakah jangan-jangan kau jelmaan dari hantu?” Canda so eun.
“Tidak mungkin~” woo bin menggibaskan tangannya. Mereka tertawa.
“Tapi woo bin-ssi, aku ikut senang karena sekarang kau sudah mulai….”
Grab ! Tiba-tiba ada sebuah tangan yang merangkul tubuh so eun hingga membuatnya berhenti berjalan.
“Kim so eun, selamat pagi !” Sapa kim bum pada so eun seraya menatap so eun tidak seperti biasanya. Wajah so eun langsung merah seketika mendapati kim bum sedekat itu dengannya.
“K…kim bum-ssi !” Pekik so eun. Woo bin hanya menatap mereka dengan penuh pertanyaan. Kim bum tersenyum pada so eun.
“A…apa yang kau lakukan? Kenapa tiba-tiba kau…..”
“Hm? Kau tahu? Aku sedang kedinginan, dan kim so eun-ssi sangat hangat, tidak ada salahnya aku seperti ini, kan?” Balas kim bum enteng, bahkan ia tidak menghiraukan laki-laki lain yang berdiri di depan mereka, melihat mereka dengan ekspresi sedikit canggung.
‘Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba dia bertingkah aneh?’ Batin so eun.
“Wae? Kau tidak menyukainya huh? Tanya kim bum menyadari ekpresi wajah so eun.
“Bu…bukan begitu, tapi…..” ucapan so eun menggantung.
“Aahh, k…kalau begitu aku pergi ke kelas lebih dulu hehe. Annyeong !” Woo bin pergi meninggalkan mereka cepat-cepat. Ia tidak mungkin terus berada disana dan mengganggu mereka. Woo bin berjalan cukup lamban, ada sesuatu yang ia pikirkan.
‘Ternyata so eun-ssi sudah berkencan….dan dia orang yang populer juga.’ Batin woo bin. Entah kenapa, baru kali ini ia merasa kecewa.
Melihat woo bin yang sudah pergi, tiba-tiba kim bum tersenyum penuh arti. “Ppfft…” dia menahan tawanya.
“K…kim bum-ssi.” Panggil so eun. Rasanya ia ingin pingsan karena kim bum terus-terusan merangkul pundaknya.
“Jika seseorang melihat kita seperti ini, mereka akan berpikiran jika kita adalah pasangan yang bodoh !” Ujar kim bum tanpa melepaskan rangkulan tangannya pada so eun.
“A…ani, bukan itu yang ada di pikiranku.” Balas so eun. Kim bum menatap so eun. “Tapi bukankah…..kau benci melakukan hal-hal yang seperti ini?” Tanya so eun.
Menyadari hal itu, kim bum langsung melepaskan rangkulannya dengan cepat. So eun mengerucutkan bibirnya, tapi ia senang kim bum merangkulnya tadi.
“Lalu, apa yang kau bicarakan dengan laki-laki itu tadi?” Tanya kim bum. Ia memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia menunggu jawaban dari so eun.
“Maksudmu…kim woo bin-ssi? Aku dan dia adalah teman saat kelas 10.” Jawab so eun.
“Apa ada sesuatu yang terjadi?” Tanya kim bum lagi. Ia tidak puas dengan jawaban so eun barusan.
“Anio, tidak terjadi apa-apa.” Balas so eun. Dan kini giliran so eun yang menatap kim bum heran. Kenapa tiba-tiba kim bum jadi banyak bertanya? Tapi ia tidak ambil pusing, yang terpenting sekarang adalah tentang coklat yang ia buat.
“Ah ya kim bum-ssi, kau tahu? Hari ini aku membawa coklat yang aku buat untukmu.” Ujar so eun dengan mata berbinar.
“Begitukah?” Tanya kim bum. So eun dengan cepat mengangguk.
“Aku ingin tahu seperti apa rasanya, apakah itu akan membuatku masuk rumah sakit atau lebih parah.” Balas kim bum dengan entengnya.
“Sudah aku katakan, coklat itu akan membuatmu meneteskan air mata !” Ralat so eun.
“Ya ya, terserah kau saja.” Kim bum menyerah.
“Aku akan memberikannya kepadamu saat istirahat, jadi tunggu aku di taman sekolah, oke?” Pinta so eun seraya menatap penuh harap pada kim bum.
“Hei, diluar udara sangat dingin.” Ujar kim bum.
“Gwaenchana, akan lebih baik jika kita bertemu disana. Tidak akan ada orang lain yang melihat kita. Benarkan?” Ujar so eun dengan yakin. Kim bum menghela nafasnya.
“Kim bum-ssi?” Panggil so eun pelan. Ia menatap kim bum dengan wajah yang ia buat seimut mungkin.
“Heeeh, kalau begitu jangan membuatku menunggu lama !” Suruh kim bum.
“Arasseo…..” balas so eun dengan senang. Ia rasa hari ini akan berjalan dengan lancar sesuai dengan yang ia bayangkan sebelumnya.

-today love is begin-

 

Waktu istirahat pun tiba, so eun langsung keluar dari kelasnya dengan hati yang berbunga-bunga.
“So eun-ssi, kau mau kemana?” Teriak bo young. Mereka melihat so eun dengan heran.
So eun yang sudah keluar dari kelas pun kembali menyembulkan kepalanya ke dalam kelas. “Aku akan bertemu dengan kim bum-ssi, jadi kalian makan di kantin tanpa aku. Annyeong !” Jawab so eun seraya melambaikan tangan kepada mereka. Lalu so eun pun pergi ke tempat loker untuk mengambil coklat yang ia simpan tadi. So eun benar-benar tidak bisa menggambarkan bagaimana kondisi hatinya saat ini. Ia terlalu senang hingga ia tidak sengaja menabrak orang yang berjalan di depannya.
“Ouch…!” Ringis so eun.
“Ah…mian…” ujar orang itu seraya membalikan badannya ke arah so eun.
“Woo…woo bin-ssi !” Kaget so eun.
“Ah….kim so eun-ssi ” balas woo bin.
So eun sedikit kaget melihat woo bin yang seperti ada aura-aura negatif di sekelilingnya.
“Apa kau tidak apa-apa woo bin-ssi? Kau kelihatan berbeda.” Ujar so eun khawatir.
“A…anio, aku hanya….tadi aku hanya dihukum oleh guru matematika karena banyak melamun.” Jawab woo bin.
“Jinjjaru?” pekik so eun. Woo bin mengangguk. Woo bin melihat dua kantong kecil di tangan so eun.
“Ah apakah yang ditanganmu adalah sesuatu yang kau buat itu? Untuk kekasihmu?” Tanya woo bin.
“Benar hehehe, aku membuat coklat ini hingga larut malam.” Balas so eun, ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
“Aku mengerti, kekasihmu pasti akan sangat menyukainya.” Ujar woo bin.
“Tidak hanya senang, dia pasti akan menangis !” Jawab so eun percaya diri. Woo bin tertawa mendengarnya. Tiba-tiba so eun mengulurkan satu kantong kecil coklat itu kepada woo bin. Woo bin menatapnya heran.
“Karena aku punya dua, tidak ada salahnya jika aku memberikannya satu untukmu.” Ujar so eun.
“Eh?”
“Ambillah !” Suruh so eun.
“Ta…tapi. Kau membuatnya untuk kau berikan kepada kekasihmu, kan?” woo bin menolak karena ia merasa tidak enak.
“Gwaencaha~ memberikannya satu aku rasa sudah cukup. Jadi ambillah !” Suruh so eun. Woo bin diam sejenak, tapi kemudian ia mengambilnya juga.
“Mian~ terimakasih banyak so eun-ssi.” Ujar woo bin. So eun hanya membalasnya dengan senyum yang ceria saja.

-today love is begin-

 

Sudah sekitar 10 menit kim bum menunggu so eun di taman sekolah. Ia duduk di bangku taman yang menghadap ke arah gedung olah raga. Kim bum mendesah.
“Kenapa dia lama sekali? Tidakkah dia merasa aku kedinginan.” Kesal kim bum seraya memeluk tubuhnya sendiri. Saat kim bum masih menunggu, tak sengaja matanya menangkap seseorang yang berjalan melewati gedung olah raga seraya mencium harum sesuatu yang ada di tangannya. Orang itu tampak tersenyum bahagia.
“Orang itu….bukankah dia….” ujar kim bum saat ia baru menyadari jika orang yang baru saja lewat itu adalah kim woo bin.
“Cih….kenapa ekspresinya menggelikan sekali.” Gumam kim bum.
“Kim bum-ssi~~~” so eun berlari-lari kecil menghampiri kim bum. Wajah kim bum tampak kesal.
“Mianhae~” ujar so eun menyadari ekpresi yang tidak mengenakkan yang tergambar dari wajah kim bum. So eun langsung duduk di sebelah kim bum.
“Kau telat !” Ujar kim bum. “Istirahat akan cepat selesai, kau tahu? Aku hampir beku menunggumu !” Lanjutnya dengan nada kesal.
“Maafkan aku, ada sesuatu yang terjadi tadi.” Balas so eun seraya menatap kim bum hati-hati. Kim bum menghela nafasnya.
“Baiklah….karena tadi kau bilang kau hampir beku, aku akan langsung saja memberikan coklatnya padamu.” Ujar so eun seraya mengambil satu kantong kecil yang berisi coklat-coklat itu dari dalam saku mantelnya.
“Ta-da~~~~” so eun menunjukkan kantong kecil dengan motif bunga berwarna merah itu di depan wajah kim bum. Kim bum merasa tidak asing dengan benda yang sedang ia lihat itu.
“Aku membuatkanmu coklat tanpa gula spesial untuk kim bum-ssi ! Aku harap kau menyukainya ! Dan aku harap kau juga meneteskan air matamu kekekekk.” Tambahnya dengan nada bersemangat. Kim bum mengerutkan keningnya, ia berpikir dimana ia melihat benda itu sebelumnya? Setelah ia berhasil mengingat. Ia langsung membulatkan matanya. Kantong kecil bermotif bunga yang dihadapannya itu sama percis dengan yang dibawa oleh kim woo bin tadi.
“Ini….ambillah !” So eun semakin menyodorkan kantong kecilnya kepada kim bum. Kim bum mengambilnya lalu menatap kantong itu.
“Hm-m…” kim bum menyunggingkan senyumnya. “Kau bekerja keras untuk membuat ini….” ujar kim bum. Senyum so eun mengembang, ia menunggu kata-kata lain yang akan diucapkan oleh kim bum.
“Spesial hanya untukku, huh?” Nada bicara kim bum berubah menjadi sinis. Lalu ia menjatuhkan kantong itu. So eun terkesiap melihatnya. Apa yang baru saja kim bum lakukan?
“W…wae?” Tanya so eun.
Kim bum menolehkan wajahnya menatap so eun, tatapan yang tajam.
“Aku tidak butuh sesuatu yang seperti itu.” Ujarnya datar. Mulut so eun sampai terbuka mendengarnya, ia bengong, ia tidak mengerti, kenapa kim bum tiba-tiba sinis lagi padanya? Sebenarnya apa yang terjadi padanya?
“Tsk…..” kim bum berdiri dari duduknya lalu berjalan meninggalkan so eun.
“Y…ya ! Kim bum-ssi !” Teriak so eun. Lalu ia mengejar kim bum hingga ia menahan lengan kim bum, membuat kim bum menghentikan langkahnya.
“W…waeyo? Kau bilang padaku bahwa kau akan memakan apa yang aku berikan kepadamu ! Aku membuatkannya susah payah agar rasanya tidak mengecewakanmu ! Tapi kenapa kau….” ujar so eun.
“Kau berbohong !” So eun meninggikan suaranya. Kim bum menoleh dan menatap so eun.
“Aku lebih baik mati daripada memakannya !” Balas kim bum dingin. So eun kaget bukan main dengan kata-kata tak berperasaan yang keluar dari mulut kim bum. Perkataannya benar-benar tajam.
“M…mwo? Yak ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?” Tanya so eun. Ia menatap kim bum butuh penjelasan.
“Kau…kau memberikan coklat itu kepadanya juga, benar kan?” Tanya kim bum. “Kepada kim woo bin !” Lanjutnya. So eun hanya bisa diam seraya menatap kim bum.
“B..bagaimana kau bisa tahu?” Tanya so eun bingung.
“Anak itu kelihatan sangat senang sampai mencium benda yang sama yang kau berikan kepadaku.” Jawab kim bum.
“I…itu memang benar, aku memberikannya juga kepada woo bin-ssi, tapi aku memberikannya karena aku merasa kasihan dia selalu terlihat murung ! Orang yang ingin aku berikan coklat hanya kau kim bum-ssi.” Jelas so eun. Sekarang so eun jadi takut karena kim bum menatapnya dengan ekpresi marah.
“Aku tidak peduli dengan hal itu.” Balas kim bum. “Memberikan coklat yang sama dengan laki-laki itu kepadaku, aku jadi merasa jijik !” Ujar kim bum. Mata so eun sukses membulat mendengarnya.
“Laki-laki pemurung yang selalu menundukkan kepalanya saat didekat para perempuan dan dengan rambut yang menutupi wajahnya, bukankah itu kelihatan tidak sebanding denganku? Aku tidak ingin disamakan dengan laki-laki yang lemah !” Ujar kim bum enteng. So eun menahan kekesalannya mendengar kim bum menghina orang lain yang jelas-jelas lebih baik darinya.
“Kau…..apa yang baru saja keluar dari mulutmu?” Tanya so eun. “Terlebih, apa yang kau ketahui tentang woo bin-ssi? Kau tidak berteman dengannya, kau juga tidak mengenalnya ! Bukankah kata-kata yang keluar dari mulutmu itu terlalu kejam?” Entah dari mana datangnya keberanian itu sehingga so eun mengatakannya dengan lancar kepada kim bum. Kini giliran kim bum yang menatap so eun dengan tatapan sedikit tidak menyangka. Tidak menyangka ia akan mendengar kata-kata yang barusan keluar dari mulut so eun.
“Ya benar, dia memang pemalu ! Dia selalu gugup di dekat perempuan, rambutnya panjang, dan dia tidak sebanding denganmu yang begitu populer di sekolah.” Ujar so eun. “Tapi….dia tidak seperti dirimu ! Dia tidak pernah mempermainkan orang lain ! Dia baik, dia laki-laki yang ramah yang peduli dengan perasaan orang lain ! Dan aku rasa, dia itu lebih baik darimu, kau tahu!?” So eun mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini ia pendam kepada kim bum. Akhirnya ia bisa mengatakannya meskipun ia hilang kontrol. Ia tidak peduli apakah kim bum akan balik marah padanya atau malah membuatnya jadi sedikit berpikir tentang sikapnya. Kim bum menatap so eun tidak percaya. Ia tidak menyangka so eun akan mengatakan hal seperti itu kepadanya.
“Baiklah….kalau begitu aku pergi !” So eun membalikkan badannya dan pergi meninggalkan kim bum yang masih diam di tempatnya.

-today love is begin-

 

Sampai bel pulang berbunyi, so eun tetap kelihatan murung. Bahkan bo young dan hye rim pun jadi tidak berani bertanya kepada so eun. Pada akhirnya mereka hanya membiarkan so eun saja, meskipun sebenarnya mereka merasa khawatir. So eun berjalan keluar kelas dengan langkah gontai, kepalanya terus-terusan menunduk. Mengatakan hal-hal seperti tadi kepada kim bum, membuatnya kehabisan tenaga. Baru kali ini ia berani berbicara seperti itu kepada kim bum terlebih untuk membela orang lain. Ia tidak memperhatikan langkahnya hingga ia hampir terjatuh saat menuruni anak tangga.
“Ah….” kaget so eun. Tapi untung saja ada seseorang yang menahan lengannya. So eun sendiri cukup kaget ia hampir saja terjatuh.
“So eun-ssi, gwaenchana?” Tanya woo bin. Ternyata ia yang membantu so eun.
“Apa kau baik-baik saja so eun-ssi? Berhati-hatilah ! Perhatikan langkahmu !” Ujar woo bin.
“M…mian.” balas so eun lemas. Ia masih belum bisa fokus sekarang.
“Kau baik-baik saja?” Tanya woo bin sekali lagi. “Kau kelihatan berbeda so eun-ssi.”
“Benarkah?” Tanya so eun dengan nada lemas. Woo bin menatap so eun khawatir.
“Apakah sesuatu telah terjadi? Kau bisa menceritakannya kepadaku, aku akan mendengarnya.” Tawar woo bin.
“Anio, aku baik-baik saja.” Balas so eun.
“Meskipun aku bukanlah orang yang pandai memberikan solusi, tapi aku akan mendengarkan semuanya dengan baik ! Aku akan mencoba membantumu jika aku bisa melakukannya.” Ujar woo bin.
“Karena kau sudah banyak menolongku, jadi aku juga ingin menolongmu ! Aku akan melakukannya agar bisa membuatmu senang !” Woo bin masih berusaha menawarkan dirinya untuk mendengarkan masalah apa yang terjadi pada so eun.
So eun terdiam beberapa lama seraya menatap woo bin.
“Hahah….” so eun tertawa hambar, ia berusaha menyembunyikan ekpresi wajahnya yang sedih. “Kau sangat baik huh, kim woo bin-ssi…..” ujarnya. Kini so eun tidak bisa menahannya lagi. Air matanya pun jatuh dengan seketika. Ia menangis, membuat woo bin kaget dan bingung apa yang harus ia lakukan.
Tangisan so eun semakin deras. “Aku benci….aku benci coklat !” ujarnya.

Aku sudah berusaha. Tapi kenapa akhirnya menjadi seperti ini? Aku benci jika semua yang sudah aku usahakan tidak berjalan indah sesuai dengan yang aku harapakan. Akankah hubunganku yang palsu ini akan terus berlanjut ataukah hanya sampai disini saja?

 

To Be Continued

Mian jika ceritanya kurang memuaskan dan belum ada perkembangan dari kim bum, tapi saya harap kalian menyukainya.

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya

Today, Love Is Begin PART 8

Today, Love Is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

PART 8

“aku sudah memasangkannya.” Ujar kim bum. So eun menatap kim bum tidak mengerti.
“kalung.” Lanjut kim bum. So eun menatap kim bum tidak percaya lalu menyentuh lehernya yang ternyata sudah terpasang kalung dengan bandul berbentuk bulan sabit, so eun menatap kalung itu. Kim bum mengerutkan keningnya, berusaha menahan rasa gengsinya.
“baiklah, biarkan aku menjelaskannya. Itu hanya karena aku tak sengaja menemukan benda yang membuatku tertarik dan kelihatan cocok untukmu. Jadi aku pikir tidak ada salahnya jika aku membelinya.” Jelas kim bum. So eun menatap kim bum tak percaya.
“Kalung itu adalah simbol jika kau adalah milikku, jadi kau jangan pernah melupakannya.” Ujar kim bum yang masih saja besar rasa gengsinya, ia mengucapkan kata-kata itu tanpa melihat ke arah so eun dan dengan mimik wajah yang kelihatan sangat tidak nyaman. Ia mengerutkan keningnya saat berbicara seperti itu.
Tiba-tiba saja so eun melayangkan pukulan ke arah dada kim bum tanpa sempat kim bum menahannya. Kim bum kaget dengan apa yang so eun lakukan itu.
“kau benar-benar jahat…hic….hic…..” so eun kembali menangis. Air matanya jatuh dengan deras, ia tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaanya saat ini. Antara kesal, marah, dan senang.
“hic…..hic…….hic……g..gomawo.” ujar so eun akhirnya. Sekarang ia menangis karena benar-benar senang dan terharu. Ia tidak menyangka jika kim bum akan memberikannya sebuah kalung meskipun dengan cara yang tidak manis.
“aku….aku senang.” Ujar so eun yang masih saja menangis.
Kim bum yang melihat so eun menangis seperti itu jadi merasa tidak tega.
“uhuuuhuhu….huaaa………” tangisan so eun malah semakin keras. “aku pasti akan menjaganya hic…hic….” Ujar so eun.
“sudahlah, jangan menangis.” Ujar kim bum.

‘aku menyukaimu, kim so eun’. Apa yang pernah kau katakan saat itu kepadaku, bolehkan aku mempercayainya, walaupun hanya sedikit?

-today love is begin-

Selama liburan natal dan tahun baru, So eun belum pernah lagi bertemu dengan kim bum setelah kejadian dimana kim bum memberikannya sebuah kalung kepadanya. Bahkan untuk sekedar ingin melihatnya pun ia tidak bisa karena kim bum yang susah dihubungi, kim bum pun tak juga menelpon atau sekedar mengirim pesan kepadanya.
Waktu berjalan begitu cepat, liburan telah usai dan semester baru pun dimulai. Semua siswa-siswi Chungju Highschool sedang berbaris dilapangan mengikuti upacara pembukaan semester baru. Disana tampak so eun berbaris bersama hye rim dan bo young. Selama kepala sekolah berpidato di depan semua murid, so eun terus saja mengarahkan pandangannya ke arah barisan kelasnya kim bum. Tapi so eun tak kunjung menemukan sosok orang yang dicarinya. Begitu pula dengan hye rim dan bo young, mereka malah asik mengobrol disaat kepala sekolah masih memberikan pidatonya.
“liburan musim dingin terasa begitu cepat berakhir.” Ujar hye rim.
“iya kau benar, satu bulan terasa begitu singkat.” Balas bo young.
“bo young-ah…aku rasa kau semakin gemuk, apa berat badanmu naik?” Tanya hye rim.
“ehh? Apakah kelihatan dengan jelas?” Tanya balik bo young.
“yeah.” Hye rim mengangguk.
“selama liburan aku memang jadi banyak makan hehehe, padahal dari awal aku sudah berniat untuk tidak memakan kue dan coklat selama liburan. Tapi kau tahu kan? Udara begitu dingin dan aku terpaksa memakan banyak coklat untuk sedikit menghangatkan tubuhku.” Cerita bo young.
“ah…aku mengerti.” Balas hye rim. Lalu hye rim melihat so eun yang sedari tadi kepalanya tak mau diam.
“so eun-ah….waegeurae? apa yang sedang kau lihat?” heran hye rim.
“bukan apa-apa.” Balas so eun tanpa melihat sedikit pun ke arah hye rim ataupun bo young. Hye rim dan bo young saling tatap lalu mengangkat bahu mereka masing-masing pertanda tidak tahu.
Selama kurang lebih lima belas menit, akhirnya upacara penyambutan semester baru pun telah selesai. Semua murid kini mulai berhamburan untuk menuju kelas mereka masing-masing.
“miaaann….aku akan ke kelas lebih dulu !” ujar so eun buru-buru pada hye rim dan bo young. Lalu so eun pun berlari-lari kecil meninggalkan mereka. Sementara itu hye rim dan bo young menatap kepergian so eun dengan heran.
“hari pertama masuk, dia kelihatan aneh sekali.” Ujar bo young. “hmmm..” hye rim mengangguk.
So eun berlari-lari kecil menuju bubaran kelasnya kim bum. Ia bahkan menerobos para siswa lain hingga tak sengaja menyenggol mereka. Murid-murid itu protes pada so eun, namun so eun mengabaikannya. Dari sanalah akhirnya so eun berhasil menemukan sosok kim bum. Kim bum sedang berjalan bersama dengan seorang murid perempuan dan mereka tampak mengobrol dengan akrab.
“kim bum-ssi !” panggil so eun dengan nafas yang tidak beraturan. Orang yang dipanggilpun langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap asal suara. So eun pun menghampiri kim bum lebih dekat.
“kim bum-ssi, aku ke kelas lebih dulu ne?” ujar perempuan itu.
“oh ye.” Balas kim bum. Lalu perempuan itu pun pergi meninggalkan kim bum dan so eun.
“se..selamat pagi.” Ujar so eun seraya menatap kim bum dan masih dengan nafas yang ngos-ngosan. “dan juga….selamat tahun baru heheh.” Lanjutnya.
“oh….kau datang saat kau melihat pemilikmu.” Ujar kim bum. “kau tidak berubah sama sekali, huh?” tanyanya seraya memerhatikan so eun.
“i…itu karena…karena sudah sangat lama sejak aku melihatmu terakhir kalinya, kita tidak bertemu selama liburan musim dingin. Kim bum-ssi juga tidak menghubungiku, sebenarnya apa saja yang kau lakukan?” Tanya so eun.
Kim bum menghela nafas lalu menggaruk tengkuknya. “selama tahun baru, aku pergi berlibur.” Jawabnya.
“d…dengan siapa?” Tanya so eun.
“dengan ayahku. Dia sangat mengganggu dan terus memaksaku untuk ikut berlibur dengannya seraya mencari uang, dia adalah tipe seperti itu. Jadi aku terpaksa ikut dengannya.” Jelas kim bum. So eun hanya menatap kim bum saja. “alasan aku tidak bisa melihat atau bertemu denganmu karena aku sedang sibuk.” Lanjutnya.
So eun menghela nafasnya. “ya aku mengerti, tapi bukankah lebih baik kau membalas satu saja pesan dariku? Apakah kau mencoba mengacuhkanku?” Tanya so eun.
“memangnya kenapa? Apakah setelah aku meninggalkanmu sendirian, kau kembali menangis lagi, huh?” Tanya kim bum.
“aku tidak menangis !” jawab so eun cepat.
“jincha?” kim bum merasa tidak percaya.
“yeah.” So eun tersenyum. “karena aku punya ini !” so eun menunjukkan kalung yang sedang ia pakai pada kim bum. Kim bum langsung menatap kalung itu lalu setelahnya menatap so eun kembali.
“aku benar-benar mengingat apa yang kau katakan kepadaku. Jadi, aku sangat berterimakasih kepada kalung ini yang bisa membuatku menjadi lebih bersemangat, hehe.” So eun nyengir kepada kim bum. Ia tampak senang sekali mengingat kalung itu adalah pemberian kim bum. Pemberian orang yang ia sukai.
“heh….” Kim bum membuang nafasnya. “tapi asal kau tahu, hanya aku yang bisa memutuskan kapan hubungan kita berakhir. Jadi, ketika itu terjadi, benda itu tidak akan ada artinya lagi.” Jelas kim bum lalu berbalik dan mulai melangkah.
“kenapa tiba-tiba kau malah mengatakan hal itu?” heran so eun yang kini sudah mensejajarkan langkahnya dengan kim bum. So eun menengadahkan kepalanya menatap wajah kim bum.
“aku hanya memberimu peringatan.” Balas kim bum. So eun hanya mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban kim bum. Namun setidaknya ia bersyukur, sikap kim bum sudah mulai melunak meskipun sangat-sangat sedikit.
‘aku sangat senang karena sekarang dia menganggapku sebagai sesuatu yang spesial. Meskipun aku tidak tahu apakah ini hanyalah cinta kepada peliharaan, atau cinta kepada seoarang perempuan.’ Batin so eun seraya menatap kim bum dari samping lalu menyunggingkan senyumnya. Kim bum yang menyadari so eun memerhatikannya langsung saja berdehem.
“jangan menatapku dengan ekspresi seperti itu ! kau kelihatan seperti peliharaan yang menginginkan belas kasih dari majikannya.” Ujar kim bum yang langsung membuat so eun mangalihkan tatapannya ke depan, so eun memanyunkan bibirnya.
‘tapi tetap saja mulutnya mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan.’ Batin so eun.

-today love is begin-

Istirahat telah tiba. Kim so eun dan shin ni rin sedang berada di kantin sekarang ini. So eun menyantap makanannya dengan sangat lahap dan sesekali ia tersenyum sendiri. Melihat kelakuan so eun yang seperti itu, membuat nirin heran dan menatap so eun dengan aneh.
“so eun-ah, apa saja yang terjadi kepadamu selama liburan?” Tanya nirin.
“huh?” so eun tak mengerti, ia menatap nirin dengan wajah polos.
“sedari tadi aku melihatmu senyum-senyum sendiri, aku pikir sesuatu telah terjadi kepadamu hingga kau seperti ini.” Ujar nirin. Ia masih menatap so eun dengan tatapan ingin meminta penjelasan. Ia ingin tahu apa yang telah terjadi kepada sahabatnya ini. Setelah bulan-bulan kemarin banyak menangis karena sikap kim bum, sekarang so eun terlihat sangat senang sekali.
“yang terjadi kepadaku?” so eun menunjuk dirinya sendiri, lalu ia tersenyum dengan mulut yang masih dipenuhi dengan makanan.
“aku sedang senang nirin-ah, kim bum-ssi memberikan ini kepadaku sebagai hadiah natal.” Ujar so eun seraya memperlihatkan kalung yang terpasang di lehernya itu kepada nirin. Nirin sedikit kaget dan tidak menyangka dengan apa yang so eun katakana barusan.
“kim bum-ssi? Apakah tidak salah? Apa kau sedang mengkhayal so eun-ah?” Nirin kelihatan tidak percaya. Pasalnya yang ia tahu, selama setahun ia satu kelas dengan kim bum. Kim bum bukanlah tipe laki-laki seperti itu. Terlebih ia memberikan benda semacam itu kepada so eun, sungguh ia tidak menyangka.
“terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi ini asli pemberiannya. Aku sendiri tidak menyangka dia akan memberikanku barang seperti ini.” Balas so eun masih dengan senyum yang mengembang dari bibirnya.
“apa dia mulai menyukaimu?” Tanya nirin menatap so eun ingin tahu.
“molla~ aku sudah bekerja dengan keras untuk membuat dia menyukaiku, mulai dari level dimana aku sebagai peliharaannya menuju level untuk menjadi kekasihnya, bahkan sampai gagal berkali-kali dan begitu membuatku banyak menangis.” Curhat so eun yang kini kembali menyantap makanannya.
“yah aku akui, kau sangat bekerja keras dalam kehidupan percintaanmu. Tapi apakah besok kau akan baik-baik saja?” Tanya nirin khwatir melihat so eun.
“huh? Memangnya ada apa di hari esok?” Tanya so eun dengan wajah polosnya. Ia menatap nirin dengan pipi menggembung.
“ada kuis untuk semua mata pelajaran.” Jawab nirin.
“eh…” so eun langsung pucat pasi saat mengetahuinya. Ia langsung menghentikan giginya yang mengunyah makanan.
“apa kau lupa? Tidak ingat sama sekali?” Tanya nirin. So eun menggeleng.
“yah, meskipun tes ini hanya untuk menguji kemampuan, tapi tes inilah yang akan menentukan nasibmu saat di kelas tiga nanti.” Jelas nirin.
“eh…jincha?” pekik so eun. Nirin mengangguk.
“ehehe, tapi aku rasa tidak akan begitu bermasalah bagiku. Aku selalu mendengarkan penjelasan guru saat di kelas.” Ujar so eun dengan entengnya.
“jika seperti itu, baguslah.” Timpal nirin. Mereka pun melanjutkan aktivitas makan mereka.

Setelah mengikuti tes dengan penuh perjuangan beberapa hari yang lalu. Hari ini hasil tes itu sudah ada di tangan so eun. So eun menatap hasilnya dengan wajah pucat. Tentu saja, semua nilai yang ia dapat tak ada satupun yang lebih dari 50 poin.
“eo…eoteokae?” gumamnya.
“jadi, inikah yang kau bilang tidak masalah bagimu?” cibir nirin saat ia tak sengaja menemukan so eun dan melihat hasil tes milik so eun. So eun langsung menatap nirin yang berdiri di belakangnya.
“nirin-ah…” so eun menampakkan wajah malangnya.
“jika nilaimu terus seperti ini, kau bisa ditempatkan di kelas paling buruk di kelas tiga nanti.” Ujar ni rin.
“a..andwae…andwae…aku tidak mau nirin-ah….kalau begitu apa yang harus aku lakukan?” Tanya so eun dengan tatapan memohon pada nirin. Nirin menghela nafasnya.
“bukankah soalnya cukup mudah? Bahkan semua yang sudah dipelajari.” Ujar nirin.
“a..aku tahu itu, tapi entah kenapa selama tes berlangsung yang ada dipikiranku hanyalah kim bum-ssi, jadi aku tidak bisa berkonsentrasi.” Ujar so eun. Nirin diam, ia tak membalas ucapan itu. Ia hanya menatap ke seseorang yang berdiri tepat di belakang so eun.
“huh? Kenapa kau malah jadi menyalahkanku?” Tanya kim bum tiba-tiba seraya merebut alih semua kertas-kertas hasil tes so eun. So eun kaget dan langsung membalikkan tubuhnya ke belakang, menghadap kim bum yang kini tengah melihat-lihat kertas hasil tesnya.
“wow…..daebak !” cibir kim bum. “ternyata di dunia ini masih ada siswi SMA yang mendapat nilai buruk seperti ini.” Cibirnya lagi.
“yak…kembalikan !” pinta so eun seraya berusaha merebut kembali kertas-kertas miliknya. Namun kim bum malah mengangkat tangannya tinggi-tinggi sehinga tak bisa digapai oleh so eun.
“haruskah aku membacanya dengan keras? Matematika 30 poin, fisika 25 poin, bahasa ingg………”kim bum membacakan nilai so eun dengan suara cukup keras.
“yak…hentikan !!” teriak so eun dan dengan cepat so eun pun merebut kertas itu. Kim bum malah tersenyum mencibir.
“kau benar-benar…….dasar kau….” Kesal so eun. Kim bum tak menghiraukannya, ia malah menatap nirin lalu tersenyum ramah kepadanya.
“tes remedial dua hari lagi, benar kan?” Tanya kim bum.
“ah iya, soal-soalnya akan sama persis dan yang diremedial pun hanya mata pelajaran yang tidak tuntas saja.” Jawab nirin.
“hmmm…” kim bum mengangguk mengerti, lalu ia kembali menatap so eun yang kini tengah memunggunginya dan memegang erat kertas-kertas miliknya itu. Ia benar-benar malu karena kim bum mengetahui nilanya yang sangat bobrok. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ia berhadapan dengan kim bum saat ini.
“hey….so eun-ssi !” panggil kim bum. So eun pun memutar kepalanya secara perlahan.
“sepertinya tidak ada cara lain, jadi aku akan mengajarimu.” Ujar kim bum. Mata so eun langsung membulat sempurna mendengarnya.
“a..apakah tidak apa-apa?” Tanya so eun.
“aku hanya khawatir orang-orang akan berpendapat jika aku tertarik dengan perempuan bodoh, jadi sebelum itu terjadi aku akan mengajarimu. Aku tidak bisa membayangkan jika kau akan berada di kelas paling buruk nanti.” Jawab kim bum.
“a….mianhae…” ujar so eun. “kalau begitu, mohon bimbingan dan bantuannya !” so eun membungkukkan badannya kepada kim bum.
Kim bum melipat kedua lengannya di dada. “selama dua hari ke depan, aku akan mengajarimu sangat keras di rumahku.” Ujar kim bum lalu ia pun pergi meninggalkan so eun dan nirin. So eun langsung mengangkat wajahnya dan menatap punggung kim bum yang semakin menjauh. Yang ia tidak sangka adalah ia akan berlajar di rumah kim bum, dan hanya berdua.
“bukankah itu bagus so eun-ah?” ujar nirin. So eun diam, ia tak menghiraukan ucapan nirin.

-today love is begin-

“So eun-ah kau mau kemana?” Tanya ibunya saat ia melihat so eun tengah bersiap-siap di kamarnya.
“Ah eomma, kau mengagetkanku.” Balas so eun, ia sudah memasukan semua buku yang dibutuhkannya untuk belajar bersama kim bum hari ini.
“Sudah gelap seperti ini kau mau pergi kemana?” Tanya ibunya sekali lagi.
“Aku akan belajar kelompok di rumah nirin eomma, mungkin aku juga akan menginap disana.” Jawab so eun. Woah baru pertama kali ini ia berani berbohong pada ibunya. ‘Mian eomma’
“Ah kalau begitu hati-hatilah, jangan lupa bawa jaket yang tebal dan payung, kemungkinan malam ini salju akan turun lagi.” Titah eommanya.
“Arasseo, kalau begitu aku pergi eomma.” Ujar so eun.
Ibunya hanya menatap tubuh so eun yang menjauh darinya dengan kening sedikit mengerut. “Kenapa aku merasa dia sedang berbohong ya?” Gumamnya.

-today love is begin-

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam. Kim bum terus saja mengetuk-ketukan jarinya pada meja karena kesal. Cuaca hari ini benar-benar dingin, sampai ia mentupi tubuhnya dengan selimut tebal.
“Ck…kenapa dia belum datang juga?” Kesalnya. Kim bum lalu beranjak dari duduknya dan mengambil ponselnya. Ia berniat untuk menghubungi so eun.
Kim bum menekan tombol call pada ponselnya, tapi setelah menunggu beberapa saat, tak kunjung ada jawaban dari so eun. Kim bum menghela nafasnya lalu memilih untuk menyalakan televisi.
“Apa dia benar-benar berniat ingin belajar denganku?” Gerutu kim bum. Sudah sepuluh menit berlalu, so eun tak kunjung datang juga, semakin membuat kim bum kesal. Acara-acara di televisi pun tidak ada yang menarik, membuatnya berkali-kali memindahkan chanel dan pada akhirnya ia mematikan televisinya dan melempar remote yang di pegangnya itu. Kim bum lalu memilih membaringkan tubuhnya di ranjangnya.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Kim bum segera melihatnya. Ternyata itu panggilan dari shin ni rin.

“yobeosaeyo ni rin-ssi.”
“kim bum-ssi, apakah so eun sedang bersamamu sekarang ini?” terdengar nada khawatir dari nirin.
“ani.” Balas kim bum.
“jinjjaru? Tadi ibunya menghubungiku dan menanyakan apakah so eun belajar bersama denganku atau tidak, karena aku tahu so eun berbohong jadi aku menjawab ‘iya’ saja.”
“dia belum juga datang ke rumahku.”
“Apa kau menonton berita hari ini kim bum-ssi? Katanya malam ini akan ada badai salju.” Mata kim bum membulat mendengarnya.
“aku khawatir, sudah beberapa kali aku menghubungi so eun tapi dia tak menjawabnya juga. Aku takut terjadi sesuatu padanya.” Nada nirin di ujung sana semakin terdengar cemas saja.
“apakah berita yang kau katakan tadi benar?” Tanya kim bum.
“ne, aku minta bantuan padamu kim bum-ssi, tolong cari so eun ! aku sudah terlanjur mengatakan pada ibunya jika dia bersamaku, jika terjadi sesuatu padanya pasti aku juga akan merasa bersalah.” Pinta nirin.
Kim bum terdiam.
“mungkin saja dia sudah dekat dengan daerah tempat tinggalmu, aku sangat berterimakasih jika kau mencarinya.”
“aku mengerti.” Balas kim bum akhirnya.
“terimkasih kim bum-ssi, bisakah kau menghubungiku jika sudah bersama dengan so eunni?” pinta nirin.
“aku akan menghubungimu.” Balas kim bum. Sambungan telpon pun terputus.

Kim bum mendesah. “sebenarnya kemana gadis itu?” pikir kim bum.
Dengan cepat ia pun melempar selimut yang membungkus tubuhnya, memakai mantel berwarna abu tua, dan langsung keluar dari apartemennya.
Cuaca diluar benar-benar dingin, sampai-sampai mulut kim bum pun sulit untuk berbicara. Hidungnya memerah, dan terpaan angin dingin menusuk wajahnya. salju-salju kecil pun mulai turun, semakin menambah rasa dingin yang menghinggapi tubuhnya.
“maaf…” kim bum membuat kedua orang wanita sekitar berumur 40 tahunan yang sedang terburu-buru itu berhenti berjalan.
“apakah kau melihat seorang perempuan di sekitar sini? Dia anak SMA, rambutnya sepanjang ini?” Tanya kim bum seraya mencontohkan panjang rambut so eun dengan tangannya. Kedua perempuan tua itu mengerutkan keningnya.
“hidungnya mancung, dan pipinya sedikit berisi.” Tambah kim bum.
“apakah dia hilang?” Tanya salah satu dari wanita tua itu.
“ani….ah ne.” balas kim bum.
“jika kau tidak juga menemukannya, lebih baik kau menghubungi polisi.” Saran wanita tua yang satunya lagi.
“ah kamsahamnida.” Balas kim bum.
Kim bum menghela nafasnya, membuat uap putih keluar dari mulutnya. Jalanan sudah sepi, tak ada orang yang bisa ia tanya. Mungkin karena malam ini akan ada badai salju. Semua orang pasti diam di rumah mereka masing-masing. Kim bum sudah mencoba mencari so eun ke jalanan di sekitar rumahnya, dan sekarang ia sudah mencarinya cukup jauh. Ia betul-betul khawatir. Belum pernah ia khawatir seperti ini, terlebih pada seorang wanita.
“sebenarnya, ada diamana dia sekarang?” batin kim bum. Ia sudah lelah, nafasnya terengah-engah. Ia juga sudah terlalu lama berada di luar.
“SIAL !” kesalnya lalu memukul tiang listrik di dekatnya. Kim bum terlihat sedikit frustasi karena tak kunjung menemukan so eun. Hal-hal aneh pun muncul di pikirannya.
“ada dimana kau sekarang?” gumam kim bum.
“oh….kim bum-ssi.” Suara perempuan ini membuat kim bum langsung menegakkan tubuhnya dan berbalik ke belakang. Ia melihat so eun berdiri beberapa meter di belakangnya.
“kim so eun?” ujar kim bum.
“kenapa kau ada di luar?” tanya so eun polos. “apakah ada sesuatu yang ingin kau beli? Di dekat sini ada minimarket yang masih buka. Meskipun sedikit jauh tapi tak apa, aku bisa mengantarmu.” Ujar so eun. Kim bum menatap so eun tidak percaya. Bagaimana bisa ia bicara sepolos ini di saat orang lain mengkhawatirkannya.
“YAK GADIS BODOH !!!” teriak kim bum tepat di wajah so eun. So eun sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang. Ia takut kenapa kim bum tiba-tiba membentaknya.
“JANGAN BERCANDA DENGANKU ! MALAM INI AKAN ADA BADAI SALJU ! TIDAK HANYA PONSELMU YANG SULIT DIHUBUNGI DAN KAU BERSIKAP POLOS DIDEPANKU, KENAPA KAU TIDAK MENGHUBUNGIKU JIKA KAU AKAN TELAT DATANG, HAH?” teriak kim bum. So eun malah menatap kim bum tanpa berkedip.
“SEBENARNYA SEDARI TADI APA SAJA YANG KAU LAKUKAN, DAN DARI MANA SAJA KAU?” kim bum malah semakin membentak so eun, membuat so eun jadi takut.
“i..itu…tadi aku salah naik bus dan harus memutar arah dulu. Lalu aku berniat pergi ke minimarket terdekat, tapi ternyata semua sudah tutup. Dan aku kembali ke minimarket yang lumayan jauh.” Jawab so eun dengan nada rendah.
“hah? Minimarket?” Tanya kim bum, kelihatannya ia masih sedikit marah, tapi lebih mending daripada saat pertama.
“anu….jika aku tidak ke minimarket, aku tidak akan bisa membawa ini…” so eun mengangkat kedua tangannya yang membawa kantong plastik. Kim bum mengerutkan kening melihatnya.
“hotpot set.” Lanjut so eun.
“ha? Hotpot?” Tanya kim bum.
So eun menundukkan kepalanya, bibirnya sedikit mengerut. “cuaca hari ini sangat dingin, aku rasa kau juga tidak punya hotpot set di rumahmu, jadi aku membelinya. Jadi aku rasa hotpot ini akan membuat sedikit hangat.” Jelas so eun. kim bum kini hanya bisa menatap so eun saja.
“lagipula aku rasa kau juga lapar, jadi aku membeli sedikit makanan, aku pernah berkunjung ke rumahmu dan kau tidak punya persediaan makanan yang banyak. Dan….dan juga…aku ingin melakukan sesuatu yang cukup girly…seperti memasak.” Ujar so eun dengan suara pelan. Sebenarnya ia malu untuk mengungkapkan ini kepada kim bum. Tapi ia harus memberitahunya. Kim bum membulatkan matanya mendengar apa yang so eun katakana. Sebegitu perhatiannya kah perempuan ini?
“yah meskipun aku tidak terlalu baik dalam memasak.” Perlahan so eun pun mengangkat kepalanya untuk menatap kim bum.
“haaah…” kim bum menghela nafasnya. “kau memang benar-benar bodoh !” kim bum melipat kedua lengannya di dada.
“meskipun itu semua adalah alasanmu, tapi setidaknya kau menghubungiku dulu sebelumnya, jadi tak membuat orang lain repot. Aku sampai berfikir sesuatu yang buruk terjadi padamu.” Ujar kim bum.
“mian~” balas so eun.
Tiba-tiba kim bum mengulurkan tangannya ke arah so eun. So eun menatap kim bum tidak mengerti.
“berikan padaku !” perintah kim bum.
“huh?”
“kemarikan kantong plastik itu !”
So eun pun memberikan ke dua kantong plastik itu pada kim bum. So eun tak sengaja menyentuh tangan kim bum. Tangan kim bum sangat dingin, bahkan lebih dingin dari tangannya. Kim bum pun berbalik dan berjalan lebih dulu dari so eun.
“apakah dia sudah lama berada di luar hanya untuk mencariku?” gumam so eun seraya menatap punggung kim bum. “tangannya dingin sekali.”
“ayo cepat kita pulang ! aku hampir mati kedinginan, dan ini semua karena aku mengkhawatirkan peliharaanku yang bodoh !” ujar kim bum membalikkan tubuhnya menatap so eun.
Tiba-tiba senyum tersungging di wajah so eun. ‘ternyata, dia khawatir padaku.’ Batin so eun lali ia pun berlari kecil untuk mensejajarkan tubuhnya dengan kim bum.
“kalau begitu, biarkan aku menghangatkan tubuhmu, walaupun hanya sedikit.” Ujar so eun yang tanpa diminta langsung menggandeng lengan kim bum. Kim bum cukup kaget dibuatnya. Ia menatap so eun yang berada di sampingnya dengan kening berkerut dan mata yang sedikit membulat.
“ya ya ! lepaskan tanganku !” suruh kim bum.
“tapi ini semua salahku kan? Tidak ada yang bisa aku lakukan selain membuatmu hangat.” Balas so eun.
“aku tidak apa-apa, jadi lepaskan !” pinta kim bum.
“wae? Lagipula aku hanya peliharaanmu kan?” ujar so eun, wajahnya tampak berseri-seri saat ini.
Kim bum yang melihatnya pun jadi tak bisa berbuat apa-apa. “lakukan apa yang kau mau.” Akhirnya kim bum mengalah.
“hehehehe.” So eun malah tersenyum dan semakin mengeratkan tangannya menggandeng lengan kim bum.
“Aku jadi tidak mood untuk mengajarimu malam ini.” Ujar kim bum.
So eun mengerucutkan bibirnya. “miaaaaann.”

Bahkan meskipun tangannya terasa sangat dingin, dia berusaha mencariku, marah, lalu teriak-teriak kepadaku. Sekarang ini, aku merasa jika aku sudah diperlakukan layaknya seorang perempuan. Terkadang aku senang hari ini salju turun cukup lebat. Akankah kim bum-ssi mulai bisa merubah hatinya?

To Be Continued

Mian jika ceritanya kurang memuaskan, tapi saya harap kalian menyukainya.

