BABY FACED BODYGUARD PART 6

BABY FACED BODYGUARD PART 6

AUTHOR: RESI R
MAIN CAST: KIM SANG BEOM DAN KIM SO EUN.
OTHER CAST: KIM YOONA, LEE SEUNG GI, JUNG IL WOO, JUNG SO MIN, KIM SOO HYUN, BAEK SUZY.
GENRE: IDK (?)
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

PART 6


“aishhh gawat…” so eun panic. Tanpa pikir panjang so eun pun langsung menarik kim bum masuk ke dalam mobil. Mencoba menghindar dari masalah.
Suzy membelalakan mata dengan wajah kesal, tak tahu sebenarnya apa hubungan kim bum dengan wanita itu dan sudah kurang ajar menarik kim bum begitu saja. Karena kesal suzy pun memilih untuk pergi.
Seung gi dan soo hyun menatap tidak percaya. Apa yang sebenarnya terjadi? Tapi mereka tak ambil pusing dan malah memperhatikan mobil yang baru saja melaju dengan cepat itu.

Tanpa menyadari jika il woo masih larut dalam pikirannya tentang bodyguard kim bum. Ia masih berusaha menyangkal jika yang dilihatnya adalah benar kalau wanita itu adalah wanita yang selalu ia perhatikan ketika melatih taekwondo dan sudah dua hari tak melihatnya.
“bagaimana menurutmu?” tanya seung gi menatap il woo.
Tapi il woo masih dalam diam.
“benarkan, kau pasti tidak akan menyangka !” sahut seung gi melihat raut wajah ilwoo.
Cepat-cepat il woo menghilangkan pandangan kosongnya ke arah seung gi dan soo hyun yang tengah menatap bingung.
“ne?” tanya il woo.
“kau sekaget ini?” tanya soo hyun.
“oh a..aniyo.” jawabnya.
“bagimana menurutmu? Umurnya 25 !” ucap seung gi.
“ne, aku tidak menyangka.” Jawab il woo, ternyata wanita itu lebih tua darinya. Jujur, il woo kecewa.
###

“hei ada apa denganmu?” tanya kim bum dengan wajah heran. Ia tak mengerti sepertinya so eun dan suzy pernah bertemu sebelumnya tapi kelihatan tidak baik.
“apa dia pacarmu?” tanya so eun yang masih sibuk menyetir.
Kim bum langsung menyernyitkan keningnya, merasa tidak terima dengan pertanyaan so eun tadi.
“dia? Pacarku? Yang benar saja wanita penguntit itu pacarku. Seleraku bukan yang seperti itu.” Jawab kim bum ogah-ogahan.
So eun membulatkan mulutnya. “oh syukurlah dia bukan pacarmu. Kalau tidak kau pasti akan marah-marah padaku.” ucap so eun sedikit lega.
Kim bum menatap so eun dari samping.
“memangnya ada apa?” tanya kim bum. Pertanyaan ini langsung terlontar dari multnya padahal otaknya menolak.
So eun menelan ludah. Lalu mulai membuka suara untuk menjawab.
“sebenarnya……” so eun tampak ragu-ragu untuk bicara. Kim bum masih menatapnya dari samping.
“mobil itu penyok bukan karena menabrak tiang listrik, tapi karena menabrak bagian belakang mobil wanita itu. Dia memberhentikan mobilnya mendadak sehingga aku langsung menginjak pedal rem. Dan dia memintaku untuk mengganti rugi. Tapi aku melarikan diri.” Jelas so eun hati-hati sambil sibuk menyetir, takut anak tuan kim ini akan mengamuk. Tapi setelah beberapa detik tak juga ada respon yang kim bum berikan. So eun pun memalingkan wajah untuk melihat sebenarnya apa yang sedang dilakukan kim bum, atau dia akan siap-siap marah. Tapi yang dilihat so eun adalah kim bum yang sedang diam melihat wajahnya, saat itu kim bum baru tersadar dan segera memalingkan wajahnya kea rah lain.
“ekhem…” kim bum sedikit berdehem. “ceroboh.” Gumam kim bum.
“kau marah atau tidak?” tanya so eun.
“tidak.” Jawab kim bum seperlunya. Ia sendiri sedang sibuk merutuki diri sendiri karena memperhatikan bodyguard tua itu. Opps maksudnya bodyguard sok bijak yang lebih tua darinya. Kim bum sempat berfikir saat memperhatikan wajah wanita di sampingnya cukup lama membuat pikirannya melayang pada pernyataan seung gi dan soo hyun padanya.
“ah rela mengoplas wajah agar lebih terlihat seperti masih muda. Mengerikan.” Cibirnya dalam hati berusaha berperang dengan penglihatan, pikiran, dan perasaan yang baru ia perhatikan. Begitulah penilaiannya kepada so eun sekarang.
“lalu bagaimana dengan mobilnya? Apakah di bawa ke bengkel saja?” Tanya so eun.
“tidak perlu, beli yang baru saja. Lagi pula mobil itu sudah lama.” Jawab kim bum enteng.
“mwo? Ya bagaimana dengan pikiran orang kaya? Itu masih bagus.” Ujar so eun.
“yasudah kalau begitu terserah saja.”
“ckckckck”
So eun tampak bingung dengan sikap anak tuan kim ini tapi ia tak mau ambil pusing dan memilih kembali focus ke jalanan.
###

