Mini FF (No Title) Part 2

Mini FF (No Title) Part 2

Author : Resi R. (Shin Ni Rin)

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom

Other Cast : Jung Il Woo, Shin Ni Rin, Song Jae Rim

Genre : Romance

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

 

Berlawanan arah

Hati ini mengatakan iya, namun mulut tidak tahu

Apa yang harus ditunjukkan? Apa yang harus dikorbankan?

Mengenai hati, sebenarnya siapa yang tahu?

 

Maret 2013

So Eun tengah celingukan mencari seseorang, ponselnya tidak lepas ia genggam. Hal inilah yang membuatnya tidak suka. Mempunyai sepupu manja yang harus ia jemput tiap kali ia pulang ke Korea. Ya, sepupunya memang tinggal di Hongkong, dan kadang 3 bulan sekali menyempatkan pulang ke Korea. Mereka begitu dekat meski So Eun kadang sering kesal karena sepupunya yang menyebalkan itu.

“Gzzz dimana dia itu?” Kesal So Eun seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah. Sudah hampir satu jam dia menunggu namun batang hidung sepupunya tak kelihatan juga. Sudah beberapa pesan yang ia kirim namun tak juga ada balasan, begitu juga saat dihubungi pun tak diangkat.

“Ahhh ini benar-benar membuatku jengkel.” Gerutunya. Lalu ia pun memilih untuk membeli minum di foodcourt di bandara Incheon.

So Eun duduk sambil menikmati secangkir coklat hangat. Ia melihat banyak sekali orang yang lalu lalang membawa koper. Sudah sering ke bandara namun ia tak sempat mencoba menaiki pesawat. So Eun menghembuskan nafasnya. Tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata ada telpon masuk dari sepupunya. Tanpa banyak apa-apa So Eun pun langsung mengangkatnya.

“Yak…..sudah berkali-kali aku menghubungimu kenapa kau tak mengangkatnya juga heoh? Bukankah pesawat yang kau tumpangi sudah take off satu jam yang lalu?”

“Membuatku mati bosan saja ! Yasudah kau tunggu saja, aku akan segera kesana.” So Eun segera bergegas dan meninggalkan secangkir coklat hangat yang masih tersisa banyak. Ia berjalan dengan terburu-buru juga dengan wajah kesalnya untuk menjemput sepupunya itu.

Namun saat ia menaiki tangga tak sengaja ada orang yang menyenggolnya sampai ia hampIr saja terjatuh. Tapi untung saja ada seseorang yang dengan cepat menahan tubuhnya.

“Berhati-hatilah.” Ujar orang yang menolonganya itu. Tampak seorang pria di ada di penglihatan So Eun. Pria itu memakai topi dan juga kacamata hitam.

So Eun terdiam sejenak. “Ah, terimakasih.” Ujar So Eun.

Pria itu tersenyum kepada So Eun lalu membuka kacamatanya. “Tapi apa kau baik-baik saja?” Tanya pria itu.

“Eh? Ah iya….” So Eun mengangguk canggung.

“Lain kali berhati-hatilah.” Ujar orang itu seraya tersenyum ramah pada So Eun lalu kemudian pergi.

So Eun masih diam di tempat. Entah kenapa ia merasa takjub dengan pria itu. Entah karena pria itu telah menolongnya atau sikapnya yang ramah kepadanya.

“Nona, kau menghalangi jalan.” Seorang bapak-bapak sekitar umur 40-an menyadarkan So Eun.

“Ah….maaf.” Ujarnya sambil sedikit menundukka kepalanya. Lalu So Eun pun kembali ke niat alwalnya untuk menjemput sepupunya.

-no title-

Januari 2015

“Jadi guru Song itu guru baru di sekolah kita?” Tanya So Eun pada Ni Rin. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang menaiki bus.

“Kalau tidak salah baru sekitar dua bulan dia mengajar di sekolah kita.” Jawab Ni Rin. “Wae?” Tanya Ni Rin.

“Tapi aku tidak pernah melihatnya.” Ujar So Eun.

“Karena kau selalu ketinggalan berita, kau datang ke sekolah hanya untuk belajar saja, tak pernah mencari informasi lain.” Cibir Ni Rin yang kini ia sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.

“Mencari informasi, itu sih hobimu.” Balas So Eun.

“Ah ya, tapi aku tak menyangka kau pernah bertemu dengan guru Song sebelumnya.” Ujar Ni Rin, kini ia menatap So Eun. Yang ditatap malah menghembuskan nafasnya.

“Tapi aku belum yakin, apa guru Song itu adalah orang yang menolongku waktu itu atau bukan. Hanya saja terlihat sama.” Balas So Eun.

Hening, untuk sejenak mereka hanya menikmati suara mesin dan juga jalanan dari balik jendela. Sementara So Eun sebenarnya penasaran dengan guru Song. Apakah benar guru Song itu adalah orang yang sama dengan orang yang di bandara? Ataukah hanya mirip saja?

“Eh So Eun-ah….” Panggil Ni Rin. So Eun menoleh. “Apakah kau tak merasa jika Kim Bum-ssi itu sangat tampan?” Tanya Ni Rin.

So Eun terlihat mengerutkan keningnya. “Dia….tentu dia tampan. Wae?” Tanya balik So Eun.

“Hahaha, entah kenapa aku merasa jika kau dan Kim Bum-ssi terlihat cocok.” Canda Ni Rin.

“Kau ini, selalu mengatakan hal yang sama. Dengan Ha Neul-ssi kau bilang aku cocok dengannya, dengan Jun Ho-ssi, lalu sekarang dengan Kim Bum-ssi.” Balas So Eun.

“Hahahaha.” Ni Rin malah tertawa.

-no title-

“Woaaaah jadi ini rumahmu?” Il Woo sangat takjub dengan rumah Kim Bum yang benar-benar mewah. Sepulang sekolah ia memaksa Kim Bum agar ia diperbolehkan untuk main ke rumahnya, dan Kim Bum tak memberikan respon yang membuat Il Woo kecewa. Jadi seperti inilah sekarang, Il Woo berada di rumah Kim Bum. Yah Il Woo memang mudah akrab dengan siapa saja, tapi untuk hal seperti ini terlalu nyeleneh sih. Ia baru saja bertemu dan berkenalan dengan Kim Bum tapi sudah berani meminta ikut ke rumahnya. Tak apa, mungkin Il Woo bisa menjadi teman baik Kim Bum di Seoul.

“Jika kau ingin minum, pergi saja ke dapur.” Ujar Kim Bum sebelum ia masuk ke dalam kamarnya.

“Oke.” Balas Il Woo, ia pun duduk di sofa yang megah itu bagaikan seorang raja. Il Woo memijat-mijat pundaknya lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.

“Beruntung jika aku menjadi sahabatnya kelak.” Gumam Il Woo sambil mengandai-andai.

“Lakukan saja sesukamu disini.” Kim Bum sudah kembali dan ia duduk di sofa di sebrang Il Woo.

“Ah Kim Bum, apa kau tidak kesepian tinggal di rumah sebesar ini? Mungkin orang tuamu jarang berada di rumah karena sibuk bekerja. Tapi apa kau tak merasa kesepian?” Tanya Il Woo.

“Aku sudah terbiasa hidup seperti ini.” Balas Kim Bum.

“Ah oke oke aku paham.” Il Woo angguk-angguk.

“Mmmm, pasti banyak yang mendekatimu ya Kim Bum-ssi?” Tanya Il Woo. Kim Bum menatap Il Woo dengan tatapan aneh. “Perempuan maupun laki-laki, banyak yang mendekatimu karena harta.” Lanjutnya. Kim Bum diam. “Kau bisa memilih-milih teman dan perempuan yang kau inginkan, jika kau tak merasa cocok kau tinggalkan semua. Anak orang kaya dan tampan sepertimu yang ada dalam drama sih seperti itu.” Blak-blakan apa yang dikatakan Il Wo. Tapi memang beginilah dia.

“Semuanya tidak seperti yang kau bayangkan.” Balas Kim Bum. “Aku jarang berinteraksi dengan orang lain, jika mereka mendekat maka aku akan menjauh.” Lanjutnya.

Il Woo membulatkan matanya. “Ayolah…jadi maksudmu kau juga akan menjauhiku?” Il Woo menghampiri Kim Bum dan duduk di sebelahnya, lalu ia merangkul pundak Kim Bum. “Karena aku tak selevel denganmu?”

“Tapi aku rasa, tak ada salahnya untuk mencoba.” Ujar Kim Bum.

“Ya…kau harus sering bergaul kawan !” Il Woo menepuk pundak Kim Bum. “Mulai sekarang, kita bersahabat, bagaimana?” Tanya Il Woo. Kim Bum menatap Il Woo dengan aneh.

“Hmmmm, lain kali kau juga harus mengajak So Eun dan Ni Rin ke rumahmu. Agar rumahmu ramai dan tidak sepi seperti ini.” Ujar Il Woo. Mendengar kata So Eun, Kim Bum terdiam sejenak.

“Apa kau dekat dengannya? Kim So Eun?” Tanya Kim Bum.

“Ya kami dekat, aku dekat dengan siapa saja.” Jawab Il Woo santai. “So Eun orang yang baik, aku sudah tiga tahun kenal dengannya. Begitu pula dengan Ni Rin. Tapi So Eun jauh lebih baik daripada Ni Rin. Jadi jika kau jatuh cinta, jatuh cinta saja pada So Eun, jangan kepada gadis tomboy itu.”

Kim Bum diam mendengarnya. Jatuh cinta? Apakah semudah itu untuk jatuh cinta? Tapi kenapa ia merasa ia bukanlah dirinya saat ia melihat So Eun. Meski baru pertama kali bertemu secara dekat, ia merasa ada hal yang berbeda. Apakah bisa dikatakan ia jatuh cinta kepada gadis itu? Jika benar, maka apa yang harus ia tunjukkan?

-no title-

Semua murid kelas 3-1 tampak terpukau dengan sosok yang berdiri di depan kelas mereka. Guru Song, ya nama lengkapnya Song Jae Rim. Bagaimana tidak semua murid perempuan terhipnotis melihat rupanya? Muda, tampan, dan ramah. Sempurna di mata mereka. Begitu pula dengan So Eun yang sedari tadi matanya terus berada pada guru Song. Ternyata benar, guru Song adalah orang yang sama dengan orang yang menolongnya saat itu di bandara.

“Baiklah, mungkin hanya itu perkenalan dariku sebagai guru sastra inggris kalian di kelas tiga, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik.” Ujar guru Song kepada semua. Semua murid bertepuk tangan sebagai sambutan baik mereka kepada guru Song.

“Mungkin, sekarang saya akan meminta perwakilan dari kalian yang ingin membantu saya untuk mempermudah komunikasi antara saya dengan kelas ini, siapa yang bersedia menjadi koordinator kelas untuk pelajaran sastra inggris?” Tawar guru Song. Semuanya diam dan tak ada yang berani mengangkat tangan.

“Saya Sonsaeng-nim.” So Eun mengangkat tangannya dan semua mata tertuju padanya termasuk Kim Bum. Tak lama dari itu entah kenapa Kim Bum juga ikut mengangkat tangannya.

“Saya.” Ujarnya. Kini semua mata tertuju pada Kim Bum.

“Oh baiklah….sudah ada dua dari teman kalian yang bersedia, apakah ada yang keberatan?” Tanya guru Song. Semua murid diam, menandakan bahwa semua setuju.

“Baiklah kalau begitu, kalian berdua akan menjadi koordinator kelas. Saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik, baik antara kalian berdua, dengan kelas, maupun dengan saya.” Jelas guru Song.

“Ne, sonsaeng-nim.” Balas semua murid.

“So Eun, kau yakin?” Tanya Ni Rin, ia menatap So Eun seidkit tak menyangka. So Eun hanya mengangguk dengan mata yang masih menatap guru Song.

-no title-

“Guru Song.” Suara itu menghentikan langkah guru Song. So Eun sudah berdiri di belakannya.

“Ah Kim So Eun?” Ujar guru Song. So Eun tersenyum manis padanya seraya sedikit membenarkan rambutnya.

“Ada apa?” Tanya guru Song sambil memamerkan senyum ramahnya.

So Eun tampak menggaruk tengkuknya. “Emmm sebenarnya…..” Ujar So Eun menggantung. “Aku rasa ini tidak terlalu penting, tapi aku sangat penasaran sehingga aku ingin bertanya padamu.” Lanjut So Eun. Guru Song mengerutkan keningnya.

“Apa itu?” Tanya guru Song.

“Maret tahun 2013 di bandara Incheon, apa kau mengingatnya?” Tanya So Eun. Guru Song tampak bingung dengan yang ditanyakan So Eun. Ia berpikir sejenak.

“Waktu itu kau pernah menolong seorang gadis yang hampir saja terjatuh dari tangga.” Jelas So Eun. Guru Song tampak masih mengerutkan keningnya sambil mengingat-ingat.

“Di bandara?” Gumam guru Song. So Eun angguk-angguk dengan cepat.

“Ah ya aku ingat, aku menolong seorang gadis.” Ujar guru Song.

Senyum di bibir So Eun semakin mengembang. “Itu aku, sonsaeng-nim.” Ujar So Eun.

Guru Song menatap So Eun dengan ekspresi terkejut. “Ah benarkah?” Tanyanya.

So Eun mengangguk dengan cepat. “Aku senang bisa bertemu lagi denganmu sonsaeng-nim.” Ujar So Eun. “Aku sangat berterimakasih padamu.” Tambahnya.

“Ah…tidak masalah, aku juga senang ternyata kau adalah muridku.” Balas guru Song.

So Eun tersenyum malu seraya membenarkn rambutnya.

-no title-

Kim Bum baru saja keluar dari toilet, dan saat ia berjalan di koridor, ia tak sengaja melihat So Eun dan guru Song yang sedang mengobrol. Kim Bum diam sejenak seraya memerhatikan mereka, ia melihat ekspresi wajah So Eun yang tampak berbeda disaat ia mengobrol dengan guru Song. Apalagi ditambah senyumnya dan So Eun yang tampak salah tingkah. Melihat dari eskpresi wajah So Eun, Kim Bum cukup tahu. Ia pun memilih memutar arah dan pergi.

-no title-

Keesokan harinya

“Biar aku yang membawanya.” Ujar Kim Bum pada So Eun seraya mengambil alih buku-buku yang ada di tangan So Eun. So Eun menatap Kim bum sejenak namun Kim Bum malah berjalan lebih dulu meninggalkan So Eun.

“Hey…tidak apa-apa.” So Eun mengikuti langkah Kim Bum.

“Kim Bum-ssi, kau sedang ada masalah?” Tanya So Eun seraya memiringkan wajahnya menatap Kim Bum dari samping. Wajah So Eun terlihat bingung.

Kim Bum tak menjawab dan membuat So Eun mengerucutkan bibirnya.

“Sepertinya kau masih menganggapku sebagai orang asing ya?” Ujar So Eun. “Padahal aku ingin bisa akrab denganmu agar bisa menghasilkan kesan yang baik sehingga kita bisa bekerja sama dengan guru Song.” Lanjutnya.

Mendengar nama guru Song yang keluar dari mulut So Eun entah kenapa membuat Kim Bum tidak suka. Pasalnya sedari tadi saat mereka sedang bersama SO Eun Terus saja mengungkit-ungkit soal guru Song.

“Kenapa jika memangnya aku sedang ada masalah?” Tanya Kim Bum dengan tatapan yang masih lurus ke depan.

“Maksudku….kau bisa bercerita padaku, Ni Rin, Il Woo, atau meminta solusi pada guru Song.” Jawab So Eun.

“Ini bukanlah hal yang harus aku ceritakan.” Balas Kim Bum.

So Eun pasrah diam setelah mendengar perkataan Kim Bum.

“Oh kalian….” Ujar guru Song saat Kim Bum dan So Eun baru saja masuk ke dalam ruangannya.

“Simpan saja bukunya di meja.” Perintahnya. Kim Bum pun menyimpan buku-buku itu di meja. Lalu setelah itu Kim Bum keluar tanpa mengatakan apa-apa kepada So Eun maupun guru Song. So Eun menatap aneh Kim Bum yang pergi begitu saja.

“Sepertinya dia memang sedang dalam keadaan yang kurang baik.” Gumam So Eun.

“Ada apa dengan Kim Bum?” Tanya guru Song pada So Eun. So Eun menggelengkan kepalanya.

“Ah yasudah, terimakasih kalian sudah membantuku.”

“Ne, sonsaeng-nim.” Balas So Eun seraya menganggukkan kepalanya.

“Besok…aku ada kepentingan di luar kota. Jadi beritahu teman-temanmu untuk mengerjakan tugas.” Perintah guru Song. So Eun mengangguk.

“Nanti malam akan aku kirim lewat pesan tugas apa saja yang harus dikerjakan.”

“Ne sonsaengnim.” Balas So Eun.

Guru Song tersenyum dan menepuk kepala So Eun. So Eun cukup kaget dengan perlakukan guru Song padanya barusan, tapi ia sangat senang.

“Yasudah kalau begitu, kau bisa pulang So Eun-ssi.” Ujar guru Song. So Eun mengangguk dan segera keluar dari ruangan guru Song.

Sekeluarnya ia dari ruangan guru Song, So Eun langsung memegangi pipinya yang tampak memerah.

“Aigoo, jantungku berdetak sangat cepat.” Ujarnya sambil senyum-senyum tidak jelas. Namun sedetik kemudian ia teringat dengan Kim Bum. Tadi Kim Bum terlihat agak aneh dan So Eun sedikit khawatir juga penasaran. Ia pun lirik kanan-kiri, depan-belakang, mencari sosok Kim Bum, namun ia tak juga melihatnya.

-no title-

Entah kenapa So Eun merasa tidak enak kepada Kim Bum. Jadi bagaimana pun juga ia harus menemkan Kim Bum sekarang. So Eun ingin bertanya apa yang terjadi dengannya, kenapa dia seperti itu, dan lain-lain. Apalagi mereka harus berteman baik agar bisa bekerja sama demi membantu guru Song. Jika misalnya Kim Bum tak menyukainya bisa menjadi hal yang rumit bagi So Eun.

“Dimana dia?” Gumam So Eun. Hingga ia tak sadar jika ia sedang menyebrangi jalan saat ini karena sibuk mencari Kim Bum.

Tidiiiiin tidiiiiin

So eun melirik ke samping kanannya dan dia melihat ada sebuah mobil yang melaju kencanh ke arahnya. Tiba-tiba ada yang menarik lengan So Eun dengan cepat.

“Apa kau ingin tertabrak?!” So Eun melihat Kim Bum berbicara dengan nada sedikit keras padanya. Ia tidak sadar bahwa hampir saja ia ditabrak sebuah mobil.

“Kim Bum-ssi…” Kaget So Eun.

“Apa yang sedang kau lakukan?!” Tanya Kim Bum dengan nada marah.

TBC

KENAPA INI PENDEK? KARENA EMANG SENGAJA DIBUAT PENDEK. KENAPA JUDULNYA ‘NO TITLE` ? KARENA EMANG GAPUNYA JUDUL. ANEH EMANG, KALO ADA YANG PROTES BLA BLA BLA MENDING GAUSAH BACA AJA YA. TAPI BAGI YANG MAU BACA PART SELANJUTNYA DITUNGGU AJAAA.

Mini FF (No Title) Part 1

Mini FF (No Title) Part 1

Author : Resi R. (Shin Ni Rin)

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom

Other Cast : Jung Il Woo, Shin Ni Rin, Song Jae Rim

Genre : Romance

Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

 

Awalnya hidupku tenang, berhembus bagai angin

Lalui saja, tak pedulikan yang datang

Tak seru sama sekali

Tapi lalu berubah

Hatiku terasa bergetar saat dia terus mendekat

 

Desember 2014

“Gzzz…….” Tak seperti biasanya jalanan macet. Hal ini yang membuat laki-laki berparas tampan ini kesal. Sudah hamper 3 jam mobil yang ia tumpangi tidak jalan.

“Maaf Tuan, sepertinya saya salah mengambil jalan, tak diperkirakan daerah ini akan macet sebelumnya.” Ujar sang supir dengan nada takut-takut kepada laki-laki kalem ini. Tak ada suara dari sang majikan dan membuat sang supir melihat lewat kaca depan mobil.

Laki-laki itu terlihat menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sembari melipat kedua lengannya. Ia menghemuskan nafasnya, hembusan yang menggambarkan antara kesal, bosan, dan lainnya. Ia lalu memalingkan wajahnya ke jendela. Dari sana, ada hal yang menarik perhatiannya.

-no title-

“Huwaaaaaaaaaa…………” Seorang anak kecil menangis dengan keras karena lututnya terluka. Ia baru saja terjatuh karena berlarian dengan ceroboh. Es krim yang dipegangnya pun kini tergeletak di tanah dan mencair.

“Adik kecil, tidak apa-apa?” Seorang gadis dengan rambut hitam bergelombang menghampiri anak kecil itu lalu berjongkok di depannya.

“Dimana ibumu?” Tanyanya.

Anak kecil itu terus saja menangis dan mengaduh kesakitan, membuat si gadis bingung apa yang harus ia lakukan. Terlebih banyak orang lewat dan melihat ke arahnya.

“Huwaaaaaa…….sakit…..kakiku……….huwaaa……” Anak kecil itu menangis semakin menjadi-jadi. Gadis itu jadi panic.

“Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?” Ia kelabakan.

“Anak manis, apakah kau kesini bersama ibumu? Ayahmu? Atau kakakmu? Dimana mereka sekarang?” Tanyanya.

“Eomma…………..” Rengek anak kecil itu. Gadis itu melirik kiri kanan untuk mencari apakah ibu dari anak kecil ini ada di sekitar sini atau tidak.

“Ayo….aku akan mencari ibumu. Naiklah ke pundakku !”

-no title-

Januari 2015

Keadaan kelas tampak ramai. Hal ini dikarenakan para penghuninya sedang heboh bergosip mengenai guru muda yang tampan dan juga soal anak baru yang pindah ke sekolah mereka. Mereka bahkan tak memerdulikan bel masuk yang sudah berbunyi.

“Hei hei, memangnya benar guru Song akan mengajar di kelas kita?”

“Molla~ tapi aku berharap sekali dia akan mengajar disini, dia sangat tampan sekali bukan?”

“Benar, dia sangat tampan, aku akan rajin sekolah jika begitu jadinya.”

“Haaaaaa dia bahkan mendapat predikat sebagai guru muda tertampan di Seoul.”

“Benarkah?”

Tap tap tap

Suara sepatu itu terdengar cepat dan semakin mendekat. Seorang gadis berlarian menuju kelasnya dengan nafas yang terengah-engah. Dia telat 10 menit.

“Ya So Eun-ah….semalam kau melakukan apa saja heoh?” Shin Ni Rin yang merupakan teman dekat gadis yang bernama Kim So Eun itu menepuk pundaknya.

“Aku masih beruntung belum ada guru yang masuk.” Ujar So Eun seraya duduk di bangkunya.

Pletak

“Wae? Kenapa menjitak kepalaku?” Kesal So Eun seraya memegangi kepalanya. Ia menatap Ni Rin dengan mata kesal.

“Hehhhh….” Ni Rin menghela nafasnya lalu duduk di sebelah So Eun.

“Kau sudah kehilangan banyak berita So Eun-ah.” Ujar Ni Rin. So eun menoleh dan menatap Ni Rin dengan kening berkerut. “Guru tampan dan murid baru, semua orang heboh membicarakan itu.”

