Today, Love Is Begin PART 8

Today, Love Is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

PART 8

“aku sudah memasangkannya.” Ujar kim bum. So eun menatap kim bum tidak mengerti.
“kalung.” Lanjut kim bum. So eun menatap kim bum tidak percaya lalu menyentuh lehernya yang ternyata sudah terpasang kalung dengan bandul berbentuk bulan sabit, so eun menatap kalung itu. Kim bum mengerutkan keningnya, berusaha menahan rasa gengsinya.
“baiklah, biarkan aku menjelaskannya. Itu hanya karena aku tak sengaja menemukan benda yang membuatku tertarik dan kelihatan cocok untukmu. Jadi aku pikir tidak ada salahnya jika aku membelinya.” Jelas kim bum. So eun menatap kim bum tak percaya.
“Kalung itu adalah simbol jika kau adalah milikku, jadi kau jangan pernah melupakannya.” Ujar kim bum yang masih saja besar rasa gengsinya, ia mengucapkan kata-kata itu tanpa melihat ke arah so eun dan dengan mimik wajah yang kelihatan sangat tidak nyaman. Ia mengerutkan keningnya saat berbicara seperti itu.
Tiba-tiba saja so eun melayangkan pukulan ke arah dada kim bum tanpa sempat kim bum menahannya. Kim bum kaget dengan apa yang so eun lakukan itu.
“kau benar-benar jahat…hic….hic…..” so eun kembali menangis. Air matanya jatuh dengan deras, ia tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaanya saat ini. Antara kesal, marah, dan senang.
“hic…..hic…….hic……g..gomawo.” ujar so eun akhirnya. Sekarang ia menangis karena benar-benar senang dan terharu. Ia tidak menyangka jika kim bum akan memberikannya sebuah kalung meskipun dengan cara yang tidak manis.
“aku….aku senang.” Ujar so eun yang masih saja menangis.
Kim bum yang melihat so eun menangis seperti itu jadi merasa tidak tega.
“uhuuuhuhu….huaaa………” tangisan so eun malah semakin keras. “aku pasti akan menjaganya hic…hic….” Ujar so eun.
“sudahlah, jangan menangis.” Ujar kim bum.

‘aku menyukaimu, kim so eun’. Apa yang pernah kau katakan saat itu kepadaku, bolehkan aku mempercayainya, walaupun hanya sedikit?

-today love is begin-

Selama liburan natal dan tahun baru, So eun belum pernah lagi bertemu dengan kim bum setelah kejadian dimana kim bum memberikannya sebuah kalung kepadanya. Bahkan untuk sekedar ingin melihatnya pun ia tidak bisa karena kim bum yang susah dihubungi, kim bum pun tak juga menelpon atau sekedar mengirim pesan kepadanya.
Waktu berjalan begitu cepat, liburan telah usai dan semester baru pun dimulai. Semua siswa-siswi Chungju Highschool sedang berbaris dilapangan mengikuti upacara pembukaan semester baru. Disana tampak so eun berbaris bersama hye rim dan bo young. Selama kepala sekolah berpidato di depan semua murid, so eun terus saja mengarahkan pandangannya ke arah barisan kelasnya kim bum. Tapi so eun tak kunjung menemukan sosok orang yang dicarinya. Begitu pula dengan hye rim dan bo young, mereka malah asik mengobrol disaat kepala sekolah masih memberikan pidatonya.
“liburan musim dingin terasa begitu cepat berakhir.” Ujar hye rim.
“iya kau benar, satu bulan terasa begitu singkat.” Balas bo young.
“bo young-ah…aku rasa kau semakin gemuk, apa berat badanmu naik?” Tanya hye rim.
“ehh? Apakah kelihatan dengan jelas?” Tanya balik bo young.
“yeah.” Hye rim mengangguk.
“selama liburan aku memang jadi banyak makan hehehe, padahal dari awal aku sudah berniat untuk tidak memakan kue dan coklat selama liburan. Tapi kau tahu kan? Udara begitu dingin dan aku terpaksa memakan banyak coklat untuk sedikit menghangatkan tubuhku.” Cerita bo young.
“ah…aku mengerti.” Balas hye rim. Lalu hye rim melihat so eun yang sedari tadi kepalanya tak mau diam.
“so eun-ah….waegeurae? apa yang sedang kau lihat?” heran hye rim.
“bukan apa-apa.” Balas so eun tanpa melihat sedikit pun ke arah hye rim ataupun bo young. Hye rim dan bo young saling tatap lalu mengangkat bahu mereka masing-masing pertanda tidak tahu.
Selama kurang lebih lima belas menit, akhirnya upacara penyambutan semester baru pun telah selesai. Semua murid kini mulai berhamburan untuk menuju kelas mereka masing-masing.
“miaaann….aku akan ke kelas lebih dulu !” ujar so eun buru-buru pada hye rim dan bo young. Lalu so eun pun berlari-lari kecil meninggalkan mereka. Sementara itu hye rim dan bo young menatap kepergian so eun dengan heran.
“hari pertama masuk, dia kelihatan aneh sekali.” Ujar bo young. “hmmm..” hye rim mengangguk.
So eun berlari-lari kecil menuju bubaran kelasnya kim bum. Ia bahkan menerobos para siswa lain hingga tak sengaja menyenggol mereka. Murid-murid itu protes pada so eun, namun so eun mengabaikannya. Dari sanalah akhirnya so eun berhasil menemukan sosok kim bum. Kim bum sedang berjalan bersama dengan seorang murid perempuan dan mereka tampak mengobrol dengan akrab.
“kim bum-ssi !” panggil so eun dengan nafas yang tidak beraturan. Orang yang dipanggilpun langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap asal suara. So eun pun menghampiri kim bum lebih dekat.
“kim bum-ssi, aku ke kelas lebih dulu ne?” ujar perempuan itu.
“oh ye.” Balas kim bum. Lalu perempuan itu pun pergi meninggalkan kim bum dan so eun.
“se..selamat pagi.” Ujar so eun seraya menatap kim bum dan masih dengan nafas yang ngos-ngosan. “dan juga….selamat tahun baru heheh.” Lanjutnya.
“oh….kau datang saat kau melihat pemilikmu.” Ujar kim bum. “kau tidak berubah sama sekali, huh?” tanyanya seraya memerhatikan so eun.
“i…itu karena…karena sudah sangat lama sejak aku melihatmu terakhir kalinya, kita tidak bertemu selama liburan musim dingin. Kim bum-ssi juga tidak menghubungiku, sebenarnya apa saja yang kau lakukan?” Tanya so eun.
Kim bum menghela nafas lalu menggaruk tengkuknya. “selama tahun baru, aku pergi berlibur.” Jawabnya.
“d…dengan siapa?” Tanya so eun.
“dengan ayahku. Dia sangat mengganggu dan terus memaksaku untuk ikut berlibur dengannya seraya mencari uang, dia adalah tipe seperti itu. Jadi aku terpaksa ikut dengannya.” Jelas kim bum. So eun hanya menatap kim bum saja. “alasan aku tidak bisa melihat atau bertemu denganmu karena aku sedang sibuk.” Lanjutnya.
So eun menghela nafasnya. “ya aku mengerti, tapi bukankah lebih baik kau membalas satu saja pesan dariku? Apakah kau mencoba mengacuhkanku?” Tanya so eun.
“memangnya kenapa? Apakah setelah aku meninggalkanmu sendirian, kau kembali menangis lagi, huh?” Tanya kim bum.
“aku tidak menangis !” jawab so eun cepat.
“jincha?” kim bum merasa tidak percaya.
“yeah.” So eun tersenyum. “karena aku punya ini !” so eun menunjukkan kalung yang sedang ia pakai pada kim bum. Kim bum langsung menatap kalung itu lalu setelahnya menatap so eun kembali.
“aku benar-benar mengingat apa yang kau katakan kepadaku. Jadi, aku sangat berterimakasih kepada kalung ini yang bisa membuatku menjadi lebih bersemangat, hehe.” So eun nyengir kepada kim bum. Ia tampak senang sekali mengingat kalung itu adalah pemberian kim bum. Pemberian orang yang ia sukai.
“heh….” Kim bum membuang nafasnya. “tapi asal kau tahu, hanya aku yang bisa memutuskan kapan hubungan kita berakhir. Jadi, ketika itu terjadi, benda itu tidak akan ada artinya lagi.” Jelas kim bum lalu berbalik dan mulai melangkah.
“kenapa tiba-tiba kau malah mengatakan hal itu?” heran so eun yang kini sudah mensejajarkan langkahnya dengan kim bum. So eun menengadahkan kepalanya menatap wajah kim bum.
“aku hanya memberimu peringatan.” Balas kim bum. So eun hanya mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban kim bum. Namun setidaknya ia bersyukur, sikap kim bum sudah mulai melunak meskipun sangat-sangat sedikit.
‘aku sangat senang karena sekarang dia menganggapku sebagai sesuatu yang spesial. Meskipun aku tidak tahu apakah ini hanyalah cinta kepada peliharaan, atau cinta kepada seoarang perempuan.’ Batin so eun seraya menatap kim bum dari samping lalu menyunggingkan senyumnya. Kim bum yang menyadari so eun memerhatikannya langsung saja berdehem.
“jangan menatapku dengan ekspresi seperti itu ! kau kelihatan seperti peliharaan yang menginginkan belas kasih dari majikannya.” Ujar kim bum yang langsung membuat so eun mangalihkan tatapannya ke depan, so eun memanyunkan bibirnya.
‘tapi tetap saja mulutnya mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan.’ Batin so eun.

-today love is begin-

Istirahat telah tiba. Kim so eun dan shin ni rin sedang berada di kantin sekarang ini. So eun menyantap makanannya dengan sangat lahap dan sesekali ia tersenyum sendiri. Melihat kelakuan so eun yang seperti itu, membuat nirin heran dan menatap so eun dengan aneh.
“so eun-ah, apa saja yang terjadi kepadamu selama liburan?” Tanya nirin.
“huh?” so eun tak mengerti, ia menatap nirin dengan wajah polos.
“sedari tadi aku melihatmu senyum-senyum sendiri, aku pikir sesuatu telah terjadi kepadamu hingga kau seperti ini.” Ujar nirin. Ia masih menatap so eun dengan tatapan ingin meminta penjelasan. Ia ingin tahu apa yang telah terjadi kepada sahabatnya ini. Setelah bulan-bulan kemarin banyak menangis karena sikap kim bum, sekarang so eun terlihat sangat senang sekali.
“yang terjadi kepadaku?” so eun menunjuk dirinya sendiri, lalu ia tersenyum dengan mulut yang masih dipenuhi dengan makanan.
“aku sedang senang nirin-ah, kim bum-ssi memberikan ini kepadaku sebagai hadiah natal.” Ujar so eun seraya memperlihatkan kalung yang terpasang di lehernya itu kepada nirin. Nirin sedikit kaget dan tidak menyangka dengan apa yang so eun katakana barusan.
“kim bum-ssi? Apakah tidak salah? Apa kau sedang mengkhayal so eun-ah?” Nirin kelihatan tidak percaya. Pasalnya yang ia tahu, selama setahun ia satu kelas dengan kim bum. Kim bum bukanlah tipe laki-laki seperti itu. Terlebih ia memberikan benda semacam itu kepada so eun, sungguh ia tidak menyangka.
“terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi ini asli pemberiannya. Aku sendiri tidak menyangka dia akan memberikanku barang seperti ini.” Balas so eun masih dengan senyum yang mengembang dari bibirnya.
“apa dia mulai menyukaimu?” Tanya nirin menatap so eun ingin tahu.
“molla~ aku sudah bekerja dengan keras untuk membuat dia menyukaiku, mulai dari level dimana aku sebagai peliharaannya menuju level untuk menjadi kekasihnya, bahkan sampai gagal berkali-kali dan begitu membuatku banyak menangis.” Curhat so eun yang kini kembali menyantap makanannya.
“yah aku akui, kau sangat bekerja keras dalam kehidupan percintaanmu. Tapi apakah besok kau akan baik-baik saja?” Tanya nirin khwatir melihat so eun.
“huh? Memangnya ada apa di hari esok?” Tanya so eun dengan wajah polosnya. Ia menatap nirin dengan pipi menggembung.
“ada kuis untuk semua mata pelajaran.” Jawab nirin.
“eh…” so eun langsung pucat pasi saat mengetahuinya. Ia langsung menghentikan giginya yang mengunyah makanan.
“apa kau lupa? Tidak ingat sama sekali?” Tanya nirin. So eun menggeleng.
“yah, meskipun tes ini hanya untuk menguji kemampuan, tapi tes inilah yang akan menentukan nasibmu saat di kelas tiga nanti.” Jelas nirin.
“eh…jincha?” pekik so eun. Nirin mengangguk.
“ehehe, tapi aku rasa tidak akan begitu bermasalah bagiku. Aku selalu mendengarkan penjelasan guru saat di kelas.” Ujar so eun dengan entengnya.
“jika seperti itu, baguslah.” Timpal nirin. Mereka pun melanjutkan aktivitas makan mereka.

Setelah mengikuti tes dengan penuh perjuangan beberapa hari yang lalu. Hari ini hasil tes itu sudah ada di tangan so eun. So eun menatap hasilnya dengan wajah pucat. Tentu saja, semua nilai yang ia dapat tak ada satupun yang lebih dari 50 poin.
“eo…eoteokae?” gumamnya.
“jadi, inikah yang kau bilang tidak masalah bagimu?” cibir nirin saat ia tak sengaja menemukan so eun dan melihat hasil tes milik so eun. So eun langsung menatap nirin yang berdiri di belakangnya.
“nirin-ah…” so eun menampakkan wajah malangnya.
“jika nilaimu terus seperti ini, kau bisa ditempatkan di kelas paling buruk di kelas tiga nanti.” Ujar ni rin.
“a..andwae…andwae…aku tidak mau nirin-ah….kalau begitu apa yang harus aku lakukan?” Tanya so eun dengan tatapan memohon pada nirin. Nirin menghela nafasnya.
“bukankah soalnya cukup mudah? Bahkan semua yang sudah dipelajari.” Ujar nirin.
“a..aku tahu itu, tapi entah kenapa selama tes berlangsung yang ada dipikiranku hanyalah kim bum-ssi, jadi aku tidak bisa berkonsentrasi.” Ujar so eun. Nirin diam, ia tak membalas ucapan itu. Ia hanya menatap ke seseorang yang berdiri tepat di belakang so eun.
“huh? Kenapa kau malah jadi menyalahkanku?” Tanya kim bum tiba-tiba seraya merebut alih semua kertas-kertas hasil tes so eun. So eun kaget dan langsung membalikkan tubuhnya ke belakang, menghadap kim bum yang kini tengah melihat-lihat kertas hasil tesnya.
“wow…..daebak !” cibir kim bum. “ternyata di dunia ini masih ada siswi SMA yang mendapat nilai buruk seperti ini.” Cibirnya lagi.
“yak…kembalikan !” pinta so eun seraya berusaha merebut kembali kertas-kertas miliknya. Namun kim bum malah mengangkat tangannya tinggi-tinggi sehinga tak bisa digapai oleh so eun.
“haruskah aku membacanya dengan keras? Matematika 30 poin, fisika 25 poin, bahasa ingg………”kim bum membacakan nilai so eun dengan suara cukup keras.
“yak…hentikan !!” teriak so eun dan dengan cepat so eun pun merebut kertas itu. Kim bum malah tersenyum mencibir.
“kau benar-benar…….dasar kau….” Kesal so eun. Kim bum tak menghiraukannya, ia malah menatap nirin lalu tersenyum ramah kepadanya.
“tes remedial dua hari lagi, benar kan?” Tanya kim bum.
“ah iya, soal-soalnya akan sama persis dan yang diremedial pun hanya mata pelajaran yang tidak tuntas saja.” Jawab nirin.
“hmmm…” kim bum mengangguk mengerti, lalu ia kembali menatap so eun yang kini tengah memunggunginya dan memegang erat kertas-kertas miliknya itu. Ia benar-benar malu karena kim bum mengetahui nilanya yang sangat bobrok. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ia berhadapan dengan kim bum saat ini.
“hey….so eun-ssi !” panggil kim bum. So eun pun memutar kepalanya secara perlahan.
“sepertinya tidak ada cara lain, jadi aku akan mengajarimu.” Ujar kim bum. Mata so eun langsung membulat sempurna mendengarnya.
“a..apakah tidak apa-apa?” Tanya so eun.
“aku hanya khawatir orang-orang akan berpendapat jika aku tertarik dengan perempuan bodoh, jadi sebelum itu terjadi aku akan mengajarimu. Aku tidak bisa membayangkan jika kau akan berada di kelas paling buruk nanti.” Jawab kim bum.
“a….mianhae…” ujar so eun. “kalau begitu, mohon bimbingan dan bantuannya !” so eun membungkukkan badannya kepada kim bum.
Kim bum melipat kedua lengannya di dada. “selama dua hari ke depan, aku akan mengajarimu sangat keras di rumahku.” Ujar kim bum lalu ia pun pergi meninggalkan so eun dan nirin. So eun langsung mengangkat wajahnya dan menatap punggung kim bum yang semakin menjauh. Yang ia tidak sangka adalah ia akan berlajar di rumah kim bum, dan hanya berdua.
“bukankah itu bagus so eun-ah?” ujar nirin. So eun diam, ia tak menghiraukan ucapan nirin.

-today love is begin-

“So eun-ah kau mau kemana?” Tanya ibunya saat ia melihat so eun tengah bersiap-siap di kamarnya.
“Ah eomma, kau mengagetkanku.” Balas so eun, ia sudah memasukan semua buku yang dibutuhkannya untuk belajar bersama kim bum hari ini.
“Sudah gelap seperti ini kau mau pergi kemana?” Tanya ibunya sekali lagi.
“Aku akan belajar kelompok di rumah nirin eomma, mungkin aku juga akan menginap disana.” Jawab so eun. Woah baru pertama kali ini ia berani berbohong pada ibunya. ‘Mian eomma’
“Ah kalau begitu hati-hatilah, jangan lupa bawa jaket yang tebal dan payung, kemungkinan malam ini salju akan turun lagi.” Titah eommanya.
“Arasseo, kalau begitu aku pergi eomma.” Ujar so eun.
Ibunya hanya menatap tubuh so eun yang menjauh darinya dengan kening sedikit mengerut. “Kenapa aku merasa dia sedang berbohong ya?” Gumamnya.

-today love is begin-

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam. Kim bum terus saja mengetuk-ketukan jarinya pada meja karena kesal. Cuaca hari ini benar-benar dingin, sampai ia mentupi tubuhnya dengan selimut tebal.
“Ck…kenapa dia belum datang juga?” Kesalnya. Kim bum lalu beranjak dari duduknya dan mengambil ponselnya. Ia berniat untuk menghubungi so eun.
Kim bum menekan tombol call pada ponselnya, tapi setelah menunggu beberapa saat, tak kunjung ada jawaban dari so eun. Kim bum menghela nafasnya lalu memilih untuk menyalakan televisi.
“Apa dia benar-benar berniat ingin belajar denganku?” Gerutu kim bum. Sudah sepuluh menit berlalu, so eun tak kunjung datang juga, semakin membuat kim bum kesal. Acara-acara di televisi pun tidak ada yang menarik, membuatnya berkali-kali memindahkan chanel dan pada akhirnya ia mematikan televisinya dan melempar remote yang di pegangnya itu. Kim bum lalu memilih membaringkan tubuhnya di ranjangnya.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Kim bum segera melihatnya. Ternyata itu panggilan dari shin ni rin.

“yobeosaeyo ni rin-ssi.”
“kim bum-ssi, apakah so eun sedang bersamamu sekarang ini?” terdengar nada khawatir dari nirin.
“ani.” Balas kim bum.
“jinjjaru? Tadi ibunya menghubungiku dan menanyakan apakah so eun belajar bersama denganku atau tidak, karena aku tahu so eun berbohong jadi aku menjawab ‘iya’ saja.”
“dia belum juga datang ke rumahku.”
“Apa kau menonton berita hari ini kim bum-ssi? Katanya malam ini akan ada badai salju.” Mata kim bum membulat mendengarnya.
“aku khawatir, sudah beberapa kali aku menghubungi so eun tapi dia tak menjawabnya juga. Aku takut terjadi sesuatu padanya.” Nada nirin di ujung sana semakin terdengar cemas saja.
“apakah berita yang kau katakan tadi benar?” Tanya kim bum.
“ne, aku minta bantuan padamu kim bum-ssi, tolong cari so eun ! aku sudah terlanjur mengatakan pada ibunya jika dia bersamaku, jika terjadi sesuatu padanya pasti aku juga akan merasa bersalah.” Pinta nirin.
Kim bum terdiam.
“mungkin saja dia sudah dekat dengan daerah tempat tinggalmu, aku sangat berterimakasih jika kau mencarinya.”
“aku mengerti.” Balas kim bum akhirnya.
“terimkasih kim bum-ssi, bisakah kau menghubungiku jika sudah bersama dengan so eunni?” pinta nirin.
“aku akan menghubungimu.” Balas kim bum. Sambungan telpon pun terputus.

Kim bum mendesah. “sebenarnya kemana gadis itu?” pikir kim bum.
Dengan cepat ia pun melempar selimut yang membungkus tubuhnya, memakai mantel berwarna abu tua, dan langsung keluar dari apartemennya.
Cuaca diluar benar-benar dingin, sampai-sampai mulut kim bum pun sulit untuk berbicara. Hidungnya memerah, dan terpaan angin dingin menusuk wajahnya. salju-salju kecil pun mulai turun, semakin menambah rasa dingin yang menghinggapi tubuhnya.
“maaf…” kim bum membuat kedua orang wanita sekitar berumur 40 tahunan yang sedang terburu-buru itu berhenti berjalan.
“apakah kau melihat seorang perempuan di sekitar sini? Dia anak SMA, rambutnya sepanjang ini?” Tanya kim bum seraya mencontohkan panjang rambut so eun dengan tangannya. Kedua perempuan tua itu mengerutkan keningnya.
“hidungnya mancung, dan pipinya sedikit berisi.” Tambah kim bum.
“apakah dia hilang?” Tanya salah satu dari wanita tua itu.
“ani….ah ne.” balas kim bum.
“jika kau tidak juga menemukannya, lebih baik kau menghubungi polisi.” Saran wanita tua yang satunya lagi.
“ah kamsahamnida.” Balas kim bum.
Kim bum menghela nafasnya, membuat uap putih keluar dari mulutnya. Jalanan sudah sepi, tak ada orang yang bisa ia tanya. Mungkin karena malam ini akan ada badai salju. Semua orang pasti diam di rumah mereka masing-masing. Kim bum sudah mencoba mencari so eun ke jalanan di sekitar rumahnya, dan sekarang ia sudah mencarinya cukup jauh. Ia betul-betul khawatir. Belum pernah ia khawatir seperti ini, terlebih pada seorang wanita.
“sebenarnya, ada diamana dia sekarang?” batin kim bum. Ia sudah lelah, nafasnya terengah-engah. Ia juga sudah terlalu lama berada di luar.
“SIAL !” kesalnya lalu memukul tiang listrik di dekatnya. Kim bum terlihat sedikit frustasi karena tak kunjung menemukan so eun. Hal-hal aneh pun muncul di pikirannya.
“ada dimana kau sekarang?” gumam kim bum.
“oh….kim bum-ssi.” Suara perempuan ini membuat kim bum langsung menegakkan tubuhnya dan berbalik ke belakang. Ia melihat so eun berdiri beberapa meter di belakangnya.
“kim so eun?” ujar kim bum.
“kenapa kau ada di luar?” tanya so eun polos. “apakah ada sesuatu yang ingin kau beli? Di dekat sini ada minimarket yang masih buka. Meskipun sedikit jauh tapi tak apa, aku bisa mengantarmu.” Ujar so eun. Kim bum menatap so eun tidak percaya. Bagaimana bisa ia bicara sepolos ini di saat orang lain mengkhawatirkannya.
“YAK GADIS BODOH !!!” teriak kim bum tepat di wajah so eun. So eun sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang. Ia takut kenapa kim bum tiba-tiba membentaknya.
“JANGAN BERCANDA DENGANKU ! MALAM INI AKAN ADA BADAI SALJU ! TIDAK HANYA PONSELMU YANG SULIT DIHUBUNGI DAN KAU BERSIKAP POLOS DIDEPANKU, KENAPA KAU TIDAK MENGHUBUNGIKU JIKA KAU AKAN TELAT DATANG, HAH?” teriak kim bum. So eun malah menatap kim bum tanpa berkedip.
“SEBENARNYA SEDARI TADI APA SAJA YANG KAU LAKUKAN, DAN DARI MANA SAJA KAU?” kim bum malah semakin membentak so eun, membuat so eun jadi takut.
“i..itu…tadi aku salah naik bus dan harus memutar arah dulu. Lalu aku berniat pergi ke minimarket terdekat, tapi ternyata semua sudah tutup. Dan aku kembali ke minimarket yang lumayan jauh.” Jawab so eun dengan nada rendah.
“hah? Minimarket?” Tanya kim bum, kelihatannya ia masih sedikit marah, tapi lebih mending daripada saat pertama.
“anu….jika aku tidak ke minimarket, aku tidak akan bisa membawa ini…” so eun mengangkat kedua tangannya yang membawa kantong plastik. Kim bum mengerutkan kening melihatnya.
“hotpot set.” Lanjut so eun.
“ha? Hotpot?” Tanya kim bum.
So eun menundukkan kepalanya, bibirnya sedikit mengerut. “cuaca hari ini sangat dingin, aku rasa kau juga tidak punya hotpot set di rumahmu, jadi aku membelinya. Jadi aku rasa hotpot ini akan membuat sedikit hangat.” Jelas so eun. kim bum kini hanya bisa menatap so eun saja.
“lagipula aku rasa kau juga lapar, jadi aku membeli sedikit makanan, aku pernah berkunjung ke rumahmu dan kau tidak punya persediaan makanan yang banyak. Dan….dan juga…aku ingin melakukan sesuatu yang cukup girly…seperti memasak.” Ujar so eun dengan suara pelan. Sebenarnya ia malu untuk mengungkapkan ini kepada kim bum. Tapi ia harus memberitahunya. Kim bum membulatkan matanya mendengar apa yang so eun katakana. Sebegitu perhatiannya kah perempuan ini?
“yah meskipun aku tidak terlalu baik dalam memasak.” Perlahan so eun pun mengangkat kepalanya untuk menatap kim bum.
“haaah…” kim bum menghela nafasnya. “kau memang benar-benar bodoh !” kim bum melipat kedua lengannya di dada.
“meskipun itu semua adalah alasanmu, tapi setidaknya kau menghubungiku dulu sebelumnya, jadi tak membuat orang lain repot. Aku sampai berfikir sesuatu yang buruk terjadi padamu.” Ujar kim bum.
“mian~” balas so eun.
Tiba-tiba kim bum mengulurkan tangannya ke arah so eun. So eun menatap kim bum tidak mengerti.
“berikan padaku !” perintah kim bum.
“huh?”
“kemarikan kantong plastik itu !”
So eun pun memberikan ke dua kantong plastik itu pada kim bum. So eun tak sengaja menyentuh tangan kim bum. Tangan kim bum sangat dingin, bahkan lebih dingin dari tangannya. Kim bum pun berbalik dan berjalan lebih dulu dari so eun.
“apakah dia sudah lama berada di luar hanya untuk mencariku?” gumam so eun seraya menatap punggung kim bum. “tangannya dingin sekali.”
“ayo cepat kita pulang ! aku hampir mati kedinginan, dan ini semua karena aku mengkhawatirkan peliharaanku yang bodoh !” ujar kim bum membalikkan tubuhnya menatap so eun.
Tiba-tiba senyum tersungging di wajah so eun. ‘ternyata, dia khawatir padaku.’ Batin so eun lali ia pun berlari kecil untuk mensejajarkan tubuhnya dengan kim bum.
“kalau begitu, biarkan aku menghangatkan tubuhmu, walaupun hanya sedikit.” Ujar so eun yang tanpa diminta langsung menggandeng lengan kim bum. Kim bum cukup kaget dibuatnya. Ia menatap so eun yang berada di sampingnya dengan kening berkerut dan mata yang sedikit membulat.
“ya ya ! lepaskan tanganku !” suruh kim bum.
“tapi ini semua salahku kan? Tidak ada yang bisa aku lakukan selain membuatmu hangat.” Balas so eun.
“aku tidak apa-apa, jadi lepaskan !” pinta kim bum.
“wae? Lagipula aku hanya peliharaanmu kan?” ujar so eun, wajahnya tampak berseri-seri saat ini.
Kim bum yang melihatnya pun jadi tak bisa berbuat apa-apa. “lakukan apa yang kau mau.” Akhirnya kim bum mengalah.
“hehehehe.” So eun malah tersenyum dan semakin mengeratkan tangannya menggandeng lengan kim bum.
“Aku jadi tidak mood untuk mengajarimu malam ini.” Ujar kim bum.
So eun mengerucutkan bibirnya. “miaaaaann.”

Bahkan meskipun tangannya terasa sangat dingin, dia berusaha mencariku, marah, lalu teriak-teriak kepadaku. Sekarang ini, aku merasa jika aku sudah diperlakukan layaknya seorang perempuan. Terkadang aku senang hari ini salju turun cukup lebat. Akankah kim bum-ssi mulai bisa merubah hatinya?

To Be Continued

Mian jika ceritanya kurang memuaskan, tapi saya harap kalian menyukainya.

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya

Today, Love Is Begin PART 7

Today, Love is Begin

kbkse110
Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

PART 7

Kim bum diam untuk beberapa saat. Ia menatap punggung so eun dari belakang, lalu ia membuang nafasnya. “seberapa besar kau menyukaku?” itulah yang keluar dari mulut kim bum. So eun memutar kepalanya untuk melihat kim bum.
“jika kau ingin tahu apakah hatiku sudah terbuka atau belum, maka intiplah ! tapi jika kau tidak seberapa menyukaiku, maka kau tidak usah melakukannya dank au tidak akan bisa memilikiku ! okay ?” ujar kim bum. So eun terdiam cukup lama mendengarnya. Ia menatap kim bum tanpa berkedip. Tiba-tiba kim bum mengulurkan tangan kanannya pada so eun. So eun menatap tangan itu dengan kening berkerut lalu kembali menatap kim bum. So eun bingung dengan sikap kim bum sekarang.
“jadi, mana yang akan kau pilih?” Tanya kim bum. So eun masih diam, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan dan apa yang harus ia lakukan. Ia masih menatap kim bum tidak mengerti.
“jika kau memang benar-benar menyukaiku, maka terima tanganku ! tapi jika tidak, abaikan saja aku !” kim bum memberikan pilihan kepada so eun. Tapi dengan pilihan yang kim bum berikan, so eun malah semakin diam dan hanya bisa menatap kim bum. Ia butuh waktu untuk mencerna apa yang kim bum katakan sekarang ini, di tempat ini. Karena so eun tak kunjung juga memberikan respon. Akhirnya kim bum pun meraih tangan kiri so eun bahkan sebelum so eun memilih, kim bum menarik tangannya lalu menggenggam tangan so eun. So eun tidak menolak atau pun melakukan sesuatu, ia hanya menerima saja ketika kim bum menariknya dan menggenggam tangannya. Mendadak, pipinya kembali memerah dan jantungnya berdegup lebih cepat. So eun berjalan di belakang kim bum dengan tangan kirinya yang digenggam kim bum. So eun bisa merasakan tangan kim bum yang besar dan dingin itu.
“heh….persis seperti yang telah aku pikirkan, pada akhirnya kau akan jatuh cinta kepadaku. Kau memang bodoh !” ejek kim bum.
“kau…kau sangat menyebalkan !” balas so eun, sejujurnya ia salah tingkah dengan sikap kim bum yang berubah sekarang ini.
“ya ya terserah kau.” Kim bum hanya membalasnya dengan jawaba iya saja.
Pada akhirnya, hatiku yang tadinya telah remuk, kini mulai tersusun lagi.
-today love is begin-

Chungju Highschool
Selama di kelas, so eun hanya bisa melamun seraya menopang dagu dengan tangannya. Saat belajar pun ia tidak bisa berkonsentrasi dengan benar. Yang ada di otaknya saat ini adalah hanya tentang kejadian kemarin malam. Kejadian itu terus saja berputar-putar di kepalanya. Memang benar, so eun sangat senang dengan apa yang terjadi kemarin. Tapi, so eun masih belum mengerti dengan sikap kim bum. Sikapnya itu selalu tidak terduga, terkadang ia sangat kasar padanya, kadang juga berubah menjadi baik. Dan itu semua yang membuat so eun tidak bisa berhenti menyukainya, meskipun so eun sempat berpikir untuk menghilangkan perasaanya kepada kim bum karena sikap kim bum yang selalu kasar. Tapi, bolehkah untuk saat ini so eun berharap lebih?
‘aku penasaran…..sebenarnya dia itu menganggapku seperti apa?’ gumam so eun, lalu ia mendesah.
‘dia tidak pernah mengatakannya dengan jelas ! apakah aku tidak lebih hanya sebagai peliharaannya saja? Atau………apakah dia sudah mulai menyukaiku? Meskipun hanya sedikit?’ batin so eun bergejolak. Berjuta pemikiran tentang bagaimana perasaan kim bum kepadanya sebenarnya terus saja hadir di kepalanya.
‘bolehkan aku beranggapan jika dia mulai menyukaiku?’
“hye rim-ah…..natal sebentar lagi. Apa yang kau rencanakan bersama pacarmu?” Tanya bo young dengan antusias. Suara bo young yang cukup keras itu membuat so eun tersadar dari lamunannya, dan ia pun memilih untuk memerhatikan bo young dan hye rim yang sedang mengobrol.
“dia mengajakku pergi ke hotel, dan setelah itu kami makan malam disana.” Jawab hye rim sambil tangannya sibuk memainkan ponsel.
“ehh? Jincharu? Merayakan natal di hotel? Kau masih di bawah umur hye rim-ah ! bagaimana jika terjadi sesuatu yang…….”
“kami tidak akan melakukan hal sampai di luar batas, kami hanya merayakan natal di hotel dan itu pun bersama dengan teman-temannya yang lain.” Potong hye rim, meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.
“ah….ara ara hahaha, kekasihmu benar-benar punya uang yang banyak ! dia selalu membelikanmu barang-barang yang mahal. Uh aku jadi iri !” ujar bo young.
“lalu kau sendiri punya rencana apa dengan kekasihmu?” Tanya hye rim yang kini mulai menatap bo young. Bo young tersenyum.
“meskipun tidak semewah rencanamu, tapi kami akan pergi bermain ski.” Jawabnya dengan senang.
“oh….aku rasa itu lebih romantis.” Balas hye rim.
“ya hehehe, akhir-akhir ini dia memang jadi lebih romantis kepadaku. Aku jadi semakin mencintainya.” Ujar bo young dengan senyum merekah di bibirnya.
So eun merasa iri mendengar percakapan mereka, terlebih ia tidak punya rencana apa-apa dengan kim bum. Yah, mau bagaimana lagi? Mereka bukanlah sepasang kekasih yang nyata. Menyadari fakta tersebut, membuat so eun sedikit menciut dan ia benar-benar iri kepada kedua temannya ini.
“ah ya, apakah kau berencana memberikannya sesuatu? Hadiah?” Tanya bo young.
“hmm…mungkin baju atau….jam tangan.” Jawab hye rim enteng.
“eehhh…” bo young sedikit terkejut. “apakah jam tangan tidak terlalu mahal?” Tanya bo young.
“entahlah, jika aku punya banyak uang aku akan membeli jam tangan.” Jawab hye rim, lalu ia menatap so eun yang sedari tadi hanya diam seraya memerhatikan mereka dengan wajah sedikit lemas.
‘uuuhh, aku benar-benar iri kepada mereka !’ batin so eun.
“jadi…” ujar bo young menggantung.
“waegeurae so eun-ah? Kau kelihatan tidak bersemangat.” Ujar hye rim yang membuat so eun tersadar dan langsung menegakkan posisi duduknya. Bo young juga melihat so eun kini.
“huh?”
“apakah kau sedang punya malasah dengan kim bum-ssi?” Tanya bo young.
“eehhh? A…ani…waeyo?” Tanya so eun gelagapan.
“karena sedari tadi kau hanya diam dan hanya memerhatikan kita, kau juga tak ikut mengobrol seperti biasanya.” ujar bo young.
“apakah kau belum merencanakan sesuatu di natal bersama kim bum-ssi?” Tanya hye rim.
So eun langsung bingung, ia tidak tahu harus menjawab apa. Apakah ia harus berdusta lagi kepada bo young dan hye rim.
“te…tentu saja sudah punya rencana !” jawab so eun dengan lantang, namun nada bicaranya seperti tersendat oleh sesuatu.
“kita berencana akan makan kue natal bersama dan bertukar hadiah juga.” Lanjut so eun.
“kedengaran sangat sederhana.” Timpal hye rim.
“tapi bukankah itu kelihatan seperti seleranya kim bum-ssi?” tambah bo young seraya menatap so eun.
“ah….be..benar hehe.” Jawab so eun dengan senyum terpaksa.
“kalau begitu ayo kita saling berkirim email dan bertukar foto saat merayakan natal bersama dengan kekasih kita masing-masing !” ujar bo young dengan bersemangat. Mendengar hal itu, so eun langsung es krim yang mencair.
“tidak masalah.” Balas hye rim.
“bagaimana so eun-ah?” Tanya bo young.
“huh? Aa…um…ba..baiklah.” jawab so eun akhirnya. Ini gawat ! apa yang harus ia lakukan?
“ah…..aku rasa akan sangat menyenangkan !” bo young terlihat sangat senang sekali diikuti hye rim yang juga tersenyum lebar. Tapi berbeda dengan so eun, ia hanya diam dengan wajah yang terlihat kusut. Apa yang harus ia katakan kepada kim bum tentang hal ini? Jika ia mengatakannya pasti kim bum tidak akan melakukan hal semacam itu? Pasti kim bum tidak akan mendengarnya.
‘eotteokae?’ batin so eun
-today love is begin-

Bel pulang sudah berbunyi. Semua murid memakai jaket yang super tebal karena sekarang sudah memasuki musim salju, yeah natal pun sebentar lagi akan tiba. So eun dengan langkah yang sedikit gusar keluar dari kelasnya. Ia masih bingung apa yang harus ia lakukan? Ia sudah terlanjur berbohong kepada bo young dan hye rim. Ia juga sudah terlanjur setuju untuk saling bertukar foto dengan mereka.
“kau lama sekali !” ujar kim bum yang sedari tadi sudah menunggu so eun sambil menyender di dinding kelas so eun. So eun sedikit terkejut karena kim bum tidak seperti biasanya sudah keluar kelas lebih dulu, biasanya selalu so eun yang harus menunggu kim bum.
“a..ah mian.” Jawab so eun. Kim bum pun mulai berjalan lalu diikuti oleh so eun. So eun tampak sesekali mencuri pandang kepada kim bum yang sedari tadi terus meniup-niup dan menggosok-gosok tangannya.
“seharusnya penghangat juga dipasang di setiap lorong.” Ujar kim bum.
“ah…ne, kau benar.” Balas so eun. “saat keluar dari kelas, udara jadi terasa semakin dingin.” Tambahnya.
“hmmm..” setelah itu tak ada lagi percakapan diantara mereka. So eun sempat berpikir, apakah lebih baik ia mengatakannya sekarang saja kepada kim bum? Perihal janji yang sudah ia buat dengan kedua temannya.
“um……natal sebentar lagi tiba.” So eun memulai pembicaraan.
“natal, huh?” Tanya kim bum. So eun menatap kim bum. Dari ekpresi yang tergambar dari wajah kim bum, sepertinya kim bum tidak begitu tertarik dengan perayaan natal.
“kau…kau kelihatan tidak menyukainya.” Ujar so eun hati-hati. Kim bum mendesah.
“natal hanyalah……kebohongan belaka ! apa yang menyenangkan dari itu? Terlalu banyak acara yang mengumbar tentang cinta ! terlalu banyak orang dan aku tidak suka berdesak-desakan saat berjalan di sepanjang trotoar !” jelas kim bum. So eun ternganya hebat dibuatnya. Ia benar-benar tidak menyangka kim bum akan mengatakah hal tajam seperti ini tentang natal.
“di sepanjang jalan mereka memutar musik yang sama, bahkan di televisi. Heh…apakah mereka tidak bisa melakukan hal lain selain itu?” lanjut kim bum. Sekarang so eun benar-benar tidak bisa menimpali ucapan kim bum. Kata-katanya itu sungguh di luar batas. Bagaimana bisa ia mengatakan hal seperti ini tentang natal? So eun hanya bisa menatap kim bum dengan mata membulat tanpa berkedip. Menyadari hal itu, kim bum pun memutar kepalanya untuk menatap so eun, lalu kim bum memamerkan senyum yang dibuat-buat itu selebar mungkin.
“jadi, apa yang kau mau tiba-tiba membicarakan tentang natal?” Tanya kim bum masih dengan senyumnya yang dibuat-buat itu.
“e..eehh….ani…bukan apa-apa. Aku hanya senang saja natal sebentar lagi akan tiba.” jawab so eun dengan cepat.
“ah….arasseo.” balas kim bum. Lalu mereka kembali melanjutkan jalannya.
So eun menatap lorong di depannya. ‘kalau begini aku tidak bisa memintanya untuk pergi di hari natal setelah dia mengatakan kata-kata tadi. Tapi, aku juga tidak terlalu mempermasalahkannya. Itu juga tidak seperti aku benar-benar menantikan natal dan ingin merayakannya bersama kim bum-ssi.’ Batin so eun.
“ah…” Tapi tiba-tiba so eun menghentikan langkahnya. Ia melupakan sesuatu, dan sesuatu itu kembali teringat olehnya. Kim bum juga ikut menghentikan langkahnya dan menatap so eun dengan kening berkerut.
“kalau begitu, apa yang harus aku lakukan dengan foto nya !” ucap so eun dengan suara yang cukup keras. Ia tidak menyadari jika kim bum sedang menatapnya dan juga pasti mendengar apa yang barusan keluar dari mulutnya. kim bum mengerutkan keningnya.
-today love is begin-

“jadi kita harus pura-pura merayakannya, huh?” Tanya kim bum dengan tatapan lurus ke depan. So eun hanya memain-mainkan kedua telunjuknya seraya menundukan wajahnya. karena so eun ingat dengan janji itu, dengan keberanian penuh ia pun akhirnya menceritakan yang sebenarnya tentang foto itu kepada kim bum.
“kau hanya ingin menunjukkan fotomu kepada mereka. Tapi aku rasa jika kau tidak mengirimnya, itu tidak akan menjadi permasalahan !” ujar kim bum datar.
“ta…tapi..” kata so eun menggantung.
“aku tidak tertarik untuk melakukan hal itu, terlebih kau melakukannya hanya untuk membuat mereka senang.” Ujar kim bum. So eun langsung menatap kim bum.
“tapi….tidak ada cara lain yang bisa aku lakukan selain mengirimkan foto kepada mereka ! aku sudah terlanjur membuat janji !” ujar so eun.
“heh….” Kim bum mendesah. “perempuan memang sangat menyusahkan !” ujarnya. So eun tak berkata apa-apa lagi, ia hanya diam seraya menatap kim bum dengan penuh harap.
“annyeong tuan tampan……!” tiba-tiba saja seorang perempuan berumur sekitar 27 tahunan menyapa mereka saat kim bum dan so eun melewati sebuah toko, perempuan itu membawa sebuah kotak kecil yang didalamnya terdapat cincin. Kim bum dan so eun menatap perempuan itu dengan tatapan bertanya-tanya.
“apakah kau berniat ingin memberikan kekasihmu hadiah? Jika kau sedang bingung memikirkan apa yang akan kau berikan kepada kekasihmu, cobalah datang ke toko kami ! disini banyak sekali barang-barang yang populer untuk para gadis ! lihatlah ! seperti cincin ini ! cincin ini sangat cocok untuk kekasihmu.” Perempuan itu berbicara panjang lebar kepada kim bum dengan bersemangatnya.
Kim bum mengangkat tangannya. “ah mian….aku sudah menyiapkan sesuatu yang lebih mewah dari pada cincin itu untuknya.” Balas kim bum dengan senyum terpaksa. So eun langsung menahan tawanya saat kim bum berbicara seperti.
“ah…begitu ya? Tapi jika Anda berubah pikiran, datang saja ke toko kami, ne? kami akan memberikan diskon !” ujar perempuan itu.
“ah ye.” Balas kim bum. Lalu mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.
“ucapanmu itu, benar-benar kebohongan yang luar biasa !” cibir so eun.
“aku harus membuatnya berhenti bicara, jika tidak dia akan terus memaksaku untuk membeli barangnya. Lagi pula aku benar-benar tidak mengerti tujuan membeli hadiah di hari natal. Bukankah hadiah hanya untuk ulang tahun saja.” Ujar kim bum dengan entengnya.
“tapi kan tidak masalah jika hadiah itu bisa membuat orang lain senang.” Timpal so eun.
“eh…tunggu ! Apa jangan-jangan kau tidak pernah mendapatkan hadiah di hari natal? kau itu kan populer di kalangan perempuan.” Ujar so eun.
“aku membuang semua hadiahnya.” Jawab kim bum datar.
“eh…?” so eun terkejut. “lalu dari ayahmu? Ibumu? Atau keluargamu?” Tanya so eun. Kim bum membuang nafasnya.
“mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Ayahku terlalu sibuk bekerja, dan aku sudah lama tidak bertemu ibuku.” Jawab kim bum. So eun mendadak diam, ia sudah salah bicara pada kim bum. Ia melupakan hal jika kim bum hanya tinggal bersama ayahnya.
“a..ah…mian, aku tidak bermaksud….”
“heh…..jadi haruskan aku memberikanmu sesuatu?” Tanya kim bum yang kini menatap so eun.
“e..ehh? mwo?” kaget so eun.
“kalung atau semacamnya?” Tanya kim bum. So eun kaget ! tentu saja ia kaget dengan apa yang kim bum katakan barusan. Apakah itu artinya kim bum akan memberikannya hadiah di hari natal?
“maksduku, kalung peliharaan? Atau haruskah aku juga membelikan tali pengikat agar aku bisa menuntunmu sepanjang jalan?” Tanya kim bum dengan senyum evilnya. So eun tak berkedip menatap kim bum, dan itu berlangsung cukup lama.
“umm….b…baiklah….bagiku tidak masalah ! aku mau !” jawab so eun. Kim bum langsung berhenti tersenyum evil dan menatap so eun dengan tidak percaya.
“aku hanya bercanda, jangan mengartikannya terlalu serius !” ujar kim bum. Wajah so eun mendadak terlihat lesu.
“j…jadi, hanya bercanda ya? Haaah aku ini bodoh sekali !” so eun menjitak kepalanya sendiri. Ia benar-benar kecewa.
“kau memang bodoh ! gunakan sedikit otakmu !” ujar kim bum.
So eun diam, tapi ia memberanikan dirinya untuk membalas perkataan kim bum. Sepertinya so eun sudah kebal dengan kata-kata menyakitkan dari kim bum. Entah kenapa ia juga sedang tidak ingin marah dan berdebat dengan kim bum.
“menerima hadiah dari seseorang yang kau suka, itu akan terasa lebih spesial. Tidak masalah apa yang dia berikan, yang penting hal itu bisa membuatmu merasa senang. Dan kau akan menyimpannya sebagai barang berharga.” Ujar so eun dengan suara pelan. Kim bum menatap so eun cukup lama, ia tidak sampai berpikir so eun akan mengatakan hal bijak seperti itu mengingat so eun sedikit bodoh.
“heh….” Kim bum mendesah. “aku tidak menyangka perempuan benar-benar menyusahkan ! mereka tidak suka berpikir panjang tentang sesuatu, huh?” ujar kim bum. So eun hanya bisa mengerucutkan bibirnya mendengat apa yang dikatakan kim bum.
“ah…lihatlah !” so eun menunjuk pohon natal besar yang ada di depan sebuah café yang cukup ramai. Banyak orang-orang yang berfoto disana, sepasang kekasih maupun anak-anak yang bersama kedua orang tua mereka.
“pohonnya besar sekali ! yeppoda !” kagum so eun seraya menatap pohon natal itu dengan mata berbinar. Kim bum melipat kedua lengannya di dada.
“ada bentuk hati juga di tengah-tengah pohon itu, huh?” ujar kim bum. So eun mengabaikan perkataannya dan malah berjalan mendekati pohon natal itu dengan tidak sabaran, mau tak mau kim bum pun mengikutinya dari belakang.
“hey, apakah kita benar-benar akan mengambil gambar disana?” Tanya kim bum.
“bukankah itu sangat indah?” Tanya balik so eun. Kim bum mendasah.
“yeah terserah, cepat dan segera ambil fotonya ! lalu setelah itu kita bisa segera pulang !” suruh kim bum.
“b..baiklah.” jawab so eun. Kini mereka berdua sudah berdiri di depan pohon natal besar yang cantik itu. Dengan lampu berkerlap-kerlip di sekelilingnya yang menghiasi pohon itu, di tambah lagi dengan bentuk hati tepat di tengah pohon itu dengan tulisan selamat natal. So eun pun mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi kamera.
“tutup seragammu dengan syal dan jaketmu !” suruh kim bum.
“ah ya kau benar, jika tidak kita akan ketahuan.” Setuju so eun yang baru saja menyadarinya, lalu ia pun mulai membenarkan syal dan jaketnya hingga menutupi identitas seragam sekolahnya.
“tapi, aku rasa pohon natalnya tidak akan ikut terambil. Dan aku rasa cukup sulit untuk mengambil gambar tanpa memperlihatkan seragam kita.” Ujar so eun setelah ia mencoba mengarahkan kamera depannya pada wajahnya.
“ckkk…baiklah berikan padaku !” kim bum mengambil alih ponsel so eun. “lihat kemari !” suruh kim bum pada so eun agar so eun melihat ke arah kamera. Tanpa so eun sangka, tangan kim bum yang lain juga menyentuh pundak so eun. So eun cukup terkejut dibuatnya, jantungnya berdegup sangat cepat, ditambah kini posisi mereka begitu dekat. “senyum !” suruh kim bum. So eun pun tersenyum dengan sedikit canggung seraya mengangkat tangannya dan membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Klik…..kim bum sudah menekan tombol kamera dan gambar pun sudah diambil dengan sempurna.
Kim bum melihat foto itu. “aku rasa ini sudah cukup, bahkan pohonnya pun terambil walaupun hanya sedikit.” Ujar kim bum lalu memberikan ponsel itu kepada so eun. So eun menerima ponsel itu dan melihat fotonya. So eun memegangi pipinya yang tiba-tiba memanas dan pastinya sudah berubah menjadi merah.
‘kyaaaa….aku dan kim bum-ssi terlihat seperti pasangan asli.’ Batin so eun. Ia sangat senang namun tidak bisa mengekspresikannya dengan bebas sekarang. Sementara itu kim bum melanjutkan langkahnya meninggalkan so eun yang masih menatap foto itu.
‘tapi, ekpresi wajahku kelihatan tidak natural sekali ! tadi aku sangat gugup dan malu, berbeda dengan kim bum-ssi, dia kelihatan sempurna !’ batinnya seraya memegangi salah satu pipinya yang masih terasa panas.
‘tapi meskipun begitu, hal ini tidak berarti sama sekali baginya’ so eun mendadak lemas lagi.
“oi….so eun-ssi.” Panggil kim bum, ia memutar kepalanya untuk melihat so eun yang masih berdiri di tempatnya. So eun langsung menatap kim bum.
“aku kedinginan, percepat jalanmu !” perintah kim bum datar lalu kembali melanjutkan langkahnya. So eun pun mengikutinya dari belakang. Melihat ekspresi kim bum yang biasa-biasa saja. Membuat so eun seperti orang tolol karena pada nyatanya hanya ia yang terlihat sangat antusias. So eun memandangi punggung kim bum. Bagaimanapun juga, ia masih belum bisa menghilangkan rasa sukanya pada kim bum. Tiba-tiba saja so eun merasa perutanya sakit, ia tidak tahu kenapa ini begitu tiba-tiba. Ia berusaha mengabaikan rasa sakitnya dan tetap berjalan mengikuti kim bum, tapi karena terlalu lama ditahan, rasa sakit itu semakin besar. Seperti ada yang melilit-lilit ususnya, ia tidak bisa menahannya lagi.
“ugh…..” ringis so eun. So eun memegangi perutnya lalu ia pun berjongkok di trotoar. Dahinya juga berkeringat dingin.
Mendengar ringisan so eun, kim bum pun menghentikan langkahnya dan memutar kepalanya untuk melihat so eun. Ia terkejut saat melihat so eun tengah berjongkok seraya memegangi perutnya menahan sakit.
“ya? Ada apa?” kim bum langsung menghampiri so eun dan berjongkok di depannya.
“p..pe..perutku ! perutku sakit sekali !” ringis so eun. Kim bum menggaruk tengkuknya. Mau tak mau ia pun memapah so eun ke café terdekat. Kim bum menyuruh so eun untuk menunggu, lalu ia pun pergi untuk membeli obat tanpa memberitahu so eun.
So eun terus saja memegangi perutnya, rasa sakit itu belum juga hilang. Dan yah……so eun baru sadar, ia belum makan sedari tadi, ia lupa saat ia di sekolah karena ia terlalu banyak melamun. So eun merutuki dirinya sendiri karena kebodohannya.
Tak lama kemudian kim bum datang. “ini !” kata kim bum seraya meletakkan kantong plastik di atas meja.
So eun yang tadinya menyandarkan kepalanya pada meja, sedikit mengangkat wajahnya.
“obat sakit perut, makanlah !” suruh kim bum. “untuk sementara kita duduk dulu disini sampai keadaanmu lebih baik. Jadi istirahatlah !” ujarnya.
“a..apakah kau sengaja pergi untuk membeli obat ini?” Tanya so eun.
“seharusnya kau berterimakasih kepadaku. Aku berlarian sepanjang jalan untuk menemukan apotek dan membeli obat untukmu.” Jawab kim bum.
“g..gomawo. Berapa harganya?” Tanya so eun.
“kau tidak perlu membayarnya.” Jawab kim bum.
“tapi….aku merasa tidak enak.” Balas so eun. Kim bum menghembuskan nafasnya.
“apa kau sudah lupa dengan apa yang kau lakukan saat aku terkena demam?” Tanya kim bum. “jadi kau tidak perlu membayarnya, aku tidak akan menerima uangnya. “lanjut kim bum. So eun cukup tertegun mendengarnya. So eun menyunggingkan senyumnya sedikit.
“gomawo.” Ujarnya. Lalu so eun pun mulai memakan obat itu dengan bantuan air putih yang sudah ada di atas meja. Kim bum melipat tangannya di atas meja seraya memerhatikan so eun.
“ngomong-ngomong, melihatmu sakit perut seperti itu. Kau kelihatan seperti nenek-nenek, memangnya apa yang sedang kau pikirkan, huh?” cibir kim bum.
“huh?”
“bukankah lebih baik kau menceritakannya kepadaku apa yang sedang kau pikirkan?” ujar kim bum seraya menopang dagunya. “aku akan mendengarnya, atau kau ingin bertanya sesuatu kepadaku?” Tanya kim bum sok ramah. “aku akan menjawabnya.”
So eun terdiam cukup lama dengan kening berkerut menatap kim bum. “benarkah?” Tanya so eun. Kim bum mengangguk.
“aku curiga kau hanya bercanda dan ujung-ujungnya hanya akan mempermainkanku.” Ujar so eun.
“ani, kali ini aku serius.” Balas kim bum. So eun menatap kim bum dengan tatapan menyelidik, berusaha untuk memastikan apakah kim bum benar-benar serius atau hanya bercanda. Tapi karena ekspresi wajah kim bum yang sulit ditebak, so eun pun beranggapan jika kim bum memang sedang serius sekarang ini.
“mm…b..baiklah, ada satu hal yang ingin aku tanyakan kepadamu.” Ujar so eun. Kim bum menatap so eun, menunggu apa yang akan so eun tanyakan. “s..sebenarnya….apa aku bagimu?” Tanya so eun akhirnya. “hanya mainan untuk menghiburmu karena kau merasa bosan? Atau hanya sebagai peliharan yang bisa kau perlakukan semaumu asal kau merasa senang? Apakah seperti itu?” kim bum diam mendengarnya. Tak ia sangka, so eun akan bertanya tentang hal ini. “adakah perasaan spesial di hatimu kepadaku? Meskipun hanya sedikit?” lanjut so eun. Kim bum diam, ia hanya memandang so eun saja tanpa ada tanda-tanda ia akan menjawab atau apa. Hal itu membuat so eun sedikit ciut dan jujur ia merasa kesal. So eun pun berdiri lalu mengambil gelas yang masih berisi air setengahnya.
“yak ! jawablah ! atau aku akan menumpahkan air ini ke wajahmu !” ancam so eun. Sebenarnya ia hanya ingin saja kim bum menjawab pertanyaannya dengan jujur. Ia sangat ingin tahu perasaan kim bum kepadanya seperti apa.
Tapi kim bum masih tetap diam, ia malah menyandarkan tubuhnya pada kursi seraya melipat lengannya.
“yak ! bukankah kau bilang akan menjawab pertanyaanku? Jadi jawablah !” pinta so eun.
Grab……tiba-tiba kim bum menahan tangan so eun yang memegang gelas itu. So eun terkejut dengan tindakan kim bum yang tiba-tiba. Apalagi ditambah dengan kim bum yang tepat menatap matanya.
“aku menyukaimu, kim so eun.” Ujar kim bum akhirnya. Mulut so eun sedikit terbuka mendengarnya, matanya juga membulat. Ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan eskpresi kagetnya dengan ucapan kim bum barusan. Kim bum juga menyukainya?
“aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika perempuan yang aku benci terus berada di sampingku. Pasti aku sudah sangat muak dan aku akan meninggalkannya. Dan kau tahu? Jika aku tidak tertarik dengan mainanku, maka aku akan segera membuangnya jauh-jauh. Tapi itu tidak terjadi padamu. Gzzzz…..ini sangat memalukan, jadi….aku tidak berani menceritakannya kepadamu. Tapi….sebenarnya aku memang menyukaimu.” Jelas kim bum.
Entah kenapa, mata so eun kini mulai berair. Ia benar-benar senang dan terharu. Ternyata kerja kerasnya selama ini akhirnya berbuah hasil juga. Akhirnya kim bum juga menyukainya seperti dia menyukai kim bum.
“uu….huhuhu…” air mata so eun langsung jatuh begitu saja. Kim bum terkejut
“hey….kenapa kau malah menangis?” tanya kim bum.
“m..mian….tapi aku hic hic….aku tidak sampai berpikir kau akan mengatakan hal itu kepadaku. Aku…aku sangat senang.” Ujar so eun, ia berusaha menghapus air matanya yang entah kenapa terus mengalir. So eun terlalu senang.
“yeah aku mengerti, sampai sekarang aku pun masih sering mengejekmu. Mian.” Kim bum merasa menyesal.
“aniyo….gwaenchana…..gwaenchana…..karena semuanya sudah berakhir jadi tidak apa-apa. Itu karena aku terlalu berpikir sederhana.” Bukannya berhenti menangis, tangisan so eun malah semakin keras. “huaaaaaaa hic hic hic……”
“itulah hal unik dari kim so eun.” Ujar kim bum seraya menyunggingkan senyumnya.
“huhuhu…..” so eun mengahapus air matanya. Setelah puas menangis karena terlalu senang, akhirnya air matanya pun reda (?) juga meskipun buliran-buliran bening itu masih menggenang di matanya.
“um……di tanggal 24, aku…aku ingin merayakannya dengan kim bum-ssi.” Ujar so eun.
“natal?” Tanya kim bum.
“ne.” jawab so eun.
“tapi, apa yang akan kita lakukan?” Tanya kim bum.
“perayaan yang normal juga tidak apa-apa.” Jawab so eun.
“normal?” Tanya kim bum.
“um….contohnya seperti….kita berdua makan ayam dan kue bersama. Lalu membeli hadiah dan bertukar satu sama lain. Ini adalah natal pertama yang akan aku rayakan bersamamu, jadi aku ingin merayakannya dengamu.” Ujar so eun yang kini sudah berubah menjadi bersemangat. Ruapanya ia sangat menantikan hal ini.
“kedengarannya itu sangat menghambur-hamburkan uang.” Balas kim bum.
“ta..tapi, jika kau keberatan…..aku akan….”
“baiklah, tidak apa-apa.” Potong kim bum. “jika selama itu dengan so eun-ssi, kedengarannya akan sangat menyenangkan.” Lanjutnya.
“k..kim bum-ssi….” So eun hendak menangis lagi.
“jadi, ingin sampai sejauh mana kau akan melanjutkan sandiwara ini denganku?” Tanya kim bum yang kini dengan senyum yang tak bisa diartikan.
“huh?” so eun tak mengerti.
“kau percaya kepada kata-kata orang lain dengan mudahnya, selalu seperti itu. Kau masih belum mengerti diriku, benar kan?” Tanya kim bum, ia menatap so eun dengan senyum mencibir. “tidak mungkin aku mengatakan kata-kata yang manis seperti itu, kan?” lanjutnya.
So eun benar-benar tak habis pikir. Ia mematung sesaat setelah mendengar perkataan kim bum yang kurang ajar itu.
“apa yang kau rencanakan untuk masa depan agar kau tak mudah terpengaruh oleh kata-kata orang lain?” Tanya kim bum. “kau harus sering-sering memutar otakmu.” Lanjutnya.
Splashhhh……….tanpa banyak berpikir so eun langsung mengambil gelas yang sudah ia letakan tadi, dan menumpahkannya tepat di wajah kim bum. Kim bum sendiri shock dengan apa yang so eun lakukan kepadanya.
“K…KAU……KAU BENAR-BENAR KETERLALUAN ! PERGI DAN CEPAT MATILAH KAU! KAU BENAR-BENAR TIDAK PUNYA HATI ! AKU MEMBENCIMU !!!” teriak so eun. Ia tidak peduli dengan semua pengunjung café yang melihatnya. Ia benar-benar marah kepada kim bum, sudah terlalu sering kim bum mempermainkan perasaannya. Air mata so eun kembali jatuh dengan mudahnya, so eun menangis. Lalu dengan cepat so eun pun pergi dari café itu meninggalkan kim bum. Sementara kim bum hanya bisa diam, ia tidak menyangka jika reaksi so eun akan seperti ini. Padahal niatnya ia hanya membuat lelucon. Kim bum akui, leluconnya sudah terlanjur kelewatan kepada so eun.
“apakah kau baik-baik saja tuan? Haruskah aku mengambilkan handuk?” seorang pelayan langsung menghampiri kim bum dengan wajah khawatir. Kim bum menyusut wajahnya yang basah dengan tangannya.
“tidak perlu, aku baik-baik saja.” Jawab kim bum tanpa melihat ke arah si pelayan sedikitpun. Sekarang dia benar-benar menyesal karena sudah terlalu keterlaluan.
-today love is begin-

Sesampainya di rumah, so eun langsung menuju kamarnya yang berada di lantai dua tanpa memperdulikan kedua orang tuanya yang menatapnya dengan heran. Tidak biasanya so eun pulang dengan kondisi menangis seperti itu, bahkan ia mengabaikan ibunya yang bertanya ada apa dengannya. Ayah so eun menatap istrinya. “kenapa dengannya?” tanyanya. Ibu so eun hanya menggeleng sebagai jawabannya.
Bam……….. So eun membanting pintu kamarnya dengan keras, membuat kedua orangtuanya kaget.
“bodoh ! keterlaluan ! manusia es ! aku membencimu !” teriak so eun lalu ia langsung melemparkan tubuhnya ke atas kasur. So eun menelungkupkan tubuhnya dan ia terus saja menangis. Ia benar-benar sudah sakit hati terus saja diperlakukan tidak selayaknya seperti perempuan oleh kim bum.
“sudah cukup ! ini semua benar-benar melelahkan ! aku sudah benar-benar lelah ! menyukai seseorang benar-benar melelahkan ! hic hic hic…….”
“aku ingin kembali seperti dulu, sebelum mengenalnya dan sebelum menyukainya. Aaaa……babo ! laki-laki bodooooh !” tangisan so eun semakin deras. “huaaaa……..hic…hic…”
“jadi karena seorang laki-laki?” gumam ibu so eun yang ternyata sedang menguping di balik pintu kamar so eun dengan suaminya. Ayah so eun menatap istrinya. “aku tidak pernah tahu dia sudah punya kekasih.” Ujarnya. Ibu so eun mengangguk setuju.
“mungkin anak kita sedang bertengkar dengan pacarnya.” Ujar ibu so eun. “kalau begitu lebih baik kita biarkan saja dia, sepertinya dia butuh menyendiri.” Ujar ayah so eun.
“kau benar suamiku, hihihihi.” Bukannya merasa simpati kepada anaknya yang sedang patah hati, mereka malah terkekeh karena senang so eun sudah punya pacar.
Sementara itu, di apartemennya kim bum hanya membaringkan tubuhnya di sopa dengan lengan yang ia jadikan bantal. Kim bum tak memejamkan matanya sama sekali. Ia masih kepikiran dengan sikapnya tadi kepada so eun. Sekarang ia merasa bersalah dan merasa menyesal. Kim bum mendesah hebat seraya menatap langit-langit apartemennya. Bahkan untuk memejamkan matanya pun ia tidak bisa karena pikirannya sekarang sedang dipenuhi bagaimana caranya ia meminta maaf kepada so eun.
-today love is begin-

Natal pun tiba. Setelah malam hari beribadah di gereja bersama dengan kedua orang tuanya, so eun tak juga keluar dari kamarnya hingga siang seperti ini. Ia terus saja menyendiri disana, ia masih tetap murung dan belum bisa melupakan perkataan menyakitkan yang keluar dari mulut kim bum waktu itu. Hal itu membuat kedua orangtuanya sedikit khawatir.
Tok tok tok
Ibu so eun mengetuk pintu kamar so eun dengan hati-hati, ayah so eun juga berdiri di belakang istrinya.
“so eun-ah…” panggil ibunya. “apakah kau ingin makan kue natal?” tawar ibunya.
So eun diam, ia tak menjawab tawaran ibunya. “so eun-ah…..” panggil ayahnya.
“a..aku….aku tidak mau.” Jawab so eun dari dalam kamarnya.
“kau tidak mau? Dari kau kecil, kau selalu antusias untuk makan kue natal. Bukankah kau sangat menyukainya.” Ujar ibunya.
“ani…aku tidak mau.” Jawab so eun.
Ibu dan ayah so eun saling pandang. “yasudah, biarkan saja dia, kita jangan mengganggunya.” Ujar ayah so eun lalu ia pun turun ke lantai satu. Ibu so eun menghela napas lalu mengikuti suaminya ke ruang keluarga.
Tiba tiba ponsel so eun berdering. So eun menatap ponselnya yang ia simpan di sampingnya. Dengan sedikit malas, ia pun mengambilnya dan membuka email yang ternyata dari bo young dan hye rim. So eun diam melihat foto yang baru saja dikirim oleh bo young dan hye rim. Foto mereka masing-masing dengan kekasihnya.
‘mereka kelihatan sangat senang huh’ batin so eun. ‘apakah aku juga harus mengirimkan fotoku?’ so eun pun membuka galeri nya lalu melihat foto dirinya bersama kim bum. So eun melihatnya cukup lama, lalu tiba-tiba ia menangis lagu.
“kim bum-ssi, kau sangat bodoh ! kenapa kau selalu saja mempermainkan perasaanku?” kesal so eun seraya menghapus air matanya.
Tok tok tok
Ibu so eun kembali mengetuk pintu kamar so eun. So eun langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu dan menatapnya dengan kesal.
“bisakah aku bicara denganmu sebentar?” pinta ibunya dari balik pintu kamar so eun. So eun tidak menggubrisnya dan ia masih duduk di kasurnya.
Tok tok tok
So eun kesal, ia pun langsung turun dari kasurnya dan berjalan ke arah pintu dengan kesal. Ia sedang tidak ingin diganggu dan ibunya sedari tadi terus saja mengetuk-ketuk pintunya.
“sudah aku katakan aku tidak mau makan kue !” teriak so eun seraya membuka pintunya dengan wajah yang kusut. Namun seketika mata so eun membulat menatap seseorang yang berdiri tepat di depannya. Perlahan so eun mengangkat wajahnya ke atas untuk melihat wajah itu.
“kekasihmu datang untuk bertemu denganmu.” Ujar ibunya yang muncul di belakang kim bum. So eun membeku di tempat, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia benar-benar terkejut dengan kehadiran kim bum yang tiba-tiba dan tidak ia sangka sebelumnya.
“baiklah kalau begitu, nikmati waktumu.” Ujar ibu so eun dengan senyum lebaranya kepada kim bum.
“kamasahamnida.” Balas kim bum seraya tersenyum ramah. Lalu setelah itu pun ibu so eun turun ke bawah dan meninggalkan mereka. Kini tinggalah kim bum dan so eun yang masih mematung di depan pintu. Kim bum menatap so eun.
“w..wae?” Tanya so eun akhirnya.
“kenapa kau datang kesini?” Tanya so eun dengan ketus.
“aku datang untuk membuatmu lebih disiplin.” Jawab kim bum lalu masuk ke dalam kamar so eun bahkan sebelum so eun memperbolehkan.
“mwo?” pekik so eun seraya menatap kim bum dengan perasaan kesal yang menggebu-gebu.
“beberapa hari yang lalu kau pergi meninggalkanku tanpa ada satu kata pun yang keluar dari mulut sebagai permintaan maaf. Kau kelihatan sangat angkuh sekali.” Ujar kim bum.
“permintaan maaf?” Tanya so eun. “apa yang pernah aku lakukan kepadamu sehingga aku harus meminta maaf? Yang seharusnya meminta maaf adalah kau !” So eun menatap kim bum dengan emosi, ia juga melipat ke dua lengannya.
Kim bum menatap so eun. “apakah kau sudah lupa?” Tanya kim bum.
“aku adalah majikanmu ! menumpahkan air ke wajahku dan menyumpahiku untuk ‘mati’. Apakah kau pikir baik-baik saja mengatakan hal itu? Kau sudah membuatku malu, kau tahu?” ujar kim bum seraya mendekati so eun.
“bukankah itu pantas aku mengatakannya untuk laki-laki sepertimu?” balas so eun dengan nada yang cukup keras.
“DIAM !” suruh kim bum lalu kedua tangannya mulai memegang leher so eun.
“aku sedang membuatmu mengerti posisimu sebagai peliharaanku sekali lagi.” Ujar kim bum yang kini tangannya mulai bergerak-gerak di leher so eun. Apa yang dilakukan kim bum seperti ia akan mencekik leher so eun, ditambah dengan ekspresi marah kim bum yang menakutkan. So eun langsung memejamkan matanya karena takut. Ia takut jika kim bum akan benar-benar mencekiknya. 1 detik, 2 detik, 3 detik, hal-hal yang so eun bayangkan tidak terjadi. Ia tidak merasakan kim bum mencekik lehernya atau semacamnya. Dengan perlahan so eun pun membuka kedua matanya. Ia melihat kim bum sudah berdiri dengan tegak seraya melipat kedua lengannya.
“m..mwo?” Tanya so eun.
“aku sudah memasangkannya.” Ujar kim bum. So eun menatap kim bum tidak mengerti.
“kalung.” Lanjut kim bum. So eun menatap kim bum tidak percaya lalu menyentuh lehernya yang ternyata sudah terpasang kalung dengan bandul berbentuk bulan sabit, so eun menatap kalung itu. Kim bum mengerutkan keningnya, berusaha menahan rasa gengsinya.
“baiklah, biarkan aku menjelaskannya. Itu hanya karena aku tak sengaja menemukan benda yang membuatku tertarik dan kelihatan cocok untumu. Jadi aku pikir tidak ada salahnya jika aku membelinya.” Jelas kim bum. So eun menatap kim bum tak percaya.
“Kalung itu adalah simbol jika kau adalah milikku, jadi kau jangan pernah melupakannya.” Ujar kim bum yang masih saja besar rasa gengsinya, ia mengucapkan kata-kata itu tanpa melihat ke arah so eun dan dengan mimik wajah yang kelihatan sangat tidak nyaman. Ia mengerutkan keningnya saat berbicara seperti itu.
Tiba-tiba saja so eun melayangkan pukulan ke arah dada kim bum tanpa sempat kim bum menahannya. Kim bum kaget dengan apa yang so eun lakukan itu.
“kau benar-benar jahat…hic….hic…..” so eun kembali menangis. Air matanya jatuh dengan deras, ia tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaanya saat ini. Antara kesal, marah, dan senang.
“hic…..hic…….hic……g..gomawo.” ujar so eun akhirnya. Sekarang ia menangis karena benar-benar senang dan terharu. Ia tidak menyangka jika kim bum akan memberikannya sebuah kalung meskipun dengan cara yang tidak manis.
“aku….aku senang.” Ujar so eun yang masih saja menangis.
Kim bum yang melihat so eun menangis seperti itu jadi merasa tidak tega.
“uhuuuhuhu….huaaa………” tangisan so eun malah semakin keras. “aku pasti akan menjaganya hic…hic….” Ujar so eun.
“sudahlah, jangan menangis.” Ujar kim bum.

