HIATUS

Hallo semuaaaa, terimakasih kepada kalian-kalian yang suka baca ff di wordpress saya. Maaf sudah beberapa bulan ini saya ga muncul ke permukaan dikarenakan ada kesibukan tersendiri #sok sibuk banget ya. Tapi emang saya juga baru kembali buka wordpress ini dan ternyata banyak banget komen yang masuk. Maaf juga bagi yang minta pasword tapi belum sempat saya balas. Maka dari itu solusinya saya bakal unprivate ff today love is begin part 17, buat readers yang mau baca silakan, asalkan jangan lupa tinggalkan komentarnya hehe. Maaf ya sekali lagi karena saya ga balas permintaan kalian yang meminta pw, baik itu di fb, di wp, atau mungkin di twitter. Nah maaf juga karena untuk beberapa minggu ke depan, atau bahkan beberapa bulan ini saya bakalan hiatus bikin ff :'((((( tapi gak nutup kemungkinan saya bakal bikin ff lagi, apalagi masih banyak utang ke kalian kan…..,sekali lagi maaf yaaaa…..miss u buat readers tercintaaaa….byeeeee

TEASER FF

TEASER FF

—-

Annyeonghaseyo readers tercinta, tentunya bagi readers yang selalu komen disisni hahaha (y)

Kali ini saya membawa beberapa teaser dari ff yang saya khayalkan, daripada khayalan saya ga di tuangkan dalam tulisan mending di bikin teasernya dulu. Nah karena bingung mau buat yang mana dulu. Jadi saya pengen pendapat para readers semua buat milih salah satu teaser dari ff yang kalian inginkan. INGET YA HANYA PILIH SATU !!! biar saya ga bingung nantinya buat bikin. Dan ketentuannya adalah pilihan dari readers yang paling banyak akan author segera buat. Tapi Insya Alloh semuanya akan saya lanjutin, tapi selesain satu-satu dulu. Yasudah selamat memilih J (kaya pemilu – -“ aja ) tapi harus sabar ya, saya ga bakal update cepet-cepet soalnya mau  beresin BFB sama falling love dulu.

—-

#1 Protect My Love (Teaser)

Author : Resi R. (Shin Ni Rin)

Main Cast :

©      Kim So Eun

Sebagai anak mafia yang paling di segani di Korea. Kejahatan yang dilakukan ayahnya membuat dirinya menjadi pribadi yang tertutup dan di jauhi oleh orang-orang di sekitarnya. Di balik sifatnya yang pendiam tersimpan banyak peristiwa pahit yang ia saksikan dari kecil sampai sekarang. Walaupun begitu hidupnya penuh dengan bahaya dari orang-orang yang ingin membalas dendam kepada ayahnya. Cinta seseorang hadir dan memberikan perlindungan untuknya.

©      Kim Sang Beom

Hidupnya penuh dengan dendam. Ia terobsesi untuk membalaskan dendam kedua orang tuanya yang di bunuh di depan ke dua matanya sewaktu kecil. Masuk ke dalam sebuah komplotan gankster sebagai usaha balas dendamnya. Namun cinta yang rumit hadir di saat ia sudah menemukan pembunuh kedua orang tuanya.

Other Cast :

©      Song Jong Ki

Salah satu anggota gankster yang mempunyai motif sama dengan kim bum. Balas dendam ! Berawal dari motif mendekati so eun untuk balas dendam tapi ia terperangkap dengan cinta pada anak mafia tersebut.

 

©      Jung Il Woo

Polisi yang mempunyai tugas berat untuk melumpuhkan para mafia yang sulit di bongkar. Sasaran utamanya adalah panglima mafia Kim Nam Gil.

©      Kwon Yuri

Gadis malam yang bekerja sebagai pengibur di klub malam. Selalu menampilkan penampilan seksinya dan seksi dance adalah andalannya yang paling di sukai oleh pengunjung.

©      Kim Nam Gil

Ayah so eun yang merupakan panglima mafia besar di korea. Sudah beberapa kejahatan yang diluncurkan olehnya kepada orang-orang yang di anggap mengganggu kehidupannya. Satu tujuannya adalah menemukan surat berharga milik ayahnya yang memiliki rahasia besar (kakek so eun) yang sampai saat ini belum di temukan.

Genre : Romance dan sedikit mengandung kekerasan

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Menceritakan tentang kisah seorang pemuda yang di penuhi rasa dendam terhadap pembunuh kedua orang tuanya. Semasa hidupnya hanya satu tujuan yang ia miliki, yaitu adalah membunuh panglima mafia dengan tangannya sendiri. Kehendak tersebut muncul dari kepedihan hatinya saat melihat kedua orang tuanya mati mengenaskan di hadapan matanya, kenangan buruk semasa kecil itulah yang selalu membayang-bayangi hidupnya. Suatu kelompok gankstar besar yang menjadi pilihannya untuk bergabung, yaitu dengan orang-orang yang kasar, keras, dan dendam. Mereka mempunyai  dendam besar terhadap seorang panglima mafia yang terkenal kejam. Pergaulan yang tidak benar tentu saja memberinya pengaruh buruk. Saat dikejar-kejar oleh rasa dendam itulah, cinta hadir ke dalam kehidupannya.

Namun apa yang akan terjadi jika wanita yang berhasil merebut hatinya adalah anak dari incaran dalam balas dendamnya? Akankah dia mempertahankan dan melindungi cintanya atau melepaskannya demi balas dendam?

 —-

#2 I Need Romance (Teaser)

Sesuai judulnya, ini terinspirasi dari drama korea I need romance. Tapi aku terinspirasi dari judulnya doang. Ceritanya beda hoho.

 

Author : Resi R. (Shin Ni Rin)

Cast :

Kim So Eun

Seorang wanita berusia sekitar 24 tahun. Ia sudah menikah dengan seorang pria yang menjalani hubungan dengannya sekitar 6 tahun lalu. Usia pernikahan mereka baru berjalan 5 bulan. Tapi wanita ini selalu kesal dengan sikap suaminya yang tak pernah melakukan hal yang romantic padanya. Baik ketika pacaran maupun sudah menikah seperti sekarang ini. wanita ini yakin kalau suaminya mencintainya, kalau tidak cinta mana mungkin pria yang sudah menjadi suaminya mengajaknya untuk menikah. Lama kelamaan wanita ini kesal karena sikap suaminya yang datar-datar saja dan kurang perhatian, tidak ada sisi romantisnya sama sekali. Maka dari itu ia melakukan suatu cara agar suaminya berubah menjadi romantic.

Kim Sang Beom

Pria berumur 25 tahun ini sudah berstatus menjadi suami orang. Ya, dia adalah suami sah dari kim so eun. Tapi pria ini tidak pandai bersikap manis pada istrinya, sikapnya apa adanya. Dan itu selalu membuat istrinya kesal bahkan tak jarang sampai marah. Tapi apa yang mau ia lakukan? Ini memang dirinya walaupun ia juga sangat mencintai istrinya. Ia tidak bisa bersikap romantic meski sudah berusaha mencoba.

Goo Hye Sun & Goo Ah Ra

Mereka adalah teman so eun, walaupun Goo Hye Sun jauh lebih tua darinya. Dan satu-satunya cara untuk mencurahkan isi hatinya mengenai suaminya, so eun selalu curhat pada mereka. Dengan senantiasa mereka pun menerima cerita so eun dengan baik dan selalu memberi saran ataupun nasihat. Goo Hye Sun lah yang paling berpengalaman, karena ia yang lebih dulu menikah. Diantara mereka hanya tinggal Goo Ah Ra yang masih sendiri.

Genre : Family and Romance

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Synopsis :

 “kita menikah saja !” ujar seorang pria pada wanita yang ada di hadapannya. Ia tahu ini bukan acara melamar yang baik. Sama sekali tidak romantic. Kim bum hanya menyatakan keinginannya disaat mereka sedang berada di warung pinggir jalan, menikmati teoppoki bersama.

So eun menghentikan aktivitas makannya dan menatap kim bum.

“oppa…benarkah?” tanyanya tak percaya.

Kim bum tampak menggaruk tengkuk. “aku tahu ini bukan acara melamar romantic yang diinginkan setiap wanita.”

“aku inginnya juga begitu.” Balas so eun kecewa.

“mianhae, aku tidak tahu harus bagaimana melamarmu. Aku tidak bisa merangkai kata-kata indah dan aku tidak bisa membuatmu terpesona.”

Mendengar ucapan kim bum, so eun kini mulai tersenyum.

“gwaencaha, walaupun aku sedikit kecewa karena acara melamar oppa sama sekali tidak seperti yang aku harapkan. Tapi apa boleh buat. Aku akan menikah denganmu.” Jawab so eun.

Senyum kim bum mengembang.

Dua minggu kemudian, mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Mereka tinggal bersama di apartemen so eun. Kim bum benar-benar payah, bagaimana bisa ia menjadikan apartmen so eun untuk menjadi tempat tinggal mereka berdua. Sekarang sudah 5 bulan mereka menjadi suami istri, tapi sikap kim bum masih sama saja. Terlihat cuek dan perhatian pada saat-saat tertentu saja. Itu membuat so eun kesal.

Nah bagaimanakah hubungan mereka selanjutnya? Apakah seiring berjalannya waktu kim bum akan berubah menjadi pria dan suami yang romantic? Atau hubungan mereka malah akan menjadi buruk dan berakhir karena adanya pria yang lebih romantic daripada kim bum ?

 —-

#3 A Lot Of Kissing You (Teaser)

Author : Resi R. (Shin Ni Rin)

Main Cast:

Kim  Sang Beom

Seorang murid SEOUL INTERNATIONAL HIGH SCHOOL, ia terkenal dengan wajah yang tampan dan kepopulerannya karena merupakan bintang basket di sekolah. Banyak murid perempuan yang mengaguminya dan ingin menjadi kekasihnya, tapi kim bum tak terlalu memikirkan itu. Ia tak memikirkan masalah percintaan karena ia terlalu focus pada tim basketnya jadi ia tak punya waktu. Tapi kejadian mengejutkan datang, saat ia tak sengaja mencium seorang murid baru tanpa disengaja.

Kim So Eun

Seorang wanita yang lucu dan polos. Dia dipaksa pindah sekolah oleh orang tuanya karena harus pindah dari busan ke seoul. Orang tuanya tidak akan maju jika terus-terusan hidup di busan, makanya pindah ke seoul untuk membuka usaha baru. Orang tua so eun membangun warung ramyun di seoul dan usaha mereka cukup laris. So eun awalnya dapat menerima kepindahan sekolahnya ke seoul, dan ia harus sekolah di SEOUL INTERNATIONAL HIGH SCHOOL. Ia kagum karena ternyata sekolah barunya merupakan sekolah yang luar biasa. Tapi kekagumannya itu sirna saat ciuman pertamanya hilang direbut lelaki tak bertanggung jawab. So eun pun terus mengejar-ngejarnya untuk meminta tanggung jawab atas apa yang lelaki itu lakukan, so eun ingin lelaki itu minta maaf kepadanya baik-baik.

Other Cast :

Kim Hyun Joong

Teman se-tim basketnya kim bum. Ia tak kalah popular dari kim bum. Sikapnya berbanding terbalik dari kim bum yang cuek dan menganggap semua masalah sepele.

Jung So Min

Seorang gadis pemalu yang akan menjadi teman baru so eun. Ia sudah lama menyukai kim hyun joong tapi hanya ia pendam sendiri.

Goo Ah Ra

Dia adalah atlet renang, go ah ra sering menyumbang piala bagi sekolahnya. Tak heran jika postur tubuhnya bagus dan ideal. Hanya go ah ra lah satu-satunya perempuan yang dekat dengan kim bum. Mereka memang berteman sudah lama, tapi diam-diam go ah ra menaruh perasaan lebih pada kim bum.

Kim Ah Sun & Shin Ni Rin

Mereka adalah orang tua so eun. (numpang nama korea author disini sama nama seseorang :p)

Kim Ji San

Adik so eun yang sangat menyebalkan, ia duduk di bangku sekolah dasar. Tapi kadang kata-kataya selalu  melebihi so eun.

Genre : Romantic Comedy

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Synopsis :

Kim bum mendrible bola basketnya walaupun sedang berjalan di koridor. Saat ia berbelok bolanya menggelinding dan mau tak mau ia harus berjongkok untuk mengambilnya. Tapi tak disangka, saat ia berjongkok hendak mengambil bola malah ada seorang gadis yang tersandung bolanya. Gadis itu tampak terkejut, ia tak bisa menjaga keseimbangan. Pada akhirnya ia pun menarik sesuatu yang ada di dekatanya tak peduli apapun itu yang penting ia tak terjengkang ke lantai. Kim bum tampak terkejut karena bajunya di tarik gadis itu sampai ia terjatuh menimpanya. Dan yang paling mengejutkan adalah ciuman. Bibir mereka bersentuhan !. keduanya tampak membesarkan bola mata. Menyadari hal itu cepat-cepat gadis itu mendorong tubuh lelaki yang sedang menciumnya. Ciuman yang tak di sengaja. So eun jadi merutuki dirinya sendiri karena sedari tadi ia tak focus berjalan, terus mengedarkan pandangannya karena terlalu takjub melihat arsitektur bangunan sekolah barunya. Dan ia sangat menyesal, lebih baik ia terjatuh saja kelantai dari pada mengalami kejadian seperti ini.

“kyaaaaaaaaaaa……….” So eun berteriak histeris sambil mendorong tubuh pria itu.

Pria itu hanya menatapnya, sekaan bertanya ‘kenapa kau menarikku?’

“kau…….kau ! haissshhh….aigooo kau sudah merebut ciuman pertamaku !” teriak so eun.

Kim bum hanya mengaangkat sebelah alisnya, lalu segera mengambil bola basketnya dan berdiri. Tak ingin meladeni omongan dari gadis yang ada di hadapannya.

“aigoooo bagaimana ini? hei kau….! Sudah tahu ini koridor tapi kenapa malah bermain basket disini?! Bukannya di sekolah ini ada lapangan khusus untuk bermain basket ?! jadinya aku tersandung bolamu !” amuknya tak terima sambil menunjuk-tunjuk wajah kim bum.

Kim bum mengerutkan keningnya lalu menatap gadis itu dari atas sampai bawah. Mana mungkin gadis ini membentaknya? Apa dia tidak tahu siapa dirinya? Yang begitu popular? Seharusnya gadis yang ada di hadapannya senang karena beruntung mendapat ciumannya.

“aku baru melihatmu.” Ujar kim bum tak mengindahkan amukan so eun.

“kau tak tahu siapa aku?” tanyanya.

“mwo? Memangnya kau siapa? Apa penting aku tahu dirimu !” tanya so eun.

“oh…sepertinya kau murid baru.” Balasnya datar lalu berjalan melewati so eun tanpa dosa.

So eun mendelik kesal kea rah pria itu.

“hey kau…..kau tidak minta maaf padaku atas apa yang terjadi?” teriak so eun.

“bukan salahku jika kau tersandung bola basketku. Itu salahmu sendiri.” Jawabnya terus berjalan.

“mwo? Asiiihhhh….jinja….! hei kau sudah melakukan pelanggaran seksual….apa kau pikir ciuman tadi tidak akan menjadi malalah untukku? Kau harus minta maaf ! kau harus bertanggung jawab….awww….” tiba-tiba saja so eun meringis kesakitan karena ia merasa pergelangan kakinya sakit. Tapi kim bum kelihatan acuh dan malah menghilang di belokan koridor.

“hasiiihhh tidak akan aku biarkan dia….!” Kesalnya.

Apa yang akan so eun lakukan? Apakah ia akan terus mengejar kim bum agar lelaki itu meinta maaf dan bertanggung jawab? Masalah yang tidak terlalu berarti bagi orang lain adalah masalah yang sangat besar untuknya, sudah bertahun-tahun ia melindungi dirinya agar tak ada orang yang menciumnya. Dan apa yang akan kim bum lakukan? Apakah ia akan diam saja dan seolah masalah ini tidak terjadi? Atau terpaksa harus meminta maaf dan bertanggung jawab.

 —-

#4 Detective School, Mystery About The Murder Book (Teaser)

Main Cast :

Kim Sang Beom

Seorang siswa yang misterius. Karena misterius ia tak memiliki teman. Ia mencari kejadian-kejadian yang ia anggap sebagai misteri dalam kasus menghilang dan terbunuhnya siswa di sekolahnya. Rumor mengatakan tiap siswa akan menghilang dan terbunuh setelah mencari dan membaca buku misteri itu. Dan kim bum ingin memastikan kebenaran tentang adanya buku tersebut. Sebenarnya apa isi dari buku itu?

Kim So Eun

Seorang siswi yang hampir terbunuh karena nekad mencari buku yang terkenal misterius itu. Awal mulanya ia penasaran setelah apa yang terjadi pada siswa-siswi setelah membawa sebuah buku yang di ketahui terlarang itu. Ia hanya ingin memastikan tapi untung saja ada seseorang yang menolongnya. Dan pada akhirnya ia pun ikut membantu seorang detektif sekolah. Kim bum.

Other Cast :

Kim Hye Jin

seorang guru yang hidupnya penuh rahasia. Ada sesuatu di balik sifatnya itu.

Park Shin Hye

Teman so eun, dia adalah murid yang pintar.

Genre : Romantic, Horror, Mystery

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Synopsis :

“ju mo ! ju mo hilang !” teriak salah satu siswa yang tak juga menemukan jumo setelah di panggil ke ruang guru.

Kim bum yang mendengar itu langsung menghampirinya.

“apa kau tahu dia ada masalah apa di panggil ke ruang guru?” tanya kim bum.

“yang aku tahu….dia di panggil ke ruang guru karena nilai pelajarannya yang bermasalah.” Jelas temannya.

Kim bum tampak berpikir, setiap murid yang nilainya bermasalah selalu menghilang. Apakah ini ada hubungannya dengan hanya sebuah nilai pelajaran? Menyadari begitu seringnya murid yang tiba-tiba menghilang dan tak masuk sekolah lagi setelah itu.

Semua murid tampak ketakutan, takut mereka akan menjadi bagian yang hilang nanti. Kim bum berfikir sesuatu.

“aku akan mencarinya.” Ujarnya lalu keluar kelas.

Kim bum baru saja melihat Kim Hye Jin guru perempuan yang terkenal killer itu keluar dari ruang guru. Kim bum menerka-nerka tingkah gurunya, tapi kelihatan tak ada yang mencurigakan. Kim bum memilih bersembunyi di balik tembok sambil memerhatikan kim hye jin. Tiba-tiba kim hye jin berhenti melangkah. Kim bum mendapati kim hye jin menerima sebuah telpon.

“apa? Ju mo tak sadarkan diri? Dia jatuh dari lantai dua?” pekik kim hye jin.

Kim bum menajamkan pendengarannya dan terkejut mendengar pembicaraan kim hye jin melalui telpon.

“baiklah aku akan segera ke sana,” kim hye jin buru-buru pergi.

Niat kim bum memasuki ruang guru terhenti, ia pun berbalik arah dan mengikuti kim hye jin diam-diam.

Terlihat sekumpulan siswa-siswi beserta guru yang mengerubuni ju mo. Kim bum yang melihat itu segera berlari dan melihat.

“maaf aku terlambat, bagaimana dengan ju mo?” tanya kim hye jin dengan nafas tersengal-sengal.

“ju mo…anak ini sudah tidak bisa di selamatkan.” Ujar salah satu guru.

“jeongmal? Aigooo kenapa sampai bisa seperti ini?” pekik hye jin.

Semua murid yang melihat ju mo mengeluarkan banyak darah dari kepalanya dengan mulut dan mata terbuka merasa takut.

Kim bum mencoba berfikir keras, ini benar-benar misterius. Ju mo meninggal, mana mungkin ia bunuh diri dengan cara melompat dari lantai dua? Bunuh diri hanya karena nilai pelajarannya yang bermasalah itu tidak mungkin.

“kita harus lapor pada polisi.” Usul salah satu guru.

“benar, kita tidak akan membiarkan semua murid terancam, begitu pula kita sebagai guru.” Setuju guru yang lain.

“jangan….” Cegah hye jin. Semua menatapnya heran termasuk kim bum.

“jangan laporkan pada polisi, sekolah kita akan menadapatkan dampak buruk.” Lanjutnya.

Kim bum semakin heran dengan alasan hye jin yang tampak tak logis.

“semuanya, lebih baik kalian kembali ke kelas masing-masing !” suruh hye jin.

Semua murid pun menurut dan bubar. Tapi kim bum malah diam disana. “aku harus memecahkan misteri ini.” gumamnya.

Apa rencana yang akan kim bum lakukan untuk menguak misteri ini? apakah ia akan ikut terbunuh karena nekad menolong seorang siswi yang hampir terbunuh saat mencari buku misterius itu? Atau malah akan terkuak seiring beberapa petunjuk yang ia dapakan? Akankah mereka terperangkap dalam cinta karena misteri ini?

sedihhhh !!!

sumpah demi apa ya sedih banyak siders disini. ada reader yang baca ff karangan saya tapi gak ninggalin jejak sama sekali huhuhu. tolong deh ya untuk siders kalo udah baca komen ! mau kritik, pujian ato berupa apalah author terima, asal jangan bashing aja. seneng malah kalo banyak yang komen.  itu bisa jadi motivasi tersendiri lho buat ngelanjutin part berikutnya. author juga jadi semangat. jadi sangat dimohonkan bagi kalian para siders untuk segera bertobat wkwkwk. kalo bisa sebelum author lacak nih siapa aja sidersnya#emang bisa? plaakkk.

tolong hargain aja karya-karya author disini. nulis cerita tuh ga gampang lho (?) butuh khayalan tinggi wkwkwk jadi sekali lagi tolong untuk tinggalin jejak di setiap ff yang udah di baca. gomawo !!!

Mini FF (No Title) Part 2

Mini FF (No Title) Part 2

Author : Resi R. (Shin Ni Rin)

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom

Other Cast : Jung Il Woo, Shin Ni Rin, Song Jae Rim

Genre : Romance

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

 

Berlawanan arah

Hati ini mengatakan iya, namun mulut tidak tahu

Apa yang harus ditunjukkan? Apa yang harus dikorbankan?

Mengenai hati, sebenarnya siapa yang tahu?

 

Maret 2013

So Eun tengah celingukan mencari seseorang, ponselnya tidak lepas ia genggam. Hal inilah yang membuatnya tidak suka. Mempunyai sepupu manja yang harus ia jemput tiap kali ia pulang ke Korea. Ya, sepupunya memang tinggal di Hongkong, dan kadang 3 bulan sekali menyempatkan pulang ke Korea. Mereka begitu dekat meski So Eun kadang sering kesal karena sepupunya yang menyebalkan itu.

“Gzzz dimana dia itu?” Kesal So Eun seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah. Sudah hampir satu jam dia menunggu namun batang hidung sepupunya tak kelihatan juga. Sudah beberapa pesan yang ia kirim namun tak juga ada balasan, begitu juga saat dihubungi pun tak diangkat.

“Ahhh ini benar-benar membuatku jengkel.” Gerutunya. Lalu ia pun memilih untuk membeli minum di foodcourt di bandara Incheon.

So Eun duduk sambil menikmati secangkir coklat hangat. Ia melihat banyak sekali orang yang lalu lalang membawa koper. Sudah sering ke bandara namun ia tak sempat mencoba menaiki pesawat. So Eun menghembuskan nafasnya. Tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata ada telpon masuk dari sepupunya. Tanpa banyak apa-apa So Eun pun langsung mengangkatnya.

“Yak…..sudah berkali-kali aku menghubungimu kenapa kau tak mengangkatnya juga heoh? Bukankah pesawat yang kau tumpangi sudah take off satu jam yang lalu?”

“Membuatku mati bosan saja ! Yasudah kau tunggu saja, aku akan segera kesana.” So Eun segera bergegas dan meninggalkan secangkir coklat hangat yang masih tersisa banyak. Ia berjalan dengan terburu-buru juga dengan wajah kesalnya untuk menjemput sepupunya itu.

Namun saat ia menaiki tangga tak sengaja ada orang yang menyenggolnya sampai ia hampIr saja terjatuh. Tapi untung saja ada seseorang yang dengan cepat menahan tubuhnya.

“Berhati-hatilah.” Ujar orang yang menolonganya itu. Tampak seorang pria di ada di penglihatan So Eun. Pria itu memakai topi dan juga kacamata hitam.

So Eun terdiam sejenak. “Ah, terimakasih.” Ujar So Eun.

Pria itu tersenyum kepada So Eun lalu membuka kacamatanya. “Tapi apa kau baik-baik saja?” Tanya pria itu.

“Eh? Ah iya….” So Eun mengangguk canggung.

“Lain kali berhati-hatilah.” Ujar orang itu seraya tersenyum ramah pada So Eun lalu kemudian pergi.

