THIS IS MY LIFE ! NOT YOUR LIFE ! (PART 3)

THIS IS MY LIFE ! NOT YOUR LIFE !

 Enjoy this !!!

 

Author : Resi R.

Cast : Kim Sang Beom, Kim So Eun

Other cast : Jung So Min, Jung Il woo, Lee Min Ho, Park Min Young, Yoo Ah In, Park Shin Hye.

Genre : sequel, friendship

 

PART 3

So min mengangkat tangan untuk membuka pintu. Perlahan ia memutar arah kenop dan masuk dengan hati-hati. Di dapatinya so eun masih meringkuk di atas kasurnya. So min segera menghampiri so eun. Melihatnya tidak memejamkan mata. So eun ternyata membuka matanya yang sendu.

“aku bilang apa? Kau sakit !”ujar so min tanpa aba-aba dan duduk di kursi menghadap so eun. So eun mengerjapkan mata dan mulai menatap so min.

“aku tidak apa-apa” balas so eun.

“sungguh. Aku tidak apa-apa” lanjutnya dengan nada serak dan berat.

So min menghela nafas.

“yasudah. Yang penting kau harus segera sehat. Aku ke sini ingin menjengukmu” ujar so min.

So eun sekarang diam, tak memberikan reaksi apa-apa pada ucapan so min.

“kau tahu aku hampir frustasi mencarimu di kampus. Ponselmu tak aktif. Aku takut akan seperti dulu” desak so min. So min memang cerewet di mana dan dengan siapa saja. Terlebih pada so eun.

“jangan mengkhawatirkanku” ujar so eun, memindahkan pandangan pada langit-langit kamarnya yang putih.

So min kembali membuang nafas.

“kau tak lupa dengan sesuatu? Tas mu? Tadi ada seseorang yang mencarimu” cerita so min.

“tidak” jawab so eun enteng.

“dia ingin mengembalikan tasmu. Kau ingat kau meninggalkan tas mu? Dia ingin mengembalikannya”

so eun menatap so min lagi.

“siapa?” tanya so eun, sekarang ia sudah ingat insiden kemarin yang membuatnya entah kenapa merasa tidak menyenangkan.

“seorang laki-laki. Namanya kim sang bum”

###

 

Kim bum hanya memandang sungai han setelah pulang. Udara dingin yang menusuk semua tubuhnya tak membuat kim bum enyah dan pergi dari situ. Kim bum agak merenung dan entah apa yang ia pikirkan karena ia sendiri tidak tahu sedang memikirkan apa dan ini tidak penting untuk di pikirkan. Wanita itu benar-benar membuat kim bum penasaran. Kim bum ingin cepat-cepat bertemu dengannya lagi, tentunya setelah dia kembali masuk kuliah dan saatnya kim bum mengembalikan tas itu.

“musim salju sebentar lagi tiba” ujarnya.

Sesaat kemudian kim bum diam lagi, mencerna sesuatu yang dipikirkannya dan tidak penting itu adalah cerita Jung So  Min tentang Kim So Eun sejak mereka bertemu tadi.

“so eun itu seperti orang mati, karena dia tak punya semangat sama sekali, ia tak pernah tersenyum. Bahkan aku saja sahabat lamanya tak dapat membuat ia berubah. Sekecil apa pun. Oh aku sungguh capek dengan semua ini. tapi aku yakin so eun lebih capek menghadapinya” perkataan so min itu terus melayang di kepala kim bum. Dan ini semakin membuatnya ingin tahu tentang Kim So Eun itu.

“kenapa aku jadi memikirkan wanita itu?” ujarnya sedikit kesal, wanita itu bukan siapa-siapa nya.

Kim bum memandang langit sore di atasnya. Awan-awan bergumpal berwarna ke oren-jinggaan karena terpantul cahaya matahari. Kim bum tak ingin melewatkannya begitu saja, ia mengambil kamera lalu memotretnya. Sungguh indah. Kim bum kembali memandang langit.

Tiba-tiba ponselnya berdering, mengalihkan pandangan kim bum dari langit kuning itu pada ponselnya.

“hmmm noona” gumamnya. Kim bum tahu ia harus segera pulang.

“baiklah noona aku akan pulang sekarang….jangan khawatirkan aku !” jawab kim bum dalam telpon saat pertama kali mengangkatnya, tak membiarkan min young mengucapkan hallo sekalipun. Kim memutus hubungannya dan menarik nafas.