‘aku menyukaimu, kim so eun’. Apa yang pernah kau katakan saat itu kepadaku, bolehkan aku mempercayainya, walaupun hanya sedikit?

To Be Continued
Mian jika ceritanya kurang memuaskan, tapi saya harap kalian menyukainya.

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya.

Maaf ngepost part 7 nya lama, sebenernya part 7 udah beres beberapa bulan yg lalu bahkan pas part 6 dipost part 7 jg udah beres, tapi baru sempet di post sekarang.

oh ya saya mungkin akan hiatus dulu dari dunia perff-an. Saya mau fokus buat Ujian sekolah, praktek, sama UN. Saya minta doanya aja ya dari readers setia wp bumssoelf ini agar saya diberi kelancaran dalam segala hal, terutama Ujian Nasional. Minta doanya juga agar lulus SNMPTN di UNPAD prodi tekpang ya readerrrssss……AMIIIINNNNN :D Doain ya doainnn….Terimakasih……

 

Today, Love is Begin PART 6

Today, Love is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

 

PART 6

So eun mengepalkan kedua tangannya, setelah mendengar apa yang dikatakan kim bum dari perempuan tadi, so eun jadi berpikir ulang, dan kini sudah benar-benar yakin dengan perasaannya.
“hey…kim bum-ssi…” panggil so eun. kim bum menatap so eun.
“ini bukanlah kesalahpahaman ! aku…..aku menyukaimu.” Ujar so eun dengan segenap keberanian. Kim bum tertegun mendengarnya.
“karena aku rasa kau cukup frustasi, aku sempat berfikir untuk menyerah. Tapi, karena aku tahu perasaanku tidak bisa berbohong, aku tidak bisa berhenti.” Jelas so eun dengan wajah menunduk.
“tidak apa jika kau tidak percaya kepadaku. Tapi….sampai aku menyampaikan perasaanku, aku akan mencoba yang terbaik untuk menunjukkannya kepadamu ! jadi….ingat ini !” ujar so eun dengan suara sedikit keras.
Kim bum masih diam, ia tak mengeluarkan sepatah katapun. Dan itu membuat so eun dengan perlahan mengangkat kepalanya dan menatap kim bum. Kim bum masih diam saja, tak ada reaksi sedikit pun. Itu membuat so eun menciut dan ia langsung kembali menundukkan kepalanya. “jebal ! kau akan mengingatnya kan?” pinta so eun. “saat kau butuh bantuan…..”
“kau tidak perlu mencobanya lagi ! kau akan sangat mengganggu jika kau melakukannya. Jadi aku akan mempercayaimu !” potong kim bum lalu berbalik membelakangi so eun. So eun terdiam mendengarnya, cukup sulit untuk mencerna apa yang baru saja kim bum katakana kepadanya. So eun mengerutkan keningnya seraya berpikir. Sementara itu, kim bum yang sudah membuka pintu apartemennya kembali memutar kepalanya melihat so eun, lalu menyunggingkan senyumnya tanpa so eun ketahui.
Apakah tidak apa-apa berharap terlalu banyak disaat dia memberikan sedikit harapannya? Berharap semua ini bukanlah khayalan !

-today love is begin-

So eun masih diam dengan otak yang berpikir keras. Jujur saja, apa yang kim bum katakana kepadanya sama sekali belum ia mengerti. Respon kim bum terhadap pengakuan perasaannya terasa sedikit berbeda.
‘sebenarnya apa maksdunya? Iya atau tidak? Merasa terganggu ataukah senang? Dia tidak mengatakannya dengan jelas.’ Batin so eun dengan kening berkerut dan wajah yang di tekuk. Melihat so eun yang masih diam berdiri di tempat, kim bum pun kembali membalikkan badannya mengarah so eun.
“mwo? Apakah ada hal lain?” Tanya kim bum.
“huh?” so eun dengan cepat mengangkat kepalanya dan menatap kim bum.
“ada yang ingin kau katakan lagi?” Tanya kim bum seraya melipat kedua lengannya di dada.
“mmm….ja..jadi menurutmu….a..apa yang kau pikirkan?” Tanya so eun gugup seraya memain-mainkan tangannya.
“apa yang aku pikirkan?” Tanya balik kim bum.
“mmm….i..itu…tentang jawabanmu terhadap perasaanku.” Jawab so eun. “a..apakah kau menyukaiku atau tidak?” Lanjutnya. Jantung so eun berpacu sangat cepat, wajah so eun pun memerah saking ia malunya mengatakan hal ini. Tapi apa boleh buat, ia ingin tahu juga sebenarnya apa yang kim bum pikirkan tentang dirinya, apalagi setelah ia mengatakan perasaannya kepada kim bum.
“kau mungkin memikirkan banyak hal, tapi aku ingin….”
“baiklah.” Potong kim bum. “sebenarnya aku hanya penasaran saja.” Lanjutnya. So eun yang tadinya menunduk kembali mengangkat wajahnya untuk menatap kim bum. Kim bum tampak menatapnya dengan datar.
“huh?” so eun tidak mengerti.
“yak, jika kau tidak memberitahuku dengan jelas, jadi aku tidak akan tahu apa yang harus aku lakukan.” Ujar so eun.
“kalau begitu putar otakmu dan pikirkan sendiri !” Balas kim bum dingin.
“yak….”
“baiklah jika kau ingin tahu, aku hanya penasaran saja akan sampai kapan kau menyukaiku, hingga akhirnya kau akan menyerah dan aku tidak akan merasa terganggu lagi.” Jelas kim bum. So eun langsung membuka mulutnya karena tidak percaya.
“m..mwo? maksudmu…jadi kau hanya mempermainkanku?” pekik so eun dengan nada yang sedikit keras.
“mungkin.” Balas kim bum.
Jleb kini so eun benar-benar telah menciut setelah mendengar apa yang kim bum katakan barusan. Kata-kata yang singkat namun sangat menusuk itu membuat so eun seperti telah ditindih oleh batu yang sangat besar.
“pulanglah ! lebih baik kau mengkhawatirkan dirimu sendiri. Bagiku tidak masalah dan baik-baik saja jika kau menghabiskan hari-harimu dengan perasaan resah akan sikapku! bukankah itu kelihatan menyenangkan?” perintah kim bum dengan nada yang benar-benar dingin dan wajah yang terlihat menakutkan.
“k..kau ! kau adalah satu-satunya orang yang sudah benar-benar mempermainkanku ! dasar kau iblis !” teriak so eun lalu langsung berlari dengan kecang meninggalkan kim bum. Kim bum sendiri diam lalu mendesah.

-today love is begin-

Chungju Highschool
Sedari tadi, so eun hanya berdiri di depan jendela seraya melihat ke area halaman sekolah dengan wajah murung. Bahkan ia menolak ajakan nirin untuk makan di kantin. So eun benar-benar masih kepikiran dengan ucapan-ucapan kim bum yang menusuk hatinya kemarin malam. Semua yang dikatakan kim bum itu benar-benar tidak di proses dan samak sekali tidak manusiawi. Bagaimana bisa ia berbicara sedingin itu kepada perempuan yang bahkan perempuan itu adalah orang yang menyukainya. Meskipun begitu, so eun masih belum bisa menghilangkan perasaannya kepada kim bum.
“yak so eun-ah, hanya untuk memastikan saja, jadi aku ingin bertanya sekali lagi kepadamu.” Ujar nirin yang berdiri di samping so eun.
“kenapa kau masih menyukai kim bum-ssi bahkan setelah dia memperlakukanmu seperti itu?” Tanya nirin penasaran.
So eun langsung menatap nirin dengan tajam. “bagaimana bisa aku tahu?” teriak so eun dengan air mata yang menggenang. Nirin langsung memundurkan tubuhnya beberapa senti dari so eun.
“tidak usah berteriak seperti itu ! aku hanya bertanya karena aku heran denganmu.” Ujar nirin. So eun lalu mengahpus air matanya yang hampir jatuh dengan kasar.
“jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang, huh?” Tanya nirin. “yah meskipun kau masih kelihatan sedih dan marah.” Lanjutnya.
So eun tampak berpikir sejenak. Ia menatap lurus tepat ke halaman sekolah. “jika aku tidak bisa berhenti, maka hanya ada satu cara yang bisa aku lakukan.” Jawab so eun.
“aku hanya akan mencoba untuk membuatnya jadi memperhatikanku.” Lanjut so eun dengan yakin. Nirin cukup terkejut mendengarnya.
“huh sial ! aku sudah bertindak sejauh ini, jadi aku tidak bisa menyerah begitu saja !” so eun berbicara dengan kesalnya. Nirin menatap so eun cukup tertegun.
“hey so eun-ah….kau benar-benar punya nyali telah mengatakan hal itu.” Ujar nirin. So eun hanya menatap nirin saja.
“baiklah, melihat kegigihamnu itu, aku bisa membantumu so eun-ah.” Ujar nirin.
“membantuku dengan cara apa?” Tanya so eun.
“aku akan bicara pada kim bum-ssi, siapa tahu dia mengerti.” Jawab nirin.
“a…andwae nirin-ah, jika kau mengatakannya dia akan semakin memojokanku. Aku tidak mau !” tolak so eun.
“hmmm yasudah kalau begitu, aku bisa membantumu dengan cara yang lain.” Balas nirin.

-today love is begin-

So eun dan kim bum tetap pulang bersama meskipun kejadian yang cukup menegangkan (?) terjadi kemarin malam. Mereka berdua sama-sama diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. So eun juga berjalan satu meter di belakang kim bum. Ia tidak tahu bagaimana caranya ia bisa menatap wajah kim bum setelah kejadian kemarin.
‘bagaimana aku bisa kembali bersikap biasa lagi kepada kim bum-ssi? Itulah masalahnya ! aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan’” Batin so eun dengan wajah menunduk.
“HEY…AWAS !” teriak seseorang.
Bam….. tepat pada saat itu, sebuah bola mengantam kepala so eun dengan keras.
“ouch !” ringis so eun, ia langsung berjongkok dan memegangi kepalanya yang terasa sakit. Kim bum langsung membalikkan tubuhnya ke belakang dan melihat so eun.
“seharusnya kau memperhatikan jalanmu !” ujar kim bum tanpa sedikit pun ingin membantu so eun, atau menanyakan apakah so eun kesakitan atau tidak.
“appo…” ringis so eun.
“hyaaaa…..mian…” seseorang langsung berlari menghampiri so eun dan kim bum. Seorang laki-laki dengan perawakan tinggi dan rambut yang sedikit panjang itu langsung membungkukkan badannya sebagai permohonan maafnya.
“mian, aku tak sengaja telah menendangnya.” Ujar laki-laki itu. Kim bum sedikit mengerutkan keningnya melihat laki-laki itu. Wajah laki-laki itu serasa tidak asing baginya.
Perlahan so eun pun kembali berdiri seraya masih memegangi kepalanya.
“sekali lagi tolong maafkan aku, pasti kau benar-benar marah karena ulahku.” Ujar laki-laki itu seraya menyatukan kedua telapak tangannya. Tampaknya laki-laki itu sangat menyesal sekali.
Tiba tiba bam kim bum menyiku dahi laki-laki itu dengan cukup keras. “aaahhh…” laki-laki itu meringis lalu memegangi dahinya. So eun sendiri sedikit kaget melihat apa yang baru saja kim bum lakukan. Apakah kim bum sedang membelanya? Atau semacamnya?
“a…aku baik-baik saja, tidak usah sampai melakukan hal itu !” cegah so eun.
“ani….pukul saja aku sampai kau merasa lebih baik !” ujar laki-laki itu yang masih saja membungkukkan badannya.
“tentu saja, perempuan akan marah jika mereka sudah merasa sakit, bukan? Sebarapapun kau berusaha untuk meminta maaf, il woo-ya.” Ujar kim bum.
Laki-laki yang dipanggil il woo oleh kim bum itu pun langsung mengangkat kepalanya dan menatap kim bum cukup kaget.
“huh?” laki-laki itu bengong untuk beberapa saat. “huh? K..KIM BUM !!! TERNYATA INI KAU !” lelaki yang ternyata bernama lengkap jung il woo itu pun berteriak dengan senang saat menyadari bahwa laki-laki yang berdiri di depannya ini adalah kim bum.
“heh…kau sangat lamban !” ujar kim bum. So eun yang tidak mengerti dengan situasi sekarang hanya bisa diam dan bengong sambil sesekali menatap kim bum dan il woo bergantian.
-today love is begin-

“hahahaha aku minta maaf atas kejadian tadi.” Ujar il woo dengan suara keras. Saat ini mereka sedang berada di café karena ajakan dari il woo. So eun dan kim bum duduk bersebelahan dan berhadapan dengan il woo.
“aku jung il woo. Aku adalah teman baik kim bum sejak sekolah dasar.” Il woo memperkenalkan dirinya kepada so eun.
“ah senang sekali bertemu denganmu, aku kim so eun.” Balas so eun.
“senang bertemu denganmu juga.” Balas ilwoo lalu ia langsung meneguk jus jeruk sampai habis dengan satu kali tegukan.
“heh….” Kim bum mengehela nafasnya sembari menopang dagunya. “apa kau serius bermain bola dengan anak-anak tadi huh?” Tanya kim bum.
“yak…bukankah itu menyenangkan jika kita bermain dengan serius. Sekalian aku mengajari mereka bagaimana bermain bola dengan baik.” Balas il woo seraya mengipas-ngipaskan tangannya karena gerah. Bahkan kancing baju kemejanya ia buka semua.
“heh….kancingkan bajumu ! tidak akan ada yang mau melihat dadamu dan perutmu !” ujar kim bum.
“huh?” il woo melihat perutnya yang sedikit berotot. “hahahaha, perutku ini sudah ada kemajuan, lihatlah ! aku punya sixpack.” Ujar il woo seraya menunjuk perutnya dengan telunjuknya. Kim bum hanya bisa menghela nafas mendengarnya.
“hey so eun-ssi, apa kau ingin mencoba menyentuhnya?” tawar il woo tanpa malu.
“e..eeh? a..ani hahaha.” Tolak so eun seraya tertawa hambar. ‘apa-apaan maksudnya?’ batin so eun sedikit tidak enak.
“aku…aku hanya sedikit aneh saja…ternyata kim bum-ssi punya teman juga hehe.” Ujar so eun. Kim bum langsung menatap so eun yang ada di sebelahnya.
“yaaah, sejak sekolah dasar dia memang tidak terlalu punya banyak teman. Dia selalu bersikap dingin dan selalu bilang jika dia tidak terlalu membutuhkan teman.” Cerita il woo.
“tutup mulutmu !” perintah kim bum.
“tapi aku rasa, itulah yang membuatnya menarik.” Il woo tidak mengindahkan ucapan kim bum.
“oh…begitu.” Balas so eun.
“tapi sepertinya dia telah berubah hahaha.” Ujar il woo.
“eh?” so eun bingung.
“dari sekolah dasar dia tidak suka pergi main keluar rumah, dan sekarang aku tidak sampai berpikir bahwa dia akan punya pacar yang sangat lucu. Cukup membuatku terkejut hahaha.” Ujar il woo. Tampaknya il woo memanglah tipikal orang yang banyak tertawa karena sedari tadi ia terus tertawa dengan keras disaat ia berbicara.
“huh? Lucu?” pekik so eun. “a..ani…aku…”
“kau salah paham, dia bukan…..” potong kim bum.
“jika kim bum membuatmu menangis, maka bilang padaku, oke? Karena aku akan menendang pantatnya ! hahaha.” Potong il woo. Kim bum hanya bisa menghela nafasnya lalu kembali menopang dagunya dan melihat ke arah lain. ‘dia tidak berubah ! tidak mendengar pembicaraan orang sampai selesai ! jika aku menjelaskan yang sebenarnya pun akan sangat bermasalah.’ Bantin kim bum.
Sementara itu so eun diam dan cukup tertegun dengan apa yang dikatakan il woo. Ia jadi berpikiran, mungkin saja Il woo bisa membantunya. Karena so eun pikir il woo adalah satu-satunya teman dekat kim bum.

-today love is begin-

“hari ini cukup menyenangkan, kalau begitu sampai jumpa !” ujar il woo saat mereka sudah berada di luar café.
“sampai jumpa !” so eun membalas lambaian tangan il woo.
“yeah..” balas kim bum.
Il woo pun pergi meninggalkan mereka, setelah itu kim bum pun berjalan lebih dulu lalu diikuti so eun. Namun tiba-tiba so eun menghentikan langkahnya.
“ummm…mian kim bum-ssi, sepertinya aku…aku meninggalkan sesuatu di sekolah, jadi aku rasa aku harus kembali.”ujar so eun terburu-buru.
“huh?”
“baiklah, sampai jumpa…” ujar so eun lalu ia pun langsung berbalik dan pergi meninggalkan kim bum seraya berlari-lari kecil.
“heh….” Kim bum menatap kepergian so eun dengan sedikit bertanya-tanya, sepertinya so eun berbohong kepadanya barusan.

“IL WOO-SSI ………!” teriak so eun. Il woo langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya ke belakang. Grab so eun akhirnya berhasil menahan lengan il woo dengan nafas yang tidak beraturan karena ia berlari-lari untuk bisa mengejar il woo yang sudah cukup jauh darinya.
“eh? Pacarnya kim bum?” kaget il woo.
“a..ani…aku…aku so eun ! kim so eun !” ralat so eun.
“yeah, apa kau butuh sesuatu?” Tanya il woo bingung.
“aku…aku ingin bicara denganmu sebentar.” Pinta so eun. Il woo hanya menatap so eun dengan tatapan bertanya-tanya.

-today love is begin-

Saat ini, so eun dan il woo sedang duduk di kursi kayu di pinggir jalan.
“aku mengerti.” Ujar il woo setelah ia mendengar penjelasan dari so eun.
“aku benar-benar mengerti…gezzzz….aku akan memberikan pelajaran untuknya !” il woo meremas tangannya dengan kesal lalu ia pun langsung berdiri dari duduknya.
“aa..ani….il woo-ssi….” Ujar so eun.
“dia telah memperlakukan perempuan semaunya ! mempermainkan perasaan perempuan ! seorang laki-laki sejati tidak akan pernah melakukan hal itu ! serahkan saja padaku so eun-ssi ! aku pasti akan memukul wajahnya dengan keras ! haaah anak itu !” il woo semakin mengeraskan kepalan tangannya. So eun yang melihat itu jadi khawatir.
“baiklah, aku akan memberinya pelajaran sekarang !” tanpa pikir panjang il woo langsung pergi meninggalkan so eun dengan tangan yang masih ia kepal.
“e…eeh i…il woo-ssi ! chankaman ! kau sudah salah paham !” cegah so eun seraya menahan lengan il woo.
“aku menceritakan ini semua kepadamu bukan karena aku ingin balas dendam kepadanya dan meminta bantuan kepadamu untuk memukulnya. Tidak masalah dia memperlakukanku seperti apa, tidak masalah dia bersikap kepadaku seperti apa, itu karena…..bagaimanapun juga itu karena aku menyukainya.” Jelas so eun. Il woo menatap so eun, menunggu apa kelanjutan kata yang akan so eun ucapkan.
“aku…aku hanya ingin…..hanya ingin dia menyukaiku seperti aku menyukainya” lanjut so eun dengan wajah menunduk.
“jadi….aku mohon bantulah aku, il woo-ssi !” so eun membungkukkan tubuhnya.
Cukup lama so eun membungkuk karena tak ada reaksi dari il woo. Namun tiba-tiba il woo menyentuh kedua pundak so eun dengan cukup keras, dan membuat so eun mengangkat kepalanya. Ia kaget.
“s..so eun-ssi…..kau….hic…. kau benar-benar luar biasa ! aku salut kepadamu ! hic hic….huaa aku terharu !” entah kenapa il woo malah menangis saking terharunya ia dengan kata-kata so eun. So eun manatap il woo tanpa berkedip.
‘eeh? di..dia menangis?’ batin so eun. ‘bukankah aku yang seharusnya menangis?’
“baiklah ! aku mengerti !” il woo menghapus air matanya itu, lalu mengepalkan kedua tangannya ke atas.
“aku akan membantumu dengan segenap kemampuanku so eun-ssi…..aku pastikan kim bum akan menyukaimu bahkan sampai tergila-gila kepadamu ! pecaya kepadaku !” il woo berbicara dengan suara yang sangat kencang.
“go..gomawo il woo-ssi, aku senang mendengarnya !” balas so eun seraya tersenyum bahagia.
“yeah, tidak masalah….hahahaha.” balas il woo. So eun tersenyum.

-today love is begin-

“hey beom-ah……tipe mana yang kau suka dari perempuan-perempuan di majalah ini?” Tanya il woo seraya menunjukkan majalah wanita tepat di depan wajahnya. Kim bum mengerutkan keningnya menatap majalah itu, pasalnya baru saja ia membuka pintu apartemennya, ia sudah disuguhkan dengan majalah itu dan dengan kehadiran il woo yang tiba-tiba.
“kau datang kemari hanya untuk bertanya tentang pertanyaan bodoh macam ini?” Tanya kim bum.
“hahaha…seperti yang kau tahu, aku tidak tahu seperti apa tipe perempuan idelamu. Aku hanya memikirkan itu sebagai referensi hahaha.” Jawab il woo.
“huh? Referensi untuk apa maksudmu?” Tanya kim bum tak mengerti.
“ah sudahlah, cepat kau pilih satu !” suruh il woo tanpa mengindahkan pertanyaan kim bum. Kim bum menatap il woo sedikit curiga. Tapi sepertinya lebih baik dia memilih saja dari pada il woo berlama-lama di depan apartemennya.
“ya ya, yang ini. Sudah cukup !” ujar kim bum sambil menunjuk salah satu wanita dengan pakaian yang cukup rapi, memakai kacamata dan terlihat berpendidikan.
“okay……yang ini huh?” Tanya il woo memastikan dengan bersemangat.
“oh.” Jawab kim bum.
“baiklah…..gomawo kim bum ! kalau begitu aku pergi. Selamat malam…..semoga kau segera bertemu dengan tipe wanita idealmu hihih. ” Il woo dengan cepat pergi dari apartemen kim bum. Sementara kim bum hanya memperhatikan sahabatnya itu dengan ekspresi aneh, kim bum mengerutkan keningnya.

Dddrrrttt dddrrrrrttt ddddrtttt
So eun yang sedang tiduran di kasurnya pun segera mengambil ponselnya yang disimpan di atas meja belajar. Ada pesan masuk dari il woo. Dengan cepat so eun pun membukanya.
Tipe perempuan ideal kim bum ! tipe perempuan yang cerdas
Pesan itu dilengkapi dengan foto wanita yang tadi ditunjuk kim bum dalam majalah.
“oh…jadi dia suka tipe seperti itu?” gumam so eun lalu mulai tersenyum lebar seraya memikirkan sesuatu.

-today love is begin-

Chungju Highschool
So eun berpenampilan tidak seperti biasanya hari ini, ia memakai kacamata dengan rambut diikat percis seperti gambar yang dikirim oleh il woo kepadanya kemarin. Yeah, mungkin sedikit kelihatan seperti tipe perempuan ideal kim bum, pikir so eun.
Saat hendak masuk ke dalam kelas, tak sengaja ia berpapasan dengan kim bum. Kim bum menatapnya dengan tatapan aneh dan itu membuat so eun salah tingah karena ditatap seperti itu.
“heh, ada apa denganmu?” Tanya kim bum dengan kening berkerut.
“ah hehehehe.” So eun nyengir. “um….yeah karena musim sudah berganti, jadi….aku berpikir untuk merubah penampilanku seperti ini.” Jawab so eun seraya membenarkan kacamatanya.
“huh?” kim bum menatap so eun dengan datar, lalu ia pun melepas kacamata yang so eun pakai, membuat so eun terkejut. Kim bum meneliti kacamata itu dan menerawangnya.
“ini palsu, huh?” Tanya kim bum.
“e..eeehh…itu….” jawab so eun gelagapan.
“berpenampilan seperti wanita cerdas….hmm….jadi kau memutuskan untuk memakai kacamata agar kau kelihatan seperti orang pintar huh? Heeh benar-benar….dengan begini bukankah kau kelihatan semakin bodoh?” ledek kim bum. “dan…..kau tahu? Kau tidak cocok berpenampilan seperti ini !” lanjut kim bum.
“k..kau…..kau benar-benar…..kau tidak perlu terus terang mengatakan itu kepadaku ! kau bermaksud menjatuhkanku huh?” kesal so eun. Sudah susah-susah ia berpenampilan seperti ini. Tapi nyatanya kim bum malah memberikan respon yang sama sekali tidak so eun harapakan.
“kau memang tidak tahu fashion ! fa-shi-on !” so eun menekankan kata fashion itu.
“huh?” kim bum mengabaikan ucapan so eun dan malah memakai kacamata itu lalu mendekatkan wajahnya kepada so eun. “yang kau katakan barusan….coba katakan sekali lagi !” suruh kim bum dengan senyum yang tak so eun mengerti. Menyadari wajahnya dengan wajah kim bum sedekat ini, so eun pun buru-buru menjauhkan tubuhnya, ia merasakan pipinya sangat panas, dan pastilah sudah merah padam. Melihat hal itu, kim bum malah tertawa karena berhasil menggoda so eun.
“dia benar-benar….” Gumam so eun.

-today love is begin-

So eun sedang menelpon il woo saat ini.
“BAGAIMANA? APAKAH BERHASIL????”
So eun langsung menajuhkan ponselnya dari telinga karena suara il woo yang sangat keras itu. “huh, rencananya tidak berjalan dengan lancar, il woo-ssi.” Ujar so eun lemas.
“jincha? Gwaenchana…gwaencaha…..kita coba cara lain, oke?”
“um…yeah.”
“ah ya, besok akan ada festival di sekolahku. Kau dan kim bum harus datang, oke? Jika dia tidak mau, aku akan memaksanya ! aku punya rencana yang bagus untuk kalian hehehe.”
“oh jincha?”
“ne, nanti aku akan menghubungimu lagi.”
“oh….gomawo il woo-ssi.”
“gwaenchana, kalau begitu jja.”
“jja…”
Sambungan telpon pun terputus. “apa yang direncanakan il woo-ssi ya?” pikir so eun.

-today love is begin-

Keesokan harinya. Minami Highschool
“yooo…senangnya kalian berdua datang !” sapa il woo saat so eun dan kim bum sudah tiba di sekolahnya. “kalian kelihatan serasi, baiklah kajja ! silakan bersenang-senang disini !” ujar il woo.
“bukankah kau yang meminta kita untuk datang?” ujar kim bum. Il woo menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
“hehehe, kajja kajja kalian masuklah ! hal yang paling menarik di festival tahun ini di sekolahku adalah menguji keberanian di rumah hantu !” ujar il woo. So eun langsung merinding mendengarnya.
“aku tidak berniat untuk masuk kesana.” Ujar kim bum.
“hey…apa kau takut huh?” il woo menyikut lengan kim bum. Kim bum langsung menatap il woo dengan tatapan marah.
“ah…..orang sedingin kau takut dengan hantu huh? Ah….aku tidak menyangka ! kau tidak punya keberanian untuk masuk ke rumah hantu?” goda il woo.
“kau banyak bicara !” Kesal kim bum lalu tanpa banyak bicara berjalan meninggalkan so eun menuju rumah hantu yang pada dasarnya adalah kelas il woo yang diubah jadi rumah hantu.
“so eun-ssi…sekarang saatnya ! jangan biarakan rencana ini gagal lagi !” il woo berbisik di telinga so eun.
“dari pengalamanku, momen ketika laki-laki jatuh cinta kepada perempuan adalah ketika mereka melakukan misi untuk menjaga perempuan yang mereka sukai. Jika dia berpikir untuk melindungimu, lalu dengan semua kekuatan dan segenap hatinya, dia akan perhatian kepadamu. Laki-laki memang seperti itu.” Jelas il woo dengan yakin.
“oh…a..aku mengerti.” Balas so eun.
“baiklah, fighting so eun-ssi ! lakukanlah yang terbaik, oke?” ujar il woo.
“mm…” so eun mengangguk. “aku akan mencobanya.” Lalu so eun pun segera mengikuti kim bum.

-today love is begin-

“AAAHHHHHH…….!” Belum apa-apa so eun langsung dikagetkan dengan boneka hantu berpakaian putih yang tiba-tiba muncul dan bergerak di sampingnya.
“yang tadi….benar-benar bergerak ! ada orang yang menggerakkannya kan?” Tanya so eun ketakutan, ia berjalan di belakang kim bum.
“molla, tapi mungkin saja.” Balas kim bum singkat.
“huhu….aku benar-benar takut.” Gumam so eun dan berjalan dengan pelan.
“HUAAAA !” so eun kembali dikejutkan karena ada sebuah tangan yang memegang kakainya.
“dia sangat berisik !” gerutu kim bum, lalu ia pun dengan santainya berajalan dengan meninggalkan so eun yang masih ketakutan. So eun menjerit-jerit seraya berusaha melapaskan tangan palsu itu dari kakinya.
“k..kim bum-ssi ! chankanmanyo ! disini gelap ! jangan pergi jauh-jauh dariku !” pinta so eun.
“heh…” kim bum menghela napasnya lalu dengan terpaksa berjalan kembali mendekati so eun.
“tidak ada pilihan lain, aku akan menggenggam tanganmu, jadi kau tidak akan merasa ketakutan lagi dan berteriak-teriak seperti itu.” Ujar kim bum seraya mengulurkan tangannya. Karena so eun hanya diam saja, kim bum pun menarik tangan so eun dan menggenggamnya. So eun cukup terkejut dibuatnya, namun ada sesuatu yang terasa janggal tatkala tangan kim bum menggenggamnya, tangan itu terasa keras dan dingin. Tapi so eun tak memikirkan itu, yang terpenting adalah sepertinya rencana il woo cukup berhasil. Jantungnya berdegup lebih kencang sekarang ini.
“go..goma….” ucapan so eun terhenti saat ia menyadari bahwa yang menggenggam tangannya itu bukanlah kim bum. Ternyata kim bum berbohong dan dengan sengaja menyentuhkan tangan boneka tengkorak ke tangan so eun. So eun langsung saja berteriak karena kaget.
“AAAAAAAAHHH…..!” teriaknya.
“HAHAHAHA.” Kim bum malah tertawa tanpa merasa bersalah sedikitpun.
“KAU….YAK ! JANGAN BERMAIN-MAIN DENGANKU ! KAU BENAR-BENAR TIDAK BERPERASAAN !” teriak so eun.
“HAHAHA BABO !” balas kim bum yang tak bisa menghentikan tawanya.
Sementara itu, tepat di depan pintu masuk rumah hantu, il woo berdiri seraya mencoba menguping mereka. Tapi setelah ia mendengar teriakan so eun dan kim bum yang tertawa-tawa. Ia rasa rencananya tidak berhasil.
“rencananya tidak berjalan lancar lagi huh?” ujar il woo.

-today love is begin-

“sial…dia sangat sulit !” kesal il woo. So eun mengangguk.
“kita benar-benar tidak beruntung.” Balas so eun lemas.
“ayo kita pikirkan lagi, rencana apa yang harus kita lakukan selanjutnya.” Ujar il woo seraya berpikir.
“i..il woo-ssi…kau benar-benar orang yang baik.” Ujar so eun.
“huh?”
“kita bahkan baru saling mengenal beberapa hari ini, tapi kau benar-benar serius membantuku.” Ujar so eun.
“hehe….melihatmu selalu mencoba yang terbaik, membuatku ingin menyemangatimu. Aku menyukainya ! seseorang yang mencoba dengan keras sepertimu.” Puji il woo.
“eeh? Ah hehe…go..gomawo.” balas so eun.
“ini juga pertama kalinya di dalam hidupku aku seperti ini.” Lanjut so eun, Ia jadi cukup salah tingkah setelah dipuji seperti itu oleh il woo.
“a..aah…jangan salah paham….suka disini bukan berarti aku menyukaimu !” ujar il woo meluruskan. So eun tertawa.
“haha aku mengerti, aku tidak berpikir seperti itu. Aku hanya senang, untuk pertama kalianya aku dipuji oleh seorang laki-laki setelah selama ini aku terus diperlakukan tidak baik oleh kim bum-ssi.” Ujar so eun.
“oh…..ahahahaha yeah yeah, kalau begitu kita kembali ke anak itu. Ayo kita pikirkan rencana yang lebih baik yang tentunya tidak akan gagal lagi !” ujar il woo.
“ah yaa.” Balas so eun.

-today love is begin-

Sudah beberapa cara yang so eun dan il woo lakukan untuk membuat kim bum menyukai so eun. Namuan hasilnya tetap saja sama, semua rencana yang mereka lakukan tetap gagal. Dan itu membuat so eun sangat kecewa dan menjadi murung. So eun merasa jika semua yang telah ia lakukan hanya sia-sia saja. Karena pada kenyataannya, tidak ada reaksi sama sekali dari kim bum, sikap kim bum tak juga berubah terhadapnya.
Saat ini, so eun dan il woo sedang berada di tepi sungai han. Sedari tadi so eun hanya memeluk lututnya seraya menatap sungai han dengan tatapan lesu, ia tak banyak biacara seperti il woo.
“hey…” panggil il woo. “apakah kau sudah memikirkan cara lain?” Tanya il woo.
“ani, aku sedang tidak ingin memikirkannya.” Balas so eun dengan lesu.
“hey so eun-ssi, jangan menyerah ! kita sudah banyak melakukan sesuatu yang melelahkan !” Ujar il woo, ia berusaha menyemangati so eun.
“aku akan mencoba memikirkan cara yang lebih baik.” Ujar il woo.
“kita sudah mencoba segala cara, tapi…..semuanya tidak berhasil seperti yang kita harapkan. Aku mulai merasa bahwa semuanya sangat tidak mungkin untukku.” Ujar so eun. Il woo tertegun mendengarnya.
“hey…kenapa kau jadi pesimis seperti ini? Bukankah kau selalu berusaha dengan keras? Jika kau menyerah, maka tidak akan ada hasil yang kau dapat !” ujar il woo dengan suara keras.
“i..il woo-ssi…” ujar so eun. Ia tidak menyangka jika il woo lebih bersemangat daripada dirinya.
So eun pun sedikit tersenyum. “kau…kau benar. Seperti yang orang-orang hebat katakan, semuanya akan berakhir jika kita dengan mudah menyerah.”ujar so eun, mencoba menghibur dirinya sendiri.
“tapi….jikapun pada akhirnya tetap tidak berhasil….aku akan….” Tanpa so eun mau, tiba-tiba air matanya jatuh, dan hal itu membuat il woo kaget.
“s..so eun-ssi !” kaget il woo.
“huh….mian….aku juga tidak tahu kenapa aku menangis?” ujar so eun seraya berusaha menghapus air matanya. “Aku benar-benar bodoh, aku pun tidak tahu apa yang harus aku lakukan disaat aku seperti ini.” Lanjutnya.
Melihat so eun yang menangis seperti itu, membuat il woo iba. Ia hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apa-apa untuk menghibur so eun.
“kenapa air mataku tidak bisa berhenti? Huh menyebalkan !” kesal so eun.
Il woo kini benar-benar diam, ia hanya menatap so eun. Ia berpikir bahwa ada baiknya jika ia membiarkan so eun menangis, itung-itung agara so eun merasa tenang sedikit jika ia menumpahkan perasaannya dengan menangis.

-today love is begin-

Malam hari
So eun sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya di meja melajar. Tapi tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia pun mengambil ponselnya dan ternyata ada pesan masuk dari il woo.
“il woo…” heran so eun.
Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu, jadi datanglah ke taman kota jam 8
So eun sedikit bingung setelah membaca pesan dari il woo tersebut. Kenapa tiba-tiba il woo ingin mengajaknya bicara? Dan apa hal yang penting itu?

So eun sudah ada di taman kota, ia duduk di bangku kayu sendirian menunggu kehadiran il woo. Ia memakai jaket tebal karena sekarang angin berhembus lumayan kencang. So eun hanya bisa menggosok-gosok tangannya untuk mengusir rasa dingin. Namun, tanpa so eun sangka, ia melihat sosok kim bum berdiri tak jauh dari tempat ia berada. Kim bum sendiri sedang memegangi ponselnya dan seperti sedang membaca sesuatu dari sana. Karena ingin memastikan apakah itu kim bum atau bukan, akhirnya so eun pun memutuskan untuk menghampirinya.
“k..kim bum-ssi?” panggil so eun ragu. Kim bum menoleh dan wajah kagetnya tidak bisa disembunyikan.
“kau?”kaget kim bum.
“kenapa…kau ada disini?” Tanya so eun heran.
“il woo menelponku dan menyuruhku untuk kemari.” Jawab kim bum.
“oh…”balas so eun. Mereka diam, kim bum tak berniat mengajak so eun bicara atau bagaimana, so eun juga jadi merasa canggung dengan situasi seperti ini.
“Kim bum-ah…….so eun-ssi !” panggil il woo yang baru saja datang. Kim bum dan so eun langsung berbalik ke asal suara.
“maaf, telah meminta kalian bertemu disaat malam seperti ini.” Ekpresi il woo tampak serius sekarang, tak seperti biasanya yang selalu bersuara keras dan diselingi tawa saat ia berbicara.
“g…gwaencaha.” Balas so eun.
“jadi apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya kim bum langsung.
“baiklah…..aku sengaja meminta bertemu dengan kalian berdua disini karena ada sesuatu yang ingin aku katakan. Ini menyangkut aku, so eun-ssi, dan juga kau…bum-ah.” Ujar il woo.
“tidak usah berbelit-belit ! cepat katakan apa yang ingin kau katakan !” suruh kim bum. Ia tidak ingin lama-lama berada di luar, apalagi angin yang dingin berhembus cukup kencang.
“karena sudah beberapa hari ini aku sering bertemu dengan so eun-ssi, aku…..aku rasa….aku jatuh cinta pada so eun-ssi….!” Ujar il woo serius. Kim bum kaget mendengarnya, apalagi so eun.
“aku sangat mengerti perasaanmu so eun-ssi. Tapi, jangan biarkan dirimu terluka hanya karena gara-gara kau menyukai orang seperti kim bum yang sudah jelas tak juga membalas perasaanmu, bahkan sampai kau terlalu berusaha keras ! jika itu adalah aku, aku sudah pasti tidak akan mungkin membuatmu menangis ! aku akan selalu menyemangatimu !” ujar il woo pada so eun. So eun terdiam, begitu cepat dan ia belum bisa menerima apa yang baru saja terjadi.
“hey beom-ah….tidak apa-apa kan? Jika aku mengambil so eun-ssi?” Tanya il woo pada kim bum. Kim bum diam untuk beberapa saat, ia menatap il woo sedikit lama. Sementara perasaan so eun sudah tak karuan, ia penasaran apa yang akan kim bum katakan.
Kim bum menghela napas lalu menyunggingkan sedikit senyumnya. “lakukan saja apa yang kau mau !” jawab kim bum enteng. Kali ini benar-benar membuat hati so eun sakit.
“KAU…..” marah il woo.
“kenapa kau harus bertanya kepadaku? Bahkan jika aku megijinkannya, aku tidak akan menyesal sedikit pun !” ujar kim bum. Kini mata so eun sudah berair, ia tidak menyangka kim bum akan mengeluarkan kata-kata seperti itu. Tanpa bisa ia tahan, buliran bening itu pun jatuh dan so eun menangis. Ia langsung saja berlari meninggalkan mereka. “kim bum-ssi !!! kau kurang ajar !” teriak so eun sambil berlari dengan kencang.
“ss..so eun-ssi !” panggil il woo.
“b..bagaimana ini? Kau sudah membuatnya menangis !” ujar il woo.
“heh…” kim bum malah menghela nafasnya seraya menyunggingkan senyumnya. Menyadari kim bum yang tersenyum seperti itu, il woo kesal dan langsung saja ia meraih kerah baju kim bum.
“KAU BENAR-BENAR SUDAH KETERLALUAN ! APAKAH KAU TIDAK BERPIKIR DENGAN APA YANG KAU KATAKAN ? TIDAKKAH KAU MENGERTI AKAN PERASAANYA!?” marah il woo, ia berteriak tepat di depan wajah kim bum.
“kenapa kau semarah itu? apa yang ingin kau katakan adalah sebaliknya, kan?” Tanya kim bum. Il woo mendadak melonggarkan tangannya yang menggenggam kerah baju kim bum.
“asal kau tahu, aktingmu benar-benar buruk !” ujar kim bum. Kini il woo pun melepaskan tangannya dari kerah baju kim bum.
“kau…jadi kau sudah tahu sebelumnya?” Tanya il woo tak habis pikir.
“sikapmu sudah sangat mencolok, jadi aku sudah menyadarinya.” Balas kim bum.
“kalian telah bekerja sama, itulah kenapa saat itu dia tiba-tiba merubah penampilannya seperti perempuan cerdas.” Lanjutnya.
“ka..kau…jadi kau sudah menyadarinya dari awal?” kaget il woo.
Kim bum mendesah. “jangan mengorbankan dirimu untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna !” Ujar kim bum.
“mwo? Yak ! apa maksudmu tidak berguna? So eun-ssi benar-benar ingin kau menyukainya, dia sudah mencoba yang terbaik dan bekerja keras !” balas il woo dengan suara cukup keras.
“aku sudah tahu itu.” Balas kim bum.
“huh? Jika kau sudah tahu, lalu kenapa kau tidak memberitahukan jawabanmu?” Tanya il woo. “jika kau laki-laki, bukankah seharusnya kau menjawab perasaanmu dengan jujur?” lanjut il woo.
“il woo-ya…” panggil kim bum. Il woo menatap kim bum. “hanya aku yang bisa memutuskan kapan aku jatuh cinta kepadanya.” Lanjut kim bum seraya menunggingkan senyumnya. Senyum yang penuh arti itu belum bisa il woo mengerti. Kata-kata kim bum terlalu berputar-putar dan menjebak. Namun, il woo cukup tertegun mendengarnya.
“hal ini juga merupakan tugas laki-laki untuk mengawasi secara diam-diam, tanpa dia tahu.” Ujar kim bum dengan gentlenya, ia juga tersenyum saat mengatakan itu. Lalu setelah itu kim bum pun pergi meninggalkan il woo tanpa berkata apa-apa lagi. Benar-benar tidak dipercaya, il woo sangat takjub dengan apa yang kim bum katakan barusan.
“huh? Kenapa jantungku jadi berdetak cepat begini?” heran il woo. “dasar kim bum bodoh kau !” kesal il woo.

-today love is begin-

So eun tengah berdiri di atas jembatan yang dibawahnya mengalir sungai han. Setelah puas menangis, Ia memutuskan untuk diam disini beberapa saat seraya menikmati indahnya sungai han malam hari dari atas jembatan. Hembusan angin meniupkan rambutnya yang digerai. Mengingat perkataan kim bum tadi, membuatnya ingin kembali menangis, tapi so eun berusaha untuk menahannya.
“sekarang aku sudah benar-benar patah hati.” Gumam so eun.
“begitu jahatnya dia berkata seperti itu? Dasar manusia tak berperasaan !” kesal so eun.
“kenapa bisa aku menyukai laki-laki seperti itu?” so eun merasa sangat menyesal.
“apa kau sedang mencoba bunuh diri dengan cara melemparkan tubuhmu ke sungai?”
So eun langsung membalikkan tubuhnya ke belakang, ia melihat kim bum tengah berdiri di belakangnya dengan tangan yang ia lipat di dada. So eun kaget ! benar-benat kaget ! kenapa disaat seperti ini kim bum malah muncul?
“kajja, kita pulang sekarang !” ajak kim bum.
“bagaimana bisa kau kemari?” Tanya so eun lalu kembali membalikan tubuhnya dan menatap ke arah sungai han.
“huh?”
“bukankah kau baru saja mengatakannya kepada il woo-ssi, bukankah lebih baik jika kau meninggalkan aku sendiri.” Ujar so eun.
Kim bum diam untuk beberapa saat. Ia menatap punggung so eun dari belakang, lalu ia membuang nafasnya. “seberapa besar kau menyukaku?” itulah yang keluar dari mulut kim bum. So eun memutar kepalanya untuk melihat kim bum.
“jika kau ingin tahu apakah hatiku sudah terbuka atau belum, maka intiplah ! tapi jika kau tidak seberapa menyukaiku, maka kau tidak usah melakukannya dank au tidak akan bisa memilikiku ! okay ?” ujar kim bum. So eun terdiam cukup lama mendengarnya. Ia menatap kim bum tanpa berkedip. Tiba-tiba kim bum mengulurkan tangan kanannya pada so eun. So eun menatap tangan itu dengan kening berkerut lalu kembali menatap kim bum. So eun bingung dengan sikap kim bum sekarang.
“jadi, mana yang akan kau pilih?” Tanya kim bum. So eun masih diam, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan dan apa yang harus ia lakukan. Ia masih menatap kim bum tidak mengerti.
“jika kau memang benar-benar menyukaiku, maka terima tanganku ! tapi jika tidak, abaikan saja aku !” kim bum memberikan pilihan kepada so eun. Tapi dengan pilihan yang kim bum berikan, so eun malah semakin diam dan hanya bisa menatap kim bum. Ia butuh waktu untuk mencerna apa yang kim bum katakan sekarang ini, di tempat ini. Karena so eun tak kunjung juga memberikan respon. Akhirnya kim bum pun meraih tangan kiri so eun bahkan sebelum so eun memilih, kim bum menarik tangannya lalu menggenggam tangan so eun. So eun tidak menolak atau pun melakukan sesuatu, ia hanya menerima saja ketika kim bum menariknya dan menggenggam tangannya. Mendadak, pipinya kembali memerah dan jantungnya berdegup lebih cepat. So eun berjalan di belakang kim bum dengan tangan kirinya yang digenggam kim bum. So eun bisa merasakan tangan kim bum yang besar dan dingin itu.
“heh….persis seperti yang telah aku pikirkan, pada akhirnya kau akan jatuh cinta kepadaku. Kau memang bodoh !” ejek kim bum.
“kau…kau sangat menyebalkan !” balas so eun, sejujurnya ia salah tingkah dengan sikap kim bum yang berubah sekarang ini.
“ya ya terserah kau.” Kim bum hanya membalasnya dengan jawaba iya saja.
Pada akhirnya, hatiku yang tadinya telah remuk, kini mulai tersusun lagi.

 

To Be Continued

Sepertinya kalian sudah tahu bagaimana sebenarnya perasaan kim bum ke so eun kan? Hahaha
Tunggu aja part selanjutnya. Mian jika ceritanya kurang memuaskan, tapi saya harap kalian menyukainya.

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya.

Today, Love is Begin PART 5

Today, Love is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom

Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.

Genre : Romance Comedy

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

Annyeong readers hahaha akhirnya author kembali sesudah sekian lama menghilang dari dunia per ff-an hahaha maklum ya udah kelas 12 jadi sibuk huhu menyedihkan

Yaudah nih author suguhin lanjutan today love is begin. Happy reading ya. maaf bagi yang nunggu lama, harap maklum aja.

PART 5

 

Kim bum langsung menahan tangan so eun yang meraba keningnya, wajah mereka kini begitu dekat dan membuat so eun diam dengan pipi yang sudah merah padam.

“berhenti tertawa seperti itu, bodoh ! hanya melihatmu saja membuatku malu setelah mengucapkan hal tadi!” ujar kim bum.

“aah…ah mian, haha.” So eun buru-buru menjauhkan dirinya, namun kim bum masih menatapnya. So eun jadi salah tingkah di buatnya.

“ah…sepertinya aku harus segera pulang, pastikan kau harus masuk sekolah besok.” Ujar so eun seraya mebereskan tasnya. Kim bum hanya menatap so eun saja.

“baiklah kalau begitu, aku pergi.” Kim bum menatap punggung so eun hingga menghilang dari penglihatannya, setelah itu ia pun menjatuhkan dirinya di kasur. Kim bum menyelipkan kedua tangannya di belakang kepalanya, ia memejamkan matanya tapi ia kembali membuka matanya. Entah kenapa, sekarang ia jadi memikirkan perkataan bodoh yang keluar dari mulutnya tadi.

“ini benar-benar buruk.” Gumamnya.

Sementara itu, so eun memegangi dadanya saat di tengah perjalanan. Ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya.

“gawat ! jantungku berdegup sangat kencang ! aku harus menenangkan diriku !” gumam so eun lalu cepat-cepat pergi dengan langkah lebar dengan hati yang masih tidak menentu.

Tidak ada gunanya kita merasa senang dengan sikap atau pekataan yang ditunjukan satu sama lain bahkan meskipun saat kita dalam suasana hati yang baik. Karena faktanya adalah, kita tidak benar-benar berkencan.

-today love is begin-

 

So eun sudah berkali-kali membenarkan posisi tidurnya, ia guling kiri, guling kanan. Tapi tetap saja, ia tak bisa tidur meskipun ia sudah mencoba memejamkan matanya serapat mungkin dan bahkan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

“aarrgghh….sudah cukup !” so eun langsung membuka kedua matanya dan bangkit dari tidurnya. Ia memegangi kepalanya yang juga agak sedikit pusing.

“ada apa denganku? kenapa aku terus memikirkannya?” kesal so eun.

“aku bahkan tidak bisa tidur, haaah kenapa aku jadi seperti orang bodoh begini?” so eun menundukkan kepalanya. Setelah dari apartemen kim bum tadi, so eun tidak bisa menghentikan otaknya yang terus memikirkan kejadian disaat kim bum menatapnya secara dekat. Ia juga tidak bisa mengontrol jantungnya yang berdetak sangat kencang.

So eun tiba-tiba memegangi kedua pipinya yang memanas. “apakah jangan-jangan……” pikirnya dengan wajah khawatir.

“aaaaaahhhhhh…” so eun berteriak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“aku tidak boleh terus memikirkannya ! jika aku terus memikirkan itu, aku akan kelihatan aneh nanti. Bagaimana ini?” so eun jadi stress sendiri dengan dirinya sekarang.

-today love is begin-

Chungju Highschool

So eun baru saja sampai di sekolah, wajahnya terlihat lemas. Banyak hal-hal yang ia pikirkan di kepalanya. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana jika ia bertemu dengan kim bum hari ini. ia pasti akan kelihatan aneh dan salah tingkah, terlebih setelah semalaman ia tidak bisa menyingkirkan pikiran tentang kim bum dari kepalanya.

“semoga saja, aku tidak bertemu dengannya hari ini.” batin so eun.

“ah….aku harus menenangkan diriku, mungkin akan lebih baik jika sepulang sekolah pergi berkaraoke bersama nirin, aku bisa bernyanyi sepuasnya dengan kencang.” Ujar so eun pada dirinya sendiri.

“hey….” So eun menghentikan langkahnya sejenak saat ada suara seseorang yang ia kenal memanggilnya. Menyadari jika itu suara kim bum, so eun pun pura-pura tak mendengar dan segera menghindar. Baru saja ia memikirkan tidak ingin bertemu dengan kim bum hari ini, tapi ternyara kim bum malah memanggilnya.

Kim bum mengerutkan keningnya melihat so eun yang langsung pergi. “ooii kau…. !” teriak kim bum sekali lagi. So eun terpaksa menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap kim bum.

“ah…kau..” balas so eun gugup. Jantungnya kembali berdegup lebih kencang dari biasanya.

“jadi ketika seseorang menyapamu, kau hanya akan mengacuhkan mereka, eoh?” tanya kim bum dengan nada dinginnya.

So eun langsung menggibas-gibaskan tangannya. “a..aniyo, a..aku hanya tidak mendengar suaramu.” Jawab so eun. “tadi…aku sedang berkhayal hehehe.” Dusta so eun, bahkan sekarang ia tidak bisa menatap wajah kim bum. Begitu gugupkah ia? Sementara itu, kim bum yang melihat so eun sedikit aneh mengerutkan keningnya. Lalu sedikit menundukkan kepalanya dari samping kepada so eun. “heh, apa kau tertular deman dariku?” tanya kim bum, menatap dan menyelidiki wajah so eun sangat dekat.

“ee..ehh? a..aku baik-baik saja, aku tidak apa-apa.” so eun langsung menjauhkan wajahnya.

“aku tidak demam, flu, batuk, atau semacamnya. Aku bersikap seperti biasanya yang selalu bersemangat heheh, jadi kau tidak perlu khawatir padaku.” balas so eun seraya tertawa hambar.

“huh? Siapa yang bilang aku khawatir?” tanya kim bum dengan kening yang mengerut. Ia menatap so eun marah karena sudah seenaknya berpikiran bahwa ia mengkhawatirkan kondisinya.

“meskipun kau terkena demam, bukankah yang akan selalu mengkhawatirkan majikannya adalah peliharaannya sendiri, bukankah begitu?” ujar kim bum.

So eun langsung mematung dibuatnya setelah mendengar perkataan kim bum yang tidak manusiawi itu. “hei…kau benar-benar….gggrr.” so eun meremas-remas tangannya dengan gemas. Sementara kim bum hanya tersenyum menang.

“yah baiklah, sampai jumpa, aku ke kelas lebih dulu.” Ujar kim bum lalu pergi meninggalkan so eun.

“dia benar-benar sudah membuatku muak.” Geram so eun.

“ah kim bum-ssi, selamat pagi !” sapa seorang siswi yang tak sengaja berpapasan dengannya.

“selamat pagi.” Kim bum membalasnya dengan senyum ramah.

So eun yang melihat hal itu merasa jijik. “huh….dia memang pintar bersandiwara.” Gumamnya.

“apa kau sudah sehat kim bum-ssi?” tanya siswi itu.

“ah ya, aku sudah baik.” Balas kim bum.

“haaii kim bum-ssi, selamat pagi.” Kini ada dua siswi yang berbincang dengan kim bum. Kim bum membalas mereka dengan baik dan ramah. Menyadari masih ada seseorang yang memperhatikannya dari belakang, kim bum pun memutar kepalanya, lalu memeletkan lidahnya kepada so eun seperti meremehkan so eun. So eun cukup kaget dibuatnya. Setelah itu, kim bum pun benar-benar pergi.

So eun memegangi kedua pipinya yang mendadak memerah lagi. “lihat saja, aku akan membongkar sifat aslimu.” Ujar so eun.

-today love is begin-

Sepulang sekolah, tempat karaoke

So eun dan nirin sedang menyanyi di tempat karaoke. So eun menyanyi kencang sekali, seperti ia sedang menumpahkan segala kekesalnnya kepada laki-laki menyebalkan itu. siapa lagi kalau bukan kim bum.

Setelah lelah bernyanyi, so eun langsung meminum jus yang ada di atas meja. Nirin mengerutkan keningnya melihat so eun yang seperti itu. ia menopang dagunya menatap so eun.

“hmmm….kau sedang depresi?” tanya nirin. So eun mengangguk.

“ah seperti apa yang aku duga, waktunya sudah tiba ternyata, bagaimana jika kau mengatakannya dengan keras?” tawar nirin.

“sudah tiba? Sudah tiba apa maksudmu?” tanya so eun tak mengerti.

“kau menyukai kim bum-ssi, benar kan?” nirin menggunakan microphone itu lalu ia menyodorkannya ke depan wajah so eun, membuat so eun sedikit memundurkan wajahnya ke belakang.

“kau menyukainya?” tanya nirin sekali lagi. So eun terdiam beberapa saat dengan ekspresi wajah yang tidak menentu.

“baiklah, aku rasa….aku menyukainya.” akhirnya so eun menjawabnya dengan wajah menunduk, wajah so eun memerah dan matanya mulai berair.

“hei, bukankah itu bagus? Akhirnya kau sudah menemukan orang yang kau sukai.” Ujar nirin.

“tapi….tapi itu tidak mungkin ! seharusnya aku merasa malu saat ini nirin-ah, bahkan dia selalu memperlakukanku bukan seperti perempuan. Tapi kenapa aku punya perasaan seperti ini padanya?” ujar so eun, lalu ia menangis. “huaaaa….hic hic…”

“yeah, aku rasa ini tidak bisa membantu hhahaha.” Nirin malah tertawa melihat so eun seperti itu.

“kau tidak bisa memilih dengan siapa kau akan jatuh cinta kan? Karena hati tidak bisa dipaksakan ! jadi ikuti saja perasaanmu, karena aku yakin kau akan menemukan kebahagian jika kau melakukannya.” Nirin mencoba menyemangati seahabatnya itu, dan so eun mendadak berhenti menangis.

“umm, ya….kau benar nirin-ah.” Ujar so eun akhirnya. Nirin tersenyum.

“aku akan membantumu sebisaku, jadi cobalah yang terbaik !” ujar nirin.

“ba…baiklah.” Balas so eun.

-today love is begin-

Keesokan harinya, sepulang sekolah

So eun dan kim bum pulang bersama, yah seperti yang kalian tahu, mereka masih terikat dalam suatu hubungan meskipun hubungan itu hanya kebohongan belaka kan? Dan semua ini terpaksa mereka lakukan karena teman-temannya akan curiga tentang hubungan mereka jika mereka tidak pulang bersama.

Selama perjalanan, so eun hanya diam, ia tak mengeluarkan suara sedikitpun. Begitu pula dengan kim bum, ia hanya fokus pada ponselnya.

“bagaimana ini? nirin bilang aku harus melakukan yang terbaik, tapi aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan.” Batin so eun.

“apakah aku harus…..mengakui perasaanku padanya? Atau semacamnya?”

“hey…” tiba-tiba kim bum mencubit pipi so eun.

“oo..oouch…appo !” kesal so eun.

“apa  yang sedang kau pikirkan? Jangan berpikir yang macam-macam jika kau sedang berjalan didepanku !” ujar kim bum.

“siapa yang berpikir macam-macam?” kesal so eun seraya berusaha melepaskan tangan kim bum yang mencubitnya.

“heh….” Kim bum pun melepaskan cubitannya. Sementara, so eun menatap kim bum dengan kesal seraya memegangi pipinya yang memerah karena bekas cubitan kim bum.

“kau sering sekali mencubit pipiku ! bisakah kau berhenti melakukannya? Kau tahu? rasanya sakit !” kesal so eun. Tapi kim bum tidak mendengarkan, matanya fokus pada anjing yang tak sengaja tertangkap oleh indera penglihatannya.

“hey….kenta ! berhenti !” teriak seorang nenek berumur sekitar 60 an.

Kim bum masih memperhatikan anjing yang berlari itu hingga anjing itu berhenti tepat di bawah kakinya.

“eh…anjing?” ujar so eun seraya ikut melihat anjing itu.

“akhirnya kau berhenti juga, kenta.” Nenek itu terlihat kelelahan.

“ah…maaf anak muda, apakah anjingku ini mengganggu kalian?” tanya nenek itu.

“ah ani.” Balas kim bum seraya tersenyum ramah.

“syukurlah…” balas nenek itu.

“anjingmu sangat lucu, bolehkah aku meminjamnya dan mengajaknya jalan-jalan?” pinta kim bum.

“ah….pergilah…pergilah….aku rasa kenta juga menyukaimu.” Balas nenek itu.

“kebetulan aku juga ingin membeli sesuatu ke supermarket, jagalah anjingku. Tidak lama aku akan kembali kemari.” Ujar nenek itu.

“ah ne ahjumma, gamsahamnida.” Ujar kim bum.

“jadilah anjing yang baik kenta ! kalau begitu aku pergi.” Kim bum membungkukkan badannya sebagai tanda hormat dan terimakasih. Nenek itu pun pergi meninggalkan anjingnya, juga kim bum dan so eun.

Kim bum langsung membawa anjing itu ke taman di dekat sana, so eun hanya bisa mengikutinya dari belakang. Kim bum tampak senang sekali saat ia bermain dengan anjing itu, so eun yang duduk di samping kim bum hanya bisa memperhatikannya saja.

“aku rasa, dia memang penyuka binatang. Atau mungkin dia menyukai anjing.” Gumam so eun.

“wooaah, kau sangat berat kenta !” kim bum mengangkat tubuh kenta. “guk guk guk guk…”

“hmm? Kau ingin bermain denganku?” tanya kim bum. “guk guk guk…”

Kim bum tersenyum seraya mengelus-ngelus bulu kenta. So eun yang sedari tadi memerhatikan kim bum dan anjing itu tertegun saat melihat senyum kim bum yang tulus, tak seperti biasanya.

“e..ekpresi wajahnya….dia seperti pangeran jika tersenyum seperti itu, jarang-jarang aku melihat dia sesenang ini.” batin so eun. Pipinya mendadak merah karena melihat senyum kim bum itu.

“Aku…ya aku menyukai kim bum-ssi.” batin so eun.

Menyadari so eun terus memandangnya, kim bum pun memicingkan matanya menatap so eun.

“mwo? kau ingin aku memperlakukanmu dengan baik seperti anjing ini?” tanya kim bum.

“eehh..? mwo?” pekik so eun. “a..apa kau bodoh huh? Mana mungkin ! Kenapa kau tiba-tiba…..”

“yeah, ekspresi wajahmu mengatakan jika kau menginginkannya.” Potong kim bum.

“m..mwo….”

“guk guk…” tiba tiba anjing itu melompat dari pelukan kim bum dan berlari ke si pemilik yang baru saja datang.

“ah, kalian menjaga anjingku dengan baik.” Ujar nenek itu. kim bum pun langsung berdiri diikuti so eun dan membungkukkan badannya pada nenek itu.

“aku senang bisa mengajaknya bermain, dia anjing yang sangat lucu. Aku menyukainya.” ujar kim bum.

“kalau begitu aku pulang anak muda, semoga aku bisa bertemu dengan kalian lagi.” Ujar nenek itu.

“ah ne.” balas kim bum.

“ayo kenta !” nenek itu pun pergi bersama anjingnya.

So eun memegangi pipinya yang masih merah dan terasa panas. “sangat memalukan, dia melihat ekspresi wajahku tadi huhuhu. Tapi, mungkin dia benar, aku ingin dia tersenyum padaku seperti dia tersenyum pada anjing itu saat ia bersamaku.” Batin so eun.