So Eun masih diam di tempat. Entah kenapa ia merasa takjub dengan pria itu. Entah karena pria itu telah menolongnya atau sikapnya yang ramah kepadanya.

“Nona, kau menghalangi jalan.” Seorang bapak-bapak sekitar umur 40-an menyadarkan So Eun.

“Ah….maaf.” Ujarnya sambil sedikit menundukka kepalanya. Lalu So Eun pun kembali ke niat alwalnya untuk menjemput sepupunya.

-no title-

Januari 2015

“Jadi guru Song itu guru baru di sekolah kita?” Tanya So Eun pada Ni Rin. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang menaiki bus.

“Kalau tidak salah baru sekitar dua bulan dia mengajar di sekolah kita.” Jawab Ni Rin. “Wae?” Tanya Ni Rin.

“Tapi aku tidak pernah melihatnya.” Ujar So Eun.

“Karena kau selalu ketinggalan berita, kau datang ke sekolah hanya untuk belajar saja, tak pernah mencari informasi lain.” Cibir Ni Rin yang kini ia sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.

“Mencari informasi, itu sih hobimu.” Balas So Eun.

“Ah ya, tapi aku tak menyangka kau pernah bertemu dengan guru Song sebelumnya.” Ujar Ni Rin, kini ia menatap So Eun. Yang ditatap malah menghembuskan nafasnya.

“Tapi aku belum yakin, apa guru Song itu adalah orang yang menolongku waktu itu atau bukan. Hanya saja terlihat sama.” Balas So Eun.

Hening, untuk sejenak mereka hanya menikmati suara mesin dan juga jalanan dari balik jendela. Sementara So Eun sebenarnya penasaran dengan guru Song. Apakah benar guru Song itu adalah orang yang sama dengan orang yang di bandara? Ataukah hanya mirip saja?

“Eh So Eun-ah….” Panggil Ni Rin. So Eun menoleh. “Apakah kau tak merasa jika Kim Bum-ssi itu sangat tampan?” Tanya Ni Rin.

So Eun terlihat mengerutkan keningnya. “Dia….tentu dia tampan. Wae?” Tanya balik So Eun.

“Hahaha, entah kenapa aku merasa jika kau dan Kim Bum-ssi terlihat cocok.” Canda Ni Rin.

“Kau ini, selalu mengatakan hal yang sama. Dengan Ha Neul-ssi kau bilang aku cocok dengannya, dengan Jun Ho-ssi, lalu sekarang dengan Kim Bum-ssi.” Balas So Eun.

“Hahahaha.” Ni Rin malah tertawa.

-no title-

“Woaaaah jadi ini rumahmu?” Il Woo sangat takjub dengan rumah Kim Bum yang benar-benar mewah. Sepulang sekolah ia memaksa Kim Bum agar ia diperbolehkan untuk main ke rumahnya, dan Kim Bum tak memberikan respon yang membuat Il Woo kecewa. Jadi seperti inilah sekarang, Il Woo berada di rumah Kim Bum. Yah Il Woo memang mudah akrab dengan siapa saja, tapi untuk hal seperti ini terlalu nyeleneh sih. Ia baru saja bertemu dan berkenalan dengan Kim Bum tapi sudah berani meminta ikut ke rumahnya. Tak apa, mungkin Il Woo bisa menjadi teman baik Kim Bum di Seoul.

“Jika kau ingin minum, pergi saja ke dapur.” Ujar Kim Bum sebelum ia masuk ke dalam kamarnya.

“Oke.” Balas Il Woo, ia pun duduk di sofa yang megah itu bagaikan seorang raja. Il Woo memijat-mijat pundaknya lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.

“Beruntung jika aku menjadi sahabatnya kelak.” Gumam Il Woo sambil mengandai-andai.

“Lakukan saja sesukamu disini.” Kim Bum sudah kembali dan ia duduk di sofa di sebrang Il Woo.

“Ah Kim Bum, apa kau tidak kesepian tinggal di rumah sebesar ini? Mungkin orang tuamu jarang berada di rumah karena sibuk bekerja. Tapi apa kau tak merasa kesepian?” Tanya Il Woo.

“Aku sudah terbiasa hidup seperti ini.” Balas Kim Bum.

“Ah oke oke aku paham.” Il Woo angguk-angguk.

“Mmmm, pasti banyak yang mendekatimu ya Kim Bum-ssi?” Tanya Il Woo. Kim Bum menatap Il Woo dengan tatapan aneh. “Perempuan maupun laki-laki, banyak yang mendekatimu karena harta.” Lanjutnya. Kim Bum diam. “Kau bisa memilih-milih teman dan perempuan yang kau inginkan, jika kau tak merasa cocok kau tinggalkan semua. Anak orang kaya dan tampan sepertimu yang ada dalam drama sih seperti itu.” Blak-blakan apa yang dikatakan Il Wo. Tapi memang beginilah dia.

“Semuanya tidak seperti yang kau bayangkan.” Balas Kim Bum. “Aku jarang berinteraksi dengan orang lain, jika mereka mendekat maka aku akan menjauh.” Lanjutnya.

Il Woo membulatkan matanya. “Ayolah…jadi maksudmu kau juga akan menjauhiku?” Il Woo menghampiri Kim Bum dan duduk di sebelahnya, lalu ia merangkul pundak Kim Bum. “Karena aku tak selevel denganmu?”

“Tapi aku rasa, tak ada salahnya untuk mencoba.” Ujar Kim Bum.

“Ya…kau harus sering bergaul kawan !” Il Woo menepuk pundak Kim Bum. “Mulai sekarang, kita bersahabat, bagaimana?” Tanya Il Woo. Kim Bum menatap Il Woo dengan aneh.

“Hmmmm, lain kali kau juga harus mengajak So Eun dan Ni Rin ke rumahmu. Agar rumahmu ramai dan tidak sepi seperti ini.” Ujar Il Woo. Mendengar kata So Eun, Kim Bum terdiam sejenak.

“Apa kau dekat dengannya? Kim So Eun?” Tanya Kim Bum.

“Ya kami dekat, aku dekat dengan siapa saja.” Jawab Il Woo santai. “So Eun orang yang baik, aku sudah tiga tahun kenal dengannya. Begitu pula dengan Ni Rin. Tapi So Eun jauh lebih baik daripada Ni Rin. Jadi jika kau jatuh cinta, jatuh cinta saja pada So Eun, jangan kepada gadis tomboy itu.”

Kim Bum diam mendengarnya. Jatuh cinta? Apakah semudah itu untuk jatuh cinta? Tapi kenapa ia merasa ia bukanlah dirinya saat ia melihat So Eun. Meski baru pertama kali bertemu secara dekat, ia merasa ada hal yang berbeda. Apakah bisa dikatakan ia jatuh cinta kepada gadis itu? Jika benar, maka apa yang harus ia tunjukkan?

-no title-

Semua murid kelas 3-1 tampak terpukau dengan sosok yang berdiri di depan kelas mereka. Guru Song, ya nama lengkapnya Song Jae Rim. Bagaimana tidak semua murid perempuan terhipnotis melihat rupanya? Muda, tampan, dan ramah. Sempurna di mata mereka. Begitu pula dengan So Eun yang sedari tadi matanya terus berada pada guru Song. Ternyata benar, guru Song adalah orang yang sama dengan orang yang menolongnya saat itu di bandara.

“Baiklah, mungkin hanya itu perkenalan dariku sebagai guru sastra inggris kalian di kelas tiga, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik.” Ujar guru Song kepada semua. Semua murid bertepuk tangan sebagai sambutan baik mereka kepada guru Song.

“Mungkin, sekarang saya akan meminta perwakilan dari kalian yang ingin membantu saya untuk mempermudah komunikasi antara saya dengan kelas ini, siapa yang bersedia menjadi koordinator kelas untuk pelajaran sastra inggris?” Tawar guru Song. Semuanya diam dan tak ada yang berani mengangkat tangan.

“Saya Sonsaeng-nim.” So Eun mengangkat tangannya dan semua mata tertuju padanya termasuk Kim Bum. Tak lama dari itu entah kenapa Kim Bum juga ikut mengangkat tangannya.

“Saya.” Ujarnya. Kini semua mata tertuju pada Kim Bum.

“Oh baiklah….sudah ada dua dari teman kalian yang bersedia, apakah ada yang keberatan?” Tanya guru Song. Semua murid diam, menandakan bahwa semua setuju.

“Baiklah kalau begitu, kalian berdua akan menjadi koordinator kelas. Saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik, baik antara kalian berdua, dengan kelas, maupun dengan saya.” Jelas guru Song.

“Ne, sonsaeng-nim.” Balas semua murid.

“So Eun, kau yakin?” Tanya Ni Rin, ia menatap So Eun seidkit tak menyangka. So Eun hanya mengangguk dengan mata yang masih menatap guru Song.

-no title-

“Guru Song.” Suara itu menghentikan langkah guru Song. So Eun sudah berdiri di belakannya.

“Ah Kim So Eun?” Ujar guru Song. So Eun tersenyum manis padanya seraya sedikit membenarkan rambutnya.

“Ada apa?” Tanya guru Song sambil memamerkan senyum ramahnya.

So Eun tampak menggaruk tengkuknya. “Emmm sebenarnya…..” Ujar So Eun menggantung. “Aku rasa ini tidak terlalu penting, tapi aku sangat penasaran sehingga aku ingin bertanya padamu.” Lanjut So Eun. Guru Song mengerutkan keningnya.

“Apa itu?” Tanya guru Song.

“Maret tahun 2013 di bandara Incheon, apa kau mengingatnya?” Tanya So Eun. Guru Song tampak bingung dengan yang ditanyakan So Eun. Ia berpikir sejenak.

“Waktu itu kau pernah menolong seorang gadis yang hampir saja terjatuh dari tangga.” Jelas So Eun. Guru Song tampak masih mengerutkan keningnya sambil mengingat-ingat.

“Di bandara?” Gumam guru Song. So Eun angguk-angguk dengan cepat.

“Ah ya aku ingat, aku menolong seorang gadis.” Ujar guru Song.

Senyum di bibir So Eun semakin mengembang. “Itu aku, sonsaeng-nim.” Ujar So Eun.

Guru Song menatap So Eun dengan ekspresi terkejut. “Ah benarkah?” Tanyanya.

So Eun mengangguk dengan cepat. “Aku senang bisa bertemu lagi denganmu sonsaeng-nim.” Ujar So Eun. “Aku sangat berterimakasih padamu.” Tambahnya.

“Ah…tidak masalah, aku juga senang ternyata kau adalah muridku.” Balas guru Song.

So Eun tersenyum malu seraya membenarkn rambutnya.

-no title-

Kim Bum baru saja keluar dari toilet, dan saat ia berjalan di koridor, ia tak sengaja melihat So Eun dan guru Song yang sedang mengobrol. Kim Bum diam sejenak seraya memerhatikan mereka, ia melihat ekspresi wajah So Eun yang tampak berbeda disaat ia mengobrol dengan guru Song. Apalagi ditambah senyumnya dan So Eun yang tampak salah tingkah. Melihat dari eskpresi wajah So Eun, Kim Bum cukup tahu. Ia pun memilih memutar arah dan pergi.

-no title-

Keesokan harinya

“Biar aku yang membawanya.” Ujar Kim Bum pada So Eun seraya mengambil alih buku-buku yang ada di tangan So Eun. So Eun menatap Kim bum sejenak namun Kim Bum malah berjalan lebih dulu meninggalkan So Eun.

“Hey…tidak apa-apa.” So Eun mengikuti langkah Kim Bum.

“Kim Bum-ssi, kau sedang ada masalah?” Tanya So Eun seraya memiringkan wajahnya menatap Kim Bum dari samping. Wajah So Eun terlihat bingung.

Kim Bum tak menjawab dan membuat So Eun mengerucutkan bibirnya.

“Sepertinya kau masih menganggapku sebagai orang asing ya?” Ujar So Eun. “Padahal aku ingin bisa akrab denganmu agar bisa menghasilkan kesan yang baik sehingga kita bisa bekerja sama dengan guru Song.” Lanjutnya.

Mendengar nama guru Song yang keluar dari mulut So Eun entah kenapa membuat Kim Bum tidak suka. Pasalnya sedari tadi saat mereka sedang bersama SO Eun Terus saja mengungkit-ungkit soal guru Song.

“Kenapa jika memangnya aku sedang ada masalah?” Tanya Kim Bum dengan tatapan yang masih lurus ke depan.

“Maksudku….kau bisa bercerita padaku, Ni Rin, Il Woo, atau meminta solusi pada guru Song.” Jawab So Eun.

“Ini bukanlah hal yang harus aku ceritakan.” Balas Kim Bum.

So Eun pasrah diam setelah mendengar perkataan Kim Bum.

“Oh kalian….” Ujar guru Song saat Kim Bum dan So Eun baru saja masuk ke dalam ruangannya.

“Simpan saja bukunya di meja.” Perintahnya. Kim Bum pun menyimpan buku-buku itu di meja. Lalu setelah itu Kim Bum keluar tanpa mengatakan apa-apa kepada So Eun maupun guru Song. So Eun menatap aneh Kim Bum yang pergi begitu saja.

“Sepertinya dia memang sedang dalam keadaan yang kurang baik.” Gumam So Eun.

“Ada apa dengan Kim Bum?” Tanya guru Song pada So Eun. So Eun menggelengkan kepalanya.

“Ah yasudah, terimakasih kalian sudah membantuku.”

“Ne, sonsaeng-nim.” Balas So Eun seraya menganggukkan kepalanya.

“Besok…aku ada kepentingan di luar kota. Jadi beritahu teman-temanmu untuk mengerjakan tugas.” Perintah guru Song. So Eun mengangguk.

“Nanti malam akan aku kirim lewat pesan tugas apa saja yang harus dikerjakan.”

“Ne sonsaengnim.” Balas So Eun.

Guru Song tersenyum dan menepuk kepala So Eun. So Eun cukup kaget dengan perlakukan guru Song padanya barusan, tapi ia sangat senang.

“Yasudah kalau begitu, kau bisa pulang So Eun-ssi.” Ujar guru Song. So Eun mengangguk dan segera keluar dari ruangan guru Song.

Sekeluarnya ia dari ruangan guru Song, So Eun langsung memegangi pipinya yang tampak memerah.

“Aigoo, jantungku berdetak sangat cepat.” Ujarnya sambil senyum-senyum tidak jelas. Namun sedetik kemudian ia teringat dengan Kim Bum. Tadi Kim Bum terlihat agak aneh dan So Eun sedikit khawatir juga penasaran. Ia pun lirik kanan-kiri, depan-belakang, mencari sosok Kim Bum, namun ia tak juga melihatnya.

-no title-

Entah kenapa So Eun merasa tidak enak kepada Kim Bum. Jadi bagaimana pun juga ia harus menemkan Kim Bum sekarang. So Eun ingin bertanya apa yang terjadi dengannya, kenapa dia seperti itu, dan lain-lain. Apalagi mereka harus berteman baik agar bisa bekerja sama demi membantu guru Song. Jika misalnya Kim Bum tak menyukainya bisa menjadi hal yang rumit bagi So Eun.

“Dimana dia?” Gumam So Eun. Hingga ia tak sadar jika ia sedang menyebrangi jalan saat ini karena sibuk mencari Kim Bum.

Tidiiiiin tidiiiiin

So eun melirik ke samping kanannya dan dia melihat ada sebuah mobil yang melaju kencanh ke arahnya. Tiba-tiba ada yang menarik lengan So Eun dengan cepat.

“Apa kau ingin tertabrak?!” So Eun melihat Kim Bum berbicara dengan nada sedikit keras padanya. Ia tidak sadar bahwa hampir saja ia ditabrak sebuah mobil.

“Kim Bum-ssi…” Kaget So Eun.

“Apa yang sedang kau lakukan?!” Tanya Kim Bum dengan nada marah.

TBC

KENAPA INI PENDEK? KARENA EMANG SENGAJA DIBUAT PENDEK. KENAPA JUDULNYA ‘NO TITLE` ? KARENA EMANG GAPUNYA JUDUL. ANEH EMANG, KALO ADA YANG PROTES BLA BLA BLA MENDING GAUSAH BACA AJA YA. TAPI BAGI YANG MAU BACA PART SELANJUTNYA DITUNGGU AJAAA.

Mini FF (No Title) Part 1

Mini FF (No Title) Part 1

Author : Resi R. (Shin Ni Rin)

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom

Other Cast : Jung Il Woo, Shin Ni Rin, Song Jae Rim

Genre : Romance

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

 

Awalnya hidupku tenang, berhembus bagai angin

Lalui saja, tak pedulikan yang datang

Tak seru sama sekali

Tapi lalu berubah

Hatiku terasa bergetar saat dia terus mendekat

 

Desember 2014

“Gzzz…….” Tak seperti biasanya jalanan macet. Hal ini yang membuat laki-laki berparas tampan ini kesal. Sudah hamper 3 jam mobil yang ia tumpangi tidak jalan.

“Maaf Tuan, sepertinya saya salah mengambil jalan, tak diperkirakan daerah ini akan macet sebelumnya.” Ujar sang supir dengan nada takut-takut kepada laki-laki kalem ini. Tak ada suara dari sang majikan dan membuat sang supir melihat lewat kaca depan mobil.

Laki-laki itu terlihat menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sembari melipat kedua lengannya. Ia menghemuskan nafasnya, hembusan yang menggambarkan antara kesal, bosan, dan lainnya. Ia lalu memalingkan wajahnya ke jendela. Dari sana, ada hal yang menarik perhatiannya.

-no title-

“Huwaaaaaaaaaa…………” Seorang anak kecil menangis dengan keras karena lututnya terluka. Ia baru saja terjatuh karena berlarian dengan ceroboh. Es krim yang dipegangnya pun kini tergeletak di tanah dan mencair.

“Adik kecil, tidak apa-apa?” Seorang gadis dengan rambut hitam bergelombang menghampiri anak kecil itu lalu berjongkok di depannya.

“Dimana ibumu?” Tanyanya.

Anak kecil itu terus saja menangis dan mengaduh kesakitan, membuat si gadis bingung apa yang harus ia lakukan. Terlebih banyak orang lewat dan melihat ke arahnya.

“Huwaaaaaa…….sakit…..kakiku……….huwaaa……” Anak kecil itu menangis semakin menjadi-jadi. Gadis itu jadi panic.

“Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?” Ia kelabakan.

“Anak manis, apakah kau kesini bersama ibumu? Ayahmu? Atau kakakmu? Dimana mereka sekarang?” Tanyanya.

“Eomma…………..” Rengek anak kecil itu. Gadis itu melirik kiri kanan untuk mencari apakah ibu dari anak kecil ini ada di sekitar sini atau tidak.

“Ayo….aku akan mencari ibumu. Naiklah ke pundakku !”

-no title-

Januari 2015

Keadaan kelas tampak ramai. Hal ini dikarenakan para penghuninya sedang heboh bergosip mengenai guru muda yang tampan dan juga soal anak baru yang pindah ke sekolah mereka. Mereka bahkan tak memerdulikan bel masuk yang sudah berbunyi.

“Hei hei, memangnya benar guru Song akan mengajar di kelas kita?”

“Molla~ tapi aku berharap sekali dia akan mengajar disini, dia sangat tampan sekali bukan?”

“Benar, dia sangat tampan, aku akan rajin sekolah jika begitu jadinya.”

“Haaaaaa dia bahkan mendapat predikat sebagai guru muda tertampan di Seoul.”

“Benarkah?”

Tap tap tap

Suara sepatu itu terdengar cepat dan semakin mendekat. Seorang gadis berlarian menuju kelasnya dengan nafas yang terengah-engah. Dia telat 10 menit.

“Ya So Eun-ah….semalam kau melakukan apa saja heoh?” Shin Ni Rin yang merupakan teman dekat gadis yang bernama Kim So Eun itu menepuk pundaknya.

“Aku masih beruntung belum ada guru yang masuk.” Ujar So Eun seraya duduk di bangkunya.

Pletak

“Wae? Kenapa menjitak kepalaku?” Kesal So Eun seraya memegangi kepalanya. Ia menatap Ni Rin dengan mata kesal.

“Hehhhh….” Ni Rin menghela nafasnya lalu duduk di sebelah So Eun.

“Kau sudah kehilangan banyak berita So Eun-ah.” Ujar Ni Rin. So eun menoleh dan menatap Ni Rin dengan kening berkerut. “Guru tampan dan murid baru, semua orang heboh membicarakan itu.”

“Lalu?” Tanya So Eun. “Apakah aku harus ikut heboh juga seperti yang lain?” Lanjutnya.

“Heh kau ini, awas saja jika kau nanti jatuh cinta pada guru Song.” Balas Ni Rin. So eun yang tadinya menatap Ni Rin langsung memalingkan wajahnya dan mencari botol minum di dalam tasnya.

“Aku haus.” Ujarnya.

-no title-

“Apakah kau merasa gugup?” Tanya seorang guru kepada murid tampan yang sedang berjalan beriringan dengannya.

“Ah tidak.” Jawabnya singkat.

“Aku dengar kau memang sudah sering pindah sekolah karena pekerjaan ayahmu.” Ujar guru yang bermarga Kim itu.

“Ne itu memang benar.”

“Baiklah Kim Bum-ssi, semoga kau betah sekolah disini.” Ujar guru Kim seraya menepuk pundak Kim Bum.

Murid tampan yang kalem itu hanya mengangguk saja. Lalu sampailah mereka di depan kelas yang akan menjadi tempat dimana Kim Bum menghabiskan waktu untuk sekolah. Kelas yang akan menajdi tempat baru baginya dan menemukan teman-teman baru, atau cinta yang baru? Entahlah…..siapa yang tahu.

“Ehem…..” Guru Kim berdehem keras dan membuat penghuni kelas 3-1 itu langsung duduk di bangku mereka masing-masing. Kini semua mata tertuju pada Kim Bum si anak baru. Hal ini sudah menjadi hal biasa bagi dirinya jadi ia tetap dengan sikapnya yang tenang.

“Baiklah anak-anakku semua. Hari ini kalian kedatangan teman baru yang akan menjadi bagian dari kalian untuk hari-hari berikutnya. Aku harap kalian semua memperlakukannya dengan baik.” Jelas guru Kim di depan. Semua murid tampak diam dan memerhatikan. Namun ada juga yang berbisik-bisik karena ketampanan yang dimiliki Kim Bum.

“Baiklah Kim Bum, perkenalkan dirimu kepada teman-teman barumu !” Suruh guru Kim. Kim bum mengangguk.

“Aku Kim Sang Beom, senang bertemu dengan kalian semua.” Ujarnya kalem lalu sedikit membungkukkan tubuhnya.

“Yeah, senang juga bertemu denganmu anak baru !” Celetuk Jung Il Woo seraya mengangkat tangannya. Il Woo merupakan siswa yang terkenal dengan sifatnya yang nyeleneh dan tidak tahu malu, bias dibilang cukup pemberani dan juga mudah bergaul dengan siapa saja.

Dan pada saat itu juga, Kim Bum menangkap seseorang dengan matanya. Dia duduk di bangku ke tiga paling belakang sedang menatapnya juga.

Deg

Ternyata takdir telah mempertemukan dirinya dengan gadis yang telah menarik perhatiannya beberapa minggu yang lalu.

“Baiklah kalau begitu, silakan kau duduk di bangku yang kau inginkan Kim Bum-ssi !” Suruh guru Kim. Kim Bum langsung menurut dan dia memilih duduk dibangku pojok paling belakang. Pilihan yang bagus jika dia ingin memerhatikan gadis itu.

Setelah perginya guru Kim, Kim Bum langsung dikerumuni oleh murid perempuan maupun laki-laki yang ingin berkenalan secara personal dengannya. Ia sudah tahu risikonya akan seperti ini, sudah menjadi hal yang tak aneh baginya.

“Annyeong Kim Bum-ssi.” Sapanya. Kim bum menoleh.

Deg

Gadis ini…………..

“Aku Kim So Eun, senang berkenalan denganmu.” Ujar gadis tersebut yang ternyata adalah So Eun. So eun menjulurkan tangannya seraya tersenyum.

Kim Bum diam sejenak seraya menatap So Eun. “Ah…Kim Bum.” Balas Kim Bum seraya menerima uluran tangan So Eun. Namun dia tak menyunggingkan senyumnya untuk gadis ini, gadis yang menarik perhatiannya waktu itu-ketika jalanan sedang macet.

“Hey bro.” Tiba-tiba Il Woo duduk di sebelah Kim Bum tanpa malu dan merangkul bahunya. Kim Bum menatap Il Woo dengan tatapan aneh.

“Aku Jung Il Woo, kau boleh memanggilku Il Woo atau apa saja asalkan itu membuatmu nyaman.” Ujarnya.

