THIS IS MY LIFE ! NOT YOUR LIFE ! (PART 2)

THIS IS MY LIFE ! NOT YOUR LIFE !

 

this is real become from my inspiration, don’t coppy without my permission…leave u’re comment after u read…gomawo🙂

 Enjoy this !!!

 

Author : Resi R.

Cast : Kim Sang Beom, Kim So Eun

Other cast : Jung So Min, Jung Il woo, Lee Min Ho, Park Min Young, Yoo Ah In, Park Shin Hye.

Genre : sequel, friendship

PART 2

Kim bum pulang. Kameranya selamat, tak rusak walaupun sedikit basah akibat guyuran hujan (?). Kim bum mengeringkan rambutnya dengan handuk. Duduk di sebelah min ho yang sedang santai menonton televisi. Noona nya sibuk menyiapkan teh hangat untuk adiknya dan suaminya.

“bagaimana hari pertamamu kuliah?” tannya min ho.

“biasa saja” jawab kim bum. Mengantungkan handuk pada lehernya. Lalu memeriksa keadaan kamera kesayangannya. Apakah begitu berharga? Tentu saja karena di dalam kamera itu tersimpan banyak hasil foto yang ia ambil. Termasuk yah……wanita itu…..ia anggap berharga.

Kim bum mengotak-atik kameranya. Bagus, tidak terjadi apa-apa. Ia tersenyum.

Datanglah min young menghampiri mereka dan menaruh dua cangkir teh hangat di depan meja. Lalu duduk di sebelah min ho.

“ah nae chagi perhatian sekali” puji min ho, tersenyum lebar kea rah min young.

“benar, aku sangat perhatian pada suami dan adikku….” Min young membanggakan dirinya. Sekarang hujan tak terlalu deras. Kehangatan suasana mereka bertiga terlihat baik.

“kim bum, sebenarnya kau habis dari mana? Jangan bilang jika kau pergi untuk memotret?” Tanya min young.

“selain itu apa lagi yang aku lakukan. Noona sudah tahu itu hobiku.lalu untuk apa aku masuk jurusan photographer? Hanya bermain-main. Tentu tidak” jawab kim bum menatap min young.

“lama tak bertemu dengan adikkku, ternyata pikiranmu sudah dewasa…..” min young tersenyum melihat adiknya berubah. Lelaki dewasa. Yeah…….

“lagi-lagi kalian membiarkanku” ujar min ho. Merasa cemburu pada kim bum. Tidak ! iri melihat mereka sungguh akrab….hahaha ada apa? Kim bum hanya adiknya. Min ho tiba-tiba tertawa.

“ada apa denganmu?” Tanya min young.

“aku rasa min ho hyung mulai gila…..” sambar kim bum.

“dia memang gila” tambah min young.

“istri macam apa kau ini?” min ho mendelik, tak terima. Istri dan adik ipar sama saja.

“ah ani ani….aku bercanda….” Min young  tersenyum.

“lebih baik kalian bermesra-mesralah….” Kim bum beranjak dan berlalu menuju kamarnya.

“apa ada yang aneh dengannya?” Tanya min young.

“mungkin…..kameranya !!!” min ho menduga-duga.

###

Kim bum duduk di tepi kasur empuknya. Menghela nafas lalu berbaring disana.

Ia melihat foto wanita itu….apakah ia penasaran? Atau atas dasar apa tiba-tiba sekarang ia terus terbayang oleh wanita itu. Memikirkannya.

“apa dia masih ada di sana?” gumamnya. “di saat hujan seperti ini?” aish kenapa jadi memikirkan seorang wanita yang tak ku kenal.

Kim bum berulang kali melihat foto wanita itu.  Sampai berhenti pada salah satu foto, dan mengamatinya. Dengan jelas wajahnya terlihat….seperti itu? Kenapa? Apa dia wanita yang punya banyak masalah??? Beberapa pertanyaan muncul di pikiran kim bum setelah meliahat wajah wanita itu dengan jelas saat kim bum berhasil mendapatkan fotonya yang ia perbesar.

“kenapa aku merasa….dia masih diam di sana? Saat ini sedang hujan. Apa dia sengaja ingin menyakiti diri sendiri?” kim bum bertanya pada diri sendiri.

Kembali mengamati wajah wanita itu.

“dari wajahnya….apa dia wanita yang baik-baik saja? Aku tidak yakin……”

Kim bum menggaruk kepalanya. Untuk apa aku terlalu pusing memikirkan wanita itu. Sudahlah !”