Tapi, tiba-tiba so eun menggeleng-gelengkan kepalanya. “ada apa dengaku?”

“wae?” tanya kim bum heran melihat so eun seperti itu.

“ah…ani.” Balas so eun.

“um….kim bum-ssi, melihatmu sangat menyukai binatang, kenapa kau tidak memelihara anjing saja?” tanya so eun.

“aku tidak bisa.” Balas kim bum.

“eh…kenapa tidak?” tanya so eun. “ah…ya benar, kau hanya tinggal bersama ayahmu. Jika kau memelihara anjing, mereka akan kesepian dan mereka hanya akan duduk menunggumu di rumah, karena kau tidak punya banyak waktu untuk mereka.” Ujar so eun.

“yeah, itu salah satunya.” Balas kim bum. So eun langsung menengadahkan wajahnya menatap kim bum.

“lagipula, aku takut mereka akan mati suatu saat nanti. Aku pernah punya anjing saat di sekolah dasar, tapi dia mati karena keracunan.” Cerita kim bum. So eun menatap kim bum cukup tertegun.

“dari situlah aku berpikir akan lebih baik jika aku tidak punya peliharaan.” Lanjutnya.

“ah aku mengerti, aku tidak sampai berpikir ke arah sana, mian.” Balas so eun.

“hal yang terpenting saat memiliki peliharaan adalah….harus memberikan mereka penuh perhatian.” Ujar kim bum.

“mmm…” so eun menyetujuinya.

“yeah lagi pula, aku sudah punya peliharaan raksasa bukan?” kim bum menepuk-nepuk kepala so eun seraya tersenyum. So eun tertegun dibuatnya, wajahnya langsung memerah seketika.

“ditambah, aku sudah menolongmu beberapa kali dengan baik.” Tambah kim bum lalu berjalan mendahulu so eun. So eun masih terdiam di tempat, ia memegangi kepalanya yang tadi di pegang oleh kim bum. Tapi dengan cepat, ia menyadarinya. “yak…..bukankah aku yang selalu menolongmu dan memberikan perhatian kepadamu bahkan disaat kau sedang sakit?” teriak kim bum.

“kau berkhayal lagi !” balas kim bum.

“eh?” so eun pun kini hanya memandangi punggung kim bum yang semakin menjauh. Sesuatu semakin bergejolak di dalam hatinya, setelah ia semakin yakin bahwa ia menyukai kim bum.

“aku….akan mengakui perasaanku kepadanya.” Batin so eun.

-today love is begin-

So eun sedang berbaring di kasurnya. Ia memegangi ponselnya dan sudah berkali-kali melihat nomor ponsel kim bum, sedari tadi ketika ia akan menghubungi kim bum, ia kembali mengurungkan niatnya.

“haaah….bahkan setelah aku memutuskan untuk mengatakan perasaanku, ternyata tidak semudah seperti yang sudah direncanakan.” Gumam so eun. “bahkan ini sudah beberapa hari berlalu.” Lanjutnya.

So eun kembali menatap nomor ponsel kim bum di ponselnya.

“aku penasaran bagaimana reaksinya nanti….aku juga penasaran apa yang sedang ia lakukan sekarang.” Gumam so eun.

Tok tok tok

“so eun-ah….” Ibunya membuka pintu dan membawa satu kantong plastic berisi buah apel.

“ya, ada apa eomma?” tanya so eun.

“ini, apel.” Ujar ibunya seraya mengangkat kantong plastic itu dan menunjukannya kepada so eun.

“apel?” tanya so eun.

“ne, tetangga sebelah sedang panen apel, jadi mereka memberikannya kepada eomma.” Ujar ibunya.

“aplenya banyak sekali. Berikan separuh untuk nirin.” Ujar ibunya seraya menyerahkan apel itu pada so eun. so eun menerimanya.

“nirin sangat menyukai apel bukan?” tanya ibunya seraya keluar dari kamar so eun. “ah ne.” balas so eun.

So eun mengambil salah satu apel itu dan melihatnya. “apelnya sangat besar dan merah.” Ujarnya.

-today love is begin-

“maafkan aku nirin, seharusnya aku memberikan apel ini padamu.” Gumam so eun.

Sekarang ini so eun sudah berada tepat di depan pintu apartemen kim bum. Sudah sekitar 5 menit ia berdiri disana, ia ragu bagaimana ia harus menekan bel atau tidak. Ia harus mengumpulkan keberanian dulu untuk menekan bel dan menerima reaksi kim bum nantinya. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya so eun pun menekan bel juga.

Ting tong ting tong

Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Dan so eun terkejut saat melihat seorang perempuan yang membuka pintu itu. bahkan sao eun tidak mengenal siapa perempuan itu.

“oh? Yang datang perempuan ternyata, aku mengerti.” Ujar perempuan itu. “yaa kim bum, ada tamu yang datang !” teriak perempuan itu.

“nugu?” tanya kim bum lalu ia berjalan ke arah pintu.

“so eun?” heran kim bum saat ia melihat so eun berdiri di depan pintu apartemennya.

“ah baiklah kalau begitu kim bum-ah, ada sesuatu yang harus aku lakukan, jadi aku pergi.” Ujar perempuan itu lalu ia pun pergi meninggalkan kim bum dan so eun. So eun menatap punggung perempuan itu dengan tatapan sayunya.

“siapa perempuan itu? bagaimana kau mengenalnya?” tanya so eun dengan nada lemas tanpa meanatp kim bum.

Kim bum tak mengindahkan pertanyaan so eun. “lalu apa yang kau lakukan disini?” tanya kim bum.

“perempuan tadi, kelihatan sangat akrab dengan kim bum-ssi.” batinnya. Tiba-tiba wajah so eun yang tadinya lemas berubah menjadi masam.

“eeeeehhhh? Perempuan tadi baru saja di dalam apartemen kim bum-ssi ! apakah itu artinyaaa….”

“hey, kenapa kau disini? Dan apa yang kau mau?” tanya kim bum lagi seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“uumm….k..kim bum-ssi..” panggil so eun. kim bum menatap so eun seakan tatapannya mengartikan ‘ada apa?’

“um….aku rasa…mungkin akan lebih baik jika kita berhenti saja dengan semua ini.” ujar so eun tanpa menatap kim bum.

Kim bum menggaruk tengkuknya lagi. “huh? Berhenti apa maksudmu?” tanya kim bum bingung.

“yeah, kau….ya seperti yang kau lihat, kau itu popular dan tentu banyak perempuan di sekelilingmu, jadi…..” ujar so eun.

“yak, jangan pernah mengatakan ini dan itu tentangku, aku tidak pernah melakukan sesuatu seperti yang kau pikirkan.” Ujar kim bum.

“ani, tapi bagaimana pun kau itu seorang laki-laki, dan perempuan mungkin akan….”

“kau benar-benar mengganggu, bagaimana bisa kau berkata seperti itu disaat bahkan kau bukanlah pacarku, itu bukan masalah dengan apa yang aku lakukan.” Ujar kim bum.

“tapi aku tidak setuju.” Balas so eun.

“huh? Wae?” tanya kim bum.

“itu karena….karena…”

“mwo? untuk cinta atau untuk kesenangan, itu terserah kepada orang yang memutuskan untuk melakukan apa yang mereka inginkan kan?” ujar kim bum.

“ya..mungkin itu benar, tapi….tapi aku….” Ujar so eun gelagapan.

“tapi apa? aku akan mendengarkan jika kau ingin protes. Tapi apa?” tanya kim bum.

“benci diriku sendiri, aku…..aku benci diriku sendiri.” Ujar so eun dengan wajah menunduk. Kim bum menatap so eun cukup tertegun.

“aku benci diriku sendiri karena aku…..karena aku….menyukaimu.” Ujar so eun akhirnya yang sukses membuat kim bum terkejut. Kim bum membulatkan matanya.

Hening sesaat diantara mereka. So eun sendiri mengutuk dirinya karena dengan mudahnya kata-kata itu keluar dari mulutnya.

“heh…” kim bum membuang nafasnya. Ia sedikit menyunggingkan senyumnya. So eun sedikit bingung melihat reaksi kim bum tersebut.

“huh? Kau…tertawa?” tanya so eun dengan wajah bengongnya.

“kau orang yang sangat simpel, benar kan?” tanya kim bum. So eun masih bengong menatap kim bum. Kim bum lalu mendekatkan wajahnya ke wajah so eun hingga wajah mereka sejajar. So eun tidak bisa berkutik saat wajah kim bum begitu dekat dengannya.

“karena kau orang yang simple, pasti ini semua hanyalah kesalahpahaman !” Ujar kim bum. Mulut so eun terbuka setelah mendengar perkataan kim bum itu.

“huh?” tanyanya tak mengerti.

“sebelumnya kau belum pernah berkencan dengan laki-laki kan? Lalu kau berpikir untuk mulai pura-pura berkencan. Itulah kenapa kau merasa tertarik dan mulai berfikir bahwa kau menyukaiku.” Jelas kim bum.

“jadi….perasaanku hanyalah kesalahpahaman?” tanya so eun terlebih kepada dirinya sendiri.

“benar.” Balas kim bum seraya menatap so eun.

“ah….ya haha aku mengerti.” So eun tertawa hambar. Jujur, sebenarnya hatinya sedikit sakit saat mendengar apa yang kimbum ucapkan kepadanya. Tapi ia berusaha menerima bahwa mungkin yang dikatakan kim bum ada benarnya juga, bahwa ia sudah salah paham dan terlalu cepat menyimpulkan bahwa ia menyukai kim bum.

“ketika kau mengatakannya, itu memang masuk akal.” Ujar so eun.

“yeah, aku senang karena kau mengerti. Asal kau tahu, aku tidak ingin jatuh cinta kepada seseorang sepertimu. Aku rasa kau harus membuka matamu.” Ujar kim bum datar.

Jleb perkataan kim bum barusan benar-benar menusuk hati so eun, dengan entengnya kim bum mengucapkan kata-kata tanpa berpikir apakah apa yang diucapkannya itu akan membuat so eun terluka atau tidak.

Tanpa bisa so eun tahan, matanya kini mulai berkaca-kaca. Bahkan, kim bum yang tengah menatapnya kini jadi sedikit kaget karena so eun yang seperti akan menangis.

“igo ! apel untukmu !” so eun langsung menyerahkan satu kantong plastik apel kepada kim bum. Kim bum menerimanya tanpa berkata apa-apa.

“aku pergi !” ujar so eun dengan nada di buat ceria lalu ia pun dengan langkah lebar pergi meninggalkan kim bum. Kim bum masih diam di tempat seraya memerhatikan so eun dengan wajah bingung. Sebenarnya ia sadar betul, apa yang ia ucapkan kepada so eun tadi sedikit kurang ajar.

So eun menghapus air matanya dengan kasar. “huh, kenapa aku harus menangis?” kesalnya.

“seperti yang ia katakan, perasaanku hanyalah kesalahpamahan. Tapi…..tapi tidak seharusnya dia berkata seperti itu juga kan? Meskipun jika aku memang menyukainya, aku hanya akan sakit hati.” So eun berbicara kepada dirinya sendiri dengan suara yang pelan, ia berjalan seraya menundukkan kepalanya.

“eh? Bukankah kau….”

So eun langsung mengangkat kepalanya saat ia mendengar suara seseorang yang seperti mengarah kepadanya. So eun terkejut melihat perempuan yang berdiri di depannya. Perempuan itu tersenyum lebar kepadanya.

“perempuan yang tadi !” batin so eun.

“kebetulan kita bertemu lagi disini.” Ujar perempuan yang ternyata adalah perempuan yang tadi keluar dari apartemen kim bum.

“hehehe.” So eun hanya nyengir saja. Sejujurnya ia tidak ingin berbicara dengan perempuan ini, ia ingin segera pergi.

“namamu kim so eun?” tanya perempuan itu. so eun hanya mengangguk mengiyakan.

“heh…” perempuan itu tersenyum. “jadi benar kim bum sudah berhenti bermain-main dengan perempuan.” Ujarnya.

“huh? Apa maksudmu?” tanya so eun bingung.

Perempuan itu mengerutkan keningnya. “heh, apakah dia belum mengatakannya kepadamu?” tanya balik perempuan itu. so eun semakin bingung dibuatnya.

“dia bilang karena sekarang dia punya peliharaan bernama kim so eun, dia jadi tidak bisa melakukan sesuatu yang ia suka dengan bebas sekarang. Meskpiun begitu, ia bilang itu sedikit membuat hidupnya lebih menarik dan konyol.” Cerita perempuan itu. So eun masih diam.

“tapi…setelah aku ke apartemennya tadi, dia tidak punya peliharaan seperti anjing, kucing atau sebagainya…tak ada hewan di apartemennya….hmmm…” perempuan itu memegang dagunya seraya memerhatikan so eun.

“yeah aku mengerti sekarang.” Perempuan itu tersenyum. “yang dia maksud peliharaan adalah kau kan?”

“eh? La..lalu…kau….?” tanya so eun.

“aku pergi ke apartemennya untuk mengambil cincinku yang tertinggal.” Jawab perempuan itu seraya menunjukkan cincin yang terpasang di jari manisnya. So eun menatapnya dengan bingung.

“ini adalah cincin pemberian pacarku, kim bum-ssi adalah sepupu pacarku. Cincin ini tertinggal saat kami bermain ke apartemen kim bum-ssi. karena aku takut pacarku marah, jadi aku diam-diam mengambilnya malam hari.” Cerita perempuan itu.

Segala kekhawatiran yang ada pada diri so eun sekarang menguap seketika, kini sudah jelas jika perempuan di depannya ini tidak punya hubungan apa-apa dengan kim bum. Ternyata ia juga sudah salah paham.

“mian ne? mungkin kau sudah salah paham denganku. Tenang saja, meskipun dia selalu dikelilingi oleh perempuan, dia adalah laki-laki yang baik.” Ujar perempuan itu.

“eh?”

“ah baiklah, sepertinya aku harus segera pulang. Selamat malam kim so eun-ssi.” pamit perempuan itu lalu ia pun pergi meninggalkan so eun yang masih mematung di temat.

“dia bilang karena sekarang dia punya peliharaan bernama kim so eun, dia jadi tidak bisa melakukan sesuatu yang ia suka dengan bebas sekarang. Meskpiun begitu, ia bilang itu sedikit membuat hidupnya lebih menarik dan konyol.”

So eun kembali teringat dengan perkataan perempuan tadi. So eun jadi berpikir-pikir tentang kim bum.

“benarkah itu yang dikatakannya?” gumam so eun.

-today love is begin-

So eun sudah kembali berdiri di depan pintu apartemen kim bum dengan nafas yang tak beraturan. Tak lama, pintu pun terbuka dan kim bum menyembulkan kepalanya dari dalam.

“kau? Kenapa kau kembali lagi?” heran kim bum.

“anu…..bahkan jika hanya kesenangan saja yang kau dapatkan. Maksudku…..meskipun hanya sedikit membuat hidupmu lebih menarik dan konyol, apakah tidak apa-apa?” tanya so eun.

“huh?” kim bum mengerutkan keningnya tidak mengerti.

“aku mendengarnya dari perempuan tadi, dia bilang….” Ujar so eun menggantung. Wajah kim bum sudah kelihatan masam. Ia menggaruk tengkuknya. ‘sepertinya noona mengatakan sesuatu kepadanya’ batin kim bum.

“jadi kenapa?” tanya so eun. “apa maksdumu berkata bahwa semua itu salahku? Kenapa gara-gara aku?” tanya so eun ingin tahu.

“huft…” kim bum menghela nafasnya. “bukan apa-apa.” balas kim bum. “jangan percaya dengan apa yang dia ucapkan.” Lanjut kim bum dengan wajah yang sedikit berkeringat.

“w..wae? aku hanya ingin tahu alasanmu kenapa semuanya salahku?” tanya so eun.

“bagiamana bisa aku tahu !?” kesal kim bum. “setelah mengenalmu, aku jadi mulai peduli tentang orang lain. Dan ini salahmu !” Ujar kim bum dengan ekspresi seakan ia berat hati mengatakan ini.

“m..mwo? yak ! bukan hanya karena kau berubah jadi peduli dengan orang lain, jangan seenaknya menyalahkan orang lain !” balas so eun.

“tidak peduli bagaimana aku berpikir tentang hal ini dan apa yang kau katakan, tetap saja ini semua salahmu !”  ujar kim bum.

So eun mengepalkan kedua tangannya, setelah mendengar apa yang dikatakan kim bum dari perempuan tadi, so eun jadi berpikir ulang, dan kini sudah benar-benar yakin dengan perasaannya.

“hey…kim bum-ssi…” panggil so eun. kim bum menatap so eun.

“ini bukanlah kesalahpahaman ! aku…..aku menyukaimu.” Ujar so eun dengan segenap keberanian. Kim bum tertegun mendengarnya.

“karena aku rasa kau cukup frustasi, aku sempat berfikir untuk menyerah. Tapi, karena aku tahu perasaanku tidak bisa berbohong, aku tidak bisa berhenti.” Jelas so eun dengan wajah menunduk.

“tidak apa jika kau tidak percaya kepadaku. Tapi….sampai aku menyampaikan perasaanku, aku akan mencoba yang terbaik untuk menunjukkannya kepadamu ! jadi….ingat ini !” ujar so eun dengan suara sedikit keras.

Kim bum masih diam, ia tak mengeluarkan sepatah katapun. Dan itu membuat so eun dengan perlahan mengangkat kepalanya dan menatap kim bum. Kim bum masih diam saja, tak ada reaksi sedikit pun. Itu membuat so eun menciut dan ia langsung kembali menundukkan kepalanya. “jebal ! kau akan mengingatnya kan?” pinta so eun. “saat kau butuh bantuan…..”

“kau tidak perlu mencobanya lagi ! kau akan sangat mengganggu jika kau melakukannya. Jadi aku akan mempercayaimu !” potong kim bum lalu berbalik membelakangi so eun. So eun terdiam mendengarnya, cukup sulit untuk mencerna apa yang baru saja kim bum katakana kepadanya. So eun mengerutkan keningnya seraya berpikir. Sementara itu, kim bum yang sudah membuka pintu apartemennya kembali memutar kepalanya melihat so eun, lalu menyunggingkan senyumnya tanpa so eun ketahui.

Apakah tidak apa-apa berharap terlalu banyak disaat dia memberikan sedikit harapannya? Berharap semua ini bukanlah khayalan !

 

To Be Continued

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya. Mian jika ceritanya kurang memuaskan, tapi saya harap kalian menyukainya.

Today, Love is Begin PART 4

Today, Love is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom

Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.

Genre : Romance Comedy

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

 

PART 4

 

“seseorang tidak akan melakukan sesuatu sampai sejauh itu jika bukan pada seseorang yang benar-benar serius mereka sukai.” Ujar kim bum, membuat so eun sedikit takjub dengan kata-kata yang keluar dari mulut kim bum itu. So eun sampai tak mengedipkan matanya menatap kim bum.

Kim bum menolehkan wajahnya kepada so eun. “apa?” Tanya kim bum heran karena so eun terus menatapnya seperti itu.

“umm…apa kau…tidak berfikir bahwa akan lebih baik jika kau mempunyai seseorang yang kau sukai?” Tanya so eun.

“tsk….kau sangat mengganggu !” kim bum kembali memalingkan wajahnya pada jendela.

So eun masih penasaran dengan sikap kim bum, seperti apa dia sebenarnya? So eun juga memalingkan wajahnya dari kim bum.

‘pernahkah kim bum-ssi…..jatuh cinta?’ batin so eun.

‘aku penasaran, seperti apa perempuan yang dia sukai itu’

“melihat mereka seperti itu, mengingatkanku pada seseorang.” Ujar kim bum tiba-tiba. So eun kembali menolehkan wajahnya kepada kim bum, dan kini kim bum juga melihat pada so eun.

“seseorang?” Tanya so eun.

“ya, dengan beraninya dia meletakkan kepalanya yang berat itu di bahuku tanpa permisi.” Ujar kim bum seraya menatap so eun dengan tatapan murkanya.

“he…hei, kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanya so eun heran dan ketakutan.

“tsk……aku tidak menyangka.” Ujar kim bum lalu melepaskan tatapannya dari so eun dan kini mulai memejamkan kedua matanya dengan lengan yang dilipat.

So eun masih heran dengan sikap dan ucapan kim bum barusan. “apanya yang tidak menyangka?” Tanya so eun.

“tsk…diamlah ! aku ingin tidur ! jangan keluarkan suaramu karena itu akan menggangguku !” perintah kim bum.

So eun hanya bisa mencibir saja dibuatnya.

                                                                               -today love is begin-

 

Chungju Highschool

Liburan musim panas telah usai, kini mereka kembali ke aktifitas normal dan bersekolah seperti biasanya.

“ini untuk kalian teman-teman, oleh-oleh dariku.” Ujar hye rim seraya menyerahkan dua kantung souvenir kepada so eun dan bo young.

“waaahh, gomawo hye rim-ssi.” So eun menerima souvenir itu lalu dengan tak sabar membuka apa isinya. “gantungannya sangat lucu.”

“jadi bagaimana dengan liburanmu hye rim?” Tanya bo young.

“yeah…sangat menyenangkan…tapi disana sangat panas dan seperti aku mau mati.” Balas hye rim.

“jincha?” pekik bo young. Hye rim mengangguk.

“kita juga berlibur ke pantai, sangat menyenangkan ya so eun-ssi.” Ujar bo young.

“ah yeah…” balas so eun.

“hanya kalian berdua?” Tanya hye rim.

“ani, kami pergi dengan kim bum-ssi dan tentunya dengan pacarku.” Jawab bo young.

“kedengarannya menarik.” Ujar hye rim.

“hehe.” So eun hanya bisa tertawa hambar saja mendengarnya. Karena pada akhirnya, liburan musim panas kemarin tidak seperti apa yang dia harapan. So eun juga tak pernah bertemu lagi dengan  kim bum setelah liburan ke pantai sokcho.

‘huh baiklah, kembali sekolah berarti aku akan bertemu dengan kim bum-ssi setiap hari meskipun aku tidak menginginkannya’ batin so eun.

“ah so eun-ssi, apa kau sudah bertemu dan melihat kim bum-ssi hari ini?” Tanya bo young.

“eh…ani, aku belum melihatnya hari ini.” Jawab so eun.

“eh bagaimana bisa?” Tanya hye rim.

“apa kim bum-ssi tidak menghubungimu atau semacamnya?” Tanya bo young.

So eun menggeleng. Di dalam pikirannya mulai muncul pertanyaan, benar juga so eun belum melihatnya di sekolah hari ini.

‘dia selalu hadir di awal masuk sekolah. Apakah sesuatu terjadi padanya?’ batin so eun.

-today love is begin-

 

“kim bum-ssi? Dia tidak masuk hari ini.” Jawab nirin. Setelah bel pulang berbunyi, so eun langsung menemui nirin dan bertanya soal kim bum karena nirin memang satu kelas dengan kim bum.

“mwo?” kaget so eun. “wae? Kenapa dia tidak masuk?” Tanya so eun. “padahal hari ini adalah hari pertama di semester 2.” Lanjut so eun.

“mungkin dia terkena demam atau semacamnya.” Balas nirin.

“eh demam? Manusia seperti kim bum-ssi bisa terkena demam juga?” Tanya so eun.

“yak….bagaimana pun juga dia manusia kan? Apalagi sekarang sedang musimnya demam dan flu.” Timpal nirin.

So eun terdiam mendengarnya.

“ah shin nirin !” tiba-tiba guru lee memanggil nirin, nirin pun berjalan menghampiri guru lee.

“ne seonsaengnim, ada yang bisa saya bantu?” Tanya nirin.

“bisakah kau memberikan ini kepada kim sang beom?” pinta guru lee seraya menyerahkan sebuah map kepada nirin.

“ah baiklah.” Balas nirin seraya menerima map itu. Guru lee pun pergi meninggalkan nirin.

“nirin-ah, apa kau benar-benar akan melakukannya? Maksudku emberikan itu kepada kim bum?” Tanya so eun.

“tentu saja, aku kan presiden kelas.” Jawab nirin.

“eh benarkah? Kau tidak pernah bilang padaku jika kau presiden kelas. Keren !” puji so eun.

“tidak seberapa.” Balas nirin.

“umm~ tapi so eun-ah mian, bisakah kau yang memberikan ini kepada kim bum-ssi ke rumahnya?” pinta nirin.

“eh…wae?” Tanya so eun.

“aku harus pulang cepat karena harus membuat makan malam untuk adikku, jika aku telat adikku tidak akan bisa makan apa-apa.” Jawab nirin.

“ah baiklah….serahkan saja padaku.” Balas so eun mau tak mau, lalu mengambil alih map itu dari tangan nirin.

“gomawo so eun-ssi.” Nirin tersenyum.

‘ah baiklah, aku melakukan ini hanya karena nirin, sahabatku’ batin so eun.

“alamat rumahnya akan aku kirim lewat pesan padamu.” Ujar nirin.

“baiklah.”

-today love is begin-

 

“oh jadi dia tinggal di apartemen?” gumam so eun setelah ia sampai di daerah tempat tinggal kim bum yang nirin kirimkan melalui pesan padanya. So eun berdiri di badan jalan dan memerhatikan apartemen yang tidak terlalu mewah yang hanya terdiri dari tiga lantai itu.

“huh…kenapa aku jadi gugup yah?” gumam so eun.

“apakah orangtuanya juga ada di dalam? Apakah aku harus memperkenalkan diriku kepada mereka?” so eun tampak mondar-mandir.

“tapi, bukankah akan terasa aneh jika aku memperkenalkan diriku sebagai pacarnya? Tapi….jika aku memperkenalkan diriku sebagai pacarnya, itu akan sangat memalukan. Pada kenyataannya aku memang bukan pacarnya.” So eun masih saja mondar-mandir, sesekali seraya mengacak-acak rambutnya.

“ah huft…baiklah…aku akan bersikap biasa saja, yeah normal.” Ujarnya seraya menenangkan diri. So eun pun mulai menaiki tangga apartemen itu.

So eun sudah berdiri tepat di depan pintu apartemen kim bum. Ia tampak ragu-ragu untuk menekan bel.

“bagaimana ini?” gumamanya.

“ah baiklah….bersikap biasa saja.” Ujar so eun pada dirinya sendiri.

Ding dong ding dong

So eun sudah membiarkan tangannya menekan bel itu. So eun tampak cemas menunggu jawaban dari intercom.

“ya?”

So eun langsung tegang setelah mendengar suara kim bum melalui intercom.

“ah…kim bum-ssi ini aku, so eun.” Ujar so eun.

“so eun-ssi?”

“um…..aku datang untuk memberikan map milikmu.” Cerita so eun.

“ah aku akan keluar.”

“fiuhh…” so eun melap dahinya yang sedikit berkeringat.

Kreeek

Pintu terbuka, dan munculah kim bum dengan aura negative disekitar tubuhnya. Wajah kim bum tampak pucat dan rambutnya juga berantakan. So eun bengong melihat penampilan kim bum yang berantakan seperti itu.

“bagaimana bisa kau kemari?” Tanya kim bum dengan suara paraunya.

“ah…nirin memintaku untuk memberikannya padamu karena dia sedang ada urusan.” Jawab so eun.

“ini, map dari guru lee.” So eun menyerahkan map itu kepada kim bum.

“oh…” kim bum menerima map itu tanpa banyak berkata lagi.

So eun kini tak mengeluarkan kata-kata lagi, ia menunduk seraya memikirkan sesuatu.

‘aku rasa ada yang aneh, jika dia membuka pintu olehnya sendiri, itu berarti tidak ada siapa-siapa selain dirinya di dalam kan?’ batin so eun.

“baiklah, Jika kau tidak ada perlu lagi, lebih baik kau pulang saja!” suruh kim bum.

“ah ya…” balas so eun. Kim bum berbalik dan hendak masuk ke dalam apartemennya. Namun disaat ia membuka pintu, pintu itu mengantam kepalanya pelan.

“ouch…” ringis kim bum.

“huh?” so eun langsung menghampiri kim bum dan membantunya.

“apa kau baik-baik saja? Aku akan membantumu sampai kau berbaring di kasurmu.” So eun membantu memapah kim bum.

“ani, tidak usah.” Tolak kim bum.

“huh? jalanmu saja sempoyongan ! jangan egois di saat kau benar-benar butuh bantuan.” Ujar so eun.

“tsk….diam ! itu bukan urusanmu !” kim bum masih tetap menolak.

“ckckck….sudah, cepat-cepat !” so eun menyuruh kim bum untuk mempercepat langkahnya hingga kim bum terduduk di kasurnya.

“haaa….” so eun sedikit meregangkan tangannya. Sementara kim bum sudah terbaring di kasur dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Kim bum berbaring membelakangi so eun.

“kau baik-baik saja?” Tanya so eun seraya menyentuh tubuh kim bum yang terbungkus selimut. Kim bum diam.

“apa kau sudah memakan obat?” Tanya so eun lagi.

“ani.” Balas kim bum.

“kalau begitu kau harus memakan sesuatu dulu sebelum kau memakan obatmu. Kalau begitu katakan, apa yang harus aku lakukan?” Tanya so eun.

“aku baik-baik saja, kau tidak perlu melakukan apa-apa.” Jawab kim bum.

“yak…aku tidak bisa pergi meninggalkanmu begitu saja, jika kau tidak melakukan apa-apa dan aku hanya diam saja, demammu tidak akan segera turun.” Ujar so eun.

Wajah kim bum sudah berkeringat, panasnya dari kemarin tak kunjung turun, ditambah sekarang ini ada so eun yang menurut kim bum mengganggu waktu istirahatnya.

“ah baiklah, haruskah aku membuat makan malam? Disaat sakit, bubur dan beberapa buah-buahan akan cukup membantu meredakan demam.” Ujar so eun.

“aku akan melihat persediaan makanan di dapurmu lalu aku akan membuatkannya untukmu.” Lanjut so eun yang hendak pergi menuju dapur

“tsk…” kim bum langsung bangkit dari tidurnya dan langsung menatap so eun, membuat so eun kaget dan sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang.

“kau tidak harus melakukan apapun ! jadi tinggalkan aku sendiri !” suruh kim bum.

“huh? Ya ada apa denganmu? Aku hanya ingin menolongmu !” so eun mulai kesal dengan sikap egois kim bum.

“aku tidak memintamu untuk menolongku, dan aku tidak butuh bantuanmu.” Balas kim bum.

“huh…kau…” so eun meremas tangannya dengan gemas.

‘ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba jadi menolak apa yang ingin aku lakukan? Bukankah dia selalu menyuruhku untuk melakukan ini dan itu’ batin so eun.

“cough…cough….” Tiba-tiba Kim bum batuk-batuk lalu ia pun kembali membaringkan tubuhnya.

“yeah baiklah, kapan orangtuamu pulang?” Tanya so eun.

“aku tidak tahu.” Jawab kim bum.

“heh…bagaimana bisa kau tidak tahu?” kaget so eun dengan suara cukup keras.

“hei…kau benar-benar menganggu ya !” ujar kim bum.

“huh?” pekik so eun.

“ayahku selalu bekerja hingga larut malam, dan ibuku tidak pernah kembali setelah ia pergi.” Jelas kim bum. Entah kenapa, ia sendiri bingung kenapa harus memberitahu gadis ini tentang orangtuanya.

“ah…oh…aa..rasseo, mian.” Ujar so eun dengan suara yang lebih pelan. Ia sekarang menatap kim bum dengan iba, ternyata cukup kasihan juga lelaki yang sedang terbaring lemah di kasur ini.

“bisakah kau tidak melihatku seperti itu? Sangat menjengkelkan !” ujar kim bum.

“aku selalu seperti ini semenjak aku kecil, jadi bagiku ini sudah biasa.” Ujar kim bum dengan mata yang terpejam. So eun terdiam mendengarnya.

“jadi segera pulanglah !” suruh kim bum. So eun masih diam ditempatnya, melihat kim bum yang berubah menjadi menyedihkan di mata so eun.

‘yeah, aku rasa dia akan baik-baik saja jika aku pergi.’ Batin so eun.

-today love is begin-

 

Keesokan harinya, Chungju Highschool

Setelah bel pulang berbunyi, so eun kembali menemui nirin dengan cepat.

“ah nirin-ah, apakah kim bum-ssi tidak masuk lagi hari ini?” Tanya so eun langsung saat nirin baru saja keluar dari kelasnya.

“oh so eun-ah.” Nirin kaget melihat so eun sudah ada di hadapannya. “konsisi pisiknya masih belum membaik sepertinya.” Jawab nirin.

“ah ya, ngomong-ngomong terimakasih untuk kemarin, sekarang aku bisa memberikan catatan penting pelajaran hari ini kepadanya.” Ujar nirin seraya memegang map berwarna merah di tangannya. Tiba-tiba So eun langsung merebut map yang berada di tangan nirin itu.

“heh? apa yang kau lakuan so eun-ah?” kaget nirin.

“ummm…kemarin, aku tak sengaja meninggalkan sesuatu di rumah kim bum-ssi, jadi…aku akan mengambilnya sekalian memberikan ini padanya hehe.” Jawab so eun. Nirin menatap so eun sebentar dengan tatapan menyelidik. Sementara so eun hanya membalasnya dengan cengiran saja.

“oh, jinja? Baiklah kalau begitu, kau berikan map itu pada kim bum-ssi ne?.” Ujar nirin.

“ah ne, serahkan padaku hehe.” Balas so eun.

-today love is begin-

 

Kim bum sedang berbaring di kasurnya, suhu tubuhnya masih belum turun dan membuatnya enggan untuk beranjak dari kasurnya dari semalam. Tapi, suara bel yang baru saja berbunyi membuatnya terusik. Ia tak menghiraukan bel itu, hingga yang ketiga kalinya barulah ia menggeser tubuhnya lalu beranjak dari kasurnya dengan enggan. Ia mengacak rambutnya lalu perlahan berjalan menuju pintu tanpa menjawab bel itu lewat intercom.

“Annyeong he….he.” Sapa so eun seraya mengangkat tangan kanannya setelah kim bum membuka pintu. So eun tersenyum agak kaku dan canggung karena tak enak melihat raut wajah kim bum yang memperlihatkan seperti ia tak senang dengan kehadiran so eun. Sementara kim bum hanya memandang so eun dengan wajah pucatnya seraya sedikit mengerutkan keningnya.

“kau lagi…” ujar kim bum malas.

“maaf aku datang lagi kemari dan sudah menganggumu.” Ujar so eun lalu langsung masuk ke apartemen kim bum bahkan sebelum kim bum mengijinkan. Kim bum menatap so eun agak kaget dan masih diam di dekat pintu.

“jangan hanya berdiri saja disana ! kau akan masuk angin, ayo kembali ke kasurmu !” so eun mendorong tubuh kim bum hingga ia mendudukkan kim bum di kasur secara paksa. Kim bum menatap so eun dengan kesal.

“yak…!” geram kim bum.

“ah baiklah, apakah kau punya persediaan kompres tempel? dimana kau menyimpannya?” Tanya so eun lalu mulai mencari di sekitar meja dan lemari kecil di dekat kasur kim bum bahkan sebelum kim bum mengatakan apapun. Kim bum hanya melihatnya saja dengan tatapan merasa terganggu.

“mmm….apa ada sesuatu yang kau mau? Atau sesuatu yang harus aku lakukan?” Tanya so eun.

“Jika ada, katakana saja ! aku akan melakukannya.” Ujar so eun yang masih sibuk mencari kompres tempel untuk kim bum.

Kim bum diam, ia belum mengeluarkan suaranya.

“mmm tapi…..jangan menyruhku untuk meninggalkanmu sendirian.” Ujar so eun. Kim bum mengerutkan keningnya.

“mwo? Apa kau mencoba untuk mendapatkan rasa terimakasih dariku?” Tanya kim bum.

So eun langsung menatap kim bum dan mendelik kepadanya. Dengan cepat so eun pun langsung menempelkan kompres tempel yang sudah ia temukan itu di kedua pipi kim bum. Kim bum terkejut dengan apa yang so eun lakukan.

“hey….” Kesal kim bum.

“disaat situasi seperti ini, dimana kau butuh bantuan, kau tidak perlu bersikap keren ataupun merasa malu ! kau tidak perlu jaga image disaat kau sedang sakit, arasseo? Hanya cukup terima saja kebaikan orang lain yang ingin membantumu.” Ujar so eun. Kim bum masih diam dan hanya melihat so eun saja dengan wajah sedikit shock.

Hanya dilihat terus seperti itu oleh kim bum, so eun pun perlahan menundukkan kepalanya.

“kau memang orang yang tak punya rasa berterimakasih.” Ujar so eun pelan. “ya…mungkin ini memang sulit untukmu. Tapi…akan lebih baik jika kau membiarkan aku membantumu.” Ujar so eun. Kim bum kini menatap so eun agak lunak.

“yeah karena aku perliharaanmu, bukankah begitu?” ujar so eun.

5 detik 10 detik 15 detik, kim bum masih belum mengeluarkan suaranya, membuat so eun jadi merasa canggung dengan apa yang semua ia ucapkan barusan.

“aku tidak mengatakan kepadamu untuk menjadi peliharaanku.” Ujar kim bum enteng lalu mulai membaringkan tubuhnya kembali dan menutupinya dengan selimut. Seperti kemarin, ia membaringkan tubuhnya membelakangi so eun.

“huh? heeeii! bukannya kau yang selalu mengatakannya?” Tanya so eun tak terima.

“buah-buahan !” ujar kim bum tak mengindahkan ucapan so eun.

“huh?” so eun tak mengerti.

“jeruk atau nanas, aku ingin memakan sesuatu yang masam !” ujar kim bum.

So eun terdiam beberapa saat mendengar permintaan kim bum tersebut, so eun hanya bisa menatap tubuh kim bum yang berbaring membelakanginya.

“ah….b..baiklah kalau begitu, aku akan membelinya sekarang. Tunggulah….!” Ujar so eun yang tiba-tiba berubah menjadi bersemangat. So eun pun lalu segera keluar dari apartemen kim bum. Sementara itu, kim bum hanya bisa mendengar suara langkah so eun yang berisik. Kim bum membuang nafasnya.

-today love is begin-

 

Supermarket

Setelah mengambil beberapa makanan yang rasanya masam ke dalam keranjang, So eun pun kini memilih buah nanas yang akan ia belikan untuk kim bum.

“ummm~ buah nanas yang bagaimana yang bagus ya? Aku belum pernah membelinya dan memilihnya sendiri.” Gumam so eun seraya memegang buah nanas dan memperhatikannya.

“lagipula aku tidak tahu bagaimana cara mengupas nanas, terlalu banyak duri dan aku bisa terluka nanti.” Ujarnya.

“ah baiklah, aku akan membeli buah nanas yang sudah dikupas saja.” So eun pun kembali meletakkan buah nanas itu dan hendak menuju area dimana buah nanas yang sudah dikupas dijajakan.

“ah…..apakah itu kau so eun-ssi?”

So eun langsung mengarahkan pandangannya pada sumber suara dan mendapati jong suk berdiri tak jauh darinya.

“oh, jong suk-ssi.” Balas so eun. Jong suk pun menghampiri so eun.

“sudah lama kita tidak bertemu.” Ujar jong suk.

“ne, kita tak pernah bertemu lagi setelah berlibur ke pantai sokcho.” Balas so eun. “bagaimana kabarmu?” Tanya so eun.

“aku sangat baik, dan ngomong-ngomong…hubunganku dengan bo young juga semakin lengekt dan  tambah mesra…” jawab jong suk semangat dengan wajah yang berbinar-binar.

“jincharu? Aku ikut senang mendengarnya.” Balas so eun seraya tersenyum.

“kau sedang berbelanja?” Tanya jong suk.

“ne, kau sendiri?” Tanya balik so eun.

“aku hanya sedang disuruh eommaku untuk membeli apel.” Balas jong suk.

“oh..arassseoyo.” balas so eun.

“eh tunggu so eun-ssi, kelihatannya kau hanya membawa makanan masam di keranjangmu.” Ujar jong suk setelah ia melihat keranjang so eun yang hanya dipenuhi dengan makanan yang berasa masam.

“ah ye.” Balas so eun.

Jong suk seketika mengerutkan keningnya. “solma…apa ini berarti kau……ah so eun-ssi jincha? Secepat itu kau melakukannya dengan kim bum-ssi?” jong suk menutup mulutnya saking tidak percayanya.

“mwo? A..aniyo ! bukan begitu, aku hanya sedang membelikan pesanan kim bum, dia sedang sakit dan ingin memakan sesuatu yang masam.” So eun cepat-cepat menyanggah.

“huh jinjjaru? Kim bum-ssi sakit?” kaget jong suk.

“ne, jadi kau tak perlu berpikiran yang aneh-aneh hehehe.” Balas so eun seraya tertawa hambar.

“ah hahaha mian, kalau begitu tunggu sebentar…..aku akan membeli beberapa minuman isotonik untuk kim bum-ssi.” Ujar jong suk.

“eeeh…aniyo, tidak perlu.” Cegah so eun.

“gwaencaha, tunggu sebentar so eun-ssi, aku akan mengambil beberapa botol.” Ujar jong suk lalu pergi ke area tempat minuman di jajakan.

So eun pun hanya bisa mengehela nafasnya dan menunggu jong suk hingga kembali.

-today love is begin-

 

Kim bum tengah memakan buah nanas yang sudah so eun potong-potong kecil menggunakan garpu sambil memegang secarik kertas. So eun duduk di samping kim bum seraya ikut membaca tulisan yang ditulis jong suk untuk kim bum itu.

Kim bum-ssi, minumlah semua yang sudah aku berikan untukmu. Semoga cepat sembuh ya agar kita bisa kembali berlibur bersama lagi ^^

Kim bum hanya membuang nafasnya setelah membaca pesan yang ditulis jong suk untuknya, sementara so eun menyunggingkan senyumnya.

“lihatlah ! jong suk-ssi sangat baik bukan? Dia begitu khawatir saat aku memberitahunya jika kau sedang sakit.” Ujar so eun.

“jadi jika dia khawatir kepadaku? Apa yang harus aku lakukan huh?” ujar kim bum.

“eh? Tentu saja kau juga harus bersikap baik dan ramah padanya.” Balas so eun.

“kadang-kadang, dia juga kelihatan seperti seekor peliharaan, betapa lucunya.” Ujar kim bum namun ekspresinya tetap datar. So eun membulatkan matanya setelah mendengar perkataan kim bum.

“yak ! jangan memanggil orang lain dengan sembarangan !” ujar so eun sedikit keras. Kim bum hanya menatap so eun sebentar lalu meminum minuman isotonik pemberian jong suk.

“ashhh….rasanya seperti minuman untuk orang tua.” Ujar kim bum tampak mengerutkan keningnya.

So eun hanya bisa menahan senyumnya melihat kim bum. “baiklah, sekarang aku akan membuatkan bubur untukmu, setelah kau makan jangan lupa untuk minum obat, barulah kau bisa kembali beristirahat, ok?” nasehat so eun seraya sedikit menyunggingkan senyumnya.

“kau tidak perlu melakukannya, ini sudah malam sebaiknya kau pulang saja !” tolak kim bum.

So eun mendelik menatap kim bum. “sudah ku bilang, hanya terima saja kebaikan orang lain dan jangan bersikap sok keren saat kau sakit, arachi?” ujar so eun lalu ia pun pergi ke dapur.

Kim bum masih menatap so eun hingga so eun masuk ke dalam dapur. “tsk…dia sangat mengganggu Gumam kim bum lalu kembali membaringkan tubuhnya.

-today love is begin-

 

So eun mencari di internet menggunakan ponselnya bagaimana cara memasak bubur. Setelah menemukan prosedurnya barulah ia mulai menyiapkan bahan untuk dimasak.

“ah…semoga saja rasanya tidak terlalu buruk jika aku memasukan semua bahan ke dalam panci.” Gumam so eun. Lalu so eun pun mulai mencuci berasnya, setelah itu memasukan jamur, wortel, sayuran, cumi dan sedikit bumbu ke dalam panci, setelah itu ia pun mulai memasaknya.

Sekitar 15 menit, bubur pun sudah jadi dan so eun menuangkannya ke dalam mangkuk. Lalu so eun membawanya untuk kim bum.

“buburnya sudah jadi, igo !” Ujar so eun seraya membawa semangkuk bubur di atas nampan. Kim bum yang memang hanya berbaring saja di kasurnya tanpa memejamkan matanya langsung menatap so eun.

“aku mencoba memasukan semua bahan, dan setelah dicoba ternyata rasanya tidak terlalu buruk.” Ujar so eun.

“kajja. Makanlah !” suruh so eun, namun kim bum tak bereaksi apa-apa dan tak juga beranjak bangun dari tiudrnya.

“wae? Apa kau baik-baik saja? Apa kau bisa bangun?” Tanya so eun.

“hmm tubuhku terasa berat dan aku seperti tak punya tenaga.” Jawab kim bum.

“jincha? ah…baiklah kalau begitu, aku akan menyuapimu.” Ujar so eun enteng lalu mulai mengangkat sendok itu dan meniupinya. Melihat so eun seperti itu, kim bum langsung bangun dan merebut mangkuknya dari tangan so eun dan membuat so eun sedikit kaget.

“yak ! kau membuatku kaget saja, bagaimana jika buburnya tumpah eoh?!” marah so eun. Namun kim bum tak menghiraukannya dan mulai memakan bubur itu tanpa meniupinya terlebih dahulu.

“huah…panas..” keluh kim bum saat bubur itu masuk ke dalam mulutnya.

“hati-hati, igo ! minum ini !” so eun menyerahkan botol minuman isotonik yang tadi kepada kim bum. Kim bum tak langsung menerimanya, ia malah menatap so eun dengan heran dan muncul  beberapa pertanyaan yang berputar di kepalanya. So eun malah menatap kim bum dengan wajah polosnya.

“hei kau…” panggil kim bum.

“ne?” Tanya so eun.

“apa alasanmu melakukan semua ini?” Tanya kim bum.

“huh?” so eun menatap kim bum agak bingung.

“kau selalu mengeluh disaat aku menyuruhmu, tapi kemudian sekarang kau melakukan semua ini tanpa mengeluh bahkan tanpa aku menyuruhnya. Kau pasti punya motif tertentu kan?” ujar kim bum.

“yak ! apa yang kau katakan? Semua ini aku lakukan karena aku ingin melakukannya, tidak ada motif apapun atau semacamnya.” Bantah so eun.

Kim bum menatap so eun dengan tatapan menyelidiknya. “tsk…bohong, kau hanya berpura-pura baik.” Balas kim bum.

“MWO? Yak Betapa kurang ajarnya kau…!” geram so eun. “wae? Apa kau tidak senang huh dengan kebaikanku?” Tanya so eun.

Kim bum menghela nafasnya. “orang yang membantu orang lain biasanya melakukannya hanya untuk memuaskan dirinya sendiri.” Ujar kim bum.

“ya ya ya terserah kau saja, tapi bukankah lebih baik jika orang lain juga senang dengan kebaikan atau keramahan kita?” balas so eun.

Kim bum menatap so eun dengan tatapannya yang sedikit tajam. “hei, apakah kau belum pernah mendengar tentang seseorang yang tidak menginginkan keramahan?” ujar kim bum. So eun menatap kim bum dengan mulut sedikit terbuka.

“eo…kau punya mulut yang pintar ya?” sindir so eun. “hah sudah cukup, cepat kau makan saja dan segera habiskan !” suruh so eun.

“ini masih panas, kau tahu?” balas kim bum.

“huft…” so eun hanya bisa mngehela nafasnya mengahdapi kim bum yang bergitu keras kepala.

Setelah selesai makan dan minum obat, kim bum pun kembali membaringkan tubuhnya dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Sementara so eun segera bersiap-siap untuk pulang.

“baiklah kalau begitu, aku akan pulang sekarang. Jangan nyalakan pendingin ruangan saat kau tidur ! lalu matikan lampunya ! tidurlah tanpa melepas selimutnya !” suruh so eun seraya berkacak pinggang.

“ya ya ya.” jawab kim bum malas-malasan.

“jika ada sesuatu yang terjadi atau kau butuh sesuatu, hubungi saja aku arasseo ?!” perintah so eun.

“HEI, aku bukan anak kecil ! lebih baik kau segera pergi saja !” suruh kim bum. So eun berdecak sebal mendengar jawaban yang keluar dari mulut kim bum itu.

“arasseo arasseo, aku akan pergi.” Ujar so eun ketus lalu segera melangkahkan kakinya menuju pintu.

So eun terdiam sesaat setelah ia menutup pintu apartemen kim bum. So eun heran dengan sikap kim bum, bagaimana bisa sikap kasarnya tidak berubah bahkan disaat ia sedang sakit, bukankah setidaknya sikapnya akan melunak sedikit saja?

So eun menghapus keringat di dahinya. “aisshh, bahkan mulutnya baik-baik saja disaat ia sakit, betapa menyebalkannya.” Gerutu so eun lalu kembali terdiam seraya menyenderkan punggungnya di depan pintu apartemen kim bum.

-today love is begin-

 

Keesokan Harinya, Chungju Highschool

So eun langsung menyenderkan kepalanya di atas meja saat bel istirahat berbunyi. Terlihat ada lingkaran hitam di mata so eun.

“so eun-ssi, ingin pergi ke kantin bersama kami?” tawar bo young.

“ani.” Jawab so eun lemas.

“kau kenapa? Terlihat lesu sekali.” Tanya hye rim seraya menatap so eun dengan lengan dilipat di dada.

“gwaenchana.” Jawab so eun. “aku hanya kurang tidur saja.” Lanjutnya lalu memejamkan matanya.

“ah….arasseo, kalau begitu kami tinggal ne?” ujar bo young.

“hmmm.” Balas so eun tanpa membuka matanya. Bo young dan hye rim pun pergi meninggalkan so eun.

“hmm…apa yang dia lakukan semalaman sampai kurang tidur segala?” heran bo young seraya memegangi dagunya, keningnya tampak berkerut.

“molla~” balas hye rim.

“ummm, sudah beberapa hari ini juga aku tidak melihat kim bum-ssi, apa ada sesuatu yang terjadi diantara mereka ya?” pikr bo young.

“entahlah.” Balas hye rim.

Sementara itu di dalam kelas, so eun masih menyenderkan kepalanya di atas meja seraya memejamkan matanya. Namun otaknya di penuhi oleh kim bum. Ia bertanya-tanya apakah kim bum sudah lebih baik sekarang? Apakah panasnya sudah turun? Apakah ia juga sudah masuk sekolah atau belum? So eun menghembuskan nafasnya mengingat lelaki itu.

“so eun-ssi…..ada yang mencarimu.” Suara itu membuat so eun terbangun dan langsung mengangkat kepalanya.

“nuguya?” Tanya so eun pada teman satu kelasnya itu. Entah kenapa, so eun jadi berharap jika seseorang yang mencarinya itu adalah kim bum. Oh ada yang tidak beres sepertinya dengan diri so eun.

“molla, tapi aku rasa dia temanmu.” Jawab temannya itu.

“hei so eun-ah…..” so eun langsung mengarahkan kepalanya pada pintu saat mendengar suara nirin memanggilnya.

‘oh ternyata nirin’ batin so eun.

So eun pun dengan lesu meninggalkan bangkunya lalu menghampiri nirin.

“waegeurae?” Tanya so eun.

“aku ingin bertanya soal kim bum-ssi.” Ujar nirin.

“oh, memangnya kenapa?” Tanya so eun tak bersemangat.

“hey….ada apa denganmu? kau terlihat lemas sekali, apa kau sakit?” Tanya Nirin tak mengindahkan pertanyaan so eun.

“aku hanya kurang tidur.” Jawab so eun.

“kau sudah makan?” Tanya nirin. So eun menggeleng.

“yasudah kalau begitu kita ke kantin, kajja !” nirin menarik tangan so eun.

“yaaa….aku sedang tidak ingin makan. Lagi pula apa yang ingin kau tanyakan soal kim bum-ssi?” Tanya so eun masih dengan nada lemas, ia berusaha menolak tapi tubuhnya pasrah saja saat nirin menariknya.

“kita bicarakan di kantin saja.” Balas nirin.

Sudah ada dua piring nasi di atas meja so eun dan nirin. Tapi so eun malah menidurkan kepalanya di atas meja kantin, mengabaikan nasi itu. Nirin menatapnya dengan bingung.

“yak…kau sakit kan?” Tanya nirin.

“aniyo, aku hanya mengantuk.” Jawab so eun.

“ckck, memangnya apa saja yang kau lakukan semalaman huh?” Tanya nirin.

“hanya memban……ah aniyo, tidak ada yang aku lakukan.” Jawab so eun.

“kau aneh sekali.” Balas nirin. “oh ya, yang ingin aku tanyakan kepadamu bagaimana keadaan kim bum-ssi? Hari ini dia tidak masuk sekolah lagi, apakah dia masih sakit?” Tanya nirin.

So eun langsung mengangkat kepalanya sekaligus mendengar jika kim bum belum juga masuk sekolah.

“dia belum masuk?” Tanya so eun.

“ne, kau tahu kan dia sudah banyak ketinggalan pelajaran. Dan aku sebagai presdien kelas harus bertanggung jawab soal itu.” Jawab nirin. “kemarin kau menemuinya kan? Bagaimana keadaannya? Apakah sudah membaik?” Tanya nirin.

So eun terdiam beberapa saat. ‘dia tidak datang lagi ke sekolah hari ini, apakah benar dia masih sakit? Wae? Bahkan kemarin dia sudah meminum obat dengan benar’ batin so eun.

“so eun-ah…” panggil nirin karena melihat so eun hanya diam saja.

“eeh? Ah…umm aku rasa dia masih sakit.” Balas so eun.

“oh…jika besok dia masih belum masuk, sepertinya aku harus menjenguknya dengan semua teman sekelas.” Ujar nirin. Sementara so eun kini kembali termenung, memikirkan keadaan kim bum saat ini.

-today love is begin-

 

Sepulang sekolah, so eun langsung buru-buru pergi ke apartemen kim bum untuk memastikan keadaannya. Apakah kim bum sudah membaik atau bahkan lebih parah? So eun khawatir akan hal itu.

“kim bum-ssi….?!” Panggil so eun, so eun sedikit kaget karena mendapati kim bum berada di luar apartemennya. Kim bum yang baru saja akan membuka pintu menolehkan kepalanya ke arah so eun.

“kau datang lagi.” Ujar kim bum malas.

“hei, kenapa kau ada di luar? Seharusnya kau tidur dan berisitirahat.” Ujar so eun.

“aku sudah tidak apa-apa, demamku sudah hilang.” Balas kim bum.

“bohong ! jika kau sudah sembuh lalu kenapa kau tidak masuk sekolah eoh?” Tanya so eun dengan suara sedikit keras. Kim bum menghembuskan nafasnya lalu mulai membuka pintu apartemennya.

“aku hanya lelah.” Balas kim bum seraya masuk ke dalam apartemennya diikuti so eun.

“baiklah jika itu yang kau katakan, aku akan memastikannya dengan sendiri.” Ujar so eun lalu menaruh kresek berisi buah-buahan manis yang ia bawa lalu mulai mencari termometer infrared di lemari kecil milik kim bum. Kim bum hanya menatapnya saja lalu ia pun membaringkan tubuhnya di kasur.

“ah aku menemukannya, aku akan mengukur suhu tubuhmu.” Ujar so eun. Kim bum hanya mendesah.

“ayo buka mulutmu !” suruh so eun, namun kim bum tak juga membuka mulutnya.

“yak….kau ini tidak menurut ya?” kesal so eun lalu memasukkan secara paksa termometer itu ke dalam mulut kim bum. Kim bum sudah menatap jengkel ke arah so eun namun ia tidak bisa melakukan apa-apa, ia hanya membiarkan saja termometer itu di dalam mulutnya. Setelah cukup lama, so eun pun melepaskan termometer itu lalu melihat hasilnya.

“32 derajat celcius, panasmu sudah benar-benar turun.” Ujarnya.

“aku sudah mengatakan kepadamu sebelumnya.” Balas kim bum lalu bangkit dan duduk di kasurnya.

“ah syukurlah….aku senang kau sudah benar-benar sembuh.” Ujar so eun seraya menyunggingkan senyumnya menatap termometer itu.

“bahkan aku sampai harus membeli buah-buahan manis ini untukmu, tapi ternyata sudah tidak ada gunanya lagi karena kau sudah sembuh.” Ujar so eun.

Kim bum hanya menatap so eun, kali ini tatapannya lebih teduh dari biasanya.

“tidak apa-apa kan jika aku membawa buah-buahan ini ke rumahku?” ujar so eun. Bukannya menjawab, kim bum malah mengerutkan keningnya dan memalingkan wajahnya dari so eun seraya menopang dagunya.

“yak wae? Keningmu berkerut seperti itu !” Tanya so eun.

“ani, hanya…….terimakasih.” ujar kim bum tanpa menatap ke arah so eun dan keningnya masih berkerut. Sebenarnya kim bum masih besar kepala untuk mengucapkan terimakasih kepada so eun. So eun membulatkan matanya mendengar apa yang keluar dari mulut kim bum barusan, ia menatap kim bum dengan mulut sedikit terbuka, so eun juga tak bereaksi apa-apa, ia hanya bengong saja.

“huh?” itulah yang keluar dari mulut so eun. Menyadari so eun hanya bengong saja menatapnya, kim bum pun mencubit pipi so eun cukup keras.

“hey !” panggil kim bum.

“ouch…ouch…” ringis so eun seraya berusaha melepaskan tangan kim bum yang mencubitnya.

“ada apa dengan ekspresi bodoh wajahmu? Itu membuatku terganggu !” ujar kim bum lalu berhenti mencubit pipi so eun.

So eun memegangi pipinya. “itu….itu karena kau mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut.” Ujar so eun.

“tsk…apa kau bodoh hah? Meskipun begitu aku juga tahu bagaimana caranya berterimakasih.” Balas kim bum.

“ani…bukan seperti itu…bahkan meskipun aku mengganggumu, aku pikir semua yang aku lakukan untuk membantumu akan membuatmu merasa terganggu saja, jadi aku tidak menyangkanya, aku terlalu terkejut.” Jelas so eun.

“kau benar-benar tidak mendapatkan gambarannya kan?” Tanya kim bum. So eun menatap kim bum bingung.

“perempuan yang menunjukkan keramahannya kepada orang lain, aku benar-benar membencinya sampai mati.” Ujar kim bum. So eun membulatkan matanya.

“ ‘aku punya hati yang benar-benar tulus, jadi aku mohon jatuh cintalah kepadaku’. Aku hanya dikelilingi oleh tipe perempuan seperti itu, dan mereka semua membuatku muak. Pada akhirnya mereka hanya akan mempermalukan diri mereka sendiri karena aku tidak semudah itu.” Jelas kim bum dengan tatapan lurus ke depan, tanpa menatap so eun.

“tapi kau….kau berbeda dengan mereka, kau tidak punya motif yang tersembunyi atau tujuan kenapa kau menolong seseorang. Kau selalu bersikap apa adanya. Itulah kenapa, aku pikir tidak ada salahnya aku berterimakasih kepadamu.” Jelas kim bum lagi. So eun masih menatap kim bum dengan diam, semua apa yang diucapkan kim bum benar-benar membuatnya tertegun. Ia tidak bisa dengan mudah menerima semua perkataan kim bum ke dalam otaknya.

“itulah alasannya.” Ujar kim bum.

“mmm…hei…” panggil so eun, pipinya mendadak memerah setelah mendengar penjelasan kim bum.

“mwo?” Tanya kim bum yang kini mulai manatap so eun.

“apa yang baru saja kau katakan terasa aneh kau tahu? Kau sangat aneh~” ujar so eun dengan wajah yang masih ditekuk.

“ah…mungkin kau masih demam ya? Hehehe.” Tanya so eun tiba-tiba seraya tertawa hambar.

“demam? Hei….kau baru saja mengecek suhu tubuhku.” Balas kim bum.

“huh? Ah aku rasa termometernya rusak ya? hahaha baiklah kalau begitu, biarkan aku kembali memeriksa keningmu hehehe.” Ujar so eun seraya menempelkan tangan kanannya di kening kim bum. Tapi tiba-tiba…..

Hap

Kim bum langsung menahan tangan so eun yang meraba keningnya, wajah mereka kini begitu dekat dan membuat so eun diam dengan pipi yang sudah merah padam.

“berhenti tertawa seperti itu, bodoh ! hanya melihatmu saja membuatku malu setelah mengucapkan kata-kata tadi!” ujar kim bum.

“aah…ah mian, haha.” So eun buru-buru menjauhkan dirinya, namun kim bum masih menatapnya. So eun jadi salah tingkah di buatnya.

“ah…umm…s..sepertinya aku harus segera pulang.” Ujar so eun seraya mebereskan tasnya. Kim bum hanya mentap so eun saja.

“pastikan kau sudah masuk sekolah besok.”  Lanjutnya.

“umm~ baiklah kalau begitu, aku pergi.” Kim bum menatap punggung so eun hingga menghilang dari penglihatannya, setelah itu ia pun menjatuhkan dirinya di kasur. Kim bum menyelipkan kedua tangannya di belakang kepalanya, ia memejamkan matanya tapi ia kembali membuka matanya. Entah kenapa, sekarang ia jadi memikirkan perkataan bodoh yang keluar dari mulutnya tadi.

“benar-benar buruk.” Gumamnya.

Sementara itu, so eun memegangi dadanya saat di tengah perjalanan. Ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya.

“gawat ! jantungku berdegup sangat kencang ! aku harus menenangkan diriku !” gumam so eun lalu cepat-cepat pergi dengan langkah lebar dengan hati yang masih tidak menentu.

Tidak ada gunanya kita merasa senang dengan sikap ataupun pekataan yang ditunjukan satu sama lain bahkan disaat kita sedang dalam suasana hati yang baik. Karena faktanya adalah, kita tidak benar-benar berkencan.

 

To Be Continued

 

NB : sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya.

 

Today, Love Is Begin PART 3

Today, Love is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom

Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.

Genre : Romance Comedy

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

FF ini aku buat mirip banget sama manganya, hanya saja ada beberapa yang ditambah dan dari khayalan author

 

PART 3

 

So eun menghentikan langkahnya dan diam di tempat sambil masih memegangi keningnya. Kim bum menoleh ke belakang dan melihat so eun hanya diam.

“hey, ada apa?” tanya kim bum.

So eun tak kunjung menjawab, dan ia masih menampakkan wajahnya yang tampak berfikir.

“kau kelihatan bodoh ! jangan memikirkan hal yang macam-macam !” ujar kim bum lalu mencubit pipi so eun.

“yaaaa! Kau tidak sampai perlu menyakiti wajahku !” amuk so eun seraya memegangi pipinya yang memerah.

Namun kim bum hanya memasang wajah tak berdosa dan kembali melanjutkan langkahnya.

“soal ponselmu, aku akan ganti rugi lain kali !” ujar kim bum.

So eun hanya menatap punggung kim bum dengan kesal.

“jika bukan karena kau sudah menolongku, aku sudah pasti akan melempar bom padamu !” umpat so eun.

“aku bisa mendengarnnya !” ujar kim bum sedikit keras dan membuat so eun langsung mati kutu. Mukanya mendadak pucat.

Kim bum memutar kepalanya menatap so eun. “lusa akan aku ganti ponselmu, aku akan menunggumu di depan café dimana ketika kau mengambil gambar wajahku waktu itu !” ujar kim bum lalu kembali membalikan tubuhnya dan berjalan meninggalkan so eun.

So eun masih berdiri di tempatnya. “sangat memalukan jika mengingat kejadian itu.” gumam so eun.

-today love is begin-

 

So eun sudah sampai di depan café dimana kim bum menunggunya. Namun, so eun sama sekali tak melihat keberadaan kim bum. So eun mencoba mengedarkan pandangannya ke segala arah namun tetap tak menemukan kim bum.

“apa dia membohongiku?” pikir so eun.

“kau sudah membuatku menunggu lama !” tiba-tiba kim bum muncul di belakang so eun seraya menaruh tas jinjing kecil di atas kepala so eun. So eun sedikit menengadahkan kepalanya untuk melihat benda apa yang ditaruh di atas kepalanya, lalu so eun memutar kepalanya dan mendapati kim bum berdiri di belakangnya.

“tck….” Kim bum menatap so eun dengan murka.

“kau beraninya membuat majikanmu menunggu !” ujar kim bum lalu membawa tas jinjing kecil dari kepala so eun itu dan melemparnya ke arah so eun. Dengan sigap so eun langsung menerimanya.

“sudah aku ganti ponselmu !” ujar kim bum. So eun menatap kim bum.

-today love is begin-

 

So eun dan kim bum duduk di bangku taman. Dengan cepat so eun pun membuka kardus ponsel itu.

“aku mencari ponsel yang sama percis dengan milikmu, tapi ternyata ponselmu keluaran jaman dulu, jadi aku membeli yang seperti itu.” ujar kim bum.

“ah ne  ne gwaencaha, ini kelihatan lebih bagus dari ponsel punyaku yang dulu.” Balas so eun.

“gomawo.” Balas so eun sambil sibuk mulai mengutak-atik ponsel barunya.

“tsk…gomawo?” ulang kim bum. So eun langsung menatap kim bum yang duduk di sampingnya.

“ne, wae?” tanya so eun.

“kau harus membelikanku makanan dan minuman sebagai balasannya !” ujar kim bum.

“ne?” ulang so eun sedikit terkejut.

“cepat belikan aku makanan peliharaanku yang baik ! cepat…cepat !” kim bum mendorong-dorong so eun dengan tangannya.

So eun menatap kim bum dengan wajah memelas. “jangan buat wajahmu seperti itu ! aku semakin ingin membuangmu ke tempat penitipan peliharaan !” ujar kim bum.

So eun hanya bisa pasrah dan pergi untuk membelikan kim bum makanan dan minuman.

-today love is begin-

 

Memasuki bulan Agustus dan liburan musim panas telah tiba. So eun sedang berada di dalam kamar nirin. So eun tiduran di ranjang seraya memainkan ponselnya sedangkan nirin sibuk membaca majalah seraya duduk di lantai yang dialasi oleh karpet.

“bagaimana hubunganmu dengan pacar palsumu itu?” tanya nirin sedikit menyindir.

“dia masih memperlakukanku seperti peliharaannya.” Jawab so eun dengan nada malas.

“hahaha, sampai kapan kau akan terus bersandiwara seperti ini?” tanya nirin.

“haaah entahlah~ aku harap secepatnya.” Jawab so eun.

“oh ya, apakah ponsel itu pemberian dari kim bum-ssi?” tanya nirin seraya memutar kepalanya dan melihat so eun.

“bukan pemberian, tapi ‘ganti rugi’” balas so eun dengan penakanan pada kata ganti rugi.

“kekekekk, jika dipikir-pikir dia berani sekali hingga melempar ponselmu ke sungai.” Nirin terkekeh jika mengingat cerita so eun tentang kejadian pelemparan ponsel itu.

“yak jangan tertawa ! aku sudah cukup menderita karena sikapnya yang suka semaunya. Kau memang tidak mengerti perasaanku nirin-ah huhuhu.” Balas so eun.

“tapi setidaknya kim bum-ssi juga kan yang sudah menolongmu.” Ujar nirin.

So eun memonyongkan bibirnya. “aku tahu, tapi tidak harus sampai melempar ponselku kan? Dia memang benar-benar tak berperasaan ! sepertinya aku harus segera memberitahu satu sekolahan tentang sifat aslinya agar mereka jadi berubah membencinya.” Ujar so eun.

“kekekekk aku rasa mereka tidak akan mempercayaimu.” Balas nirin.

“aaiish kau….”