Il woo melamun dalam diam di kamar. Pikirannya terus berputar tentang wanita itu. Wanita yg selama ini ia perhatikan adalah bodyguard temannya sendiri. Il woo memijat keningnya yang tiba-tiba berkedut. Pusing.
“jadi umurnya jauh lebih tua dariku?” gumamnya terus berputar dalam pikiran yang tak jelas.
“kenapa kebetulan? Harus menjadi bodyguard kim bum?” tanyanya. Il woo pun memilih tiduran di kasurnya. Tak lama, ia teringat dengan wanita yang hampir selalu tertabrak olehnya. Semua ini benar-benar membuat kepalanya semakin pusing. Sebuah kebetulan yang tidak di inginkan. Ia pun hanya menghela nafas.
###

Soo hyun baru saja keluar dari toko alat musik yang tiba-tiba di kagetkan dengan suara wanita yang memanggilnya.
“soo hyun-ah” teriaknya.
Soo hyun menyernyitkan keningnya setelah mendapati suzy menghampirinya.
“kebetulan aku bertemu denganmu. Ayo aku ingin bicara” ujar suzy menarik tangan soo hyun.
Soo hyun tak bergerak, ia masih menatap bingung.
“untuk masalah bajumu yang basah aku minta maaf.” ujar soo hyun.
Suzy berdecak kesal. “bukan itu yang ingin aku bicarakan. Ayo ikut aku !” sekali lagi suzy menarik tangan soo hyun.
——–

“mwo? Dia bodyguard kim bum?” kaget suzy tak percaya.
Soo hyun mengangguk lalu menyesap kopinya, saat ini mereka sedang berada di cafe.
“apa sebelumnya kau berfikir jika dia adalah pacar kim bum?” tanya soo hyun.
Dengan cepat suzy menggelengkan kepalanya.
“mana mungkin. Selera kim bum itu kan seperti aku bukan seperti wanita yang menjadi bodyguardnya.” tukas suzy percaya diri.
“cih kau sendiri yang terlalu kegenitan pada kim bum. Kim bum sendiri tidak suka denganmu.” ledek soo hyun.
“kau . . . .”
“tapi bagaimana ya jika kim bum malah tertarik pada bodyguardnya sendiri?” soo hyun berniat menggoda suzy.
“ya itu tidak akan terjadi, aku akan membuat kim bum jatuh cinta padaku.” ujar suzy semangat.
Soo hyun menghela nafas.
“ya terserah kau, tapi lebih baik cari lelaki lain. Karena aku yakin sampai kapan pun kim bum tidak akan tertarik padamu.” ujar soo hyun.
“aish kau . . . . .”
“oh ya memangnya kenapa tiba-tiba kau tanya-tanya tentang bodyguard kim bum?” tanya soo hyun.
Ekspresi suzy berubah ketika mengingat kejadian waktu itu.
“dia pernah berurusan denganku, dan mungkin belum selesai.” jawab suzy sinis.
“urusan? Wah seharusnya kau berhati-hati ! Seorang bodyguard tentunya akan jago bela diri” jail soo hyun.
Mengingat-ingat itu suzy brigidik ngeri.
“dia tidak akan berani padaku.” balasnya.
Soo hyun menghela nafas.
“yasudah jika tidak ada yang ingin di bicarakan lagi. Aku pergi. Annyeong suzy-ah.” ujar soo hyun sambil tersenyum lalu pergi.
“aish menyebalkan . . . . .” teriak suzy.
###

Kim bum sedang berada di taman belakang. Ia sedang larut dalam kata-kata yang harus di jadikan lirik lagu. Tapi dari tadi belum ada satu kata pun yang ia tulis, benar kata seung gi jika otaknya selalu buntu dalam hal membuat lirik. Tapi saat ini ia sedang berusaha. Kim bum memasangkan headseat pada telinganya bermaksud mencari inspirasi dari lagu lain. Sebuah pensil ia pegang dengan tangan kanan sambil diketuk-ketukan pada meja. Kim bum mengacak rambutnya.
“aish kenapa sulit sekali !” kesalnya tak juga mendapat inspirasi.
“seperti orang gila mengacak-ngacak rambut sendiri.” ujar so eun yang datang menghampirinya.
Kim bum menatap so eun sekilas lalu kembali pada kertas kosong yang tersimpan di atas meja.
So eun pun duduk di sebelahnya, namun kim bum seolah tak peduli.
So eun ikut memperhatikan apa yang sedang kim bum kerjakan seraya menopang dagu.
“kau punya band? Tapi aku belum pernah mendengarmu bernyanyi” tanya so eun.
Kim bum tak menjawab, kehadiran so eun semakin membuat otaknya buntu untuk berpikir.
“kenapa kau suka musik?” tanya so eun heran. Kenapa kim bum tak meneruskan perusahaan ayahnya saja dan kuliah jurusan bisnis. Pikir so eun.
Kim bum menghela nafas dengan kesal, meletakan pensil pada meja lau menyandarkan punggungnya pada kursi. Ia melepas headseat yang terpasang di telinga kirinya.
“lalu untuk apa kau menjadi seorang bodyguard?” tanya balik kim bum, tak menghiraukan pertanyaan so eun tadi.
Kim bum menatap so eun.
So eun menatap ke sekitar taman yang mulai gelap lalu tersenyum.
“aku menjadi seorang bodyguard? Karena aku butuh uang. Hanya sekedar menjadi pelatih taekwondo saja tidak akan mencukupi kebutuhan hidupku. Kakakku hanya mempunyai sebuah butik kecil.” jawab so eun.
“lalu kedua orang tuamu?” tanya kim bum.
So eun tersenyum miris.
“aku sudah tidak punya orang tua.” jawabnya.
Kim bum kaget sambil menatap wajah so eun yang sepertinya tak menyiratkan raut wajah sedih sedikit pun, so eun tetap berusaha tersenyum.
“mianhae.” ujar kim bum.
“tidak apa-apa. Ayahku, dia adalah seorang ayah yang hebat, mengorbankan nyawa demi negara tercinta saat perang tentang sengketa tanah kekuasaan dengan korea utara.” jelas so eun.
“ayahmu….”
“ayahku seorang tentara. Sejak aku kecil, dia selalu melatih taekwondo dan bilang jika aku harus bisa menjaga ayah dan ibu ketika mereka sudah tua nanti. Tapi takdir merubah semua. Ayahku meninggal tertembak musuh dan ibuku meninggal karena penyakit yang diidapnya. Aku benar-benar terpukul dan berjanji akan menjadi wanita kuat dan berlatih taekwondo. Kakak perempuanku sekarang hanya meneruskan butik milik ibu.” jelas so eun, masih berusaha tersenyum.
Melihat dan mendengarnya membuat kim bum iba. Ia tak menyangka ternyata nasib so eun begitu menyedihkan.
Pada saat itu ingin sekali kim bum memegang pundak so eun lalu mengelus rambutnya hanya untuk sekedar menenangkan. Tapi itu tidak mungkin akan terjadi. Kim bum hanya menatap so eun dari samping. Tiba-tiba so eun menatapnya juga lalu tersenyum.
“kedua orang tuamu terlalu sayang padamu ! Hingga mereka mencari seorang bodygurad untuk menjagamu. Kau begitu beruntung ! Seharusnya kau lebih menyayangi mereka.” ujar so eun.
Kim bum mengerjap-ngerjapkan matanya mendengar ucapan so eun.
“aku sudah mengganggumu. Lebih baik kau lanjutkan saja apa yang sedang kau kerjakan.” ujar so eun lalu meninggalkan kim bum.
Kim bum masih diam.
###