“Oh ya Kim Bum-ssi, kau pindahan darimana? Kenapa kau pindah dan memilih bersekolah disini?” Tanya Il Woo seraya menatap Kim Bum layaknya mereka sudah bersahabat sejak lama. Kim Bum hanya menatapnya saja.

-no title-

Belum banyak yang Kim Bum kenal di sekolah ini. Ia pun memilih duduk menyendiri di taman sekolah, ia menyender di salah satu pohon yang cukup rindang yang menghadap ke arah danau buatan. Semilir angin dingin mengusap-usap wajahnya dan membuat rambutnya sedikit berantakan. Masih musim salju tapi sudah tak setebal bulan Desember. Dentuman lagu asik ia dengarkan lewat headseat. Hal yang seperti inilah yang ia nikmati. Diam di tempat yang sepi dan ia merasa nyaman, tak banyak yang mengganggu. Namun dibalik itu, pikirannya sedang kalut memikirkan gadis itu. Ya gadis itu, Kim So Eun. Melihat So Eun menolong anak kecil menjadi pemandangan yang menarik baginya saat itu. Jika dia ada disana, yang melihat anak kecil itu menangis karena lututnya terluka. Ia akan pergi saja tak akan memerdulikannya. Untuk apa? Ia tak ingin repot masuk ke dalam masalah orang lain. Tapi, kenapa So Eun ingin menolongnya dan repot-repot menggendong anak itu. Jika itu dia, sudah saja ia biarkan anak itu. Tega memang, tapi itulah dia. Jarang melihat hal seperti itu di tempat ia tinggal dulu. Itulah yang membuatnya tertarik dan penasaran kepada So Eun.

“OOOOOY KIM BUM!!!!” Kim Bum mendadak membuka matanya yang terpejam mendengar teriakan itu. Ia melihat di sebrang sana Il Woo melambai-lambaikan tangan kepadanya.

“APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN DISANA???” Teriaknya. “KAU TIDAK MAKAN KE KANTIN?”

Kim Bum malah menggerakkan tangannya seakan menyuruh Il Woo untuk segera pergi.

“YASUDAH KALAU BEGITU, JIKA KAU INGIN MENEMUIKU PERGI SAJA KE KANTIN !” Il Woo pun menghilang dari penglihatannya.

“heh…” Kim Bum menghela nafasnya lalu sedikit menyunggingkan senyum. Kemudian ia memejamkan matanya kembali. Menikmati musik yang lembut dan semilir angin.

“Oh, Kim Bum-ssi?” Kim Bum kembali membuka matanya saat ia mendengar suara seseorang yang menyapanya. Dan ia tak bisa memungkiri ia sedikit terkejut saat melihat So Eun berada di depannya dan melihatnya dengan wajah polos.

“Ah.” Kim Bum membenarkan posisi duduknya. Tak ia sangka akan bertemu So Eun disini.

“Apa yang sedang kau lakukan? Tidak makan bersama teman yang lain?” Tanya So Eun lalu memilih duduk di samping Kim Bum.

Mata Kim Bum sejenak mengikuti So Eun yang duduk di sebelahnya, lalu memalingkannya. “Seperti yang kau lihat.” Balas Kim Bum.

“Ini tempat kesukaanku. Awalnya aku kaget karena ada orang yang duduk disini, ternyata kau. Biasanya tak ada yang suka duduk disini.” Cerita So Eun.

“Oh begitukah?” Balas Kim Bum. Diam-diam Kim Bum mengecilkan volume musik dari ponselnya.

So Eun memiringkan kepalanya dan menatap Kim Bum dari samping. “Kim Bum-ssi, kau pendiam yah?” Tanya So Eun. Kim Bum menoleh dan tatapan mereka bertemu.

“Ah mungkin karena aku orang baru dan kita masih belum saling mengenal yah.” So Eun menjawab sendiri pertanyannya seraya memalingkan wajahnya dari Kim Bum. Kim Bum masih menatap So Eun yang kini sibuk dengan ponselnya.

“Ah Ni Rin memintaku untuk menemuinya di Kantin.” Ujar So Eun. Lalu So Eun berdiri. “Baiklah kalau begitu aku pergi.” Lanjutnya pada Kim Bum.

“Aku juga.” Balas Kim Bum seraya berdiri.

“Eh?” So Eun menatap Kim Bum.

-no title-

“Ahahahahahahaha.” So Eun tertawa terbahak-bahak mendengar cerita dari Ni Rin.

“Yak, apa yang lucu dariku? Kau ini…..” Ni Rin mengerucutkan bibirnya.

“Jelas saja So Eun tertawa, ceritamu sungguh konyol.” Balas Il Woo dengna mulut yang penuh dengan makanan. Di sana mereka berempat-So Eun, Ni Rin, Kim Bum, Il Woo-sedang makan bersama di kantin.

“Aku Tanya padamu, di sebelah mana yang konyol? Ini adalah penderitaanku, aku sedang tak membuat lelucon. Teman macam apa kalian ini.” Kesal Ni Rin, ia mengaduk-aduk mie nya dengan penuh tenaga.

“Kekekek maafkan aku Ni Rin-ah, sudah lama aku tidak tertawa.” Wajah So Eun sudah memerah menahan tawa. Ni Rin masih terlihat kesal.

Ini baru pertama kalinya Kim Bum melihat So Eun tertawa lepas di depannya, di awal mereka bertemu. Satu yang dapat ia simpulkan, So Eun adalah gadis yang polos dan apa adanya.

“Hei Kim Bum, apa kau menyadari banyak gadis-gadis disini yang memerhatikanmu?” Il Woo menyenggol lengan Kim Bum. Kim Bum menatap Il Woo dengan kening berkerut.

“Lihatlah, sedari tadi mereka mencuri pandang padamu, aku rasa kau akan populer di sekolah ini.” Il Woo menunjuk sekumpulan murid perempuan yang duduk tak jauh dari mereka.

Kim Bum melihatnya. “Ah bagiku sudah biasa.” Balas Kim Bum.

“Oh ya Kim Bum-ssi, kau pindahan dari mana?” Tanya Ni Rin.

“Dia pindahan dari Jepang.” Malah Il Woo yang menjawab.

“Yak….aku bertanya pada Kim Bum-ssi.” Amuk Ni Rind an menatap sebal kepada Il Woo.

“Aku hanya membantu menjawab.” Il Woo berusaha membela dirinya sendiri.

“Oh jadi kau pindahan dari Jepang, Kim Bum-ssi?” Tanya So Eun memastikan. Kim Bum menatap So Eun dan mengangguk.

“Woaaaah Jepang adalah salah satu negara yang ingin aku kunjungi.” Ujar So Eun.

“Tidak ada tempat yang lebih nyaman dibandingkan dengan tempat dimana kita dilahirkan.” Balas Kim Bum.

“Memangnya sudah berapa negara yang kau kunjungi? Pindah-pindah karena pekerjaan orang tuamu ya?” Tanya Il Woo. Kim Bum tak langsung menjawabnya.

“Whoaaaaaa….” Ni Rin membuat semuanya menatap kepadanya.

“Ada apa?” Tanya So Eun.

Ni Rin tampak masih takjub melihat sesuatu di layar ponselnya. So Eun dan Il Woo menatapnya bingung. Sementara Kim Bum tetap dengan gaya kalemnya.

“So Eun-ah lihat ini ! Grup kelas heboh karena guru Song !” Ni Rin memperlihatkan ponselnya pada So Eun. Dan seketika So Eun terkejut saat melihat foto guru Song yang ada di layar ponsel milik Ni Rin.

“Dia……” Kaget So Eun.

Semua menatap So Eun dengan tatapan bingung, juga Kim Bum yang menatap So Eun penasaran.

TBC

KENAPA INI PENDEK? KARENA EMANG SENGAJA DIBUAT PENDEK. KENAPA JUDULNYA ‘NO TITLE` ? KARENA EMANG GAPUNYA JUDUL. ANEH EMANG, KALO ADA YANG GASUKA MENDING GAUSAH BACA AJA YA. TAPI BAGI YANG MAU BACA PART SELANJUTNYA DITUNGGU AJAAA.

Today, Love is Begin PART 17 (END)

Today, Love is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

 

PART 17 (END)

Duh part ini bakal full of happiness, maafkan jika ceritanya membosankan ya 

 

“Bum-ah….” panggil so eun. Kim bum kembali menoleh. “Aku….aku saaaaangaaaaaat menyukai ibumu. Saaaaangaaaaat !” Ujar so eun.
“Huh?” Tanya kim bum.
“Hari ini aku sangat senang bisa bicara banyak dengan ibumu. Sungguh !” Ujarnya dengan mata yang berbinar-binar. “Meskipun hanya hal kecil, tapi dia dengan senang hati mendengarkanku. Dia menyenangkan dan juga benar-benar ramah.” Jelasnya. “Oleh karena itu, mari pergi bersama lagi ke Daegu lain kali !” Ajak so eun. “Ne?” Tanyanya. Bukannya menjawab, kim bum malah menatap so eun dengan aneh.
“Apa yang baru saja terjadi padamu?” Tanya kim bum. Lalu kim bum menopang dagunya dengan tangannya. Melihat reaksi kim bum yang seperti itu membuat so eun ciut. Ia sudah menggebu-gebu dan bersemangat menceritakannya kepada kim bum, tapi kim bum malah bertanya apa yang telah terjadi padanya. So eun pun hanya bisa diam saja. Terjadi keheningan beberapa menit di antara mereka. Menyadari so eun tak bicara lagi, kim bum pun memutar bola matanya dan melirik so eun. Ia melihat so eun tengah menunduk seraya memain-mainkan jari tangannya. Tiba-tiba kim bum mengangkat tangannya secara perlahan dan memegang rambut so eun. So eun menoleh.
“Seharusnya kau pergi untuk mengeringkan rambutmu !” Ujar kim bum.
“A..ah….ne….tadi aku berniat mengeringkan rambutku nanti setelah aku menemuimu.” Balas so eun. Entah kenapa jantungnya berdegup sangat cepat saat kim bum memegang beberapa helaian rambutnya itu.
“Heh…..” kim bum menyunggingkan senyumnya lalu menatap tepat ke mata so eun. Perlahan ia juga melepaskan tangannya yang memegang rambut so eun. Perasaan so eun semakin tak karuan saja di saat kim bum secara perlahan mendekatkan wajahnya pada wajahnya yang sudah benar-benar memerah. So eun langsung saja menutup matanya.

 

-today love is begin-

Kim bum semakin mendekat, ia menatap bibir so eun yang mungil itu. Bibir kim bum semakin dekat, dekat, dan hidung mereka sudah bersentuhan.
3 cm
2 cm
“So Eunnie……” Panggil Soo Jin yang sukses membuat kim bum dan so eun menjauhkan wajah mereka. Di depan pintu sana, sudah ada soo jin yang menatap mereka seraya melipat kedua lengannya di dada. Ya benar, soo jin melihat detik-detik dimana mereka hendak berciuman. So eun langsung saja mengambil jarak beberapa cm dari kim bum. Ia duduk agak berjauhan dengan Kim bum kini. Wajahnya sudah pasti merah padam. Sementara kim bum terlihat kesal pada kakaknya yang datang tiba-tiba. Membuat jati dirinya terbongkar juga.
“so eunnie, bukannya kau mau meminjam pembersih dan krim pelembab wajah huh?” Tanya soo jin seraya mengangkat dan menunjukkan kedua benda itu. Entah kenapa, nada di setiap perkataan soo jin terlihat ada tekanan.
“A…Ah….ya eonni.” So eun langsung berdiri dengan wajah yang masih memerah.
“jika kau tidak cepat-cepat, wajahmu akan segera kering so eunnie.” Ujar soo jin.
“A….iya…..terimakasih eonni.” So eun langsung mengambil pembersih dan krim pelembab wajah itu dari tangan soo jin.
“Ahahaha….maaf, ternyata aku datang pada situasi yang kurang tepat.” Soo jin tertawa sarkastik. So eun semakin merasa malu saja dengan apa yang dikatakan soo jin barusan.
“A..aku akan segera memakainya.” Ujar so eun lalu cepat-cepat keluar dari kamar kim bum. Kini hanya tinggal soo jin dan kim bum saja. Soo jin berjalan mendekat ke arah kim bum dan menekan kedua pipi kim bum dengan tangannya.
“Hey….perhatikanlah waktu dan tempat yang tepat dasar bocah bodoh !” ternyata soo jin sedikit marah. “melihat adikku melakukan hal seperti tadi terasa lebih menggelikan dari pada aku menonton film dewasa.”lanjutnya lalu ia pun pergi ke luar menyusul so eun.
Kim bum memasang wajah kesalnya lalu berdecak sebal. Ia pun menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan menghela nafas beratnya.
“Menyebalkan.”

-today love is begin-

Kim bum terbangun dari tidurnya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Merasa tenggorokannya tidak enak, Ia pun bangkit dari tidurnya dan pergi ke dapur untuk mengambil minum. Suasana rumah masih sepi dan gelap karena lampu-lampu belum di nyalakan. Kim bum tiba di dapur dan membuka pintu lemari es. Ia mengambil botol air mineral lalu meneguknya. Sejenak ia diam seraya menyenderkan tubuhnya pada lemari es itu.
Tiba-tiba lampu dapur menyala, kim bum kaget melihat siapa yang datang.
“Eo…kim bummie.” Kaget ibunya yang mendapati kim bum juga ada di dapur.
“Ah…” kim bum menegakkan tubuhnya. Terlihat sang ibu mengurut pundaknya.
“Aaah jinjjaaa, aku menyerah ! Kepalaku benar-benar terasa berat.” Gerutu ibunya.
“Aku butuh air, air….” ujarnya lalu berjalan untuk mengambil gelas yang berada di lemari tempat penyimpanan perabot dapur.
“Ini !” Tiba-tiba kim bum mengasongkan sebotol air mineral kepada sang ibu. Ibunya tampak kaget mendapati kim bum menawarkan air minum padanya. Ia pun menerimanya.
“Gomawo.” Ujar ibunya.
Ibunya kim bum pun lalu duduk di kursi dan meminum air itu.
“Kemarin malam aku minum terlalu banyak.” Ujarnya terlebih pada diri sendiri. Kim bum yang merasa tidak ada keperluan lagi di dapur, memilih untuk pergi dari sana.
“Bummie.” Panggil sang ibu. Kim bum menghentikan langkahnya dan menoleh.
Kini mereka berdua sedang berada di teras belakang rumah, sama-sama berdiri menghadap ke arah pemandangan yang belum terlihat karena masih gelap. Namun hanya segelintir lampu yang menyala yang menghiasi pemandangan itu.
“Ternyata, kim bummie telah mendapatkan kekasih yang sangat baik. Hal yang tak terduga darimu.” Ujar ibunya. Kim bum yang berdiri di sampingnya dengan jarak cukup jauh hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan ibunya.
“Sebenarnya bukan aku yang mendapatkannya, tapi akulah yang sudah tertangkap olehnya.” Balas kim bum.
“Eo jeongmal?” Tanya ibunya. “Woaaa jadi cinta kalian berdua semacam vacum cleaner dan debu, huh? So eunnie adalah vacum cleaner yang telah berhasil mendapatkanmu dengan cara menyedot debunya yaitu kau kekekek, daebaaak !” Ia mencoba untuk mencairkan suasana dan mencoba melirik kim bum. Sementara kim bum sendiri merasa tidak nyaman dengan perumpamaan ibunya yang aneh itu.
“Apanya yang ‘daebak’?” Balas kim bum tanpa menatap sedikit pun kepada ibunya.
Sang ibu menghela nafas. “Yeah, aku hanya bercanda.” Ujarnya. “Perlakukanlah dia dengan baik, oke?” Nasehat ibunya. Kim bum diam seraya merenungi nasehat ibunya itu.
“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan ayahmu?” Tanya ibunya.
“Seperti biasa, dia bekerja tanpa henti.” Jawab kim bum.
“Ahaha aku mengerti, masih pekerja keras ternyata.” Balas ibunya.
Selama beberapa menit terjadi keheningan di antara mereka. Tak terpikirkan lagi apa yang akan ditanyakan oleh ibunya kim bum kepada anaknya itu. Ia merasa tidak nyaman dengan suasana canggung seperti ini. Dalam hati ia ingin sekali mengatakan jika ‘Aku sangat menyayangimu, bolehkah aku memelukmu?’ Namun keinginannya itu ia tepis melihat kondisi dimana mereka berdua sama-sama masih kelihatan canggung satu sama lain.
“Aahhhh……” Dia merentangkan kedua tangannya dan mengangkatnya ke atas. “Setelah minum air putih dan menikmati sejuknya udara sepagi ini membuat kepalaku terasa lebih ringan.” Ujarnya. “Aku masih harus bekerja nanti pagi, jadi aku akan kembali tidur sebentar.” Lanjutnya. Kim bum masih diam.
Ibunya kim bum pun berjalan masuk ke dalam. Namun langkahnya terhenti dan kembali melihat kim bum yang masih diam seraya melihat pemandangan di depan. Ia sedikit menyunggingkan senyumnya meski hanya melihat punggung kim bum saja.
“Terimakasih karena sudah datang, kim bummie.” Ujar ibunya dengan senyum yang tambah lebar. Entah kenapa kim bum merasakan hatinya bergetar.
“Ketika kau sudah kembali ke Seoul, jangan lupa untuk tetap sehat, arasseo? Jangan sampai kau terkena demam. Jagalah kesehatanmu dengan baik, ne?” Nasehat ibunya itu. Getaran di hati kim bum semakin hebat saat sang ibu begitu memperhatikannya.
“Baiklah kalau begitu aku akan kembali tidur.” Ujarnya lalu hendak masuk ke dalam namun langkahnya kembali terhenti saat kim bum buka suara.
“Mulai sekarang…….aku akan mencoba untuk datang kesini lebih sering.” Ujarnya masih membelakangi sang ibu. Ibunya kim bum jelas merasa kaget dengan apa yang kim bum katakan. Ia tak menyangka kim bum akan mengatakan hal ini. Matanya mulai berair dan ia menitikan air matanya karena saking bahagia. Ia sangat senang kim bum akan lebih sering datang ke daegu menemuinya.

-today love is begin-

Tak terasa sudah dua hari so eun dan kim bum berada di Daegu. Kini saatnya mereka pulang kembali ke Seoul karena lusa mereka akan masuk sekolah seperti biasa. Mereka memilih untuk berangkat sore. Soo jin dan ibunya kim bum mengantar so eun dan kim bum sampai stasiun kereta api. Tak menunggu lama, pengumuman keberangkatan ke seoul sudah terdengar.
“Jangan lupa perlakukan so eunnie dengan baik !” ujar ibunya kim bum pada kim bum.
“Kau lebih memperhatikan dia dibanding anakmu sendiri.” Balas kim bum. So eun dan soo jin tersenyum mendengar perkataan kim bum.
“Baiklah, kau juga jangan lupa untuk menjaga kesehatanmu !” ujar ibunya. Kim bum mengangguk dan sedikit menyunggingkan senyumnya.
“So eunnie, kapan-kapan kau harus datang kemari lagi, oke?” pinta soo jin.
“Arasseo eonni.” So eun tersenyum.
“Yasudah cepat kalian segera naik kereta !” suruh ibunya kim bum.
“Kalau begitu aku pamit eommeonim, eonni….” So eun membungkukkan badannya.
“Aku pergi.” Ujar Kim bum. Ibunya dan soo jin mengangguk, lalu kim bum dan so eun pun segera masuk ke dalam kereta.
Sekitar 2 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di stasiun kereta seoul. Kim bum dan so eun berjalan keluar stasiun dan hendak menuju halte bus. So eun tertinggal cukup jauh di belakang kim bum, tampaknya ia lelah dengan perjalanan yang memakan waktu 2 jam itu terlebih semalam ia memang tidak tidur dengan nyenyak. Kim bum berbalik dan manatap so eun.
“Waeyo?” Tanya kim bum yang melihat so eun berjalan lemas dengan wajah di tekuk.
“Aku hanya sedikit lelah.” Jawab so eun. Kim bum pun berjalan mendekati so eun dan meraih tangannya. kim bum menggenggam tangan so eun.
“Kajja !” ujarnya. “Hmm.” Gumam so eun.
“Apakah sebaiknya kita istirahat dulu, hm?” tawar kim bum seraya sedikit menunduk melihat wajah so eun. So eun menggeleng.
“Perjalanan ke halte bus masih cukup jauh, kalau begitu kita naik taksi saja.” Ujar kim bum. So eun hanya mengangguk lemas.
Kim bum dan so eun sudah berada di dalam taksi. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 untuk sampai ke rumahnya so eun. Kim bum melirik so eun yang sedang terkantuk-kantuk.
“Kau mengantuk?” Tanya kim bum.
“hmm…” So eun mengangguk lemas.
“Yasudah, tidur saja.” Ujar kim bum seraya memposisikan kepala so eun untuk menyandar di bahunya. So eun langsung memejamkan matanya.
“Aku akan membangunkanmu jika sudah sampai.” Ujar kim bum. So eun kembali mengangguk pelan dan kim bum mengusap-usap rambut so eun.
Akhirnya, setelah 30 menit berlalu, Kim bum dan so eun pun sudah berada di depan rumahnya so eun. Mereka berdiri saling berhadapan di depan pagar rumahnya so eun.
“Jeongmal gomawo, bum-ah.” Ujar so eun. “hari ini aku sangat merepotkanmu yah?” tanya so eun.
“Benar.” Balas kim bum. So eun mengerucutkan bibirnya.
“Bukankah kau lelah? Cepatlah masuk dan tidur !” suruh kim bum. So eun mengangguk.
“Kalau begitu aku pergi.” Pamit kim bum lalu berjalan meninggalkan so eun yang masih berdiri berniat untuk menyaksikan dirinya hingga tak lagi terlihat dari pandangan so eun. Namun baru juga beberapa meter berjalan, kim bum menghentikan langkahnya dan berbalik kembali menghampiri so eun. So eun memiringkan kepalanya dan menatap kim bum dengan bingung.
“Waeyo? Ada yang tertinggal?” tanya so eun polos. Tanpa berkata apa-apa kim bum memegang kedua pipi so eun lalu mengecup hangat kening so eun. So eun cukup kaget dengan tindakan kim bum yang tak ia sangka.
“Terimakasih.” Ujar kim bum. Terimakasih yang ia ucapkan untuk so eun karena sudah banyak membuat hidupnya berubah. Telah membuat dirinya mengenal rasa kasih sayang dan cinta, juga telah membuat dirinya kembali bertemu dengan sang ibu yang sebenarnya sangat ia rindukan. Hubungan antara dirinya dan sang ibu sudah kembali seperti normal setelah mengunjungi Daegu selama dua hari itu.
“Selamat malam.” Ujar kim bum seraya mengusap kepala so eun lalu ia pun kini benar-benar pergi. So eun menyunggingkan senyumnya menyadari perilaku kim bum yang sudah berubah drastis menjadi hangat itu.

-today love is begin-

Chungju Highschool
Hari pertama semester awal di kelas tiga sudah dimulai. Setelah semua siswa-siswi SMA Chungju mengikuti upacara sambutan semester awal, kini mereka sibuk mencari nama mereka di mading sekolah, termasuk so eun dan nirin.
“Eo….so eun-ah, aku satu kelas denganmu.” Ujar nirin seraya menunjuk nama dirinya dan juga nama so eun.
“Jeongmal? Huwaaaaaa….” So eun berteriak senang.
“Berlebihan sekali.” Tiba-tiba suara seseorang menyahut dari belakang. So eun dan nirin langsung menoleh.
“Kim bum-ssi.” sapa nirin.
“bum-ah, kau ada di kelas mana?” tanya so eun. kim bum menunjuk namanya dan ternyata mereka satu kelas.
“Waaa bagaimana bisa aku tak melihat namamu tadi? Kita satu kelas? OMO perjuanganku tidak sia-sia.” So eun senang sekali.
“Heeehh….aku peringatkan dari sekarang agar kau tetap fokus dengan belajar meskipun satu kelas dengaku. Ara?” Ujar kim bum seraya mengacak rambut so eun. So eun mengangguk mengerti.
“Tak hanya kau, aku, dan kim bum-ssi. Tapi kim woo bin-ssi, dan kedua temanmu yang selalu bersama itu juga satu kelas dengan kita.” Ujar nirin.
“Jeongmal?” tanya so eun. Nirin mengangguk. Tak lama dari itu datanglah woo bin menghampiri mereka.
“Annyeong….” Sapa woo bin canggung. Terlebih kepada kim bum yang juga satu kelas dengannya di kelas tiga ini. Mengingat kejadian beberapa waktu lalu yang terjadi antara dirinya, so eun, dan kim bum membuat woo bin merasa tidak enak.
“Annyeong woo bin-ssi.” sapa so eun. Woo bin tersenyum canggung.
“Oy….kita satu kelas ternyata.” Ujar kim bum.
“ah ya…aku harap aku bisa berteman lebih baik dengan kalian.” Ujar woo bin. Dan untuk pertama kalinya kim bum menyunggingkan senyum ramah pada woo bin, woo bin sendiri cukup kaget dan entah kenapa pipinya bersemu merah.
“So eun…………!!!” teriak bo young seraya berjalan menghampiri so eun bersama hye rim.
“bo young-ah, hye rim-ah…..” panggil so eun.
“Woooaaaa aku hanya bisa bertepuk tangan saja.” Ujar bo young. So eun mengerutkan keningnya tak mengerti.
Secara kebetulan aku dan hye rim bisa kembali satu kelas denganmu, juga dengan kim bum-ssi di kelas unggulan.” Jelas bo young.
“Yeah, kebetulan.” Timpal hye rim.
“Ah…bukankah untuk kelas tiga kali ini tidak ada perbedaan antara kelas unggulan dan kelas regular?” Woo bin menggaruk tengkuknya.
“Eh???” Semua serentak menatap woo bin dengan tidak percaya.
“Yang aku dengar seperti itu, jika memang kelas unggulan, aku tak akan mungkin satu kelas dengan kim bum-ssi hehe.” Woo bin kembali menggaruk tengkuknya.
“Ah jadi begitu.” Timpal nirin.
Setelah perbincangan itu, mereka pun masuk ke dalam kelas untuk membicarakan soal tempat duduk dan kepengurusan kelas.