###

Sang kakek khawatir karena so eun belum pulang juga, atau tidak akan pulang? Sang kakek terus gelisah menunggu kabar dari supirnya yang sudah ia perintahkan untuk mencari so eun. Saat ini hujan belum juga reda.

Tak lama, datanglah so eun dengan basah kuyup….tubuhnya menggigil kedinginan. Lalu kenapa so eun melakukannya?

“cucuku !” sang kakek berlari menghampiri so eun. So eun sudah pulang.

“kenapa? Kau tidak apa-apa?” sang kakek sangat khawatir.

So eun menggelengkan kepalanya.

“aku baik-baik saja” jawabnya pelan lalu pergi menuju kamarnya.

“jangan seperti ini lagi….kakek tidak ingin kau sakit…..” ujar sang kakek.

So eun hanya terus melangkah. Semuanya basah.

So eun menutup pintu kamarnya. Cukup diam disana selama beberapa detik. Air matanya menetes lagi. Sudahlah cukup ! menangis itu sungguh capek tak seperti yang kau kira. Aku tidak ingin menangis. Tapi kenapa harus menangis. Ini sudah lewat tiga tahun !!!

So eun mengganti bajunya lalu diam beberapa saat sebelum ia membaringkan tubuhnya pada kasur. Perlahan di tarik selimutnya hingga menutupi tubuh mungilnya. Sepertinya kedinginan setelah hal bodoh yang ia lakukan barusan.

‘Berharap besok bisa lebih baik’. Itulah harapannya saat memejamkan mata.

###

Kim bum pov

Hari yang cukup cerah. Hal pertama yang aku sambut ketika memasuki kelas photographer adalah tersenyum. Suasana cukup gaduh sehingga aku duduk di kursi paling belakang. Tepat di dekat jendela yang mengarah pada taman kampus yang…..terlihat cukup sepi menurutku. Namun, sebenarnya akan terlihat indah jika perasaanmu juga sedang cerah. Yah…sepertiku. Aku tetap memandang ke arah luar jendela seperti ada hal yang membuatku tertarik, tiba-tiba suara yang baru saja ku kenal terdengar tepat di sampingku. Ah ya aku tahu suara itu suara il woo.

“ada hal yang menarik?” tanyanya yang membuatku menoleh. Aku memandang il woo lalu menggeleng.

“tidak ada apa-apa” ku lihat il woo mengikuti arah pandanganku ke luar jendela.

“di luar sana tak ada apa-apa” il woo memegang pundakku.

Aku tersenyum “memang” jawabku diikuti anggukan.

Sepertinya ia masih merasa heran, dilontarkannya lagi pertanyaan untukku.

“lalu apa yang kau lihat?” tanyanya menatapku dengan rasa penasaran. Itu terlihat dari wajahnya.

“aku tak melihat ada orang di sana. Kenapa?” pertanyaan terlontar dari mulutku.

Il woo menjawab sambil masih melihat taman yang juga ku lihat.

“tempat itu menyeramkan…..” jawabnya.

Jujur saja aku tak mengerti, kenapa taman yang terlihat indah bisa di bilang menyeramkan. Aku mengerutkan keningku.

“maksudmu?”

“menyeramkan bagi orang-orang yang sedang bahagia….di sana hanya ada orang-orang yang sedang putus asa. Dan-sedih…..begitulah yang aku dengar dari orang lain” il woo memperjelas ucapannya.

Aku mengangguk mengerti.

“ah cukup menarik” ujarku. Il woo kembali ke tempat duduknya. Aku tak ingin melewatkan waktu di pagi ini, cukup cerah dengan matahari yang sudah nampak dengan keindahannya. Ku ambil kameraku dan ku arahkan pada taman itu. Sebelumnya ku buka dahulu jendela itu. Semilir udara sejuk menusuk hidungku. Sejuk kurasakan sampai paru-paru. Mengarahkan kamera ke sudut sana. Namun, sepertinya aku melihat ada sesosok gadis di taman itu. Sebelumnya tadi aku tak melihat keberadaanya, begitu pula dengan il woo, mungkin. Gadis itu sedang duduk sendirian di bangku kayu yang terlihat sudah rapuh, di atasnya pohon rindang berjajar. Sejenak ku jauhkan kamera dari ujung mataku untuk melihat gadis itu. Samar-samar. Kucoba menggunakan lensa kamera dan memperbesarnya untuk mencari tahu siapa yang sedang berada di sana. Sendirian? Aku mengambil gambarnya.

