He is a prince ??? (part 9)

He is a prince ??? (part 9)


Enjoy this !!!

 

Author : Resi R.

Cast : Kim Sang Beom, Kim So Eun

Other cast : Lee Jin Ki, Kim Hyun Joong, Goo Hye Sun, Moon Geun Young, Yoon Eun Hye, Jung So Min, Ji Yeon, Min Ji

Genre : comedy, sequel dan nanti readers sendiri yang akan tahu (?)

 

Review last episode

So eun terduduk di lantai setelah kim bum pergi dan menangis seraya memegangi dadanya yang terasa sesak. So eun menagis sejadi-jadinya.

“hiks……hiks……hiks……dasar…….bodoh……kenapa kau melakukan itu? Di saat aku juga mulai menyukaimu !” tangis so eun.

“pria penipu………..! pembohong sekali !!! hiks…..hiks….hiks….hikss……” so eun masih menangis sejadi-jadinya di sana.

 

Kim bum hanya bisa mematung setelah ia berada di luar apartemen so eun, sudah ia kira akan seperti ini jadinya. Dan semua ini adalah kesalahannya.Tak tahu kenapa saat ia meninggalkan so eun dan apartemen milik so eun rasanya ia ingin menangis, hatinya semakin sesak. Kim bum menutup pintu apartemen so eun.

Ia memegangi dadanya. Mata kim bum berkaca-kaca. Dadanya semakin terasa sesak saja.

“kau ini jahat kim sang beom….bodoh……” ucap kim bum pada dirinya sendiri.

 

PART 9

Kim bum sedang di ceramahi oleh ayah dan ibunya, kini neneknya juga ada disana. Kim bum duduk menghadap sang ayah. Betapa geramnya sang ayah melihat anaknya begitu badung dan memalukan kerajaan.

“bisa kau pahami maksudku anakku?” sang ayah menatap anaknya. Kim bum hanya menunduk. Bingung apa yang harus ia lakukan? Tidak…..

“tidak…..aku tidak mau….mengertikah ayah tentang perasaanku?” batin kim bum.

“jika kau sudah mengerti, masuklah ke dalam kamarmu !” perintah sang ayah “beruntunglah ayah masih bisa memaafkanmu !” . paduka raja pergi menuju ruangannya.

Kim bum, sang ibu, sang nenek, dan hyun joong masih ada disana. Kim bum masih diam.

“anakku………kau harus menuruti perintah ayahmu….ibu harap kau mau menerimanya…maafkan ibu………..” sang ibu pergi mengikuti suaminya.

“cucuku….pangeran kim bum…..jangan kau pergi lagi dari sini….nenek akan mati jika tahu kau kabur lagi” sang nenek membelai rambut cucunya.

Kim bum melihat neneknya…..kim bum tahu, sebenarnya mereka semua menyayanginya, tapi tidak dengan cara seperti ini…kim bum tidak mau…apa yang harus ia lakukan?

“cepatlah kau tidur….!” Sang nenek pergi. Kini hanya tinggal kim bum dan hyun joong.

Kim bum menatap hyun joong.

“kau mendengarnya hyung?” Tanya kim bum sinis. Hyun joong tak menjawab. “begitu menderitanya aku di banding kau……” kim bum berjalan meninggalkan hyun joong. “sepertinya kau tak pernah merasakan jatuh cinta…..” lanjut kim bum.

Hyun joong tak mengerti apa yang di katakan sepupunya itu.

###

Sudah 1 minggu berlalu. So eun mulai tinggal sendiri di apartemennya tanpa kim bum. Ia merasa sangat rindu pada sosok ha min jae, bukan pada sosok kim sang bum.

Seperti biasa so eun bekerja bersama hye sun di kafe geun young. Tiba-tiba ada salah satu pengunjung yang datang. Refleks so eun menghampiri pengunjung itu dan menunjukan daftar menu.

“jinki-ssi?” kaget so eun.

Mereka pun duduk berdua. Hye sun saja yang melihat jinki ada disana sangat kesal, dasat muka tebal !!!

“apa yang ingin kau bicarakan jinki-ssi?” Tanya so eun. ‘aku sedang sibuk bekerja ! bisakah lain kali saja?”

Jinki menatap tepat pada mata so eun. Berharap sesuatu dari mantan kekasihnya itu.

“hanya sebentar saja !” mohon jinki. “hanya sebentar”

“kalau begitu katakan apa yang ingin kau bicarakan denganku !”

“kita bicarakan di luar, jangan disini” ujar jinki.

“aish…..kau tahu aku sibuk. Jadi lebih baik kau pulang saja. Jika ada waktu aku akan menemuimu” so eun langsung menuju dapur.

“ya so eun-ssi, aku masih menyukaimu” ujar jinki.

“mianhae…tapi tidak denganku…..aku sudah menyukai orang lain” teriak so eun.

