THIS IS MY LIFE ! NOT YOUR LIFE ! (PART 4)

THIS IS MY LIFE ! NOT YOUR LIFE !

please leave your commen, don’t copy without my permission🙂

 Enjoy this !!!

 

Author : Resi R.

Cast : Kim Sang Beom, Kim So Eun

Other cast : Jung So Min, Jung Il woo, Lee Min Ho, Park Min Young, Yoo Ah In, Park Shin Hye.

Genre : sequel, friendship

PART 4

“ada apa? Kenapa kau melamun?” tanya il woo yang mendapati kim bum tengah duduk sendirian di kursinya, memandangi sesuatu dari kameranya. Kim bum masih tak menyadari apa-apa, karena sekarang pikirannya sedang melayang kemana-mana.

“siapa gadis itu?” tanya il woo yang sekarang ikut duduk di sebelah kim bum.

Kim bum akhirnya sadar, dan dengan cepat menoleh ke arah il woo.

“siapa?” ulang il woo.

Kim bum menggeleng dengan kikuk. Lalu menaruh kameranya setelah menghela nafas.

“akhir-akhir ini aku selalu memikirkannya. Dan begitu saja muncul di kepalaku” ujar kim bum.

Il woo menautkan salah satu alisnya.

“kau menyukainya?” tanya il woo heran, kim bum tidak begini jika pagi yang cerah tiba. Ia selalu terlihat bahagia sebelumnya.

“entahlah aku tidak tahu, aku tidak begitu kenal dan akrab dengannya. Dan . . . .yang membuatku heran dengan diriku sendiri adalah aku selalu merasa cemas dengannya” cerita kim bum apa adanya dengan apa yang ia rasakan sekarang.

“aku memang tidak tahu, tapi apakah gadis ini pemilik tas itu?” tanya il woo.

Kim bum menatap il woo sambil mengangguk.

“lalu kenapa kau merasa cemas? Bukankah kau sudah mengembalikan tasnya?” tanya il woo lagi seakan ingin tahu apa yang terjadi dengan temannya.

“kim so eun itu tidak seperti perempuan kebanyakan. Entahlah aku juga bingung” kim bum menyerah.

“ya sudah, bukan urusanku untuk tahu jika kau cemas karena mulai tertarik padanya atau tidak” ujar il woo yang sukses membuat kim bum sendiri sadar dan bergulat dengan otak juga hatinya.

###

“so eun-ssi ada kabar baik” teriak jung so min bahagia.

So eun menatap sahabatnya itu. “ada apa?” tanya nya.

“3 hari lagi akan ada acara di kampus kita, dan setiap kelas jurusan harus menampilkan pertunjukan baik mereka. Aku tahu kau itu sangat hebat bermain piano, maka dari itu aku mohon kau harus bersedia ikut memeriahkan acara ini” jelas so min seraya memohon kepada so eun.

“tidak ! Sudah lama aku tidak memainkan piano dan aku tidak ingin mengingatnya lagi” ujar so eun setelah berfikir agak lama.

“ini masa lalu, tidakkah kau ingin merasa bahagia dengan hidupmu yang baru? Terus bersedih itu tidak baik” ujar so min. So eun menatapnya.

“maaf” jawab so eun lalu beranjak pergi meninggalkan so min.

So min menundukkan kepalanya “cara seperti apa lagi yang harus aku lakukan?” lirihnya.

###

So eun duduk di taman sepi itu seperti biasa. Tiga tahun yang lalu itu memang tak mudah untuk ia lupakan tentang ke dua orang tuanya. Namun anehnya, mengingat itu so eun tidak lagi menangis. Ia hanya menatap rumput dengan kosong.

Tiba-tiba ada suara seseorang yang menyahutnya.

“cuaca begitu dingin, tidak baik duduk terlalu lama disini” sahut orang itu seraya menghampiri so eun. Mau tak mau so eun melihat orang itu. Orang itu tersenyum namun tidak dengan so eun.

“kau . . . .” ujar so eun.

“apa lagi yang sedang kau pikirkan?” tanya orang yang ternyata kim bum itu seraya duduk di sebelah so eun.

So eun hanya diam, ia tak menjawab apa-apa.

Kim bum pun tersenyum lalu melepas sarung tangan yang membungkus ke dua tangannya.