“hey noona !” teriak seung gi saat masuk ke dalam butik yoona.
Yoona kaget begitu pula so min yang menatap heran dengan seorang lelaki yang datang bersama wanita di sampingnya. So min merasa tidak asing.
“oh…seung gi-ya ada perlu apa kemari?” tanya yoona. Tatapannya beralih pada wanita yang bergelayutan manja di lengan seung gi.
Seung gi tersenyum.
“dia teman wanitaku.” ujar seung gi seakan tahu tentang pemikiran yoona.
Yoona tersenyum.
“dia membutuhkan baju yang lebih baik dari ini.” ujar seung gi.
“oh, so min-ah kemari ! Temani pelanggan kita memilih baju !” seru yoona.
Dengan cepat dan sedikit ragu so min pun menghampiri mereka, lalu tersenyum pada seung gi dan teman wanitanya.
“baiklah mari akan aku perlihatkan baju yang pantas untukmu !” ujar so min. Teman wanita seung gi mengikutinya tapi ada hal yang membuat seung gi merasa teringat akan seseorang. Ia larut dalam pikirannya.
“kau tidak berniat memilih baju juga? Kalian sedang berkencan kan?” tanya yoona.
Pikiran seung gi buyar.
“eh dia pekerja disini?” tanya seung gi mengabaikan pertanyaan yoona.
“ne dia jung so min membantuku di butik.” jawabnya.
“tunggu ! Jung so min?” tanya seung gi mengingat sesuatu.
Yoona menyernyit bingung.
###

kim bum membaringkan tubuhnya di kasur. Belum ada satu lirik pun yang ia dapat, inspirasinya benar-benar batu. Kim bum menghela nafas panjang merutuki dirinya sendiri. Tiba-tiba ingatannya melayang pada perkataan so eun tadi padanya. Cerita so eun tentang hidupnya benar-benar membuat kim bum berfikir. Untuk pertama kali, kim bum berfikir tentang bodyguardnya sendiri.
“lalu untuk apa kau menjadi seorang bodyguard?”
“aku menjadi seorang bodyguard? Karena aku butuh uang. Hanya sekedar menjadi pelatih taekwondo saja tidak akan mencukupi kebutuhan hidupku. Kakakku hanya mempunyai sebuah butik kecil.” jawab so eun.
“lalu kedua orang tuamu?” tanya kim bum.
So eun tersenyum miris.
“aku sudah tidak punya orang tua.” jawabnya.
“mianhae.”
“tidak apa-apa. Ayahku, dia adalah seorang ayah yang hebat, mengorbankan nyawa demi negara tercinta saat perang tentang sengketa tanah kekuasaan dengan korea utara.” jelas so eun.
“ayahmu….”
“ayahku seorang tentara. Sejak aku kecil, dia selalu melatih taekwondo dan bilang jika aku harus bisa menjaga ayah dan ibu ketika mereka sudah tua nanti. Tapi takdir merubah semua. Ayahku tewas tertembak musuh dan ibuku meninggal karena penyakit yang diidapnya. Aku benar-benar terpukul dan berjanji akan menjadi wanita kuat dan berlatih taekwondo. Kakak perempuanku sekarang hanya meneruskan butik milik ibu.”
“kedua orang tuamu terlalu sayang padamu ! Hingga mereka mencari seorang bodygurad untuk menjagamu. Kau begitu beruntung ! Seharusnya kau lebih menyayangi mereka.”
aku sudah mengganggumu. Lebih baik kau lanjutkan saja apa yang sedang kau kerjakan.”