Hye sun pun menghampiri jinki yang masih diam di kursi setelah mendengar jawaban so eun .

“apa kau mendengarnya sendiri kan? Lebih baik kau pergi saja…tidak tahu malu” cibir hye sun.

###

So eun pulang menuju apartemennya. Ia teringat dengan min jae. Pangeran kim sang bum. Seorang lelaki penipu. Entah apa yang mendorong tubuh so eun untuk masuk ke dalam kamar yang di tiduri kim bum. So eun melihatnya dan masuk ke dalam. Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. So eun tersenyum.

“dasar penipu…!” ucap so eun.

“kenapa kau harus melakukan itu? Kau tahu…..aku…..merindukanmu….”ucap so eun, bicara pada dirinya sendiri. So eun duduk di kasur itu. Mengingat kim bum yang dulu pernah sakit dan berbaring disini.

“aku….merindukanmu !” gumam so eun. Tiba-tiba so eun menangis. Ia teringat ha min jae, bukan pangeran kim sang bum.

“kenapa kau masuk ke dalam hidupku lalu menggangguku? Kau tak bisa hilang dari pikiranku !” kesal so eun. Ia menangis semakin deras. “hiks………..hiks…………….hiks…………T____T……hiks”

“pangeran kim sang bum….apa kabar? Bagaimana keadaanmu?” so eun bertanya seolah-olah ada kim bum di hadapannya.

Tak sengaja so eun menemukan secarik kertas di atas meja. Perlahan ia mengambilnya. Lalu membukanya.

So eun-ssi annyeong ^^

Perkenalkan aku adalah pangeran Kim Sang Beom.

Senang aku bisa bertemu denganmu, mengenalmu, bahkan bisa tinggal bersamamu…

Mianhae….akulah Ha Min Jae itu….mianhae…..

Selama aku tinggal disini bersamamu, ternyata aku sadar, aku telah menyukaimu dari awal, tapi aku berusaha untuk menyangkalnya. Tapi ternyata aku tak bisa melakukannya.

Maafkan aku sudah berbohong padamu selama ini…..kau tentu tak mengenalku? Haha memang aku bukanlah pangeran yang terkenal. Aku baru saja pulang dari London.

Aku kabur dari rumah, kau tahu alasannya kenapa? Karena….karena aku tak ingin di jodohkan. Ternyata aku malah bertemu dengamu. Sepertinya aku harus pergi. Terimakasih untuk semuanya.

Aku menyukaimu so eun-ssi…

Saranghaeyoooo

mianhae

 

Setelah membacanya so eun merasa tersentak, ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Air matanya kembali jatuh….

“aku juga menyukaimu !!! kenapa tak bilang dari awal…pangeran yang payah….” Ujar so eun, seakan menanggapi isi surat dari kim bum tersebut.

“bolehkah aku meminta? Aku ingin kau kembali. Aku ingin mengulang dari awal…. …” so eun masih menangis.

###

Kim bum diam di kamarnya. Ia tak bisa melepaskan pikirannya dari so eun.

“aish….bagaimana kabarmu? Aku rindu padamu ! sangat rindu ! apa kau juga rindu padaku? Ah tidak….” Ujar kim bum.

Kim bum mengambil foto so eun yang ia ambil waktu itu.

“yang aku punya hanya ini…..kenapa nomer ponselmu tidak aktif? Aku hampr mati karena rindu padamu…..so eun-ssi” ujar kim bum lagi serya menatap foto itu.

“so eun-ssi bagaimana ini? Kenapa kedua orang tuaku terus memaksaku untuk menikah dengan seorang puteri? Bagaimana jika aku kabur lagi dari rumah? Bahkan kali ini nekad mengajakmu kabur !” kim bum seperti orang gila.

Hyun joong masuk ke dalam kamar kim bum.

“mau apa kau kemari hyung?” Tanya kim bum.

“sebenarnya aku mengerti perasaanmu….tapi bisakah kau tak bersikap egois?” ujar hyun joong.

“Membosankan sekali tidak bisa pergi kemana-mana. Menunggu hingga satu bulan baru aku bisa bebas. Lebih baik kau keluar saja dari kamarku….urusi saja hari perjodohanku dengan kedua orang tuaku.!” ujar kim bum.

Hyun joong mengambil nafas. Seolah-olah ia merasa terbebani juga dengan kim bum.

“ya sudah terserah kau saja. Kau tidak akan tahu jika aku berusaha membantu menjodohkanmu atau membatalkan perjodohanmu” jawab hyun joong mengambil aba-aba untuk keluar dari kamar kim bum.

Kim bum mengerutkan kening.

“tunggu, maksudmu apa hyung?” desak kim bum sehingga hyun joong menghentikan langkahnya.

“bukannya lebih baik aku keluar dari kamarmu?” Tanya balik hyun joong menimbulkan seribu pertanyaan di benak kim bum yang membuatnya tak mengerti.