Dan……aneh….aku rasa aku pernah melihat gadis itu. Dimana? Ku bolak-balik ingatanku mencerna penglihatanku menuju otak.

“gadis itu…….yang di tangga (?)” gumamku.

Pandanganku lebih di perjelas, menerka-nerka wajahnya. Benar, dia gadis itu……jadi dia berkuliah disini? Kembali beberapa petanyaan muncul di dalam pikiranku.

Ada yang aneh dengannya. Kurasa. Tapi kenapa? Di setiap aku mengambil gambar selalu ada gadis itu? Apa ini hanya kebetulan? Aku sungguh penasaran !!! dia tak terlihat seperti gadis kebanyakan…….kelihatannya begitu rapuh.

Ku arahkan lagi pandanganku menuju sosok gadis itu yang masih duduk sendirian, aku tak bisa dengan jelas melihat wajahnya karena dia terus menunduk. Kau tahu kan kelasku berada di lantai yang cukup atas. Apakah di sedang menangis? Atau hal apa yang membuatnya terus menunduk dan duduk sendirian di sana. Teringat akan perkataan il woo barusan. Saat pertama melihatnya di tangga kemarin gadis itu tetap seperti itu, apa hanya perasaanku saja. Penasaran !!! hanya itu yang terbesit di pikiranku.

End kim bum pov

Author pov

So min sudah mulai gelisah, perasaan tak nyaman menyelimuti pikirannya terhadap so eun.

“sudah lewat beberapa jam so eun tak juga masuk kelas” ujar so min.

Ia melihat tas so eun tersimpan di kursi tanpa pemiliknya. Tak enak perasaan. So min meminta izin untuk permisi ke belakang. Tujuan sebenarnya adalah mencari so eun. Seperti sudah hal yang wajar dan biasa baginya jika so eun sekarang sedang menyebdiri.

“taman !” ujar so min, mempercepat langkah kakinya yang pendek. Tepat di depan area taman. Benar saja, so min melihat so eun ada di sana. Tengah menyendiri. Sesegera mungkin so min menghampirinya.

“ya so eun-sii….kau lihat ini? sudah jam 1 siang ! kau tak juga masuk kelas !” bentak so min. terlalu kesal untuknya melihat so eun yang hanya seperti ini.

So eun mengangkat kepalanya dan melihat kea rah so min yang sedang berdiri di hadapannya.

“kau mencariku?” Tanya so eun.

“jelas saja. Aku khawatir….takut kau akan bunuh diri……membunuh waktumu” ujar so min.

“Kau tidak akan khawatir jika aku mati” jawab so eun.

“ aniya so eun-ssi. Jangan berkata seperti itu lagi. Ayo pergi dari sini !” so min langsung menarik tangan so eun. So eun hanya pasrah dan mengikutinya.

###

“aku membawa bekal lagi untukmu.” so min mengeluarkan benda berbentuk kotak dari dalam tasnya. Menyodorkannya kepada so eun.

“makanlah !” so min membuka bekal yang ia bawa.

“aku sedang tidak ingin makan” so eun menolak untuk makan.

“huh? Waeyo?” tanya so min. “kemarin kau memakannya dan sekarang tidak lagi” so min menggelengkan kepalanya. So eun hanya mengarahkan pandangannya tidak pada so min dan tidak pada benda kotak di atas mejanya.

“cara seperti apa lagi yang harus aku lakukan?” so min seakan bertanya pada dirinya sendiri. Sepertinya so min mulai putus asa.

“hachimm. . . . . ” so eun tiba-tiba bersin. Perlahan hidungnya memerah karena terus ia gosok. So min mendadak kaget.

” kau kenapa? Flu?” so min bertanya seraya memperhatikan wajah so eun.

So eun menghela nafasnya. Lalu “hachimm . . . .” ia bersin lagi.

“gwaenchana? Apa kau sakit so eun-ah?” so min mendadak khawatir pada temannya.

“lain kali aku akan memakannya” so eun mengalihkan pembicaraan lalu berdiri hendak akan pergi.

“ya so eun-ah . . . .kau mau ke. . . .” pertanyaan so min terhenti karena so eun menyambarnya.