“Lalu?” Tanya So Eun. “Apakah aku harus ikut heboh juga seperti yang lain?” Lanjutnya.

“Heh kau ini, awas saja jika kau nanti jatuh cinta pada guru Song.” Balas Ni Rin. So eun yang tadinya menatap Ni Rin langsung memalingkan wajahnya dan mencari botol minum di dalam tasnya.

“Aku haus.” Ujarnya.

-no title-

“Apakah kau merasa gugup?” Tanya seorang guru kepada murid tampan yang sedang berjalan beriringan dengannya.

“Ah tidak.” Jawabnya singkat.

“Aku dengar kau memang sudah sering pindah sekolah karena pekerjaan ayahmu.” Ujar guru yang bermarga Kim itu.

“Ne itu memang benar.”

“Baiklah Kim Bum-ssi, semoga kau betah sekolah disini.” Ujar guru Kim seraya menepuk pundak Kim Bum.

Murid tampan yang kalem itu hanya mengangguk saja. Lalu sampailah mereka di depan kelas yang akan menjadi tempat dimana Kim Bum menghabiskan waktu untuk sekolah. Kelas yang akan menajdi tempat baru baginya dan menemukan teman-teman baru, atau cinta yang baru? Entahlah…..siapa yang tahu.

“Ehem…..” Guru Kim berdehem keras dan membuat penghuni kelas 3-1 itu langsung duduk di bangku mereka masing-masing. Kini semua mata tertuju pada Kim Bum si anak baru. Hal ini sudah menjadi hal biasa bagi dirinya jadi ia tetap dengan sikapnya yang tenang.

“Baiklah anak-anakku semua. Hari ini kalian kedatangan teman baru yang akan menjadi bagian dari kalian untuk hari-hari berikutnya. Aku harap kalian semua memperlakukannya dengan baik.” Jelas guru Kim di depan. Semua murid tampak diam dan memerhatikan. Namun ada juga yang berbisik-bisik karena ketampanan yang dimiliki Kim Bum.

“Baiklah Kim Bum, perkenalkan dirimu kepada teman-teman barumu !” Suruh guru Kim. Kim bum mengangguk.

“Aku Kim Sang Beom, senang bertemu dengan kalian semua.” Ujarnya kalem lalu sedikit membungkukkan tubuhnya.

“Yeah, senang juga bertemu denganmu anak baru !” Celetuk Jung Il Woo seraya mengangkat tangannya. Il Woo merupakan siswa yang terkenal dengan sifatnya yang nyeleneh dan tidak tahu malu, bias dibilang cukup pemberani dan juga mudah bergaul dengan siapa saja.

Dan pada saat itu juga, Kim Bum menangkap seseorang dengan matanya. Dia duduk di bangku ke tiga paling belakang sedang menatapnya juga.

Deg

Ternyata takdir telah mempertemukan dirinya dengan gadis yang telah menarik perhatiannya beberapa minggu yang lalu.

“Baiklah kalau begitu, silakan kau duduk di bangku yang kau inginkan Kim Bum-ssi !” Suruh guru Kim. Kim Bum langsung menurut dan dia memilih duduk dibangku pojok paling belakang. Pilihan yang bagus jika dia ingin memerhatikan gadis itu.

Setelah perginya guru Kim, Kim Bum langsung dikerumuni oleh murid perempuan maupun laki-laki yang ingin berkenalan secara personal dengannya. Ia sudah tahu risikonya akan seperti ini, sudah menjadi hal yang tak aneh baginya.

“Annyeong Kim Bum-ssi.” Sapanya. Kim bum menoleh.

Deg

Gadis ini…………..

“Aku Kim So Eun, senang berkenalan denganmu.” Ujar gadis tersebut yang ternyata adalah So Eun. So eun menjulurkan tangannya seraya tersenyum.

Kim Bum diam sejenak seraya menatap So Eun. “Ah…Kim Bum.” Balas Kim Bum seraya menerima uluran tangan So Eun. Namun dia tak menyunggingkan senyumnya untuk gadis ini, gadis yang menarik perhatiannya waktu itu-ketika jalanan sedang macet.

“Hey bro.” Tiba-tiba Il Woo duduk di sebelah Kim Bum tanpa malu dan merangkul bahunya. Kim Bum menatap Il Woo dengan tatapan aneh.

“Aku Jung Il Woo, kau boleh memanggilku Il Woo atau apa saja asalkan itu membuatmu nyaman.” Ujarnya.

“Oh ya Kim Bum-ssi, kau pindahan darimana? Kenapa kau pindah dan memilih bersekolah disini?” Tanya Il Woo seraya menatap Kim Bum layaknya mereka sudah bersahabat sejak lama. Kim Bum hanya menatapnya saja.

-no title-

Belum banyak yang Kim Bum kenal di sekolah ini. Ia pun memilih duduk menyendiri di taman sekolah, ia menyender di salah satu pohon yang cukup rindang yang menghadap ke arah danau buatan. Semilir angin dingin mengusap-usap wajahnya dan membuat rambutnya sedikit berantakan. Masih musim salju tapi sudah tak setebal bulan Desember. Dentuman lagu asik ia dengarkan lewat headseat. Hal yang seperti inilah yang ia nikmati. Diam di tempat yang sepi dan ia merasa nyaman, tak banyak yang mengganggu. Namun dibalik itu, pikirannya sedang kalut memikirkan gadis itu. Ya gadis itu, Kim So Eun. Melihat So Eun menolong anak kecil menjadi pemandangan yang menarik baginya saat itu. Jika dia ada disana, yang melihat anak kecil itu menangis karena lututnya terluka. Ia akan pergi saja tak akan memerdulikannya. Untuk apa? Ia tak ingin repot masuk ke dalam masalah orang lain. Tapi, kenapa So Eun ingin menolongnya dan repot-repot menggendong anak itu. Jika itu dia, sudah saja ia biarkan anak itu. Tega memang, tapi itulah dia. Jarang melihat hal seperti itu di tempat ia tinggal dulu. Itulah yang membuatnya tertarik dan penasaran kepada So Eun.

“OOOOOY KIM BUM!!!!” Kim Bum mendadak membuka matanya yang terpejam mendengar teriakan itu. Ia melihat di sebrang sana Il Woo melambai-lambaikan tangan kepadanya.

“APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN DISANA???” Teriaknya. “KAU TIDAK MAKAN KE KANTIN?”

Kim Bum malah menggerakkan tangannya seakan menyuruh Il Woo untuk segera pergi.

“YASUDAH KALAU BEGITU, JIKA KAU INGIN MENEMUIKU PERGI SAJA KE KANTIN !” Il Woo pun menghilang dari penglihatannya.

“heh…” Kim Bum menghela nafasnya lalu sedikit menyunggingkan senyum. Kemudian ia memejamkan matanya kembali. Menikmati musik yang lembut dan semilir angin.

“Oh, Kim Bum-ssi?” Kim Bum kembali membuka matanya saat ia mendengar suara seseorang yang menyapanya. Dan ia tak bisa memungkiri ia sedikit terkejut saat melihat So Eun berada di depannya dan melihatnya dengan wajah polos.

“Ah.” Kim Bum membenarkan posisi duduknya. Tak ia sangka akan bertemu So Eun disini.

“Apa yang sedang kau lakukan? Tidak makan bersama teman yang lain?” Tanya So Eun lalu memilih duduk di samping Kim Bum.

Mata Kim Bum sejenak mengikuti So Eun yang duduk di sebelahnya, lalu memalingkannya. “Seperti yang kau lihat.” Balas Kim Bum.

“Ini tempat kesukaanku. Awalnya aku kaget karena ada orang yang duduk disini, ternyata kau. Biasanya tak ada yang suka duduk disini.” Cerita So Eun.

“Oh begitukah?” Balas Kim Bum. Diam-diam Kim Bum mengecilkan volume musik dari ponselnya.

So Eun memiringkan kepalanya dan menatap Kim Bum dari samping. “Kim Bum-ssi, kau pendiam yah?” Tanya So Eun. Kim Bum menoleh dan tatapan mereka bertemu.

“Ah mungkin karena aku orang baru dan kita masih belum saling mengenal yah.” So Eun menjawab sendiri pertanyannya seraya memalingkan wajahnya dari Kim Bum. Kim Bum masih menatap So Eun yang kini sibuk dengan ponselnya.

“Ah Ni Rin memintaku untuk menemuinya di Kantin.” Ujar So Eun. Lalu So Eun berdiri. “Baiklah kalau begitu aku pergi.” Lanjutnya pada Kim Bum.

“Aku juga.” Balas Kim Bum seraya berdiri.

“Eh?” So Eun menatap Kim Bum.

-no title-

“Ahahahahahahaha.” So Eun tertawa terbahak-bahak mendengar cerita dari Ni Rin.

“Yak, apa yang lucu dariku? Kau ini…..” Ni Rin mengerucutkan bibirnya.

“Jelas saja So Eun tertawa, ceritamu sungguh konyol.” Balas Il Woo dengna mulut yang penuh dengan makanan. Di sana mereka berempat-So Eun, Ni Rin, Kim Bum, Il Woo-sedang makan bersama di kantin.

“Aku Tanya padamu, di sebelah mana yang konyol? Ini adalah penderitaanku, aku sedang tak membuat lelucon. Teman macam apa kalian ini.” Kesal Ni Rin, ia mengaduk-aduk mie nya dengan penuh tenaga.

“Kekekek maafkan aku Ni Rin-ah, sudah lama aku tidak tertawa.” Wajah So Eun sudah memerah menahan tawa. Ni Rin masih terlihat kesal.

Ini baru pertama kalinya Kim Bum melihat So Eun tertawa lepas di depannya, di awal mereka bertemu. Satu yang dapat ia simpulkan, So Eun adalah gadis yang polos dan apa adanya.

“Hei Kim Bum, apa kau menyadari banyak gadis-gadis disini yang memerhatikanmu?” Il Woo menyenggol lengan Kim Bum. Kim Bum menatap Il Woo dengan kening berkerut.

“Lihatlah, sedari tadi mereka mencuri pandang padamu, aku rasa kau akan populer di sekolah ini.” Il Woo menunjuk sekumpulan murid perempuan yang duduk tak jauh dari mereka.

Kim Bum melihatnya. “Ah bagiku sudah biasa.” Balas Kim Bum.

“Oh ya Kim Bum-ssi, kau pindahan dari mana?” Tanya Ni Rin.

“Dia pindahan dari Jepang.” Malah Il Woo yang menjawab.

“Yak….aku bertanya pada Kim Bum-ssi.” Amuk Ni Rind an menatap sebal kepada Il Woo.

“Aku hanya membantu menjawab.” Il Woo berusaha membela dirinya sendiri.

“Oh jadi kau pindahan dari Jepang, Kim Bum-ssi?” Tanya So Eun memastikan. Kim Bum menatap So Eun dan mengangguk.

“Woaaaah Jepang adalah salah satu negara yang ingin aku kunjungi.” Ujar So Eun.

“Tidak ada tempat yang lebih nyaman dibandingkan dengan tempat dimana kita dilahirkan.” Balas Kim Bum.

“Memangnya sudah berapa negara yang kau kunjungi? Pindah-pindah karena pekerjaan orang tuamu ya?” Tanya Il Woo. Kim Bum tak langsung menjawabnya.

“Whoaaaaaa….” Ni Rin membuat semuanya menatap kepadanya.

“Ada apa?” Tanya So Eun.

Ni Rin tampak masih takjub melihat sesuatu di layar ponselnya. So Eun dan Il Woo menatapnya bingung. Sementara Kim Bum tetap dengan gaya kalemnya.

“So Eun-ah lihat ini ! Grup kelas heboh karena guru Song !” Ni Rin memperlihatkan ponselnya pada So Eun. Dan seketika So Eun terkejut saat melihat foto guru Song yang ada di layar ponsel milik Ni Rin.

“Dia……” Kaget So Eun.

Semua menatap So Eun dengan tatapan bingung, juga Kim Bum yang menatap So Eun penasaran.

TBC

KENAPA INI PENDEK? KARENA EMANG SENGAJA DIBUAT PENDEK. KENAPA JUDULNYA ‘NO TITLE` ? KARENA EMANG GAPUNYA JUDUL. ANEH EMANG, KALO ADA YANG GASUKA MENDING GAUSAH BACA AJA YA. TAPI BAGI YANG MAU BACA PART SELANJUTNYA DITUNGGU AJAAA.

Today, Love is Begin PART 17 (END)

Today, Love is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

 

PART 17 (END)

Duh part ini bakal full of happiness, maafkan jika ceritanya membosankan ya 

 

“Bum-ah….” panggil so eun. Kim bum kembali menoleh. “Aku….aku saaaaangaaaaaat menyukai ibumu. Saaaaangaaaaat !” Ujar so eun.
“Huh?” Tanya kim bum.
“Hari ini aku sangat senang bisa bicara banyak dengan ibumu. Sungguh !” Ujarnya dengan mata yang berbinar-binar. “Meskipun hanya hal kecil, tapi dia dengan senang hati mendengarkanku. Dia menyenangkan dan juga benar-benar ramah.” Jelasnya. “Oleh karena itu, mari pergi bersama lagi ke Daegu lain kali !” Ajak so eun. “Ne?” Tanyanya. Bukannya menjawab, kim bum malah menatap so eun dengan aneh.
“Apa yang baru saja terjadi padamu?” Tanya kim bum. Lalu kim bum menopang dagunya dengan tangannya. Melihat reaksi kim bum yang seperti itu membuat so eun ciut. Ia sudah menggebu-gebu dan bersemangat menceritakannya kepada kim bum, tapi kim bum malah bertanya apa yang telah terjadi padanya. So eun pun hanya bisa diam saja. Terjadi keheningan beberapa menit di antara mereka. Menyadari so eun tak bicara lagi, kim bum pun memutar bola matanya dan melirik so eun. Ia melihat so eun tengah menunduk seraya memain-mainkan jari tangannya. Tiba-tiba kim bum mengangkat tangannya secara perlahan dan memegang rambut so eun. So eun menoleh.
“Seharusnya kau pergi untuk mengeringkan rambutmu !” Ujar kim bum.
“A..ah….ne….tadi aku berniat mengeringkan rambutku nanti setelah aku menemuimu.” Balas so eun. Entah kenapa jantungnya berdegup sangat cepat saat kim bum memegang beberapa helaian rambutnya itu.
“Heh…..” kim bum menyunggingkan senyumnya lalu menatap tepat ke mata so eun. Perlahan ia juga melepaskan tangannya yang memegang rambut so eun. Perasaan so eun semakin tak karuan saja di saat kim bum secara perlahan mendekatkan wajahnya pada wajahnya yang sudah benar-benar memerah. So eun langsung saja menutup matanya.

 

-today love is begin-

Kim bum semakin mendekat, ia menatap bibir so eun yang mungil itu. Bibir kim bum semakin dekat, dekat, dan hidung mereka sudah bersentuhan.
3 cm
2 cm
“So Eunnie……” Panggil Soo Jin yang sukses membuat kim bum dan so eun menjauhkan wajah mereka. Di depan pintu sana, sudah ada soo jin yang menatap mereka seraya melipat kedua lengannya di dada. Ya benar, soo jin melihat detik-detik dimana mereka hendak berciuman. So eun langsung saja mengambil jarak beberapa cm dari kim bum. Ia duduk agak berjauhan dengan Kim bum kini. Wajahnya sudah pasti merah padam. Sementara kim bum terlihat kesal pada kakaknya yang datang tiba-tiba. Membuat jati dirinya terbongkar juga.
“so eunnie, bukannya kau mau meminjam pembersih dan krim pelembab wajah huh?” Tanya soo jin seraya mengangkat dan menunjukkan kedua benda itu. Entah kenapa, nada di setiap perkataan soo jin terlihat ada tekanan.
“A…Ah….ya eonni.” So eun langsung berdiri dengan wajah yang masih memerah.
“jika kau tidak cepat-cepat, wajahmu akan segera kering so eunnie.” Ujar soo jin.
“A….iya…..terimakasih eonni.” So eun langsung mengambil pembersih dan krim pelembab wajah itu dari tangan soo jin.
“Ahahaha….maaf, ternyata aku datang pada situasi yang kurang tepat.” Soo jin tertawa sarkastik. So eun semakin merasa malu saja dengan apa yang dikatakan soo jin barusan.
“A..aku akan segera memakainya.” Ujar so eun lalu cepat-cepat keluar dari kamar kim bum. Kini hanya tinggal soo jin dan kim bum saja. Soo jin berjalan mendekat ke arah kim bum dan menekan kedua pipi kim bum dengan tangannya.
“Hey….perhatikanlah waktu dan tempat yang tepat dasar bocah bodoh !” ternyata soo jin sedikit marah. “melihat adikku melakukan hal seperti tadi terasa lebih menggelikan dari pada aku menonton film dewasa.”lanjutnya lalu ia pun pergi ke luar menyusul so eun.
Kim bum memasang wajah kesalnya lalu berdecak sebal. Ia pun menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan menghela nafas beratnya.
“Menyebalkan.”

-today love is begin-

Kim bum terbangun dari tidurnya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Merasa tenggorokannya tidak enak, Ia pun bangkit dari tidurnya dan pergi ke dapur untuk mengambil minum. Suasana rumah masih sepi dan gelap karena lampu-lampu belum di nyalakan. Kim bum tiba di dapur dan membuka pintu lemari es. Ia mengambil botol air mineral lalu meneguknya. Sejenak ia diam seraya menyenderkan tubuhnya pada lemari es itu.
Tiba-tiba lampu dapur menyala, kim bum kaget melihat siapa yang datang.
“Eo…kim bummie.” Kaget ibunya yang mendapati kim bum juga ada di dapur.
“Ah…” kim bum menegakkan tubuhnya. Terlihat sang ibu mengurut pundaknya.
“Aaah jinjjaaa, aku menyerah ! Kepalaku benar-benar terasa berat.” Gerutu ibunya.
“Aku butuh air, air….” ujarnya lalu berjalan untuk mengambil gelas yang berada di lemari tempat penyimpanan perabot dapur.
“Ini !” Tiba-tiba kim bum mengasongkan sebotol air mineral kepada sang ibu. Ibunya tampak kaget mendapati kim bum menawarkan air minum padanya. Ia pun menerimanya.
“Gomawo.” Ujar ibunya.
Ibunya kim bum pun lalu duduk di kursi dan meminum air itu.
“Kemarin malam aku minum terlalu banyak.” Ujarnya terlebih pada diri sendiri. Kim bum yang merasa tidak ada keperluan lagi di dapur, memilih untuk pergi dari sana.
“Bummie.” Panggil sang ibu. Kim bum menghentikan langkahnya dan menoleh.
Kini mereka berdua sedang berada di teras belakang rumah, sama-sama berdiri menghadap ke arah pemandangan yang belum terlihat karena masih gelap. Namun hanya segelintir lampu yang menyala yang menghiasi pemandangan itu.
“Ternyata, kim bummie telah mendapatkan kekasih yang sangat baik. Hal yang tak terduga darimu.” Ujar ibunya. Kim bum yang berdiri di sampingnya dengan jarak cukup jauh hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan ibunya.
“Sebenarnya bukan aku yang mendapatkannya, tapi akulah yang sudah tertangkap olehnya.” Balas kim bum.
“Eo jeongmal?” Tanya ibunya. “Woaaa jadi cinta kalian berdua semacam vacum cleaner dan debu, huh? So eunnie adalah vacum cleaner yang telah berhasil mendapatkanmu dengan cara menyedot debunya yaitu kau kekekek, daebaaak !” Ia mencoba untuk mencairkan suasana dan mencoba melirik kim bum. Sementara kim bum sendiri merasa tidak nyaman dengan perumpamaan ibunya yang aneh itu.
“Apanya yang ‘daebak’?” Balas kim bum tanpa menatap sedikit pun kepada ibunya.
Sang ibu menghela nafas. “Yeah, aku hanya bercanda.” Ujarnya. “Perlakukanlah dia dengan baik, oke?” Nasehat ibunya. Kim bum diam seraya merenungi nasehat ibunya itu.
“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan ayahmu?” Tanya ibunya.
“Seperti biasa, dia bekerja tanpa henti.” Jawab kim bum.
“Ahaha aku mengerti, masih pekerja keras ternyata.” Balas ibunya.
Selama beberapa menit terjadi keheningan di antara mereka. Tak terpikirkan lagi apa yang akan ditanyakan oleh ibunya kim bum kepada anaknya itu. Ia merasa tidak nyaman dengan suasana canggung seperti ini. Dalam hati ia ingin sekali mengatakan jika ‘Aku sangat menyayangimu, bolehkah aku memelukmu?’ Namun keinginannya itu ia tepis melihat kondisi dimana mereka berdua sama-sama masih kelihatan canggung satu sama lain.
“Aahhhh……” Dia merentangkan kedua tangannya dan mengangkatnya ke atas. “Setelah minum air putih dan menikmati sejuknya udara sepagi ini membuat kepalaku terasa lebih ringan.” Ujarnya. “Aku masih harus bekerja nanti pagi, jadi aku akan kembali tidur sebentar.” Lanjutnya. Kim bum masih diam.
Ibunya kim bum pun berjalan masuk ke dalam. Namun langkahnya terhenti dan kembali melihat kim bum yang masih diam seraya melihat pemandangan di depan. Ia sedikit menyunggingkan senyumnya meski hanya melihat punggung kim bum saja.
“Terimakasih karena sudah datang, kim bummie.” Ujar ibunya dengan senyum yang tambah lebar. Entah kenapa kim bum merasakan hatinya bergetar.
“Ketika kau sudah kembali ke Seoul, jangan lupa untuk tetap sehat, arasseo? Jangan sampai kau terkena demam. Jagalah kesehatanmu dengan baik, ne?” Nasehat ibunya itu. Getaran di hati kim bum semakin hebat saat sang ibu begitu memperhatikannya.
“Baiklah kalau begitu aku akan kembali tidur.” Ujarnya lalu hendak masuk ke dalam namun langkahnya kembali terhenti saat kim bum buka suara.
“Mulai sekarang…….aku akan mencoba untuk datang kesini lebih sering.” Ujarnya masih membelakangi sang ibu. Ibunya kim bum jelas merasa kaget dengan apa yang kim bum katakan. Ia tak menyangka kim bum akan mengatakan hal ini. Matanya mulai berair dan ia menitikan air matanya karena saking bahagia. Ia sangat senang kim bum akan lebih sering datang ke daegu menemuinya.