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya

Today, Love Is Begin PART 7

Today, Love is Begin

kbkse110
Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

PART 7

Kim bum diam untuk beberapa saat. Ia menatap punggung so eun dari belakang, lalu ia membuang nafasnya. “seberapa besar kau menyukaku?” itulah yang keluar dari mulut kim bum. So eun memutar kepalanya untuk melihat kim bum.
“jika kau ingin tahu apakah hatiku sudah terbuka atau belum, maka intiplah ! tapi jika kau tidak seberapa menyukaiku, maka kau tidak usah melakukannya dank au tidak akan bisa memilikiku ! okay ?” ujar kim bum. So eun terdiam cukup lama mendengarnya. Ia menatap kim bum tanpa berkedip. Tiba-tiba kim bum mengulurkan tangan kanannya pada so eun. So eun menatap tangan itu dengan kening berkerut lalu kembali menatap kim bum. So eun bingung dengan sikap kim bum sekarang.
“jadi, mana yang akan kau pilih?” Tanya kim bum. So eun masih diam, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan dan apa yang harus ia lakukan. Ia masih menatap kim bum tidak mengerti.
“jika kau memang benar-benar menyukaiku, maka terima tanganku ! tapi jika tidak, abaikan saja aku !” kim bum memberikan pilihan kepada so eun. Tapi dengan pilihan yang kim bum berikan, so eun malah semakin diam dan hanya bisa menatap kim bum. Ia butuh waktu untuk mencerna apa yang kim bum katakan sekarang ini, di tempat ini. Karena so eun tak kunjung juga memberikan respon. Akhirnya kim bum pun meraih tangan kiri so eun bahkan sebelum so eun memilih, kim bum menarik tangannya lalu menggenggam tangan so eun. So eun tidak menolak atau pun melakukan sesuatu, ia hanya menerima saja ketika kim bum menariknya dan menggenggam tangannya. Mendadak, pipinya kembali memerah dan jantungnya berdegup lebih cepat. So eun berjalan di belakang kim bum dengan tangan kirinya yang digenggam kim bum. So eun bisa merasakan tangan kim bum yang besar dan dingin itu.
“heh….persis seperti yang telah aku pikirkan, pada akhirnya kau akan jatuh cinta kepadaku. Kau memang bodoh !” ejek kim bum.
“kau…kau sangat menyebalkan !” balas so eun, sejujurnya ia salah tingkah dengan sikap kim bum yang berubah sekarang ini.
“ya ya terserah kau.” Kim bum hanya membalasnya dengan jawaba iya saja.
Pada akhirnya, hatiku yang tadinya telah remuk, kini mulai tersusun lagi.
-today love is begin-

Chungju Highschool
Selama di kelas, so eun hanya bisa melamun seraya menopang dagu dengan tangannya. Saat belajar pun ia tidak bisa berkonsentrasi dengan benar. Yang ada di otaknya saat ini adalah hanya tentang kejadian kemarin malam. Kejadian itu terus saja berputar-putar di kepalanya. Memang benar, so eun sangat senang dengan apa yang terjadi kemarin. Tapi, so eun masih belum mengerti dengan sikap kim bum. Sikapnya itu selalu tidak terduga, terkadang ia sangat kasar padanya, kadang juga berubah menjadi baik. Dan itu semua yang membuat so eun tidak bisa berhenti menyukainya, meskipun so eun sempat berpikir untuk menghilangkan perasaanya kepada kim bum karena sikap kim bum yang selalu kasar. Tapi, bolehkah untuk saat ini so eun berharap lebih?
‘aku penasaran…..sebenarnya dia itu menganggapku seperti apa?’ gumam so eun, lalu ia mendesah.
‘dia tidak pernah mengatakannya dengan jelas ! apakah aku tidak lebih hanya sebagai peliharaannya saja? Atau………apakah dia sudah mulai menyukaiku? Meskipun hanya sedikit?’ batin so eun bergejolak. Berjuta pemikiran tentang bagaimana perasaan kim bum kepadanya sebenarnya terus saja hadir di kepalanya.
‘bolehkan aku beranggapan jika dia mulai menyukaiku?’
“hye rim-ah…..natal sebentar lagi. Apa yang kau rencanakan bersama pacarmu?” Tanya bo young dengan antusias. Suara bo young yang cukup keras itu membuat so eun tersadar dari lamunannya, dan ia pun memilih untuk memerhatikan bo young dan hye rim yang sedang mengobrol.
“dia mengajakku pergi ke hotel, dan setelah itu kami makan malam disana.” Jawab hye rim sambil tangannya sibuk memainkan ponsel.
“ehh? Jincharu? Merayakan natal di hotel? Kau masih di bawah umur hye rim-ah ! bagaimana jika terjadi sesuatu yang…….”
“kami tidak akan melakukan hal sampai di luar batas, kami hanya merayakan natal di hotel dan itu pun bersama dengan teman-temannya yang lain.” Potong hye rim, meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.
“ah….ara ara hahaha, kekasihmu benar-benar punya uang yang banyak ! dia selalu membelikanmu barang-barang yang mahal. Uh aku jadi iri !” ujar bo young.
“lalu kau sendiri punya rencana apa dengan kekasihmu?” Tanya hye rim yang kini mulai menatap bo young. Bo young tersenyum.
“meskipun tidak semewah rencanamu, tapi kami akan pergi bermain ski.” Jawabnya dengan senang.
“oh….aku rasa itu lebih romantis.” Balas hye rim.
“ya hehehe, akhir-akhir ini dia memang jadi lebih romantis kepadaku. Aku jadi semakin mencintainya.” Ujar bo young dengan senyum merekah di bibirnya.
So eun merasa iri mendengar percakapan mereka, terlebih ia tidak punya rencana apa-apa dengan kim bum. Yah, mau bagaimana lagi? Mereka bukanlah sepasang kekasih yang nyata. Menyadari fakta tersebut, membuat so eun sedikit menciut dan ia benar-benar iri kepada kedua temannya ini.
“ah ya, apakah kau berencana memberikannya sesuatu? Hadiah?” Tanya bo young.
“hmm…mungkin baju atau….jam tangan.” Jawab hye rim enteng.
“eehhh…” bo young sedikit terkejut. “apakah jam tangan tidak terlalu mahal?” Tanya bo young.
“entahlah, jika aku punya banyak uang aku akan membeli jam tangan.” Jawab hye rim, lalu ia menatap so eun yang sedari tadi hanya diam seraya memerhatikan mereka dengan wajah sedikit lemas.
‘uuuhh, aku benar-benar iri kepada mereka !’ batin so eun.
“jadi…” ujar bo young menggantung.
“waegeurae so eun-ah? Kau kelihatan tidak bersemangat.” Ujar hye rim yang membuat so eun tersadar dan langsung menegakkan posisi duduknya. Bo young juga melihat so eun kini.
“huh?”
“apakah kau sedang punya malasah dengan kim bum-ssi?” Tanya bo young.
“eehhh? A…ani…waeyo?” Tanya so eun gelagapan.
“karena sedari tadi kau hanya diam dan hanya memerhatikan kita, kau juga tak ikut mengobrol seperti biasanya.” ujar bo young.
“apakah kau belum merencanakan sesuatu di natal bersama kim bum-ssi?” Tanya hye rim.
So eun langsung bingung, ia tidak tahu harus menjawab apa. Apakah ia harus berdusta lagi kepada bo young dan hye rim.
“te…tentu saja sudah punya rencana !” jawab so eun dengan lantang, namun nada bicaranya seperti tersendat oleh sesuatu.
“kita berencana akan makan kue natal bersama dan bertukar hadiah juga.” Lanjut so eun.
“kedengaran sangat sederhana.” Timpal hye rim.
“tapi bukankah itu kelihatan seperti seleranya kim bum-ssi?” tambah bo young seraya menatap so eun.
“ah….be..benar hehe.” Jawab so eun dengan senyum terpaksa.
“kalau begitu ayo kita saling berkirim email dan bertukar foto saat merayakan natal bersama dengan kekasih kita masing-masing !” ujar bo young dengan bersemangat. Mendengar hal itu, so eun langsung es krim yang mencair.
“tidak masalah.” Balas hye rim.
“bagaimana so eun-ah?” Tanya bo young.
“huh? Aa…um…ba..baiklah.” jawab so eun akhirnya. Ini gawat ! apa yang harus ia lakukan?
“ah…..aku rasa akan sangat menyenangkan !” bo young terlihat sangat senang sekali diikuti hye rim yang juga tersenyum lebar. Tapi berbeda dengan so eun, ia hanya diam dengan wajah yang terlihat kusut. Apa yang harus ia katakan kepada kim bum tentang hal ini? Jika ia mengatakannya pasti kim bum tidak akan melakukan hal semacam itu? Pasti kim bum tidak akan mendengarnya.
‘eotteokae?’ batin so eun
-today love is begin-

Bel pulang sudah berbunyi. Semua murid memakai jaket yang super tebal karena sekarang sudah memasuki musim salju, yeah natal pun sebentar lagi akan tiba. So eun dengan langkah yang sedikit gusar keluar dari kelasnya. Ia masih bingung apa yang harus ia lakukan? Ia sudah terlanjur berbohong kepada bo young dan hye rim. Ia juga sudah terlanjur setuju untuk saling bertukar foto dengan mereka.
“kau lama sekali !” ujar kim bum yang sedari tadi sudah menunggu so eun sambil menyender di dinding kelas so eun. So eun sedikit terkejut karena kim bum tidak seperti biasanya sudah keluar kelas lebih dulu, biasanya selalu so eun yang harus menunggu kim bum.
“a..ah mian.” Jawab so eun. Kim bum pun mulai berjalan lalu diikuti oleh so eun. So eun tampak sesekali mencuri pandang kepada kim bum yang sedari tadi terus meniup-niup dan menggosok-gosok tangannya.
“seharusnya penghangat juga dipasang di setiap lorong.” Ujar kim bum.
“ah…ne, kau benar.” Balas so eun. “saat keluar dari kelas, udara jadi terasa semakin dingin.” Tambahnya.
“hmmm..” setelah itu tak ada lagi percakapan diantara mereka. So eun sempat berpikir, apakah lebih baik ia mengatakannya sekarang saja kepada kim bum? Perihal janji yang sudah ia buat dengan kedua temannya.
“um……natal sebentar lagi tiba.” So eun memulai pembicaraan.
“natal, huh?” Tanya kim bum. So eun menatap kim bum. Dari ekpresi yang tergambar dari wajah kim bum, sepertinya kim bum tidak begitu tertarik dengan perayaan natal.
“kau…kau kelihatan tidak menyukainya.” Ujar so eun hati-hati. Kim bum mendesah.
“natal hanyalah……kebohongan belaka ! apa yang menyenangkan dari itu? Terlalu banyak acara yang mengumbar tentang cinta ! terlalu banyak orang dan aku tidak suka berdesak-desakan saat berjalan di sepanjang trotoar !” jelas kim bum. So eun ternganya hebat dibuatnya. Ia benar-benar tidak menyangka kim bum akan mengatakah hal tajam seperti ini tentang natal.
“di sepanjang jalan mereka memutar musik yang sama, bahkan di televisi. Heh…apakah mereka tidak bisa melakukan hal lain selain itu?” lanjut kim bum. Sekarang so eun benar-benar tidak bisa menimpali ucapan kim bum. Kata-katanya itu sungguh di luar batas. Bagaimana bisa ia mengatakan hal seperti ini tentang natal? So eun hanya bisa menatap kim bum dengan mata membulat tanpa berkedip. Menyadari hal itu, kim bum pun memutar kepalanya untuk menatap so eun, lalu kim bum memamerkan senyum yang dibuat-buat itu selebar mungkin.
“jadi, apa yang kau mau tiba-tiba membicarakan tentang natal?” Tanya kim bum masih dengan senyumnya yang dibuat-buat itu.
“e..eehh….ani…bukan apa-apa. Aku hanya senang saja natal sebentar lagi akan tiba.” jawab so eun dengan cepat.
“ah….arasseo.” balas kim bum. Lalu mereka kembali melanjutkan jalannya.
So eun menatap lorong di depannya. ‘kalau begini aku tidak bisa memintanya untuk pergi di hari natal setelah dia mengatakan kata-kata tadi. Tapi, aku juga tidak terlalu mempermasalahkannya. Itu juga tidak seperti aku benar-benar menantikan natal dan ingin merayakannya bersama kim bum-ssi.’ Batin so eun.
“ah…” Tapi tiba-tiba so eun menghentikan langkahnya. Ia melupakan sesuatu, dan sesuatu itu kembali teringat olehnya. Kim bum juga ikut menghentikan langkahnya dan menatap so eun dengan kening berkerut.
“kalau begitu, apa yang harus aku lakukan dengan foto nya !” ucap so eun dengan suara yang cukup keras. Ia tidak menyadari jika kim bum sedang menatapnya dan juga pasti mendengar apa yang barusan keluar dari mulutnya. kim bum mengerutkan keningnya.
-today love is begin-

“jadi kita harus pura-pura merayakannya, huh?” Tanya kim bum dengan tatapan lurus ke depan. So eun hanya memain-mainkan kedua telunjuknya seraya menundukan wajahnya. karena so eun ingat dengan janji itu, dengan keberanian penuh ia pun akhirnya menceritakan yang sebenarnya tentang foto itu kepada kim bum.
“kau hanya ingin menunjukkan fotomu kepada mereka. Tapi aku rasa jika kau tidak mengirimnya, itu tidak akan menjadi permasalahan !” ujar kim bum datar.
“ta…tapi..” kata so eun menggantung.
“aku tidak tertarik untuk melakukan hal itu, terlebih kau melakukannya hanya untuk membuat mereka senang.” Ujar kim bum. So eun langsung menatap kim bum.
“tapi….tidak ada cara lain yang bisa aku lakukan selain mengirimkan foto kepada mereka ! aku sudah terlanjur membuat janji !” ujar so eun.
“heh….” Kim bum mendesah. “perempuan memang sangat menyusahkan !” ujarnya. So eun tak berkata apa-apa lagi, ia hanya diam seraya menatap kim bum dengan penuh harap.
“annyeong tuan tampan……!” tiba-tiba saja seorang perempuan berumur sekitar 27 tahunan menyapa mereka saat kim bum dan so eun melewati sebuah toko, perempuan itu membawa sebuah kotak kecil yang didalamnya terdapat cincin. Kim bum dan so eun menatap perempuan itu dengan tatapan bertanya-tanya.
“apakah kau berniat ingin memberikan kekasihmu hadiah? Jika kau sedang bingung memikirkan apa yang akan kau berikan kepada kekasihmu, cobalah datang ke toko kami ! disini banyak sekali barang-barang yang populer untuk para gadis ! lihatlah ! seperti cincin ini ! cincin ini sangat cocok untuk kekasihmu.” Perempuan itu berbicara panjang lebar kepada kim bum dengan bersemangatnya.
Kim bum mengangkat tangannya. “ah mian….aku sudah menyiapkan sesuatu yang lebih mewah dari pada cincin itu untuknya.” Balas kim bum dengan senyum terpaksa. So eun langsung menahan tawanya saat kim bum berbicara seperti.
“ah…begitu ya? Tapi jika Anda berubah pikiran, datang saja ke toko kami, ne? kami akan memberikan diskon !” ujar perempuan itu.
“ah ye.” Balas kim bum. Lalu mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.
“ucapanmu itu, benar-benar kebohongan yang luar biasa !” cibir so eun.
“aku harus membuatnya berhenti bicara, jika tidak dia akan terus memaksaku untuk membeli barangnya. Lagi pula aku benar-benar tidak mengerti tujuan membeli hadiah di hari natal. Bukankah hadiah hanya untuk ulang tahun saja.” Ujar kim bum dengan entengnya.
“tapi kan tidak masalah jika hadiah itu bisa membuat orang lain senang.” Timpal so eun.
“eh…tunggu ! Apa jangan-jangan kau tidak pernah mendapatkan hadiah di hari natal? kau itu kan populer di kalangan perempuan.” Ujar so eun.
“aku membuang semua hadiahnya.” Jawab kim bum datar.
“eh…?” so eun terkejut. “lalu dari ayahmu? Ibumu? Atau keluargamu?” Tanya so eun. Kim bum membuang nafasnya.
“mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Ayahku terlalu sibuk bekerja, dan aku sudah lama tidak bertemu ibuku.” Jawab kim bum. So eun mendadak diam, ia sudah salah bicara pada kim bum. Ia melupakan hal jika kim bum hanya tinggal bersama ayahnya.
“a..ah…mian, aku tidak bermaksud….”
“heh…..jadi haruskan aku memberikanmu sesuatu?” Tanya kim bum yang kini menatap so eun.
“e..ehh? mwo?” kaget so eun.
“kalung atau semacamnya?” Tanya kim bum. So eun kaget ! tentu saja ia kaget dengan apa yang kim bum katakan barusan. Apakah itu artinya kim bum akan memberikannya hadiah di hari natal?
“maksduku, kalung peliharaan? Atau haruskah aku juga membelikan tali pengikat agar aku bisa menuntunmu sepanjang jalan?” Tanya kim bum dengan senyum evilnya. So eun tak berkedip menatap kim bum, dan itu berlangsung cukup lama.
“umm….b…baiklah….bagiku tidak masalah ! aku mau !” jawab so eun. Kim bum langsung berhenti tersenyum evil dan menatap so eun dengan tidak percaya.
“aku hanya bercanda, jangan mengartikannya terlalu serius !” ujar kim bum. Wajah so eun mendadak terlihat lesu.
“j…jadi, hanya bercanda ya? Haaah aku ini bodoh sekali !” so eun menjitak kepalanya sendiri. Ia benar-benar kecewa.
“kau memang bodoh ! gunakan sedikit otakmu !” ujar kim bum.
So eun diam, tapi ia memberanikan dirinya untuk membalas perkataan kim bum. Sepertinya so eun sudah kebal dengan kata-kata menyakitkan dari kim bum. Entah kenapa ia juga sedang tidak ingin marah dan berdebat dengan kim bum.
“menerima hadiah dari seseorang yang kau suka, itu akan terasa lebih spesial. Tidak masalah apa yang dia berikan, yang penting hal itu bisa membuatmu merasa senang. Dan kau akan menyimpannya sebagai barang berharga.” Ujar so eun dengan suara pelan. Kim bum menatap so eun cukup lama, ia tidak sampai berpikir so eun akan mengatakan hal bijak seperti itu mengingat so eun sedikit bodoh.
“heh….” Kim bum mendesah. “aku tidak menyangka perempuan benar-benar menyusahkan ! mereka tidak suka berpikir panjang tentang sesuatu, huh?” ujar kim bum. So eun hanya bisa mengerucutkan bibirnya mendengat apa yang dikatakan kim bum.
“ah…lihatlah !” so eun menunjuk pohon natal besar yang ada di depan sebuah café yang cukup ramai. Banyak orang-orang yang berfoto disana, sepasang kekasih maupun anak-anak yang bersama kedua orang tua mereka.
“pohonnya besar sekali ! yeppoda !” kagum so eun seraya menatap pohon natal itu dengan mata berbinar. Kim bum melipat kedua lengannya di dada.
“ada bentuk hati juga di tengah-tengah pohon itu, huh?” ujar kim bum. So eun mengabaikan perkataannya dan malah berjalan mendekati pohon natal itu dengan tidak sabaran, mau tak mau kim bum pun mengikutinya dari belakang.
“hey, apakah kita benar-benar akan mengambil gambar disana?” Tanya kim bum.
“bukankah itu sangat indah?” Tanya balik so eun. Kim bum mendasah.
“yeah terserah, cepat dan segera ambil fotonya ! lalu setelah itu kita bisa segera pulang !” suruh kim bum.
“b..baiklah.” jawab so eun. Kini mereka berdua sudah berdiri di depan pohon natal besar yang cantik itu. Dengan lampu berkerlap-kerlip di sekelilingnya yang menghiasi pohon itu, di tambah lagi dengan bentuk hati tepat di tengah pohon itu dengan tulisan selamat natal. So eun pun mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi kamera.
“tutup seragammu dengan syal dan jaketmu !” suruh kim bum.
“ah ya kau benar, jika tidak kita akan ketahuan.” Setuju so eun yang baru saja menyadarinya, lalu ia pun mulai membenarkan syal dan jaketnya hingga menutupi identitas seragam sekolahnya.
“tapi, aku rasa pohon natalnya tidak akan ikut terambil. Dan aku rasa cukup sulit untuk mengambil gambar tanpa memperlihatkan seragam kita.” Ujar so eun setelah ia mencoba mengarahkan kamera depannya pada wajahnya.
“ckkk…baiklah berikan padaku !” kim bum mengambil alih ponsel so eun. “lihat kemari !” suruh kim bum pada so eun agar so eun melihat ke arah kamera. Tanpa so eun sangka, tangan kim bum yang lain juga menyentuh pundak so eun. So eun cukup terkejut dibuatnya, jantungnya berdegup sangat cepat, ditambah kini posisi mereka begitu dekat. “senyum !” suruh kim bum. So eun pun tersenyum dengan sedikit canggung seraya mengangkat tangannya dan membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Klik…..kim bum sudah menekan tombol kamera dan gambar pun sudah diambil dengan sempurna.
Kim bum melihat foto itu. “aku rasa ini sudah cukup, bahkan pohonnya pun terambil walaupun hanya sedikit.” Ujar kim bum lalu memberikan ponsel itu kepada so eun. So eun menerima ponsel itu dan melihat fotonya. So eun memegangi pipinya yang tiba-tiba memanas dan pastinya sudah berubah menjadi merah.
‘kyaaaa….aku dan kim bum-ssi terlihat seperti pasangan asli.’ Batin so eun. Ia sangat senang namun tidak bisa mengekspresikannya dengan bebas sekarang. Sementara itu kim bum melanjutkan langkahnya meninggalkan so eun yang masih menatap foto itu.
‘tapi, ekpresi wajahku kelihatan tidak natural sekali ! tadi aku sangat gugup dan malu, berbeda dengan kim bum-ssi, dia kelihatan sempurna !’ batinnya seraya memegangi salah satu pipinya yang masih terasa panas.
‘tapi meskipun begitu, hal ini tidak berarti sama sekali baginya’ so eun mendadak lemas lagi.
“oi….so eun-ssi.” Panggil kim bum, ia memutar kepalanya untuk melihat so eun yang masih berdiri di tempatnya. So eun langsung menatap kim bum.
“aku kedinginan, percepat jalanmu !” perintah kim bum datar lalu kembali melanjutkan langkahnya. So eun pun mengikutinya dari belakang. Melihat ekspresi kim bum yang biasa-biasa saja. Membuat so eun seperti orang tolol karena pada nyatanya hanya ia yang terlihat sangat antusias. So eun memandangi punggung kim bum. Bagaimanapun juga, ia masih belum bisa menghilangkan rasa sukanya pada kim bum. Tiba-tiba saja so eun merasa perutanya sakit, ia tidak tahu kenapa ini begitu tiba-tiba. Ia berusaha mengabaikan rasa sakitnya dan tetap berjalan mengikuti kim bum, tapi karena terlalu lama ditahan, rasa sakit itu semakin besar. Seperti ada yang melilit-lilit ususnya, ia tidak bisa menahannya lagi.
“ugh…..” ringis so eun. So eun memegangi perutnya lalu ia pun berjongkok di trotoar. Dahinya juga berkeringat dingin.
Mendengar ringisan so eun, kim bum pun menghentikan langkahnya dan memutar kepalanya untuk melihat so eun. Ia terkejut saat melihat so eun tengah berjongkok seraya memegangi perutnya menahan sakit.
“ya? Ada apa?” kim bum langsung menghampiri so eun dan berjongkok di depannya.
“p..pe..perutku ! perutku sakit sekali !” ringis so eun. Kim bum menggaruk tengkuknya. Mau tak mau ia pun memapah so eun ke café terdekat. Kim bum menyuruh so eun untuk menunggu, lalu ia pun pergi untuk membeli obat tanpa memberitahu so eun.
So eun terus saja memegangi perutnya, rasa sakit itu belum juga hilang. Dan yah……so eun baru sadar, ia belum makan sedari tadi, ia lupa saat ia di sekolah karena ia terlalu banyak melamun. So eun merutuki dirinya sendiri karena kebodohannya.
Tak lama kemudian kim bum datang. “ini !” kata kim bum seraya meletakkan kantong plastik di atas meja.
So eun yang tadinya menyandarkan kepalanya pada meja, sedikit mengangkat wajahnya.
“obat sakit perut, makanlah !” suruh kim bum. “untuk sementara kita duduk dulu disini sampai keadaanmu lebih baik. Jadi istirahatlah !” ujarnya.
“a..apakah kau sengaja pergi untuk membeli obat ini?” Tanya so eun.
“seharusnya kau berterimakasih kepadaku. Aku berlarian sepanjang jalan untuk menemukan apotek dan membeli obat untukmu.” Jawab kim bum.
“g..gomawo. Berapa harganya?” Tanya so eun.
“kau tidak perlu membayarnya.” Jawab kim bum.
“tapi….aku merasa tidak enak.” Balas so eun. Kim bum menghembuskan nafasnya.
“apa kau sudah lupa dengan apa yang kau lakukan saat aku terkena demam?” Tanya kim bum. “jadi kau tidak perlu membayarnya, aku tidak akan menerima uangnya. “lanjut kim bum. So eun cukup tertegun mendengarnya. So eun menyunggingkan senyumnya sedikit.
“gomawo.” Ujarnya. Lalu so eun pun mulai memakan obat itu dengan bantuan air putih yang sudah ada di atas meja. Kim bum melipat tangannya di atas meja seraya memerhatikan so eun.
“ngomong-ngomong, melihatmu sakit perut seperti itu. Kau kelihatan seperti nenek-nenek, memangnya apa yang sedang kau pikirkan, huh?” cibir kim bum.
“huh?”
“bukankah lebih baik kau menceritakannya kepadaku apa yang sedang kau pikirkan?” ujar kim bum seraya menopang dagunya. “aku akan mendengarnya, atau kau ingin bertanya sesuatu kepadaku?” Tanya kim bum sok ramah. “aku akan menjawabnya.”
So eun terdiam cukup lama dengan kening berkerut menatap kim bum. “benarkah?” Tanya so eun. Kim bum mengangguk.
“aku curiga kau hanya bercanda dan ujung-ujungnya hanya akan mempermainkanku.” Ujar so eun.
“ani, kali ini aku serius.” Balas kim bum. So eun menatap kim bum dengan tatapan menyelidik, berusaha untuk memastikan apakah kim bum benar-benar serius atau hanya bercanda. Tapi karena ekspresi wajah kim bum yang sulit ditebak, so eun pun beranggapan jika kim bum memang sedang serius sekarang ini.
“mm…b..baiklah, ada satu hal yang ingin aku tanyakan kepadamu.” Ujar so eun. Kim bum menatap so eun, menunggu apa yang akan so eun tanyakan. “s..sebenarnya….apa aku bagimu?” Tanya so eun akhirnya. “hanya mainan untuk menghiburmu karena kau merasa bosan? Atau hanya sebagai peliharan yang bisa kau perlakukan semaumu asal kau merasa senang? Apakah seperti itu?” kim bum diam mendengarnya. Tak ia sangka, so eun akan bertanya tentang hal ini. “adakah perasaan spesial di hatimu kepadaku? Meskipun hanya sedikit?” lanjut so eun. Kim bum diam, ia hanya memandang so eun saja tanpa ada tanda-tanda ia akan menjawab atau apa. Hal itu membuat so eun sedikit ciut dan jujur ia merasa kesal. So eun pun berdiri lalu mengambil gelas yang masih berisi air setengahnya.
“yak ! jawablah ! atau aku akan menumpahkan air ini ke wajahmu !” ancam so eun. Sebenarnya ia hanya ingin saja kim bum menjawab pertanyaannya dengan jujur. Ia sangat ingin tahu perasaan kim bum kepadanya seperti apa.
Tapi kim bum masih tetap diam, ia malah menyandarkan tubuhnya pada kursi seraya melipat lengannya.
“yak ! bukankah kau bilang akan menjawab pertanyaanku? Jadi jawablah !” pinta so eun.
Grab……tiba-tiba kim bum menahan tangan so eun yang memegang gelas itu. So eun terkejut dengan tindakan kim bum yang tiba-tiba. Apalagi ditambah dengan kim bum yang tepat menatap matanya.
“aku menyukaimu, kim so eun.” Ujar kim bum akhirnya. Mulut so eun sedikit terbuka mendengarnya, matanya juga membulat. Ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan eskpresi kagetnya dengan ucapan kim bum barusan. Kim bum juga menyukainya?
“aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika perempuan yang aku benci terus berada di sampingku. Pasti aku sudah sangat muak dan aku akan meninggalkannya. Dan kau tahu? Jika aku tidak tertarik dengan mainanku, maka aku akan segera membuangnya jauh-jauh. Tapi itu tidak terjadi padamu. Gzzzz…..ini sangat memalukan, jadi….aku tidak berani menceritakannya kepadamu. Tapi….sebenarnya aku memang menyukaimu.” Jelas kim bum.
Entah kenapa, mata so eun kini mulai berair. Ia benar-benar senang dan terharu. Ternyata kerja kerasnya selama ini akhirnya berbuah hasil juga. Akhirnya kim bum juga menyukainya seperti dia menyukai kim bum.
“uu….huhuhu…” air mata so eun langsung jatuh begitu saja. Kim bum terkejut
“hey….kenapa kau malah menangis?” tanya kim bum.
“m..mian….tapi aku hic hic….aku tidak sampai berpikir kau akan mengatakan hal itu kepadaku. Aku…aku sangat senang.” Ujar so eun, ia berusaha menghapus air matanya yang entah kenapa terus mengalir. So eun terlalu senang.
“yeah aku mengerti, sampai sekarang aku pun masih sering mengejekmu. Mian.” Kim bum merasa menyesal.
“aniyo….gwaenchana…..gwaenchana…..karena semuanya sudah berakhir jadi tidak apa-apa. Itu karena aku terlalu berpikir sederhana.” Bukannya berhenti menangis, tangisan so eun malah semakin keras. “huaaaaaaa hic hic hic……”
“itulah hal unik dari kim so eun.” Ujar kim bum seraya menyunggingkan senyumnya.
“huhuhu…..” so eun mengahapus air matanya. Setelah puas menangis karena terlalu senang, akhirnya air matanya pun reda (?) juga meskipun buliran-buliran bening itu masih menggenang di matanya.
“um……di tanggal 24, aku…aku ingin merayakannya dengan kim bum-ssi.” Ujar so eun.
“natal?” Tanya kim bum.
“ne.” jawab so eun.
“tapi, apa yang akan kita lakukan?” Tanya kim bum.
“perayaan yang normal juga tidak apa-apa.” Jawab so eun.
“normal?” Tanya kim bum.
“um….contohnya seperti….kita berdua makan ayam dan kue bersama. Lalu membeli hadiah dan bertukar satu sama lain. Ini adalah natal pertama yang akan aku rayakan bersamamu, jadi aku ingin merayakannya dengamu.” Ujar so eun yang kini sudah berubah menjadi bersemangat. Ruapanya ia sangat menantikan hal ini.
“kedengarannya itu sangat menghambur-hamburkan uang.” Balas kim bum.
“ta..tapi, jika kau keberatan…..aku akan….”
“baiklah, tidak apa-apa.” Potong kim bum. “jika selama itu dengan so eun-ssi, kedengarannya akan sangat menyenangkan.” Lanjutnya.
“k..kim bum-ssi….” So eun hendak menangis lagi.
“jadi, ingin sampai sejauh mana kau akan melanjutkan sandiwara ini denganku?” Tanya kim bum yang kini dengan senyum yang tak bisa diartikan.
“huh?” so eun tak mengerti.
“kau percaya kepada kata-kata orang lain dengan mudahnya, selalu seperti itu. Kau masih belum mengerti diriku, benar kan?” Tanya kim bum, ia menatap so eun dengan senyum mencibir. “tidak mungkin aku mengatakan kata-kata yang manis seperti itu, kan?” lanjutnya.
So eun benar-benar tak habis pikir. Ia mematung sesaat setelah mendengar perkataan kim bum yang kurang ajar itu.
“apa yang kau rencanakan untuk masa depan agar kau tak mudah terpengaruh oleh kata-kata orang lain?” Tanya kim bum. “kau harus sering-sering memutar otakmu.” Lanjutnya.
Splashhhh……….tanpa banyak berpikir so eun langsung mengambil gelas yang sudah ia letakan tadi, dan menumpahkannya tepat di wajah kim bum. Kim bum sendiri shock dengan apa yang so eun lakukan kepadanya.
“K…KAU……KAU BENAR-BENAR KETERLALUAN ! PERGI DAN CEPAT MATILAH KAU! KAU BENAR-BENAR TIDAK PUNYA HATI ! AKU MEMBENCIMU !!!” teriak so eun. Ia tidak peduli dengan semua pengunjung café yang melihatnya. Ia benar-benar marah kepada kim bum, sudah terlalu sering kim bum mempermainkan perasaannya. Air mata so eun kembali jatuh dengan mudahnya, so eun menangis. Lalu dengan cepat so eun pun pergi dari café itu meninggalkan kim bum. Sementara kim bum hanya bisa diam, ia tidak menyangka jika reaksi so eun akan seperti ini. Padahal niatnya ia hanya membuat lelucon. Kim bum akui, leluconnya sudah terlanjur kelewatan kepada so eun.
“apakah kau baik-baik saja tuan? Haruskah aku mengambilkan handuk?” seorang pelayan langsung menghampiri kim bum dengan wajah khawatir. Kim bum menyusut wajahnya yang basah dengan tangannya.
“tidak perlu, aku baik-baik saja.” Jawab kim bum tanpa melihat ke arah si pelayan sedikitpun. Sekarang dia benar-benar menyesal karena sudah terlalu keterlaluan.
-today love is begin-

Sesampainya di rumah, so eun langsung menuju kamarnya yang berada di lantai dua tanpa memperdulikan kedua orang tuanya yang menatapnya dengan heran. Tidak biasanya so eun pulang dengan kondisi menangis seperti itu, bahkan ia mengabaikan ibunya yang bertanya ada apa dengannya. Ayah so eun menatap istrinya. “kenapa dengannya?” tanyanya. Ibu so eun hanya menggeleng sebagai jawabannya.
Bam……….. So eun membanting pintu kamarnya dengan keras, membuat kedua orangtuanya kaget.
“bodoh ! keterlaluan ! manusia es ! aku membencimu !” teriak so eun lalu ia langsung melemparkan tubuhnya ke atas kasur. So eun menelungkupkan tubuhnya dan ia terus saja menangis. Ia benar-benar sudah sakit hati terus saja diperlakukan tidak selayaknya seperti perempuan oleh kim bum.
“sudah cukup ! ini semua benar-benar melelahkan ! aku sudah benar-benar lelah ! menyukai seseorang benar-benar melelahkan ! hic hic hic…….”
“aku ingin kembali seperti dulu, sebelum mengenalnya dan sebelum menyukainya. Aaaa……babo ! laki-laki bodooooh !” tangisan so eun semakin deras. “huaaaa……..hic…hic…”
“jadi karena seorang laki-laki?” gumam ibu so eun yang ternyata sedang menguping di balik pintu kamar so eun dengan suaminya. Ayah so eun menatap istrinya. “aku tidak pernah tahu dia sudah punya kekasih.” Ujarnya. Ibu so eun mengangguk setuju.
“mungkin anak kita sedang bertengkar dengan pacarnya.” Ujar ibu so eun. “kalau begitu lebih baik kita biarkan saja dia, sepertinya dia butuh menyendiri.” Ujar ayah so eun.
“kau benar suamiku, hihihihi.” Bukannya merasa simpati kepada anaknya yang sedang patah hati, mereka malah terkekeh karena senang so eun sudah punya pacar.
Sementara itu, di apartemennya kim bum hanya membaringkan tubuhnya di sopa dengan lengan yang ia jadikan bantal. Kim bum tak memejamkan matanya sama sekali. Ia masih kepikiran dengan sikapnya tadi kepada so eun. Sekarang ia merasa bersalah dan merasa menyesal. Kim bum mendesah hebat seraya menatap langit-langit apartemennya. Bahkan untuk memejamkan matanya pun ia tidak bisa karena pikirannya sekarang sedang dipenuhi bagaimana caranya ia meminta maaf kepada so eun.
-today love is begin-

Natal pun tiba. Setelah malam hari beribadah di gereja bersama dengan kedua orang tuanya, so eun tak juga keluar dari kamarnya hingga siang seperti ini. Ia terus saja menyendiri disana, ia masih tetap murung dan belum bisa melupakan perkataan menyakitkan yang keluar dari mulut kim bum waktu itu. Hal itu membuat kedua orangtuanya sedikit khawatir.
Tok tok tok
Ibu so eun mengetuk pintu kamar so eun dengan hati-hati, ayah so eun juga berdiri di belakang istrinya.
“so eun-ah…” panggil ibunya. “apakah kau ingin makan kue natal?” tawar ibunya.
So eun diam, ia tak menjawab tawaran ibunya. “so eun-ah…..” panggil ayahnya.
“a..aku….aku tidak mau.” Jawab so eun dari dalam kamarnya.
“kau tidak mau? Dari kau kecil, kau selalu antusias untuk makan kue natal. Bukankah kau sangat menyukainya.” Ujar ibunya.
“ani…aku tidak mau.” Jawab so eun.
Ibu dan ayah so eun saling pandang. “yasudah, biarkan saja dia, kita jangan mengganggunya.” Ujar ayah so eun lalu ia pun turun ke lantai satu. Ibu so eun menghela napas lalu mengikuti suaminya ke ruang keluarga.
Tiba tiba ponsel so eun berdering. So eun menatap ponselnya yang ia simpan di sampingnya. Dengan sedikit malas, ia pun mengambilnya dan membuka email yang ternyata dari bo young dan hye rim. So eun diam melihat foto yang baru saja dikirim oleh bo young dan hye rim. Foto mereka masing-masing dengan kekasihnya.
‘mereka kelihatan sangat senang huh’ batin so eun. ‘apakah aku juga harus mengirimkan fotoku?’ so eun pun membuka galeri nya lalu melihat foto dirinya bersama kim bum. So eun melihatnya cukup lama, lalu tiba-tiba ia menangis lagu.
“kim bum-ssi, kau sangat bodoh ! kenapa kau selalu saja mempermainkan perasaanku?” kesal so eun seraya menghapus air matanya.
Tok tok tok
Ibu so eun kembali mengetuk pintu kamar so eun. So eun langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu dan menatapnya dengan kesal.
“bisakah aku bicara denganmu sebentar?” pinta ibunya dari balik pintu kamar so eun. So eun tidak menggubrisnya dan ia masih duduk di kasurnya.
Tok tok tok
So eun kesal, ia pun langsung turun dari kasurnya dan berjalan ke arah pintu dengan kesal. Ia sedang tidak ingin diganggu dan ibunya sedari tadi terus saja mengetuk-ketuk pintunya.
“sudah aku katakan aku tidak mau makan kue !” teriak so eun seraya membuka pintunya dengan wajah yang kusut. Namun seketika mata so eun membulat menatap seseorang yang berdiri tepat di depannya. Perlahan so eun mengangkat wajahnya ke atas untuk melihat wajah itu.
“kekasihmu datang untuk bertemu denganmu.” Ujar ibunya yang muncul di belakang kim bum. So eun membeku di tempat, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia benar-benar terkejut dengan kehadiran kim bum yang tiba-tiba dan tidak ia sangka sebelumnya.
“baiklah kalau begitu, nikmati waktumu.” Ujar ibu so eun dengan senyum lebaranya kepada kim bum.
“kamasahamnida.” Balas kim bum seraya tersenyum ramah. Lalu setelah itu pun ibu so eun turun ke bawah dan meninggalkan mereka. Kini tinggalah kim bum dan so eun yang masih mematung di depan pintu. Kim bum menatap so eun.
“w..wae?” Tanya so eun akhirnya.
“kenapa kau datang kesini?” Tanya so eun dengan ketus.
“aku datang untuk membuatmu lebih disiplin.” Jawab kim bum lalu masuk ke dalam kamar so eun bahkan sebelum so eun memperbolehkan.
“mwo?” pekik so eun seraya menatap kim bum dengan perasaan kesal yang menggebu-gebu.
“beberapa hari yang lalu kau pergi meninggalkanku tanpa ada satu kata pun yang keluar dari mulut sebagai permintaan maaf. Kau kelihatan sangat angkuh sekali.” Ujar kim bum.
“permintaan maaf?” Tanya so eun. “apa yang pernah aku lakukan kepadamu sehingga aku harus meminta maaf? Yang seharusnya meminta maaf adalah kau !” So eun menatap kim bum dengan emosi, ia juga melipat ke dua lengannya.
Kim bum menatap so eun. “apakah kau sudah lupa?” Tanya kim bum.
“aku adalah majikanmu ! menumpahkan air ke wajahku dan menyumpahiku untuk ‘mati’. Apakah kau pikir baik-baik saja mengatakan hal itu? Kau sudah membuatku malu, kau tahu?” ujar kim bum seraya mendekati so eun.
“bukankah itu pantas aku mengatakannya untuk laki-laki sepertimu?” balas so eun dengan nada yang cukup keras.
“DIAM !” suruh kim bum lalu kedua tangannya mulai memegang leher so eun.
“aku sedang membuatmu mengerti posisimu sebagai peliharaanku sekali lagi.” Ujar kim bum yang kini tangannya mulai bergerak-gerak di leher so eun. Apa yang dilakukan kim bum seperti ia akan mencekik leher so eun, ditambah dengan ekspresi marah kim bum yang menakutkan. So eun langsung memejamkan matanya karena takut. Ia takut jika kim bum akan benar-benar mencekiknya. 1 detik, 2 detik, 3 detik, hal-hal yang so eun bayangkan tidak terjadi. Ia tidak merasakan kim bum mencekik lehernya atau semacamnya. Dengan perlahan so eun pun membuka kedua matanya. Ia melihat kim bum sudah berdiri dengan tegak seraya melipat kedua lengannya.
“m..mwo?” Tanya so eun.
“aku sudah memasangkannya.” Ujar kim bum. So eun menatap kim bum tidak mengerti.
“kalung.” Lanjut kim bum. So eun menatap kim bum tidak percaya lalu menyentuh lehernya yang ternyata sudah terpasang kalung dengan bandul berbentuk bulan sabit, so eun menatap kalung itu. Kim bum mengerutkan keningnya, berusaha menahan rasa gengsinya.
“baiklah, biarkan aku menjelaskannya. Itu hanya karena aku tak sengaja menemukan benda yang membuatku tertarik dan kelihatan cocok untumu. Jadi aku pikir tidak ada salahnya jika aku membelinya.” Jelas kim bum. So eun menatap kim bum tak percaya.
“Kalung itu adalah simbol jika kau adalah milikku, jadi kau jangan pernah melupakannya.” Ujar kim bum yang masih saja besar rasa gengsinya, ia mengucapkan kata-kata itu tanpa melihat ke arah so eun dan dengan mimik wajah yang kelihatan sangat tidak nyaman. Ia mengerutkan keningnya saat berbicara seperti itu.
Tiba-tiba saja so eun melayangkan pukulan ke arah dada kim bum tanpa sempat kim bum menahannya. Kim bum kaget dengan apa yang so eun lakukan itu.
“kau benar-benar jahat…hic….hic…..” so eun kembali menangis. Air matanya jatuh dengan deras, ia tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaanya saat ini. Antara kesal, marah, dan senang.
“hic…..hic…….hic……g..gomawo.” ujar so eun akhirnya. Sekarang ia menangis karena benar-benar senang dan terharu. Ia tidak menyangka jika kim bum akan memberikannya sebuah kalung meskipun dengan cara yang tidak manis.
“aku….aku senang.” Ujar so eun yang masih saja menangis.
Kim bum yang melihat so eun menangis seperti itu jadi merasa tidak tega.
“uhuuuhuhu….huaaa………” tangisan so eun malah semakin keras. “aku pasti akan menjaganya hic…hic….” Ujar so eun.
“sudahlah, jangan menangis.” Ujar kim bum.

‘aku menyukaimu, kim so eun’. Apa yang pernah kau katakan saat itu kepadaku, bolehkan aku mempercayainya, walaupun hanya sedikit?

To Be Continued
Mian jika ceritanya kurang memuaskan, tapi saya harap kalian menyukainya.

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya.

Maaf ngepost part 7 nya lama, sebenernya part 7 udah beres beberapa bulan yg lalu bahkan pas part 6 dipost part 7 jg udah beres, tapi baru sempet di post sekarang.

oh ya saya mungkin akan hiatus dulu dari dunia perff-an. Saya mau fokus buat Ujian sekolah, praktek, sama UN. Saya minta doanya aja ya dari readers setia wp bumssoelf ini agar saya diberi kelancaran dalam segala hal, terutama Ujian Nasional. Minta doanya juga agar lulus SNMPTN di UNPAD prodi tekpang ya readerrrssss……AMIIIINNNNN :D Doain ya doainnn….Terimakasih……

 

Today, Love is Begin PART 6

Today, Love is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

 

PART 6

So eun mengepalkan kedua tangannya, setelah mendengar apa yang dikatakan kim bum dari perempuan tadi, so eun jadi berpikir ulang, dan kini sudah benar-benar yakin dengan perasaannya.
“hey…kim bum-ssi…” panggil so eun. kim bum menatap so eun.
“ini bukanlah kesalahpahaman ! aku…..aku menyukaimu.” Ujar so eun dengan segenap keberanian. Kim bum tertegun mendengarnya.
“karena aku rasa kau cukup frustasi, aku sempat berfikir untuk menyerah. Tapi, karena aku tahu perasaanku tidak bisa berbohong, aku tidak bisa berhenti.” Jelas so eun dengan wajah menunduk.
“tidak apa jika kau tidak percaya kepadaku. Tapi….sampai aku menyampaikan perasaanku, aku akan mencoba yang terbaik untuk menunjukkannya kepadamu ! jadi….ingat ini !” ujar so eun dengan suara sedikit keras.
Kim bum masih diam, ia tak mengeluarkan sepatah katapun. Dan itu membuat so eun dengan perlahan mengangkat kepalanya dan menatap kim bum. Kim bum masih diam saja, tak ada reaksi sedikit pun. Itu membuat so eun menciut dan ia langsung kembali menundukkan kepalanya. “jebal ! kau akan mengingatnya kan?” pinta so eun. “saat kau butuh bantuan…..”
“kau tidak perlu mencobanya lagi ! kau akan sangat mengganggu jika kau melakukannya. Jadi aku akan mempercayaimu !” potong kim bum lalu berbalik membelakangi so eun. So eun terdiam mendengarnya, cukup sulit untuk mencerna apa yang baru saja kim bum katakana kepadanya. So eun mengerutkan keningnya seraya berpikir. Sementara itu, kim bum yang sudah membuka pintu apartemennya kembali memutar kepalanya melihat so eun, lalu menyunggingkan senyumnya tanpa so eun ketahui.
Apakah tidak apa-apa berharap terlalu banyak disaat dia memberikan sedikit harapannya? Berharap semua ini bukanlah khayalan !

-today love is begin-

So eun masih diam dengan otak yang berpikir keras. Jujur saja, apa yang kim bum katakana kepadanya sama sekali belum ia mengerti. Respon kim bum terhadap pengakuan perasaannya terasa sedikit berbeda.
‘sebenarnya apa maksdunya? Iya atau tidak? Merasa terganggu ataukah senang? Dia tidak mengatakannya dengan jelas.’ Batin so eun dengan kening berkerut dan wajah yang di tekuk. Melihat so eun yang masih diam berdiri di tempat, kim bum pun kembali membalikkan badannya mengarah so eun.
“mwo? Apakah ada hal lain?” Tanya kim bum.
“huh?” so eun dengan cepat mengangkat kepalanya dan menatap kim bum.
“ada yang ingin kau katakan lagi?” Tanya kim bum seraya melipat kedua lengannya di dada.
“mmm….ja..jadi menurutmu….a..apa yang kau pikirkan?” Tanya so eun gugup seraya memain-mainkan tangannya.
“apa yang aku pikirkan?” Tanya balik kim bum.
“mmm….i..itu…tentang jawabanmu terhadap perasaanku.” Jawab so eun. “a..apakah kau menyukaiku atau tidak?” Lanjutnya. Jantung so eun berpacu sangat cepat, wajah so eun pun memerah saking ia malunya mengatakan hal ini. Tapi apa boleh buat, ia ingin tahu juga sebenarnya apa yang kim bum pikirkan tentang dirinya, apalagi setelah ia mengatakan perasaannya kepada kim bum.
“kau mungkin memikirkan banyak hal, tapi aku ingin….”
“baiklah.” Potong kim bum. “sebenarnya aku hanya penasaran saja.” Lanjutnya. So eun yang tadinya menunduk kembali mengangkat wajahnya untuk menatap kim bum. Kim bum tampak menatapnya dengan datar.
“huh?” so eun tidak mengerti.
“yak, jika kau tidak memberitahuku dengan jelas, jadi aku tidak akan tahu apa yang harus aku lakukan.” Ujar so eun.
“kalau begitu putar otakmu dan pikirkan sendiri !” Balas kim bum dingin.
“yak….”
“baiklah jika kau ingin tahu, aku hanya penasaran saja akan sampai kapan kau menyukaiku, hingga akhirnya kau akan menyerah dan aku tidak akan merasa terganggu lagi.” Jelas kim bum. So eun langsung membuka mulutnya karena tidak percaya.
“m..mwo? maksudmu…jadi kau hanya mempermainkanku?” pekik so eun dengan nada yang sedikit keras.
“mungkin.” Balas kim bum.
Jleb kini so eun benar-benar telah menciut setelah mendengar apa yang kim bum katakan barusan. Kata-kata yang singkat namun sangat menusuk itu membuat so eun seperti telah ditindih oleh batu yang sangat besar.
“pulanglah ! lebih baik kau mengkhawatirkan dirimu sendiri. Bagiku tidak masalah dan baik-baik saja jika kau menghabiskan hari-harimu dengan perasaan resah akan sikapku! bukankah itu kelihatan menyenangkan?” perintah kim bum dengan nada yang benar-benar dingin dan wajah yang terlihat menakutkan.
“k..kau ! kau adalah satu-satunya orang yang sudah benar-benar mempermainkanku ! dasar kau iblis !” teriak so eun lalu langsung berlari dengan kecang meninggalkan kim bum. Kim bum sendiri diam lalu mendesah.

-today love is begin-

Chungju Highschool
Sedari tadi, so eun hanya berdiri di depan jendela seraya melihat ke area halaman sekolah dengan wajah murung. Bahkan ia menolak ajakan nirin untuk makan di kantin. So eun benar-benar masih kepikiran dengan ucapan-ucapan kim bum yang menusuk hatinya kemarin malam. Semua yang dikatakan kim bum itu benar-benar tidak di proses dan samak sekali tidak manusiawi. Bagaimana bisa ia berbicara sedingin itu kepada perempuan yang bahkan perempuan itu adalah orang yang menyukainya. Meskipun begitu, so eun masih belum bisa menghilangkan perasaannya kepada kim bum.
“yak so eun-ah, hanya untuk memastikan saja, jadi aku ingin bertanya sekali lagi kepadamu.” Ujar nirin yang berdiri di samping so eun.
“kenapa kau masih menyukai kim bum-ssi bahkan setelah dia memperlakukanmu seperti itu?” Tanya nirin penasaran.
So eun langsung menatap nirin dengan tajam. “bagaimana bisa aku tahu?” teriak so eun dengan air mata yang menggenang. Nirin langsung memundurkan tubuhnya beberapa senti dari so eun.
“tidak usah berteriak seperti itu ! aku hanya bertanya karena aku heran denganmu.” Ujar nirin. So eun lalu mengahpus air matanya yang hampir jatuh dengan kasar.
“jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang, huh?” Tanya nirin. “yah meskipun kau masih kelihatan sedih dan marah.” Lanjutnya.
So eun tampak berpikir sejenak. Ia menatap lurus tepat ke halaman sekolah. “jika aku tidak bisa berhenti, maka hanya ada satu cara yang bisa aku lakukan.” Jawab so eun.
“aku hanya akan mencoba untuk membuatnya jadi memperhatikanku.” Lanjut so eun dengan yakin. Nirin cukup terkejut mendengarnya.
“huh sial ! aku sudah bertindak sejauh ini, jadi aku tidak bisa menyerah begitu saja !” so eun berbicara dengan kesalnya. Nirin menatap so eun cukup tertegun.
“hey so eun-ah….kau benar-benar punya nyali telah mengatakan hal itu.” Ujar nirin. So eun hanya menatap nirin saja.
“baiklah, melihat kegigihamnu itu, aku bisa membantumu so eun-ah.” Ujar nirin.
“membantuku dengan cara apa?” Tanya so eun.
“aku akan bicara pada kim bum-ssi, siapa tahu dia mengerti.” Jawab nirin.
“a…andwae nirin-ah, jika kau mengatakannya dia akan semakin memojokanku. Aku tidak mau !” tolak so eun.
“hmmm yasudah kalau begitu, aku bisa membantumu dengan cara yang lain.” Balas nirin.