“supirku sudah menunggu. Aku harus pulang” so eun pun pergi lebih jauh meninggalkan so min yang masih terduduk di sana.

Saat berjalan, so eun terus saja bersin. Maka dari itu ia terus menutup hidung dan mulutnya menggunakan tangan. Cukup cepat ia berjalan karena udara dingin merasuk begitu saja ke dalam tubuhnya.

kim bum belum juga meninggalkan kampus setelah kuliahnya hari ini selesai. Ia sibuk memotret area kampus yang menurutnya menarik. Karena hobi dan kesenangannya itu ia hampir tak memperhatikan jalan dan sekitarnya. Ia menabrak seseorang dari samping dengan cukup keras karena terus fokus pada kameranya. Punggung kim bum menubruk lengan seseorang yang membuat sesuatu terjatuh. Kim bum dengan segera membalikan badannya. Di depannya sekarang telah ada seorang perempuan yang tengah berdiri, matanya tertuju pada tasnya yang terjatuh di lantai. Tanpa pikir panjang kim bum segera meminta maaf. “mianhamnida” kim bum merasa bersalah karena ia telah ceroboh.

Perasaan kagetlah saat kim bum mendonggakan kepalanya melihat wajah perempuan itu.

“dia ?” gumam kim bum. “wanita itu?” cepat cepat kim bum meminta maaf lagi. “mianhamnida” kim bum membungkukan badannya. Namun so eun hanya diam tak berkata apa-apa. Membuat kim bum kembali bertanya yang mungkin pertanyaan itu termasuk ke dalam pertanyaan yang kurang sopan kepada seseorang yang tidak di kenal.

“apa kau tidak bisa bicara?” kim bum merasa heran karena perempuan di depannya hanya diam saja, kim bum pikir perempuan ini bisu. Oh tidak !

Perempuan itu adalah Kim So Eun. So eun mulai melemparkan pandangan pada kim bum dengan malas, hanya memandangnya tepat pada mata, tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut so eun membuat kim bum terdiam. Tas masih tergeletak di bawah.

So eun membuang nafas berat lalu pergi begitu saja tanpa peduli dengan tas dan dengan orang yang di depannya. So eun berjalan menuju mobil hitam lalu masuk ke sana. Supirnya memang sudah menunggu. Entah apa yang membuat kim bum bengong dan mematung melihat perempuan itu yang terbilang aneh. Kim bum melihat ke arah kakinya dan . . . .tas !

“tidak ! Tasnya tertinggal” kim bum seakan sadar dengan tas kecil yang tergeletak milik perempuan itu belum ia berikan. Namun apa yang harus ia lakukan, perempuan itu sudah pergi. Sudahlah.

“hey. Dia meninggalkannya begitu saja?”

###

Keesokan harinya, cuaca cukup cerah. Sejuk untuk menghirup udara di pagi hari seperti ini. tak begitu menyesakkan untuk dada. Nikmatilah….tersenyumlah…awali hidup dengan sangat baik.

Kim bum sudah sampai di kampusnya. Mengahmpiri il woo yang sudah tiba terlebih dahulu.

“pagi yang indah” ujar il woo.

“tapi sepertinya tidak untuk perasaanmu, ada apa?” Tanya kim bum seolah ia bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi dengan il woo.

Il woo tersenyum kecut. “hari ini adalah 1 tahun meninggalnya yi kyung” ujar il woo dengan nada sedih.

“oh…mianhae……aku tidak tahu” kim bum seakan sudah melontarkan pertanyaan bodoh di saat ini.

“tidak….tak usah meminta maaf…So Yi Kyung…ya dialah orangnya…karena dia aku menyukai photographer “ cerita il woo.

“lalu….kenapa ia meninggal?” pertanyaan bodoh lagi yang keluar dari mulut kim bum. Il woo akan sedih jika terus mengingatnya.

“karena salahku.” jawab il woo.

“maksudmu?” kim bum tak mengerti.

###

So eun tak juga menarik selimut hangat yang membungkus tubuhnya. Sangat dingin untuk dilepas dan begitu merasuk ke sekujur tubuhnya ketika semilir angin masuk dari celah jendela tanpa sepengetahuannya. Tubuh so eun bergetar dan lagi-lagi “hachim . . . .” dia bersin untuk ke sekian kalinya.