Ddrrrtt dddrrtt

Tiba-tiba ponsel so eun bergetar, setelah dilihat ternyata ada satu pesan masuk dari hye rim. Ternyata, hye rim mengirimkan foto dirinya yang sedang berlibur di pantai bersama dengan kekasihnya.

“waaahhh daebak !” so eun langsung bangkit dari tidurnya.

“wae?” tanya nirin yang kini menolehkan kepalanya pada so eun.

“nirin-ah lihat ini !” so eun memperlihatkan foto yang dikirim hye rim padanya barusan. Nirin mengerutkan keningnya setelah mellihat foto itu.

“apanya yang hebat?” tanya nirin.

“yaa ! lihatlah ! lautnya sangat biru, sangat indah bukan?” tanya so eun.

“memangnya kemana hye rim pergi?” tanya nirin.

“dia pergi berlibur bersama pacarnya ke pantai sokcho tiga hari dua malam !” jawab so eun.

“eh benarkah?” nirin mengambil ponsel so eun. “apakah pacar hye rim sudah bekerja? Aku rasa dia punya banyak uang.” Ujar nirin.

“yeah.” Balas so eun.

“ummm begitu ya, pantas saja.” Timpal nirin.

“huaah sejujurnya aku iri !!!” ujar so eun. “aku tidak punya rencana untuk liburan di musim panas ini, aku tidak melakukan apa-apa liburan kali ini, dan sangat membosankan karena aku hanya menghabiskan waktuku di rumahmu!” keluh so eun.

“baiklah jika itu yang kau katakan, aku tidak akan bermain denganmu lagi.” Ujar nirin.

“aigooo aku hanya bercanda nirin-ah, mianhae…heheh, aku mencintaimu !” so eun langsung memeluk nirin sedangkan nirin memasang wajah masamnya.

“tapi, bagaimana dengan kim bum-ssi? apa yang dia lakukan sekarang ini?” tanya nirin.

“molla~” jawab so eun yang kembali menjatuhkan dirinya di ranjang.

“heh? Tidak tahu? apa kalian tidak pernah berkomunikasi?” tanya nirin.

“tidak tidaaak~ kami tidak pernah berkirim pesan.” Jawab so eun.

“huh? Aku pikir dia pernah menghubungimu, ternyata berkirim pesan pun tak pernah?” tanya nirin.

“yeah, berkirim pesan hanya sekedar menyuruhku untuk membelikan ini dan itu, membawakan ini dan itu.” jawab so eun.

“ckckck, berbeda sekali dengan apa yang terjadi di sekolah, kalian kelihatan sangat dekat.” Ujar nirin.

“itu hanya acting….hanya acting…” balas so eun.

“lagi pula, tidak ada alasan untuk bertemu dengannya liburan ini karena pada kenyataannya hubungan kami hanya hubungan palsu kan.” Jelas so eun dengan mata yang terpejam.

“ah kau keliahatan tidak bersemangat.” Ujar nirin seraya ikut membaringkan dirinya di samping so eun.

“kau kelihatan mengeluh mungkin karena kim bum-ssi tidak peduli padamu?” ujar nirin diselingi senyum jahilnya.

So eun mendadak membelalakan matanya mendengar apa yang keluar dari mulut nirin.

“tanpa kau sadari, di dalam hatimu kau mulai jatuh cinta?” goda nirin.

“MWO? JATUH CINTA?” so eun langsung bangkit dai tidurnya.

“TIDAK MUNGKIN ! DIA ADALAH LELAKI YANG PENUH DENGAN TRICK ! TIDAK MUNGKIN AKU JATUH CINTA PADANYA !” teriak so eun mentah-mentah seraya mencekik pelan nirin.

“uhuk uhuk…arasseo arasseo, aku hanya bercanda ! tidak usah berteriak sampai mencekikku seperti ini.” balas nirin. So eun langsung melepaskan tangannya dan merasa malu sendiri dengan tingkahnya.

Drrttt drrrttt dddrtttt

Ponsel so eun kembali bergetar.

“siapa yang menelpon?” tanya nirin.

“bo young.” Jawab so eun.

“yoboseyo…”jawab so eun saat mengangkat telpon.

“hei so eun-ah, apa kau sudah melihat foto yang dikirim hye rim?”

“oh ya aku sudah melihatnya, apa kau juga?”

“aku sangat iri karena dia pergi berlibur ke pantai sokcho, terlebih bersama kekasihnya.”

“yeah, pantainya sangat indah.”

“benar-benar membuatku iri ! ayo kita berlibur ke pantai juga so eun-ssi ! pantai !” ajak bo young.

“eh? Aaah ayo ! pantaai.” so eun langsung menerima tanpa basa-basi.

“aku juga sudah bisa mengira kau juga ingin pergi. Umm~ dan aku juga akan mengajak jong suk untuk berlibur.” Ujar bo young dengan semangat.

“eh?”

“kau juga akan mengajak kim bum-ssi kan?” tanya bo young.

Senyum lebar yang terpampang di wajah so eun perlahan menyusut.

“k..kim bum?” ulang so eun.

“ne, jangan lupa untuk mengajaknya juga ya so eun-ssi !”

“t..tapi…”

“ah mian, aku harus segera menutup telponnya. Kalau begitu sampai bertemu lusa !”

 

Klik

Sambungan telpon terputus.

“wae?” tanya nirin yang melihat ketidak beresan dari wajah so eun. So eun menatap nirin lalu menggelengkan kepalanya pelan.

-today love is begin-

 

Lusa, Halte bus

So eun tengah menunggu kim bum di halte dimana tempat mereka-bo young dan jong suk bertemu. Wajah so eun kelihatan tidak beres.

‘ini adalah situasi yang diluar rencana, tapi ini masih lebih baik dari pada bermalas-malasan di rumah. Yeah, ini tidak sepenuhnya buruk’ batin so eun.

“Oiii !” panggil kim bum pada so eun. “sudah lumayan lama kita tidak bertemu.” Ujar kim bum seraya memamerkan senyum tidak ikhlasnya. Kim bum membawa tas di punggungnya.

“o.oohh annyeong.” Balas so eun.

“ummm tunggu, hanya ada kau disini?” tanya kim bum.

“mmm bo young sedang dalam perjalanan, lima menit lagi dia sampai.” Jawab so eun.

“hhmmpphh…” kim bum membuang nafasnya lalu ikut duduk di samping so eun.

“dia yang merencanakan liburan tapi kenapa dia datang terlambat?” tanya kim bum.

“a..aku tidak tahu.” balas so eun.

‘huaah ada apa denganku? kenapa aku merasa canggung sekali di dekatnya’ batin so eun.

“aku pikir kau tidak akan datang.” ujar so eun.

“mmm..” kim bum mengangguk.

“aku pikir kau akan merasa terganggu karena aku memintamu untuk ikut.” Balas so eun.

“yeah itu sangat menggangu, sejujurnya aku tidak suka pantai.” Ujar kim bum. So eun langsung menatap kim bum.

“ada banyak orang di pantai dan kau berenang di air yang kotor, apanya yang menyenangkan dari pantai?” ujar kim bum.

“kalau begitu, kenapa kau datang?” tanya so eun.

“kalau begitu kenapa kau memintaku datang?” tanya balik kim bum.

So eun langsung terdiam mendengarnya.

“mmm baiklah, aku sedang bosan, sudah lama aku tidak melihat wajah peliharaanku.” Ujar kim bum seraya menatap so eun. so eun cukup terbengong di buatnya.

‘eh apa ini? apa dia datang karena ingin melihat wajahku? Bisakah aku berfikir seperti itu?’ batin so eun.

“OOOIII OOIIII MIANATA, KITA SANGAT TELAT !” Teriak jong suk dari kejauhan.

Kim bum dan so eun langsung melihat ke sumber suara.

“apa kalian sudah menunggu lama?” tanya bo young.

“ah aniyo.” Balas so eun. “mmm bo young-ssi, apakah dia….” ujar so eun menggantung.

“ah aku hampir lupa, kenalkan dia pacarku.” Ujar bo young seraya merangkul jong suk.

“aku park jong suk, senang bertemu dengan kalian, aku pacar bo young.” Sapa jong suk dengan ceria. (ini bukan jong suk yang manfaatin so eun di part 2 ya hehe)

“kalian so eun-ssi dan kim bum-ssi kan?” tanya jong suk.

“ah ne hehe.” Jawab so eun seraya tersenyum hambar.

“aku selalu mendengar cerita tentang kalian dari bo young, kalian sangat serasi ternyata.” Ujar jong suk.

“hahaha” so eun kembali tertawa hambar, sedangkan kim bum hanya bisa membuang nafasnya.

-today love is begin-

 

Mereka sudah sampai di pantai sokcho. So eun, bo young, dan jong suk langsung saja berjingkrak senang dan segera menaruh barang-barang yang mereka bawah di bawah payung, sementara kim bum berjalan paling belakang dan hanya menghela nafasnya. Lalu ia pun duduk di bawah payung itu.

“wooooaaa pantaaaaiii !” teriak so eun.

“pantai sokcho memang sangat indah dan menyenangkan !” jong suk ikut berteriak.

“yeaaayy disini sangat panas, dan aku tidak sabar ingin segera berenang !” timpal bo young dan segera berlari meninggalkan jong suk, so eun, juga kim bum untuk berenang.

“yaaa bo young, tungguuu !” jong suk ikut berlari dan mengejar bo young.

So eun masih tersenyum melihat keindahan pantai sokcho ini.

“baiklah, kim bum-ssi kajja !” ajak so eun.

“aku tidak akan berenang, aku tidak mau kulitku terbakar dan menjadi hitam dan gatal-gatal gara-gara berenang di air kotor itu !” tolak kim bum.

So eun langsung menganga mendengar jawaban yang keluar dari mulut kim bum. “hei…apa kau itu seorang selebriti?” sindir so eun.

“tsk sudahlah sana pergi dan berenanglah !” suruh kim bum seraya melempar-lempar tangannya meyuruh so eun untuk segera pergi.

“berenanglah ! aku ingin melihat kulitmu berubah menjadi hitam.” Ujar kim bum.

“eh kau…” balas so eun.

“HEIIII SO EUN-SSI…PALLIWAAA! AIRNYA SANGAT DINGIN ! DAN INI SANGAT MENYENANGKAN !” teriak bo young dan jong suk yang sudah berenang lebih dulu, mereka melambai-lambaikan tangannya pada so eun. So eun menatap kim bum sejenak lalu berteriak kepada mereka.

“BAIKLAHH ! AKU AKAN SEGERA KESANA !” balas so eun. sebelumnya so eun kembali menatap kim bum dan mendelikkan mata padanya.

“hmmphh.” Dengus so eun lalu meninggalkan kim bum sendirian.

Sementara itu kim bum hanya diam ditempatnya dan hanya memerhatikan so eun, bo young, dan juga jong suk yang tengah berenang dengan gembiranya. Mereka tertawa dan sangat menikmatinya.

Tiba-tiba kim bum menyunggingkan senyumnya melihat mereka, terutama saat ia melihat so eun.

“heh…ada tiga peliharaan disana !” gumamnya.

Setelah sekitar 15 menit berenang, so eun, bo young, dan jong suk pun kembali ke bibir pantai dan menghampiri kim bum yang sedari tadi hanya diam dan duduk di bawah payung.

“woooah sangat menyenangkan !” ujar bo young.

“aku lelah, aku ingin istirahat !” ujar so eun.

“hei kim bum-ssi, apa kau ingin berenang denganku?” tawar jong suk.

“ani.” Jawab kim bum.

“ah…kalau begitu bagaimana jika kita berempat bermain voli pantai?” tawar jong suk lagi.

“ani, aku hanya akan menonton kalian bermain saja.” Jawab kim bum.

“hummpphh…” jong suk menghembuskan nafasnya.

“jong suk-ah…aku ingin makan es krim.” Ujar bo young dengan nada manja.

“ah baiklah baiklah, kalau begitu ayo kita beli es krim.” Jawab jong suk senang seraya merangkul pundak bo young.

Kim bum hanya bisa menatap mereka dengan mata sedikit memicing karena mereka yang terlihat begitu mesra.

“kami juga akan membelikannya untuk kalian !” ujar jong suk.

“ah…terimakasih.” Balas so eun.

“ayo jong suk pali~” bo young menarik lengan jong suk.

“ah  ne….” balas jong suk.

So eun yang melihat kemesraan bo young dan jong suk jadi merasa iri, tapi di satu sisi ia juga senang melihat kemesraan mereka.

“mereka sangat cocok.” Ujar so eun dengan mata berbinar sekarang.

‘aku juga ingin memiliki pacar yang romantic seperti jong suk.’ Batin so eun seraya menggenggam tangannya sendiri dan meletakannya di dagunya.

Kim bum melirik ke arah so eun dan melihat so eun tengah tersenyum seraya membayangkan sesuatu.

“jika kau bertanya pendapatku tentang mereka, maka aku hanya bisa melihat mereka sebagai sepasang kekasih idiot yang hanya memperlihatkan kemesraan mereka dengan penuh kepura-puraan.” Ujar kim bum tiba tiba.

“huh?” so eun langsung memalingkan wajahnya untuk menatap kim bum.

“aku rasa, bagaimanapun juga itu tidak akan membantu meskipun kalian saling menyukai, mustahil.” Lanjut kim bum.

‘apa yang dia bicarakan?’ batin so eun seraya menatap kim bum sedikit bingung, namun kim bum hanya memandang ke arah laut lepas.

“cinta itu bukan karena mengumbar-ngumbar kemesraan di depan umum atau pun semacamnya, sepasang kekasih yang seperti itu biasanya hanya akan mengungkapkan perasaan mereka dengan mengatakan ‘aahh aku sudah merasa puas dan senang’. Mereka yang seperti itu tidak benar-benar mencintai pasangannya. Cinta tidak perlu hal yang seperti itu, hanya cukup menyayangi seseorang yang disukai dengan tulus tanpa mengumbar kemesraan. Itulah keromantisan dalam cinta yang sebenarnya.” Jelas kim bum.

So eun sukses menganga mendengar apa yang keluar dari mulut kim bum sendiri, so eun terkejut, aneh, dan juga sedikit takjub dengan ucapan kim bum.

‘dia…bagaimana bisa dia berbicara soal cinta seperti ini? woooah aku merasa terkesan’ batin so eun.

So eun jadi menatap kim bum dengan mata menyipit. “hei, kau bahkan tidak punya pengalaman dalam berkencan ataupun berhubungan dengan seorang perempuan, kau tidak bisa berbicara seperti kau mengerti soal cinta.” Ujar so eun.

Kim bum yang tadinya menatap lurus ke depan langsung melirik ke arah so eun. “mwo? apa yang kau katakan barusan? Ayo katakan lagi !” pinta kim bum sambil menatap so eun murka.

So eun yang melihat kim bum menatapnya seperti itu langsung menjauhkan tubuhnya dari kim bum.

“a..aniyo…” balas so eun.

“kau juga bahkan membohongi teman-temanmu dengan mengatakan bahwa kau sudah memiliki pasangan, bahkan kau juga sepertinya tidak berpengalaman dan tidak mengerti soal cinta, betapa sombongnya mulutmu itu ! aku juga harus masuk ke dalam lubang masalahmu.” kim bum mendorong kepala so eun dengan telunjuknya.

“bagaimanapun juga aku terpaksa. Meskipun begitu, aku hanya ingin bersama dengan seseorang yang aku sukai.” Balas so eun. “dan aku tidak ingin, sifatmu itu menghancurkan semuanya.” Lanjut so eun sedikit keras dan membuat kim bum sedikit terdiam.

“aku mau berenang !” so eun langsung bangkit berdiri dan pergi meninggalkan kim bum.

“hmmpph…” Kim bum hanya bisa menghela nafasnya.

“dia benar-benar….apa dia iri karena dia belum pernah jatuh cinta pada satu orang pun sebelumnya maka dari itu dia bisa berbicara semaunya?” gerutu so eun dengan langkah lebar dan cepat.

“SO EUN-SSI !!!” teriak bo young seraya melambai-lambaikan tangannya pada so eun. So eun langsung saja menghentikan langkahnya dan melihat ke sumber suara.

“so eun-ssi kau mau es krim rasa apa? melon atau strawberry?” teriak bo young.

“ah…melon !” jawab so eun.

“baiklah..” balas bo young.

“so eun-ssi ingin melon.” Ujar bo young pada jong suk.

“ok…” balas jong suk lalu mengambil es krim rasa melon untuk so eun. kini ditangannya ada dua buah es krim rasa melon untuk so eun dan kim bum. Sedangkan bo young membawa satu es krim rasa strawberry dan satu rasa melon untuk dirinya dan juga jong suk.

“baiklah kajja…!” bo young berjalan lebih dulu meninggalkan jong suk. Sementara itu, karena jong suk tak memperhatikan jalan di depannya, ia pun tak sengaja menabrak dua orang pemuda sekitar umur 25-27 tahunan dan membuat es krim itu tumpah dan mengenai dua pemuda tersebut.

“ahh…” jong suk sedikit terkejut saat es krimnya tumpah.

“jong suk-ah, gwaenchana?” bo young berbalik dan langsung berlari kecil menghampiri jong suk. So eun juga ikut menghampiri jong suk.

“itu bukan salah kami.” Ujar pria dengan rambut merahnya itu.

“perhatikanlah jalanmu anak kecil !” ujar pria satunya lagi dengan sedikit janggut di dagunya.

“yaakk !” bo young berteriak kepada kedua pemuda itu. “bukankah kalian berdua yang membuat es ini tumpah?” amuk bo young.

Kedua pemuda itu langsung menatap bo young meremehkan.

“huh?” si pemuda berambut merah itu menaikkan sebelah alisnya.

“apa maksudmu anak kecil?” Tanya si pemuda satunya lagi yang berjanggut itu seraya menyeringai menatap bo young.

So eun hanya bisa menatap mereka takut-takut akan terjadi perkelahian.

“yak jong suk-ah…kenapa kau hanya diam saja? Jelas-jelas ini salah mereka !” teriak bo young pada jong suk.

“bo young-ah tenanglah, ini hanya masalah kecil, jangan dibesar-besarkan !” bisik jong suk.

Kedua pemuda itu masih berdiri disana dan menatap jong suk dengan tajam, segera saja jong suk membungkukkan badan kepada kedua pemuda itu.

“mianhamnida hyung-nim, sudah jelas ini adalah kesalahanku, mianhamnida.” Ujar jong suk. Bo young menatap jong suk tak percaya.

“tsk…” kedua pemuda itu hanya berdecak lalu pergi dari hadapan mereka. Setelah itu, bo young langsung menendang kaki jong suk.

“oouch…apa yang kau lakukan?” Tanya jong suk meringis kesakitan seraya memegang tulang keringnya.

“itu pelajaran untukmu ! jelas-jelas salah mereka dan mereka harus menggantinya ! dasar pengecut ! ayo so eun-ssi kita pergi !” bo young langsung menarik tangan so eun dan meninggalkan jong suk.

“yak bo young !” teriak jong suk.

Namun bo young tak menghiraukannya dan terus berjalan dengan lahkah lebar.

“umm~ bo young-ssi, bukanlah lebih baik kau kembali dan memaafkan jong suk-ssi? Bukan berarti jong suk-ssi pria pengecut karena meminta maaf kepada mereka kan?” Tanya so eun.

Bo young menghembuskan nafasnya kesal. “biarkan saja, aku ingin memberikan pelajaran untuknya setidaknya agar dia bias lebih tegas layaknya seorang pria !” balas bo young.

“tapi…bo young-ssi.” Balas so eun.

“fiiuh~ sepertinya aku harus mengakhiri hubungan saja dengannya.” Ujar bo young.

“eh? Bo young-ssi, kenapa tiba-tiba seperti ini? Kalian ini sangat serasi bahkan sangat mesra.” Ujar so eun.

“tapi bukan itu masalahnya, aku kecewa padanya karena dia tak juga berubah. Dia pria lemah.” Balas bo young. So eun hanya bisa diam saja mendengarnya.

‘apa ini? Baru saja mereka bermesra-mesraan, tapi dengan cepat situasinya berubah’ batin so eun. Lalu ucapan kim bum melintas saja di pikirannya.

Itulah keromantisan dalam cinta yang sebenarnya

Mengingat ucapan kim bum itu, so eun langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.

“bo young-ssi, kau harus memikirkan perkataanmu lagi !” ujar so eun, namun bo young sepertinya tak memerhatikan so eun karena matanya focus ke arah lain.

“bukankah itu dua pemuda yang tadi?” Tanya bo young.

“eh?” so eun langsung mengikuti arah pandangan bo young dan melihat kedua pemuda itu tengah mengobrol dengan dua orang perempuan.

“ah benar, itu mereka.” Ujar so eun.

“aku harus menemui mereka dan memberikan pelajaran untuk mereka.” Ujar bo young lalu melangkah menghampiri kedua pemuda itu.

“eh bo young-ssi, andwae !” so eun menahan lengan bo young.

“ani ! aku hanya akan memperingati mereka. So eun-ssi kau tunggu disini !” ujar bo young. Bo young pun melanjutkan langkahnya sementara so eun hanya bisa diam ditempatnya. Wajah so eun sudah pucat karena tak bias melakukan apa-apa untuk mencegah bo young.

“ini gawat….” Gumam so eun.

-today love is begin-

 

Jong suk sedang duduk sendirian menatap laut lepas yang ada dihadapannya. Wajahnya kelihatan galau karena insiden yang terjadi barusan.

“bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?” gumam jong suk. “bagaimana jika bo young meminta untuk putus? Ini benar-benar buruk.” Gumam jong suk murung.

“jadi kau ada disini?” Tanya kim bum yang tiba-tiba muncul di samping jong suk. Jong suk langsung memutar kepalanya menatap kim bum.

“ah..kim bum-ssi.” Ujar jong suk.

“aku memutuskan untuk mencarimu karena sedari tadi kau tak kunjung kembali dari membeli es krim.” Cerita kim bum lalu ikut duduk di samping jong suk.

“ah…m..mian, aku tak mendapatkan es krimnya.” Dusta jong suk.

“gwaenchana, aku tidak peduli dengan es krim itu.” Balas kim bum.

“ah..ne.”

“lalu, dimana so eun dan bo young?” Tanya kim bum.

“ah…mereka berdua…” jawab jong suk gelagapan. “mereka berdua sedang membicarakab urusan perempuan.” Dusta jong suk lagi.

Kim bum hanya bias membuang nafasnya.

10 detik, 20 detik, 30 detik. “huwaaaa…kim bum-ssi…apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan?” jong suk tiba-tiba langsung memegang kedua lengan atas kim bum, membuat kim bum menghadap padanya.

“hei…ada apa?” Tanya kim bum heran.

“bo young….dia…dia sekarang pasti membenciku !” ujar jong suk. Kim bum masih belum mengerti, ia mengerutkan keningnya menatap jong suk.

“apa yang harus aku lakukan?” jong suk memegangi kepalanya frustasi.

“kenapa kau tidak berkelahi saja dengan dua pemuda tadi jika kau tidak ingin bo young membencimu?” ujar kim bum enteng.

“eehhh? Ti..tidak mungkin !” balas jong suk.

“aku pasti akan kalah jika berkelahi ! lihatlah badanku !” jong suk menunjuk perutanya yang rata.

“aku sama sekali tidak memiliki otot yang besar dan kuat !” lanjutnya.

“yeah…aku juga tidak bisa memungkirinya.” Balas kim bum setelah memerhatikan tubuh jong suk.

“huh bo young tetaplah bo young, aku heran dengannya kenapa dia ingin berkelahi bahkan dia adalah seorang perempuan, tidak dipercaya !” jong suk kembali memegangi kepalanya. Kim bum hanya bisa menatapnya saja. Melihat lelaki bodoh dihadapannya yang tidak bisa apa-apa dan hanya terlihat frustasi saat kekasihnya marah padanya.

Kim bum membuang nafasnya. “hey kau….!” Panggil kim bum. Jong suk menoleh padanya.

“apa kau berfikir tentang sesuatu yang berharga?” Tanya kim bum.

“ehh…”

“apa yang akan kau lakukan jika dia berada dalam bahaya di depanmu atau di dekatmu?” Tanya kim bum. Jong suk diam.

“kejadian tadi, apakah kau akan mengulangi untuk meninggalkannya dan menyerah lagi?” lanjut kim bum. Jong suk masih tak bersuara.

“jika kau benar-benar mencintainya, seharusnya kau menjaga dan menyelamatkannya bahkan disaat kau lemah atau bahkan akan menyakitkan. Itulah kebanggaan yang dimiliki oleh seorang laki-laki.” Jelas kim bum santai seraya menatap jong suk.

Jong suk sedikit ternganga mendengar apa yang dikatakan kim bum. “ke..kebanggan seorang laki-laki?” tanyanya lalu diam termenung. Kim bum kembali mengarahkan tatapannya pada laut lepas.

“ah……jong suk-ssi…kim bum-ssi…” teriak so eun dengan nafas tersenggal-senggal. Setelah ia berlarian mencari jong suk dan kim bum, akhirnya ia menemukan mereka juga.

Kim bum dan jong suk langsung menoleh ke belakang saat mendengar nama mereka dipanggil.

“so eun-ssi….” Pekik jong suk.

“bo young…” ujar so eun dengan nafas yang masih tak beraturan.

“wae?” Tanya jong suk.

“bo young…dia….cepat selamatkan dia !” ujar so eun.

Jong suk dan kim bum sama-sama menatap so eun masih dengan tatapan bertanya-tanya.

-today love is begin-

 

“kyaaaaaaaa lepaskan aku !!!” teriak bo young. Bo young berontak saat ia diangkat di atas bahu si pemuda berambut merah. Sementara pemuda yang satunya lagi berjalan di samping pemuda itu.

“yaaaa jangan sentuh aku ! turunkan aku !” teriak bo young saat dagunya di elus oleh si pria berjenggot.

“kau sangat berisik !” ujar si pemuda berambut merah.

“kyaaaaaa…..siapa saja tolong aku !” teriak bo young.

“yak ! berhentilah berteriak ‘kya kya’ ! tutup mulutmu !” ujar si pria berjenggot itu kesal lalu membekap mulut bo young dengan tangannya. Bo young menatap tajam pemuda itu.

“baiklah, apa kau ingin mengatakan sesuatu kepada kita? Aku akan mendnegarkanmu dengan senang hati.” Ujar pemuda berjenggot itu seraya tersenyum licik. Bo young semakin geram, lalu ia pun menggigit sekeras mungkin tangan pria itu.

“Yaaaaaaak ouch…..beraninya kau !” teriak pemuda itu.

Pemuda berambut merah pun menurunkan bo young lalu menahan kedua lengannya.

“kami akan memberikan pelajaran yang lebih padamu gadis kecil !” ujarnya.

“yaakk andwae…!” bo young berontak.

“hei, lepaskan bo young !” teriak jong suk. Di belakangnya ada kim bum dan juga so eun.

“jong suk-ah….” Teriak bo young.

“hei, bukankah kau bocah yang tadi? Apa kau datang kemari ingin mengajak kita berkelahi untuk menolong pacarmu huh?” tantang si pemuda berjanggut itu seraya tersenyum remeh.

Jong suk yang tadinya sedikit tidak berani, kini menatap kedua pemuda itu dengan murka.

“eh…apa maksud tatapan bocah itu?” gumam pria berambut merah.

“hei bocah lemah, kau tidak berniat untuk berkelahi dengan kita kan?” Tanya si pemuda berjanggut.

Jong suk masih menatap kedua pemuda itu dengan tajam, ia sejujurnya masih bingung apa yang harus ia lakukan? Ia tidak punya keberanian untuk berkelahi, terlalu menakutkan untuknya. Tapi demi bo young……..

“kalau begitu……” jong suk tampak mengeluarkan keringat dingin dari pelipisnya.

“kalau begitu, kumohon pukul aku sampai kalian merasa puas dan tenang !” ujar jong suk.

Bo young menatap jong suk tidak percaya. Termasuk so eun dan kedua pemuda itu, sementara kim bum yang hanya kelihatan tenang.

“kalian bisa melakukan apa yang kalian inginkan padaku, asalkan jangan berani menyentuh bo young !” ujar jong suk.

“jong suk-ssi…” panggil so eun, sementara kim bum hanya diam. Bo young juga tak bisa melakukan apa-apa selain diam, ia masih mencerna apa yang semua dikatakan oleh jong suk.

“ayolah, pukul aku dengan tangan kekar kalian dan tendang aku !” tantang jong suk.

“tskk….” Pemuda berambut merah itu langsung saja menendang jong suk tepat di perutnya, membuat jong suk langsung tersungkur di pasir.

“jika itu yang kau mau, kami tidak bisa menolaknya.” Ujar kedua pemuda itu lalu kembali menghajar jong suk.

Sementara itu, so eun langsung menghampiri bo young. “bo young-ssi kau tidak apa-apa?” Tanya so eun. Bo young tidak menjawab, matanya focus melihat jong suk yang sedang dihajar kedua pemuda itu. Melihat jong suk yang menahan sakit, bo young tak bisa mengontrol dirinya. Ia pun berlari menghampiri jong suk dan langsung berhambur ke pelukannya. Jong suk sudah mengelurkan banyak darah dari hidungnya, wajahnya pun jadi bengkak-bengkak.

“HENTIKAN !” teriak bo young. “semuanya sudah cukup.” Lanjut bo young.

“bo..bo young.” Ujar jong suk susah payah.

“bo young ! itu akan berbahaya !” teriak so eun.

“ani ! aku tidak bisa hanya diam dan melihat saja ! hentikan semuanya !!!” teriak bo young.

“kalian bisa memukulku…..ayo kemarilah dan pukul aku !” tantang bo young.

“bo young…” ujar so eun.

“mwo? Kau menantang kami bocah tengik?” si pemuda berjanggut itu naik darah, ia meremas-remas tangannya.

Tiba-tiba ada tangan yang menepuk bahu pemuda itu.

“semuanya sudah cukup, hentikan sampai disini saja oke?” ujar kim bum dengan tatapan dinginnya pada kedua pemuda itu. Pemuda itu langsung menatap kim bum takut, aura yang terpancar dari wajah kim bum sangat mengerikan.

“tsk….ayo !” ajak si pemuda berambut merah.

“sial !” si pemuda berjanggut itu menggerutu lalu merekapun pergi.

“kalian semua bocah tengik yang lemah !” teriak si pemuda berjanggut.

Kim bum hanya bisa memandang mereka dengan tatapan aneh.

“haah syukurlah…” jong suk menghela nafas lega seraya menundukkan kepalanya setelah kedua pemuda itu pergi. Bo young menatap jong suk kesal bercampur khawatir.

Pletak tiba-tiba bo young menjitak kepala jong suk.

“ouch….bo young-ah sakit !” jong suk memegangi kepalanya.

“apa kau benar-benar idiot huh?” kesal bo young. “kenapa kau beraninya melakukan ini?” lanjut bo young.

“mian, aku tidak bisa berkelahi seperti kebanyakan orang, aku sangat buruk dalam berkelahi, dan aku rasa hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu.” Balas bo young. Bo young diam.

“tidak apa-apa meskipun aku kelihatan tidak keren, tidak apa selama aku bisa melindunga orang yang penting bagiku. Karena itu adalah kebanggaanku sebagai laki-laki.” Ujar jong suk. Bo young sudah berkaca-kaca melihat jong suk yang masih bisa tersenyum diantara luka-luka di wajahnya itu.

Kim bum menatap jong suk sedikit kasihan. “dia mendengarkan kata-kataku huh?” gumam kim bum.

“idiot ! kau memang lemah bodoh !” bo young menangis dan langsung memeluk jong suk.

“tapi….pada akhirnya aku semakin menyukaimu.” Ujar bo young.

“ehehe, aku juga.” Balas jong suk.

So eun dan kim bum hanya bisa diam saja seraya menyaksikan adegan sepasang kekasih itu. Lalu so eun menyunggingkan bibirnya. ‘seperti yang aku pikirkan sebelumnya, mereka berdua luar biasa. Satu kali lagi, kekuatan cinta sangat luar biasa’ batin so eun seraya tersenyum melihat mereka.

“huh…” kim bum mendesah, saat ia menolehkan wajahnya ia melihat so eun yang sedang tersenyum.

-today love is begin-

 

Mereka sedang dalam perjalanan pulang menuju seoul menaiki kereta. Mereka berdua duduk berhadapan. Bo young dan jong suk sudah tertidur dan mereka saling berpegangan tangan, bo young menyandarkan kepalanya pada bahu jong suk dan jong suk menyandarkan kepalanya pada kepala bo young. Melihat itu, so eun terkekeh dibuatnya.

“pfft….sangat lucu, tidur tanpa melepaskan satu sama lain.” Ujar so eun.

“benar-benar melelahkan.” Ujar kim bum seraya menopang dagunya dan melihat ke luar jendela.

“jong suk-ssi…..dia sangat keren.” Ujar so eun bicara pada dirinya sendiri.

“yeah benar.” Balas kim bum tanpa mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

“eh…” so eun langsung menoleh ke arah kim bum.

‘huh? Dia setuju dengan cepat? Bukankah dia punya pemikiran yang selalu berbeda?’ batin so eun masih melihat kim bum dari samping.

“seseorang tidak akan melakukan sesuatu sampai sejauh itu jika bukan pada seseorang yang benar-benar serius mereka sukai.” Ujar kim bum, membuat so eun sedikit takjub dengan kata-kata yang keluar dari mulut kim bum itu. So eun sampai tak mengedipkan matanya menatap kim bum.

Kim bum menolehkan wajahnya kepada so eun. “apa?” Tanya kim bum heran karena so eun terus menatapnya seperti itu.

“umm…apa kau…tidak berfikir bahwa akan lebih baik jika kau mempunyai seseorang yang kau sukai?” Tanya so eun.

“tsk….kau sangat mengganggu !” kim bum kembali memalingkan wajahnya pada jendela.

So eun masih penasaran dengan sikap kim bum, seperti apa dia sebenarnya? So eun juga memalingkan wajahnya dari kim bum.

‘pernahkah kim bum-ssi…..jatuh cinta?’ batin so eun.

‘aku penasaran, seperti apa perempuan yang dia sukai itu’

 

To Be Continued

 

TERIMAKASIH UNTUK READERS YANG SELALU BACA DAN KOMEN, SEMPET KECEWA SOALNYA DIA PART 2 FF INI DAN DI FF A LOT OF KISSING YOU PART END KOMENTARNYA MENURUN DRASTIS. BAGI SILENT READERS TOLONG YA HARGAI KARYA SAYA DENGAN MENINGGALKAN KOMENTAR. TERIMAKASIH

 

Falling love with my fans [3]

Falling love with my fans [3]

 

Author : Resi R (Shin Ni Rin)

Genre : Romantic Comedy

Main Cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom

Other Cast : Kim Jong Woon, Moon Geun Young, Kim Sang Jo, Kang Min Hyuk, Kim Yung Jae, Chu So Ra. (dan akan ada cast tambahan, tapi masih bingung)

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Maaf untuk ff ini karena terlalu lama updatenya. Sebenernya saya juga bingung karena sudah mulai banyak tugas sekolah yang bertebaran. Di tambah saya juga sedang ada project dengan teman untuk membuat novel#cieelahhh. Nah jadi sekarang maaf kalo misalnya ngepost part per partnya bakal rada lama, karena pikiran saya jadi terbagi-bagi#apasih jadi curhat  – –“

Yaudah deh langsung baca aja, tapi sebelumnya saya ingin nge-review dulu part sebelumnya karena mungkin para readers pada lupa sama jalan ceritanya.

 

“segeralah bersiap-siap. Sekarang kau harus syuting.” Perintah geun young pada so eun yang tampak masih malas-malasan.

“ne…….” jawab so eun.

“kau sudah mempelajarinya dengan baik?” Tanya geun young.

“tentu saja.” Jawab so eun.

“baguslah.”

“memangnya syuting pertama akan di ambil dimana?” Tanya so eun.

“syuting pertama di tempat terbuka. Dan tidak menjadi kemungkinan aka nada banyak fansmu dan juga fans kim jong woon yang melihat.” Jawab geun young.

“aishh aku harap orang itu tidak ada.”

###

 

“hyung……..antar aku ke tempat les ya?” pinta sang jo.

“shireo…aku malas…” tolak kim bum.

“aish hyung ini benar-benar pemalas…….” Ujar sang jo lalu keluar dari kamarnya.

Kim bum hanya mencibir sambil memainkan laptopnya.

Tiba-tiba chu so ra datang dan langsung menjewer telinga kirinya.

“ya…aaaa….eomma…eomma….appo…!” teriak kim bum kesakitan.

“kau ini…! Hanya diminta mengantar sang jo ke tempat les saja malas….” Marah chu so ra seraya menarik kim bum keluar kamar.

“ne…eomma….aku akan mengantarnya….tapi…lepaskan dulu tanganmu….!” Pinta kim bum.

“yasudah cepat, jangan ada kata malas-malasan lagi…dasar…” omelnya lalu keluar duluan.

Kim bum memegangi telinganya yang memerah.

“sakit sekali……” ringisnya.

“sang jo….anak itu….! Sudah berani mengadu….awas saja…” dumel kim bum.

###

 

Kim bum mengayuh sepedanya. Baru saja ia mengantar sang jo ke tempat les. Kim bum tampak tenang-tenang saja mengayuh sepedanya. Tapi saat ia melewati jalanan yang ramai. Ia kaget. Terkejut setengah mati.

“itu………kim so eun?” kagetnya.

“apa yang sedang ia lakukan?” tanyanya bingung karena so eun berlari ke arah tengah jalan dengan nafas tersenggal-senggal.

Kim bum kaget saat melihat ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arah so eun.

“mwo? Ya………” teriak kim bum lalu mengayuh sepedanya lebih cepat. Karena tak ada waktu kim bum pun meninggalkan sepedanya sembarang dan berlari sekuat tenaga ke arah so eun yang berdiri di tengah jalan.

“kim so eun awas……” teriak kim bum saat mobil itu hampir menabrak so eun.

Tanpa pikir panjang, kim bum langsung menarik so eun ke tepi jalan sekuat tenaga hingga so eun jatuh di pelukannya. So eun hanya menatap bingung dengan apa yang di lakukan kim bum. Mwo? Kim bum?.  Apaaaa? Kim bum memeluk idolanya sendiri? Kim so eun?

“gwaenchana?” Tanya kim bum.

Tanpa menjawab, dengan segera so eun melepaskan pelukannya. Enak saja fans nya ini sudah memeluknya.

 “kau…? Ya….apa yang kau lakukan…?” marah so eun.

“CUT…………!!!!!!” teriak sang sutradara.

Kim bum hanya menatap bingung karena semua orang yang memperhatikannya.

 

PART 3

 

Kim bum duduk di hadapan sang sutradara yang menjadi penanggung jawab dari syuting Music Video yang sering kita singkat MV itu. Disana juga ada so eun yang duduk di sebelah sang sutradara. Kim bum tampak menunduk karena merasa bersalah atas tindakan bodohnya. Sang sutradara terlihat mengerutkan keningnya dan bertopang dagu memerhatikan kim bum.

“siapa namamu?” tanya sang sutradara.

Kim bum sedikit mengangkat wajah. “aku…kim sang beom.” Jawabnya. Ia belum berani menatap artis idolanya setelah tingkah memalukan yang ia lakukan.

So eun menatap pria yang di hadapannya dengan kesal, mana bisa dia tiba-tiba menariknya ke pinggir jalan hingga membuat syuting kacau dan tertunda. Fans terbodoh di dunia ! apakah tidak tahu jika sedang melaksanakan syuting?

“kau fans nya kim so eun?” tanya sang sutradara.

Kim bum sedikit mengangguk. “ne.” jawabnya.

So eun hanya diam, bagaimana bisa ia memiliki fans seperti ini.

“syuting kami jadi kacau gara-gara kau yang tiba-tiba menarik kim so eun yang sedang melakukan salah satu adegan dari syuting. Tapi berhubung kau adalah fansnya yasudah akan aku maafkan, kalau begitu kau bisa pergi.” Jelas sang sutradara.

Kim bum menunduk. “sekali lagi aku minta maaf. terimakasih.” Ujar kim bum lalu buru-buru pergi.

So eun menghela nafas, ia masih kesal karena ia harus take ulang untuk adegan tadi. Padahal adegan itu cukup menguras tenaganya karena harus berlari-lari.

###

 

“aiishh baboya…” kim bum memukul kepalanya sendiri.

“hey kau !” tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya. Kim bum menoleh dan mendapati seseorang yang waktu di minimarket bertemu dengannya. Seorang penyanyi bernama kim jong woon.

“kita bertemu lagi ternyata.” Ujar jong woon.

“apa ada yang ingin kau bicarakan?” tanya kim bum berusaha bersikap tenang.

“kau sudah tahu sekarang siapa aku?” tanya jong woon.

“aku baru tahu kemarin jika kau seorang penyanyi.” Jawab kim bum. Jong woon tersenyum sinis.

“rupanya kau penggemar kim so eun.”ujarnya. “kenapa kau sampai menjadi fans nya? Apa yang kau suka dari kim so eun?” tanya jong woon.

“aku suka semua yang ada pada idolaku.” Jawab kim bum bangga.

“tapi tak seharusnya kau mengacaukan syuting kami kan?” balas jong woon.

“soal itu aku minta maaf karena aku tidak tahu jika sedang mengambil adegan. Aku juga sangat minta maaf karena sudah mengacaukan syuting. Aku akui aku bodoh.” Jawab kim bum.

“sebagai fans kim so eun tentu kau akan selalu mendukung dengan semua keputusannya kan?” tanya jong woon.

“keputusan apa?” tanya kim bum.

“keputusan jika dia bekerja sama denganku dalam pembuatan Video Clip dari salah satu laguku. Aku tidak ingin kau jadi antifan ku karena aku yang menjalin kerja sama dengannya terlebih aku ini tampan.” Ujar jong woon dengan percaya dirinya.

“tentu aku akan selalu mendukungnya. Tak peduli dengan siapapun itu yang penting itu adalah pilihan dan keputusannya.” Jawab kim bum.

“aku kira kau tidak suka padaku.” ujar jong woon.

“seharusnya aku yang bertanya, aku yang tidak suka padamu atau kau yang tidak suka padaku.” balas kim bum.

Jong woon hanya tersenyum sinis.

“baiklah aku sibuk dan harus segera syuting, semoga kita bertemu lagi.” Ujar jong woon lalu meninggalkan kim bum.

“aiish aku hampir naik darah berbicara dengan penyanyi sok keren itu.” Kesal kim bum.

“aku tidak boleh terpancing emosi begitu saja. Kim bum ingat ! kau ini adalah fans kim so eun yang sangat setia dan baik hati. Kim so eun tidak  akan suka melihat fansnya yang mudah emosi apalagi sampai mem-base artis lain yang bekerja sama dengannnya.” Ucapnya pada diri sendiri.

###

 

Selesai syuting so eun dan managernya geun young segera pulang ke apartemen mereka. So eun langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa.

“haaah aku benar-benar tidak menyangka dia ada disana.” Gumam so eun. “kenapa harus sial begini?”

Geun young hanya tertawa mendengar keluhan so eun lalu duduk di sebelahnya setelah mengambil jus dari dapur.

“Unik, aku suka dengan fansmu.” Ujar geun young masih tertawa kecil.

“Eonni, coba saja kau pikirkan. Anak kecil saja tahu jika aku sedang syuting, kenapa dia berfikiran aku akan tertabrak sungguhan. Aaah benar-benar bodoh dan membuatku malu.” Kesal so eun.

“gwaenchana, jadikan saja itu sebagai pengalaman baru untukmu.” Balas geun young.

“mwo? Pengalaman baru? Seenaknya saja kau berbicara begitu.” Kesal so eun.

Geun young tersenyum.

“besok adalah syuting ke dua sekaligus syuting terakhir.” Ujar geun young mengganti topic.

“dimana tempatnya? Bukan tempat terbuka lagi kan? Aku tidak ingin ada orang aneh itu lagi.’ Ujar so eun.

“tenang saja, bukan di tempat terbuka.” Jawab geun young.

“baguslah kalau begitu. Aku lelah, aku ingin tidur.” So eun pun masuk ke dalam kamarnya.

Geun young hanya tersenyum kecil mengingat kejadian tadi siang. Kejadian yang sangat lucu pada artisnya.

###

 

“mau apa lagi? Mau meminta bantuan padaku yang berhubungan dengan idolamu lagi?” tanya min hyuk saat kim bum datang ke rumahnya.

“hei kau, apakah itu sambutanmu pada tamu yang berkunjung?” tanya kim bum lalu duduk di sebelah min hyuk.

“jika kau keseringan datang namanya jadi bukan tamu. Aku tahu jika kau kemari pasti  ada yang kau mau.” Ujar min hyuk.

Kim bum tersenyum. “kau tahu saja.” Balasnya.

“yasudah katakan. Ada apa?” tanya min hyuk.

“aku ingin curhat padamu min hyuk-ssi, apakah di matamu aku ini adalah seorang fans yang baik?” tanya kim bum.

Min hyuk menatap wajah kim bum lalu menggelang pertanda dari jawabannya.

“ada hal yang begitu memalukan yang menimpaku tadi siang, ah aku benar-benar bodoh. Tapi senang juga karena aku bisa memeluk kim so eun untuk yang ke dua kali.” Ceritanya sambil tertawa.

Min hyuk hanya menghela nafas mendengar cerita kim bum, ini sudah seperti makanan sehari-harinya mendengarkan kim bum berceloteh menceritakan idolanya.

“min hyuk-ssi kau tahu apa yang aku lakukan? Aku menarik kim so eun yang sedang mengambil adegan untuk syuting mv karena aku pikir ia akan tertabrak sungguhan.” Jelasnya.

“iya aku tahu, jika kau benar-benar bodoh sampai melakukan hal tersebut.” Balas min hyuk.

Kim bum hanya mengerucutkan bibirnya.

“bum-ah sebaiknya kau segera cari pacar, agar kau tidak terlalu gila dengan idolamu.” Saran min hyuk.

“aniyo, yang akan menjadi pacarku adalah kim so eun. dia adalah tipe wanita idealku.” Jawab kim bum.

“iishh…” min hyuk hanya mendesis sambil geleng-geleng kepala.

###

 

Kim bum menekan bel berkali-kali pada sebuah apartemen yang terbilang mewah. Ia ingin memberikan bungan pesanan pelanggan. Sebucket mawar mewah yang sudah di kemas indah. Tak lama si pemilik apartemen membuak pintunya.

“annyeong haseyo….” Sapa kim bum ramah sambil membungkukkan badannya tanpa sempat melihat wajah sang pemilik apartemen.

“ini bunga yang Anda pesan.” Ujar kim bum tersenyum sambil menyerahkan bunganya.

“kau…!” kaget orang itu.

Kim bum mengerutkan keningnya, orang itu melepas kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya lalu tersenyum sinis melihat kim bum. Kim bum melototkan matanya setelah tahu orang itu.

“tak di sangka kita bertemu lagi. Ternyata kau tukang pengantar bunga?” tanya orang itu.

“ne, aku adalah pengantar bunga. Dan kedua orangtuaku pemilik toko bunga. Kenapa?” tanya kim bum.

Orang yang ternyata jong woon itu tersenyum.

“kau tahu untuk siapa aku memesan bunga ini?” tanya jong woon. “untuk idolamu” lanjutnya.

Kim bum mengerutkan keningnya.

“oh ya benar, tadi kau bilang akan mendukung semua keputusan kim so eun asal itu baik kan? Berarti kau juga akan mendukungnya jika ia berpacaran denganku.” uajr jong woon.

“mwo?”

“aku rasa, saat pertama kali bertemu dengannya. Aku sudah mulai tertarik. Dia begitu cantik dan baik ternyata. Pantas saja kau menjadi fansnya.” Ujar jong woon.

“hey kau ! aku tahu kim so eun idolaku tidak akan tertarik padamu yang sombong itu.” Ujar kim bum.

Jong woon hanya tersenyum lalu mencium aroma dari sebucket bunga mawar yang ia pegang.

“terimakasih sudah mengantarkan bunga pesananku.” Ujarnya lalu masuk dan menutup pintu.

Kim bum hanya membulatkan matanya.

“hoooah benar-benar artis bermuka dua.” Kesal kim bum.

###

 

Keesokan harinya

“so eun cepatlah sedikit, kita sudah hampir telat datang ke lokasi syuting.” Teriak geun young.

“ne….arasseo arasseo…” so eun segera keluar dari kamarnya.

“lihat ! ini sudah jam 10, kita sudah telat.” Ujar geun young lalu buru-buru ke luar apartemen. So eun hanya mendengus lalu mengikutinya.

———-

“beom-ah… antarkan bunga ini ke alamat ini.” perintah ibunya.

“baiklah.” Jawab kim bum sedikit lesu karena masih terpikir perkataan jong woon kemarin. Ia mengambil bunga lalu segera mengambil sepedanya. Kim bum mengayuh sepedanya menuju alamat yang di beri ibunya.

———–

Geun young mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, mereka sudah telat 15 menit untuk ke lokasi syuting. Ini bukan sikap professional yang mereka tunjukan. Pasti semua sudah menunggu.

“eotteoke?” tanya geun young.

“sudahlah eonni, kita katakan jalannya macet saja.” Ujar so eun.

“asiih tapi ini akan tidak baik untukku dan juga untukmu yang tidak tepat waktu. Kita bisa di katakan tidak professional oleh sang sutradara, staf lain dan juga kim jong woon.”

So eun hanya menghela nafas dan akhirnya diam.

“ini juga karena kau yang bangun kesiangan.” Ujar geun young.

“mwo? eonni tahukah syuting kemarin sangat melelahkan untukku? Harus berkali-kali mengambil adegan lari. Rasanya betisku membesar.” Ujar so eun.

“aku tahu aku tahu, tapi kan kau juga harus tahu waktu.” Balas geun young.

“ini juga bukan sepenuhnya salahku,  buktinya kau juga salah karena tak membagunkanku lebih pagi.” So eun tak mau kalah.

“tapi kan…………oo…OMO…!!!!” geun young langsung meng-rem mobilnya mendadak.

“OMO….!” So eun jadi ikutan kaget karena mobil geun young telah menabrak sebuah sepeda hingga terpental.

Mereka sama-sama membulatkan mata melihat apa yang baru saja terjadi. Memang bukan hal yang baik mengobrol di dalam mobil bahkan saat mengendarai dengan kecepatan tinggi, jadinya seperti ini.

Geun young langsung ke luar dari mobil dan menghampiri orang yang tertabrak olehnya,  bahkan sepedanya sampai ringsek. Namun so eun hanya diam di dalam mobil karena ini bukan saat yang tepat untuknya keluar dari mobil tanpa persiapan, siapa tahu kan ada netizen yang berkeliaran dan mengetahui jika dia dan managernya telah menabrak seseorang. So eun hanya melihatnya dari balik kaca depan mobil.

“gwanchana?” tanya geun young panik sambil sedikit mengguncang tubuh orang yang ia tabrak itu.

Orang itu kelihatan tak berdaya, ia terkapar di jalanan dan tampak tak sadarkan diri. Lututnya terluka parah bahkan kepalanya juga mengeluarkan darah. Saat geun young membalikan wajah orang itu geun young terkejut.

“aigoooo bukankah dia fans so eun? bagaimana ini?” Pekik geun young tambah panik.

So eun yang melihat kepanikan geun young, tidak bisa berdiam diri saja di dalam mobil. So eun membawa asal mantel yang berada di jok belakang mobil lalu melingkarkan pada lehernya sampai menutupi mulut dan setengah hidungnya. So eun pun menghampiri geun young dan orang itu.

“eonni apakah  baik-baik sa….? AIGOOOO…… DIA?” kaget so eun setelah melihat wajah orang yang tak sadarkan diri itu adalah kim bum dengan lutut dan kepala bersimbah darah.

“eotteoke? Eotteoke?” panik so eun.

“jangan diam saja ! cepat bantu aku membawanya ke dalam mobil. Mumpung tidak ada orang disini.” Perintah geun young. Untunglah di jalanan ini cukup sepi sehingga tak ada orang yang melihat kejadian ini. Merasa terganggu dengan matel yang dipakai so eun untuk menutupi identitasnya so eun pun melepasnya. Ia dan geun youg dengan sekuat tenaga membopong orang yang ternyata kim bum itu ke dalam mobil. Tapi tanpa mereka sadari, ada seseorang yang melihat kejadian itu dan memfotonya.

###

 

“aku minta maaf seonsaengnim, ada suatu kejadian yang tak terduga pada kami saat dalam perjalanan.” Ujar geung young pada sang sutradara dalam telpon.

“……….”

“kami sangat menyesalkan hal itu seonsaengnim.”

“………”

“kami tak sengaja menabrak pengguna sepeda sampai terluka parah, jadi kami membawanya ke rumah sakit.”

“……….”

“baiklah kalau begitu, maaf sudah membuat kecewa. Ini juga bukan yang kami inginkan. Akan aku hubungi nanti.”

“……….”

“ne kamsahamnida.”

Sambungan telpon terputus. Geun young menghela nafas.

“bagaimana?” tanya so eun.

“syuting di undur dan akan dilakukan besok.” Jawab geun young.

“ini benar-benar merepotkan.” Ujar so eun. “kenapa harus selalu dia?” kesal so eun. kim bum adalah fans yang satu-satunya sering berurusan dengannya, benar-benar tidak bisa di duga.

“jadi apa yang harus kita lakukan pada pria ini?” tanya so eun melirik kim bum yang masih terbaring di ranjang rumah sakit lalu kembali menatap managernya.

“aku tidak tahu, aku pusing.” Jawab geun young.

So eun pun mendudukkan dirinya di kursi rumah sakit di ruangan kim bum di rawat.

“aku juga pusing dan bingung.” Ujar so eun.

Geun young ikut duduk di samping so eun.

“bagaimana jika ada yang tahu tentang kejadian ini? apakah fans-fansku akan berkurang dan balik membenciku? Atau karirku akan memburuk?” tanya so eun.

“tenanglah, semoga semuanya akan baik-baik saja, dan semoga fansmu itu tidak akan apa-apa.” Balas geun young.

“tidak apa-apa bagaimana? Dia terluka parah begitu bahkan belum sadar juga.” Ujar so eun.

“kau mengkhawatirkan fansmu?” tanya geun young.

“khawatir akan karirku kedepannya. Jika ini sampai masuk televise bagaimana jika seandainya pria ini jadi hilang ingatan atau bahkan tak sadar-sadar juga karena di tabrak artis bernama kim so eun bersama managernya” Tanggap so eun.

“arasseo.” Balas geun young.

###

 

“kemana anak itu? Kenapa belum pulang juga.” Heran ibu kim bum yang tak juga melihat kim bum kembali setelah ia suruh mengantar bunga.

“ini sudah waktunya ia menjemput sang jo ke sekolah.” Lanjutnya.

“ada apa?” tanya kim yung jae suaminya.

“kim bum, anak itu belum kembali setelah mengantar bunga.” Jawab chu seo ra.

“kenapa tidak telpon saja dia.” usul yung jae.

“ah benar, aku akan menghubunginya. Awas saja jika ketahuan ngelantur kemana-mana.” Dumel chu seo ra lalu segera menelpon kim bum.

Tut tut tut

“aiiish kenapa tidak di angkat, anak itu…….” Kesal chu seo ra. Ia pun mencoba menghubunginya lagi.

###

 

Ini sudah hampir sore tapi kim bum belum juga menunjukkan tanda-tanda ia sadar. So eun dan geun young jadi khawatir di buatnya, walaupun so eun enggan terang-terangan mengatakan khawatir akan kondisi fansnya.

“ponselmu yang berbunyi?” tanya geun young pada so eun.

So eun mengerutkan kening lalu menggeleng. Lalu mereka sama-sama melirik kea rah kim bum yang masih terbaring.

“mungkin ponselnya.” Ujar geun young. So eun mengangguk.

“apa sebaiknya kita mengangkat saja? Takutnya ada hal penting. Mungkin orang tuanya atau siapanya yang menghubungi.” Ujar geun young. So eun hanya mengangkat bahu.

————-

“hey kau….anak ini ! kenapa baru mengangkat telponnya setelah berkali-kali eomma menghubungimu?”

Geun young menjauhkan ponsel milik kim bum dari telinganya setelah mengangkat telpon.

“so eun-ah bagaimana ini? sepertinya ini ibunya? Apa yang harus aku katakan?” bisik geun young pelan. So eun hanya menggelang pertanda tidak tahu.

“yaa ! kenapa tidak berbicara?”

“ne..yeo…yeo..yeoboseyo? Apakah ini ibunya dari pemilik ponsel?” tanya geun young hati-hati.

“siapa ini? dimana kim bum?”

“maaf, kim bum yang Anda maksud anak Anda saat ini……..sedang di rumah sakit. Dia mengalami kecelakaan dan saat ini sedang berada di rumah sakit.”

“mwo? Anakku mengalami kecelakaan?”

“ne.”

###

 

“aigooo aigooo…” ibu kim bum memegangi dadanya.

“waeyo? Ada apa?” tanya yung jae menghampiri istrinya.

“kim bum, dia mengalami kecelakaan….aigooo dadaku…” panik ibunya.

“mwo? Bagaimana bisa?” kaget yung jae.

Tiba-tiba ibu kim bum pingsan di pelukan suaminya.

“ya….kenapa kau malah pingsan….” Kaget yung jae.

————

 

Kim bum perlahan-lahan membuka kedua matanya, matanya sedikit berkunang-kunang, kepalanya nyeri dan sekujur tubuhnya terasa remuk.

Ia memegangi kepalanya yang di perban. “ada dimana aku? Aku kenapa?” tanyanya. Lalu ia melihat sekeliling dan pandangannya berhenti pada dua orang wanita yang sedang duduk di sofa, mereka kelihatan sedang tidur. Kim bum menyipikan matanya.

“itu….kim so eun?” kagetnya dalam hati. Kim bum mengingat-ingat kejadian sebelumnya saat ia tertabrak.

“jadi….mobil yang menabrakku adalah……..” pikirnya. Lalu tiba-tiba ia tersenyum penuh arti.

“apakah aku harus pura-pura hilang ingatan saja? Siapa tahu kim so eun jadi perhatian padaku yang tentu saja fans nya?” gumam kim bum dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.

“dia belum sadar-sadar juga?” tanya suara seseorang tiba-tiba yang ternyata so eun.

Kim bum buru-buru kembali menutup matanya.

“sepertinya belum.” Jawab geun young.

“aiish kenapa sadarnya lama sekali.” Kesal so eun. Sedari tadi mereka masih menunggu pria ini hingga keluarganya datang.

“biar aku lihat.” Geun young pun bangkit berdiri dan menghampiri kim bum. Batulah kim bum memulai aksinya dan ia kembali membuka kedua matanya.

“ada dimana ini?” tanya kim bum seperti gumaman.

“kau sudah sadar?” tanya geun young. So eun langsung berdiri dan menghampirinya.

“akhirnya kau sadar juga.” Ujar so eun.

“apa yang terjadi? Siapa kalian?” tanya kim bum pura-pura tidak tahu seraya menatap geun young dan so eun bergantian.

So eun dan geun young saling pandang lalu membulatkan matanya menatap kim bum.

“kau tidak tahu siapa aku?” tanya so eun seraya menunjuk dirinya sendiri.

“siapa? Apakah aku mengenalmu sebelumnya?” tanya kim bum.

“eotteoke so eun-ssi? Sepertinya dia mengalami hilang ingatan.” Panic geun young. So eun jadi ikutan panic.

“ya ! masa kau tidak tahu denganku? bukannya kau fansku?” tanya so eun tak sabaran.

“fansmu?” ulang kim bum.

“ne, aku kim so eun. kau adalah fansku. Kau tidak tahu?” tanya so eun.

Kim bum menggeleng.

“so eun-ah, sepertinya dia memang hilang ingatan.” Ujar geun young.

“aiiish eotteoke?” panic so eun.

“tunggu disini, aku akan memanggil dokter dulu.” Ujar geun young.

Kim bum menciut, bagaimana jika dokter tahu jika ia hanya pura-pura hilang ingatan. Kim bum memutar cara untuk mencegah manager kim so eun memanggil dokter tapi ia tidak tahu apa yang harus ia katakan?

Belum sempat geun young keluar, tiba-tiba pintu ruangan rawat kim bum terbuka. Ada sepasang suami istri yang masuk.

“aigoooo kim bum….” Chu seo ra langsung menghambur ke arah kim bum.

“eomma? Appa?” pekik kim bum dalam hati

Geun young dan so eun mendadak semakin panik, apa yang harus mereka katakan perihal anaknya yang hilang ingatan?

“ya dasar anak bodoh, kenapa kau sampai bisa mengalami kecelakaan?” chu seo ra langsung mengintrogasi anaknya.

Kim bum diam, bagaimana sebaiknya ia bersikap? Apakah masih harus berakting di hadapan orang tuanya?

“kim bum, kau tidak apa-apa?” tanya ayahnya. Kim bum menelan ludah.

“ka…kalian siapa?” tanya kim bum.

“mwo?” chu seo ra melototkan matanya.

“kami siapa? Tentu saja orang tuamu !” jawab seo ra.

Kim yung jae segera menatap ke arah so eun dan geun young yang sedari tadi hanya diam berdiri.

 

 

“ada apa dengan anakku? Apakah kalian yang membantunya saat anakku kecelakaan?” tanya yung jae. Geun young mendadak berkeringat dingin, ini baru pertama kali terjadi padanya selama menjadi manager kim so eun. so eun dan geun young saling tatap.

“sebenarnya….kami yang tak sengaja menabrak anak Anda.” Jawab geun young.

Chu seo ra langsung menatap geun young dan so eun.

“aiish gawat, apa yang akan terjadi?” batin kim bum melihat chu seo ra yang akan menyemburkan suara cemprengnya.

“kalian yang menabrak anakku? Jadi apa yang terjadi hingga anakku tak tahu dengan orang tuanya sendiri?” marah chu seo ra, belum menyadari jika salah satu dari perempuan itu adalah kim so eun, artis idola kim bum yang sangat terkenal.

“kami juga tidak tahu, sepertinya anak Anda mengalami hilang ingatan, tapi akan kami jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ini bukanlah kesengajaan. Kami minta maaf.” Geun young merasa bersalah lalu membungkukkan badannya. Melihat so eun yang masih diam, geun young segera menarik tangan so eun untuk ikut membungkuk.

“jwieosonghamnida…kami berjanji kami akan bertanggung jawab. Sebelum anak Anda pulih kami akan tetap bertanggung jawab. Dengan cara apapun itu.” Ujar geun young.

Kim bum yang mendengar perkataan geun young tersenyum lalu

So eun menyikut lengan geun young, lalu menatapnya seakan tatapannya itu mengatakan ‘apa yang kau katakan? Jangan asal bicara dulu’

Geun young balas menatapnya. “ini jalan satu-satunya” bisiknya. So eun hanya mendengus. Ini akan menjadi masalah yang panjang. Bagaimana jika fansnya itu tak juga ingat-ingat, tentu ia harus terus berurusan dengannya.

“aigooo aigooo dadaku…..” chu seo ra memegangi dadanya yang terasa sakit.

“sayang, aku mohon jangan dulu pingsan.” Ujar yung jae segera menahan tubuh seo ra.

Chu seo ra mengelus-elus dadanya. “aku tidak mau tahu, kalian harus membuat anakku ingat kembali.”

Melihat ini kim bum jadi merasa bersalah karena sudah membohongi mereka. Ia menggigit bibirnya.

“kalian harus menjaga toko bunga kami sebagai pengganti kim bum.”ujar chu seo ra.

“MWO?” pekik so eun dan geun young bersamaan.

 

TBC

Maaf ya kalo part ini gaje banget, udah mandet idenya. Walaupun ancur tapi semoga kalian suka deh tapi jangan lupa tinggalin komen ya. Terimakasih.

BABY FACED BODYGUARD PART 16

BABY FACED BODYGUARD PART 16

 

AUTHOR: RESI R

MAIN CAST: KIM SANG BEOM DAN KIM SO EUN.

OTHER CAST: KIM YOONA, LEE SEUNG GI, JUNG IL WOO, JUNG SO MIN, KIM SOO HYUN, BAEK SUZY.

GENRE: IDK (?)

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

 

PART 16

 

“kau menyembunyikannya dariku?” marah kim bum.

Il woo masih terlihat shock. Kim bum melangkah mendekati il woo

Buuukkkk

Kim bum langsung melayangkan tinjuan ke wajah il woo dengan keras hingga il woo tersungkur dari sova. Seung gi dan soo hyun terkejut menyaksikan itu.

“KAU ?!! KENAPA TIDAK BILANG DARI AWAL ???” bentak kim bum penuh emosi lalu segera pergi.

Seung gi dan soo hyun segera menghambur (?) kepada il woo.

“il woo-ya gwaenchanayo?” tanya soo hyun.

Il woo hanya mengangguk sambil memegang sudut bibirnya yang terasa perih.

“dia tidak seharusnya menghajarmu.” Ujar seung gi.

“gwaenchana, wajar saja dia memukulku. Karena aku pantas untuk di hajar olehnya. Aku sudah salah karena menyembunyikannya sendirian.” Ujar il woo.

Seung gi dan soo hyun hanya menatap il woo khawatir.

###

“kenapa jadi sulit begini?” frustasi kim bum.

“arghh benar benar tidak di mengerti ! jadi selama ini hanya kebohongan !” terikanya kesal.

Ia mendesah hebat. Pikirannya sedang kalut saat ini. Disaat ia mengakui benar-benar sudah jatuh cinta dan hubungan mereka terbilang sudah baik tapi kenapa masalah datang lagi. Dan masalah ini adalah masalah yang disembunyikan so eun darinya. Kim bum tak habis pikir.

“kau membuatku gila !” frustasi kim bum yang ia tunjukan pada so eun.

Drrrt drtttt ddrrtt

Ponselnya bergetar, kim bum tidak ada minat untuk mengangkatnya. Tapi ini sudah ke lima kalinya ponsel itu bergetar. Kim bum menyerah, ia merogoh ponselnya dan tertera nama so eun disana. Tanpa pikir panjang kim bum langsung mengeluarkan baterai dari ponselnya. Tidak ingin mengangkat telpon dari so eun. Kim bum langsung menonaktifkannya.

“aih kenapa tidak di angkat.” Kesal so eun.

Saat ia mencoba menghubunginya lagi, ponselnya malah tidak aktif.

“dia benar-benar ingin mati rupanya ! bagaimana ini? sebentar lagi tuan dan yonya kim akan segera tiba di bandara. Aku harus menjemputnya dan tentu saja harus dengannya.” Dumel so eun.

“benar-benar merepotkan.” Gerutu so eun yang ia tujukan pada kim bum.

So eun pun memilih untuk menghubungi il woo.

 

“yeoboseyo…il woo-ssi”

“o..oh..so eun-ssi.”

“il woo-ssi apa kau sedang bersama kim bum?”

“…….”

“il woo-ssi.”

“oh ne? aniyo aku tidak sedang bersamanya. Waeyo?” sebenarnya il woo khawatir apa yang akan terjadi antara kim bum dengan so eun.

“aku menghubungi ponselnya tapi tak juga dia angkat, lalu tiba-tiba ponselnya tidak aktif.”

“oh begitu.”

“yasudah kalau dia tidak bersamamu, annyeong.”

so eun segera menutup ponselnya.

“kemana dia itu?” kesalnya.