-today love is begin-

Tak terasa sudah dua hari so eun dan kim bum berada di Daegu. Kini saatnya mereka pulang kembali ke Seoul karena lusa mereka akan masuk sekolah seperti biasa. Mereka memilih untuk berangkat sore. Soo jin dan ibunya kim bum mengantar so eun dan kim bum sampai stasiun kereta api. Tak menunggu lama, pengumuman keberangkatan ke seoul sudah terdengar.
“Jangan lupa perlakukan so eunnie dengan baik !” ujar ibunya kim bum pada kim bum.
“Kau lebih memperhatikan dia dibanding anakmu sendiri.” Balas kim bum. So eun dan soo jin tersenyum mendengar perkataan kim bum.
“Baiklah, kau juga jangan lupa untuk menjaga kesehatanmu !” ujar ibunya. Kim bum mengangguk dan sedikit menyunggingkan senyumnya.
“So eunnie, kapan-kapan kau harus datang kemari lagi, oke?” pinta soo jin.
“Arasseo eonni.” So eun tersenyum.
“Yasudah cepat kalian segera naik kereta !” suruh ibunya kim bum.
“Kalau begitu aku pamit eommeonim, eonni….” So eun membungkukkan badannya.
“Aku pergi.” Ujar Kim bum. Ibunya dan soo jin mengangguk, lalu kim bum dan so eun pun segera masuk ke dalam kereta.
Sekitar 2 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di stasiun kereta seoul. Kim bum dan so eun berjalan keluar stasiun dan hendak menuju halte bus. So eun tertinggal cukup jauh di belakang kim bum, tampaknya ia lelah dengan perjalanan yang memakan waktu 2 jam itu terlebih semalam ia memang tidak tidur dengan nyenyak. Kim bum berbalik dan manatap so eun.
“Waeyo?” Tanya kim bum yang melihat so eun berjalan lemas dengan wajah di tekuk.
“Aku hanya sedikit lelah.” Jawab so eun. Kim bum pun berjalan mendekati so eun dan meraih tangannya. kim bum menggenggam tangan so eun.
“Kajja !” ujarnya. “Hmm.” Gumam so eun.
“Apakah sebaiknya kita istirahat dulu, hm?” tawar kim bum seraya sedikit menunduk melihat wajah so eun. So eun menggeleng.
“Perjalanan ke halte bus masih cukup jauh, kalau begitu kita naik taksi saja.” Ujar kim bum. So eun hanya mengangguk lemas.
Kim bum dan so eun sudah berada di dalam taksi. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 untuk sampai ke rumahnya so eun. Kim bum melirik so eun yang sedang terkantuk-kantuk.
“Kau mengantuk?” Tanya kim bum.
“hmm…” So eun mengangguk lemas.
“Yasudah, tidur saja.” Ujar kim bum seraya memposisikan kepala so eun untuk menyandar di bahunya. So eun langsung memejamkan matanya.
“Aku akan membangunkanmu jika sudah sampai.” Ujar kim bum. So eun kembali mengangguk pelan dan kim bum mengusap-usap rambut so eun.
Akhirnya, setelah 30 menit berlalu, Kim bum dan so eun pun sudah berada di depan rumahnya so eun. Mereka berdiri saling berhadapan di depan pagar rumahnya so eun.
“Jeongmal gomawo, bum-ah.” Ujar so eun. “hari ini aku sangat merepotkanmu yah?” tanya so eun.
“Benar.” Balas kim bum. So eun mengerucutkan bibirnya.
“Bukankah kau lelah? Cepatlah masuk dan tidur !” suruh kim bum. So eun mengangguk.
“Kalau begitu aku pergi.” Pamit kim bum lalu berjalan meninggalkan so eun yang masih berdiri berniat untuk menyaksikan dirinya hingga tak lagi terlihat dari pandangan so eun. Namun baru juga beberapa meter berjalan, kim bum menghentikan langkahnya dan berbalik kembali menghampiri so eun. So eun memiringkan kepalanya dan menatap kim bum dengan bingung.
“Waeyo? Ada yang tertinggal?” tanya so eun polos. Tanpa berkata apa-apa kim bum memegang kedua pipi so eun lalu mengecup hangat kening so eun. So eun cukup kaget dengan tindakan kim bum yang tak ia sangka.
“Terimakasih.” Ujar kim bum. Terimakasih yang ia ucapkan untuk so eun karena sudah banyak membuat hidupnya berubah. Telah membuat dirinya mengenal rasa kasih sayang dan cinta, juga telah membuat dirinya kembali bertemu dengan sang ibu yang sebenarnya sangat ia rindukan. Hubungan antara dirinya dan sang ibu sudah kembali seperti normal setelah mengunjungi Daegu selama dua hari itu.
“Selamat malam.” Ujar kim bum seraya mengusap kepala so eun lalu ia pun kini benar-benar pergi. So eun menyunggingkan senyumnya menyadari perilaku kim bum yang sudah berubah drastis menjadi hangat itu.

-today love is begin-

Chungju Highschool
Hari pertama semester awal di kelas tiga sudah dimulai. Setelah semua siswa-siswi SMA Chungju mengikuti upacara sambutan semester awal, kini mereka sibuk mencari nama mereka di mading sekolah, termasuk so eun dan nirin.
“Eo….so eun-ah, aku satu kelas denganmu.” Ujar nirin seraya menunjuk nama dirinya dan juga nama so eun.
“Jeongmal? Huwaaaaaa….” So eun berteriak senang.
“Berlebihan sekali.” Tiba-tiba suara seseorang menyahut dari belakang. So eun dan nirin langsung menoleh.
“Kim bum-ssi.” sapa nirin.
“bum-ah, kau ada di kelas mana?” tanya so eun. kim bum menunjuk namanya dan ternyata mereka satu kelas.
“Waaa bagaimana bisa aku tak melihat namamu tadi? Kita satu kelas? OMO perjuanganku tidak sia-sia.” So eun senang sekali.
“Heeehh….aku peringatkan dari sekarang agar kau tetap fokus dengan belajar meskipun satu kelas dengaku. Ara?” Ujar kim bum seraya mengacak rambut so eun. So eun mengangguk mengerti.
“Tak hanya kau, aku, dan kim bum-ssi. Tapi kim woo bin-ssi, dan kedua temanmu yang selalu bersama itu juga satu kelas dengan kita.” Ujar nirin.
“Jeongmal?” tanya so eun. Nirin mengangguk. Tak lama dari itu datanglah woo bin menghampiri mereka.
“Annyeong….” Sapa woo bin canggung. Terlebih kepada kim bum yang juga satu kelas dengannya di kelas tiga ini. Mengingat kejadian beberapa waktu lalu yang terjadi antara dirinya, so eun, dan kim bum membuat woo bin merasa tidak enak.
“Annyeong woo bin-ssi.” sapa so eun. Woo bin tersenyum canggung.
“Oy….kita satu kelas ternyata.” Ujar kim bum.
“ah ya…aku harap aku bisa berteman lebih baik dengan kalian.” Ujar woo bin. Dan untuk pertama kalinya kim bum menyunggingkan senyum ramah pada woo bin, woo bin sendiri cukup kaget dan entah kenapa pipinya bersemu merah.
“So eun…………!!!” teriak bo young seraya berjalan menghampiri so eun bersama hye rim.
“bo young-ah, hye rim-ah…..” panggil so eun.
“Woooaaaa aku hanya bisa bertepuk tangan saja.” Ujar bo young. So eun mengerutkan keningnya tak mengerti.
Secara kebetulan aku dan hye rim bisa kembali satu kelas denganmu, juga dengan kim bum-ssi di kelas unggulan.” Jelas bo young.
“Yeah, kebetulan.” Timpal hye rim.
“Ah…bukankah untuk kelas tiga kali ini tidak ada perbedaan antara kelas unggulan dan kelas regular?” Woo bin menggaruk tengkuknya.
“Eh???” Semua serentak menatap woo bin dengan tidak percaya.
“Yang aku dengar seperti itu, jika memang kelas unggulan, aku tak akan mungkin satu kelas dengan kim bum-ssi hehe.” Woo bin kembali menggaruk tengkuknya.
“Ah jadi begitu.” Timpal nirin.
Setelah perbincangan itu, mereka pun masuk ke dalam kelas untuk membicarakan soal tempat duduk dan kepengurusan kelas.

-today love is begin-

1 tahun kemudian
Semua siswa-siswi SMA Chungju menghadiri pesta kelulusan yang diadakan oleh pihak sekolah di salah satu villa besar di dekat pantai Naksan, acara begitu ramai, apalagi acara puncak yaitu acara hiburan. Karena terlalu ramai dengan suara yang memekakan telinga, akhirnya kim bum pun keluar dan memilih menyendiri menghirup udara segar di bibir pantai. So eun yang baru saja selesai dari toilet bingung karena tak ada kim bum di tempat tadi mereka berkumpul bersama nirin, woo bin, hye rim, bo young, dan teman satu kelasnya yang lain.
“Nirin-ah, dimana kim bum?” tanya so eun.
“Ah…tadi aku melihatnya keluar.” Jawab nirin. So eun mengangguk lalu ia mencari kim bum hingga ia menemukannya di bibir pantai sedang menikmati angin malam.
“Bum-ah.” Panggil so eun. Orang yang dipanggil menoleh.
“Kenapa kau ada disini? Kenapa tidak di dalam bersama dengan yang lain?” Tanya so eun.
“Bukannya kau sudah tahu, aku tidak suka keramaian, terlalu banyak orang dan itu membuat kepalaku pusing.” Balas kim bum.
“Hmm.” So eun angguk-angguk lalu memilih berdiri di samping kim bum. Mereka sama-sama menghadap laut lepas sambil menikmati angin yang menerpa rambut mereka.
“Kau sendiri, kenapa ada diluar, hm?” Tanya kim bum.
“Aku? Tentu saja untuk menemuimu. Kau tidak ada bersama dengan teman-teman dan nirin memberitahuku jika kau pergi ke luar.” Jawab so eun. Kim bum mengangguk. Hening~ selama beberapa menit tak ada lagi obrolan di antara mereka. Hanya desiran ombak dan hembusan angin yang terdengar. Mereka sama-sama sedang menikmati pemandangan itu.
“Huaaaa anginnya terasa dingin sekali.” Ujar so eun seraya mengusap-usap lengannya, kim bum menoleh dan ia segera melepas jasnya dan memasangkannya di tubuh so eun. Belum ada juga obrolan yang dimulai kembali. Mereka sama-sama mengarahkan pandangan mereka ke arah laut lepas.
“Hey…..” tiba-tiba kim bum bersuara. So eun langsung menengadahkan kepalanya menatap kim bum yang masih asik memandang laut.
“Aku tahu kau tidak mungkin kuliah di Universitas yang favorit.” Ujar kim bum. So eun hendak protes tapi kim bum keburu melanjutkan kata-katanya.
“Jadi, selama kita kuliah di tempat yang berbeda. Jangan berani-beraninya kau dekat dengan pria lain !” Perintah kim bum. “Arasseo?” Tanya kim bum. Mendengar apa yang keluar dari mulut kim bum, so eun perlahan menyunggingkan senyumnya.
“Jika aku tahu kau sampai membohongiku, maka aku tidak akan segan-segan untuk melemparmu ke dasar laut !!!” Ujar kim bum lagi. Senyum so eun semakin mengembang. Ia mengerti maksud kim bum, bahwa kim bum tidak mau kehilangan dirinya. So eun sangat mengerti sekali meskipun perkataan kim bum tergolong begitu tidak biasa. So eun lalu menjinjitkan kakinya dan memeluk leher kim bum.
CUP~ So eun menempelkan bibirnya di bibir kim bum. Kim bum sedikit terkejut, tapi kemudian ia memejamkan matanya dan membalas ciuman so eun cukup dalam dengan kedua tangannya yang masih berada di dalam saku celana.
“Aku tidak akan berani mendekati pria lain, karena yang aku cintai hanyalah kim sang bum !” Ujar so eun setelah melepas ciumannya.
“Bukan begitu, hanya saja tidak akan ada pria lain yang meyukai dirimu selain aku.” Balas kim bum. So eun mengerucutkan bibirnya.
“Setelah beberapa waktu lalu sikapmu menjadi hangat, kenapa sekarang perkataanmu jadi seperti ini lagi, tajam.” Gerutu so eun.
“Oh begitukah?” tanya kim bum. So eun mengangguk.
“Kalau begitu kemari !” kim bum menyuruh so eun mendekat.
“eh?” so eun malah terlihat bingung. Kim bum mencondongkan tubuhnya untuk sejajar dengan tinggi so eun lalu mengecup bibir so eun.
“Tidak perlu perkataan yang diumbar-umbar ‘kau menyukaiku atau tidak, kau mencintaiku atau tidak’ untuk menggambarkan seberapa besar kau menyayangiku. Cukup hanya dengan perilaku saja bagaimana kau mengeskpresikannya.” Jelas kim bum. So eun mengedipkan matanya berkali-kali mendengar perkataan kim bum yang tidak biasa itu.
“wooaaaa….kau belajar dari mana untuk mengatakan ini? apakah kau banyak membaca buku tentang cinta?” ejek so eun seraya menahan tawanya.
“Yak….aku sudah susah payah memikirkan kata-kata itu !” kesal kim bum lalu mencubit kedua pipi so eun dengan gemas.
“Waaa mian…mian….jangan cubit pipiku !” Mohon so eun seraya berusaha melepaskan tangan kim bum dari pipinya.
“Heh….” Kim bum melepaskan tangannya dan kini menarik so eun ke dalam pelukannya.
“Aku kedinginan.” Ujar kim bum. Yeah mengingat angin pantai yang cukup kencang dan jas miliknya dipakai oleh so eun membuat kim bum merasa kedinginan juga. Namun dengan memeluk gadis mungil ini membuat tubuhnya sedikit menjadi hangat.

-today love is begin-

2 tahun kemudian
Kim bum baru saja selesai kuliah. Ya, ia kuliah di Korea University mengambil College of Health Science. Modal wajah tampan dan otak yang cerdas membuat ia dikagumi oleh beberapa mahasiswi yang berada satu jurusan dengannya bahkan satu fakultas dengannya. Tak hanya satu fakultas saja, bahkan ada beberapa mahasiswi dari fakultas lain yang juga mengagumi kim bum. Hal itu membuat kim bum sangat risih karena setiap dia selesai pada mata kuliah yang ia pelajari, banyak mahasiswi yang datang padanya dengan dalih bertanya soal tugas, atau bahkan yang lainnya.
Kim bum berjalan keluar kelas dengan tangan yang sibuk mengetik sesuatu pada ponselnya. Lalu ia menempelkan ponselnya di telinga.
“Yeoboseyo, il woo-ya.” Ujarnya di telpon. “Apa so eun sudah selesai dengan kelasnya? ponselnya tidak aktif.”
“Ah….so eun-ssi tadi bilang dia ingin pergi ke universtitasmu.” Jawab il woo.
“Ne?” ulang kim bum.
“sudah sekitar setengah jam yang lalu dia pergi.” Ujar il woo.
“oh baiklah kalau begitu.” Kim bum menutup sambungan telponnya.
Ya benar, il woo dan so eun kuliah di tempat yang sama bahkan berada pada satu jurusan mengambil kelas ekonomi di Chungju National University.
Kim bum pun mencoba menghubungi so eun kembali, namun belum sempat ia menempelkan ponselnya pada telinga, datanglah empat orang mahasiswi menghampiri kim bum.
“annyeong kim bum-ssi.” sapa mereka.
“ah ye.” Balas kim bum.
“besok ada kuis untuk mata kuliah biologi kesehatan kan?” tanya salah satu mahasiswi itu. kim bum mengangguk.
“jika kau tidak keberatan, bisakah kau mengajari kami? Kami berempat sebenarnya kurang faham dengan mata kuliah itu.” pintanya.
Kim bum tampak berfikir. “Ah…bagaimana ya, sekarang aku ada perlu.” Tolak kim bum halus. Ke empat mahasiswi itu tampak kecewa. Pada saat itu juga, kim bum menemukan sosok so eun yang tengah mengedarkan pandangannya kesana kemari seperti orang kebingungan.
“Mungkin lain kali aku bisa membantu kalian. Maaf, aku harus segera pergi.” Kim bum pun pergi meninggalkan mereka, ke empat mahasiswa itu kecewa bercampur kesal karena rencana mereka tidak berhasil.
“apa yang kau lakukan disini? Kenapa datang kemari?” tanya kim bum.
“omo…kau membuatku kaget.” So eun memegangi dadanya menyadari ada kim bum yang sudah berdiri di dekatnya.
“bagaimana jika ada pria disini yang macam-macam?” tanya kim bum.
“aku hanya sedang bosan karena tak ada lagi kegiatan di kampusku, jadinya aku datang kesini. Dan ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Korea University. Woooaa keren !” so eun mengacungkan jempolnya di depan wajah kim bum. Kim bum berdecak lalu mengambil tangan so eun yang di depan wajahnya itu.
“Kajja kita pulang.” Kim bum menarik tangan so eun.
“bukankah kau ingin membeli sesuatu untuk soo jin eonni?” tanya so eun. Kim bum mengangguk.

 

“Wooaaaa….siapa perempuan itu?” tanya salah satu dari empat mahasiswi yang tadi menghampiri kim bum setelah ia melihat kim bum yang berbicara akrab kepada so eun tak jauh dari mereka.
“jadi kim bum-ssi sudah punya kekasih?” ujar yang lainnya kecewa.
“aku kira dia masih sendiri.”
“beruntung sekali yang menjadi kekasihnya itu…….”
“OMO ! Apa yang baru saja dilakukan kim bum-ssi?” Kaget mereka berempat yang tak sengaja melihat kim bum mencium so eun di tempat umum meskipun sedikit sepi.

 

So eun mengerucutkan bibirnya seraya memegangi pipinya yang habis dicium kim bum. “Apa yang kau lakukan akhir-akhir ini berbanding terbalik dengan apa yang kau katakan semasa SMA dulu. Kau bilang kau benci dengan hal-hal mengumbar kemesraan di depan umum, tapi nyatanya sekarang kau sendiri yang suka mengumbar kemesraan.” Ujar so eun.
“Waeyo? Aku berubah kau tidak suka?” balas kim bum.
So eun tersenyum malu. “akhir-akhir ini kau bahkan sering sekali menciumku, membuatku senang saja.” Wajah so eun merona merah.
“Selama kau masih milikku, tidak masalah kan aku melakukan apa yang aku mau terhadapmu?” balas kim bum. “melakukan hal yang sewajarnya.” Lanjut kim bum.
So eun terkekeh.
“Apa yang akan kau beli untuk soo jin eonni?” tanya so eun.
“entahlah, aku masih bingung. Aku belum pernah berpengalaman membeli sesuatu untuk wanita hamil.” Balas kim bum.
“Aku rasa soo jin eonni akan lebih suka jika dibelikan hadiah untuk calon anaknya, baju atau sepatu bayi misalnya?” Pikir so eun.
“Tidak masalah.” Balas kim bum.

-today love is begin-

4 tahun kemudian
So eun tengah memandangi tangan kirinya. Pada jari manisnya sudah tersemat sebuah cincin. So eun tersenyum memandanginya, lalu ia mengambil tangan kiri kim bum. Kim bum yang berbaring di sampingnya ikutan melihat tangan mereka masing-masing. So eun membandingkan tangannya dengan tangan kim bum yang masing-masing sudah tersematkan sebuah cincin.
“Wae? Kau terus saja membanding-bandingkannya.” ujar kim bum. Pasalnya ini bukan yang pertama so eun melakukan hal semacam ini.
“Aku hanya tidak menyangka kita sudah resmi menikah.” Balas so eun.
“Seperti mimpi yah?” tanya kim bum. So eun mengangguk.
Kim bum tersenyum lalu menarik tangan kirinya yang dipegang oleh so eun. Lalu kim bum menopang kepalanya dengan tangan kirinya dan menghadap ke arah so eun.
“Sudah hampir 7 tahun, huh?” Ujar kim bum seraya memperhatikan wajah so eun. Sementara yang diperhatikan tampaknya masih senang melihat cincin pernikahan yang terpasang di jari manisnya.
“Kau yakin tak pernah menyukai wanita lain selain aku selama tujuh tahun ini, bum-ah?” Tanya so eun.
“Jikapun pernah, mana mungkin aku sampai mau menikahimu?” Tanya balik kim bum.
“Hehe benar juga.” So eun tersenyum malu. “Berarti kau sangat mencintaiku yah? Waktu tujuh tahun itu bukanlah waktu yang singkat, banyak masalah yang hilir mudik tapi kau begitu mempertahan aku.” Ujar so eun.
“heeeeh.” Kim bum menghela nafasnya. “Soal aku mencintaimu tak usah lagi dipertanyakan.” Balas kim bum. “Sudah aku bilang beberapa kali sebelumnya kan? Jauh dari sebelum kita menikah, bahwa tidak akan ada laki-laki lain yang menyukaimu selain aku. Jadi bersyukurlah karena aku menginginkanmu.” Balas kim bum.
So eun tersenyum lalu ia menghambur ke atas tubuh kim bum. Pada awalnya kim bum kaget tapi akhirnya ia melingkarkan tangannya di pinggang so eun. So eun memamerkan senyumnya kepada kim bum tapi kim bum hanya menatapnya saja.
SMOOOOCCCHH~~~~ So eun mencium bibir kim bum.
“Aku mencintaimu.” Ujar so eun dengan senyumnya.
“Hehhh.” Senyum di bibir kim bum juga tersungging. Lalu mereka kembali berciuman. Kali ini ciuman yang cukup dalam karena masing-masing dari mereka saling membalas ciumannya, kim bum juga semakin mengeratkan pelukannya.
Ting tong ting tong~
Mendengar suara bel berbunyi, so eun pun melepaskan tautan bibir mereka. Wajah kim bum terlihat kecewa karena bel itu menganggu kemesraan mereka.
“Siapa yang datang malam-malam begini?” Gumam so eun lalu segera bangkit dan turun dari ranjang. “Aku akan melihatnya.” Ujarnya. Sementara itu kim bum hanya bisa mendesah setelah so eun keluar dari kamar.
Sudah 15 menit berlalu tapi so eun tak kunjung juga kembali. “So eun !!!” Teriak kim bum. “Siapa yang datang? Apa sudah selesai? Cepatlah kemari aku sudah ingin tidur !!!” Teriaknya lagi. Tapi tak ada jawaban dari so eun. kim bum pun keluar dari kamarnya. Ia tak melihat so eun sesampainya di ruang tengah, ia juga tak melihatnya di ruang tamu. Kim bum pun bergegas menuju dapur. Disana ia melihat so eun sedang sibuk memasuk-masukkan makanan ke dalam lemari es.
“Memangnya siapa yang datang?” Tanya kim bum. “Ah….” So eun menoleh ke arah kim bum yang berdiri di depan pintu.
“Ada kiriman makanan dari eomma, petugas pengirim makanan yang datang.” Jawab So eun.
“Oh.” Kim bum menganggukkan kepalanya lalu ia berjalan untuk mengambil minum.
“Sudah selesai?” tanya kim bum yang melihat so eun baru saja menutup pintu lemari es.
“Kapan kau akan kembali masuk kerja?” tanya so eun seraya mencuci tangan di wastafel di dekat kim bum sedang berdiri saat ini.
“Lusa.” Jawab kim bum. Melihat so eun yang sudah selesai mencuci tangan, kim bum pun dengan cepat menggendong tubuh so eun.
“Yaaakkk, kau membuatku kaget !” Marah so eun.
“Bukannya kau ingin segera punya anak?” tanya kim bum. “Kita harus berusaha sesering mungkin. Apalagi mengingat lusa aku sudah mulai bekerja dan akan selalu pulang larut malam.” Lanjutnya.
So eun tersenyum malu. “Alasan !” Ujarnya seraya memukul dada kim bum. Kim bum malah tersenyum dan membawa so eun ke dalam kamar.