-today love is begin-

1 tahun kemudian
Semua siswa-siswi SMA Chungju menghadiri pesta kelulusan yang diadakan oleh pihak sekolah di salah satu villa besar di dekat pantai Naksan, acara begitu ramai, apalagi acara puncak yaitu acara hiburan. Karena terlalu ramai dengan suara yang memekakan telinga, akhirnya kim bum pun keluar dan memilih menyendiri menghirup udara segar di bibir pantai. So eun yang baru saja selesai dari toilet bingung karena tak ada kim bum di tempat tadi mereka berkumpul bersama nirin, woo bin, hye rim, bo young, dan teman satu kelasnya yang lain.
“Nirin-ah, dimana kim bum?” tanya so eun.
“Ah…tadi aku melihatnya keluar.” Jawab nirin. So eun mengangguk lalu ia mencari kim bum hingga ia menemukannya di bibir pantai sedang menikmati angin malam.
“Bum-ah.” Panggil so eun. Orang yang dipanggil menoleh.
“Kenapa kau ada disini? Kenapa tidak di dalam bersama dengan yang lain?” Tanya so eun.
“Bukannya kau sudah tahu, aku tidak suka keramaian, terlalu banyak orang dan itu membuat kepalaku pusing.” Balas kim bum.
“Hmm.” So eun angguk-angguk lalu memilih berdiri di samping kim bum. Mereka sama-sama menghadap laut lepas sambil menikmati angin yang menerpa rambut mereka.
“Kau sendiri, kenapa ada diluar, hm?” Tanya kim bum.
“Aku? Tentu saja untuk menemuimu. Kau tidak ada bersama dengan teman-teman dan nirin memberitahuku jika kau pergi ke luar.” Jawab so eun. Kim bum mengangguk. Hening~ selama beberapa menit tak ada lagi obrolan di antara mereka. Hanya desiran ombak dan hembusan angin yang terdengar. Mereka sama-sama sedang menikmati pemandangan itu.
“Huaaaa anginnya terasa dingin sekali.” Ujar so eun seraya mengusap-usap lengannya, kim bum menoleh dan ia segera melepas jasnya dan memasangkannya di tubuh so eun. Belum ada juga obrolan yang dimulai kembali. Mereka sama-sama mengarahkan pandangan mereka ke arah laut lepas.
“Hey…..” tiba-tiba kim bum bersuara. So eun langsung menengadahkan kepalanya menatap kim bum yang masih asik memandang laut.
“Aku tahu kau tidak mungkin kuliah di Universitas yang favorit.” Ujar kim bum. So eun hendak protes tapi kim bum keburu melanjutkan kata-katanya.
“Jadi, selama kita kuliah di tempat yang berbeda. Jangan berani-beraninya kau dekat dengan pria lain !” Perintah kim bum. “Arasseo?” Tanya kim bum. Mendengar apa yang keluar dari mulut kim bum, so eun perlahan menyunggingkan senyumnya.
“Jika aku tahu kau sampai membohongiku, maka aku tidak akan segan-segan untuk melemparmu ke dasar laut !!!” Ujar kim bum lagi. Senyum so eun semakin mengembang. Ia mengerti maksud kim bum, bahwa kim bum tidak mau kehilangan dirinya. So eun sangat mengerti sekali meskipun perkataan kim bum tergolong begitu tidak biasa. So eun lalu menjinjitkan kakinya dan memeluk leher kim bum.
CUP~ So eun menempelkan bibirnya di bibir kim bum. Kim bum sedikit terkejut, tapi kemudian ia memejamkan matanya dan membalas ciuman so eun cukup dalam dengan kedua tangannya yang masih berada di dalam saku celana.
“Aku tidak akan berani mendekati pria lain, karena yang aku cintai hanyalah kim sang bum !” Ujar so eun setelah melepas ciumannya.
“Bukan begitu, hanya saja tidak akan ada pria lain yang meyukai dirimu selain aku.” Balas kim bum. So eun mengerucutkan bibirnya.
“Setelah beberapa waktu lalu sikapmu menjadi hangat, kenapa sekarang perkataanmu jadi seperti ini lagi, tajam.” Gerutu so eun.
“Oh begitukah?” tanya kim bum. So eun mengangguk.
“Kalau begitu kemari !” kim bum menyuruh so eun mendekat.
“eh?” so eun malah terlihat bingung. Kim bum mencondongkan tubuhnya untuk sejajar dengan tinggi so eun lalu mengecup bibir so eun.
“Tidak perlu perkataan yang diumbar-umbar ‘kau menyukaiku atau tidak, kau mencintaiku atau tidak’ untuk menggambarkan seberapa besar kau menyayangiku. Cukup hanya dengan perilaku saja bagaimana kau mengeskpresikannya.” Jelas kim bum. So eun mengedipkan matanya berkali-kali mendengar perkataan kim bum yang tidak biasa itu.
“wooaaaa….kau belajar dari mana untuk mengatakan ini? apakah kau banyak membaca buku tentang cinta?” ejek so eun seraya menahan tawanya.
“Yak….aku sudah susah payah memikirkan kata-kata itu !” kesal kim bum lalu mencubit kedua pipi so eun dengan gemas.
“Waaa mian…mian….jangan cubit pipiku !” Mohon so eun seraya berusaha melepaskan tangan kim bum dari pipinya.
“Heh….” Kim bum melepaskan tangannya dan kini menarik so eun ke dalam pelukannya.
“Aku kedinginan.” Ujar kim bum. Yeah mengingat angin pantai yang cukup kencang dan jas miliknya dipakai oleh so eun membuat kim bum merasa kedinginan juga. Namun dengan memeluk gadis mungil ini membuat tubuhnya sedikit menjadi hangat.

-today love is begin-

2 tahun kemudian
Kim bum baru saja selesai kuliah. Ya, ia kuliah di Korea University mengambil College of Health Science. Modal wajah tampan dan otak yang cerdas membuat ia dikagumi oleh beberapa mahasiswi yang berada satu jurusan dengannya bahkan satu fakultas dengannya. Tak hanya satu fakultas saja, bahkan ada beberapa mahasiswi dari fakultas lain yang juga mengagumi kim bum. Hal itu membuat kim bum sangat risih karena setiap dia selesai pada mata kuliah yang ia pelajari, banyak mahasiswi yang datang padanya dengan dalih bertanya soal tugas, atau bahkan yang lainnya.
Kim bum berjalan keluar kelas dengan tangan yang sibuk mengetik sesuatu pada ponselnya. Lalu ia menempelkan ponselnya di telinga.
“Yeoboseyo, il woo-ya.” Ujarnya di telpon. “Apa so eun sudah selesai dengan kelasnya? ponselnya tidak aktif.”
“Ah….so eun-ssi tadi bilang dia ingin pergi ke universtitasmu.” Jawab il woo.
“Ne?” ulang kim bum.
“sudah sekitar setengah jam yang lalu dia pergi.” Ujar il woo.
“oh baiklah kalau begitu.” Kim bum menutup sambungan telponnya.
Ya benar, il woo dan so eun kuliah di tempat yang sama bahkan berada pada satu jurusan mengambil kelas ekonomi di Chungju National University.
Kim bum pun mencoba menghubungi so eun kembali, namun belum sempat ia menempelkan ponselnya pada telinga, datanglah empat orang mahasiswi menghampiri kim bum.
“annyeong kim bum-ssi.” sapa mereka.
“ah ye.” Balas kim bum.
“besok ada kuis untuk mata kuliah biologi kesehatan kan?” tanya salah satu mahasiswi itu. kim bum mengangguk.
“jika kau tidak keberatan, bisakah kau mengajari kami? Kami berempat sebenarnya kurang faham dengan mata kuliah itu.” pintanya.
Kim bum tampak berfikir. “Ah…bagaimana ya, sekarang aku ada perlu.” Tolak kim bum halus. Ke empat mahasiswi itu tampak kecewa. Pada saat itu juga, kim bum menemukan sosok so eun yang tengah mengedarkan pandangannya kesana kemari seperti orang kebingungan.
“Mungkin lain kali aku bisa membantu kalian. Maaf, aku harus segera pergi.” Kim bum pun pergi meninggalkan mereka, ke empat mahasiswa itu kecewa bercampur kesal karena rencana mereka tidak berhasil.
“apa yang kau lakukan disini? Kenapa datang kemari?” tanya kim bum.
“omo…kau membuatku kaget.” So eun memegangi dadanya menyadari ada kim bum yang sudah berdiri di dekatnya.
“bagaimana jika ada pria disini yang macam-macam?” tanya kim bum.
“aku hanya sedang bosan karena tak ada lagi kegiatan di kampusku, jadinya aku datang kesini. Dan ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Korea University. Woooaa keren !” so eun mengacungkan jempolnya di depan wajah kim bum. Kim bum berdecak lalu mengambil tangan so eun yang di depan wajahnya itu.
“Kajja kita pulang.” Kim bum menarik tangan so eun.
“bukankah kau ingin membeli sesuatu untuk soo jin eonni?” tanya so eun. Kim bum mengangguk.

 

“Wooaaaa….siapa perempuan itu?” tanya salah satu dari empat mahasiswi yang tadi menghampiri kim bum setelah ia melihat kim bum yang berbicara akrab kepada so eun tak jauh dari mereka.
“jadi kim bum-ssi sudah punya kekasih?” ujar yang lainnya kecewa.
“aku kira dia masih sendiri.”
“beruntung sekali yang menjadi kekasihnya itu…….”
“OMO ! Apa yang baru saja dilakukan kim bum-ssi?” Kaget mereka berempat yang tak sengaja melihat kim bum mencium so eun di tempat umum meskipun sedikit sepi.

 

So eun mengerucutkan bibirnya seraya memegangi pipinya yang habis dicium kim bum. “Apa yang kau lakukan akhir-akhir ini berbanding terbalik dengan apa yang kau katakan semasa SMA dulu. Kau bilang kau benci dengan hal-hal mengumbar kemesraan di depan umum, tapi nyatanya sekarang kau sendiri yang suka mengumbar kemesraan.” Ujar so eun.
“Waeyo? Aku berubah kau tidak suka?” balas kim bum.
So eun tersenyum malu. “akhir-akhir ini kau bahkan sering sekali menciumku, membuatku senang saja.” Wajah so eun merona merah.
“Selama kau masih milikku, tidak masalah kan aku melakukan apa yang aku mau terhadapmu?” balas kim bum. “melakukan hal yang sewajarnya.” Lanjut kim bum.
So eun terkekeh.
“Apa yang akan kau beli untuk soo jin eonni?” tanya so eun.
“entahlah, aku masih bingung. Aku belum pernah berpengalaman membeli sesuatu untuk wanita hamil.” Balas kim bum.
“Aku rasa soo jin eonni akan lebih suka jika dibelikan hadiah untuk calon anaknya, baju atau sepatu bayi misalnya?” Pikir so eun.
“Tidak masalah.” Balas kim bum.

-today love is begin-

4 tahun kemudian
So eun tengah memandangi tangan kirinya. Pada jari manisnya sudah tersemat sebuah cincin. So eun tersenyum memandanginya, lalu ia mengambil tangan kiri kim bum. Kim bum yang berbaring di sampingnya ikutan melihat tangan mereka masing-masing. So eun membandingkan tangannya dengan tangan kim bum yang masing-masing sudah tersematkan sebuah cincin.
“Wae? Kau terus saja membanding-bandingkannya.” ujar kim bum. Pasalnya ini bukan yang pertama so eun melakukan hal semacam ini.
“Aku hanya tidak menyangka kita sudah resmi menikah.” Balas so eun.
“Seperti mimpi yah?” tanya kim bum. So eun mengangguk.
Kim bum tersenyum lalu menarik tangan kirinya yang dipegang oleh so eun. Lalu kim bum menopang kepalanya dengan tangan kirinya dan menghadap ke arah so eun.
“Sudah hampir 7 tahun, huh?” Ujar kim bum seraya memperhatikan wajah so eun. Sementara yang diperhatikan tampaknya masih senang melihat cincin pernikahan yang terpasang di jari manisnya.
“Kau yakin tak pernah menyukai wanita lain selain aku selama tujuh tahun ini, bum-ah?” Tanya so eun.
“Jikapun pernah, mana mungkin aku sampai mau menikahimu?” Tanya balik kim bum.
“Hehe benar juga.” So eun tersenyum malu. “Berarti kau sangat mencintaiku yah? Waktu tujuh tahun itu bukanlah waktu yang singkat, banyak masalah yang hilir mudik tapi kau begitu mempertahan aku.” Ujar so eun.
“heeeeh.” Kim bum menghela nafasnya. “Soal aku mencintaimu tak usah lagi dipertanyakan.” Balas kim bum. “Sudah aku bilang beberapa kali sebelumnya kan? Jauh dari sebelum kita menikah, bahwa tidak akan ada laki-laki lain yang menyukaimu selain aku. Jadi bersyukurlah karena aku menginginkanmu.” Balas kim bum.
So eun tersenyum lalu ia menghambur ke atas tubuh kim bum. Pada awalnya kim bum kaget tapi akhirnya ia melingkarkan tangannya di pinggang so eun. So eun memamerkan senyumnya kepada kim bum tapi kim bum hanya menatapnya saja.
SMOOOOCCCHH~~~~ So eun mencium bibir kim bum.
“Aku mencintaimu.” Ujar so eun dengan senyumnya.
“Hehhh.” Senyum di bibir kim bum juga tersungging. Lalu mereka kembali berciuman. Kali ini ciuman yang cukup dalam karena masing-masing dari mereka saling membalas ciumannya, kim bum juga semakin mengeratkan pelukannya.
Ting tong ting tong~
Mendengar suara bel berbunyi, so eun pun melepaskan tautan bibir mereka. Wajah kim bum terlihat kecewa karena bel itu menganggu kemesraan mereka.
“Siapa yang datang malam-malam begini?” Gumam so eun lalu segera bangkit dan turun dari ranjang. “Aku akan melihatnya.” Ujarnya. Sementara itu kim bum hanya bisa mendesah setelah so eun keluar dari kamar.
Sudah 15 menit berlalu tapi so eun tak kunjung juga kembali. “So eun !!!” Teriak kim bum. “Siapa yang datang? Apa sudah selesai? Cepatlah kemari aku sudah ingin tidur !!!” Teriaknya lagi. Tapi tak ada jawaban dari so eun. kim bum pun keluar dari kamarnya. Ia tak melihat so eun sesampainya di ruang tengah, ia juga tak melihatnya di ruang tamu. Kim bum pun bergegas menuju dapur. Disana ia melihat so eun sedang sibuk memasuk-masukkan makanan ke dalam lemari es.
“Memangnya siapa yang datang?” Tanya kim bum. “Ah….” So eun menoleh ke arah kim bum yang berdiri di depan pintu.
“Ada kiriman makanan dari eomma, petugas pengirim makanan yang datang.” Jawab So eun.
“Oh.” Kim bum menganggukkan kepalanya lalu ia berjalan untuk mengambil minum.
“Sudah selesai?” tanya kim bum yang melihat so eun baru saja menutup pintu lemari es.
“Kapan kau akan kembali masuk kerja?” tanya so eun seraya mencuci tangan di wastafel di dekat kim bum sedang berdiri saat ini.
“Lusa.” Jawab kim bum. Melihat so eun yang sudah selesai mencuci tangan, kim bum pun dengan cepat menggendong tubuh so eun.
“Yaaakkk, kau membuatku kaget !” Marah so eun.
“Bukannya kau ingin segera punya anak?” tanya kim bum. “Kita harus berusaha sesering mungkin. Apalagi mengingat lusa aku sudah mulai bekerja dan akan selalu pulang larut malam.” Lanjutnya.
So eun tersenyum malu. “Alasan !” Ujarnya seraya memukul dada kim bum. Kim bum malah tersenyum dan membawa so eun ke dalam kamar.

-today love is begin-

So eun tengah memakan buah mangga sambil menonton acara kesukaannya di ruang tengah. Tiba-tiba bel berbunyi dan so eun segera melihat siapa yang datang lewat intercom. Dan ternyata yang datang adalah ibunya kim bum dan soo jin eonni. So eun pun segera membukakan pintu untuk mereka.
“Wooaaa, kalian tidak memberitahuku jika akan datang.” Ujar so eun.
“Kejutan.” Ujar sang mertua.
“Waaaa, Ji san ternyata sudah besar juga ya?” So eun sedikit menunduk dan mencubit gemas pipi Ji san. Ya, ji san adalah anak pertamanya soo jin dengan suaminya.
“Suamimu tidak ikut datang, eonni?” tanya so eun.
“Ani, dia sedang ada kerja di Busan hari ini, padahal sekarang hari minggu.” Jawabnya.
Mereka pun kini duduk di kursi di ruang tengah.
“Aku akan mengambil minum untuk kalian? Eomma, eonni ingin minum apa?” tanya so eun.
“Ah tidak usah, aku akan mengambilnya sendiri jika ingin.” Jawab soo jin.
“Lagi pula perutmu itu sedang besar so eunnie.” Tambah sang mertua. So eun pun hanya bisa menurut dan ikut duduk bersama mereka. Sementara Ji san sedang memain-mainkan bola yang ia bawa. Yah, ji san baru saja berumur 5 tahun.
“Oh ya dimana kim bummie?” Tanya sang mertua.
“Ah…dia masih tidur.” Jawab so eun.
“Mwo? sudah siang begini dia masih tidur? Suami macam apa dia?” tanya soo jin. So eun hanya terkekeh saja.
“Dia kelelahan karena semalaman tidak tidur.” Ujar so eun. Sang mertua dan soo jin menatap so eun meminta penjelasan.
“Semalaman aku menganggu tidurnya, aku meminta ia membelikan ini dan itu. Tiba-tiba saja aku ingin memakan kue beras yang sangat pedas jam 1 pagi.” Cerita so eun.
“Anak itu menuruti keinginanmu?” tanya soo jin. So eun mengangguk.
“Pada awalnya dia menolak, dia bilang untuk mendapatkan kue beres sepagi itu akan sulit, tapi aku terus merengek dan memaksanya.” Jelas so eun. “tapi pada akhirnya dia menurutinya hehe.”
“Anakku sudah menjadi pria dewasa hihi, sangat menyayangi istrinya kekekekek.” Sang ibu merasa bahagia mengetahui pengakuan dari so eun.
“Bahkan bum-ah sampai berkeliling hampir 2 jam untuk mendapatkan kue beras itu untukku.” Lanjut so eun.
“Woaaah hebat !” Timpal soo jin. “Dia sudah menjadi suami sungguhan haha.” So eun hanya tersenyum malu saja.
“Eomma……ayo main bola, eomma…” Pinta Ji san sambil menarik-narik tangan soo jin.
“Ji san sayang…..eomma sedang mengobrol dengan bibimu, main sendiri saja, ne?” Balas soo jin.
“Tidak asiiiikkk, main sendiri tidak asik eommaaaaa….” Ji san mulai merengek. Soo jin menghela nafasnya.
“Kau ingin bermain bola ji sannie?” tanya so eun lembut. “Kajja, bermain bersama bibi.” So eun menuntun ji san.
“Jangan so eunnie, perutmu sedang besar ! sudah menginjak usia 6 bulan !” cegah sang mertua.
“Aniyo eommonim, aku hanya akan duduk diam dan melemparkan bolanya saja kepada ji san, dan ji san yang menendangnya. Benar kan ji sannie?” ujar so eun.
“Ne….” jawab ji san dengan semangat.

-today love is begin-

Kim bum terbangun dari tidurnya karena suara-suara berisik dari luar kamarnya. Wajahnya terlihat kusut dan rambutnya acak-acakan. Setelah ia tak bisa tidur sehabis mencari kue beras untuk so eun, dan kini ia tertidur sampai siang.
“Kenapa berisik sekali?” Gumamnya lalu bangkit dan keluar dari kamarnya. Ia terlihat masih mengantuk. Di ruang tengah kim bum melihat ada ibunya dan juga soo jin. Ia juga melihat ji san yang sedang bermain dengan so eun.
“Oh, ada kalian disini.” Ujar kim bum dengan suara seraknya. Ia pun menghampiri mereka seraya menggaruk rambutnya yang tak gatal.
“Kau sudah bangun bum-ah?” tanya so eun.
“Hmm…” balas kim bum.
“Kapan kalian kemari?” tanya kim bum pada ibu dan kakaknya itu.
“Baru saja kami tiba.” Jawab sang ibu. Kim bum mengangguk-anggukkan kepalanya lalu ia menguap.
“Kau masih mengantuk?” tanya sang ibu.
“Sedikit.” Jawab kim bum lalu ia menekan-nekan tengkuknya.
“Sebentar lagi akan menjadi calon ayah yah?” goda soo jin seraya tersenyum penuh arti kepada kim bum. kim bum mengangguk. Lalu so eun menghampiri mereka bersama ji san.
“Pamaaaaan….” Teriak ji san yang langsung menghambur ke pelukan kim bum. kim bum langsung memangku ji san.
“Wooaaaa keponakan paman sudah besar ternyata.” Ujar kim bum. So eun duduk di sebelah kim bum.
“Paman…..kapan aku punya teman bermain bola? Aku bosan jika harus bermain sendirian, eomma sangat buruk bermain bola, appa selalu bekerja.” Ujar ji san dengan nada lucunya.
“Sebentar lagi yah, ji san mau menunggunya kan?” tanya kim bum lembut. Ji san mengangguk semangat.
“Nanti ji sannie juga akan segera punya teman bermain.” Ujar so eun seraya mengelus rambut ji san.
“Jinjjayooo?” Tanya ji san senang. So eun mengangguk. Karena merasa sangat senang, ji san pun turun dari pangkuan kim bum dan berlarian mengelilingi meja.
“Yaaa ji san-ah…kau akan jatuh !” ujar soo jin.
“Aku akan punya teman eommaaaaaa…..teman bermain bolaaaaa…” Girang ji san. Semuanya tertawa.
Kim bum tersenyum menatap so eun dan mengelus perutnya.
“Kau tak merasa sakit lagi di perutmu?” Tanya kim bum lembut.
“Untuk sekarang tidak.” Jawab so eun. Kim bum kembali mengelus perut so eun dan kini tangannya merangkul tubuh so eun.
“Aigooo lihatlah, pasangan muda yang akan segera menjadi ayah dan ibu.” Goda soo jin.
“Huaaa eomma sangat tidak sabar untuk segera menimang cucu lagi, cucu dari anak laki-lakiku.” Ujar ibunya kim bum.
“Aku akan menjadi seorang ayah, tanggung jawabku akan bertambah besar.” Ujar kim bum.
“Tentu saja, tanggung jawabmu akan semakin besar, kau yang sudah membuat so eunnie hamil dan so eunni yang akan melahirkan buah cinta kalian.” Ujar soo jin.
“Sejauh ini bum-ah selalu penuh dengan tanggung jawab.” Balas so eun. “Dia juga jadi tambah perhatian, aku sangat senang.”
“Syukurlah kalau begitu, aku senang sekali mendengarnya.” Ujar ibunya kim bum.
“Noona.” Panggil kim bum pada soo jin. “kali ini jangan meremehkanku dan jangan menganggapku sebagai bocah tak berguna lagi.” Ujar kim bum pada soo jin.
“Arasseo….arasseo….” balas soo jin.
“Kau sudah menjadi pria dewasa, aku tahu itu, meskipun di mataku kau tetaplah adik dan bocah menyebalkan.” balas soo jin. Kim bum berdecak, sementara so eun dan ibunya kim bum tersenyum.
“Paman, kalau begitu dimana temanku itu? kapan aku mulai bisa bermain dengan temanku?” tanya ji san polos setelah ia puas bermain.
“Kemarilah !” kim bum menarik halus tangan ji san. “Dia ada disini.” Kim bum mengelus perut so eun.
“Jincha paman?” tanya ji san. Kim bum mengangguk. Ji san ikut memegang perut so eun.
“Di dalam sini benar-benar ada temanku?” tanya ji san polos. Semuanya pun serentak tertawa mendengar pertanyaan lucu dari ji san.
“Karena temanmu ini datangnya masih lama, ji san bermain dengan paman saja, ne?” Ujar kim bum.
“Jinchaaa?” Ji san sangat santusias karena kim bum mau bermain bola dengannya.
“Kajja tendang bolanya !” Suruh kim bum. Kim bum dan ji san pun larut dalam bermain, sementara ke tiga wanta itu-so eun, soo jin, dan ibunya kim bum- sibuk mengobrol soal persiapan persalinan so eun yang tersisa 3 bulan lagi.