“kemarikan tanganmu !” perintah kim bum. Namun so eun hanya menatapnya saja dengan tatapan bertanya-tanya. Karena so eun tak melakukan apa-apa akhirnya kim bum pun meraih tangan so eun.

“tanganmu begitu dingin, maka dari itu pakailah ini” ujar kim bum yang lalu memakaikan sarung tangan yang ia lepas pada ke dua tangan so eun. So eun masih menatapnya bingung.

“kau akan merasa hangat sekarang” lanjutnya sambil tersenyum.

So eun menghela nafas dan membuat uap putih dari mulutnya.

“kenapa kau kemari?” tanya so eun.

“aku melihatmu ada disini, jadi aku kemari” jawab kim bum.

“tapi saat ini aku benar-benar ingin sendiri, dan kau datang begitu saja” ujar so eun yang sepertinya kesal dengan kehadiran kim bum.

“maaf aku tidak bermaksud untuk mengganggumu, hanya saja cuaca sekarang sangat tidak baik. Ini sudah musim salju” jelas kim bum.

So eun menengadahkan wajahnya ke langit lalu memejamkan mata, kim bum hanya melihatnya dengan seribu pertanyaan yang hadir di dalam kepalanya.

“apa yang membuatnya bersikap begitu dingin” batin kim bum penasaran.

So eun membuka matanya lalu menghela nafas.

“cukup lebih baik sekarang” ujar so eun lalu berdiri, meninggalkan kim bum begitu saja. Kim bum masih mematung di tempat.

###

Sepulang kuliah kim bum berjalan dengan il woo menuju parkiran.

“hey apa kau terus memikirkan perempuan bernama kim so eun itu? Dari tadi kau benar-benar tidak konsen” ucap il woo seraya berusaha memakai helm.

“huh? Entahlah, ada yang mengganggu perasaanku” jawab kim bum. Ia menaiki motornya.

“aku duluan” pamit kim bum seraya menjalankan motornya.

Il woo hanya menatap kepergian temannya dengan bingung, sebenarnya apa yang membuat ia cemas pada wanita bernama kim so eun itu? Sampai il woo sendiri lupa ingin memberi tahu acara festival kampus pada kim bum.

###

Ini bukan jalur menuju rumah kim bum. Entah apa yang mendorong kim bum untuk melaju menuju rumah so eun, ia sendiri tidak sadar. Kim bum menghentikan motornya tak jauh dari rumah so eun. Saat ini ia hanya menunggu di sana.

Tak lama, sebuah mobil hitam datang dan berhenti tepat di depan gerbang rumah yang kim bum tunggu-tunggu. Kim bum membuka kaca helmnya untuk melihat orang itu.

So eun keluar dari mobil hitam itu bersama supirnya, samar-samar kim bum melihat jika so eun masih memakai sarung tangan miliknya. Hal itu membuat kim bum sedikit tersenyum.

“aku harus mencari tahu”

###

Kim bum baru saja sampai di rumah kakaknya. Ia heran ketika masuk tak seperti biasanya di dalam terlihat sepi.

“apa mereka sedang pergi?” pikirnya.

Karena tak mau ambil pusing kim bum pun pergi menuju kamarnya. Menyimpan tas pada meja, lalu menghempaskan tubuh pada kasur. Kim bum memejamkan mata sejenak berusaha mengatur segala sesuatu yang mengganggu pikirannya. Setelah itu ia pun menarik nafas dengan dalam.

Tiba-tiba ponselnya yang ia simpan di dalam saku celana berdering. Kim bum pun merogohnya lalu mengangkatnya.

“ya yeoboseyo il woo-ah, ada apa?” tanya kim bum.

“aku lupa memberitahukannya padamu, 3 hari lagi akan ada acara di kampus kita. Kita semua harus menampilkan karya terbaik sesuai jurusan” jelas il woo.

“oh begitu, apa tema acara itu?”

“yang aku dengar temanya itu tentang teka-teki yang akan membuat orang-orang penasaran” jawab il woo.

“oh begitu, baiklah”

“ya, aku harap aku termasuk kau dan yang lainnya bisa membuat acara itu dengan baik dengan karya kita”

“baiklah”

sambungan telp pun di tutup.

“teka-teki yang membuat orang penasaran?” pikir kim bum. Ia mencoba menyusun suatu rencana. Tapi ia sendiri masih bingung.

Tiba-tiba rasa dingin menjalar di seluruh tubuhnya, ia pun bangkit dan beranjak turun menuju dapur untuk menyeduh teh hangat.