“tidak….aku menarik kembali perkataanku. Sebenarnya apa yang ingin kau rencanakan? Membantu atau membatalkan?” Tanya kim bum.

“perjodohanku?” lanjutnya.

Hyun joong menghela nafas. “Kau tidak akan peduli bukan? Jadi untuk apa aku menceritakannya padamu? Sepertinya benar, aku akan membatalkan rencanaku untuk membantumu” cerita hyun joong.

“ya hyung !!! baiklah baiklah……sekarang cepat ceritakan padaku !” mohon kim bum. Menarik hyun joong duduk di kursinya.

“kau ingin tahu?” goda hyun joong.

Kim bum mengangguk dengan cepat.

“kau tahu? Aku sudah melihat bahkan sudah bertemu dengan wanita yang akan di jodohkan denganmu” ujar hyun joong.

“bukan itu yang ingin aku dengar. Tapi rencanamu !” sela kim bum.

“ya….wanita itu sangat cantik dan mungkin……. kau akan menyukainya” lanjut hyun joong membuat kim bum kesal.

“baiklah baiklah sekarang rencanamu ! apa yang akan kau rencanakan?” Tanya kim bum semakin tak sabar ingin mendengarnya.

“yang pasti besok lusa kau akan di pertemukan dengannya. Jadi bersiap-siap sajalah ! kau akan tahu rencanaku besok lusa” jawab hyun joong, masih menyembunyikan rencananya.

“sebaiknya aku tadi membiarkanmu keluar saja” ucap kim bum kesal.

“bagaimana pun itu hyung aku tidak akan menerima perjodohan yang kedua ini”

###

So eun baru saja pulang dari kerja, ia berjalan dengan langkah kaki yang pendek karena terlalu lelah. Selama di perjalanan ia  hanya  bisa membuang nafas dengan berat dan….kim bum selalu terlintas di pikirannya.

“bagaimana ini? Kenapa aku tak bisa menghilangkannya dari pikiranku?” batin so eun.

So eun meundukkan kepalanya. Mengarah pada sepatu berwarna hijau toska pemberian lelaki itu, so eun selalu memakainya di setiap ia kerja. Sepatu pemberian pangeran. Setelah beberapa kali menarik nafas panjang, so eun pun melangkah kembali.

Tak lama ia sampai di depan apartemennya.

So eun segera duduk di kursi, menaruh tasnya yang cukup berat, entah berat karena di bebani perasaanya atau apapun itu. ‘lagi dan lagi’ Terbayang min jae dalam pikirannya. So eun teringat senyuman min jae, tawanya, dan semuanya !!!

“ya…ya…ya….bisakah kau menghilang dari kepalaku?” tanya so eun pada dirinya sendiri. So eun merasa frustasi. Kim bum pergi dan jin ki selalu mendekatuinya lagi. Ini sangat menyakitkan.

“kenapa sulit sekali untuk melupaakanmu…..kau tahu sekarang disini sepi sekali semenjak kau pergi” akhirnya so eun pun hanya bisa diam. Tiba-tiba ia menangis.

“kenapa? Tiba-tiba aku jadi begini? Perasaanku kacau sekali? Aku…aku memang merindukanmu….” Ujarnya sambil menangis.

Di tengah kesunyian seperti ini, tiba-tiba suara bel berbunyi. Dengan cepat so eun menghapus air matanya dan membukakan pintu.

“annyeong eonni…apa kabar?” ujar kedua yeoja muda yang sekarang berada di depan pintu apartemen so eun. Tersenyum penuh arti. So eun menyernyitkan keningnya.

“kalian?” kaget so eun mendapati ji yeon dan minji ada di hadapannya.

“kami baru saja pulang setelah beberapa hari liburan akhir sekolah bersama” jelas ji yeon tanpa diminta so eun.

So eun menatap mereka bergantian.

“lalu ada apa kalian kemari?” Tanya so eun.

“oh ya….apa min jae oppa ada di dalam? Kami membawa oleh-oleh untuknya” ujar min ji.

“mwoya? Tidak…..kalian tidak bisa bertemu dengannya” jawab so eun tergesa-gesa.

“huh? Waeyo? Apa eonni menyembunyikan sesuatu?” curiga ji yeon melihat ekspresi so eun seperti itu, kehabisan kata-kata.

“dia tidak lagi tinggal disini…..pangera sudah pergi” so eun akan merutuki dirinya sendiri karena ia telah ceroboh tentang sesuatu. Ceroboh mengatakan sesuatu. Pangeran?

“pangeran? maksudmu?” Tanya ji yeon dan minji heran. Menatap so eun dengan tatapan curiga.