 

Sebenarnya, cinta ini tidak akan pernah berakhir. Kenapa? Karena setiap hari cinta selalu dimulai. Kalimat yang ada hanyalah ‘hari ini, cinta dimulai’ ! Begitu seterusnya cinta akan selalu dimulai dengan kasih sayang dan kebahagiaan. Sehingga tidak ada cinta yang berakhir di antara mereka

 

The End

Haduuuuh gak kerasa ff ini udah kelar juga. Terimakasih ya sama readers yang sudah baca dan komentar dari awal sampai akhir ff today love is begin ini. Saya sangat berterima kasih kepada kalian yang mau baca ff ini meskipun ff ini jauh dari kata bagus, ceritanya juga konyol gak jelas haha. Duh aku juga berterimakasih kepada Hata ayuko sensei yang sudah membuat komik yang begitu keren menuru saya sampai saya berani bikin versi ff yang di ambil dari komiknya dia. Sampai jumpa di ff berikutnya ya, itupun kalau ada inspirasi untuk bikin ff lagi

The Warmth Of Sincere Love (OS)

OS lomba untuk memeriahkan ulang tahun Kim Bum

BUMSSO WORLD

kbkse131

The Warmth Of Sincere Love

Author : Resi R. (Shin Ni Rin)
Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kang Ha Neul, Nam Ji Hyun.
Genre : Romance
Wordpress personal : Bumssoelfsuperjunior (https://bumssoelfsuperjunior.wordpress.com)

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !
Sebelumnya saya mau ngucapin selamat ulang tahun buat Uri Kim Sang Beom. Semoga semakin kece dan semakin sukses ke depan dengan pekerjaannya. Mari kita selalu mendukung Uri Kim Beom dan juga Uri Couple !!! Bumsso Couple !

PROLOG
Dulu…

Lihat pos aslinya 7.864 kata lagi

Today, Love Is Begin PART 16

Today, Love is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

PART 16

 

Kim bum pulang ke rumah dengan suasana hati yang tidak baik. Ia marah dan kesal. Ia sampai membanting pintu rumahnya cukup keras. Membuat soo jin yang sedang tiduran di sofa seraya menonton televisi sangat kaget.
“Yak…..” kesal soo jin. Tapi kim bum tak menghiraukannya, dan langsung berjalan menuju kamarnya. Soo jin mengerutkan keningnya.
“Hey….soal so eunni….” ujar soo jin tiba-tiba. Kim bum mendadak menghentikan langkahnya dengan tangan yang sudah memegang knop pintu.
“Aku menyukainya, dia gadis yang baik dan penuh semangat.” Ujar soo jin. “Jadi, suatu hari nanti aku ingin mengajaknya ke Daegu !” Lanjutnya.
Kim bum langsung memutar kepalanya untuk melihat soo jin dengan mata yang sudah membulat.

 

-today love is begin-

 

“Oh…..jadi kau…” ujar kim bum.
Soo jin menatap kim bum bingung. “Mwoya?” Tanyanya.
“Tch…..” kim bum berdecak. “Kau memanfaatkan gadis polos itu, huh?” Tanya kim bum.
“Maksudmu, so eunnie?” Tanya soo jin.
“Kau memanfaatkannya selagi dia adalah kekasihku, kan? Memintanya agar dia bisa membujukku untuk pergi ke Daegu. Benar kan?” Nada bicara kim bum meninggi. Soo jin membelalakkan matanya dan ia pun bangkit dari duduknya.
“YAK !!!” Teriak soo jin. Emosinya tersulut juga. Kim bum menatap soo jin dengan tatapan menantang.
“APA MAKSUDMU DENGAN MEMANFAATKAN?! AKU SAMA SEKALI TIDAK MEMANFAATKAN SO EUNNIE !!!” Teriak soo jin.
“KALAU BUKAN KAU, SIAPA LAGI HUH?” Kim bum balas berteriak. “DENGAN TIBA-TIBA DIA MEMINTAKU UNTUK PERGI KE DAEGU, SUDAH JELAS INI ULAHMU !” lanjutnya.
“LALU??? JIKA AKU MEMANG MEMANFAATKANNYA, APA YANG AKAN KAU LAKUKAN KEPADAKU? HEOH???” Soo jin berkacak pinggang, seakan ia menantang sang adik.
“Jangan bawa-bawa dia ke dalam urusan ini !” Nada bicara kim bum akhirnya merendah. “Antara aku, kau, dan wanita tua itu tidak ada hubungannya dengan so eun.” Lanjutnya lalu berbalik hendak masuk ke dalam kamar. Namun tiba-tiba……
PLAK~~~~~
Soo jin menampar kim bum dengan keras. Kim bum langsung memegangi pipinya itu dan menatap soo jin dengan wajah kaget.
“SAMPAI KAPAN?” Tanya soo jin. “SAMPAI KAPAN KAU AKAN TERUS SEPERTI INI KEPADA IBUMU, HUH? KAU MEMANG TIDAK TAHU DENGAN JELAS JIKA DIA BEGITU MERINDUKAN ANAK LAKI-LAKINYA. KAU SELALU MENGHINDAR SETIAP KALI KAU MERASA JIKA KAU JUGA MERINDUKAN EOMMA. JANGAN LAGI BERSIKAP SEAKAN KAU TIDAK PEDULI, PADAHAL NYATANYA KAU JUGA MERINDUKAN EOMMA KAN? SUDAH BERAPA TAHUN? LEBIH DARI 10 TAHUN KAN? KAU BELUM PERNAH BERTEMU LAGI DENGAN EOMMA?!” Mata soo jin sampai memerah menahan tangis. Meskipun dia adalah sosok kakak yang kasar dan tegar dari luar, tapi jika sudah menyangkut soal ibu dan adiknya ini, hatinya mendadak rapuh. Kim bum masih membisu.
“Jika kau terus memendamnya seperti itu, rasa sakit di hatimu akan semakin besar. Jika kau rindu padanya, akui saja kau rindu ! Jika kau memang membencinya, akui saja kau benci. Tapi jangan dengan cara seperti ini ! Aku sudah lelah menyikapi perilaku bocah sepertimu ! Aku tahu kau memang sakit hati dengan kejadian yang lalu, tapi kau tidak pernah tahu jika eomma benar-benar tulus menyayangimu ! Dia begitu menderita saat jauh dari anak laki-lakinya yang masih kecil.” Jelas soo jin. Yeah, air matanya menetes, namun dengan cepat ia menghapusnya.
“Aku harap, kau ingin memikirkannya lebih matang.” Ujar soo jin lalu ia masuk ke dalam kamarnya. Sementara itu, kim bum masih membisu di tempat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, bahkan untuk berfikir saja pun tidak bisa.

 

-today love is begin-

 

So eun terus saja berguling-guling di kasurnya. Meskipun sudah malam, tapi ia masih merasa cemas. Ia cemas denga kim bum. Tadi siang, ia baru saja melakukan kesalahan kepada kim bum. Ia tidak menyangka jika kim bum akan sangat sensitif seperti itu jika menyangkut ibunya. So eun menyesal dan merasa bersalah.
“Eottohkae???” Ujarnya gelisah. Ponsel tak pernah lepas dari tangannya, bimbang antara menghubungi kim bum atau membiarkannya saja.
“Jika menghubunginya pun, dia pasti tidak akan menjawab.” Ujarnya.
“Huaaaa bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan???” So eun mengacak rambutnya.
“Eo……apakah aku menghubungi soo jin eonni saja?” Pikirnya. So eun segera mencari nomor ponsel soo jin di ponselnya. Tapi sesaat sebelum ia menyentuh layar hijau untuk mulai menelpon, tangannya tiba-tiba terhenti.
“Ini sudah malam, jika aku menghubunginya aku akan mengganggu.” Ujarnya. So eun pun membatalkan niatnya.
“Haaaaaah….” Ia menghela nafasnya dan memilih menyimpan ponselnya.
“Mungkin besok akan lebih baik.” Gumamnya.

 

-today love is begin-

 

Soo jin terbangun dari tidurnya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Soo jin memang baru tidur sekitar 3 jam yang lalu setelah sebelumnya ia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Soo jin perlahan mendudukkan dirinya dan mengurut pundaknya. Tidur sesingkat ini cukup membuat kepalanya sedikit pusing. Ia pun tak makan malam dan terus berada di kamar setelah ia menampar sang adik dan mengoceh kepadanya kemarin sore. Soo jin pun keluar dari kamarnya dan pergi menuju dapur. Ia mengambil air mineral dan meminumnya. Perutnya sedikit keroncongan, namun setelah ia melihat isi kulkas, ternyata tidak ada apa-apa disana. Ia juga penasaran apakah kim bum sudah bangun atau belum. Dengan memberanikan diri ia pun berjalan menuju kamar adiknya.
Tok tok tok~~~
Soo jin mengetuk pintu kamar kim bum hingga tiga kali. Namun belum juha ada sautan.
Tok tok~~~
“bummie~~~~~” panggil soo jin. “Kau sudah bangun? Aku akan membeli makanan ke mini market~ kau tunggu aku dan jangan sarapan di luar, ara? Sebagai permintaan maafku aku akan membuatkanmu sarapan.” Ujar soo jin.
Hening…tak ada tanda-tanda yang diberikan kim bum dari dalam kamar.
“Bummie???” Panggil soo jin seraya mengetuk pintu kembali. Soo jin penasaran, ia pun memegang knop pintu kamar kim bum dan memutarnya. Ternyata pintunya tidak di kunci. Dengan perlahan soo jin membukanya, ia menyembulkan kepalanya ke dalam kamar sang adik. Tapi ternyata, tak ada siapa-siapa di dalam.
“Apa dia sudah bangun?” Pikir soo jin. Soo jin pun memutar kepalanya ke arah kamar mandi tapi ternyata tak ada tanda-tanda kim bum baru memakai kamar mandi. Semuanya masih terlihat sama seperti kemarin sore. Soo ji mengerutkan keningnya.

 

-today love is begin-

 

“Hoooaaammm…” Il woo menguap lebar seraya berjalan keluar dari kamarnya. Di sofa di ruang tempat menonton terlihat kim bum tengah tiduran. Il woo membulatkan matanya.
“WAAAAAAAAAAAAAAAAAA” Il woo berteriak kaget. Kim bum yang memang tidak sepenuhnya tidur langsung menutup kedua telinganya.
“B….bum-ah!??? Kenapa kau ada disini?” Kaget il woo seraya perlahan-lahan mendekati kim bum.
Kim bum mendesah lalu mendudukkan dirinya. “Kau tidak ingat?” Tanya kim bum. Il woo tampak kebingungan, ia ikut mendudukan dirinya di samping kim bum.
“Benar-benar idiot !” Ejek kim bum. Il woo menatap kim bum dengan penuh tanda tanya, pasalnya ia sama sekali tidak ingat kenapa kim bum bisa sampai ada di rumahnya. Rumah kecil yang hanya ia tinggali sendiri ini.
“Akh….” Kim bum mengurut pelipisnya. Ia tidak bisa tidur semalaman, hingga pagi ini pun.
“Aku memang belum ingat sepenuhnya kenapa kau bisa ada di rumahku. Tapi, aku akan mengambilkan minum dulu untukmu.” Ujar il woo lalu berjalan menuju dapur.
Kim bum menundukkan kepalanya. Perkataan kakanya terus saja berputar-putar dan tidak mau pergi dari pikirannya. Membuat dirinya pusing.
“Minumlah.” Il woo menyodorkan segelas air putih kepada kim bum. Kim bum menerimanya dan meminumnya sedikit.
“Kau kelihatan banyak pikiran. Apa sesuatu telah terjadi?” Tanya il woo.
“Ani….gwaenchana.” balas kim bum. Il woo menatap kim bum aneh, tapi ia hanya bisa angguk-angguk saja.
“Kalau begitu, sekarang bisa kau ceritakan kenapa kau ada disini?” Tanya il woo. Kim bum menatap il woo tak menyangka. Laki-laki ini tak mengingatnya sama sekali?

 

Flashback
Kim bum sudah berdiri di depan pintu rumah il woo. Ia sudah beberapa kali mengetuk pintu.
“Eo….siapa itu?” Suara il woo terdengar surau di telinga kim bum. Tak lama kemudian pintu pun terbuka.
“Oh….kau kim bum.” Ujar il woo setengah tidur saat ia melihat ternyata yang mengetuk pintu adalah kim bum. Mata il woo pun bahkan hanya terbuka sedikit. Setelah kim bum masuk, il woo kembali berjalan menuju kamarnya dengan langkah lemas dan mata tertutup. Ia meninggalkan kim bum yang masih berdiri di dekat pintu. Bahkan il woo pun lupa menutup kembali pintunya dan membuat kim bum yang menutup pintunya.
“Aku akan menginap malam ini di rumahmu.” Ujar kim bum.
“Hmm…oke oke.” Balas il woo lalu langsung menghilang di balik pintu kamarnya. Kim bum menghela nafasnya lalu menidurkan dirinya di sofa.
End of Flashback

 

“Eo….benarkah?” Tanya il woo. ” Aku benar-benar tidak mengingatnya.” Ujarnya.
“Aku mungkin berjalan dan bicara sambil tidur, aku benar-benar mengantuk kemarin.” Tambahnya.
“Tidak masalah kau ingat atau tidak. Tapi terimakasih sudah mengizinkanku tidur disini.” Balas kim bum.
“Yak…..” Il woo menyenggol lengan il woo. “Kau seperti bukan kepada sahabat saja….tidur semaumu disini pun aku tak apa.” Ujarnya.
Kim bum menyunggingkan senyumnya sedikit. Sangat sedikit.
“Heh…..sekarang ini kau terlihat aneh, sesuatu pasti sedang terjadi kan? Benar? Wajahmu tidak bisa membohongiku !” Il woo menatap menyelidik wajah kim bum. Kim bum diam.
“Ah….apakah dengan so eun-ssi?” Tebak il woo.
“Ani.” Jawab kim bum. Il woo mengerutkan keningnya. “Lalu?” Tanyanya.
“Aku memang sedang banyak pikiran, tapi aku tidak ingin membahasnya.” Balas kim bum.
“Arasseo arasseo……” Il woo mengerti. “Ah ya jam 10 pagi ini aku ada kerja part time, aku mungkin akan pulang sampai malam.” Il woo memberi tahu. Kim bum mengangguk. “Lagipula nanti pun aku akan pergi.” Balas kim bum.
“Yasudah kalau begitu.” Il woo berjalan menuju kamar mandi.

 

-today love is begin-

Ting tong~~~~
So eun sudah berdiri di depan apartemen kim bum. Sebelumnya ia cukup ragu untuk datang kesini. Namun setelah berfikir cukup lama, akhirnya so eun pun memutuskan untuk datang ke apartemen kim bum untuk berbicara kepadanya langsung.
Ting tong~~~~
So eun kembali menekan bel. Tak lama kemudian pintu pun terbuka.
“Oh….so eunnie.” Ternyata soo jin yang membukakan pintu.
“Eonni, selamat siang.” So eun membungkukkan badannya.
“Aku kira siapa yang datang, kajja masuklah.” Soo jin menyuruh so eun masuk. So eun pun masuk ke dalam dengan perasaan gelisah. Apa yang harus ia katakan saat bertemu dengan kim bum sekarang? Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana caranya ia bertatap muka secara langsung dengan kim bum setelah kejadian kemarin? Mungkin kim bum masih kecewa padanya.
So eun duduk di kursi dengan perasaan tegang.
“Aku akan membawa minum dulu.” Ujar soo jin.
“Ah….gwaenchana eonni. Kau tidak perlu repot-repot.” Tolak so eun halus.
“Ehhh…..wae?” Tanya soo jin.
“Ummm….sebenarnya…” So eun meremas tangannya. “Aku kemari ingin bertemu dengan bum-ah. Mungkin dia masih marah padaku, jadi aku ingin bicara dan minta maaf langsung padanya.” jelas so eun. Soo jin mengurungkan niatnya pergi ke dapur dan ikut duduk di samping so eun.
“Anak itu belum juga pulang. Sepertinya kemarin malam di pergi gara-gara aku.” Ujad soo jin. So eun langsung menatap soo jin.
“Haaah….” Soo jin menghela nafasnya. “Kakak macam apa aku ini? Dengan begitu mudah menampar adiknya dengan keras? Sudah tak terhitung berapa kali tangan ini menamparnya.” Soo jin menatap telapak tangannya.
“Eonni….” panggil so eun. “Mian….aku mungkin tidak bisa membujuk kim bum untuk pergi ke daegu menemui ibunya kim bum dan eonni. Aku rasa jika aku melakukannya, aku akan terlihat ikut campur.” Jelas so eun.
Soo jin tersenyum. “Ani….seharusnya aku yang minta maaf. Tidak seharusnya aku melibatkanmu. Memang cukup sulit bagi bummie untuk menerimanya. Membiarkannya untuk berfikir sendiri memang lebih baik. Aku juga tak seharusnya memaksa dia.” Balas soo jin. So eun hanya menatap saja kakak kekasihnya itu.

 

-today love is begin-

So eun sedari tadi terus menghubungi kim bum. Tapi sampai sekarang ponsel kim bum belum juga aktif. So eun benar-benar gelisah. Tiba-tiba ia teringat dengan jung il woo. Ia mencoba menghubunginya tapi ternyata sama saja, sibuk ! Yeah kita tahu kan, il woo sedang kerja paruh waktu jadi mungkin ia sibuk dan tak sempat mengangkat telponnya, atau bahkan ia meletakkan ponselnya dimana saja. So eun menghela nafasnya. Apa lagi yang harus ia lakukan? Bagaimana ia bisa tahu keberadaan kim bum jika ponselnya kim bum saja tidak aktif? Hari sudah mulai gelap. So eun khawatir dengan kondisi kim bum sekarang. Apakah semalam ia menginap di rumah temannya-il woo? Lalu apakah dia makan dengan baik? Yah hal-hal seperti itulah yang berkecamuk di kepala so eun.
“Bagaimana ini???” So eun resah. “Apakah aku harus menunggu beberapa saat lagi lalu kembali mencoba menghubunginya nanti?” Pikirnya. So eun langsung menjatuhkan dirinya ke atas kasur dengan ponsel yang masih ada dalam genggaman tangannya.

 

-today love is begin-

Kim bum berjalan dengan lesu di sekitar jalanan sepi di daerah Seokchon di dekat Taman Danau Seokchon. Ia menghela nafasnya, udara malam ini cukup dingin, angin pun berhembus cukup kencang. Mungkin udara dingin ini dikarenakan faktor dari danau seokchon juga. Sedari siang tadi, kim bum memang tak tentu arah berjalan seperti ini. Ia hanya ingin menyejukkan pikirannya dan juga hatinya. Kim bum pun merogoh ponselnya yang sedari tadi ia matikan. Saat ia mulai meng-aktifkan ponselnya, sudah muncul puluhan notifikasi panggilan tak terjawab dari kim so eun. Beberapa di antaranya juga dari kim soo jin-sang kakak. Kim bum menatap layar ponselnya sebentar, lalu ia berjalan mendekati salah satu kursi yang menghadap danau seokchon. Ia duduk di sana. Melihat danau seokchon yang menenangkan. Angin pun meniupkan helaian rambutnya.
Tiba-tiba layar ponselnya menyala, nada dering terdengar. Ternyata so eun yang menghubunginya. Kim bum menyentuh layarnya itu, mengangkat telpon so eun.
“Kim bum-ah !!!” Terdengar nada cemas di nada so eun bercampur rasa bahagia. Kim bum memilih me-loudspeaker kan suaranya.
“Kim bum-ah……kau dimana sekarang?” Tanya so eun. Kim bum tak menjawabnya. Ia malah hanya mendengarkan saja suara so eun itu.
“Aku sangat khawatir…..sudah beberapa kali aku menghubungimu tapi ponselmu terus saja tidak aktif, apalagi setelah aku tahu dari kakakmu kalau kau tidak kembali ke rumahmu dari kemarin malam. Dimana sekarang?”
Kim bum masih belum menjawab. Ia hanya sedang ingin mendengarkan suara so eun ditemani udara malam yang cukup dingin dengan pemandangan danau Seokchon yang cantik.
“Bum-ah…..” panggil so eun.
“Temani aku !” Akhirnya kim bum membuka suara. “Teruslah bicara. Aku ingin mendengar suaramu lebih lama.” Tambahnya.
“Tapi, dimana kau sekarang?” Tanya so eun.

 

-today love is begin-

So eum cepat-cepat bergegas pergi dari rumahnya. Orangtuanya sempat bingung dengan so eun. Namun mereka tak sempat mencegahnya karena so eun sudah keburu pergi dengan cepat.
Danau Seokchon tidak terlalu jauh dari rumahnya, jadi so eun memilih untuk menaiki bus saja sekitar 15 menit, lalu berjalan kaki ke taman danau Seokchon sekitar 10 menit. Disana so eun sudah bisa melihat punggung kim bum. Kim bum ternyata masih disana melihat danau Seokchon.
So eun berlari. “Bum-ah….” panggilnya. Kim bum menoleh, lalu so eun duduk di samping kim bum.
“Kau datang.” Ujar kim bum.
“Mian…..aku tak bisa datang cepat.” Balas so eun dengan nafas ngos-ngosan. Kim bum terkekeh, so eun melihatnya dengan ekspresi bingung.
“Apa kau tidak marah padaku?” Tanya so eun masih melihat kim bum dari samping. Kim bum belum menjawab.
“Aku takut karena aku terlalu ikut campur tentang masalahmu dengan ibumu, lalu kau marah dan benci kepadaku.” Lanjut so eun.
“Aku memintamu datang kesini, untuk menghiburku kan?” Balas kim bum tak menghiraukan pertanyaan so eun. “Temani aku dan hibur aku disini !” Ujarnya.
“Ta….tapi, tak ada satu lelucon pun yang ada di otakku. Jika aku mengatakan sesuatu yang lucu, tapi kau tidak tertawa, aku akan merasa tidak berguna.” Balas so eun.
Kim bum menghela nafasnya. Lalu ia melirik ke samping, melihat so eun yang sedang menatapnya dengan wajah polos. Kim bum perlahan mengangkat tangan kanannya dan menyentuh pipi so eun. So eun kaget dengan apa yang kim bum lakukan.
“Kau hangat.” Ujar kim bum.
“A……tanganmu dingin sekali !” Pekik so eun. “Sudah berama lama kau berada di luar?” Tanya so eun.
Kim bum perlahan melepaskan tangannya dari pipi so eun dan kembali melihat ke arah danau.
“Hari ini, terlalu banyak yang aku pikirkan.” Ujar kim bum. So eun sudah tahu dengan jelas. Yang kim bum pikirkan pasti soal ibunya. So eun lalu semakin merapat mendekati kim bum. Ia meraih ke dua tangan kim bum. Kim bum cukup kaget.
“Jika kau kedinginan. Aku akan menghangatkanmu.” Ujar so eun seraya meletakkan kedua tangan kim bum di kedua pipinya. Kim bum menatap tepat mata so eun.
“Aku tak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya. Kau terlihat menyedihkan sekali.” Ujar so eun. Kim bum masih diam. “Aku rasa, kau lebih baik bersikap kasar saja daripada menyedihkan sepert ini.” So eun memanyunkan bibirnya. Kim bum menatap so eun semakin dalam.
“Aku…..” ujar kim bum. “Setelah aku memikirkannya, aku akan pergi ke Daegu.” Lanjut kim bum yang membuat so eun benar-benar kaget. So eun tak menyangka kim bum berubah pikiran sangat cepat.
“Jinjjaru?” Tanya so eun, ia tak bisa menyembunyikan lagi rasa senangnya. So eun tersenyum sangat lebar.