Il woo masih menempelkan ponselnya di telinga. Apa yang harus ia lakukan? Apa ia cerita saja pada so eun apa yang terjadi? Kemudian perihal dirinya yang bersikap pura-pura tidak tahu mengenai umur so eun yang sebenarnya. Il woo menghela nafas lalu menurunkan ponselnya dari telinga. Satu tangannya lagi memegang secarik kertas. Itu adalah kertas yang kim bum tinggalkan di markas atau tak sengaja terjatuh di markas. Lirik lagu yang kim bum buat sendiri. Il woo tahu kim bum datang untuk meminta bantuannya memberi nada pada lagu ciptaanya. Il woo benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan. Ia menatap kertas yang di genggamnya. Bagaimana pun juga, mau apa masalahnya il woo harus menyelesaikannya dengan kim bum. Tapi untuk saat ini mungkin belum bisa. Tapi hanya ini yang bisa il woo lakukan, mencoba membuat nada dan ritme untuk ciptaan perdana lagu kim bum. Apalagi setelah il woo membacanya.

 

Confession

처음부터 느꼈죠. 나는 그대에게 빠져버렸죠 사랑을 하게 된거죠
그대를 때마다 마음 숨기기 어려웠어요. 항상 표현하고 싶었는데

내겐 욕심인가요 그댈 사랑하는게 그렇게도 힘든건가요

언제나 그대 원하고 있죠 혹시라도 우린 사랑할 없나요
힘들겠지만 그댈 위해 참아야만 하겠죠 그대만을 사랑해요

이젠 없겠죠 내가 떠나가야 이시간이 다가왔어요

언제나 그대 원하고 있죠 혹시라도 우린 사랑할 없나요
힘들겠지만 그댈 위해 참아야만 하겠죠 그대만을 사랑해요

잠시동안이라도 함께하고 싶은데 우~

언제나 그대 원하고 있죠 혹시라도 우린 사랑할 없나요
힘들겠지만 그댈 위해 참아야만 하겠죠 그대만을 사랑해요
우~ 그대만을 사랑해요

cheoeumbuteo neukkyeotjyo.

naneun geudaeege ppajyeobeoryeotjyo sarangeul hage doengeojyo.
geudaereul bol ttaemada nae maeum sumgigi eoryeowosseoyo.

 hangsang pyohyeonhago sipeonneunde.

naegen yoksimingayo geudael saranghaneunge geureokedo himdeungeongayo.

eonjena geudae nan wonhago itjyo hoksirado urin saranghal su eomnayo.
himdeulgetjiman nan geudael wihae chamayaman hagetjyo nan geudaemaneul saranghaeyo.

ijen bol su eopgetjyo naega tteonagaya hal isigani dagawasseoyo.

eonjena geudae nan wonhago itjyo hoksirado urin saranghal su eomnayo.
himdeulgetjiman nan geudael wihae chamayaman hagetjyo nan geudaemaneul saranghaeyo.

jamsidonganirado hamkkehago sipeunde u~

eonjena geudae nan wonhago itjyo hoksirado urin saranghal su eomnayo.
himdeulgetjiman geudael wihae chamayaman hagetjyo nan geudaemaneul saranghaeyo.
u~ nan geudaemaneul saranghaeyo.

Ia tahu betul jika lagu ini ingin ditujukan untuk siapa. “mianhae bummi ssi.” Ujarnya.

Il woo pun mulai mengambil gitarnya.

###

So eun ingat sesuatu. Ia belum membuka apa yang kim bum berikan padanya. So eun pun berjalan ke arah meja tempat benda itu disimpan. Perlahan so eun  membukanya, dan isinya adalah sebuah boneka beruang berwarna putih. So eun pun mengeluarkannya dan tersenyum melihatnya.

“lucu sekali.” Ujarnya.

Boneka itu tampak sedang memegang sebuah hati berwarna merah. Tentu saja so eun menyernyit bingung melihatnya. Apalagi setelah melihat tulisan yang tertera pada sebuah hati yang di pegang boneka itu.

Saranghae

“apa maksudnya ini?” tanyanya bingung.

So eun mengerjapkan matanya berkali-kali. “jadi dia sudah benar-benar menyukaiku? jatuh cinta padaku?” pekik so eun. Bodohnya ia karena baru menyadarinya sekarang. Lalu memangnya apa yang selama ini ada di pikirannya saat kim bum selalu menyuruhnya menggerai rambut dan berpakain secara nonformal. Menciumnya secara tiba-tiba pertama kali lalu mengajaknya berkencan. Lalu kim bum bahkan sudah menciumnya tiga kali dan parahnya so eun sempat membalasnya. Lebih parahnya lagi so eun tidak begitu paham dengan semua itu, karena memang sikap kim bum yang selalu berubah-rubah tanpa diduga. Ia sendiri heran dengan dirinya, mana mungkin tidak sepeka ini. so eun akui ia mulai merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya. Ia masih ragu apakah sudah jatuh cinta pada kim bum atau hanya perasaan sesaat saja?

“jadi….dia menembakku secara tidak langsung?” pikir so eun.

###

So eun sudah tiba di bandara tanpa kim bum. Ia menunggu disana hingga pintu kedatangan dari luar negeri di buka. Dengan segera so eun pun mencari sososk tuan dan nyonya kim. Tak lama ponselnya berdering. Sudah pasti itu adalah tuan kim. So eun pun dengan cepat mengangkatnya.

“……”

“ne, aku sudah ada di bandara tuan.”

“…….”

“ne aku mengerti.”

So eun memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jas.

Tak lama ia menemukan sosok tuan dan nyonya kim yang berjalan ke arahnya. So eun pun segera menghampiri mereka dan membungkukan badan memberi hormat.

Tuan kim tampak tersenyum, tapi berubah menjadi heran.

“annyeong haseyo tuan nyonya. ” Sapa so eun.

“dimana kim bum?” tanya tuan kim.

Tenggorokan so eun terasa kering seketika.

“oh…tu..tuan muda. Dia….. sedang bersama teman-temannya, jadi aku pikir cukup aku saja yang menjemput tuan dan nyonya.”dusta so eun sambil tersenyum kikuk.

“anak itu…’ ujar tuan kim.

“pasti tuan dan nyonya lelah selama di perjalanan, sebaiknya kita segera pulang.” Ujar so eun dan membantu menyeret koper milik mereka. Tuan kim hanya mengangguk.

“so eun-ssi…kau terlihat cantik.” Puji nyonya kim sambil tersenyum.

So eun tersipu malu. “oh…gomawo.” Jawabnya malu.

“bagaimana dengan sikap kim bum selama kami tidak ada?” tanya tuan kim saat mereka sudah berada di dalam mobil.

“tuan muda….menjadi lebih baik. Dia tak lagi sering berkelahi seperti pertama kali aku menjadi bodyguardnya.” Jawab so eun.

“apa kau merasa kesulitan menjaga anakku?” tanya nyonya kim.

“hanya sedikit.” Jawab so eun diikuti tawa renyah.

Tuan dan nyonya kim pun ikut tertawa.

“sikap anak itu memang sulit di duga. Aku harap selama aku tidak ada dia bersikap baik padamu. Kim so eun kau tahu sendirikan bagaimana sikap anakku.” Ujar tuan kim.

“hmmmm, aku rasa tuan muda sudah bersikap baik padaku.” jawabnya.

###

“abeoji…..eommeoni…” kaget kim bum saat melihat kedua orang tuanya ada di rumah.

“ya bum-ah kau ini kenapa baru pulang?” tanya ayahnya.

Kim bum tak mengindahkan pertanyaan ayahnya. Begitu terkejut melihat orang tuanya yang sudah tiba di rumah, kapan mereka pulang ke seoul?

“kapan kalian pulang?” tanya kim bum.

“waeyo? Kau tak senang kami sudah pulang?” tanya balik ayahnya.

Kim bum mendesah. “bukan seperti itu, tapi kenapa abeoji tidak menghubungiku dulu?” tanya kim bum.

Tuan kim hanya mengerutkan keningnya.

“so eun bilang kau sedang bersama teman-temanmu.” Balas ibunya.

Kim bum terdiam setelah mendengar nama so eun. Lalu segera pergi menuju kamarnya. Tuan kim dan nyonya kim hanya memandang kim bum aneh.

###

“kenapa kau tak mengangkat telpon dariku? Kau  malah menonaktifkannya.” Ujar so eun yang membuat kim bum mengurungkan niatnya masuk ke dalam kamar. Kim bum beralih menatap so eun.

“kau pandai sekali berpura-pura.” Balasnya dingin tanpa mengindahkan pertanyaan so eun.

So eun mengerutkan keningnya. “maksudmu?”

“aku kecewa padamu Kim-So-Eun.” Jawab kim bum dengan penekanan saat menyebut nama so eun.

So eun meringis. “tuh kan, sikapmu itu tak awet. Selalu berubah-rubah tanpa sebab. Menyebalkan, menyenangkan, dan sinis begini.” Ujar so eun.

“lalu siapa orang yang membuatku berubah-ubah begini?” tanya kim bum menatap lurus mata so eun.

“baiklah, aku minta maaf jika kau marah karena aku. tapi bisa kau ceritakan dulu kenapa kau marah?” tanya so eun.

Kim bum diam sejenak untuk mengamati wajah so eun.

“ternyata memang benar dugaanku selama ini, ketika pertama kali aku bertemu denganmu aku tidak yakin jika kau lebih tua dariku. Dan ternyata semua itu benar, jika kau berbohong.” Ujar kim bum.

So eun melototkan matanya.

“bummi-ssi, a…apa yang kau katakan?” kaget so eun.

“kenapa kau berbohong !?” kim bum tiba-tiba membentak. So eun kaget dibuatnya.

“selama ini kau membohongi dirimu padaku? apa maksudnya semua ini? umurmu bukan 25 ! tapi umurmu sama denganku !” bentak kim bum.

So eun benar-benar kaget, seakan jantungnya ingin keluar. Bagaimana bisa kim bum tahu? So eun tidak bisa berkata apa-apa.

“sebenarnya apa motifmu menipuku? Bahkan menipu kedua orang tuaku dengan memalsukan identitasmu? Apa kau tidak punya harga diri?” bentak kim bum. So eun benar-benar sedih saat kim bum mengungkit masalah harga diri tapi ia tidak bisa membalas. Matanya mulai berkaca-kaca.

“aku benar-benar tidak habis pikir, kau menyembunyikannya selama ini dengan baik.” Sindir kim bum.

“kim bum-ssi…aku…” ujar so eun.

“mwo? Kau ingin bicara?” tanya kim bum sinis.

“mianhae…aku benar-benar minta maaf.” So eun menundukkan kepalanya, air matanya mulai menggenang.

“kau sudah menyakiti perasaanku ! tidakkah kau tahu? Selama ini aku menyukaimu ! aku benar-benar kecewa.” Aku kim bum.

“kim bum-ssi.”

“sepertinya aku tidak butuh seorang bodyguard lagi, kau bisa pergi dari rumah ini secepatnya.” Pinta kim bum.

So eun diam, kim bum pun berbalik menuju kamarnya. Tapi so eun dengan cepat menahan tangan kim bum.

“kim bum-ssi aku mohon maafkan aku ! semua ini aku lakukan karena terpaksa, aku…..” so eun menghentikan ucapannya saat kim bum menarik kerah bajunya. Sikap kim bum jadi kasar begini pada so eun. Sangat berbeda.  So eun tak bisa membendung air matanya lagi.

“kau pikir semudah itu aku memaafkanmu disaat perasaanku terluka!?” tanya kim bum tajam masih mengangkat kerah baju so eun.

“kim bum-ssi aku…aku tidak bisa bernafas…aku mohon…lepaskan aku…” pinta so eun susah payah.

Mata kim bum mulai berair karena marah, ada perasaan sedih juga yang meliputi hatinya. Kenapa harus seperti ini?

“kau benar-benar membuatku marah !” kim bum pun melepaskan cengkramannya di kerah baju so eun dengan keras. Sehingga so eun sedikit mundur ke belakang. Kim bum kembali berbalik arah.

“pergilah ! sebelum aku benar-benar sakit hati !” suruh kim bum membelakangi so eun, ia pun langsung saja masuk ke dalam kamarnya, sementara so eun masih di tempat sambil menangis.

Tanpa mereka sadari, dari tadi tuan kim mendengar dan menyaksikan pembicaraan mereka. Tuan kim cukup tercengang mendengarnya, mendengar jika so eun sudah berbohong. Ia merasa di khianati selama ini. padahal ia sudah percaya pada so eun untuk menjaga kim bum.

###

So eun menunudukkan kepalanya. Saat ini ia sedang duduk menghadap tuan kim di ruangannya.

“jadi apa semua itu benar?” Tanya tuan kim.

So eun masih diam.

“kim so eun, aku sangat percaya padamu. Tapi kenapa kau malah mengkhianati kami?” Tanya tuan kim.

“ma…maafkan aku…maafkan aku tuan kim.” Mohon so eun.

“kenapa kau tak jujur saja dari awal so eun-ssi? Apa alasanmu membohongi kami dan memalsukan identitasmu?” Tanya tuan kim.

So eun terlihat menghela nafasnya, ia ingin biacara tapi mulutnya terasa di kunci. Akhirnya so eun pun hanya bisa diam dan menunduk.

“baiklah, sepertinya tidak ada yang bisa kau jelaskan. Kalau begitu dengan berat hati aku memutuskanmu untuk berhenti menjadi bodyguard anakku.” Keputusan tuan kim itu membuat so eun mengangkat wajah, ia terkejut.

So eun akui ini memang salahnya dari awal. Dia sendiri yang sudah membohongi mereka. Baru saja so eun hendak membalas perasaan kim bum, tapi apa yang terjadi? Kim bum tidak ingin mendengarnya. So eun tahu betapa kecewanya kim bum karena dirinya.

“kau sudah mendengar kan? Kim bum sepertinya tidak membutuhkan bodyguard lagi. Bagaimana pun juga aku mengucapkan terima kasih padamu sudah menajaga anakku, tapi aku juga kecewa karena kau membohongi kami. Sekarang kau bisa pergi dari sini !” suruh tuan kim.

###

Kim bum memerhatikan so eun dari balik jendela kamarnya. So eun tengah mengeret koper kecil dan berjalan pergi dari rumah tuan kim dengan lesu. Kim bum menatapnya hampa.

“kau sudah menyakiti perasaanku.” Lirihnya masih memerhatikan so eun.

###

“So eun?!” kaget yoona yang melihat adiknya pulang seraya membawa koper kecil.

Tanpa basa-basi so eun langsung menghambur ke pelukan kakaknya. So eun menangis.

Yoona cukup terkejut, tapi heran juga kenapa so eun tiba-tiba pulang.

“so eun-ah….apa yang terjadi?” Tanya yoona sambil mengelus punggung so eun.

Sso160

“hiks…….hiks…hiks….” so eun tak menjawab.

“so eun-ah….gwaenchana…menangislah…setelah itu cerita padaku.” Ujar yoona.

————-

“apa? jadi mereka sudah tahu identitasmu yang sebenarnya?” pekik yoona setelah so eun menceritakan semuanya.

So eun mengangguk pelan.

“sudah aku katakan dari dulu, tak seharusnya kau nekad bekerja menjadi seorang bodyguard bahkan memalsukan identitasmu, jadilah begini akibatnya.”

So eun hanya terdiam.

“sudahlah jangan di pikirkan lagi, yang penting sekarang mereka sudah tahu dan masalahnya sudah selesai. Sekarang lebih kau bantu eonni di butik.”

“tapi…aku sudah menyakitinya.” Lirih so eun.

Yoona mengerutkan keningnya.

“aku sudah jatuh cinta padanya.” Ujar so eun.

Yoona yang mendengar tidak percaya. “so eun, kau…jatuh cinta pada anak tuan kim?” kaget kakaknya.

So eun mengangguk. “dan aku sudah membuat perasaanya sakit.”

Yoona menatap adiknya iba.

###

Sudah sekitar 1 minggu so eun tak lagi menjadi bodyguard kim bum. Kim bum benar-benar merasa kehilangan, tak ada lagi yang mengantarnya, menjemputnya, mengomelinya, bahkan hatinya jadi sepi. Kim bum menghela nafas.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada telpon dari nomor tak di kenal. Kim bum menatapnya bingung, saat ia akan mengangkat tapi ponselnya sudah berhenti bergetar. Aneh.

————-

Seorang pria yang tengah duduk di kursi kayu itu menatap ponselnya lalu menyeringai.

“akhirnya aku menemukanmu.” Ujarnya sambil menggenggam ponsel itu erat.

“jadi bodyguardnya itu seorang perempua bernama kim so eun?” tanyanya pada ke dua anak buah yang duduk di hadapannya.

Kedua anak buahnya itu mengangguk. “pantas saja dia selalu lolos dalam kejaranku, sudah berapa orang yang aku suruh untuk menghabisinya tapi selalu gagal.” Ujarnya kesal.

“tapi tenang saja, pasti rencana kita akan berhasil kali ini.” Ujar salah satu anak buahnya.

Pria itu tersenyum menang. “kali ini aku tidak akan membiarkannya lolos. Kim-sang-beom kau akan habis sekarang.” Seringainya.

###

Ponsel milik kim bum kembali berdering, ia mendesah. Yang menghubunginya adalah nomor tak di kenal yang sama seperti tadi. Dengan malas ia pun mengangkatnya.

“yoboseyo.” Ujar kim bum.

“………” tidak ada suara.

“yoboseyo.” Ulang kim bum.

“sudah lama tidak bicara denganmu kim sang beom.”

Kim bum mengerutkan keningnya. “nuguseyo?” tanyanya.

“pasti kau sudah lupa denganku.”

“ya sebenarnya kau siapa?”

“kim so eun-bodygardmu sedang bersama kami, jika kau ingin dia selamat datanglah ke……….”

“so eun? Ya ! apa maksudmu?”

Tut tut tut sambungan langsung terputus.

Kim bum mencoba menghubungi nomor itu lagi, tapi sudah tidak aktif. Kim bum kesal, ioa mulai kelihatan gelisah. “siapa sebenarnya orang itu?” pikir kim bum. “so eun…? kenapa orang itu mengenalnya? Sebenarnya apa yang terjadi?” paniknya.

Tanpa pikir panjang kim bum pun segera berjalan keluar kamarnya, tujuannya sekarang adalah ke alamat yang di sebut orang itu.

———-

Kim bum sudah sampai di tempat yang di tuju dengan nafas yang tak beraturan. Ia benar-benar takut akan so eun yang menjadi sandraan. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah tapi tak ada siapa-siapa disana. Kim bum tambah gelisah.

“so eun-ah……..so eun-ah……..!” teriaknya. Tapi tiba-tiba lehernya di hantam oleh sesuatu yang keras dari arah belakang, ia sempat menoleh ke belakang. Siapa yang melakukannya? Tapi ia keburu tak sadarkan diri. Karena semuanya menjadi gelap.

###

So eun sedang membantu yoona di butik. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada telpon masuk dari il woo.

“yoboseyo.” Jawab so eun.

“so eun-ssi ini gawat !”

“ada apa il woo-ssi?”

“kim bum.”

“ada apa dengan kim bum?” so eun jadi mulai panic.

“ada seseorang yang mengirim pesan kepada kami, bahwa kim bum sekarang sedang di Sandra.” Il woo tidak tahu jika so eun sudah tidak lagi menjadi bodyguard kim bum.

“mwo?” pekik so eun.

“lalu sekarang dia ada dimana?” Tanya so eun panic.

“kami sedang mencarinya. Kami mohon bantuanmu karena kau bodyguardnya. Orang itu memberitahu kami kalau kim bum bersama mereka di……….”

“aku…….”

“so eun-ssi tidak ada waktu lagi……maaf aku harus menutup telponnya.”

So eun masih shock. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kim bum?

###

Ruangan ini kecil, gelap dan berantakan. Kim bum baru sadarkan diri, setelah matanya terbuka ia tak mengenal tempat ini. Kim bum duduk di kursi kayu dengan tangan yang terikat. Ia menatap geram pria di hadapannya yang tengah menyeringai. Tatapannya seolah mengartikan ‘aku akan menghabisimu sekarang, kau sudah menyangkut pautkan so eun !’. Kim bum memerah, ia sudah mencoba bersabar dan menelan kembali bulat-bulat amarahnya. Lelaki menyebalkan yang ada di depannya tiba-tiba muncul lagi.

Kim bum mengatupkan mulutnya, mencoba agar suaranya tak membuncah begitu saja. Percuma jika ia berteriak dengan orang yang sama sekali sudah tidak punya urusan dengannya.

“sudah lama kita tidak bertemu.” sapa orang itu dengan sikap ramah yang dibuat-buat. Kim bum merasa mual di perutnya, rasanya ia ingin muntah di wajah orang itu. Kim bum tak menyahut. Ia hanya menatap tajam orang itu dan semakin mengeratkan rahangnya. Berusaha menahan emosi yang akan meluap dari dirinya.

“kenapa menatapku seperti itu? Tidak benar ! Seharusnya aku yang mesti menatapmu seperti itu kim sang bum.” ujar orang itu tersenyum sinis. Ia mengambil kursi lalu meletakannya di depan kim bum. Kemudian orang itu duduk berhadapan dengannya. Kim bum merasa jijik melihat orang itu yang tersenyum sinis. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain dengan otot-otot yang semakin menegang di sekujur tubuhnya. Jika tangannya tak terikat, mungkin kim bum sudah menghajar orang itu. Mungkin sampai masuk rumah sakit.

“kau…masih ingat kan dengan joo mi. Woo joo mi. Tidak mungkin kau lupa.” ujar orang itu yang kini berubah menjadi serius.

Kim bum memutar bola mata, menatap wajah muram orang itu saat menyebut nama joo mi. Kim bum tersenyum sinis.

“aku tidak menyangka. Ternyata orang-orang yang mengejar dan menghajarku selama ini adalah suruhanmu. Benar-benar menjijikan.” kim bum menatap tajam mata orang itu. Semakin mengeraskan rahangnya. Masih berusaha agar mulutnya tak berteriak.

“hahahaha” orang itu hanya tertawa seperti orang gila, lalu mendekatkan wajahnya pada kim bum. Kim bum semakin menguatkan rahangnya.

“Joo mi adalah kekasihku. Saat SMA. Tapi, tiba-tiba ia memutuskan hubungannya denganku.” ujar orang itu.

Kim bum menatapnya, dari matanya mengartikan seperti ia bertanya ‘lalu? Apa urusannya denganku?’.

Orang itu terlihat menghembuskan nafas, lalu kembali menyeringai.

“aku benar-benar mencintainya, bahkan sampai sekarang. Dan kau tahu? Apa alasannya joo mi memutuskan hubungannya denganku secara tiba-tiba?” tanya orang itu, padahal kim bum tidak tahu menahu sama sekali. Ia mengerutkan keningnya.

“karena dia tergila-gila padamu ! Padamu yang tampan, kaya, dan populer ! Hahaha itu membuatku gila !” teriak orang itu dan tertawa seperti orang yang habis mabuk.

Kim bum melototkan matanya. Tak terima mendapat bentakan dari orang semacam dia !

Kim bum ingat. Woo joo mi. Woo joo mi adalah seorang gadis lugu yang satu sekolah dengannya saat SMA. Sama dengan orang memuakkan yang ada di hadapannya.

“waktu itu dia memohon padaku karena ia bilang itu adalah permintaan terakhinya. Aku tidak mengerti apa maksudnya permintaan terakhir itu. Tapi ia memohon dan meminta padaku agar hubungan kita selesai. Ia bilang jika ia mengagumimu dan tergila-gila padamu. Mendengar permohonannya itu, tenggorokanku terasa tercekat dan oksigen yang ada di sekitarku seperti menipis. Aku tidak tahu apa yang harus ku katakan. Dia bilang jika aku ingin melihatnya bahagia, jadi mohon kabulkanlah permintaannya. Aku tahu ini memang bodoh, tapi karena aku sangat mencintainya aku pun merelakannya agar ia bisa mengejarmu. Walaupun nyawaku terasa di cabut oleh malaikat pencabut nyawa tapi yang aku pikirkan adalah bagaimana agar bisa membuatnya bahagia. Hanya itu saja. Dan akhirnya hubungan kami yang hampir berjalan 6 bulan pun berakhir. Saat itu ia mulai mendekatimu, berusaha akrab denganmu, berusaha membuatmu melirik padanya. Mencoba untuk menarik perhatianmu agar tertarik padanya. Tapi apa sikapmu padanya? Kau bagaikan pangeran es yang sulit untuk meleleh. Bahkan sampai bersikap kasar padanya. Aku berjanji tidak akan memaafkan siapa pun yang telah menyakiti hati joo mi, termasuk diriku sendiri. Mendapat perlakuan dingin dan kasar darimu ia menangis. Suatu hari ia sakit dan di rawat di rumah sakit. Aku benar-benar khawatir dan pergi menjenguknya. Apa yang aku dengar? Ternyata selama ini aku baru tahu jika joo mi mengidap penyakit leukimia. Bahkan sudah stadium akhir. Sisa hidupnya hanya beberapa minggu lagi. Aku benar-benar pria yang tidak becus, merasa diriku tidak berguna. Aku sempat depresi memikirkannya saat kondisinya semakin memburuk. Suatu hari ia ingin berbicara denganku. Ia minta sebagai permintaan terakhirnya untuk memberitahumu jika ia benar-benar ingin bertemu denganmu, ia ingin kau menjenguknya. Walaupun hatiku rasanya seperti tersayat ribun silet, tapi aku menyanggupi. Untuk terakhir kalinya aku ingin melihatnya bahagia. Sampai aku terus memaksamu untuk ikut denganku menjenguk joo mi. Sudah beberapa usaha yang aku lakukan tapi tanggapanmu sama-sama saja. Dingin dan tak peduli. Kau seperti manusia yang tak memiliki hati. Aku marah, tapi percuma. Sampai akhirnya joo mi meninggal dan aku tak bisa mengabulkan permintaan terakhirnya. Mulai saat itu aku sangat terpukul, aku tidak bisa berhenti menangis. Dan rasa benci mulai menghampiriku. Rasa benci padamu. Semakin hari semakin bertambah dan tak pernah berkurang. Aku benar-benar membencimu ! Membencimu kim sang bum !” cerita orang itu, ia tidak berteriak sama sekali tapi wajahnya muram dan tatapan benci menyelimuti dirinya pada kim bum.

Selama ini kim bum tidak menyangka jika ternyata ceritanya begini, benar-benar menyedihkan dan juga mengharukan. Ada rasa bersalah padanya walaupun sedikit. Ia tidak tahu jika masalahnya akan seperti ini. Sekarang ia menjadi iba pada lelaki di hadapannya.

—————

So eun berlari kesana-kemari. Terus mencari sosok kim bum setelah sampai di tempat yang il woo maksud, nafasnya sudah habis karena terus berlari. So eun berhenti dan memegangi lututnya, ia menarik nafas berkali-kali.

“kim bum-ssi ! kim bum-ssi !” teriaknya.

Tapi ia tak melihat siapa-siapa. Tapi pandanganya berhenti di sebuah bangunan kecil di dekat sana.

“kim bum-ssi………” teriaknya lagi lalu mencoba berlari menuju bangunan itu.

—————

“alasan kau balas dendam padaku karena itu?” tanya kim bum.

Orang itu tersenyum sinis dengan arti ‘kau masih bertanya?’

Orang itu menghembuskan nafasnya berkali-kali dan mengepalkan ke dua tangannya erat-erat.

“lepaskan ikatannya ! Aku ingin menghabisinya sekarang juga dengan tanganku sendiri !” perintah orang itu pada dua pria yang sedari tadi hanya berdiri di antara mereka. Kedua pria itu menurut tanpa banyak bicara dan langsung melepaskan tali yang mengikat kuat tangan kim bum. Belum apa-apa, orang itu sudah melayangkan tinjuan ke wajah kim bum hingga tersungkur ke lantai dan kursi tersebut sedikit terpental. Kim bum tahu tak lama ia akan segera di habisi. Kim bum memegangi wajahnya yang terasa nyut-nyutan. Orang itu berjongkok lalu menarik kerah baju kim bum hingga ia ikut berdiri. Orang itu kembali meninju kim bum tepat di muka tanpa melepas cengkramannya, ia tak mau memberikan celah sedikitpun untuk kim bum membalas. Entah kenapa kim bum hanya pasrah, ia tidak bisa membalas sedikit pun.

Nafas orang itu semakin membara, wajah kim bum sudah memar dan sedikit terluka. Kim bum meringis menahan sakit.

“aku akan membuatmu tersiksa ! Aku akan membuatmu mati dengan tanganku ! Ingat itu !” orang itu berteriak dan hendak melayangkan kembali tinjuannya. Tapi kim bum dengan cepat menepisnya.

“pikirkan perkataanmu ! Sebelum kau menyesal ! Aku yakin joo mi tidak akan senang melihatmu seperti ini.” ujar kim bum setenang mungkin.

Mata orang itu melotot seperti ingin keluar.

“apa?! Baru kau berbicara begini setelah ia meninggal? Aku tidak akan melepaskanmu. Mati di tanganku kau sekarang juga !!!” teriak orang itu sampai urat-urat di lehernya seperti akan putus. Orang itu semakin menghajar kim bum habis-habisan, sampai kim bum tersungkur dan terkapar di lantai. Anehnya, kim bum tak bisa berbuat apa-apa. Kini kondisinya buruk. Wajahnya benar-benar memprihatinkan. Darah keluar dari mulut dan hidungnya, pelipisnya juga sedikit sobek. Entahlah apa jadinya dia disaat orang itu sekarang masih menghajarnya seperti kerasukan setan. Kim bum merasa di sekelilingnya berputar-putar, sepertinya ia benar-benar akan mati di tangan orang ini.

“sudahlah bos, lebih baik hentikan !” pinta salah satu pria yang ada disana berusaha mencegah tangan orang itu yang hendak memukul perut kim bum.

“diam kau ! Diam !” bentaknya. Pria itu pun hanya bisa mengalah dan menghindar.

“bos nanti kau akan masuk penjara.” ujar pria yang satunya lagi.

Sejenak orang itu berhenti memukul kim bum dengan nafas yang tersengal-sengal penuh emosi.

“aku di penjara, dia mati pun tidak akan bisa membayar kematian joo mi.” ujarnya depresi.

Tiba-tiba ia berteriak “arghhh . . . . . . !!!” dan berdiri.

Kim bum sendiri terlihat meringis kesakitan, tubuhnya terasa remuk. Orang itu berjalan entah kemana, kim bum berfikir orang itu tidak akan membunuhnya. Tapi sesaat kemudian, orang itu kembali dengan tongkat baseball di tangannya. Ia maju dan berdiri tak jauh dari kim bum yang masih tersuruk di lantai dengan wajah penuh darah.

Orang itu terlihat mengangkat tongkatnya.

“sekarang juga ! Kau akan mati !” teriak orang itu dan siap melayangkan tongkatnya pada kim bum.

Tiba-tiba ‘brak’ terdengar suara pintu terbuka, suara seseorang yang berlari mendekat, dan ‘bug !!!’ tongkat baseball yang di layangkan ke kepala kim bum menghantam punggung seseorang dengan keras. Suaranya begitu kasar dan menyakitkan. Pukulannya yang benar-benar kuat membuat orang itu terhenyak dan jatuh ke pelukan kim bum. Kim bum merasa jantungnya berhenti berdetak, setelah melihat siapa orang yang mendapat hantaman di punggungnya. Kim bum memelototkan matanya.

“s…so eun !” teriaknya panik bercampur khawatir. Kim bum menangkap tubuh so eun dengan tangannya. So eun memang sudah terjatuh di atasnya, di dekapannya. So eun terlihat susah payah membuka mulutnya.

“bum-ssi . . . .g, gwaenchana? M, mianhae.” ucap so eun dengan sangat susah payah. Kim bum bisa merasakan betapa sakitnya hantaman itu, ia tidak bisa membayangkan bagaimana so eun menahan rasa sakit itu. Kim bum semakin erat memeluk so eun lalu mencengkram bahunya.

“kenapa kau datang ke sini !” teriak kim bum, namun bukan teriakan marah. Tapi teriakan cemas, khawatir, yang campur aduk menjadi satu. So eun tak berkata apa-apa lagi.

“bertahanlah.” bisik kim bum. Lalu ia menatap tajam ke arah orang itu yang sudah menjatuhkan tongkatnya. Terlihat raut wajah menyesal. Kim bum tak lagi bisa menahan amarahnya setelah melihat apa yang terjadi pada so eun. Ia menatap tajam orang itu, sangat tajam dengan mata yang berkilat-kilat seolah mengartikan ‘kau akan tahu akibatnya jika menyakiti wanita ini’.

Perlahan kim bum duduk dan berdiri. Rasa sakit di sekujur tubuhnya digantikan dengan amarah yang meluap-luap.

“KAU ! Kim Jong Woon !!!!” teriak kim bum sampai urat-uratnya menegang. (aduh bingung mau pakai nama siapa, yaudah deh pinjem nama abang kesayangan. Maaf ye bang ngeksis dikit#ish ganggu… lanjut yuk!)

Dengan emosi yang menggebu-gebu kim bum menghajar orang yang bernama jong woon itu tanpa ampun. Ia tidak akan tinggal diam setelah apa yang dilakukan jong woon pada so eun.

Jong woon tersungkur di lantai dan wajahnya sudah membiru.

“ARGHHH . . . . . . . . !” tenaga kim bum sudah terkuras dan ini tinjuan yang paling keras. Kedua pria suruhan jong woon langsung menghentikan kim bum dan melindungi jong woon. Kim bum memang tidak ada niat memukul orang itu sampai mati. Tapi, ini saja mungkin sudah cukup. Ia mengatur nafasnya, antara mengatur emosi dan juga lelah. Ke dua pria itu langsung membawa jong woon pergi. Seketika itu juga kim bum langsung menghambur ke arah so eun dan mengangkat tubuhnya ala bridal style dengan hati-hati. Kim bum juga berusaha menahan sakit di sekujur tubuhnya.

“so eun-ah bertahanlah !” ujar kim bum lalu segera berjalan sekuat tenaga membawa so eun keluar dari ruangan gelap dan berantakan itu.

TBC

BABY FACED BODYGUARD PART 15

BABY FACED BODYGUARD PART 15

 

AUTHOR: RESI R

MAIN CAST: KIM SANG BEOM DAN KIM SO EUN.

OTHER CAST: KIM YOONA, LEE SEUNG GI, JUNG IL WOO, JUNG SO MIN, KIM SOO HYUN, BAEK SUZY.

GENRE: IDK (?)

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

 

PART 15

 

kim soo hyun menghentikan langkahnya begitu mendengar suara seorang wanita yang tengah menangis. Ia celingak celinguk ke sekelilingnya dan mendapati seorang wanita tengah duduk di bangku pinggir jalan.

Soo hyun menyipitkan matanya lalu mengahampirinya setelah ia mengenal orang itu.

“aku kira aku mendengar suara hantu. Ternyata kau sedang menangis” Ujar soo hyun duduk di samping suzy.

“huaaaaaaa diam kau !” bentak suzy, soo hyun sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang. Tangis suzy semakin keras.

“ah….aku tidak menyangka. Wanita popular di kampus jika menangis seperti ini.” ledek soo hyun.

“ya….apa kau tak bisa diam?” bentak suzy.

“heh…..” soo hyun hanya menghela nafas dan diam disana menunggu suzy hingga berhenti menangis. Ketika tangis suzy mulai mereda, soo hyun pun mengeluarkan suaranya.

“kenapa kau menangis?” tanyanya.

“hiks….kim bum…” jawab suzy.

“kim bum?”

“ne ! dia mempermainkanku !” jawab suzy.

“maksudmu?” tanya soo hyun.

“ternyata dia hanya pura-pura mengajakku kencan, bukan kencan sungguhan. Dia sudah mempermainkanku ! aku sakit sekali…….! Dia jahat padaku…!” cerita suzy.

“mengajakmu kencan?” ulang soo hyun tak percaya.

Suzy mengangguk.

###

 

Keesokan harinya

Kim bum, il woo, seung gi, dan soo hyun sedang berada di markas mereka. Tapi mereka begitu diam. Terlebih kim bum dan il woo.

“beom-ah apakah lagumu itu sudah selesai?” tanya seung gi.

“belum.” Jawab kim bum tanpa minat. Seung gi hanya mengangguk.

“beom-ah…” panggil soo hyun. Kim bum menoleh ke arahnya.

“benar kau mengajak suzy berkencan?” tanya soo hyun yang membuat kim bum melotot.

“darimana kau tahu?” tanya kim bum.

“suzy yang cerita padaku karena dia menangis.” Ujar soo hyun.

Kim bum hanya diam, itu adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan. Mengajak wanita yang benar-benar tak disukainya untuk berkencan.

“apa yang kau lakukan hingga suzy menangis sampai wajahnya menyeramkan begitu?” tanya soo hyun.

“aku hanya main-main saja. Aku tak mengajaknya kencan sungguhan.” Jawab kim bum santai.

“lalu?” tanya soo hyun.

Kim bum tak menjawab, ia malah menatap il woo dingin seakan jawabannya itu tersirat dari tatapannya pada il woo dan berharap il woo mengerti. Menyadari tatapan kim bum seperti itu il woo teringat kejadian ketika di parkiran.

“setelah apa yang kalian lakukan kemarin? Kau pikir aku tidak apa-apa?”

Il woo tambah bingung, apa mungkin ini ada hubungannya dengan so eun? Kim bum mengajak suzy kencan hanya pura-pura dan apakah itu karena so eun? Apa mungkin kim bum….melihatnya saat dirinya memeluk so eun? Beberapa pertanyaan muncul di kepala il woo.

“ah tidak penting juga aku tahu.” Ujar soo hyun. Kim bum mengalihkan tatapannya dari il woo.

Soo hyun menyadari dari tadi seung gi tak ikut bicara, setelah dilihat ternyata seung gi sedang melamun.

“seung gi-ya….apa yang sedang kau pikirkan?” tanya soo hyun.

Sontak pikiran seung gi berkumpul, dan ia tersadar dari lamunannnya.

“oh….” Ujar seung gi.

“apa yang sedang kau lamunkan?” tanya soo hyun.

Seung gi terlihat menghela nafas.

“apakah aku tidak salah?” tanyanya.

“mwo?” tanya soo hyun.

“menyukai seseorang yang lebih tua dariku?” tanyanya.

“apa? Apakah benar?” kaget soo hyun.

Kim bum menatap seung gi. Dirinya pikir hanya ia saja yang menyukai wanita berumur lebih tua darinya.

Il woo menatap seung gi lalu beralih menatap kim bum.

“aku rasa begitu…tapi aku masih bingung. Aku mendadak tidak suka berkencan dengan banyak wanita lagi setelah bertemmu dengannya. Dan perasaanku berbeda saat bertemu dengannya” Jelas seung gi.

“woooahh…seorang playboy bisa jatuh cinta sungguhan ternyata” balas soo hyun sambil geleng-geleng.

Merasa yang seung gi rasakan saat ini sama dengannya, dan tak mau ketahuan kim bum pun beranjak dari duduknya dan pergi keluar.

Melihat hal itu il woo segera menyusulnya. Ada sesuatu yang harus ia bicarakan dengan kim bum.

“mau kemana mereka?” tanya seung gi.

Soo hyun hanya mengangkat bahu.

————–

 

“beom-ah kita harus bicara” ujar il woo.

“apa yang ingin kau bicarakan?” tanya kim bum dingin.

“penyebab kenapa kau jadi seperti ini.” ujar il woo. Kim bum menatapnya.

 

Kafe

“aku sudah mengerti kenapa kau bilang seperti itu padaku.” ujar il woo.

“katakan saja! aku tidak ingin bertele-tele.” Pinta kim bum.

Il woo menghela nafas. “apa kau sudah tahu?” tanya il woo.

“mwo?” tanya kim bum.

“tentang so eun.” Jawab il woo. Tatapan kim bum semakin dingin setelah il woo menyebut nama so eun.

“apa kau melihatku saat aku memeluk so eun waktu itu?” tanya il woo.

Kim bum mengatupkan mulutnya menahan marah.

“kau sudah tidak pura-pura lupa lagi rupanya.” Ujar kim bum sinis.

“kejadian sebenarnya bukan seperti itu.” Ujar il woo.

“benarkah? Setelah aku melihatnya sendiri?” balas kim bum.

“dengarkan aku…kau harus tahu.” Ujar il woo.

“ya aku sudah tahu kalau kau memeluknya dan kau menyukainya.” Jawab kim bum tanpa diminta.

“aniyo…bukan itu maksudku.” Balas il woo.

Kim bum hanya mendesah.

“aku memeluknya karena aku ingin menenangkannya saat sedang sedih.” Ujar il woo.

“sedih?” batin kim bum.

“dia sedang menangis waktu itu, dan aku pikir aku harus  menenangkannya. Jadi jangan salah paham lebih dulu” Lanjut il woo.

“kenapa dia menangis?” tanya kim bum sambil menatap il woo.

“rupanya dia hanya cerita padaku.” ujar il woo pelan.

“cepat katakan ! kenapa dia menangis !” desak kim bum tak sabaran.

“baiklah….hari itu adalah hari peringatan kematian ibunya yang ke-4.” Ujar il woo.

‘deg’ kenapa aku sampai tidak tahu? Batin kim bum.

“saat kematian ibunya yang ke-4. So eun dan kakak perempuannya harus membaca surat yang di tulis oleh almarhum ibunya sesuai keinginannya. Dan isi surat itu sangat di luar dugaan mereka. So eun bukanlah anak kandung ibunya, dan dia bukan adik kandung kakanya. Mereka hanya saudara tiri. So eun hanyalah anak ayahnya yang menikah dengan ibu kakaknya.” Jelas il woo.

Kim bum terdiam mendengar kata-kata il woo.

“benarkah?” tanyanya.

Il woo mengangguk. “ibu kandung so eun meninggal sesaat sesudah melahirkannya, dan ayahnya menikah dengan ibu kakak tirinya saat ia berusia satu tahun dan kakak tirinya berusia 5 tahun. Tapi ternyata ayah so eun meninggal saat perang antara korea selatan dan korea utara memperebutkan sengketa tanah kekuasaan. Ayah so eun adalah seorang tentara. Sementara ibu tirinya meninggal karena penyakit yang ia derita.” Lanjut il woo.

Kim bum benar-benar tidak bisa berbicara, ternyata ia sudah salam paham. Sangat.

“mengetahui itu dari surat yang ibunya tulis, so eun sangat sedih dan merasa terpukul. Jadinya ia menangis sendirian di taman sampai aku tak sengaja melihatnya dan memeluknya. Mungkin kau melihat dalam waktu yang tidak tepat, saat aku memeluknya. Percayalah padaku. so eun saja bahkan tak membalas pelukanku.” Ujar il woo.

“jadi….itu sebabnya kenapa so eun menangis dan kau memeluknya?”

Il woo mengangguk.

“aku sudah salah paham ternyata.” Kim bum menundukkan wajahnya. “mianhae il woo-ssi aku sudah bersikap begini padamu. Aku baru tahu sekarang.” Sesalnya.

“gwaenchana.” Balas il woo sambil tersenyum.

“dan hal yang konyol adalah…..kenapa kau sampai pura-pura mengajak suzy berkencan karena hanya untuk membuat so eun melirikmu.” Il woo tertawa seketika.

“ah sudah, aku menyesal melakukannya.” Ujar kim bum.

“sebaiknya kau bicara baik-baik padanya.” Nasehat il woo.

“akan aku lakukan.” Balas kim bum. “tapi….apa kau tidak menyukai so eun?” tanya kim bum.

Il woo tersenyum. “aku menyukainya.” Jawab il woo.

Mata kim bum langsung melotot mendengar pengakuan il woo.

“tapi…aku tidak pantas untuknya karena aku tahu so eun sama sekali tak melirikku…mungkin dia lebih  melirikmu.” Ujar il woo.

“mmmm kau benar.” Kim bum angguk-angguk kepala.

“lagipula, aku tidak pantas untuknya, karena aku tahu kau yang akan mendapatkannya.” Lanjut il woo.

Kim bum tersenyum, ia sudah tak menyimpan marah lagi pada il woo.

“tapi….ini sungguh aneh…..aku menyukai wanita yang jelas-jelas lebih tua dariku….” Kim bum tertawa kecil.

Il woo terdiam mendengarnya. Masih ada sesuatu yang belum kim bum ketahui.

###

 

Kim bum langsung masuk ke kamar so eun. Tapi so eun tidak ada, tak lama pintu kamar terbuka dan masuklah so eun setelah kim bum.

“kim bum-ssi…apa yang kau lakukan di……” so eun membulatkan matanya saat kim bum langsung memeluknya.

“maafkan aku.” Ujar kim bum mempererat pelukannya di tubuh mungil so eun.

“maaf, aku sudah salah paham.” Lanjut kim bum.

So eun masih diam, terlalu kaget mendapati kim bum yang tiba-tiba memeluknya dan sikapnya berubah lagi.

“ada apa denganmu?” tanya so eun. Kim bum melepaskan pelukannya dan memegang pundak so eun dengan kedua tangannya.

“kenapa kau tidak menceritakannya padaku?” tanya kim bum.

So eun menyernyit bingung. “menceritakan apa?” tanya balik so eun.

“ah sudahlah, aku tidak ingin membuatmu sedih lagi. Lagi pula aku sudah tahu sekarang.” Ujar kim bum.

So eun masih menatap bingung. Kim  bum tersenyum. “aku akan membuatmu senang hari ini.” ujar kim bum.

So eun semakin tak mengerti. Lalu kim bum sedikit mendekatkan wajahnya ke arah so eun dan menatap matanya sungguh-sungguh.

“kita KENCAN sekarang !” ucap kim bum sambil tersenyum.

So eun melototkan matanya. Kim bum menjauhkan wajahnya dan melepaskan tangannya dari pundak so eun.

“tidak usah kaget begitu. Cepatlah ganti dengan baju yang cocok untukmu. Dan jangan lupa untuk menggerai rambutmu !” pinta kim bum.

So eun masih bingung, ia diam di tempat.

“aku akan menunggumu.” Ujar kim bum lalu keluar dari kamar so eun sambil tersenyum gaje.

###

So eun sudah keluar dari kamarnya dan segera menghampiri kim bum dengan kikuk. Kim bum tampak tersenyum.

“cantik. Aku suka.” Bisik kim bum di telinga so eun dan membuat so eun merinding.

“yasudah, kajja !” kim bum menggenggam tangan so eun menuju mobilnya. So eun hanya tersenyum simpul.

“kita mau kemana?” tanya so eun setelah kim bum menjalankan mobilnya.

“menurutmu?” tanya balik kim bum.

“mana aku tahu. Mungkin ke lotte world.” Jawab so eun karena kemarin saat kim bum berkencan dengan suzy mereka pergi ke tempat itu.

“ya…! Aku benar-benar ingin berkencan denganmu. Yang kemarin hanya kencan pura-pura.” Sewot kim bum.

“mwo? Kencan pura-pura?” kaget so eun.

Kim bum mengangguk. “dan ini adalah kencan sungguhan….kau mengerti?”tanya kim bum.

“yasudahlah, terserah kau saja.” Pasrah so eun. Kim bum hanya tersenyum.

Perjalanan sudah memakan waktu lebi dari 2 jam, tapi so eun sama sekali belum tahu kemana tujuan mereka sebenarnya.

“beoam-ah….sebenarnya kita ingin kemana?” tanya so eun.

“ke pantai.” Jawab kim bum santai.

“mwo? Aku tidak membawa perlengkapan apa-apa.” Kaget so eun.

“tenang saja, disana ada vila milik ayahku.” Ujar kim bum. So eun hanya angguk-angguk.

Kurang lebih memakan waktu 3 jam, akhirnya mereka pun sampai di pantai yang kim bum maksud. So eun tampak terpesona melihat pantai yang indah ini. so eun membuka kaca mobilnya dan melihat pemandangan ini dari balik mobil.

Kim bum yang merasa so eun terpesona tersenyum simpul lalu keluar dari mobilnya. Kim bum memutar arah dan berdiri di samping pintu mobil dekat so eun. So eun masih tampak takjub melihatnya. Kim bum membungkukkan badannya dan memasukkan setengah badannya ke dalam mobil melalui kaca pintu mobil yang terbuka lebar itu. So eun kaget Karena wajah kim bum berhenti tepat di depan wajahnya.

Kim bum tersenyum lalu mendaratkan ciuman di bibir so eun. Smile kiss !. so eun melototkan matanya saat bibir kim bum menyentuh bibirnya. Kim bum melakukannya lagi secara tiba-tiba. Tapi so eun ikut tersenyum.

“apa mau terus di dalam mobil? Ayo keluar !” ajak kim bum setelah melepaskan ciumannya. So eun masih tampak kaget. Kim bum pun mengeluarkan setengah tubuhnya dari dalam mobil dan membukakakn pintunya untuk so eun. So eun manatap kim bum.

“kajja…..!” kim bum menarik tangan so eun untuk keluar.

“bagaimana? Kau suka?” tanya kim bum.

“suka sekali. Sudah lama aku tidak ke pantai.” Jawab so eun.

“baguslah kalau begitu.” Balas kim bum. Kim bum menarik tangan so eun lalu menautkan jarinya di jari mungil so eun. So eun agak kaget, tapi kim bum malah tersenyum padanya. So eun pun hanya bisa membalas senyumnya. Mereka berjalan di sekitar pantai dengan ombak yang berdesir itu sambil berpegangan tangan.

“oh ya…dimana jam tangan itu?” tanya so eun.

“sudah rusak karena aku banting.” Jawab kim bum santai.

“MWOOO?!! Ya apa yang kau lakukan? Itu milik orang lain” pekik so eun.

“waeyo? Lagi pula jam tangan itu sudah sampai pada pemiliknya.” Ujar kim bum santai.

“ne?” tanya so eun.

“ahhh…” kim bum mendesah.

“apa otakmu begitu lamban ya?” tanya kim bum sedikit meremehkan.

“maksudmu?” tanya so eun.

“begini……” kim bum langsung memeluk so eun seperti yang ia lakukan ketika pertama kali memeluk so eun waktu itu. Di saat ia di kejar-kejar oleh para manusia gila.

So eun terdiam, pelukan ini memutar otaknya kembali pada kejadian waktu itu.

“bagaimana? kau sudah ingat?” tanya kim bum melepas pelukannya.

So eun tak berkedip, otaknya begitu sulit untuk mencernanya dengan cepat. Melihat so eun yang belum bereaksi apa-apa kim bum jadi kesal.

“masih tidak ingat?” tanya kim bum. “aishhh…apa aku harus mengulang ke kejadian waktu itu? Disaat aku di kejar-kejar orang tak waras yang ingin menghajarku lalu aku melihatmu berjalan sendirian lalu tanpa pikir panjang aku…….” Jelas kim bum.

“jadi….” Potong so eun. “jadi…..kau orangnya?” tanya so eun tak percaya.

Kim bum langsung tersenyum. “ne.” jawabnya pasti.

“kenapa….kenapa kebetulan seperti ini.” ujar so eun yang masih tak percaya.

“bukan kebetukan, tapi takdir.” Sanggah kim bum.

“sudahlah jangan dipikirkan lagi, yang penting kau sudah tahu. Kajja kita lanjutkan kencan kita.” Kim bum kembali menggenggam tangan so eun.

So eun memandangi wajah kim bum yang berseri-seri seperti itu lalu ia pun tersenyum simpul.

###

 

Il woo baru saja keluar dari toko music. Tapi tiba-tiba dari arah lain ada seseorang yang menabraknya.

“ah jwiesonghamnida…” ujar wanita itu seraya berjongkok mengambil 2 buah kantong plastic yang terjatuh.

Il woo memerhatikan gerak gerik wanita itu.

“jwiesongham…..” orang itu berhenti bicara setelah mengangkat wajahnya.

“so min-ssi?” ujar il woo.

“o..oo…il woo-ssi.” Kaget so min.

————–

 

Café

Keheningan terjadi di antara mereka. Tapi il woo rasa, terus diam tidak baik. Jadinya ia yang memulai pembicaraan.

“apa kau sudah mempunyai….kekasih?” tanya il woo.

So min buru-buru memiunum jus jeruknya lalu menggeleng. “aniyo.” Jawabnya pelan.

Il woo menatapnya. “jadi apa kau sudah menyukai orang lain?” tanya il woo lagi.

“aniyo….”jawabnya gugup.

Il woo mengambil nafas sejenak.

“kau sudah tidak menyukaiku?” tanya il woo ‘lagi’

“aniyo…” jawab so min, lalu tiba-tiba merutuki dirinya sendiri karena sudah salah jawab.

“jadi, kau masih menyukaiku?” tanya il woo.

“i…itu….” Jawab so min gugup. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

“so min-ssi….” Panggil il woo.

So min memberanikan diri menatap il woo.

“biarkan aku mencoba untuk menyukaimu.” Ujar il woo yang membuat detak jantung so min berantakan.

“ne?” kaget so min.

###

 

Kim bum dan so eun menaiki sebuah kapal kecil. Hanya ada mereka berdua disana. Duduk bersampingan sambil melihat indahnya pemandangan bawah laut dari atas.

“apakah ini cukup romantis?” tanya kim bum.

“ne?” tanya balik so eun.

“romantis tidak?” tanya kim bum.

“tidak.” Jawab so eun, berusaha membuat kim bum kesal.

“aishhh……kau ini…” ujar kim bum.

“aniyo…aku menyukainya….” Ujar so eun cepat.

“bagus kalau begitu, aku jadi tidak sia-sia.” Ujar kim bum.

“tidak sia-sia bagaimana?” tanya so eun.

“tidak sia-sia mengajakmu berkencan.” Jawab kim bum.

So eun hanya tersenyum.

“ada yang ingin aku tanyakan.” Ujar kim bum.

“tanyakan saja.” Balas so eun.

“apa kau menyukaiku?” tanya kim bum.

So eun mengerutkan keningnya dan memiringkan kepalanya menatap kim bum. “nan molla.’ Jawabnya.

“ya ! hanya jawab ya atau tidak saja ! jangan membuatku bingung.” Desak kim bum.

So eun menmanyunkan bibirnya dan mencibir.

“kau ingin tahu?” tanya so eun.

“tentu saja.” Balas kim bum.

“kau cari tahu saja sendiri.” Jawab so eun sambil tersenyum jahil.

“kau…aiishh meniru kata-kataku rupanya !” kesal kim bum lalu menyentil dahi so eun, tapi so eun terus berusaha menghindar.

“ya…beom-ssi….hentikan ! perahunya bergoyang ! aku tidak ingin tercebur ke laut.” Mohon so eun.

“shireo…! Sebelum kau memberikannya disini” tolak kim bum seraya menunjuk bibirnya sambil tersenyum.

“mwo? Aniya aniya…kau berciuman saja dengan ikan !” suruh so eun.

“baiklah….tidak perlu repot-repot karena ikannya ada di depanku.” Kim bum tersenyum jahil.ia langsung menahan tangan so eun yang dari tadi memukul-mukul bahunya.

“jika kau melakukannya akan aku hajar kau sampai tercebur ke laut !” ancam so eun.

Kim bum langsung melepaskan tangannya. “mengerikan sekali !” kim bum brigidik tapi so eun hanya mendelik. Seolah tak ingin kalah kim bum pun malah menarik kepala so eun agar di sandarkan di bahunya.

“lihat saja nanti, siapa yang akan menang.” Ujar kim bum.

“iishhh.” So eun malah berdesis.

###

 

“hey tidak menangis lagi?” teriak soo hyun yang melihat suzy sedang berjalan sendirian.

Suzy menoleh ke sumber suara, dilihatnya soo hyun menghampiri.

“kau mengikutiku?” dakwa suzy.

Soo hyun tidak mengindahkan pertanyaan suzy.

“kau tidak menangis lagi?” tanya soo hyun.

“kenapa kau bertanya aku menangis atau tidak? Apa kau senang melihatku menangis?” tanya suzy.

“aniyo….” Jawab soo hyun.

“sudahlah jangan mengikutiku….aku ingin ke salon untuk menenangkan diri.” Ujar suzy mempercepat langkahnya, tapi soo hyun malah masih mengikutinya.

“seharusnya kau mencari pria lain saja ! belum tentu jika ka uterus mengejar-ngejar kim bum, ia akan jatuh hati padamu.” Ujar soo hyun.

Suzy menghentikan langkahnya.

“aku sudah terlanjur sakit hati….asal kau tahu aku sudah tidak berharap banyak lagi dari kim bum setelah dia mempermainkanku.’ Jawab suzy ketus.

“benarkah?” tanya soo hyun.

“ne…lagi pula masih banyak pria yang lebih popular dari kim bum.” Ujar suzy.

“aku juga popular.” Balas soo hyun.

Suzy hanya mendelik dan kembali melangkah, sementara soo hyun hanya diam di tempat.

“ya….apa kau ingin memberiku kesempatan agar kau tertarik padaku?” teriak soo hyun yang membuat langkah suzy kembali terhenti. Ia membalikan badannya menghadap soo hyun.

“apa yang kau katakana?” kaget suzy.

###

 

Hari sudah menjelang sore. Perahu yang mereka naiki sudah mendarat di bibir pantai. Kim bum segera turun lebih dulu. Lalu berdiri membelakangi so eun.

“ayo…naiklah !” suruh kim bum seraya menepuk-nepuk punggunggnya.

So eun hanya diam, bingung apa yang ingin kim bum lakukan. Kim bum memutar kepala lalu menatap so eun. “cepat naik ke punggungku !” suruh kim bum.

“apa kau yakin? Tubuhku tidak ringan” tanya so eun.

“kau ini….kau sudah lupa dengan apa yang aku katakan? Lakukan saja apa yang aku mau. Jadi ayo naik !” paksa kim bum tak sabaran. Dengan ragu so eun pun mulai merangkulkan lengannya di leher kim bum dan naik ke punggung kim bum. Pada akhirnya kim bum pun menggeondong so eun di punggungnya. Ia mulai berjalalan, air laut yang menyibak pasir terasa geli di kaki kim bum.

“tidak berat?” tanya so eun.

“aniyo.” Jawab kim bum. So eun hanya tersenyum walau kim bum tak mengetahuinya. So eun pun semakin mengeratkan pelukan lengannya di leher kim bum. Merasa hal itu, kim bum tersenyum senang.

“kita mau kemana sekarang?” tanya so eun.

“ke vila.” Jawab kim bum.

“mmm padahal aku belum ingin kesana.” Ujar so eun.

“kau tidak merasa lelah?” tanya kim bum.

So eun menggeleng. “aku ingin bersenang-senang lebih lama lagi denganmu.” Ujar so eun.

Kim bum tersenyum, lalu ia mengambil aba-aba untuk berlari.

1 2 3

Kim bum pun berlari di sekitar pantai masih menggendong so eun. Mereka terlihat tertawa bersama.

 

THE END

Eh gak deng saya bercanda hahaha, yuk lanjut #plakkk (ganggu aja haha)

 

“ya bum-ssi hentikan !” teriak so eun.

“shireo !” tolak kim bum.

“bagaimana kalau terjatuh hah?” teriak so eun panic karena kim bum semakin memerkencang larinya menuju arah air laut yang menyibak bibir pantai.

“shireo, jika aku terus menambah kecepatan lariku, jadi kau akan semakin memelukku dengan erat.” Balas kim bum malah memainkan air laut itu dengan kakinya.

“aiishh kau….” Sontak saja so eun melepaskan pelukannya dan memukul bahu kim bum dengan satu tangannya. Karena posisi so eun yang tidak benar, kim bum jadi tak bisa menjaga keseimbangan. Pada akhirnya mereka pun terjatuh. Baju mereka sama-sama basah. Tapi setelah itu tertawa bersama.

————-

 

Kim bum dan so eun sedang duduk berdua di sova panjang. Mereka sudah berada di dalam vila dengan pakaian yang sudah di ganti.

So eun menatap kim bum. “ada yang ingin aku tanyakan.” Ujar so eun.

“apa?” tanya kim bum.

“kenapa kemarin-kemarin sikapmu berubah menjadi dingin?” tanya so eun.

Mendengar pertanyaan so eun kim bum malas tersenyum. “tapi sekarang aku sudah tidak dingin lagi kan?” tanya kim bum.

“kenapa?” tanya so eun.

“aku sudah salah paham padamu dan il woo.” Jawab kim bum.

“waktu itu malam hari, aku khawatir karena kau tak juga pulang. Jadinya aku mencarimu. Tapi disaat aku sudah menemukanmu, aku malah melihat il woo tengah memelukmu. Aku kesal dan marah saat itu. Jadinya sikapku seperti itu.” Jelas kim bum.

“kenapa kau tidak menceritakannya padaku? Kenapa kau memendam rasa sedih sendirian?” tanya kim bum berubah serius.

So eun menunduk. “mianhae.” Ujar so eun. “waktu itu aku tidak tahu ada kau disana. Waktu itu aku benar-benar sedih.” Lanjutnya.

Kim bum langsung menarik so eun ke pelukannya, so eun kembali menangis.

“aku masih tidak percaya jika aku bukanlah adik kandung kakakku.” Tangis so eun.

Kim bum mengelus lembut punggung so eun. “gwaenchana…sudahlah jangan menangis lagi. Aku harus susah payah lagi membuatmu senang.” Ujar kim bum. So eun melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. Lalu ia tersenyum simpul.

“tidak sedih lagi?” tanya kim bum.

“sedikit.” Jawab so eun.

“yasudah kajja, ada yang ingin aku tunjukan padamu.” Kim bum menarik tangan so eun menuju ruangan music yang ada di vila itu.

————-

 

“kau benar-benar cinta music ya?” ujar so eun takjub.

Kim bum mengangguk dan mengambil headphone disana. Ia memasang headphone itu di telinganya dan mulai memutar lagu dari ipod yang terhubung dengan headphone itu. Setelah sedikit mendengar lagu yang mengalun masuk ke telinganya kim bum tersenyum kea rah so eun yang tengah menatapnya.

“kau pasti akan suka lagu ini.” ujar kim bum lalu melepas headphonenya dan ia pasangkan di telinga so eun.

Kim bum tersenyum, sementara so eun mendengarkan dengan seksama sambil menggerak-gerakan kepalanya, menikmati music yang mengalun lembut itu.

“lagunya lembut sekali.” Ujar so eun.

“tapi aku belum pernah mendengarmu bernyanyi.” Ujar so eun menatap kim bum lalu melepas headphone nya.

“kau ingin dengar?” tanya kim bum.

“ne.” jawab so eun.

“shireo, suaraku ini sangat mahal.” Tolak kim bum.

“mwo? Kau ini pelit sekali.” Kesal so eun.

“nanti jika sudah saatnya, aku akan menyanyi untukmu.” Ujar kim bum.

 

Drrrrt drrrtt drtttt

So eun mendapati ponselnya bergetar, ternyata ada telpon masuk dari yoona. So eun pun menjauh dari kim bum dan keluar dari ruang music itu untuk mengangkat telponnya.

“so sun-ssi….”

“ne…eonni…”

“besok….besok adalah hari ulang tahun ayah.” Ujar yoona.

“ayahku.”

“ne, aku ingin kita bicara besok sambil merayakan ulang tahun ayah.”

“……….”

“so eun-ssi?”

“ne?”

“kau baik-baik saja?”

“ne.”

“walaupun ayah sudah meninggal, tapi kita harus tetap merayakan ulang tahunnya, itu adalah sebuah penghormatan.”

“arasseo. Apa eonni baik-baik saja?”

“sedikit. Yasudah kalau begitu besok aku tungggu di café biasa.”

“ne.”

Sambungan telpon pun terputus.

So eun menatap ponselnya lalu memasukannya lagi ke saku celana. Kenapa waktu begitu cepat, baru saja berselang 2 hari mengenang kematian ibunya, besok sudah hari ulang tahun ayahnya. So eun mendesah, ia berjalan ke arah teras vila dengan pintu besar yang terbuat dari kaca yang sudah terbuka. So eun ingin menghirup udara malam dan melihat indahnya pantai dari sana. Siapa tahu suasana hatinya bisa berubah. So eun berdiri sendiri memandang lautan dengan rambut yang berterbangan tertiup angin.

Kim bum yang melihat so eun sedang sendiri, ia jadi merasa khawatir setelah so eun mengangkat telponnnya yang entah ia tidak tahu dari siapa. Kim bum menghampirinya dan berdiri tepat di belakang so eun. Ia tahu berdiri disini cukup lama sangat dingin karena tiupan angin yang begitu kencang.

Kim bum mengangkat tangannya lalu ia merangkulkan lengannya di leher so eun, memberikan kehangatan. So eun terkejut mendapati kim bum yang sudah ada di belakangnya dan memeluk lehernya dengan tangan yang hangat.

“gwaenchana?” tanya kim bum.

So eun diam.

“disini dingin, ayo masuk !” ujar kim bum tapi ia sendiri tidak melepas rangkulan tangannya di leher so eun.

So eun mengangkat tangannya lalu memegang tangan kim bum. Ia sedikit memutar kepalanya untuk menatap kim bum. Tatapan mereka bertemu. Kim bum mendekatkan wajahnya masih dengan lengan yang memeluk leher so eun. So eun hanya bisa memejamkan matanya. Kim bum mencium bibir so eun dengan lembut. So eun mengeratkan pegangan tangannya di lengan kim bum saat kim bum menciumnya semakin dalam dan saat kim bum semakin memeluknya erat. So eun sedikit membuka matanya, dan melihat kim bum memejamkan matanya saat menciumnya. Terlihat begitu tulus. So eun pun kembali memejamkan matanya dan mulai membalas ciuman kim bum. Memberikan kehangatan masing-masing (asik bgt ya kalo bayangin bumsso kisseu#plaaak yadong kumat…ckckck)

###

 

Kim bum tampak ragu untuk mengetuk pintu kamar so eun. Mendadak ia jadi deg-degan begini. Saat ia hendak mengetuk. Sudah ada yang membuka pintu duluan.

“kim beom-ssi.” Kaget so eun.

“so eun-ssi kau mau kemana?” tanya kim bum begitu melihat penampilan so eun yang rapi.

“aku ada urusan sebentar, tidak apa-apa kan?” pinta so eun.

“ooh…aku hanya ingin memberikan ini…” kim bum memberikan sebuah benda yang dibungkus pada so eun sambil menggaruk tengkuknya.

“apa ini? untukku?” tanya so eun.

Kim bum mengangguk. “untuk siapa lagi.” Balas kim bum.

So eun tersenyum dan menerimanya. “gomawo.” Ujarnya.

“ne.” kim bum balas tersenyum.

“aku akan membukanya nanti. Kalau begitu aku simpan dulu.” So eun kembali masuk ke dalam kamarnya untuk menyimpan benda yang entah apa dari kim bum. Kim bum tampak tersenyum senang.

###

 

So eun dan yoona duduk berhadapan di café.

“aku harap kita tidak memikirkan masalah surat itu.” Ujar yoona memulai pembicaraan.

“bagaimana pun juga itu sudah berlalu, walaupun kenyataanya kita bukan saudara kandung tapi aku harap kita seperti dulu lagi so eun-ah.” Lanjut yoona.

“eonni….” Ujar so eun.

“aku memang sedih dan terpukul, tapi apa gunanya terus seperti itu? Lagipula aku sudah sangat menyayangimu.” Ujar yoona.

“eonni….siapa bilang aku tidak menyayangimu?” tanya so eun.

Yoona tersenyum. “aku tahu, aku hanya ingin kita tidak canggung seperti ini setelah tahu semuanya.”

So eun mengangguk. “arasso…bagaimana pun juga aku tetap adikmu.’ Ujar so eun.

“ne…aku juga tetap kakakmu, kita tetap keluarga.” Balas yoona.

Seung gi yang juga kebetulan ada di café itu tak sengaja mendengar percakapan antara yoona dan so eun. Dia duduk sendiri di kursi yang membelakangi yoona tanpa yoona dan so eun sadari.