“aku ini sudah dewasa ! kenapa harus di hubungi di saat aku masih ingin disini?” gerutunya seraya membawa helm dan bergegas menuju motornya yang terparkir tak jauh dari tempat ia duduk.

###

 

Malam sudah tiba, so eun masih berada di dalam kamarnya. Ia tak tahu apa yang membuatnya menjadi teringat dengan orang itu. Orang yang telah menubruknya hingga tasnya terjatuh, namun so eun tak ingat sama sekali dengan wajahnya. Karena ia tak begitu peduli.

Suara geseran pintu terdengar, bibi Shin masuk seraya membawakan makan malam untuknya.

“noona kau harus minum obat ! maka dari itu makanlah sedikit sebelum nona meminumnya” bibi shin meletakkan nampan berisi makanan hangat itu pada meja. Mengulurkan tangan untuk membantu so eun duduk. So eun tak bicara apa-apa, namun ia hanya menurut. So eun menatap mangkuk berisi sup hangat itu.

“aku ingin bibi menyuapiku !” pinta so eun. Bibi shin sendiri tak menyangka so eun akan memintanya untuk menyuapinya. Dengan senang hati bibi shin mengambil mangkuk itu lalu menyuapkan satu sendok sayur pada so eun. Bibi shin terlihat senang.

So eun membuka mulutnya, tak lebar. Secukupnya saja untuk sendok itu bisa masuk.

“makanlah yang banyak nona !” ujar bibi shin.

Kakek so eun melihatnya dari balik pintu. Hatinya seakan teriris melihat keadaan so eun cucu kesayangannya. Namun untuk saat ini ia merasakan kebahagiaan karena cucunya sudah bisa menerima untuk makan.

“kakek berjanji akan membuat kau bahagia lagi so eun” ujar kakeknya dengan penuh pengharapan, lalu beranjak dari tempat itu.

###

 

Kim bum menuruni anak tangga, menghampiri kakak perempuannya dan kakak iparnya yang sedang menonton televisi. Kim bum langsung duduk di tengah-tengah antara mereka, sehingga mereka sedikit terdesak. Min ho terlihat sedikit kesal dari wajahnya.

“apakah bisa kau duduk di sebelah saja?” Tanya min ho.

Kim bum malah tersenyum.

“maaf aku mengganggu hyung, tapi malam ini sangat dingin kau tahu?” jawab kim bum tanpa wajah berdosa sedikit puun.

“ya aku tahu’ jawab min ho.

“tunggu, biasanya jika dia seperti ini pasti ada yang ingin ia pinta atau apapun itu….” Tebak min young, sudah mengenal dengan baik bagaimana kelakuan adiknya jika menginginkan sesuatu.

“ah noona hebat sekali, masih bisa membaca pikiranku” ucap kim bum.

“benarkah adikmu suka begini? Ah lama-lama dia akan mengganggu kita” ujar min ho, sedikit bercanda.

“ada apa?” Tanya min young.

Kim bum menghela nafas. “aku tidak bisa tidur” jawabnya.

“apa yang membuatmu susah tidur? Apa kau merasa kesepian karena tak ada seorang kekasih yang selalu memintamu untuk tidur dengan nyenyak?” min ho lagi-lagi menggoda adik istrinya ini.

“bukan itu” jawab kim bum dengan nada serius, tak membalas candaan yang di keluarkan min ho.

“ah aku tahu aku tahu, kau sedang tak ingin bercanda….” Balas min ho.

“apa yang kau pikirkan?” tany min young.

“aku ingin bertanya. Apa mungkin di dunia ini ada orang yang tak pernah tersenyum?” Tanya kim bum menatap min young dan min ho bergantian.

Min ho mendadak tertawa. “mana mungkin”

“orang yang tak pernah tersenyum? aku tak yakin di dunia ini ada orang yang tak pernah tersenyum. Ini mustahil”jawab min young.

Kim bum diam mencerna jawaban min ho dan min young.

“tapi…………”ucap kim bum terhenti.

“tapi aku pernah bertemu dengan orang seperti itu” lanjutnya.

Min ho mendadak mengerutkan kening, begitu pula dengan min young.

“huh? Benarkah?” Tanya min young memastikan perkataan adiknya.

Kim bum mengangguk.

“jadi itu yang membuatmu sulit untuk tidur?” Tanya min ho.