kim bum sedikit tersenyum miris mengingatnya. Namun, dengan cepat ia buang jauh-jauh.
“aish . . . . .” dia mengacak rambutnya sendiri.
Mendadak hawa dingin yang ia rasakan terasa sesak dan panas. Kim bum beranjak dari kasur dan keluar kamar untuk mengambil minum. Keadaan rumahnya yang sangat luas terlihat sudah sepi. Tidak ada aktifitas. Kim bum melangkahkan kakinya masuk ke dapur. Menghampiri lemari es berpintu dua yang lebih tinggi dari tubuhnya. Kim bum memilih mengambil air putih yang sudah di kemas dalam botol lalu meneguknya segera.
Kim bum menghembuskan nafas panjang-panjang. Sekarang sudah tak sepanas yang ia rasakan. Kakinya kembali melangkah menuju kamarnya, ia cukup terdiam saat melewati pintu kamar so eun. Sedikit penasaran apa yang sedang dilakukan bodyguardnya di dalam. Saat hendak beranjak, tiba-tiba pintu terbuka. Kim bum terkejut mendapati so eun sudah berada di depan pintu. So eun membulatkan matanya, tersirat kekagetan dari wajahnya.
“a…apa yang sedang kau lakukan? Kenapa belum tidur?” tanya so eun.
Kim bum menghela nafas. Saat keadaan biasa atau saat so eun akan tidur tak ada yang berubah dari penampilannya. Rambutnya selalu saja di kucir satu, tak ada aura cantik terpancar dari bodyguard di hadapannya. Semuanya terlalu biasa. Pikir kim bum.
“aku haus dan aku belum mengantuk.” jawabnya.
“oh memang, malam ini panas sekali.” ujar so eun.
“aku juga hendak mengambil minum.” lanjutnya.
Kim bum tak merespon, ia hanya menatap so eun. Tak peduli, so eun pun langsung menuju dapur sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Kepanasan dan bergumam sendiri. Kim bum menggerakan kepalanya menatap punggung so eun. Lalu dengan cepat ke keadaan semula dan kembali menuju kamarnya.
“benar-benar membuatku bingung. Oplas sepertinya menjadi satu-satunya cara ckck.” kim bum geleng-geleng kepala saat menutup pintu kamarnya.
###

So eun meregangkan tangannya. Pagi sudah menyambut. Ia membuka kedua matanya, sedikit agak kabur memang tapi berkali-kali ia mengerjapkan mata dan penglihatannya sudah sempurna.
“ah ngomong-ngomong aku rindu dengan ji bin dan anak-anak lain. Apakah mereka merindukanku juga tidak ya?” tanya so eun mengingat anak-anak yang suka ia latih.
“mungkin aku harus berkunjung kesana. Lagi pula rasanya otot-otot ku terasa kaku karena sudah lama tak dibiasakan melatih.” ujarnya lalu bergegas ke kamar mandi.
————-
Sudah menunjukan pukul 8 pagi. Berkali-kali suara ketukan di pintu kamar kim bum tak juga membuatnya bangun. Dengan wajah kesal so eun pun membuka pintunya tampak permisi. Terlihat kim bum masih tertidur santai di kasurnya dengan seluruh selimut yang menutupi tubuhnya.
“aish ternyata anak tuan kim ini pemalas juga.” Gerutu so eun. Dengan secepat kilat ia pun menarik selimut kim bum hingga tak tersisa. Tubuh kim bum yang meringkuk sempurna terekspos. So eun menggelang-gelengkan kepalanya.
“ya ampun….sedingin dan sebagaimana pun sikapnya tapi tetap saja jika tidur terlihat seperti orang bodoh.” Ucap so eun.
“hey bangunlah…! Lihat sudah jam berapa ini?” ujar so eun. Namun kim bum tetap tak bergeming, ia malah menarik selimutnya kembali.
“ya ireona ! kau harus kuliah……..!” ujar so eun.
Kim bum sedikit mengerang tapi tak membuka kedua matanya sedikit pun, hanya mengubah posisi tidurnya saja. So eun sebal melihatnya.
So eun pun mendekatkan wajahnya, mulutnya terlalu dekat dengan telinga kim bum.
“tuan muda kim sang beom…..ireona !” bisik so eun berdesir di telinga kim bum, membuatnya kegelian dan kembali mengubah posisi tidurnya. Merasa terganggu kim bum perlahan membuka kedua matanya, dan begitu terkejut karena di hadapannya, begitu dekat wajah sang bodyguard yang tengah menunggunya untuk terbangun. Mata kim bum langsung melotot. Shock.
“mwooo?” teriak kim bum memundurkan kepalanya.
So eun menghela nafas. “akhirnya kau bangun juga.” Ujar so eun.
“apa yang sedang kau lakukan?”Tanya kim bum.
“tuan muda kita ini sangat sulit di bangunkan.” Ujar so eun sebagai jawaban.
“aish kau membuatku kaget…..dan….mengganggu……….” ujar kim beom menutup seluruh wajahnya dengan selimut. Tapi dengan cepat so eun menariknya.
“kau harus kuliah…” ujar so eun.
Kim bum menatap kesal.
“apa kau tidak melihat kalender? Hari ini hari libur !” gertak kim bum, kelewat kesal karena tidurnya telah di ganggu.
“eh benarkah?” so eun mengingat-ingat.
“oh hehehe mianhae, aku tidak ingat jika hari ini hari libur.” Ujar so eun tanpa dosa.
“aish…kau membuat selera tidurku hilang. Sudah sana aku ingin mandi.” Usir kim bum.
So eun hanya merutuki dirinya sendiri lalu keluar dari kamar kim bum.
“aish bodohnya……..”ucap so eun pada dirinya sendiri.
###