“jadi? Yoona noona dan bodyguard kim bum itu…..?” pekik seung gi dalam hati.

“jadi yang di ceritakan noona tentang adiknya itu adalah so eun bodyguard kim bum?” pekiknya tak percaya.

“tapi bukannya umur mereka sama?  Apa jangan-jangan…..”

“yasudah lebih baik kita harus segera bersiap-siap merayakan ulang tahun ayah.” Ajak yoona.

“ne….” mereka pun pergi dari café itu. Seung gi masih kelihatan bingung, ia tidak mengerti.

###

Kim bum tersenyum puas karena ia sudah menyelesaikan lagu yang tertunda itu. Akhirnya liriknya sudah selesai, tinggal nada dan ritmenya yang belum. Sebelumnya juga ia sudah berbicara pada il woo untuk membantunya membuat nada untuk lagunya. Tentu saja idenya langsung mencair, karena kemarin merupakan hal yang paling menyenangkan bersama so eun. Kencan mereka. Walapun hubungan antara mereka belum jelas, bahkan belum ada satu pun di antara mereka yang menyatakan cinta. Kim bum bilang pada so eun pun jika ia menyukainya belum. Entahlah, kim bum ingin menunjukkannya lewat lagu yang baru saja ia buat. Dan kini saatnya ia pergi menemui il woo.

—————

 

“mwo?” kaget soo hyun setelah mendengar apa yang di ceritakan seung gi. Sementara il woo hanya diam karena ia yakin cepat attau lambat pasti akan ketahuan juga.

“yang tidak aku mengerti adalah bukannya umur mereka sama? 25 tahun.” Ujar seung gi.

“benar juga.” Pikir soo hyun.

“sebenarnya yang benar itu yang mana?” tanyanya bingung pada diri sendiri.

Il woo yang sedari tadi hanya diam akhirnya buka suara. Tidak pantas juga ia hanya mengetahuinya sendiri. Seharusnya ia memberi tahu dari awal. Tapi mungkin sekarang waktunya baru mengizinkan.

“sebenarnya……….” Ujar il woo.

Seung gi dan soo hyun menatap il woo.

“aku sudah tahu ini dari awal. Aku tak sengaja menemukan kartu identitas milik bodyguard kim bum yang terjatuh waktu itu. Umur bodyguard kim bum yang sebenarnya bukanlah 25 tahun….tapi 20 tahun….” Ujar il woo.

“MWO!?” pekik seung gi dan soo hyun bersamaan.

“jadi so eun bodyguradnya kim bum seumuran dengan kita?” kaget soo hyun.

Il woo mengangguk.

Tanpa mereka sadari, kim bum mendengar semua pembiacaraan mereka. Ia berdiri sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“mwo? Apa yang kau katakana itu benar?” tanya kim bum.

Il woo terkejut di buatnya begitu pula yang lain melihat kedatangan kim bum. “kim bum?” kaget il woo.

 

TBC

Yaaaaaah maaf ya semakin bertele-tele. Emang dari awal ceritanya udah di konsep mau kaya gini hohoho

Yaudah komen deh.

Buat ff yang falling love with my fans hiatus dulu. Niatnya mau beresin bfb dulu trus baru lanjut ke falling love.

 

BABY FACED BODYGUARD PART 12

BABY FACED BODYGUARD PART 12

 

AUTHOR: RESI R

MAIN CAST: KIM SANG BEOM DAN KIM SO EUN.

OTHER CAST: KIM YOONA, LEE SEUNG GI, JUNG IL WOO, JUNG SO MIN, KIM SOO HYUN, BAEK SUZY.

GENRE: IDK (?)

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

 

PART 12

 

“aku ke toilet dulu….” Ujar yoona sambil memberi aba-aba melalui tatapan pada so eun, yoona lalu bergegas menuju toilet.

“aku juga ke toilet.” Ujar so eun.

Yang lain hanya menatap mereka lalu memilih untuk duduk.

 

“eonni, kenapa kau bisa ada disini?” tanya so eun saat mereka sudah berada di toilet.

“kau sendiri kenapa ada disini?” tanya balik yoona.

“kau tahu kan aku seorang bodyguard, jadi aku harus mengawasi dia itu, lagi pula dia yang meminta untuk menemaninya.” Jawab so eun.

“aku di undang oleh ibunya seung gi.” Jawab yoona.

“eonni….mengenal seung gi?” tanya so eun.

“hmmm ceritanya panjang, dan selama ini aku tak menyangka jika nyonya lee adalah ibunya. Pelanggan butikku” Jawab yoona.

“ini kebetulan ….” Ujar so eun.

Yoona mengangguk. “kau mengenal seung gi juga?” tanya yoona.

“ne, dia temannya anak tuan kim.” Jawab so eun.

“jadi eonni, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus berpura-pura tak saling mengenal saja?” tanya so eun.

Yoona tampak berpikir. “jika kita bilang kakak-beradik, maka identitasmu akan dicurigai karena seung gi tahu umur kakak yang sebenarnya.” Ujar yoona.

So eun mengerutkan keningnya.

“waktu itu dia menemukan kartu identitasku yang tertinggal di mobilnya.” Ujar yoona mengartikan keheranan so eun.

“jadi kita harus pura-pura tak mengenal saja? Bagaimana dengan so min?” tanya so eun bingung.

“bagaimaa kalau kita bilang kita teman lama saja….ya begitulah…agar kita tidak canggung nanti bersama mereka.” Ujar yoona.

So eun tampak berpikir. “mmm baiklah.” Jawabnya.

———–

 

So eun dan yoona sudah duduk bersama yang lain. Mereka sesekali terlihat mengobrol dan meminum jusnya.

“kalian sepertinya mirip.” Celetuk soo hyun pada yoona dan so eun.

“uhuk…” so eun langsung tersedak saat meminum jus.

Sementara yoona hanya tertawa hambar sambil menatap so min mengartikan jangan bilang sesuatu.

“benarkah?” tanya yoona.

Soo hyun mengangguk. Il woo dan seung gi menatap mereka-Yoona dan so eun. Sementara kim bum terlihat tidak focus dan malah memikirkan sesuatu.

“ahahahah memang banyak yang bilang begitu.” Jawab yoona.

“ne…kami adalah teman semasa smp, dulu teman-teman banyak yang bilang kita mirip” dusta so eun.

So min yang mendengar perkataan yoona dan so eun menyernyit bingung, tapi ia diam.

“mungkin pikiranku juga sama dengan teman kalian.” Ujar soo hyun.

“hahaha ne…” yoona tertawa hambar.

“ahhh aku bosan.” Keluh kim bum tiba-tiba, menatap so eun lalu berdiri.

Semua menatap padanya, kim bum menatap so eun.

“aku ingin pulang.” Ujar kim bum menarik tangan so eun hingga so eun juga berdiri.

“wae? Sebentar lagi acaranya akan dimulai.” Ujar so eun.

“lagipula aku sudah bertemu dengan ibunya seung gi.”balas kim bum.

So eun menatap bingung, lalu tersenyum canggung pada semuanya, seperti meminta maaf.

“kajja……..” kim bum pun menarik tangan so eun dan mereka pergi lebih dulu.

Yoona memerhatikan mereka. ‘oh jadi itu anak tuan kim? Memang tampan sih tapi sepertinya menyebalkan seperti yang di katakana so eun’ pikirnya.

“kau tidak sopan.” Ujar so eun saat mereka sudah berada di dalam mobil.

“sudah ku bilang, aku melakukan sesuatu yang aku mau. Lama-lama disana membosankan.” Jawab kim bum.

“bilang saja karena kau ingin bersamaku lama-lama kan?” goda so eun.

“ya apa yang kau katakan? Jangan bicara aneh.” Ujar kim bum sambil memalingkan wajahnya ke jendela.

“aku hanya bercanda.” So eun pun tertawa kecil lalu menancap gas. Sementara kim bum hanya mendengus kesal.

 

Sesekali kim bum melirik so eun yang sedang menyetir.

“kim beom-ssi…” ujar so eun.

Sontak kim bum memalingkan wajahnya ke arah lain.

“apa kau menyukaiku?” tanya so eun santai.

“m, mwo? Kenapa kau bertanya seperti itu?” gugup kim bum.

“aniyo,,,aku hanya merasa heran saja dengan sikapmu yang berubah-ubah padaku. aku pikir kau mulai tertarik padaku. jadi apakah benar jika kau menyukaiku?” tanya so eun lagi.

Kim bum hanya merasakan kalau wajahnya memanas. Ia tak berani melihat so eun.

“hahaha lucu sekali, aku hanya bercanda.” Tukas so eun.

Kim bum masih diam, memikirkan kata ‘sikap yang berubah-ubah’. Ya ini memang bukan dirinya, tapi ia juga tidak tahu kenapa sikapnya begini pada so eun. Kim bum menyukai so eun.

So eun memberhentikan mobilnya. “sudah sampai.” Ujarnya sambil melepas seatbelt. Tapi  so eun menyadari kim bum masih tetap diam. Kim bum sendiri sedang memikirkan pertanyaan so eun tadi, apakah sikapnya kelihatan jelas jika menyukai so eun?

“kenapa tidak turun? kau mau tetap berada di dalam mobil?” tanya so eun.

Sontak kim bum tersadar dari lamunannya.

“yasudah…” ujar so eun lalu membuka pintu mobil. Tapi dengan cepat tangan kim bum menahannya dan menarik tubuh so eun, membuat so eun terkejut. Kim bum menaikan kedua tangannya menahan lengan atas so eun, menatap so eun sejenak lalu menatap bibir mungil so eun, tanpa aba-aba kim bum pun langsung menciumnya. So eun melototkan matanya, ia benar-benar terkejut mendapati kim bum menciumnya.

So eun hendak mendorong dada kim bum, tapi tangan kim bum malah naik ke tengkuk so eun, meminta agar so eun tak melepaskan ciumannya. So eun masih shock, tapi saat kim bum mulai meraup ( :P) bibirnya so eun mulai memejamkan mata, menikmati ciuman kim bum, lalu tanpa sadar membalasnya.

###

 

Soo hyun sedang asik mengobrol dengan seorang wanita yang juga hadir ke acara pesta ulang tahun ke 3 yayasan seni milik ibunya seung gi. Tapi seung gi tidak tertarik sama sekali.

“noona, aku ingin bicara denganmu.” pinta seung gi.

“oh baiklah.” ujar yoona mengikuti seung gi ke suatu tempat.

Kini, hanya tinggal il woo dan so min yang masih duduk di tempat. Suasana canggung meliputi mereka berdua.

“ekhm. . . .” il woo berdehem.

“bagaimana kalau kita melihat-lihat lukisan?” tawar il woo mencairkan suasana.

“n, ne?” So min kelihatan masih gugup.

“agar tidak bosan.” balas il woo.

“o,,,oh ne.” terima so min.

“baiklah, kajja !” il woo jalan duluan sementara so min mengikutinya dari belakang.

###

 

“noona, aku sudah memikirkan kata-katamu.” Ujar seung gi.

“ne, bagus kalau begitu.” Ujar yoona.

“aku akan berusaha berbicara baik-baik dengan abeoji.” Ujar seung gi.

“ne, begitu lebih baik. Dari pada kalian seperti orang yang berumusuhan, lagipula kau adalah anak kandungnya.” Jelas yoona.

“ne, aku mengerti…..noona…gomawo atas bantuanmu dan juga….nasehatmu…” ujar seung gi.

“tidak perlu berterimakasih.” Yoona tersenyum.

“aku hanya merasa kau tidak boleh menyia-nyaiakan kedua orang tuamu yang masih ada disini. Kau tidak boleh semakin memperburuk hubungan keluarga kalian, seharusnya kau berusaha membuat mereka bersatu kembali, bukankah itu lebih bahagia? Sebelum salah satu dari orang tuamu atau kedua orang tuamu pergi lebih dulu meninggalkanmu.” cerita yoona.

“semata-mata agar kau tak menyesal nantinya.” Yoona tersenyum miris.

Menyadari itu raut wajah seung gi juga berubah menjadi iba pada yoona.

“kedua orang tuamu….sudah meninggal?” tanya seung gi hai-hati.

“ne, maka dari itu…nasibmu masih lebih baik di bandingkan denganku dan ‘adikku’…” ujar yoona.

“o…m, mianhae…” tukas seung gi tak tahu.

“aniyo, gwaenchana…aku hanya ingin kau tidak memiliki nasib sepertiku…itu saja…” balas yoona.

“ne…arasseo….aku…akan berusaha…walaupun jujur ini sangat sulit.” Tukas seung gi.

Yoona tersenyum. “sebisaku aku akan membantumu, kau adalah ‘teman’ sekaligus ‘adik’ yang baik…” ujar yoona.

“hmmmm….noona…” seung gi mengangguk. Yoona tersenyum.

###

 

“ini sudah  malam, aku akan mengantarmu pulang.” Ujar il woo pada so min.

“t, tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.” Tolak so min halus.

“gwaenchana. kajja !” ajak il woo berjalan duluan kea rah mobil. So min masih diam di tempat.

“ayo masuk !” suruh il woo sambil membuka pintu mobil untuk so min.

“o..ne…” akhirnya so min pun masuk juga ke dalam mobil.

Tak lama mobil pun melesat.

“jung so min.” ujar il woo.

Cepat-cepat so min menoleh ke arahnya.

“mianhae, aku tak ingat padamu waktu itu.” Tukasnya.

So min hanya bisa diam, ia tidak tahu harus berkata apa karena ia terlalu gugup.

“apa kau ingat padaku juga?” tanya il woo.

“aku…aku tentu ingat.” Jawab so min.

Il woo menoleh. “lalu kenapa kau tak bilang padaku?” heran il woo.

“i..itu aku….aku tidak tahu…” jawabnya sambil menunduk.

“mianhae aku benar-benar tak ingat, penampilanmu sangat berbeda dengan yang dulu.” Ujar il woo.

“g…gwaenchana…” balas so min.

###

 

So eun memegangi pipinya yang benar-benar terasa panas mengingat kejadian tadi. Ia berdiri di belakang pintu kamarnya lalu menjitak kepalanya sendiri.

“babo.” ucapnya.

“kenapa aku malah diam saja dan membalas ciumannya? Kenapa aku tidak menghajarnya saja karena dia sudah berbuat macam-macam padaku.” gumamnya.

“aish babo. . . .apa jangan-jangan aku . . . .” pikirnya.

“mana mungkin, itu tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh tertarik kepada orang yang menyebalkan seperti dia. Sudahlah so eun jangan memikirkannya.” ucapnya pada diri sendiri.

“lebih baik aku segera tidur.”

###

 

Kim bum berbaring di ranjangnya menatap langit-langit kamar. Ia memegang bibirnya sendiri sambil mengingat adegan ciuman tadi. Kim bum senyum-senyum sendiri, memainkan bibirnya.

“dia bahkan membalas ciumanku.” ujarnya tersenyum geli.

“apakah itu artinya dia juga menyukaiku?” pikir kim bum.

“tapi seperti apa ya tipe lelaki idealnya? apakah aku termasuk tipe idealnya?” gumamnya.

Kim bum mendudukan dirinya. Ia masih tersenyum gaje dan terlintas begitu saja ide lagu yang ingin ia buat. Kim bum pun mengambil kertas dan balpoin lalu mulai menumpahkan idenya dalam sebuah lirik.

###

 

Saat makan pagi, suasana sedikit canggung di antara kim bum dan so eun setelah kejadian kemarin. So eun terus-terusan memandang piring berisi nasi dan capcai sapi itu, sambil memakannya perlahan. Sesekali kim bum memberanikan diri untuk meliriknya.

So eun mengambil gelas dan meminumnya sampai habis.

“aku akan menunggumu di mobil.” Ujar so eun lalu pergi. Kim bum hanya menatap heran, tapi kemuadian ia tersenyum kecil.

“aishh kenapa aku jadi gugup begini?” kesal so eun sambil menunggu di dalam mobil.

Tak lama kim bum datang dan masuk juga. Dengan segera so eun pun menyalakan mesin mobil dan menancap gas. Terjadi keheningan saat perjalanan, entahlah mereka sama-sama tak berbicara bahkan tak bercekcok seperti biasanya.

“ekheum….yang kemarin tidak usah di pikirkan. Anggap saja tidak pernah terjadi” Kim bum memulai pembicaraan namun dengan pandangan ke luar jendela.

“y..yang mana?” dengan bodohnya so eun malah bertanya, ia kelihatan gugup sekali.

“y, yang itu….kemarin malam” Jawab kim bum tak kalah gugup.

“yang itu yang mana?” tanya so eun.

“itu…kemarin malam…aku dan kau…” jawab kim bum.

“aku tidak mengerti.” Balas so eun.

“apakah aku harus mengulang kejadian kemarin agar kau tahu? Otakmu lamban sekali” ujar kim bum mulai kesal.

‘deg’ jantung so eun berdebar tak karuan.

“o….arasseo….a, aku akan menganggap tidak pernah terjadi.” Ujar so eun akhirnya.

“hmmm.” Kim bum mengangguk.

###

 

Suzy sedang berjalan menuju kelasnya, sambil celingak-celinguk siapa tahu jika ia melihat kim bum. Tapi malah sosok soo hyun yang ia temukan sedang memandangnya lalu berjalan menghampirinya.

“aishh aku belum siap bertemu dengannya.” Keluh suzy mengingat kejadian waktu itu saat ia mabuk.

“hei…kau sudah lebih baik?” tanya soo hyun.

“o..ne…kau lihat saja, aku sudah sangat baik.” Jawab suzy ketus.

“o….tapi kau belum minta maaf dan mengucapkan terimakasih padaku.” ujar soo hyun.

“untuk apa aku minta maaf? Aku tidak punya salah padamu !” ujar suzy.

“ah kau pura-pura lupa ya?” goda soo hyun.

“a…aniyo….aku kan mabuk jadi tidak ingat.” Ujar suzy.

“aish sudahlah aku juga tahu kau ingat semuanya. Kau harus mengganti rugi karena memuntahi bajuku !” pinta soo hyun.

“mwoya?” kesal suzy.

“kau juga, sudah mengambil ciuman pertamaku ! padahal aku ingin memberikannya pada pacarku nanti. Kau harus minta maaf dan berterimakasih karena aku sudah menolongmu !” pinta soo hyun.

Suzy menelan ludah. “aku sama sekali dalam keadaan tidak sadar saat melakukannya.” Bantahnya.

“tapi kau harus tetap mengganti rugi, ingat itu ! atau aku akan memberitahu semua orang tentang kejadian itu !” ancam soo hyun sambil menyeringai.

“ya kau………” tolak suzy tak terima tapi soo hyun sudah meninggalkannya.

“aishh namja menyebalkan…” geramnya.

###

 

“aku akan latihan sampai malam.” Ujar kim bum pada so eun.

“hanya sekedar memberitahu.” Lanjutnya.

“memangnya ada apa sampai kau harus latihan sampai malam?” tanya so eun.

“kau ingin tahu?” tanya kim bum.

“tidak juga.” Balas so eun.

“nanti akan ku beri tahu.” Ujar kim bum.

“terserah….sudah sampai…” so eun meberhentikan mobilnya di dekat tempat markas kim bum dan teman-temannya.

“hubungi saja aku jika kau sudah selesai. Aku akan menjemputmu !” ujar so eun.

“arasseo…” kim bum pun keluar dari mobil.

————

 

Suara music terdengar begitu memekakan telinga di ruangan itu. Suara merdu kim bum tak kalah menusuk sampai gendang telinga (?). Ya sebentar lagi adalah pesta kampus dan mereka harus berlatih semaksimal mungkin.

“stop…stop….stop…!” perintah seung gi menghentikan latihannya.

Semua menatap ke arah seung gi.

“kita harus tampil lebih maksimal nanti, karena kita termasuk yang special saat tampil nanti !” ujar seung gi.

“kau kim bum, focuslah menyanyi jangan memikirkan yang lain….il woo….kau juga soo hyun seriuslah….!” Pinta seung gi.

“hey aku sudah focus dari tadi…” sanggah kim bum.

“ne…arasseo…kita lanjutkan..”

“sebentar….sebenarnya lagu apa yang ingin kita nyanyikan?” tanya soo hyun.

“my angel dan someday.” Jawab seung gi (ngarag bgt gue hahaha)

“I like you…” celetuk kim bum.

Sontak semua menatap ke arahanya.

“waeyo?” tanya soo hyun dan seung gi berbarengan. Il woo hanya diam saja.

“my angel dan I like you….lebih baik itu saja. Lagu itu lebih lembut” Lanjut kim bum.

###

 

So eun menguap lebar. Ia duduk menunggu pesan dari kim bum. Tapi sudah pukul 10 malam kim bum tak juga mengirim pesan padanya. Perasaan cemas menyelimuti dirinya, takutnya kim bum berkelahi lagi. So eun pun memakai jaketnya lalu berjalan keluar hendak menuju tempat latihan kim bum. Tapi, saat so eun hendak masuk ke dalam mobil, terdengar suara gerbang terbuka. Dilihatnya kim bum baru saja pulang.

“eh kim bum-ssi?” selidik so eun. Kim bum berjalan mendekat.

“kau mau kemana?” Tanya kim bum memandang so eun.

“baru saja aku akan menjemputmu? Tapi kau sudah pulang. Lagipula kau tak kunjung mengirim pesan, takutnya kau berkelahi lagi” Jawab so eun.

“ponselku mati. Jadi aku pulang dengan seung gi.” Balas kim bum.

“oh arasseo.” So eun angguk-angguk kepala.

“aku lelah.” Gumam kim beom lalu berjalan menuju rumah meninggalkan so eun yang masih diam di tempat.

“sifatnya itu tidak bisa di tebak. Kadang-kadang menyebalkan, dingin? Cuek? Heh memang banyak menyebalkannya.” Gerutu so eun.

“hey mau sampai kapan kau berdiri di luar?” teriak kim bum berbalik menatapnya.

“eh? Hanya mengunci pintu mobil.” Balas so eun.

Seolah seperti yang tidak peduli, kim bum pun kembali berjalan.

###

 

Pesta kampus pun tiba. Gedung aula kampus yang megah terlihat ditata dan di dekor sebaik mungkin. Mulai banyak para mahasiswa yang berdatangan dengan pakaian terbaik mereka. Kim bum bersama teman-temannya masih berada di ruang music karena waktu mereka untuk tampil masih lama. Kim bum merasa gelisah, bukan karena akan tampil di depan banyak orang di kampusnya, tapi gelisah karena apakah ia harus melakukannya atau tidak? Setelah berfikir panjang, akhirnya kim bum pun memutuskan untuk mengirim pesan pada so eun. Kim bum menghela nafas panjang sebelum ia menekan tombol send.

###

 

So eun sekarang akan menempati janjinya pada ji bin untuk datang dan menyaksikan olimpiade taekwondo. Ia sedang dalam perjalanan menuju sana. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada satu pesan masuk.

Datanglah ke kampusku sekarang ! Di gedung aula kampus. Jangan sampai tidak datang !

 

So eun mengerutkan keningnya setelah membaca pesan dari kim bum tersebut. Tapi ia sama sekali tak mengindahkan pesan kim bum. So eun langsung memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jas, menganggap pesan dari kim bum tidak penting. Yang lebih penting adalah dirinya harus menepati janji, dan harus menyemangati ji bin.

###

 

Kim bum memandangi ponselnya. Berharap so eun akan membalas pesan darinya. Tapi sampai ia akan segera tampil pun so eun tak kunjung membalas, nyali kim bum sedikit menciut. Tapi karena tingkat kepercayaan dirinya tinggi, kim bum yakin kalau si bodyguardnya itu pasti akan datang.

Tak lama, mereka badboy band di panggil oleh sang mc. Dengan segera mereka pun bersiap-siap.

Saat semuanya sudah berdiri di atas panggung, para mahasiswa terutama mahasiswi yang menyaksikan terlihat begitu histeris. Band dengan personil-personil yang tampan membuat mereka terpesona. Il woo, seung gi, dan soo hyun tersenyum menanggapi jeritan dan tepuk tangan mereka. Sementara kim bum hanya tersenyum sekilas, dan sekarang matanya berputar tak bisa diam. Mengedarkan pandangannya ke semua sudut di aula yang dipenuhi banyak orang.

Ia mencari sosok bodyguardnya, tapi tak kunjung ia temukan. Kim bum mendesah. Jika benar-benar tidak datang, maka apa arti dari lagu yang ia pilih. Awas saja jika sampai berakhir ia tak juga melihat so eun. Itulah sekarang yang ada di pikiran kim bum.

 

1, 2, 3

Suara pukulan (?) drum memulai penampilan mereka. Di susul petikan merdu gitar oleh il woo dan permainan bass dari soo hyun. Kim bum memejamkan mata dan mengambil nafas. Ia memegang mike dengan tangannya bersiap untuk menyanyi.

Pada saat itulah lagu yang berjudul my angel mengalun (?) lembut ditambah penghayatan dari sang vocalis kim bum. Semua mulai menikmati permainan badboy band.

###

 

“ji bin-ah kau hebat.” so eun bertepuk tangan melihat ji bin baru saja memenangkan pertandingan.

Ji bin ke luar arena dan segera melepas body protect, head protect, hand proteck dan sebagainya di bantu oleh park sajangnim. (pengalaman hahaha)

“sajangnim aku menang !” ujar ji bin senang.

“ne, kau sudah berlatih dengan baik.” balas park sajangnim.

So eun yang tadinya ada di bangku penonton langsung menghampirinya.

“ji bin tendanganmu kuat sekali !” so eun mengacungkan jempolnya pada ji bin sambil tersenyum.

“noona kau benar-benar menepati janji.” ji bin nyengir senang.

“tentu saja, mana boleh mengingkari janji.” so eun berjongkok dan mengacak lembut rambut ji bin.

“noona apa kau akan memberikanku hadiah? Aku kan sudah menang.” ucap ji bin.

Park sajangnim hanya geleng-geleng kepala. So eun tersenyum.

“mmm noona akan membelikanmu es krim. Bagaimana?” tawar so eun.

Ji bin mengangguk senang.

“baiklah kalau begitu.” ucap so eun.

###

Kim bum sudah menyanyikan lagu ke dua. I like you. Tapi kini penghayatannya tak sedalam (?) yang tadi. Karena sekarang di sela-sela menyanyi, matanya terus mencari sosok seseorang. Kim bum kesal, sampai penampilannya selesai ia tak kunjung melihat so eun.

 

“aish sebenarnya dia membaca pesan dariku atau tidak sih?” kesal kim bum.

“hei kau kenapa?” tanya seung gi heran menghampiri kim bum yang sedang duduk.

“hmm.” Soo hyun mengangguk menyetujui pertanyaan seung gi.

“aku tidak apa-apa.” jawab kim bum biasa.

“hmm semoga saja ada produser musik yang melihat penampilan kita. Jadi kita akan di kontrak atau bahkan di tawari untuk debut.” khayal soo hyun.

“bukankah suzy anak dari pemilik yayasan musik?” ujar seung gi.

Mendengar nama suzy, pikiran kim bum jadi melayang kepada siapa seseorang yang membuat so eun sampai bisa tercebur ke kolam. Memang ia mencurigai suzy. Kim bum tampak berfikir.

“ah benar juga, kalau begitu kita bisa memanfaatkan suzy agar kita bisa segera debut.” ujar soo hyun melirik kim bum.

“ada apa kau menatapku seperti itu?” protes kim bum.

“ya. . .suzy kan tergila-gila padamu, jadi kau bisa. . . .” ujar soo hyun.

“kita tidak boleh berbuat licik.” timpal il woo.

“aku tahu, tidak mungkin aku melakukannya.” balas kim bum.

“kita tunggu waktu saja, mungkin nanti kesempatan akan datang.” tambah il woo.

###

 

Kim bum tiduran di sopa panjang sembari menunggu so eun. Ia mengetuk-ketukan telunjuknya pada meja. Tak lama orang yang di tunggu-tunggu pun datang.

“darimana kau? Kenapa tidak datang?” tanya kim bum langsung.

So eun memutar kepala menengok ke arah kim bum.

“wae?” tanya balik so eun bingung.

“kenapa tidak datang?” ulang kim bum yang kini beranjak duduk.

So eun mengerutkan keningnya sejenak. Ia teringat dengan pesan kim bum tadi.

“lagi pula aku tidak menyatakan setuju akan datang.” jawab so eun enteng.

Kim bum mendesah.

“tadi aku sudah ada janji, makanya aku tidak datang.” lanjut so eun.

“janji?” ulang kim bum.

“ne, memangnya ada apa kau menyuruhku ke kampusmu tiba-tiba?” heran so eun.

“aku, tadinya aku, ingin menunjukan sesuatu. Tapi. . . .ah sudahlah.” jawab kim bum yang kembali menidurkan dirinya di sopa dan memejamkan mata.

So eun semakin bingung lalu ia pun berjalan mendekati kim bum dan membungkukan badannya. Matanya menyipit mengawasi wajah kim bum.

“jika kau bersikap lebih sopan dan tidak menyebalkan. Mungkin…..aku akan menyukaimu.” ujar so eun yang sukses membuat kim bum langsung membuka ke dua matanya dalam satu kali kerjapan. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut so eun. Terkejut sudah pasti, senang? Mungkin. Kim bum menatap wajah so eun yang berada di atasnya. Tampak so eun sedang tersenyum.

Maaf ngepostnya lama…lagi ga ada ide di tambah males haha

TBC

 

BABY FACED BODYGUARD PART 11

BABY FACED BODYGUARD PART 11

 

AUTHOR: RESI R

MAIN CAST: KIM SANG BEOM DAN KIM SO EUN.

OTHER CAST: KIM YOONA, LEE SEUNG GI, JUNG IL WOO, JUNG SO MIN, KIM SOO HYUN, BAEK SUZY.

GENRE: IDK (?)

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Setelah di pikir2 mending di post aja deh part 11 nya hahaha#plaak apa sih

PART 11

 

Suzy memperhatikan dengan kesal. Sebenarnya ia belum sepenuhnya keluar dari sana. Suzy bersembunyi di balik pintu ruang ganti baju saat mendengar ada seseorang yang memanggil so eun tadi. Il woo.

Suzy menahan amarahnya saat tak lama dari itu kim bum juga masuk dan malah membantu so eun. Memberikan nafas buatan padanya.

“sial menyebalkan !” kesalnya.

“kenapa kim bum bisa tahu dia ada disini !” geramnya mengepalkan tangan.

“aish menyebalkan ! Menyebalkan !”

 

Kim bum mengangkat tubuh so eun yang masih lemas.

“biar aku bantu.” ujar il woo.

“tidak usah !” tolak kim bum kasar lalu menggendong so eun.

Il woo hanya terpaku di tempat. Lalu tak sengaja ia melihat sebuah jam tangan dan ponsel yang tergeletak. Milik so eun, pikir il woo lalu ia pun mengambilnya.

###

 

Kim bum masuk ke kamar so eun sambil membawa segelas susu hangat dan roti lalu menyimpannya di meja. Kim bum duduk di kursi dekat kasur sambil memerhatikan so eun yang sepertinya masih tertidur. Kim bum tersenyum melihatnya. Tak lama so eun membuka kedua matanya. Yang pertama ia lihat adalah sosok kim bum.

“bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya kim bum cepat-cepat.

“mmm sudah baik, tapi kepalaku yang jadi pusing.” jawab so eun.

“yasudah, sebaiknya kau minum dulu ini.” kim bum memberikan segelas susu hangat dan roti.

“ah gomawo.” ujar so eun. Perlahan so eun pun meminumnya.

So eun baru menyadari sesuatu, ada yang aneh dengan pakaiannya.

“ini. . . .bajuku siapa yang menggantinya?” tanya so eun was-was.

“menurutmu siapa?” goda kim bum.

“andwae. . . .jangan bilang jika kau. . . . .” ujar so eun takut.

“wae? Ternyata kau seksi juga.” ujar kim bum.

“mwo? Jadi kau yang . . . . .”pekik so eun.

“kau berharap aku yang melakukannya? Mengganti bajumu begitu?” potong kim bum.

“aniyo. . . .tentu tidak !” jawab so eun ogah-ogahan.

“bibi shin yang mengganti bajumu. Kau pikir aku ini lelaki seperti apa.” balas kim bum.

“jincha? Ah syukurlah ! Jika benar-benar kau yang melakukannya aku tidak akan tinggal diam. Kau akan mati ditanganku !” so eun mengepalkan tangannya dan mengacungkannya pada kim bum.

Kim bum menampiknya sambil tersenyum, entahlah saat ini ia sedang ingin tersenyum. Mungkin ia sudah mencium (?) bibir so eun walaupun bukan termasuk kategori ciuman tapi bibir mereka bersentuhan. Saat memberi nafas buatan. Kim bum merasa menang.

“heh, lalu kenapa kau ada di kolam renang?”tanya kim bum.

“bukannya kau yang menyuruhku ke sana? Bahkan kau mengancamku jika aku tidak datang” tanya balik so eun.

“aku? Kapan aku menyuruhmu untuk ke kolam renang?” kim bum tak mengerti.

“kau sendiri yang mengirim pesan padaku !” tukas so eun.

“aku tidak pernah mengirim pesan padamu. Malahan kau yang tak menjawab telpon dariku. Untung saja aku tahu kau ada disana.” ujar kim bum.

So eun mengerutkan keningnya.

“jincha? Aneh sekali.” heran so eun.

Kim bum merasa ada yang tidak beres dengan semua ini. Ada seseorang yang mulai ia curigai.

“tapi untunglah aku selamat. Jika tidak ada il woo mungkin aku sudah mati sia-sia kehabisan nafas. Aku harus mengucapkan terimakasih padanya” celetuk so eun.

Tatapan kim bum menajam.

“yak kau pikir aku juga tidak menolongmu?” bentak kim bum.

So eun mengerutkan kening mendapati bentakan kim bum.

“tapi kan jika il woo tidak keburu menolongku aku pasti sudah mati.” timpal so eun.

“lalu jika aku tak menolongmu, kau tak akan mati?” kesal kim bum.

“hei kenapa berbicara seperti itu?” heran so eun.

“kau pikir siapa yang memberimu nafas buatan? il woo menolongmu atau tidak pun dia tidak akan melakukan apa-apa, hanya menepuk pipi dan mengguncang-guncangkan bahumu tidak akan membuatmu sadar.” ujar kim bum masih kesal.

So eun melongo, kim bum terlihat emosi di matanya.

“jadi pertolonganku yang paling berpengaruh.” lanjut kim bum.

Tak terpikir oleh so eun jika kim bum melakukannya.

“kau. . . .yang . . . .” pekik so eun.

“bahkan aku berkali-kali melakukannya karena kau tak juga sadar. Kau harus lebih berterimakasih padaku.” ujar kim bum, nada suaranya merendah.

So eun diam, ia masih tak percaya.

“lagi pula kenapa harus selalu il woo yang menolongmu.” desah kim bum.

Mata so eun terus mengarah kepada kim bum. Berarti tanpa sadar kim bum telah menciumnya. Aigo ini adalah yang pertama bagi so eun. So eun menelan ludahnya.

“lain kali, aku ingin melakukannya disaat kau sadar.” ujar kim bum lalu keluar dari kamar so eun.

Sekali lagi so eun menelan ludahnya.

“mwo?” pekiknya. Sebenarnya apa yang ada di pikiran kim bum.

Sementara itu kim bum tampak senyum-senyum sendiri sambil berjalan ke arah kamarnya.

###

 

“ah bosan sekali !” ujar soo hyun sambil memainkan remote tv.

Tapi munculah ide dari otaknya dan segera menghubungi seung gi. Sudah tahulah apa yang soo hyun bicarakan dengan seung gi. Setelah waktu itu ia pertama kali ke klub bermain dengan wanita dengan seung gi, rasanya soo hyun ingin bermain lagi. Mungkin sudah terpengaruh oleh seung gi.

 

“mwo? Apa aku tidak salah dengar? Wae?” tanya soo hyun.

“. . . . . . .”

“aneh sekali. Kali ini aku yang mengajakmu ke klub tapi kau tidak mau? Biasanya setiap malam kau rutin bermain dengan wanita.”

“. . . . . . .”

“yasudah aku tidak memaksa.”

 

tut tut tut.

Sambungan telpon pun terputus.

 

Soo hyun menatap ponselnya.

“aish aneh sekali. Seorang playboy tingkat tinggi menolak bermain ke klub. Ada apa dengannya?” heran soo hyun.

———-

 

Seung gi menghela nafas berat sambil terduduk di kasurnya. Baru saja ia menolak ajakan temannya untuk pergi ke klub. Sebenarnya ada satu yang ia pikirkan.

 

“n…noona?” kaget seung gi.

“ne, kemarin malam kau mabuk berat. Untung saja aku melihatmu, jadinya aku membawamu kemari.” ujar yoona seakan menjawab kekagetan seung gi.

“akh. . . . .” seung gi memegangi kepalanya, terasa pusing lagi.

“gwaenchana?” tanya yoona sambil membantu membuat seung gi duduk.

“hanya sedikit pusing. N…noona. . . .gomawo.” ujar seung gi.

Yoona mengangguk sambil tersenyum.

“ini sebaiknya makanlah ! Maaf aku tidak bisa memasak.” ujar yoona menyodorkan semangkuk sup.

Seung gi menatap mangkuk itu.

“aku tidak selera makan.” jawab seung gi memandang sup itu.

Yoona menghela nafas.

“apa karena gara-gara itu?” tanya yoona.

Seung gi mendongak menatap yoona.

“apa?” tanyanya.

“kau menjadi playboy karena ayahmu?” tanya yoona.

Seung gi melototkan matanya.

“dari mana kau tahu?” seung gi menahan marah saat yoona mengungkit ayahnya, bahkan ia tidak menyebut noona.

“kau menjadi playboy karena membenci ayahmu. Saat kau bermain dengan banyak wanita apakah kau tidak sadar bagaimana perasaan mereka? Wanita tidak bisa seenaknya di permainkan. Sebagaimana pun wanita itu bekerja di klub tapi mereka tetaplah lemah, hati mereka mudah tersentuh. Jika kau masih mempermainkan wanita, apa kau juga tak merasa perasaan ibumu sama sakitnya saat ayahmu pergi meninggalkannya dengan wanita lain. Seharusnya kau tidak boleh begitu. Kau bisa bicarakan dengan ayahmu baik-baik.” ujar yoona panjang lebar menghiraukan pertanyaan seung gi.

Seung gi tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa diam setelah mendengar perkataan yoona.

“mianhae aku berbicara seperti ini, aku tak sengaja mendengar racauanmu saat mabuk.” ujar yoona.

Seung gi masih diam.

 

Mengingat itu membuat seung gi berpikir. Ia tahu semua yang dilakukannya selama ini memang salah. Ia begini karena terlalu diselubungi rasa benci. Tapi baru kali ini ada seseorang yang membuatnya serius berpikir.

###

 

Soo hyun baru masuk ke dalam klub malam itu. Tapi, belum bersenang-senang ia sudah dikejutkan dengan seorang wanita yang ia kenal tengah membuat keributan.

“suzy-ya?” ucapnya.

 

“ya. . . .! Aku bilang tambah lagi !” amuk suzy karena seorang bartender itu tak kunjung memberinya satu botol soju.

“tidak bisa nona, kau sudah menghabiskan dua botol soju. Jika ada apa-apa yang terjadi padamu kami yang harus bertanggung jawab.” tolak bartender itu.

“aish sialan, aku baik-baik saja. Aku tidak akan apa-apa, kau lihat?” ujar suzy.

“nona kau sudah mabuk berat.” ujar bartender itu.

Suzy menggeleng-gelengkan kepalanya lalu merebut botol soju milik orang lain.

“hei apa yang kau lakukan?” marah pemiliknya.

Suzy malah meneguknya sampai habis seperempat soju itu.

“hah wae? Hari ini aku benar-benar kesal ! Jangan menggangku !” bentak suzy lalu hendak meneguk soju lagi.

“hei kau !” marah orang itu.

“suzy !” teriak soo hyun menghampirinya. Sontak semua orang memerhatikan soo hyun.

“hehehe mianhae, sepertinya aku harus segera membawanya pulang.” ujar soo hyun lalu mengangkat tubuh suzy untuk ia papah.

“ne, sebaiknya tuan bawa dia pulang. Dia sudah mabuk berat dari tadi.” ujar bartender.

“ne” jawab soo hyun lalu memapah suzy yang sudah sempoyongan tidak jelas keluar dari klub.

“aish kau berat sekali.” dumel soo hyun masih memapah suzy di trotoar jalan.

“ya. . . .wanita itu benar-benar menyebalkan. Kim bum-ah kenapa kau sampai bisa menyukai bodyguardmu sendiri huh? Aku itu jauh lebih sempurna darinya. Ah menyebalkan !” racau suzy tak jelas.

Soo hyun membulatkan matanya karena kaget.

“mwo? Kim bum menyukai bodyguardnya?” pekiknya tak percaya.

“ah kepalaku pusing sekali. . . .dan mual.” racau suzy lalu menghentikan langkahnya. Soo hyun hanya menghela nafas, ia maklum karena suzy sedang dalam pengaruh mabuk. Tapi perkataan suzy tentang kim bum yang menyukai bodyguardnya memberi berita baru, sekaligus membuatnya tak percaya. Soo hyun ikut berhenti berjalan. Suzy meliriknya dengan mata sendu.

“eng. . . .” erangnya lalu menghadap soo hyun.

“kim bum?” ujar suzy. Soo hyun hanya mengerutkan keningnya.

Tiba-tiba “muaachhh” suzy mencium bibir soo hyun sekilas. Soo hyun tampak terbengong dengan aksi (?) suzy barusan. Ia memegangi bibirnya sendiri.

“kim beom-ah kau tahu aku benar-benar. . . . . . .uweeek !” suzy muntah di baju soo hyun.

“ya apa yang kau lakukan?” amuk soo hyun, tapi suzy ambruk di tubuhnya. Soo hyun dengan sigap menahannya dengan rasa jijik.

“aish menjijikan.” dumelnya.

###

 

“kau banyak memakai parfum?” tanya seung gi pada soo hyun saat mereka latihan di markas.

“ne.” jawab soo hyun sambil mencium bajunya sendiri.

“aish kesannya jadi bau. Membuatku mual.” ujar seung gi.

“habis mau bagaimana lagi, aku sudah mandi tiga kali tapi baunya tetap tidak hilang. Makanya aku memakai parfum sebanyak ini daripada tubuhku bau soju.” jawab soo hyun.

“soju? Kau habis di muntahi seorang wanita?” tebak seung gi.

“itu . . . . . Ya lagi pula kenapa kau menolak ajakanku?” tanya balik soo hyun. Mengalihkan pembicaraan.

“entahlah, aku sedang malas.” jawab seung gi.

Il woo hanya mendengarkan pembicaraan mereka sambil memainkan gitarnya.

“maaf aku telat.” ujar kim bum yang baru datang.

“kau terlalu lama di dalam mobil bersama bodyguardmu ya?” tanya seung gi.

Soo hyun yang mendengar kata bodyguard langsung ingat perkataan suzy kemarin malam.

“aku datang sendiri.” jawab kim bum santai sambil memandang il woo.

Il woo sendiri sedang asik bermain gitar, entahlah rasanya menjadi canggung semenjak kejadian itu.

“kalau begitu kita mulai.” ujar kim bum menyuruh untuk memulai latihan.

###

 

So eun baru membuka kedua matanya, ia masih merasa sedikit pusing. Bibi shin masuk ke kamar so eun sambil membawa semangkuk bubur dan segelas teh hangat.

“tuan muda menitip pesan agar anda beristirahat, dan jangan pergi kemana-mana.” ujar bibi shin.

“tapi bi bagaimana jika ada sesuatu yang terjadi padanya? Tidak ada yang menjaganya” ujar so eun.

“tenang saja, tadi setelah pulang kuliah tuan muda langsung latihan dan dia bilang tidak ada apa-apa. Dia menelpon bibi.” jelas bibi shin.

“oh arasseo.” jawab so eun.

“lebih baik makan dulu ini !”ujar bibi shin.

“ne bibi gamsahamnida.” balas so eun.

“sepertinya tuan muda mulai tertarik.” ujar bibi shin sambil tersenyum lalu keluar dari kamar so eun.

So eun mengerutkan keningnya. Sudah ada dua orang yang mengatakan kata tertarik.

“tertarik?” gumamnya sambil berfikir.

“apakah maksudnya mulai tertarik padaku?” pikir so eun.

“jadi dia mulai menyukaiku?” pekik so eun.

###

 

Soo hyun menghampiri kim bum yang tengah berkutat dengan pensil dan kertas. Kembali berfikir menulis lagu.

Sementara seung gi entah sejak kapan ia sedang merenung, masih memikirkan perkataan yoona. Il woo sendiri sedang memegangi dua buah benda yang ingin ia berikan pada kim bum. Tapi semenjak tadi, bahkan semenjak di kampus mereka seperti orang asing, tidak berbicara bahkan tidak mengobrol sama sekali. Mereka seperti yang tidak saling mengenal.

Soo hyun pun duduk di sebelah kim bum, ada sesuatu yang ingin ia tanyakan.

“ya beom-ah. . . .apakah benar kau menyukai bodyguardmu?” tanya soo hyun.

“mwo?” kaget kim bum sambil menatap soo hyun.

“dari mana kau mendapat kesimpulan aku menyukainya?” tanya kim bum.

“dari suzy. Jadi apakah itu benar?” selidik soo hyun.

“jangan asal bicara, dia sudah bicara ngawur.” sanggah kim bum. Ia sudah menduga jika suzy akan memberitahu orang lain. Kim bum merutuki diri sendiri.

“hmmm mungkin pengaruh mabuk juga.” gumam soo hyun lalu menghampiri seung gi, ada yang ingin ia tanyakan juga pada seung gi. Kim bum menghela nafas.

Melihat kesempatan itu, il woo pun memberanikan diri untuk berbicara pada kim bum.

“kim beom-ah. . . . .aku menemukan ini di tepi kolam renang.” ujar il woo menyodorkan ponsel dan jam tangan pada kim bum. Kim bum menatap tangan il woo yang memegang dua buah benda itu lalu naik ke atas melihat wajah il woo. Kim bum mengangkat kedua alisnya seakan bertanya.

“ini milik so eun-ssi. Tolong berikan padanya.” ujar il woo seakan mengerti dengan yang dipikirkan kim bum.

Kim bum mendesah lalu mengambil dua benda itu.

“aku minta maaf.” ujar il woo bersalah lalu pergi duluan.

Kim bum hanya memandangi dua benda di tangannya, ia terfokus pada jam tangan.

“ini. . . . .memang jam tangan milikku.” ujarnya tak percaya.

“tapi darimana so eun memilikinya?”

###

 

Kim bum langsung masuk ke kamar so eun tanpa permisi. Dilihat so eun sedang memandang keluar jendela.

“kau sudah merasa baik?” tanya kim bum.

So eun menoleh.

“kenapa masuk tanpa mengetuk pintu?” tanya so eun sebal.

“hanya melakukan yang aku mau.” jawab kim bum asal.

“aish. . . .” dumel so eun.

“ponselmu !” kim bum menyerahkannya pada so eun.

“dari mana kau menemukannya? Aku sudah mencarinya kemana-mana.” ujar so eun.

“tertinggal di kolam renang.” jawab kim bum tidak memberitahu jika il woo yang menemukannya.

“oh. . . .” balas so eun.

Kim bum mengcungkan sebuah jam tangan.

“dari mana kau memilikinya?” tanya kim bum.

Mata so eun membulat melihat jam tangan yang ada di tangan kim bum.

“ini milik orang lain, aku harus mengembalikannya.” so eun merebut jam tangan itu tapi kim bum menahannya.

“aku bilang darimana kau memilikinya?” tanya kim bum lagi.

“wae? Aku tak sengaja menemukannya waktu itu. Jadi aku harus mengembalikan pada pemiliknya. Tapi sampai sekarang aku tak pernah bertemu lagi dengannya, dan aku juga tak tahu wajahnya seperti apa.” jawab so eun.

Kim bum tampak memikirkan sesuatu setelah mendengar jawaban so eun.

“memangnya kenapa kau bertanya tentang ini?” heran so eun.

Kim bum tersadar.

“oh aniyo.” jawabnya.

So eun pun merebut jam tangan itu dari tangannya. Sementara kim bum  keluar kamar so eun masih sambil berfikir.

“aneh.” gumam so eun  memegangi jam tangan itu.

###

 

Kim bum duduk di sova kamarnya. Pikirannya sibuk melayang ke kejadian waktu itu.

“seingatku, jam tanganku hilang setelah aku di kejar oleh manusia-manusia gila waktu itu.” ingat kim bum.

“so eun menemukan jam tanganku?” pikirnya.

‘deg’ jantung kim bum berdetak dengan cepat.

“apa jangan-jangan wanita yang aku peluk waktu itu adalah kim so eun?” pekik kim bum.

###

 

Kim bum hendak masuk ke kamar so eun, tapi so eun yang lebih dulu membuka pintu hendak ke luar kamar.

“yak. . .kau selalu membuatku kaget.” ujar so eun mendapati kim bum berdiri di depan pintu.

Kim bum malah menatap wajah so eun lekat.

“ada apa?” tanya so eun.

“sebentar.” ujar kim bum lalu memeluk so eun. Memeluk seperti waktu itu. So eun kaget di buatnya, kim bum yang memeluknya seperti ini membuat ia teringat dengan waktu itu. Bahkan pelukan yang sama, aura yang sama, dan jantungnya yang berdegup lebih cepat sama dengan yang ia rasakan dulu.

Kim bum mencium bau parfum so eun, harumnya sama dengan bau yang ia cium saat memeluk wanita yang tak secara sadar telah menolongnya dari kejaran orang-orang yang menghajarnya.

“ternyata benar.” batin kim bum.

So eun tampak bingung dengan kelakuan kim bum, ia pun melepaskan pelukannya.

“ada apa denganmu?” heran so eun.

Kim bum kembali menatap so eun tepat pada matanya.

“kau. . . . .” ujar kim bum menggantung.

“aniyo.” lanjutnya lalu meninggalkan so eun.

“benar-benar aneh.” gumam so eun.

###

 

Kim bum tampak bolak-balik di kamarnya. Ia sebelumnya benar-benar tak menyangka jika so eun adalah wanita yang di peluknya waktu itu.

“kebetulan? Atau takdir?” pikirnya.

“takdir? Atau kebetulan?”

“argh aku benar-benar tak mengerti.” ujarnya.

“jika takdir? Berarti aku di takdirkan dengannya? Jadi takdir yang mempertemukan aku dengannya? Atau mungkin takdir dari tuhan yang akan menentukan?” tanyanya pada diri sendiri.

###

 

“eosseo eoseyo.” sapa so min ramah pada pelanggan.

“apakah pemilik butik ini ada?” tanya orang itu.

“oh ne, akan saya panggilkan. Tunggu sebentar.” ujar so min.

Sembari menunggu, orang itu pun melihat-lihat baju yang ada di sekitar.

Tak lama yoona pun datang.

“oh nyonya Lee?” sapa yoona. Orang itu berbalik.

“apa kabar yoona?”tanya nyonya lee.

“baik, bagaimana dengan anda?” tanya balik yoona.

“baik sekali, sebenarnya aku datang kemari ingin memberi tahu sesuatu padamu.” ujar nyonya lee.

“oh ne apa itu?” tanya yoona.

“aku mengundangmu untuk datang ke acara pesta ulang tahun yayasan seni yang ke 3 besok.” ujar nyonya lee.

“oh. . . .mmm akan aku pikirkan terlebih dahulu. Lagi pula aku kan bukan siapa-siapa. Kenapa nyonya harus mengundangku?” ujar yoona tertawa kecil.

“ini sebagai ucapan terimakasihku. Pokoknya aku tunggu kehadiranmu. Yasudah kalau begitu aku harus pergi, aku sudah ada janji.” ujar nyonya lee sambil tersenyum.

“ne nyonya terimakasih.” balas yoona.

Nyonya lee pun masuk ke dalam mobil lalu pergi.

“eonni ada apa?” tanya so min.

“so min-ah besok kau harus menemaniku !” ujar yoona.

“eodiga?” tanyanya.

###

 

Keesokan harinya.

 

“temani aku !”pinta kim bum pada so eun.

“kau mau pergi kemana?” tanya so eun.

“ulang tahun yayasan milik ibunya seung gi.” jawab kim bum.

“tapi kenapa aku harus ikut? Aku kan tidak berhak, aku bukan siapa-siapa.” tolak so eun.

“kau bodyguardku ! Jadi kau harus mengawasiku.” balas kim bum.

“ah arasseo.” jawab so eun walaupun ia masih merasa heran.

Mereka sedang berada di perjalanan, tiba-tiba kim bum meminta berhenti di suatu tempat. So eun pun hanya bisa menurutinya. Kim bum keluar dari mobil di ikuti oleh so eun. Jalan kim bum lebih cepat dan langkah kakinya lebih lebar dari pada so eun. Sehingga so eun pun hanya bisa berjalan mengikutinya dari belakang. Orang-orang yang ada di sekitar menatap aneh ke arah kim bum, mungkin karena terus di ikut-ikuti oleh seorang wanita di belakangnya. Kim bum merasa risih lalu ia pun menghentikan langkahnya, kemudian ia berbalik ke arah so eun yang juga ikut menghentikan langkahnya.

“ada apa?” tanya so eun.

“kenapa jalanmu lambat sekali !” ujar kim bum berjalan mendekatinya lalu meraih tangan so eun.

So eun kaget sekaligus bingung karena kim bum menggenggam tangannya.

“aku risih karena orang-orang menatapku dengan aneh.” ujar kim bum sedikit salting masih menggenggam tangan so eun. Sementara so eun hanya menatap wajah kim bum yang terlihat gugup.

“yasudah kajja.” kim bum menarik tangan so eun dan mereka pun berjalan berdampingan.

“memangnya kau ingin kemana?” tanya so eun bingung.

“salon. Tidak mungkin kan kau berpakaian seperti ini untuk ke pesta.” jawab kim bum memandang lurus ke depan.

So eun tersenyum kecil sambil memerhatikan wajah kim bum yang merah malu begitu. Kim bum juga ikut tersenyum sedikit saat tahu jika so eun memerhatikannya.

###

 

Pesta

 

Yoona datang bersama so min, mereka tampak cantik di balut dengan gaun sederhana yang tidak terlalu mencolok.

“wooah pestanya megah sekali.” Kagum so min memerhatikan sekitar.

Yoona mengangguk. “sebenarnya aku malu datang ke sini.” Ujar yoona.

“walaupun orang kaya, nyonya lee tidak sombong.” Tambah so min.

“ne kau benar sekali.” Setuju yoona.

Saat mereka hendak mengambil minum, tak sengaja yoona bertemu dengan seung gi yang sedang mengobrol dengan soo hyun dan il woo.

“seung gi-ya…” kaget yoona.

“i..il woo-ssi…” kaget so min pelan.

“n…noona?” kaget seung gi.

Il woo hanya menatap ke arah so min, tidak tahu harus bersikap bagaimana. Sementara soo hyun menatap mereka dengan aneh, dan ia merasa ingat dengan wanita dengan rambut diikat satu itu, wanita yang memakai gaun orange peach selutut.

“kau…jung so min kan?” kaget soo hyun lalu melirik il woo.

“ah..n…ne…annyeong haseyo…” ujar so min malu-malu. Il woo masih tak mengeluarkan suara sepatah kata pun.

“seung gi kenapa kau bisa ada disini?” heran yoona.

Belum seung gi menjawab, nyonya lee datang menghampiri mereka.

“yoona-ssi ternyata kau datang juga….aku menunggumu dari tadi.” Ujar nyonya lee.

“ne…” yoona tersenyum.

“eomma….kau mengenalnya?” tanya seung gi.

“ne…kenapa? Kau mengenalnya juga?” tanya nyonya lee yang ternyata adalah ibunya seung gi.

“eomma?” pekik yoona dalam hati. “jadi nyonya lee ibunya seung gi?” kagetnya.

Tak lama dari itu, kim bum datang bersama so eun. Entah kenapa, kim bum masih menggenggam tangan so eun layaknya seperti orang yang berpacaran.

“hei lepaskan tanganmu! aku malu dilihat orang.” Pinta so eun.

Seakan sadar kim bum pun buru-buru melepas tangannya sambil berdehem. Mereka berjalan menghampiri nyonya lee, seung gi, soo hyun, dan il woo, juga yoona dan so min yang belum so eun ketahui.

“annyeong haseyo bibi.” Sapa kim bum sambil membungkuk dan tersenyum.

So eun ikut membungkuk.

Yoona melirik ke samping dan terkejut melihat adiknya juga datang kesini. “so eun?” pekiknya.

“annyeong haseyo..” sapa so eun.

“ne…kim bum-ssi…apa dia pacarmu?” tanya nyonya lee melirik so eun. Sontak kim bum maupun so eun melototkan matanya, begitu pula yoona dan yang lainnya.

“aniyo bibi, dia hanya….” Jawab kim bum terpotong.

“ah yasudah, lebih baik kalian mengobrol saja dulu. Acaranya belum di mulai, nanti kalian bisa melihat-lihat karya seni disini. Seung gi nanti kau tunjukan pada mereka, ibu ada perlu sebentar, harus menyapa tamu yang lain” Ujar nyonya lee lalu pergi.

So eun baru sadar, dan melirik ke sampingnya. Betapa terkejutnya ia melihat kakaknya yoona dan so min juga ada disana.

“eonni? So min?” kaget so eun tanpa mengeluarkan suara. Hanya dari tatapan saja mereka bisa mengerti harus diam. Jika tidak, identitas so eun bisa terancam.

Yoona hanya tersenyum kikuk begitu pula so eun.

 

TBC

BABY FACED BODYGUARD PART 10

BABY FACED BODYGUARD PART 10

 

AUTHOR: RESI R

MAIN CAST: KIM SANG BEOM DAN KIM SO EUN.

OTHER CAST: KIM YOONA, LEE SEUNG GI, JUNG IL WOO, JUNG SO MIN, KIM SOO HYUN, BAEK SUZY.

GENRE: IDK (?)

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Sebenernya part 10 udah selesai dari kemaren2, tpi baru sekarang bisa postnya. Part 11 juga udah beres, tapi ntar aja deh ya postnya. Happy reading part 10 aja dulu hehehe

 

PART 10

 

Kim bum langsung menarik tangan so eun untuk masuk ke mobil. Il woo hanya menatapnya saja melihat so eun yang tersenyum kikuk padanya lalu meronta pada kim bum.

“ya tidak usah menarik tanganku seperti ini.” kesal so eun hendak melepaskan cengkraman kim bum.

Tapi kim bum tak menjawab dan segera membuka pintu mobil menyuruhnya masuk. So eun terkejut karena kim bum mendorongnya masuk ke mobil lalu dengan cepat menutupnya.

“ya ada apa denganmu?” tanya so eun saat kim bum sudah duduk di sampingnya.

Kim bum tak menjawab.

“wae? Kenapa kau yang harus duduk di sana? Segeralah pindah !” suruh so eun yang melihat kim bum duduk di kursi kemudi, sedangkan dirinya yang duduk di samping kemudi.

“kemarikan kuncinya !” pinta kim bum.

So eun mengerutkan kening merasa heran.

“cepat kemarikan kuncinya !” desak kim bum.

“shireo, kenapa kau marah tiba-tiba padaku? Apa aku berbuat salah?” tanya so eun.

“Ceritakan dulu yang jelas baru aku akan memberikannya.” ujar so eun.

Kim bum mendengus kesal lalu mencondongkan tubuhnya ke arah so eun. Sontak so eun memundurkan tubuhnya.

“apa yang ingin kau lakukan?” tanya so eun.

Kim bum malah semakin dekat.

“hei ! Apa kau ingin aku menendangmu?” ancam so eun saat kim bum sudah sangat dekat dengannya. Tapi kim bum memasang wajah yang datar, masih tidak suka melihat kejadian tadi.

Tangan kim bum langsung mengerayang (?) pada saku jas so eun. So eun terkejut di buatnya.

Hap

kim bum mengambil kunci mobil yang ia dapat dari saku jas so eun lalu segera menjauhkan tubuhnya kembali. So eun bisa menghela nafas lega karena kim bum tak berbuat macam-macam. Tapi sikapnya benar-benar aneh. So eun kembali menatap kim bum.

“apa ada masalah yang terjadi denganmu?” tanya so eun.

Kim bum balik menatap so eun.

“ne.” jawab kim bum cukup keras lalu menginjak pedal gas.

“yak . . . . .” pekik so eun kaget karena kim bum menginjak gas dengan kencang.

Il woo masih diam di tempat sambil melihat mobil yang melaju kencang itu.

“dia cemburu?” batin il woo saat tadi sebelumnya kim bum menatap seperti tidak suka padanya saat menarik so eun.

###

 

“ya jangan kencang-kencang.” teriak so eun karena kim bum tak juga mengurangi kecepatannya.

Kim bum mendengus lalu tiba-tiba menghentikan mobilnya di tepi jalan secara mendadak. Membuat mobil tersebut berdecit. So eun sedikit terpatuk tapi untung saja tak membentur kaca karena memakai sabuk pengaman.

“aku sedang kesal sekarang !” ujar kim bum menatap lurus ke depan.

“tapi kenapa harus melampiaskannya seperti ini? Dan kenapa aku harus terkena kekesalmu juga?” tanya so eun bingung.

“karena aku kesal padamu !” jawab kim bum dengan nada yang cukup naik sambil melihat so eun.

So eun melongo. Apa salah so eun pada anak tuan kim ini? Kenapa tiba-tiba kesal padanya.

“kesal padaku? Wae?” tanya so eun.

“molla……kau cari tahu saja sendiri !” jawab kim bum.

“aish kau aneh sekali.” dumel so eun.

———-

 

“kenapa berhenti disini?” tanya so eun bingung saat kim bum memberhentikan mobilnya di depan sebuah toko musik.

“cepat turun !” perintah kim bum lalu keluar dari mobil.

So eun berdecak sebal.

“sebenarnya apa salahku?” gumam so eun. Tapi ia pun mengangkat bahu tidak tahu.

So eun mengikuti kim bum dari belakang. Tampak kim bum sedang melihat-lihat beberapa kaset musik yang berjejer penuh.

“aku butuh inspirasi.” ujar kim bum sambil melihat salah satu kaset.

So eun meliriknya sekilas, siapa tahu kim bum bicara padanya. Tapi setelah itu so eun ikut melihat-lihat, ia mulai tertarik.

“kau suka musik yang bagaimana?” tanya kim bum tiba-tiba.

“ne? Aku suka semua jenis musik” jawab so eun.

“sebutkan salah satu !” pinta kim bum.

“memangnya ada apa?” tanya so eun bingung.

“katakan saja !” desak kim bum tak sabaran.

“aishh aku memang suka dengan semua jenis musik. Tapi, menurutku musik dan lagu yang lembut dapat menenangkan hati sekaligus menyentuh perasaanku. Aku suka mendengar musik yang lembut.” jawab so eun. Seulas senyum menghiasi bibirnya.

Kim bum tampak memerhatikan so eun yang sedang melihat-lihat kaset sambil berfikir.

“nah seperti ini yang aku suka. Memangnya kenapa kau bertanya tentang ini?” tanya so eun masih penasaran sambil mengacungkan satu kaset yang ia pilih di depan wajah kim bum. Saat so eun hendak menyimpannya kembali, kim bum langsung merebutnya.

“ini untukku !” ujarnya lalu berlalu ke kasir.

So eun hanya menatap bingung.

“dia terlihat masih kesal. Tapi karena apa dia kesal padaku?” gumam so eun heran.

 

Setelah dari toko musik, kim bum membawa mobilnya menuju sebuah restoran. So eun hanya bisa pasrah karena ia juga memang lapar. Dan sebenarnya tidak ada hak untuknya untuk mencegah ataupun melarang kim bum pergi ke tempat yang dia mau. Karena tugasnya hanya menjaga dan mengawasi kim bum agar anak tuan kim ini dalam situasi yang aman selalu.

So eun terlihat memerhatikan kim bum yang sedang makan. Kim bum mendongak dan mendapat sang bodyguard tengah memerhatikannya.

“mwo?” tanya kim bum.

So eun menyipitkan matanya.

“sebenarnya apa yang membuatmu kesal padaku?” tanya so eun.

Kim bum menghela nafas.

“bukannya sudah ku katakan cari tahu saja sendiri !” jawab kim bum cuek dan kembali menyantap makanannya.

“kau akhir-akhir ini jadi berbeda dan aneh. Sikapmu sekarang berubah-ubah.” ujar so eun.

“wae? kau memerhatikan sikapku?” tanya kim bum.

“tentu saja. Sebagai bodyguard aku harus memerhatikanmu.” jawab so eun enteng.

Baru saja kim bum akan tersenyum. Tapi terhenti karena jawaban so eun yang tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Kim bum menghela nafas.

“kau dan il woo…..dekat?” tanya kim bum susah payah. Ini yang sedari tadi ingin ia tanyakan.

“anieyo, dia sahabatmu. Jadi apakah salah jika aku mengenalnya?” tanya so eun. Kim bum diam.

“lagi pula dia baik dan ramah. Waktu itu dia menolong ji bin yang hendak tertabrak mobil saat aku buru-buru, itu adalah hari pertama aku menjadi bodyguardmu” lanjut so eun.

“jadi kau bertemu lebih dulu dengan il woo?” tanya kim bum. Kim bum kira ialah yang pertama kali bertemu dengan so eun diantara sahabat-sahabatnya.

So eun mengangguk. “tapi waktu itu il woo keburu pergi, jadi aku tak sempat mengucapkan terimakasih. Dan aku tidak menyangka jika il woo adalah sahabatmu. Dia benar-benar sudah menolong ji bin. Dari wajahnya memang kelihatan ramah dan baik.” cerita so eun.

“menurutmu aku tidak baik?” tanya kim bum yang merasa tersindir.

“pikir saja sendiri !” jawab so eun tersenyum kecil lalu memakan makanannya.

“aish . . .” decak kim bum. Seolah so eun meniru kata-katanya.

Tanpa mereka ketahui, suzy yang baru masuk ke restoran yang sama melihat mereka sedang makan.

Suzy mengepalkan tangannya. “cantik pun tidak, penampilan aneh iya. Tidak ada yang menarik sama sekali, aish pasti dia sudah melakukan sesuatu sampai kim bum menyukainya…..” kesal suzy.

“tunggu saja, aku akan melakukan sesuatu.”

###

 

Il woo terlihat melamun sambil memetik gitarnya, sepertinya ia tampak risau mengingat tatapan tidak suka kim bum padanya tadi. Apalagi setelah ia sadar jika dari sikap kim bum pada so eun seperti itu menyiratkan jika kim bum menyukainya. Tapi bagaimana dengan ia sendiri? Ia pun merasakan hal yang sama. Il woo benar-benar merasa risau.

 

“i. . .ini untukmu !” so min menyerahkan kotak makanan pada il woo.

Il woo mengambilnya. “gomawo.” jawabnya.

Walaupun il woo tahu kalau so min menyukainya, tapi il woo tetap bersikap baik padanya meskipun ia tidak menyukai so min.

So min tersenyum, dan dari matanya yang memakai kacamata masih terlihat jika ia benar-benar senang.

“d…di makan ya….annyeong.” so min langsung berlari karena malu.

Il woo hanya menatap so min yang cupu semasa SMA itu.

 

Mengingat itu, pikiran il woo sekarang melayang pada so min.