 

-today love is begin-

 

“Eonni………….miaaaaaaan aku telaaaaaat !” So eun berlari menghampiri soo jin dan kim bum yang sedang duduk menunggunya di halte bus. Soo jin langsung berdiri.
“Gwaenchana.” Balas soo jin. Nafas so eun masih ngos-ngosan.
“Aku membawa oleh-oleh yang dibuat oleh ibuku.” Ujar so eun.
“Jinjja?” Tanya soo jin. So eun mengangguk.
“Aku tak tahu apa yang disukai oleh ibunya eonni dan bum-ah, jadi aku meminta eomma untuk membuatkan beberapa makanan.” Ujar so eun.
“Huaaaa gomawoyo so eunnie.” Soo jin terlihat senang. Sementara kim bum masih duduk di kursi. Ini adalah kali pertamanya lagi, dia pergi ke Daegu untuk menemui sang ibu setelah beberapa tahun lamanya. Jujur, sebenarnya ia juga tidak tahu kesan apa yang harus ia berikan saat bertemu dengan ibunya nanti. Diam? Menyapa? Atau……
“Busnya sudah tiba.” Ujar soo jin. Soo jin dan so eun segera naik ke dalam bus yang akan membawa mereka ke stasiun kereta api. Kim bum juga perlahan ikut menaiki bus seraya membawa satu koper besar di tangannya.
Tak lama, mereka pun tiba di stasiun. Hanya menunggu beberapa menit disana. Kereta api jurusan Daegu pun sudah menanti dan mereka segera naik. Selama perjalanan pun kim bum hanya diam saja, berbeda dengan so eun dan soo jin yang terus saja mengobrol. Tampaknya so eun begitu antusias akan bertemu dengan ibunya kim bum. Perjalan ke Daegu cukup memakan waktu lama. Soo jin tengah tertidur sementara so eun menikmati pemandangan alam lewat jendela. Ia duduk di samping kim bum. Sementata soo jin di depan mereka. Tiba-tiba so eun menyentuh-nyentuh lengan kim bum dengan telunjuknya.
“Hey….bum-ah.” Panggil so eun. Kim bum menoleh.
“Aku penasaran, seperti apa ibumu itu?” Tanya so eun. Kim bum diam sejenak.
“Dia hanya wanita tua biasa.” Balas kim bum.
“Maksudku…..jika lebih spesifik….orang seperti apa dia? Apakah ramah? Mudah bergaul? Atau…..”
“Sudah bertahun-tahun aku tak bertemu dengannya.” Potong kim bum. “Jadi aku tak terlalu mengingat hal itu.” Lanjutnya.
“A…..mian…..aku hanya penasaran, terlebih……soo jin eonni sudah susah payah untuk mengajakku.” So eun mengerucutkan bibirnya.
“Lebih baik kau tidur saja ! Perjalanan masih jauh.” Suruh kim bum.

 

-today love is begin-

“Eommaaaaaa….” soo jin berteriak sambil masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang ia tinggali bersama ibunya di Daegu.
“Ah….kau sudah pulang soo jinnie.” Ibunya keluar dari dapur. Namun ekspresi wajahnya berubah menjadi kaget saat ia melihat anak laki-lakinya ada disini.
“Ah ya, aku membawa bummie juga kemari.” Ujar soo jin yang menyadari kekagetan ibunya itu. Kim bum juga tampak diam.
“Dan ini so eunnie. Dia pacarnya bummie.” Ujar soo jin enteng. So eun mendadak nervous diperkenalkan oleh soo jin kepada ibunya sang kekasih.
“Perkenalkan, namaku kim so eun. Bagaimana kabar eommonim?” So eun membungkukkan badannya 90 derajat.
“Senang bertemu denganmu so eunnie.” Ibunya kim bum tersenyum. So eun kaget dipanggil akrab oleh ibunya kim bum padahal mereka baru saja bertemu. Ini mengingatkannya pada soo jin.
“Aku ke kamar dulu. So eunnie, aku simpan tasmu dan baju-bajumu di kamarku, ya?” Ujar soo jin lalu masuk ke dalam kamarnya sambil membawa koper miliknya dan tas besar milik so eun.
“Terimakasih karena sudah mau datang kemari, aku sangat senang.” Ujar ibunya kim bum dengan senyum ramahnya. So eun sedikit terkesima dengan senyumnya itu. Senyum yang menyejukkan. Matanya ibu kim bum pun beralih menatap kepada sang anak-kim bum. Terlihat tatapan yang amat rindu dari matanya kepada kim bum.
“Sudah sangat lama, kim bummie.” Ujarnya. Kim bum hanya menatap ibunya saja.
“Bagaimana kabarmu?” Tanya sang ibu.
“Seperti biasa, normal.” Jawab kim bum seraya memalingkan pandangannya.
“Ah….arrasseo…..arrasseo…..normal adalah yang terbaik.” Balas sang ibu. Kim bum diam.
So eun hanya memerhatikan saja percakapan singkat antara anak dan ibu itu yang terasa begitu canggung. Lalu ia teringat dengan oleh-oleh yang ia bawa.
“Ah ya….umm…..aku membawa oleh-oleh untuk eommonim. Meskipun tidak seberapa tapi aku harap kau menyukainya.” So eun menyerahkan sekotak besar berisi makanan buatan ibunya pada ibu kim bum.
“Aigooooo.” Ibu kim bum menerimanya dengan sangat senang. “seharusnya kau tak usah repot-repot, tapi aku dengan senang hati menerimanya.” Ujarnya dengan senyum yang tampak cerah. Tak terlihat sama sekali wanita di depannya ini adalah wanita yang sudah tua.
“Kalian pasti lapar kan? Perjalanan memang cukup jauh.” Ujar ibunya kim bum. “Aku akan menyiapkan dulu makanan, kalian istirahatlah dulu.” Suruhnya, lalu ia pun masuk ke dalam dapur. Tak kama keluarlah soo jin dari kamarnya.
“Dimana eomma?” Tanya soo jin yang hanya melihat kim bum dan so eun di ruang tengah.
“Eommonim ada di dapur, eonni.” Jawab so eun. Soo jin mengangguk lalu masuk ke dalam dapur.
“Bum-ah….” panggil so eun. Kim bum menatapnya. “Ibumu sangat ramah, dia cantik dan mudah bergaul. Aku menyukainya.” Bisik so eun.
“Dia hanya berakting.” Balas kim bum datar.
“Ne???”

 

-today love is begin-

Makanan sudah tersaji di meja di ruang tengah. Mereka berempat duduk berhadapan. So eun duduk di samping kim bum, dan soo jin dengan ibunya.
“Woooah sepertinya lezat sekali.” Ujar soo jin melihat makanan-makanan itu yang melambai-lambai padanya minta dimakan.
“Kebetulan tadi eomma baru selesai memasak, ditambah ada oleh-oleh juga dari so eunnie.” Ujar ibunya kim bum. Soo jin mengangguk faham.
“Kajja….makanlah !” Suruh ibunya kim bum seraya mengambil mangkuk nasi milik so eun dan mengisinya, lalu ia menyodorkan semangkuk nasi itu kepada so eun.
“Ah…..gomawo…” so eun menerima semangkuk nasi itu.
“Bummie, kau juga.” Ibunya hendak mengambil mangkuk nasi milik kim bum. Tapi kim bum menolak.
“Aku bisa sendiri.” Ujarnya, lalu menyangkul nasi itu oleh dirinya. Muncul sedikit suasana tidak nyaman disana.
So eun dan soo jin makan cukup lahap, sementara kim bum dan ibunya terlihat tak berselera. Terasa canggung memang, seorang anak dan ibu yang sudah lama tidak bertemu dipertemukan kembali dalam situasi seperti ini, situasi dimana kim bum tak menyukai ibunya sendiri dan ibunya yang memiliki rasa rindu sangat menggebu pada anak yang seperti tak menyukainya itu. Ibu kim bum menyudahi makannya, dan memilih untuk minum soju yang tersedia di meja.
“Eomma, kau akan minum?” Tanya soo jin.
“Hanya sedikit.” Ujar ibunya.
“Jangan terlalu banyak, kau akan memalukan jika sudah mabuk.” Ujar soo jin.
“Tenang saja.” Balas ibunya itu enteng.
Hampir setengah botol soju yang dihabiskan ibunya kim bum. Tingkahnya jadi aneh dan memalukan. Ia mengambil dua lembar rumput laut kering dan menempelkannya di kedua alisnya.
“Lihat ! Lihatlah kemari !” Perintah ibunya kim bum. “Aku punya alis tebal seperti rumput laut ini kekekek.” Ujarnya. So eun hanya nyengir saja.
“Eomma, kau sudah minum terlalu banyak.” Ujar soo jin.
“So eunnie lihatlah !” Ibunya kim bum mendekatkan wajahnya pada so eun. Ia menunjuk alisnya. “Alisku sangat tebal, iya kan?” Tanyanya. So eun melihat alis ibunya kim bum itu.
“Ah ne.” Jawab so eun.
“Kau ingin menyentuhnya? Ayo sentuhlah !” Tawarnya. “Umm….” so eun berfikir sejenak lalu melirik ke arah kim bum yang sudah kelihatan sangat tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
“Eomma, jangan menyuruh so eunnie melakukan hal yang aneh.” Ujar soo jin.
“Waeyo? Ini tidak aneh. Dia adalah kekasihnya anakku, aku hanya ingin dia juga menyukaiku.” Balasnya.
“Hehehe.” So eun hanya nyengir.
“So eunnie, ngomong-ngomong apa yang kau sukai dari anakku, huh?” Tanya ibunnya kim bum.
“Ehhh?” So eun mendadak gerogi. Soo jin tersenyum penuh arti mendengar pertanyaan ibunya itu.
“Meskipun aku sudah tahu alasannya so eunnie menyukai bocah tak tahu diri seperti dia. Tapi tidak ada salahnya so eunnie menceritakannya kembali.” Ujar soo jin memancing kim bum. Kim bum sudah menatap soo jin dengan tatapan ‘mati kau’ nya.
“Ayo ceritakan so eunni, aku ingin mendengarnya !” Suruh ibunya kim bum.
“Umm…..” so eun tampak malu dan bingung memulainya dari mana.
“Yak so eun, kau jangan……”
Soo jin langsung membekap mulut kim bum dengan kuat. “Kau diamlah !” Suruh soo jin pada kim bum, lalu ia juga menahan leher dan kepala kim bum dengan lengannya. Kim bum benar-benar kesal dengan tingkah kakaknya.
“Ayo so eunnie kau bisa memulai ceritanya ! Jangan hiraukan anak ini !” Perintah soo jin. So eun tampak ragu, apalagi setelah ia melihat ekspresi kim bum.
“Yak lepaskan !” Akhirnya kim bum bisa melepaskan diri dari kakanya. Kim bum langsung berdiri.
“Yak….kau mau kemana?” Tanya soo jin.
“Ke ruangan sebelah.” Balas kim bum masih dengan nada kesalnya.
“Duduklah disini ! Sudah lama kita tak berkumpul seperti ini.” Pinta ibunya.
“Aku merasa sangat tidak nyaman. Jadi aku lebih baik pindah tempat saja. Kalian bisa bercerita apa yang kalian inginkan tanpa aku.” Ujar kim bum lalu meinggalkan mereka.
“Aiyuuuh anak itu !!!” Geram soo jin.
“Gwaenchana soo jinnie.” Ujar ibunya. “Mungkin dia malu saat topik pembicaraan kita mengarah pada kisah cintanya kekekekek.” Lanjutnya.
“Yeah, kau benar juga eomma.” Balas soo jin.
Sesuai apa yang diminta oleh ibunya kim bum, so eun pun menceritakan kisah cintanya dengan kim bum. Dimulai saat berpura-pura pacaran untuk menyombongkan diri kepada teman-temannya, sampai pacaran sungguhan seperti ini. Ibunya kim bum pun sudah lelah sepertinya, ia sampai ketiduran di ruang tengah dengan kepala yang ia letakkan di meja.
“Eomma…” panggil soo jin.
“Huh?” Ibunya itu membuka matanya sedikit.
“Jika kau ingin tidur, lebih baik kau tidur di kamarmu !” Suruh soo jin.
“Ani…..aku ingin mengobrol dengan so eunnie lebih lama.” Tolaknya.
“So eunnie ceritakan lebih banyak lagi !!! Malam ini mari habiskan waktu untuk mendengarkan kisah cintanya so eunnie !” Ujar ibunya kim bum dengan semangat dan masih setengah mabuk.
“Tsk….” soo jin berdecak lalu membantu ibunya berdiri.
“Kajja ! Aku akan membantumu tidur di dalam kamar !” Soo jin membopong tubuh ibunya. So eun hendak membantu tapi soo jin menolaknya.
“Arrasseo….arrasseo….aku akan tidur !” Ujar ibunya. “Selamat malam so eunnie. Kita mengobrol lagi besok, oke?” Pintanya setengah mengantuk.
“Ah ne.” So eun mengangguk. “Selamat malam.” Ujarnya.

 

-today love is begin-

 

“Aku minta maaf karena sifat ibuku, dia memang kekanak-kanakkan saat dia sudah mabuk.” Ujar soo jin. Saat ini ia sedang mencuci piring di dapur dan so eun membantunya.
“Gwaenchanayo, aku menikmatinya. Eommonim adalah orang yang keren, dia ramah dan mudah bergaul.” Balas so eun.
“Dia memang seperti itu.” Ujar soo jin sambil menyunggingkan sedikit senyumnya. “Aku rasa dia sangat senang bertemu dengan so eunnie.” So eun menatap soo jin.
“Meskipun dia selalu dalam semangat yang tinggi. Tapi jika bertemu dengan anaknya sendiri setelah beberapa tahun lamanya, aku rasa dia akan sangat canggung dan tak tahu apa yang harus dia lakukan. Tapi, karena kehadiran so eunnie disini. Itulah yang membuatnya merasa senang dan bisa menyembunyikan rasa canggungnya.” Cerita soo jin. So eun masih menatap kakak sang kekasih itu.
“Jadi….itulah mengapa eonni mengajakku ke Daegu, untuk membuat eommonim senang?” Tanya so eun.
Soo jin menatap so eun, lalu tersenyum.
“Meskipun dari luar dia terlihat selalu bersemangat dan menyenangkan, tapi dari dalam dia sangat kesepian.” Ujar soo jin. So eun terdiam.
‘Mungkinkah itu yang dimaksud kim bum? Dia hanya berakting?’ Batin so eun.

 

-today love is begin-

So eun baru selesai mandi dan ia sudah berpakaian baju tidur. So eun berniat menemui kim bum, jadi sekeluarnya dari kamar mandi ia langsung menuju kamarnya kim bum.
Tok tok tok~ so eun mengetuk pintu.
“Bum-ah, apa kau sedang tidak sibuk? Ini aku.” Ujar so eun dari balik pintu. Kim bum yang sedang duduk di lantai kamarnya sembari menonton televisi pun menoleh ke arah pintu.
“Ah….masuklah !” Balas kim bum. Perlahan so eun pun membuka pintunya dan masuk ke dalam. Ia melihat kim bum tengah fokus pada televisi, lalu ia pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
“Apa yang sedang kau tonton?” Tanya so eun.
“Hanya acara yang membosankan.” Balas kim bum. “Ngomong-ngomong, apa kau baru saja selesai mandi?” Tanya kim bum seraya memperhatikan rambut so eun yang basah.
“Ah iya. Kau juga harus segera mandi !” Balas so eun.
“Bagaimana acara mengobrolmu? Apa kau merasa senang sekarang, huh?” Tanya kim bum.
“Aku sangat senang.” Jawab so eun dengan bersemangat. “Ibumu sangat menyenangkan dan seperti teman. Tapi dia terlalu banyak minum dan akhirnya tertidur.” Lanjut so eun.
Kim bum menyunggingkan senyumnya sedikit. Hanya sedikit. “Aku mengerti.” Balasnya. “Itulah keadaan keluargaku yang tak ada harapan.” Lanjutnya. So eun cukup terkesiap mendengarnya. Melihat kim bum yang tadi baru saja tersenyum meskipun sangat sedikit, itu membuktikan bahwa dia tak sepenuhnya membenci ibunya. Sebenarnya, dia juga ingin memiliki hubungan baik dengan ibunya. Itulah mengapa dia pada akhirnya mengambil keputusan untuk pergi ke Daegu bersama soo jin dan juga so eun. So eun tersenyum melihat kim bum yang kini sedikit menundukkan kepalanya.
“Bum-ah….” panggil so eun. Kim bum kembali menoleh. “Aku….aku saaaaangaaaaaat menyukai ibumu. Saaaaangaaaaat !” Ujar so eun.
“Huh?” Tanya kim bum.
“Hari ini aku sangat senang bisa bicara banyak dengan ibumu. Sungguh !” Ujarnya dengan mata yang berbinar-binar. “Meskipun hanya hal kecil, tapi dia dengan senang hati mendengarkanku. Dia menyenangkan dan juga benar-benar ramah.” Jelasnya. “Oleh karena itu, mari pergi bersama lagi ke Daegu lain kali !” Ajak so eun. “Ne?” Tanyanya. Bukannya menjawab, kim bum malah menatap so eun dengan aneh.
“Apa yang baru saja terjadi padamu?” Tanya kim bum. Lalu kim bum menopang dagunya dengan tangannya. Melihat reaksi kim bum yang seperti itu membuat so eun ciut. Ia sudah menggebu-gebu dan bersemangat menceritakannya kepada kim bum, tapi kim bum malah bertanya apa yang telah terjadi padanya. So eun pun hanya bisa diam saja. Terjadi keheningan beberapa menit di antara mereka. Menyadari so eun tak bicara lagi, kim bum pun memutar bola matanya dan melirik so eun. Ia melihat so eun tengah menunduk seraya memain-mainkan jari tangannya. Tiba-tiba kim bum mengangkat tangannya secara perlahan dan memegang rambut so eun. So eun menoleh.
“Seharusnya kau pergi untuk mengeringkan rambutmu !” Ujar kim bum.
“A..ah….ne….tadi aku berniat mengeringkan rambutku nanti setelah aku menemuimu.” Balas so eun. Entah kenapa jantungnya berdegup sangat cepat saat kim bum memegang beberapa helaian rambutnya itu.
“Heh…..” kim bum menyunggingkan senyumnya lalu menatap tepat ke mata so eun. Perlahan ia juga melepaskan tangannya yang memegang rambut so eun. Perasaan so eun semakin tak karuan saja di saat kim bum secara perlahan mendekatkan wajahnya pada wajahnya yang sudah benar-benar memerah. So eun langsung saja menutup matanya.

 

To Be Continued

FF ini akan berakhir di part 17. Seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya, kemungkinan Part 17 akan di protect, atau bahkan kemungkinan juga tidak. Jika misalnya part 17 nanti di protect, kalian bisa minta Pasword lewat twitter, fb, atau bbm. Kalian bisa lihat di About author soal fb dan twitter. Yang mau minta pw lewat email pun bisa. Cukup kirim ke alamat email cie.resi96@gmail.com. Jangan lupa juga ya sertakan Uname kalian saat minta pw ke saya sesuai Uname yang kalian pakai saat berkomentar di woprdpress saya. PIN : 75ADDEB8

Today, Love Is Begin PART 15

Today, Love Is Begin

kbkse110
Main cast : Kim So Eun& Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkinakanada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuktokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

PART 15
“Kalau begitu, kim bum-ssi…..kau pasti punya banyak waktu di hari libur nanti kan?” Tanya so eun.
“Hmmm.” Kim bum mengangguk. So eun tersenyum.
“Ah ya….ngomong-ngomong……kau pernah bilang kau sudah lama tak bertemu dengan ibumu, kan?” Tanya so eun, mengingatkan pada ibunya.
“Siapa yang bilang seperti itu?” Raut wajah kim bum berubah menjadi kesal.
“Tentu saja kau ! Waktu itu kau bilang ibumu tinggal jauh darimu.” Balas so eun. Kim bum diam.
“Apakah kau akan pergi menemui ibumu liburan nanti?” Tanya so eun.
“Tidak !” Jawab kim bum cepat. “Aku tidak ingin menjadi dekat dengannya !” Tambah kim bum dengan ekspresi wajah yang berubah tidak bersahabat. So eun menatap kaget kim bum.
“Ah….a….arasseo….” balas so eun. Ia tahu kim bum memang sudah lama tidak bertemu dengan ibunya. Tapi alasan kenapa ibunya tinggal jauh dengannya, belum so eun ketahui.
“Kim bum-ssi, memangnya dimana ibumu tinggal?” tanya nirin.
“Daegu.” Jawab kim bum singkat.
“Bukankah akan lebih baik jika pergi kesana untuk menemuinya meskipun hanya sebentar? Kenapa kau tidak mau pergi?” Nirin rupanya tak bisa membaca ekspresi wajah kesal kim bum. Ia malah bertanya hal yang mungkin tidak ingin kim bum jawab.
“Ah nirin-ah, kim bum-ssi pasti punya alasan sendiri kenapa ia tidak mau pergi hehe.” Malah so eun yang menjawab, ini ia lakukan agar kim bum tak berujung marah.
“Aku sedang tidak ingin membicarakannya.” Ujar kim bum. Nirin mengangguk mengerti.
Tapi tiba-tiba kim bum menghentikan langkahnya saat ia menangkap seseorang yang tidak asing di matanya sedang berdiri beberapa meter di depannya.
“Waeyo kim bum-ssi?” Tanya so eun heran. Ia melihat ekspresi kaget di wajah kim bum. Kim bum tidak menjawab, lalu so eun pun memilih mengikuti arah pandangan kim bum. So eun melihat ada seorang perempuan dengan perawakan tinggi sekitar 168 cm berjalan menghampiri mereka. Perempuan itu memakai kacamata dan terlihat begitu fashionable dengan baju-baju dan aksesoris yang ia kenakan. Perempuan itu juga terliat cantik dan mempesona.
Perlahan, wanita itu membuka kacamatanya, dan matanya menunjukkan kekagetan saat melihat kim bum.
“Bum-ah? Kim bum-ah???” Panggilnya dengan wajah kaget. Kim bum juga masih menunjukkan wajah kagetnya. Sekarang so eun juga ikutan kaget. Sementara nirin tidak mengerti dengan situasi seperti ini.

 

Apa yang akan terjadi lagi dengan kisahku dengan kim bum-ssi…..setelah semua masalah terselesaikan satu persatu, apakah masalah baru akan muncul lagi???? Perempuan itu? Siapa perempuan itu? Apakah perempuan itu perempuan di masa lalunya kim bum-ssi? Aku tidak pernah melihat kim bum-ssi sekaget ini. OH MY GOD !!!! Jika itu benar, apa yang akan terjadi denganku?