Ketika kim bum sedang menyesap tehnya, terdengar suara pintu yang terbuka. Kim bum melihatnya, dan itu adalah min young noona dan min ho hyung.

“kalian habis dari mana?” tanya kim bum seraya duduk di sova, lalu menyesap tehnya.

Min ho terlihat begitu berbinar-binar bahagia. Min ho merangkul kim bum.

“kalau begini kau tidak akan terlihat muda” ujar min ho yang sukses membuat kim bum bingung. Kim bum mengerutkan kening menatap tingkah hyungnya yang mulai aneh, sementar min young hanya tersenyum.

“sebentar lagi akan ada yang memanggilmu dengan sebutan paman” lanjut min ho.

Kim bum semakin bingung, kim bum pun mengalihkan pandangannya pada min young. Senyum min young semakin mengembang.

“noona, kau hamil?” tanya kim bum.

“ne, kau akan segera punya keponakan” jawab min young.

Kim bum tersenyum “wah wah wah, bahagia sekali kalian. Selamat !” ujar kim bum.

“tapi aku belum ingin di panggil paman, aku terlalu muda” ujar kim bum yang di sambut jitakan dari min ho.

Kim bum meringis kesakitan.

“kau sudah makan bum-ah??” tanya min young.

“aku akan masak makanan untuk kalian kalau begitu” ujar min young.

“ne . . . .” sahut min ho dan kim bum bersamaan.

Selama min young berada di dapur, mereka hanya asyik menonton televisi. Tiba-tiba min ho membuka suara.

“kau itu menonton televisi atau sedang melamun?” tanya min ho heran.

Lamunannya buyar dan langsung menatap min ho.

“aku sedang memikirkan seseorang” jawab kim bum terang-terangan.

“seseorang? Wah ternyata kau sedang jatuh cinta?” goda min ho.

“tidak hyung, hanya saja aku merasa penasaran dan . . . . .cemas” jawab kim bum.

“siapa yang kau pikirkan itu?” tanya min ho.

“aku tidak mau kau tahu dan membocorkannya pada noona, bisa-bisa noona melapor pada ayah dan ibu di jepang. Mereka bisa menggusurku lagi ke jepang” ujar kim bum.

“memangnya kenapa jika ke dua orang tuamu dan min young tahu?” tanya min ho penasaran.

“tidak apa-apa” jawab kim bum, berusaha mengelak.

“ceritakan saja padaku ! Sebagai sesama lelaki, aku tidak akan memberi tahunya kepada siapa pun, termasuk kakakmu” pinta min ho.

“apa yakin hyung bisa di percaya?” tanya kim bum.

“kau tidak percaya padaku? Kau ini benar-benar . . . . . . . .” ujar min ho sedikit kecewa.

“baiklah akan aku ceritakan, tapi akan ku pastikan kau mati di tanganku jika memberi tahunya pada noona” ancam kim bum.

“kejam sekali” cibir min ho.

“sebenarnya, aku pindah ke korea karena ada suatu syarat” ucap kim bum seraya memandang cangkir teh yang tersimpan di meja.

“aku harus menjadi photographer sukses jika aku tidak ingin menjadi penerus perusahaan ayah di jepang” lanjutnya.

Min ho masih setia mendengarkan.

“jika saja di sini aku hanya main-main, orang tuaku tidak akan percaya aku akan menjadi photographer sukses. Aku harus menyetujui syarat itu agar bisa pindah ke korea. Termasuk. . . . . . .aku tidak boleh jatuh cinta dan mempunyai seorang kekasih sebelum aku sukses. Dan noona tidak tahu tentang ini, aku belum menceritakannya dan memang aku tidak ingin ia tahu. Bisa-bisa dia protes pada ayah dan ibu” cerita kim bum.

“tapi kenapa?” tanya min ho.

“entahlah, jika aku melanggar dan orang tuaku tahu, aku akan kembali ke Jepang dan akan meneruskan perusahaan ayah”jawab kim bum.

“lalu noona mu? Bukannya dia sangat mendukungmu? Termasuk mempunyai seorang kekasih?” tanya min ho lagi.

“ya bisa saja. Tapi, jika aku punya kekasih dan noona tahu. Tanpa sepengetahuanku noona akan menceritakannya pada ibu. Terlebih noona tidak tahu mengenai syarat itu” jawab kim bum lirih.