So eun mempererat tanganya yang dikepal pada selimut biru cerah miliknya itu. Yang ia rasakan sekarang adalah tubuhnya yang menggigil dan keringatnya mulai dingin. So eun berdehem merasa tenggorokannya agak serak. Ia berusaha tidur senyenyak mungkin walaupun tadi malam sebenarnya cukup menyiksa untuknya karena tak bisa tidur dengan tenang. Dia begini karena sakit. Hal bodoh yang telah ia lakukan 2 hari yang lalu membuatnya sakit.

Suara derap langkah terdengar lebih jelas menuju arah pintu kamarnya. So eun tahu pasti itu kakek atau tidak, para pengurus rumah yang hendak membangunkan atau mempertanyakan keadaanya. Tapi ia tidak peduli.

Satu ketukan. Dua ketukan. Tiga ketukan. So eun tak juga menyahut. Terlalu serak untuknya membuka suara sampai membiarkan yang mengetuk pintu itu masuk.

“nona so eun, anda akan berangkat kuliah?” tanya pengurus rumah itu ketika membuka pintu. Seorang perempuan yang tak terlalu tua dan juga tak begitu muda. Bibi Shin. Ia terperanjat melihat so eun masih terbaring dengan selimut yang membungkus tubuhnya. Bibi Shin menghampiri So eun dengan khawatir.

“nona apa kau sakit?” bibi Shin mengulurkan tangan menyentuh dahi so eun dan terkejut merasakan panas di sana.

“nona kau benar-benar sakit. Akan aku panggil dokter kemari. Tuan Kim (kakek so eun) pasti sangat khawatir” ujar bibi Shin secepat mungkin keluar dari kamar so eun. Tujuannya adalah untuk menghubungi dokter dan memberitahu Tuan Kim.

“tidak, aku tidak apa-apa” suara yang begitu lemah dan serak keluar dari mulut so eun. Butuh tenaga yang besar untuk mengeluarkan suara dari mulutnya. So eun menarik nafas dengan berat.

Bibi Shin tak memperdulikan perkataan so eun. Sesegera mungkin ia menemui Tuan Kim yang sedang menikmati sarapan sekaligus menunggu kehadiran cucunya. Tuan Kim mengangkat kepala melihat kedatangan bibi Shin. Keningnya berkerut mendapati si pengurus rumah terlihat begitu gelisah.

“Tuan, nona So eun sakit”

###

Pelajaran pertama telah berakhir, begitu pula pelajaran ke dua. So min tak bisa diam, mengetuk-ngetukan jari telunjuknya pada meja. So eun belum juga datang. Atau ia tidak akan datang?

Dari tadi so min sangat gelisah, apa mungkin so eun datang? Tapi sekarang dia sedang menyendiri di taman terkutuk itu lagi. Bagaimana pun so min takut so eun akan bertindak gila seperti waktu itu. Satu tahun yang lalu cukup membuatnya ketakutan dan frustasi.

Flash Back

So min berusaha menghubungi so eun beberapa kali, namun tak juga so eun angkat. So min pun mencari so eun ke semua tempat yang biasa ia kunjungi. Ketika so min berada di atap gedung sekolah, so min sedikit menarik nafas lega. Atap gedung ini cukup membuat kakinya lemas setelah puluhan atau bahkan ratusan tangga yang ia tempuh untuk menuju atap ini. Tapi tidak masalah. Tujuannya sekarang adalah untuk mencari so eun. Kakinya yang lemas semakin tak dapat menahan keseimbangan tubuhnya ketika ia melihat sesosok perempuan sedang menyendiri. Tengah berdiri di ujung atap gedung kampus. Anehnya disana ia tak melakukan apa-apa. So min kembali tercekat ketika ia sadar bahwa orang itu adalah so eun. Dengan langkah cepat so min menarik lengan so eun menjauh dari batas atap gedung yang begitu curam. Tadinya so eun sedang menatap kosong para mahasiswa yang terlihat berlalu lalang di bawah sana. Tertawa senang di atas kepedihan hatinya.

“ya apa yang ingin kau lakukan?” desak so min membawa so eun ke tempat yang lebih jauh dari ujung atap gedung itu. So eun melempar pandangan pada so min.

“aku sedang menghirup udara segar” jawab so eun ringan tak begitu sadar bagaimana kekhawatiran yang menyelimuti so min.

“mengirup udara di ujung atap gedung itu konyol, jangan lakukan hal yang bodoh so eun-ah. Bagaimana jika kau tiba-tiba terjun ke bawah?” celoteh so min.