-today love is begin-

So eun tengah memakan buah mangga sambil menonton acara kesukaannya di ruang tengah. Tiba-tiba bel berbunyi dan so eun segera melihat siapa yang datang lewat intercom. Dan ternyata yang datang adalah ibunya kim bum dan soo jin eonni. So eun pun segera membukakan pintu untuk mereka.
“Wooaaa, kalian tidak memberitahuku jika akan datang.” Ujar so eun.
“Kejutan.” Ujar sang mertua.
“Waaaa, Ji san ternyata sudah besar juga ya?” So eun sedikit menunduk dan mencubit gemas pipi Ji san. Ya, ji san adalah anak pertamanya soo jin dengan suaminya.
“Suamimu tidak ikut datang, eonni?” tanya so eun.
“Ani, dia sedang ada kerja di Busan hari ini, padahal sekarang hari minggu.” Jawabnya.
Mereka pun kini duduk di kursi di ruang tengah.
“Aku akan mengambil minum untuk kalian? Eomma, eonni ingin minum apa?” tanya so eun.
“Ah tidak usah, aku akan mengambilnya sendiri jika ingin.” Jawab soo jin.
“Lagi pula perutmu itu sedang besar so eunnie.” Tambah sang mertua. So eun pun hanya bisa menurut dan ikut duduk bersama mereka. Sementara Ji san sedang memain-mainkan bola yang ia bawa. Yah, ji san baru saja berumur 5 tahun.
“Oh ya dimana kim bummie?” Tanya sang mertua.
“Ah…dia masih tidur.” Jawab so eun.
“Mwo? sudah siang begini dia masih tidur? Suami macam apa dia?” tanya soo jin. So eun hanya terkekeh saja.
“Dia kelelahan karena semalaman tidak tidur.” Ujar so eun. Sang mertua dan soo jin menatap so eun meminta penjelasan.
“Semalaman aku menganggu tidurnya, aku meminta ia membelikan ini dan itu. Tiba-tiba saja aku ingin memakan kue beras yang sangat pedas jam 1 pagi.” Cerita so eun.
“Anak itu menuruti keinginanmu?” tanya soo jin. So eun mengangguk.
“Pada awalnya dia menolak, dia bilang untuk mendapatkan kue beres sepagi itu akan sulit, tapi aku terus merengek dan memaksanya.” Jelas so eun. “tapi pada akhirnya dia menurutinya hehe.”
“Anakku sudah menjadi pria dewasa hihi, sangat menyayangi istrinya kekekekek.” Sang ibu merasa bahagia mengetahui pengakuan dari so eun.
“Bahkan bum-ah sampai berkeliling hampir 2 jam untuk mendapatkan kue beras itu untukku.” Lanjut so eun.
“Woaaah hebat !” Timpal soo jin. “Dia sudah menjadi suami sungguhan haha.” So eun hanya tersenyum malu saja.
“Eomma……ayo main bola, eomma…” Pinta Ji san sambil menarik-narik tangan soo jin.
“Ji san sayang…..eomma sedang mengobrol dengan bibimu, main sendiri saja, ne?” Balas soo jin.
“Tidak asiiiikkk, main sendiri tidak asik eommaaaaa….” Ji san mulai merengek. Soo jin menghela nafasnya.
“Kau ingin bermain bola ji sannie?” tanya so eun lembut. “Kajja, bermain bersama bibi.” So eun menuntun ji san.
“Jangan so eunnie, perutmu sedang besar ! sudah menginjak usia 6 bulan !” cegah sang mertua.
“Aniyo eommonim, aku hanya akan duduk diam dan melemparkan bolanya saja kepada ji san, dan ji san yang menendangnya. Benar kan ji sannie?” ujar so eun.
“Ne….” jawab ji san dengan semangat.

-today love is begin-

Kim bum terbangun dari tidurnya karena suara-suara berisik dari luar kamarnya. Wajahnya terlihat kusut dan rambutnya acak-acakan. Setelah ia tak bisa tidur sehabis mencari kue beras untuk so eun, dan kini ia tertidur sampai siang.
“Kenapa berisik sekali?” Gumamnya lalu bangkit dan keluar dari kamarnya. Ia terlihat masih mengantuk. Di ruang tengah kim bum melihat ada ibunya dan juga soo jin. Ia juga melihat ji san yang sedang bermain dengan so eun.
“Oh, ada kalian disini.” Ujar kim bum dengan suara seraknya. Ia pun menghampiri mereka seraya menggaruk rambutnya yang tak gatal.
“Kau sudah bangun bum-ah?” tanya so eun.
“Hmm…” balas kim bum.
“Kapan kalian kemari?” tanya kim bum pada ibu dan kakaknya itu.
“Baru saja kami tiba.” Jawab sang ibu. Kim bum mengangguk-anggukkan kepalanya lalu ia menguap.
“Kau masih mengantuk?” tanya sang ibu.
“Sedikit.” Jawab kim bum lalu ia menekan-nekan tengkuknya.
“Sebentar lagi akan menjadi calon ayah yah?” goda soo jin seraya tersenyum penuh arti kepada kim bum. kim bum mengangguk. Lalu so eun menghampiri mereka bersama ji san.
“Pamaaaaan….” Teriak ji san yang langsung menghambur ke pelukan kim bum. kim bum langsung memangku ji san.
“Wooaaaa keponakan paman sudah besar ternyata.” Ujar kim bum. So eun duduk di sebelah kim bum.
“Paman…..kapan aku punya teman bermain bola? Aku bosan jika harus bermain sendirian, eomma sangat buruk bermain bola, appa selalu bekerja.” Ujar ji san dengan nada lucunya.
“Sebentar lagi yah, ji san mau menunggunya kan?” tanya kim bum lembut. Ji san mengangguk semangat.
“Nanti ji sannie juga akan segera punya teman bermain.” Ujar so eun seraya mengelus rambut ji san.
“Jinjjayooo?” Tanya ji san senang. So eun mengangguk. Karena merasa sangat senang, ji san pun turun dari pangkuan kim bum dan berlarian mengelilingi meja.
“Yaaa ji san-ah…kau akan jatuh !” ujar soo jin.
“Aku akan punya teman eommaaaaaa…..teman bermain bolaaaaa…” Girang ji san. Semuanya tertawa.
Kim bum tersenyum menatap so eun dan mengelus perutnya.
“Kau tak merasa sakit lagi di perutmu?” Tanya kim bum lembut.
“Untuk sekarang tidak.” Jawab so eun. Kim bum kembali mengelus perut so eun dan kini tangannya merangkul tubuh so eun.
“Aigooo lihatlah, pasangan muda yang akan segera menjadi ayah dan ibu.” Goda soo jin.
“Huaaa eomma sangat tidak sabar untuk segera menimang cucu lagi, cucu dari anak laki-lakiku.” Ujar ibunya kim bum.
“Aku akan menjadi seorang ayah, tanggung jawabku akan bertambah besar.” Ujar kim bum.
“Tentu saja, tanggung jawabmu akan semakin besar, kau yang sudah membuat so eunnie hamil dan so eunni yang akan melahirkan buah cinta kalian.” Ujar soo jin.
“Sejauh ini bum-ah selalu penuh dengan tanggung jawab.” Balas so eun. “Dia juga jadi tambah perhatian, aku sangat senang.”
“Syukurlah kalau begitu, aku senang sekali mendengarnya.” Ujar ibunya kim bum.
“Noona.” Panggil kim bum pada soo jin. “kali ini jangan meremehkanku dan jangan menganggapku sebagai bocah tak berguna lagi.” Ujar kim bum pada soo jin.
“Arasseo….arasseo….” balas soo jin.
“Kau sudah menjadi pria dewasa, aku tahu itu, meskipun di mataku kau tetaplah adik dan bocah menyebalkan.” balas soo jin. Kim bum berdecak, sementara so eun dan ibunya kim bum tersenyum.
“Paman, kalau begitu dimana temanku itu? kapan aku mulai bisa bermain dengan temanku?” tanya ji san polos setelah ia puas bermain.
“Kemarilah !” kim bum menarik halus tangan ji san. “Dia ada disini.” Kim bum mengelus perut so eun.
“Jincha paman?” tanya ji san. Kim bum mengangguk. Ji san ikut memegang perut so eun.
“Di dalam sini benar-benar ada temanku?” tanya ji san polos. Semuanya pun serentak tertawa mendengar pertanyaan lucu dari ji san.
“Karena temanmu ini datangnya masih lama, ji san bermain dengan paman saja, ne?” Ujar kim bum.
“Jinchaaa?” Ji san sangat santusias karena kim bum mau bermain bola dengannya.
“Kajja tendang bolanya !” Suruh kim bum. Kim bum dan ji san pun larut dalam bermain, sementara ke tiga wanta itu-so eun, soo jin, dan ibunya kim bum- sibuk mengobrol soal persiapan persalinan so eun yang tersisa 3 bulan lagi.

 

Sebenarnya, cinta ini tidak akan pernah berakhir. Kenapa? Karena setiap hari cinta selalu dimulai. Kalimat yang ada hanyalah ‘hari ini, cinta dimulai’ ! Begitu seterusnya cinta akan selalu dimulai dengan kasih sayang dan kebahagiaan. Sehingga tidak ada cinta yang berakhir di antara mereka

 

The End

Haduuuuh gak kerasa ff ini udah kelar juga. Terimakasih ya sama readers yang sudah baca dan komentar dari awal sampai akhir ff today love is begin ini. Saya sangat berterima kasih kepada kalian yang mau baca ff ini meskipun ff ini jauh dari kata bagus, ceritanya juga konyol gak jelas haha. Duh aku juga berterimakasih kepada Hata ayuko sensei yang sudah membuat komik yang begitu keren menuru saya sampai saya berani bikin versi ff yang di ambil dari komiknya dia. Sampai jumpa di ff berikutnya ya, itupun kalau ada inspirasi untuk bikin ff lagi

Today, Love Is Begin PART 16

Today, Love is Begin

kbkse110

Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

PART 16

 

Kim bum pulang ke rumah dengan suasana hati yang tidak baik. Ia marah dan kesal. Ia sampai membanting pintu rumahnya cukup keras. Membuat soo jin yang sedang tiduran di sofa seraya menonton televisi sangat kaget.
“Yak…..” kesal soo jin. Tapi kim bum tak menghiraukannya, dan langsung berjalan menuju kamarnya. Soo jin mengerutkan keningnya.
“Hey….soal so eunni….” ujar soo jin tiba-tiba. Kim bum mendadak menghentikan langkahnya dengan tangan yang sudah memegang knop pintu.
“Aku menyukainya, dia gadis yang baik dan penuh semangat.” Ujar soo jin. “Jadi, suatu hari nanti aku ingin mengajaknya ke Daegu !” Lanjutnya.
Kim bum langsung memutar kepalanya untuk melihat soo jin dengan mata yang sudah membulat.

 

-today love is begin-

 

“Oh…..jadi kau…” ujar kim bum.
Soo jin menatap kim bum bingung. “Mwoya?” Tanyanya.
“Tch…..” kim bum berdecak. “Kau memanfaatkan gadis polos itu, huh?” Tanya kim bum.
“Maksudmu, so eunnie?” Tanya soo jin.
“Kau memanfaatkannya selagi dia adalah kekasihku, kan? Memintanya agar dia bisa membujukku untuk pergi ke Daegu. Benar kan?” Nada bicara kim bum meninggi. Soo jin membelalakkan matanya dan ia pun bangkit dari duduknya.
“YAK !!!” Teriak soo jin. Emosinya tersulut juga. Kim bum menatap soo jin dengan tatapan menantang.
“APA MAKSUDMU DENGAN MEMANFAATKAN?! AKU SAMA SEKALI TIDAK MEMANFAATKAN SO EUNNIE !!!” Teriak soo jin.
“KALAU BUKAN KAU, SIAPA LAGI HUH?” Kim bum balas berteriak. “DENGAN TIBA-TIBA DIA MEMINTAKU UNTUK PERGI KE DAEGU, SUDAH JELAS INI ULAHMU !” lanjutnya.
“LALU??? JIKA AKU MEMANG MEMANFAATKANNYA, APA YANG AKAN KAU LAKUKAN KEPADAKU? HEOH???” Soo jin berkacak pinggang, seakan ia menantang sang adik.
“Jangan bawa-bawa dia ke dalam urusan ini !” Nada bicara kim bum akhirnya merendah. “Antara aku, kau, dan wanita tua itu tidak ada hubungannya dengan so eun.” Lanjutnya lalu berbalik hendak masuk ke dalam kamar. Namun tiba-tiba……
PLAK~~~~~
Soo jin menampar kim bum dengan keras. Kim bum langsung memegangi pipinya itu dan menatap soo jin dengan wajah kaget.
“SAMPAI KAPAN?” Tanya soo jin. “SAMPAI KAPAN KAU AKAN TERUS SEPERTI INI KEPADA IBUMU, HUH? KAU MEMANG TIDAK TAHU DENGAN JELAS JIKA DIA BEGITU MERINDUKAN ANAK LAKI-LAKINYA. KAU SELALU MENGHINDAR SETIAP KALI KAU MERASA JIKA KAU JUGA MERINDUKAN EOMMA. JANGAN LAGI BERSIKAP SEAKAN KAU TIDAK PEDULI, PADAHAL NYATANYA KAU JUGA MERINDUKAN EOMMA KAN? SUDAH BERAPA TAHUN? LEBIH DARI 10 TAHUN KAN? KAU BELUM PERNAH BERTEMU LAGI DENGAN EOMMA?!” Mata soo jin sampai memerah menahan tangis. Meskipun dia adalah sosok kakak yang kasar dan tegar dari luar, tapi jika sudah menyangkut soal ibu dan adiknya ini, hatinya mendadak rapuh. Kim bum masih membisu.
“Jika kau terus memendamnya seperti itu, rasa sakit di hatimu akan semakin besar. Jika kau rindu padanya, akui saja kau rindu ! Jika kau memang membencinya, akui saja kau benci. Tapi jangan dengan cara seperti ini ! Aku sudah lelah menyikapi perilaku bocah sepertimu ! Aku tahu kau memang sakit hati dengan kejadian yang lalu, tapi kau tidak pernah tahu jika eomma benar-benar tulus menyayangimu ! Dia begitu menderita saat jauh dari anak laki-lakinya yang masih kecil.” Jelas soo jin. Yeah, air matanya menetes, namun dengan cepat ia menghapusnya.
“Aku harap, kau ingin memikirkannya lebih matang.” Ujar soo jin lalu ia masuk ke dalam kamarnya. Sementara itu, kim bum masih membisu di tempat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, bahkan untuk berfikir saja pun tidak bisa.

 

-today love is begin-

 

So eun terus saja berguling-guling di kasurnya. Meskipun sudah malam, tapi ia masih merasa cemas. Ia cemas denga kim bum. Tadi siang, ia baru saja melakukan kesalahan kepada kim bum. Ia tidak menyangka jika kim bum akan sangat sensitif seperti itu jika menyangkut ibunya. So eun menyesal dan merasa bersalah.
“Eottohkae???” Ujarnya gelisah. Ponsel tak pernah lepas dari tangannya, bimbang antara menghubungi kim bum atau membiarkannya saja.
“Jika menghubunginya pun, dia pasti tidak akan menjawab.” Ujarnya.
“Huaaaa bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan???” So eun mengacak rambutnya.
“Eo……apakah aku menghubungi soo jin eonni saja?” Pikirnya. So eun segera mencari nomor ponsel soo jin di ponselnya. Tapi sesaat sebelum ia menyentuh layar hijau untuk mulai menelpon, tangannya tiba-tiba terhenti.
“Ini sudah malam, jika aku menghubunginya aku akan mengganggu.” Ujarnya. So eun pun membatalkan niatnya.
“Haaaaaah….” Ia menghela nafasnya dan memilih menyimpan ponselnya.
“Mungkin besok akan lebih baik.” Gumamnya.

 

-today love is begin-

 

Soo jin terbangun dari tidurnya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Soo jin memang baru tidur sekitar 3 jam yang lalu setelah sebelumnya ia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Soo jin perlahan mendudukkan dirinya dan mengurut pundaknya. Tidur sesingkat ini cukup membuat kepalanya sedikit pusing. Ia pun tak makan malam dan terus berada di kamar setelah ia menampar sang adik dan mengoceh kepadanya kemarin sore. Soo jin pun keluar dari kamarnya dan pergi menuju dapur. Ia mengambil air mineral dan meminumnya. Perutnya sedikit keroncongan, namun setelah ia melihat isi kulkas, ternyata tidak ada apa-apa disana. Ia juga penasaran apakah kim bum sudah bangun atau belum. Dengan memberanikan diri ia pun berjalan menuju kamar adiknya.
Tok tok tok~~~
Soo jin mengetuk pintu kamar kim bum hingga tiga kali. Namun belum juha ada sautan.
Tok tok~~~
“bummie~~~~~” panggil soo jin. “Kau sudah bangun? Aku akan membeli makanan ke mini market~ kau tunggu aku dan jangan sarapan di luar, ara? Sebagai permintaan maafku aku akan membuatkanmu sarapan.” Ujar soo jin.
Hening…tak ada tanda-tanda yang diberikan kim bum dari dalam kamar.
“Bummie???” Panggil soo jin seraya mengetuk pintu kembali. Soo jin penasaran, ia pun memegang knop pintu kamar kim bum dan memutarnya. Ternyata pintunya tidak di kunci. Dengan perlahan soo jin membukanya, ia menyembulkan kepalanya ke dalam kamar sang adik. Tapi ternyata, tak ada siapa-siapa di dalam.
“Apa dia sudah bangun?” Pikir soo jin. Soo jin pun memutar kepalanya ke arah kamar mandi tapi ternyata tak ada tanda-tanda kim bum baru memakai kamar mandi. Semuanya masih terlihat sama seperti kemarin sore. Soo ji mengerutkan keningnya.

 

-today love is begin-

 

“Hoooaaammm…” Il woo menguap lebar seraya berjalan keluar dari kamarnya. Di sofa di ruang tempat menonton terlihat kim bum tengah tiduran. Il woo membulatkan matanya.
“WAAAAAAAAAAAAAAAAAA” Il woo berteriak kaget. Kim bum yang memang tidak sepenuhnya tidur langsung menutup kedua telinganya.
“B….bum-ah!??? Kenapa kau ada disini?” Kaget il woo seraya perlahan-lahan mendekati kim bum.
Kim bum mendesah lalu mendudukkan dirinya. “Kau tidak ingat?” Tanya kim bum. Il woo tampak kebingungan, ia ikut mendudukan dirinya di samping kim bum.
“Benar-benar idiot !” Ejek kim bum. Il woo menatap kim bum dengan penuh tanda tanya, pasalnya ia sama sekali tidak ingat kenapa kim bum bisa sampai ada di rumahnya. Rumah kecil yang hanya ia tinggali sendiri ini.
“Akh….” Kim bum mengurut pelipisnya. Ia tidak bisa tidur semalaman, hingga pagi ini pun.
“Aku memang belum ingat sepenuhnya kenapa kau bisa ada di rumahku. Tapi, aku akan mengambilkan minum dulu untukmu.” Ujar il woo lalu berjalan menuju dapur.
Kim bum menundukkan kepalanya. Perkataan kakanya terus saja berputar-putar dan tidak mau pergi dari pikirannya. Membuat dirinya pusing.
“Minumlah.” Il woo menyodorkan segelas air putih kepada kim bum. Kim bum menerimanya dan meminumnya sedikit.
“Kau kelihatan banyak pikiran. Apa sesuatu telah terjadi?” Tanya il woo.
“Ani….gwaenchana.” balas kim bum. Il woo menatap kim bum aneh, tapi ia hanya bisa angguk-angguk saja.
“Kalau begitu, sekarang bisa kau ceritakan kenapa kau ada disini?” Tanya il woo. Kim bum menatap il woo tak menyangka. Laki-laki ini tak mengingatnya sama sekali?

 

Flashback
Kim bum sudah berdiri di depan pintu rumah il woo. Ia sudah beberapa kali mengetuk pintu.
“Eo….siapa itu?” Suara il woo terdengar surau di telinga kim bum. Tak lama kemudian pintu pun terbuka.
“Oh….kau kim bum.” Ujar il woo setengah tidur saat ia melihat ternyata yang mengetuk pintu adalah kim bum. Mata il woo pun bahkan hanya terbuka sedikit. Setelah kim bum masuk, il woo kembali berjalan menuju kamarnya dengan langkah lemas dan mata tertutup. Ia meninggalkan kim bum yang masih berdiri di dekat pintu. Bahkan il woo pun lupa menutup kembali pintunya dan membuat kim bum yang menutup pintunya.
“Aku akan menginap malam ini di rumahmu.” Ujar kim bum.
“Hmm…oke oke.” Balas il woo lalu langsung menghilang di balik pintu kamarnya. Kim bum menghela nafasnya lalu menidurkan dirinya di sofa.
End of Flashback

 

“Eo….benarkah?” Tanya il woo. ” Aku benar-benar tidak mengingatnya.” Ujarnya.
“Aku mungkin berjalan dan bicara sambil tidur, aku benar-benar mengantuk kemarin.” Tambahnya.
“Tidak masalah kau ingat atau tidak. Tapi terimakasih sudah mengizinkanku tidur disini.” Balas kim bum.
“Yak…..” Il woo menyenggol lengan il woo. “Kau seperti bukan kepada sahabat saja….tidur semaumu disini pun aku tak apa.” Ujarnya.
Kim bum menyunggingkan senyumnya sedikit. Sangat sedikit.
“Heh…..sekarang ini kau terlihat aneh, sesuatu pasti sedang terjadi kan? Benar? Wajahmu tidak bisa membohongiku !” Il woo menatap menyelidik wajah kim bum. Kim bum diam.
“Ah….apakah dengan so eun-ssi?” Tebak il woo.
“Ani.” Jawab kim bum. Il woo mengerutkan keningnya. “Lalu?” Tanyanya.
“Aku memang sedang banyak pikiran, tapi aku tidak ingin membahasnya.” Balas kim bum.
“Arasseo arasseo……” Il woo mengerti. “Ah ya jam 10 pagi ini aku ada kerja part time, aku mungkin akan pulang sampai malam.” Il woo memberi tahu. Kim bum mengangguk. “Lagipula nanti pun aku akan pergi.” Balas kim bum.
“Yasudah kalau begitu.” Il woo berjalan menuju kamar mandi.