-today love is begin-

So eun dan kim bum tetap pulang bersama meskipun kejadian yang cukup menegangkan (?) terjadi kemarin malam. Mereka berdua sama-sama diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. So eun juga berjalan satu meter di belakang kim bum. Ia tidak tahu bagaimana caranya ia bisa menatap wajah kim bum setelah kejadian kemarin.
‘bagaimana aku bisa kembali bersikap biasa lagi kepada kim bum-ssi? Itulah masalahnya ! aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan’” Batin so eun dengan wajah menunduk.
“HEY…AWAS !” teriak seseorang.
Bam….. tepat pada saat itu, sebuah bola mengantam kepala so eun dengan keras.
“ouch !” ringis so eun, ia langsung berjongkok dan memegangi kepalanya yang terasa sakit. Kim bum langsung membalikkan tubuhnya ke belakang dan melihat so eun.
“seharusnya kau memperhatikan jalanmu !” ujar kim bum tanpa sedikit pun ingin membantu so eun, atau menanyakan apakah so eun kesakitan atau tidak.
“appo…” ringis so eun.
“hyaaaa…..mian…” seseorang langsung berlari menghampiri so eun dan kim bum. Seorang laki-laki dengan perawakan tinggi dan rambut yang sedikit panjang itu langsung membungkukkan badannya sebagai permohonan maafnya.
“mian, aku tak sengaja telah menendangnya.” Ujar laki-laki itu. Kim bum sedikit mengerutkan keningnya melihat laki-laki itu. Wajah laki-laki itu serasa tidak asing baginya.
Perlahan so eun pun kembali berdiri seraya masih memegangi kepalanya.
“sekali lagi tolong maafkan aku, pasti kau benar-benar marah karena ulahku.” Ujar laki-laki itu seraya menyatukan kedua telapak tangannya. Tampaknya laki-laki itu sangat menyesal sekali.
Tiba tiba bam kim bum menyiku dahi laki-laki itu dengan cukup keras. “aaahhh…” laki-laki itu meringis lalu memegangi dahinya. So eun sendiri sedikit kaget melihat apa yang baru saja kim bum lakukan. Apakah kim bum sedang membelanya? Atau semacamnya?
“a…aku baik-baik saja, tidak usah sampai melakukan hal itu !” cegah so eun.
“ani….pukul saja aku sampai kau merasa lebih baik !” ujar laki-laki itu yang masih saja membungkukkan badannya.
“tentu saja, perempuan akan marah jika mereka sudah merasa sakit, bukan? Sebarapapun kau berusaha untuk meminta maaf, il woo-ya.” Ujar kim bum.
Laki-laki yang dipanggil il woo oleh kim bum itu pun langsung mengangkat kepalanya dan menatap kim bum cukup kaget.
“huh?” laki-laki itu bengong untuk beberapa saat. “huh? K..KIM BUM !!! TERNYATA INI KAU !” lelaki yang ternyata bernama lengkap jung il woo itu pun berteriak dengan senang saat menyadari bahwa laki-laki yang berdiri di depannya ini adalah kim bum.
“heh…kau sangat lamban !” ujar kim bum. So eun yang tidak mengerti dengan situasi sekarang hanya bisa diam dan bengong sambil sesekali menatap kim bum dan il woo bergantian.
-today love is begin-

“hahahaha aku minta maaf atas kejadian tadi.” Ujar il woo dengan suara keras. Saat ini mereka sedang berada di café karena ajakan dari il woo. So eun dan kim bum duduk bersebelahan dan berhadapan dengan il woo.
“aku jung il woo. Aku adalah teman baik kim bum sejak sekolah dasar.” Il woo memperkenalkan dirinya kepada so eun.
“ah senang sekali bertemu denganmu, aku kim so eun.” Balas so eun.
“senang bertemu denganmu juga.” Balas ilwoo lalu ia langsung meneguk jus jeruk sampai habis dengan satu kali tegukan.
“heh….” Kim bum mengehela nafasnya sembari menopang dagunya. “apa kau serius bermain bola dengan anak-anak tadi huh?” Tanya kim bum.
“yak…bukankah itu menyenangkan jika kita bermain dengan serius. Sekalian aku mengajari mereka bagaimana bermain bola dengan baik.” Balas il woo seraya mengipas-ngipaskan tangannya karena gerah. Bahkan kancing baju kemejanya ia buka semua.
“heh….kancingkan bajumu ! tidak akan ada yang mau melihat dadamu dan perutmu !” ujar kim bum.
“huh?” il woo melihat perutnya yang sedikit berotot. “hahahaha, perutku ini sudah ada kemajuan, lihatlah ! aku punya sixpack.” Ujar il woo seraya menunjuk perutnya dengan telunjuknya. Kim bum hanya bisa menghela nafas mendengarnya.
“hey so eun-ssi, apa kau ingin mencoba menyentuhnya?” tawar il woo tanpa malu.
“e..eeh? a..ani hahaha.” Tolak so eun seraya tertawa hambar. ‘apa-apaan maksudnya?’ batin so eun sedikit tidak enak.
“aku…aku hanya sedikit aneh saja…ternyata kim bum-ssi punya teman juga hehe.” Ujar so eun. Kim bum langsung menatap so eun yang ada di sebelahnya.
“yaaah, sejak sekolah dasar dia memang tidak terlalu punya banyak teman. Dia selalu bersikap dingin dan selalu bilang jika dia tidak terlalu membutuhkan teman.” Cerita il woo.
“tutup mulutmu !” perintah kim bum.
“tapi aku rasa, itulah yang membuatnya menarik.” Il woo tidak mengindahkan ucapan kim bum.
“oh…begitu.” Balas so eun.
“tapi sepertinya dia telah berubah hahaha.” Ujar il woo.
“eh?” so eun bingung.
“dari sekolah dasar dia tidak suka pergi main keluar rumah, dan sekarang aku tidak sampai berpikir bahwa dia akan punya pacar yang sangat lucu. Cukup membuatku terkejut hahaha.” Ujar il woo. Tampaknya il woo memanglah tipikal orang yang banyak tertawa karena sedari tadi ia terus tertawa dengan keras disaat ia berbicara.
“huh? Lucu?” pekik so eun. “a..ani…aku…”
“kau salah paham, dia bukan…..” potong kim bum.
“jika kim bum membuatmu menangis, maka bilang padaku, oke? Karena aku akan menendang pantatnya ! hahaha.” Potong il woo. Kim bum hanya bisa menghela nafasnya lalu kembali menopang dagunya dan melihat ke arah lain. ‘dia tidak berubah ! tidak mendengar pembicaraan orang sampai selesai ! jika aku menjelaskan yang sebenarnya pun akan sangat bermasalah.’ Bantin kim bum.
Sementara itu so eun diam dan cukup tertegun dengan apa yang dikatakan il woo. Ia jadi berpikiran, mungkin saja Il woo bisa membantunya. Karena so eun pikir il woo adalah satu-satunya teman dekat kim bum.

-today love is begin-

“hari ini cukup menyenangkan, kalau begitu sampai jumpa !” ujar il woo saat mereka sudah berada di luar café.
“sampai jumpa !” so eun membalas lambaian tangan il woo.
“yeah..” balas kim bum.
Il woo pun pergi meninggalkan mereka, setelah itu kim bum pun berjalan lebih dulu lalu diikuti so eun. Namun tiba-tiba so eun menghentikan langkahnya.
“ummm…mian kim bum-ssi, sepertinya aku…aku meninggalkan sesuatu di sekolah, jadi aku rasa aku harus kembali.”ujar so eun terburu-buru.
“huh?”
“baiklah, sampai jumpa…” ujar so eun lalu ia pun langsung berbalik dan pergi meninggalkan kim bum seraya berlari-lari kecil.
“heh….” Kim bum menatap kepergian so eun dengan sedikit bertanya-tanya, sepertinya so eun berbohong kepadanya barusan.

“IL WOO-SSI ………!” teriak so eun. Il woo langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya ke belakang. Grab so eun akhirnya berhasil menahan lengan il woo dengan nafas yang tidak beraturan karena ia berlari-lari untuk bisa mengejar il woo yang sudah cukup jauh darinya.
“eh? Pacarnya kim bum?” kaget il woo.
“a..ani…aku…aku so eun ! kim so eun !” ralat so eun.
“yeah, apa kau butuh sesuatu?” Tanya il woo bingung.
“aku…aku ingin bicara denganmu sebentar.” Pinta so eun. Il woo hanya menatap so eun dengan tatapan bertanya-tanya.

-today love is begin-

Saat ini, so eun dan il woo sedang duduk di kursi kayu di pinggir jalan.
“aku mengerti.” Ujar il woo setelah ia mendengar penjelasan dari so eun.
“aku benar-benar mengerti…gezzzz….aku akan memberikan pelajaran untuknya !” il woo meremas tangannya dengan kesal lalu ia pun langsung berdiri dari duduknya.
“aa..ani….il woo-ssi….” Ujar so eun.
“dia telah memperlakukan perempuan semaunya ! mempermainkan perasaan perempuan ! seorang laki-laki sejati tidak akan pernah melakukan hal itu ! serahkan saja padaku so eun-ssi ! aku pasti akan memukul wajahnya dengan keras ! haaah anak itu !” il woo semakin mengeraskan kepalan tangannya. So eun yang melihat itu jadi khawatir.
“baiklah, aku akan memberinya pelajaran sekarang !” tanpa pikir panjang il woo langsung pergi meninggalkan so eun dengan tangan yang masih ia kepal.
“e…eeh i…il woo-ssi ! chankaman ! kau sudah salah paham !” cegah so eun seraya menahan lengan il woo.
“aku menceritakan ini semua kepadamu bukan karena aku ingin balas dendam kepadanya dan meminta bantuan kepadamu untuk memukulnya. Tidak masalah dia memperlakukanku seperti apa, tidak masalah dia bersikap kepadaku seperti apa, itu karena…..bagaimanapun juga itu karena aku menyukainya.” Jelas so eun. Il woo menatap so eun, menunggu apa kelanjutan kata yang akan so eun ucapkan.
“aku…aku hanya ingin…..hanya ingin dia menyukaiku seperti aku menyukainya” lanjut so eun dengan wajah menunduk.
“jadi….aku mohon bantulah aku, il woo-ssi !” so eun membungkukkan tubuhnya.
Cukup lama so eun membungkuk karena tak ada reaksi dari il woo. Namun tiba-tiba il woo menyentuh kedua pundak so eun dengan cukup keras, dan membuat so eun mengangkat kepalanya. Ia kaget.
“s..so eun-ssi…..kau….hic…. kau benar-benar luar biasa ! aku salut kepadamu ! hic hic….huaa aku terharu !” entah kenapa il woo malah menangis saking terharunya ia dengan kata-kata so eun. So eun manatap il woo tanpa berkedip.
‘eeh? di..dia menangis?’ batin so eun. ‘bukankah aku yang seharusnya menangis?’
“baiklah ! aku mengerti !” il woo menghapus air matanya itu, lalu mengepalkan kedua tangannya ke atas.
“aku akan membantumu dengan segenap kemampuanku so eun-ssi…..aku pastikan kim bum akan menyukaimu bahkan sampai tergila-gila kepadamu ! pecaya kepadaku !” il woo berbicara dengan suara yang sangat kencang.
“go..gomawo il woo-ssi, aku senang mendengarnya !” balas so eun seraya tersenyum bahagia.
“yeah, tidak masalah….hahahaha.” balas il woo. So eun tersenyum.

-today love is begin-

“hey beom-ah……tipe mana yang kau suka dari perempuan-perempuan di majalah ini?” Tanya il woo seraya menunjukkan majalah wanita tepat di depan wajahnya. Kim bum mengerutkan keningnya menatap majalah itu, pasalnya baru saja ia membuka pintu apartemennya, ia sudah disuguhkan dengan majalah itu dan dengan kehadiran il woo yang tiba-tiba.
“kau datang kemari hanya untuk bertanya tentang pertanyaan bodoh macam ini?” Tanya kim bum.
“hahaha…seperti yang kau tahu, aku tidak tahu seperti apa tipe perempuan idelamu. Aku hanya memikirkan itu sebagai referensi hahaha.” Jawab il woo.
“huh? Referensi untuk apa maksudmu?” Tanya kim bum tak mengerti.
“ah sudahlah, cepat kau pilih satu !” suruh il woo tanpa mengindahkan pertanyaan kim bum. Kim bum menatap il woo sedikit curiga. Tapi sepertinya lebih baik dia memilih saja dari pada il woo berlama-lama di depan apartemennya.
“ya ya, yang ini. Sudah cukup !” ujar kim bum sambil menunjuk salah satu wanita dengan pakaian yang cukup rapi, memakai kacamata dan terlihat berpendidikan.
“okay……yang ini huh?” Tanya il woo memastikan dengan bersemangat.
“oh.” Jawab kim bum.
“baiklah…..gomawo kim bum ! kalau begitu aku pergi. Selamat malam…..semoga kau segera bertemu dengan tipe wanita idealmu hihih. ” Il woo dengan cepat pergi dari apartemen kim bum. Sementara kim bum hanya memperhatikan sahabatnya itu dengan ekspresi aneh, kim bum mengerutkan keningnya.

Dddrrrttt dddrrrrrttt ddddrtttt
So eun yang sedang tiduran di kasurnya pun segera mengambil ponselnya yang disimpan di atas meja belajar. Ada pesan masuk dari il woo. Dengan cepat so eun pun membukanya.
Tipe perempuan ideal kim bum ! tipe perempuan yang cerdas
Pesan itu dilengkapi dengan foto wanita yang tadi ditunjuk kim bum dalam majalah.
“oh…jadi dia suka tipe seperti itu?” gumam so eun lalu mulai tersenyum lebar seraya memikirkan sesuatu.

-today love is begin-

Chungju Highschool
So eun berpenampilan tidak seperti biasanya hari ini, ia memakai kacamata dengan rambut diikat percis seperti gambar yang dikirim oleh il woo kepadanya kemarin. Yeah, mungkin sedikit kelihatan seperti tipe perempuan ideal kim bum, pikir so eun.
Saat hendak masuk ke dalam kelas, tak sengaja ia berpapasan dengan kim bum. Kim bum menatapnya dengan tatapan aneh dan itu membuat so eun salah tingah karena ditatap seperti itu.
“heh, ada apa denganmu?” Tanya kim bum dengan kening berkerut.
“ah hehehehe.” So eun nyengir. “um….yeah karena musim sudah berganti, jadi….aku berpikir untuk merubah penampilanku seperti ini.” Jawab so eun seraya membenarkan kacamatanya.
“huh?” kim bum menatap so eun dengan datar, lalu ia pun melepas kacamata yang so eun pakai, membuat so eun terkejut. Kim bum meneliti kacamata itu dan menerawangnya.
“ini palsu, huh?” Tanya kim bum.
“e..eeehh…itu….” jawab so eun gelagapan.
“berpenampilan seperti wanita cerdas….hmm….jadi kau memutuskan untuk memakai kacamata agar kau kelihatan seperti orang pintar huh? Heeh benar-benar….dengan begini bukankah kau kelihatan semakin bodoh?” ledek kim bum. “dan…..kau tahu? Kau tidak cocok berpenampilan seperti ini !” lanjut kim bum.
“k..kau…..kau benar-benar…..kau tidak perlu terus terang mengatakan itu kepadaku ! kau bermaksud menjatuhkanku huh?” kesal so eun. Sudah susah-susah ia berpenampilan seperti ini. Tapi nyatanya kim bum malah memberikan respon yang sama sekali tidak so eun harapakan.
“kau memang tidak tahu fashion ! fa-shi-on !” so eun menekankan kata fashion itu.
“huh?” kim bum mengabaikan ucapan so eun dan malah memakai kacamata itu lalu mendekatkan wajahnya kepada so eun. “yang kau katakan barusan….coba katakan sekali lagi !” suruh kim bum dengan senyum yang tak so eun mengerti. Menyadari wajahnya dengan wajah kim bum sedekat ini, so eun pun buru-buru menjauhkan tubuhnya, ia merasakan pipinya sangat panas, dan pastilah sudah merah padam. Melihat hal itu, kim bum malah tertawa karena berhasil menggoda so eun.
“dia benar-benar….” Gumam so eun.

-today love is begin-

So eun sedang menelpon il woo saat ini.
“BAGAIMANA? APAKAH BERHASIL????”
So eun langsung menajuhkan ponselnya dari telinga karena suara il woo yang sangat keras itu. “huh, rencananya tidak berjalan dengan lancar, il woo-ssi.” Ujar so eun lemas.
“jincha? Gwaenchana…gwaencaha…..kita coba cara lain, oke?”
“um…yeah.”
“ah ya, besok akan ada festival di sekolahku. Kau dan kim bum harus datang, oke? Jika dia tidak mau, aku akan memaksanya ! aku punya rencana yang bagus untuk kalian hehehe.”
“oh jincha?”
“ne, nanti aku akan menghubungimu lagi.”
“oh….gomawo il woo-ssi.”
“gwaenchana, kalau begitu jja.”
“jja…”
Sambungan telpon pun terputus. “apa yang direncanakan il woo-ssi ya?” pikir so eun.

-today love is begin-

Keesokan harinya. Minami Highschool
“yooo…senangnya kalian berdua datang !” sapa il woo saat so eun dan kim bum sudah tiba di sekolahnya. “kalian kelihatan serasi, baiklah kajja ! silakan bersenang-senang disini !” ujar il woo.
“bukankah kau yang meminta kita untuk datang?” ujar kim bum. Il woo menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
“hehehe, kajja kajja kalian masuklah ! hal yang paling menarik di festival tahun ini di sekolahku adalah menguji keberanian di rumah hantu !” ujar il woo. So eun langsung merinding mendengarnya.
“aku tidak berniat untuk masuk kesana.” Ujar kim bum.
“hey…apa kau takut huh?” il woo menyikut lengan kim bum. Kim bum langsung menatap il woo dengan tatapan marah.
“ah…..orang sedingin kau takut dengan hantu huh? Ah….aku tidak menyangka ! kau tidak punya keberanian untuk masuk ke rumah hantu?” goda il woo.
“kau banyak bicara !” Kesal kim bum lalu tanpa banyak bicara berjalan meninggalkan so eun menuju rumah hantu yang pada dasarnya adalah kelas il woo yang diubah jadi rumah hantu.
“so eun-ssi…sekarang saatnya ! jangan biarakan rencana ini gagal lagi !” il woo berbisik di telinga so eun.
“dari pengalamanku, momen ketika laki-laki jatuh cinta kepada perempuan adalah ketika mereka melakukan misi untuk menjaga perempuan yang mereka sukai. Jika dia berpikir untuk melindungimu, lalu dengan semua kekuatan dan segenap hatinya, dia akan perhatian kepadamu. Laki-laki memang seperti itu.” Jelas il woo dengan yakin.
“oh…a..aku mengerti.” Balas so eun.
“baiklah, fighting so eun-ssi ! lakukanlah yang terbaik, oke?” ujar il woo.
“mm…” so eun mengangguk. “aku akan mencobanya.” Lalu so eun pun segera mengikuti kim bum.

-today love is begin-

“AAAHHHHHH…….!” Belum apa-apa so eun langsung dikagetkan dengan boneka hantu berpakaian putih yang tiba-tiba muncul dan bergerak di sampingnya.
“yang tadi….benar-benar bergerak ! ada orang yang menggerakkannya kan?” Tanya so eun ketakutan, ia berjalan di belakang kim bum.
“molla, tapi mungkin saja.” Balas kim bum singkat.
“huhu….aku benar-benar takut.” Gumam so eun dan berjalan dengan pelan.
“HUAAAA !” so eun kembali dikejutkan karena ada sebuah tangan yang memegang kakainya.
“dia sangat berisik !” gerutu kim bum, lalu ia pun dengan santainya berajalan dengan meninggalkan so eun yang masih ketakutan. So eun menjerit-jerit seraya berusaha melapaskan tangan palsu itu dari kakinya.
“k..kim bum-ssi ! chankanmanyo ! disini gelap ! jangan pergi jauh-jauh dariku !” pinta so eun.
“heh…” kim bum menghela napasnya lalu dengan terpaksa berjalan kembali mendekati so eun.
“tidak ada pilihan lain, aku akan menggenggam tanganmu, jadi kau tidak akan merasa ketakutan lagi dan berteriak-teriak seperti itu.” Ujar kim bum seraya mengulurkan tangannya. Karena so eun hanya diam saja, kim bum pun menarik tangan so eun dan menggenggamnya. So eun cukup terkejut dibuatnya, namun ada sesuatu yang terasa janggal tatkala tangan kim bum menggenggamnya, tangan itu terasa keras dan dingin. Tapi so eun tak memikirkan itu, yang terpenting adalah sepertinya rencana il woo cukup berhasil. Jantungnya berdegup lebih kencang sekarang ini.
“go..goma….” ucapan so eun terhenti saat ia menyadari bahwa yang menggenggam tangannya itu bukanlah kim bum. Ternyata kim bum berbohong dan dengan sengaja menyentuhkan tangan boneka tengkorak ke tangan so eun. So eun langsung saja berteriak karena kaget.
“AAAAAAAAHHH…..!” teriaknya.
“HAHAHAHA.” Kim bum malah tertawa tanpa merasa bersalah sedikitpun.
“KAU….YAK ! JANGAN BERMAIN-MAIN DENGANKU ! KAU BENAR-BENAR TIDAK BERPERASAAN !” teriak so eun.
“HAHAHA BABO !” balas kim bum yang tak bisa menghentikan tawanya.
Sementara itu, tepat di depan pintu masuk rumah hantu, il woo berdiri seraya mencoba menguping mereka. Tapi setelah ia mendengar teriakan so eun dan kim bum yang tertawa-tawa. Ia rasa rencananya tidak berhasil.
“rencananya tidak berjalan lancar lagi huh?” ujar il woo.

-today love is begin-

“sial…dia sangat sulit !” kesal il woo. So eun mengangguk.
“kita benar-benar tidak beruntung.” Balas so eun lemas.
“ayo kita pikirkan lagi, rencana apa yang harus kita lakukan selanjutnya.” Ujar il woo seraya berpikir.
“i..il woo-ssi…kau benar-benar orang yang baik.” Ujar so eun.
“huh?”
“kita bahkan baru saling mengenal beberapa hari ini, tapi kau benar-benar serius membantuku.” Ujar so eun.
“hehe….melihatmu selalu mencoba yang terbaik, membuatku ingin menyemangatimu. Aku menyukainya ! seseorang yang mencoba dengan keras sepertimu.” Puji il woo.
“eeh? Ah hehe…go..gomawo.” balas so eun.
“ini juga pertama kalinya di dalam hidupku aku seperti ini.” Lanjut so eun, Ia jadi cukup salah tingkah setelah dipuji seperti itu oleh il woo.
“a..aah…jangan salah paham….suka disini bukan berarti aku menyukaimu !” ujar il woo meluruskan. So eun tertawa.
“haha aku mengerti, aku tidak berpikir seperti itu. Aku hanya senang, untuk pertama kalianya aku dipuji oleh seorang laki-laki setelah selama ini aku terus diperlakukan tidak baik oleh kim bum-ssi.” Ujar so eun.
“oh…..ahahahaha yeah yeah, kalau begitu kita kembali ke anak itu. Ayo kita pikirkan rencana yang lebih baik yang tentunya tidak akan gagal lagi !” ujar il woo.
“ah yaa.” Balas so eun.

-today love is begin-

Sudah beberapa cara yang so eun dan il woo lakukan untuk membuat kim bum menyukai so eun. Namuan hasilnya tetap saja sama, semua rencana yang mereka lakukan tetap gagal. Dan itu membuat so eun sangat kecewa dan menjadi murung. So eun merasa jika semua yang telah ia lakukan hanya sia-sia saja. Karena pada kenyataannya, tidak ada reaksi sama sekali dari kim bum, sikap kim bum tak juga berubah terhadapnya.
Saat ini, so eun dan il woo sedang berada di tepi sungai han. Sedari tadi so eun hanya memeluk lututnya seraya menatap sungai han dengan tatapan lesu, ia tak banyak biacara seperti il woo.
“hey…” panggil il woo. “apakah kau sudah memikirkan cara lain?” Tanya il woo.
“ani, aku sedang tidak ingin memikirkannya.” Balas so eun dengan lesu.
“hey so eun-ssi, jangan menyerah ! kita sudah banyak melakukan sesuatu yang melelahkan !” Ujar il woo, ia berusaha menyemangati so eun.
“aku akan mencoba memikirkan cara yang lebih baik.” Ujar il woo.
“kita sudah mencoba segala cara, tapi…..semuanya tidak berhasil seperti yang kita harapkan. Aku mulai merasa bahwa semuanya sangat tidak mungkin untukku.” Ujar so eun. Il woo tertegun mendengarnya.
“hey…kenapa kau jadi pesimis seperti ini? Bukankah kau selalu berusaha dengan keras? Jika kau menyerah, maka tidak akan ada hasil yang kau dapat !” ujar il woo dengan suara keras.
“i..il woo-ssi…” ujar so eun. Ia tidak menyangka jika il woo lebih bersemangat daripada dirinya.
So eun pun sedikit tersenyum. “kau…kau benar. Seperti yang orang-orang hebat katakan, semuanya akan berakhir jika kita dengan mudah menyerah.”ujar so eun, mencoba menghibur dirinya sendiri.
“tapi….jikapun pada akhirnya tetap tidak berhasil….aku akan….” Tanpa so eun mau, tiba-tiba air matanya jatuh, dan hal itu membuat il woo kaget.
“s..so eun-ssi !” kaget il woo.
“huh….mian….aku juga tidak tahu kenapa aku menangis?” ujar so eun seraya berusaha menghapus air matanya. “Aku benar-benar bodoh, aku pun tidak tahu apa yang harus aku lakukan disaat aku seperti ini.” Lanjutnya.
Melihat so eun yang menangis seperti itu, membuat il woo iba. Ia hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apa-apa untuk menghibur so eun.
“kenapa air mataku tidak bisa berhenti? Huh menyebalkan !” kesal so eun.
Il woo kini benar-benar diam, ia hanya menatap so eun. Ia berpikir bahwa ada baiknya jika ia membiarkan so eun menangis, itung-itung agara so eun merasa tenang sedikit jika ia menumpahkan perasaannya dengan menangis.

-today love is begin-

Malam hari
So eun sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya di meja melajar. Tapi tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia pun mengambil ponselnya dan ternyata ada pesan masuk dari il woo.
“il woo…” heran so eun.
Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu, jadi datanglah ke taman kota jam 8
So eun sedikit bingung setelah membaca pesan dari il woo tersebut. Kenapa tiba-tiba il woo ingin mengajaknya bicara? Dan apa hal yang penting itu?

So eun sudah ada di taman kota, ia duduk di bangku kayu sendirian menunggu kehadiran il woo. Ia memakai jaket tebal karena sekarang angin berhembus lumayan kencang. So eun hanya bisa menggosok-gosok tangannya untuk mengusir rasa dingin. Namun, tanpa so eun sangka, ia melihat sosok kim bum berdiri tak jauh dari tempat ia berada. Kim bum sendiri sedang memegangi ponselnya dan seperti sedang membaca sesuatu dari sana. Karena ingin memastikan apakah itu kim bum atau bukan, akhirnya so eun pun memutuskan untuk menghampirinya.
“k..kim bum-ssi?” panggil so eun ragu. Kim bum menoleh dan wajah kagetnya tidak bisa disembunyikan.
“kau?”kaget kim bum.
“kenapa…kau ada disini?” Tanya so eun heran.
“il woo menelponku dan menyuruhku untuk kemari.” Jawab kim bum.
“oh…”balas so eun. Mereka diam, kim bum tak berniat mengajak so eun bicara atau bagaimana, so eun juga jadi merasa canggung dengan situasi seperti ini.
“Kim bum-ah…….so eun-ssi !” panggil il woo yang baru saja datang. Kim bum dan so eun langsung berbalik ke asal suara.
“maaf, telah meminta kalian bertemu disaat malam seperti ini.” Ekpresi il woo tampak serius sekarang, tak seperti biasanya yang selalu bersuara keras dan diselingi tawa saat ia berbicara.
“g…gwaencaha.” Balas so eun.
“jadi apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya kim bum langsung.
“baiklah…..aku sengaja meminta bertemu dengan kalian berdua disini karena ada sesuatu yang ingin aku katakan. Ini menyangkut aku, so eun-ssi, dan juga kau…bum-ah.” Ujar il woo.
“tidak usah berbelit-belit ! cepat katakan apa yang ingin kau katakan !” suruh kim bum. Ia tidak ingin lama-lama berada di luar, apalagi angin yang dingin berhembus cukup kencang.
“karena sudah beberapa hari ini aku sering bertemu dengan so eun-ssi, aku…..aku rasa….aku jatuh cinta pada so eun-ssi….!” Ujar il woo serius. Kim bum kaget mendengarnya, apalagi so eun.
“aku sangat mengerti perasaanmu so eun-ssi. Tapi, jangan biarkan dirimu terluka hanya karena gara-gara kau menyukai orang seperti kim bum yang sudah jelas tak juga membalas perasaanmu, bahkan sampai kau terlalu berusaha keras ! jika itu adalah aku, aku sudah pasti tidak akan mungkin membuatmu menangis ! aku akan selalu menyemangatimu !” ujar il woo pada so eun. So eun terdiam, begitu cepat dan ia belum bisa menerima apa yang baru saja terjadi.
“hey beom-ah….tidak apa-apa kan? Jika aku mengambil so eun-ssi?” Tanya il woo pada kim bum. Kim bum diam untuk beberapa saat, ia menatap il woo sedikit lama. Sementara perasaan so eun sudah tak karuan, ia penasaran apa yang akan kim bum katakan.
Kim bum menghela napas lalu menyunggingkan sedikit senyumnya. “lakukan saja apa yang kau mau !” jawab kim bum enteng. Kali ini benar-benar membuat hati so eun sakit.
“KAU…..” marah il woo.
“kenapa kau harus bertanya kepadaku? Bahkan jika aku megijinkannya, aku tidak akan menyesal sedikit pun !” ujar kim bum. Kini mata so eun sudah berair, ia tidak menyangka kim bum akan mengeluarkan kata-kata seperti itu. Tanpa bisa ia tahan, buliran bening itu pun jatuh dan so eun menangis. Ia langsung saja berlari meninggalkan mereka. “kim bum-ssi !!! kau kurang ajar !” teriak so eun sambil berlari dengan kencang.
“ss..so eun-ssi !” panggil il woo.
“b..bagaimana ini? Kau sudah membuatnya menangis !” ujar il woo.
“heh…” kim bum malah menghela nafasnya seraya menyunggingkan senyumnya. Menyadari kim bum yang tersenyum seperti itu, il woo kesal dan langsung saja ia meraih kerah baju kim bum.
“KAU BENAR-BENAR SUDAH KETERLALUAN ! APAKAH KAU TIDAK BERPIKIR DENGAN APA YANG KAU KATAKAN ? TIDAKKAH KAU MENGERTI AKAN PERASAANYA!?” marah il woo, ia berteriak tepat di depan wajah kim bum.
“kenapa kau semarah itu? apa yang ingin kau katakan adalah sebaliknya, kan?” Tanya kim bum. Il woo mendadak melonggarkan tangannya yang menggenggam kerah baju kim bum.
“asal kau tahu, aktingmu benar-benar buruk !” ujar kim bum. Kini il woo pun melepaskan tangannya dari kerah baju kim bum.
“kau…jadi kau sudah tahu sebelumnya?” Tanya il woo tak habis pikir.
“sikapmu sudah sangat mencolok, jadi aku sudah menyadarinya.” Balas kim bum.
“kalian telah bekerja sama, itulah kenapa saat itu dia tiba-tiba merubah penampilannya seperti perempuan cerdas.” Lanjutnya.
“ka..kau…jadi kau sudah menyadarinya dari awal?” kaget il woo.
Kim bum mendesah. “jangan mengorbankan dirimu untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna !” Ujar kim bum.
“mwo? Yak ! apa maksudmu tidak berguna? So eun-ssi benar-benar ingin kau menyukainya, dia sudah mencoba yang terbaik dan bekerja keras !” balas il woo dengan suara cukup keras.
“aku sudah tahu itu.” Balas kim bum.
“huh? Jika kau sudah tahu, lalu kenapa kau tidak memberitahukan jawabanmu?” Tanya il woo. “jika kau laki-laki, bukankah seharusnya kau menjawab perasaanmu dengan jujur?” lanjut il woo.
“il woo-ya…” panggil kim bum. Il woo menatap kim bum. “hanya aku yang bisa memutuskan kapan aku jatuh cinta kepadanya.” Lanjut kim bum seraya menunggingkan senyumnya. Senyum yang penuh arti itu belum bisa il woo mengerti. Kata-kata kim bum terlalu berputar-putar dan menjebak. Namun, il woo cukup tertegun mendengarnya.
“hal ini juga merupakan tugas laki-laki untuk mengawasi secara diam-diam, tanpa dia tahu.” Ujar kim bum dengan gentlenya, ia juga tersenyum saat mengatakan itu. Lalu setelah itu kim bum pun pergi meninggalkan il woo tanpa berkata apa-apa lagi. Benar-benar tidak dipercaya, il woo sangat takjub dengan apa yang kim bum katakan barusan.
“huh? Kenapa jantungku jadi berdetak cepat begini?” heran il woo. “dasar kim bum bodoh kau !” kesal il woo.

-today love is begin-

So eun tengah berdiri di atas jembatan yang dibawahnya mengalir sungai han. Setelah puas menangis, Ia memutuskan untuk diam disini beberapa saat seraya menikmati indahnya sungai han malam hari dari atas jembatan. Hembusan angin meniupkan rambutnya yang digerai. Mengingat perkataan kim bum tadi, membuatnya ingin kembali menangis, tapi so eun berusaha untuk menahannya.
“sekarang aku sudah benar-benar patah hati.” Gumam so eun.
“begitu jahatnya dia berkata seperti itu? Dasar manusia tak berperasaan !” kesal so eun.
“kenapa bisa aku menyukai laki-laki seperti itu?” so eun merasa sangat menyesal.
“apa kau sedang mencoba bunuh diri dengan cara melemparkan tubuhmu ke sungai?”
So eun langsung membalikkan tubuhnya ke belakang, ia melihat kim bum tengah berdiri di belakangnya dengan tangan yang ia lipat di dada. So eun kaget ! benar-benat kaget ! kenapa disaat seperti ini kim bum malah muncul?
“kajja, kita pulang sekarang !” ajak kim bum.
“bagaimana bisa kau kemari?” Tanya so eun lalu kembali membalikan tubuhnya dan menatap ke arah sungai han.
“huh?”
“bukankah kau baru saja mengatakannya kepada il woo-ssi, bukankah lebih baik jika kau meninggalkan aku sendiri.” Ujar so eun.
Kim bum diam untuk beberapa saat. Ia menatap punggung so eun dari belakang, lalu ia membuang nafasnya. “seberapa besar kau menyukaku?” itulah yang keluar dari mulut kim bum. So eun memutar kepalanya untuk melihat kim bum.
“jika kau ingin tahu apakah hatiku sudah terbuka atau belum, maka intiplah ! tapi jika kau tidak seberapa menyukaiku, maka kau tidak usah melakukannya dank au tidak akan bisa memilikiku ! okay ?” ujar kim bum. So eun terdiam cukup lama mendengarnya. Ia menatap kim bum tanpa berkedip. Tiba-tiba kim bum mengulurkan tangan kanannya pada so eun. So eun menatap tangan itu dengan kening berkerut lalu kembali menatap kim bum. So eun bingung dengan sikap kim bum sekarang.
“jadi, mana yang akan kau pilih?” Tanya kim bum. So eun masih diam, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan dan apa yang harus ia lakukan. Ia masih menatap kim bum tidak mengerti.
“jika kau memang benar-benar menyukaiku, maka terima tanganku ! tapi jika tidak, abaikan saja aku !” kim bum memberikan pilihan kepada so eun. Tapi dengan pilihan yang kim bum berikan, so eun malah semakin diam dan hanya bisa menatap kim bum. Ia butuh waktu untuk mencerna apa yang kim bum katakan sekarang ini, di tempat ini. Karena so eun tak kunjung juga memberikan respon. Akhirnya kim bum pun meraih tangan kiri so eun bahkan sebelum so eun memilih, kim bum menarik tangannya lalu menggenggam tangan so eun. So eun tidak menolak atau pun melakukan sesuatu, ia hanya menerima saja ketika kim bum menariknya dan menggenggam tangannya. Mendadak, pipinya kembali memerah dan jantungnya berdegup lebih cepat. So eun berjalan di belakang kim bum dengan tangan kirinya yang digenggam kim bum. So eun bisa merasakan tangan kim bum yang besar dan dingin itu.
“heh….persis seperti yang telah aku pikirkan, pada akhirnya kau akan jatuh cinta kepadaku. Kau memang bodoh !” ejek kim bum.
“kau…kau sangat menyebalkan !” balas so eun, sejujurnya ia salah tingkah dengan sikap kim bum yang berubah sekarang ini.
“ya ya terserah kau.” Kim bum hanya membalasnya dengan jawaba iya saja.
Pada akhirnya, hatiku yang tadinya telah remuk, kini mulai tersusun lagi.

 

To Be Continued

Sepertinya kalian sudah tahu bagaimana sebenarnya perasaan kim bum ke so eun kan? Hahaha
Tunggu aja part selanjutnya. Mian jika ceritanya kurang memuaskan, tapi saya harap kalian menyukainya.

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya.

Today, Love is Begin PART 5

Today, Love is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom

Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.

Genre : Romance Comedy

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

Annyeong readers hahaha akhirnya author kembali sesudah sekian lama menghilang dari dunia per ff-an hahaha maklum ya udah kelas 12 jadi sibuk huhu menyedihkan

Yaudah nih author suguhin lanjutan today love is begin. Happy reading ya. maaf bagi yang nunggu lama, harap maklum aja.

PART 5

 

Kim bum langsung menahan tangan so eun yang meraba keningnya, wajah mereka kini begitu dekat dan membuat so eun diam dengan pipi yang sudah merah padam.

“berhenti tertawa seperti itu, bodoh ! hanya melihatmu saja membuatku malu setelah mengucapkan hal tadi!” ujar kim bum.

“aah…ah mian, haha.” So eun buru-buru menjauhkan dirinya, namun kim bum masih menatapnya. So eun jadi salah tingkah di buatnya.

“ah…sepertinya aku harus segera pulang, pastikan kau harus masuk sekolah besok.” Ujar so eun seraya mebereskan tasnya. Kim bum hanya menatap so eun saja.

“baiklah kalau begitu, aku pergi.” Kim bum menatap punggung so eun hingga menghilang dari penglihatannya, setelah itu ia pun menjatuhkan dirinya di kasur. Kim bum menyelipkan kedua tangannya di belakang kepalanya, ia memejamkan matanya tapi ia kembali membuka matanya. Entah kenapa, sekarang ia jadi memikirkan perkataan bodoh yang keluar dari mulutnya tadi.

“ini benar-benar buruk.” Gumamnya.

Sementara itu, so eun memegangi dadanya saat di tengah perjalanan. Ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya.

“gawat ! jantungku berdegup sangat kencang ! aku harus menenangkan diriku !” gumam so eun lalu cepat-cepat pergi dengan langkah lebar dengan hati yang masih tidak menentu.

Tidak ada gunanya kita merasa senang dengan sikap atau pekataan yang ditunjukan satu sama lain bahkan meskipun saat kita dalam suasana hati yang baik. Karena faktanya adalah, kita tidak benar-benar berkencan.

-today love is begin-

 

So eun sudah berkali-kali membenarkan posisi tidurnya, ia guling kiri, guling kanan. Tapi tetap saja, ia tak bisa tidur meskipun ia sudah mencoba memejamkan matanya serapat mungkin dan bahkan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

“aarrgghh….sudah cukup !” so eun langsung membuka kedua matanya dan bangkit dari tidurnya. Ia memegangi kepalanya yang juga agak sedikit pusing.

“ada apa denganku? kenapa aku terus memikirkannya?” kesal so eun.

“aku bahkan tidak bisa tidur, haaah kenapa aku jadi seperti orang bodoh begini?” so eun menundukkan kepalanya. Setelah dari apartemen kim bum tadi, so eun tidak bisa menghentikan otaknya yang terus memikirkan kejadian disaat kim bum menatapnya secara dekat. Ia juga tidak bisa mengontrol jantungnya yang berdetak sangat kencang.

So eun tiba-tiba memegangi kedua pipinya yang memanas. “apakah jangan-jangan……” pikirnya dengan wajah khawatir.

“aaaaaahhhhhh…” so eun berteriak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“aku tidak boleh terus memikirkannya ! jika aku terus memikirkan itu, aku akan kelihatan aneh nanti. Bagaimana ini?” so eun jadi stress sendiri dengan dirinya sekarang.

-today love is begin-

Chungju Highschool

So eun baru saja sampai di sekolah, wajahnya terlihat lemas. Banyak hal-hal yang ia pikirkan di kepalanya. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana jika ia bertemu dengan kim bum hari ini. ia pasti akan kelihatan aneh dan salah tingkah, terlebih setelah semalaman ia tidak bisa menyingkirkan pikiran tentang kim bum dari kepalanya.

“semoga saja, aku tidak bertemu dengannya hari ini.” batin so eun.

“ah….aku harus menenangkan diriku, mungkin akan lebih baik jika sepulang sekolah pergi berkaraoke bersama nirin, aku bisa bernyanyi sepuasnya dengan kencang.” Ujar so eun pada dirinya sendiri.

“hey….” So eun menghentikan langkahnya sejenak saat ada suara seseorang yang ia kenal memanggilnya. Menyadari jika itu suara kim bum, so eun pun pura-pura tak mendengar dan segera menghindar. Baru saja ia memikirkan tidak ingin bertemu dengan kim bum hari ini, tapi ternyara kim bum malah memanggilnya.

Kim bum mengerutkan keningnya melihat so eun yang langsung pergi. “ooii kau…. !” teriak kim bum sekali lagi. So eun terpaksa menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap kim bum.

“ah…kau..” balas so eun gugup. Jantungnya kembali berdegup lebih kencang dari biasanya.

“jadi ketika seseorang menyapamu, kau hanya akan mengacuhkan mereka, eoh?” tanya kim bum dengan nada dinginnya.

So eun langsung menggibas-gibaskan tangannya. “a..aniyo, a..aku hanya tidak mendengar suaramu.” Jawab so eun. “tadi…aku sedang berkhayal hehehe.” Dusta so eun, bahkan sekarang ia tidak bisa menatap wajah kim bum. Begitu gugupkah ia? Sementara itu, kim bum yang melihat so eun sedikit aneh mengerutkan keningnya. Lalu sedikit menundukkan kepalanya dari samping kepada so eun. “heh, apa kau tertular deman dariku?” tanya kim bum, menatap dan menyelidiki wajah so eun sangat dekat.

“ee..ehh? a..aku baik-baik saja, aku tidak apa-apa.” so eun langsung menjauhkan wajahnya.

“aku tidak demam, flu, batuk, atau semacamnya. Aku bersikap seperti biasanya yang selalu bersemangat heheh, jadi kau tidak perlu khawatir padaku.” balas so eun seraya tertawa hambar.

“huh? Siapa yang bilang aku khawatir?” tanya kim bum dengan kening yang mengerut. Ia menatap so eun marah karena sudah seenaknya berpikiran bahwa ia mengkhawatirkan kondisinya.

“meskipun kau terkena demam, bukankah yang akan selalu mengkhawatirkan majikannya adalah peliharaannya sendiri, bukankah begitu?” ujar kim bum.

So eun langsung mematung dibuatnya setelah mendengar perkataan kim bum yang tidak manusiawi itu. “hei…kau benar-benar….gggrr.” so eun meremas-remas tangannya dengan gemas. Sementara kim bum hanya tersenyum menang.

“yah baiklah, sampai jumpa, aku ke kelas lebih dulu.” Ujar kim bum lalu pergi meninggalkan so eun.

“dia benar-benar sudah membuatku muak.” Geram so eun.

“ah kim bum-ssi, selamat pagi !” sapa seorang siswi yang tak sengaja berpapasan dengannya.

“selamat pagi.” Kim bum membalasnya dengan senyum ramah.

So eun yang melihat hal itu merasa jijik. “huh….dia memang pintar bersandiwara.” Gumamnya.

“apa kau sudah sehat kim bum-ssi?” tanya siswi itu.

“ah ya, aku sudah baik.” Balas kim bum.

“haaii kim bum-ssi, selamat pagi.” Kini ada dua siswi yang berbincang dengan kim bum. Kim bum membalas mereka dengan baik dan ramah. Menyadari masih ada seseorang yang memperhatikannya dari belakang, kim bum pun memutar kepalanya, lalu memeletkan lidahnya kepada so eun seperti meremehkan so eun. So eun cukup kaget dibuatnya. Setelah itu, kim bum pun benar-benar pergi.

So eun memegangi kedua pipinya yang mendadak memerah lagi. “lihat saja, aku akan membongkar sifat aslimu.” Ujar so eun.

-today love is begin-

Sepulang sekolah, tempat karaoke

So eun dan nirin sedang menyanyi di tempat karaoke. So eun menyanyi kencang sekali, seperti ia sedang menumpahkan segala kekesalnnya kepada laki-laki menyebalkan itu. siapa lagi kalau bukan kim bum.

Setelah lelah bernyanyi, so eun langsung meminum jus yang ada di atas meja. Nirin mengerutkan keningnya melihat so eun yang seperti itu. ia menopang dagunya menatap so eun.

“hmmm….kau sedang depresi?” tanya nirin. So eun mengangguk.

“ah seperti apa yang aku duga, waktunya sudah tiba ternyata, bagaimana jika kau mengatakannya dengan keras?” tawar nirin.

“sudah tiba? Sudah tiba apa maksudmu?” tanya so eun tak mengerti.

“kau menyukai kim bum-ssi, benar kan?” nirin menggunakan microphone itu lalu ia menyodorkannya ke depan wajah so eun, membuat so eun sedikit memundurkan wajahnya ke belakang.

“kau menyukainya?” tanya nirin sekali lagi. So eun terdiam beberapa saat dengan ekspresi wajah yang tidak menentu.

“baiklah, aku rasa….aku menyukainya.” akhirnya so eun menjawabnya dengan wajah menunduk, wajah so eun memerah dan matanya mulai berair.

“hei, bukankah itu bagus? Akhirnya kau sudah menemukan orang yang kau sukai.” Ujar nirin.

“tapi….tapi itu tidak mungkin ! seharusnya aku merasa malu saat ini nirin-ah, bahkan dia selalu memperlakukanku bukan seperti perempuan. Tapi kenapa aku punya perasaan seperti ini padanya?” ujar so eun, lalu ia menangis. “huaaaa….hic hic…”

“yeah, aku rasa ini tidak bisa membantu hhahaha.” Nirin malah tertawa melihat so eun seperti itu.

“kau tidak bisa memilih dengan siapa kau akan jatuh cinta kan? Karena hati tidak bisa dipaksakan ! jadi ikuti saja perasaanmu, karena aku yakin kau akan menemukan kebahagian jika kau melakukannya.” Nirin mencoba menyemangati seahabatnya itu, dan so eun mendadak berhenti menangis.

“umm, ya….kau benar nirin-ah.” Ujar so eun akhirnya. Nirin tersenyum.

“aku akan membantumu sebisaku, jadi cobalah yang terbaik !” ujar nirin.

“ba…baiklah.” Balas so eun.

-today love is begin-

Keesokan harinya, sepulang sekolah

So eun dan kim bum pulang bersama, yah seperti yang kalian tahu, mereka masih terikat dalam suatu hubungan meskipun hubungan itu hanya kebohongan belaka kan? Dan semua ini terpaksa mereka lakukan karena teman-temannya akan curiga tentang hubungan mereka jika mereka tidak pulang bersama.

Selama perjalanan, so eun hanya diam, ia tak mengeluarkan suara sedikitpun. Begitu pula dengan kim bum, ia hanya fokus pada ponselnya.

“bagaimana ini? nirin bilang aku harus melakukan yang terbaik, tapi aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan.” Batin so eun.

“apakah aku harus…..mengakui perasaanku padanya? Atau semacamnya?”

“hey…” tiba-tiba kim bum mencubit pipi so eun.

“oo..oouch…appo !” kesal so eun.

“apa  yang sedang kau pikirkan? Jangan berpikir yang macam-macam jika kau sedang berjalan didepanku !” ujar kim bum.

“siapa yang berpikir macam-macam?” kesal so eun seraya berusaha melepaskan tangan kim bum yang mencubitnya.

“heh….” Kim bum pun melepaskan cubitannya. Sementara, so eun menatap kim bum dengan kesal seraya memegangi pipinya yang memerah karena bekas cubitan kim bum.

“kau sering sekali mencubit pipiku ! bisakah kau berhenti melakukannya? Kau tahu? rasanya sakit !” kesal so eun. Tapi kim bum tidak mendengarkan, matanya fokus pada anjing yang tak sengaja tertangkap oleh indera penglihatannya.

“hey….kenta ! berhenti !” teriak seorang nenek berumur sekitar 60 an.

Kim bum masih memperhatikan anjing yang berlari itu hingga anjing itu berhenti tepat di bawah kakinya.

“eh…anjing?” ujar so eun seraya ikut melihat anjing itu.

“akhirnya kau berhenti juga, kenta.” Nenek itu terlihat kelelahan.

“ah…maaf anak muda, apakah anjingku ini mengganggu kalian?” tanya nenek itu.

“ah ani.” Balas kim bum seraya tersenyum ramah.

“syukurlah…” balas nenek itu.

“anjingmu sangat lucu, bolehkah aku meminjamnya dan mengajaknya jalan-jalan?” pinta kim bum.

“ah….pergilah…pergilah….aku rasa kenta juga menyukaimu.” Balas nenek itu.

“kebetulan aku juga ingin membeli sesuatu ke supermarket, jagalah anjingku. Tidak lama aku akan kembali kemari.” Ujar nenek itu.

“ah ne ahjumma, gamsahamnida.” Ujar kim bum.

“jadilah anjing yang baik kenta ! kalau begitu aku pergi.” Kim bum membungkukkan badannya sebagai tanda hormat dan terimakasih. Nenek itu pun pergi meninggalkan anjingnya, juga kim bum dan so eun.

Kim bum langsung membawa anjing itu ke taman di dekat sana, so eun hanya bisa mengikutinya dari belakang. Kim bum tampak senang sekali saat ia bermain dengan anjing itu, so eun yang duduk di samping kim bum hanya bisa memperhatikannya saja.

“aku rasa, dia memang penyuka binatang. Atau mungkin dia menyukai anjing.” Gumam so eun.

“wooaah, kau sangat berat kenta !” kim bum mengangkat tubuh kenta. “guk guk guk guk…”

“hmm? Kau ingin bermain denganku?” tanya kim bum. “guk guk guk…”

Kim bum tersenyum seraya mengelus-ngelus bulu kenta. So eun yang sedari tadi memerhatikan kim bum dan anjing itu tertegun saat melihat senyum kim bum yang tulus, tak seperti biasanya.

“e..ekpresi wajahnya….dia seperti pangeran jika tersenyum seperti itu, jarang-jarang aku melihat dia sesenang ini.” batin so eun. Pipinya mendadak merah karena melihat senyum kim bum itu.

“Aku…ya aku menyukai kim bum-ssi.” batin so eun.

Menyadari so eun terus memandangnya, kim bum pun memicingkan matanya menatap so eun.

“mwo? kau ingin aku memperlakukanmu dengan baik seperti anjing ini?” tanya kim bum.

“eehh..? mwo?” pekik so eun. “a..apa kau bodoh huh? Mana mungkin ! Kenapa kau tiba-tiba…..”

“yeah, ekspresi wajahmu mengatakan jika kau menginginkannya.” Potong kim bum.

“m..mwo….”

“guk guk…” tiba tiba anjing itu melompat dari pelukan kim bum dan berlari ke si pemilik yang baru saja datang.

“ah, kalian menjaga anjingku dengan baik.” Ujar nenek itu. kim bum pun langsung berdiri diikuti so eun dan membungkukkan badannya pada nenek itu.

“aku senang bisa mengajaknya bermain, dia anjing yang sangat lucu. Aku menyukainya.” ujar kim bum.

“kalau begitu aku pulang anak muda, semoga aku bisa bertemu dengan kalian lagi.” Ujar nenek itu.

“ah ne.” balas kim bum.

“ayo kenta !” nenek itu pun pergi bersama anjingnya.

So eun memegangi pipinya yang masih merah dan terasa panas. “sangat memalukan, dia melihat ekspresi wajahku tadi huhuhu. Tapi, mungkin dia benar, aku ingin dia tersenyum padaku seperti dia tersenyum pada anjing itu saat ia bersamaku.” Batin so eun.

Tapi, tiba-tiba so eun menggeleng-gelengkan kepalanya. “ada apa dengaku?”

“wae?” tanya kim bum heran melihat so eun seperti itu.

“ah…ani.” Balas so eun.

“um….kim bum-ssi, melihatmu sangat menyukai binatang, kenapa kau tidak memelihara anjing saja?” tanya so eun.

“aku tidak bisa.” Balas kim bum.

“eh…kenapa tidak?” tanya so eun. “ah…ya benar, kau hanya tinggal bersama ayahmu. Jika kau memelihara anjing, mereka akan kesepian dan mereka hanya akan duduk menunggumu di rumah, karena kau tidak punya banyak waktu untuk mereka.” Ujar so eun.

“yeah, itu salah satunya.” Balas kim bum. So eun langsung menengadahkan wajahnya menatap kim bum.

“lagipula, aku takut mereka akan mati suatu saat nanti. Aku pernah punya anjing saat di sekolah dasar, tapi dia mati karena keracunan.” Cerita kim bum. So eun menatap kim bum cukup tertegun.

“dari situlah aku berpikir akan lebih baik jika aku tidak punya peliharaan.” Lanjutnya.

“ah aku mengerti, aku tidak sampai berpikir ke arah sana, mian.” Balas so eun.

“hal yang terpenting saat memiliki peliharaan adalah….harus memberikan mereka penuh perhatian.” Ujar kim bum.

“mmm…” so eun menyetujuinya.

“yeah lagi pula, aku sudah punya peliharaan raksasa bukan?” kim bum menepuk-nepuk kepala so eun seraya tersenyum. So eun tertegun dibuatnya, wajahnya langsung memerah seketika.

“ditambah, aku sudah menolongmu beberapa kali dengan baik.” Tambah kim bum lalu berjalan mendahulu so eun. So eun masih terdiam di tempat, ia memegangi kepalanya yang tadi di pegang oleh kim bum. Tapi dengan cepat, ia menyadarinya. “yak…..bukankah aku yang selalu menolongmu dan memberikan perhatian kepadamu bahkan disaat kau sedang sakit?” teriak kim bum.

“kau berkhayal lagi !” balas kim bum.