Kim bum mengangguk ‘lagi’

“kenapa kau terlalu memikirkan hal yang seperti itu ! belum tentu orang yang pernah bertemu denganmu itu memang tak pernah tersenyum, kau bertemu dengannya di saat ia sedang tidak ingin tersenyum. Mungkin itu hanya perasaanmu” celoteh min ho, ia masih tak percaya dengan apa yang dikatakan kim bum.

Kim bum menggaruk kepalanya. “aku juga tidak tahu kenapa aku selalu memikirkannya, dan ini membuatku ingin tahu lebih jauh….”balas kim bum.

Min young dan min ho masih dalam pemikiran mereka masing-masing.

Kim bum mengulurkan tangan untuk mengambil secangkir teh hangat yang tersimpan di meja, kim bum meneguknya.

“malam ini dingin sekali’ ujarnya lagi dan kim bum berdiri, beranjak meninggalkan min ho dan min young yang masih saling diam.

“adikku tidak pernah seperti ini sebelumnya” min young membuka suara ketika kim bum sudah masuk ke dalam kamarnya.

“benarkah?” Tanya min ho menatap istrinya.

“ia tak pernah memikirkan sesuatu sampai seperti tadi….ada apa ya? Sebenarnya siapa yang ia temui itu?” min young mendadak penasaran.

“orang yang tak pernah tersenyum?”

###

 

Pagi yang dingin dan sedikit cerah sudah tiba. So eun terbangun dari tidurnya setelah tidur yang cukup lama membuat pikirannya tak seburuk kemarin-kemarin. So eun semakin membuka matanya dan berusaha untuk beranjak dari kasur walaupun ia kelihatan masih lemah dengan wajah pucat yang menghiasi wajah cantiknya itu. So eun bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Pagi ini sangat dingin, udara menusuk-nusuk begitu saja.

Kakek so eun sedang sarapan di meja makan, ponselnya bordering. Ada telpon masuk dari dokter Lee. Dengan segera tuan Kim pun mengangkatnya.

“yeoboseyo dokter lee” jawab tuan kim dalam telpon itu.

“…….”

“ empat hari lagi? Baiklah aku akan menunggu”

“…….”

“sampaikan saja pada anakmu”

“…..”

“baiklah, akan aku hubungi lain waktu”

Sambungan telpon pun di tutup.

Kakek so eun menghela nafas setelah tadi berbicara dengan dokter lee dalam telpon.

Tiba-tiba so eun cucunya datang menghampirinya, ia cukup terkejut kenapa so eun memakai pakaian dengan rapi dan sudah terlihat sedikit cukup segar walaupun wajahnya masih pucat pasi.

“aku ingin masuk kuliah hari ini” ujar so eun.

“kuliah? Cucuku tapi kau belum sembuh dengan baik. Dokter lee melarangmu untuk kuliah selama tiga hari” kakeknya tak memberikan izin.

“tapi aku sudah merasa baik sekarang. Apa kakek percaya padaku?” sepertinya so eun tetap ingin masuk hari ini dan entah apa yang mendorong keinginannya itu.

Sang kakek masih dalam pemikirannya.

“kakek percaya” jawabnya, walapun setengah hati ia membiarkan so eun untuk masuk ke sekolah hari ini, dia yakin so eun berbohong atau apa. Tapi ia tak ingin membua cuvunya lebih sedih.

###

 

Kim bum memarkirkan motornya setelah sampai di kampusnya. Perlahan ia membuka helm lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

“brrrrr…aku tak tahu kenapa cuaca begitu dingin, ini belum saatnya musim salju tapi sudah mampu membuatku membeku bahkan saat memakai baju tebal seperti ini” celoteh kim bum panjang.

Kim bum pun berjalan menelusuri lorong kampus menuju kelasnya. Kelas photographer. Di dapatinya sosok il woo tak jauh berjalan di depannya.

“il woo-ssi…”teriak kim bum.

Il woo menoleh. “bum-irang” Il woo berhenti dan menunggu kim bum menyusulnya.

“kau tahu ini berapa derajat?” Tanya kim bum.

“aku tidak ingin memikirkannya, karena ini sangat dingin” jawab il woo memasukan tangannya pada jaket hangat dan besar itu.

“ummm sekitar 5 derajat atau 3 derajat? Aku tidak yakin nanti jika musim salju tiba…akan lebih dingin dari pada ini” ujar kim bum berjalan bersama il woo. Mereka melangkah bersama menuju kelas mereka.