Kim bum kembali melanjutkan aktifitas kemarin. Melanjutkan pemikirannya tentang lagu. Tapi otaknya belum sepenuhnya berfikir, ia belum focus. Benar-benar butuh inspirasi.
“aku mengganggumu?” Tanya so eun tiba-tiba.
Kim bum berdecak sebal, fikirannya tambah buruk.
“apakah melanjutkan kegiatan yang kemarin? Aku hanya minta izin untuk keluar sebentar. Tidak apa-apa? Kau tidak akan kabur?” Tanya so eun dengan hati-hati.
“kau kira aku ini tahanan?” ujar kim bum ketus. Sikap kemarin yang hampir luluh kembali ke semula.
“oh yasudah kalau begitu.” So eun pun meninggalkan kim bum yang masih duduk di kursi taman.
“aish sekarang aku benar-benar tidak bisa berpikir.” Kesalnya.
###

So eun mengunjungi tempat park sajangnim. Tempat biasanya ia melatih taekwondo.
“noona………!” teriak ji bin saat so eun masuk, berlari menghampiri so eun.
“ji bin-ah…” ujar so eun mengacak lembut rambutnya.
“ah noona, kenapa baru kemari? Aku rindu padamu” ujar ji bin, khas anak kecil.
So eun tersenyum.
“bagaimana? Apakah taekwondomu semakin hebat?” Tanya so eun.
“hmmm.” Jibin mengangguk dengan semangat.
“noona tunggu janjimu ya….” Ujar so eun mengacak rambut ji bin sekali lagi.
“so eun-ssi bagaimana dengan pekerjaan barumu?” Tanya park sajangnim.
So eun tersenyum kaku bila mengingat pekerjaan barunya menjadi seorang bodyguard. Menjadi bodyguard kim bum. “pekejaan yang lumayan baik.” Jawab so eun seadanya.
“oh apa sedang tidak sibuk maka datang kemari?” Tanya park sajangnim.
“ne, aku rasa otot-otot ku kaku jika tidak melatih.” Jawab so eun.
“noona……kemari…….lihatlah jurus yang sudah aku pelajari.” Pinta ji bin menarik tangan so eun. Park sajangnim hanya tersnyum.
###

Kim bum tak juga mendapat inspirasi.
“aku harus mencari inspirasi.” gumamnya lalu menghubungi ketiga temannya untuk bertemu.
Kim bum mengambil kunci mobil dan hendak pergi.
“aih untung saja aku pulang di waktu yang tepat. Pergi kemana?” tanya so eun yang baru tiba.
“satu hal ! Aku ingin pergi sendiri. Kau tidak usah mengantarku.” jawab kim bum lalu masuk ke dalam mobil.
“baiklah.” balas so eun lalu masuk juga ke dalam mobil.
Kim bum menjalankan mobilnya pergi, begitu pula so eun yang mengikutinya dari belakang. Kim bum mendesah melihat kaca spion mobilnya, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada satu pesan masuk.

jika kau melarangku jangan mengikutimu, maka aku akan melapor pada tuan kim

Kim bum kembali mendesah setelah membaca isi pesan dari so eun tersebut.
Sementara so eun hanya cekikikan di dalam mobilnya.
———–

kim bum memarkirkan mobilnya. Mau tak mau kakinya harus bekerja karena tempat parkiran dan cafe jaraknya cukup jauh. Kim bum berjalan dan so eun mengikutinya dari belakang. Benar-benar situasi yang tidak nyaman baginya saat semua orang memperhatikan kim bum dengan tatapan aneh karena seorang wanita keren berbaju hitam mengekor di belakangnya. Kim bum menggaruk tengkuk agak risih. Lalu berhenti dan berbalik.
So eun juga ikut menghentikan langkahnya.
“apa harus mengikutiku sampai sini juga?” tanya kim bum.
“tentu saja.” jawab so eun bijak.
“tatapan orang yang melihatku benar-benar membuat tidak nyaman. Lebih baik kau tunggu di parkiran saja karena aku tidak akan berkelahi.” ujar kim bum pelan.
So eun mengangkat bahu. “yasudah.” jawabnya.
Akhirnya kim bum bisa bernafas lega. Tak ada yang mengikutinya sampai cafe.
———-

Seung gi melambaikan tangannya pada kim bum yang baru datang.
“kenapa wajahmu kusut begitu?” tanya seung gi.
“aniyo.” jawab kim bum.
“oh mana bodyguardmu?” tanya soo hyun.
Kim bum langsung menatap tajam ke arah soo hyun sementara il woo hanya diam setelah mendengar kata ‘bodyguardmu’.
“aku butuh inspirasi.” ujar kim bum.
“bagaimana dengan lagumu?” tanya il woo.
Kim bum menggeleng.
“benar-benar tidak ada inspirasi. Makanya aku mengajak kalian makan siapa tahu inspirasi bisa muncul.” jawabnya.
“oh.” tanggap il woo.
“belum ada satu kata pun yang kau pikir?” tanya seung gi.
Kim bum mendesah.
“ya aku akui aku memang payah dalam menciptakan lagu.” aku kim bum.
“butuh bantuan?” tawar soo hyun.
“tidak ! Aku akan mencoba sendiri.” tolak kim bum.
Soo hyun hanya mengerucutkan bibirnya.
“oh ya il woo-ya. Apa kau masih ingat dengan jung so min? Gadis yang semasa SMA menyukaimu !” ujar seung gi membuat semua mata tertuju padanya.
“ne? Jung so min?” il woo mencoba mengingat-ingat.
“ne, kemarin aku bertemu dengannya. Benar-benar kebetulan. Aku sempat heran karena penampilannya benar-benar berbeda dari SMA. Yah, lumayan menarik.” jelas seung gi.
“kau bertemu dengannya dimana?” tanya soo hyun ikut nimbrung.
“di butik, dia bekerja di butik beauty.” jawab seung gi.
Il woo masih berfikir. Mencoba mengingat-ingat sesuatu.
“jung so min itu yang suka mengirim bekal padamudengan rutin?” tanya kim bum.
Il woo menatapnya.
“oh ne dia, tentu saja aku ingat, mana mungkin aku lupa.” jawabnya, pikirannya langsung mencelos kepada wanita yang hampir tertabrak olehnya waktu itu. Jika di pikir-pikir memang il woo merasa tidak asing, dan sikap wanita itu seolah-olah mengingatkannya pada seseorang.
“dia begitu mengagumimu semasa SMA hahaha, lucu sekali jika mengingatnya.” tawa soo hyun.
“kau benar hahaha.” seung gi ikut tertawa.
“benar-benar kenangan yang menggelikan jika aku berada di posisimu.” tukas kim bum pada il woo. Tapi il woo hanya diam. Pikirannya sekarang sedang terfocus pada wanita itu.
“jadi, dia jung so min?” batinnya.
“kenapa aku bodoh sekali sama sekali tak mengingatnya.”
###