“apakah ketika aku tak ingat dengannya dia juga tak ingat padaku?” tanya il woo sambil mengingat pertemuan yang tak sengaja. Hampir menabraknya dua kali dan sempat mengantarnya. Waktu itu il woo tidak ingat jika wanita itu adalah so min. Tapi, saat seung gi bercerita tentang so min barulah ia ingat.

“sepertinya dia juga tak ingat denganku.” gumam il woo.

###

 

“molla. . . .kau cari tahu saja sendiri !”

so eun teringat perkataan kim bum.

“aish sebenarnya apa salahku? Benar-benar membuat bingung.” gerutu so eun sambil tiduran di kasurnya.

###

 

kim bum memutar kaset yang tadi ia beli. Kaset yang so eun pilih dan katanya yang so eun suka. Kim bum mendengarkannya lewat headphone.

“lagu seperti ini yang ia suka?” pikir kim bum sambil melihat cover dan membaca tulisan yang ada pada kertas di dalam cover kaset itu (?).

“kim bum soo. aish lagunya lembut semua. Apakah semua wanita suka lagu melow seperti ini? Atau hanya dia saja?” gerutu kim bum.

“seleranya memang….” gumam kim bum tapi ia tetap mendengarkan juga. Entahlah, lama kelamaan kim bum mulai menikmati dan ikut bernyanyi juga.

“lembut? Tapi tidak buruk juga.” gumamnya sedikit tersenyum. Kim bum masih terus mendengarkan seraya tiduran sambil mencari inspirasi.

###

 

“so min-ah, aku titip butik lagi ya?” ujar yoona.

“oh ne.” jawab so min.

“pelanggan yang waktu itu memintaku bertemu diluar untuk memberikan pesanannya.” jelas yoona tanpa diminta.

So min hanya mengangguk.

“pelanggan kita bukan orang biasa.” lanjut yoona sambil terkekeh.

“yasudah kalau begitu aku pergi dulu.” yoona pun pergi sambil membawa bingkisan yang isinya baju itu.

“ne hati-hati.” ujar so min mengantar sampai depan.

Setelah yoona pergi, so min pun masuk lagi ke dalam butik.

——-

 

“mianhae menunggu lama.” ujar yoona sambil membungkukan badanya.

“gwaenchana, aku juga baru datang.” ujar pelanggan yoona itu.

“ah nyonya lee ini bajunya, semoga anda puas melihat hasilnya.” ujar yoona tersenyum sambil menyerahkannya.

“ne, nanti akan aku lihat. Aku sudah tidak sabar untuk memakainya nanti.” ujarnya.

“jika anda merasa ada yang kurang bisa menghubungi aku lagi.” ujar yoona.

“ne arasseo.” balas nyonya lee sambil tersenyum.

———

 

“aish kenapa tidak ada bus juga?” tanya yoona sambil berdiri di dekat halte menunggu bus datang. Sudah hampir 20 menit ia menunggu dan ini terlalu lama. Yoona berdecak kesal. Kenapa ia tak naik taksi saja tadi, tidak hemat sedikit pun tidak apa dari pada ia berjalan kaki. Tapi mau tak mau caranya untuk pulang hanya dengan jalan kaki, sudah tak ada taksi yang berkeliaran malam-malam begini. Dengan terpaksa yoona pun melangkah terseret-seret untuk pulang. Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil berkali-kali yang seperti mengarah kepadanya. Yoona berhenti dan mendapati sebuah mobil berwarna silver ada di belakangnya. Perlahan kaca mobil itu turun dan munculah kepala (?) seseorang dari balik sana.

“noona? Apa yang sedang kau lakukan?” tanya seung gi melihat yoona yang masih berada di luar malam-malam begini.

Yoona menyipitkan matanya sambil menyelidik.

“seung gi-ya?” tanya yoona.

 

Sekarang yoona duduk di kursi belakang mobil seung gi bersama dua wanita berpakaian seksi yang tidak ia kenal. Sementara seung gi mengemudi di temani satu orang wanita di sampingnya yang tak kalah seksi. Seung gi tampak mengobrol dan sesekali tertawa, tingkah wanita yang manja pada seung gi membuat yoona risih. Sepertinya yoona hanya mengganggu.

“ckckck ternyata lee seung gi benar-benar seorang playboy. Aku kira dia lelaki baik-baik. Dasar anak muda sekarang” batin yoona.

“eonni, apa kau ingin bersenang-senang dulu dengan kami?” tawar wanita yang duduk di sampingnya.

Yoona tersenyum kikuk.

“ah hahaha aniyo, terimakasih.” jawab yoona.

“sudah sampai.” ujar seung gi memberhentikan mobilnya di depan butik yoona.

“oh ne, seung gi-ssi gomawo.” ujar yoona sambil keluar dari mobil.

Seung gi hanya tersenyum.

“ckckck aku tidak bisa membayangkan jika nanti memiliki kekasih yang playboy.” gumam yoona.

###

 

Keesokan harinya.

 

“kau masih marah padaku?” tanya so eun.

“menurutmu?” tanya balik kim bum dingin.

“aku tidak tahu kenapa kau kesal padaku dan apa salahku. Tapi jika aku benar-benar membuatmu kesal aku hanya bisa minta maaf. Lagi pula aku cari sendiri pun tidak tahu karena aku pikir aku tak berbuat salah padamu. Jadi ya aku minta maaf saja.” ujar so eun.

Kim bum tampak memikirkan suatu cara.

“jika aku tidak mau memaafkanmu?” tanya kim bum.

“aku akan melakukan sesuatu yang kau mau.” jawab so eun enteng.

“baiklah, jika kau ingin aku memaafkanmu…cukup kau ubah penampilanmu seperti dulu…dan…gerai rambutmu !” pinta kim bum.

So eun memerhatikan ekspresi wajah kim bum. Permintaan yang aneh memang.

“oh jadi kau kesal padaku karena penampilanku?” tebak so eun.

Bukan itu, bukan itu yang membuat kim bum kesal. Tapi apa yang harus kim bum jawab.

“n. . .ne. . . Aku risih.” jawab kim bum asal.

“kesal hanya karena ini?” tanya so eun memastikan.

“tidak juga, ah sudahlah cepat jalankan mobilnya.” perintah kim bum.

So eun hanya mengangkat bahu lalu menancap gas.

###

 

“dia kesal karena penampilanku?” pikir so eun sambil bercermin.

“tapi alasannya aneh sekali. Dan apa lagi yang membuatnya kesal padaku?” pikirnya.

So eun menatap bayangannya sendiri.

“aish terpaksa aku harus merubah penampilan lagi. Padahal kan sudah ku sengaja seperti ini agar dia tidak curiga.” ujarnya.

So eun pun mencoba merubah penampilannya lalu melepaskan ikatan rambutnya.

“hmm lagi pula bosan juga jika rambutku terus diikat.” ujarnya sambil tersenyum.

Ponselnya berdering, ia pun mengambilnya.

“oh eonni ?” ujar so eun lalu mengangkat telponnya.

###

 

“apa yang ingin eonni bicarakan?” tanya so eun lalu duduk di sebelah yoona yang menunggu di bangku taman.

“eh? Kenapa penampilanmu jadi seperti ini? Apakah anak tuan kim tidak akan curiga lagi?” tanya yoona.

“entahlah sepertinya tidak, dia sendiri yang menyuruhku begini.” jawab so eun.

“oh merepotkan, tapi terserahlah. Ini !” yoona memberikan jus pada so eun.

So eun meminumnya.

“sebenarnya aku ingin membicarakan soal wasiat yang ibu dan ayah tinggalkan.” ujar yoona.

So eun angguk-angguk.

“kau tahu kan pesan ibu sebelum meninggal?”tanya yoona.

“ne.” so eun mengangguk.

“ibu ingin kita membaca ini setelah peringatan kematiannya yang ke 4. Tinggal beberapa hari lagi. Dan kita harus mengabulkan permintaannya.” ujar yoona memperlihatkan sebuah surat.

“tentu saja kita harus mengabulkannya, lagi pula aku sudah sangat penasaran sebenarnya apa yang ditulis ibu di surat itu.” balas so eun.

“hmm. . .” yoona mengangguk setuju.

“dan. . . . . .dekat dari hari kematian ibu, ayah berulang tahun. Kita harus merayakan ulang tahunnya. Kita harus menyiapkan sesuatu.” ujar yoona.

“apa yang harus kita persiapkan?” tanya so eun.

“nanti akan aku pikirkan.” jawab yoona.

So eun menghela nafas.

“aku jadi rindu pada mereka.” sedih so eun.

Yoona tersenyum.

“siapa yang tidak rindu?” tanyanya.

###

 

Suzy menyeringai saat so eun terlihat keluar dari mobil. Suzy sudah menyusun rencana apa yang akan ia lakukan padanya. Suzy berdiri di teras (?) lantai tiga sambil memegang sebuah pot bunga. Suzy pun mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.

“ya cepat lakukan !” perintah suzy.

Dari bawah terlihat seorang mahasiswa perempuan yang berjalan di bawah sekitar lantai satu. Tiba-tiba saja ia terjatuh, tepatnya pura-pura terjatuh dan meminta tolong pada so eun yang tak jauh darinya.

“nona…nona tolong aku.” melas wanita itu pada so eun.

“oh aigo. . . .” ujar so eun lalu menghampirinya dan berjongkok.

“kakiku. . . .aw kakiku terkilir.” dusta wanita itu seraya memegangi kakinya.

“akan aku obati, ayo aku bantu duduk dulu.” ujar so eun memapah wanita itu untuk duduk di bangku.

“ga in-ah . . . .” teriak seseorang.

“gwaenchana?” tanya orang itu yang ternyata suruhan suzy juga.

“mi chan-ah kakiku terkilir.”rengeknya.

“nona gomawo sudah menolong temanku. Biar aku saja yang memapahnya. Aku akan membawanya ke ruang kesehatan kampus (?).” ujar mi chan.

“oh ne…” balas so eun.

“nona terimakasih.” ujar ga in lalu pergi di bantu mi chan.

So eun hanya tersenyum lalu melihat jam tangannya.

“sebentar lagi dia keluar.” gumam so eun masih berdiri di sana.

Pada saat itu, cepat-cepat suzy menjatuhkan pot ke arah so eun yang masih berdiri tepat di bawahnya.

“so eun-ssi awas !” teriak il woo yang melihat pot yang di jatuhkan ke arahnya.

So eun menoleh melihat il woo dengan bingung. Tapi il woo berlari dengan cepat ke arahnya. Il woo menarik tangan so eun cukup kuat sehingga ia berada di pelukan il woo.

 

Braaakkk

 

“aish gagal !” kesal suzy lalu segera pergi.

 

Pot bunga itu jatuh dan hancur berkeping-keping di dekat mereka. So eun melihat dengan terkejut sementara il woo melihat ke lantai tiga, ini seperti yang disengaja pikirnya.

Kim bum lagi-lagi menyaksikan pemandangan yang tidak ia suka. Belum juga rasa kesalnya pulih sepenuhnya, sudah ada sesuatu yang membuatnya semakin kesal. Mungkin marah?. Sudah dua kali ia melihat il woo menolong so eun. Bahkan sekarang dalam situasi berpelukan? Cih kekesalan kim bum sudah naik di ubun-ubun. Dia saja belum pernah memeluk so eun. Mungkin?

So eun menjauhkan tubuhnya, jelas terlihat dari wajahnya masih kaget. Membayangkan bagaimana jika il woo tidak segera menariknya mungkin ia sudah tertimpa pot itu.

“gwaenchana?” tanya il woo.

“ah ne gwaenchana. Il woo-ssi jeongmal gomawo.” ujar so eun sambil tersenyum.

“jika tidak ada kau mungkin pot itu sudah jatuh berkeping-keping di kepalaku.” lanjut so eun.

“ne untung saja aku melihatnya.” balas il woo.

“sepertinya kau memang penolong. Waktu itu ji bin, bahkan aku sudah dua kali ditolong olehmu.” tukas so eun.

“hanya kebetulan.” balas il woo sambil tersenyum.

 

Kim bum menatap pemandangan yang terlihat akrab itu dengan tajam. Lalu ia pun mengambil ponselnya.

 

Drrrt drrrtt drrrt

Ponsel so eun berbunyi.

 

“ya apa yang sedang kau lakukan?” teriak kim bum.

Sontak so eun menjauhkan ponsel dari telinganya.

aku sudah menunggu di mobil ! Cepat kemari !” teriaknya lagi tak sabaran sambil melihat ke arah so eun dan il woo dari dalam mobil.

“ah ne arasseo. Tidak usah sambil membentak.” jawab so eun.

 

“aishh, dengarkan? Dia tidak sopan.” ujar so eun pada il woo.

Il woo hanya tersenyum, entahlah ia tidak tahu harus berekspresi seperti apa.

“il woo-ssi aku duluan kalau begitu. Lain kali aku akan mentraktirmu karena sudah menolongku. Sekali lagi terimakasih.” ujar so eun.

“aku akan tunggu.” jawab il woo.

So eun pun berlalu meninggalkan il woo. Il woo hanya menatap punggungnya sambil tersenyum.

 

“kenapa lama sekali?” marah kim bum.

“mianhae, tadi ada sesuatu yang terjadi.” jawab so eun.

“aish yasudah jalankan mobilnya !” suruh kim bum.

Selama perjalanan kim bum terus membuang muka ke jendela. Menyadari itu so eun menyernyit bingung.

“aku sudah merubah penampilan. Tapi sepertinya kau masih kesal. Apa jangan-jangan kau kesal karena bukan masalah penampilanku?”tanya so eun.

Kim bum menatap ke arah so eun dengan kesal.

“jangan terlalu dekat-dekat dengan orang lain.” suruh kim bum mengacuhkan pertanyaan so eun.

So eun mengerutkan keningnya.

“wae? Kenapa harus melarangku dekat dengan orang lain? Itu kan hak ku !” protes so eun.

“jika aku sudah mengatakannya turuti saja.” ujar kim bum.

“kau benar-benar aneh.” heran so eun.

“dan…tetaplah gerai rambutmu saat kau bersamaku. Aku lebih suka rambutmu yang seperti ini.” ujar kim bum sambil memerhatikan rambut dan wajah so eun yang sementara so eun sibuk menyetir. Sudah bisa dirasakan pipi kim bum memanas, ia pun kembali memalingkan wajahnya.

“kau yang mengatur-ngatur dan menyuruh-nyuruhku seperti ini seperti aku ini bukan bodyguradmu tapi seperti pembantumu.” ujar so eun.

“wae? Aku ini tuan mudamu. Jadi terserah apa yang aku inginkan.” balas kim bum.

“dulu kau tidak mau dipanggil tuan muda. Tapi sekarang kau sendiri yang mengakuinya.” ujar so eun.

“sudah ku bilang terserah apa mauku.” balas kim bum.

“arasseo arasseo.”

###

 

Malam hari

 

Yoona sedang berjalan pulang sambil berteleponan dengan so eun.

 

“mwo? Benarkah?” tanya yoona.

“ne sikap anak tuan kim ini lama-lama jadi aneh dan menyebalkan.”

“apa kau tidak tanyakan ada apa dengannya?”

“sudah, tapi dia bilang cari tahu saja sendiri. Jika begitu aku tetap tidak tahu apa salahku sampai membuatnya kesal padaku.”

“aneh sekali ya.”

“ne, dia memintaku untuk merubah penampilan dan menyuruhku untuk tetap menggerai rambutku agar ia memaafkanku. Tapi setelah aku melakukannya dia masih terlihat kesal. Bahkan menyurhuku untuk tidak dekat-dekat dengan orang lain. Menyebalkan ! Aku ini kan bodygurdnya bukan pembantunya yang seenaknya dia atur.” oceh so eun panjang lebar.

Yoona masih tetap berjalan sambil memikirkan cerita so eun.

“benarkah? Sikapnya berlebihan juga.”

“ne menyebalkan.”

“tapi jika di pikir-pikir….sepertinya ia mulai tertarik. . . . .” yoona berhenti berjalan saat melihat seseorang berjalan terhuyung-huyung ke arah mobilnya dan dengan susah payah membuka pintunya tapi tidak berhasil.

“tertarik? Tertarik apa?” tanya so eun tak mengerti.

“oh aigooo . . . .”yoona kaget setelah ia tahu jika itu adalah seung gi. Seung gi ambruk di samping mobilnya akibat pengaruh alkohol.

Yoona tak menjawab pertanyaan so eun di telpon dan malah memasukan ponselnya ke dalam tas.

 

eonni? Eonni mendengarku?” tanya so eun.

Tut tut tut

“aish dia memutuskan sambungannya.”kesal so eun.

 

Yoona berlari ke arah seung gi.

“aigoo seung gi-ya gwaenchana?” tanya yoona sambil menepuk-nepuk pipi seung gi.

“eng . . . .” seung gi mengerang lalu memegangi kepalanya, terasa pusing.

Yoona sedikit menahan nafas, seung gi benar-benar bau alkohol. Ia sudah sangat mabuk berat.

“seung gi-ya. . . Ireona !” suruh yoona.

Namun seung gi sudah tak sadarkan diri.

“aish bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?” pikirnya.

Dengan susah payah yoona pun mengangkat tubuh seung gi dan menyangganya. Sudah berkali-kali tubuh yoona ikut terhuyung karena seung gi yang terlalu berat.

“taksi !” teriak yoona saat melihat ada taksi yang lewat.

###

 

“aish benar-benar aneh.” dumel so eun sambil mengambil segelas air putih di dapur.

“seenaknya saja mengatur aku tidak boleh dekat-dekat dengan orang lain.” gerutu so eun lalu meneguk air minumnya.

Kim bum berdiri di depan pintu, mendengar so eun bicara sendiri.

“kau ingin membuatku terus kesal padamu?” tanya kim bum memandang so eun.

So eun langsung menyemburkan minumnya.

“uhuk uhuk…” so eun menatap kim bum dengan kaget.

Kim bum berjalan mendekati so eun.

“sejak kapan kau ada disini?” tanya so eun.

“sejak kau berbicara sendiri dan mengumpat tentangku.” jawab kim bum berdiri di hadapan so eun.

So eun menelan ludah.

“mianhae bukan maksudku seperti itu. Aku hanya heran saja dengan sikapmu. Tidak ada alasan yang jelas kenapa kau melarangku untuk dekat-dekat dengan orang lain.” jelas so eun.

“kau memikirkannya?” tanya kim bum.

“tentu saja. Itu membuatku bingung.” balas so eun.

“kau ingin tahu apa alasannya?” tanya kim bum sambil mendekatkan wajahnya ke so eun. Menatap wajah so eun dengan dekat.

So eun tercekat dengan perilaku kim bum yang tiba-tiba.

“tentu saja. Agar aku tahu dengan jelas.” balas so eun memundurkan tubuhnya. Tapi kim bum menahan lengan atas so eun dengan kedua tangannya.

“benar-benar ingin tahu?” tanya kim bum sambil memamerkan senyumnya.

So eun merasa sekujur tubuhnya panas sedekat ini dengan kim bum. Nafasnya tercekat apalagi setelah kim bum tersenyum dan semakin mendekatkan wajahnya. Seperti akan menciumnya? Sepertinya begitu.

“oh. . . . .aku kira di dapur tidak ada tuan muda.” ujar bibi shin.

Sontak so eun mendorong kim bum dan kim bum melepaskan tangannya yang memegang lengan atas so eun.

“josonghamnida.” bibi shin segera pergi meninggalkan mereka sambil tersenyum penuh arti.

So eun merasakan kini detak jantungnya yang berdetak cepat, aura kim bum yang tadi sedekat itu dengannya sama percis dengan aura yang ia rasakan saat pemuda yang waktu itu yang memeluknya.

“ekhem sepertinya kau tidak perlu tahu.” ujar kim bum lalu segera pergi. Sebenarnya kim bum tidak ingin memperlihatkan wajah gugup dan merahnya atas apa yang ia lakukan barusan pada so eun. Kim bum terlalu terbawa emosi sepertinya.

So eun memegangi pipinya.

“oah. . . .kenapa mendadak panas?” so eun kembali mengambil air minum dan meneguknya.

###

 

Yoona melihat seung gi yang masih tertidur. Kemarin malam yoona terpaksa membawa seung gi ke rumahnya karena bingung harus berbuat apa terlebih seung gi yang sudah mabuk berat.

Yoona memandangi wajah seung gi dengan iba, teringat akan perkataan-perkataan seung gi kemarin meracau pengaruh mabuk.

 

“abeoji, aku membencimu !”

“kenapa kau melakukan semua ini padaku dan juga pada eomma? Kau malah pergi dengan wanita lain.”

Seung gi sedikit mengerang.

“tapi beruntunglah eomma adalah sosok ibu yang tegar, bisa mengurusku hingga menjadi sekarang ini. Walaupun sikapku agak mengecewakannya selalu bermain dengan wanita. Itu karena aku membencimu abeoji makanya aku seperti ini !” racau seung gi.

“setelah lama kau menghilang, lalu kau memintaku untuk bertemu? Cih tidak tahu malu sekali. Kau tidak pantas menjadi ayahku.”

 

Yoona tersenyum iba mengingatnya. Sekarang ia tahu kenapa seung gi menjadi playboy dan sering bergonta ganti pacar. Berkencan dengan banyak wanita. Dan yang membuatnya mabuk seperti ini karena kemarin habis bertemu dengan ayahnya.

“seung gi-ya ternyata nasibmu miris sekali.”gumam yoona.

Seung gi mengerang lalu memegangi kepalanya. Terasa pusing. Perlahan seung gi membuka kedua matanya. Melihat bayang-bayang wajah seseorang yang ada didekatnya.

“seung gi-ya kau sudah sadar, gwaenchana?” tanya yoona.

Seung gi masih belum bisa melihat dengan jelas. Masih remang-remang.

“dimana aku?” tanya seung gi.

“di rumahku, kemarin kau mabuk berat.” jawab yoona.

Seung gi membuka matanya lebar-lebar.

“n…noona?” kaget seung gi.

###

 

Suzy melihat so eun yang baru datang untuk menjemput kim bum. So eun terlihat sedang memperhatikan ponselnya, tentu saja untuk mengetahui keberadaan kim bum melalui ponsel.

“dia orangnya” ujar suzy pada dua perempuan, bukan mi chan dan ga in tapi wanita yang berbeda. Kedua perempuan itu disuruh suzy untuk berpura-pura tak sengaja menubruk so eun.

“dapatkan nomer ponselnya !” perintah suzy. Dua perempuan itu mengangguk mengerti.

Salah satu dari perempuan itu sengaja mengaitkan kakinya ke kaki so eun saat melewati so eun agar so eun terjatuh, dan yang satunya lagi pua-pura tak sengaja menubruknya.

Bruuukkk

Ponsel so eun jatuh dan cukup terkejut karena ada yang menubruknya.

So eun terjengkang karena tubrukannya cukup keras dan hampir membuatnya terjatuh. Tapi dengan sigap salah satu dari mereka membantu so eun.

“ah nona mianhae….”ujarnya.

“oh ne gawaenchana…..” jawab so eun.

Sementara yang satunya lagi sedang sibuk mengotak-atik ponsel so eun tanpa so eun sadari.

“dapat….” Perempuan itu mencatat nomor ponsel so eun dengan cepat.

“nona ponselmu terjatuh.” Ujarnya lalu memberikannya pada so eun.

“oh ne gomawo…..” ujar so eun.

“nona kami minta maaf sekali lagi. Kami tidak sengaja. Kami sedang buru-buru.” Ujar wanita itu lalu buru-buru pergi.

So eun hanya memandang aneh pada dua perempuan itu tapi ia tidak peduli.

Suzy tampak tersenyum. “yang kali ini pasti akan berhasil.” Ujarnya.

—————

 

Tak lama So eun merasakan ponselnya bergetar. Ada satu pesan masuk yang tidak ia kenal. So eun pun membacanya.

 

Aku tunggu di gedung kolam renang di lantai 2, awas saja jika tidak datang !

(kim beom)

 

So eun menyernyitkan keningnya.

“kim beom? Apakah ini nomor ponsel barunya? Ada apa menyuruhku ke gedung kolam renang?” pikir so eun.

——-

 

Il woo baru keluar dari perpustakaan yang ada di lantai 2. Tak sengaja ia melihat so eun berjalan sendirian sambil celingak-celinguk. Il woo memperhatikannya sampai so eun masuk ke dalam ruangan tempat renang.

Kening il woo mengerut.

“kenapa so eun masuk ke sana?” heran il woo lalu mengikutinya.

 

So eun celingak-celinguk mencari kim bum. Sejenak pandangannya beredar.

“woah kolam renangnya luas sekali.” kagumnya melihat dua buah kolam renang. So eun pun berjalan dan mengedarkan pandangan untuk mencari kim bum. Tapi tidak ada siapa-siapa disini.

“aish dimana anak tuan kim ini?” tanya so eun masih celingat celinguk.

“sebenarnya ada apa menyuruhku kemari? Aneh.” pikir so eun tak sadar jika ia sudah berdiri di pinggir kolam renang.

So eun merogoh ponselnya untuk menghubungi kim bum.

byuurrr

Tiba-tiba ada seseorang yang mendorongnya dari belakang sehingga ia terjatuh ke dalam kolam, untung saja ponselnya hanya terjatuh di lantai tepi kolam #nah loh?

Sial ! So eun tidak bisa bernafas. So eun tidak bisa berenang !

Suzy tersenyum evil melihat so eun yang meronta-ronta tak bisa berenang. Berkali-kali so eun tenggelam dan muncul lagi ke atas.(bayangin aja orang yang ga bisa berenang kaya gmana ! Susah ngejelasin dlm kata2 haha)

Suzy tersenyum sinis lalu segera pergi sebelum ada yang melihat perbuatannya.

So eun berusaha meminta tolong, ia mengacung-acungkan kedua tangannya ke atas siapa tahu ada yang melihatnya. Tapi sia-sia karena di sana tidak ada siapa-siapa. Sudah banyak air yang terminum oleh so eun, ia benar-benar tidak bisa bernafas.

“siapa saja tolong aku !” batinnya.

Gelembung-gelembung udara yang berasal dari mulut dan hidung so eun perlahan menghilang, tubuh so eun melemah, sekarang ia tidak kuat untuk bergerak.

“s . . . .so eun-ssi? So eun-ssi !!!” teriak il woo panik saat ia melihat so eun yang tenggelam.

“il woo?” tanya so eun dalam hati dan semuanya pun menjadi gelap.

Tanpa basi-basi ia pun berlari dan menceburkan diri ke kolam untuk menolong so eun.

———–

 

“aish. . . . .kenapa tidak diangkat? Ada dimana dia?” kesal kim bum saat mencoba menghubungi so eun.

Kim bum pun iseng-iseng membuka aplikasi untuk mengetahui keberadaan so eun.

“ini. . . . .ini ruang musik lalu ini. . . . .kolam renang? Ponselnya ada di kolam renang berarti dia juga ada disana. Aish sedang apa dia disana?” pikir kim bum.

———

 

Il woo mengangkat so eun ke tepi kolam. Bajunya sudah basah sempurna.

“so eun-ssi ! So eun-ssi ireona !” ujar il woo sambil menepuk-nepuk kedua pipi so eun.

So eun belum sadarkan diri, ia masih pingsan, sudah sangat kekurangan oksigen.

“so eun-ssi pali ireona !” il woo semakin khawatir.

 

Kim bum masuk ke dalam ruangan kolam renang(ya apalah namanya hahaha). Saat ia berada di depan pintu ia melihat il woo yang sedang berusaha membuat seseorang sadar, terus menepuk-nepuk pipinya dan mengguncang-guncang bahunya.

Mata kim bum membulat.

“kim so eun?” pekiknya, tak sadar jika ini adalah pertama kali ia menyebut nama so eun. Lagi-lagi il woo yang menolong so eun bukan dirinya.

Kim bum berjalan cepat dengan langkah lebar menghampiri mereka.

“kau ingin membuatnya mati?” bentak kim bum lalu berjongkok. Il woo kaget mendapati kim bum datang kemari.

“minggir !!!” bentaknya sambil mendorong bahu il woo agak kasar sampai il woo hampir terjengkang. Il woo tersentak dengan sikap kim bum.

Tanpa aba-aba kim bum langsung mendaratkan bibirnya memberi nafas buatan untuk so eun (anggap aja ciuman secara tidak langsung wkwkwk).

So eun masih belum bernafas. Kim bum kembali memberikan nafas buatan, menyalurkan nafas dari mulutnya.

So eun masih sama. Kim bum menarik nafas sekuat-kuatnya, berusaha mengambil oksigen dengan banyak lalu di salurkan lagi pada so eun.

“ya. . . .ireona ! So eun-ssi ireona !” kim bum mengguncang-guncangkan bahu so eun.

Sekarang ia benar-benar merasa khawatir padanya. Il woo hanya menatap saja, ia diam. Tidak berani berbuat apa-apa setelah kim bum membentaknya.

Kim bum menghirup banyak oksigen lalu memberikan nafas buatan lagi.

“so eun-ssi ireona !” ujar kim bum agak pelan karena ia cukup lelah memompa (?) oksigen.

“uhuk . . . .uhuk. . . .”so eun terbatuk dan memuntahkan banyak air. Melihat itu kim bum merasa lega begitu pun il woo.

“ya gwaenchana?” tanya kim bum.

So eun membuka matanya dan terlihat remang-remang.

“kim bum?” ujarnya pelan.

 

TBC

Kepanjangan ya? Mianhae author lagi semanget-semangetnya ni hahahaha, mianhae juga hubungan seungyoon belum ada tanda-tanda gimana gitu hahaha apalagi hubungan jung il woo jung so min. Dan sangat apalagi suzy sm soo hyun hehe. Saya lagi mikir-mikir lagi cerita yang pas buat mereka.

Yaudah kalo udah baca KOMEN ya ! GOMAWO

BABY FACED BODYGUARD PART 8

BABY FACED BODYGUARD PART 8

 

AUTHOR: RESI R

MAIN CAST: KIM SANG BEOM DAN KIM SO EUN.

OTHER CAST: KIM YOONA, LEE SEUNG GI, JUNG IL WOO, JUNG SO MIN, KIM SOO HYUN, BAEK SUZY.

GENRE: IDK (?)

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

di part ini ga pake foto soalnya lagi males#emang ngaruh hehehe

yaudah deh baca aja, jangan lupa komen !

 

PART 8

 

“w..w..wajahmnu tidak cocok dengan umurmu…” ulang kim beom sekali lagi namun agak gugup sambil memalingkan wajahnya dari so eun.

So eun  menelan ludahnya. Sepertinya anak tuan kim ini mulai curiga padanya.

“ah..sepertinya mataku sudah rusak. S..sudahlah tidak usah dipikirkan.” Ujar kim bum pelan lalu keluar dari kamar so eun.

So eun masih diam, ia benar-benar tiadk mengira jika kim bum akan memberi penilain seperti itu. Berarti…………..

“ah eotteoke?” ujarnya kelabakan.

———–

 

“apa yang baru saja aku lakukan? Bodoh….” Gumam kim bum sambil masuk ke dalam kamarnya.

###

 

“eonni…lakukan sesuatu” pinta so eun.

“mwo? Apa yang harus aku lakukan?” Tanya yoona tak mengerti.

“apa saja.” Jawab so eun.

“aish sebenarnya ada apa denganmu? Mau apa datang kemari sepagi ini?” Tanya yoona.

“eonni…bagaimana ini? Sepertinya anak tuan kim mulai curiga.” Ujar so eun.

“curiga bagaimana?” Tanya yoona.

“dia bilang….wajahku tidak cocok dengan umurku. Bukankah itu artinya dia mulai curiga?” ujar so eun.

Yoona mengerutkan keningnya.

“itu memang benar, jadi apa yang harus aku lakukan?” Tanya yoona ikut bingung.

“ubah penampilanku ! buat penampilanku setua mungkin.” Pinta so eun.

“apa kau tidak bercanda?” Tanya yoona meyakinkan.

“apa eonni mau aku ketahuan?” Tanya so eun.

“aish……arasseo arasseo….” Jawab yoona pasrah.

——–

 

“bagaimana?” Tanya yoona.

So eun memerhatikan dirinya di depan cermin. “tidak buruk, setidaknya dia tidak akan curiga lagi.” Ujar so eun.

“yasudah begitu saja.” Ujar yoona.

“oh ya, so min mana? Aku tak melihatnya.” Tanya so eun.

“dia belum datang, aku saja baru membuka butik. Kau datang kemari terlalu pagi.” Ujar yoona.

“hehehe mianhae…..” ujar so eun.

“kau sudah sarapan?” Tanya yoona.

“belum…” jawab so eun.

“yasudah, sarapan dulu saja disini denganku.” Ajak yoona.

“ne……”

###

 

Kim bum menggigit bibirnya sendiri. Ia sudah bangun dari tadi, tapi tak kunjung beranjak dari kasur. Sekarang kim bum tampak berfikir sambil memegangi bibirnya.

“kenapa ya aku tidak bisa tidur hanya karena terus memikirkannya?” gumamnya.

“apakah memang benar jika aku menyukainya?” pikir kim bum.

“aish……” kim bum megacak-acak rambutnya.

“tapi mana mungkin aku tertarik dengannya………” ujar kim bum kesal.

Kim bum pun beranjak untuk duduk.

“tidak…..mungkin aku salah……..aku memang sedang banyak pikiran gara-gara lagu baru yang tak kunjung mendapat ide.” Ucapnya ngaco.

Kim bum keluar dari kamar berniat untuk mengambil minum. Tapi, ia heran karena tak melihat so eun berada di sekitar rumah.

“kemana dia?” tanya kim bum.

Tak mau ambil pusing kim bum pun meneguk air putih yang ia ambil dari lemari es.

Kim bum berjalan kembali menuju kamarnya. Tapi, langkahnya terhenti saat melewati kamar so eun. Terbesit rasa penasaran dalam otaknya. Kim bum menempelkan telinganya pada pintu tapi tak terdengar apa-apa. Tanpa pikir panjnang, kim bum memberanikan diri membuka pintu itu. Tapi saat sudah benar-benar terbuka kim bum tak melihat ada sang bodyguard di dalam.

“tidak ada.” Gumamnya.

“apa yang sedang tuan muda lakukan?” tanya bibi shin.

Kim bum kaget, hampir saja ia terjengkang.

“aish membuat kaget saja.” Ujar kim bum agak salting.

“tuan muda mencari…..” tanya bibi shin.

“mwo? Siapa juga yang mencarinya?” potong kim bum.

“aku hanya ingin mandi, dan tak sengaja lewat sini.” Lanjutnya lalu segera pergi.

Bibi shin hanya tersenyum penuh arti.

“babo…” gumam kim bum pelan.

###

 

So eun baru keluar bersama kakaknya yoona dari dalam café saat tak sengaja melihat wanita bernama baek suzy itu hendak masuk ke dalam café yang sama.

“mwo?” so eun kaget dan langsung menarik yoona.

“ada apa?” tanya yoona.

“aish….” Dengan cepat so eun pun menarik yoona masuk ke dalam mobil.

“wae?” tanya yoona heran.

“ada wanita sombong itu….” Jawab so eun.

“ne?” tanya yoona, masih tak mengerti.

“itu…! Wanita yang meminta ganti rugi padaku saat aku tak sengaja menabrak bagian belakang mobilnya.” Tunjuk so eun pada suzy.

Mata yoona menyipit. “mwo? perempuan itu kan….” Ujar yoona sambil menerka.

“eonni mengetahuinya?” tanya so eun.

————–

 

“mwo? Dia adalah pelanggan sombong yang noona ceritakan?” tanya so eun tak percaya.

“hmmm.” Yoona mengangguk.

“aishh ternyata kita punya masalah dengan orang yang sama. Ingin sekali aku menghajarnya jika aku bisa.” Ujar so eun.

“so eun-ah…apa urusanmu dengannya sudah selesai?” tanya yoona.

“molla…tapi sepertinya dia tidak akan menyukaiku gara-gara aku melarikan diri waktu itu. Ditambah dia itu satu kampus dengan anak tuan kim.” Jawab so eun.

“benarkah? Ckckck suatu kebetulan….” Ujar yoona.

“ne…” so eun mengiyakan.

###

 

“dari mana saja kau?” tanya kim bum setelah mendapati so eun baru pulang.

“oh…hanya keluar sebentar.” Jawab so eun enteng. “waeyo? Ada sesuatu yang terjadi?” tanya so eun.

Kim bum tak menjawab, ia malah memperhatikan so eun dari atas sampai bawah.

“ya ada apa dengan penampilanmu?” tanya kim bum.

“penampilanku? Memangnya kenapa?” tanya balik so eun.

“jadi aneh.” Komentar kim bum.

“benarkah? Tapi ini biasa saja” Sanggah so eun.

“aish sudahlah aku lapar. Temani aku makan.” Pinta kim bum.

“waeyo? Bibi shin tidak memasak?” tanya so eun.

“molla….aku ingin makan di luar. Temani aku !” pinta kim bum jalan lebih dulu.

So eun menatap aneh kepada kim bum. Bingung dengan sikap anak tuan kim yang berubah-berubah ini.

“aneh.” Gumamnya.

——–

 

“ingin makan dimana?” tanya so eun sambil menyetir.

“terserah….!” Jawab kim bum.

“ne? bukannya tadi kau yang mengajakku?” heran so eun.

“kemana saja….” Jawab kim bum kekeh.

“aish….” Dumel so eun.

————

 

“wae? Kau tidak makan?” tanya kim bum karena tak melihat so eun memakan makanannya.

Mereka saat ini sedang berada di restaurant.

“anieyo. Aku sudah sarapan tadi.” Jawab so eun.

Kim bum menatap so eun. “jadi tadi kau keluar untuk makan? Tidak mengajakku?” tanya kim bum sedikit kesal.

“bukan begitu….aku ada perlu, karena lapar ya sekalian makan saja.” Jawab so eun.

Kim bum tak menganggapi dan kembali memakan makanannya.

“aish ada apa sih dengannya? Sikapnya jadi aneh…” batin so eun seraya memerhatikan kim bum yang sedang makan.

###

 

“aku tak perlu menunggu kan?” tanya so eun pada kim bum setelah sampai di tempat kim bum latihan.

“tidak, kau pergi saja ! aku memberi kebebasan satu hari padamu.” Ujar kim bum.

“yasudah kalau begitu……”so eun kembali masuk ke dalam mobil.

“hey…tidak mengucapkan terimakasih?” tanya kim bum.

So eun menyernyitkan keningnya. “ah ne….gomawo tuan muda…aku sangat berterimakasih.” Ujar so eun dengan nada yang dibuat-buat.

“hmmm…” kim bum mengangguk lalu masuk ke dalam markasnya sambil tersenyum penuh arti. Tanpa so eun sadari kim bum tersenyum sendiri, entahlah kenapa sikap kim bum jadi seperti ini.

So eun mengacak-acak rambutnya. “aish menyebalkan ! sebenarnya ada apa dengannya? Aneh sekali hari ini !” kesal so eun.

———-

 

“hei apa yang terjadi? Tak seperti biasanya kau tersenyum seperti itu?” tanya seung gi.

“aku? Molla.” Jawab kim bum sambil merebut bass yang di pegang soo hyun lalu memainkannya. Masih dengan senyum.

“tidak mungkin jika tak ada sesuatu yang terjadi.” Gumam soo hyun.

“ada yang aneh denganku?” tanya kim bum sambil menunjuk dirinya sendiri.

“ne…kau aneh.” Ujar seung gi dan soo hyun bersamaan.

“entahlah….aku sedang senang.” Balas kim bum.

Mata seung gi menyipit.

“apa kau……..” tebak seung gi.

“ya…..! jangan bicara yang macam-macam. Lebih baik kita segera latihan ! mumpung aku sedang semangat !” perintah kim bum.

“bagaimana kita mau latihan? Il woo saja belum datang.” Ujar soo hyun.

“dia selalu telat akhir-akhir ini…” tambah seung gi.

###

 

Il woo tak sengaja melihat so eun masuk ke tempat latihan taekwondo saat ia melewati jalan itu.

“itu kan….” Ujarnya lalu menghentikan motor.

———-

 

“annyeong haseyo…” ujar so eun masuk.

“oh so eun-ssi.” Balas park sajangnim.

“sajangnim bagaimana kabarmu? Apakah anak-anak selalu latihan dengan bersemangat?” tanya so eun.

“baik…anak-anak cukup bersemangat akhir-akhir ini karena sebentar lagi akan ada olimpiade jadi mereka harus berlatih lebih giat.” Jawab park sajangnim.

“ah aku baru tahu. Kapan olimpiade itu di laksanakan? Apakah ji bin juga ikut?” tanya so eun.

“seminggu lagi. Soal ji bin dia sangat bersemangat untuk mengikuti olimpiade usia dini. Tapi beberapa hari ini dia tidak masuk latihan dikarenakan ji bin demam dan di rawat di rumah sakit.” Jelas park sajangnim.

“omo…ji bin sakit? Aku tidak tahu sajangnim.” Ujar so eun.

Park sajangnim mengangguk.

“saat kami menjenguknya ji bin bilang ingin bertemu denganmu. Kebetulan sekali kau datang kemari.” Ujar park sajangnim.

“oh aku harus segera menjenguknya kalau begitu.” Ujar so eun.

“ne, semoga dia masih berada di rumah sakit.”

————

 

Ponsel il woo bergetar.

“yeobeseyo”

“….!”

“ah ne arasseo. Aku akan segera kesana.”

“….”

Sebelum il woo menancap gas, sejenak ia melirik so eun yang masih mengobrol dengan park sajangnim. Tapi, saat so eun keluar, buru-buru ia pun menancap gas menuju tempat latihan mereka karena yang lain sudah menunggu.

###

 

“apakah kim bum harus tahu tentang kim so eun yang sebenarnya? Atau memang aku harus merahasiakannya?” batin il woo.

“ya….il woo-ya yang benar latihannya !” ujar kim bum karena dari tadi il woo banyak melamun.

“oh…mianhae..” ujarnya.

“aish…..”dumel kim bum.

“ya apa yang sedang kau pikirkan? Apakah ada sesuatu yang terjadi?” tanya soo hyun yang memang berada di dekat il woo.

“anieyo…tidak ada apa-apa.” Jawab il woo seraya melirik kim bum.

“ayo kita ulangi lagi…” perintah kim bum sambil memegang mike.

“one….two….three…!” teriak seung gi untuk memulai latihan.

Dan suara music pun menggema di ruangan latihan mereka.

###

 

“so eun noona…” ujar ji bin bahagia karena so eun datang menjenguknya.

So eun tersenyum pada eommanya ji bin lalu pada ji bin.

“annyeong ahjumma.” Ramah so eun.

“kemarilah…! Ji bin terus saja bertanya kapan kau menjenguknya.” Ujar eomma ji bin.

So eun hanya tersenyum. “kebetulan sekali. Bisakah kau menjaga ji bin sebentar so eun-ssi? Aku ada perlu sebentar.’” Pinta eommanya ji bin.

“ne…aku akan menjaga ji bin.” Jawab so eun dengan senang hati.

Eomma ji bin pun pergi keluar.

“kenapa noona baru menjengukku?” tanya ji bin

“mianhae ji bin-ah…noona baru tahu dari park sajangnim.” Jawab so eun sambil duduk di kursi yang menghadap kasur ji bin.

“kau masih demanm?” tanya so eun sambil meraba kening ji bin.

Ji bin mengangguk.

“noona dengar minggu depan olimpiade. Kau harus segera sembuh ne? noona janji akan melihat dan mendukungmu.” Ujar so eun sambil tersenyum.

“ne noona. Kau harus datang ya ! noona harus menepati janji.” Ujar ji bin sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

Dengan senang hati so eun menyambutnya. “ne…tapi kau harus sembuh dulu.” Ujar so eun.

Ji bin tersenyum.

###

 

Hari sudah malam, latihan badboy band sudah selesai. Kim bum pun merogoh ponselnya untuk menghubungi so eun.

“ya…kau dimana? cepat kemari…!” suruh kim bum.

“…….”

“aku tidak ingin menunggu lama. Dalam waktu 5 menit kau harus sudah ada disini !”

“…….”

“cepatlah….aku lelah…aku ingin cepat tidur.”

“…….”

Kim bum memutuskan sambungan telponnya lalu memasukan lagi ponselnya pada saku celana. Kim bum tampak senyum-senyum sendiri.

Tahu-tahunya seung gi, soo hyun, dan il woo memperhatikan.

“ya apa yang kalian lihat?” tanya kim bum.

Sontak semuanya mengalihkan pandangan ke arah lain dan pura-pura mengobrol. Tapi tidak dengan il woo yang hanya diam setelah tahu jika yang habis di telpon kim bum adalah so eun.

“aishhh…” desis kim bum karena teman-temannya tak merespon pertanyaannya.

Il woo bangkit berdiri lalu meregangkan tangannya.

“aku pulang lebih dulu.” Ujarnya lalu berjalan keluar.

“sepertinya aku juga.” Ujar soo hyun ikut-ikutan.

“ehem….aku juga pulang. Sudah ada janji dengan teman kencan. Lagi pula kau kan di jemput oleh sang bodyguard” Tambah seung gi.

Kim bum mendeliknya. Seung gi pun segera menyusul soo hyun yang sudah pergi lebih dulu takut kim bum akan mengamuk.

“ya….kenapa jadi pulang semua…” dumelnya.

###

 

“aish aneh….! Tidak biasanya dia ingin aku menjemputnya. Biasanya kan ogah-ogahan.” Dumel so eun seraya memasukan ponselnya ke dalam saku jas.

“waeyo noona?” tanya ji bin.

So eun tersenyum.

“ji bin-ah sepertinya noona harus segera pulang.” Ujar so eun.

Ji bin memanyunkan bibirnya tidak ingin so eun cepat-cepat pulang.

“noona janji akan melihatmu di olimpiade.  Jadi semoga kau cepat sembuh ya.” Ujar so eun memamerkan senyum ramahnya.

“yasudah noona, aku tunggu janjimu !” ujar ji bin.

“tenang saja. Noona akan menepati janji.” Ujar so eun.

“ahjumma, aku pamit pulang. Lain kali aku akan menjunguk ji bin lagi.” Ujar so eun.

“terimakasih sudah menjenguk dan menjaganya tadi so eun-ssi.” Ujar eomma ji bin.

“gwaenchana…ji bin sudah ku anggap sebagai adik sendiri.” Balas so eun.

“yasudah kalo begitu aku pamit. Semoga ji bin cepat sembuh dan bisa pulang.” Ujar so eun.

“ne…..berhati-hatilah…” eomma ji bin mengantar so eun sampai depan pintu ruangan rawat ji bin.

So eun berjalan menuju parkiran.

“hoooammm…” so eun menguap lebar seraya melihat jam tangannya.

“sudah jam 10 malam?” gumamnya. “bahkan aku tidak sadar.” Ujar so eun.

Drrtttt drtttt drttttt

Ponselnya kembali bordering.

“……….”

“aishhh…” so eun menjauhkan ponselnya dari telinga mendengar suara kim bum yang memengakan telinga.

“ne aku akan segera kesana……”

“……..”               

“ne….hanya 5 menit.”

“…….”

“aishh marah-marah saja…heran sekali dengan sikapnya akhir-akhir ini.” dumel so eun sambil masuk ke dalam mobil.

###

 

“aishhh dia itu kenapa lama sekali? Aku hampir berlumut menunggunya.” Kesal kim bum. Padahal ia baru menunggu tak lebih dari 10 menit.

1 menit

2 menit

3 menit

4 menit

5 menit

6 menit

Kim bum menguap lebar.

Drttttt drtttt drttttt

Ada satu pesan yang masuk. Dengan mata merem-melek kim bum pun membukanya.

Tuan muda, aku sudah ada di depan

“katanya hanya 5 menit, ini sudah lebih dari 5 menit.” Ucap kim bum lalu berjalan keluar.

So eun terlihat menunggu kim bum di dekat mobil.

“kau telat 1 menit !” ujar kim bum seraya berjalan ke arahnya.

So eun menatap tak percaya.

“mwo? Dia menghitungnya? Jika dipikir-pikir kurang kerjaan sekali.” Batin so eun.

“kau tahu? aku sudah sangat mengantuk.” Ujar kim bum lalu langsung masuk begitu saja ke dalam mobil.

So eun masih menatap heran. Tapi ikut masuk ke dalam mobil.

“cepat jalankan mobilnya !” perintah kim bum.

“arasseo…arasseo..” jawab so eun setengah kesal. “cerewet sekali.” Batin so eun.

###

 

Kim bum membuka kedua matanya. Ia tertidur di dalam mobil karena sudah sangat mengantuk. Kim bum membenarkan posisi duduknya dan sadar jika mobil sudah berhenti di depan rumah. Lalu ia melirik ke samping. Dilihatnya so eun juga tertidur di dalam mobil dengan posisi kepala yang di senderkan di stir mobil.

“bodoh….kenapa tidak membangunkanku? Malah ikut tidur disini juga” ujar kim bum. Tapi ia tersenyum kecil.

Kim bum mengangkat tangannya untuk menyentuh pundak so eun. Berniat membangunkannya. Tapi tangannya terhenti di udara. Ada rasa tidak tega juga jika ia membangunkan so eun yang sepertinya sedang tertidur lelap ini.

“aish tidak acara lain.” Ujarnya lalu keluar dari mobil.

Kim bum berjalan ke arah pintu mobil dekat so eun lalu membukanya. Perlahan kim bum mengangkat tubuh so eun secara pelan-pelan agar ia tidak terbangun. Kim bum menggendong so eun masuk ke dalam rumah.

“aish tubuhnya pendek tapi berat juga.” Dumelnya.

————–

 

Kim bum membaringkan so eun di ranjang. Tentu saja di kamar so eun.

“aih…..”kim bum memegangi pinggangnya yang terasa pegal. Sejenak kim  bum menatap so eun yang sedang tertidur itu. Kim bum menatap wajahnyya lekat-lekat lalu berjongkok di depannya. Kim bum memperhatikannya. Entah apa yang mendorongnya tiba-tiba mengangkat tangan, menyentuh hidung mancung so eun lau turun dan berhenti di bibir. Dari dekat wajah bodyguardnya memang cantik. Kim bum mengakuinya.

So eun sedikit terusik. Cepat-cepat kim bum menarik tangannya.

“aish…apa yang aku lakukan?” dumelnya pada diri sendiri.

“bodoh….” Gumam kim bum lalu keluar dari kamar so eun.

###

 

Kening so eun mengerut, karena merasakan berkas sinar matahari menyilaukan matanya. So eun meregangkan tubuhnya. Tidurnya cukup nyenyak. Tapi ini benar-benar tempat tidur yang nyaman. Seingatnya, kemarin malam ia tertidur di mobil. Lalu sekarang?

So eun langsung membuka kedua matanya dan duduk di kasur.

“ini? kamarku….tapi kenapa aku bisa ada disini? Semalam kan aku tertidur di mobil. Aish apa jagan-jangan………” pikirnya.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.

“ya…..kau masih tidur? Aku ada kuliah pagi hari ini….!” bentak kim bum.

“mwo? Ah ne…….” balas so eun lalu cepat-cepat bergegas.

###

 

So eun focus menyetir mobil. Disampingnya terlihat kim bum sedang asik mendengarkan music dari ipodnya. So eun meliriknya sekilas. Ada hal yang ingin sekali ia tanyakan, tapi takutnya ia akan salah bicara.

“wae…?” tanya kim bum seperti menyadari pikiran so eun.

“oh…itu….semalam…” ujar so eun.

“ne…aku yang membawamu ke kamar.” Jawab kim bum langsung paham.

“oh…gomawo…waktu di mobil aku takut membangunkanmu jadinya aku ikut tertidur di mobil.” Ujar so eun.

“ne aku tahu.” Balas kim bum enteng.

So eun hanya menghela nafas lega. Si anak tuan kim ini tidak marah ternyata.

Sudah sampai, so eun memberhentikan mobilnya di depan gedung kampus kim bum.

“kau….aku tidak suka penampilanmu yang seperti ini….sangat aneh…” komentar kim bum sebelum ia turun dari mobil.

“wae? Aku nyaman berpenampilan seperti ini.” jawab so eun. Memang penampilan ini adalah penampilan yang di ubah yoona.

“tapi aku tidak nyaman melihatnya…..seperti….ahjuma.” ujar kim bum.

“i..ini kan penampilan yang sesuai dengan umurku. Apa salah?” tanya so eun.

“anieyo…hanya saja terlihat aneh. Ubah saja seperti penampilanmu yang pertama.” Suruh kim bum enteng lalu hendak membuka pintu mobil.

So eun sudah menatap bingung sikap anak tuan kim ini.

“oh ya dan…..sekali-kali……..g…Gerailah rambutmu…!” pinta kim bum sebelum ia benar-benar keluar dari mobil dengan nada sedikit agak gugup.

So eun hanya bisa menganga. Bingung.

“aish…sikapnya jadi aneh.” Dumel so eun saat kim bum benar-benar sudah turun dari mobil.

 

TBC

 

 

Falling love with my fans ♥1♥

Falling love with my fans 1♥

 

Author : Resi R (Shin Ni Rin)

Genre : Romantic Comedy

Main Cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom

Other Cast : Kim Jong Woon, Moon Geun Young, Kim Sang Jo, Kang Min Hyuk, Kim Yung Jae, Chu So Ra. (dan akan ada cast tambahan, tapi masih bingung)

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

 

 

PART 1

NB : disini ada pengubahan cast sama karakter. Moon geun young itu jadi managernya sso, dan park shin hye adalah teman semasa smp kim bum yang menyukainya.

Seorang lelaki bernama lengkap Kim Sang Beom tengah duduk menghadap laptop di meja kamarnya. Sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan adalah ber-fanboy ria. Pagi-pagi begini ia sudah sibuk mengorek info terbaru dari artis idolanya. Siapa lagi kalau bukan Kim So Eun. Artis muda yang tengah naik daun saat ini yang di gila-gilai oleh kaum adam.

“aish jinja ! Neomu yeoppo !” seru kim bum saat melihat foto terbaru dari kim so eun. Saat ini artis idolanya masih berada di Sanghai dalam rangka pemotretan iklan dan juga promosi dramanya. Kim bum histeris sendiri jadinya setelah melihat foto-foto yang bertebaran di naver, daum, dan situs korea lainnya.

“omo ! Yang ini benar-benar cantik !” kim bum langsung mengunduhnya.

“banyak. . . .banyak. . . .fotonya banyak sekali ! Lihat ! Agh . . . . .benar-benar seperti boneka.” kim bum berteriak tak jelas.

” ya kim sang bum. . . . .” teriak ibunya.

Kim bum tak menyahut, ia masih asik sendiri.

“aish anak itu, kebiasaan.” gerutu Chu So Ra.

“ah daebak ! Ini yang paling aku suka. Jinja . . . . .neomu neomu yeoppoyo.” teriak kim bum girang, kegilaannya memuncak.

“ya Kenapa berteraik seperti orang gila hah?” teriak ibunya masuk ke dalam kamar kim bum.

Kim bum berdecak. “aish eomma jangan mengganggu.” balas kim bum.

“mwo? Kau ini !” chu so ra berkacak pinggang.

“sudahlah eomma keluarlah, mengganggu saja” suruh kim bum tanpa pandangan yang lepas dari layar laptop.

“aisshh anak kurang ajar ! Cepat ! antar sang jo ke sekolah.” perintah chu so ra dengan kesal.

“aish eomma ini, tidak  lihat apa yang sedang aku lakukan?” kata kim bum.

“benar-benar kau ini . . . .apa perlu laptopmu eomma sita?” ancam chu so ra kelewat kesal yang melihat kim bum masih tampak cuek.

“oh atau eomma jual saja ya?”

“. . . . .” hening, kim bum masih asik dengan aktifitas mengunduhnya. Beberapa detik kemudian. . . . . .

“mwo? Andwae. . . .andwae. . . .b. .baik aku akan mengantar sang jo.” jawabnya segera ngacir keluar kamar. Chu so ra hanya geleng-geleng kepala.

“dasar anak itu.”

###

 

Kim bum mengayuh sepedanya, di belakang tampak sang jo duduk sambil memeluk perutnya.

“hyung ada apa dengan wajahmu?” tanya sang jo yang melihat keanehan dari wajah kakaknya dari pagi.

“aniyo.” jawab kim bum seperlunya.

“habis di omeli eomma ya?”

“. . . . .” kim bum diam, masih sibuk mengayuh sepeda.

“hyung lagi-lagi berteriak tidak jelas karena melihat artis idola hyung ya? Seperti orang gila saja hyung ini.” oceh sang jo dengan suara khas anak kecil.

“aish anak kecil jangan banyak mengomen, sok tahu sekali.” balas kim bum.

“tapi itu benar kan? Aih aku malu punya hyung sepertimu ! Yang aku inginkan adalah memiliki hyung yang cool dan keren tapi hyung sama sekali tidak keren, apa yang akan di katakan oleh teman-temanku.” omel sang jo.

“aish kau ini masih kecil sok menasehati sekali ! Sudah diam saja !” suruh kim bum.

“tapi aku berbicara benar kan hyung.”

“mau hyung turunkan di tengah jalan huh?” kesal kim bum.

Sang jo hanya mengerucutkan bibirnya.

###

 

“huft melelahkan.” ujar seorang wanita cantik seraya menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Rutinitas sebagai seorang artis muda yang terkenal memang telah merenggut kesehariannya sebagai orang biasa.

Belum sempat memejamkan mata, ponselnya berdering. Ia mendesah saat sang manager menghubunginya. Dengan ogah-ogahan ia pun menggeser tombol hijau nya.

“yeoboseyo”

“kau baru bangun tidur?”

“aniyo, baru saja akan tidur.” jawab so eun skeptis.

“O, jadi aku mengganggumu?”

“tentu saja. Aish yasudah apa yang ingin kau katakan?”

“kau harus segera bersiap-siap karena lusa kau harus pulang ke korea.”

So eun mendesah.

“jadi kau lebih awal pulang ke korea karena ada proyek baru yang menyangkut denganku?”

“benar, kau diminta untuk menjadi model video clip dari penyanyi terkenal.”

“lalu kau langsung menyetujuinya? Tanpa persetujuanku?”

“tentu saja.”

So eun menghela nafas.

“lagi pula, ini kesempatan yang bagus. Penyanyi nya sungguh tampan dan terkenal ! Ini akan semakin membuatmu naik daun.”

“nugu? Siapa penyanyi yang terkenal itu huh?”

“aku akan memberitahumu setelah kau ada di korea. Sudah ya aku ada pertemuan penting lagi. Jaga kesehatanmu ya so eun.”

Sambungan telpon terputus bahkan sebelum artis bernama lengkap kim so eun itu menyahut.

“aish manager menyebalkan.” teriaknya.

###

 

Kim bum hanya menopang dagu saat menjaga toko bunga orang tuanya. Tak ada yang bisa ia lakukan. Ia masih kesal dengan sang jo, adik yang menyebalkan. Bisa-bisanya ia mengomel layaknya orang dewasa. Dasar anak kecil sok bijak pikir kim bum. Kadang ia menyesal mempunyai adik seperti sang jo.

“ya kenapa hanya diam saja? Cepat siram bunga-bunga ini !” perintah chu so ra yang tengah sibuk menggunting daun yang di anggap mengganggu tanaman.

“terkadang aku juga menyesal mempunyai ibu secerewet dia.” gerutu kim bum.

“ada apa dengan wajahmu?” tanya kim yung jae pada kim bum.

Kim bum masih sibuk menyiram bunga. Pertanyaan ayahnya sama percis dengan pertanyaan seung jo tadi pagi.

“wae? Apakah ada yang terjadi dengan artis idolamu?” tanya kim yung jae dengan senyum jahilnya.

“tidak ada, sepertinya hanya ayah yang mengerti aku.” jawab kim bum.

“hahaha dulu juga ayah sepertimu. Punya seorang idola, jadi ayah mengerti.” balas ayahnya bangga.

“aish. . . . .tapi sepertinya sifat sang jo menurun darimu.” ujar kim bum yang melihat kesamaan antara sang ayah dengan sang jo. Sama-sama suka menggodanya. Menyebalkan.

Kim yung jae hanya tertawa. Merasa bangga. Kim bum mengerucutkan bibirnya.

“ya ada yang memesan bunga lily putih dan mawar putih, tolong ambilkan.” teriak chu so ra.

“ne tunggu sebentar.” ujar kim yung jae segera mengambil bunga.

Kim bum hanya menghela nafas dan kembali melanjutkan menyiram bunga.

——–

“ini ! Antarkan bunga ini ke alamat . . . . .” perintah chu so ra kepada kim bum.

Kim bum hanya mengangguk mengiyakan walaupun ia malas setengah mati. Yang ia inginkan sekarang adalah cepat-cepat sore agar toko segera di tutup dan ia bisa kembali berfanboy ria.

“annyeong paman, bibi.” ujar shin hye datang ke toko mereka dengan senyuman.

“oh geun young-ah.” ujar chu so ra.

“mencari kim bum?” tanya kim yun jae.

” hehehehe ne,  kim bum dimana?” tanya shin hye.

“baru saja bibi menyuruhnya mengantar bunga.”

“oh baiklah kalau begitu.”

Kim bum menyimpan bunga pesanan itu pada keranjang di depan sepeda. Kim bum mendorongnya perlahan.

“beom-ah.” panggil shin hye.

Kim bum menoleh.

“oh shin hye, ada apa?” tanya kim bum.

“aniyo, aku hanya ingin menemanimu saja mengantar bunga.” jawabnya.

“oh yasudah. Kajja !”

kim bum pun kembali mendorong sepedanya dan shin hye mengikuti dari samping. Mereka tampak mengobrol dan sesekali tertawa.

###

 

So eun menghabiskan hari terakhirnya di sanghai dengan jalan-jalan karena besok ia harus beres-beres dan lusa langsung kembali ke korea. Lumayan bisa mengurangi kelelahannya jika ia berbelanja. Topi dan kacamata hitam yang ia pakai bisa mengecoh para penggemar. Jadi ia tak terlalu takut di ketahui oleh fans atau pun stalker. Dan satu ! Ia harus menjaga sikap.

Karena cuaca cukup panas, so eun pun membeli ice cream vanila.

“ah aku harus mengambil selca.” ujarnya lalu mengeluarkan iphone.

So eun membidik dirinya yang sedang memakan ice cream.

So eun tersenyum.

“aku akan menguploadnya, pasti para fansku bahagia.” ujarnya PD.

So eun mulai mengaktifkan akun twitter. Ia menulis status dan mengupload fotonya barusan.

“selesai.” ujarnya.

###

 

Kim bum membeli minuman di supermarket. Mengantar bunga di hari yang panas cukup melelahkan. Saat ia ingin membayar di kasir tiba-tiba ada yang menyerobotnya begitu saja.

“hei tidak bisakah kau mengantri?” ujar kim bum.

“wae? Aku sedang buru-buru.” jawab orang berkacamata hitam itu. Dan pakaiannya cukup modis.

“bagaimana pun juga sebagai warga negara yang baik kau harus mengantri, tidak baik jika menerobos begitu saja. Kau tahu kan negara kita itu adalah negara yang terkenal dengan perilaku sopan dan disiplin” oceh kim bum.

“bicaramu asal sekali.”

“itu memang benar. Jadi mengantrilah !” perintah kim bum.

“kau tidak tahu siapa aku?” tanyanya.

“nugu? Kau mengenalku?” tanya balik kim bum menyernyitkan kening.

“kau benar-benar tak mengenalku? Semua orang yang ada disini saja meminta foto dan tanda tanganku. Cih kau benar-benar kuno. Apakah di rumahmu tidak ada televisi?” tanyanya meremehkan.

“nugu? Aku tak tahu.” jawab kim bum.

“aku Kim Jong Woon, penyanyi terkenal saat ini. Suaraku terbaik no 1 di korea. Sekarang kau sudah tahu?” ujar jong woon.

Kim bum menyernyitkan keningnya, mencoba mengingat-ingat. Tapi ia tidak ingat bahkan ia tidak tahu ada penyanyi bernama kim jong woon. Yang ada di otaknya hanya satu. Kim so eun.

“aku tidak tahu.” ujar kim bum enteng.

Jong woon melongo. “aish benar-benar kuno.” cibirnya sambil menyerahkan makanan dan minuman ke kasir.

Kim bum hanya memandang aneh, ia tidak pernah melihat lelaki ini di televisi sebelumnya.

———

 

“ini ! . . . .maaf lama.” kim bum menyerahkan satu botol minuman pada shin hye yang menunggunya di bangku pinggir jalan.

“gomawo.” ujar shin hye.

Kim bum meneguk minumannya dan ikut duduk di sampingnya.

“ada apa?” tanya shin hye menyadari keanehan pada ekspresi kim bum.

“ada seseorang yang mengaku dirinya adalah penyanyi hahaha lucu sekali” jawab kim bum.

“benarkah?”

“hmm” kim bum mengangguk.

“entah itu hanya sebagai alasan agar ia tak mengantri membayar di kasir mungkin.” lanjut kim bum.

Shin hye tertawa.

“ada-ada saja.”

“lebih baik kita segera pulang dari pada bertemu dengan artis gadungan lagi. Kajja !” ajak kim bum.

“ne.”

###

 

Kim bum kembali menyalakan laptopnya. Melanjutkan berburu foto sang idola. Saat ia men-cek akun twitter milik kim so eun ternyata kim so eun telah mengupload foto baru.

“hoaaa dia baru saja mengupdate status.”

aku sempat mengambil selca di hari yang panas sambil memakan ice cream di jalanan sanghai. Apakah kalian ingin ice cream?

 

“aish cantik sekali ! Kapan dia kembali ke korea ya? Aku sudah tidak sabar. Agh kim so eun…..aku ingin sekali menjadi kekasihmu.” teriak kim bum.

“hmm tapi hanya mimpi. Tidak mungkin aku menjadi kekasihnya.” ekspresi kim bum berubah 180 derajat menjadi murung.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Sang jo masuk.

“hyuuung.” ujar sang jo dengan suara parau.

“kau? Ya ada apa ke kamarku?” kaget kim bum.

“aku tidak bisa tidur, hyung berisik sekali !” jawab sang jo lalu naik ke kasur kim bum. Kim bum hanya melongo melihatnya.

“apa yang kau lakukan? Sudah kembali ke kamarmu ! Jangan tidur disana !” tolak kim bum.

Tapi sang jo tak menyahut, dia tak bersuara. Sang jo sudah terlelap tidur lagi. Kim bum mendesah.

“aish ternyata dia hanya mengigau.” ujar kim bum lalu focus lagi pada laptopnya. Ia membuka situs naver dan ada info baru.

 

Kim So Eun artis muda yang terkenal lewat drama ‘My Angel’ ini baru saja menyelesaikan drama china dan iklan terbarunya. Rating drama china nya yang berjudul ‘better sweet’ ini cukup tinggi. Dari pihak management dikabarkan bahwa kim so eun akan kembali ke korea tanggal 20 juni untuk memulai proyek baru menjadi model video clip. Kita tunggu konfirmasi dari pihak managementnya siapa penyanyi yang akan bekerja sama dengan kim so eun.

 

“kya. . . . Jeongmal? Tanggal 20 berarti lusa? Jinja. . . . Aku harus datang ke bandara. Aku harus bertemu dengan kim so eun.” ujar kim bum bersemangat.

“enggg…bibir hyung ingin ku sobek? Hiat. . . . .hiat. . . .hiat !” sang jo lagi-lagi mengigau. Ia memukuli guling menjadi-jadi masih dengan mata yang terpejam.

Kim bum melongo lalu brigidik ngeri.

“aish menyeramkan.” ujarnya.

###

 

Kim bum membuka matanya. Semalam tidurnya tidak nyenyak. Yang ia rasakan sekarang adalah tulangnya yang terasa patah dan remuk karena tidur sang jo yang terus mengganggunya.