###

 

So eun turun dari mobil hitam dan keluar dengan baju tebal. Sangat tebal, mantel dan sebagainya. Tidak tahu apa yang akan terjadi jika so eun tak memakai baju-baju ini. ia akan masuk rumah sakit terlebih ia memang belum sehat secara sempurna. So eun berjalan dengan wajah yang di tundukkan. Menuju kelasnya yaitu kelas music. Setibanya di sana so eun langsung duduk dengan lemah pada kursinya. So min yang kebetulan ada disana kaget melihat so eun sudah masuk kuliah.

“so eun-ssi? Kenapa sudah masuk? Kau sudah sembuh?” desak so min yang telah mendapati so eun duduk di kursinya.

“ya…” so eun mengangguk.

Namun so min sedikit merasa tidak benar dengan pengakuan so eun.

“benar-benar sembuh?” Tanya so min menatap so eun.

So eun diam tak menjawab. Karena sebenarnya ia hanya tidak ingin berada di rumah dan akan teringat dengan ke dua oang tuanya. So eun lebih memaksakan untuk masuk kuliah dari pada diam rumah.

“oh baiklah aku mengerti…..” so min seakan mengerti apa yang di rasakan so eun. So min tersenyum.

###

 

“kau sudah mengembalikannya?” tanya il woo ketika mereka duduk di kursi, menatap area luar.

“belum” kim bum menggeleng.

“kemarin pemiliknya tidak masuk kuliah, aku hanya bertemu dengan temannya” lanjut kim bum.

“kau tidak memberikan tasnya pada temannya?” il woo menatap kim bum, menunggu jawaban darinya.

“tidak” jawab kim setelah menghela nafas.

“temannya menyuruhku untuk mengembalikannya sendiri. Aku tidak tahu alasannya kenapa?”lanjutnya.

“oh” ujar il woo. Membentuk huruf ‘O’ dengan mulutnya. Il woo bisa mengerti.

“sebaiknya musim salju tidak usah datang saja” alih kim bum pada pembicaraan pertama. Saat ini ia tidak ingin memikirkan wanita itu. Kim so eun. Sudah cukup ia susah tidur kemarin malam karena otaknya terus saja berputar memikirkan perkataan Jung So Min dan ke dua kakaknya. Dan untuk sekarang ini ia tidak ingin konsentrasi belajarnya jadi buruk karena pikirannya terus berkecamuk mengenai keanehan dan keganjalan dalam diri wanita itu. Kim bum membuang nafas.

“ah sebentar lagi dosen kita akan masuk. Dosen menyebalkan. Dia akan marah dengan tiba-tiba, aku tidak mengerti dia marah karena urusan wanita tiap bulan atau apa?. Dan aku baru ingat aku belum menceritakannya padamu. Lebih baik kau bersiap-siap saja. Ini sangat menyebalkan” cerita il woo dengan wajah kusutnya. Il woo tidak suka dosen ini.

“benarkah? Marah tiba-tiba?” kim bum merasa heran. Kenapa bisa begitu?

Il woo mengangguk dengan malas.

“ah . . . .bagaimana jika aku mengambil gambarnya ketika ia sedang marah, lalu memasangnya di web kampus. Apakah itu akan menimbulkan masalah besar?” kim bum bercanda dengan seadanya.

Il woo tertawa mendengarnya. “kau tidak akan selamat”

###

 

Kakek so eun terlihat duduk tenang di ruang kerjanya, duduk menyandar pada kursi yang bisa berputar-putar itu. Di dalam ketenangan wajahnya itu tak berarti pikirannya juga sedang tenang. Setelah tadi ia kembali menghubungi dokter Lee membuatnya mengulang-ulang kembali rencana yang ingin ia lakukan. Kim gi beong kakek so eun ini teringat akan pembicaraan antara dirinya dengan dokter Lee ketika pada saat itu so eun sedang sakit.

“aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membuat cucuku merasa bahagia” ujarnya, mengenang sekarang so eun tak lagi seperti dulu.

“aku memang tidak punya anak, istriku tidak bisa memberikanku seorang anak.” Ujar dokter lee sedih.

“tapi aku punya dua anak  yang aku angkat menjadi anak, laki-laki dan perempuan. Mereka Yoo Ah In dan Yoo Na Ra. Mereka tidak tahu kalau mereka bukanlah anak kandungku sampai usia mereka menginjak 16 tahun. Mereka mulai sadar bahwa di antara mereka tak punya kemiripan sama sekali denganku bahkan dengan istriku, di tambah nama marga mereka yang tidak sama dengan diriku, hanya saja sama dengan istriku Yoo Sung Jin. Dari sanalah masalah hebat mulai muncul. Anak perempuanku Yoo Na Ra pergi dari rumah sementara Yoo Ah In tidak bisa menerima kenyataan bahwa kami bukanlah orang tua kandung mereka. Sampai ada suatu kabar bahwa anakku Yoo Na Ra meninggal dalam sebuah kecelakaan.” Lanjut dokter lee, sangat sedih mengingat kejadian itu. Benar-benar peristiwa buruk di matanya.