###

Jin ki sedang minum sendirian di bar. Ia sangat muak dengan dirinya sendiri. Tentang perasaanya sendiri. Jinki meneguk soju beberapa kali. Sudah satu botol yang ia habiskan namun tak dapat menghentikan perasaanya yang kalut. Ia pun menambah lagi satu botol soju. Tiba-tiba pandangannya sedikit kabur. Ia merasakan pusing di kepalanya. Ia memaksa dirinya untuk bangkit dan berdiri, berjalan sempoyongan dengan mata yang sudah tak bisa melihat dengan jelas. Seorang wanita yang menghalangi jalannya membuat jinki teringat akan so eun, jinki mengira wanita itu adalah so eun. Tanpa aba-aba jinki pun langsung memeluk wanita itu.

“so eun-ah….ternyata kau ada disini hmmmm” ucap jinki masih memeluk wanita itu.

Seorang laki-laki yang tadinya sedang duduk di salah satu kursi, langsung menghampiri mereka dan menghajar jinki dengan keras. Jinki oleng dan terjatuh. Ia meringkuk kesakitan.

“ya…apa yang telah kau lakukan pada kekasihku?” amuk lelaki yang menghajar jinki. Jinki masih tersungkur di lantai, memegangi pipinya. Lelaki itu kembali menghajar jinki dengan seluruh tenaga yang ia punya. Jinki tersungkur lebih keras. Jinki mengerahkan seluruh tenaganya untuk berdiri dan membalas tinjuan lelaki itu.

“siapa? Siapa yang memeluk? Dia Kim So Eun kau tahu? Kekasihku”  jinki berbicara ngawur dan hampir memeluk wanita itu lagi.

‘brug……..’ dengan sekali pukulan, sekarang jinki tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia tergeletak di lantai seraya meringis kesakitan, menahan pipinya yang sedikit berdarah. Yang terakhir ia rasakan adalah sakit yang begitu menyakitkan. Semua orang mengajarnya sampai ia tak sadarkan diri.

“ya…………apa yang kalian lakukan?’ teriak seseorang dengan lantang. Semua orang menatapnya.

Seseorang yang ternyata wanita itu berjongkok berusaha membantu lelaki yang menjadi objek pukul semua orang.

“kau tidak apa-apa?” Tanya wanita itu. Melihat kondisi lelaki yang seperti ini membuatnya ikut meringis seakan merasakan apa yang di derita dan di rasakan oleh lelaki yang tergeletak di lantai itu.

“kalian……kalian bisa saja aku laporkan pada polisi” ancam wanita itu menatap tajam ke arah semua mata yang memandanginya.

###

“jadi min jae oppa itu seorang pangeran?” Tanya ji yeon. Pikirannya menggebu-gebu ingin tahu yang lebih lanjut dari pengakuan so eun.

So eun hanya mengangguk pasrah, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan di hadapan dua gadis remaja yang dari tadi sukses mengintrogasinya dengan semburan pertanyaan yang membuatnya frustasi.

“aku mulai merasa curiga atas semua kelakuaanya. Sampai aku sadar ternyata dia itu bukanlah ha min jae, tetapi….dia seorang pangeran. Pangeran kim bum.” Jelas so eun.

“kenapa kau seberuntung itu eonni, aku iri padamu” celoteh ji yeon.

“bagaimana pun kau tak menceritakannya dari awal kepada kami. Jadi kami  marah padamu eonni karena telah menyembunyikan seorang lelaki di apartemenmu tanpa memberitahukan kepada kami.” Tambah min ji.

“jadi…kalian jaga ceritaku ini. Aku tak ingin teman-teman kalian atau siapa pun tahu” tegas so eun setelah beberapa kali menarik nafas.

“ah  semuanya sudah jelas, baiklah kami akan menjaga semua penjelasanmu.” Ji yeon berjanji, entah itu asli atau tidak.

Penglihatan so eun mengabur, matanya mulai berair. So eun berusaha menahannya agar tidak jatuh, namun nihil. Tetap saja ia menangis.

Ji yeon dan minji yang melihat so eun menangis merasa iba. Mereka kira bukan seperti ini kejadiaanya. Maka salah besar mereka selama ini marah pada so eun karena min jae. Sekarang mereka sudah tahu yang sebenarnya dan mereka sadar.

“so eun eonni jangan menangis” cegah min ji.

So eun cepat-cepat menghapus air matanya. Lalu menatap mereka bergantian. Tersenyum tipis untuk menandakan jika ia sudah lebih baik sekarang. Perasaanya lega karena sudah menceritakannya pada ke dua gadis ini.

“apa eonni menyukainya?” Tanya ji yeon tiba-tiba membuat so eun terhenyak. Sadar akan sesuatu jika ia memang. Menyukai pangeran. Entah apa yang akan so eun jawab, berbohong atau jujur.

“eonni menyukainya?” ulang ji yeon. Menunggu apa yang akan keluar dari mulut so eun.

“apakah tidak boleh aku menyukainya?” Tanya balik so eun.

Ji yeon dan min ji diam, menunggu ucapan so eun selanjutnya.

“merindukannya? Dan mencintai seorang pangeran?” lanjut so eun.