 

-today love is begin-

Ting tong~~~~
So eun sudah berdiri di depan apartemen kim bum. Sebelumnya ia cukup ragu untuk datang kesini. Namun setelah berfikir cukup lama, akhirnya so eun pun memutuskan untuk datang ke apartemen kim bum untuk berbicara kepadanya langsung.
Ting tong~~~~
So eun kembali menekan bel. Tak lama kemudian pintu pun terbuka.
“Oh….so eunnie.” Ternyata soo jin yang membukakan pintu.
“Eonni, selamat siang.” So eun membungkukkan badannya.
“Aku kira siapa yang datang, kajja masuklah.” Soo jin menyuruh so eun masuk. So eun pun masuk ke dalam dengan perasaan gelisah. Apa yang harus ia katakan saat bertemu dengan kim bum sekarang? Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana caranya ia bertatap muka secara langsung dengan kim bum setelah kejadian kemarin? Mungkin kim bum masih kecewa padanya.
So eun duduk di kursi dengan perasaan tegang.
“Aku akan membawa minum dulu.” Ujar soo jin.
“Ah….gwaenchana eonni. Kau tidak perlu repot-repot.” Tolak so eun halus.
“Ehhh…..wae?” Tanya soo jin.
“Ummm….sebenarnya…” So eun meremas tangannya. “Aku kemari ingin bertemu dengan bum-ah. Mungkin dia masih marah padaku, jadi aku ingin bicara dan minta maaf langsung padanya.” jelas so eun. Soo jin mengurungkan niatnya pergi ke dapur dan ikut duduk di samping so eun.
“Anak itu belum juga pulang. Sepertinya kemarin malam di pergi gara-gara aku.” Ujad soo jin. So eun langsung menatap soo jin.
“Haaah….” Soo jin menghela nafasnya. “Kakak macam apa aku ini? Dengan begitu mudah menampar adiknya dengan keras? Sudah tak terhitung berapa kali tangan ini menamparnya.” Soo jin menatap telapak tangannya.
“Eonni….” panggil so eun. “Mian….aku mungkin tidak bisa membujuk kim bum untuk pergi ke daegu menemui ibunya kim bum dan eonni. Aku rasa jika aku melakukannya, aku akan terlihat ikut campur.” Jelas so eun.
Soo jin tersenyum. “Ani….seharusnya aku yang minta maaf. Tidak seharusnya aku melibatkanmu. Memang cukup sulit bagi bummie untuk menerimanya. Membiarkannya untuk berfikir sendiri memang lebih baik. Aku juga tak seharusnya memaksa dia.” Balas soo jin. So eun hanya menatap saja kakak kekasihnya itu.

 

-today love is begin-

So eun sedari tadi terus menghubungi kim bum. Tapi sampai sekarang ponsel kim bum belum juga aktif. So eun benar-benar gelisah. Tiba-tiba ia teringat dengan jung il woo. Ia mencoba menghubunginya tapi ternyata sama saja, sibuk ! Yeah kita tahu kan, il woo sedang kerja paruh waktu jadi mungkin ia sibuk dan tak sempat mengangkat telponnya, atau bahkan ia meletakkan ponselnya dimana saja. So eun menghela nafasnya. Apa lagi yang harus ia lakukan? Bagaimana ia bisa tahu keberadaan kim bum jika ponselnya kim bum saja tidak aktif? Hari sudah mulai gelap. So eun khawatir dengan kondisi kim bum sekarang. Apakah semalam ia menginap di rumah temannya-il woo? Lalu apakah dia makan dengan baik? Yah hal-hal seperti itulah yang berkecamuk di kepala so eun.
“Bagaimana ini???” So eun resah. “Apakah aku harus menunggu beberapa saat lagi lalu kembali mencoba menghubunginya nanti?” Pikirnya. So eun langsung menjatuhkan dirinya ke atas kasur dengan ponsel yang masih ada dalam genggaman tangannya.

 

-today love is begin-

Kim bum berjalan dengan lesu di sekitar jalanan sepi di daerah Seokchon di dekat Taman Danau Seokchon. Ia menghela nafasnya, udara malam ini cukup dingin, angin pun berhembus cukup kencang. Mungkin udara dingin ini dikarenakan faktor dari danau seokchon juga. Sedari siang tadi, kim bum memang tak tentu arah berjalan seperti ini. Ia hanya ingin menyejukkan pikirannya dan juga hatinya. Kim bum pun merogoh ponselnya yang sedari tadi ia matikan. Saat ia mulai meng-aktifkan ponselnya, sudah muncul puluhan notifikasi panggilan tak terjawab dari kim so eun. Beberapa di antaranya juga dari kim soo jin-sang kakak. Kim bum menatap layar ponselnya sebentar, lalu ia berjalan mendekati salah satu kursi yang menghadap danau seokchon. Ia duduk di sana. Melihat danau seokchon yang menenangkan. Angin pun meniupkan helaian rambutnya.
Tiba-tiba layar ponselnya menyala, nada dering terdengar. Ternyata so eun yang menghubunginya. Kim bum menyentuh layarnya itu, mengangkat telpon so eun.
“Kim bum-ah !!!” Terdengar nada cemas di nada so eun bercampur rasa bahagia. Kim bum memilih me-loudspeaker kan suaranya.
“Kim bum-ah……kau dimana sekarang?” Tanya so eun. Kim bum tak menjawabnya. Ia malah hanya mendengarkan saja suara so eun itu.
“Aku sangat khawatir…..sudah beberapa kali aku menghubungimu tapi ponselmu terus saja tidak aktif, apalagi setelah aku tahu dari kakakmu kalau kau tidak kembali ke rumahmu dari kemarin malam. Dimana sekarang?”
Kim bum masih belum menjawab. Ia hanya sedang ingin mendengarkan suara so eun ditemani udara malam yang cukup dingin dengan pemandangan danau Seokchon yang cantik.
“Bum-ah…..” panggil so eun.
“Temani aku !” Akhirnya kim bum membuka suara. “Teruslah bicara. Aku ingin mendengar suaramu lebih lama.” Tambahnya.
“Tapi, dimana kau sekarang?” Tanya so eun.

 

-today love is begin-

So eum cepat-cepat bergegas pergi dari rumahnya. Orangtuanya sempat bingung dengan so eun. Namun mereka tak sempat mencegahnya karena so eun sudah keburu pergi dengan cepat.
Danau Seokchon tidak terlalu jauh dari rumahnya, jadi so eun memilih untuk menaiki bus saja sekitar 15 menit, lalu berjalan kaki ke taman danau Seokchon sekitar 10 menit. Disana so eun sudah bisa melihat punggung kim bum. Kim bum ternyata masih disana melihat danau Seokchon.
So eun berlari. “Bum-ah….” panggilnya. Kim bum menoleh, lalu so eun duduk di samping kim bum.
“Kau datang.” Ujar kim bum.
“Mian…..aku tak bisa datang cepat.” Balas so eun dengan nafas ngos-ngosan. Kim bum terkekeh, so eun melihatnya dengan ekspresi bingung.
“Apa kau tidak marah padaku?” Tanya so eun masih melihat kim bum dari samping. Kim bum belum menjawab.
“Aku takut karena aku terlalu ikut campur tentang masalahmu dengan ibumu, lalu kau marah dan benci kepadaku.” Lanjut so eun.
“Aku memintamu datang kesini, untuk menghiburku kan?” Balas kim bum tak menghiraukan pertanyaan so eun. “Temani aku dan hibur aku disini !” Ujarnya.
“Ta….tapi, tak ada satu lelucon pun yang ada di otakku. Jika aku mengatakan sesuatu yang lucu, tapi kau tidak tertawa, aku akan merasa tidak berguna.” Balas so eun.
Kim bum menghela nafasnya. Lalu ia melirik ke samping, melihat so eun yang sedang menatapnya dengan wajah polos. Kim bum perlahan mengangkat tangan kanannya dan menyentuh pipi so eun. So eun kaget dengan apa yang kim bum lakukan.
“Kau hangat.” Ujar kim bum.
“A……tanganmu dingin sekali !” Pekik so eun. “Sudah berama lama kau berada di luar?” Tanya so eun.
Kim bum perlahan melepaskan tangannya dari pipi so eun dan kembali melihat ke arah danau.
“Hari ini, terlalu banyak yang aku pikirkan.” Ujar kim bum. So eun sudah tahu dengan jelas. Yang kim bum pikirkan pasti soal ibunya. So eun lalu semakin merapat mendekati kim bum. Ia meraih ke dua tangan kim bum. Kim bum cukup kaget.
“Jika kau kedinginan. Aku akan menghangatkanmu.” Ujar so eun seraya meletakkan kedua tangan kim bum di kedua pipinya. Kim bum menatap tepat mata so eun.
“Aku tak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya. Kau terlihat menyedihkan sekali.” Ujar so eun. Kim bum masih diam. “Aku rasa, kau lebih baik bersikap kasar saja daripada menyedihkan sepert ini.” So eun memanyunkan bibirnya. Kim bum menatap so eun semakin dalam.
“Aku…..” ujar kim bum. “Setelah aku memikirkannya, aku akan pergi ke Daegu.” Lanjut kim bum yang membuat so eun benar-benar kaget. So eun tak menyangka kim bum berubah pikiran sangat cepat.
“Jinjjaru?” Tanya so eun, ia tak bisa menyembunyikan lagi rasa senangnya. So eun tersenyum sangat lebar.

 

-today love is begin-

 

“Eonni………….miaaaaaaan aku telaaaaaat !” So eun berlari menghampiri soo jin dan kim bum yang sedang duduk menunggunya di halte bus. Soo jin langsung berdiri.
“Gwaenchana.” Balas soo jin. Nafas so eun masih ngos-ngosan.
“Aku membawa oleh-oleh yang dibuat oleh ibuku.” Ujar so eun.
“Jinjja?” Tanya soo jin. So eun mengangguk.
“Aku tak tahu apa yang disukai oleh ibunya eonni dan bum-ah, jadi aku meminta eomma untuk membuatkan beberapa makanan.” Ujar so eun.
“Huaaaa gomawoyo so eunnie.” Soo jin terlihat senang. Sementara kim bum masih duduk di kursi. Ini adalah kali pertamanya lagi, dia pergi ke Daegu untuk menemui sang ibu setelah beberapa tahun lamanya. Jujur, sebenarnya ia juga tidak tahu kesan apa yang harus ia berikan saat bertemu dengan ibunya nanti. Diam? Menyapa? Atau……
“Busnya sudah tiba.” Ujar soo jin. Soo jin dan so eun segera naik ke dalam bus yang akan membawa mereka ke stasiun kereta api. Kim bum juga perlahan ikut menaiki bus seraya membawa satu koper besar di tangannya.
Tak lama, mereka pun tiba di stasiun. Hanya menunggu beberapa menit disana. Kereta api jurusan Daegu pun sudah menanti dan mereka segera naik. Selama perjalanan pun kim bum hanya diam saja, berbeda dengan so eun dan soo jin yang terus saja mengobrol. Tampaknya so eun begitu antusias akan bertemu dengan ibunya kim bum. Perjalan ke Daegu cukup memakan waktu lama. Soo jin tengah tertidur sementara so eun menikmati pemandangan alam lewat jendela. Ia duduk di samping kim bum. Sementata soo jin di depan mereka. Tiba-tiba so eun menyentuh-nyentuh lengan kim bum dengan telunjuknya.
“Hey….bum-ah.” Panggil so eun. Kim bum menoleh.
“Aku penasaran, seperti apa ibumu itu?” Tanya so eun. Kim bum diam sejenak.
“Dia hanya wanita tua biasa.” Balas kim bum.
“Maksudku…..jika lebih spesifik….orang seperti apa dia? Apakah ramah? Mudah bergaul? Atau…..”
“Sudah bertahun-tahun aku tak bertemu dengannya.” Potong kim bum. “Jadi aku tak terlalu mengingat hal itu.” Lanjutnya.
“A…..mian…..aku hanya penasaran, terlebih……soo jin eonni sudah susah payah untuk mengajakku.” So eun mengerucutkan bibirnya.
“Lebih baik kau tidur saja ! Perjalanan masih jauh.” Suruh kim bum.

 

-today love is begin-

“Eommaaaaaa….” soo jin berteriak sambil masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang ia tinggali bersama ibunya di Daegu.
“Ah….kau sudah pulang soo jinnie.” Ibunya keluar dari dapur. Namun ekspresi wajahnya berubah menjadi kaget saat ia melihat anak laki-lakinya ada disini.
“Ah ya, aku membawa bummie juga kemari.” Ujar soo jin yang menyadari kekagetan ibunya itu. Kim bum juga tampak diam.
“Dan ini so eunnie. Dia pacarnya bummie.” Ujar soo jin enteng. So eun mendadak nervous diperkenalkan oleh soo jin kepada ibunya sang kekasih.
“Perkenalkan, namaku kim so eun. Bagaimana kabar eommonim?” So eun membungkukkan badannya 90 derajat.
“Senang bertemu denganmu so eunnie.” Ibunya kim bum tersenyum. So eun kaget dipanggil akrab oleh ibunya kim bum padahal mereka baru saja bertemu. Ini mengingatkannya pada soo jin.
“Aku ke kamar dulu. So eunnie, aku simpan tasmu dan baju-bajumu di kamarku, ya?” Ujar soo jin lalu masuk ke dalam kamarnya sambil membawa koper miliknya dan tas besar milik so eun.
“Terimakasih karena sudah mau datang kemari, aku sangat senang.” Ujar ibunya kim bum dengan senyum ramahnya. So eun sedikit terkesima dengan senyumnya itu. Senyum yang menyejukkan. Matanya ibu kim bum pun beralih menatap kepada sang anak-kim bum. Terlihat tatapan yang amat rindu dari matanya kepada kim bum.
“Sudah sangat lama, kim bummie.” Ujarnya. Kim bum hanya menatap ibunya saja.
“Bagaimana kabarmu?” Tanya sang ibu.
“Seperti biasa, normal.” Jawab kim bum seraya memalingkan pandangannya.
“Ah….arrasseo…..arrasseo…..normal adalah yang terbaik.” Balas sang ibu. Kim bum diam.
So eun hanya memerhatikan saja percakapan singkat antara anak dan ibu itu yang terasa begitu canggung. Lalu ia teringat dengan oleh-oleh yang ia bawa.
“Ah ya….umm…..aku membawa oleh-oleh untuk eommonim. Meskipun tidak seberapa tapi aku harap kau menyukainya.” So eun menyerahkan sekotak besar berisi makanan buatan ibunya pada ibu kim bum.
“Aigooooo.” Ibu kim bum menerimanya dengan sangat senang. “seharusnya kau tak usah repot-repot, tapi aku dengan senang hati menerimanya.” Ujarnya dengan senyum yang tampak cerah. Tak terlihat sama sekali wanita di depannya ini adalah wanita yang sudah tua.
“Kalian pasti lapar kan? Perjalanan memang cukup jauh.” Ujar ibunya kim bum. “Aku akan menyiapkan dulu makanan, kalian istirahatlah dulu.” Suruhnya, lalu ia pun masuk ke dalam dapur. Tak kama keluarlah soo jin dari kamarnya.
“Dimana eomma?” Tanya soo jin yang hanya melihat kim bum dan so eun di ruang tengah.
“Eommonim ada di dapur, eonni.” Jawab so eun. Soo jin mengangguk lalu masuk ke dalam dapur.
“Bum-ah….” panggil so eun. Kim bum menatapnya. “Ibumu sangat ramah, dia cantik dan mudah bergaul. Aku menyukainya.” Bisik so eun.
“Dia hanya berakting.” Balas kim bum datar.
“Ne???”

 

-today love is begin-

Makanan sudah tersaji di meja di ruang tengah. Mereka berempat duduk berhadapan. So eun duduk di samping kim bum, dan soo jin dengan ibunya.
“Woooah sepertinya lezat sekali.” Ujar soo jin melihat makanan-makanan itu yang melambai-lambai padanya minta dimakan.
“Kebetulan tadi eomma baru selesai memasak, ditambah ada oleh-oleh juga dari so eunnie.” Ujar ibunya kim bum. Soo jin mengangguk faham.
“Kajja….makanlah !” Suruh ibunya kim bum seraya mengambil mangkuk nasi milik so eun dan mengisinya, lalu ia menyodorkan semangkuk nasi itu kepada so eun.
“Ah…..gomawo…” so eun menerima semangkuk nasi itu.
“Bummie, kau juga.” Ibunya hendak mengambil mangkuk nasi milik kim bum. Tapi kim bum menolak.
“Aku bisa sendiri.” Ujarnya, lalu menyangkul nasi itu oleh dirinya. Muncul sedikit suasana tidak nyaman disana.
So eun dan soo jin makan cukup lahap, sementara kim bum dan ibunya terlihat tak berselera. Terasa canggung memang, seorang anak dan ibu yang sudah lama tidak bertemu dipertemukan kembali dalam situasi seperti ini, situasi dimana kim bum tak menyukai ibunya sendiri dan ibunya yang memiliki rasa rindu sangat menggebu pada anak yang seperti tak menyukainya itu. Ibu kim bum menyudahi makannya, dan memilih untuk minum soju yang tersedia di meja.
“Eomma, kau akan minum?” Tanya soo jin.
“Hanya sedikit.” Ujar ibunya.
“Jangan terlalu banyak, kau akan memalukan jika sudah mabuk.” Ujar soo jin.
“Tenang saja.” Balas ibunya itu enteng.
Hampir setengah botol soju yang dihabiskan ibunya kim bum. Tingkahnya jadi aneh dan memalukan. Ia mengambil dua lembar rumput laut kering dan menempelkannya di kedua alisnya.
“Lihat ! Lihatlah kemari !” Perintah ibunya kim bum. “Aku punya alis tebal seperti rumput laut ini kekekek.” Ujarnya. So eun hanya nyengir saja.
“Eomma, kau sudah minum terlalu banyak.” Ujar soo jin.
“So eunnie lihatlah !” Ibunya kim bum mendekatkan wajahnya pada so eun. Ia menunjuk alisnya. “Alisku sangat tebal, iya kan?” Tanyanya. So eun melihat alis ibunya kim bum itu.
“Ah ne.” Jawab so eun.
“Kau ingin menyentuhnya? Ayo sentuhlah !” Tawarnya. “Umm….” so eun berfikir sejenak lalu melirik ke arah kim bum yang sudah kelihatan sangat tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
“Eomma, jangan menyuruh so eunnie melakukan hal yang aneh.” Ujar soo jin.
“Waeyo? Ini tidak aneh. Dia adalah kekasihnya anakku, aku hanya ingin dia juga menyukaiku.” Balasnya.
“Hehehe.” So eun hanya nyengir.
“So eunnie, ngomong-ngomong apa yang kau sukai dari anakku, huh?” Tanya ibunnya kim bum.
“Ehhh?” So eun mendadak gerogi. Soo jin tersenyum penuh arti mendengar pertanyaan ibunya itu.
“Meskipun aku sudah tahu alasannya so eunnie menyukai bocah tak tahu diri seperti dia. Tapi tidak ada salahnya so eunnie menceritakannya kembali.” Ujar soo jin memancing kim bum. Kim bum sudah menatap soo jin dengan tatapan ‘mati kau’ nya.
“Ayo ceritakan so eunni, aku ingin mendengarnya !” Suruh ibunya kim bum.
“Umm…..” so eun tampak malu dan bingung memulainya dari mana.
“Yak so eun, kau jangan……”
Soo jin langsung membekap mulut kim bum dengan kuat. “Kau diamlah !” Suruh soo jin pada kim bum, lalu ia juga menahan leher dan kepala kim bum dengan lengannya. Kim bum benar-benar kesal dengan tingkah kakaknya.
“Ayo so eunnie kau bisa memulai ceritanya ! Jangan hiraukan anak ini !” Perintah soo jin. So eun tampak ragu, apalagi setelah ia melihat ekspresi kim bum.
“Yak lepaskan !” Akhirnya kim bum bisa melepaskan diri dari kakanya. Kim bum langsung berdiri.
“Yak….kau mau kemana?” Tanya soo jin.
“Ke ruangan sebelah.” Balas kim bum masih dengan nada kesalnya.
“Duduklah disini ! Sudah lama kita tak berkumpul seperti ini.” Pinta ibunya.
“Aku merasa sangat tidak nyaman. Jadi aku lebih baik pindah tempat saja. Kalian bisa bercerita apa yang kalian inginkan tanpa aku.” Ujar kim bum lalu meinggalkan mereka.
“Aiyuuuh anak itu !!!” Geram soo jin.
“Gwaenchana soo jinnie.” Ujar ibunya. “Mungkin dia malu saat topik pembicaraan kita mengarah pada kisah cintanya kekekekek.” Lanjutnya.
“Yeah, kau benar juga eomma.” Balas soo jin.
Sesuai apa yang diminta oleh ibunya kim bum, so eun pun menceritakan kisah cintanya dengan kim bum. Dimulai saat berpura-pura pacaran untuk menyombongkan diri kepada teman-temannya, sampai pacaran sungguhan seperti ini. Ibunya kim bum pun sudah lelah sepertinya, ia sampai ketiduran di ruang tengah dengan kepala yang ia letakkan di meja.
“Eomma…” panggil soo jin.
“Huh?” Ibunya itu membuka matanya sedikit.
“Jika kau ingin tidur, lebih baik kau tidur di kamarmu !” Suruh soo jin.
“Ani…..aku ingin mengobrol dengan so eunnie lebih lama.” Tolaknya.
“So eunnie ceritakan lebih banyak lagi !!! Malam ini mari habiskan waktu untuk mendengarkan kisah cintanya so eunnie !” Ujar ibunya kim bum dengan semangat dan masih setengah mabuk.
“Tsk….” soo jin berdecak lalu membantu ibunya berdiri.
“Kajja ! Aku akan membantumu tidur di dalam kamar !” Soo jin membopong tubuh ibunya. So eun hendak membantu tapi soo jin menolaknya.
“Arrasseo….arrasseo….aku akan tidur !” Ujar ibunya. “Selamat malam so eunnie. Kita mengobrol lagi besok, oke?” Pintanya setengah mengantuk.
“Ah ne.” So eun mengangguk. “Selamat malam.” Ujarnya.

 

-today love is begin-

 

“Aku minta maaf karena sifat ibuku, dia memang kekanak-kanakkan saat dia sudah mabuk.” Ujar soo jin. Saat ini ia sedang mencuci piring di dapur dan so eun membantunya.
“Gwaenchanayo, aku menikmatinya. Eommonim adalah orang yang keren, dia ramah dan mudah bergaul.” Balas so eun.
“Dia memang seperti itu.” Ujar soo jin sambil menyunggingkan sedikit senyumnya. “Aku rasa dia sangat senang bertemu dengan so eunnie.” So eun menatap soo jin.
“Meskipun dia selalu dalam semangat yang tinggi. Tapi jika bertemu dengan anaknya sendiri setelah beberapa tahun lamanya, aku rasa dia akan sangat canggung dan tak tahu apa yang harus dia lakukan. Tapi, karena kehadiran so eunnie disini. Itulah yang membuatnya merasa senang dan bisa menyembunyikan rasa canggungnya.” Cerita soo jin. So eun masih menatap kakak sang kekasih itu.
“Jadi….itulah mengapa eonni mengajakku ke Daegu, untuk membuat eommonim senang?” Tanya so eun.
Soo jin menatap so eun, lalu tersenyum.
“Meskipun dari luar dia terlihat selalu bersemangat dan menyenangkan, tapi dari dalam dia sangat kesepian.” Ujar soo jin. So eun terdiam.
‘Mungkinkah itu yang dimaksud kim bum? Dia hanya berakting?’ Batin so eun.