Kakek so eun pun mejadi iba mendengar cerita dokter lee.

“lalu satu tahun kemudian, Yoo Ah In sudah dewasa dengan pemikirannya. Ia sudah bisa menerima kenyataan dengan baik. Aku mengirimnya ke Paris untuk melanjutkan kuliahnya di sana. Menjadi seorang psikolog. Ia sudah 5 tahun kuliah di sana sejak umurnya 18 dan akan segera kembali ke korea.” Dokter lee melanjutkan ceritanya.

Kakek so eun tertegun, ternyata ini lebih menyedihkan dari pada yang ia kira, tapi dokter lee sama sekali tak merasakan beban di hidupnya. Tak menampakkan kesedihannya sama sekali.

“maaf aku tak mengira seperti ini yang pernah kau alami dokter lee” ujar kim gi beong.

Dokter lee tersenyum. “ini sudah menjadi angin lalu, tidak baik jika terus-terusan bersedih mengingatnya untuk kesekian kali”

“jadi anakmu seorang psikolog?” Tanya kim gi beong. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan lagi dengan dokter lee.

Dokter lee mengangguk. “Yoo Ah In akan menjadi seorang psikolog, itulah cita-citanya”

“hmmm….cucuku. Kim So Eun. Dia seperti ini sejak kejadian yang menyebabkan orang tuanya meninggal 3 tahun yang lalu. Kecelakaan di saat hari ulang tahunnya. Sebenarnya ini adalah salahku.” Cerita kim go beong, ia berusaha melanjutkan perkataanya setelah membuang nafas yang begitu berat di dadanya.

“saat perjalanan menuju acara ulang tahun cucuku, Kim So Jin anakku sudah membuat masalah di perusahaanya. Perusahaanya di ambang kebangkrutan. Waktu itu aku sungguh tak mengerti dengan jalan pikirannya mengapa sampai bisa ia membuat kesalahan yang begitu besar, aku menyuruh dua orang mata-mata untuk mengawasi pekerjaannya saat itu. Anakku Kim So Jin dinilai sangat ceroboh. Sampai ketika cucuku Kim So Eun berulang tahun, dua orang suruhanku memberi inforamasi mengenai pekerjaan Kim So Jin, Kim So Jin menjual seluruh sahamnya pada orang lain, dan orang itu adalah musuh besarku pada saat itu karena orang itu telah membunuh istriku, aku marah besar padanya. Ketika Kim So Jin dan istrinya sedang dalam perjalanan menuju ulang tahun anaknya dan tentunya cucuku. Aku menghubunginya, marah besar padanya, tak peduli ia sedang berada dimana sekarang. Dan saat itu ketika sambungan telpon masih terhubung aku mendengar suara bising dan aneh yang begitu menegangkan. Mereka mengalami kecelakaan. Aku menyesal sampai saat ini” kim gi beong sungguh sungguh menyesali atas apa yang ia lakukan saat itu yang membuat cucunya menjadi seperti ini.

“dan sampai saat ini cucuku belum tahu bagaimana yang sebenarnya terjadi” lanjutnya.

“kita sama-sama memiliki kenangan yang begitu buruk tuan kim” kini dokter lee yang menjadi iba.

“dan aku ingin meminta bantuan padamu, aku ingin so eun bisa kembali seperti dulu lagi. Dimana di saat kedua orang tuanya belum meninggal. Aku mohon aku hanya bisa bahagia bila melihat cucuku bahagia, karena ini sepenuhnya kesalahanku, aku hars bertanggung jawab. Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa saat ini karena aku tidak tahu harus berbuat bagaimana?” kim gi beong berharap dokter lee bisa membantunya.

“seorang psikolog bisa membantu cucuku, dan itu adalah anakmu. Karena aku percaya” lanjut kim gi beong.

“anakku?” ulang dokter lee.

Kim gi beong mengangguk.

“apa dokter lee bisa menjaga pembicaraan kita? Maaf jika ini memberatkanmu. Tapi aku harap kau bisa memikirkannya” ujar kakek so eun dengan penuh pengharapan.