“dan . . . .yang mengganggu pikiranmu dan membuatmu cemas itu . . . .orang yang kau maksud tidak pernah tersenyum?” kali ini otak min ho berpikir lebih cepat.

Kim bum menatap hyungnya itu. Lalu mengangguk.

“sepertinya dari semua itu akhir-akhir ini, aku mulai menyukainya. Walaupun bisa di bilang aneh” ujar kim bum, ia akui memang kim so eun tidak bisa hilang begitu saja di pikirannya.

Min ho tersenyum.

“menyukai seseorang tidak berdosa kan” ujar min ho.

“tapi yang membuatku sulit itu bukan karena syarat. Tapi apa yang harus aku lakukan agar bisa membuat ia tersenyum dan merasa senang, terlebih ia sendiri bersikap begitu dingin”cerita kim bum.

Min ho nampak berfikir.

“makanan sudah siap” sahut min young dari dapur.

Ke duanya sama-sama menoleh.

“tenang saja, aku tidak akan menceritakannya” min ho berjanji seraya tersenyum.

###

Di dalam kamar, so eun hanya diam seraya menatap piano putih miliknya yang sudah sedikit kusam. Sudah 3 tahun berlalu so eun tak pernah memainkannya lagi. So eun menatapnya sekarang, matanya yang kosong berubah menjadi kabur karena matanya berair. ‘lagi-lagi’ so eun menangis. Piano itu adalah hadiah yang paling so eun suka dari ke dua orang tuanya sejak umurnya 6 tahun. Dari kecil so eun belajar privat sehingga ia jadi mahir bermain piano, tapi entah dengan sekarang. Bahkan ia lupa bagaimana caranya menekan tuts dengan baik, secara tidak langsung jika so eun melakukannya ia akan teringat pada ke dua orang tuanya. Dan so eun tidak mau seperti itu, ia sudah berusaha agar tidak menangis tapi ini sungguh sulit. Apalagi besok lusa acara festival itu akan di mulai, berbagai karya terbaik di tampilkan. Dan yang membuatnya bingung adalah sahabat yang selalu setia dengannya Jung So Min memintanya agar menampilkan sebuah karya. Karena so eun dulu benar-benar pemain piano yang baik, walaupun bukan seorang pianist.

So eun memejamkan matanya, berusaha mengatur diri agar tidak menangis lagi. Ia menarik nafas berkali-kali seolah membuang kemalangan hidup dari sana. Perlahan so eun berjalan mendekati piano itu, menyentuhnya lalu duduk pada kursi menghadap piano itu. So eun agak terdiam, lalu dengan gemetar tangannya terangkat untuk menyentuh permukaan tutsnya. Dentuman bunyi yang cukup kaku terdengar saat so eun menekan salah satu tuts itu.

Lalu ia kembali menekannya. Membuat nada ‘do-re-mi-fa-so-la-si-do’ dengan sedikit kaku dan gemetar. Setelah itu, so eun cepat-cepat menyingkirkan tangannya dari piano itu.

“aku tidak bisa” ujarnya yang lagi-lagi menangis.

Sang kakek yang kebetulan hendak masuk ke dalam kamar so eun terhenti saat mendengar dentuman tuts piano itu. Celah pintu kamar yang sedikit terbuka membuat sang kakek memperhatikan so eun dengan sedih, apalagi setelah melihat so eun menangis.

“aku tidak bisa” ujar so eun lagi.

###

Keesokan harinya.

Salju menutupi sebagian atap rumah dan pepohonan. Yeah, musim salju sudah tiba. Cuacanya akan sangat dingin sekarang di banding kemarin-kemarin.

Seorang lelaki tampan baru saja keluar dari pintu kedatangan luar negeri di bandara incheon. Ia menggerek kopernya itu dengan santai sambil memainkan ponselnya. Sesudah itu ia berhenti sejenak, melepaskan tangannya yang menggeret koper. Tangannya itu melepas kacamata yang terpasang di pangkal hidungnya yang mancung. Laki-laki itu tersenyum.

“woah . . . .sudah berapa lama aku meninggalkan korea?” ujarnya.