Ji yeon dan min ji tertegun. So eun sendiri entah kenapa mengeluarkan ucapan seperti itu.

Dia sudah mencintai seorang pangeran.

###

Suara bunyi ponsel membuat seorang wanita terbangun dari kelelapannya sesaat. Ia duduk di kursi seraya tertidur. Dengan segera wanita itu pun merogoh ponselnya dan mengangkatnya.

“appa?” ujarnya dalam telpon ketika sang ayah menghubunginya.

“mwo? Lusa? Sudah berapa kali aku bilang padamu appa…jika perjodohan ini hanya akan menimbulkan masalah. Tidak bisakah ayah menunggu sampai aku menemukan seorang pria yang benar-benar aku sukai. Baru jika aku tak juga menemukannya aku akan menerima perjodohan yang kau rencanakan” wanita itu tak setuju karena ayah dan ibunya terus ambisius dengan rencana perjodohan.

“tapi appaaaa………” wanita itu tetap saja menolak hingga sambungan telpon langsung di putus oleh ayahnya.

“bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?” pikirnya.

Wanita itu duduk kembali di kursi, menghempaskan tubuhnya lalu menarik nafas, seakan mengeluarkan penderitaan yang di alaminya. Perjodohan apa ini?

“sss…..akh….” ringis seseorang yang tengah terbaring di sebuah kasur empuk.

Wanita itu segera bangkit kembali dan menghampiri lelaki itu. Lelaki itu membuka kedua matanya, keget melihat seorang wanita di dekatnya. Di tempat apa ini?

“siapa kau?” pekik lelaki itu yang ternyata jinki.

“kau sudah sadar?” wanita itu tak menggubris pertanyaan jinki, ia malah balik bertanya.

“kau siapa? Dan aku diamana?” Tanya jinki lagi, mengingat ia tak kenal dengan wanita di hadapannya dan di mana ia sekarang.

“baiklah aku telah menyelamatkanmu dari sekumpulan orang yang telah meninjumu di bar. Aku Kim Tae Yeon” ujar wanita itu.

Jinki menatapnya. “ini rumahmu? Kamarmu?” Tanya jinki.

Tae yeon menggeleng. “bukan, ini apartemenku. Mana mungkin aku membawamu ke rumahku dalam keadaan babak belur dan mabuk seperti tadi, aku akan di sembur ayahku.” Jelas tae yeon tertawa renyah.

Jin ki mengangkat tubuhnya dan bersandar pada kasur. Lagi-lagi ia meringis karena sakit.

“baiklah aku akan mencoba mengobati lukamu” ujar tae yeon bergegas mengambil kotak obat. Setelah itu duduk di sebelah jinki yang sedang bergulat dengan luka-luka di wajahnya, memar dan sedikit membiru. Tae yeon mengeluarkan kapas dan sebuah obat luka.

“kenapa sampai di pukuli seperti itu?” Tanya tae yeon. Mengobati luka di wajah jin ki.

“akh….”jin ki meringis.

“aku tidak ingat” jawabnya.

“sepertinya kau sedang punya banyak masalah?” tae yeon terus bertanya. Tak sadar jika jinki sedang tidak ingin banyak bicara karena itu semakin membuat luka di wajahnya terasa sakit.

“haruskah aku menjawab?” Tanya balik jinki. Lalu bungkam seribu bahasa.

“ah baiklah, kau sedang tidak ingin banyak bicara sekarang. Wajahmu di penuhi luka” ujar tae yeon.

Jin ki memandangnya, seakan ingin bertannya kenapa ia ingin membantunya? Padahal sama sekali tak mengenal dirinya. Jin ki terus menatapnya.

Tae yeon yang sadar di pandang seperti itu cepat-cepat mengangkat tangan menghentikan aktivitasnya membersihkan luka di wajah jin ki. Ada apa ini? kenapa ia merasa jantungnya berdebar 2 kali lebih cepat, memompa darah lebih cepat sehingga membuat tubuhnya memanas, pipinya memerah. Tae yeon sendiri tidak tahu kenapa ia tiba-tiba begini?

“ah hehehe, sepertinya kau sudah lebih baik” tae yeon mencoba menghilangkan rasa anehnya itu. Cepat-cepat tae yeon berdiri hendak menyimpan kotak obat itu ke tempat semula.

“terima kasih” ujar jin ki membuat tae yeon menghentikan langkahnya.

“ah aku hanya ingin membantumu” balas tae yeon tanpa membalikkan badannya menghadap jinki, ia terus melangkah pada sebuah meja untuk menyimpan kotak obat itu. Sesudahnya ia bergegas menuju toilet.

“aish ada apa denganku? Kenapa jadi merasa seperti ini?” Tanya tae yeon pada dirinya sendiri.