“aku tidak akan melompat” balas so eun.

“tapi aku merasa kau akan menjatuhkan dirimu ! Apa kau menyadarinya?”

” tidak” so eun menjawabnya dengan sangat enteng. Entah ia berbohong atau tidak.

So min segera menarik so eun kembali, tidak ingin ada yang terjadi lebih mengagetkan dari pada ini.

 

End flash back.

So min takut hal itu akan terjadi lagi. Sepertinya kakinya tetap bertahan di ruangan ini, berbeda dengan batinnya yang begitu bertentangan. Ia ingin mencari so eun setelah pelajaran ini berakhir. Ketika istirahat tiba.

###

“mungkin cucu Anda harus istirahat cukup untuk beberapa hari ke depan. Sekarang musim dingin dan musim salju akan segera datang. Perhatikan kesehatannya Tuan Kim” jelas sang dokter setelah selesai memeriksa kondisi so eun.

Kakek so eun mengangguk dan melihat cucunya dengan cemas. Bibi Shin sedang berusaha memberikan obat pada so eun.

“dokter Lee, bolehkah kita bicara? Di ruanganku ?” pinta kakek so eun dengan wajah sungguh-sungguh. Wajah cemas, lelah dan sebagainya tersirat begitu saja. Sepertinya ini hal serius yang akan dibicarakan.

“baiklah” jawab dokter lee.

Mereka berdua meninggalkan so eun dan bibi shin.

Bibi Shin kembali menyelimuti so eun dengan hangat. So eun meringkuk setelah selesai memakan obat. Sekarang rasa dingin yang menyengat tubuhnya dan rasa dingin yang membungkus hatinya sudah sedikit menghilang. So eun memejamkan mata.

Bibi Shin menarik nafas melihat begitu menyedihkannya keadaan dan perasaan so eun.

“tidurlah nona. Beristirahatlah” ujar bibi Shin. Lebih mengangkat selimut sehingga menutupi seluruh tubuh so eun yang menggigil. Bibi Shin mengusap kening so eun dengan hangat. So eun ingat sentuhan itu. Dulu. So eun kembali merasa tubuhnya lebih gemetar.

“aku merindukan mereka” suara so eun yang lemah dan bergetar, bibi Shin merasa hatinya tersentak. Betapa kasihannya so eun.

“sungguh” lanjut so eun.

Bibi Shin menghela nafas.

“nona. . . . .” bibi Shin menatapnya malang.

“nona tahu? Mereka malah lebih merindukan nona. Mereka lebih sedih dan menderita jika melihat nona seperti ini. Nona ingin melihat orang tua nona bahagia disana? Mereka akan bahagia jika nona merasa bahagia. Jadi nona. . . .” bibi shin menarik nafas. Menahan air mata yang ingin keluar. Tapi ia tidak ingin menangis jika akan menambah kepedihan cucu majikannya. Dengan berat bibi Shin melanjutkan perkataannya.

“nona harus bahagia, bagaimana pun itu. Tidurlah nona. Kami disini tidak ingin melihatmu sakit terlebih Tuan Kim.” bibi Shin melangkahkan kaki keluar walaupun ia tahu so eun sedang menangis sekarang di dalam ringkukannya. Tangisnya begitu tertahan.

###

“apa dokter lee bisa menjaga pembicaraan kita? Maaf jika ini memberatkanmu. Tapi aku harap kau bisa memikirkannya” ujar kakek so eun dengan penuh pengharapan.

Sejenak dokter lee berfikir tentang arah pembicaraan mereka.

“akan aku fikirkan selanjutnya. Akan aku bicarakan terlebih dahulu. Anakku masih di Paris dan akan pulang selebihnya beberapa hari lagi” jelas dokter lee.

“terimakasih dokter lee, kau ingin membantu”

###

Kim bum berjalan sendiri. Melangkahkan kaki pendek-pendek untuk bisa menemukan seseorang yang ia cari. Seseorang yang meninggalkan tasnya begitu saja.

“beom-ah. Untuk apa kau membawa tas itu? Bukan milikmu kan?” tanya il woo yang mendapati kim bum tengah gelisah mencari sesuatu. Kim bum menoleh ke arah il woo yang sudah ada di hadapannya.

“seperti tas wanita?” tanya il woo lagi. Rasa penasarannya mulai tumbuh.