“eh?” so eun pun kini hanya memandangi punggung kim bum yang semakin menjauh. Sesuatu semakin bergejolak di dalam hatinya, setelah ia semakin yakin bahwa ia menyukai kim bum.

“aku….akan mengakui perasaanku kepadanya.” Batin so eun.

-today love is begin-

So eun sedang berbaring di kasurnya. Ia memegangi ponselnya dan sudah berkali-kali melihat nomor ponsel kim bum, sedari tadi ketika ia akan menghubungi kim bum, ia kembali mengurungkan niatnya.

“haaah….bahkan setelah aku memutuskan untuk mengatakan perasaanku, ternyata tidak semudah seperti yang sudah direncanakan.” Gumam so eun. “bahkan ini sudah beberapa hari berlalu.” Lanjutnya.

So eun kembali menatap nomor ponsel kim bum di ponselnya.

“aku penasaran bagaimana reaksinya nanti….aku juga penasaran apa yang sedang ia lakukan sekarang.” Gumam so eun.

Tok tok tok

“so eun-ah….” Ibunya membuka pintu dan membawa satu kantong plastic berisi buah apel.

“ya, ada apa eomma?” tanya so eun.

“ini, apel.” Ujar ibunya seraya mengangkat kantong plastic itu dan menunjukannya kepada so eun.

“apel?” tanya so eun.

“ne, tetangga sebelah sedang panen apel, jadi mereka memberikannya kepada eomma.” Ujar ibunya.

“aplenya banyak sekali. Berikan separuh untuk nirin.” Ujar ibunya seraya menyerahkan apel itu pada so eun. so eun menerimanya.

“nirin sangat menyukai apel bukan?” tanya ibunya seraya keluar dari kamar so eun. “ah ne.” balas so eun.

So eun mengambil salah satu apel itu dan melihatnya. “apelnya sangat besar dan merah.” Ujarnya.

-today love is begin-

“maafkan aku nirin, seharusnya aku memberikan apel ini padamu.” Gumam so eun.

Sekarang ini so eun sudah berada tepat di depan pintu apartemen kim bum. Sudah sekitar 5 menit ia berdiri disana, ia ragu bagaimana ia harus menekan bel atau tidak. Ia harus mengumpulkan keberanian dulu untuk menekan bel dan menerima reaksi kim bum nantinya. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya so eun pun menekan bel juga.

Ting tong ting tong

Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Dan so eun terkejut saat melihat seorang perempuan yang membuka pintu itu. bahkan sao eun tidak mengenal siapa perempuan itu.

“oh? Yang datang perempuan ternyata, aku mengerti.” Ujar perempuan itu. “yaa kim bum, ada tamu yang datang !” teriak perempuan itu.

“nugu?” tanya kim bum lalu ia berjalan ke arah pintu.

“so eun?” heran kim bum saat ia melihat so eun berdiri di depan pintu apartemennya.

“ah baiklah kalau begitu kim bum-ah, ada sesuatu yang harus aku lakukan, jadi aku pergi.” Ujar perempuan itu lalu ia pun pergi meninggalkan kim bum dan so eun. So eun menatap punggung perempuan itu dengan tatapan sayunya.

“siapa perempuan itu? bagaimana kau mengenalnya?” tanya so eun dengan nada lemas tanpa meanatp kim bum.

Kim bum tak mengindahkan pertanyaan so eun. “lalu apa yang kau lakukan disini?” tanya kim bum.

“perempuan tadi, kelihatan sangat akrab dengan kim bum-ssi.” batinnya. Tiba-tiba wajah so eun yang tadinya lemas berubah menjadi masam.

“eeeeehhhh? Perempuan tadi baru saja di dalam apartemen kim bum-ssi ! apakah itu artinyaaa….”

“hey, kenapa kau disini? Dan apa yang kau mau?” tanya kim bum lagi seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“uumm….k..kim bum-ssi..” panggil so eun. kim bum menatap so eun seakan tatapannya mengartikan ‘ada apa?’

“um….aku rasa…mungkin akan lebih baik jika kita berhenti saja dengan semua ini.” ujar so eun tanpa menatap kim bum.

Kim bum menggaruk tengkuknya lagi. “huh? Berhenti apa maksudmu?” tanya kim bum bingung.

“yeah, kau….ya seperti yang kau lihat, kau itu popular dan tentu banyak perempuan di sekelilingmu, jadi…..” ujar so eun.

“yak, jangan pernah mengatakan ini dan itu tentangku, aku tidak pernah melakukan sesuatu seperti yang kau pikirkan.” Ujar kim bum.

“ani, tapi bagaimana pun kau itu seorang laki-laki, dan perempuan mungkin akan….”

“kau benar-benar mengganggu, bagaimana bisa kau berkata seperti itu disaat bahkan kau bukanlah pacarku, itu bukan masalah dengan apa yang aku lakukan.” Ujar kim bum.

“tapi aku tidak setuju.” Balas so eun.

“huh? Wae?” tanya kim bum.

“itu karena….karena…”

“mwo? untuk cinta atau untuk kesenangan, itu terserah kepada orang yang memutuskan untuk melakukan apa yang mereka inginkan kan?” ujar kim bum.

“ya..mungkin itu benar, tapi….tapi aku….” Ujar so eun gelagapan.

“tapi apa? aku akan mendengarkan jika kau ingin protes. Tapi apa?” tanya kim bum.

“benci diriku sendiri, aku…..aku benci diriku sendiri.” Ujar so eun dengan wajah menunduk. Kim bum menatap so eun cukup tertegun.

“aku benci diriku sendiri karena aku…..karena aku….menyukaimu.” Ujar so eun akhirnya yang sukses membuat kim bum terkejut. Kim bum membulatkan matanya.

Hening sesaat diantara mereka. So eun sendiri mengutuk dirinya karena dengan mudahnya kata-kata itu keluar dari mulutnya.

“heh…” kim bum membuang nafasnya. Ia sedikit menyunggingkan senyumnya. So eun sedikit bingung melihat reaksi kim bum tersebut.

“huh? Kau…tertawa?” tanya so eun dengan wajah bengongnya.

“kau orang yang sangat simpel, benar kan?” tanya kim bum. So eun masih bengong menatap kim bum. Kim bum lalu mendekatkan wajahnya ke wajah so eun hingga wajah mereka sejajar. So eun tidak bisa berkutik saat wajah kim bum begitu dekat dengannya.

“karena kau orang yang simple, pasti ini semua hanyalah kesalahpahaman !” Ujar kim bum. Mulut so eun terbuka setelah mendengar perkataan kim bum itu.

“huh?” tanyanya tak mengerti.

“sebelumnya kau belum pernah berkencan dengan laki-laki kan? Lalu kau berpikir untuk mulai pura-pura berkencan. Itulah kenapa kau merasa tertarik dan mulai berfikir bahwa kau menyukaiku.” Jelas kim bum.

“jadi….perasaanku hanyalah kesalahpahaman?” tanya so eun terlebih kepada dirinya sendiri.

“benar.” Balas kim bum seraya menatap so eun.

“ah….ya haha aku mengerti.” So eun tertawa hambar. Jujur, sebenarnya hatinya sedikit sakit saat mendengar apa yang kimbum ucapkan kepadanya. Tapi ia berusaha menerima bahwa mungkin yang dikatakan kim bum ada benarnya juga, bahwa ia sudah salah paham dan terlalu cepat menyimpulkan bahwa ia menyukai kim bum.

“ketika kau mengatakannya, itu memang masuk akal.” Ujar so eun.

“yeah, aku senang karena kau mengerti. Asal kau tahu, aku tidak ingin jatuh cinta kepada seseorang sepertimu. Aku rasa kau harus membuka matamu.” Ujar kim bum datar.

Jleb perkataan kim bum barusan benar-benar menusuk hati so eun, dengan entengnya kim bum mengucapkan kata-kata tanpa berpikir apakah apa yang diucapkannya itu akan membuat so eun terluka atau tidak.

Tanpa bisa so eun tahan, matanya kini mulai berkaca-kaca. Bahkan, kim bum yang tengah menatapnya kini jadi sedikit kaget karena so eun yang seperti akan menangis.

“igo ! apel untukmu !” so eun langsung menyerahkan satu kantong plastik apel kepada kim bum. Kim bum menerimanya tanpa berkata apa-apa.

“aku pergi !” ujar so eun dengan nada di buat ceria lalu ia pun dengan langkah lebar pergi meninggalkan kim bum. Kim bum masih diam di tempat seraya memerhatikan so eun dengan wajah bingung. Sebenarnya ia sadar betul, apa yang ia ucapkan kepada so eun tadi sedikit kurang ajar.

So eun menghapus air matanya dengan kasar. “huh, kenapa aku harus menangis?” kesalnya.

“seperti yang ia katakan, perasaanku hanyalah kesalahpamahan. Tapi…..tapi tidak seharusnya dia berkata seperti itu juga kan? Meskipun jika aku memang menyukainya, aku hanya akan sakit hati.” So eun berbicara kepada dirinya sendiri dengan suara yang pelan, ia berjalan seraya menundukkan kepalanya.

“eh? Bukankah kau….”

So eun langsung mengangkat kepalanya saat ia mendengar suara seseorang yang seperti mengarah kepadanya. So eun terkejut melihat perempuan yang berdiri di depannya. Perempuan itu tersenyum lebar kepadanya.

“perempuan yang tadi !” batin so eun.

“kebetulan kita bertemu lagi disini.” Ujar perempuan yang ternyata adalah perempuan yang tadi keluar dari apartemen kim bum.

“hehehe.” So eun hanya nyengir saja. Sejujurnya ia tidak ingin berbicara dengan perempuan ini, ia ingin segera pergi.

“namamu kim so eun?” tanya perempuan itu. so eun hanya mengangguk mengiyakan.

“heh…” perempuan itu tersenyum. “jadi benar kim bum sudah berhenti bermain-main dengan perempuan.” Ujarnya.

“huh? Apa maksudmu?” tanya so eun bingung.

Perempuan itu mengerutkan keningnya. “heh, apakah dia belum mengatakannya kepadamu?” tanya balik perempuan itu. so eun semakin bingung dibuatnya.

“dia bilang karena sekarang dia punya peliharaan bernama kim so eun, dia jadi tidak bisa melakukan sesuatu yang ia suka dengan bebas sekarang. Meskpiun begitu, ia bilang itu sedikit membuat hidupnya lebih menarik dan konyol.” Cerita perempuan itu. So eun masih diam.

“tapi…setelah aku ke apartemennya tadi, dia tidak punya peliharaan seperti anjing, kucing atau sebagainya…tak ada hewan di apartemennya….hmmm…” perempuan itu memegang dagunya seraya memerhatikan so eun.

“yeah aku mengerti sekarang.” Perempuan itu tersenyum. “yang dia maksud peliharaan adalah kau kan?”

“eh? La..lalu…kau….?” tanya so eun.

“aku pergi ke apartemennya untuk mengambil cincinku yang tertinggal.” Jawab perempuan itu seraya menunjukkan cincin yang terpasang di jari manisnya. So eun menatapnya dengan bingung.

“ini adalah cincin pemberian pacarku, kim bum-ssi adalah sepupu pacarku. Cincin ini tertinggal saat kami bermain ke apartemen kim bum-ssi. karena aku takut pacarku marah, jadi aku diam-diam mengambilnya malam hari.” Cerita perempuan itu.

Segala kekhawatiran yang ada pada diri so eun sekarang menguap seketika, kini sudah jelas jika perempuan di depannya ini tidak punya hubungan apa-apa dengan kim bum. Ternyata ia juga sudah salah paham.

“mian ne? mungkin kau sudah salah paham denganku. Tenang saja, meskipun dia selalu dikelilingi oleh perempuan, dia adalah laki-laki yang baik.” Ujar perempuan itu.

“eh?”

“ah baiklah, sepertinya aku harus segera pulang. Selamat malam kim so eun-ssi.” pamit perempuan itu lalu ia pun pergi meninggalkan so eun yang masih mematung di temat.

“dia bilang karena sekarang dia punya peliharaan bernama kim so eun, dia jadi tidak bisa melakukan sesuatu yang ia suka dengan bebas sekarang. Meskpiun begitu, ia bilang itu sedikit membuat hidupnya lebih menarik dan konyol.”

So eun kembali teringat dengan perkataan perempuan tadi. So eun jadi berpikir-pikir tentang kim bum.

“benarkah itu yang dikatakannya?” gumam so eun.

-today love is begin-

So eun sudah kembali berdiri di depan pintu apartemen kim bum dengan nafas yang tak beraturan. Tak lama, pintu pun terbuka dan kim bum menyembulkan kepalanya dari dalam.

“kau? Kenapa kau kembali lagi?” heran kim bum.

“anu…..bahkan jika hanya kesenangan saja yang kau dapatkan. Maksudku…..meskipun hanya sedikit membuat hidupmu lebih menarik dan konyol, apakah tidak apa-apa?” tanya so eun.

“huh?” kim bum mengerutkan keningnya tidak mengerti.

“aku mendengarnya dari perempuan tadi, dia bilang….” Ujar so eun menggantung. Wajah kim bum sudah kelihatan masam. Ia menggaruk tengkuknya. ‘sepertinya noona mengatakan sesuatu kepadanya’ batin kim bum.

“jadi kenapa?” tanya so eun. “apa maksdumu berkata bahwa semua itu salahku? Kenapa gara-gara aku?” tanya so eun ingin tahu.

“huft…” kim bum menghela nafasnya. “bukan apa-apa.” balas kim bum. “jangan percaya dengan apa yang dia ucapkan.” Lanjut kim bum dengan wajah yang sedikit berkeringat.

“w..wae? aku hanya ingin tahu alasanmu kenapa semuanya salahku?” tanya so eun.

“bagiamana bisa aku tahu !?” kesal kim bum. “setelah mengenalmu, aku jadi mulai peduli tentang orang lain. Dan ini salahmu !” Ujar kim bum dengan ekspresi seakan ia berat hati mengatakan ini.

“m..mwo? yak ! bukan hanya karena kau berubah jadi peduli dengan orang lain, jangan seenaknya menyalahkan orang lain !” balas so eun.

“tidak peduli bagaimana aku berpikir tentang hal ini dan apa yang kau katakan, tetap saja ini semua salahmu !”  ujar kim bum.

So eun mengepalkan kedua tangannya, setelah mendengar apa yang dikatakan kim bum dari perempuan tadi, so eun jadi berpikir ulang, dan kini sudah benar-benar yakin dengan perasaannya.

“hey…kim bum-ssi…” panggil so eun. kim bum menatap so eun.

“ini bukanlah kesalahpahaman ! aku…..aku menyukaimu.” Ujar so eun dengan segenap keberanian. Kim bum tertegun mendengarnya.

“karena aku rasa kau cukup frustasi, aku sempat berfikir untuk menyerah. Tapi, karena aku tahu perasaanku tidak bisa berbohong, aku tidak bisa berhenti.” Jelas so eun dengan wajah menunduk.

“tidak apa jika kau tidak percaya kepadaku. Tapi….sampai aku menyampaikan perasaanku, aku akan mencoba yang terbaik untuk menunjukkannya kepadamu ! jadi….ingat ini !” ujar so eun dengan suara sedikit keras.

Kim bum masih diam, ia tak mengeluarkan sepatah katapun. Dan itu membuat so eun dengan perlahan mengangkat kepalanya dan menatap kim bum. Kim bum masih diam saja, tak ada reaksi sedikit pun. Itu membuat so eun menciut dan ia langsung kembali menundukkan kepalanya. “jebal ! kau akan mengingatnya kan?” pinta so eun. “saat kau butuh bantuan…..”

“kau tidak perlu mencobanya lagi ! kau akan sangat mengganggu jika kau melakukannya. Jadi aku akan mempercayaimu !” potong kim bum lalu berbalik membelakangi so eun. So eun terdiam mendengarnya, cukup sulit untuk mencerna apa yang baru saja kim bum katakana kepadanya. So eun mengerutkan keningnya seraya berpikir. Sementara itu, kim bum yang sudah membuka pintu apartemennya kembali memutar kepalanya melihat so eun, lalu menyunggingkan senyumnya tanpa so eun ketahui.

Apakah tidak apa-apa berharap terlalu banyak disaat dia memberikan sedikit harapannya? Berharap semua ini bukanlah khayalan !

 

To Be Continued

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya. Mian jika ceritanya kurang memuaskan, tapi saya harap kalian menyukainya.

Today, Love is Begin PART 4

Today, Love is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom

Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.

Genre : Romance Comedy

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

 

PART 4

 

“seseorang tidak akan melakukan sesuatu sampai sejauh itu jika bukan pada seseorang yang benar-benar serius mereka sukai.” Ujar kim bum, membuat so eun sedikit takjub dengan kata-kata yang keluar dari mulut kim bum itu. So eun sampai tak mengedipkan matanya menatap kim bum.

Kim bum menolehkan wajahnya kepada so eun. “apa?” Tanya kim bum heran karena so eun terus menatapnya seperti itu.

“umm…apa kau…tidak berfikir bahwa akan lebih baik jika kau mempunyai seseorang yang kau sukai?” Tanya so eun.

“tsk….kau sangat mengganggu !” kim bum kembali memalingkan wajahnya pada jendela.

So eun masih penasaran dengan sikap kim bum, seperti apa dia sebenarnya? So eun juga memalingkan wajahnya dari kim bum.

‘pernahkah kim bum-ssi…..jatuh cinta?’ batin so eun.

‘aku penasaran, seperti apa perempuan yang dia sukai itu’

“melihat mereka seperti itu, mengingatkanku pada seseorang.” Ujar kim bum tiba-tiba. So eun kembali menolehkan wajahnya kepada kim bum, dan kini kim bum juga melihat pada so eun.

“seseorang?” Tanya so eun.

“ya, dengan beraninya dia meletakkan kepalanya yang berat itu di bahuku tanpa permisi.” Ujar kim bum seraya menatap so eun dengan tatapan murkanya.

“he…hei, kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanya so eun heran dan ketakutan.

“tsk……aku tidak menyangka.” Ujar kim bum lalu melepaskan tatapannya dari so eun dan kini mulai memejamkan kedua matanya dengan lengan yang dilipat.

So eun masih heran dengan sikap dan ucapan kim bum barusan. “apanya yang tidak menyangka?” Tanya so eun.

“tsk…diamlah ! aku ingin tidur ! jangan keluarkan suaramu karena itu akan menggangguku !” perintah kim bum.

So eun hanya bisa mencibir saja dibuatnya.

                                                                               -today love is begin-

 

Chungju Highschool

Liburan musim panas telah usai, kini mereka kembali ke aktifitas normal dan bersekolah seperti biasanya.

“ini untuk kalian teman-teman, oleh-oleh dariku.” Ujar hye rim seraya menyerahkan dua kantung souvenir kepada so eun dan bo young.

“waaahh, gomawo hye rim-ssi.” So eun menerima souvenir itu lalu dengan tak sabar membuka apa isinya. “gantungannya sangat lucu.”

“jadi bagaimana dengan liburanmu hye rim?” Tanya bo young.

“yeah…sangat menyenangkan…tapi disana sangat panas dan seperti aku mau mati.” Balas hye rim.

“jincha?” pekik bo young. Hye rim mengangguk.

“kita juga berlibur ke pantai, sangat menyenangkan ya so eun-ssi.” Ujar bo young.

“ah yeah…” balas so eun.

“hanya kalian berdua?” Tanya hye rim.

“ani, kami pergi dengan kim bum-ssi dan tentunya dengan pacarku.” Jawab bo young.

“kedengarannya menarik.” Ujar hye rim.

“hehe.” So eun hanya bisa tertawa hambar saja mendengarnya. Karena pada akhirnya, liburan musim panas kemarin tidak seperti apa yang dia harapan. So eun juga tak pernah bertemu lagi dengan  kim bum setelah liburan ke pantai sokcho.

‘huh baiklah, kembali sekolah berarti aku akan bertemu dengan kim bum-ssi setiap hari meskipun aku tidak menginginkannya’ batin so eun.

“ah so eun-ssi, apa kau sudah bertemu dan melihat kim bum-ssi hari ini?” Tanya bo young.

“eh…ani, aku belum melihatnya hari ini.” Jawab so eun.

“eh bagaimana bisa?” Tanya hye rim.

“apa kim bum-ssi tidak menghubungimu atau semacamnya?” Tanya bo young.

So eun menggeleng. Di dalam pikirannya mulai muncul pertanyaan, benar juga so eun belum melihatnya di sekolah hari ini.

‘dia selalu hadir di awal masuk sekolah. Apakah sesuatu terjadi padanya?’ batin so eun.

-today love is begin-

 

“kim bum-ssi? Dia tidak masuk hari ini.” Jawab nirin. Setelah bel pulang berbunyi, so eun langsung menemui nirin dan bertanya soal kim bum karena nirin memang satu kelas dengan kim bum.

“mwo?” kaget so eun. “wae? Kenapa dia tidak masuk?” Tanya so eun. “padahal hari ini adalah hari pertama di semester 2.” Lanjut so eun.

“mungkin dia terkena demam atau semacamnya.” Balas nirin.

“eh demam? Manusia seperti kim bum-ssi bisa terkena demam juga?” Tanya so eun.

“yak….bagaimana pun juga dia manusia kan? Apalagi sekarang sedang musimnya demam dan flu.” Timpal nirin.

So eun terdiam mendengarnya.

“ah shin nirin !” tiba-tiba guru lee memanggil nirin, nirin pun berjalan menghampiri guru lee.

“ne seonsaengnim, ada yang bisa saya bantu?” Tanya nirin.

“bisakah kau memberikan ini kepada kim sang beom?” pinta guru lee seraya menyerahkan sebuah map kepada nirin.

“ah baiklah.” Balas nirin seraya menerima map itu. Guru lee pun pergi meninggalkan nirin.

“nirin-ah, apa kau benar-benar akan melakukannya? Maksudku emberikan itu kepada kim bum?” Tanya so eun.

“tentu saja, aku kan presiden kelas.” Jawab nirin.

“eh benarkah? Kau tidak pernah bilang padaku jika kau presiden kelas. Keren !” puji so eun.

“tidak seberapa.” Balas nirin.

“umm~ tapi so eun-ah mian, bisakah kau yang memberikan ini kepada kim bum-ssi ke rumahnya?” pinta nirin.

“eh…wae?” Tanya so eun.

“aku harus pulang cepat karena harus membuat makan malam untuk adikku, jika aku telat adikku tidak akan bisa makan apa-apa.” Jawab nirin.

“ah baiklah….serahkan saja padaku.” Balas so eun mau tak mau, lalu mengambil alih map itu dari tangan nirin.

“gomawo so eun-ssi.” Nirin tersenyum.

‘ah baiklah, aku melakukan ini hanya karena nirin, sahabatku’ batin so eun.

“alamat rumahnya akan aku kirim lewat pesan padamu.” Ujar nirin.

“baiklah.”

-today love is begin-

 

“oh jadi dia tinggal di apartemen?” gumam so eun setelah ia sampai di daerah tempat tinggal kim bum yang nirin kirimkan melalui pesan padanya. So eun berdiri di badan jalan dan memerhatikan apartemen yang tidak terlalu mewah yang hanya terdiri dari tiga lantai itu.

“huh…kenapa aku jadi gugup yah?” gumam so eun.

“apakah orangtuanya juga ada di dalam? Apakah aku harus memperkenalkan diriku kepada mereka?” so eun tampak mondar-mandir.

“tapi, bukankah akan terasa aneh jika aku memperkenalkan diriku sebagai pacarnya? Tapi….jika aku memperkenalkan diriku sebagai pacarnya, itu akan sangat memalukan. Pada kenyataannya aku memang bukan pacarnya.” So eun masih saja mondar-mandir, sesekali seraya mengacak-acak rambutnya.

“ah huft…baiklah…aku akan bersikap biasa saja, yeah normal.” Ujarnya seraya menenangkan diri. So eun pun mulai menaiki tangga apartemen itu.

So eun sudah berdiri tepat di depan pintu apartemen kim bum. Ia tampak ragu-ragu untuk menekan bel.

“bagaimana ini?” gumamanya.

“ah baiklah….bersikap biasa saja.” Ujar so eun pada dirinya sendiri.

Ding dong ding dong

So eun sudah membiarkan tangannya menekan bel itu. So eun tampak cemas menunggu jawaban dari intercom.

“ya?”

So eun langsung tegang setelah mendengar suara kim bum melalui intercom.

“ah…kim bum-ssi ini aku, so eun.” Ujar so eun.

“so eun-ssi?”

“um…..aku datang untuk memberikan map milikmu.” Cerita so eun.

“ah aku akan keluar.”

“fiuhh…” so eun melap dahinya yang sedikit berkeringat.

Kreeek

Pintu terbuka, dan munculah kim bum dengan aura negative disekitar tubuhnya. Wajah kim bum tampak pucat dan rambutnya juga berantakan. So eun bengong melihat penampilan kim bum yang berantakan seperti itu.

“bagaimana bisa kau kemari?” Tanya kim bum dengan suara paraunya.

“ah…nirin memintaku untuk memberikannya padamu karena dia sedang ada urusan.” Jawab so eun.

“ini, map dari guru lee.” So eun menyerahkan map itu kepada kim bum.

“oh…” kim bum menerima map itu tanpa banyak berkata lagi.

So eun kini tak mengeluarkan kata-kata lagi, ia menunduk seraya memikirkan sesuatu.

‘aku rasa ada yang aneh, jika dia membuka pintu olehnya sendiri, itu berarti tidak ada siapa-siapa selain dirinya di dalam kan?’ batin so eun.

“baiklah, Jika kau tidak ada perlu lagi, lebih baik kau pulang saja!” suruh kim bum.

“ah ya…” balas so eun. Kim bum berbalik dan hendak masuk ke dalam apartemennya. Namun disaat ia membuka pintu, pintu itu mengantam kepalanya pelan.

“ouch…” ringis kim bum.

“huh?” so eun langsung menghampiri kim bum dan membantunya.

“apa kau baik-baik saja? Aku akan membantumu sampai kau berbaring di kasurmu.” So eun membantu memapah kim bum.

“ani, tidak usah.” Tolak kim bum.

“huh? jalanmu saja sempoyongan ! jangan egois di saat kau benar-benar butuh bantuan.” Ujar so eun.

“tsk….diam ! itu bukan urusanmu !” kim bum masih tetap menolak.

“ckckck….sudah, cepat-cepat !” so eun menyuruh kim bum untuk mempercepat langkahnya hingga kim bum terduduk di kasurnya.

“haaa….” so eun sedikit meregangkan tangannya. Sementara kim bum sudah terbaring di kasur dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Kim bum berbaring membelakangi so eun.

“kau baik-baik saja?” Tanya so eun seraya menyentuh tubuh kim bum yang terbungkus selimut. Kim bum diam.

“apa kau sudah memakan obat?” Tanya so eun lagi.

“ani.” Balas kim bum.

“kalau begitu kau harus memakan sesuatu dulu sebelum kau memakan obatmu. Kalau begitu katakan, apa yang harus aku lakukan?” Tanya so eun.

“aku baik-baik saja, kau tidak perlu melakukan apa-apa.” Jawab kim bum.

“yak…aku tidak bisa pergi meninggalkanmu begitu saja, jika kau tidak melakukan apa-apa dan aku hanya diam saja, demammu tidak akan segera turun.” Ujar so eun.

Wajah kim bum sudah berkeringat, panasnya dari kemarin tak kunjung turun, ditambah sekarang ini ada so eun yang menurut kim bum mengganggu waktu istirahatnya.

“ah baiklah, haruskah aku membuat makan malam? Disaat sakit, bubur dan beberapa buah-buahan akan cukup membantu meredakan demam.” Ujar so eun.

“aku akan melihat persediaan makanan di dapurmu lalu aku akan membuatkannya untukmu.” Lanjut so eun yang hendak pergi menuju dapur

“tsk…” kim bum langsung bangkit dari tidurnya dan langsung menatap so eun, membuat so eun kaget dan sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang.

“kau tidak harus melakukan apapun ! jadi tinggalkan aku sendiri !” suruh kim bum.

“huh? Ya ada apa denganmu? Aku hanya ingin menolongmu !” so eun mulai kesal dengan sikap egois kim bum.

“aku tidak memintamu untuk menolongku, dan aku tidak butuh bantuanmu.” Balas kim bum.

“huh…kau…” so eun meremas tangannya dengan gemas.

‘ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba jadi menolak apa yang ingin aku lakukan? Bukankah dia selalu menyuruhku untuk melakukan ini dan itu’ batin so eun.

“cough…cough….” Tiba-tiba Kim bum batuk-batuk lalu ia pun kembali membaringkan tubuhnya.

“yeah baiklah, kapan orangtuamu pulang?” Tanya so eun.

“aku tidak tahu.” Jawab kim bum.

“heh…bagaimana bisa kau tidak tahu?” kaget so eun dengan suara cukup keras.

“hei…kau benar-benar menganggu ya !” ujar kim bum.

“huh?” pekik so eun.

“ayahku selalu bekerja hingga larut malam, dan ibuku tidak pernah kembali setelah ia pergi.” Jelas kim bum. Entah kenapa, ia sendiri bingung kenapa harus memberitahu gadis ini tentang orangtuanya.

“ah…oh…aa..rasseo, mian.” Ujar so eun dengan suara yang lebih pelan. Ia sekarang menatap kim bum dengan iba, ternyata cukup kasihan juga lelaki yang sedang terbaring lemah di kasur ini.

“bisakah kau tidak melihatku seperti itu? Sangat menjengkelkan !” ujar kim bum.

“aku selalu seperti ini semenjak aku kecil, jadi bagiku ini sudah biasa.” Ujar kim bum dengan mata yang terpejam. So eun terdiam mendengarnya.

“jadi segera pulanglah !” suruh kim bum. So eun masih diam ditempatnya, melihat kim bum yang berubah menjadi menyedihkan di mata so eun.

‘yeah, aku rasa dia akan baik-baik saja jika aku pergi.’ Batin so eun.

-today love is begin-

 

Keesokan harinya, Chungju Highschool

Setelah bel pulang berbunyi, so eun kembali menemui nirin dengan cepat.

“ah nirin-ah, apakah kim bum-ssi tidak masuk lagi hari ini?” Tanya so eun langsung saat nirin baru saja keluar dari kelasnya.

“oh so eun-ah.” Nirin kaget melihat so eun sudah ada di hadapannya. “konsisi pisiknya masih belum membaik sepertinya.” Jawab nirin.

“ah ya, ngomong-ngomong terimakasih untuk kemarin, sekarang aku bisa memberikan catatan penting pelajaran hari ini kepadanya.” Ujar nirin seraya memegang map berwarna merah di tangannya. Tiba-tiba So eun langsung merebut map yang berada di tangan nirin itu.

“heh? apa yang kau lakuan so eun-ah?” kaget nirin.

“ummm…kemarin, aku tak sengaja meninggalkan sesuatu di rumah kim bum-ssi, jadi…aku akan mengambilnya sekalian memberikan ini padanya hehe.” Jawab so eun. Nirin menatap so eun sebentar dengan tatapan menyelidik. Sementara so eun hanya membalasnya dengan cengiran saja.

“oh, jinja? Baiklah kalau begitu, kau berikan map itu pada kim bum-ssi ne?.” Ujar nirin.

“ah ne, serahkan padaku hehe.” Balas so eun.

-today love is begin-

 

Kim bum sedang berbaring di kasurnya, suhu tubuhnya masih belum turun dan membuatnya enggan untuk beranjak dari kasurnya dari semalam. Tapi, suara bel yang baru saja berbunyi membuatnya terusik. Ia tak menghiraukan bel itu, hingga yang ketiga kalinya barulah ia menggeser tubuhnya lalu beranjak dari kasurnya dengan enggan. Ia mengacak rambutnya lalu perlahan berjalan menuju pintu tanpa menjawab bel itu lewat intercom.

“Annyeong he….he.” Sapa so eun seraya mengangkat tangan kanannya setelah kim bum membuka pintu. So eun tersenyum agak kaku dan canggung karena tak enak melihat raut wajah kim bum yang memperlihatkan seperti ia tak senang dengan kehadiran so eun. Sementara kim bum hanya memandang so eun dengan wajah pucatnya seraya sedikit mengerutkan keningnya.

“kau lagi…” ujar kim bum malas.

“maaf aku datang lagi kemari dan sudah menganggumu.” Ujar so eun lalu langsung masuk ke apartemen kim bum bahkan sebelum kim bum mengijinkan. Kim bum menatap so eun agak kaget dan masih diam di dekat pintu.

“jangan hanya berdiri saja disana ! kau akan masuk angin, ayo kembali ke kasurmu !” so eun mendorong tubuh kim bum hingga ia mendudukkan kim bum di kasur secara paksa. Kim bum menatap so eun dengan kesal.

“yak…!” geram kim bum.

“ah baiklah, apakah kau punya persediaan kompres tempel? dimana kau menyimpannya?” Tanya so eun lalu mulai mencari di sekitar meja dan lemari kecil di dekat kasur kim bum bahkan sebelum kim bum mengatakan apapun. Kim bum hanya melihatnya saja dengan tatapan merasa terganggu.

“mmm….apa ada sesuatu yang kau mau? Atau sesuatu yang harus aku lakukan?” Tanya so eun.

“Jika ada, katakana saja ! aku akan melakukannya.” Ujar so eun yang masih sibuk mencari kompres tempel untuk kim bum.

Kim bum diam, ia belum mengeluarkan suaranya.

“mmm tapi…..jangan menyruhku untuk meninggalkanmu sendirian.” Ujar so eun. Kim bum mengerutkan keningnya.

“mwo? Apa kau mencoba untuk mendapatkan rasa terimakasih dariku?” Tanya kim bum.

So eun langsung menatap kim bum dan mendelik kepadanya. Dengan cepat so eun pun langsung menempelkan kompres tempel yang sudah ia temukan itu di kedua pipi kim bum. Kim bum terkejut dengan apa yang so eun lakukan.

“hey….” Kesal kim bum.

“disaat situasi seperti ini, dimana kau butuh bantuan, kau tidak perlu bersikap keren ataupun merasa malu ! kau tidak perlu jaga image disaat kau sedang sakit, arasseo? Hanya cukup terima saja kebaikan orang lain yang ingin membantumu.” Ujar so eun. Kim bum masih diam dan hanya melihat so eun saja dengan wajah sedikit shock.

Hanya dilihat terus seperti itu oleh kim bum, so eun pun perlahan menundukkan kepalanya.

“kau memang orang yang tak punya rasa berterimakasih.” Ujar so eun pelan. “ya…mungkin ini memang sulit untukmu. Tapi…akan lebih baik jika kau membiarkan aku membantumu.” Ujar so eun. Kim bum kini menatap so eun agak lunak.

“yeah karena aku perliharaanmu, bukankah begitu?” ujar so eun.

5 detik 10 detik 15 detik, kim bum masih belum mengeluarkan suaranya, membuat so eun jadi merasa canggung dengan apa yang semua ia ucapkan barusan.

“aku tidak mengatakan kepadamu untuk menjadi peliharaanku.” Ujar kim bum enteng lalu mulai membaringkan tubuhnya kembali dan menutupinya dengan selimut. Seperti kemarin, ia membaringkan tubuhnya membelakangi so eun.

“huh? heeeii! bukannya kau yang selalu mengatakannya?” Tanya so eun tak terima.

“buah-buahan !” ujar kim bum tak mengindahkan ucapan so eun.

“huh?” so eun tak mengerti.

“jeruk atau nanas, aku ingin memakan sesuatu yang masam !” ujar kim bum.

So eun terdiam beberapa saat mendengar permintaan kim bum tersebut, so eun hanya bisa menatap tubuh kim bum yang berbaring membelakanginya.

“ah….b..baiklah kalau begitu, aku akan membelinya sekarang. Tunggulah….!” Ujar so eun yang tiba-tiba berubah menjadi bersemangat. So eun pun lalu segera keluar dari apartemen kim bum. Sementara itu, kim bum hanya bisa mendengar suara langkah so eun yang berisik. Kim bum membuang nafasnya.

-today love is begin-

 

Supermarket

Setelah mengambil beberapa makanan yang rasanya masam ke dalam keranjang, So eun pun kini memilih buah nanas yang akan ia belikan untuk kim bum.

“ummm~ buah nanas yang bagaimana yang bagus ya? Aku belum pernah membelinya dan memilihnya sendiri.” Gumam so eun seraya memegang buah nanas dan memperhatikannya.

“lagipula aku tidak tahu bagaimana cara mengupas nanas, terlalu banyak duri dan aku bisa terluka nanti.” Ujarnya.

“ah baiklah, aku akan membeli buah nanas yang sudah dikupas saja.” So eun pun kembali meletakkan buah nanas itu dan hendak menuju area dimana buah nanas yang sudah dikupas dijajakan.

“ah…..apakah itu kau so eun-ssi?”

So eun langsung mengarahkan pandangannya pada sumber suara dan mendapati jong suk berdiri tak jauh darinya.

“oh, jong suk-ssi.” Balas so eun. Jong suk pun menghampiri so eun.

“sudah lama kita tidak bertemu.” Ujar jong suk.

“ne, kita tak pernah bertemu lagi setelah berlibur ke pantai sokcho.” Balas so eun. “bagaimana kabarmu?” Tanya so eun.

“aku sangat baik, dan ngomong-ngomong…hubunganku dengan bo young juga semakin lengekt dan  tambah mesra…” jawab jong suk semangat dengan wajah yang berbinar-binar.

“jincharu? Aku ikut senang mendengarnya.” Balas so eun seraya tersenyum.

“kau sedang berbelanja?” Tanya jong suk.

“ne, kau sendiri?” Tanya balik so eun.

“aku hanya sedang disuruh eommaku untuk membeli apel.” Balas jong suk.

“oh..arassseoyo.” balas so eun.

“eh tunggu so eun-ssi, kelihatannya kau hanya membawa makanan masam di keranjangmu.” Ujar jong suk setelah ia melihat keranjang so eun yang hanya dipenuhi dengan makanan yang berasa masam.

“ah ye.” Balas so eun.

Jong suk seketika mengerutkan keningnya. “solma…apa ini berarti kau……ah so eun-ssi jincha? Secepat itu kau melakukannya dengan kim bum-ssi?” jong suk menutup mulutnya saking tidak percayanya.

“mwo? A..aniyo ! bukan begitu, aku hanya sedang membelikan pesanan kim bum, dia sedang sakit dan ingin memakan sesuatu yang masam.” So eun cepat-cepat menyanggah.

“huh jinjjaru? Kim bum-ssi sakit?” kaget jong suk.

“ne, jadi kau tak perlu berpikiran yang aneh-aneh hehehe.” Balas so eun seraya tertawa hambar.

“ah hahaha mian, kalau begitu tunggu sebentar…..aku akan membeli beberapa minuman isotonik untuk kim bum-ssi.” Ujar jong suk.

“eeeh…aniyo, tidak perlu.” Cegah so eun.

“gwaencaha, tunggu sebentar so eun-ssi, aku akan mengambil beberapa botol.” Ujar jong suk lalu pergi ke area tempat minuman di jajakan.

So eun pun hanya bisa mengehela nafasnya dan menunggu jong suk hingga kembali.

-today love is begin-

 

Kim bum tengah memakan buah nanas yang sudah so eun potong-potong kecil menggunakan garpu sambil memegang secarik kertas. So eun duduk di samping kim bum seraya ikut membaca tulisan yang ditulis jong suk untuk kim bum itu.

Kim bum-ssi, minumlah semua yang sudah aku berikan untukmu. Semoga cepat sembuh ya agar kita bisa kembali berlibur bersama lagi ^^

Kim bum hanya membuang nafasnya setelah membaca pesan yang ditulis jong suk untuknya, sementara so eun menyunggingkan senyumnya.

“lihatlah ! jong suk-ssi sangat baik bukan? Dia begitu khawatir saat aku memberitahunya jika kau sedang sakit.” Ujar so eun.

“jadi jika dia khawatir kepadaku? Apa yang harus aku lakukan huh?” ujar kim bum.

“eh? Tentu saja kau juga harus bersikap baik dan ramah padanya.” Balas so eun.

“kadang-kadang, dia juga kelihatan seperti seekor peliharaan, betapa lucunya.” Ujar kim bum namun ekspresinya tetap datar. So eun membulatkan matanya setelah mendengar perkataan kim bum.

“yak ! jangan memanggil orang lain dengan sembarangan !” ujar so eun sedikit keras. Kim bum hanya menatap so eun sebentar lalu meminum minuman isotonik pemberian jong suk.

“ashhh….rasanya seperti minuman untuk orang tua.” Ujar kim bum tampak mengerutkan keningnya.

So eun hanya bisa menahan senyumnya melihat kim bum. “baiklah, sekarang aku akan membuatkan bubur untukmu, setelah kau makan jangan lupa untuk minum obat, barulah kau bisa kembali beristirahat, ok?” nasehat so eun seraya sedikit menyunggingkan senyumnya.

“kau tidak perlu melakukannya, ini sudah malam sebaiknya kau pulang saja !” tolak kim bum.

So eun mendelik menatap kim bum. “sudah ku bilang, hanya terima saja kebaikan orang lain dan jangan bersikap sok keren saat kau sakit, arachi?” ujar so eun lalu ia pun pergi ke dapur.

Kim bum masih menatap so eun hingga so eun masuk ke dalam dapur. “tsk…dia sangat mengganggu Gumam kim bum lalu kembali membaringkan tubuhnya.

-today love is begin-

 

So eun mencari di internet menggunakan ponselnya bagaimana cara memasak bubur. Setelah menemukan prosedurnya barulah ia mulai menyiapkan bahan untuk dimasak.

“ah…semoga saja rasanya tidak terlalu buruk jika aku memasukan semua bahan ke dalam panci.” Gumam so eun. Lalu so eun pun mulai mencuci berasnya, setelah itu memasukan jamur, wortel, sayuran, cumi dan sedikit bumbu ke dalam panci, setelah itu ia pun mulai memasaknya.

Sekitar 15 menit, bubur pun sudah jadi dan so eun menuangkannya ke dalam mangkuk. Lalu so eun membawanya untuk kim bum.

“buburnya sudah jadi, igo !” Ujar so eun seraya membawa semangkuk bubur di atas nampan. Kim bum yang memang hanya berbaring saja di kasurnya tanpa memejamkan matanya langsung menatap so eun.

“aku mencoba memasukan semua bahan, dan setelah dicoba ternyata rasanya tidak terlalu buruk.” Ujar so eun.

“kajja. Makanlah !” suruh so eun, namun kim bum tak bereaksi apa-apa dan tak juga beranjak bangun dari tiudrnya.

“wae? Apa kau baik-baik saja? Apa kau bisa bangun?” Tanya so eun.

“hmm tubuhku terasa berat dan aku seperti tak punya tenaga.” Jawab kim bum.

“jincha? ah…baiklah kalau begitu, aku akan menyuapimu.” Ujar so eun enteng lalu mulai mengangkat sendok itu dan meniupinya. Melihat so eun seperti itu, kim bum langsung bangun dan merebut mangkuknya dari tangan so eun dan membuat so eun sedikit kaget.

“yak ! kau membuatku kaget saja, bagaimana jika buburnya tumpah eoh?!” marah so eun. Namun kim bum tak menghiraukannya dan mulai memakan bubur itu tanpa meniupinya terlebih dahulu.

“huah…panas..” keluh kim bum saat bubur itu masuk ke dalam mulutnya.

“hati-hati, igo ! minum ini !” so eun menyerahkan botol minuman isotonik yang tadi kepada kim bum. Kim bum tak langsung menerimanya, ia malah menatap so eun dengan heran dan muncul  beberapa pertanyaan yang berputar di kepalanya. So eun malah menatap kim bum dengan wajah polosnya.

“hei kau…” panggil kim bum.

“ne?” Tanya so eun.

“apa alasanmu melakukan semua ini?” Tanya kim bum.

“huh?” so eun menatap kim bum agak bingung.

“kau selalu mengeluh disaat aku menyuruhmu, tapi kemudian sekarang kau melakukan semua ini tanpa mengeluh bahkan tanpa aku menyuruhnya. Kau pasti punya motif tertentu kan?” ujar kim bum.

“yak ! apa yang kau katakan? Semua ini aku lakukan karena aku ingin melakukannya, tidak ada motif apapun atau semacamnya.” Bantah so eun.

Kim bum menatap so eun dengan tatapan menyelidiknya. “tsk…bohong, kau hanya berpura-pura baik.” Balas kim bum.

“MWO? Yak Betapa kurang ajarnya kau…!” geram so eun. “wae? Apa kau tidak senang huh dengan kebaikanku?” Tanya so eun.

Kim bum menghela nafasnya. “orang yang membantu orang lain biasanya melakukannya hanya untuk memuaskan dirinya sendiri.” Ujar kim bum.

“ya ya ya terserah kau saja, tapi bukankah lebih baik jika orang lain juga senang dengan kebaikan atau keramahan kita?” balas so eun.

Kim bum menatap so eun dengan tatapannya yang sedikit tajam. “hei, apakah kau belum pernah mendengar tentang seseorang yang tidak menginginkan keramahan?” ujar kim bum. So eun menatap kim bum dengan mulut sedikit terbuka.

“eo…kau punya mulut yang pintar ya?” sindir so eun. “hah sudah cukup, cepat kau makan saja dan segera habiskan !” suruh so eun.

“ini masih panas, kau tahu?” balas kim bum.

“huft…” so eun hanya bisa mngehela nafasnya mengahdapi kim bum yang bergitu keras kepala.

Setelah selesai makan dan minum obat, kim bum pun kembali membaringkan tubuhnya dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Sementara so eun segera bersiap-siap untuk pulang.

“baiklah kalau begitu, aku akan pulang sekarang. Jangan nyalakan pendingin ruangan saat kau tidur ! lalu matikan lampunya ! tidurlah tanpa melepas selimutnya !” suruh so eun seraya berkacak pinggang.

“ya ya ya.” jawab kim bum malas-malasan.

“jika ada sesuatu yang terjadi atau kau butuh sesuatu, hubungi saja aku arasseo ?!” perintah so eun.

“HEI, aku bukan anak kecil ! lebih baik kau segera pergi saja !” suruh kim bum. So eun berdecak sebal mendengar jawaban yang keluar dari mulut kim bum itu.

“arasseo arasseo, aku akan pergi.” Ujar so eun ketus lalu segera melangkahkan kakinya menuju pintu.

So eun terdiam sesaat setelah ia menutup pintu apartemen kim bum. So eun heran dengan sikap kim bum, bagaimana bisa sikap kasarnya tidak berubah bahkan disaat ia sedang sakit, bukankah setidaknya sikapnya akan melunak sedikit saja?

So eun menghapus keringat di dahinya. “aisshh, bahkan mulutnya baik-baik saja disaat ia sakit, betapa menyebalkannya.” Gerutu so eun lalu kembali terdiam seraya menyenderkan punggungnya di depan pintu apartemen kim bum.

-today love is begin-

 

Keesokan Harinya, Chungju Highschool

So eun langsung menyenderkan kepalanya di atas meja saat bel istirahat berbunyi. Terlihat ada lingkaran hitam di mata so eun.

“so eun-ssi, ingin pergi ke kantin bersama kami?” tawar bo young.

“ani.” Jawab so eun lemas.

“kau kenapa? Terlihat lesu sekali.” Tanya hye rim seraya menatap so eun dengan lengan dilipat di dada.

“gwaenchana.” Jawab so eun. “aku hanya kurang tidur saja.” Lanjutnya lalu memejamkan matanya.

“ah….arasseo, kalau begitu kami tinggal ne?” ujar bo young.

“hmmm.” Balas so eun tanpa membuka matanya. Bo young dan hye rim pun pergi meninggalkan so eun.

“hmm…apa yang dia lakukan semalaman sampai kurang tidur segala?” heran bo young seraya memegangi dagunya, keningnya tampak berkerut.

“molla~” balas hye rim.

“ummm, sudah beberapa hari ini juga aku tidak melihat kim bum-ssi, apa ada sesuatu yang terjadi diantara mereka ya?” pikr bo young.

“entahlah.” Balas hye rim.

Sementara itu di dalam kelas, so eun masih menyenderkan kepalanya di atas meja seraya memejamkan matanya. Namun otaknya di penuhi oleh kim bum. Ia bertanya-tanya apakah kim bum sudah lebih baik sekarang? Apakah panasnya sudah turun? Apakah ia juga sudah masuk sekolah atau belum? So eun menghembuskan nafasnya mengingat lelaki itu.

“so eun-ssi…..ada yang mencarimu.” Suara itu membuat so eun terbangun dan langsung mengangkat kepalanya.

“nuguya?” Tanya so eun pada teman satu kelasnya itu. Entah kenapa, so eun jadi berharap jika seseorang yang mencarinya itu adalah kim bum. Oh ada yang tidak beres sepertinya dengan diri so eun.

“molla, tapi aku rasa dia temanmu.” Jawab temannya itu.

“hei so eun-ah…..” so eun langsung mengarahkan kepalanya pada pintu saat mendengar suara nirin memanggilnya.

‘oh ternyata nirin’ batin so eun.

So eun pun dengan lesu meninggalkan bangkunya lalu menghampiri nirin.

“waegeurae?” Tanya so eun.

“aku ingin bertanya soal kim bum-ssi.” Ujar nirin.

“oh, memangnya kenapa?” Tanya so eun tak bersemangat.

“hey….ada apa denganmu? kau terlihat lemas sekali, apa kau sakit?” Tanya Nirin tak mengindahkan pertanyaan so eun.

“aku hanya kurang tidur.” Jawab so eun.

“kau sudah makan?” Tanya nirin. So eun menggeleng.

“yasudah kalau begitu kita ke kantin, kajja !” nirin menarik tangan so eun.

“yaaa….aku sedang tidak ingin makan. Lagi pula apa yang ingin kau tanyakan soal kim bum-ssi?” Tanya so eun masih dengan nada lemas, ia berusaha menolak tapi tubuhnya pasrah saja saat nirin menariknya.

“kita bicarakan di kantin saja.” Balas nirin.

Sudah ada dua piring nasi di atas meja so eun dan nirin. Tapi so eun malah menidurkan kepalanya di atas meja kantin, mengabaikan nasi itu. Nirin menatapnya dengan bingung.

“yak…kau sakit kan?” Tanya nirin.

“aniyo, aku hanya mengantuk.” Jawab so eun.

“ckck, memangnya apa saja yang kau lakukan semalaman huh?” Tanya nirin.

“hanya memban……ah aniyo, tidak ada yang aku lakukan.” Jawab so eun.

“kau aneh sekali.” Balas nirin. “oh ya, yang ingin aku tanyakan kepadamu bagaimana keadaan kim bum-ssi? Hari ini dia tidak masuk sekolah lagi, apakah dia masih sakit?” Tanya nirin.

So eun langsung mengangkat kepalanya sekaligus mendengar jika kim bum belum juga masuk sekolah.

“dia belum masuk?” Tanya so eun.

“ne, kau tahu kan dia sudah banyak ketinggalan pelajaran. Dan aku sebagai presdien kelas harus bertanggung jawab soal itu.” Jawab nirin. “kemarin kau menemuinya kan? Bagaimana keadaannya? Apakah sudah membaik?” Tanya nirin.

So eun terdiam beberapa saat. ‘dia tidak datang lagi ke sekolah hari ini, apakah benar dia masih sakit? Wae? Bahkan kemarin dia sudah meminum obat dengan benar’ batin so eun.

“so eun-ah…” panggil nirin karena melihat so eun hanya diam saja.

“eeh? Ah…umm aku rasa dia masih sakit.” Balas so eun.

“oh…jika besok dia masih belum masuk, sepertinya aku harus menjenguknya dengan semua teman sekelas.” Ujar nirin. Sementara so eun kini kembali termenung, memikirkan keadaan kim bum saat ini.