-today love is begin-

 

“Bum-ah, benarkah ini kau???” Tanya wanita itu yang kini memperhatikan kim bum dari atas sampai bawah.
“Aigoooooo, kebetulan sekali kita bertemu disini. Barusaja aku akan menghubungimu.” Ujar wanita itu.
Mendengar wanita itu berbicara nonformal bahkan memanggil kim bum dengan akrab, membuat so eun menarik kesimpukan bahwa hubungan antara wanita ini dengan kim bum sangat dekat. Tapi so eun masih was-was, takut jika wanita cantik yang berdiri di hadapan mereka punya hubungan khusus dengan kim bum di masa lalu.
“Kau….” barulah kim bum bersuara. “Kenapa kau berkeliaran di Seoul? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya kim bum enteng. Ia tak suka dan tak nyaman dengan kehadiran wanita ini.
“MWO? Berkeliaran katamu !??” Pekik wanita itu. “KAUUU !” Wanita itu terlihat geram.
Plaaak~~~~ wanita itu menampar pipi kim bum cukup keras. So eun dan nirin shock berat dengan apa yang mereka lihat.
Kim bum memegangi pipinya dan menatap tak suka wanita itu.
“Sekali lagi kau berani berkata tidak sopan padaku, aku tak segan untuk menamparmu tiga kali lebih keras !!!” Ancam wanita itu. Wajah wanita itu pun terlihat mengerikan kini, image seorang wanita feminim yang ada dipikiran so eun menghilang setelah melihat kelakuan wanita ini.
“K…kim bum-ssi, gwaenchana?” Bisik so eun. Kim bum hanya diam. kini bagaikan ada kilatan petir dari mata kim bum dan wanita itu saat bertatapan satu sama lain.
“Kim bum-ssi, siapa dia?” Tanya nirin. Kim bum berdecak sebal.
“Dia?” Kim bum menunjuk wanita itu. “Hehhh….” lalu ia memalingkan wajahnya dari wanita itu. So eun penasaran siapa sebenarnya wanita ini. Setelah melihat apa yang terjadi barusan, so eun berfikir mana mungkin jika wanita ini adalah wanita dimasa lalunya kim bum setelah mereka yang saling benci seperti ini.
“Dia……dia kakakku.” Jawab kim bum dengan nada tidak ikhlas. Wanita itu baru menyadari keberadaan dua orang perempuan di dekatnya- so eun dan nirin. So eun benar-benar kaget dan tidak menyangka bahwa wanita ini adalah kakaknya kim bum.
‘O…omo….jadi kim bum-ssi punya kakak perempuan?’ Batin so eun.
“Ah….apakah mereka temanmu?” Tanya wanita itu pada kim bum.
“Kenalkan mereka padaku !” Pintanya. Kim bum berdecak sebal.
“Annyeooooonnngggg………” kakak kim bum itu merubah ekspresinya yang tadi kelihatan menakutkan menjadi seramah mungkin saat menyapa so eun dan nirin. Ia tersenyum lebar kepada mereka.
“Senang bertemu dengan kalian, aku Kim Soo Jin. Terimakasih sudah mau berteman dengan adikku Bummie.” Kakak kim bum yang ternyata bernama kim soo jin ini memamerkan senyum terbaiknya. Kim bum malah merasa terganggu dengan sikap kakaknya yang dibuat seimut itu.
‘Bummie?’ Batin so eun. So eun menahan senyumnya, ternyata lelaki dingin dan kasar seperti kim bum dipanggil dengan nama seimut itu oleh kakaknya. So eun tidak menduga.
“Aku Shin ni rin.” Balas nirin seraya membungkukkan tubuhnya. Melihat nirin, so eun pun cepat-cepat ikut membungkuk.
“Aku Kim so eun, senang bisa bertemu dengan kakaknya kim bum-ssi.” Ujar so eun. Kim soo jin tersenyum.

 

-today love is begin-

 

“Aku tidak menduga ternyata kim bum-ssi punya kakak perempuan !” Ujar nirin kalem. Saat ini mereka berempat-kim bum, so eun, nirin, dan soo jin- sedang berada di cafe di dekat tempat tadi mereka bertemu.
“Oh jinjja? Apakah anak ini tidak pernah mengatakan sesuatu tentangku?” Tanya soo jin. Kim bum hanya menopang dagunya dan ekspresi wajahnya terlihat kesal. So eun hanya nyengir saja.
“Yeah….mungkin karena aku hanya datang ke Seoul setiap tiga tahun sekali. Aku tinggal dengan ibuku di Daegu.” Lanjut soo jin, lalu ia meminum jus alpukat pesanannya.
“So eun-ah, kau juga tidak tahu soal ini?” Bisik nirin. So eun menggeleng. Nirin mengangguk mengerti.
“Ah….apakah diantara kalian berdua ini semuanya temannya bummie?” Tanya soo jin.
“Ah iya, aku teman satu kelasnya.” Balas nirin. So eun mendadak kikuk dan gerogi. Untuk mengatakan ia adalah kekasihnya kim bum kepada kakaknya kim bum terasa sangat mendebarkan untuknya. Sejenak so eun menatap kim bum, tapi kim bum sedang melihat ke arah lain masih dengan menopang dagunya. So eun tahu pasti kim bum kesal karena kehadiran kakaknya.
“Aku…..aku kekasihnya.” Ujar so eun akhirnya. Kim bum langsung mengalihkan pandangannya pada so eun. Begitu pula soo jin yang terlihat agak kaget, pasalnya ternyata kim bum bisa juga punya kekasih.
“Heehhh….kekasih ya?” Gumam soo jin. “Kalau begitu, terimakasih karena sudah mau menjadi pasangannya bummie.” Soo jin tersenyum pada so eun, sementara kim bum berdecak sebal dengan kata-kata sok bijak yang keluar dari mulut kakaknya.
“Jika dia kurang ajar, beri saja dia pelajaran !” Lanjut soo jin.
“Eehh?” So eun tidak menyangka dengan respon positif dari kakaknya kim bum.
“Ah ya….baiklah…!!!” Jawab so eun semangat.
“Haaah….” soo jin menghela nafasnya.
“Sebenarnya aku masih ingin mengobrol bersama kalian disini. Tapi aku harus istirahat dan segera pulang.” Ujar soo jin, lalu ia bangkit dari duduknya.
“Memangnya kemana kau akan pulang?” Tanya kim bum.
“Tentu saja apartemenmu !” Jawab soo jin. Kim bum menghela nafasnya.
“Kau…..cepat kau bawakan koperku !” Perintah soo jin pada kim bum.
“Mwo? Kenapa kau tidak memanggil taksi saja? Merepotkan !!!” Kesal kim bum.
Pletaaaakkk~~~~ soo jin menjitak kepala kim bum dengan keras. Kim bum geram, soo jin berdiri menghadap kim bum dengan tatapan membunuhnya. So eun dan nirin mendadak takut.
“Baiklah jika kau tidak mau. Aku akan pergi ke apartemenmu lebih cepat darimu dan aku akan mengacak-acak semua bajumu lalu aku akan merobeknya seperti kertas !!! Seperti waktu itu.” Ancam soo jin dengan muka antagonis yang tergambar dari wajahnya. Kim bum akhirnya memilih pasrah dan membawa koper milik kakaknya itu.
So eun dan nirin menatap soo jin dengan takut. Ia tak menyangka jika wanita secantik dia begitu kejam terhadap sang adik.
‘Mereka ternyata begitu mirip’ batin so eun. ‘Cara mereka berbicara dan kata-kata kasar yang mereka ucapkan….wajah mereka yang berubah drastis menjadi menyeramkan….mereka ternyata memang mirip. Mungkin itulah alasan kenapa kim bum-ssi tidak pernah mau menceritakan keluarganya.’
“Baiklah kalau begitu kami pergi dulu, ne? Semoga kita bisa bertemu dan mengobrol lagi….sampai jumpa….” soo jin melambaikan tangannya pada so eun dan nirin sebentar lalu berjalan lebih dulu meninggalkan kim bum.
“Aku pergi.” Pamit kim bum pada so eun dan nirin. Lalu ia pun mulai menarik kopernya dan mengikuti soo jin. Kim bum sendiri tampak ogah-ogahan menarik koper itu.
“YAK….percepat jalanmu !!!” Suruh soo jin.
“Diam !” Kesal kim bum. Bagaimana bisa ia jalan dengan cepat disaat ia membawa koper yang seberat ini?
So eun dan nirin yang masih berada di dalam cafe hanya terbengong saja melihat tingkah mereka yang tidak akur.

 

-today love is begin-

 

“Dimana appa?” Tanya soo jin setelah mereka sampai di apartemen yang ditinggali kim bum bersama ayahnya.
“Dia masih bekerja, dia sedang berada di ilsan.” Balas kim bum. Soo jin langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa dan mengeluarkan ponselnya, kim bum menatapnya kesal.
“Hmmph…..dia masih gila kerja, huh?” Ujar soo jin. “Bukankah sia-sia saja dia bekerja keras untuk menghidupi keluarga tapi dia pun tak pernah menemui keluarganya?” Lanjut soo jin enteng.
“Itulah dia, kan?” Balas kim bum seraya meletakkan koper milik soo jin itu di dekat meja.
“Yeah baiklah….tapi aku juga sedikit merasa lega, aku akan tidur di kamarnya.” Ujar soo jin.
“Lebih baik daripada kau tidur di kamarku.” Balas kim bum lalu hendak berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.
“Selama libur dari kuliah, aku akan tinggal disini. Yeah mungkin sekitar 5 hari atau mungkin lebih.” Soo jin memberi tahu.
“HAH???” Kim bum mengurungkan niatnya menuju dapur. “Tidakkah itu terlalu lama? Bagiku hanya dua hari pun kau sudah cukup tinggal disini !!” Balas kim bum.
“KAUUU !!!!” Soo jin melayangkan bantal sofa yang ada di dekatnya kepada kim bum. Tapi dengan cepat kim bum menangkapnya dan menatap geram kakaknya itu.
“Kenapa kau benci sekali aku disini, huh? Aku hanya ingin berlibur di Seoul dan menghilangkan rasa penatku saat di Daegu….di Daegu tidak semaju di Seoul, kau tahu !? Aku akan menghabiskan waktuku di Seoul jika bisa sampai aku pingsan !” Jelas soo jin.
“Tsk…..” kim bum berdecak. “Terserah kau saja !” Balas kim bum akhirnya, lalu ia pun berjalan ke arah dapur.
“Ah ya…..ngomong-ngomong kekasihmu itu, Kim so eun-ssi kan?” Kim bum menolehkan wajahnya untuk melihat sang kakak. Tapi kemudian ia tak peduli dan masuk ke dapur untuk mengambil minum.
“Hmmmpph….ternyata masih ada perempuan yang tertarik dan tertipu dengan penampilanmu, huh?” Ejek soo jin. “Jatuh cinta kepada ‘bocah’ menjengkelkan sepertimu !!!” Lanjutnya.
Kim bum hanya menghela nafasnya. Ia sedang tidak ingin berdebat karena ia sedang lelah. Ia pun membuka pintu lemari es dan mengambil botol air mineral dari sana.
“Bahkan jika kau bukanlah adikku, aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu !” Ejeknya lagi.
Kim bum kembali menghela nafasnya. “Itu bukan urusanmu.” Ujarnya pelan.
“Heeeh….apa yang kau katakan!!??” Tanya soo jin curiga.
“Ani.” Jawabnya. Lalu kim bum meneguk air mineral itu dan menyenderkan punggungnya pada lemari es.
“Lagipula, kau pasti hanya bermain-main saja kan? Kau berpura-pura menyukainya dan bersikap ramah padanya, lalu tak lama kemudian kau akan menyakitinya, setelah itu kau akan memutuskannya. Haaah aku merasa kasihan kepada gadis itu.” Ujar soo jin enteng.
“Jika itu yang kau pikirkan, maka lebih baik kau tidak usah ikut campur !” Balas kim bum. Kim bum kembali meneguk air mineralnya.
“Yak ! Tentu saja aku harus ikut campur ! Aku tidak bisa membiarkan adikku yang kurang ajar ini bersikap seperti itu kepada perempuan !” Soo jin marah-marah. Kim bum menghela nafasnya lalu berjalan keluar dari dapur.
“Itulah kenapa, semuanya akan baik-baik saja selama aku tidak bermain-main kan?” Balas kim bum dengan kalemnya.
Mendengar jawaban yang keluar dari mulut adiknya itu soo jin merasa kaget. Ia tak pernah menyangka adiknya akan mengatakan kata-kata seperti itu.
Soo jin menatap kim bum masih dengan wajah bengongnya, kim bum menatap soo jin dengan tatapan aneh.
“Aigoooooo…..tidak mungkin !!! Jadi maksudmu, kau itu serius dengannya?” Pekik soo jin. Kim bum diam.
“EEEHH……..BWAHAHAHAHAHAHAH…..kau bercanda kan??? Mana mungkin bocah sepertimu…..” soo jin menggantungkan ucapannya.
“HAHAHAHAHAHA aigoooo.” Soo jin tertawa hingga ia memegangi perutnya. Kim bum merasa terganggu dengan reaksi kakaknya itu.
“Apakah ada yang lucu?” Kesal kim bum.
“Ekekekk….” soo jin menghapus air matanya yang keluar akibat tertawanya yang puas itu.
“Membayangkan kau memang sungguh-sungguh dan serius dengan kim so eun-ssi entah kenapa membuatku ingin tertawa…..tiga tahun tidak bertemu, kau sudah banyak berubah, huh? Sepertinya aku harus mengatakan ini kepada eomma ekekekk…..” ujar soo jin.
“Yak…..” kesal kim bum. “Ini bukan urusanmu, jadi jangan ikut campur !” Suruh kim bum lalu segera masuk ke dalam kamarnya.
Slaaaam~~~ kim bum menutup pintunya dengan keras. Melihat reaksi kim bum yang seperti itu membuat soo jin berpikir.
“Hmmm….jadi dia benar-benar serius huh? Aku benar-benar tidak percaya…..” gumam soo jin.

 

-today love is begin-

 

Keesokan harinya, Hari Minggu

So eun masih tertidur nyenyak di kasur empuknya. Maklumlah hari ini hari libur jadi pukul 8 KST ia masih asik bergumul dengan selimutnya.
Drrrrttt drrrttttt drrrrttt
Barulah disaat ponselnya bergetar, so eun mulai membuka matanya meskipun terasa sulit. Masih dengan setengah tidur, so eun pun menjangkau ponselnya yang ia simpan di meja di samping tempat tidurnya. Dia menatap layar ponselnya itu, ada sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
“Yeobosaeyo?” Jawab so eun masih dengan suaranya yang lemas.
“Ah kim so eun-ssi? Mian…..apakah aku membangunkanmu?” Tanya orang disebrang sana.
“Hmmm….ani….siapa ini?” Tanya so eun.
“Ah, aku kakaknya bummie….” jawab orang itu yang ternyata adalah kim soo jin.
Mengetahui yang menghubunginya adalah kakak sang kekasih, dalam hitungan detik so eun langsung mendudukan dirinya di atas kasur.
“Ah ne, selamat pagiiii !” Suara so eun mendadak bersemangat. Ia tak menyangka kakaknya kim bum akan menghubunginya sepagi ini.
“Mian aku terlalu mendadak menelponmu, kau pasti kaget kan?” Tanya soo jin.
“Aniyo !!! Gwaenchanaaa !!” Balas so eun cepat.
“Ngomong-ngomong aku mencuri nomor ponselmu dari ponselnya bummie hahaha, jika dia tahu aku menyentuh ponselnya mungkin dia akan mengusirku haha.” Cerita soo jin.
“Aah…benarkah?” Tanya so eun. “Jadi kim bum-ssi tidak mengetahuinya?”
“Yeah, setelah aku mencuri nomormu, dia lalu pergi ke rumah temannya.” Jawab soo jin.
“Arasseo.” Balas so eun.
“Ah ya kim so eun-ssi~~~ apa hari ini kau punya waktu?” Tanya soo jin.
“Ah iya…aku tidak punya rencana apapun hari ini.” Jawab so eun.
“Sungguh?” Tanya soo jin memastikan, nada suaranya terlihat senang. So eun mengerutkan keningnya.
“Kalau begitu bagaimana jika kita bertemu jam 10 nanti??? Semenjak bummie pergi, aku tidak ada teman~~” ajak soo jin. Mata so eun membulat. Ia tidak menyangka soo jin akan mengajaknya bertemu. Apakah ini pertemuan khusus yang dibuat soo jin untuk lebih mengenal kekasih adiknya??? Jantung so eun berdebar lebih kencang dari biasanya.
“So eun-ssi???” Soo jin heran karena so eun tak kunjung menjawab.
“Ah ya baiklah~~~” jawab so eun akhirnya dengan bersemangat.
“Aku senang mendengarnya, kalau begitu sampai bertemu nanti so eunnie~” soon jin langsung memutuskan sambungan telponnya.
“So eunnie?” Gumam so eun.

 

-today love is begin-

 

Saat ini so eun dan soo jin sudah berada si sebuah cafe di jalanan apgujeong. Mereka duduk berhadapan. Makanan yang mereka pesan belum tiba.
“Maaf sudah merepotkanmu untuk menemuiku.” Ujar soo jin.
“Ah….gwaenchana.” balas so eun. Entah kenapa melihat soo jin menatapnya membuat so eun tegang.
“Kau tahulah aku tidak terlalu mengenal Seoul, kemari pun hanya tiga tahun sekali. Dan anak itu malah pergi ke rumah temannya, aku tidak punya teman lain selain kau so eunnie.” Jelas soo jin. “Boleh kan aku memanggilmu so eunnie? Agar terasa lebih dekat.” Lanjut soo jin.
“Ah….” pipi so eun bersemu merah. “Gwaenchana eo…eonni.” balas so eun. Soo jin tersenyum.
“Ah ya….dan juga selain itu aku ingin bertemu dengan so eunnie secara pribadi.” Ujar soo jin. So eun cukup kaget. Seperti yang ia duga sebelumnya, mungkin kakaknya kim bum ingin mendekatkan dirinya dengan so eun.
‘Gilaaa ini benar-benar membuatku tegang !!! Lebih tegang daripada kim bum-ssi yang akan menciumku !!!’ Batin so eun. ‘Aku penasaran, apakah maksud soo jin eonni ingin bertemu denganku secara pribadi adalah karena ia ingin mengujiku apakah aku cocok dengan adiknya atau tidak?? Ah….ini sangat menakutkan !!!! Tapi bagaimanapun juga, mungkin ini adalah kesempatanku untuk mengambil hatinya soo ji eonni juga’ so eun berupaya menyemangati dirinya sendiri.
“Oh….jinjjaru? Aku senang jika eonni ingin bertemu denganku secara pribadi hehehe.” Ujar so eun. “Jika kau ingin, aku bisa menghabiskan waktuku bersamu soo jin eonni, aku akan menemanimu kemanapun kau ingin pergi hari ini.” Lanjut so eun dengan senyum lebarnya. Soo jin menatap so eun takjub.
“Aigoooo…..jinjja? Jeongmal gomawoyo so eunni….kau memang gadis yang baik.” Puji soo jin.
“Eheheheh.” So eun hanya nyengir saja. Tak lama dari itu, makanan pesanan mereka pun datang. Mereka memilih untuk menikmati makanan mereka dulu sembari mengobrol sedikit-sedikit.
“So eunnie….” ujar soo jin, ia menatap so eun cukup serius. So eun langsung berhenti mengunyah dan membalas tatapan soo jin. Tiba-tiba saja ia deg-degan lagi.
“Apa kau benar-benar menyukai adikku?” Tanya soo jin. Dengan cepat so eun mengangguk yakin.
“Aku sangat menyukai kim bum-ssi, lelaki yang membuatku jatuh cinta hanya dia !” Jawab so eun. Soo jin terkekeh mendengarya. So eun menatap soo jin bingung.
“Aku hanya tidak menyangka, adikku yang menyebalkan seperti itu bisa disukai oleh perempuan baik sepertimu.” Ujar soo jin. Pipi so eun memerah seketika. Bolehkah ia menganggap ucapan soo jin barusan sebagai pujian?
Soo jin menghela nafas. “Kau tidak menyesal berkencan dengannya? kau pasti sudah mengenal betul sifatnya kan? Adikku kasar dan tak berperasaan.” Ujar soo jin.
“Ani…..aku sama sekali tidak menyesal !” Jawab so eun cepat. “Sekarang dia sudah sedikit berubah, memang dulu dia selalu berkata kasar dan bersikap seenaknya bahkan kepada kekasihnya sendiri. Tapi aku senang, sekarang dia sudah sedikit berubah.” Jawab so eun.
“Jinjjayo?” Soo jin tak menyangka. So eun mengangguk yakin.
“Heeeh aku sedikit lega, perempuan yang menjadi kekasih adikku adalah so eunnie.” Ujar soo jin. So eun mendadak malu. “Tampaknya so eunnie sudah banyak merubah adikku. Pada awalnya aku sangat kaget dan benar-benar tidak percaya, bahwa dia begitu serius denganmu.” Lanjut soo jin.
“Ne?” So eun belum mengerti.
“Haaaah……” soo jin mengeluarkan nafasnya dengan lega. Ia menyudahi makannya.
“Setelah ini, temani aku ke mall ya so eunnie?” Pinta soo jin. Ia mengabaikan pertanyaan so eun. “Aku ingin berkeliling jika bisa sampai aku pingsan haha.” Lanjutnya.
“Ah ye……” Jawab so eun dengan bersemangat.

 

-today love is begin-

 

So eun menemani soo jin berbelanja di sebuah mall, so eun berjalan kesana kemari mengikuti soo jin yang memeilih-milih baju di lantai 2, lalu mereka pergi ke lantai 3 dimana tempat semua macam tas berada, setelah itu soo jin menuju lantai 4 untuk membeli sepatu. So eun sendiri tidak menyangka soo jin akan berbelanja sebanyak itu. Ia cukup kelelahan harus mengikuti soo jin yang sedikit agak rewel ketika memilih baju, tas, dan sepatu. Beberapa kali soo jin memilih baju dan mencobanya, tapi kemudian dia tak jadi membelinya dan kembali memilih baju yang lain.
“Soo jin eonni, apakah sudah selesai?” Tanya so eun setelah soo jin membayar di kasir dan membawa barang-barang belanjaannya yang bejibun.
“Belum, masih ada yang harus aku beli. Dimana tempat perhiasan dan aksesoris so eunni?” Tanya soo jin. So eun serasa ingin terjun saja dari lantai 4 ini. Tangan soo jin sudah dipenuhi oleh kantong belanjaan, tapi masih ada yang harus dibeli??????
“Itu….di lantai 8 eonni.” Jawab so eun.
“Oh? Baiklah kajjaaaa !” Soo jin berjalan lebih dulu. Sementara so eun mengikutinya dari belakang dengan langkah gontai.
“Dia sama sekali tidak terlihat kelelahan.” Gumam so eun takjub.
Mereka berdua-soo jin dan so eun- sudah berada di depan lift. Namun sepertinya lift sedang penuh sehingga mereka menunggu cukup lama. Soo jin terlihat tak sabaran.
“Ah kalau sepeti ini lebih baik naik elevaror saja !” Ujar soo jin. So eun langsung melongo menatap soo jin.
“Elevator? Jinjja? Dari lantai 4 menuju lantai 8? Eonni…..itu akan sangat melelahkan !” Ujar so eun.
“Gwaenchana……akan lebih baik juga dari pada naik tangga kan? Aku masih kuat, lagi pula aku masih harus pergi ke toko kue, buku…..yeahhh aku sangat ingin menghabiskan waktu sampai kakiku tak mampu menopang tubuhku lagi hahaha.” Balas soo jin. So eun melongo hebat.
“Tapi eonni, tidakkah lebih baik kita menunggu sebentar lagi?” Tanya so eun.
“Waeyo so eunni? Apa kau lelah? Jika kau lelah kau bisa beristirahat ! Aku sendiri saja ke lantai 8, jangan memaksakan dirimu !” Balas soo jin. So eun menggeleng cepat.
“Aniyooo !!! Aku sama sekali tidak lelah !!!” Dusta so eun.
“Jinjja???” Soo jin memastikan.
“Ne…..aku akan menemani soo jin eonni.” Balas so eun.
“Baiklah…..kajjaaaa !!!” Soo jin berjalan diikuti dengan so eun. Bisa dibayangkan dari lantai 4 sampai lantai 8? Meskipun menggunakan elevator tapi tetal saja kaki so eun sudah benar-benar lelah dan ia tidak mampu lagi berjalan, hingga akhirnya saat so eun sudah sampai di lantai 8 ia memilih duduk dikursi yang ada disana. Sementara soo jin sibuk memilih beberapa aksesoris.
Setelah dari mall, lalu mereka pergi ke toko buku. Kemudian ke toko kaset, toko kue, dan ke beberapa tempat yang inhin didatangi oleh soo jin. Kaki so eun sampai gempor karena kakinya terus bergerak kesana kemari hingga sore seperti ini. So eun tidak bisa protes begitu saja kepada soo jn, memngingat dia adalah kakaknya kim bum. Dan sekarang so eun bisa bernafas lega, ia bisa duduk mengistirahatkan kakinya yang sudah benar-benar kelelahan. Saat ini, so eun dan soo jin sedang berada di sebuah cafe. Karena soo jin merasa lapar, dan so eun yang sangat ingin beristirahat, akhirnya mereka pergi ke sebuah cafe terdekat. Soo jin memesan jus stoberi dan juga makanan manis, sementara so eun hanya memesan jus lemon saja, tapi sampai tiga gelas saking ia hausnya.
“Wooooah gomawo so eunnie, ini benar-benar menyenangkan.” Ujar soo jin menatap so eun dengan wajah gembira. So eun memaksakan senyum cerahnya.
“Jika eonni senang, aku juga senang hehe.” Balasnya.
“Ah ya aku sampai lupa….” ujar soo jin.
“Ne?” Tanya so eun.
“Sebenarnya……alasan aku mengajakmu bertemu adalah karena aku ingin berbicara soal bummie denganmu.” Ujar soo jin. So eun menatap soo jin dengan penuh tanda tanya.
“Sifat bummie memang seperti itu, kasar dan yeah…..menyebalkan. Orang tua kami bercerai saat bummie masih berumur 5 tahun dan umurku 9 tahun. Eomma membawaku ke Daegu dan bummie tetap tinggal di Seoul bersama appa. Pada waktu itu bummie merengek dan menangis habis-habisan karena ia ingin ikut bersama eomma, tapi reaksi yang diberikan eomma malah dingin terhadapnya. Bahkan ia tidak pergi untuk memeluk bummie dan menghapus air matanya. Eomma malah tak menunjukkan sama sekali wajahnya di depan bummie. Dan appa menahan tubuh bummie yang terus berontak ingin bersama eomma. Tanpa berkata apapun, eomma langsung membawaku pergi meninggalkan bummie. Tangisan dia semakin keras dan aku juga ikut sedih pada saat itu. Saat aku dan eomma sudah sampai menaiki bus, barulah eomma menangis. Aku tahu, sebenarnya eomma juga sedih meninggalkan bummie, tapi inilah yang hanya bisa ia lakukan.” Cerita soo jin panjang lebar. So eun mendengarkan dengan seksama cerita dari soo jin itu. Akhirnya ia jadi cukup mengerti mengenai masalah kim bum dengan ibunya. Ternyata kim bum adalah seorang anak malang. So eun jadi iba.
“Dan pasti kau juga terkejut kan dengan sikapku yang kasar padanya?” Tanya soo jin. So eun menatap soo jin bingung, bingung ia harus berekasi seperti apa.