###

Perkataan min ho hyung terus saja berputar di kepala kim bum sampai saat ini. Memikirkannya membuat kim bum pusing. Memang sepertinya benar, jika ia sendiri mulai menyukai gadis dingin seperti so eun. Tapi ia tidak tahu sejak kapan menyukainya dan karena apa ia menyukainya. Kim bum menggigit bibir lalu menggaruk kepalanya dengan kesal. Saat istirahat seperti ini ia tidak pergi ke kantin untuk makan, ia malah berdiri membiarkan salju turun menumpuk di kepalanya. Saat itu juga ia melihat seorang perempuan bertubuh mungil sedang melakukan hal yang sama dengannya-berdiri membiarkan salju menutupi tubuhnya. Kim bum terperanjat saat tahu itu adalah kim so eun.

“apa yang sedang ia lakukan?” tanyanya.

Tanpa segan-segan kim bum pun menghampirinya lalu berdiri di sampingnya menghadap lapangan bola.

“kau akan membeku jika terus berdiri disini” ujar kim bum menatap lurus ke depan. So eun seakan tak peduli, ia hanya menghela nafas.

“kenapa kau selalu datang di saat aku sedang ingin sendiri?” tanya so eun tanpa menatap kim bum.

Kim bum menggaruk kepalanya.

“aku juga tidak tahu, mungkin semacam kebetulan” jawab kim bum seadanya.

So eun hanya menghela nafas lalu memasukan tangannya ke dalam saku jaket tebalnya. Kim bum yang melihatnya merasa ada yang janggal.

“kenapa kau tidak memakai sapu tanganku?” tanya kim bum.

“aku lupa di mana menaruhnya” jawab so eun.

Kim bum sedikit kecewa.

“oh ya, besok lusa di kampus kita akan ada acara festival. Apa yang akan di pertunjukan dari kelasmu? Aku pikir kelas musik hebat-hebat. Kau bisa memainkan alat musik apa saja?” tanya kim bum bertele-tele.

“aku tidak bisa” jawab so eun singkat.

Kim bum mengerutkan keningnya. “tidak bisa sama sekali? Memainkan alat musik? Menyanyi?” tanya kim bum lagi seakan tak percaya.

“tidak” jawab so eun.

Kim bum malah tertawa.

“jangan berbohong, walaupun kau menjawab tidak. Tapi aku yakin kau bisa bermain musik. Tidak mungkin kau tidak bisa tapi kau masuk jurusan musik” ujar kim bum seraya menatap so eun.

So eun beralih menatap kim bum, tatapan mereka bertemu.

“ya ! Sebenarnya kau itu siapa? Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi !!!” bentak so eun yang membuat kim bum diam membatu seribu bahasa. Ia menatap so eun tak percaya, kim bum akui ia memang terlalu menyebalkan karena banyak bertanya tentang masalah orang. Hanya satu, karena ia penasaran.

Sekali lagi so eun menatap kim bum. Sebenarnya so eun tidak ingin marah tapi ia terlalu kesal karena lelaki bernama kim sang bum ini terlalu ikut campur.

“kau tidak tahu apa-apa” ujar so eun sekali lagi dan lalu meninggalkan kim bum. Kim bum masih mematung di tempat, ia tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengar so eun membentaknya.

Saat itu juga, so min yang waktu itu berniat mencari so eun malah melihat so eun yang sedang bersama kim bum. Namun mereka kelihatan tidak baik, so min memilih memperhatikannya sampai so eun pergi. So min yang merasa ada yang tidak biasa dengan so eun segera menghampiri kim bum.

Kim bum kaget dengan kehadiran jung so min-teman so eun.

“bisakah kita bicara?” pinta so min.

###

Dokter Lee nampak kaget melihat kedatangan seseorang yang tak di duga olehnya masuk ke ruang kerja pribadinya. Kedatangan anak angkatnya Yoo Ah In.

“ayah, sudah lama kita tidak bertemu” ujar Ah In seraya memamerkan senyumnya.

“kenapa kau tak memberi tahuku akan pulang lebih awal? Bukannya besok kau baru pulang?” tanya Dokter Lee heran.

“apakah ayah tidak senang? Ini semacam kejutan untukmu” jawab ah in seraya duduk menghadap ayahnya.

“bukan begitu, hanya saja ini di luar rencana. Kau bisa menghubungi ayah sebelumnya agar ayah bisa menjemputmu di bandara” ucap dokter lee.

“kalau begitu bukan kejutan namanya. Lagi pula kepulanganku ke Korea juga lebih awal karena memang ada perubahan jadwal” jelas yoo ah in.