-today love is begin-

 

Sepulang sekolah, so eun langsung buru-buru pergi ke apartemen kim bum untuk memastikan keadaannya. Apakah kim bum sudah membaik atau bahkan lebih parah? So eun khawatir akan hal itu.

“kim bum-ssi….?!” Panggil so eun, so eun sedikit kaget karena mendapati kim bum berada di luar apartemennya. Kim bum yang baru saja akan membuka pintu menolehkan kepalanya ke arah so eun.

“kau datang lagi.” Ujar kim bum malas.

“hei, kenapa kau ada di luar? Seharusnya kau tidur dan berisitirahat.” Ujar so eun.

“aku sudah tidak apa-apa, demamku sudah hilang.” Balas kim bum.

“bohong ! jika kau sudah sembuh lalu kenapa kau tidak masuk sekolah eoh?” Tanya so eun dengan suara sedikit keras. Kim bum menghembuskan nafasnya lalu mulai membuka pintu apartemennya.

“aku hanya lelah.” Balas kim bum seraya masuk ke dalam apartemennya diikuti so eun.

“baiklah jika itu yang kau katakan, aku akan memastikannya dengan sendiri.” Ujar so eun lalu menaruh kresek berisi buah-buahan manis yang ia bawa lalu mulai mencari termometer infrared di lemari kecil milik kim bum. Kim bum hanya menatapnya saja lalu ia pun membaringkan tubuhnya di kasur.

“ah aku menemukannya, aku akan mengukur suhu tubuhmu.” Ujar so eun. Kim bum hanya mendesah.

“ayo buka mulutmu !” suruh so eun, namun kim bum tak juga membuka mulutnya.

“yak….kau ini tidak menurut ya?” kesal so eun lalu memasukkan secara paksa termometer itu ke dalam mulut kim bum. Kim bum sudah menatap jengkel ke arah so eun namun ia tidak bisa melakukan apa-apa, ia hanya membiarkan saja termometer itu di dalam mulutnya. Setelah cukup lama, so eun pun melepaskan termometer itu lalu melihat hasilnya.

“32 derajat celcius, panasmu sudah benar-benar turun.” Ujarnya.

“aku sudah mengatakan kepadamu sebelumnya.” Balas kim bum lalu bangkit dan duduk di kasurnya.

“ah syukurlah….aku senang kau sudah benar-benar sembuh.” Ujar so eun seraya menyunggingkan senyumnya menatap termometer itu.

“bahkan aku sampai harus membeli buah-buahan manis ini untukmu, tapi ternyata sudah tidak ada gunanya lagi karena kau sudah sembuh.” Ujar so eun.

Kim bum hanya menatap so eun, kali ini tatapannya lebih teduh dari biasanya.

“tidak apa-apa kan jika aku membawa buah-buahan ini ke rumahku?” ujar so eun. Bukannya menjawab, kim bum malah mengerutkan keningnya dan memalingkan wajahnya dari so eun seraya menopang dagunya.

“yak wae? Keningmu berkerut seperti itu !” Tanya so eun.

“ani, hanya…….terimakasih.” ujar kim bum tanpa menatap ke arah so eun dan keningnya masih berkerut. Sebenarnya kim bum masih besar kepala untuk mengucapkan terimakasih kepada so eun. So eun membulatkan matanya mendengar apa yang keluar dari mulut kim bum barusan, ia menatap kim bum dengan mulut sedikit terbuka, so eun juga tak bereaksi apa-apa, ia hanya bengong saja.

“huh?” itulah yang keluar dari mulut so eun. Menyadari so eun hanya bengong saja menatapnya, kim bum pun mencubit pipi so eun cukup keras.

“hey !” panggil kim bum.

“ouch…ouch…” ringis so eun seraya berusaha melepaskan tangan kim bum yang mencubitnya.

“ada apa dengan ekspresi bodoh wajahmu? Itu membuatku terganggu !” ujar kim bum lalu berhenti mencubit pipi so eun.

So eun memegangi pipinya. “itu….itu karena kau mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut.” Ujar so eun.

“tsk…apa kau bodoh hah? Meskipun begitu aku juga tahu bagaimana caranya berterimakasih.” Balas kim bum.

“ani…bukan seperti itu…bahkan meskipun aku mengganggumu, aku pikir semua yang aku lakukan untuk membantumu akan membuatmu merasa terganggu saja, jadi aku tidak menyangkanya, aku terlalu terkejut.” Jelas so eun.

“kau benar-benar tidak mendapatkan gambarannya kan?” Tanya kim bum. So eun menatap kim bum bingung.

“perempuan yang menunjukkan keramahannya kepada orang lain, aku benar-benar membencinya sampai mati.” Ujar kim bum. So eun membulatkan matanya.

“ ‘aku punya hati yang benar-benar tulus, jadi aku mohon jatuh cintalah kepadaku’. Aku hanya dikelilingi oleh tipe perempuan seperti itu, dan mereka semua membuatku muak. Pada akhirnya mereka hanya akan mempermalukan diri mereka sendiri karena aku tidak semudah itu.” Jelas kim bum dengan tatapan lurus ke depan, tanpa menatap so eun.

“tapi kau….kau berbeda dengan mereka, kau tidak punya motif yang tersembunyi atau tujuan kenapa kau menolong seseorang. Kau selalu bersikap apa adanya. Itulah kenapa, aku pikir tidak ada salahnya aku berterimakasih kepadamu.” Jelas kim bum lagi. So eun masih menatap kim bum dengan diam, semua apa yang diucapkan kim bum benar-benar membuatnya tertegun. Ia tidak bisa dengan mudah menerima semua perkataan kim bum ke dalam otaknya.

“itulah alasannya.” Ujar kim bum.

“mmm…hei…” panggil so eun, pipinya mendadak memerah setelah mendengar penjelasan kim bum.

“mwo?” Tanya kim bum yang kini mulai manatap so eun.

“apa yang baru saja kau katakan terasa aneh kau tahu? Kau sangat aneh~” ujar so eun dengan wajah yang masih ditekuk.

“ah…mungkin kau masih demam ya? Hehehe.” Tanya so eun tiba-tiba seraya tertawa hambar.

“demam? Hei….kau baru saja mengecek suhu tubuhku.” Balas kim bum.

“huh? Ah aku rasa termometernya rusak ya? hahaha baiklah kalau begitu, biarkan aku kembali memeriksa keningmu hehehe.” Ujar so eun seraya menempelkan tangan kanannya di kening kim bum. Tapi tiba-tiba…..

Hap

Kim bum langsung menahan tangan so eun yang meraba keningnya, wajah mereka kini begitu dekat dan membuat so eun diam dengan pipi yang sudah merah padam.

“berhenti tertawa seperti itu, bodoh ! hanya melihatmu saja membuatku malu setelah mengucapkan kata-kata tadi!” ujar kim bum.

“aah…ah mian, haha.” So eun buru-buru menjauhkan dirinya, namun kim bum masih menatapnya. So eun jadi salah tingkah di buatnya.

“ah…umm…s..sepertinya aku harus segera pulang.” Ujar so eun seraya mebereskan tasnya. Kim bum hanya mentap so eun saja.

“pastikan kau sudah masuk sekolah besok.”  Lanjutnya.

“umm~ baiklah kalau begitu, aku pergi.” Kim bum menatap punggung so eun hingga menghilang dari penglihatannya, setelah itu ia pun menjatuhkan dirinya di kasur. Kim bum menyelipkan kedua tangannya di belakang kepalanya, ia memejamkan matanya tapi ia kembali membuka matanya. Entah kenapa, sekarang ia jadi memikirkan perkataan bodoh yang keluar dari mulutnya tadi.

“benar-benar buruk.” Gumamnya.

Sementara itu, so eun memegangi dadanya saat di tengah perjalanan. Ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya.

“gawat ! jantungku berdegup sangat kencang ! aku harus menenangkan diriku !” gumam so eun lalu cepat-cepat pergi dengan langkah lebar dengan hati yang masih tidak menentu.

Tidak ada gunanya kita merasa senang dengan sikap ataupun pekataan yang ditunjukan satu sama lain bahkan disaat kita sedang dalam suasana hati yang baik. Karena faktanya adalah, kita tidak benar-benar berkencan.

 

To Be Continued

 

NB : sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya.

 

Today, Love Is Begin PART 3

Today, Love is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom

Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.

Genre : Romance Comedy

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

FF ini aku buat mirip banget sama manganya, hanya saja ada beberapa yang ditambah dan dari khayalan author

 

PART 3

 

So eun menghentikan langkahnya dan diam di tempat sambil masih memegangi keningnya. Kim bum menoleh ke belakang dan melihat so eun hanya diam.

“hey, ada apa?” tanya kim bum.

So eun tak kunjung menjawab, dan ia masih menampakkan wajahnya yang tampak berfikir.

“kau kelihatan bodoh ! jangan memikirkan hal yang macam-macam !” ujar kim bum lalu mencubit pipi so eun.

“yaaaa! Kau tidak sampai perlu menyakiti wajahku !” amuk so eun seraya memegangi pipinya yang memerah.

Namun kim bum hanya memasang wajah tak berdosa dan kembali melanjutkan langkahnya.

“soal ponselmu, aku akan ganti rugi lain kali !” ujar kim bum.

So eun hanya menatap punggung kim bum dengan kesal.

“jika bukan karena kau sudah menolongku, aku sudah pasti akan melempar bom padamu !” umpat so eun.

“aku bisa mendengarnnya !” ujar kim bum sedikit keras dan membuat so eun langsung mati kutu. Mukanya mendadak pucat.

Kim bum memutar kepalanya menatap so eun. “lusa akan aku ganti ponselmu, aku akan menunggumu di depan café dimana ketika kau mengambil gambar wajahku waktu itu !” ujar kim bum lalu kembali membalikan tubuhnya dan berjalan meninggalkan so eun.

So eun masih berdiri di tempatnya. “sangat memalukan jika mengingat kejadian itu.” gumam so eun.

-today love is begin-

 

So eun sudah sampai di depan café dimana kim bum menunggunya. Namun, so eun sama sekali tak melihat keberadaan kim bum. So eun mencoba mengedarkan pandangannya ke segala arah namun tetap tak menemukan kim bum.

“apa dia membohongiku?” pikir so eun.

“kau sudah membuatku menunggu lama !” tiba-tiba kim bum muncul di belakang so eun seraya menaruh tas jinjing kecil di atas kepala so eun. So eun sedikit menengadahkan kepalanya untuk melihat benda apa yang ditaruh di atas kepalanya, lalu so eun memutar kepalanya dan mendapati kim bum berdiri di belakangnya.

“tck….” Kim bum menatap so eun dengan murka.

“kau beraninya membuat majikanmu menunggu !” ujar kim bum lalu membawa tas jinjing kecil dari kepala so eun itu dan melemparnya ke arah so eun. Dengan sigap so eun langsung menerimanya.

“sudah aku ganti ponselmu !” ujar kim bum. So eun menatap kim bum.

-today love is begin-

 

So eun dan kim bum duduk di bangku taman. Dengan cepat so eun pun membuka kardus ponsel itu.

“aku mencari ponsel yang sama percis dengan milikmu, tapi ternyata ponselmu keluaran jaman dulu, jadi aku membeli yang seperti itu.” ujar kim bum.

“ah ne  ne gwaencaha, ini kelihatan lebih bagus dari ponsel punyaku yang dulu.” Balas so eun.

“gomawo.” Balas so eun sambil sibuk mulai mengutak-atik ponsel barunya.

“tsk…gomawo?” ulang kim bum. So eun langsung menatap kim bum yang duduk di sampingnya.

“ne, wae?” tanya so eun.

“kau harus membelikanku makanan dan minuman sebagai balasannya !” ujar kim bum.

“ne?” ulang so eun sedikit terkejut.

“cepat belikan aku makanan peliharaanku yang baik ! cepat…cepat !” kim bum mendorong-dorong so eun dengan tangannya.

So eun menatap kim bum dengan wajah memelas. “jangan buat wajahmu seperti itu ! aku semakin ingin membuangmu ke tempat penitipan peliharaan !” ujar kim bum.

So eun hanya bisa pasrah dan pergi untuk membelikan kim bum makanan dan minuman.

-today love is begin-

 

Memasuki bulan Agustus dan liburan musim panas telah tiba. So eun sedang berada di dalam kamar nirin. So eun tiduran di ranjang seraya memainkan ponselnya sedangkan nirin sibuk membaca majalah seraya duduk di lantai yang dialasi oleh karpet.

“bagaimana hubunganmu dengan pacar palsumu itu?” tanya nirin sedikit menyindir.

“dia masih memperlakukanku seperti peliharaannya.” Jawab so eun dengan nada malas.

“hahaha, sampai kapan kau akan terus bersandiwara seperti ini?” tanya nirin.

“haaah entahlah~ aku harap secepatnya.” Jawab so eun.

“oh ya, apakah ponsel itu pemberian dari kim bum-ssi?” tanya nirin seraya memutar kepalanya dan melihat so eun.

“bukan pemberian, tapi ‘ganti rugi’” balas so eun dengan penakanan pada kata ganti rugi.

“kekekekk, jika dipikir-pikir dia berani sekali hingga melempar ponselmu ke sungai.” Nirin terkekeh jika mengingat cerita so eun tentang kejadian pelemparan ponsel itu.

“yak jangan tertawa ! aku sudah cukup menderita karena sikapnya yang suka semaunya. Kau memang tidak mengerti perasaanku nirin-ah huhuhu.” Balas so eun.

“tapi setidaknya kim bum-ssi juga kan yang sudah menolongmu.” Ujar nirin.

So eun memonyongkan bibirnya. “aku tahu, tapi tidak harus sampai melempar ponselku kan? Dia memang benar-benar tak berperasaan ! sepertinya aku harus segera memberitahu satu sekolahan tentang sifat aslinya agar mereka jadi berubah membencinya.” Ujar so eun.

“kekekekk aku rasa mereka tidak akan mempercayaimu.” Balas nirin.

“aaiish kau….”

Ddrrrtt dddrrtt

Tiba-tiba ponsel so eun bergetar, setelah dilihat ternyata ada satu pesan masuk dari hye rim. Ternyata, hye rim mengirimkan foto dirinya yang sedang berlibur di pantai bersama dengan kekasihnya.

“waaahhh daebak !” so eun langsung bangkit dari tidurnya.

“wae?” tanya nirin yang kini menolehkan kepalanya pada so eun.

“nirin-ah lihat ini !” so eun memperlihatkan foto yang dikirim hye rim padanya barusan. Nirin mengerutkan keningnya setelah mellihat foto itu.

“apanya yang hebat?” tanya nirin.

“yaa ! lihatlah ! lautnya sangat biru, sangat indah bukan?” tanya so eun.

“memangnya kemana hye rim pergi?” tanya nirin.

“dia pergi berlibur bersama pacarnya ke pantai sokcho tiga hari dua malam !” jawab so eun.

“eh benarkah?” nirin mengambil ponsel so eun. “apakah pacar hye rim sudah bekerja? Aku rasa dia punya banyak uang.” Ujar nirin.

“yeah.” Balas so eun.

“ummm begitu ya, pantas saja.” Timpal nirin.

“huaah sejujurnya aku iri !!!” ujar so eun. “aku tidak punya rencana untuk liburan di musim panas ini, aku tidak melakukan apa-apa liburan kali ini, dan sangat membosankan karena aku hanya menghabiskan waktuku di rumahmu!” keluh so eun.

“baiklah jika itu yang kau katakan, aku tidak akan bermain denganmu lagi.” Ujar nirin.

“aigooo aku hanya bercanda nirin-ah, mianhae…heheh, aku mencintaimu !” so eun langsung memeluk nirin sedangkan nirin memasang wajah masamnya.

“tapi, bagaimana dengan kim bum-ssi? apa yang dia lakukan sekarang ini?” tanya nirin.

“molla~” jawab so eun yang kembali menjatuhkan dirinya di ranjang.

“heh? Tidak tahu? apa kalian tidak pernah berkomunikasi?” tanya nirin.

“tidak tidaaak~ kami tidak pernah berkirim pesan.” Jawab so eun.

“huh? Aku pikir dia pernah menghubungimu, ternyata berkirim pesan pun tak pernah?” tanya nirin.

“yeah, berkirim pesan hanya sekedar menyuruhku untuk membelikan ini dan itu, membawakan ini dan itu.” jawab so eun.

“ckckck, berbeda sekali dengan apa yang terjadi di sekolah, kalian kelihatan sangat dekat.” Ujar nirin.

“itu hanya acting….hanya acting…” balas so eun.

“lagi pula, tidak ada alasan untuk bertemu dengannya liburan ini karena pada kenyataannya hubungan kami hanya hubungan palsu kan.” Jelas so eun dengan mata yang terpejam.

“ah kau keliahatan tidak bersemangat.” Ujar nirin seraya ikut membaringkan dirinya di samping so eun.

“kau kelihatan mengeluh mungkin karena kim bum-ssi tidak peduli padamu?” ujar nirin diselingi senyum jahilnya.

So eun mendadak membelalakan matanya mendengar apa yang keluar dari mulut nirin.

“tanpa kau sadari, di dalam hatimu kau mulai jatuh cinta?” goda nirin.

“MWO? JATUH CINTA?” so eun langsung bangkit dai tidurnya.

“TIDAK MUNGKIN ! DIA ADALAH LELAKI YANG PENUH DENGAN TRICK ! TIDAK MUNGKIN AKU JATUH CINTA PADANYA !” teriak so eun mentah-mentah seraya mencekik pelan nirin.

“uhuk uhuk…arasseo arasseo, aku hanya bercanda ! tidak usah berteriak sampai mencekikku seperti ini.” balas nirin. So eun langsung melepaskan tangannya dan merasa malu sendiri dengan tingkahnya.

Drrttt drrrttt dddrtttt

Ponsel so eun kembali bergetar.

“siapa yang menelpon?” tanya nirin.

“bo young.” Jawab so eun.

“yoboseyo…”jawab so eun saat mengangkat telpon.

“hei so eun-ah, apa kau sudah melihat foto yang dikirim hye rim?”

“oh ya aku sudah melihatnya, apa kau juga?”

“aku sangat iri karena dia pergi berlibur ke pantai sokcho, terlebih bersama kekasihnya.”

“yeah, pantainya sangat indah.”

“benar-benar membuatku iri ! ayo kita berlibur ke pantai juga so eun-ssi ! pantai !” ajak bo young.

“eh? Aaah ayo ! pantaai.” so eun langsung menerima tanpa basa-basi.

“aku juga sudah bisa mengira kau juga ingin pergi. Umm~ dan aku juga akan mengajak jong suk untuk berlibur.” Ujar bo young dengan semangat.

“eh?”

“kau juga akan mengajak kim bum-ssi kan?” tanya bo young.

Senyum lebar yang terpampang di wajah so eun perlahan menyusut.

“k..kim bum?” ulang so eun.

“ne, jangan lupa untuk mengajaknya juga ya so eun-ssi !”

“t..tapi…”

“ah mian, aku harus segera menutup telponnya. Kalau begitu sampai bertemu lusa !”

 

Klik

Sambungan telpon terputus.

“wae?” tanya nirin yang melihat ketidak beresan dari wajah so eun. So eun menatap nirin lalu menggelengkan kepalanya pelan.

-today love is begin-

 

Lusa, Halte bus

So eun tengah menunggu kim bum di halte dimana tempat mereka-bo young dan jong suk bertemu. Wajah so eun kelihatan tidak beres.

‘ini adalah situasi yang diluar rencana, tapi ini masih lebih baik dari pada bermalas-malasan di rumah. Yeah, ini tidak sepenuhnya buruk’ batin so eun.

“Oiii !” panggil kim bum pada so eun. “sudah lumayan lama kita tidak bertemu.” Ujar kim bum seraya memamerkan senyum tidak ikhlasnya. Kim bum membawa tas di punggungnya.

“o.oohh annyeong.” Balas so eun.

“ummm tunggu, hanya ada kau disini?” tanya kim bum.

“mmm bo young sedang dalam perjalanan, lima menit lagi dia sampai.” Jawab so eun.

“hhmmpphh…” kim bum membuang nafasnya lalu ikut duduk di samping so eun.

“dia yang merencanakan liburan tapi kenapa dia datang terlambat?” tanya kim bum.

“a..aku tidak tahu.” balas so eun.

‘huaah ada apa denganku? kenapa aku merasa canggung sekali di dekatnya’ batin so eun.

“aku pikir kau tidak akan datang.” ujar so eun.

“mmm..” kim bum mengangguk.

“aku pikir kau akan merasa terganggu karena aku memintamu untuk ikut.” Balas so eun.

“yeah itu sangat menggangu, sejujurnya aku tidak suka pantai.” Ujar kim bum. So eun langsung menatap kim bum.

“ada banyak orang di pantai dan kau berenang di air yang kotor, apanya yang menyenangkan dari pantai?” ujar kim bum.

“kalau begitu, kenapa kau datang?” tanya so eun.

“kalau begitu kenapa kau memintaku datang?” tanya balik kim bum.

So eun langsung terdiam mendengarnya.

“mmm baiklah, aku sedang bosan, sudah lama aku tidak melihat wajah peliharaanku.” Ujar kim bum seraya menatap so eun. so eun cukup terbengong di buatnya.

‘eh apa ini? apa dia datang karena ingin melihat wajahku? Bisakah aku berfikir seperti itu?’ batin so eun.

“OOOIII OOIIII MIANATA, KITA SANGAT TELAT !” Teriak jong suk dari kejauhan.

Kim bum dan so eun langsung melihat ke sumber suara.

“apa kalian sudah menunggu lama?” tanya bo young.

“ah aniyo.” Balas so eun. “mmm bo young-ssi, apakah dia….” ujar so eun menggantung.

“ah aku hampir lupa, kenalkan dia pacarku.” Ujar bo young seraya merangkul jong suk.

“aku park jong suk, senang bertemu dengan kalian, aku pacar bo young.” Sapa jong suk dengan ceria. (ini bukan jong suk yang manfaatin so eun di part 2 ya hehe)

“kalian so eun-ssi dan kim bum-ssi kan?” tanya jong suk.

“ah ne hehe.” Jawab so eun seraya tersenyum hambar.

“aku selalu mendengar cerita tentang kalian dari bo young, kalian sangat serasi ternyata.” Ujar jong suk.

“hahaha” so eun kembali tertawa hambar, sedangkan kim bum hanya bisa membuang nafasnya.

-today love is begin-

 

Mereka sudah sampai di pantai sokcho. So eun, bo young, dan jong suk langsung saja berjingkrak senang dan segera menaruh barang-barang yang mereka bawah di bawah payung, sementara kim bum berjalan paling belakang dan hanya menghela nafasnya. Lalu ia pun duduk di bawah payung itu.

“wooooaaa pantaaaaiii !” teriak so eun.

“pantai sokcho memang sangat indah dan menyenangkan !” jong suk ikut berteriak.

“yeaaayy disini sangat panas, dan aku tidak sabar ingin segera berenang !” timpal bo young dan segera berlari meninggalkan jong suk, so eun, juga kim bum untuk berenang.

“yaaa bo young, tungguuu !” jong suk ikut berlari dan mengejar bo young.

So eun masih tersenyum melihat keindahan pantai sokcho ini.

“baiklah, kim bum-ssi kajja !” ajak so eun.

“aku tidak akan berenang, aku tidak mau kulitku terbakar dan menjadi hitam dan gatal-gatal gara-gara berenang di air kotor itu !” tolak kim bum.

So eun langsung menganga mendengar jawaban yang keluar dari mulut kim bum. “hei…apa kau itu seorang selebriti?” sindir so eun.

“tsk sudahlah sana pergi dan berenanglah !” suruh kim bum seraya melempar-lempar tangannya meyuruh so eun untuk segera pergi.

“berenanglah ! aku ingin melihat kulitmu berubah menjadi hitam.” Ujar kim bum.

“eh kau…” balas so eun.

“HEIIII SO EUN-SSI…PALLIWAAA! AIRNYA SANGAT DINGIN ! DAN INI SANGAT MENYENANGKAN !” teriak bo young dan jong suk yang sudah berenang lebih dulu, mereka melambai-lambaikan tangannya pada so eun. So eun menatap kim bum sejenak lalu berteriak kepada mereka.

“BAIKLAHH ! AKU AKAN SEGERA KESANA !” balas so eun. sebelumnya so eun kembali menatap kim bum dan mendelikkan mata padanya.

“hmmphh.” Dengus so eun lalu meninggalkan kim bum sendirian.

Sementara itu kim bum hanya diam ditempatnya dan hanya memerhatikan so eun, bo young, dan juga jong suk yang tengah berenang dengan gembiranya. Mereka tertawa dan sangat menikmatinya.

Tiba-tiba kim bum menyunggingkan senyumnya melihat mereka, terutama saat ia melihat so eun.

“heh…ada tiga peliharaan disana !” gumamnya.

Setelah sekitar 15 menit berenang, so eun, bo young, dan jong suk pun kembali ke bibir pantai dan menghampiri kim bum yang sedari tadi hanya diam dan duduk di bawah payung.

“woooah sangat menyenangkan !” ujar bo young.

“aku lelah, aku ingin istirahat !” ujar so eun.

“hei kim bum-ssi, apa kau ingin berenang denganku?” tawar jong suk.

“ani.” Jawab kim bum.

“ah…kalau begitu bagaimana jika kita berempat bermain voli pantai?” tawar jong suk lagi.

“ani, aku hanya akan menonton kalian bermain saja.” Jawab kim bum.

“hummpphh…” jong suk menghembuskan nafasnya.

“jong suk-ah…aku ingin makan es krim.” Ujar bo young dengan nada manja.

“ah baiklah baiklah, kalau begitu ayo kita beli es krim.” Jawab jong suk senang seraya merangkul pundak bo young.

Kim bum hanya bisa menatap mereka dengan mata sedikit memicing karena mereka yang terlihat begitu mesra.

“kami juga akan membelikannya untuk kalian !” ujar jong suk.

“ah…terimakasih.” Balas so eun.

“ayo jong suk pali~” bo young menarik lengan jong suk.

“ah  ne….” balas jong suk.

So eun yang melihat kemesraan bo young dan jong suk jadi merasa iri, tapi di satu sisi ia juga senang melihat kemesraan mereka.

“mereka sangat cocok.” Ujar so eun dengan mata berbinar sekarang.

‘aku juga ingin memiliki pacar yang romantic seperti jong suk.’ Batin so eun seraya menggenggam tangannya sendiri dan meletakannya di dagunya.

Kim bum melirik ke arah so eun dan melihat so eun tengah tersenyum seraya membayangkan sesuatu.

“jika kau bertanya pendapatku tentang mereka, maka aku hanya bisa melihat mereka sebagai sepasang kekasih idiot yang hanya memperlihatkan kemesraan mereka dengan penuh kepura-puraan.” Ujar kim bum tiba tiba.

“huh?” so eun langsung memalingkan wajahnya untuk menatap kim bum.

“aku rasa, bagaimanapun juga itu tidak akan membantu meskipun kalian saling menyukai, mustahil.” Lanjut kim bum.

‘apa yang dia bicarakan?’ batin so eun seraya menatap kim bum sedikit bingung, namun kim bum hanya memandang ke arah laut lepas.

“cinta itu bukan karena mengumbar-ngumbar kemesraan di depan umum atau pun semacamnya, sepasang kekasih yang seperti itu biasanya hanya akan mengungkapkan perasaan mereka dengan mengatakan ‘aahh aku sudah merasa puas dan senang’. Mereka yang seperti itu tidak benar-benar mencintai pasangannya. Cinta tidak perlu hal yang seperti itu, hanya cukup menyayangi seseorang yang disukai dengan tulus tanpa mengumbar kemesraan. Itulah keromantisan dalam cinta yang sebenarnya.” Jelas kim bum.

So eun sukses menganga mendengar apa yang keluar dari mulut kim bum sendiri, so eun terkejut, aneh, dan juga sedikit takjub dengan ucapan kim bum.

‘dia…bagaimana bisa dia berbicara soal cinta seperti ini? woooah aku merasa terkesan’ batin so eun.

So eun jadi menatap kim bum dengan mata menyipit. “hei, kau bahkan tidak punya pengalaman dalam berkencan ataupun berhubungan dengan seorang perempuan, kau tidak bisa berbicara seperti kau mengerti soal cinta.” Ujar so eun.

Kim bum yang tadinya menatap lurus ke depan langsung melirik ke arah so eun. “mwo? apa yang kau katakan barusan? Ayo katakan lagi !” pinta kim bum sambil menatap so eun murka.

So eun yang melihat kim bum menatapnya seperti itu langsung menjauhkan tubuhnya dari kim bum.

“a..aniyo…” balas so eun.

“kau juga bahkan membohongi teman-temanmu dengan mengatakan bahwa kau sudah memiliki pasangan, bahkan kau juga sepertinya tidak berpengalaman dan tidak mengerti soal cinta, betapa sombongnya mulutmu itu ! aku juga harus masuk ke dalam lubang masalahmu.” kim bum mendorong kepala so eun dengan telunjuknya.

“bagaimanapun juga aku terpaksa. Meskipun begitu, aku hanya ingin bersama dengan seseorang yang aku sukai.” Balas so eun. “dan aku tidak ingin, sifatmu itu menghancurkan semuanya.” Lanjut so eun sedikit keras dan membuat kim bum sedikit terdiam.

“aku mau berenang !” so eun langsung bangkit berdiri dan pergi meninggalkan kim bum.

“hmmpph…” Kim bum hanya bisa menghela nafasnya.

“dia benar-benar….apa dia iri karena dia belum pernah jatuh cinta pada satu orang pun sebelumnya maka dari itu dia bisa berbicara semaunya?” gerutu so eun dengan langkah lebar dan cepat.

“SO EUN-SSI !!!” teriak bo young seraya melambai-lambaikan tangannya pada so eun. So eun langsung saja menghentikan langkahnya dan melihat ke sumber suara.

“so eun-ssi kau mau es krim rasa apa? melon atau strawberry?” teriak bo young.

“ah…melon !” jawab so eun.

“baiklah..” balas bo young.

“so eun-ssi ingin melon.” Ujar bo young pada jong suk.

“ok…” balas jong suk lalu mengambil es krim rasa melon untuk so eun. kini ditangannya ada dua buah es krim rasa melon untuk so eun dan kim bum. Sedangkan bo young membawa satu es krim rasa strawberry dan satu rasa melon untuk dirinya dan juga jong suk.

“baiklah kajja…!” bo young berjalan lebih dulu meninggalkan jong suk. Sementara itu, karena jong suk tak memperhatikan jalan di depannya, ia pun tak sengaja menabrak dua orang pemuda sekitar umur 25-27 tahunan dan membuat es krim itu tumpah dan mengenai dua pemuda tersebut.

“ahh…” jong suk sedikit terkejut saat es krimnya tumpah.

“jong suk-ah, gwaenchana?” bo young berbalik dan langsung berlari kecil menghampiri jong suk. So eun juga ikut menghampiri jong suk.

“itu bukan salah kami.” Ujar pria dengan rambut merahnya itu.

“perhatikanlah jalanmu anak kecil !” ujar pria satunya lagi dengan sedikit janggut di dagunya.

“yaakk !” bo young berteriak kepada kedua pemuda itu. “bukankah kalian berdua yang membuat es ini tumpah?” amuk bo young.

Kedua pemuda itu langsung menatap bo young meremehkan.

“huh?” si pemuda berambut merah itu menaikkan sebelah alisnya.

“apa maksudmu anak kecil?” Tanya si pemuda satunya lagi yang berjanggut itu seraya menyeringai menatap bo young.

So eun hanya bisa menatap mereka takut-takut akan terjadi perkelahian.

“yak jong suk-ah…kenapa kau hanya diam saja? Jelas-jelas ini salah mereka !” teriak bo young pada jong suk.

“bo young-ah tenanglah, ini hanya masalah kecil, jangan dibesar-besarkan !” bisik jong suk.

Kedua pemuda itu masih berdiri disana dan menatap jong suk dengan tajam, segera saja jong suk membungkukkan badan kepada kedua pemuda itu.

“mianhamnida hyung-nim, sudah jelas ini adalah kesalahanku, mianhamnida.” Ujar jong suk. Bo young menatap jong suk tak percaya.

“tsk…” kedua pemuda itu hanya berdecak lalu pergi dari hadapan mereka. Setelah itu, bo young langsung menendang kaki jong suk.

“oouch…apa yang kau lakukan?” Tanya jong suk meringis kesakitan seraya memegang tulang keringnya.

“itu pelajaran untukmu ! jelas-jelas salah mereka dan mereka harus menggantinya ! dasar pengecut ! ayo so eun-ssi kita pergi !” bo young langsung menarik tangan so eun dan meninggalkan jong suk.

“yak bo young !” teriak jong suk.

Namun bo young tak menghiraukannya dan terus berjalan dengan lahkah lebar.

“umm~ bo young-ssi, bukanlah lebih baik kau kembali dan memaafkan jong suk-ssi? Bukan berarti jong suk-ssi pria pengecut karena meminta maaf kepada mereka kan?” Tanya so eun.

Bo young menghembuskan nafasnya kesal. “biarkan saja, aku ingin memberikan pelajaran untuknya setidaknya agar dia bias lebih tegas layaknya seorang pria !” balas bo young.

“tapi…bo young-ssi.” Balas so eun.

“fiiuh~ sepertinya aku harus mengakhiri hubungan saja dengannya.” Ujar bo young.

“eh? Bo young-ssi, kenapa tiba-tiba seperti ini? Kalian ini sangat serasi bahkan sangat mesra.” Ujar so eun.

“tapi bukan itu masalahnya, aku kecewa padanya karena dia tak juga berubah. Dia pria lemah.” Balas bo young. So eun hanya bisa diam saja mendengarnya.

‘apa ini? Baru saja mereka bermesra-mesraan, tapi dengan cepat situasinya berubah’ batin so eun. Lalu ucapan kim bum melintas saja di pikirannya.

Itulah keromantisan dalam cinta yang sebenarnya

Mengingat ucapan kim bum itu, so eun langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.

“bo young-ssi, kau harus memikirkan perkataanmu lagi !” ujar so eun, namun bo young sepertinya tak memerhatikan so eun karena matanya focus ke arah lain.

“bukankah itu dua pemuda yang tadi?” Tanya bo young.

“eh?” so eun langsung mengikuti arah pandangan bo young dan melihat kedua pemuda itu tengah mengobrol dengan dua orang perempuan.

“ah benar, itu mereka.” Ujar so eun.

“aku harus menemui mereka dan memberikan pelajaran untuk mereka.” Ujar bo young lalu melangkah menghampiri kedua pemuda itu.

“eh bo young-ssi, andwae !” so eun menahan lengan bo young.

“ani ! aku hanya akan memperingati mereka. So eun-ssi kau tunggu disini !” ujar bo young. Bo young pun melanjutkan langkahnya sementara so eun hanya bisa diam ditempatnya. Wajah so eun sudah pucat karena tak bias melakukan apa-apa untuk mencegah bo young.

“ini gawat….” Gumam so eun.

-today love is begin-

 

Jong suk sedang duduk sendirian menatap laut lepas yang ada dihadapannya. Wajahnya kelihatan galau karena insiden yang terjadi barusan.

“bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?” gumam jong suk. “bagaimana jika bo young meminta untuk putus? Ini benar-benar buruk.” Gumam jong suk murung.

“jadi kau ada disini?” Tanya kim bum yang tiba-tiba muncul di samping jong suk. Jong suk langsung memutar kepalanya menatap kim bum.

“ah..kim bum-ssi.” Ujar jong suk.

“aku memutuskan untuk mencarimu karena sedari tadi kau tak kunjung kembali dari membeli es krim.” Cerita kim bum lalu ikut duduk di samping jong suk.

“ah…m..mian, aku tak mendapatkan es krimnya.” Dusta jong suk.

“gwaenchana, aku tidak peduli dengan es krim itu.” Balas kim bum.

“ah..ne.”

“lalu, dimana so eun dan bo young?” Tanya kim bum.

“ah…mereka berdua…” jawab jong suk gelagapan. “mereka berdua sedang membicarakab urusan perempuan.” Dusta jong suk lagi.

Kim bum hanya bias membuang nafasnya.

10 detik, 20 detik, 30 detik. “huwaaaa…kim bum-ssi…apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan?” jong suk tiba-tiba langsung memegang kedua lengan atas kim bum, membuat kim bum menghadap padanya.

“hei…ada apa?” Tanya kim bum heran.

“bo young….dia…dia sekarang pasti membenciku !” ujar jong suk. Kim bum masih belum mengerti, ia mengerutkan keningnya menatap jong suk.

“apa yang harus aku lakukan?” jong suk memegangi kepalanya frustasi.

“kenapa kau tidak berkelahi saja dengan dua pemuda tadi jika kau tidak ingin bo young membencimu?” ujar kim bum enteng.

“eehhh? Ti..tidak mungkin !” balas jong suk.

“aku pasti akan kalah jika berkelahi ! lihatlah badanku !” jong suk menunjuk perutanya yang rata.

“aku sama sekali tidak memiliki otot yang besar dan kuat !” lanjutnya.

“yeah…aku juga tidak bisa memungkirinya.” Balas kim bum setelah memerhatikan tubuh jong suk.

“huh bo young tetaplah bo young, aku heran dengannya kenapa dia ingin berkelahi bahkan dia adalah seorang perempuan, tidak dipercaya !” jong suk kembali memegangi kepalanya. Kim bum hanya bisa menatapnya saja. Melihat lelaki bodoh dihadapannya yang tidak bisa apa-apa dan hanya terlihat frustasi saat kekasihnya marah padanya.

Kim bum membuang nafasnya. “hey kau….!” Panggil kim bum. Jong suk menoleh padanya.

“apa kau berfikir tentang sesuatu yang berharga?” Tanya kim bum.

“ehh…”

“apa yang akan kau lakukan jika dia berada dalam bahaya di depanmu atau di dekatmu?” Tanya kim bum. Jong suk diam.

“kejadian tadi, apakah kau akan mengulangi untuk meninggalkannya dan menyerah lagi?” lanjut kim bum. Jong suk masih tak bersuara.

“jika kau benar-benar mencintainya, seharusnya kau menjaga dan menyelamatkannya bahkan disaat kau lemah atau bahkan akan menyakitkan. Itulah kebanggaan yang dimiliki oleh seorang laki-laki.” Jelas kim bum santai seraya menatap jong suk.

Jong suk sedikit ternganga mendengar apa yang dikatakan kim bum. “ke..kebanggan seorang laki-laki?” tanyanya lalu diam termenung. Kim bum kembali mengarahkan tatapannya pada laut lepas.

“ah……jong suk-ssi…kim bum-ssi…” teriak so eun dengan nafas tersenggal-senggal. Setelah ia berlarian mencari jong suk dan kim bum, akhirnya ia menemukan mereka juga.

Kim bum dan jong suk langsung menoleh ke belakang saat mendengar nama mereka dipanggil.

“so eun-ssi….” Pekik jong suk.

“bo young…” ujar so eun dengan nafas yang masih tak beraturan.

“wae?” Tanya jong suk.

“bo young…dia….cepat selamatkan dia !” ujar so eun.

Jong suk dan kim bum sama-sama menatap so eun masih dengan tatapan bertanya-tanya.

-today love is begin-

 

“kyaaaaaaaa lepaskan aku !!!” teriak bo young. Bo young berontak saat ia diangkat di atas bahu si pemuda berambut merah. Sementara pemuda yang satunya lagi berjalan di samping pemuda itu.

“yaaaa jangan sentuh aku ! turunkan aku !” teriak bo young saat dagunya di elus oleh si pria berjenggot.

“kau sangat berisik !” ujar si pemuda berambut merah.

“kyaaaaaa…..siapa saja tolong aku !” teriak bo young.

“yak ! berhentilah berteriak ‘kya kya’ ! tutup mulutmu !” ujar si pria berjenggot itu kesal lalu membekap mulut bo young dengan tangannya. Bo young menatap tajam pemuda itu.

“baiklah, apa kau ingin mengatakan sesuatu kepada kita? Aku akan mendnegarkanmu dengan senang hati.” Ujar pemuda berjenggot itu seraya tersenyum licik. Bo young semakin geram, lalu ia pun menggigit sekeras mungkin tangan pria itu.

“Yaaaaaaak ouch…..beraninya kau !” teriak pemuda itu.

Pemuda berambut merah pun menurunkan bo young lalu menahan kedua lengannya.

“kami akan memberikan pelajaran yang lebih padamu gadis kecil !” ujarnya.

“yaakk andwae…!” bo young berontak.

“hei, lepaskan bo young !” teriak jong suk. Di belakangnya ada kim bum dan juga so eun.

“jong suk-ah….” Teriak bo young.

“hei, bukankah kau bocah yang tadi? Apa kau datang kemari ingin mengajak kita berkelahi untuk menolong pacarmu huh?” tantang si pemuda berjanggut itu seraya tersenyum remeh.

Jong suk yang tadinya sedikit tidak berani, kini menatap kedua pemuda itu dengan murka.

“eh…apa maksud tatapan bocah itu?” gumam pria berambut merah.

“hei bocah lemah, kau tidak berniat untuk berkelahi dengan kita kan?” Tanya si pemuda berjanggut.

Jong suk masih menatap kedua pemuda itu dengan tajam, ia sejujurnya masih bingung apa yang harus ia lakukan? Ia tidak punya keberanian untuk berkelahi, terlalu menakutkan untuknya. Tapi demi bo young……..

“kalau begitu……” jong suk tampak mengeluarkan keringat dingin dari pelipisnya.

“kalau begitu, kumohon pukul aku sampai kalian merasa puas dan tenang !” ujar jong suk.

Bo young menatap jong suk tidak percaya. Termasuk so eun dan kedua pemuda itu, sementara kim bum yang hanya kelihatan tenang.

“kalian bisa melakukan apa yang kalian inginkan padaku, asalkan jangan berani menyentuh bo young !” ujar jong suk.

“jong suk-ssi…” panggil so eun, sementara kim bum hanya diam. Bo young juga tak bisa melakukan apa-apa selain diam, ia masih mencerna apa yang semua dikatakan oleh jong suk.

“ayolah, pukul aku dengan tangan kekar kalian dan tendang aku !” tantang jong suk.

“tskk….” Pemuda berambut merah itu langsung saja menendang jong suk tepat di perutnya, membuat jong suk langsung tersungkur di pasir.

“jika itu yang kau mau, kami tidak bisa menolaknya.” Ujar kedua pemuda itu lalu kembali menghajar jong suk.

Sementara itu, so eun langsung menghampiri bo young. “bo young-ssi kau tidak apa-apa?” Tanya so eun. Bo young tidak menjawab, matanya focus melihat jong suk yang sedang dihajar kedua pemuda itu. Melihat jong suk yang menahan sakit, bo young tak bisa mengontrol dirinya. Ia pun berlari menghampiri jong suk dan langsung berhambur ke pelukannya. Jong suk sudah mengelurkan banyak darah dari hidungnya, wajahnya pun jadi bengkak-bengkak.

“HENTIKAN !” teriak bo young. “semuanya sudah cukup.” Lanjut bo young.

“bo..bo young.” Ujar jong suk susah payah.

“bo young ! itu akan berbahaya !” teriak so eun.

“ani ! aku tidak bisa hanya diam dan melihat saja ! hentikan semuanya !!!” teriak bo young.

“kalian bisa memukulku…..ayo kemarilah dan pukul aku !” tantang bo young.

“bo young…” ujar so eun.

“mwo? Kau menantang kami bocah tengik?” si pemuda berjanggut itu naik darah, ia meremas-remas tangannya.

Tiba-tiba ada tangan yang menepuk bahu pemuda itu.

“semuanya sudah cukup, hentikan sampai disini saja oke?” ujar kim bum dengan tatapan dinginnya pada kedua pemuda itu. Pemuda itu langsung menatap kim bum takut, aura yang terpancar dari wajah kim bum sangat mengerikan.

“tsk….ayo !” ajak si pemuda berambut merah.

“sial !” si pemuda berjanggut itu menggerutu lalu merekapun pergi.

“kalian semua bocah tengik yang lemah !” teriak si pemuda berjanggut.

Kim bum hanya bisa memandang mereka dengan tatapan aneh.

“haah syukurlah…” jong suk menghela nafas lega seraya menundukkan kepalanya setelah kedua pemuda itu pergi. Bo young menatap jong suk kesal bercampur khawatir.

Pletak tiba-tiba bo young menjitak kepala jong suk.

“ouch….bo young-ah sakit !” jong suk memegangi kepalanya.

“apa kau benar-benar idiot huh?” kesal bo young. “kenapa kau beraninya melakukan ini?” lanjut bo young.

“mian, aku tidak bisa berkelahi seperti kebanyakan orang, aku sangat buruk dalam berkelahi, dan aku rasa hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu.” Balas bo young. Bo young diam.

“tidak apa-apa meskipun aku kelihatan tidak keren, tidak apa selama aku bisa melindunga orang yang penting bagiku. Karena itu adalah kebanggaanku sebagai laki-laki.” Ujar jong suk. Bo young sudah berkaca-kaca melihat jong suk yang masih bisa tersenyum diantara luka-luka di wajahnya itu.

Kim bum menatap jong suk sedikit kasihan. “dia mendengarkan kata-kataku huh?” gumam kim bum.

“idiot ! kau memang lemah bodoh !” bo young menangis dan langsung memeluk jong suk.

“tapi….pada akhirnya aku semakin menyukaimu.” Ujar bo young.

“ehehe, aku juga.” Balas jong suk.

So eun dan kim bum hanya bisa diam saja seraya menyaksikan adegan sepasang kekasih itu. Lalu so eun menyunggingkan bibirnya. ‘seperti yang aku pikirkan sebelumnya, mereka berdua luar biasa. Satu kali lagi, kekuatan cinta sangat luar biasa’ batin so eun seraya tersenyum melihat mereka.

“huh…” kim bum mendesah, saat ia menolehkan wajahnya ia melihat so eun yang sedang tersenyum.

-today love is begin-

 

Mereka sedang dalam perjalanan pulang menuju seoul menaiki kereta. Mereka berdua duduk berhadapan. Bo young dan jong suk sudah tertidur dan mereka saling berpegangan tangan, bo young menyandarkan kepalanya pada bahu jong suk dan jong suk menyandarkan kepalanya pada kepala bo young. Melihat itu, so eun terkekeh dibuatnya.

“pfft….sangat lucu, tidur tanpa melepaskan satu sama lain.” Ujar so eun.

“benar-benar melelahkan.” Ujar kim bum seraya menopang dagunya dan melihat ke luar jendela.

“jong suk-ssi…..dia sangat keren.” Ujar so eun bicara pada dirinya sendiri.

“yeah benar.” Balas kim bum tanpa mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

“eh…” so eun langsung menoleh ke arah kim bum.

‘huh? Dia setuju dengan cepat? Bukankah dia punya pemikiran yang selalu berbeda?’ batin so eun masih melihat kim bum dari samping.

“seseorang tidak akan melakukan sesuatu sampai sejauh itu jika bukan pada seseorang yang benar-benar serius mereka sukai.” Ujar kim bum, membuat so eun sedikit takjub dengan kata-kata yang keluar dari mulut kim bum itu. So eun sampai tak mengedipkan matanya menatap kim bum.

Kim bum menolehkan wajahnya kepada so eun. “apa?” Tanya kim bum heran karena so eun terus menatapnya seperti itu.

“umm…apa kau…tidak berfikir bahwa akan lebih baik jika kau mempunyai seseorang yang kau sukai?” Tanya so eun.

“tsk….kau sangat mengganggu !” kim bum kembali memalingkan wajahnya pada jendela.

So eun masih penasaran dengan sikap kim bum, seperti apa dia sebenarnya? So eun juga memalingkan wajahnya dari kim bum.

‘pernahkah kim bum-ssi…..jatuh cinta?’ batin so eun.

‘aku penasaran, seperti apa perempuan yang dia sukai itu’

 

To Be Continued

 

TERIMAKASIH UNTUK READERS YANG SELALU BACA DAN KOMEN, SEMPET KECEWA SOALNYA DIA PART 2 FF INI DAN DI FF A LOT OF KISSING YOU PART END KOMENTARNYA MENURUN DRASTIS. BAGI SILENT READERS TOLONG YA HARGAI KARYA SAYA DENGAN MENINGGALKAN KOMENTAR. TERIMAKASIH

 

Falling love with my fans [3]

Falling love with my fans [3]

 

Author : Resi R (Shin Ni Rin)

Genre : Romantic Comedy

Main Cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom

Other Cast : Kim Jong Woon, Moon Geun Young, Kim Sang Jo, Kang Min Hyuk, Kim Yung Jae, Chu So Ra. (dan akan ada cast tambahan, tapi masih bingung)

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Maaf untuk ff ini karena terlalu lama updatenya. Sebenernya saya juga bingung karena sudah mulai banyak tugas sekolah yang bertebaran. Di tambah saya juga sedang ada project dengan teman untuk membuat novel#cieelahhh. Nah jadi sekarang maaf kalo misalnya ngepost part per partnya bakal rada lama, karena pikiran saya jadi terbagi-bagi#apasih jadi curhat  – –“

Yaudah deh langsung baca aja, tapi sebelumnya saya ingin nge-review dulu part sebelumnya karena mungkin para readers pada lupa sama jalan ceritanya.

 

“segeralah bersiap-siap. Sekarang kau harus syuting.” Perintah geun young pada so eun yang tampak masih malas-malasan.

“ne…….” jawab so eun.

“kau sudah mempelajarinya dengan baik?” Tanya geun young.

“tentu saja.” Jawab so eun.

“baguslah.”

“memangnya syuting pertama akan di ambil dimana?” Tanya so eun.

“syuting pertama di tempat terbuka. Dan tidak menjadi kemungkinan aka nada banyak fansmu dan juga fans kim jong woon yang melihat.” Jawab geun young.

“aishh aku harap orang itu tidak ada.”

###

 

“hyung……..antar aku ke tempat les ya?” pinta sang jo.

“shireo…aku malas…” tolak kim bum.

“aish hyung ini benar-benar pemalas…….” Ujar sang jo lalu keluar dari kamarnya.

Kim bum hanya mencibir sambil memainkan laptopnya.

Tiba-tiba chu so ra datang dan langsung menjewer telinga kirinya.

“ya…aaaa….eomma…eomma….appo…!” teriak kim bum kesakitan.

“kau ini…! Hanya diminta mengantar sang jo ke tempat les saja malas….” Marah chu so ra seraya menarik kim bum keluar kamar.

“ne…eomma….aku akan mengantarnya….tapi…lepaskan dulu tanganmu….!” Pinta kim bum.

“yasudah cepat, jangan ada kata malas-malasan lagi…dasar…” omelnya lalu keluar duluan.

Kim bum memegangi telinganya yang memerah.

“sakit sekali……” ringisnya.

“sang jo….anak itu….! Sudah berani mengadu….awas saja…” dumel kim bum.

###

 

Kim bum mengayuh sepedanya. Baru saja ia mengantar sang jo ke tempat les. Kim bum tampak tenang-tenang saja mengayuh sepedanya. Tapi saat ia melewati jalanan yang ramai. Ia kaget. Terkejut setengah mati.

“itu………kim so eun?” kagetnya.

“apa yang sedang ia lakukan?” tanyanya bingung karena so eun berlari ke arah tengah jalan dengan nafas tersenggal-senggal.

Kim bum kaget saat melihat ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arah so eun.

“mwo? Ya………” teriak kim bum lalu mengayuh sepedanya lebih cepat. Karena tak ada waktu kim bum pun meninggalkan sepedanya sembarang dan berlari sekuat tenaga ke arah so eun yang berdiri di tengah jalan.

“kim so eun awas……” teriak kim bum saat mobil itu hampir menabrak so eun.