Sejenak dokter lee berfikir tentang arah pembicaraan mereka.

“akan aku fikirkan selanjutnya. Akan aku bicarakan terlebih dahulu. Anakku masih di Paris dan akan pulang selebihnya beberapa hari lagi” jelas dokter lee.

“terimakasih dokter lee, kau ingin membantu”

Mengingat pembicaraan itu kim gi beong hanya menghela nafas dengan begitu berat.

###

 

“so eun-ssi, kau makan lagi bekalku ya?” pinta so min ketika kini mereka sedang duduk berdua di kursi dekat jendela. Saat ini adalah waktu istirahat.

So eun hendak menolak, namun dengan segera so min menyambar dengan ucapannya.

“jangan lagi membuatku khawatir, saat ini kau masih sakit. Jadi makanlah…” so min menyodorkannya pada so eun. So eun menatap so min.

“baiklah aku akan makan” jawab so eun. Meraih kotak bekal itu lalu mulai melahapnya. So min tersenyum melihatnya.

“so eun-ssi kau tahu? Kita ini sudah lama berteman, sejak kita SMA. Tetapi kenapa sikapmu hanya seperti itu padaku?” Tanya so min masih menatap so eun yang mengunyah makananannya. So eun tak menjawab. Ia tak ingin menjawabnya kenapa.

“hmmmmm……” so min menarik nafas lalu menghembuskannya.

“kau tahu? Kadang-kadang hatiku sakit karena kau selalu mengabaikanku ! aku mengkhawatirkanmu. Apakah kau juga suka mengkhawatirkanku?” tanya so min.

So eun menghentikan aktivitas makannya. Ia merasa pertanyaan so min tadi membuatnya tak lagi nyaman untuk makan. Entah kenapa? Bagaimana untuk mengkhawatirkan orang lain, ia juga tidak tahu apakah ia juga mengkhawatirkan dirinya sendiri?

“untuk sekarang biarkan aku sendiri” jawab so eun. So eun beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan so min. So min sadar ia sudah salah bicara. So min merutuki dirinya sendiri.

###

 

“kau ingin ke kantin?” Tanya il woo.

“ah tidak. Kau saja. Aku ada rusan lain” jawab kim bum.

“urusan dengan tas itu?” Tanya il woo lagi, melihat kim bum yang begitu tergesa-gesa.

“ah hehehe ya….aku harap pemiliknya sudah masuk hari ini….aku akan mencarinya…aku tak enak menyimpan barang orang lain lama-lama” ujar kim bum, lalu pergi mencari Kim So Eun. Pemilik tas kecil itu.

Kim bum ingat apa yang dikatakan so min waktu itu. Kelas music. Jung so min dan kim so eun berada di kelas music. Kim bum pun berjalan menuju kelas dimana kelas music itu berada. Cukup jauh dengan kelas phothographer. Tapi kim bum tidak keberatan. Di tengah perjalanan, tiba-tiba saja ia melihat sosok seorang perempuan yang sedang berjalan sendirian. Entah kemana tujuan perempuan itu. Kim bum tidak tahu. Tapi kim bum tahu siapa orang itu setelah ia mencoba mengamati dengan seksama. Kim So Eun.

“apakah dia Kim So Eun itu?” Tanya kim bum pada dirinya sendiri.

Setelah bergulat dengan pikirannya tentang apakah benar perempuan itu kim so eun pemilik tas atau bukan, kim bum pun memilih untuk mengikutinya walaupun ia belum yakin. Wanita itu berjalan dengan gusar, tak henti-hentinya wajahnya ia tundukkan. Rasa penasarannya kembali muncul setelah kini ia berada di dekat taman yang di katakana il woo terkutuk itu. Wanita itu sekarang tengah berdiri menghadap kolam kecil yang sepi, hanya hembusan angin yang nampak. Tak lama, wanita itu duduk di kursi yang sama ketika kim bum melihatnya waktu itu. Menyendiri di sana. Kim bum memperhatikannya dari jarak yang cukup jauh, di amatinya lagi wanita itu. Dan benar itu adalah kim so eun, si pemilik tas. Dengan keberanian kim bum pun melangkahkan kaki lebih dekat menuju kim so eun itu. Kim so eun masih diam disana, entah apa yang sedang ia pikirkan atau apapun yang ada di dalam pikirannya.