“apa aku menyukainya pada pandangan pertama? Tidak aku tak langsung menyukainya saat pertama kali melihatnya. Apa aku menyukainya saat pertemuan pertama? Ah tidak juga….lalu kenapa aku merasa ada sesuatu yang aneh di sini” ujar tae yeon menyentuh dadanya.

###

So eun masuk ke dalam kafe. Di sana sudah ada hye sun yang tengah mengobrol dengan geun young.

“annyeong boss, hye sun-ah” sapa so eun seraya mendekati mereka singkat lalu segera menuju dapur.

Hye sun dan geun young saling bertatap mata.

“benarkan boss dia berubah” bisik hye sun.

Geun young masih ragu, ada masalah apa lagi yang menimpa so eun.

“kau tak tahu apa masalahnya?” Tanya geun young. Hye sun menggeleng.

“dia tidak pernah bercerita, apa mungkin ini masalah yang sangat pribadi untuk so eun?” pikir hye sun. merasa aneh dengan sikap so eun yang akhir-akhir ini menjadi sedikit pendiam bahkan tak seperti biasanya yang suka banyak bicara.

“apa kita harus tahu?” ujar geun young.

“tentu saja boss, so eun sahabatku dan kau boss kami. Tentu kita harus tahu apa masalahnya” balas hye sun menggebu-gebu.

“hmmm….” Geun young mengangguk.

###

Jin ki terbangun dari tidurnya, setelah semalam ia mencba meredakan rasa sakitnya, sakit sekujur tubuhnya yang terluka. Memar akibat beberapa pukulan. Jin ki keluar dari kamar itu lalu mencari seseorang yang telah menolongnya kemarin malam. Kim tae yeon.

Jin ki mendapati tae yeon sedang duduk bergurau di depan meja makan, kelihatannya ia melamun memikirkan sesuatu, makanan hangat dan harum menganggur di meja makan.

“kau menyiapkan makanan ini untukku?” Tanya jin ki seraya duduk di sebelahnya.

Tae yeon mengangkat kepala dan melihat jin ki.

“kau sudah bangun?” Tanya balik tae yeon.

“hmmm…kau tak memakannya?” tanya jin ki melihat ada makanan hangat yang menganggur di meja masih utuh.

Tae yeon menghela nafas.

“makanlah, itu untukmu saja…..” jawab tae yeon, sudah di ketahui ia sedang memikirkan sesuatu yang membuat pikirannya menjadi seperti ini.

Jin ki meraih roti itu dengan cepat lalu memakannya.

“kau tidak ingin memakannya? Maaf aku sedang lapar saat ini…dan terimakasih…” sahut jin ki, mengunyah roti dalam mulutnya dengan gigi.

“tidak apa-apa…hanya saja aku sedang banyak pikiran saat ini……..oh ya kau…..aku ingin bertanya sesuatu padamu tentang kemarin kenapa kau bisa di pukuli ! kenapa?” Tanya tae yeon melihat jin ki yang sedang mengunyah rotinya.

Jin ki diam terlihat mengingat-ingat sesuatu.

“aish….aku belum ingat…” jawab jin ki.

“aku sedang mabuk jadi aku tidak ingat, sampai saat ini aku belum ingat kenapa” lanjutnya.

“kau benar-benar mabuk berat kemarin malam. Pasti ada masalah yang menimpamu?” tae yeon lagi-lagi bertanya.

Jin ki menghentikan aktivitas makannya, menaruh setengah roti itu pada piring tadi.

“masalahku dengan seorang wanita….kau ingin mendengarnya? Mungkin setelah aku menceritakannya padamu aku bisa sedikit melupakannya” ujar jin ki.

Tae yeon mengangguk.

“masalah seperti apa?”

###

Kim bum menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Entah apa yang harus ia lakuakan untuk menghadap hari esok. Besok ia akan di pertemuakan ‘lagi’ dengan seorang wanita yang akan di jodohkan dengannya. Untuk kedua kali ketika waktu itu ia sempat kabur. Dan sekarang ia sama sekali tidak bisa melakukan apa pun, semuanya dalam penjagaan yang ketat.

“apakah mungkin ini yang akan terjadi? Aku harus pasrah dan berdiam diri?” ujarnya.

“ya so eun-ssi…apa kau tidak merindukanku sama sekali? Besok tamatlah riwayatku” batin kim bum.

Kim bum mendapati ponselnya yang menganggur begitu saja. Terbesit rencana di otak kim bum yang mulai berjalan.

“apakah aku harus menghubunginya saja?” Tanya kim bum pada dirinya sendiri. Kim bum pun meraih ponselnya yang tergeletak pada meja. Bangkit dari kasurnya. Kim bum agak lama berfikir apakah ini keputusan yang baik untuk menghubunginya atau apa yang harus ia lakukan?

“baiklah aku akan menghubunginya !” kim bum menekan tombol call pada nomor seseorang.

###

So eun sedang melayani para pengunjung. Kebetulan hari ini cukup ramai, pikirannya tentang pengeran kim bum sedikit memudar karena sekarang ia sedang focus dengan pekerjaanya. Kalau begini lebih baik banyak pengunjung dari pada sepi.