Tanpa pikir panjang, kim bum langsung menarik so eun ke tepi jalan sekuat tenaga hingga so eun jatuh di pelukannya. So eun hanya menatap bingung dengan apa yang di lakukan kim bum. Mwo? Kim bum?.  Apaaaa? Kim bum memeluk idolanya sendiri? Kim so eun?

“gwaenchana?” Tanya kim bum.

Tanpa menjawab, dengan segera so eun melepaskan pelukannya. Enak saja fans nya ini sudah memeluknya.

 “kau…? Ya….apa yang kau lakukan…?” marah so eun.

“CUT…………!!!!!!” teriak sang sutradara.

Kim bum hanya menatap bingung karena semua orang yang memperhatikannya.

 

PART 3

 

Kim bum duduk di hadapan sang sutradara yang menjadi penanggung jawab dari syuting Music Video yang sering kita singkat MV itu. Disana juga ada so eun yang duduk di sebelah sang sutradara. Kim bum tampak menunduk karena merasa bersalah atas tindakan bodohnya. Sang sutradara terlihat mengerutkan keningnya dan bertopang dagu memerhatikan kim bum.

“siapa namamu?” tanya sang sutradara.

Kim bum sedikit mengangkat wajah. “aku…kim sang beom.” Jawabnya. Ia belum berani menatap artis idolanya setelah tingkah memalukan yang ia lakukan.

So eun menatap pria yang di hadapannya dengan kesal, mana bisa dia tiba-tiba menariknya ke pinggir jalan hingga membuat syuting kacau dan tertunda. Fans terbodoh di dunia ! apakah tidak tahu jika sedang melaksanakan syuting?

“kau fans nya kim so eun?” tanya sang sutradara.

Kim bum sedikit mengangguk. “ne.” jawabnya.

So eun hanya diam, bagaimana bisa ia memiliki fans seperti ini.

“syuting kami jadi kacau gara-gara kau yang tiba-tiba menarik kim so eun yang sedang melakukan salah satu adegan dari syuting. Tapi berhubung kau adalah fansnya yasudah akan aku maafkan, kalau begitu kau bisa pergi.” Jelas sang sutradara.

Kim bum menunduk. “sekali lagi aku minta maaf. terimakasih.” Ujar kim bum lalu buru-buru pergi.

So eun menghela nafas, ia masih kesal karena ia harus take ulang untuk adegan tadi. Padahal adegan itu cukup menguras tenaganya karena harus berlari-lari.

###

 

“aiishh baboya…” kim bum memukul kepalanya sendiri.

“hey kau !” tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya. Kim bum menoleh dan mendapati seseorang yang waktu di minimarket bertemu dengannya. Seorang penyanyi bernama kim jong woon.

“kita bertemu lagi ternyata.” Ujar jong woon.

“apa ada yang ingin kau bicarakan?” tanya kim bum berusaha bersikap tenang.

“kau sudah tahu sekarang siapa aku?” tanya jong woon.

“aku baru tahu kemarin jika kau seorang penyanyi.” Jawab kim bum. Jong woon tersenyum sinis.

“rupanya kau penggemar kim so eun.”ujarnya. “kenapa kau sampai menjadi fans nya? Apa yang kau suka dari kim so eun?” tanya jong woon.

“aku suka semua yang ada pada idolaku.” Jawab kim bum bangga.

“tapi tak seharusnya kau mengacaukan syuting kami kan?” balas jong woon.

“soal itu aku minta maaf karena aku tidak tahu jika sedang mengambil adegan. Aku juga sangat minta maaf karena sudah mengacaukan syuting. Aku akui aku bodoh.” Jawab kim bum.

“sebagai fans kim so eun tentu kau akan selalu mendukung dengan semua keputusannya kan?” tanya jong woon.

“keputusan apa?” tanya kim bum.

“keputusan jika dia bekerja sama denganku dalam pembuatan Video Clip dari salah satu laguku. Aku tidak ingin kau jadi antifan ku karena aku yang menjalin kerja sama dengannya terlebih aku ini tampan.” Ujar jong woon dengan percaya dirinya.

“tentu aku akan selalu mendukungnya. Tak peduli dengan siapapun itu yang penting itu adalah pilihan dan keputusannya.” Jawab kim bum.

“aku kira kau tidak suka padaku.” ujar jong woon.

“seharusnya aku yang bertanya, aku yang tidak suka padamu atau kau yang tidak suka padaku.” balas kim bum.

Jong woon hanya tersenyum sinis.

“baiklah aku sibuk dan harus segera syuting, semoga kita bertemu lagi.” Ujar jong woon lalu meninggalkan kim bum.

“aiish aku hampir naik darah berbicara dengan penyanyi sok keren itu.” Kesal kim bum.

“aku tidak boleh terpancing emosi begitu saja. Kim bum ingat ! kau ini adalah fans kim so eun yang sangat setia dan baik hati. Kim so eun tidak  akan suka melihat fansnya yang mudah emosi apalagi sampai mem-base artis lain yang bekerja sama dengannnya.” Ucapnya pada diri sendiri.

###

 

Selesai syuting so eun dan managernya geun young segera pulang ke apartemen mereka. So eun langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa.

“haaah aku benar-benar tidak menyangka dia ada disana.” Gumam so eun. “kenapa harus sial begini?”

Geun young hanya tertawa mendengar keluhan so eun lalu duduk di sebelahnya setelah mengambil jus dari dapur.

“Unik, aku suka dengan fansmu.” Ujar geun young masih tertawa kecil.

“Eonni, coba saja kau pikirkan. Anak kecil saja tahu jika aku sedang syuting, kenapa dia berfikiran aku akan tertabrak sungguhan. Aaah benar-benar bodoh dan membuatku malu.” Kesal so eun.

“gwaenchana, jadikan saja itu sebagai pengalaman baru untukmu.” Balas geun young.

“mwo? Pengalaman baru? Seenaknya saja kau berbicara begitu.” Kesal so eun.

Geun young tersenyum.

“besok adalah syuting ke dua sekaligus syuting terakhir.” Ujar geun young mengganti topic.

“dimana tempatnya? Bukan tempat terbuka lagi kan? Aku tidak ingin ada orang aneh itu lagi.’ Ujar so eun.

“tenang saja, bukan di tempat terbuka.” Jawab geun young.

“baguslah kalau begitu. Aku lelah, aku ingin tidur.” So eun pun masuk ke dalam kamarnya.

Geun young hanya tersenyum kecil mengingat kejadian tadi siang. Kejadian yang sangat lucu pada artisnya.

###

 

“mau apa lagi? Mau meminta bantuan padaku yang berhubungan dengan idolamu lagi?” tanya min hyuk saat kim bum datang ke rumahnya.

“hei kau, apakah itu sambutanmu pada tamu yang berkunjung?” tanya kim bum lalu duduk di sebelah min hyuk.

“jika kau keseringan datang namanya jadi bukan tamu. Aku tahu jika kau kemari pasti  ada yang kau mau.” Ujar min hyuk.

Kim bum tersenyum. “kau tahu saja.” Balasnya.

“yasudah katakan. Ada apa?” tanya min hyuk.

“aku ingin curhat padamu min hyuk-ssi, apakah di matamu aku ini adalah seorang fans yang baik?” tanya kim bum.

Min hyuk menatap wajah kim bum lalu menggelang pertanda dari jawabannya.

“ada hal yang begitu memalukan yang menimpaku tadi siang, ah aku benar-benar bodoh. Tapi senang juga karena aku bisa memeluk kim so eun untuk yang ke dua kali.” Ceritanya sambil tertawa.

Min hyuk hanya menghela nafas mendengar cerita kim bum, ini sudah seperti makanan sehari-harinya mendengarkan kim bum berceloteh menceritakan idolanya.

“min hyuk-ssi kau tahu apa yang aku lakukan? Aku menarik kim so eun yang sedang mengambil adegan untuk syuting mv karena aku pikir ia akan tertabrak sungguhan.” Jelasnya.

“iya aku tahu, jika kau benar-benar bodoh sampai melakukan hal tersebut.” Balas min hyuk.

Kim bum hanya mengerucutkan bibirnya.

“bum-ah sebaiknya kau segera cari pacar, agar kau tidak terlalu gila dengan idolamu.” Saran min hyuk.

“aniyo, yang akan menjadi pacarku adalah kim so eun. dia adalah tipe wanita idealku.” Jawab kim bum.

“iishh…” min hyuk hanya mendesis sambil geleng-geleng kepala.

###

 

Kim bum menekan bel berkali-kali pada sebuah apartemen yang terbilang mewah. Ia ingin memberikan bungan pesanan pelanggan. Sebucket mawar mewah yang sudah di kemas indah. Tak lama si pemilik apartemen membuak pintunya.

“annyeong haseyo….” Sapa kim bum ramah sambil membungkukkan badannya tanpa sempat melihat wajah sang pemilik apartemen.

“ini bunga yang Anda pesan.” Ujar kim bum tersenyum sambil menyerahkan bunganya.

“kau…!” kaget orang itu.

Kim bum mengerutkan keningnya, orang itu melepas kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya lalu tersenyum sinis melihat kim bum. Kim bum melototkan matanya setelah tahu orang itu.

“tak di sangka kita bertemu lagi. Ternyata kau tukang pengantar bunga?” tanya orang itu.

“ne, aku adalah pengantar bunga. Dan kedua orangtuaku pemilik toko bunga. Kenapa?” tanya kim bum.

Orang yang ternyata jong woon itu tersenyum.

“kau tahu untuk siapa aku memesan bunga ini?” tanya jong woon. “untuk idolamu” lanjutnya.

Kim bum mengerutkan keningnya.

“oh ya benar, tadi kau bilang akan mendukung semua keputusan kim so eun asal itu baik kan? Berarti kau juga akan mendukungnya jika ia berpacaran denganku.” uajr jong woon.

“mwo?”

“aku rasa, saat pertama kali bertemu dengannya. Aku sudah mulai tertarik. Dia begitu cantik dan baik ternyata. Pantas saja kau menjadi fansnya.” Ujar jong woon.

“hey kau ! aku tahu kim so eun idolaku tidak akan tertarik padamu yang sombong itu.” Ujar kim bum.

Jong woon hanya tersenyum lalu mencium aroma dari sebucket bunga mawar yang ia pegang.

“terimakasih sudah mengantarkan bunga pesananku.” Ujarnya lalu masuk dan menutup pintu.

Kim bum hanya membulatkan matanya.

“hoooah benar-benar artis bermuka dua.” Kesal kim bum.

###

 

Keesokan harinya

“so eun cepatlah sedikit, kita sudah hampir telat datang ke lokasi syuting.” Teriak geun young.

“ne….arasseo arasseo…” so eun segera keluar dari kamarnya.

“lihat ! ini sudah jam 10, kita sudah telat.” Ujar geun young lalu buru-buru ke luar apartemen. So eun hanya mendengus lalu mengikutinya.

———-

“beom-ah… antarkan bunga ini ke alamat ini.” perintah ibunya.

“baiklah.” Jawab kim bum sedikit lesu karena masih terpikir perkataan jong woon kemarin. Ia mengambil bunga lalu segera mengambil sepedanya. Kim bum mengayuh sepedanya menuju alamat yang di beri ibunya.

———–

Geun young mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, mereka sudah telat 15 menit untuk ke lokasi syuting. Ini bukan sikap professional yang mereka tunjukan. Pasti semua sudah menunggu.

“eotteoke?” tanya geun young.

“sudahlah eonni, kita katakan jalannya macet saja.” Ujar so eun.

“asiih tapi ini akan tidak baik untukku dan juga untukmu yang tidak tepat waktu. Kita bisa di katakan tidak professional oleh sang sutradara, staf lain dan juga kim jong woon.”

So eun hanya menghela nafas dan akhirnya diam.

“ini juga karena kau yang bangun kesiangan.” Ujar geun young.

“mwo? eonni tahukah syuting kemarin sangat melelahkan untukku? Harus berkali-kali mengambil adegan lari. Rasanya betisku membesar.” Ujar so eun.

“aku tahu aku tahu, tapi kan kau juga harus tahu waktu.” Balas geun young.

“ini juga bukan sepenuhnya salahku,  buktinya kau juga salah karena tak membagunkanku lebih pagi.” So eun tak mau kalah.

“tapi kan…………oo…OMO…!!!!” geun young langsung meng-rem mobilnya mendadak.

“OMO….!” So eun jadi ikutan kaget karena mobil geun young telah menabrak sebuah sepeda hingga terpental.

Mereka sama-sama membulatkan mata melihat apa yang baru saja terjadi. Memang bukan hal yang baik mengobrol di dalam mobil bahkan saat mengendarai dengan kecepatan tinggi, jadinya seperti ini.

Geun young langsung ke luar dari mobil dan menghampiri orang yang tertabrak olehnya,  bahkan sepedanya sampai ringsek. Namun so eun hanya diam di dalam mobil karena ini bukan saat yang tepat untuknya keluar dari mobil tanpa persiapan, siapa tahu kan ada netizen yang berkeliaran dan mengetahui jika dia dan managernya telah menabrak seseorang. So eun hanya melihatnya dari balik kaca depan mobil.

“gwanchana?” tanya geun young panik sambil sedikit mengguncang tubuh orang yang ia tabrak itu.

Orang itu kelihatan tak berdaya, ia terkapar di jalanan dan tampak tak sadarkan diri. Lututnya terluka parah bahkan kepalanya juga mengeluarkan darah. Saat geun young membalikan wajah orang itu geun young terkejut.

“aigoooo bukankah dia fans so eun? bagaimana ini?” Pekik geun young tambah panik.

So eun yang melihat kepanikan geun young, tidak bisa berdiam diri saja di dalam mobil. So eun membawa asal mantel yang berada di jok belakang mobil lalu melingkarkan pada lehernya sampai menutupi mulut dan setengah hidungnya. So eun pun menghampiri geun young dan orang itu.

“eonni apakah  baik-baik sa….? AIGOOOO…… DIA?” kaget so eun setelah melihat wajah orang yang tak sadarkan diri itu adalah kim bum dengan lutut dan kepala bersimbah darah.

“eotteoke? Eotteoke?” panik so eun.

“jangan diam saja ! cepat bantu aku membawanya ke dalam mobil. Mumpung tidak ada orang disini.” Perintah geun young. Untunglah di jalanan ini cukup sepi sehingga tak ada orang yang melihat kejadian ini. Merasa terganggu dengan matel yang dipakai so eun untuk menutupi identitasnya so eun pun melepasnya. Ia dan geun youg dengan sekuat tenaga membopong orang yang ternyata kim bum itu ke dalam mobil. Tapi tanpa mereka sadari, ada seseorang yang melihat kejadian itu dan memfotonya.

###

 

“aku minta maaf seonsaengnim, ada suatu kejadian yang tak terduga pada kami saat dalam perjalanan.” Ujar geung young pada sang sutradara dalam telpon.

“……….”

“kami sangat menyesalkan hal itu seonsaengnim.”

“………”

“kami tak sengaja menabrak pengguna sepeda sampai terluka parah, jadi kami membawanya ke rumah sakit.”

“……….”

“baiklah kalau begitu, maaf sudah membuat kecewa. Ini juga bukan yang kami inginkan. Akan aku hubungi nanti.”

“……….”

“ne kamsahamnida.”

Sambungan telpon terputus. Geun young menghela nafas.

“bagaimana?” tanya so eun.

“syuting di undur dan akan dilakukan besok.” Jawab geun young.

“ini benar-benar merepotkan.” Ujar so eun. “kenapa harus selalu dia?” kesal so eun. kim bum adalah fans yang satu-satunya sering berurusan dengannya, benar-benar tidak bisa di duga.

“jadi apa yang harus kita lakukan pada pria ini?” tanya so eun melirik kim bum yang masih terbaring di ranjang rumah sakit lalu kembali menatap managernya.

“aku tidak tahu, aku pusing.” Jawab geun young.

So eun pun mendudukkan dirinya di kursi rumah sakit di ruangan kim bum di rawat.

“aku juga pusing dan bingung.” Ujar so eun.

Geun young ikut duduk di samping so eun.

“bagaimana jika ada yang tahu tentang kejadian ini? apakah fans-fansku akan berkurang dan balik membenciku? Atau karirku akan memburuk?” tanya so eun.

“tenanglah, semoga semuanya akan baik-baik saja, dan semoga fansmu itu tidak akan apa-apa.” Balas geun young.

“tidak apa-apa bagaimana? Dia terluka parah begitu bahkan belum sadar juga.” Ujar so eun.

“kau mengkhawatirkan fansmu?” tanya geun young.

“khawatir akan karirku kedepannya. Jika ini sampai masuk televise bagaimana jika seandainya pria ini jadi hilang ingatan atau bahkan tak sadar-sadar juga karena di tabrak artis bernama kim so eun bersama managernya” Tanggap so eun.

“arasseo.” Balas geun young.

###

 

“kemana anak itu? Kenapa belum pulang juga.” Heran ibu kim bum yang tak juga melihat kim bum kembali setelah ia suruh mengantar bunga.

“ini sudah waktunya ia menjemput sang jo ke sekolah.” Lanjutnya.

“ada apa?” tanya kim yung jae suaminya.

“kim bum, anak itu belum kembali setelah mengantar bunga.” Jawab chu seo ra.

“kenapa tidak telpon saja dia.” usul yung jae.

“ah benar, aku akan menghubunginya. Awas saja jika ketahuan ngelantur kemana-mana.” Dumel chu seo ra lalu segera menelpon kim bum.

Tut tut tut

“aiiish kenapa tidak di angkat, anak itu…….” Kesal chu seo ra. Ia pun mencoba menghubunginya lagi.

###

 

Ini sudah hampir sore tapi kim bum belum juga menunjukkan tanda-tanda ia sadar. So eun dan geun young jadi khawatir di buatnya, walaupun so eun enggan terang-terangan mengatakan khawatir akan kondisi fansnya.

“ponselmu yang berbunyi?” tanya geun young pada so eun.

So eun mengerutkan kening lalu menggeleng. Lalu mereka sama-sama melirik kea rah kim bum yang masih terbaring.

“mungkin ponselnya.” Ujar geun young. So eun mengangguk.

“apa sebaiknya kita mengangkat saja? Takutnya ada hal penting. Mungkin orang tuanya atau siapanya yang menghubungi.” Ujar geun young. So eun hanya mengangkat bahu.

————-

“hey kau….anak ini ! kenapa baru mengangkat telponnya setelah berkali-kali eomma menghubungimu?”

Geun young menjauhkan ponsel milik kim bum dari telinganya setelah mengangkat telpon.

“so eun-ah bagaimana ini? sepertinya ini ibunya? Apa yang harus aku katakan?” bisik geun young pelan. So eun hanya menggelang pertanda tidak tahu.

“yaa ! kenapa tidak berbicara?”

“ne..yeo…yeo..yeoboseyo? Apakah ini ibunya dari pemilik ponsel?” tanya geun young hati-hati.

“siapa ini? dimana kim bum?”

“maaf, kim bum yang Anda maksud anak Anda saat ini……..sedang di rumah sakit. Dia mengalami kecelakaan dan saat ini sedang berada di rumah sakit.”

“mwo? Anakku mengalami kecelakaan?”

“ne.”

###

 

“aigooo aigooo…” ibu kim bum memegangi dadanya.

“waeyo? Ada apa?” tanya yung jae menghampiri istrinya.

“kim bum, dia mengalami kecelakaan….aigooo dadaku…” panik ibunya.

“mwo? Bagaimana bisa?” kaget yung jae.

Tiba-tiba ibu kim bum pingsan di pelukan suaminya.

“ya….kenapa kau malah pingsan….” Kaget yung jae.

————

 

Kim bum perlahan-lahan membuka kedua matanya, matanya sedikit berkunang-kunang, kepalanya nyeri dan sekujur tubuhnya terasa remuk.

Ia memegangi kepalanya yang di perban. “ada dimana aku? Aku kenapa?” tanyanya. Lalu ia melihat sekeliling dan pandangannya berhenti pada dua orang wanita yang sedang duduk di sofa, mereka kelihatan sedang tidur. Kim bum menyipikan matanya.

“itu….kim so eun?” kagetnya dalam hati. Kim bum mengingat-ingat kejadian sebelumnya saat ia tertabrak.

“jadi….mobil yang menabrakku adalah……..” pikirnya. Lalu tiba-tiba ia tersenyum penuh arti.

“apakah aku harus pura-pura hilang ingatan saja? Siapa tahu kim so eun jadi perhatian padaku yang tentu saja fans nya?” gumam kim bum dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.

“dia belum sadar-sadar juga?” tanya suara seseorang tiba-tiba yang ternyata so eun.

Kim bum buru-buru kembali menutup matanya.

“sepertinya belum.” Jawab geun young.

“aiish kenapa sadarnya lama sekali.” Kesal so eun. Sedari tadi mereka masih menunggu pria ini hingga keluarganya datang.

“biar aku lihat.” Geun young pun bangkit berdiri dan menghampiri kim bum. Batulah kim bum memulai aksinya dan ia kembali membuka kedua matanya.

“ada dimana ini?” tanya kim bum seperti gumaman.

“kau sudah sadar?” tanya geun young. So eun langsung berdiri dan menghampirinya.

“akhirnya kau sadar juga.” Ujar so eun.

“apa yang terjadi? Siapa kalian?” tanya kim bum pura-pura tidak tahu seraya menatap geun young dan so eun bergantian.

So eun dan geun young saling pandang lalu membulatkan matanya menatap kim bum.

“kau tidak tahu siapa aku?” tanya so eun seraya menunjuk dirinya sendiri.

“siapa? Apakah aku mengenalmu sebelumnya?” tanya kim bum.

“eotteoke so eun-ssi? Sepertinya dia mengalami hilang ingatan.” Panic geun young. So eun jadi ikutan panic.

“ya ! masa kau tidak tahu denganku? bukannya kau fansku?” tanya so eun tak sabaran.

“fansmu?” ulang kim bum.

“ne, aku kim so eun. kau adalah fansku. Kau tidak tahu?” tanya so eun.

Kim bum menggeleng.

“so eun-ah, sepertinya dia memang hilang ingatan.” Ujar geun young.

“aiiish eotteoke?” panic so eun.

“tunggu disini, aku akan memanggil dokter dulu.” Ujar geun young.

Kim bum menciut, bagaimana jika dokter tahu jika ia hanya pura-pura hilang ingatan. Kim bum memutar cara untuk mencegah manager kim so eun memanggil dokter tapi ia tidak tahu apa yang harus ia katakan?

Belum sempat geun young keluar, tiba-tiba pintu ruangan rawat kim bum terbuka. Ada sepasang suami istri yang masuk.

“aigoooo kim bum….” Chu seo ra langsung menghambur ke arah kim bum.

“eomma? Appa?” pekik kim bum dalam hati

Geun young dan so eun mendadak semakin panik, apa yang harus mereka katakan perihal anaknya yang hilang ingatan?

“ya dasar anak bodoh, kenapa kau sampai bisa mengalami kecelakaan?” chu seo ra langsung mengintrogasi anaknya.

Kim bum diam, bagaimana sebaiknya ia bersikap? Apakah masih harus berakting di hadapan orang tuanya?

“kim bum, kau tidak apa-apa?” tanya ayahnya. Kim bum menelan ludah.

“ka…kalian siapa?” tanya kim bum.

“mwo?” chu seo ra melototkan matanya.

“kami siapa? Tentu saja orang tuamu !” jawab seo ra.

Kim yung jae segera menatap ke arah so eun dan geun young yang sedari tadi hanya diam berdiri.

 

 

“ada apa dengan anakku? Apakah kalian yang membantunya saat anakku kecelakaan?” tanya yung jae. Geun young mendadak berkeringat dingin, ini baru pertama kali terjadi padanya selama menjadi manager kim so eun. so eun dan geun young saling tatap.

“sebenarnya….kami yang tak sengaja menabrak anak Anda.” Jawab geun young.

Chu seo ra langsung menatap geun young dan so eun.

“aiish gawat, apa yang akan terjadi?” batin kim bum melihat chu seo ra yang akan menyemburkan suara cemprengnya.

“kalian yang menabrak anakku? Jadi apa yang terjadi hingga anakku tak tahu dengan orang tuanya sendiri?” marah chu seo ra, belum menyadari jika salah satu dari perempuan itu adalah kim so eun, artis idola kim bum yang sangat terkenal.

“kami juga tidak tahu, sepertinya anak Anda mengalami hilang ingatan, tapi akan kami jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ini bukanlah kesengajaan. Kami minta maaf.” Geun young merasa bersalah lalu membungkukkan badannya. Melihat so eun yang masih diam, geun young segera menarik tangan so eun untuk ikut membungkuk.

“jwieosonghamnida…kami berjanji kami akan bertanggung jawab. Sebelum anak Anda pulih kami akan tetap bertanggung jawab. Dengan cara apapun itu.” Ujar geun young.

Kim bum yang mendengar perkataan geun young tersenyum lalu

So eun menyikut lengan geun young, lalu menatapnya seakan tatapannya itu mengatakan ‘apa yang kau katakan? Jangan asal bicara dulu’

Geun young balas menatapnya. “ini jalan satu-satunya” bisiknya. So eun hanya mendengus. Ini akan menjadi masalah yang panjang. Bagaimana jika fansnya itu tak juga ingat-ingat, tentu ia harus terus berurusan dengannya.

“aigooo aigooo dadaku…..” chu seo ra memegangi dadanya yang terasa sakit.

“sayang, aku mohon jangan dulu pingsan.” Ujar yung jae segera menahan tubuh seo ra.

Chu seo ra mengelus-elus dadanya. “aku tidak mau tahu, kalian harus membuat anakku ingat kembali.”

Melihat ini kim bum jadi merasa bersalah karena sudah membohongi mereka. Ia menggigit bibirnya.

“kalian harus menjaga toko bunga kami sebagai pengganti kim bum.”ujar chu seo ra.

“MWO?” pekik so eun dan geun young bersamaan.

 

TBC

Maaf ya kalo part ini gaje banget, udah mandet idenya. Walaupun ancur tapi semoga kalian suka deh tapi jangan lupa tinggalin komen ya. Terimakasih.

BABY FACED BODYGUARD PART 16

BABY FACED BODYGUARD PART 16

 

AUTHOR: RESI R

MAIN CAST: KIM SANG BEOM DAN KIM SO EUN.

OTHER CAST: KIM YOONA, LEE SEUNG GI, JUNG IL WOO, JUNG SO MIN, KIM SOO HYUN, BAEK SUZY.

GENRE: IDK (?)

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

 

PART 16

 

“kau menyembunyikannya dariku?” marah kim bum.

Il woo masih terlihat shock. Kim bum melangkah mendekati il woo

Buuukkkk

Kim bum langsung melayangkan tinjuan ke wajah il woo dengan keras hingga il woo tersungkur dari sova. Seung gi dan soo hyun terkejut menyaksikan itu.

“KAU ?!! KENAPA TIDAK BILANG DARI AWAL ???” bentak kim bum penuh emosi lalu segera pergi.

Seung gi dan soo hyun segera menghambur (?) kepada il woo.

“il woo-ya gwaenchanayo?” tanya soo hyun.

Il woo hanya mengangguk sambil memegang sudut bibirnya yang terasa perih.

“dia tidak seharusnya menghajarmu.” Ujar seung gi.

“gwaenchana, wajar saja dia memukulku. Karena aku pantas untuk di hajar olehnya. Aku sudah salah karena menyembunyikannya sendirian.” Ujar il woo.

Seung gi dan soo hyun hanya menatap il woo khawatir.

###

“kenapa jadi sulit begini?” frustasi kim bum.

“arghh benar benar tidak di mengerti ! jadi selama ini hanya kebohongan !” terikanya kesal.

Ia mendesah hebat. Pikirannya sedang kalut saat ini. Disaat ia mengakui benar-benar sudah jatuh cinta dan hubungan mereka terbilang sudah baik tapi kenapa masalah datang lagi. Dan masalah ini adalah masalah yang disembunyikan so eun darinya. Kim bum tak habis pikir.

“kau membuatku gila !” frustasi kim bum yang ia tunjukan pada so eun.

Drrrt drtttt ddrrtt

Ponselnya bergetar, kim bum tidak ada minat untuk mengangkatnya. Tapi ini sudah ke lima kalinya ponsel itu bergetar. Kim bum menyerah, ia merogoh ponselnya dan tertera nama so eun disana. Tanpa pikir panjang kim bum langsung mengeluarkan baterai dari ponselnya. Tidak ingin mengangkat telpon dari so eun. Kim bum langsung menonaktifkannya.

“aih kenapa tidak di angkat.” Kesal so eun.

Saat ia mencoba menghubunginya lagi, ponselnya malah tidak aktif.

“dia benar-benar ingin mati rupanya ! bagaimana ini? sebentar lagi tuan dan yonya kim akan segera tiba di bandara. Aku harus menjemputnya dan tentu saja harus dengannya.” Dumel so eun.

“benar-benar merepotkan.” Gerutu so eun yang ia tujukan pada kim bum.

So eun pun memilih untuk menghubungi il woo.

 

“yeoboseyo…il woo-ssi”

“o..oh..so eun-ssi.”

“il woo-ssi apa kau sedang bersama kim bum?”

“…….”

“il woo-ssi.”

“oh ne? aniyo aku tidak sedang bersamanya. Waeyo?” sebenarnya il woo khawatir apa yang akan terjadi antara kim bum dengan so eun.

“aku menghubungi ponselnya tapi tak juga dia angkat, lalu tiba-tiba ponselnya tidak aktif.”

“oh begitu.”

“yasudah kalau dia tidak bersamamu, annyeong.”

so eun segera menutup ponselnya.

“kemana dia itu?” kesalnya.

Il woo masih menempelkan ponselnya di telinga. Apa yang harus ia lakukan? Apa ia cerita saja pada so eun apa yang terjadi? Kemudian perihal dirinya yang bersikap pura-pura tidak tahu mengenai umur so eun yang sebenarnya. Il woo menghela nafas lalu menurunkan ponselnya dari telinga. Satu tangannya lagi memegang secarik kertas. Itu adalah kertas yang kim bum tinggalkan di markas atau tak sengaja terjatuh di markas. Lirik lagu yang kim bum buat sendiri. Il woo tahu kim bum datang untuk meminta bantuannya memberi nada pada lagu ciptaanya. Il woo benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan. Ia menatap kertas yang di genggamnya. Bagaimana pun juga, mau apa masalahnya il woo harus menyelesaikannya dengan kim bum. Tapi untuk saat ini mungkin belum bisa. Tapi hanya ini yang bisa il woo lakukan, mencoba membuat nada dan ritme untuk ciptaan perdana lagu kim bum. Apalagi setelah il woo membacanya.

 

Confession

처음부터 느꼈죠. 나는 그대에게 빠져버렸죠 사랑을 하게 된거죠
그대를 때마다 마음 숨기기 어려웠어요. 항상 표현하고 싶었는데

내겐 욕심인가요 그댈 사랑하는게 그렇게도 힘든건가요

언제나 그대 원하고 있죠 혹시라도 우린 사랑할 없나요
힘들겠지만 그댈 위해 참아야만 하겠죠 그대만을 사랑해요

이젠 없겠죠 내가 떠나가야 이시간이 다가왔어요

언제나 그대 원하고 있죠 혹시라도 우린 사랑할 없나요
힘들겠지만 그댈 위해 참아야만 하겠죠 그대만을 사랑해요

잠시동안이라도 함께하고 싶은데 우~

언제나 그대 원하고 있죠 혹시라도 우린 사랑할 없나요
힘들겠지만 그댈 위해 참아야만 하겠죠 그대만을 사랑해요
우~ 그대만을 사랑해요

cheoeumbuteo neukkyeotjyo.

naneun geudaeege ppajyeobeoryeotjyo sarangeul hage doengeojyo.
geudaereul bol ttaemada nae maeum sumgigi eoryeowosseoyo.

 hangsang pyohyeonhago sipeonneunde.

naegen yoksimingayo geudael saranghaneunge geureokedo himdeungeongayo.

eonjena geudae nan wonhago itjyo hoksirado urin saranghal su eomnayo.
himdeulgetjiman nan geudael wihae chamayaman hagetjyo nan geudaemaneul saranghaeyo.

ijen bol su eopgetjyo naega tteonagaya hal isigani dagawasseoyo.

eonjena geudae nan wonhago itjyo hoksirado urin saranghal su eomnayo.
himdeulgetjiman nan geudael wihae chamayaman hagetjyo nan geudaemaneul saranghaeyo.

jamsidonganirado hamkkehago sipeunde u~

eonjena geudae nan wonhago itjyo hoksirado urin saranghal su eomnayo.
himdeulgetjiman geudael wihae chamayaman hagetjyo nan geudaemaneul saranghaeyo.
u~ nan geudaemaneul saranghaeyo.

Ia tahu betul jika lagu ini ingin ditujukan untuk siapa. “mianhae bummi ssi.” Ujarnya.

Il woo pun mulai mengambil gitarnya.

###

So eun ingat sesuatu. Ia belum membuka apa yang kim bum berikan padanya. So eun pun berjalan ke arah meja tempat benda itu disimpan. Perlahan so eun  membukanya, dan isinya adalah sebuah boneka beruang berwarna putih. So eun pun mengeluarkannya dan tersenyum melihatnya.

“lucu sekali.” Ujarnya.

Boneka itu tampak sedang memegang sebuah hati berwarna merah. Tentu saja so eun menyernyit bingung melihatnya. Apalagi setelah melihat tulisan yang tertera pada sebuah hati yang di pegang boneka itu.

Saranghae

“apa maksudnya ini?” tanyanya bingung.

So eun mengerjapkan matanya berkali-kali. “jadi dia sudah benar-benar menyukaiku? jatuh cinta padaku?” pekik so eun. Bodohnya ia karena baru menyadarinya sekarang. Lalu memangnya apa yang selama ini ada di pikirannya saat kim bum selalu menyuruhnya menggerai rambut dan berpakain secara nonformal. Menciumnya secara tiba-tiba pertama kali lalu mengajaknya berkencan. Lalu kim bum bahkan sudah menciumnya tiga kali dan parahnya so eun sempat membalasnya. Lebih parahnya lagi so eun tidak begitu paham dengan semua itu, karena memang sikap kim bum yang selalu berubah-rubah tanpa diduga. Ia sendiri heran dengan dirinya, mana mungkin tidak sepeka ini. so eun akui ia mulai merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya. Ia masih ragu apakah sudah jatuh cinta pada kim bum atau hanya perasaan sesaat saja?

“jadi….dia menembakku secara tidak langsung?” pikir so eun.

###

So eun sudah tiba di bandara tanpa kim bum. Ia menunggu disana hingga pintu kedatangan dari luar negeri di buka. Dengan segera so eun pun mencari sososk tuan dan nyonya kim. Tak lama ponselnya berdering. Sudah pasti itu adalah tuan kim. So eun pun dengan cepat mengangkatnya.

“……”

“ne, aku sudah ada di bandara tuan.”

“…….”

“ne aku mengerti.”

So eun memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jas.

Tak lama ia menemukan sosok tuan dan nyonya kim yang berjalan ke arahnya. So eun pun segera menghampiri mereka dan membungkukan badan memberi hormat.

Tuan kim tampak tersenyum, tapi berubah menjadi heran.

“annyeong haseyo tuan nyonya. ” Sapa so eun.

“dimana kim bum?” tanya tuan kim.

Tenggorokan so eun terasa kering seketika.

“oh…tu..tuan muda. Dia….. sedang bersama teman-temannya, jadi aku pikir cukup aku saja yang menjemput tuan dan nyonya.”dusta so eun sambil tersenyum kikuk.

“anak itu…’ ujar tuan kim.

“pasti tuan dan nyonya lelah selama di perjalanan, sebaiknya kita segera pulang.” Ujar so eun dan membantu menyeret koper milik mereka. Tuan kim hanya mengangguk.

“so eun-ssi…kau terlihat cantik.” Puji nyonya kim sambil tersenyum.

So eun tersipu malu. “oh…gomawo.” Jawabnya malu.

“bagaimana dengan sikap kim bum selama kami tidak ada?” tanya tuan kim saat mereka sudah berada di dalam mobil.

“tuan muda….menjadi lebih baik. Dia tak lagi sering berkelahi seperti pertama kali aku menjadi bodyguardnya.” Jawab so eun.

“apa kau merasa kesulitan menjaga anakku?” tanya nyonya kim.

“hanya sedikit.” Jawab so eun diikuti tawa renyah.

Tuan dan nyonya kim pun ikut tertawa.

“sikap anak itu memang sulit di duga. Aku harap selama aku tidak ada dia bersikap baik padamu. Kim so eun kau tahu sendirikan bagaimana sikap anakku.” Ujar tuan kim.

“hmmmm, aku rasa tuan muda sudah bersikap baik padaku.” jawabnya.

###

“abeoji…..eommeoni…” kaget kim bum saat melihat kedua orang tuanya ada di rumah.

“ya bum-ah kau ini kenapa baru pulang?” tanya ayahnya.

Kim bum tak mengindahkan pertanyaan ayahnya. Begitu terkejut melihat orang tuanya yang sudah tiba di rumah, kapan mereka pulang ke seoul?

“kapan kalian pulang?” tanya kim bum.

“waeyo? Kau tak senang kami sudah pulang?” tanya balik ayahnya.

Kim bum mendesah. “bukan seperti itu, tapi kenapa abeoji tidak menghubungiku dulu?” tanya kim bum.

Tuan kim hanya mengerutkan keningnya.

“so eun bilang kau sedang bersama teman-temanmu.” Balas ibunya.

Kim bum terdiam setelah mendengar nama so eun. Lalu segera pergi menuju kamarnya. Tuan kim dan nyonya kim hanya memandang kim bum aneh.

###

“kenapa kau tak mengangkat telpon dariku? Kau  malah menonaktifkannya.” Ujar so eun yang membuat kim bum mengurungkan niatnya masuk ke dalam kamar. Kim bum beralih menatap so eun.

“kau pandai sekali berpura-pura.” Balasnya dingin tanpa mengindahkan pertanyaan so eun.

So eun mengerutkan keningnya. “maksudmu?”

“aku kecewa padamu Kim-So-Eun.” Jawab kim bum dengan penekanan saat menyebut nama so eun.

So eun meringis. “tuh kan, sikapmu itu tak awet. Selalu berubah-rubah tanpa sebab. Menyebalkan, menyenangkan, dan sinis begini.” Ujar so eun.

“lalu siapa orang yang membuatku berubah-ubah begini?” tanya kim bum menatap lurus mata so eun.

“baiklah, aku minta maaf jika kau marah karena aku. tapi bisa kau ceritakan dulu kenapa kau marah?” tanya so eun.

Kim bum diam sejenak untuk mengamati wajah so eun.

“ternyata memang benar dugaanku selama ini, ketika pertama kali aku bertemu denganmu aku tidak yakin jika kau lebih tua dariku. Dan ternyata semua itu benar, jika kau berbohong.” Ujar kim bum.

So eun melototkan matanya.

“bummi-ssi, a…apa yang kau katakan?” kaget so eun.

“kenapa kau berbohong !?” kim bum tiba-tiba membentak. So eun kaget dibuatnya.

“selama ini kau membohongi dirimu padaku? apa maksudnya semua ini? umurmu bukan 25 ! tapi umurmu sama denganku !” bentak kim bum.

So eun benar-benar kaget, seakan jantungnya ingin keluar. Bagaimana bisa kim bum tahu? So eun tidak bisa berkata apa-apa.

“sebenarnya apa motifmu menipuku? Bahkan menipu kedua orang tuaku dengan memalsukan identitasmu? Apa kau tidak punya harga diri?” bentak kim bum. So eun benar-benar sedih saat kim bum mengungkit masalah harga diri tapi ia tidak bisa membalas. Matanya mulai berkaca-kaca.

“aku benar-benar tidak habis pikir, kau menyembunyikannya selama ini dengan baik.” Sindir kim bum.

“kim bum-ssi…aku…” ujar so eun.

“mwo? Kau ingin bicara?” tanya kim bum sinis.

“mianhae…aku benar-benar minta maaf.” So eun menundukkan kepalanya, air matanya mulai menggenang.

“kau sudah menyakiti perasaanku ! tidakkah kau tahu? Selama ini aku menyukaimu ! aku benar-benar kecewa.” Aku kim bum.

“kim bum-ssi.”

“sepertinya aku tidak butuh seorang bodyguard lagi, kau bisa pergi dari rumah ini secepatnya.” Pinta kim bum.

So eun diam, kim bum pun berbalik menuju kamarnya. Tapi so eun dengan cepat menahan tangan kim bum.

“kim bum-ssi aku mohon maafkan aku ! semua ini aku lakukan karena terpaksa, aku…..” so eun menghentikan ucapannya saat kim bum menarik kerah bajunya. Sikap kim bum jadi kasar begini pada so eun. Sangat berbeda.  So eun tak bisa membendung air matanya lagi.

“kau pikir semudah itu aku memaafkanmu disaat perasaanku terluka!?” tanya kim bum tajam masih mengangkat kerah baju so eun.

“kim bum-ssi aku…aku tidak bisa bernafas…aku mohon…lepaskan aku…” pinta so eun susah payah.

Mata kim bum mulai berair karena marah, ada perasaan sedih juga yang meliputi hatinya. Kenapa harus seperti ini?

“kau benar-benar membuatku marah !” kim bum pun melepaskan cengkramannya di kerah baju so eun dengan keras. Sehingga so eun sedikit mundur ke belakang. Kim bum kembali berbalik arah.

“pergilah ! sebelum aku benar-benar sakit hati !” suruh kim bum membelakangi so eun, ia pun langsung saja masuk ke dalam kamarnya, sementara so eun masih di tempat sambil menangis.

Tanpa mereka sadari, dari tadi tuan kim mendengar dan menyaksikan pembicaraan mereka. Tuan kim cukup tercengang mendengarnya, mendengar jika so eun sudah berbohong. Ia merasa di khianati selama ini. padahal ia sudah percaya pada so eun untuk menjaga kim bum.

###

So eun menunudukkan kepalanya. Saat ini ia sedang duduk menghadap tuan kim di ruangannya.

“jadi apa semua itu benar?” Tanya tuan kim.

So eun masih diam.

“kim so eun, aku sangat percaya padamu. Tapi kenapa kau malah mengkhianati kami?” Tanya tuan kim.

“ma…maafkan aku…maafkan aku tuan kim.” Mohon so eun.

“kenapa kau tak jujur saja dari awal so eun-ssi? Apa alasanmu membohongi kami dan memalsukan identitasmu?” Tanya tuan kim.

So eun terlihat menghela nafasnya, ia ingin biacara tapi mulutnya terasa di kunci. Akhirnya so eun pun hanya bisa diam dan menunduk.

“baiklah, sepertinya tidak ada yang bisa kau jelaskan. Kalau begitu dengan berat hati aku memutuskanmu untuk berhenti menjadi bodyguard anakku.” Keputusan tuan kim itu membuat so eun mengangkat wajah, ia terkejut.

So eun akui ini memang salahnya dari awal. Dia sendiri yang sudah membohongi mereka. Baru saja so eun hendak membalas perasaan kim bum, tapi apa yang terjadi? Kim bum tidak ingin mendengarnya. So eun tahu betapa kecewanya kim bum karena dirinya.

“kau sudah mendengar kan? Kim bum sepertinya tidak membutuhkan bodyguard lagi. Bagaimana pun juga aku mengucapkan terima kasih padamu sudah menajaga anakku, tapi aku juga kecewa karena kau membohongi kami. Sekarang kau bisa pergi dari sini !” suruh tuan kim.

###

Kim bum memerhatikan so eun dari balik jendela kamarnya. So eun tengah mengeret koper kecil dan berjalan pergi dari rumah tuan kim dengan lesu. Kim bum menatapnya hampa.

“kau sudah menyakiti perasaanku.” Lirihnya masih memerhatikan so eun.

###

“So eun?!” kaget yoona yang melihat adiknya pulang seraya membawa koper kecil.

Tanpa basa-basi so eun langsung menghambur ke pelukan kakaknya. So eun menangis.

Yoona cukup terkejut, tapi heran juga kenapa so eun tiba-tiba pulang.

“so eun-ah….apa yang terjadi?” Tanya yoona sambil mengelus punggung so eun.

Sso160

“hiks…….hiks…hiks….” so eun tak menjawab.

“so eun-ah….gwaenchana…menangislah…setelah itu cerita padaku.” Ujar yoona.

————-

“apa? jadi mereka sudah tahu identitasmu yang sebenarnya?” pekik yoona setelah so eun menceritakan semuanya.

So eun mengangguk pelan.

“sudah aku katakan dari dulu, tak seharusnya kau nekad bekerja menjadi seorang bodyguard bahkan memalsukan identitasmu, jadilah begini akibatnya.”

So eun hanya terdiam.

“sudahlah jangan di pikirkan lagi, yang penting sekarang mereka sudah tahu dan masalahnya sudah selesai. Sekarang lebih kau bantu eonni di butik.”

“tapi…aku sudah menyakitinya.” Lirih so eun.

Yoona mengerutkan keningnya.

“aku sudah jatuh cinta padanya.” Ujar so eun.

Yoona yang mendengar tidak percaya. “so eun, kau…jatuh cinta pada anak tuan kim?” kaget kakaknya.

So eun mengangguk. “dan aku sudah membuat perasaanya sakit.”

Yoona menatap adiknya iba.

###

Sudah sekitar 1 minggu so eun tak lagi menjadi bodyguard kim bum. Kim bum benar-benar merasa kehilangan, tak ada lagi yang mengantarnya, menjemputnya, mengomelinya, bahkan hatinya jadi sepi. Kim bum menghela nafas.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada telpon dari nomor tak di kenal. Kim bum menatapnya bingung, saat ia akan mengangkat tapi ponselnya sudah berhenti bergetar. Aneh.

————-

Seorang pria yang tengah duduk di kursi kayu itu menatap ponselnya lalu menyeringai.

“akhirnya aku menemukanmu.” Ujarnya sambil menggenggam ponsel itu erat.

“jadi bodyguardnya itu seorang perempua bernama kim so eun?” tanyanya pada ke dua anak buah yang duduk di hadapannya.

Kedua anak buahnya itu mengangguk. “pantas saja dia selalu lolos dalam kejaranku, sudah berapa orang yang aku suruh untuk menghabisinya tapi selalu gagal.” Ujarnya kesal.

“tapi tenang saja, pasti rencana kita akan berhasil kali ini.” Ujar salah satu anak buahnya.

Pria itu tersenyum menang. “kali ini aku tidak akan membiarkannya lolos. Kim-sang-beom kau akan habis sekarang.” Seringainya.

###

Ponsel milik kim bum kembali berdering, ia mendesah. Yang menghubunginya adalah nomor tak di kenal yang sama seperti tadi. Dengan malas ia pun mengangkatnya.

“yoboseyo.” Ujar kim bum.

“………” tidak ada suara.

“yoboseyo.” Ulang kim bum.

“sudah lama tidak bicara denganmu kim sang beom.”

Kim bum mengerutkan keningnya. “nuguseyo?” tanyanya.

“pasti kau sudah lupa denganku.”

“ya sebenarnya kau siapa?”

“kim so eun-bodygardmu sedang bersama kami, jika kau ingin dia selamat datanglah ke……….”

“so eun? Ya ! apa maksudmu?”

Tut tut tut sambungan langsung terputus.

Kim bum mencoba menghubungi nomor itu lagi, tapi sudah tidak aktif. Kim bum kesal, ioa mulai kelihatan gelisah. “siapa sebenarnya orang itu?” pikir kim bum. “so eun…? kenapa orang itu mengenalnya? Sebenarnya apa yang terjadi?” paniknya.

Tanpa pikir panjang kim bum pun segera berjalan keluar kamarnya, tujuannya sekarang adalah ke alamat yang di sebut orang itu.

———-

Kim bum sudah sampai di tempat yang di tuju dengan nafas yang tak beraturan. Ia benar-benar takut akan so eun yang menjadi sandraan. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah tapi tak ada siapa-siapa disana. Kim bum tambah gelisah.

“so eun-ah……..so eun-ah……..!” teriaknya. Tapi tiba-tiba lehernya di hantam oleh sesuatu yang keras dari arah belakang, ia sempat menoleh ke belakang. Siapa yang melakukannya? Tapi ia keburu tak sadarkan diri. Karena semuanya menjadi gelap.

###

So eun sedang membantu yoona di butik. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada telpon masuk dari il woo.

“yoboseyo.” Jawab so eun.

“so eun-ssi ini gawat !”

“ada apa il woo-ssi?”

“kim bum.”

“ada apa dengan kim bum?” so eun jadi mulai panic.

“ada seseorang yang mengirim pesan kepada kami, bahwa kim bum sekarang sedang di Sandra.” Il woo tidak tahu jika so eun sudah tidak lagi menjadi bodyguard kim bum.

“mwo?” pekik so eun.

“lalu sekarang dia ada dimana?” Tanya so eun panic.

“kami sedang mencarinya. Kami mohon bantuanmu karena kau bodyguardnya. Orang itu memberitahu kami kalau kim bum bersama mereka di……….”

“aku…….”

“so eun-ssi tidak ada waktu lagi……maaf aku harus menutup telponnya.”

So eun masih shock. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kim bum?

###

Ruangan ini kecil, gelap dan berantakan. Kim bum baru sadarkan diri, setelah matanya terbuka ia tak mengenal tempat ini. Kim bum duduk di kursi kayu dengan tangan yang terikat. Ia menatap geram pria di hadapannya yang tengah menyeringai. Tatapannya seolah mengartikan ‘aku akan menghabisimu sekarang, kau sudah menyangkut pautkan so eun !’. Kim bum memerah, ia sudah mencoba bersabar dan menelan kembali bulat-bulat amarahnya. Lelaki menyebalkan yang ada di depannya tiba-tiba muncul lagi.

Kim bum mengatupkan mulutnya, mencoba agar suaranya tak membuncah begitu saja. Percuma jika ia berteriak dengan orang yang sama sekali sudah tidak punya urusan dengannya.

“sudah lama kita tidak bertemu.” sapa orang itu dengan sikap ramah yang dibuat-buat. Kim bum merasa mual di perutnya, rasanya ia ingin muntah di wajah orang itu. Kim bum tak menyahut. Ia hanya menatap tajam orang itu dan semakin mengeratkan rahangnya. Berusaha menahan emosi yang akan meluap dari dirinya.

“kenapa menatapku seperti itu? Tidak benar ! Seharusnya aku yang mesti menatapmu seperti itu kim sang bum.” ujar orang itu tersenyum sinis. Ia mengambil kursi lalu meletakannya di depan kim bum. Kemudian orang itu duduk berhadapan dengannya. Kim bum merasa jijik melihat orang itu yang tersenyum sinis. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain dengan otot-otot yang semakin menegang di sekujur tubuhnya. Jika tangannya tak terikat, mungkin kim bum sudah menghajar orang itu. Mungkin sampai masuk rumah sakit.

“kau…masih ingat kan dengan joo mi. Woo joo mi. Tidak mungkin kau lupa.” ujar orang itu yang kini berubah menjadi serius.

Kim bum memutar bola mata, menatap wajah muram orang itu saat menyebut nama joo mi. Kim bum tersenyum sinis.

“aku tidak menyangka. Ternyata orang-orang yang mengejar dan menghajarku selama ini adalah suruhanmu. Benar-benar menjijikan.” kim bum menatap tajam mata orang itu. Semakin mengeraskan rahangnya. Masih berusaha agar mulutnya tak berteriak.

“hahahaha” orang itu hanya tertawa seperti orang gila, lalu mendekatkan wajahnya pada kim bum. Kim bum semakin menguatkan rahangnya.

“Joo mi adalah kekasihku. Saat SMA. Tapi, tiba-tiba ia memutuskan hubungannya denganku.” ujar orang itu.