Kim bum berhenti tepat di depan kim so eun yang masih duduk diam. Wajahnya begitu pucat dengan pakaian tebal yang membungkus tubuhnya. Memang ia belum sepenuhnya sembuh.

Kim bum menyodorkan tas itu kea rah so eun, supaya so eun sedikit mengagkat wajahnya dan menyadari kehadiran orang lain disini.

“tas mu !” ujar kim bum masih berdiri di depan so eun.

Akhirnya so eun mendongakkan kepala, melihat seseorang di hadapannya lalu beralih menatap tas miliknya.

“ini tas mu ! aku ingin mengembalikannya” ujar kim bum lagi kini seraya tersenyum, memamerkan senyum terbaiknya.

So eun menghela nafas.

“kenapa ada orang yang datang di saat aku sedang ingin sendiri” ujarnya, tak memikirkan nanti apa yang akan di rasakan kim bum.

“ah tidak, maksudku bukan begitu ! aku hanya ingin mengembalikan tasmu. Aku tidak ingin menyimpan barang orang lain terlalu lama” kim bum berusaha menjelaskan.

“kau yang waktu itu menubrukku?” Tanya so eun seraya mengambil tas miliknya. Entah kenapa ia merasa kehadiran orang ini membuatnya lebih kacau, ya lebih daripada tadi ketika perkataan so min yang mebuatnya tidak nyaman.

Kim bum tersenyum dan ia pun memilih duduk di sebelah so eun, dengan jarak yang cukup jauh.

“maaf, aku tak sengaja waktu itu, aku terlalu focus dengan kameraku hahaha” jawab kim bum seraya tertawa. Karena sekarang ia merasa senang sudah bisa mengembalikan tas so eun dan kahirnya bertemu dengannya. Rasa penasarannya sedikit hilang, tapi entah bagaimana dengan nanti.

So eun tak lagi membalas perkataan kim bum. Sekarang ia diam lagi.

“bukannya kau sakit? Kenapa kau sudah masuk kuliah? Hari ini cuaca sangat dingin ! nanti kau bisa lebih sakit” ujar kim bum, berbicara seperti ia sudah mengenal kim so eun dengan baik.

So eun yang tadinya diam dengan tatapan yang tak berarti, mengalihkan tatapannya pada kim bum dengan malas.

“dari mana kau tahu?” Tanya so eun. Memang saat ini udara sangat dingin bahkan lebih dingin, tak seharusnya ia masuk hari ini.

Kim bum menggaruk kepalanya. “dari temanmu” jawabnya kikuk. Tidak ! apa yang dirasakan kim bum saat ini? kenapa ia merasa detak jantungnya begitu tak beraturan ketika kim so eun ini melihatnya walaupun tatapannya yang di lemparkan so eun tak berarti apa-apa. Kim bum merasa sedikit kikuk. Ada apa ini? kenapa? Tubuhnya yang tadi merasa dingin perlahan menjadi panas.

“ah maaf aku sedikit lancang….” Ujar kim bum.

So eun menghela nafas lagi, dengan malas juga ia mengalihkan pandangan dari kim bum.

“selain so min, kau yang tahu aku ada di tempat ini.” ucap so eun.

Kim bum menatap so eun, berusaha mengatur-atur apa yang akan ia ucapkan selanjutnya.

“Aku Kim Sang Bum…..jurusan musik….aku baru pindah beberapa hari kemarin dari jepang” kim bum memperkenalkan dirinya pada so eun. Namun so eun hanya menatapnya sekilas lalu kembali lagi memandang ke arah depan. Sebenarnya sekarang ia hanya ingin sendiri.

“namamu Kim So Eun?” Tanya kim bum, mencoba memastikan saja. Kali ini so eun menanggapinya dan mulai melihat ke arah kim bum lagi. Membuang nafas dengan kesal lalu beranjak dan mulai pergi menjauh dari kim bum yang mulai keheranan.

“kenapa dia pergi?” kim bum bertanya pada dirinya sendiri.

“bahkan dia sama sekali tak mengucapkan terimakasih?” kim bum merasa tak percaya atas apa yang ia lihat barusan. Benar-benar aneh, walaupun kim bum berusaha tersenyum baik pun so eun tak juga melemparkan senyum padanya. Aneh ! benar-benar aneh dan bahkan ia menjadi lebih penasaran. Sebenarnya masalah apa yang pernah terjadi padanya.

“kim so eun…. Apa aku harus mendekatimu terlebih dahulu agar aku bisa melihatmu tersenyum ! seperti apa yang di katakana temanmu jung so min? Aku penasaran” ujar kim bum, bicara pada dirinya sendiri.