Dari pada menunggu di mobil, so eun lebih memilih menghirup udara bebas dan sedikit berjalan-jalan. Ia duduk di bangku taman sekedar memperhatikan anak-anak yang sedang asik bermain bola. So eun tersenyum saja melihatnya.
Ponselnya berdering, ia segera mengangkatnya.
“oh ne yeobosaeyo tuan kim.”
“. . . . .”
“oh tuan muda baik, dia tidak membuat masalah akhir-akhir ini”
“. . . . .”
“hahahaha ne, aku akan mengawasinya dengan baik tenang saja”
“. . . . .”
“ne akan aku sampaikan.”
So eun menghela nafas setelah sambungan tertutup. Ia kira tuan kim menelpon akan bertanya tentang mobil yang penyok karena kim bum yang mengadu, ternyata tidak. Kim bum memang tidak mengadu. Satu hal yang patut so eun syukuri, anak tuan kim tidak bermulut besar.
Krkrkrkrk
Perutnya berbunyi.
“lapar.” gumamnya.
###

Hari menjelang malam.
“soo hyun-ah malam ini aku akan berkencan, kau mau ikut denganku?” tawar seung gi.
“boleh saja, kenalkan aku dengan salah satu teman wanitamu” pinta soo hyun.
“tenang saja. Kalian tidak mau ikut bersenang-senang?” tawar seung gi pada kim bum dan il woo.
“aniyo, aku tidak ingin jadi playboy sepertimu.” tolak il woo.
“bum-ah bukannya kau butuh inspirasi? Ayo siapa tahu dengan berkencan inspirasimu bisa muncul” ajak seung gi.
“lebih baik aku pulang dari pada mencari inspirasi sambil berkencan. Aku bukan tipe lelaki seperti itu.” tolak kim bum ogah-ogahan.
“oh yasudah.” seung gi dan soo hyun pun pergi lebih awal.
Kim bum hanya mendesah, mengajak teman-temannya makan dan berkumpul adalah hal sia-sia. Karena sampai saat belum ada inspirasi yang muncul sama sekali.
Il woo menepuk bahu kim bum.
“sebenarnya kau ingin menciptakan lagu yang seperti apa? Semacam jatuh cinta kah? Kasih sayang kah? Atau yang seperti apa?” tanya il woo.
Kim bum mendesah.
“aku belum tahu.” jawabnya.
“pantas saja inspirasimu begitu sempit jika kau sendiri tak tahu akan menciptakan lagu yang seperti apa. Jika kau sedang jatuh cinta mungkin akan lebih mudah.” ujar il woo.
Kim bum masih tampak bingung.
“ya ya aku mengerti.” jawab kim bum malas lalu berjalan lebih dulu dari pada il woo.
———

Kim bum sudah masuk ke dalam mobil. Il woo melihat bodyguard kim bum yang hendak masuk juga ke dalam mobilnya. Sementara mobil kim bum sudah melaju.
“tunggu !” tahan il woo pada so eun.
Sontak saja so eun menoleh.
“ne?” tanya so eun seraya menunjuk dirinya sendiri.
Il woo mengangguk.
“kau bodyguardnya kim bum kan?”
so eun mengangguk. “benar.”
“o…oh, a..apa kau ingat denganku?” tanya il woo sedikit gugup.
“aniyo aku tidak mengenalmu.” jawab so eun, malah ia merasa curiga dengan sikap il woo yang sok akrab padahal ia sendiri tidak mengenalnya.
“aku teman kim bum, dan aku yang telah menolong anak kecil waktu itu…yang hampir tertabrak.” ujar il woo susah payah.
So eun tampak berfikir.
“o…oh jadi yang telah menolong ji bin itu kau? Ah jeongmal gamsahamnida.” jawab so eun sambil menundukan badannya.
Il woo tersenyum.
“jeongmal gamsahamnida, aku belum mengucapkan terimakasih karena tiba-tiba kau menghilang waktu itu. Jadi mianhae.” ucap so eun.
“tidak apa-apa.” ujar il woo seraya menjulurkan tangannya untuk berkenalan. So eun menyambutnya.
“jung il woo”
“kim so eun, aku bahkan tak menyangka kau adalah teman kim bum, eh maksudku teman tuan muda kim bum.” ujar so eun.
Il woo hanya menanggapinya sambil tersenyum.
Tiba-tiba so eun melepaskan jabatan tangannya.
“ah aku lupa, pasti tuan muda sudah pergi lebih dulu dari tadi.” ujar so eun sambil mengaduk-ngaduk saku blezer hitamnya untuk mengambil kunci tanpa menyadari ada sesuatu miliknya yang jatuh.
“senang berkenalan denganmu.” so eun buru-buru masuk ke dalam mobil dan pergi.
Il woo mematung dan melihat benda milik so eun yang terjatuh.
Il woo pun memungutnya. Identitas so eun.