Kim bum menatapnya, dari matanya mengartikan seperti ia bertanya ‘lalu? Apa urusannya denganku?’.

Orang itu terlihat menghembuskan nafas, lalu kembali menyeringai.

“aku benar-benar mencintainya, bahkan sampai sekarang. Dan kau tahu? Apa alasannya joo mi memutuskan hubungannya denganku secara tiba-tiba?” tanya orang itu, padahal kim bum tidak tahu menahu sama sekali. Ia mengerutkan keningnya.

“karena dia tergila-gila padamu ! Padamu yang tampan, kaya, dan populer ! Hahaha itu membuatku gila !” teriak orang itu dan tertawa seperti orang yang habis mabuk.

Kim bum melototkan matanya. Tak terima mendapat bentakan dari orang semacam dia !

Kim bum ingat. Woo joo mi. Woo joo mi adalah seorang gadis lugu yang satu sekolah dengannya saat SMA. Sama dengan orang memuakkan yang ada di hadapannya.

“waktu itu dia memohon padaku karena ia bilang itu adalah permintaan terakhinya. Aku tidak mengerti apa maksudnya permintaan terakhir itu. Tapi ia memohon dan meminta padaku agar hubungan kita selesai. Ia bilang jika ia mengagumimu dan tergila-gila padamu. Mendengar permohonannya itu, tenggorokanku terasa tercekat dan oksigen yang ada di sekitarku seperti menipis. Aku tidak tahu apa yang harus ku katakan. Dia bilang jika aku ingin melihatnya bahagia, jadi mohon kabulkanlah permintaannya. Aku tahu ini memang bodoh, tapi karena aku sangat mencintainya aku pun merelakannya agar ia bisa mengejarmu. Walaupun nyawaku terasa di cabut oleh malaikat pencabut nyawa tapi yang aku pikirkan adalah bagaimana agar bisa membuatnya bahagia. Hanya itu saja. Dan akhirnya hubungan kami yang hampir berjalan 6 bulan pun berakhir. Saat itu ia mulai mendekatimu, berusaha akrab denganmu, berusaha membuatmu melirik padanya. Mencoba untuk menarik perhatianmu agar tertarik padanya. Tapi apa sikapmu padanya? Kau bagaikan pangeran es yang sulit untuk meleleh. Bahkan sampai bersikap kasar padanya. Aku berjanji tidak akan memaafkan siapa pun yang telah menyakiti hati joo mi, termasuk diriku sendiri. Mendapat perlakuan dingin dan kasar darimu ia menangis. Suatu hari ia sakit dan di rawat di rumah sakit. Aku benar-benar khawatir dan pergi menjenguknya. Apa yang aku dengar? Ternyata selama ini aku baru tahu jika joo mi mengidap penyakit leukimia. Bahkan sudah stadium akhir. Sisa hidupnya hanya beberapa minggu lagi. Aku benar-benar pria yang tidak becus, merasa diriku tidak berguna. Aku sempat depresi memikirkannya saat kondisinya semakin memburuk. Suatu hari ia ingin berbicara denganku. Ia minta sebagai permintaan terakhirnya untuk memberitahumu jika ia benar-benar ingin bertemu denganmu, ia ingin kau menjenguknya. Walaupun hatiku rasanya seperti tersayat ribun silet, tapi aku menyanggupi. Untuk terakhir kalinya aku ingin melihatnya bahagia. Sampai aku terus memaksamu untuk ikut denganku menjenguk joo mi. Sudah beberapa usaha yang aku lakukan tapi tanggapanmu sama-sama saja. Dingin dan tak peduli. Kau seperti manusia yang tak memiliki hati. Aku marah, tapi percuma. Sampai akhirnya joo mi meninggal dan aku tak bisa mengabulkan permintaan terakhirnya. Mulai saat itu aku sangat terpukul, aku tidak bisa berhenti menangis. Dan rasa benci mulai menghampiriku. Rasa benci padamu. Semakin hari semakin bertambah dan tak pernah berkurang. Aku benar-benar membencimu ! Membencimu kim sang bum !” cerita orang itu, ia tidak berteriak sama sekali tapi wajahnya muram dan tatapan benci menyelimuti dirinya pada kim bum.

Selama ini kim bum tidak menyangka jika ternyata ceritanya begini, benar-benar menyedihkan dan juga mengharukan. Ada rasa bersalah padanya walaupun sedikit. Ia tidak tahu jika masalahnya akan seperti ini. Sekarang ia menjadi iba pada lelaki di hadapannya.

—————

So eun berlari kesana-kemari. Terus mencari sosok kim bum setelah sampai di tempat yang il woo maksud, nafasnya sudah habis karena terus berlari. So eun berhenti dan memegangi lututnya, ia menarik nafas berkali-kali.

“kim bum-ssi ! kim bum-ssi !” teriaknya.

Tapi ia tak melihat siapa-siapa. Tapi pandanganya berhenti di sebuah bangunan kecil di dekat sana.

“kim bum-ssi………” teriaknya lagi lalu mencoba berlari menuju bangunan itu.

—————

“alasan kau balas dendam padaku karena itu?” tanya kim bum.

Orang itu tersenyum sinis dengan arti ‘kau masih bertanya?’

Orang itu menghembuskan nafasnya berkali-kali dan mengepalkan ke dua tangannya erat-erat.

“lepaskan ikatannya ! Aku ingin menghabisinya sekarang juga dengan tanganku sendiri !” perintah orang itu pada dua pria yang sedari tadi hanya berdiri di antara mereka. Kedua pria itu menurut tanpa banyak bicara dan langsung melepaskan tali yang mengikat kuat tangan kim bum. Belum apa-apa, orang itu sudah melayangkan tinjuan ke wajah kim bum hingga tersungkur ke lantai dan kursi tersebut sedikit terpental. Kim bum tahu tak lama ia akan segera di habisi. Kim bum memegangi wajahnya yang terasa nyut-nyutan. Orang itu berjongkok lalu menarik kerah baju kim bum hingga ia ikut berdiri. Orang itu kembali meninju kim bum tepat di muka tanpa melepas cengkramannya, ia tak mau memberikan celah sedikitpun untuk kim bum membalas. Entah kenapa kim bum hanya pasrah, ia tidak bisa membalas sedikit pun.

Nafas orang itu semakin membara, wajah kim bum sudah memar dan sedikit terluka. Kim bum meringis menahan sakit.

“aku akan membuatmu tersiksa ! Aku akan membuatmu mati dengan tanganku ! Ingat itu !” orang itu berteriak dan hendak melayangkan kembali tinjuannya. Tapi kim bum dengan cepat menepisnya.

“pikirkan perkataanmu ! Sebelum kau menyesal ! Aku yakin joo mi tidak akan senang melihatmu seperti ini.” ujar kim bum setenang mungkin.

Mata orang itu melotot seperti ingin keluar.

“apa?! Baru kau berbicara begini setelah ia meninggal? Aku tidak akan melepaskanmu. Mati di tanganku kau sekarang juga !!!” teriak orang itu sampai urat-urat di lehernya seperti akan putus. Orang itu semakin menghajar kim bum habis-habisan, sampai kim bum tersungkur dan terkapar di lantai. Anehnya, kim bum tak bisa berbuat apa-apa. Kini kondisinya buruk. Wajahnya benar-benar memprihatinkan. Darah keluar dari mulut dan hidungnya, pelipisnya juga sedikit sobek. Entahlah apa jadinya dia disaat orang itu sekarang masih menghajarnya seperti kerasukan setan. Kim bum merasa di sekelilingnya berputar-putar, sepertinya ia benar-benar akan mati di tangan orang ini.

“sudahlah bos, lebih baik hentikan !” pinta salah satu pria yang ada disana berusaha mencegah tangan orang itu yang hendak memukul perut kim bum.

“diam kau ! Diam !” bentaknya. Pria itu pun hanya bisa mengalah dan menghindar.

“bos nanti kau akan masuk penjara.” ujar pria yang satunya lagi.

Sejenak orang itu berhenti memukul kim bum dengan nafas yang tersengal-sengal penuh emosi.

“aku di penjara, dia mati pun tidak akan bisa membayar kematian joo mi.” ujarnya depresi.

Tiba-tiba ia berteriak “arghhh . . . . . . !!!” dan berdiri.

Kim bum sendiri terlihat meringis kesakitan, tubuhnya terasa remuk. Orang itu berjalan entah kemana, kim bum berfikir orang itu tidak akan membunuhnya. Tapi sesaat kemudian, orang itu kembali dengan tongkat baseball di tangannya. Ia maju dan berdiri tak jauh dari kim bum yang masih tersuruk di lantai dengan wajah penuh darah.

Orang itu terlihat mengangkat tongkatnya.

“sekarang juga ! Kau akan mati !” teriak orang itu dan siap melayangkan tongkatnya pada kim bum.

Tiba-tiba ‘brak’ terdengar suara pintu terbuka, suara seseorang yang berlari mendekat, dan ‘bug !!!’ tongkat baseball yang di layangkan ke kepala kim bum menghantam punggung seseorang dengan keras. Suaranya begitu kasar dan menyakitkan. Pukulannya yang benar-benar kuat membuat orang itu terhenyak dan jatuh ke pelukan kim bum. Kim bum merasa jantungnya berhenti berdetak, setelah melihat siapa orang yang mendapat hantaman di punggungnya. Kim bum memelototkan matanya.

“s…so eun !” teriaknya panik bercampur khawatir. Kim bum menangkap tubuh so eun dengan tangannya. So eun memang sudah terjatuh di atasnya, di dekapannya. So eun terlihat susah payah membuka mulutnya.

“bum-ssi . . . .g, gwaenchana? M, mianhae.” ucap so eun dengan sangat susah payah. Kim bum bisa merasakan betapa sakitnya hantaman itu, ia tidak bisa membayangkan bagaimana so eun menahan rasa sakit itu. Kim bum semakin erat memeluk so eun lalu mencengkram bahunya.

“kenapa kau datang ke sini !” teriak kim bum, namun bukan teriakan marah. Tapi teriakan cemas, khawatir, yang campur aduk menjadi satu. So eun tak berkata apa-apa lagi.

“bertahanlah.” bisik kim bum. Lalu ia menatap tajam ke arah orang itu yang sudah menjatuhkan tongkatnya. Terlihat raut wajah menyesal. Kim bum tak lagi bisa menahan amarahnya setelah melihat apa yang terjadi pada so eun. Ia menatap tajam orang itu, sangat tajam dengan mata yang berkilat-kilat seolah mengartikan ‘kau akan tahu akibatnya jika menyakiti wanita ini’.

Perlahan kim bum duduk dan berdiri. Rasa sakit di sekujur tubuhnya digantikan dengan amarah yang meluap-luap.

“KAU ! Kim Jong Woon !!!!” teriak kim bum sampai urat-uratnya menegang. (aduh bingung mau pakai nama siapa, yaudah deh pinjem nama abang kesayangan. Maaf ye bang ngeksis dikit#ish ganggu… lanjut yuk!)

Dengan emosi yang menggebu-gebu kim bum menghajar orang yang bernama jong woon itu tanpa ampun. Ia tidak akan tinggal diam setelah apa yang dilakukan jong woon pada so eun.

Jong woon tersungkur di lantai dan wajahnya sudah membiru.

“ARGHHH . . . . . . . . !” tenaga kim bum sudah terkuras dan ini tinjuan yang paling keras. Kedua pria suruhan jong woon langsung menghentikan kim bum dan melindungi jong woon. Kim bum memang tidak ada niat memukul orang itu sampai mati. Tapi, ini saja mungkin sudah cukup. Ia mengatur nafasnya, antara mengatur emosi dan juga lelah. Ke dua pria itu langsung membawa jong woon pergi. Seketika itu juga kim bum langsung menghambur ke arah so eun dan mengangkat tubuhnya ala bridal style dengan hati-hati. Kim bum juga berusaha menahan sakit di sekujur tubuhnya.

“so eun-ah bertahanlah !” ujar kim bum lalu segera berjalan sekuat tenaga membawa so eun keluar dari ruangan gelap dan berantakan itu.

TBC

BABY FACED BODYGUARD PART 15

BABY FACED BODYGUARD PART 15

 

AUTHOR: RESI R

MAIN CAST: KIM SANG BEOM DAN KIM SO EUN.

OTHER CAST: KIM YOONA, LEE SEUNG GI, JUNG IL WOO, JUNG SO MIN, KIM SOO HYUN, BAEK SUZY.

GENRE: IDK (?)

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

 

PART 15

 

kim soo hyun menghentikan langkahnya begitu mendengar suara seorang wanita yang tengah menangis. Ia celingak celinguk ke sekelilingnya dan mendapati seorang wanita tengah duduk di bangku pinggir jalan.

Soo hyun menyipitkan matanya lalu mengahampirinya setelah ia mengenal orang itu.

“aku kira aku mendengar suara hantu. Ternyata kau sedang menangis” Ujar soo hyun duduk di samping suzy.

“huaaaaaaa diam kau !” bentak suzy, soo hyun sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang. Tangis suzy semakin keras.

“ah….aku tidak menyangka. Wanita popular di kampus jika menangis seperti ini.” ledek soo hyun.

“ya….apa kau tak bisa diam?” bentak suzy.

“heh…..” soo hyun hanya menghela nafas dan diam disana menunggu suzy hingga berhenti menangis. Ketika tangis suzy mulai mereda, soo hyun pun mengeluarkan suaranya.

“kenapa kau menangis?” tanyanya.

“hiks….kim bum…” jawab suzy.

“kim bum?”

“ne ! dia mempermainkanku !” jawab suzy.

“maksudmu?” tanya soo hyun.

“ternyata dia hanya pura-pura mengajakku kencan, bukan kencan sungguhan. Dia sudah mempermainkanku ! aku sakit sekali…….! Dia jahat padaku…!” cerita suzy.

“mengajakmu kencan?” ulang soo hyun tak percaya.

Suzy mengangguk.

###

 

Keesokan harinya

Kim bum, il woo, seung gi, dan soo hyun sedang berada di markas mereka. Tapi mereka begitu diam. Terlebih kim bum dan il woo.

“beom-ah apakah lagumu itu sudah selesai?” tanya seung gi.

“belum.” Jawab kim bum tanpa minat. Seung gi hanya mengangguk.

“beom-ah…” panggil soo hyun. Kim bum menoleh ke arahnya.

“benar kau mengajak suzy berkencan?” tanya soo hyun yang membuat kim bum melotot.

“darimana kau tahu?” tanya kim bum.

“suzy yang cerita padaku karena dia menangis.” Ujar soo hyun.

Kim bum hanya diam, itu adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan. Mengajak wanita yang benar-benar tak disukainya untuk berkencan.

“apa yang kau lakukan hingga suzy menangis sampai wajahnya menyeramkan begitu?” tanya soo hyun.

“aku hanya main-main saja. Aku tak mengajaknya kencan sungguhan.” Jawab kim bum santai.

“lalu?” tanya soo hyun.

Kim bum tak menjawab, ia malah menatap il woo dingin seakan jawabannya itu tersirat dari tatapannya pada il woo dan berharap il woo mengerti. Menyadari tatapan kim bum seperti itu il woo teringat kejadian ketika di parkiran.

“setelah apa yang kalian lakukan kemarin? Kau pikir aku tidak apa-apa?”

Il woo tambah bingung, apa mungkin ini ada hubungannya dengan so eun? Kim bum mengajak suzy kencan hanya pura-pura dan apakah itu karena so eun? Apa mungkin kim bum….melihatnya saat dirinya memeluk so eun? Beberapa pertanyaan muncul di kepala il woo.

“ah tidak penting juga aku tahu.” Ujar soo hyun. Kim bum mengalihkan tatapannya dari il woo.

Soo hyun menyadari dari tadi seung gi tak ikut bicara, setelah dilihat ternyata seung gi sedang melamun.

“seung gi-ya….apa yang sedang kau pikirkan?” tanya soo hyun.

Sontak pikiran seung gi berkumpul, dan ia tersadar dari lamunannnya.

“oh….” Ujar seung gi.

“apa yang sedang kau lamunkan?” tanya soo hyun.

Seung gi terlihat menghela nafas.

“apakah aku tidak salah?” tanyanya.

“mwo?” tanya soo hyun.

“menyukai seseorang yang lebih tua dariku?” tanyanya.

“apa? Apakah benar?” kaget soo hyun.

Kim bum menatap seung gi. Dirinya pikir hanya ia saja yang menyukai wanita berumur lebih tua darinya.

Il woo menatap seung gi lalu beralih menatap kim bum.

“aku rasa begitu…tapi aku masih bingung. Aku mendadak tidak suka berkencan dengan banyak wanita lagi setelah bertemmu dengannya. Dan perasaanku berbeda saat bertemu dengannya” Jelas seung gi.

“woooahh…seorang playboy bisa jatuh cinta sungguhan ternyata” balas soo hyun sambil geleng-geleng.

Merasa yang seung gi rasakan saat ini sama dengannya, dan tak mau ketahuan kim bum pun beranjak dari duduknya dan pergi keluar.

Melihat hal itu il woo segera menyusulnya. Ada sesuatu yang harus ia bicarakan dengan kim bum.

“mau kemana mereka?” tanya seung gi.

Soo hyun hanya mengangkat bahu.

————–

 

“beom-ah kita harus bicara” ujar il woo.

“apa yang ingin kau bicarakan?” tanya kim bum dingin.

“penyebab kenapa kau jadi seperti ini.” ujar il woo. Kim bum menatapnya.

 

Kafe

“aku sudah mengerti kenapa kau bilang seperti itu padaku.” ujar il woo.

“katakan saja! aku tidak ingin bertele-tele.” Pinta kim bum.

Il woo menghela nafas. “apa kau sudah tahu?” tanya il woo.

“mwo?” tanya kim bum.

“tentang so eun.” Jawab il woo. Tatapan kim bum semakin dingin setelah il woo menyebut nama so eun.

“apa kau melihatku saat aku memeluk so eun waktu itu?” tanya il woo.

Kim bum mengatupkan mulutnya menahan marah.

“kau sudah tidak pura-pura lupa lagi rupanya.” Ujar kim bum sinis.

“kejadian sebenarnya bukan seperti itu.” Ujar il woo.

“benarkah? Setelah aku melihatnya sendiri?” balas kim bum.

“dengarkan aku…kau harus tahu.” Ujar il woo.

“ya aku sudah tahu kalau kau memeluknya dan kau menyukainya.” Jawab kim bum tanpa diminta.

“aniyo…bukan itu maksudku.” Balas il woo.

Kim bum hanya mendesah.

“aku memeluknya karena aku ingin menenangkannya saat sedang sedih.” Ujar il woo.

“sedih?” batin kim bum.

“dia sedang menangis waktu itu, dan aku pikir aku harus  menenangkannya. Jadi jangan salah paham lebih dulu” Lanjut il woo.

“kenapa dia menangis?” tanya kim bum sambil menatap il woo.

“rupanya dia hanya cerita padaku.” ujar il woo pelan.

“cepat katakan ! kenapa dia menangis !” desak kim bum tak sabaran.

“baiklah….hari itu adalah hari peringatan kematian ibunya yang ke-4.” Ujar il woo.

‘deg’ kenapa aku sampai tidak tahu? Batin kim bum.

“saat kematian ibunya yang ke-4. So eun dan kakak perempuannya harus membaca surat yang di tulis oleh almarhum ibunya sesuai keinginannya. Dan isi surat itu sangat di luar dugaan mereka. So eun bukanlah anak kandung ibunya, dan dia bukan adik kandung kakanya. Mereka hanya saudara tiri. So eun hanyalah anak ayahnya yang menikah dengan ibu kakaknya.” Jelas il woo.

Kim bum terdiam mendengar kata-kata il woo.

“benarkah?” tanyanya.

Il woo mengangguk. “ibu kandung so eun meninggal sesaat sesudah melahirkannya, dan ayahnya menikah dengan ibu kakak tirinya saat ia berusia satu tahun dan kakak tirinya berusia 5 tahun. Tapi ternyata ayah so eun meninggal saat perang antara korea selatan dan korea utara memperebutkan sengketa tanah kekuasaan. Ayah so eun adalah seorang tentara. Sementara ibu tirinya meninggal karena penyakit yang ia derita.” Lanjut il woo.

Kim bum benar-benar tidak bisa berbicara, ternyata ia sudah salam paham. Sangat.

“mengetahui itu dari surat yang ibunya tulis, so eun sangat sedih dan merasa terpukul. Jadinya ia menangis sendirian di taman sampai aku tak sengaja melihatnya dan memeluknya. Mungkin kau melihat dalam waktu yang tidak tepat, saat aku memeluknya. Percayalah padaku. so eun saja bahkan tak membalas pelukanku.” Ujar il woo.

“jadi….itu sebabnya kenapa so eun menangis dan kau memeluknya?”

Il woo mengangguk.

“aku sudah salah paham ternyata.” Kim bum menundukkan wajahnya. “mianhae il woo-ssi aku sudah bersikap begini padamu. Aku baru tahu sekarang.” Sesalnya.

“gwaenchana.” Balas il woo sambil tersenyum.

“dan hal yang konyol adalah…..kenapa kau sampai pura-pura mengajak suzy berkencan karena hanya untuk membuat so eun melirikmu.” Il woo tertawa seketika.

“ah sudah, aku menyesal melakukannya.” Ujar kim bum.

“sebaiknya kau bicara baik-baik padanya.” Nasehat il woo.

“akan aku lakukan.” Balas kim bum. “tapi….apa kau tidak menyukai so eun?” tanya kim bum.

Il woo tersenyum. “aku menyukainya.” Jawab il woo.

Mata kim bum langsung melotot mendengar pengakuan il woo.

“tapi…aku tidak pantas untuknya karena aku tahu so eun sama sekali tak melirikku…mungkin dia lebih  melirikmu.” Ujar il woo.

“mmmm kau benar.” Kim bum angguk-angguk kepala.

“lagipula, aku tidak pantas untuknya, karena aku tahu kau yang akan mendapatkannya.” Lanjut il woo.

Kim bum tersenyum, ia sudah tak menyimpan marah lagi pada il woo.

“tapi….ini sungguh aneh…..aku menyukai wanita yang jelas-jelas lebih tua dariku….” Kim bum tertawa kecil.

Il woo terdiam mendengarnya. Masih ada sesuatu yang belum kim bum ketahui.

###

 

Kim bum langsung masuk ke kamar so eun. Tapi so eun tidak ada, tak lama pintu kamar terbuka dan masuklah so eun setelah kim bum.

“kim bum-ssi…apa yang kau lakukan di……” so eun membulatkan matanya saat kim bum langsung memeluknya.

“maafkan aku.” Ujar kim bum mempererat pelukannya di tubuh mungil so eun.

“maaf, aku sudah salah paham.” Lanjut kim bum.

So eun masih diam, terlalu kaget mendapati kim bum yang tiba-tiba memeluknya dan sikapnya berubah lagi.

“ada apa denganmu?” tanya so eun. Kim bum melepaskan pelukannya dan memegang pundak so eun dengan kedua tangannya.

“kenapa kau tidak menceritakannya padaku?” tanya kim bum.

So eun menyernyit bingung. “menceritakan apa?” tanya balik so eun.

“ah sudahlah, aku tidak ingin membuatmu sedih lagi. Lagi pula aku sudah tahu sekarang.” Ujar kim bum.

So eun masih menatap bingung. Kim  bum tersenyum. “aku akan membuatmu senang hari ini.” ujar kim bum.

So eun semakin tak mengerti. Lalu kim bum sedikit mendekatkan wajahnya ke arah so eun dan menatap matanya sungguh-sungguh.

“kita KENCAN sekarang !” ucap kim bum sambil tersenyum.

So eun melototkan matanya. Kim bum menjauhkan wajahnya dan melepaskan tangannya dari pundak so eun.

“tidak usah kaget begitu. Cepatlah ganti dengan baju yang cocok untukmu. Dan jangan lupa untuk menggerai rambutmu !” pinta kim bum.

So eun masih bingung, ia diam di tempat.

“aku akan menunggumu.” Ujar kim bum lalu keluar dari kamar so eun sambil tersenyum gaje.

###

So eun sudah keluar dari kamarnya dan segera menghampiri kim bum dengan kikuk. Kim bum tampak tersenyum.

“cantik. Aku suka.” Bisik kim bum di telinga so eun dan membuat so eun merinding.

“yasudah, kajja !” kim bum menggenggam tangan so eun menuju mobilnya. So eun hanya tersenyum simpul.

“kita mau kemana?” tanya so eun setelah kim bum menjalankan mobilnya.

“menurutmu?” tanya balik kim bum.

“mana aku tahu. Mungkin ke lotte world.” Jawab so eun karena kemarin saat kim bum berkencan dengan suzy mereka pergi ke tempat itu.

“ya…! Aku benar-benar ingin berkencan denganmu. Yang kemarin hanya kencan pura-pura.” Sewot kim bum.

“mwo? Kencan pura-pura?” kaget so eun.

Kim bum mengangguk. “dan ini adalah kencan sungguhan….kau mengerti?”tanya kim bum.

“yasudahlah, terserah kau saja.” Pasrah so eun. Kim bum hanya tersenyum.

Perjalanan sudah memakan waktu lebi dari 2 jam, tapi so eun sama sekali belum tahu kemana tujuan mereka sebenarnya.

“beoam-ah….sebenarnya kita ingin kemana?” tanya so eun.

“ke pantai.” Jawab kim bum santai.

“mwo? Aku tidak membawa perlengkapan apa-apa.” Kaget so eun.

“tenang saja, disana ada vila milik ayahku.” Ujar kim bum. So eun hanya angguk-angguk.

Kurang lebih memakan waktu 3 jam, akhirnya mereka pun sampai di pantai yang kim bum maksud. So eun tampak terpesona melihat pantai yang indah ini. so eun membuka kaca mobilnya dan melihat pemandangan ini dari balik mobil.

Kim bum yang merasa so eun terpesona tersenyum simpul lalu keluar dari mobilnya. Kim bum memutar arah dan berdiri di samping pintu mobil dekat so eun. So eun masih tampak takjub melihatnya. Kim bum membungkukkan badannya dan memasukkan setengah badannya ke dalam mobil melalui kaca pintu mobil yang terbuka lebar itu. So eun kaget Karena wajah kim bum berhenti tepat di depan wajahnya.

Kim bum tersenyum lalu mendaratkan ciuman di bibir so eun. Smile kiss !. so eun melototkan matanya saat bibir kim bum menyentuh bibirnya. Kim bum melakukannya lagi secara tiba-tiba. Tapi so eun ikut tersenyum.

“apa mau terus di dalam mobil? Ayo keluar !” ajak kim bum setelah melepaskan ciumannya. So eun masih tampak kaget. Kim bum pun mengeluarkan setengah tubuhnya dari dalam mobil dan membukakakn pintunya untuk so eun. So eun manatap kim bum.

“kajja…..!” kim bum menarik tangan so eun untuk keluar.

“bagaimana? Kau suka?” tanya kim bum.

“suka sekali. Sudah lama aku tidak ke pantai.” Jawab so eun.

“baguslah kalau begitu.” Balas kim bum. Kim bum menarik tangan so eun lalu menautkan jarinya di jari mungil so eun. So eun agak kaget, tapi kim bum malah tersenyum padanya. So eun pun hanya bisa membalas senyumnya. Mereka berjalan di sekitar pantai dengan ombak yang berdesir itu sambil berpegangan tangan.

“oh ya…dimana jam tangan itu?” tanya so eun.

“sudah rusak karena aku banting.” Jawab kim bum santai.

“MWOOO?!! Ya apa yang kau lakukan? Itu milik orang lain” pekik so eun.

“waeyo? Lagi pula jam tangan itu sudah sampai pada pemiliknya.” Ujar kim bum santai.

“ne?” tanya so eun.

“ahhh…” kim bum mendesah.

“apa otakmu begitu lamban ya?” tanya kim bum sedikit meremehkan.

“maksudmu?” tanya so eun.

“begini……” kim bum langsung memeluk so eun seperti yang ia lakukan ketika pertama kali memeluk so eun waktu itu. Di saat ia di kejar-kejar oleh para manusia gila.

So eun terdiam, pelukan ini memutar otaknya kembali pada kejadian waktu itu.

“bagaimana? kau sudah ingat?” tanya kim bum melepas pelukannya.

So eun tak berkedip, otaknya begitu sulit untuk mencernanya dengan cepat. Melihat so eun yang belum bereaksi apa-apa kim bum jadi kesal.

“masih tidak ingat?” tanya kim bum. “aishhh…apa aku harus mengulang ke kejadian waktu itu? Disaat aku di kejar-kejar orang tak waras yang ingin menghajarku lalu aku melihatmu berjalan sendirian lalu tanpa pikir panjang aku…….” Jelas kim bum.

“jadi….” Potong so eun. “jadi…..kau orangnya?” tanya so eun tak percaya.

Kim bum langsung tersenyum. “ne.” jawabnya pasti.

“kenapa….kenapa kebetulan seperti ini.” ujar so eun yang masih tak percaya.

“bukan kebetukan, tapi takdir.” Sanggah kim bum.

“sudahlah jangan dipikirkan lagi, yang penting kau sudah tahu. Kajja kita lanjutkan kencan kita.” Kim bum kembali menggenggam tangan so eun.

So eun memandangi wajah kim bum yang berseri-seri seperti itu lalu ia pun tersenyum simpul.

###

 

Il woo baru saja keluar dari toko music. Tapi tiba-tiba dari arah lain ada seseorang yang menabraknya.

“ah jwiesonghamnida…” ujar wanita itu seraya berjongkok mengambil 2 buah kantong plastic yang terjatuh.

Il woo memerhatikan gerak gerik wanita itu.

“jwiesongham…..” orang itu berhenti bicara setelah mengangkat wajahnya.

“so min-ssi?” ujar il woo.

“o..oo…il woo-ssi.” Kaget so min.

————–

 

Café

Keheningan terjadi di antara mereka. Tapi il woo rasa, terus diam tidak baik. Jadinya ia yang memulai pembicaraan.

“apa kau sudah mempunyai….kekasih?” tanya il woo.

So min buru-buru memiunum jus jeruknya lalu menggeleng. “aniyo.” Jawabnya pelan.

Il woo menatapnya. “jadi apa kau sudah menyukai orang lain?” tanya il woo lagi.

“aniyo….”jawabnya gugup.

Il woo mengambil nafas sejenak.

“kau sudah tidak menyukaiku?” tanya il woo ‘lagi’

“aniyo…” jawab so min, lalu tiba-tiba merutuki dirinya sendiri karena sudah salah jawab.

“jadi, kau masih menyukaiku?” tanya il woo.

“i…itu….” Jawab so min gugup. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

“so min-ssi….” Panggil il woo.

So min memberanikan diri menatap il woo.

“biarkan aku mencoba untuk menyukaimu.” Ujar il woo yang membuat detak jantung so min berantakan.

“ne?” kaget so min.

###

 

Kim bum dan so eun menaiki sebuah kapal kecil. Hanya ada mereka berdua disana. Duduk bersampingan sambil melihat indahnya pemandangan bawah laut dari atas.

“apakah ini cukup romantis?” tanya kim bum.

“ne?” tanya balik so eun.

“romantis tidak?” tanya kim bum.

“tidak.” Jawab so eun, berusaha membuat kim bum kesal.

“aishhh……kau ini…” ujar kim bum.

“aniyo…aku menyukainya….” Ujar so eun cepat.

“bagus kalau begitu, aku jadi tidak sia-sia.” Ujar kim bum.

“tidak sia-sia bagaimana?” tanya so eun.

“tidak sia-sia mengajakmu berkencan.” Jawab kim bum.

So eun hanya tersenyum.

“ada yang ingin aku tanyakan.” Ujar kim bum.

“tanyakan saja.” Balas so eun.

“apa kau menyukaiku?” tanya kim bum.

So eun mengerutkan keningnya dan memiringkan kepalanya menatap kim bum. “nan molla.’ Jawabnya.

“ya ! hanya jawab ya atau tidak saja ! jangan membuatku bingung.” Desak kim bum.

So eun menmanyunkan bibirnya dan mencibir.

“kau ingin tahu?” tanya so eun.

“tentu saja.” Balas kim bum.

“kau cari tahu saja sendiri.” Jawab so eun sambil tersenyum jahil.

“kau…aiishh meniru kata-kataku rupanya !” kesal kim bum lalu menyentil dahi so eun, tapi so eun terus berusaha menghindar.

“ya…beom-ssi….hentikan ! perahunya bergoyang ! aku tidak ingin tercebur ke laut.” Mohon so eun.

“shireo…! Sebelum kau memberikannya disini” tolak kim bum seraya menunjuk bibirnya sambil tersenyum.

“mwo? Aniya aniya…kau berciuman saja dengan ikan !” suruh so eun.

“baiklah….tidak perlu repot-repot karena ikannya ada di depanku.” Kim bum tersenyum jahil.ia langsung menahan tangan so eun yang dari tadi memukul-mukul bahunya.

“jika kau melakukannya akan aku hajar kau sampai tercebur ke laut !” ancam so eun.

Kim bum langsung melepaskan tangannya. “mengerikan sekali !” kim bum brigidik tapi so eun hanya mendelik. Seolah tak ingin kalah kim bum pun malah menarik kepala so eun agar di sandarkan di bahunya.

“lihat saja nanti, siapa yang akan menang.” Ujar kim bum.

“iishhh.” So eun malah berdesis.

###

 

“hey tidak menangis lagi?” teriak soo hyun yang melihat suzy sedang berjalan sendirian.

Suzy menoleh ke sumber suara, dilihatnya soo hyun menghampiri.

“kau mengikutiku?” dakwa suzy.

Soo hyun tidak mengindahkan pertanyaan suzy.

“kau tidak menangis lagi?” tanya soo hyun.

“kenapa kau bertanya aku menangis atau tidak? Apa kau senang melihatku menangis?” tanya suzy.

“aniyo….” Jawab soo hyun.

“sudahlah jangan mengikutiku….aku ingin ke salon untuk menenangkan diri.” Ujar suzy mempercepat langkahnya, tapi soo hyun malah masih mengikutinya.

“seharusnya kau mencari pria lain saja ! belum tentu jika ka uterus mengejar-ngejar kim bum, ia akan jatuh hati padamu.” Ujar soo hyun.

Suzy menghentikan langkahnya.

“aku sudah terlanjur sakit hati….asal kau tahu aku sudah tidak berharap banyak lagi dari kim bum setelah dia mempermainkanku.’ Jawab suzy ketus.

“benarkah?” tanya soo hyun.

“ne…lagi pula masih banyak pria yang lebih popular dari kim bum.” Ujar suzy.

“aku juga popular.” Balas soo hyun.

Suzy hanya mendelik dan kembali melangkah, sementara soo hyun hanya diam di tempat.

“ya….apa kau ingin memberiku kesempatan agar kau tertarik padaku?” teriak soo hyun yang membuat langkah suzy kembali terhenti. Ia membalikan badannya menghadap soo hyun.

“apa yang kau katakana?” kaget suzy.

###

 

Hari sudah menjelang sore. Perahu yang mereka naiki sudah mendarat di bibir pantai. Kim bum segera turun lebih dulu. Lalu berdiri membelakangi so eun.

“ayo…naiklah !” suruh kim bum seraya menepuk-nepuk punggunggnya.

So eun hanya diam, bingung apa yang ingin kim bum lakukan. Kim bum memutar kepala lalu menatap so eun. “cepat naik ke punggungku !” suruh kim bum.

“apa kau yakin? Tubuhku tidak ringan” tanya so eun.

“kau ini….kau sudah lupa dengan apa yang aku katakan? Lakukan saja apa yang aku mau. Jadi ayo naik !” paksa kim bum tak sabaran. Dengan ragu so eun pun mulai merangkulkan lengannya di leher kim bum dan naik ke punggung kim bum. Pada akhirnya kim bum pun menggeondong so eun di punggungnya. Ia mulai berjalalan, air laut yang menyibak pasir terasa geli di kaki kim bum.

“tidak berat?” tanya so eun.

“aniyo.” Jawab kim bum. So eun hanya tersenyum walau kim bum tak mengetahuinya. So eun pun semakin mengeratkan pelukan lengannya di leher kim bum. Merasa hal itu, kim bum tersenyum senang.

“kita mau kemana sekarang?” tanya so eun.

“ke vila.” Jawab kim bum.

“mmm padahal aku belum ingin kesana.” Ujar so eun.

“kau tidak merasa lelah?” tanya kim bum.

So eun menggeleng. “aku ingin bersenang-senang lebih lama lagi denganmu.” Ujar so eun.

Kim bum tersenyum, lalu ia mengambil aba-aba untuk berlari.

1 2 3

Kim bum pun berlari di sekitar pantai masih menggendong so eun. Mereka terlihat tertawa bersama.

 

THE END

Eh gak deng saya bercanda hahaha, yuk lanjut #plakkk (ganggu aja haha)

 

“ya bum-ssi hentikan !” teriak so eun.

“shireo !” tolak kim bum.

“bagaimana kalau terjatuh hah?” teriak so eun panic karena kim bum semakin memerkencang larinya menuju arah air laut yang menyibak bibir pantai.

“shireo, jika aku terus menambah kecepatan lariku, jadi kau akan semakin memelukku dengan erat.” Balas kim bum malah memainkan air laut itu dengan kakinya.

“aiishh kau….” Sontak saja so eun melepaskan pelukannya dan memukul bahu kim bum dengan satu tangannya. Karena posisi so eun yang tidak benar, kim bum jadi tak bisa menjaga keseimbangan. Pada akhirnya mereka pun terjatuh. Baju mereka sama-sama basah. Tapi setelah itu tertawa bersama.

————-

 

Kim bum dan so eun sedang duduk berdua di sova panjang. Mereka sudah berada di dalam vila dengan pakaian yang sudah di ganti.

So eun menatap kim bum. “ada yang ingin aku tanyakan.” Ujar so eun.

“apa?” tanya kim bum.

“kenapa kemarin-kemarin sikapmu berubah menjadi dingin?” tanya so eun.

Mendengar pertanyaan so eun kim bum malas tersenyum. “tapi sekarang aku sudah tidak dingin lagi kan?” tanya kim bum.

“kenapa?” tanya so eun.

“aku sudah salah paham padamu dan il woo.” Jawab kim bum.

“waktu itu malam hari, aku khawatir karena kau tak juga pulang. Jadinya aku mencarimu. Tapi disaat aku sudah menemukanmu, aku malah melihat il woo tengah memelukmu. Aku kesal dan marah saat itu. Jadinya sikapku seperti itu.” Jelas kim bum.

“kenapa kau tidak menceritakannya padaku? Kenapa kau memendam rasa sedih sendirian?” tanya kim bum berubah serius.

So eun menunduk. “mianhae.” Ujar so eun. “waktu itu aku tidak tahu ada kau disana. Waktu itu aku benar-benar sedih.” Lanjutnya.

Kim bum langsung menarik so eun ke pelukannya, so eun kembali menangis.

“aku masih tidak percaya jika aku bukanlah adik kandung kakakku.” Tangis so eun.

Kim bum mengelus lembut punggung so eun. “gwaenchana…sudahlah jangan menangis lagi. Aku harus susah payah lagi membuatmu senang.” Ujar kim bum. So eun melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. Lalu ia tersenyum simpul.

“tidak sedih lagi?” tanya kim bum.

“sedikit.” Jawab so eun.

“yasudah kajja, ada yang ingin aku tunjukan padamu.” Kim bum menarik tangan so eun menuju ruangan music yang ada di vila itu.

————-

 

“kau benar-benar cinta music ya?” ujar so eun takjub.

Kim bum mengangguk dan mengambil headphone disana. Ia memasang headphone itu di telinganya dan mulai memutar lagu dari ipod yang terhubung dengan headphone itu. Setelah sedikit mendengar lagu yang mengalun masuk ke telinganya kim bum tersenyum kea rah so eun yang tengah menatapnya.

“kau pasti akan suka lagu ini.” ujar kim bum lalu melepas headphonenya dan ia pasangkan di telinga so eun.

Kim bum tersenyum, sementara so eun mendengarkan dengan seksama sambil menggerak-gerakan kepalanya, menikmati music yang mengalun lembut itu.

“lagunya lembut sekali.” Ujar so eun.

“tapi aku belum pernah mendengarmu bernyanyi.” Ujar so eun menatap kim bum lalu melepas headphone nya.

“kau ingin dengar?” tanya kim bum.

“ne.” jawab so eun.

“shireo, suaraku ini sangat mahal.” Tolak kim bum.

“mwo? Kau ini pelit sekali.” Kesal so eun.

“nanti jika sudah saatnya, aku akan menyanyi untukmu.” Ujar kim bum.

 

Drrrrt drrrtt drtttt

So eun mendapati ponselnya bergetar, ternyata ada telpon masuk dari yoona. So eun pun menjauh dari kim bum dan keluar dari ruang music itu untuk mengangkat telponnya.

“so sun-ssi….”

“ne…eonni…”

“besok….besok adalah hari ulang tahun ayah.” Ujar yoona.

“ayahku.”

“ne, aku ingin kita bicara besok sambil merayakan ulang tahun ayah.”

“……….”

“so eun-ssi?”

“ne?”

“kau baik-baik saja?”

“ne.”

“walaupun ayah sudah meninggal, tapi kita harus tetap merayakan ulang tahunnya, itu adalah sebuah penghormatan.”

“arasseo. Apa eonni baik-baik saja?”

“sedikit. Yasudah kalau begitu besok aku tungggu di café biasa.”

“ne.”

Sambungan telpon pun terputus.

So eun menatap ponselnya lalu memasukannya lagi ke saku celana. Kenapa waktu begitu cepat, baru saja berselang 2 hari mengenang kematian ibunya, besok sudah hari ulang tahun ayahnya. So eun mendesah, ia berjalan ke arah teras vila dengan pintu besar yang terbuat dari kaca yang sudah terbuka. So eun ingin menghirup udara malam dan melihat indahnya pantai dari sana. Siapa tahu suasana hatinya bisa berubah. So eun berdiri sendiri memandang lautan dengan rambut yang berterbangan tertiup angin.

Kim bum yang melihat so eun sedang sendiri, ia jadi merasa khawatir setelah so eun mengangkat telponnnya yang entah ia tidak tahu dari siapa. Kim bum menghampirinya dan berdiri tepat di belakang so eun. Ia tahu berdiri disini cukup lama sangat dingin karena tiupan angin yang begitu kencang.

Kim bum mengangkat tangannya lalu ia merangkulkan lengannya di leher so eun, memberikan kehangatan. So eun terkejut mendapati kim bum yang sudah ada di belakangnya dan memeluk lehernya dengan tangan yang hangat.

“gwaenchana?” tanya kim bum.

So eun diam.

“disini dingin, ayo masuk !” ujar kim bum tapi ia sendiri tidak melepas rangkulan tangannya di leher so eun.

So eun mengangkat tangannya lalu memegang tangan kim bum. Ia sedikit memutar kepalanya untuk menatap kim bum. Tatapan mereka bertemu. Kim bum mendekatkan wajahnya masih dengan lengan yang memeluk leher so eun. So eun hanya bisa memejamkan matanya. Kim bum mencium bibir so eun dengan lembut. So eun mengeratkan pegangan tangannya di lengan kim bum saat kim bum menciumnya semakin dalam dan saat kim bum semakin memeluknya erat. So eun sedikit membuka matanya, dan melihat kim bum memejamkan matanya saat menciumnya. Terlihat begitu tulus. So eun pun kembali memejamkan matanya dan mulai membalas ciuman kim bum. Memberikan kehangatan masing-masing (asik bgt ya kalo bayangin bumsso kisseu#plaaak yadong kumat…ckckck)

###

 

Kim bum tampak ragu untuk mengetuk pintu kamar so eun. Mendadak ia jadi deg-degan begini. Saat ia hendak mengetuk. Sudah ada yang membuka pintu duluan.

“kim beom-ssi.” Kaget so eun.

“so eun-ssi kau mau kemana?” tanya kim bum begitu melihat penampilan so eun yang rapi.

“aku ada urusan sebentar, tidak apa-apa kan?” pinta so eun.

“ooh…aku hanya ingin memberikan ini…” kim bum memberikan sebuah benda yang dibungkus pada so eun sambil menggaruk tengkuknya.

“apa ini? untukku?” tanya so eun.

Kim bum mengangguk. “untuk siapa lagi.” Balas kim bum.

So eun tersenyum dan menerimanya. “gomawo.” Ujarnya.

“ne.” kim bum balas tersenyum.

“aku akan membukanya nanti. Kalau begitu aku simpan dulu.” So eun kembali masuk ke dalam kamarnya untuk menyimpan benda yang entah apa dari kim bum. Kim bum tampak tersenyum senang.

###

 

So eun dan yoona duduk berhadapan di café.

“aku harap kita tidak memikirkan masalah surat itu.” Ujar yoona memulai pembicaraan.

“bagaimana pun juga itu sudah berlalu, walaupun kenyataanya kita bukan saudara kandung tapi aku harap kita seperti dulu lagi so eun-ah.” Lanjut yoona.

“eonni….” Ujar so eun.

“aku memang sedih dan terpukul, tapi apa gunanya terus seperti itu? Lagipula aku sudah sangat menyayangimu.” Ujar yoona.

“eonni….siapa bilang aku tidak menyayangimu?” tanya so eun.

Yoona tersenyum. “aku tahu, aku hanya ingin kita tidak canggung seperti ini setelah tahu semuanya.”

So eun mengangguk. “arasso…bagaimana pun juga aku tetap adikmu.’ Ujar so eun.

“ne…aku juga tetap kakakmu, kita tetap keluarga.” Balas yoona.

Seung gi yang juga kebetulan ada di café itu tak sengaja mendengar percakapan antara yoona dan so eun. Dia duduk sendiri di kursi yang membelakangi yoona tanpa yoona dan so eun sadari.

“jadi? Yoona noona dan bodyguard kim bum itu…..?” pekik seung gi dalam hati.

“jadi yang di ceritakan noona tentang adiknya itu adalah so eun bodyguard kim bum?” pekiknya tak percaya.

“tapi bukannya umur mereka sama?  Apa jangan-jangan…..”

“yasudah lebih baik kita harus segera bersiap-siap merayakan ulang tahun ayah.” Ajak yoona.

“ne….” mereka pun pergi dari café itu. Seung gi masih kelihatan bingung, ia tidak mengerti.

###

Kim bum tersenyum puas karena ia sudah menyelesaikan lagu yang tertunda itu. Akhirnya liriknya sudah selesai, tinggal nada dan ritmenya yang belum. Sebelumnya juga ia sudah berbicara pada il woo untuk membantunya membuat nada untuk lagunya. Tentu saja idenya langsung mencair, karena kemarin merupakan hal yang paling menyenangkan bersama so eun. Kencan mereka. Walapun hubungan antara mereka belum jelas, bahkan belum ada satu pun di antara mereka yang menyatakan cinta. Kim bum bilang pada so eun pun jika ia menyukainya belum. Entahlah, kim bum ingin menunjukkannya lewat lagu yang baru saja ia buat. Dan kini saatnya ia pergi menemui il woo.

—————

 

“mwo?” kaget soo hyun setelah mendengar apa yang di ceritakan seung gi. Sementara il woo hanya diam karena ia yakin cepat attau lambat pasti akan ketahuan juga.

“yang tidak aku mengerti adalah bukannya umur mereka sama? 25 tahun.” Ujar seung gi.

“benar juga.” Pikir soo hyun.

“sebenarnya yang benar itu yang mana?” tanyanya bingung pada diri sendiri.

Il woo yang sedari tadi hanya diam akhirnya buka suara. Tidak pantas juga ia hanya mengetahuinya sendiri. Seharusnya ia memberi tahu dari awal. Tapi mungkin sekarang waktunya baru mengizinkan.

“sebenarnya……….” Ujar il woo.

Seung gi dan soo hyun menatap il woo.

“aku sudah tahu ini dari awal. Aku tak sengaja menemukan kartu identitas milik bodyguard kim bum yang terjatuh waktu itu. Umur bodyguard kim bum yang sebenarnya bukanlah 25 tahun….tapi 20 tahun….” Ujar il woo.

“MWO!?” pekik seung gi dan soo hyun bersamaan.

“jadi so eun bodyguradnya kim bum seumuran dengan kita?” kaget soo hyun.

Il woo mengangguk.

Tanpa mereka sadari, kim bum mendengar semua pembiacaraan mereka. Ia berdiri sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“mwo? Apa yang kau katakana itu benar?” tanya kim bum.

Il woo terkejut di buatnya begitu pula yang lain melihat kedatangan kim bum. “kim bum?” kaget il woo.

 

TBC

Yaaaaaah maaf ya semakin bertele-tele. Emang dari awal ceritanya udah di konsep mau kaya gini hohoho

Yaudah komen deh.

Buat ff yang falling love with my fans hiatus dulu. Niatnya mau beresin bfb dulu trus baru lanjut ke falling love.

 

BABY FACED BODYGUARD PART 12

BABY FACED BODYGUARD PART 12

 

AUTHOR: RESI R

MAIN CAST: KIM SANG BEOM DAN KIM SO EUN.

OTHER CAST: KIM YOONA, LEE SEUNG GI, JUNG IL WOO, JUNG SO MIN, KIM SOO HYUN, BAEK SUZY.

GENRE: IDK (?)

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

 

PART 12

 

“aku ke toilet dulu….” Ujar yoona sambil memberi aba-aba melalui tatapan pada so eun, yoona lalu bergegas menuju toilet.

“aku juga ke toilet.” Ujar so eun.

Yang lain hanya menatap mereka lalu memilih untuk duduk.

 

“eonni, kenapa kau bisa ada disini?” tanya so eun saat mereka sudah berada di toilet.

“kau sendiri kenapa ada disini?” tanya balik yoona.

“kau tahu kan aku seorang bodyguard, jadi aku harus mengawasi dia itu, lagi pula dia yang meminta untuk menemaninya.” Jawab so eun.

“aku di undang oleh ibunya seung gi.” Jawab yoona.

“eonni….mengenal seung gi?” tanya so eun.

“hmmm ceritanya panjang, dan selama ini aku tak menyangka jika nyonya lee adalah ibunya. Pelanggan butikku” Jawab yoona.

“ini kebetulan ….” Ujar so eun.

Yoona mengangguk. “kau mengenal seung gi juga?” tanya yoona.

“ne, dia temannya anak tuan kim.” Jawab so eun.

“jadi eonni, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus berpura-pura tak saling mengenal saja?” tanya so eun.

Yoona tampak berpikir. “jika kita bilang kakak-beradik, maka identitasmu akan dicurigai karena seung gi tahu umur kakak yang sebenarnya.” Ujar yoona.

So eun mengerutkan keningnya.

“waktu itu dia menemukan kartu identitasku yang tertinggal di mobilnya.” Ujar yoona mengartikan keheranan so eun.

“jadi kita harus pura-pura tak mengenal saja? Bagaimana dengan so min?” tanya so eun bingung.

“bagaimaa kalau kita bilang kita teman lama saja….ya begitulah…agar kita tidak canggung nanti bersama mereka.” Ujar yoona.

So eun tampak berpikir. “mmm baiklah.” Jawabnya.

———–

 

So eun dan yoona sudah duduk bersama yang lain. Mereka sesekali terlihat mengobrol dan meminum jusnya.

“kalian sepertinya mirip.” Celetuk soo hyun pada yoona dan so eun.

“uhuk…” so eun langsung tersedak saat meminum jus.

Sementara yoona hanya tertawa hambar sambil menatap so min mengartikan jangan bilang sesuatu.

“benarkah?” tanya yoona.

Soo hyun mengangguk. Il woo dan seung gi menatap mereka-Yoona dan so eun. Sementara kim bum terlihat tidak focus dan malah memikirkan sesuatu.