“silakan dinikmati !” so eun menyunggingkan senyum ramah pada pengunjung itu. Lalu pergi seraya membawa nampan kosong.

Tiba-tiba ponselnya bordering. Mau tak mau so eun pun merogoh ponselnya yang ia simpan di dalam saku celmek. So eun melihat nama yang tertera disana. Ha Min Jae? Oh tidak bahkan so eun masih menyimpan nomor ponsel pangeran itu. So eun belum menghapusnya dari kontaknya.

‘lagi’ dan ‘lagi’ pangeran kim sang bum melayang-layang di pikirannya. Tak mau ambil pusing so eun pun mamatikan ponselnya lebih cepat. Menarik nafas dengan berat lalu melanjutkan tujuannya menuju dapur. Hye sun dan geun young melihat tingkah (?) so eun. Benar, so eun terliaht berbeda.

“siapa yang menelponnya?” Tanya geun young.

“tidak mungkin jika jinki yang menelponnya, tapi mungkin juga. Argh aku tidak tahu”jawab hye sun.

“apa mungkin ia sedang beramasalah dengan batin? Perasaan? Cinta? Atau apa?”Tanya geun young.

“tidak…dulu memang so eun sangat mencintai jinki namun setelah kejadian itu, so eun jadi membencinya. Jadi tidak mungkin jika ini masalah cinta…” duga hye sun, walaupun dugaanya bisa di bilang salah. So eun begini karena batin, perasaan dan juga cinta. Tapi bukan karena jinki, tapi karena pangeran itu.

“tapi ini mungkin saja kan” kata geun young.

###

“apakah dia benar-benar membenciku?” Tanya kim bum setelah so eun mematikan ponselnya. So eun tak mengangkat telpon darinya.

“membenciku?” ulangnya lagi.

Kim bum menengadahkan wajahnya pada langit-langit kamarnya.

“aku sangat merindukanmu” ujarnya.

###

“oh jadi begitu” ujar tae yeon setelah mendengar cerita tentang masalah yang menerpa jinki.

Jin ki menatap tae yeon lalu tersenyum.

“ah ya…kau bilang tadi sedang banyak pikiran. Apa yang kau pikirkan?” tany jin ki.

Tae yeon menghela nafas, seakan nafas berat dan sesak yang ia keluarkan.

“orang tuaku mejodohkanku” jawab tae yeon.

“tapi aku tidak ingin di jodohkan. Dan besok aku harus bertemu dengan lelaki yang di jodohkan denganku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.” Cerita tae yeon.

Jin ki mengangguk mengerti, tiba-tiba terbesit di pikirannya.

“apa kau butuh bantuan?” tawar jin ki.

“huh?”

“kau kan sudah membantuku kemarin malam, mungkin aku sudah mati terkapar di ketumuan orang-orang jika kau tak datang. Jadi aku ingin membalas budimu. Bagaimana?” tawar jin ki.

“benarkah? Kau ingin membamtuku?” tae yeon memastikan kebenaran yang di tawarkan jin ki.

“tapi jangan salahkan aku jika ternyata kau menyukai lelaki yang di jodohkan orang tuamu pada pandangan pertama” jin ki tertawa renyah.

‘bagaimana ini? lagi-lagi jantungku berdetak lebih cepat, ah tidak……aku menyukai lelaki yang berada di depanku ini?’ batin tae yeon.

###

Hari dimana pertemuan antara kim bum dan seorang wanita yang akan di jodohkan pun tiba. Berkali-kali kim bum membuang nafasnya. Ia tak bisa duduk dengan tenang. Sudah terlambat. Hari ini ia akan bertemu dengan……ah tidak !

Beberapa kali kim bum menoleh ke arah hyun joong. Seakan meminta pertanggung jawabannya atas apa yang akan ia rencanakan pada perjodohannya.

“tenang saja….aku sudah melakukan rencanaku” ujar hyun joong dengan suara sepelan mungkin seakan bisa membaca pikiran kim bum. Namun kim bum tetap saja gelisah.

Tak lama beberapa bodyguard, para dayang dan beberapa pengawal masuk. Seakan mengantarkan orang-orang yang istimewa dan di sambut dengan meriah ketika masuk ke dalam istana. Kim bum sudah tahu ini adalah akhir riwayatnya. Kim bum duduk dengan tidak tenang. Di sana juga ada paduka raja, paduka ratu, nyonya ratu, hyun joong, pengurus Jung,dan beberapa pengawal lainnya. Tak lama masuklah yang di tunggu-tunggu itu, namun tidak dengan kim bum. Ia sangat tak mengharapkan kedatangan mereka.

Seorang lelaki seumura ayah kim bum dan dua orang wanita. Yang satu kira-kira seumuran dengan ibunya kim bum dan yang satunya lagi seumuran dengannya. Kim bum langsung membuang muka dengan malas dan berdiri untuk membungkuk member hormat.