 

-today love is begin-

So eun baru selesai mandi dan ia sudah berpakaian baju tidur. So eun berniat menemui kim bum, jadi sekeluarnya dari kamar mandi ia langsung menuju kamarnya kim bum.
Tok tok tok~ so eun mengetuk pintu.
“Bum-ah, apa kau sedang tidak sibuk? Ini aku.” Ujar so eun dari balik pintu. Kim bum yang sedang duduk di lantai kamarnya sembari menonton televisi pun menoleh ke arah pintu.
“Ah….masuklah !” Balas kim bum. Perlahan so eun pun membuka pintunya dan masuk ke dalam. Ia melihat kim bum tengah fokus pada televisi, lalu ia pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
“Apa yang sedang kau tonton?” Tanya so eun.
“Hanya acara yang membosankan.” Balas kim bum. “Ngomong-ngomong, apa kau baru saja selesai mandi?” Tanya kim bum seraya memperhatikan rambut so eun yang basah.
“Ah iya. Kau juga harus segera mandi !” Balas so eun.
“Bagaimana acara mengobrolmu? Apa kau merasa senang sekarang, huh?” Tanya kim bum.
“Aku sangat senang.” Jawab so eun dengan bersemangat. “Ibumu sangat menyenangkan dan seperti teman. Tapi dia terlalu banyak minum dan akhirnya tertidur.” Lanjut so eun.
Kim bum menyunggingkan senyumnya sedikit. Hanya sedikit. “Aku mengerti.” Balasnya. “Itulah keadaan keluargaku yang tak ada harapan.” Lanjutnya. So eun cukup terkesiap mendengarnya. Melihat kim bum yang tadi baru saja tersenyum meskipun sangat sedikit, itu membuktikan bahwa dia tak sepenuhnya membenci ibunya. Sebenarnya, dia juga ingin memiliki hubungan baik dengan ibunya. Itulah mengapa dia pada akhirnya mengambil keputusan untuk pergi ke Daegu bersama soo jin dan juga so eun. So eun tersenyum melihat kim bum yang kini sedikit menundukkan kepalanya.
“Bum-ah….” panggil so eun. Kim bum kembali menoleh. “Aku….aku saaaaangaaaaaat menyukai ibumu. Saaaaangaaaaat !” Ujar so eun.
“Huh?” Tanya kim bum.
“Hari ini aku sangat senang bisa bicara banyak dengan ibumu. Sungguh !” Ujarnya dengan mata yang berbinar-binar. “Meskipun hanya hal kecil, tapi dia dengan senang hati mendengarkanku. Dia menyenangkan dan juga benar-benar ramah.” Jelasnya. “Oleh karena itu, mari pergi bersama lagi ke Daegu lain kali !” Ajak so eun. “Ne?” Tanyanya. Bukannya menjawab, kim bum malah menatap so eun dengan aneh.
“Apa yang baru saja terjadi padamu?” Tanya kim bum. Lalu kim bum menopang dagunya dengan tangannya. Melihat reaksi kim bum yang seperti itu membuat so eun ciut. Ia sudah menggebu-gebu dan bersemangat menceritakannya kepada kim bum, tapi kim bum malah bertanya apa yang telah terjadi padanya. So eun pun hanya bisa diam saja. Terjadi keheningan beberapa menit di antara mereka. Menyadari so eun tak bicara lagi, kim bum pun memutar bola matanya dan melirik so eun. Ia melihat so eun tengah menunduk seraya memain-mainkan jari tangannya. Tiba-tiba kim bum mengangkat tangannya secara perlahan dan memegang rambut so eun. So eun menoleh.
“Seharusnya kau pergi untuk mengeringkan rambutmu !” Ujar kim bum.
“A..ah….ne….tadi aku berniat mengeringkan rambutku nanti setelah aku menemuimu.” Balas so eun. Entah kenapa jantungnya berdegup sangat cepat saat kim bum memegang beberapa helaian rambutnya itu.
“Heh…..” kim bum menyunggingkan senyumnya lalu menatap tepat ke mata so eun. Perlahan ia juga melepaskan tangannya yang memegang rambut so eun. Perasaan so eun semakin tak karuan saja di saat kim bum secara perlahan mendekatkan wajahnya pada wajahnya yang sudah benar-benar memerah. So eun langsung saja menutup matanya.

 

To Be Continued

FF ini akan berakhir di part 17. Seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya, kemungkinan Part 17 akan di protect, atau bahkan kemungkinan juga tidak. Jika misalnya part 17 nanti di protect, kalian bisa minta Pasword lewat twitter, fb, atau bbm. Kalian bisa lihat di About author soal fb dan twitter. Yang mau minta pw lewat email pun bisa. Cukup kirim ke alamat email cie.resi96@gmail.com. Jangan lupa juga ya sertakan Uname kalian saat minta pw ke saya sesuai Uname yang kalian pakai saat berkomentar di woprdpress saya. PIN : 75ADDEB8

Today, Love Is Begin PART 15

Today, Love Is Begin

kbkse110
Main cast : Kim So Eun& Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkinakanada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuktokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

PART 15
“Kalau begitu, kim bum-ssi…..kau pasti punya banyak waktu di hari libur nanti kan?” Tanya so eun.
“Hmmm.” Kim bum mengangguk. So eun tersenyum.
“Ah ya….ngomong-ngomong……kau pernah bilang kau sudah lama tak bertemu dengan ibumu, kan?” Tanya so eun, mengingatkan pada ibunya.
“Siapa yang bilang seperti itu?” Raut wajah kim bum berubah menjadi kesal.
“Tentu saja kau ! Waktu itu kau bilang ibumu tinggal jauh darimu.” Balas so eun. Kim bum diam.
“Apakah kau akan pergi menemui ibumu liburan nanti?” Tanya so eun.
“Tidak !” Jawab kim bum cepat. “Aku tidak ingin menjadi dekat dengannya !” Tambah kim bum dengan ekspresi wajah yang berubah tidak bersahabat. So eun menatap kaget kim bum.
“Ah….a….arasseo….” balas so eun. Ia tahu kim bum memang sudah lama tidak bertemu dengan ibunya. Tapi alasan kenapa ibunya tinggal jauh dengannya, belum so eun ketahui.
“Kim bum-ssi, memangnya dimana ibumu tinggal?” tanya nirin.
“Daegu.” Jawab kim bum singkat.
“Bukankah akan lebih baik jika pergi kesana untuk menemuinya meskipun hanya sebentar? Kenapa kau tidak mau pergi?” Nirin rupanya tak bisa membaca ekspresi wajah kesal kim bum. Ia malah bertanya hal yang mungkin tidak ingin kim bum jawab.
“Ah nirin-ah, kim bum-ssi pasti punya alasan sendiri kenapa ia tidak mau pergi hehe.” Malah so eun yang menjawab, ini ia lakukan agar kim bum tak berujung marah.
“Aku sedang tidak ingin membicarakannya.” Ujar kim bum. Nirin mengangguk mengerti.
Tapi tiba-tiba kim bum menghentikan langkahnya saat ia menangkap seseorang yang tidak asing di matanya sedang berdiri beberapa meter di depannya.
“Waeyo kim bum-ssi?” Tanya so eun heran. Ia melihat ekspresi kaget di wajah kim bum. Kim bum tidak menjawab, lalu so eun pun memilih mengikuti arah pandangan kim bum. So eun melihat ada seorang perempuan dengan perawakan tinggi sekitar 168 cm berjalan menghampiri mereka. Perempuan itu memakai kacamata dan terlihat begitu fashionable dengan baju-baju dan aksesoris yang ia kenakan. Perempuan itu juga terliat cantik dan mempesona.
Perlahan, wanita itu membuka kacamatanya, dan matanya menunjukkan kekagetan saat melihat kim bum.
“Bum-ah? Kim bum-ah???” Panggilnya dengan wajah kaget. Kim bum juga masih menunjukkan wajah kagetnya. Sekarang so eun juga ikutan kaget. Sementara nirin tidak mengerti dengan situasi seperti ini.

 

Apa yang akan terjadi lagi dengan kisahku dengan kim bum-ssi…..setelah semua masalah terselesaikan satu persatu, apakah masalah baru akan muncul lagi???? Perempuan itu? Siapa perempuan itu? Apakah perempuan itu perempuan di masa lalunya kim bum-ssi? Aku tidak pernah melihat kim bum-ssi sekaget ini. OH MY GOD !!!! Jika itu benar, apa yang akan terjadi denganku?

-today love is begin-

 

“Bum-ah, benarkah ini kau???” Tanya wanita itu yang kini memperhatikan kim bum dari atas sampai bawah.
“Aigoooooo, kebetulan sekali kita bertemu disini. Barusaja aku akan menghubungimu.” Ujar wanita itu.
Mendengar wanita itu berbicara nonformal bahkan memanggil kim bum dengan akrab, membuat so eun menarik kesimpukan bahwa hubungan antara wanita ini dengan kim bum sangat dekat. Tapi so eun masih was-was, takut jika wanita cantik yang berdiri di hadapan mereka punya hubungan khusus dengan kim bum di masa lalu.
“Kau….” barulah kim bum bersuara. “Kenapa kau berkeliaran di Seoul? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya kim bum enteng. Ia tak suka dan tak nyaman dengan kehadiran wanita ini.
“MWO? Berkeliaran katamu !??” Pekik wanita itu. “KAUUU !” Wanita itu terlihat geram.
Plaaak~~~~ wanita itu menampar pipi kim bum cukup keras. So eun dan nirin shock berat dengan apa yang mereka lihat.
Kim bum memegangi pipinya dan menatap tak suka wanita itu.
“Sekali lagi kau berani berkata tidak sopan padaku, aku tak segan untuk menamparmu tiga kali lebih keras !!!” Ancam wanita itu. Wajah wanita itu pun terlihat mengerikan kini, image seorang wanita feminim yang ada dipikiran so eun menghilang setelah melihat kelakuan wanita ini.
“K…kim bum-ssi, gwaenchana?” Bisik so eun. Kim bum hanya diam. kini bagaikan ada kilatan petir dari mata kim bum dan wanita itu saat bertatapan satu sama lain.
“Kim bum-ssi, siapa dia?” Tanya nirin. Kim bum berdecak sebal.
“Dia?” Kim bum menunjuk wanita itu. “Hehhh….” lalu ia memalingkan wajahnya dari wanita itu. So eun penasaran siapa sebenarnya wanita ini. Setelah melihat apa yang terjadi barusan, so eun berfikir mana mungkin jika wanita ini adalah wanita dimasa lalunya kim bum setelah mereka yang saling benci seperti ini.
“Dia……dia kakakku.” Jawab kim bum dengan nada tidak ikhlas. Wanita itu baru menyadari keberadaan dua orang perempuan di dekatnya- so eun dan nirin. So eun benar-benar kaget dan tidak menyangka bahwa wanita ini adalah kakaknya kim bum.
‘O…omo….jadi kim bum-ssi punya kakak perempuan?’ Batin so eun.
“Ah….apakah mereka temanmu?” Tanya wanita itu pada kim bum.
“Kenalkan mereka padaku !” Pintanya. Kim bum berdecak sebal.
“Annyeooooonnngggg………” kakak kim bum itu merubah ekspresinya yang tadi kelihatan menakutkan menjadi seramah mungkin saat menyapa so eun dan nirin. Ia tersenyum lebar kepada mereka.
“Senang bertemu dengan kalian, aku Kim Soo Jin. Terimakasih sudah mau berteman dengan adikku Bummie.” Kakak kim bum yang ternyata bernama kim soo jin ini memamerkan senyum terbaiknya. Kim bum malah merasa terganggu dengan sikap kakaknya yang dibuat seimut itu.
‘Bummie?’ Batin so eun. So eun menahan senyumnya, ternyata lelaki dingin dan kasar seperti kim bum dipanggil dengan nama seimut itu oleh kakaknya. So eun tidak menduga.
“Aku Shin ni rin.” Balas nirin seraya membungkukkan tubuhnya. Melihat nirin, so eun pun cepat-cepat ikut membungkuk.
“Aku Kim so eun, senang bisa bertemu dengan kakaknya kim bum-ssi.” Ujar so eun. Kim soo jin tersenyum.

 

-today love is begin-

 

“Aku tidak menduga ternyata kim bum-ssi punya kakak perempuan !” Ujar nirin kalem. Saat ini mereka berempat-kim bum, so eun, nirin, dan soo jin- sedang berada di cafe di dekat tempat tadi mereka bertemu.
“Oh jinjja? Apakah anak ini tidak pernah mengatakan sesuatu tentangku?” Tanya soo jin. Kim bum hanya menopang dagunya dan ekspresi wajahnya terlihat kesal. So eun hanya nyengir saja.
“Yeah….mungkin karena aku hanya datang ke Seoul setiap tiga tahun sekali. Aku tinggal dengan ibuku di Daegu.” Lanjut soo jin, lalu ia meminum jus alpukat pesanannya.
“So eun-ah, kau juga tidak tahu soal ini?” Bisik nirin. So eun menggeleng. Nirin mengangguk mengerti.
“Ah….apakah diantara kalian berdua ini semuanya temannya bummie?” Tanya soo jin.
“Ah iya, aku teman satu kelasnya.” Balas nirin. So eun mendadak kikuk dan gerogi. Untuk mengatakan ia adalah kekasihnya kim bum kepada kakaknya kim bum terasa sangat mendebarkan untuknya. Sejenak so eun menatap kim bum, tapi kim bum sedang melihat ke arah lain masih dengan menopang dagunya. So eun tahu pasti kim bum kesal karena kehadiran kakaknya.
“Aku…..aku kekasihnya.” Ujar so eun akhirnya. Kim bum langsung mengalihkan pandangannya pada so eun. Begitu pula soo jin yang terlihat agak kaget, pasalnya ternyata kim bum bisa juga punya kekasih.
“Heehhh….kekasih ya?” Gumam soo jin. “Kalau begitu, terimakasih karena sudah mau menjadi pasangannya bummie.” Soo jin tersenyum pada so eun, sementara kim bum berdecak sebal dengan kata-kata sok bijak yang keluar dari mulut kakaknya.
“Jika dia kurang ajar, beri saja dia pelajaran !” Lanjut soo jin.
“Eehh?” So eun tidak menyangka dengan respon positif dari kakaknya kim bum.
“Ah ya….baiklah…!!!” Jawab so eun semangat.
“Haaah….” soo jin menghela nafasnya.
“Sebenarnya aku masih ingin mengobrol bersama kalian disini. Tapi aku harus istirahat dan segera pulang.” Ujar soo jin, lalu ia bangkit dari duduknya.
“Memangnya kemana kau akan pulang?” Tanya kim bum.
“Tentu saja apartemenmu !” Jawab soo jin. Kim bum menghela nafasnya.
“Kau…..cepat kau bawakan koperku !” Perintah soo jin pada kim bum.
“Mwo? Kenapa kau tidak memanggil taksi saja? Merepotkan !!!” Kesal kim bum.
Pletaaaakkk~~~~ soo jin menjitak kepala kim bum dengan keras. Kim bum geram, soo jin berdiri menghadap kim bum dengan tatapan membunuhnya. So eun dan nirin mendadak takut.
“Baiklah jika kau tidak mau. Aku akan pergi ke apartemenmu lebih cepat darimu dan aku akan mengacak-acak semua bajumu lalu aku akan merobeknya seperti kertas !!! Seperti waktu itu.” Ancam soo jin dengan muka antagonis yang tergambar dari wajahnya. Kim bum akhirnya memilih pasrah dan membawa koper milik kakaknya itu.
So eun dan nirin menatap soo jin dengan takut. Ia tak menyangka jika wanita secantik dia begitu kejam terhadap sang adik.
‘Mereka ternyata begitu mirip’ batin so eun. ‘Cara mereka berbicara dan kata-kata kasar yang mereka ucapkan….wajah mereka yang berubah drastis menjadi menyeramkan….mereka ternyata memang mirip. Mungkin itulah alasan kenapa kim bum-ssi tidak pernah mau menceritakan keluarganya.’
“Baiklah kalau begitu kami pergi dulu, ne? Semoga kita bisa bertemu dan mengobrol lagi….sampai jumpa….” soo jin melambaikan tangannya pada so eun dan nirin sebentar lalu berjalan lebih dulu meninggalkan kim bum.
“Aku pergi.” Pamit kim bum pada so eun dan nirin. Lalu ia pun mulai menarik kopernya dan mengikuti soo jin. Kim bum sendiri tampak ogah-ogahan menarik koper itu.
“YAK….percepat jalanmu !!!” Suruh soo jin.
“Diam !” Kesal kim bum. Bagaimana bisa ia jalan dengan cepat disaat ia membawa koper yang seberat ini?
So eun dan nirin yang masih berada di dalam cafe hanya terbengong saja melihat tingkah mereka yang tidak akur.

 

-today love is begin-

 

“Dimana appa?” Tanya soo jin setelah mereka sampai di apartemen yang ditinggali kim bum bersama ayahnya.
“Dia masih bekerja, dia sedang berada di ilsan.” Balas kim bum. Soo jin langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa dan mengeluarkan ponselnya, kim bum menatapnya kesal.
“Hmmph…..dia masih gila kerja, huh?” Ujar soo jin. “Bukankah sia-sia saja dia bekerja keras untuk menghidupi keluarga tapi dia pun tak pernah menemui keluarganya?” Lanjut soo jin enteng.
“Itulah dia, kan?” Balas kim bum seraya meletakkan koper milik soo jin itu di dekat meja.
“Yeah baiklah….tapi aku juga sedikit merasa lega, aku akan tidur di kamarnya.” Ujar soo jin.
“Lebih baik daripada kau tidur di kamarku.” Balas kim bum lalu hendak berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.
“Selama libur dari kuliah, aku akan tinggal disini. Yeah mungkin sekitar 5 hari atau mungkin lebih.” Soo jin memberi tahu.
“HAH???” Kim bum mengurungkan niatnya menuju dapur. “Tidakkah itu terlalu lama? Bagiku hanya dua hari pun kau sudah cukup tinggal disini !!” Balas kim bum.
“KAUUU !!!!” Soo jin melayangkan bantal sofa yang ada di dekatnya kepada kim bum. Tapi dengan cepat kim bum menangkapnya dan menatap geram kakaknya itu.
“Kenapa kau benci sekali aku disini, huh? Aku hanya ingin berlibur di Seoul dan menghilangkan rasa penatku saat di Daegu….di Daegu tidak semaju di Seoul, kau tahu !? Aku akan menghabiskan waktuku di Seoul jika bisa sampai aku pingsan !” Jelas soo jin.
“Tsk…..” kim bum berdecak. “Terserah kau saja !” Balas kim bum akhirnya, lalu ia pun berjalan ke arah dapur.
“Ah ya…..ngomong-ngomong kekasihmu itu, Kim so eun-ssi kan?” Kim bum menolehkan wajahnya untuk melihat sang kakak. Tapi kemudian ia tak peduli dan masuk ke dapur untuk mengambil minum.
“Hmmmpph….ternyata masih ada perempuan yang tertarik dan tertipu dengan penampilanmu, huh?” Ejek soo jin. “Jatuh cinta kepada ‘bocah’ menjengkelkan sepertimu !!!” Lanjutnya.
Kim bum hanya menghela nafasnya. Ia sedang tidak ingin berdebat karena ia sedang lelah. Ia pun membuka pintu lemari es dan mengambil botol air mineral dari sana.
“Bahkan jika kau bukanlah adikku, aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu !” Ejeknya lagi.
Kim bum kembali menghela nafasnya. “Itu bukan urusanmu.” Ujarnya pelan.
“Heeeh….apa yang kau katakan!!??” Tanya soo jin curiga.
“Ani.” Jawabnya. Lalu kim bum meneguk air mineral itu dan menyenderkan punggungnya pada lemari es.
“Lagipula, kau pasti hanya bermain-main saja kan? Kau berpura-pura menyukainya dan bersikap ramah padanya, lalu tak lama kemudian kau akan menyakitinya, setelah itu kau akan memutuskannya. Haaah aku merasa kasihan kepada gadis itu.” Ujar soo jin enteng.
“Jika itu yang kau pikirkan, maka lebih baik kau tidak usah ikut campur !” Balas kim bum. Kim bum kembali meneguk air mineralnya.
“Yak ! Tentu saja aku harus ikut campur ! Aku tidak bisa membiarkan adikku yang kurang ajar ini bersikap seperti itu kepada perempuan !” Soo jin marah-marah. Kim bum menghela nafasnya lalu berjalan keluar dari dapur.
“Itulah kenapa, semuanya akan baik-baik saja selama aku tidak bermain-main kan?” Balas kim bum dengan kalemnya.
Mendengar jawaban yang keluar dari mulut adiknya itu soo jin merasa kaget. Ia tak pernah menyangka adiknya akan mengatakan kata-kata seperti itu.
Soo jin menatap kim bum masih dengan wajah bengongnya, kim bum menatap soo jin dengan tatapan aneh.
“Aigoooooo…..tidak mungkin !!! Jadi maksudmu, kau itu serius dengannya?” Pekik soo jin. Kim bum diam.
“EEEHH……..BWAHAHAHAHAHAHAH…..kau bercanda kan??? Mana mungkin bocah sepertimu…..” soo jin menggantungkan ucapannya.
“HAHAHAHAHAHA aigoooo.” Soo jin tertawa hingga ia memegangi perutnya. Kim bum merasa terganggu dengan reaksi kakaknya itu.
“Apakah ada yang lucu?” Kesal kim bum.
“Ekekekk….” soo jin menghapus air matanya yang keluar akibat tertawanya yang puas itu.
“Membayangkan kau memang sungguh-sungguh dan serius dengan kim so eun-ssi entah kenapa membuatku ingin tertawa…..tiga tahun tidak bertemu, kau sudah banyak berubah, huh? Sepertinya aku harus mengatakan ini kepada eomma ekekekk…..” ujar soo jin.
“Yak…..” kesal kim bum. “Ini bukan urusanmu, jadi jangan ikut campur !” Suruh kim bum lalu segera masuk ke dalam kamarnya.
Slaaaam~~~ kim bum menutup pintunya dengan keras. Melihat reaksi kim bum yang seperti itu membuat soo jin berpikir.
“Hmmm….jadi dia benar-benar serius huh? Aku benar-benar tidak percaya…..” gumam soo jin.

 

-today love is begin-

 

Keesokan harinya, Hari Minggu

So eun masih tertidur nyenyak di kasur empuknya. Maklumlah hari ini hari libur jadi pukul 8 KST ia masih asik bergumul dengan selimutnya.
Drrrrttt drrrttttt drrrrttt
Barulah disaat ponselnya bergetar, so eun mulai membuka matanya meskipun terasa sulit. Masih dengan setengah tidur, so eun pun menjangkau ponselnya yang ia simpan di meja di samping tempat tidurnya. Dia menatap layar ponselnya itu, ada sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
“Yeobosaeyo?” Jawab so eun masih dengan suaranya yang lemas.
“Ah kim so eun-ssi? Mian…..apakah aku membangunkanmu?” Tanya orang disebrang sana.
“Hmmm….ani….siapa ini?” Tanya so eun.
“Ah, aku kakaknya bummie….” jawab orang itu yang ternyata adalah kim soo jin.
Mengetahui yang menghubunginya adalah kakak sang kekasih, dalam hitungan detik so eun langsung mendudukan dirinya di atas kasur.
“Ah ne, selamat pagiiii !” Suara so eun mendadak bersemangat. Ia tak menyangka kakaknya kim bum akan menghubunginya sepagi ini.
“Mian aku terlalu mendadak menelponmu, kau pasti kaget kan?” Tanya soo jin.
“Aniyo !!! Gwaenchanaaa !!” Balas so eun cepat.
“Ngomong-ngomong aku mencuri nomor ponselmu dari ponselnya bummie hahaha, jika dia tahu aku menyentuh ponselnya mungkin dia akan mengusirku haha.” Cerita soo jin.
“Aah…benarkah?” Tanya so eun. “Jadi kim bum-ssi tidak mengetahuinya?”
“Yeah, setelah aku mencuri nomormu, dia lalu pergi ke rumah temannya.” Jawab soo jin.
“Arasseo.” Balas so eun.
“Ah ya kim so eun-ssi~~~ apa hari ini kau punya waktu?” Tanya soo jin.
“Ah iya…aku tidak punya rencana apapun hari ini.” Jawab so eun.
“Sungguh?” Tanya soo jin memastikan, nada suaranya terlihat senang. So eun mengerutkan keningnya.
“Kalau begitu bagaimana jika kita bertemu jam 10 nanti??? Semenjak bummie pergi, aku tidak ada teman~~” ajak soo jin. Mata so eun membulat. Ia tidak menyangka soo jin akan mengajaknya bertemu. Apakah ini pertemuan khusus yang dibuat soo jin untuk lebih mengenal kekasih adiknya??? Jantung so eun berdebar lebih kencang dari biasanya.
“So eun-ssi???” Soo jin heran karena so eun tak kunjung menjawab.
“Ah ya baiklah~~~” jawab so eun akhirnya dengan bersemangat.
“Aku senang mendengarnya, kalau begitu sampai bertemu nanti so eunnie~” soon jin langsung memutuskan sambungan telponnya.
“So eunnie?” Gumam so eun.