“ahahahah memang banyak yang bilang begitu.” Jawab yoona.

“ne…kami adalah teman semasa smp, dulu teman-teman banyak yang bilang kita mirip” dusta so eun.

So min yang mendengar perkataan yoona dan so eun menyernyit bingung, tapi ia diam.

“mungkin pikiranku juga sama dengan teman kalian.” Ujar soo hyun.

“hahaha ne…” yoona tertawa hambar.

“ahhh aku bosan.” Keluh kim bum tiba-tiba, menatap so eun lalu berdiri.

Semua menatap padanya, kim bum menatap so eun.

“aku ingin pulang.” Ujar kim bum menarik tangan so eun hingga so eun juga berdiri.

“wae? Sebentar lagi acaranya akan dimulai.” Ujar so eun.

“lagipula aku sudah bertemu dengan ibunya seung gi.”balas kim bum.

So eun menatap bingung, lalu tersenyum canggung pada semuanya, seperti meminta maaf.

“kajja……..” kim bum pun menarik tangan so eun dan mereka pergi lebih dulu.

Yoona memerhatikan mereka. ‘oh jadi itu anak tuan kim? Memang tampan sih tapi sepertinya menyebalkan seperti yang di katakana so eun’ pikirnya.

“kau tidak sopan.” Ujar so eun saat mereka sudah berada di dalam mobil.

“sudah ku bilang, aku melakukan sesuatu yang aku mau. Lama-lama disana membosankan.” Jawab kim bum.

“bilang saja karena kau ingin bersamaku lama-lama kan?” goda so eun.

“ya apa yang kau katakan? Jangan bicara aneh.” Ujar kim bum sambil memalingkan wajahnya ke jendela.

“aku hanya bercanda.” So eun pun tertawa kecil lalu menancap gas. Sementara kim bum hanya mendengus kesal.

 

Sesekali kim bum melirik so eun yang sedang menyetir.

“kim beom-ssi…” ujar so eun.

Sontak kim bum memalingkan wajahnya ke arah lain.

“apa kau menyukaiku?” tanya so eun santai.

“m, mwo? Kenapa kau bertanya seperti itu?” gugup kim bum.

“aniyo,,,aku hanya merasa heran saja dengan sikapmu yang berubah-ubah padaku. aku pikir kau mulai tertarik padaku. jadi apakah benar jika kau menyukaiku?” tanya so eun lagi.

Kim bum hanya merasakan kalau wajahnya memanas. Ia tak berani melihat so eun.

“hahaha lucu sekali, aku hanya bercanda.” Tukas so eun.

Kim bum masih diam, memikirkan kata ‘sikap yang berubah-ubah’. Ya ini memang bukan dirinya, tapi ia juga tidak tahu kenapa sikapnya begini pada so eun. Kim bum menyukai so eun.

So eun memberhentikan mobilnya. “sudah sampai.” Ujarnya sambil melepas seatbelt. Tapi  so eun menyadari kim bum masih tetap diam. Kim bum sendiri sedang memikirkan pertanyaan so eun tadi, apakah sikapnya kelihatan jelas jika menyukai so eun?

“kenapa tidak turun? kau mau tetap berada di dalam mobil?” tanya so eun.

Sontak kim bum tersadar dari lamunannya.

“yasudah…” ujar so eun lalu membuka pintu mobil. Tapi dengan cepat tangan kim bum menahannya dan menarik tubuh so eun, membuat so eun terkejut. Kim bum menaikan kedua tangannya menahan lengan atas so eun, menatap so eun sejenak lalu menatap bibir mungil so eun, tanpa aba-aba kim bum pun langsung menciumnya. So eun melototkan matanya, ia benar-benar terkejut mendapati kim bum menciumnya.

So eun hendak mendorong dada kim bum, tapi tangan kim bum malah naik ke tengkuk so eun, meminta agar so eun tak melepaskan ciumannya. So eun masih shock, tapi saat kim bum mulai meraup ( :P) bibirnya so eun mulai memejamkan mata, menikmati ciuman kim bum, lalu tanpa sadar membalasnya.

###

 

Soo hyun sedang asik mengobrol dengan seorang wanita yang juga hadir ke acara pesta ulang tahun ke 3 yayasan seni milik ibunya seung gi. Tapi seung gi tidak tertarik sama sekali.

“noona, aku ingin bicara denganmu.” pinta seung gi.

“oh baiklah.” ujar yoona mengikuti seung gi ke suatu tempat.

Kini, hanya tinggal il woo dan so min yang masih duduk di tempat. Suasana canggung meliputi mereka berdua.

“ekhm. . . .” il woo berdehem.

“bagaimana kalau kita melihat-lihat lukisan?” tawar il woo mencairkan suasana.

“n, ne?” So min kelihatan masih gugup.

“agar tidak bosan.” balas il woo.

“o,,,oh ne.” terima so min.

“baiklah, kajja !” il woo jalan duluan sementara so min mengikutinya dari belakang.

###

 

“noona, aku sudah memikirkan kata-katamu.” Ujar seung gi.

“ne, bagus kalau begitu.” Ujar yoona.

“aku akan berusaha berbicara baik-baik dengan abeoji.” Ujar seung gi.

“ne, begitu lebih baik. Dari pada kalian seperti orang yang berumusuhan, lagipula kau adalah anak kandungnya.” Jelas yoona.

“ne, aku mengerti…..noona…gomawo atas bantuanmu dan juga….nasehatmu…” ujar seung gi.

“tidak perlu berterimakasih.” Yoona tersenyum.

“aku hanya merasa kau tidak boleh menyia-nyaiakan kedua orang tuamu yang masih ada disini. Kau tidak boleh semakin memperburuk hubungan keluarga kalian, seharusnya kau berusaha membuat mereka bersatu kembali, bukankah itu lebih bahagia? Sebelum salah satu dari orang tuamu atau kedua orang tuamu pergi lebih dulu meninggalkanmu.” cerita yoona.

“semata-mata agar kau tak menyesal nantinya.” Yoona tersenyum miris.

Menyadari itu raut wajah seung gi juga berubah menjadi iba pada yoona.

“kedua orang tuamu….sudah meninggal?” tanya seung gi hai-hati.

“ne, maka dari itu…nasibmu masih lebih baik di bandingkan denganku dan ‘adikku’…” ujar yoona.

“o…m, mianhae…” tukas seung gi tak tahu.

“aniyo, gwaenchana…aku hanya ingin kau tidak memiliki nasib sepertiku…itu saja…” balas yoona.

“ne…arasseo….aku…akan berusaha…walaupun jujur ini sangat sulit.” Tukas seung gi.

Yoona tersenyum. “sebisaku aku akan membantumu, kau adalah ‘teman’ sekaligus ‘adik’ yang baik…” ujar yoona.

“hmmmm….noona…” seung gi mengangguk. Yoona tersenyum.

###

 

“ini sudah  malam, aku akan mengantarmu pulang.” Ujar il woo pada so min.

“t, tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.” Tolak so min halus.

“gwaenchana. kajja !” ajak il woo berjalan duluan kea rah mobil. So min masih diam di tempat.

“ayo masuk !” suruh il woo sambil membuka pintu mobil untuk so min.

“o..ne…” akhirnya so min pun masuk juga ke dalam mobil.

Tak lama mobil pun melesat.

“jung so min.” ujar il woo.

Cepat-cepat so min menoleh ke arahnya.

“mianhae, aku tak ingat padamu waktu itu.” Tukasnya.

So min hanya bisa diam, ia tidak tahu harus berkata apa karena ia terlalu gugup.

“apa kau ingat padaku juga?” tanya il woo.

“aku…aku tentu ingat.” Jawab so min.

Il woo menoleh. “lalu kenapa kau tak bilang padaku?” heran il woo.

“i..itu aku….aku tidak tahu…” jawabnya sambil menunduk.

“mianhae aku benar-benar tak ingat, penampilanmu sangat berbeda dengan yang dulu.” Ujar il woo.

“g…gwaenchana…” balas so min.

###

 

So eun memegangi pipinya yang benar-benar terasa panas mengingat kejadian tadi. Ia berdiri di belakang pintu kamarnya lalu menjitak kepalanya sendiri.

“babo.” ucapnya.

“kenapa aku malah diam saja dan membalas ciumannya? Kenapa aku tidak menghajarnya saja karena dia sudah berbuat macam-macam padaku.” gumamnya.

“aish babo. . . .apa jangan-jangan aku . . . .” pikirnya.

“mana mungkin, itu tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh tertarik kepada orang yang menyebalkan seperti dia. Sudahlah so eun jangan memikirkannya.” ucapnya pada diri sendiri.

“lebih baik aku segera tidur.”

###

 

Kim bum berbaring di ranjangnya menatap langit-langit kamar. Ia memegang bibirnya sendiri sambil mengingat adegan ciuman tadi. Kim bum senyum-senyum sendiri, memainkan bibirnya.

“dia bahkan membalas ciumanku.” ujarnya tersenyum geli.

“apakah itu artinya dia juga menyukaiku?” pikir kim bum.

“tapi seperti apa ya tipe lelaki idealnya? apakah aku termasuk tipe idealnya?” gumamnya.

Kim bum mendudukan dirinya. Ia masih tersenyum gaje dan terlintas begitu saja ide lagu yang ingin ia buat. Kim bum pun mengambil kertas dan balpoin lalu mulai menumpahkan idenya dalam sebuah lirik.

###

 

Saat makan pagi, suasana sedikit canggung di antara kim bum dan so eun setelah kejadian kemarin. So eun terus-terusan memandang piring berisi nasi dan capcai sapi itu, sambil memakannya perlahan. Sesekali kim bum memberanikan diri untuk meliriknya.

So eun mengambil gelas dan meminumnya sampai habis.

“aku akan menunggumu di mobil.” Ujar so eun lalu pergi. Kim bum hanya menatap heran, tapi kemuadian ia tersenyum kecil.

“aishh kenapa aku jadi gugup begini?” kesal so eun sambil menunggu di dalam mobil.

Tak lama kim bum datang dan masuk juga. Dengan segera so eun pun menyalakan mesin mobil dan menancap gas. Terjadi keheningan saat perjalanan, entahlah mereka sama-sama tak berbicara bahkan tak bercekcok seperti biasanya.

“ekheum….yang kemarin tidak usah di pikirkan. Anggap saja tidak pernah terjadi” Kim bum memulai pembicaraan namun dengan pandangan ke luar jendela.

“y..yang mana?” dengan bodohnya so eun malah bertanya, ia kelihatan gugup sekali.

“y, yang itu….kemarin malam” Jawab kim bum tak kalah gugup.

“yang itu yang mana?” tanya so eun.

“itu…kemarin malam…aku dan kau…” jawab kim bum.

“aku tidak mengerti.” Balas so eun.

“apakah aku harus mengulang kejadian kemarin agar kau tahu? Otakmu lamban sekali” ujar kim bum mulai kesal.

‘deg’ jantung so eun berdebar tak karuan.

“o….arasseo….a, aku akan menganggap tidak pernah terjadi.” Ujar so eun akhirnya.

“hmmm.” Kim bum mengangguk.

###

 

Suzy sedang berjalan menuju kelasnya, sambil celingak-celinguk siapa tahu jika ia melihat kim bum. Tapi malah sosok soo hyun yang ia temukan sedang memandangnya lalu berjalan menghampirinya.

“aishh aku belum siap bertemu dengannya.” Keluh suzy mengingat kejadian waktu itu saat ia mabuk.

“hei…kau sudah lebih baik?” tanya soo hyun.

“o..ne…kau lihat saja, aku sudah sangat baik.” Jawab suzy ketus.

“o….tapi kau belum minta maaf dan mengucapkan terimakasih padaku.” ujar soo hyun.

“untuk apa aku minta maaf? Aku tidak punya salah padamu !” ujar suzy.

“ah kau pura-pura lupa ya?” goda soo hyun.

“a…aniyo….aku kan mabuk jadi tidak ingat.” Ujar suzy.

“aish sudahlah aku juga tahu kau ingat semuanya. Kau harus mengganti rugi karena memuntahi bajuku !” pinta soo hyun.

“mwoya?” kesal suzy.

“kau juga, sudah mengambil ciuman pertamaku ! padahal aku ingin memberikannya pada pacarku nanti. Kau harus minta maaf dan berterimakasih karena aku sudah menolongmu !” pinta soo hyun.

Suzy menelan ludah. “aku sama sekali dalam keadaan tidak sadar saat melakukannya.” Bantahnya.

“tapi kau harus tetap mengganti rugi, ingat itu ! atau aku akan memberitahu semua orang tentang kejadian itu !” ancam soo hyun sambil menyeringai.

“ya kau………” tolak suzy tak terima tapi soo hyun sudah meninggalkannya.

“aishh namja menyebalkan…” geramnya.

###

 

“aku akan latihan sampai malam.” Ujar kim bum pada so eun.

“hanya sekedar memberitahu.” Lanjutnya.

“memangnya ada apa sampai kau harus latihan sampai malam?” tanya so eun.

“kau ingin tahu?” tanya kim bum.

“tidak juga.” Balas so eun.

“nanti akan ku beri tahu.” Ujar kim bum.

“terserah….sudah sampai…” so eun meberhentikan mobilnya di dekat tempat markas kim bum dan teman-temannya.

“hubungi saja aku jika kau sudah selesai. Aku akan menjemputmu !” ujar so eun.

“arasseo…” kim bum pun keluar dari mobil.

————

 

Suara music terdengar begitu memekakan telinga di ruangan itu. Suara merdu kim bum tak kalah menusuk sampai gendang telinga (?). Ya sebentar lagi adalah pesta kampus dan mereka harus berlatih semaksimal mungkin.

“stop…stop….stop…!” perintah seung gi menghentikan latihannya.

Semua menatap ke arah seung gi.

“kita harus tampil lebih maksimal nanti, karena kita termasuk yang special saat tampil nanti !” ujar seung gi.

“kau kim bum, focuslah menyanyi jangan memikirkan yang lain….il woo….kau juga soo hyun seriuslah….!” Pinta seung gi.

“hey aku sudah focus dari tadi…” sanggah kim bum.

“ne…arasseo…kita lanjutkan..”

“sebentar….sebenarnya lagu apa yang ingin kita nyanyikan?” tanya soo hyun.

“my angel dan someday.” Jawab seung gi (ngarag bgt gue hahaha)

“I like you…” celetuk kim bum.

Sontak semua menatap ke arahanya.

“waeyo?” tanya soo hyun dan seung gi berbarengan. Il woo hanya diam saja.

“my angel dan I like you….lebih baik itu saja. Lagu itu lebih lembut” Lanjut kim bum.

###

 

So eun menguap lebar. Ia duduk menunggu pesan dari kim bum. Tapi sudah pukul 10 malam kim bum tak juga mengirim pesan padanya. Perasaan cemas menyelimuti dirinya, takutnya kim bum berkelahi lagi. So eun pun memakai jaketnya lalu berjalan keluar hendak menuju tempat latihan kim bum. Tapi, saat so eun hendak masuk ke dalam mobil, terdengar suara gerbang terbuka. Dilihatnya kim bum baru saja pulang.

“eh kim bum-ssi?” selidik so eun. Kim bum berjalan mendekat.

“kau mau kemana?” Tanya kim bum memandang so eun.

“baru saja aku akan menjemputmu? Tapi kau sudah pulang. Lagipula kau tak kunjung mengirim pesan, takutnya kau berkelahi lagi” Jawab so eun.

“ponselku mati. Jadi aku pulang dengan seung gi.” Balas kim bum.

“oh arasseo.” So eun angguk-angguk kepala.

“aku lelah.” Gumam kim beom lalu berjalan menuju rumah meninggalkan so eun yang masih diam di tempat.

“sifatnya itu tidak bisa di tebak. Kadang-kadang menyebalkan, dingin? Cuek? Heh memang banyak menyebalkannya.” Gerutu so eun.

“hey mau sampai kapan kau berdiri di luar?” teriak kim bum berbalik menatapnya.

“eh? Hanya mengunci pintu mobil.” Balas so eun.

Seolah seperti yang tidak peduli, kim bum pun kembali berjalan.

###

 

Pesta kampus pun tiba. Gedung aula kampus yang megah terlihat ditata dan di dekor sebaik mungkin. Mulai banyak para mahasiswa yang berdatangan dengan pakaian terbaik mereka. Kim bum bersama teman-temannya masih berada di ruang music karena waktu mereka untuk tampil masih lama. Kim bum merasa gelisah, bukan karena akan tampil di depan banyak orang di kampusnya, tapi gelisah karena apakah ia harus melakukannya atau tidak? Setelah berfikir panjang, akhirnya kim bum pun memutuskan untuk mengirim pesan pada so eun. Kim bum menghela nafas panjang sebelum ia menekan tombol send.

###

 

So eun sekarang akan menempati janjinya pada ji bin untuk datang dan menyaksikan olimpiade taekwondo. Ia sedang dalam perjalanan menuju sana. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada satu pesan masuk.

Datanglah ke kampusku sekarang ! Di gedung aula kampus. Jangan sampai tidak datang !

 

So eun mengerutkan keningnya setelah membaca pesan dari kim bum tersebut. Tapi ia sama sekali tak mengindahkan pesan kim bum. So eun langsung memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jas, menganggap pesan dari kim bum tidak penting. Yang lebih penting adalah dirinya harus menepati janji, dan harus menyemangati ji bin.

###

 

Kim bum memandangi ponselnya. Berharap so eun akan membalas pesan darinya. Tapi sampai ia akan segera tampil pun so eun tak kunjung membalas, nyali kim bum sedikit menciut. Tapi karena tingkat kepercayaan dirinya tinggi, kim bum yakin kalau si bodyguardnya itu pasti akan datang.

Tak lama, mereka badboy band di panggil oleh sang mc. Dengan segera mereka pun bersiap-siap.

Saat semuanya sudah berdiri di atas panggung, para mahasiswa terutama mahasiswi yang menyaksikan terlihat begitu histeris. Band dengan personil-personil yang tampan membuat mereka terpesona. Il woo, seung gi, dan soo hyun tersenyum menanggapi jeritan dan tepuk tangan mereka. Sementara kim bum hanya tersenyum sekilas, dan sekarang matanya berputar tak bisa diam. Mengedarkan pandangannya ke semua sudut di aula yang dipenuhi banyak orang.

Ia mencari sosok bodyguardnya, tapi tak kunjung ia temukan. Kim bum mendesah. Jika benar-benar tidak datang, maka apa arti dari lagu yang ia pilih. Awas saja jika sampai berakhir ia tak juga melihat so eun. Itulah sekarang yang ada di pikiran kim bum.

 

1, 2, 3

Suara pukulan (?) drum memulai penampilan mereka. Di susul petikan merdu gitar oleh il woo dan permainan bass dari soo hyun. Kim bum memejamkan mata dan mengambil nafas. Ia memegang mike dengan tangannya bersiap untuk menyanyi.

Pada saat itulah lagu yang berjudul my angel mengalun (?) lembut ditambah penghayatan dari sang vocalis kim bum. Semua mulai menikmati permainan badboy band.

###

 

“ji bin-ah kau hebat.” so eun bertepuk tangan melihat ji bin baru saja memenangkan pertandingan.

Ji bin ke luar arena dan segera melepas body protect, head protect, hand proteck dan sebagainya di bantu oleh park sajangnim. (pengalaman hahaha)

“sajangnim aku menang !” ujar ji bin senang.

“ne, kau sudah berlatih dengan baik.” balas park sajangnim.

So eun yang tadinya ada di bangku penonton langsung menghampirinya.

“ji bin tendanganmu kuat sekali !” so eun mengacungkan jempolnya pada ji bin sambil tersenyum.

“noona kau benar-benar menepati janji.” ji bin nyengir senang.

“tentu saja, mana boleh mengingkari janji.” so eun berjongkok dan mengacak lembut rambut ji bin.

“noona apa kau akan memberikanku hadiah? Aku kan sudah menang.” ucap ji bin.

Park sajangnim hanya geleng-geleng kepala. So eun tersenyum.

“mmm noona akan membelikanmu es krim. Bagaimana?” tawar so eun.

Ji bin mengangguk senang.

“baiklah kalau begitu.” ucap so eun.

###

Kim bum sudah menyanyikan lagu ke dua. I like you. Tapi kini penghayatannya tak sedalam (?) yang tadi. Karena sekarang di sela-sela menyanyi, matanya terus mencari sosok seseorang. Kim bum kesal, sampai penampilannya selesai ia tak kunjung melihat so eun.

 

“aish sebenarnya dia membaca pesan dariku atau tidak sih?” kesal kim bum.

“hei kau kenapa?” tanya seung gi heran menghampiri kim bum yang sedang duduk.

“hmm.” Soo hyun mengangguk menyetujui pertanyaan seung gi.

“aku tidak apa-apa.” jawab kim bum biasa.

“hmm semoga saja ada produser musik yang melihat penampilan kita. Jadi kita akan di kontrak atau bahkan di tawari untuk debut.” khayal soo hyun.

“bukankah suzy anak dari pemilik yayasan musik?” ujar seung gi.

Mendengar nama suzy, pikiran kim bum jadi melayang kepada siapa seseorang yang membuat so eun sampai bisa tercebur ke kolam. Memang ia mencurigai suzy. Kim bum tampak berfikir.

“ah benar juga, kalau begitu kita bisa memanfaatkan suzy agar kita bisa segera debut.” ujar soo hyun melirik kim bum.

“ada apa kau menatapku seperti itu?” protes kim bum.

“ya. . .suzy kan tergila-gila padamu, jadi kau bisa. . . .” ujar soo hyun.

“kita tidak boleh berbuat licik.” timpal il woo.

“aku tahu, tidak mungkin aku melakukannya.” balas kim bum.

“kita tunggu waktu saja, mungkin nanti kesempatan akan datang.” tambah il woo.

###

 

Kim bum tiduran di sopa panjang sembari menunggu so eun. Ia mengetuk-ketukan telunjuknya pada meja. Tak lama orang yang di tunggu-tunggu pun datang.

“darimana kau? Kenapa tidak datang?” tanya kim bum langsung.

So eun memutar kepala menengok ke arah kim bum.

“wae?” tanya balik so eun bingung.

“kenapa tidak datang?” ulang kim bum yang kini beranjak duduk.

So eun mengerutkan keningnya sejenak. Ia teringat dengan pesan kim bum tadi.

“lagi pula aku tidak menyatakan setuju akan datang.” jawab so eun enteng.

Kim bum mendesah.

“tadi aku sudah ada janji, makanya aku tidak datang.” lanjut so eun.

“janji?” ulang kim bum.

“ne, memangnya ada apa kau menyuruhku ke kampusmu tiba-tiba?” heran so eun.

“aku, tadinya aku, ingin menunjukan sesuatu. Tapi. . . .ah sudahlah.” jawab kim bum yang kembali menidurkan dirinya di sopa dan memejamkan mata.

So eun semakin bingung lalu ia pun berjalan mendekati kim bum dan membungkukan badannya. Matanya menyipit mengawasi wajah kim bum.

“jika kau bersikap lebih sopan dan tidak menyebalkan. Mungkin…..aku akan menyukaimu.” ujar so eun yang sukses membuat kim bum langsung membuka ke dua matanya dalam satu kali kerjapan. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut so eun. Terkejut sudah pasti, senang? Mungkin. Kim bum menatap wajah so eun yang berada di atasnya. Tampak so eun sedang tersenyum.

Maaf ngepostnya lama…lagi ga ada ide di tambah males haha

TBC

 

BABY FACED BODYGUARD PART 11

BABY FACED BODYGUARD PART 11

 

AUTHOR: RESI R

MAIN CAST: KIM SANG BEOM DAN KIM SO EUN.

OTHER CAST: KIM YOONA, LEE SEUNG GI, JUNG IL WOO, JUNG SO MIN, KIM SOO HYUN, BAEK SUZY.

GENRE: IDK (?)

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Setelah di pikir2 mending di post aja deh part 11 nya hahaha#plaak apa sih

PART 11

 

Suzy memperhatikan dengan kesal. Sebenarnya ia belum sepenuhnya keluar dari sana. Suzy bersembunyi di balik pintu ruang ganti baju saat mendengar ada seseorang yang memanggil so eun tadi. Il woo.

Suzy menahan amarahnya saat tak lama dari itu kim bum juga masuk dan malah membantu so eun. Memberikan nafas buatan padanya.

“sial menyebalkan !” kesalnya.

“kenapa kim bum bisa tahu dia ada disini !” geramnya mengepalkan tangan.

“aish menyebalkan ! Menyebalkan !”

 

Kim bum mengangkat tubuh so eun yang masih lemas.

“biar aku bantu.” ujar il woo.

“tidak usah !” tolak kim bum kasar lalu menggendong so eun.

Il woo hanya terpaku di tempat. Lalu tak sengaja ia melihat sebuah jam tangan dan ponsel yang tergeletak. Milik so eun, pikir il woo lalu ia pun mengambilnya.

###

 

Kim bum masuk ke kamar so eun sambil membawa segelas susu hangat dan roti lalu menyimpannya di meja. Kim bum duduk di kursi dekat kasur sambil memerhatikan so eun yang sepertinya masih tertidur. Kim bum tersenyum melihatnya. Tak lama so eun membuka kedua matanya. Yang pertama ia lihat adalah sosok kim bum.

“bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya kim bum cepat-cepat.

“mmm sudah baik, tapi kepalaku yang jadi pusing.” jawab so eun.

“yasudah, sebaiknya kau minum dulu ini.” kim bum memberikan segelas susu hangat dan roti.

“ah gomawo.” ujar so eun. Perlahan so eun pun meminumnya.

So eun baru menyadari sesuatu, ada yang aneh dengan pakaiannya.

“ini. . . .bajuku siapa yang menggantinya?” tanya so eun was-was.

“menurutmu siapa?” goda kim bum.

“andwae. . . .jangan bilang jika kau. . . . .” ujar so eun takut.

“wae? Ternyata kau seksi juga.” ujar kim bum.

“mwo? Jadi kau yang . . . . .”pekik so eun.

“kau berharap aku yang melakukannya? Mengganti bajumu begitu?” potong kim bum.

“aniyo. . . .tentu tidak !” jawab so eun ogah-ogahan.

“bibi shin yang mengganti bajumu. Kau pikir aku ini lelaki seperti apa.” balas kim bum.

“jincha? Ah syukurlah ! Jika benar-benar kau yang melakukannya aku tidak akan tinggal diam. Kau akan mati ditanganku !” so eun mengepalkan tangannya dan mengacungkannya pada kim bum.

Kim bum menampiknya sambil tersenyum, entahlah saat ini ia sedang ingin tersenyum. Mungkin ia sudah mencium (?) bibir so eun walaupun bukan termasuk kategori ciuman tapi bibir mereka bersentuhan. Saat memberi nafas buatan. Kim bum merasa menang.

“heh, lalu kenapa kau ada di kolam renang?”tanya kim bum.

“bukannya kau yang menyuruhku ke sana? Bahkan kau mengancamku jika aku tidak datang” tanya balik so eun.

“aku? Kapan aku menyuruhmu untuk ke kolam renang?” kim bum tak mengerti.

“kau sendiri yang mengirim pesan padaku !” tukas so eun.

“aku tidak pernah mengirim pesan padamu. Malahan kau yang tak menjawab telpon dariku. Untung saja aku tahu kau ada disana.” ujar kim bum.

So eun mengerutkan keningnya.

“jincha? Aneh sekali.” heran so eun.

Kim bum merasa ada yang tidak beres dengan semua ini. Ada seseorang yang mulai ia curigai.

“tapi untunglah aku selamat. Jika tidak ada il woo mungkin aku sudah mati sia-sia kehabisan nafas. Aku harus mengucapkan terimakasih padanya” celetuk so eun.

Tatapan kim bum menajam.

“yak kau pikir aku juga tidak menolongmu?” bentak kim bum.

So eun mengerutkan kening mendapati bentakan kim bum.

“tapi kan jika il woo tidak keburu menolongku aku pasti sudah mati.” timpal so eun.

“lalu jika aku tak menolongmu, kau tak akan mati?” kesal kim bum.

“hei kenapa berbicara seperti itu?” heran so eun.

“kau pikir siapa yang memberimu nafas buatan? il woo menolongmu atau tidak pun dia tidak akan melakukan apa-apa, hanya menepuk pipi dan mengguncang-guncangkan bahumu tidak akan membuatmu sadar.” ujar kim bum masih kesal.

So eun melongo, kim bum terlihat emosi di matanya.

“jadi pertolonganku yang paling berpengaruh.” lanjut kim bum.

Tak terpikir oleh so eun jika kim bum melakukannya.

“kau. . . .yang . . . .” pekik so eun.

“bahkan aku berkali-kali melakukannya karena kau tak juga sadar. Kau harus lebih berterimakasih padaku.” ujar kim bum, nada suaranya merendah.

So eun diam, ia masih tak percaya.

“lagi pula kenapa harus selalu il woo yang menolongmu.” desah kim bum.

Mata so eun terus mengarah kepada kim bum. Berarti tanpa sadar kim bum telah menciumnya. Aigo ini adalah yang pertama bagi so eun. So eun menelan ludahnya.

“lain kali, aku ingin melakukannya disaat kau sadar.” ujar kim bum lalu keluar dari kamar so eun.

Sekali lagi so eun menelan ludahnya.

“mwo?” pekiknya. Sebenarnya apa yang ada di pikiran kim bum.

Sementara itu kim bum tampak senyum-senyum sendiri sambil berjalan ke arah kamarnya.

###

 

“ah bosan sekali !” ujar soo hyun sambil memainkan remote tv.

Tapi munculah ide dari otaknya dan segera menghubungi seung gi. Sudah tahulah apa yang soo hyun bicarakan dengan seung gi. Setelah waktu itu ia pertama kali ke klub bermain dengan wanita dengan seung gi, rasanya soo hyun ingin bermain lagi. Mungkin sudah terpengaruh oleh seung gi.

 

“mwo? Apa aku tidak salah dengar? Wae?” tanya soo hyun.

“. . . . . . .”

“aneh sekali. Kali ini aku yang mengajakmu ke klub tapi kau tidak mau? Biasanya setiap malam kau rutin bermain dengan wanita.”

“. . . . . . .”

“yasudah aku tidak memaksa.”

 

tut tut tut.

Sambungan telpon pun terputus.

 

Soo hyun menatap ponselnya.

“aish aneh sekali. Seorang playboy tingkat tinggi menolak bermain ke klub. Ada apa dengannya?” heran soo hyun.

———-

 

Seung gi menghela nafas berat sambil terduduk di kasurnya. Baru saja ia menolak ajakan temannya untuk pergi ke klub. Sebenarnya ada satu yang ia pikirkan.

 

“n…noona?” kaget seung gi.

“ne, kemarin malam kau mabuk berat. Untung saja aku melihatmu, jadinya aku membawamu kemari.” ujar yoona seakan menjawab kekagetan seung gi.

“akh. . . . .” seung gi memegangi kepalanya, terasa pusing lagi.

“gwaenchana?” tanya yoona sambil membantu membuat seung gi duduk.

“hanya sedikit pusing. N…noona. . . .gomawo.” ujar seung gi.

Yoona mengangguk sambil tersenyum.

“ini sebaiknya makanlah ! Maaf aku tidak bisa memasak.” ujar yoona menyodorkan semangkuk sup.

Seung gi menatap mangkuk itu.

“aku tidak selera makan.” jawab seung gi memandang sup itu.

Yoona menghela nafas.

“apa karena gara-gara itu?” tanya yoona.

Seung gi mendongak menatap yoona.

“apa?” tanyanya.

“kau menjadi playboy karena ayahmu?” tanya yoona.

Seung gi melototkan matanya.

“dari mana kau tahu?” seung gi menahan marah saat yoona mengungkit ayahnya, bahkan ia tidak menyebut noona.

“kau menjadi playboy karena membenci ayahmu. Saat kau bermain dengan banyak wanita apakah kau tidak sadar bagaimana perasaan mereka? Wanita tidak bisa seenaknya di permainkan. Sebagaimana pun wanita itu bekerja di klub tapi mereka tetaplah lemah, hati mereka mudah tersentuh. Jika kau masih mempermainkan wanita, apa kau juga tak merasa perasaan ibumu sama sakitnya saat ayahmu pergi meninggalkannya dengan wanita lain. Seharusnya kau tidak boleh begitu. Kau bisa bicarakan dengan ayahmu baik-baik.” ujar yoona panjang lebar menghiraukan pertanyaan seung gi.

Seung gi tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa diam setelah mendengar perkataan yoona.

“mianhae aku berbicara seperti ini, aku tak sengaja mendengar racauanmu saat mabuk.” ujar yoona.

Seung gi masih diam.

 

Mengingat itu membuat seung gi berpikir. Ia tahu semua yang dilakukannya selama ini memang salah. Ia begini karena terlalu diselubungi rasa benci. Tapi baru kali ini ada seseorang yang membuatnya serius berpikir.

###

 

Soo hyun baru masuk ke dalam klub malam itu. Tapi, belum bersenang-senang ia sudah dikejutkan dengan seorang wanita yang ia kenal tengah membuat keributan.

“suzy-ya?” ucapnya.

 

“ya. . . .! Aku bilang tambah lagi !” amuk suzy karena seorang bartender itu tak kunjung memberinya satu botol soju.

“tidak bisa nona, kau sudah menghabiskan dua botol soju. Jika ada apa-apa yang terjadi padamu kami yang harus bertanggung jawab.” tolak bartender itu.

“aish sialan, aku baik-baik saja. Aku tidak akan apa-apa, kau lihat?” ujar suzy.

“nona kau sudah mabuk berat.” ujar bartender itu.

Suzy menggeleng-gelengkan kepalanya lalu merebut botol soju milik orang lain.

“hei apa yang kau lakukan?” marah pemiliknya.

Suzy malah meneguknya sampai habis seperempat soju itu.

“hah wae? Hari ini aku benar-benar kesal ! Jangan menggangku !” bentak suzy lalu hendak meneguk soju lagi.

“hei kau !” marah orang itu.

“suzy !” teriak soo hyun menghampirinya. Sontak semua orang memerhatikan soo hyun.

“hehehe mianhae, sepertinya aku harus segera membawanya pulang.” ujar soo hyun lalu mengangkat tubuh suzy untuk ia papah.

“ne, sebaiknya tuan bawa dia pulang. Dia sudah mabuk berat dari tadi.” ujar bartender.

“ne” jawab soo hyun lalu memapah suzy yang sudah sempoyongan tidak jelas keluar dari klub.

“aish kau berat sekali.” dumel soo hyun masih memapah suzy di trotoar jalan.

“ya. . . .wanita itu benar-benar menyebalkan. Kim bum-ah kenapa kau sampai bisa menyukai bodyguardmu sendiri huh? Aku itu jauh lebih sempurna darinya. Ah menyebalkan !” racau suzy tak jelas.

Soo hyun membulatkan matanya karena kaget.

“mwo? Kim bum menyukai bodyguardnya?” pekiknya tak percaya.

“ah kepalaku pusing sekali. . . .dan mual.” racau suzy lalu menghentikan langkahnya. Soo hyun hanya menghela nafas, ia maklum karena suzy sedang dalam pengaruh mabuk. Tapi perkataan suzy tentang kim bum yang menyukai bodyguardnya memberi berita baru, sekaligus membuatnya tak percaya. Soo hyun ikut berhenti berjalan. Suzy meliriknya dengan mata sendu.

“eng. . . .” erangnya lalu menghadap soo hyun.

“kim bum?” ujar suzy. Soo hyun hanya mengerutkan keningnya.

Tiba-tiba “muaachhh” suzy mencium bibir soo hyun sekilas. Soo hyun tampak terbengong dengan aksi (?) suzy barusan. Ia memegangi bibirnya sendiri.

“kim beom-ah kau tahu aku benar-benar. . . . . . .uweeek !” suzy muntah di baju soo hyun.

“ya apa yang kau lakukan?” amuk soo hyun, tapi suzy ambruk di tubuhnya. Soo hyun dengan sigap menahannya dengan rasa jijik.

“aish menjijikan.” dumelnya.

###

 

“kau banyak memakai parfum?” tanya seung gi pada soo hyun saat mereka latihan di markas.

“ne.” jawab soo hyun sambil mencium bajunya sendiri.

“aish kesannya jadi bau. Membuatku mual.” ujar seung gi.

“habis mau bagaimana lagi, aku sudah mandi tiga kali tapi baunya tetap tidak hilang. Makanya aku memakai parfum sebanyak ini daripada tubuhku bau soju.” jawab soo hyun.

“soju? Kau habis di muntahi seorang wanita?” tebak seung gi.

“itu . . . . . Ya lagi pula kenapa kau menolak ajakanku?” tanya balik soo hyun. Mengalihkan pembicaraan.

“entahlah, aku sedang malas.” jawab seung gi.

Il woo hanya mendengarkan pembicaraan mereka sambil memainkan gitarnya.

“maaf aku telat.” ujar kim bum yang baru datang.

“kau terlalu lama di dalam mobil bersama bodyguardmu ya?” tanya seung gi.

Soo hyun yang mendengar kata bodyguard langsung ingat perkataan suzy kemarin malam.

“aku datang sendiri.” jawab kim bum santai sambil memandang il woo.

Il woo sendiri sedang asik bermain gitar, entahlah rasanya menjadi canggung semenjak kejadian itu.

“kalau begitu kita mulai.” ujar kim bum menyuruh untuk memulai latihan.

###

 

So eun baru membuka kedua matanya, ia masih merasa sedikit pusing. Bibi shin masuk ke kamar so eun sambil membawa semangkuk bubur dan segelas teh hangat.

“tuan muda menitip pesan agar anda beristirahat, dan jangan pergi kemana-mana.” ujar bibi shin.

“tapi bi bagaimana jika ada sesuatu yang terjadi padanya? Tidak ada yang menjaganya” ujar so eun.

“tenang saja, tadi setelah pulang kuliah tuan muda langsung latihan dan dia bilang tidak ada apa-apa. Dia menelpon bibi.” jelas bibi shin.

“oh arasseo.” jawab so eun.

“lebih baik makan dulu ini !”ujar bibi shin.

“ne bibi gamsahamnida.” balas so eun.

“sepertinya tuan muda mulai tertarik.” ujar bibi shin sambil tersenyum lalu keluar dari kamar so eun.

So eun mengerutkan keningnya. Sudah ada dua orang yang mengatakan kata tertarik.

“tertarik?” gumamnya sambil berfikir.

“apakah maksudnya mulai tertarik padaku?” pikir so eun.

“jadi dia mulai menyukaiku?” pekik so eun.

###

 

Soo hyun menghampiri kim bum yang tengah berkutat dengan pensil dan kertas. Kembali berfikir menulis lagu.

Sementara seung gi entah sejak kapan ia sedang merenung, masih memikirkan perkataan yoona. Il woo sendiri sedang memegangi dua buah benda yang ingin ia berikan pada kim bum. Tapi semenjak tadi, bahkan semenjak di kampus mereka seperti orang asing, tidak berbicara bahkan tidak mengobrol sama sekali. Mereka seperti yang tidak saling mengenal.

Soo hyun pun duduk di sebelah kim bum, ada sesuatu yang ingin ia tanyakan.

“ya beom-ah. . . .apakah benar kau menyukai bodyguardmu?” tanya soo hyun.

“mwo?” kaget kim bum sambil menatap soo hyun.

“dari mana kau mendapat kesimpulan aku menyukainya?” tanya kim bum.

“dari suzy. Jadi apakah itu benar?” selidik soo hyun.

“jangan asal bicara, dia sudah bicara ngawur.” sanggah kim bum. Ia sudah menduga jika suzy akan memberitahu orang lain. Kim bum merutuki diri sendiri.

“hmmm mungkin pengaruh mabuk juga.” gumam soo hyun lalu menghampiri seung gi, ada yang ingin ia tanyakan juga pada seung gi. Kim bum menghela nafas.

Melihat kesempatan itu, il woo pun memberanikan diri untuk berbicara pada kim bum.

“kim beom-ah. . . . .aku menemukan ini di tepi kolam renang.” ujar il woo menyodorkan ponsel dan jam tangan pada kim bum. Kim bum menatap tangan il woo yang memegang dua buah benda itu lalu naik ke atas melihat wajah il woo. Kim bum mengangkat kedua alisnya seakan bertanya.

“ini milik so eun-ssi. Tolong berikan padanya.” ujar il woo seakan mengerti dengan yang dipikirkan kim bum.

Kim bum mendesah lalu mengambil dua benda itu.

“aku minta maaf.” ujar il woo bersalah lalu pergi duluan.

Kim bum hanya memandangi dua benda di tangannya, ia terfokus pada jam tangan.

“ini. . . . .memang jam tangan milikku.” ujarnya tak percaya.

“tapi darimana so eun memilikinya?”

###

 

Kim bum langsung masuk ke kamar so eun tanpa permisi. Dilihat so eun sedang memandang keluar jendela.

“kau sudah merasa baik?” tanya kim bum.

So eun menoleh.

“kenapa masuk tanpa mengetuk pintu?” tanya so eun sebal.

“hanya melakukan yang aku mau.” jawab kim bum asal.

“aish. . . .” dumel so eun.

“ponselmu !” kim bum menyerahkannya pada so eun.

“dari mana kau menemukannya? Aku sudah mencarinya kemana-mana.” ujar so eun.

“tertinggal di kolam renang.” jawab kim bum tidak memberitahu jika il woo yang menemukannya.

“oh. . . .” balas so eun.

Kim bum mengcungkan sebuah jam tangan.

“dari mana kau memilikinya?” tanya kim bum.

Mata so eun membulat melihat jam tangan yang ada di tangan kim bum.

“ini milik orang lain, aku harus mengembalikannya.” so eun merebut jam tangan itu tapi kim bum menahannya.

“aku bilang darimana kau memilikinya?” tanya kim bum lagi.

“wae? Aku tak sengaja menemukannya waktu itu. Jadi aku harus mengembalikan pada pemiliknya. Tapi sampai sekarang aku tak pernah bertemu lagi dengannya, dan aku juga tak tahu wajahnya seperti apa.” jawab so eun.

Kim bum tampak memikirkan sesuatu setelah mendengar jawaban so eun.

“memangnya kenapa kau bertanya tentang ini?” heran so eun.

Kim bum tersadar.

“oh aniyo.” jawabnya.

So eun pun merebut jam tangan itu dari tangannya. Sementara kim bum  keluar kamar so eun masih sambil berfikir.

“aneh.” gumam so eun  memegangi jam tangan itu.

###

 

Kim bum duduk di sova kamarnya. Pikirannya sibuk melayang ke kejadian waktu itu.

“seingatku, jam tanganku hilang setelah aku di kejar oleh manusia-manusia gila waktu itu.” ingat kim bum.

“so eun menemukan jam tanganku?” pikirnya.

‘deg’ jantung kim bum berdetak dengan cepat.

“apa jangan-jangan wanita yang aku peluk waktu itu adalah kim so eun?” pekik kim bum.

###

 

Kim bum hendak masuk ke kamar so eun, tapi so eun yang lebih dulu membuka pintu hendak ke luar kamar.

“yak. . .kau selalu membuatku kaget.” ujar so eun mendapati kim bum berdiri di depan pintu.

Kim bum malah menatap wajah so eun lekat.

“ada apa?” tanya so eun.

“sebentar.” ujar kim bum lalu memeluk so eun. Memeluk seperti waktu itu. So eun kaget di buatnya, kim bum yang memeluknya seperti ini membuat ia teringat dengan waktu itu. Bahkan pelukan yang sama, aura yang sama, dan jantungnya yang berdegup lebih cepat sama dengan yang ia rasakan dulu.

Kim bum mencium bau parfum so eun, harumnya sama dengan bau yang ia cium saat memeluk wanita yang tak secara sadar telah menolongnya dari kejaran orang-orang yang menghajarnya.

“ternyata benar.” batin kim bum.

So eun tampak bingung dengan kelakuan kim bum, ia pun melepaskan pelukannya.

“ada apa denganmu?” heran so eun.

Kim bum kembali menatap so eun tepat pada matanya.

“kau. . . . .” ujar kim bum menggantung.

“aniyo.” lanjutnya lalu meninggalkan so eun.

“benar-benar aneh.” gumam so eun.

###

 

Kim bum tampak bolak-balik di kamarnya. Ia sebelumnya benar-benar tak menyangka jika so eun adalah wanita yang di peluknya waktu itu.

“kebetulan? Atau takdir?” pikirnya.

“takdir? Atau kebetulan?”

“argh aku benar-benar tak mengerti.” ujarnya.

“jika takdir? Berarti aku di takdirkan dengannya? Jadi takdir yang mempertemukan aku dengannya? Atau mungkin takdir dari tuhan yang akan menentukan?” tanyanya pada diri sendiri.

###

 

“eosseo eoseyo.” sapa so min ramah pada pelanggan.

“apakah pemilik butik ini ada?” tanya orang itu.

“oh ne, akan saya panggilkan. Tunggu sebentar.” ujar so min.

Sembari menunggu, orang itu pun melihat-lihat baju yang ada di sekitar.

Tak lama yoona pun datang.

“oh nyonya Lee?” sapa yoona. Orang itu berbalik.

“apa kabar yoona?”tanya nyonya lee.

“baik, bagaimana dengan anda?” tanya balik yoona.

“baik sekali, sebenarnya aku datang kemari ingin memberi tahu sesuatu padamu.” ujar nyonya lee.

“oh ne apa itu?” tanya yoona.

“aku mengundangmu untuk datang ke acara pesta ulang tahun yayasan seni yang ke 3 besok.” ujar nyonya lee.

“oh. . . .mmm akan aku pikirkan terlebih dahulu. Lagi pula aku kan bukan siapa-siapa. Kenapa nyonya harus mengundangku?” ujar yoona tertawa kecil.

“ini sebagai ucapan terimakasihku. Pokoknya aku tunggu kehadiranmu. Yasudah kalau begitu aku harus pergi, aku sudah ada janji.” ujar nyonya lee sambil tersenyum.

“ne nyonya terimakasih.” balas yoona.

Nyonya lee pun masuk ke dalam mobil lalu pergi.

“eonni ada apa?” tanya so min.

“so min-ah besok kau harus menemaniku !” ujar yoona.

“eodiga?” tanyanya.

###

 

Keesokan harinya.

 

“temani aku !”pinta kim bum pada so eun.

“kau mau pergi kemana?” tanya so eun.

“ulang tahun yayasan milik ibunya seung gi.” jawab kim bum.

“tapi kenapa aku harus ikut? Aku kan tidak berhak, aku bukan siapa-siapa.” tolak so eun.

“kau bodyguardku ! Jadi kau harus mengawasiku.” balas kim bum.

“ah arasseo.” jawab so eun walaupun ia masih merasa heran.

Mereka sedang berada di perjalanan, tiba-tiba kim bum meminta berhenti di suatu tempat. So eun pun hanya bisa menurutinya. Kim bum keluar dari mobil di ikuti oleh so eun. Jalan kim bum lebih cepat dan langkah kakinya lebih lebar dari pada so eun. Sehingga so eun pun hanya bisa berjalan mengikutinya dari belakang. Orang-orang yang ada di sekitar menatap aneh ke arah kim bum, mungkin karena terus di ikut-ikuti oleh seorang wanita di belakangnya. Kim bum merasa risih lalu ia pun menghentikan langkahnya, kemudian ia berbalik ke arah so eun yang juga ikut menghentikan langkahnya.

“ada apa?” tanya so eun.

“kenapa jalanmu lambat sekali !” ujar kim bum berjalan mendekatinya lalu meraih tangan so eun.

So eun kaget sekaligus bingung karena kim bum menggenggam tangannya.

“aku risih karena orang-orang menatapku dengan aneh.” ujar kim bum sedikit salting masih menggenggam tangan so eun. Sementara so eun hanya menatap wajah kim bum yang terlihat gugup.

“yasudah kajja.” kim bum menarik tangan so eun dan mereka pun berjalan berdampingan.

“memangnya kau ingin kemana?” tanya so eun bingung.

“salon. Tidak mungkin kan kau berpakaian seperti ini untuk ke pesta.” jawab kim bum memandang lurus ke depan.

So eun tersenyum kecil sambil memerhatikan wajah kim bum yang merah malu begitu. Kim bum juga ikut tersenyum sedikit saat tahu jika so eun memerhatikannya.

###

 

Pesta

 

Yoona datang bersama so min, mereka tampak cantik di balut dengan gaun sederhana yang tidak terlalu mencolok.

“wooah pestanya megah sekali.” Kagum so min memerhatikan sekitar.

Yoona mengangguk. “sebenarnya aku malu datang ke sini.” Ujar yoona.

“walaupun orang kaya, nyonya lee tidak sombong.” Tambah so min.

“ne kau benar sekali.” Setuju yoona.

Saat mereka hendak mengambil minum, tak sengaja yoona bertemu dengan seung gi yang sedang mengobrol dengan soo hyun dan il woo.

“seung gi-ya…” kaget yoona.

“i..il woo-ssi…” kaget so min pelan.

“n…noona?” kaget seung gi.

Il woo hanya menatap ke arah so min, tidak tahu harus bersikap bagaimana. Sementara soo hyun menatap mereka dengan aneh, dan ia merasa ingat dengan wanita dengan rambut diikat satu itu, wanita yang memakai gaun orange peach selutut.

“kau…jung so min kan?” kaget soo hyun lalu melirik il woo.

“ah..n…ne…annyeong haseyo…” ujar so min malu-malu. Il woo masih tak mengeluarkan suara sepatah kata pun.

“seung gi kenapa kau bisa ada disini?” heran yoona.

Belum seung gi menjawab, nyonya lee datang menghampiri mereka.

“yoona-ssi ternyata kau datang juga….aku menunggumu dari tadi.” Ujar nyonya lee.

“ne…” yoona tersenyum.

“eomma….kau mengenalnya?” tanya seung gi.

“ne…kenapa? Kau mengenalnya juga?” tanya nyonya lee yang ternyata adalah ibunya seung gi.

“eomma?” pekik yoona dalam hati. “jadi nyonya lee ibunya seung gi?” kagetnya.

Tak lama dari itu, kim bum datang bersama so eun. Entah kenapa, kim bum masih menggenggam tangan so eun layaknya seperti orang yang berpacaran.

“hei lepaskan tanganmu! aku malu dilihat orang.” Pinta so eun.

Seakan sadar kim bum pun buru-buru melepas tangannya sambil berdehem. Mereka berjalan menghampiri nyonya lee, seung gi, soo hyun, dan il woo, juga yoona dan so min yang belum so eun ketahui.

“annyeong haseyo bibi.” Sapa kim bum sambil membungkuk dan tersenyum.

So eun ikut membungkuk.

Yoona melirik ke samping dan terkejut melihat adiknya juga datang kesini. “so eun?” pekiknya.

“annyeong haseyo..” sapa so eun.

“ne…kim bum-ssi…apa dia pacarmu?” tanya nyonya lee melirik so eun. Sontak kim bum maupun so eun melototkan matanya, begitu pula yoona dan yang lainnya.

“aniyo bibi, dia hanya….” Jawab kim bum terpotong.

“ah yasudah, lebih baik kalian mengobrol saja dulu. Acaranya belum di mulai, nanti kalian bisa melihat-lihat karya seni disini. Seung gi nanti kau tunjukan pada mereka, ibu ada perlu sebentar, harus menyapa tamu yang lain” Ujar nyonya lee lalu pergi.

So eun baru sadar, dan melirik ke sampingnya. Betapa terkejutnya ia melihat kakaknya yoona dan so min juga ada disana.

“eonni? So min?” kaget so eun tanpa mengeluarkan suara. Hanya dari tatapan saja mereka bisa mengerti harus diam. Jika tidak, identitas so eun bisa terancam.

Yoona hanya tersenyum kikuk begitu pula so eun.

 

TBC