“aish…….aku tidak bisa bergerak…” ujarnya dengan suara parau.

Saat ia sudah benar-benar membuka matanya. Jelas.

“mwooooo? Yak……….sang jo-ya……….!” Teriaknya frustasi melihat poster-poster kim so eun penuh dengan coretan spidol.

“aishh jinja…….awas kau………..!” teriaknya semakin frustasi. Kim bum mengacak-ngacak sprei dan rambutnya dengan kesal.

“ini dengan susah payah aku mengumpulkannya…dasar adik menyebalkan…” geramnya.

“ya…….ada apa kau teriak-teriak? Cepat segera antar sang jo…!” balas teriak ibunya.

“mwoya……? Biarkan saja dia berangkat sendiri…aku tidak akan mengantarnya !” tolak kim bum ogah-ogahan.

“mwo? Kau ini kakak macam apa? Cepat keluar dari kamar !” perintah ibunya.

“shireo…..aku sedang bersedih…..!” tolak kim bum.

“aishh ada apa dengan anak itu……” kesal ibunya.

“waeyo eomma?” Tanya sang jo polos.

“entahlah…hyungmu itu sudah gila sepertinya……yasudah biar eomma saja yang mengantarmu. Kajja.” Chu so ra pun menuntun tangan sang jo dan mengantarnya ke sekolah.

—————-

 

Kim bum benar-benar sedih saat ini. Bagaimana tidak? Poster kim so eun penuh dengan coretan akibat ulah adiknya. Sang jo memang selalu mengigau yang tidak-tidak. Seharusnya semalam kim bum mengikatnya saja dengan tali agar ia tidak bisa melakukan hal yang macam-macam. Ini sudah terlanjur.

Kim bum membenamkan wajahnya di bawah bantal. Ia menutupi tubuhnya sendiri dengan selimut. Mungkin bisa jadi kim bum sedang menangis? Hahaha lucu sekali.

Tiba-tiba ayahnya masuk ke dalam kamarnya.

“hei beom-ah….palli ireona ! kita harus segera membuka toko !” perintah ayahnya. Namun kim bum tak bergeming sedikit pun. Ia masih membenamkan diri di kasur. Sedih katanya.

“aish……..sebenarnya apa yang terjadi? Omo……..jadi gara-gara ini? Ckckckck kasihan sekali wajah idolamu jadi seperti ini. Sang jo yang melakukannya huh?” Tanya yung jae setelah melihat poster-poster yang terpasang di dinding kamar anaknya penuh coretan.

Kim bum masih diam. Tak bersuara.

“hei ka mendengarku tidak?” Tanya ayahnya.

Kim bum sedikit usik. “aku juga heran bagaimana anak menyebalkan itu bisa melakukannya.” Jawab kim bum lemah.

“hahahaha jadi ingat masa lalu ayah.” Ujar yung jae.

Kim bum mengomel dalam hati, bukannya bersimpati padanya ayahnya malah bertingkah aneh seolah-olah bangga dengan apayang di lakukan sang jo.

“abeoji tau kan aku sedang bersedih? Jadi hari ini aku butuh ketenangan.” Ujar kim bum.

Yung jae mengangguk-angguk. “arasseo.”

Jika di pikir-pikir, ayah kim bum seperti orang bodoh. Membiarkan anaknya bermalas-malasan hanya karena hal sepele. Tapi kim bum bersyukur.

###

 

Kang Min Hyuk segera berjalan menuju pintu saat terdengar suara ketukan pintu.

“kau? Ada apa ke rumahku pagi-pagi begini? Kau tidak membantu menjaga toko?” heran min hyuk yang melihat kim bum datang ke rumahnya.

“huaaaaaaaaa…….” Kim bum langsung masuk begitu saja dan menjatuhkan diri di sopa.

Min hyuk hanya melongo parah.

“aish wajahmu berantakan sekali.” Ejek min hyuk ikut duduk di sebelahnya.

“sebenarnya ada apa denganmu?” Tanya min hyuk.

“bantu aku….” Pinta kim bum seraya mengacungkan kantong plastic.

“mwo? Apa itu?” Tanya min hyuk.

“poster idolaku.”

“lalu?” Tanya min hyuk.

“bantu aku membersihkannya. Adikku mengigau semalam dan mencoret-coret poster kim so eun dengan spidol ! lihat ini, aih menyedihkan!” kim bum memperlihatkan posternya pada min hyuk.

Min hyuk melongo beberapa saat, mulutnya menganga.

“kau tidak salah?” tanyanya.

“ani….kau tahu kan poster ini sangat sulit ku dapatkan.”

“shireo……..membuang-buang waktu. Apa susahnya kau membeli lagi yang baru.” Tolak min hyuk.

“ya kau ini tidak melihat penderitaan teman.” Ujar kim bum.

“kau ini berlebihan. Kau tahu? Semenjak kau tergila-gila dengan artis yang bernama kim so eun itu. Kau jadi gila seperti ini ! aish….” Gerutu min hyuk.

Kim bum mengerucutkan bibirnya.

“ayolah…..hanya membantu membersihkan saja.” Bujuk kim bum memasang tampang menyedihkan.

“ah….arasseo arasseo……menggelikan melihat wajahmu seperti itu.” Ujar min hyuk.

###

 

So eun sedang mengemasi barang-barangnya. Besok ia harus pulang ke korea. Lagi pula jadwalnya di sanghai sudah selesai. Dan tidak ada kata istirahat. Ia harus memulai kerja sama baru dengan seorang penyanyi. Memang ini adalah pengalaman pertamanya.

Ponselnya berdering, sudah di pastikan jika itu dari sang manager.

“ne, ada apa?”

“tidak mengatakan yeoboseyo? Kau lupa tata cara membuka pembicaraan di telpon yang sopan?”

“aish aku sedang malas bicara.”

“ah arasseo. Mood mu sedang tidak baik pasti.”

“ya geun young eonni….sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Aku sedang meng-pack barang.” Ujar so eun tak sabaran.

“oh kau sedang bersiap-siap? Ara…..yang ingin aku katakan adalah kemungkinan saat kau kembali ke Korea. Akan ada banyak fans yang menyambutmu, bukan banyak tapi mungkin akan sangat banyak di tambah fans semakin hari semakin meledak. Jadi kau harus mempersiapkan semuanya. Jangan lupa tersenyumlah dengan ramah pada para fans yang selalu mendukungmu, kau tidak boleh lupa melambaikan tangan pada mereka. Dan tidak akan menjadi kemungkinan juga akan ada anti fans disana. Kau harus menjaga dirimu. Banyak fans yang terlalu fanatic rela melakukan berbagai cara untuk menculik idolanya. Kau mengerti?”

“aish mengerikan. Ne ara aku mengerti. Sudah? Tidak aka nada yang ingin di bicarakan lagi?”

“ne hanya itu saja. Semoga kau baik-baik saja sampai korea.”

Sambungan terputus.

“aish benar-benar repot. Menjaga image di depan public. Sama saja dengan membohongi diri sendiri dan para fansku….” Ujarnya.

###

 

Kim bum lupa, ia sama sekali belum menyiapkan apapun untuk menyambut kepulangan artis idolnya besok. Ia pun segera menghubungi min hyuk.

“yeoboseyo min hyuk-ah”

“hmmm waeyo?”

“aku ingin minta bantuanmu lagi.”

“ah shireo….”

“ya satu kali lagi. Hanya satu kali…..tolong bantu aku buatkan banner untuk besok.”

“banner? Ya untuk apa?”

“besok kim so eun kembali ke korea dari sanghai. Aku ingin menyambutnya di bandara. Momen seperti ini langka sekali. Sebagai fans yang baik aku harus melakukannya.”

“aish kau ini sudah gila. Kenapa harus aku yang membantumu. Lakukan saja sendiri !”

“ya…selain kau harus kepada siapa lagi aku meminta bantuan. Min hyuk-ah…..aku tidak pandai membuat yang seperti itu”

“aish…..”

“aku doakan semoga kau panjang umur….”

“ah ara..ara…supaya kau tiak banyak mengoceh.”

“hahhahaha baru kau sahabatku. Nanti malam aku akan ke rumahmu. Aku akan membeli bahan terlebih dahulu.”

“aish yasudah.”

 

Kim bum tertawa bahagia. “rencanaku bertemu kim so eun akan berhasil. Semoga besok dia melihat banner yang ku buat dan melihatku…..assssshhh aku tidak bisa membayangkan.” Ujar kim bum sambil berkhayal tinggi.

###

 

“kau mau kemana pagi-pagi begini?” Tanya chu so ra.

“aku ada perlu.” Jawab kim bum cepat-cepat pergi.

“ya mau kemana dia?” Tanya chu so ra.

“entahlah.” Jawab yung jae.

“aku dengar hyung akan ke bandara.” Celetuk sang jo yang mendengar percakapan kim bum di telpon kemarin.

“mwo? Apa dia mau kabur?” kaget chu so ra.

“eomma. Dia hany ingin berjumpa artis idolanya.” Jawab sang jo dengan mulut penuh makanan.

Kim yung jae hanya anggk-angguk kepala.

“aish anak itu……otaknya sudah benar-benar dipenuhi oleh artis bernama kim so eun.” Ujar chu so ra seraya memijat kening.

###

 

“kenapa kau harus mengajakku juga?” kesal min hyuk karena kim bum memaksanya untuk ikut.

“aku tidak ada teman, lagi pula ini akan menyenangkan.” Ujar kim bum dengan wajah bahagia.

“aish menyenangkan untukmu. Aku sudah tidak bisa bernafas disini.” Keluh min hyuk karena berdesak-desakkan dengan fans kim so eun yang lain.

Kim bum tak mendengarnya, malah mengangkat banner yang bertuliskan SARANGHAE KIM SO EUN, WILL YOU MARRY ME? Tinggi-tinggi. Min hyuk merasa dirinya berada di sekumpulan orang-orang bodoh karena melakukan hal yang sama dengan kim bum. Tapi ia tak bisa melarikan diri karena dirinya sudah terkunci dengan fans lain. Akhirnya ia hanya menghela nafas setelah dua jam menunggu hal konyol.

“saranghaeyo kim so eun…….saranghaeyo kim so eun………saranghaeyo kim so eun…….” Teriak semua fans sambil menunggu kedatangan so eun dari pintu kedatangan luar negeri. Termasuk kim bum yang berteriak paling keras. Ingin rasanya min hyuk membekap mulut sahabatnya itu.

Tiba-tiba saja semua menjadi sangat heboh setelah tahu pintu kedatangan luar negeri di buka. Tak ayal kim bum lebih-lebih heboh, menggoyang-goyangkan bannernya dan mengacungkannya tinggi-tinggi.

“kim so eun saranghae………..!” teriak kim bum.

Tak lama, dari sekumpulan orang-orang yang keluar dari pintu kedatangan luar negeri. Terlihatlah seorang wanita cantik yang mencolok. Tentu saja, ia yang sedari tadi di tunggu-tunggu. Kim so eun telah tiba. Kim bum semakin berteriak histeris. Tampak bodoh memang, tapi fans yang lain juga melakukan hal yang sama.

“kyaaaaaaa………….kim so eun…….kim so eun…….kim so eun saranghae……..” teriak kim bum. Yang lain juga sama.

So eun hanya memamerkan senyum manis terbaiknya yang bisa membuat semua kaum adam meleleh. Kim bum tampak terpana dengan kecantikan yang dimiliki idolanya. Benar-benar cantik saat melihatnya secara langsung.

“aigooo……..apakah aku tidak bermimpi…? Aku bertemu dengannya sungguhan.” Batin kim bum.

So eun masih tersenyum pada semua fans yang berkumpul dan di batasi oleh pembatas yang di awasi oleh security. So eun melambai-lambaikan tangannya ramah pada semua.

Kim bum bengong sejenak, melihat kim so eun yang tampak mempesona di matanya.

So eun mempercepat langkahnya dan berhenti melambai-lambai. Kim so eun akan segera meninggalkan bandara. Kim bum tak urung niat, ia mendesak keluar dari fans yang lain dan memilih mengikuti kim so eun. Min hyuk mendesah dengan hal gila yang dilakukan kim bum.

So eun sudah bisa menghela nafas lega, ia sudah hampir meninggalkan Bandara dan menuju parkiran dimana managernya menunggu. Tak ada lagi fans yang kelihatan di matanya.

“aduh benar-benar tak di sangka. Ternyata fans ku banyak sekali.” Gumam so eun.

“kim so eun……kim so eun…….kim so eun…….” Teriak seseorang.

So eun sontak membalikkan badan dan melihat seoarng pria tengah berlari mengejarnya sambil mengacungkan banner dengan satu tangan.

“Dan tidak akan menjadi kemungkinan juga akan ada anti fans disana. Kau harus menjaga dirimu. Banyak fans yang terlalu fanatic rela melakukan berbagai cara untuk menculik idolanya. Kau mengerti?”

Tiba-tiba so eun teringat perkataan min young managaernya di telpon. Ia jadi brigidik ngeri.

“aigooo……” ujarnya lalu mempercepat langkah.

“kim so eun…aku ingin meminta tandatanganmu ! aku ingin berfoto denganmu !” teriak pria itu yang ternyata kim bum.

So eun semakin mempercepat langkah, saat ia menoleh ke belakang, pria itu masih mengejarnya. Karena takut, so eun pun memilih untuk lari.

“aish aigooo…” ujarnya.

Dengan cepat so eun belok ke arah lain. Dan beruntung, ia sudah tak melihat pria itu mengejarnya. So eun mengambil nafas banyak-banyak.

“kim so eun….” Tahu-tahunya kim bum sudah berdiri di depan so eun sambil tersenyum dengan bibir merekah. So eun mengangkat wajah dan langsung terlonjak kaget. Hampir saja ia terjengkakang.

Kim bum tersenyum lebar padanya.

So eun membulatkan matanya, benar-benar terkejut dengan kemunculan pria ini.

“omo…….” Kaget so eun. So eun hendak berbalik dan berlari tapi tiba-tiba kakinya keseleo dan membuat ia oleng sendiri.

“kyaaaaaaaa……..” teriaknya. Namun dengan cepat kim bum menarik lengan so eun. Karena tak punya keseimbangan akhirnya mereka berdua pun terjatuh ke bawah. So eun tepat menindih tubuh kim bum. Kim bum sendiri hanya tersenyum bahagia, tak ada rasa sakit sedikit pun. Ini terasa mimpi baginya. So eun kaget, ia membulatkan matanya karena terjatuh di tubuh fans nya sendiri. Dan wajah mereka benar-benar dekat, so eun bisa melihat garis bahagia di wajah fansnya itu karena tak henti-hentinya tersenyum.

 

TBC

 

♥ Falling love with my fans (Teaser) ♥

♥     Falling love with my fans (Teaser)    ♥

 

Author : Resi R (Shin Ni Rin)

Genre : Romantic Comedy

Cast :

♥      Kim So Eun

Seorang aktris muda yang terkenal. Bakat yang ia miliki di bidang akting dan modeling telah merebut perhatian para fans pria dari kalangan remaja, dewasa, hingga tua. Di tambah Kim So Eun ini memiliki paras cantik natural dan ramah terhadap fansnya. Tapi walaupun begitu, sifatnya ketika menghadapi fans sangatlah berbeda ketika ia menjadi diri sendiri.

♥      Kim Sang Beom

Seorang fans fanatik yang mengidolakan Kim So Eun. Puluhan bahkan ratusan CD drama maupun film yang dibintangi oleh Kim So Eun ia miliki. Poster yang berhiaskan wajah Kim So Eun penuh ditempel di dinding kamarnya. Semua pernak pernik yang berhubungan dengan artis idolanya ia punya. Kim Bum sangat up to date mengenai info tentang artis idolanya. Mimpinya adalah bisa menjadi kekasih seorang Kim So Eun. Ia sendiri membantu menjaga toko bunga milik kedua orang tuanya.

♥      Kim Jong Woon

Seorang penyanyi yang cukup terkenal di korea. Di gila-gilai oleh kaum hawa terutama para remaja. Wajahnya yang tampan kerap merebut hati para wanita baik di kalangan biasa maupun artis. Tapi, semenjak adanya kerja sama dengan salah satu artis muda wanita dalam suatu acara. Jong woon mulai merasa tertarik padanya dan berusaha untuk lebih dekat dengannya.

♥      Moon Geun Young

Seorang gadis yang sudah lama menyukai kim bum, tapi kim bum hanya menganggapnya sebagai teman karena mereka sudah lama berteman sejak SMP.

♥      Kim Sang Jo

Adik Kim Beom yang baru duduk di kelas 4 SD. Setiap hari ia selalu saja mengganggu kim bum dan meledeki kakaknya yang tergila-gila dengan idolanya. Bisa di bilang Sang Jo ini adalah adik yang jahil kepada kakaknya. Hobinya adalah menggambar. Berangkat ke sekolah selalu di antar Kim Bum menggunakan sepeda.

♥      Kang Min Hyuk

Teman Kim Bum. Sifatnya agak cuek dan sering kali menceramahi Kim Bum agar tak terlalu jauh berkhayal dan bermimpi tentang idolanya.  Sering menjadi korban celotehan kim bum ketika bercerita dan membangga-banggakan artis idolanya.

♥      Kim Yung Jae

Ayah kim bum. Mendirikan sebuah toko bunga bersama sang istri. Suka sekali menggoda kim bum disaat sang anak sedang ‘galau’ yang berhubungan dengan idolanya.

 

♥      Chu So Ra

Ibu kim bum. Sifatnya cerewet, sering memarahi kim bum yang terlalu fanatic dengan seorang artis sampai-sampai kim bum malas untuk menjaga toko.

Nb: mungkin bakalan ada cast tambahan lagi sesuai jalan cerita ^^

 

BABY FACED BODYGUARD PART 7

BABY FACED BODYGUARD PART 7

 

AUTHOR: RESI R

MAIN CAST: KIM SANG BEOM DAN KIM SO EUN.

OTHER CAST: KIM YOONA, LEE SEUNG GI, JUNG IL WOO, JUNG SO MIN, KIM SOO HYUN, BAEK SUZY.

GENRE: IDK (?)

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

 

PART 7

 

“ya kau kenapa?” tanya so eun bingung.

“aku sudah tidak apa-apa.” jawab kim bum tanpa memandang so eun.

“tapi tidak perlu sambil mendorong tanganku dengan kasar kan?” tanya so eun.

“itu…ah sudahlah aku ingin tidur. Kau keluar saja.” suruh kim bum.

So eun pun keluar dari kamar kim bum sambil menggerutu.

“aish aneh sekali, bukannya mengucapkan terimakasih. Jika aku tidak merasa kasihan pasti wajahnya akan tambah hancur ku pukuli.” gerutu so eun.

——–

 

Kim bum mengelus dadanya lalu menghela nafas.

“aish ada apa denganku? Apa yang aku pikirkan?” gumam kim bum bingung.

Jantungnya lagi-lagi berdetak hebat.

“kenapa jadi begini? Aaa…aaa.” kim bum meringis dan memegang bibirnya yang agak perih karena terus bicara sendiri.

“mungkin aku harus segera tidur.” ucapnya menenangkan diri.

###

 

So eun melepaskan ikatan rambutnya setelah tadi ia mengganti baju dengan baju tidur. So eun meletakannya di dalam laci. Pandangannya terhenti pada sebuah benda. Jam tangan. Jam tangan milik seseorang yang tidak diketahui. So eun meraihnya lalu tersenyum mengingat kejadian waktu itu. Disaat seseorang memeluknya tiba-tiba dan berhasil membuat hatinya bergetar.

So eun tersenyum lalu memegang dadanya. Jantungnya kembali berdesir.

“sebenarnya siapa dia? Bagaimana aku bisa bertemu lagi dengan orang itu? Apakah aku harus tetap menyimpan jam ini?” tanya so eun pada dirinya sendiri. Lalu kembali menyimpan jam tangan berwarna silver itu ke dalam laci.

###

 

Seung gi dan soo hyun masih berkencan. Mereka kencan di bar di iringi dentuman musik keras dari sang DJ, tampak para pasangan sedang berjoget. Tapi, ini adalah menjadi yang pertama bagi soo hyun tidak bagi seung gi yang sudah biasa. Seung gi di kelilingi banyak wanita dan menggandeng mereka, sementara soo hyun hanya sekedar mengobrol dan duduk-duduk. Mungkin ini cukup menyenangkan tapi berisik. Pikir soo hyun.

Seung gi masih bertahan di tempat bersama teman-teman wanitanya, tapi lama kelamaan soo hyun merasa tidak nyaman dan malah mencelos menuju toilet.

“aish ternyata seung gi memang benar-benar seorang playboy.” gerutunya sambil geleng-geleng hingga tak sengaja menabrak seorang wanita.

Soo hyun kaget mendapati suzy di depannya memajang wajah kesal.

“o…oh suzy-ya annyeong ! Kau ada disini juga rupanya.” ujar soo hyun.

“kau? Soo hyun sedang apa disini?” tanya suzy.

“berkencan.” jawabnya.

“ah lupakan dulu kencanmu aku ingin bicara.” suzy menarik tangan soo hyun.

“eh?”

———

 

“apa lagi yang ingin kau tanyakan tentang kim beom dan bodyguardnya?” tanya soo hyun.

“aku rasa aku butuh bantuanmu!” ujar suzy.

“mwo? Untuk apa?”

“membuat kim beom menyukaiku, sebelum bodyguardnya itu yang merebut kim beom dariku.”

“hei kau sudah gila. Lakukan saja sendiri ! Itu urusanmu. Lebih baik kau menyerah saja, sampai kapan pun kim bum tidak akan pernah menyukaimu” tolak soo hyun.

“ya kau benar-benar tidak bisa di andalkan.” kesal suzy.

“maaf ya dari tadi aku sudah kebelet ingin ke toilet.” soo hyun buru-buru pergi.

###

 

Il woo masih tak percaya. Sedari tadi ia terus memegang kartu identitas so eun dan berkali-kali melihatnya.

Il woo merenung mencoba untuk berfikir.

“apakah ada alasan dia sengaja memalsukan identitas?” pikir il woo.

“umurnya sama denganku dan juga…kim bum. Tapi bahkan kim bum menganggap so eun lebih tua.” ujarnya. Setelah berfikir, akhirnya il woo memutuskan agar ia menyimpan rahasia ini sendirian. Tanpa memberitahu kim bum ataupun sahabatnya yang lain. Dan ini adalah hal baik. Il woo memang baik.

###

 

So eun membuka pintu kamar kim beom dengan perlahan. So eun melihat kim bum masih tertidur dan menghampirinya. Dilihatnya wajah kim beom sudah tak separah seperti kemarin. So eun memerhatikannya lalu menggibas-gibaskan tangannya di depan wajah kim bum.

Kim bum tak kunjung bangun.

“kim beom-ah ireona.” suruh so eun. Tapi kim bum tak juga membuka kedua matanya.

So eun menghela nafas.

Tak lama kim bum membuka matanya, terasa berat. Pertama kali yang dilihat kim bum adalah wajah so eun. Tapi kim bum tak merasa kaget seperti biasanya, ia merasa lemas. Ada sesuatu yang terjadi padanya.

“uh kau bangun juga.” ujar so eun.

“hmm….” kim bum mengerang dengan nada lemah sambil kembali menutup matanya.

“bagaimana? Apa kau sudah merasa baikan?” tanya so eun.

Kim bum menggeleng dengan mata yang masih terpejam. So eun merasa ada sesuatu yang aneh dari kim bum.

“kau kenapa?” tanya so eun.

Kim bum tak menjawab. So eun pun menaruh tangannya di dahi kim bum.

“o…omo panas ! Kau sakit?” tanya so eun.

“eng…… molla.” jawab kim bum lemas.

“merepotkan, baiklah dengan keadaan seperti ini kau tidak akan mungkin pergi kuliah. Wajahmu babak belur dan sekarang kau sakit” ujar so eun lalu hendak keluar dari kamar kim bum. Tapi sepasang tangan milik kim bum menahan tangannya, so eun menoleh.

“jangan bilang pada ayah dan ibuku. Berkelahi dan sakit.” pinta kim bum.

So eun mendesah.

“aku hanya akan menghubungi dokter dan meminta bibi jung untuk membuatkan bubur.” jawabnya.

Kim bum pun melepaskan tangannya dan membiarkan so eun keluar kamar. Ia hanya bisa menatap so eun dari belakang. Perasaan aneh hinggap lagi padanya dan tambah membuatnya pusing. Kim bum pun memilih kembali memejamkan matanya.

———

 

“tuan muda hanya perlu istirahat.” ujar dokter pribadi keluarga kim setelah memeriksa keadaan kim bum.

“aku sudah memberikan beberapa obat.”

So eun hanya mengangguk mengerti dan bibi jung mengantar dokter kim sampai depan pintu.

“sukses membuatku bertanggung jawab penuh.” ujar so eun lalu duduk di kursi menghadap kim bum yang masih berbaring.

“sekarang tugasku tidak hanya menjadi bodyguard, tapi harus merawatmu pula.” ujar so eun mengambil semangkuk bubur.

“aku tidak meminta kau merawatku.” balas kim bum. So eun menatapanya.

“benarkan posisi tidurmu, kau harus makan ini.” perintah so eun.

“tidak usah menyuapiku, aku bisa sendiri.” tolak kim bum.

“jika tidak disuapi aku tidak yakin kau akan memakannya. Biasanya orang sakit kan seperti itu.” ujar so eun.

Kim bum mendesah dan hanya pasrah.

“di dunia ini baru ada bodyguard secerewet dia.” batin kim bum seraya melahap bubur yang di suapkan oleh so eun.

“mulai sekarang aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi sendiri lagi. Jika tahu akibatnya akan terus sama seperti ini.” ujar so eun.

Kim bum hanya menatapnya, tak ada yang bisa ia lakukan untuk menolak, mencegah atau apa.

###

 

“so min-ah, apa kau mengenal lee seung gi?” tanya yoona.

“oh ne, dulu satu SMA denganku.” jawab so min.

“oh pantas saja kemarin dia bertanya padaku.”

“jadi, benar yang kemarin itu lee seung gi? Pantas saja aku merasa tidak asing. Tapi darimana eonni mengenalnya?”

“oh waktu itu dia menolongku.”

###

 

Kim bum kaget karena tiba-tiba ketiga sahabatnya langsung masuk ke dalam kamarnya. Disaat itu, so eun sedang kembali mengobati memar di wajahnya.

“teman-temanmu.” So eun segera menghentikan aktifitasnya.

“ehem apakah kami mengganggu?” tanya seung gi.

“ya apa maksudmu?” sewot kim bum.

Il woo hanya menatap mereka, sesuatu yang belum kim bum tahu tentang so eun sudah ia ketahui.

So eun lekas berdiri dan tersenyum pada mereka, termasuk senyum yang lebih ramah pada il woo.

“sebaiknya aku tinggal saja.” ujar so eun lalu keluar kamar kim bum.

Mereka langsung menghampiri kim bum dan duduk di tepi kasur.

“sepertinya hubunganmu dengan sang bodyguard semakin dekat.” goda seung gi.

“gila kau ini ! Aww…mana mungkin aku tertarik dengannya, aku lebih muda darinya.” balas kim bum.

Il woo yang sudah tahu sebenarnya hanya diam.

“bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya il woo mengalihkan pembicaraan.

“lebih baik. Hanya saja sedikit pusing.” jawabnya.

“aish sudah ada bodyguard masih saja berkelahi. Lihat wajahmu ! Jadi hancur begitu.” ujar soo hyun.

“kalian kemari ingin menjengukku atau hanya meledekku?” tanya kim bum.

“ah lagi pula aku juga heran kenapa orang-orang selalu mengejarmu? Padahal yang playboy itu seung gi bukan kau.” tukas soo hyun.

“entahlah aku juga muak” jawab kim bum.

“kau tahu bum, suzy seperti orang kehilangan karena kau tak masuk kuliah. Terus saja mengganggu menanyai keadaanmu.” jahil seung gi.

“cih . . . .sebenarnya mau apa dia” kesal kim bum.

###

 

“ahhhhhh benar-benar membuat repot, cara seperti apa yang harus aku lakukan agar anak tuan kim ini berhenti berkelahi?” pikirnya sambil memijat keningnya yang berkedut.

“dan masalah apa sebenarnya hingga ada saja orang yang mengejarnya dan menghajarnya? benar-benar membuat pusing.” Gerutunya.

“apa aku harus menerapkan kata-kata dari tuan kim? Bersikap lebih keras saja padanya? Aish tapi aku tidak yakin ini akan berhasil.” Ujarnya bingung.

“kim bum memang sering berkelahi.” Ujar seseorang tiba-tiba.

So eun melihat ke arah sumber suara. “oh il woo-ssi.” Lalu so eun menghela nafas.

“ apa kau tahu penyebab dia suka berkelahi?” Tanya so eun.

“di kampus kim bum itu termasuk popular, bahkan semenjak SMA. Banyak para wanita yang mengaguminya hingga tak memperdulikan para kekasihnya. Maka dari itu kekasih-kekasih dari wanita itu marah pada kim bum dan bertindak kekerasan.” Jelas seung gi.

“oh….tidak masuk akal sekali.” Balas so eun.

Il woo tersenyum. “bahkan ada salah satu wanita yang selalu membuntuti kim bum, sepertinya sudag tergila-gila.” Ujar il woo.

Pikiran so eun langsung terbang kepada wanita yang waktu itu mengekori kim bum, tentu saja wanita yang meminta ganti rugi atas kejadian tabrakan kecil waktu itu.

“nugu?” Tanya so eun.

“baek suzy…….tapi kim beom sama sekali tak tertarik padanya.”

‘oh jadi nama wanita sombong itu baek suzy.’ Batin so eun.

“bagaimana perasaanmu sebagai bodyguard kim bum? Yang aku tahu kim beom itu suka menentang keputusan orang tuanya…..tapi sepertinya sejak……..” kata-kata il woo terputus.

“sedikit menjengkelkan, tapi apa boleh buat ini pekerjaanku.” Potong so eun

“kau bisa membantuku? Sebagai temannya pasti kau lebih mengenal kim bum dengan baik. Sebaiknya apa yang harus aku lakukan agar kim bum berhenti berkelahi? Yah, tak ada lagi orang yang menghajarnya.” Ujar so eun.

Il woo masih diam, sepertinya ia sedang berpikir.

“ah kim beom belum punya seorang pacar kan? Sebaiknya ia harus segera memiliki kekasih.” Usul so eun.

“ kim beom tidak bisa sembarangan mendapatkan pacar seperti itu. Seleranya………yah….begitulah.”

“aish dasar orang kaya…” dumel so eun.

Il woo hanya tersenyum, bisa melihat dan mengobrol dengan so eun benar-benar membuat ia senang, dan entahlah jantungnya berpacu cepat. Il woo akui ia memang sudah tertarik pada so eun sejak tak sengaja melihatnya melatih taekwondo. Dan sekarang, il woo sudah menyukainya. Terlebih jika ia tahu kalau umur so eun yang sebenarnya adalah 20 tahun bukan 25 tahun.

###

 

“so min-ah kau bisa kan jaga dulu sebentar, aku ada urusan keluar. Ada client yang meminta untuk bertemu.” Ujar yoona.

“oh baiklah.” Jawab so min.

“jika ada apa-apa kau hubungi aku saja ne?”

“ne….”

Yoona pun segera pergi menggunakan taksi.

———–

 

“oh jadi Anda ingin design baju seperti ini?” Tanya yoona pada clientnya. Mereka sedang berada di sebuah café saat ini.

“ne, aku suka dengan modelnya. Bisa kau percepat produksinya? Soalnya 2 minggu lagi acaranya akan di laksanakan.” Pintanya.

“oh baiklah kalau begitu, aku akan segera membuatnya.” Ujar yoona dengan senang hati.

“jika sudah jadi kau hubungi aku saja. Aku akan membayar case.”

“baiklah….jangan sungkan-sungkan saja untuk memesan baju di butik kami lagi.” Ujar yoona.

Si clientnya tersenyum. “aku ada urusan lagi, aku pamit terlebih dahulu.” Ujarnya lalu segera pergi.

“ne sampai jumpa.” Balas yoona memamerkan senyum di wajahnya.

“semoga ini menjadi awal yang baik.” Ia pun menyeruput jus jeruknya lalu mengambil tas dan berdiri.

Saat yoona hendak keluar dari café, tak sengaja ia bertemu dengan seung gi yang hendak masuk ke dalam café sambil menggandeng seorang wanita.

“eh seung gi-ya?” ujar yoona. Tatapannya beralih pada wanita yang di samping seung gi. Wanita yang berbeda dengan waktu itu.

“noona, kita bertemu disini.” Jawab seung gi tersenyum.

Yoona mengerutkan keningnya setelah mengerjapkan mata berkali-kali. Wanita yang di samping seung gi memang wanita yang lain.

“dia…pacarmu?” Tanya yoona.

“ne…teman kencan…..”

“ooohh…” yoona hanya bisa membulatkan matanya.

“noona juga habis berkencan?” Tanya seung gi.

“a..aniyo, barusan aku ada perlu dengan client dan bertemu disini.”

“ya oppa…cepatlah aku sudah lapar…” rengek teman kencan seung gi dengan manja.

“oh ne……..” seung gi pun masuk ke dalam sebelumnya ia tersenyum terlebih dahulu pada yoona.

Yoona hanya gelang-geleng kepala melihatnya.

“teman kencan? Dengan wanita yang berbeda. Ckckck sepertinya  seung gi itu seorang playboy.” Gumam yoona.

###

 

Kim bum duduk di tepi kasurnya. Bayangan wajah so eun yang ia perhatikan dari dekat kembali hinggap di otaknya. Entah apa yang merasukinya sekarang hingga bayangan itu muncul lagi. Kim bum mendesah, mulai ada yang tidak beres dengannya.

“ada apa denganku? aish kenapa harus dia yang ada di otakku? Kenapa wajahnya……argh menyebalkan.” Kesal kim bum berusaha menyangkal.

Ia pun membaringkan tubuhnya di kasur. Ia akui, wajah so eun tak mau hilang dari bayangannya, seperti menghantuinya, membuat kim bum tak bisa memejamkan matanya. Kim bum kembali mendesah. Otaknya benar-benar tidak beres.

Pintu terbuka, dan so eun masuk ke dalam. Kim bum berdecak kesal kenapa di saat bayangan wajah sang bodyguard memenuhi otaknya tiba-tiba ia datang.

“bagaimana? Kau sudah lebih baik?” Tanya so eun.

“hhhmmm.” Jawab kim bum.

“baguslah….”

“kau tidak melapor pada ayah dan ibuku kan?” Tanya kim bum.

“aniyo, bukannya kau yang meminta untuk tak memberitahu?”

Kim bum mengangguk.

“beom-ah kau punya pacar?” Tanya so eun tiba-tiba.

Kim bum langsung membulatkan matanya. “mwo? Aniyo.” Jawab kim bum.

“oh……seharusnya kau segera punya pacar.” Ujar so eun sedikit berbisik.

“mwo? Kenapa kau yang mengatur?” sewot kim bum.

So eun angguk-angguk kepala. “agar tak ada lagi yang menghajarmu, itu lebih baik.” Ujar so eun.

“ishh…aneh sekali kau…” balas kim bum.

“seharusnya aku yang bilang begitu, kau yang terlihat aneh.” Ujar so eun.

“a..aniyo aku tidak aneh….hanya pikiranmu saja.”

“hmm, oh ya baek suzy? Dia….yang selalu mengikutimu itu?” Tanya so eun.

“aish untuk apa bertanya tentang dia. Apa kau masih punya urusan dengannya?” Tanya kim bum.

“molla, tapi lebih baik kau terima saja dia….Semoga saja kan dia tak balas dendam padaku karena telah melarikan diri, aku dengar dia itu tergila-gila padamu.”

“ya apa yang kau katakan? Shireo….!” Tolak kim bum ogah-ogahan.

“wae? Apa kau sudah menyukai seseorang huh?” Tanya so eun.

Kim bum diam, ia sendiri tidak tahu.

“lalu apa urusanmu? Itu urusan pribadiku.” Balas kim bum.

“aish jika sikapmu kasar pada wanita, mana ada yang akan tertarik padamu kecuali, ya baek suzy….” Cibir so eun.

“aku? Kasar? Itu mungkin terhadapmu saja ! kau lihat kan kalau aku popular di kampus.” Bela kim bum.

“yasudah terserah kau saja tuan muda, yang penting seharusnya kau bersikap lebih sopan padaku arasso ! kau lebih muda dariku.” Ujar so eun seraya mencondongkan wajahnya kea rah kim bum.

Tentu saja itu membuat kim bum gugup. “y…ya apa yang kau lakukan?”

“hmmm wajahmu……..sudah lebih baik, kau bisa kuliah besok.” Ujar so eun menjauhkan lagi wajahnya.

Jantung kim bum masih terpacu cepat seperti kuda yang sedang balapan.

“lebih baik istirahatlah, sepertinya kau juga sudah tak sakit lagi.” Lanjut so eun sambil menarik selimut untuk kim bum. Kim bum hanya diam saat so eun menyelimuti tubuhnya.

“tidurlah tuan muda.” Ujar so eun sok lembut lalu keluar dari kamar kim bum.

Kim bum sendiri masih terpaku seperti patung. Tidak, ia tidak mungkin menyukai bodyguardnya sendiri. Bodyguard yang lebih tua darinya.

“m..mana mungkin……tidak boleh……..mana mungkin aku menyukainya.” Batin kim bum bingung.

“pasti ini factor obat…yah benar…aish…..”

###

 

“aku akan mengawasimu ! ingat itu….jangan sampai hal yang sama terjadi lagi ! arasso?” ucap so eun.

“aish…ne…ne…” jawab kim bum dengan kesal lalu keluar dari mobil.

“hah benar-benar cerewet sekali.” Gerutu kim bum.

“beom-ah……..” teriak suzy.

“aish sial.” Dumel kim bum mempercepat jalannya, tapi suzy sudah berhasil menggandeng lengannya.

“ya kau….jangan sok akrab denganku !”

“beom-ah bagaimana dengan keadaanmu?” tanya suzy mengacuhkan omelan kim bum.

Suzy memerhatikan wajah kim bum lalu memegang pipinya.

“apakah masih sakit?” tanya suzy.

“jauh lebih sakit saat kau memegangnya, turunkan tanganmu…!” perintah kim beom.

Suzy memanyunkan bibirnya.

“beom-ah kenapa kau kasar sekali padaku? padahal aku kan mengkhawatirkanmu.” Ujar suzy.

aish jika sikapmu kasar pada wanita, mana ada yang akan tertarik padamu kecuali, ya baek suzy….” Cibir so eun.

Tiba-tiba kim beom teringat perkataan so eun.

“aish kenapa selalu muncul di pikiranku?” kesalnya.

“beom-ah wae? Gwaenchana?” tanya suzy.

Kim beom tak menghiraukan dan malah berjalan meninggalkan suzy sambil merutuki diri sendiri karena so eun lagi-lagi muncul di kepalanya. “menyebalkan.”

###

 

So eun menunggu kim beom di depan kampus sambil memegang ponsel untuk mengawasi kim beom. Tak lama kim beom datang bersama teman-temannya. So eun tersenyum lega melihatnya.

“ayo pulang !” ajak so eun.

Tanpa basa-basi kim beom langsung masuk saja ke dalam. Sejenak so eun tersenyum pada ketiga sahabat kim bum itu. Seung gi dan soo hyun hanya saling berdehem berniat meledeki kim bum. Sementara il woo hanya menatap so eun yang sudah masuk lalu menjalankan mobilnya.

Selama di perjalanan kim bum hanya memandang ke jendela, tak ingin menatap so eun yang jujur membuat konsentrasinya berkurang saat belajar. Kim beom sendiri bingung dan tidak tahu kenapa.

————–

 

So eun berjalan di belakang kim beom saat memasuki rumah. Kim bum terus berjalan menuju kamarnya. Saat so eun hendak masuk ke dalam kamarnya sendiri tiba-tiba kim bum menghentikan langkahnya. So eun membuka knop pintu dan hendak masuk, tapi kim bum menahan tangannya.

“ada apa?” tanya so eun.

Kim bum menatapnya dan malah mendorong so eun masuk ke dalam kamar so eun.

“y…ya…ada apa?” tanya so eun.

Kim bum malah terus mendorong so eun hingga menempel ke dinding.

“ya apa yang mau kau lakukan?” tanya so eun. Ia sudah siap-siap menendang kim beom jika kim beom melakukan hal aneh padanya.

Kim bum masih menatap so eun, dengan tatapan seperti menerka-nerka. Meneliti setiap inchi wajah so eun.

“kau……” ujar kim beom.

So eun melototkan matanya karena kim bum semakin mendekatkan wajahnya.

“mwo?”tanya so eun.

“wajahmu…..tidak cocok dengan umurmu !” ujar kim bum menjauhkan wajahnya.

“ne?” kaget so eun.

Ternyata selama di mobil, kim bum terus berfikir tentang umur dan wajah so eun.

“w..w..wajahmnu tidak cocok dengan umurmu…” ulang kim beom sekali lagi namun agak gugup sambil memalingkan wajahnya dari so eun.

So eun  menelan ludahnya. Sepertinya anak tuan kim ini mulai curiga padanya.

TBC

 

THIS IS MY LIFE ! NOT YOUR LIFE ! (PART 5)

THIS IS MY LIFE ! NOT YOUR LIFE ! 5

Author : Resi R (shin ni rin)
Cast : Kim Sang Beom, Kim So Eun
Other cast : Jung So Min, Jung Il woo, Lee Min Ho, Park Min Young, Yoo Ah In, Park Shin Hye.
Genre : sequel, friendship
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

PART 5

So eun sedang berada di dalam mobil bersama dengan yoo ah in, yoo ah in mengantarnya hari ini. selama di perjalanan so eun hanya diam, ah in yang menyadari hal itu mengerti karena sebelumnya kakek dan ayahnya sudah menceritakan tentang so eun. Jadi bagaimana pun juga dia harus bisa melaksanakan amanat dari tuan kim (kakek so eun) dengan baik untuk mengembalikan so eun menjadi seperti dulu. Ceria dan terlihat bahagia.
Ah ini melirik kea rah so eun yang hanya menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.
“so eun-ssi…kau bisa bermain piano ya? Aku mendengar cerita dari kakekmu.” Ujar ah in mencoba mengakrabkan diri.
So eun menghela nafasnya lalu sedikit menatap ah in yang sedang mengemudi.
“itu dulu, sekarang aku sudah lupa memainkan piano.” Jawab so eun seraya memandang lurus ke arah jalan.
“wah sayang sekali, padahal aku ingin melihat permainanmu. Ngomong-ngomong aku juga suka dengan music, aku juga bisa bermain piano.” Terang ah in.
“sudahlah jangan bicarakan piano lagi.” Balas so eun.
“ah mianhae….aku hanya ingin melihat kau bermain piano. Itu saja. Jadi apa salahnya jika kau kembali mencoba memainkannya? Atau mau aku ajari?” tawar ah in.
“ya kau itu sok akrab sekali” ujar so eun.
Ah in Nampak terkejut mendengar ucapan so eun padanya.
###

Kim bum baru saja memarkirkan motornya, cuaca hari ini masih sama dengan kemarin-kemarin. Jalanan penuh dengan salju. Kim bum pun menggosok-gosok tangannya agar terasa lebih hangat. Saat ia berjalan keluar parkiran, ia melihat sebuah mobil hitam berhenti, lalu keluarlah seorang wanita yang selama ini membuatnya penasaran. Kim so eun keluar dengan baju tebal yang ia pakai. Kim bum tampak tersenyum melihatnya, namun tiba-tiba seorang pria ikut keluar dari mobil tersebut dan mengahampiri so eun. Kim bum yang melihatnya merasa heran. Siapa pria itu? Pikirnya.
Yang kim bum lihat, so eun tampak tak peduli dengan pria itu karena saat pria itu bicara so eun hanya diam lalu berlalu begitu saja. Pria itu hanya diam di tempat. Kim bum pun semakin tambah penasaran dengan kim so eun. Pria tadi pun masuk ke dalam mobilnya lalu mobil pun melaju. Kim bum yang sadar jika so eun sudah mendahuluinya segera menyamai langkahnya dengan so eun.
“annyeong…” sapa kim bum berjalan di samping so eun seraya tersenyum.
So eun menoleh ke arah kim bum.
“kau…” ujar so eun.
“saljunya semakin lebat saja ya…” ujar kim bum basa-basi.
So eun tak menanggapi, ia terus berjalan. Kim bum yang baru sadar hanya bisa mengerti namun ia tak mau menyerah,
“ah ya besok itu festival kampus ya? Apa yang ingin kau pertunjukan malam besok?” tanya kim beom.
“bisakah kau tak banyak tanya?” balas so eun menghentikan langkahnya.
Kim bum diam, ia sudah berbuat salah sepertinya.
“mianhae…aku hanya…aku hanya tak enak saja karena terus di acuhkan olehmu.” Jawab kim bum terus terang.
So eun menghela nafasnya.
“maaf…seharusnya kau mengerti jika sikapku memang seperti ini.” ujar so eun.
“aku….aku hanya berusaha ingin melihatmu………” ucapan kim bum menganntung karena so eun menyambarnya.
“aku sudah telat, aku duluan.” Ujar so eun.
Kim bum menghela nafasnya.
“melihatmu tersenyum.” Kim bum melanjutkan kata-katanya dengan lirih.
###

” ya beom-ah kau mau menunjukan apa di festival besok?” tanya il woo.
Kim bum tampak berfikir.
“aku tidak tahu, aku masih bingung.” jawab kim bum.
“sepulang kuliah aku akan mengunjungi tempat-tempat indah untuk aku foto. Apa kau ingin ikut?” tawar il woo.
Kim bum sedikit terdiam.
“baiklah aku juga butuh inspirasi.” kim bum menerima tawaran il woo.
###

Ah in baru saja memarkirkan mobilnya di garasi rumah. Selama di perjalanan tadi ia terus berfikir tentang sikap so eun yang harus ia rubah. Ia harus membuat suatu cara untuk mengembalikan so eun karena hanya berbicara dengannya ini sangat sulit pikirnya. Ah in pun masuk ke dalam ruangan ayahnya.
“appa” ujar ah in.
Dokter lee mengangkat kepalanya.
“kau sudah mengantar cucu tuan kim?” tanyanya.
“sudah” jawabnya lalu duduk.
“appa, mungkin ini akan sulit untuk membuat cucu tuan kim seperti dulu” ujar ah in.
“apa yang sudah kau laksanakan tadi?” tanya dokter lee.
“aku berusaha mengajaknya bicara tapi ini sangat sulit. Kim so eun sepertinya tak punya semangat sama sekali.” jawab ah in.
“kasihan sekali tuan kim.” iba dokter lee.
“ne tapi aku akan berusaha semampuku. Perlahan tapi pasti untuk melaksanakan tugas dengan baik.” balas ah in.
“appa juga yakin, kau akan bisa mengatasinya.”
###

Tuan kim sedang merenung di ruangannya, ia memikirkan cucunya yang besok akan berulang tahun. Tanggal 6 september adalah hari yang so eun benci seiring dengan peringatan kematian kedua orang tuanya.
“cucuku apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu bahagia?” tanya sang kakek pada dirinya sendiri dengan wajah sedih.
“aku bukanlah kakek yang baik. Ini salahku.” ujar sang kakek menyesal.
###

Min ho dan Min young sedang berjalan berdua. Sebagai sepasang suami istri mereka terlihat begitu mesra di depan umum, ini dikarenakan adanya bakal calon bayi yang sudah di kandung min young 1 bulan. Mereka datang ke sebuah cafe yang menjual makanan dengan berbagai macam menu dari ayam. Saat ini min young sedang ngidam ingin makan ayam jadilah mereka ke tempat ini.
Saat menunggu pesanan datang, tiba-tiba min young merasa mual.
“chagiya~ aku ke belakang dulu.” ujar min young.
“oh ne. . . .” balas min ho.
Di dalam toilet rasa mual min young semakin menjadi, berkali kali ia muntah namun tak ada yang keluar (?). Ia membasuh mulutnya dengan air lalu melihat dirinya di depan cermin.
“aish ternyata merepotkan.” gumamnya.
Tak lama, datanglah seorang wanita berambut sebahu yang ikut membasuh tangannya di samping min young. Saat wanita itu berkaca, ia terlihat terkejut melihat wajah seseorang di sebelahnya. Begitu pula dengan min young.
“park . . .park shin hye !” kaget min young.
“min young eonni?” shin hye tak kalah kaget.
###

“so eun ayolah aku mohon ! Hanya untuk sekali saja. Aku tidak akan memaksamu lagi.” mohon jung so min seraya merapatkan tangannya.
So eun menatap so min.
“aku tidak bisa, kenapa tidak kau saja yang bermain piano.” jawab so eun tak peduli.
“so eun-ah, permainanku tidak sebagus permainanmu. Aku tidak terlalu mahir bermain piano” jawab so min.
“kalau begitu suruh yang lain saja !” balas so eun.
“ya so eun-ah hanya untuk besok saja ! Aku mohon. Ya? Jebal !” mohon so min.
“kau ini memaksa sekali.” ujar so eun dengan wajah datarnya.
So min hanya menghela nafasnya.
“yasudah jika kau tidak mau. Aku hanya ingin memberikan ini saja ! Yang penting niatku baik” ujar so min seraya menyerahkan buku not lagu pada so eun.
So eun terdiam melihatnya.
###

“jadi dari kapan kau sudah kembali ke korea?” tanya min young pada shin hye yang ikut duduk makan bersama mereka.
“dari dua hari yang lalu.” jawab shin hye.
“oh tapi bukannya kuliahmu belum selesai di kanada?” tanya min young.
” ne tapi aku memutuskan untuk kuliah di negeri sendiri saja mengambil jurusan musik. Disana aku jauh dengan orang tua.” jawab shin hye.
“apa jangan-jangan kau ingin mengejar kim bum ya?” canda min ho.
“ya ucapanmu itu…” balas min young seraya menyubit lengan min ho
Shin hye hanya bisa tertawa kecil.
“oh ya ngomong-ngomong bagaima dengan keadaan kim bum di jepang?” tanya shin hye.
“kim bum sudah kembali ke korea, tentu saja di baik.” jawab min young.
“benarkah?” tanya shin hye bercampur senang.
###

Kim bum melihat so eun sedang melangkah menuju sebuah ruangan, ia pun mengikutinya dari belakang. Ternyata so eun memasuki sebuah ruangan musik.
So eun masuk secara perlahan ke dalam lalu sejenak terdiam memandangi ruangan yang kosong dan sepi ini. Hanya beberapa alat music yang tersimpan rapi disana, so eun hanya terfocus pada piano yang terletak di ujung ruangan dan dengan buku not lagu yang ia pegang. Perlahan ia berjalan mendekat.
So eun hanya memandangi piano itu, di dalam pikirannya terus terbayang perkataan jung so min teman baiknya yang memintanya agar bermain piano lagi. Sedikit demi sedikit hati so eun sudah mulai luluh, karena sebenarnya ia tidak ingin terus-terusan seperti ini.
So eun menarik nafas berkali-kali lalu duduk di kursi menghadap piano itu, meletakan not lagu di atasnya. Perlahan tapi pasti so eun mengangkat satu tangannya untuk menyentuh piano itu dan mencoba menekan tuts satu persatu. Dengan tangan yang cukup bergetar akhirnya dentuman tust pun terdengar. Kim bum yang hanya mengintip di balik pintu yang sedikit terbuka pun terkejut melihat so eun yang sudah mulai bergerak hatinya untuk kembali memainkan piano walaupun sebelumnya ia tak pernah melihatnya.
“kim so eun” gumamnya tak percaya.
Tak lama so eun menghentikan jari-jarinya yang menekan tuts lalu berdiri, ia tak sanggup untuk meneruskannya. So eun mengambil not lagu itu lalu berjalan keluar. Kim bum yang melihat hal itu segera bersembunyi di balik tembok, ia tak ingim so eun tahu jika sedari tadi ia mengikuti dan memperhatikannya.
So eun membuka pintu, disana ia cukup terdiam sejenak lalu pergi. Kim bum pun keluar dari persembunyiannya dan melihat punggung so eun yang semakin menjauh.
“kim so eun, mau sampai kapan aku harus penasaran karenamu.” Ujar kim bum.
###

“so eun-ah tunggu !” cegah so min seraya berlari kecil mengejar so eun. So eun menoleh dan menatap so min dengan tanda tanya.
“ada apa?” tanya so eun.
“itu….aku hanya ingin bilang jika kami ingin melihat permainanmu besok malam.” Ujar so min dengan susah payah.
“jung so min, mainhae sepertinya aku tidak bisa.” Jawab so eun.
“yak…….kau ini kenapa?” so min kehabisan kesabaran.
So eun tercekat mendengarnya.
“dulu adalah impianmu menjadi seorang pianis tapi sekarang? Apa hanya ini saja reaksimu? Tak ingin kembali mencoba dan hanya menyerahkan semuanya kepada takdir. Sebagai sahabatmu, aku dan yang lainnya begitu khawatir akan keadaanmu yang terus seperti ini.” bentak so min, saking kesalnya so min hampir menangis, ia berusaha membujuk so eun dengan segala cara tapi reaksi so eun sama saja.
So eun diam.
“apakah aku perlu menyerah? sepertinya aku tidak pantas menjadi sahabatmu so eun-ah.” Pasrah so min.
“so min-ah” ucap so eun pelan.
“ini terserahmu saja, seharusnya aku tak harus memaksa jika ini bukan keinginanmu. Mianahe.” So min pun pergi lebih dulu meninggalkan so eun.
So eun memejamkan matanya.
###

Sepulang kuliah kim bum dan jung il woo segera bergegas mengunjungi tempat-tempat menarik untuk di jadikan objek foto.
“il woo-ah. Memangnya apa yang ingin kau pamerkan besok malam?” tanya kim bum.
“tentu saja foto-foto hasil jepretanku nanti…..” jawab il woo masih asik memotret.
“jadi apa tema yang kau pilih?” tanya kim bum.
“mmmmm….alam mungkin, aku suka dengan alam.” Jawabnya.
“lalu bagaimana denganmu? Apakah kau sudah memikirkannya?” tanya il woo.
Kim bum mengangguk.
“ne, aku memilih tema tentang rahasia, dan judul yang ingin aku ambil adalah senyuman yang tak pernah terlihat dibalik teka-teki (aduh alay bgt hahaha :P).” jawabnya sambil mengingat so eun.
“oh sepertinya menarik, boleh ku tahu dari mana inspirasimu?” tanya il woo menghentikan aktifitas memotretnya.
“seseorang yang sudah membuatku penasaran sampai saat ini, dan ini masih menjadi teka-teki.” Jawab kim bum.
“ah ini mengingatkanku ke masa dulu.” Ujar il woo sedih.
“maaf aku tak bermaksud untuk mengungkit.” Balas kim bum.
“tidak, ini hanya perasaanku saja. Sudahlah lagi pula masalalu sudah berlalu, yang kita lihat adalah masa depan.” Jawab il woo sambil tersenyum.
“ne kau benar…..” balas kim bum yang kembali teringat dengan so eun. Bagaimana pun juga ia harus bisa membuat so eun seperti yang ia dan yang lainnya harapkan.
###

So eun melangkahkan kakinya masuk, saat masuk ke dalam rumah, yang pertama ia dengar adalah suara alunan piano yang terdengar cukup merdu. So eun tidak tahu siapa yang memainkan music tersenut setahunya tak ada yang bisa bermain piano selain dirinya dulu. So eun memejamkan matanya menahan tangis mendengar alunan dari piano tersebut karena ini mengingatkannya pada kedua orang tuanya. Tapi ia tetap berjalan mendekat ke sumber suara sampai ia sampai di ruangan khusus piano di rumah sang kakek, pintunya sedikit terbuka, so eun pun masuk begitu melihat seorang lelaki tengah bermain sambil menghayati. So eun hanya memperhatikannya dari depan pintu. Menyadari sesuatu, ah in pun menghentikan aktifitasnya lalu menatap so eun yang hanya diam berdiri.
“oh so eun-ssi….” Ujar ah in lalu berdiri.
“kau sudah lama disana?” tanya ah in.
So eun tak menjawab.
“ah baiklah ini lagu kesukaanku dulu.” Ujar ah in sambil tersenyum.
So eun melihatnya. “permainanmu…bagus….” Balas so eun datar.
“benarkah?” tanya ah ini.
So eun mengangguk. “tapi..penghayatanmu kurang.” Kritik so eun seakan ia merasa ingin kembali bermain piano, teringat lagi perkataan so min tadi sepulang kuliah kepadanya. Dari tadi terus memikirkannya. So eun pun berjalan menghampiri ah in ;ebih tepatnya menghampiri piano itu lalu duduk disana. Ah in tersenyum, ia sudah melihat sedikit kemajuan dari so eun. Ternyata tak sia-sia ia mencoba lebih akrab.
So eun menatap pianonya lalu mengusap permukaanya.
“sudah lama aku tak memainkan piano ini, menyentuhnya pun tidak.” Ujar so eun mulai menakan tutsnya seperti yang ia lakukan di kampus tadi.
“jika kau bisa, aku ingin mendengar permainanmu.” Pinta ah in.
“untuk sekarang aku tidak bisa.” Jawab so eun.
###

Kim bum memasukan motornya ke halaman rumah, saat ia masuk ia dikejutkan dengan kehadiran shin hye yang sedang asik mengobrol bersama noona dan hyungnya.
“shin hye-ah?” ujar kim bum kaget.
“kim beom-ah…apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu.” Ujar shin hye sambil senyum.
“kapan kau kembali ke korea? Bagaimana dengan kuliahmu di kanada?” tanya kim bum yang sudah duduk dengan mereka.
“dua hari yang lalu, aku berniat pindah ke korea dan melanjutkan kuliah disini.” Jawab shin hye.
“oh…”
“dan shin hye akan kuliah di tempat yang sama denganmu beom-ah mengambil jurusan music.” Lanjut min young noona.
“music?” tanya kim bum, mendengar kata music, ia teringat lagi pada so eun.
“ne.” jawab shin hye.
“ya beom-ah, mendengar kata music seperti mendengar kabar buruk saja.” Ungkit min ho.
“ah aniyo aku hanya masih tak menyangka shin hye kembali ke korea. Dia kan teman masa kecilku.” Jawab kim bum.
Shin hye hanya tersenyum.
“oh ya…sepertinya aku tidak bisa banyak mengobrol, ada sesuatu yang harus aku kerjakan untuk besok.” Ujar kim bum lalu berjalan menuju kamarnya.
Min young hanya merasa aneh dengan sikap so eun begitu pula shin hye yang merasa tak begitu di perhatikan oleh kim bum.
“dasar…kim bum memang sedang jatuh cinta….waktu itu dia cerita padaku..” ujar min ho keceplosan.
Min young sontak menataonya.
“kim bum jatuh cinta? Ya dia tak pernah cerita kepadaku…!” komentar min young.
Min ho langsung menutup mulutnya.
“aniyo aku hanya asal bicara.” Elaknya.
“kim bum jatuh cinta pada siapa?” batin shin hye.
###

Kim bum menyalakan laptopnya dan melihat-lihat hasil jepretannya pada SLR miliknya, ia sedang melihat-lihat foto so eun yang dulu tak sengaja ia dapat. Setelah dilihat ini memang bagus. Apalagi ketika so eun sedang duduk menunduk di tangga waktu itu(pd inget ga?). kim bum tersenyum melihatnya lalu mulai memindahkannya pada laptopnya lalu mulai mencoba mengedit agar terlihat lebih bagus.
“kim so eun, aku benar-benar ingin melihat senyummu !” gumam kim bum.
“apakah aku akan melihatnya? Atau tidak akan ya?” tanyanya konyol.
“ah entah kenapa aku bisa menyukaimu.” Ujar kim bum frustasi.
###

Pukul 12 malam. Tepat pada waktu ini adalah hari ulang tahun so eun. Namun so eun sama sekali tak mengingatnya dan memang ia tak mau ingat. Sang kakek belum bisa tertidur samapi malam ini, ia terus memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan? Apakah ia harus mengucapkannya dan memberikan hadiah atau pura-pura tidak tahu jika hari ini hari ulang tahun cucunya. Terlebih memang so eun tidak akan suka.
###

Gedung kampus yang luas itu tampak sedang di dekor untuk acara festival nanti malam. Semua mahasiswa akan menampilkan karya terbaik mereka nanti malam termasuk kim bum. Ia benar-benar tak sabar menunggu nanti dan ingin menunjukkannya pada siapa saja yang melihat. Termasuk so eun walaupun ia sudah tahu kalau so eun tak akan peduli.
So min sedang membersihkan biolanya, ia memang mahir bermain biola, tiba-tib ada seseorang yang menyenggol tubuhnya hingga biolanya terjatuh cukup keras.
“andwae….biolaku…” ucap so min.
“ah jeoseonghamnida. Jeongmal jeoseonghamnida…” ucap sesorang yang telah menabraknya. Orang itu mengambil biola so min lalu menyerahkannya.
“ah biolaku…..kau tahu ini begitu berharga….” Sewot so min.
“aku sudah minta maaf padamu nona.” Jawab orang itu.
“tapi tetap saja kan, kau tak hati-hati.” Balas so min.
“tapi aku pikir biolamu tak sebanding dengan SLR milikku.” Ujar orang itu sinis.
“hei kenapa malah kau yang sewot?” tanya so min.
“ya…..jung il woo……” teriak kim bum menghampiri il woo dan seorang wanita yang sedang berseteru. Sontak il woo menoleh bersama wanita itu.
“aku mencarimu.” Ujar kim bum.
“oh jung so min?” tanya kim bum.
“kalian saling kenal?” tanya so min.
“ne….jung il woo adalah temanku. Kalian saling kenal juga?” tanya kim bum.
“tidak…” jawab il woo dengan cepat.
“lain kali katakan pada temanmu jika sedang jalan itu hati-hati agar tak menabrak orang sembarangan.” Pinta so min lalu pergi.
“aishh…” il woo hanya berdecak kesal. Kim bum bingung melihat kejadian ini.
“ya memangnya apa yang terjadi?” tanya kim bum.
“aniyo, tidak perlu dibahas….” Jawab il woo.
“oh yak au mengenalnya dari mana?” tanya il woo.
“oh…jung so min adalah teman dari pemilik tas wanita yang aku kembalikan waktu itu.” Jawab kim bum.
Il woo mengangguk mengerti.
“oh ya ada apa mencariku?” tanya il woo.
“aku ingin meminta usul darimu.” Jawab kim bum.
###

Malam festival sudah tiba, semua mahasiswa terlihat sudah memenuhi gedung festival. Sebagian dari mereka ada yang menunjukan hasil karyanya. Termasuk kim bum. Sedari tadi kim bum banyak di datangi mahasiswa yang ingin melihat karyanya. Saat masuk kesebuah ruangan berlorong, terdapat beberapa foto terpajang dengan beberapa penjelasan dan petunjuk yang kim bum buat sesuai dengan apa yang ia pikirkan tentang so eun.
Jung so min mengedarkan seluruh pandangan untuk mencari so eun, namun dari tadi ia tak melihatnya juga. Apakah so eun tidak datang? Pikirnya. Apalagi ia ingat hari ini adalah hari ulang tahun so eun sekaligus peringatan kematian orang tuanya. So min semakin khawatir saja.
Kim bum sedang sibuk memperlihatkan hasil karyanya yang menarik itu, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara seseorang yang terdengar dari mikerophone. Kim bum mengenal suara itu. Karena penasaran kim bum ooun segera keluar dan menuju ke dekat panggung khusu untuk menampilkan karya tentang music, karena karya mengenai photografi di tempat yang berbeda (gaje bgt ><). Kim bum cukup terdiam setelah melihat siapa yang berada di atas panggung sekarang. Hatinya mulai merasa tak tenang (?). apa yang akan so eun lakukan? Pikirnya.
“aku akan memainkan sebuah lagu disini.” Ujar so eun.
Kim bum dan so min yang berada di tempat berbeda sama-sama kaget.
So eun pun berjalan mendekat kea rah piano lalu duduk. Berkali-kali ia menarik nafas dan memejamkan matanya. Tangannya mulai bergetar saat ia hendak menekan tuts. So eun mengurungkan niatnya, ia kembali menarik tangannya. Cukup lama ia terdiam sambil memejamkan mata akhirnya so eun berhasil memainkan piano tersebut.
Kim bum dan jung so min yang melihatnya masih terkejut dan tak percaya, mereka tak menyangka jika so eun akan mau bermain piano lagi terlebih so min yang pada awalnya sudah menyerah, namun ternyata so eun mendengarnya. So eun benar-benar terharu.
Kim bum mematung di tempat mendengar permainan so eun. Ini diantara mimpi baginya. Kim bum tak percaya melihat orang yang selama ini membuatnya penasaran akhirnya bisa ia dengar secara langsung permainan pianonya dan suara merdunya. Kim bum tampak terpana.
Memainkan music ini sambil menyanyi dengan suara yang agak bergetar membuat dadanya terasa sesak, so eun sampai ingin menangis, lagu yang ia mainkan adalah lagu kesukaanya sewaktu ayah dan ibunya masih ada. Dulu ini memang lagu kesukaan mereka. Tangan so eun bergetar hebat saat menekan tuts demi tuts, nyanyian yang keluar dari mulutnya bergetar. Air mata so eun tak bisa di tahan, ia menangis. So eun menghentikan permainannya, ia ingat jika hari ini tepat tanggal 6 september dimana merupakan hari ulangtahunnya dan peringatan kematian ayah dan ibunya. Hati so eun benar-benar sakit. So min tak bisa menahan tangis, so min menangis di tempat.
“so eun-ah.” Ujar so min.
semua yang menonton ikut bingung apa yang dilakukan so eun? Kenapa ia malah berhenti. So eun menangis semain menjadi, ia tidak bisa melanjutkannya sampai selesai. So eun langsung beranjak berdiri lalu turun dari panggung itu. Semua melihat dengan terkejut, begitu pula dengan kim bum. kim bum tak bisa melakukan apa-apa, ia hanya diam mematung. Namun pada akhirnya ia berlari mengejar so eun dan menunggunya di pintu keluar gedung melalui jalan lain karena yang ia lihat so eun menuju kesana. Tak lama sesosok tubuh mungil menubruk tubuhnya. Ya, orang itu adalah so eun yang sedang menangis sambil menunduk sehingga tak melihat jalan dengan benar. Tanpa basa-basi kim bum langsung mengulurkan tanganya dan memeluk tubuh so eun. So eun tak berontak, ia hanya menangis tersedu-sedu.
“ aku tidak bisa…….aku tidak bisa…” ujar so eun terisak.
Kim bum tampak iba. Hatinya merasa sakit dan sesak melihat so eun seperti ini.
“sudahlah jangan menangis.” Ujar kim bum masih memeluk so eun.
So eun masih menangis di dada kim bum dengan kedua tangan yang terkulai ke bawah. Sekarang ia tak pedulo dengan lelaki yang di hadapannya yang selalu ia acuhkan.
“melihatmu menangis rasanya hatiku terasa sesak.” Batin kim bum.
“sudahlah……sudah mau melakukannya itu sangat baik…” ujar kim bum lebih mendekap tubuh so eun agar lebih hangat.
“aku merindukan mereka…” lirih so eun masih menangis, tanpa sadar ia cerita pada kim bum.
“aku tahu…….sudahlah……”

TBC

Mianhae kalau part ini kecepetan alurnya atau pun lebih gaje dsb…mohon dukungannya (?) sama komen, kritik atau saran. Gomawo.