 

-today love is begin-

 

Saat ini so eun dan soo jin sudah berada si sebuah cafe di jalanan apgujeong. Mereka duduk berhadapan. Makanan yang mereka pesan belum tiba.
“Maaf sudah merepotkanmu untuk menemuiku.” Ujar soo jin.
“Ah….gwaenchana.” balas so eun. Entah kenapa melihat soo jin menatapnya membuat so eun tegang.
“Kau tahulah aku tidak terlalu mengenal Seoul, kemari pun hanya tiga tahun sekali. Dan anak itu malah pergi ke rumah temannya, aku tidak punya teman lain selain kau so eunnie.” Jelas soo jin. “Boleh kan aku memanggilmu so eunnie? Agar terasa lebih dekat.” Lanjut soo jin.
“Ah….” pipi so eun bersemu merah. “Gwaenchana eo…eonni.” balas so eun. Soo jin tersenyum.
“Ah ya….dan juga selain itu aku ingin bertemu dengan so eunnie secara pribadi.” Ujar soo jin. So eun cukup kaget. Seperti yang ia duga sebelumnya, mungkin kakaknya kim bum ingin mendekatkan dirinya dengan so eun.
‘Gilaaa ini benar-benar membuatku tegang !!! Lebih tegang daripada kim bum-ssi yang akan menciumku !!!’ Batin so eun. ‘Aku penasaran, apakah maksud soo jin eonni ingin bertemu denganku secara pribadi adalah karena ia ingin mengujiku apakah aku cocok dengan adiknya atau tidak?? Ah….ini sangat menakutkan !!!! Tapi bagaimanapun juga, mungkin ini adalah kesempatanku untuk mengambil hatinya soo ji eonni juga’ so eun berupaya menyemangati dirinya sendiri.
“Oh….jinjjaru? Aku senang jika eonni ingin bertemu denganku secara pribadi hehehe.” Ujar so eun. “Jika kau ingin, aku bisa menghabiskan waktuku bersamu soo jin eonni, aku akan menemanimu kemanapun kau ingin pergi hari ini.” Lanjut so eun dengan senyum lebarnya. Soo jin menatap so eun takjub.
“Aigoooo…..jinjja? Jeongmal gomawoyo so eunni….kau memang gadis yang baik.” Puji soo jin.
“Eheheheh.” So eun hanya nyengir saja. Tak lama dari itu, makanan pesanan mereka pun datang. Mereka memilih untuk menikmati makanan mereka dulu sembari mengobrol sedikit-sedikit.
“So eunnie….” ujar soo jin, ia menatap so eun cukup serius. So eun langsung berhenti mengunyah dan membalas tatapan soo jin. Tiba-tiba saja ia deg-degan lagi.
“Apa kau benar-benar menyukai adikku?” Tanya soo jin. Dengan cepat so eun mengangguk yakin.
“Aku sangat menyukai kim bum-ssi, lelaki yang membuatku jatuh cinta hanya dia !” Jawab so eun. Soo jin terkekeh mendengarya. So eun menatap soo jin bingung.
“Aku hanya tidak menyangka, adikku yang menyebalkan seperti itu bisa disukai oleh perempuan baik sepertimu.” Ujar soo jin. Pipi so eun memerah seketika. Bolehkah ia menganggap ucapan soo jin barusan sebagai pujian?
Soo jin menghela nafas. “Kau tidak menyesal berkencan dengannya? kau pasti sudah mengenal betul sifatnya kan? Adikku kasar dan tak berperasaan.” Ujar soo jin.
“Ani…..aku sama sekali tidak menyesal !” Jawab so eun cepat. “Sekarang dia sudah sedikit berubah, memang dulu dia selalu berkata kasar dan bersikap seenaknya bahkan kepada kekasihnya sendiri. Tapi aku senang, sekarang dia sudah sedikit berubah.” Jawab so eun.
“Jinjjayo?” Soo jin tak menyangka. So eun mengangguk yakin.
“Heeeh aku sedikit lega, perempuan yang menjadi kekasih adikku adalah so eunnie.” Ujar soo jin. So eun mendadak malu. “Tampaknya so eunnie sudah banyak merubah adikku. Pada awalnya aku sangat kaget dan benar-benar tidak percaya, bahwa dia begitu serius denganmu.” Lanjut soo jin.
“Ne?” So eun belum mengerti.
“Haaaah……” soo jin mengeluarkan nafasnya dengan lega. Ia menyudahi makannya.
“Setelah ini, temani aku ke mall ya so eunnie?” Pinta soo jin. Ia mengabaikan pertanyaan so eun. “Aku ingin berkeliling jika bisa sampai aku pingsan haha.” Lanjutnya.
“Ah ye……” Jawab so eun dengan bersemangat.

 

-today love is begin-

 

So eun menemani soo jin berbelanja di sebuah mall, so eun berjalan kesana kemari mengikuti soo jin yang memeilih-milih baju di lantai 2, lalu mereka pergi ke lantai 3 dimana tempat semua macam tas berada, setelah itu soo jin menuju lantai 4 untuk membeli sepatu. So eun sendiri tidak menyangka soo jin akan berbelanja sebanyak itu. Ia cukup kelelahan harus mengikuti soo jin yang sedikit agak rewel ketika memilih baju, tas, dan sepatu. Beberapa kali soo jin memilih baju dan mencobanya, tapi kemudian dia tak jadi membelinya dan kembali memilih baju yang lain.
“Soo jin eonni, apakah sudah selesai?” Tanya so eun setelah soo jin membayar di kasir dan membawa barang-barang belanjaannya yang bejibun.
“Belum, masih ada yang harus aku beli. Dimana tempat perhiasan dan aksesoris so eunni?” Tanya soo jin. So eun serasa ingin terjun saja dari lantai 4 ini. Tangan soo jin sudah dipenuhi oleh kantong belanjaan, tapi masih ada yang harus dibeli??????
“Itu….di lantai 8 eonni.” Jawab so eun.
“Oh? Baiklah kajjaaaa !” Soo jin berjalan lebih dulu. Sementara so eun mengikutinya dari belakang dengan langkah gontai.
“Dia sama sekali tidak terlihat kelelahan.” Gumam so eun takjub.
Mereka berdua-soo jin dan so eun- sudah berada di depan lift. Namun sepertinya lift sedang penuh sehingga mereka menunggu cukup lama. Soo jin terlihat tak sabaran.
“Ah kalau sepeti ini lebih baik naik elevaror saja !” Ujar soo jin. So eun langsung melongo menatap soo jin.
“Elevator? Jinjja? Dari lantai 4 menuju lantai 8? Eonni…..itu akan sangat melelahkan !” Ujar so eun.
“Gwaenchana……akan lebih baik juga dari pada naik tangga kan? Aku masih kuat, lagi pula aku masih harus pergi ke toko kue, buku…..yeahhh aku sangat ingin menghabiskan waktu sampai kakiku tak mampu menopang tubuhku lagi hahaha.” Balas soo jin. So eun melongo hebat.
“Tapi eonni, tidakkah lebih baik kita menunggu sebentar lagi?” Tanya so eun.
“Waeyo so eunni? Apa kau lelah? Jika kau lelah kau bisa beristirahat ! Aku sendiri saja ke lantai 8, jangan memaksakan dirimu !” Balas soo jin. So eun menggeleng cepat.
“Aniyooo !!! Aku sama sekali tidak lelah !!!” Dusta so eun.
“Jinjja???” Soo jin memastikan.
“Ne…..aku akan menemani soo jin eonni.” Balas so eun.
“Baiklah…..kajjaaaa !!!” Soo jin berjalan diikuti dengan so eun. Bisa dibayangkan dari lantai 4 sampai lantai 8? Meskipun menggunakan elevator tapi tetal saja kaki so eun sudah benar-benar lelah dan ia tidak mampu lagi berjalan, hingga akhirnya saat so eun sudah sampai di lantai 8 ia memilih duduk dikursi yang ada disana. Sementara soo jin sibuk memilih beberapa aksesoris.
Setelah dari mall, lalu mereka pergi ke toko buku. Kemudian ke toko kaset, toko kue, dan ke beberapa tempat yang inhin didatangi oleh soo jin. Kaki so eun sampai gempor karena kakinya terus bergerak kesana kemari hingga sore seperti ini. So eun tidak bisa protes begitu saja kepada soo jn, memngingat dia adalah kakaknya kim bum. Dan sekarang so eun bisa bernafas lega, ia bisa duduk mengistirahatkan kakinya yang sudah benar-benar kelelahan. Saat ini, so eun dan soo jin sedang berada di sebuah cafe. Karena soo jin merasa lapar, dan so eun yang sangat ingin beristirahat, akhirnya mereka pergi ke sebuah cafe terdekat. Soo jin memesan jus stoberi dan juga makanan manis, sementara so eun hanya memesan jus lemon saja, tapi sampai tiga gelas saking ia hausnya.
“Wooooah gomawo so eunnie, ini benar-benar menyenangkan.” Ujar soo jin menatap so eun dengan wajah gembira. So eun memaksakan senyum cerahnya.
“Jika eonni senang, aku juga senang hehe.” Balasnya.
“Ah ya aku sampai lupa….” ujar soo jin.
“Ne?” Tanya so eun.
“Sebenarnya……alasan aku mengajakmu bertemu adalah karena aku ingin berbicara soal bummie denganmu.” Ujar soo jin. So eun menatap soo jin dengan penuh tanda tanya.
“Sifat bummie memang seperti itu, kasar dan yeah…..menyebalkan. Orang tua kami bercerai saat bummie masih berumur 5 tahun dan umurku 9 tahun. Eomma membawaku ke Daegu dan bummie tetap tinggal di Seoul bersama appa. Pada waktu itu bummie merengek dan menangis habis-habisan karena ia ingin ikut bersama eomma, tapi reaksi yang diberikan eomma malah dingin terhadapnya. Bahkan ia tidak pergi untuk memeluk bummie dan menghapus air matanya. Eomma malah tak menunjukkan sama sekali wajahnya di depan bummie. Dan appa menahan tubuh bummie yang terus berontak ingin bersama eomma. Tanpa berkata apapun, eomma langsung membawaku pergi meninggalkan bummie. Tangisan dia semakin keras dan aku juga ikut sedih pada saat itu. Saat aku dan eomma sudah sampai menaiki bus, barulah eomma menangis. Aku tahu, sebenarnya eomma juga sedih meninggalkan bummie, tapi inilah yang hanya bisa ia lakukan.” Cerita soo jin panjang lebar. So eun mendengarkan dengan seksama cerita dari soo jin itu. Akhirnya ia jadi cukup mengerti mengenai masalah kim bum dengan ibunya. Ternyata kim bum adalah seorang anak malang. So eun jadi iba.
“Dan pasti kau juga terkejut kan dengan sikapku yang kasar padanya?” Tanya soo jin. So eun menatap soo jin bingung, bingung ia harus berekasi seperti apa.

 

Flash Back

Enam tahun yang lalu. Soo jin dan semua teman satu kelasnya pergi ke seoul dalam acara studytour sekaligus penelitian mengenai tumbuhan yang tercemar polusi. Saat itu, soo jin tak sengaja melihat kim bum tengah duduk di sebuah bangku di dekat tempat penelitiannya. Soo jin tentu saja terkejut, tidak menduga bahwa secara kebetulan ia akan bertemu dengan adik satu-satunya. Ia pun menghampiri kim bum untuk memastikan.
“Bummie?” Tanya soo jin saat ia sudah berada di depan kim bum. Kim bum yang sedang asik bermain game lewat ponselnya pun perlahan mengangkat kepalanya. Ia menatap soo jin dengan ekpresi datar. Bahkan tatapannya terlihat jika ia tidak senang dengan kehadiran orang lain di dekatnya. Tapi nampaknya soo jin tidak peduli, saking rindunya pada sang adik ia pun langsung memeluk kim bum. Kim bum kaget.
“Kau sudah tumbuh besar rupanya.” Ujar soo jin. Kim bum langsung melepaskan pelukan soo jin dan ia berdiri dari duduknya.
“Apa-apaan kau? Kenapa kau memelukku dengan tiba-tiba?” Kesal kim bum.
“Yak bummie, kau tidak ingat denganku?” Soo jin menunjuk dirinya sendiri.
“Untuk apa aku mengingat orang yang sudah lama tidak aku lihat.” Balas kim bum enteng. Soo jin terbelalak. Apakah remaja laki-laki yang berdiri di hadapannya ini benar-benar adiknya?
“Mwo?”
“Kau…..kenapa kau tiba-tiba muncul di Seoul?” Itulah pertanyaan yang keluar dari mulut kim bum. Soo jin geram.
“KAU !!!”
PLAK~~~ Soo jin menampar pipi kim bum cukup keras. Kim bum membukatkan matanya.
“KENAPA KAU MENAMPARKU???” Teriak kim bum.
“APAKAH ITU SIKAPMU SAAT KAU BERTEMU LAGI DENGAN KAKAKMU YANG SUDAH LAMA TIDAK BERTEMU?” Soo jin balas berteriak.
“MEMANGNYA KENAPA JIKA HANYA BERTEMU? AKH APPO !” Kim bum memegangi pipinya yang bekas di tampar soo jin.
“Siapa yang telah mengajarkanmu bersikap seperti ini? Apakah kau bergaul dengan preman huh? Sudah lama tidak bertemu, sikapmu benar-benar membuatku takjub !” Ujar soo jin.
“Tsk….kau sungguh banyak bicara, kau mengangguku saja.” Kim bum lalu berjalan meninggalkan soo jin.
“Yak mau kemana kau? Aku belum selesai bicara denganmu !” Soo jin menahan baju adiknya itu.
“Apa yang kau lakukan?” Kesal kim bum.
“Yak…..eomma merindukanmu ! Datanglah ke Daegu !” Pinta soo jin.
“Dia tidak merindukanku !” Balas kim bum. “Seharusnya dia yang mengunjungiku, bukan anaknya !” Lanjutnya. Soo jin menatap kim bum kaget. Kim bum melepaskan tangan kakaknya yang menahan bajunya, lalu ia pun pergi.
“Yak bummie…..”
“Soo jin-aaaaahhh~~~~~” soo jin mengurungkan niatnya untuk menahan kim bum kembali karena temannya memanggil.
“Apa yang sedang kau lakukan? Kita harus segera menyelesaikan penelitiannya !” Teriak temannya itu.
“Ah ya….” balas soo jin. Sebelum menghampiri temannya, soo jin kembali melirik ke arah kemana tadi sang adik pergi.
“Awas kau…..lihat saja apa yang akan aku lakukan.” Geram soo jin, lalu ia pun menghampiri teman-temannya.

End of Flash Back

 

“Yah seperti itulah, setelah kejadian itu beberapa minggu kemudian aku kembali ke Seoul lalu merobek-robek semua baju anak itu.” Cerita soo jin. So eun hanha bisa mendengarkan saja cerita soo jin tanpa bisa memberikan komentar. Itulah alasannya kenapa kim bum bersikap dingin dan kasar. Yah, so eun mengerti sekarang.
“Sikapku yang kasar padanya juga aku lakukan karena aku tidak ingin hubungan persaudaraan dengannya menjadi canggung, jika aku selalu bertengkar dengannya aku merasa nyaman karena aku tak merasa canggung.” Ujarnya. So eun mengangguk.
“Ah ya, mungkin sekitar minggu depan aku akan kembali ke Daegu. Bisakah aku meminta bantuan padamu so eunnie?” Tanya soo jin.
“Ne?” Tanya so eun.
“Eomma….sudah bertahun-tahun dia tudak bertemu dengan bummie, semenjak perceraian itu. Bisakah kau membujuk bummie untuk pergi ke daegu dan bertemu dengan eomma?” Pinta soo jin. So eun diam seraya berfikir sejenak.
“Semenjak kau adalah kekasihnya, mungkin dia akan menuruti permintaanmu.” Ujar soo jin. So eun akhirnya mengangguk.
“Baiklah, aku akan mencoba berbicara dengannya.” Balas so eun. Soo jin tersenyum.
“Gomawoyo so eunnie~”

 

-today love is begin-

 

Kim bum sedang berada di rumah il woo. Dia sedang asik membaca komik milik ilwoo, sedangkan yang empunya sedang heboh sendiri bermain game di PS4 nya.
“AAHHH GILAAAA !!!!” Tiba-tiba il woo berteriak karena ia baru saja kalah main. Kim bum mendelik menatap il woo yang sampai guling-guling.
“Manusia aneh.” Gumamnya, lalu kembali hanyut ke dalam komik.
Ddddrrrtttt…….dddrrrtttt……drrrttttt
Ponsel kim bum bergetar, dengan ogah-ogahan ia pun meraih ponselnya yang tergeletak tak berdaya di kursi di samping tempatnya duduk. Ternyata kakaknya yang menelpon.
“Ya….ada apa?” Tanya kim bum langsung.
“Cepat temui aku di jalan di dekat MR cafe !” Balas soo jin.
“HAH?”
“Aku bilang, temui aku di jalan di dekat MR cafe !!!” Soo jin mengulang perkataannya
“Kenapa aku harus kesana? Menyusahkan !” Balas kim bum.
“Yak !!! Aku membawa banyak barang belanjaan ! Aku tidak bisa membawanya seorang diri !” Soo jin berteriak-teriak lewat telpon. Kim bum menjauhkan ponselnya daei telinga. Menatap ponsel miliknya dengan kesal.
“Lalu kenapa kau tidak memanggil taksi saja dan meminta orang lain membantumu? Apakah aku ini seorang budak? Kenapa juga harus membawa barang-barangmu!?” Kim bum kesal. Pasalnya sang kakak selalu menyusahkan dirinya. Padahal saat ini ia sedang bersantai ria di rumah il woo.
“Apa kau bodoh huh? Sudah jelas aku menghubungimu karena aku tidak bisa melakukannya, kan? Lagipula apa kau tak peduli dengan kekasihmu, huh? Kau akan mencampakkannya saja?” Tanya soo jin. Kim bum membulatkan matanya.
“So eun bersamamu??? Kenapa dia…..”
“Tidak penting alasan kenapa dia bersamaku. Yang penting adalah sekarang so eunnie tidak bisa berjalan, kakinya kram dan lecet.” Potong soo jin.
“Kau mengerti? Jika kau mengerti, maka cepatlah kemari !” Suruh soo jin.
“Apa kau melakukan sesuatu yang aneh padanya?” Tanya kim bum. Il woo yang kembali asik bermain game, melirik kim bum yang sedang bertelponan dengan ekspresi penuh tanda tanya.
“Ani….” balas soo jin. “Dia membuatku kesal, jadi aku memberikan kekasihmu sedikit pelajaran.” Dusta soo jin.
Kim bum terdiam mendengar perkataan soo jin barusan.
“Bum-ah, apakah ada yang terjadi?” Tanya il woo penasaran. Kim bum masih diam.

 

-today love is begin-

 