###

 

Kuliah hari ini selesai, kim bum keluar kelas bersama jung il woo menuju tempat parkir kendaraan. Ketika itu il woo pamit untuk pulang lebih dulu karena ia ada urusan saat ini. kim bum pun menaiki motornya lalu hendak memakai helm. Tapi tujuannya memakai helm terhenti saat ia menemukan sosok kim so eun lagi yang sedang berjalan dengan sedikit cepat menuju sebuah mobil yang telah menunggunya di depan. Mobil berwarna hitam. Kim bum memperhatikannya sampai so eun masuk ke dalam mobil itu. Kim bum dengan segera memakai helmnya dan entah kenapa ia merasa ia ingin mengikuti mobil itu. Lebih tepatnya mengikuti so eun. Ya kim so eun. Dengan gerak yang lebih cepat kim bum menstatrter motornya lalu menancap gas untuk segera mengikuti mobil itu. Kim bum keluar dari area kampus, tak jauh dari pandangan matanya mobil berwarna hitam itu belum cukup jauh. Pelan-pelan kim bum mengikutinya sampai 15 menit dan mobil itu berhenti di sebuah rumah mewah. Kim bum juga memberhentikan motornya tak jauh dari sana. Bersembunyi di belokan di dekat mobil yang di naiki so eun berhenti. So eun keluar dari mobil itu di sambut dengan seorang wanita yang tak begitu muda dan tak begitu tua. Bibi Shin. Kim bum terus memperhatikannya sampai sosok so eun lenyap dari penglihatannya.

“jadi inikah rumahnya?” batin kim bum.

 

~continued~


24 thoughts on “THIS IS MY LIFE ! NOT YOUR LIFE ! (PART 3)

  1. yak..jgn smpe yoo ah in jth cinta sm soeun nie…
    Tp gmn klu soeun tw yg sbnr’a ttg kmatian ortu’a ???
    Dy bs” benci sm kakek’a…
    Haaaah…

    Kimbum kya’a mulai da sinyal” k soeun nie…
    Hehehe🙂

  2. Jangan menyerah “Autor”(?) kamu pasti bisa membuat so eun tersenyum,,, eh maksud nya yang jangan menyerah bummie,

  3. waddaw !! Mkin penasaran .. Bkn oppa saja yg pnasaran dgn Sso-eonnie😦 saia jg pnasaran klnjutan kisah klyn ! Aplgy nnti akn ada tkoh bru dr langit -Yoo Ah In .. Saeng , lgsg d.lnjut ne bca’x ?

  4. Hmmm…jd org tuanya Sso meninggal stlh dimarahin sm kakeknya Sso…
    Ayolah Sso senyuum…kesian So Min, dia kehilangan sahabatnya…

  5. Cieeee
    ada yg merasa dag dig dug nih karena tatapan sso.walaupun tatapan ksong..
    Hehehe

    ya ampun sso…
    Mw sampe kpn dirimu sperti ini…
    Ayooo bum bntu kmblikan senyum sso…

    Kyaaaa
    bum sudah tau rmh sso..
    Brti ni lngkh awal pdkt..
    Kekekeke

  6. Akhirnya bum bisa ngembaliin tas sso jga .. Tpi itu malah membuat bum tambah penasaran ama sso ,, karena sso sma sekali gk ngucapin terima kasih malah ia cuek ..

  7. msh blom ada perubahan berarti pd diri sso… ah bahkan dia sangat dingin thd bum yg ngajak kenalan..

    sso ngerasa bum mengganggu?? oh berat sekali langkah yg hrs ditempuh bum utk membuat sso kembali ceria hehe bum fighting!!!
    kakek sso mau ngenalin sso ma anaknya dr lee, sekedar butuh psikolog atau ada maksud lain ya dr sang kakek? hehe

    dan bum semakin kepo ma sso sampe buntutin sso haha.. ayo lanjutkan bum, kamu pasti bisa xixixi

  8. Ckck… bumppa sampai mengikuti sso krn sangat penasarannya kkk^^
    Ooh…jd krn kakek kecelakaan ini terjadi,, tp sbnrnyakan ini bkn mau kakek jg ini murni krn kecelakaan.😦
    Sso cpt lah sprtidulu kshn kakek yg merasa bersalah bgtt,, semoga sso jg bs mengerti nntinya setelah tau yg sbnrnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s