Semua pengawal dan dayang termasuk pengurus jung yang tadinya berada di ruangan itu keluar, hyun joong juga keluar, namun sebelumnya ia member isyarat pada kim bum jika ia sudah menyelesaikan rencananya. Sekarang tinggallah orang-orang yang bersangkutan di sana. Mereka duduk saling berhadapan. Wanita itu berusaha tersenyum kepada kim bum, kim bum membalasnya dengan terpaksa.

“kim bum…dialah yang akan di jodohkan denganmu…” ujar paduka raja. Kim bum memaksakan senyum sebisa mungkin.

“anak teman ayah….tuan Kim….bahkan marga kita sama…”lanjutnya diikuti tawa renyah.

‘demi apapun aku tidak akan menerima perjodohan ini’ batin kim bum.

“namanya Kim Tae Yeon….dia sungguh cantik dan baik….jika sudah mengenalnya lebih dekat kau pasti akan suka.” Ujar ibu kim bum.

“anakmu sungguh tampan, percis sepertimu” puji besan ayah kim bum. Kim jong il.

Mereka hanya tertawa, namun tidak untuk kim bum dan….tidak untuk wanita yang ada di hadapannya. Kim tae yeon.

Acara perkenalan sudah selesai, mereka begitu menggebu-gebu untuk merencanakan kapan mereka akan melakukan pertunangan dan pernikahan ala kerajaan lalu pernikahan secara hokum. Kim bum dari tadi muak mendengarnya. Telinganya mendadak tuli jika terus-terusan mendengar arah pembicaraan mereka. Kini di ruangan itu tinggal dirinya seorang bersama kim tae yeon. Kim bum masih diam. Tiba-tiba tae yeon mengeluarkan pembiacaran.

“bisa kita bicara sebentar?” Tanya tae yeon. Kim bum menatapnya seolah bertanya.

Mereka bicara dengan volume sekecil mungkin.

“sebenarnya aku tidak ingin di jodoh-jodohkan seperti ini” ucap kim tae yeon. Mata kim bum, membulat.

“aku juga yakin kau tak suka di jodohkan, apalagi dengan wanita yang baru kau temui seperti aku. Kita sama-sama baru bertemu kali ini kan?” lajut tae yeon.

“jadi kau menolak perjodohan ini?” Tanya kim bum, jujur ia belum bisa mencerna semuanya denngan jelas. Karena sebenarnya juga ia sangat menolak dan tidak setuju dengan macam perjodohan seperti ini.

Tae yeon mengangguk.

“aku juga….aku sudah menyukai seseorang” aku kim bum.

“maka dari itu kita buat rencana….karena aku juga sepertinya sudah ada seseorang yang aku sukai” balas tae yeon.

“ya aku mencintai orang lain” tambah kim bum.

“rencana seperti apa?” tanyanya.

“orang tua kita terlalu berangan-angan untuk menjodohkan kita. Jadi…ketika hari perjodohan……maksudku ketika hari pertunangan kita tiba….kita bawa pasangan masing-masing….bagaimana?” tawar tae yeon.

Kim bum berfikir, ia setuju saja dengan ide tae yeon namun apakah so eun mau? Atau apakah so eun akan memaafkannya atau bahkan semakin membencinya?

###

So eun melihat berita di televisi.

‘pangeran Kim Sang Beom telah di jodohkan’

So eun terhenyak melihat berita itu. Dadanya sesak, sangat sesak dan sakit.

~continued~

 

11 thoughts on “He is a prince ??? (part 9)

  1. Taeyeon seorang gadis yang berani. Dia dengan tegas menolak di depan kimbum.
    Apa kimbum berhasil membawa soeun ke acara pertunangannya atau tidak?
    Jadi makin penasaran

  2. Masalahnya tambah lebar aja niiih…makin rumit…

    Untungnya yeoja yg dijodohin sm Bum jg nolak…tp Sso uda keburu tau beritanya klo Bum dijodohin, malang sekali nasibmu Sso…

  3. eps kali ini judulnya galau …

    perasaan sso pasti campur aduk antara marah, cinta dan kangen heu… blom lagi kesel krn jin ki msh ngejar2 haha..

    lucky sso, dicintai dua namja sekaligus kekeke~~~

    bum jg perasaannya ga tenang, benci dgn perjodohan dan rasa rindu yg sangat besar thd sso.. ditambah lagi dia menyangka sso benci ma dia huhuhu lengkap.

    jin ki ga kalah galau, mabok2an sampe dihajar org lol..
    ah tp apakah dr sini dia akan menemukan cinta yg baru pd diri tae yon?

    wuiih semakin menarik krn tae yoon sepertinya suka ma jin ki, dan tentu aja dia nolak perjodohan tsb…

    ayo cuss ke next part😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s