“yasudah, yang penting kau sudah pulang dengan selamat ke korea” ujar dokter lee senang.

“ne. . . .aku lelah, ingin beristirahat dulu” pinta ah in.

“oh ya sebentar, kau sudah tahu kan tentang Tuan Kim Gi Beong? Tentang cucunya yang waktu itu ayah ceritakan? Bagaimana?” tanya dokter lee, menunggu jawaban dari yoo ah in.

“aku sudah memikirkannya dan aku akan membantu. Siapa tahu cucu tuan kim bisa kembali seperti dulu walaupun aku belum terlalu tahu apa masalahnya” jawab ah in.

“baguslah, yasudah kalau begitu istirahat saja !” suruh dokter lee.

Yoo Ah In pun keluar dari ruangan dokter lee.

###

Kim bum dan so min berada di kantin.

“maaf…….so eun memang seperti itu” ujar so min setelah mendengar cerita kim bum yang barusan terjadi antara so eun dengannya.

“tidak……..mungkin ini salahku karena terlalu banyak bicara padanya, aku terlalu ikut campur” ucap kim bum, menyadari kesalahannya sendiri.

“aku sebagai sahabatnya sudah terlalu sering di perlakukan seperti itu. Maksudku……..so eun sudah biasa bersikap dingin kepadaku…..” cerita so min, sebenarnya ia sendiri sedih.

“aku sudah sangat rindu ingin melihatnya tersenyum dan tertawa, tapi aku selalu tidak bisa” lanjutnya.

Rasa penasaran kembali muncul menghinggapi kim bum tentang kim so eun.

“kalau boleh aku tahu, memangnya apa yang terjadi padanya sehingga ia jadi seperti ini?” Tanya kim bum seraya menatap so min.

So min menghela nafas.

“kau tahu? So eun sangat membenci hari ulang tahunnya sendiri ! sejak 3 tahun yang lalu” ujar so min.

Kim bum mengerutkan keningnya, menunggu kelanjutan cerita so min.

“ tiga tahun yang lalu, orang tua so eun meninggal karena kecelakaan tepat pada hari ulang tahunnya…….kasihan sekali hidupnya. Aku sangat prihatin padanya…….” Sedih so min.

Kim bum merasa terkejut mendengarnya.

“meninggal? Jadi itu yang membuatnya seperti ini?” Tanya kim bum.

So min mengangguk “benar…..so eun adalah anak satu-satunya…….orang tua mereka sangat sayang padanya begitu pula kakeknya. Semenjak orang tuanya meninggal tragis dalam kecelakaan so eun jadi seperti ini. So eun sangat membenci hari ulang tahunnya, bahkan semua ulang tahun orang lain pun. Aku bahkan ingin menangis jika melihatnya terus-terusan seperti ini” jawab so min.

Kim bum yang mendengarnya menjadi sangat iba, ia tak menyangka ternyata ini yang membuat sikap so eun begini.

“kapan hari ulang tahunnya?” Tanya kim bum.

“ 14 maret” jawab so min.

“tapi……apakah dia tidak bisa berubah?” Tanya kim bum.

“entahlah…….mungkin suatu saat akan ada orang yang bisa membuatnya berubah, aku ingin melihat so eun bahagia…….” Ujar so min sambil tersenyum miris.

“dulu cita-cita so eun adalah menjadi seorang pianist……….tapi entahlah sekarang bahkan ia tak pernah menyentuh piano……” cerita so min lagi.

“pianist? So eun bilang padaku jika ia tidak bisa memainkan alat musik” ucap kim bum yang teringat dengan jawaban so eun tadi.

“tidak…….!!! Dia begitu hebat bermain piano….” Tegas so min.

“tapi……..entah kenapa dia tidak pernah lagi memainkan piano, padahal aku sangat suka sekali saat melihat permainannya dan mendengarnya bernyanyi……..” kenang so min.

“apakah ini ada hubungannya juga dengan tiga tahun yang lalu?” Tanya kim bum.

“entahlah………..dan sekarang aku sedang berusaha untuk membujuknya kembali memainkan piano untuk acara festival besok lusa……..” ujar so min.

“aku ingin melihatnya bermain piano dan menyanyi” balas kim bum.

So min tersenyum “kau tidak akan bisa berkata apa-apa saat melihat so eeun berada di atas panggung dan memainkan sebuah lagu dengan piano” ujar so min.