 

Flash Back

Enam tahun yang lalu. Soo jin dan semua teman satu kelasnya pergi ke seoul dalam acara studytour sekaligus penelitian mengenai tumbuhan yang tercemar polusi. Saat itu, soo jin tak sengaja melihat kim bum tengah duduk di sebuah bangku di dekat tempat penelitiannya. Soo jin tentu saja terkejut, tidak menduga bahwa secara kebetulan ia akan bertemu dengan adik satu-satunya. Ia pun menghampiri kim bum untuk memastikan.
“Bummie?” Tanya soo jin saat ia sudah berada di depan kim bum. Kim bum yang sedang asik bermain game lewat ponselnya pun perlahan mengangkat kepalanya. Ia menatap soo jin dengan ekpresi datar. Bahkan tatapannya terlihat jika ia tidak senang dengan kehadiran orang lain di dekatnya. Tapi nampaknya soo jin tidak peduli, saking rindunya pada sang adik ia pun langsung memeluk kim bum. Kim bum kaget.
“Kau sudah tumbuh besar rupanya.” Ujar soo jin. Kim bum langsung melepaskan pelukan soo jin dan ia berdiri dari duduknya.
“Apa-apaan kau? Kenapa kau memelukku dengan tiba-tiba?” Kesal kim bum.
“Yak bummie, kau tidak ingat denganku?” Soo jin menunjuk dirinya sendiri.
“Untuk apa aku mengingat orang yang sudah lama tidak aku lihat.” Balas kim bum enteng. Soo jin terbelalak. Apakah remaja laki-laki yang berdiri di hadapannya ini benar-benar adiknya?
“Mwo?”
“Kau…..kenapa kau tiba-tiba muncul di Seoul?” Itulah pertanyaan yang keluar dari mulut kim bum. Soo jin geram.
“KAU !!!”
PLAK~~~ Soo jin menampar pipi kim bum cukup keras. Kim bum membukatkan matanya.
“KENAPA KAU MENAMPARKU???” Teriak kim bum.
“APAKAH ITU SIKAPMU SAAT KAU BERTEMU LAGI DENGAN KAKAKMU YANG SUDAH LAMA TIDAK BERTEMU?” Soo jin balas berteriak.
“MEMANGNYA KENAPA JIKA HANYA BERTEMU? AKH APPO !” Kim bum memegangi pipinya yang bekas di tampar soo jin.
“Siapa yang telah mengajarkanmu bersikap seperti ini? Apakah kau bergaul dengan preman huh? Sudah lama tidak bertemu, sikapmu benar-benar membuatku takjub !” Ujar soo jin.
“Tsk….kau sungguh banyak bicara, kau mengangguku saja.” Kim bum lalu berjalan meninggalkan soo jin.
“Yak mau kemana kau? Aku belum selesai bicara denganmu !” Soo jin menahan baju adiknya itu.
“Apa yang kau lakukan?” Kesal kim bum.
“Yak…..eomma merindukanmu ! Datanglah ke Daegu !” Pinta soo jin.
“Dia tidak merindukanku !” Balas kim bum. “Seharusnya dia yang mengunjungiku, bukan anaknya !” Lanjutnya. Soo jin menatap kim bum kaget. Kim bum melepaskan tangan kakaknya yang menahan bajunya, lalu ia pun pergi.
“Yak bummie…..”
“Soo jin-aaaaahhh~~~~~” soo jin mengurungkan niatnya untuk menahan kim bum kembali karena temannya memanggil.
“Apa yang sedang kau lakukan? Kita harus segera menyelesaikan penelitiannya !” Teriak temannya itu.
“Ah ya….” balas soo jin. Sebelum menghampiri temannya, soo jin kembali melirik ke arah kemana tadi sang adik pergi.
“Awas kau…..lihat saja apa yang akan aku lakukan.” Geram soo jin, lalu ia pun menghampiri teman-temannya.

End of Flash Back

 

“Yah seperti itulah, setelah kejadian itu beberapa minggu kemudian aku kembali ke Seoul lalu merobek-robek semua baju anak itu.” Cerita soo jin. So eun hanha bisa mendengarkan saja cerita soo jin tanpa bisa memberikan komentar. Itulah alasannya kenapa kim bum bersikap dingin dan kasar. Yah, so eun mengerti sekarang.
“Sikapku yang kasar padanya juga aku lakukan karena aku tidak ingin hubungan persaudaraan dengannya menjadi canggung, jika aku selalu bertengkar dengannya aku merasa nyaman karena aku tak merasa canggung.” Ujarnya. So eun mengangguk.
“Ah ya, mungkin sekitar minggu depan aku akan kembali ke Daegu. Bisakah aku meminta bantuan padamu so eunnie?” Tanya soo jin.
“Ne?” Tanya so eun.
“Eomma….sudah bertahun-tahun dia tudak bertemu dengan bummie, semenjak perceraian itu. Bisakah kau membujuk bummie untuk pergi ke daegu dan bertemu dengan eomma?” Pinta soo jin. So eun diam seraya berfikir sejenak.
“Semenjak kau adalah kekasihnya, mungkin dia akan menuruti permintaanmu.” Ujar soo jin. So eun akhirnya mengangguk.
“Baiklah, aku akan mencoba berbicara dengannya.” Balas so eun. Soo jin tersenyum.
“Gomawoyo so eunnie~”

 

-today love is begin-

 

Kim bum sedang berada di rumah il woo. Dia sedang asik membaca komik milik ilwoo, sedangkan yang empunya sedang heboh sendiri bermain game di PS4 nya.
“AAHHH GILAAAA !!!!” Tiba-tiba il woo berteriak karena ia baru saja kalah main. Kim bum mendelik menatap il woo yang sampai guling-guling.
“Manusia aneh.” Gumamnya, lalu kembali hanyut ke dalam komik.
Ddddrrrtttt…….dddrrrtttt……drrrttttt
Ponsel kim bum bergetar, dengan ogah-ogahan ia pun meraih ponselnya yang tergeletak tak berdaya di kursi di samping tempatnya duduk. Ternyata kakaknya yang menelpon.
“Ya….ada apa?” Tanya kim bum langsung.
“Cepat temui aku di jalan di dekat MR cafe !” Balas soo jin.
“HAH?”
“Aku bilang, temui aku di jalan di dekat MR cafe !!!” Soo jin mengulang perkataannya
“Kenapa aku harus kesana? Menyusahkan !” Balas kim bum.
“Yak !!! Aku membawa banyak barang belanjaan ! Aku tidak bisa membawanya seorang diri !” Soo jin berteriak-teriak lewat telpon. Kim bum menjauhkan ponselnya daei telinga. Menatap ponsel miliknya dengan kesal.
“Lalu kenapa kau tidak memanggil taksi saja dan meminta orang lain membantumu? Apakah aku ini seorang budak? Kenapa juga harus membawa barang-barangmu!?” Kim bum kesal. Pasalnya sang kakak selalu menyusahkan dirinya. Padahal saat ini ia sedang bersantai ria di rumah il woo.
“Apa kau bodoh huh? Sudah jelas aku menghubungimu karena aku tidak bisa melakukannya, kan? Lagipula apa kau tak peduli dengan kekasihmu, huh? Kau akan mencampakkannya saja?” Tanya soo jin. Kim bum membulatkan matanya.
“So eun bersamamu??? Kenapa dia…..”
“Tidak penting alasan kenapa dia bersamaku. Yang penting adalah sekarang so eunnie tidak bisa berjalan, kakinya kram dan lecet.” Potong soo jin.
“Kau mengerti? Jika kau mengerti, maka cepatlah kemari !” Suruh soo jin.
“Apa kau melakukan sesuatu yang aneh padanya?” Tanya kim bum. Il woo yang kembali asik bermain game, melirik kim bum yang sedang bertelponan dengan ekspresi penuh tanda tanya.
“Ani….” balas soo jin. “Dia membuatku kesal, jadi aku memberikan kekasihmu sedikit pelajaran.” Dusta soo jin.
Kim bum terdiam mendengar perkataan soo jin barusan.
“Bum-ah, apakah ada yang terjadi?” Tanya il woo penasaran. Kim bum masih diam.

 

-today love is begin-

 

“Yak ! Kau telat !” Itulah yang pertama keluar dari mulut soo jin saat ia melihat kim bum baru saja datang.
“Lagipula siapa yang menyuruhmu menunggu?” Balas kim bum. “dimana dia?” Tanyanya karena ia tak melihat so eun bersama dengan kakaknya.
“Dia sedang di toilet.” Jawab soo jin.
“Bukankah kau bilang dia tak bisa berjalan?” Tanya kim bum. Soo jin mengangguk.
“Dia menolakku untuk membantunya, jadi dia ke toilet sendiri.” Balas soo jin.
“Tsk……” kim bum berdecak lalu hendak berjalan menuju ke toilet.
“Hei….kau mau kemana?” Tanya soo jin.
“Dalam situasi seperti ini aku tidak bisa hanya diam saja.” Jawab kim bum. Soo jin menatap kim bum takjub. Lalu ia tertawa.
“Hahaha kau memang banyak berubah.” Ujarnya.
Kim bum tak peduli, ia kembali melangkah menuju toilet. Tapi belum juga kim bum sampai disana, ia melihat so eun baru saja keluar dari toilet dengan langkah yang tertatih-tatih. Kim bum langsung menghampirinya.
“Yak….kau tidak apa-apa?” Tanya kim bum seraya membantu so eun.
“K…KIM BUM-SSI !!!” Kaget so eun. “Kenapa kau ada disini?” Tanya so eun. Kim bum tak menjawab, ia malah membantu so eun berjalan.
“Apa yang dilakukan perempuan itu hingga kau seperti ini?” Tanya kim bum.
“Ne?” tanya balik so eun.
“Ah so eunnie, apa kau sudah merasa lebih baik?” Soo jin berjalan menghampiri mereka dengan membawa barang belanjaannya yang bejibun di masing-masing kedua tangannya itu.
“Ah ye.” Balas so eun.
“Syukurlah, aku menghubungi bummie agar dia bisa mengantarmu pulang. Kau tahu kan belanjaanku sangat banyak jadi aku tidak bisa mengantarmu dengan keadaanku yang seperti ini.” Jelas soo jin. Kim bum langsung menatap soo jin.
“Hei bummie, antarkan so eunnie pulang ! Taksi sudah menungguku, aku duluan ya.” Pamit soo jin. Lalu ia pun pergi meninggalkan mereka-kim bum dan so eun- yang masih terbengong-bengong dengan soo jin. Kim bum bengong karena bukannya soo jin memintanya datang untuk membawa barang-barangnya? Dan so eun bengong kenapa soo jin malah meminta kim bum mengantarnya.
Kim bum pun kembali membantu so eun berjalan. Namun so eun terlihat sangat menahan rasa sakitnya.
“Wae?” Tanya kim bum. So eun menatap kim bum dengan wajah yang mengkhawatirkan.
Akhirnya mereka pun memilih duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari toilet itu. Kim bum berjongkok dan langsung membuka sepatu flat milik so eun tanpa meminta izin terlebih dahulu.
“Oucchh….” so eun meringis.
“Kakimu lecet, jempolnya juga bengkak.” Ujar kim bum. So eun mengangguk.
“Tunggu sebentar.” Ujar kim bum dan segera pergi untuk membeli plester. So eun hanya bisa diam dan menunggu di tempat. Memang, berjalan kesana-kemari dengan menggunakan sepatu flat ini cukup membuatnya tersiksa. Bahkan kakinya sampai lecet dan merah-merah seperti ini. So eun juga tidak bisa menyalahkan soo jin, karena ia sendiri yang terlalu memaksakan diri dan sudah terlanjut berkata bersedia menemani kakak sang kekasih kemana pun.
Tak lama kemudian, kim bum datang juga.
“Kakimu tidak akan terlalu sakit jika sudah di tempeli plester.” Ujar kim bum seraya menempeli plester itu di jempol dan beberapa bagian kaki so eun yang lecet.
“Gesekan antara jempol dan ujung kakimu tidak akan terlalu kasar karena terhalangi oleh plester.” Ujar kim bum lagi.
“Gomawo.” Balas so eun. Setelah selesai memasangkan plester di kaki so eun, kim bum pun berdiri.
“Ayo kita pulang !” Ajak kim bum. Namun so eun malah diam di tempat duduknya. Ia menatap kim bum dengan eskpresi seakan ia tidak kuat jika harus berjalan lebih lama lagi.
“Heeeeh…..” kim bum mendesah. Lalu berjongkok membelakangi so eun. So eun menatap bingung kim bum.
“Naiklah !” Suruh kim bum.
“Eh???”
“Kakimu sakit kan? Jad naiklah ! Aku tidak ingin mendengarmu merengek-rengek !” Ujar kim bum.
“Tapi…..aku berat, kau tahu?” Balas so eun. Kim bum memutar kepalanya untuk menatap so eun.
“Cepat !!! Orang-orang akan mengaggapku aneh karena berjongkok terus seperti ini !” Kesal kim bum.
Dengan perlahan so eun pun naik ke punggung kim bum. Tangannya membawa sepasang sepatu flatnya.
“Benarkan? Aku berat?” Tanya so eun setelah kim bum menggendongnya.
“Kau harus menurunkan berat badanmu !” Balas kim bum. So eun memanyunkan bibirnya tapi kemudian ia tersenyum. Ia senang, pasalnya baru pertama kali kim bum menggendongnya seperti ini, dan kim bum sendiri yang menawarkan diri. So eun sangat senang. Perubahan kim bum ternyata sangat pesat.
“So eun, memangnya apa yang telah wanita itu lakukan kepadamu?” Tanya kim bum.
“Maksudmu soo jin eonni?” Tanya so eun.
“Jika dia melakukan hal yang macam-macam dan aneh lagi padamu, aku tidak akan membiarkannya !” Ujar kim bum. So eun mengerutkan keningnya.
“Memangnya soo jin eonni telah membuat hal yang macan-macam denganku?” Tanya so eun bingung.
“Dia memberimu pelajaran makanya kakimu lecet seperti ini, kan?” Jawab kim bum.
“Heh? Pelajaran? Aniii…..” balas so eun. “Aku dan soo jin eonni sangat bersenang-senang hari ini, dia sama sekali tidak melakukan hal yang macam-macam padaku.” Lanjut so eun.
“Mwo? Tsk…..jadi dia membohongiku.” Ujar kim bum.
“Waeyo?” Tanya so eun. “Ani.” Jawab kim bum.
“Eiiii…..kau mengkhawatirkanku?” Goda so eun.
“Siapa yang tidak khawatir, huh?” Balas kim bum kesal. So eun tersenyum lalu memeluk leher kim bum.
“Lalu kenapa kakimu bisa lecet seperti itu?” Tanya kim bum.
“Ini karena……kami mengunjungi semua tempat dengan berjalan kaki…..soo jin eonni benar-benar kuat, huh? Aku saja sudah tidak kuat lagi.” Cerita so eun.
Kim bum menghela nafasnya. “Lain kali biarkan saja dia, jangan ikuti semua keinginannya !” Suruh kim bum. So eun mengangguk lalu tersenyum.
“Kim bum-ssi, bolehkan aku memanggilmu bummie?” Pinta so eun.
“Mwo? Shireo !” Tolak kim bum.
“Wae???? Soo jin eonni juga memanggilmu seperti itu ! Aku kekasihmu ! Apakah aku tidak boleh memanggilmu seperti itu juga???” Tanya so eun.
“Aku tidak suka dengan panggilan seperti itu !” Balas kim bum.
“Hmmppph…..kau tidak asik !!! Apakah harus terus memanggil satu sama lain dengan formal, kim bum-ssi…..so eun-ssi….seperti itu???” So eun memanyunkan bibirnya. Kim bum menghela nafasnya.
“Bum-ah, kau boleh memanggilku begitu.” Balas kim bum akhirnya.
“Eo???? Jinjja?” So eun senang. Kim bum mengangguk.
“Oke oke…..kau pun harus memanggilku so eun-ah !!!” Pinta so eun.
“Ara !” Balas kim bum.
“Hehehe…..” so eun memeluk leher kim bum tambah erat. Lalu so eun mendekatkan bibirnya ke telinga kim bum.
“Aku menyukaimu !” Bisiknya.
“Yak ! Kau membuatku merinding !” Protes kim bum karena hawa hangat yang keluar dari mulut so eun begitu terasa di telinganya. So eun malah tertawa.

 

-today love is begin-

 

Semua murid SMA Chungju sedang bergumul di depan papan pengumuman. Disana juga terlihat ada so eun yang sedang mendesak masuk ke dalam gumulan itu. Ya, hari ini adalah hari pengumuman hasil ujian mereka kemarin. Yang akan menunjukkan apakah mereka naik ke kelas tiga atau tidak.
“Woooooaaa !!!!” So eun berteriak.
“Daebaaaaak ! Nilaiku memuaskaaaaan !!!!” Semua orang yang ada disana spontan memusatkan perhatian mereka kepada so eun. Namun so eun tidak peduli. Yang penting sekarang adalah dia mendapat nilai yang memuaskan dengan hasil usahanya sendiri.
“Woooaah, kau hebat juga ternyata.” Tahu-tahu kim bum sudah berada di samping so eun. So eun menoleh dan melihat kim bum berdiri di sampingnya.
“Bum-ah…..kau lihat kan? Nilaiku tidak ada yang buruk !” Ujar so eun.
Kim bum mengangguk-anggukan kepalanya.
“Tapi kau tidak akan pernah bisa mengejar nilaiku.” Balas kim bum.
“Huh?” So eun bingung. Lalu kim bum menunjuk ke arah paling kiri papan pengumuman dengan telunjuknya.
Di peringkat satu sesekolah, tertera nama Kim sang beom disana. So eun membulatkan matanya, lalu menatap kim bum takjub. Kim bum hanya tersenyum saja lalu menunjuk peringkat so eun dengan menggerakkan kepalanya. So eun melihat peringkat dirinya.
“235?” Gumamnya. “Sejauh itukah????” Ujarnya lagi.
“Yak bum-ah…..kau licik sekaliiiii~” rengek so eun.
“Kapasitas otakmu tidak sama denganku, jadi bermimpi sajalah jika kau ingin mendapat nilai sempurna !” Ejek kim bum.
“Aiuuuhh….kau kejam sekali !” So eun hendak memukul dada kim bum tapi kim bum keburu menahan lengannya. Kim bum terkekeh.
“Kau ingin kemana hari ini?” Tanya kim bum belum melepaskan tangan so eun.
“Huh? Aku tidak akan kemana-mana.” Jawab so eun polos. Kim bum menghela nafasnya.
“Apakah aku harus mengulang tiap pertanyaanku?” Ujar kim bum kesal. So eun malah menatap kim bum dengan wajah yang polos dan itu semakin membuat kim bum gemas.
“Hari ini, jika kau ingin pergi ke suatu tempat, katakan padaku!” Suruh kim bum. “Aku akan mengabulkannya.” Lanjut kim bum.
“Huh?” Tiba-tiba so eun teringat dengan perkataan soo jin untuk membujuk kim bum menemui ibunya di Daegu.

 

-today love is begin-

 

Saat ini, kim bum dan so eun sedang duduk di bangku taman sekolah. So eun yang meminta kim bum untuk berbicara disini. Dan kim bum menurutinya.
“Yasudah, katakan !” Suruh kim bum. So eun terlihat memain-mainkan jari tangannya. Ia ragu untuk mengatakannya kepada kim bum. Namun, karena melihat suasan hati kim bum yang terlihat baik saat ini, jadi so eun memutuskan untuk mengatakannya sekarang juga.
“Mmmm….” so eun perlahan menatap kim bum. “Bum-ah….” panggilnya. Kim bum balas menatap so eun.
“Aku….ingin ke Daegu.” Ujar so eun.
“Mwo???” Mata kim bum membulat. “Kenapa kau……”
“Aku ingin bertemu dengan ibumu.” Potong so eun. Kim bum terdiam. Ia menatap so eun tanpa berkedip dengan wajah kagetnya. Bagaimana bisa so eun mengatakan daegu dan ibunya semudah itu?
“Yak…..siapa yang menyuruhmu?” Marah kim bum. Suasana hati kim bum sekarang sudah berubah.
So eun menggeleng. “Tidak ada yang menyuruhku.” Balas so eun.
“Tsk…..sungguh !” Kim bum kesal.
“Bum-ah, ibumu sudah lama tak bertemu denganmu, dia sangat merindukanmu ! Temuilah dia !” Ujar so eun. Kim bum menatap so eun dengan tatapan tajam, lalu ia berdiri dari duduknya.
“Kau tidak tahu apa-apa tentang ibuku !” Marah kim bum.
“Bum-ah….panggil so eun.
“Tsk……” Kim bum lalu pergi meninggalkan so eun. Namun so eun keburu mencegahnya, ia menahan baju kim bum.
“Bum-ah…..bagaimana pun juga dia ibumu.” Ujar so eun. Kim bum melepaskan tangan so eun yang memegang bajunya cukup keras.
“Kau tidak mengerti apa-apa ! jadi jangan ikut campur meskipun kau kekasihku !” Perintah kim bum. Lalu meninggalkan so eun tanpa berkata apa-apa lagi. So eun terdiam di tempatnya. Ia tahu dan ia mengerti, kenapa kim bum sebegitu tidak sukanya kepada ibunya setelah ia mendengar cerita dari soo jin. Tapi bagaimana pun juga, seorang ibu pasti akan selalu merindukan anaknya kan?

 

-today love is begin-

 

Kim bum pulang ke rumah dengan suasana hati yang tidak baik. Ia marah dan kesal. Ia sampai membanting pintu rumahnya cukup keras. Membuat soo jin yang sedang tiduran di sofa seraya menonton televisi sangat kaget.
“Yak…..” kesal soo jin. Tapi kim bum tak menghiraukannya, dan langsung berjalan menuju kamarnya. Soo jin mengerutkan keningnya.
“Hey….soal so eunni….” ujar soo jin tiba-tiba. Kim bum mendadak menghentikan langkahnya dengan tangan yang sudah memegang knop pintu.
“Aku menyukainya, dia gadis yang baik dan penuh semangat.” Ujar soo jin. “Jadi, suatu hari nanti aku ingin mengajaknya ke Daegu !” Lanjutnya.
Kim bum langsung memutat kepalanya untuk melihat soo jin dengan mata yang sudah membulat.

 

To Be Continued

Bukannya apa-apa ya, tapi saya cuman agak kesel aja sama readers yang cuma ngomen “daebak”, “next thor”, “cepet lanjut ya thor”, bahkan ada ya cuma komen “(y)” doang di ff saya HAHAHAHAHA……Saya udah capek-capek nulis, tapi tanggepan kalian cuman kaya gitu aja…..yah tapi saya gak peduli, lebih mending ada yang komen seperti itu daripada yang gak komen sama sekali (SILENT READERS) Jujur aja ya saya suka banget sama komen yang panjang yang bacanya tuh bikin saya jadi bersemangat buat lanjutin ff nya….tapi yaaaah saya gak maksa, terserah pads diri readers aja….saya juga udah bersyukur masih ada yang mau komen. Maaf ya kalo misalkan ada yang tersinggung, saya gak bermaksud apa-apa….cuman ingin melupkan saja……oh ya buat ending dari part ini, kemungkinan akan saya PROTECT. Bagi readers yang mau tanya soal PASWORD bisa lihat AKUN FB SAMA TWITTER AUTHOR DI ABOUT AUTHOR. Kalian bisa Add atau follow saya. Bisa juga invite BBM saya 75ADDEB8. Jangan lupa sertakan ID kalian saat meminta PASWORD. ID yang kalian gunakan saat berkomentar di ff saya. Thanks