Kim So Eun
Seoul, 6 September 1992

Il woo membelalakan matanya setelah melihat kartu identitas milik so eun itu.
” tahun 1992? 20 tahun? Bukan 25 tahun?” kagetnya.
###

Kim bum menghela nafas saat melihat kaca spion. Dua buah motor terlihat sedang mengejarnya sambil membunyikan klakson berkali-kali. Tak lama, dua motor itu pun menyalipnya dan berhenti di tengah jalan. Kim bum mendadak menginjak pedal rem.
“aish sebenarnya apa mau mereka?” kesalnya.
Tiga orang itu turun dari motor mereka dengan tongkat kasti yang di pegang masing-masing. Mau tak mau kim bum pun keluar.
Kim bum merasa tenang karena ia pikir so eun mengawasinya dari belakang.
“ingin menghajarku?” tanya kim bum sambil duduk di cap mobil.
“otakmu benar-benar encer.” ujar salah satu dari mereka sambil tersenyum sinis.
Kim bum mendesah.
“sebenarnya aku kasihan pada kalian yang begitu kurang kerjaan.” ujar kim bum.
“mwo? Kurang ajar kau !” orang itu langsung melayangkan pukulan pada kim bum tapi kim bum berhasil menghindar.
“baiklah” kim bum mulai emosi lalu balas menghajar mereka. Tapi malah wajah kim bum yang kena sasaran.
Kim bum tersungkur ke jalan. Hendak menghajar, tapi sudah lebih dulu perutnya di tinju. Kim bum hanya bisa meringis. Kim bum kembali berdiri. Dan tongkat kasti sudah memukul punggungnya. Kim bum berteriak. Wajahnya sudah babak belur tapi ia tidak bisa melawan. Dengan sekuat tenaga kim bum berlari ke arah mobilnya untuk melarikan diri dan langsung menancap gas.
“aish kurang ajar.” teriak mereka.
###

So eun bingung karena sudah kehilangan jejak kim bum.
“aku terlalu lama mengobrol dengan temannya.”ujarnya.
“ah tapi tenang saja, mungkin dia sudah ada di rumah.”
So eun pun melajukan mobilnya lebih santai.
——–

Kim bum sampai di rumahnya. Ia berjalan cukup tergopoh-gopoh menuju pintu untuk masuk. Menahan sakit di sekujur tubuhnya, wajahnya lebam dan cukup dipenuhi darah. Bibi jung terkejut melihat keadaan kim bum yang babak belur.
“ya tuhan tuan muda? Apa yang terjadi?” tanya bibi jung khawatir.
Kim bum meringis kesakitan, tak menjawab pertanyaan bibi jung.
“tuan muda akan saya panggilkan dokter.” ujar bibi jung.
“shireo. Jangan panggil dokter. Aku tidak apa-apa.” tolak kim bum.
“tapi tuan . . . . .”
kim bum tak mendengar, ia malah masuk ke kamarnya sambil meringis.
Ia terduduk di kasurnya sambil meraba-raba wajahnya yang lebam. Kim bum hampir muak kenapa orang-orang terus mengincarnya padahal ia tak merebut pacar mereka.
———–

So eun baru sampai, ketika masuk ke rumah ia langsung menanyakan kim bum pada bibi jung.
“bibi apakah tuan muda sudah pulang?” tanya so eun. Bibi jung mengangguk.
“tapi tuan muda babak belur, sepertinya dia berkelahi lagi. Tapi dia melarang saya untuk memanggil dokter.” jawab bibi jung.
“aish dia itu.” kesal so eun.
So eun tidak bisa bernafas dengan lega, lengah sedikit saja dari pengawasannya lagi-lagi anak tuan kim ini berkelahi. Memang ini salahnya sendiri karena kelamaan mengobrol dengan il woo.
“memangnya nona tidak bersama tuan muda?” tanya bibi jung.
“apakah tuan muda ada di kamar?” tanya so eun mengacuhkan pertanyaan bibi jung.
Bibi jung mengangguk. So eun pun langsung menuju kamar kim bum.
So eun mengetuk pintu tapi kim bum tak menyahut dan malah berdecak kesal kenapa so eun harus ke kamarnya.
So eun pun masuk karena pintu tak di kunci, ia melihat kim bum sedang duduk dan tengah meraba-raba lukanya.
“ah benar-benar membuat khawatir.” ujar so eun menghampiri kim bum. Kim bum diam.
“kenapa kau malah melarang bibi jung untuk menelpon dokter hah? Sudah tahu wajahmu babak belur seperti itu”tanya so eun mengeluarkan ponselnya. Kim bum masih tak berniat untuk bicara.
“jika kau melarang bibi jung, maka aku yang akan menelpon dokter.” ujar so eun.
“sudah ku bilang aku baik-baik saja. Jangan hubungi dokter.” tolak kim bum susah payah, ketika bicara mulutnya semakin terasa perih.
So eun menatap kim bum dengan sebal.
“ya bagaimana jika nanti ayahmu memarahiku karena menganggapku tak becus? Dan sebagai seorang bodyguard bagaimana pun juga aku harus bertanggung jawab.” marah so eun.
Kim bum hanya menghela nafas sambil menahan sakit.
“yasudah aku akan mengobatimu sendiri.” ujar so eun mengambil kotak P3K.
So eun duduk di sebelah kim bum, ia mulai membuka kotak P3K dan mengeluarkan beberapa helai tisu bersama cairan antiseptic dan betadine.
So eun mengoleskan cairan antiseptic pada tisu dan mulai membersihkan luka di wajah kim bum. Kim bum tampak meringis kesakitan.