“benarkah? Aku akan jatuh cinta padanya begitu?” Tanya kim bum sedikit mengeluarkan lelucon.

“kau adalah orang baru yang terlihat peduli padanya selain aku di sini, jadi aku yakin kau bahwa sudah jatuh cinta padanya sebelum kau pun melihat so eun bermain piano” ujar so min seraya tersenyum menatap kim bum. Kim bum terkejut akan pernyataan so min yang bisa di bilang lumayan tepat. Walau[un kim bum sendiri bingung. Tapi sekarang ia yakin, jika ia memang menyukai kim so eun sejak saat pertama kali menemukannya ketika tak sengaja mengambil gambarnya.

“jadi bolehkah jika aku menyukai sahabatmu?”Tanya kim bum.

“tentu saja, selama kau bisa melindunginya dan bisa membuatnya bahagia kembali. Aku akan mendukungmu………” sepertinya so min percaya pada kim bum.

“aku akan membantumu, aku akan berusaha membuat kim so eun bahagia dan tersenyum” ujar kim bum semangat.

###

Yoo Ah In memberhentikan mobilnya di dekat toko buku.

“musim salju di korea tidak sedingin musim salju di paris” ujarnya lalu keluar dan memasuki area toko buku itu. Ketika ia sudah menemukan buku yang ia cari, tiba-tiba sebuah tangan orang lain lebih cepat menggapainya. Yoo ah in terkejut dan dengan cepat menahan buku itu dengan tangannya.

“maaf noona……..aku yang menemukannya terlebih dahulu” ujar ah in sebisa mungkin dengan sopan.

Wanita yang ada di hadapannya menatapnya dengan agak tajam.

“tidak……aku yang menemukannya lebih awal…..” balas wanita itu.

“tapi aku lebih membutuhkannya, jadi lebih baik kau menyerahkannya saja padaku. Kau bisa mencari buku yang lain” tahan ah in.

“enak saja, aku juga membutuhkan buku ini. Sebaiknya kau mengalah pada perempuan. Kau bisa mecari buku yang sama di toko lain” tolak wanita itu.

“tidak bisa………” ujar ah in seraya merebut buku itu.

“ya…….kau…..aku yang berhak mendapatkannya…..” wanita itu berusaha merebut buku yang di ambil ah in, namun ah in malah mengangkat buku itu sehingga tak terjangkau oleh si wanita.

“tidak bisa……” tolak ah in.

“kya………apa itu???” teriak wanita itu menunjuk di sekitar kepala yoo ah in.

Yoo ah in mengerutkan keningnya, lalu meraba-raba kepalanya. “ada apa?” tanyanya.

“dapat……..” ucap wanita itu ketika berhasil merebut buku yang di pegang ah in.

“haha terimakasih tuan……….” Ujar wanita itu lalu berlari menuju kasir meninggalkan yoo ah in yang terlihat sangat kesal.

“aishhh…..hey……..” kesal ah in, namun ia malah mendapati sesuatu yang terjatuh di lanati. Ia pun memungutnya.

“Park Shin Hye???” tanyanya.

Yoo ah in tersenyum. “noona park shin hye aku tidak akan memaafkanmu jika kita kembali bertemu……..” gumam ah in.

###

“kim bum-ssi bagaimana? Kau sudah mendapatkan ide untuk acara itu?” Tanya il woo.

“aku belum tahu, kau bilang kan temanya tentang teka-teki yang bisa membuat orang penasaran…..aku akan berusaha sebisa mungkin membuat orang penasaran dengan hasil karyaku” ujar kim bum.

“oh baiklah…..katanya akan ada pemenang dalam hasil karya terbaik dalam acara itu. Pemenang pertama dan kedua akan bergabung untuk nantinya memeriahkan acara ulang tahun kampus yang akan di gelar satu minggu lagi. Aku harap kau bisa jadi pemenang,dan aku juga……..” jelas il woo.

“satu minggu lagi ulang tahun kampus?” ulang kim bum, mendengar kata ulang tahun ia jadi teringat akan kata-kata so min tentang so eun yang membenci perayaan ulang tahun.

Jung il woo mengangguk.

###

Kakek so eun, dokter lee, dan yoo ah in, sekarang sedang berada di ruang tamu rumah tuan kim-kakek so eun.