Kim bum memandang tas kecil yang ia genggam lalu melempar pandangan pada il woo dengan kening berkerut.

“aku ingin mengembalikan tas ini. Tapi . . . .aku tidak tahu siapa nama orangnya. Aku tak tahu dia angkatan berapa dan jurusan apa? Di kelas mana?” kim bum malah melontarkan pertanyaan yang jelas-jelas il woo tidak tahu.

Il woo ikut merenung, membantu temannya berpikir.

“kau tahu siapa pemiliknya?” tanya il woo.

“aku hanya tidak tahu siapa namanya” jawab kim bum.

“kau tak melihat isi tasnya? Disana mungkin ada kartu identitas.” saran il woo.

“sudah” jawab kim bum.

“tapi disini tidak ada apa-apa selain beberapa buku kumpulan musik. Dan sebuah foto” jawab kim bum enteng.

“mungkin dia mengambil jurusan musik” pikir li woo.

“mungkin”

Kim bum kembali berfikir, mengotak-atik otak dan pikirannya. Ia teringat sesuatu.

“taman?” gumamnya.

Mungkin saja sekarang wanita itu sedang berada di tempat yang sama seperti kemarin, menyendiri di taman atau sebagainya.

“aku sudah tahu ! Aku harus menemuinya” ujar kim bum.

“bagaimana pun ini milik orang lain. Aku harus mengembalikannya” lanjutnya. Il woo masih memasang wajah heran. Lalu mengangguk setuju.Kim bum meninggalkan il woo yang tengah berdiri kebingungan, dengan langkah lebar dan cepat kim bum menuju taman yang dikatakan terkutuk itu.

Kim bum menarik nafas lega setelah melihat sosok wanita yang tengah berdiri di dekat kursi rapuh saat untuk kedua kali kim bum melihat wanita itu. Wanita itu berdiri membelakanginya dan terlihat seperti . . . . . Resah.

“apakah dia?” tanya kim bum mencoba mengamati punggung wanita itu dari jauh.

“semoga saja” lanjutnya seraya berjalan lebih dekat ke arah wanita itu.

Dengan hati-hati kim bum memberanikan diri mengangkat tangan untuk menyentuh pundah wanita itu. Tapi entah kenapa yang dirasakannya sepertinya ia salah orang, karena kesan pertama saat bertemu dengan wanita itu tidak seperti ini. Kim bum merasa ia salah orang. Salah !

Wanita yang pundaknya terasa tersentuh itu pun cepat-cepat menoleh.

“so eun?” reaksinya. Namun salah. So min mengira yang memegang pundaknya adalah so eun.

“maaf membuat kaget” ujar kim bum.

“ah aniya. Aku kira temanku” balas so min.

“sedang mencari seseorang?” tanya kim bum melihat wajah so min yang begitu resah sepertinya.

So min mengangguk lemah.

“aku juga. Aku kira kau wanita itu” kim bum menggaruk kepala lalu membuang nafas.

So min melihat sesuatu yang di pegang lelaki di hadapannya terasa begitu tak asing. Tas itu sepertinya . . .

“tunggu ! Tas itu bukan milikmu?” tanya so min.

Kim bum melihat so min dan mengangkat tangannya, memperhatikan tas itu.

“aku ingin mengembalikannya. Dan aku sedang mencarinya sekarang” jawab kim bum pasrah. Kecewa setelah tahu ternyata bukan wanita itu yang ia temukan di taman ini.

“siapa?” tanya so min, menyipitkan matanya menatap kim bum.

“aku tidak tahu” jawab kim bum lalu membuang nafas ‘lagi’.

“aku tahu, sepertinya ini milik temanku” so min meraih tas dari genggaman kim bum, lalu melihat dalamnya.

“benar ini milik so eun. Apa dia masuk kuliah hari ini?” tanya so min.

Kim bum mengangkat bahu. Ia tidak tahu sama sekali. Sungguh.

“aku sungguh frustasi. Ponselnya tidak aktif sama sekali” so min menarik nafas dengan berat.

“oh ya, kenapa tasnya bisa ada di tanganmu? Kau mengenalnya?” tanya so min.

“dia meninggalkannya begitu saja kemarin dan aku tidak tahu kenapa. Teman baikmu?” tanya balik kim bum.

“hmm . . .” so min mengangguk.

“oh ya, siapa namamu? Sepertinya selama berkuliah disini aku baru melihatmu. Atau aku memang tak pernah lihat sebelumnya?” tanya so min.