Kim bum memalingkan wajahnya di saat so eun mengobati lukanya dengan betadine. Kim bum sama sekali tak melihat wajah so eun yang kini pasti sedang menatap wajahnya karena memang ia sedang telaten mengobati luka di wajah kim bum, ia melihat ke arah lain. Jarak mereka begitu dekat saat ini.
“lihatlah kemari ! Aku tidak bisa mengobati semua lukanya jika posisimu seperti itu.” pinta so eun.
Kim bum mendesah. Dengan terpaksa ia pun menghadapkan wajahnya ke arah so eun yang masih sibuk mengobati lukanya.
“nah begini lebih baik. Aku bisa mengobati semua luka di wajahmu dengan baik.” ujar so eun kembali menggerakan tangannya mengobati lebam di wajah kim bum. Kim bum lagi-lagi mendesah. Wajahnya dengan wajah so eun begitu dekat, dan kim bum masih melempar pandangan ke arah lain walaupun wajah mereka tengah berhadapan.
Tangan so eun masih lihai dengan lembut menyaku lebam-lebam di wajah tampan kim bum. Perlahan kim bum menatap tangan so eun yang menyentuh pipinya lalu terus maju hingga matanya menatap wajah so eun. So eun tak menyadari hal itu.
kim bum menatap wajah so eun dengan seksama, melihat dari dahi, lalu menelusuri pada mata, hidung, bibir, dan berakhir di dagu dari dekat. wajah so eun benar-benar bersih dan jujur terlihat cantik alami. Terlihat lebih muda dan tidak seperti 25 tahun. Dugaan oplas yang ia pikirkan hilang setelah melihat dari dekat. Kim bum kembali menatap mata so eun tanpa berkedip, tatapan kim bum seperti orang yang sedang melamun.
‘deg’
Tiba-tiba kim bum merasa jantungnya berdetak tak karuan, ini kim bum rasakan saat terus-terusan memerhatikan wajah so eun. Merasa ada yang tidak beres, langsung saja kim bum mengangkat tangan dan menyingkirkan tangan so eun yang masih mengobati lukanya lalu mendorongnya hingga so eun sedikit terdorong ke belakang. So eun kaget, benar-benar kaget. Kim bum menggeleng-gelengkan wajahnya dengan cepat seakan sedang membuang jauh-jauh pikirannya tadi tentang so eun.
“ya ada apa denganmu?” heran so eun.
“a..a..aku sudah merasa lebih baik. K. . . .kau bisa. . . .k. . .keluar dari kamarku.” suruh kim bum dengan suara terputus-putus.
So eun hanya menatap dengan bingung.

TBC

36 thoughts on “BABY FACED BODYGUARD PART 6

  1. ressssiii..aaaiiii ini ceritanya tambah part..eon tambah suka kkekekekeek..
    kayaknya yaa ni..kim bum udah ada dikit2 feel sma so eun #amiinn kekkeek..
    okke lanjut lagi yaa buat FFnya..eon selalu mendukungmu😀 kekkeekekek

  2. Uuuuuuu Creeennnn daebak bgeettt eoonie……
    Uuuu Bum kyak n udh mlai ska tc sma So Eun eeooonie n…kyaaa sneggg bggettttt…….lnjuttttt eoonie…

  3. Ya.. Ya.. Kimbum jatuh cintrong yah.? Ahahaha..
    Wah, bakal ada cinta segitiga nih.. Mana identitas so eun kbongkar ama ilwoo lg..
    Next ah..

  4. yaellah mbum…ms mikirna sso oplas, itu cntik asli alami bukan oplas..

    Ckck lcu byngin wjh mbum yg sll mratiin muka sso wat buktiin itu cntik alami pa oplas#skrng dah tau jwbn nya kan mbum?

    DEG’ cieee virus cnta sso dah mo menyerang mbum nich.

    #wis lah lnjt bc next part na, cekidot

  5. Waw daebakkkk eon😀
    wah il woo udh tau identitas soeun sebenarnya lalu apa yg trjadi slanjutnya?
    Walah kebayang deh Bum sama Soeun berhadapan dgn jarak dekat ckckck mbum nervous tuh haha deg.deg.deg prtanda jatuh cinta hehe ^^

  6. Yeye. . .kimbum jdi gugup gtU dket” s0eun. .
    Udah ada rasa tUh kayak’a. . , ,
    wahh ilwo udah tau s0eun itu b0h0ng tentang umur. .
    Nanti’a gmana ya. . ? ?
    Aq mampir ke part.7’a dlu. . Hehe

  7. kkkkkk kereeeen! ciye banget sih bumppa nya perasaannya udah mulai terbuka muahaha
    aku baru baca ff lanjutin ini lagi-_- dan makin daebak ajaaa:) mau lanjut baca part lanjutannya yaaah mariiiii::-DD

  8. Il woo menemukan kartu identitas soeun, jadi apa yang akan terjadi? Apakah dia akan memberi tahu kimbum?
    Bagaimana reaksi kimbum? Padahal dia sudah mulai menyukai soeun?
    Jadi penasaran nich

  9. deg!! aaah mulai ada rasa yg aneh ya bum hihi.. mana sblmnya juga bum udh ngerasa iba, simpati gt ama kisah hidup sso😀

    wow il woo nemuin kartu identitas sso …
    sblmnya il woo melongo bukan krn muka sso yg tidak seperti usia 25 tp krn sso lah yg ia tunggu2 hehe rasanya pasti ga keruan trnyata cewe itu adalah bodyguard sahabatnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s