“jadi ini anakmu? Senang bisa bertemu denganmu” ujar kakek so eun seraya tersenyum ke arah yoo ah in. yoo ah in balas tersenyum.

“seharusnya aku yang mengatakan seperti itu, aku senang bertemu dengamu tuan kim” balas ah in.

“sebentar lagi cucuku juga akan pulang……..” ujar tuan kim.

“aku akan menghubungi pak jang” lanjutnya lalu meraih ponsel.

Tak lama dari itu, so eun datang bersama pak jang dan bibi shin menyambutnya.

So eun agak terkejut dan heran melihat orang asing berada di rumah kakeknya. So eun hanya diam.

“cucuku kemari ! duduklah !” pinta sang kakek, namun so eun masih diam.

“mari noona, duduk” ujar bibi shin seraya menuntun so eun untuk duduk.

“ada apa?” Tanya so eun heran.

Mereka semua tersenyum.

“ada yang ingin kakek bicarakan” ujar kakeknya.

“siapa dia?” Tanya so eun menatap aneh kea rah yoo ah in.

“baiklah dia adalah anak dokter lee, namanya adalah Yoo Ah In. Yoo Ah In ini cucuku Kim So Eun” ujar kim gi beong memperkenalakan anatara mereka. Yoo ah in tersenyum ke arah so eun namun so eun tak membalasnya.

“lalu apa hubungannya denganku?” Tanya so eun dingin.

“sekarang anak dokter lee lah yang akan menemanimu kemana pun kau akan pergi, kakek akan mempercayakanmu padanya” jelas sang kakek.

“mwo?” Tanya so eun dengan nada datar, ia tak terima.

~to be continued~


22 thoughts on “THIS IS MY LIFE ! NOT YOUR LIFE ! (PART 4)

  1. Apa kimbum berhasil membuat soeun tersenyum dan kembali bermain piano?
    Terus soeun dan ah in tidak di jodohkan kan? Nggak rela jika soeun di jodohkan

  2. wallaaahh ,, SoMin-eon trnyta jenius🙂 dy bsa mnebak prasaan Bum-ppa dgn ckup tpat😀 *lebay . Tuhh kan ? Bkn cma 1org , bt 2 scra tiba” .. Dan yg bkin mkin trkjut adlh ,, Ah In hruz jd ‘bodyguard’ buat Sso-eon .. Gmna sma Bum-ppa ? Aigoo ,, lgsg trbang (?) ke part slnjut’x dehh ..

  3. Mwooooo…yoo ah in??? Siapa ituuu?? Aaaah harusnya kakek Sso gak ambil keputusan sepihak gitu dunk…pasti Sso nolak deh..

    Semoga Bum bs lbh dulu bikin Sso kembali sprti semula, hangat, ceria…ayoo Bum semangat bkn Sso tersenyum…

  4. Kyaaaaa
    cieeee
    bum udh ngaku ni ye jatuh cnta am sso..
    Hehehe
    kajja bum buat sso kmbli tersenyum…
    Mwo???
    Aishh
    knp harus ah in sih yang nemani sso??
    Kn udh ad bum..
    Hehehe
    hadooooh rumit dah ini maj…
    Jahhh
    ad si shin hye nongol..

  5. Sebenarnya untuk apa kakek menyuruh anak dokter lee menemani sso kemana pun sso pergi??
    Huwaa,,kimbum beneran suka ama sso .. Bum, buat sso tersenyum lg, mau bermain piano, dan gk membenci hari ulang tahun lg .. Semangat bum !!

  6. yeah bum begitu gencar mendekati sso, sayang sso masih dingin bahkan sampe bentak2 bum yg dianggap trlalu ikut campur..

    tp bum ga akan nyerah apalagi udh dpt support dr so min..
    haha so min tau aja kalo bum jatcin ma sso :v

    goodluck bum…

    hmm yoo ah in udh tiba, akankah sso berubah ditangan seorang psikolog?

  7. Bumppa sdh terang2an menyatakan perasaannya,, wlw bkn ke sso.
    Waduh apa yg akan terjadi nnti yaa ???
    Ah in nnti menyukai sso tidak yaa ?? Lalu bumppa bgmn ?

  8. Jd sdh di setujui oleh dr lee dan putranya.
    Waaaah… bumppa pst cemburu nih klo tau sso bkln pergi kemna2 dgn yoo ah in ini.
    Bkln suka jg enggak ya nntinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s