“kim sang bum, jurusan photografer. Aku pindahan dari Jepang, tapi aku asli orang korea” jawab kim bum.

” aku Jung So Min, jurusan musik. senang bertemu denganmu” ujar so min, menampilkan senyum ramahnya. Kim bum membalas senyumnya, namun ia masih terbayang dengan wanita itu yang membuatnya penasaran ketika pertama melihatnya. Aneh.

“bisa kau kembalikan kepada temanmu?” pinta kim bum.

“kenapa? Kau tak mengembalikannya sendiri?”tanya so min heran.

“malah kau belum memberitahu dari mana kau menemukan tasnya” lanjut so min.

“aku tak sengaja menabraknya saat asik mengambil gambar dengan kameraku. Tasnya terjatuh dan ia meninggalkannya begitu saja. Aku bingung” cerita kim bum.

“maaf, temanku memang begitu. Sebaiknya kau kembalikan saja sendiri. Jurusan musik !” ujar so min seakan tahu apa yang dipikirkan kim bum.

“bukannya kau juga sedang mencarinya? Dia tidak masuk kuliah?” tanya kim bum.

So min mengangkat bahu.

“aku juga tidak tahu. Apa dia sakit? Ah aku khawatir. Apa mungkin gara-gara kemarin, kemarin wajahnya terlihat pucat dan bersin beberapa kali” pikir so min.

“maaf, aku rasa temanmu punya masalah. Apakah benar? Ia kelihatan aneh.” kim bum mengerutkan keningnya tanpa sadar ia mengingat sesuatu. Saat itu. Ia ingat saat itu. Saat pertama melihatnya.

“dia sakit? Apa karena waktu itu ia hanya diam saat hujan deras turun? Jadi dia tidak pergi saat hujan?”

~to be continued~

26 thoughts on “THIS IS MY LIFE ! NOT YOUR LIFE ! (PART 2)

  1. huuuhhh~ lega deh, ternyata ceweknya il woo bukan so eun. hehehe … so eun sakit. kim bum ketemu sama so min, wah para pemain mulai berkumpul nech. waaaahhh … kakek Kim minta bantuan apa ya sama Dokter Lee?? jangan bilang kalau bakal ada perjodohan. ANDWAE!!

  2. Kimbum menganggap kameranya berharga, ckckckck kameranya benar-benar kekasih kekekeke.
    Apa soeun akan bunuh diri karena rasa bersalah?
    Jadi makin penasaran

  3. Woaa , trnyta bkn Sso-eon yaa .. Gadis yg dmksud Il-ppa ? Syukurlah ,, biar gak ada prsaingan antara dy sma Bum-ppa😀 lahh ? Tggu anak dokter Lee plg dr Paris ? Wahh ,, ada apa ya ? Jd pnasaran .. Kllo gtuh , mau lgsg ke next part saeng🙂

  4. Hhh…tambah sediiiih thor bacanya….miris bgt ngebayangin Sso ky gitu..

    Huufft…kirain wanita yg menginspirasi il woo itu So Eun, untungnya bukan..jd Bum gada halangan berarti bwt ngedeketin Sso…

  5. Bum makin lama makin penasaran ama sso .. Terutama ama sifat sso yg berbeda dari cwe lain .. Mungkin lama2 bum bisa jatuh cinta ama sso ..

  6. Kimbum jatuh cinta pada pandangan pertama dan makin penasaran sama sikap so eun, ayoo bum trs cari tau dan menghiburnya memikat hatinya biar di kmbali lagi seperti semula

  7. sso sakit, uh gila aja diem dibawah guyuran hujan lebat gimana ga sakit…

    sso pun sbnrnya capek seperti ini terus, dia sendiri bilang kalo dia capek tp dia ga bisa move on hiks

    persis yi kyung 49 days kekeke~~ eh trnyata ada tokoh yi kyung jg disini, kekasihnya il woo tp dibalik ya.. yikyung yg udh meninggal hehe..

    itu so min sengaja ya ga ngambil tasnya sso, biarin bum yg balikin langsung ke sso hihi

  8. Kakek sso mmbicarakan apa yaa dgn drlee itu ?
    Bumppa sprtinya tertarik dgn sso,, apa sso bkln seperti dulu lg ?
    Apa bumppa bs mmbntu sso ??
    Atau bkn bumppa yg bs membantu sso sprti sso yg dulu ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s