“Yak ! Kau telat !” Itulah yang pertama keluar dari mulut soo jin saat ia melihat kim bum baru saja datang.
“Lagipula siapa yang menyuruhmu menunggu?” Balas kim bum. “dimana dia?” Tanyanya karena ia tak melihat so eun bersama dengan kakaknya.
“Dia sedang di toilet.” Jawab soo jin.
“Bukankah kau bilang dia tak bisa berjalan?” Tanya kim bum. Soo jin mengangguk.
“Dia menolakku untuk membantunya, jadi dia ke toilet sendiri.” Balas soo jin.
“Tsk……” kim bum berdecak lalu hendak berjalan menuju ke toilet.
“Hei….kau mau kemana?” Tanya soo jin.
“Dalam situasi seperti ini aku tidak bisa hanya diam saja.” Jawab kim bum. Soo jin menatap kim bum takjub. Lalu ia tertawa.
“Hahaha kau memang banyak berubah.” Ujarnya.
Kim bum tak peduli, ia kembali melangkah menuju toilet. Tapi belum juga kim bum sampai disana, ia melihat so eun baru saja keluar dari toilet dengan langkah yang tertatih-tatih. Kim bum langsung menghampirinya.
“Yak….kau tidak apa-apa?” Tanya kim bum seraya membantu so eun.
“K…KIM BUM-SSI !!!” Kaget so eun. “Kenapa kau ada disini?” Tanya so eun. Kim bum tak menjawab, ia malah membantu so eun berjalan.
“Apa yang dilakukan perempuan itu hingga kau seperti ini?” Tanya kim bum.
“Ne?” tanya balik so eun.
“Ah so eunnie, apa kau sudah merasa lebih baik?” Soo jin berjalan menghampiri mereka dengan membawa barang belanjaannya yang bejibun di masing-masing kedua tangannya itu.
“Ah ye.” Balas so eun.
“Syukurlah, aku menghubungi bummie agar dia bisa mengantarmu pulang. Kau tahu kan belanjaanku sangat banyak jadi aku tidak bisa mengantarmu dengan keadaanku yang seperti ini.” Jelas soo jin. Kim bum langsung menatap soo jin.
“Hei bummie, antarkan so eunnie pulang ! Taksi sudah menungguku, aku duluan ya.” Pamit soo jin. Lalu ia pun pergi meninggalkan mereka-kim bum dan so eun- yang masih terbengong-bengong dengan soo jin. Kim bum bengong karena bukannya soo jin memintanya datang untuk membawa barang-barangnya? Dan so eun bengong kenapa soo jin malah meminta kim bum mengantarnya.
Kim bum pun kembali membantu so eun berjalan. Namun so eun terlihat sangat menahan rasa sakitnya.
“Wae?” Tanya kim bum. So eun menatap kim bum dengan wajah yang mengkhawatirkan.
Akhirnya mereka pun memilih duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari toilet itu. Kim bum berjongkok dan langsung membuka sepatu flat milik so eun tanpa meminta izin terlebih dahulu.
“Oucchh….” so eun meringis.
“Kakimu lecet, jempolnya juga bengkak.” Ujar kim bum. So eun mengangguk.
“Tunggu sebentar.” Ujar kim bum dan segera pergi untuk membeli plester. So eun hanya bisa diam dan menunggu di tempat. Memang, berjalan kesana-kemari dengan menggunakan sepatu flat ini cukup membuatnya tersiksa. Bahkan kakinya sampai lecet dan merah-merah seperti ini. So eun juga tidak bisa menyalahkan soo jin, karena ia sendiri yang terlalu memaksakan diri dan sudah terlanjut berkata bersedia menemani kakak sang kekasih kemana pun.
Tak lama kemudian, kim bum datang juga.
“Kakimu tidak akan terlalu sakit jika sudah di tempeli plester.” Ujar kim bum seraya menempeli plester itu di jempol dan beberapa bagian kaki so eun yang lecet.
“Gesekan antara jempol dan ujung kakimu tidak akan terlalu kasar karena terhalangi oleh plester.” Ujar kim bum lagi.
“Gomawo.” Balas so eun. Setelah selesai memasangkan plester di kaki so eun, kim bum pun berdiri.
“Ayo kita pulang !” Ajak kim bum. Namun so eun malah diam di tempat duduknya. Ia menatap kim bum dengan eskpresi seakan ia tidak kuat jika harus berjalan lebih lama lagi.
“Heeeeh…..” kim bum mendesah. Lalu berjongkok membelakangi so eun. So eun menatap bingung kim bum.
“Naiklah !” Suruh kim bum.
“Eh???”
“Kakimu sakit kan? Jad naiklah ! Aku tidak ingin mendengarmu merengek-rengek !” Ujar kim bum.
“Tapi…..aku berat, kau tahu?” Balas so eun. Kim bum memutar kepalanya untuk menatap so eun.
“Cepat !!! Orang-orang akan mengaggapku aneh karena berjongkok terus seperti ini !” Kesal kim bum.
Dengan perlahan so eun pun naik ke punggung kim bum. Tangannya membawa sepasang sepatu flatnya.
“Benarkan? Aku berat?” Tanya so eun setelah kim bum menggendongnya.
“Kau harus menurunkan berat badanmu !” Balas kim bum. So eun memanyunkan bibirnya tapi kemudian ia tersenyum. Ia senang, pasalnya baru pertama kali kim bum menggendongnya seperti ini, dan kim bum sendiri yang menawarkan diri. So eun sangat senang. Perubahan kim bum ternyata sangat pesat.
“So eun, memangnya apa yang telah wanita itu lakukan kepadamu?” Tanya kim bum.
“Maksudmu soo jin eonni?” Tanya so eun.
“Jika dia melakukan hal yang macam-macam dan aneh lagi padamu, aku tidak akan membiarkannya !” Ujar kim bum. So eun mengerutkan keningnya.
“Memangnya soo jin eonni telah membuat hal yang macan-macam denganku?” Tanya so eun bingung.
“Dia memberimu pelajaran makanya kakimu lecet seperti ini, kan?” Jawab kim bum.
“Heh? Pelajaran? Aniii…..” balas so eun. “Aku dan soo jin eonni sangat bersenang-senang hari ini, dia sama sekali tidak melakukan hal yang macam-macam padaku.” Lanjut so eun.
“Mwo? Tsk…..jadi dia membohongiku.” Ujar kim bum.
“Waeyo?” Tanya so eun. “Ani.” Jawab kim bum.
“Eiiii…..kau mengkhawatirkanku?” Goda so eun.
“Siapa yang tidak khawatir, huh?” Balas kim bum kesal. So eun tersenyum lalu memeluk leher kim bum.
“Lalu kenapa kakimu bisa lecet seperti itu?” Tanya kim bum.
“Ini karena……kami mengunjungi semua tempat dengan berjalan kaki…..soo jin eonni benar-benar kuat, huh? Aku saja sudah tidak kuat lagi.” Cerita so eun.
Kim bum menghela nafasnya. “Lain kali biarkan saja dia, jangan ikuti semua keinginannya !” Suruh kim bum. So eun mengangguk lalu tersenyum.
“Kim bum-ssi, bolehkan aku memanggilmu bummie?” Pinta so eun.
“Mwo? Shireo !” Tolak kim bum.
“Wae???? Soo jin eonni juga memanggilmu seperti itu ! Aku kekasihmu ! Apakah aku tidak boleh memanggilmu seperti itu juga???” Tanya so eun.
“Aku tidak suka dengan panggilan seperti itu !” Balas kim bum.
“Hmmppph…..kau tidak asik !!! Apakah harus terus memanggil satu sama lain dengan formal, kim bum-ssi…..so eun-ssi….seperti itu???” So eun memanyunkan bibirnya. Kim bum menghela nafasnya.
“Bum-ah, kau boleh memanggilku begitu.” Balas kim bum akhirnya.
“Eo???? Jinjja?” So eun senang. Kim bum mengangguk.
“Oke oke…..kau pun harus memanggilku so eun-ah !!!” Pinta so eun.
“Ara !” Balas kim bum.
“Hehehe…..” so eun memeluk leher kim bum tambah erat. Lalu so eun mendekatkan bibirnya ke telinga kim bum.
“Aku menyukaimu !” Bisiknya.
“Yak ! Kau membuatku merinding !” Protes kim bum karena hawa hangat yang keluar dari mulut so eun begitu terasa di telinganya. So eun malah tertawa.

 

-today love is begin-

 

Semua murid SMA Chungju sedang bergumul di depan papan pengumuman. Disana juga terlihat ada so eun yang sedang mendesak masuk ke dalam gumulan itu. Ya, hari ini adalah hari pengumuman hasil ujian mereka kemarin. Yang akan menunjukkan apakah mereka naik ke kelas tiga atau tidak.
“Woooooaaa !!!!” So eun berteriak.
“Daebaaaaak ! Nilaiku memuaskaaaaan !!!!” Semua orang yang ada disana spontan memusatkan perhatian mereka kepada so eun. Namun so eun tidak peduli. Yang penting sekarang adalah dia mendapat nilai yang memuaskan dengan hasil usahanya sendiri.
“Woooaah, kau hebat juga ternyata.” Tahu-tahu kim bum sudah berada di samping so eun. So eun menoleh dan melihat kim bum berdiri di sampingnya.
“Bum-ah…..kau lihat kan? Nilaiku tidak ada yang buruk !” Ujar so eun.
Kim bum mengangguk-anggukan kepalanya.
“Tapi kau tidak akan pernah bisa mengejar nilaiku.” Balas kim bum.
“Huh?” So eun bingung. Lalu kim bum menunjuk ke arah paling kiri papan pengumuman dengan telunjuknya.
Di peringkat satu sesekolah, tertera nama Kim sang beom disana. So eun membulatkan matanya, lalu menatap kim bum takjub. Kim bum hanya tersenyum saja lalu menunjuk peringkat so eun dengan menggerakkan kepalanya. So eun melihat peringkat dirinya.
“235?” Gumamnya. “Sejauh itukah????” Ujarnya lagi.
“Yak bum-ah…..kau licik sekaliiiii~” rengek so eun.
“Kapasitas otakmu tidak sama denganku, jadi bermimpi sajalah jika kau ingin mendapat nilai sempurna !” Ejek kim bum.
“Aiuuuhh….kau kejam sekali !” So eun hendak memukul dada kim bum tapi kim bum keburu menahan lengannya. Kim bum terkekeh.
“Kau ingin kemana hari ini?” Tanya kim bum belum melepaskan tangan so eun.
“Huh? Aku tidak akan kemana-mana.” Jawab so eun polos. Kim bum menghela nafasnya.
“Apakah aku harus mengulang tiap pertanyaanku?” Ujar kim bum kesal. So eun malah menatap kim bum dengan wajah yang polos dan itu semakin membuat kim bum gemas.
“Hari ini, jika kau ingin pergi ke suatu tempat, katakan padaku!” Suruh kim bum. “Aku akan mengabulkannya.” Lanjut kim bum.
“Huh?” Tiba-tiba so eun teringat dengan perkataan soo jin untuk membujuk kim bum menemui ibunya di Daegu.

 

-today love is begin-

 

Saat ini, kim bum dan so eun sedang duduk di bangku taman sekolah. So eun yang meminta kim bum untuk berbicara disini. Dan kim bum menurutinya.
“Yasudah, katakan !” Suruh kim bum. So eun terlihat memain-mainkan jari tangannya. Ia ragu untuk mengatakannya kepada kim bum. Namun, karena melihat suasan hati kim bum yang terlihat baik saat ini, jadi so eun memutuskan untuk mengatakannya sekarang juga.
“Mmmm….” so eun perlahan menatap kim bum. “Bum-ah….” panggilnya. Kim bum balas menatap so eun.
“Aku….ingin ke Daegu.” Ujar so eun.
“Mwo???” Mata kim bum membulat. “Kenapa kau……”
“Aku ingin bertemu dengan ibumu.” Potong so eun. Kim bum terdiam. Ia menatap so eun tanpa berkedip dengan wajah kagetnya. Bagaimana bisa so eun mengatakan daegu dan ibunya semudah itu?
“Yak…..siapa yang menyuruhmu?” Marah kim bum. Suasana hati kim bum sekarang sudah berubah.
So eun menggeleng. “Tidak ada yang menyuruhku.” Balas so eun.
“Tsk…..sungguh !” Kim bum kesal.
“Bum-ah, ibumu sudah lama tak bertemu denganmu, dia sangat merindukanmu ! Temuilah dia !” Ujar so eun. Kim bum menatap so eun dengan tatapan tajam, lalu ia berdiri dari duduknya.
“Kau tidak tahu apa-apa tentang ibuku !” Marah kim bum.
“Bum-ah….panggil so eun.
“Tsk……” Kim bum lalu pergi meninggalkan so eun. Namun so eun keburu mencegahnya, ia menahan baju kim bum.
“Bum-ah…..bagaimana pun juga dia ibumu.” Ujar so eun. Kim bum melepaskan tangan so eun yang memegang bajunya cukup keras.
“Kau tidak mengerti apa-apa ! jadi jangan ikut campur meskipun kau kekasihku !” Perintah kim bum. Lalu meninggalkan so eun tanpa berkata apa-apa lagi. So eun terdiam di tempatnya. Ia tahu dan ia mengerti, kenapa kim bum sebegitu tidak sukanya kepada ibunya setelah ia mendengar cerita dari soo jin. Tapi bagaimana pun juga, seorang ibu pasti akan selalu merindukan anaknya kan?

 

-today love is begin-

 

Kim bum pulang ke rumah dengan suasana hati yang tidak baik. Ia marah dan kesal. Ia sampai membanting pintu rumahnya cukup keras. Membuat soo jin yang sedang tiduran di sofa seraya menonton televisi sangat kaget.
“Yak…..” kesal soo jin. Tapi kim bum tak menghiraukannya, dan langsung berjalan menuju kamarnya. Soo jin mengerutkan keningnya.
“Hey….soal so eunni….” ujar soo jin tiba-tiba. Kim bum mendadak menghentikan langkahnya dengan tangan yang sudah memegang knop pintu.
“Aku menyukainya, dia gadis yang baik dan penuh semangat.” Ujar soo jin. “Jadi, suatu hari nanti aku ingin mengajaknya ke Daegu !” Lanjutnya.
Kim bum langsung memutat kepalanya untuk melihat soo jin dengan mata yang sudah membulat.

 

To Be Continued

Bukannya apa-apa ya, tapi saya cuman agak kesel aja sama readers yang cuma ngomen “daebak”, “next thor”, “cepet lanjut ya thor”, bahkan ada ya cuma komen “(y)” doang di ff saya HAHAHAHAHA……Saya udah capek-capek nulis, tapi tanggepan kalian cuman kaya gitu aja…..yah tapi saya gak peduli, lebih mending ada yang komen seperti itu daripada yang gak komen sama sekali (SILENT READERS) Jujur aja ya saya suka banget sama komen yang panjang yang bacanya tuh bikin saya jadi bersemangat buat lanjutin ff nya….tapi yaaaah saya gak maksa, terserah pads diri readers aja….saya juga udah bersyukur masih ada yang mau komen. Maaf ya kalo misalkan ada yang tersinggung, saya gak bermaksud apa-apa….cuman ingin melupkan saja……oh ya buat ending dari part ini, kemungkinan akan saya PROTECT. Bagi readers yang mau tanya soal PASWORD bisa lihat AKUN FB SAMA TWITTER AUTHOR DI ABOUT AUTHOR. Kalian bisa Add atau follow saya. Bisa juga invite BBM saya 75ADDEB8. Jangan lupa sertakan ID kalian saat meminta PASWORD. ID yang kalian gunakan saat berkomentar di ff saya. Thanks

Today, Love Is Begin PART 14

Today, Love is Begin

kbkse110

 

Main cast : Kim So Eun& Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

 

Sebelumnya Author (Resi R aka Shin Ni Rin) mau minta maaf dulu sama readers takutnya di part ini kalian bakal jadi gak suka sama yang namanya Shin Ni Rin akakakak…..Tapi semoga aja deh kalian bisa menerimanya dengan lapang karena author membuat diri author ada ‘sesuatu’ dengan kim bum di part ini. Author sendiri sih seneng karena ada kejadian yang ‘sesuatu’ sama kim bum tapi gatau sama readersnya ahahahaha apakah akan seneng (gak mungkin !), marah, gak rela, ngamuk, atau sebagainya akakakak……*Apa iniii? okelah abaikan saja author yang gila ini hahaha selamat membaca aja deh :)

 

PART 14

 

“Baiklah, selamat malam.” Ujar so eun lalu berbalik tanpa memperhatikan langkahnya dan ia menginjak jalan yang bolong hingga ia hampir saja terjatuh. Namun dengan cepat kim bum menarik pinggang so eun hingga mendekat padanya.
“Ahh…” so eun terkejut.
“Perhatikan langkahmu bodoh !!!” Ujar kim bum.
“M..mian….gomawo….” ujar so eun seraya sedikit memundurkan tubuhnya dari kim bum. Tapi ternyata kim bum malah mempererat tangannya yang merangkul pinggang so eun.
“Eeeh?” So eun kaget karena kim bum tak juga melepaskan tangannya dari pinggangnya. So eun tambah terkejut lagi saat kim bum menenggelamkan wajahnya di pundak so eun.
“Kk…kim bun-ssi….a…ada apa?” So eun mencoba mundur sedikit dan mengangkat kepalanya untuk menatap wajah kim bum. Tapi dengan cepat kim bum malah memeluknya dengan sangat erat, seakan ia tidak ingin so eun melihat wajahnya yang sekarang ini.
“Eeeehhh?” So eun benar-benar kaget pasalnya kim bum memeluknya begitu erat.
“K…kim bum-ssi !Sakit !!! Ini sakiiit !!!” Protes so eun karena pelukan kim bum yang sangat erat hingga tak bisa membuatnya bergerak.
“Diam !” Suruh kim bum.
“Tapi ini sangat sakit !!! Aku tidak bisa berna……”
“yak diamlah ! Sampai aku mengatakan ‘ok’ jadi diamlah !” Potong kim bum. Kim bum bahkan menahan kepala so eun dengan erat.So eun jadi terdiam juga, pipinya mulai memanas dan sudah terlihat merah. Lalu so eun tersenyum dan balas memeluk kim bum dengan erat juga.
Wajah kim bum sendiri juga memerah. Salah satu alasan ia memeluk so eun dan tidak ingin melepaskannya adalah karena ia tidak ingin so eun melihat wajahnya yang memerah seperti sekarang ini. Sudah hampir 5 menit berlalu mereka masih berpelukan.
“Umm…bukankah ini sudah cukup, kim bum-ssi?” Tanya so eun karena kim bum belum juga melepaskan pelukannya.
“Kau sangat berisik, diam !!!!” Balas kim bum. So eun pun hanya bisa menurut saja.
“Dengar !” Perintah kim bum. “Aku akan mengatakannya sekarang dan aku hanya akan mengatakannya satu kali.”Lanjutnya.So eun mengangguk.
“Aku-suka-padamu !” Aku kim bum dengan penekanan di setiap kata-katanya. So eun tersenyum mendengarnya.”Kau sudah mendengarnya, kau puas?” Tanya kim bum.
So eun kembali mengangguk.”Aku juga sangaaaat menyukaimu, kim bum-ssi.”Balas so eun.Bisa dibayangkan bagaimana perasaan so eun sekarang ini?Ia sendiri tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata saking senangnya. So eun terus tersenyum di pelukan kim bum. Sementara kim bum sendiri merasa malu setelah mengatakan kata-kata itu. Tak seperti biasanya bahkan wajahnya pun memerah.
‘Bahkan sampai aku mati pun, aku tidak akan pernah menunjukkan wajahku yang seperti ini kepadanya !’ Batin kim bum.

 

Tidak ada yang lebih baik dari hari ini ! Ini adalah ulang tahun yang terbaik !!! Terimakasih kim bum-ssi, aku sangat menyukaimu !aku beruntung karena aku jatuh cinta kepadamu. Meskipun aku tahu ada sedikit keterpaksaan saat kau mengatakan kau suka padaku.Aku tidak apa-apa karena aku tahu kau bukanlah tipe laki-laki seperti itu.Hanya dengan sikapmu saja kepadaku aku sudah cukup tahu jika kau juga sangat menyukaiku tanpa kau mengatakannya.

-today love is begin-

 

Chungju Highschool

“Wooooah sudah tidak terasa, sebentar lagi kita akan naik ke kelas 3.” Ujar bo young.
“Kau benar.”Timpal hye rim.
“Berarti hanya tersisa 2 bulan lagi?”Tanya so eun.Bo young mengangguk.Saat ini mereka bertiga duduk saling berhadapan di meja masing-masing sambil menunggu bel masuk berbunyi.
“Aku harus mulai mempersiapkan diriku, aku harus belajar dengan giat mulai sekarang.Apalagi nilaiku sebelumnya begitu mengkhawatirkan.” Cerita bo young. Ia lalu menghembuskan nafasnya.
“Aku juga sepertinya harus mengurangi waktu kencan dengan kekasihku.”Timpal hye rim.
“Tapi aku rasa kau tidak perlu khawatir so eun-ah, kau punya kekasih yang pintar seperti kim bum. Kalian pasti akan belajar bersama, benar kan?” Tanya bo young.
“Eehh?Kau benar hehe.Tapi…” so eun menggantungkan ucapannya.
“Waeyo?” Tanya hye rim.
“Aku belum membicarakannya dengan dia. Lagipula jika aku belajar bersamanya, yang ada nanti aku tidak bisa berkonsentrasi dan malah ingin beromantis ria dengannya.”Lanjut so eun.
“heeeeehhh…..” bo young dan hye rim geleng-geleng kepala.
“so eun-ah, meskipun ini cukup sulit untukmu. Tapi coba tahanlah sedikit saja !” ujar bo young. So eun menatap bo young dengan aneh. “setelah ujian selesai, kau akan bisa beromantis ria dengan kim bum-ssi. jadi kali ini mari seriuslah dalam belajar !!!” lanjut bo young dengan nada menggebu-gebu. Hye rim hanya mengangguk-anggukan saja kepalanya menyetujui ucapan bo young.
“eh? Haha tentu saja.”Balas so eun.
‘heeeh….aku meminta kim bum-ssi untuk mengajariku pun yang ada dia hanya akan menolak dan mengatai aku bodoh…..tidak ada cara lain selain aku harus belajar sendiri dengan giat.’ Batin so eun.ia lalu menghembuskan nafasnya, terlihat raut wajah lemas dari so eun. melihat itu bo young dan hye rim mengerutkan keningnya.
“waeyo so eun?” tanya hye rim.
“eh? Aaah ani hehe.”Balas so eun.

 

-today love is begin-

 

Meskipun bel istirahat sudah berbunyi sekitar 10 menit yang lalu. Tapi kim bum masih berada di dalam kelasnya. Ia tampak bosan menunggu seseorang yang tak kunjung datang seperti biasanya. Kim bum bahkan mengetuk-ketukkan pensilnya ke atas meja seraya menopang dagunya.
“kemana dia? apakah sengaja membuatku menunggu lama?” gerutunya. Kim bum melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10.10 KST. Ia lalu mendesah dan mengeluarkan ponselnya. Ia mengetikkan sesuatu disana.
Hey bodoh ! kenapa kau lama sekali? aku sudah kelaparan !

lalu kim bum pun menekan tombol kirim di layar ponselnya.
1 menit
2 menit

5 menit
Belum ada juga balasan dari so eun. Dengan kesal kim bum bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kelasnya so eun.

Entah apa yang merasuki diri so eun, disaat teman-temannya yang lain pergi ke kantin untuk makan, ia malah berdiam diri di kelas. Bahkan so eun pun menolak ajakan bo young dan hye rim. Saat ini so eun sedang mencoba untuk belajar. Meskipun cukup sulit baginya untuk membiasakan hal ini, tapi ia punya tekad sendiri ingin berhasil dalam ujian tanpa mengikuti ujian ulang. Dan satu yang paling ia inginkan diantara alasan-alasan lain, yaitu ia ingin bisa satu kelas dengan kim bum. Siapa tahu jika ia belajar dengan sungguh-sungguh dan mendapat nilai baik dalam ujian, ia akan masuk ke kelas terbaik bersama dengan kim bum. Kini so eun tampak sibuk mempelajari rumus-rumus matematika, setelahnya ia juga mengerjakan latihan-latihan soal. Sangat sulit memang bagi so eun, terlebih ia paling buruk dalam pelajaran matematika.
“wooooah soal latihan ini benar-benar memojokkanku? Tidakkah ada yang lebih mudah???” omelnya seakan ia memaki buku-buku itu di depan matanya.
“so eun-ah, kim bum-ssi mencarimu !” ujar salah satu temannya pada so eun.
eh?” bingung so eun. Lalu ia mengarahkan pandangannya menuju pintu. Disana ia sudah melihat kim bum berdiri seraya melipat kedua tangannya dengan ekpresi yang tidak bersahabat. So eun tidak tahu apa alasannya kim bum mencarinya, dan kenapa ekspresi wajahnya seperti itu. Dengan segera so eun pun menghampirinya.
“kim bum-ssi? Ada apa? tak biasanya kau mencariku.” Tanya so eun dengan wajah polosnya. Tanpa basa-basi lagi kim bum langsung memencet hidung so eun dengan gemas.
“Ouuuch…..” so eun berusaha melepaskan tangan kim bum yang memencet hidungnya. “lepaskan kim bum-ssi ! s…sakit ouch….” Mohon so eun.Teman-teman so eun yang berada di dalam kelas memerhatikan mereka berdua. Barulah kim bum melepaskan tangannya. So eun langsung memegang hidungnya, hidungnya jadi memerah kini.
“kenapa kau tak membalas pesan dariku? Istirahat sudah hampir selesai, kau tahu?” kesal kim bum.
“eh?” so eun bingung. “kau mengirimiku pesan?” tanya so eun. Bukannya menjawab, kim bum malah menatap so eun dengan tatapan kesal.
“aaaaa mian-mian…..ponselku di simpan di dalam tas jadi aku tak menyadarinya.” Ujar so eun cepat.
“tsk…..”
“eheheh memangnya pesan apa yang kau kirim? Adakah sesuatu yang penting?” tanya so eun. kim bum menghela nafasnya.
“kau bawa bekal?” tanya kim bum tak mengindahkan pertanyaan so eun.
“bekal? A….ani…aku bangun kesiangan jadi tidak sempat membuat bekal.”Jawab so eun.
“lalu?” tanya kim bum.
“eh? Lalu?” tanya balik so eun bingung. Kim bum membuang nafasnya dengan kesal.
“lalu apa kau tidak ke kantin atau semacamnya? Aku tadi menunggumu, tapi kau tak kunjung datang juga. Aku sudah sangat lapar, kau tahu?” jelas kim bum dengan nada sedikit kesal.
“ooo….jadi kau menungguku? Miaaaaan~” so eun merapatkan kedua telapak tangannya dan menatap kim bum dengan tatapan memohon.
“heeehh…” lagi dan lagi kim bum hanya menghela nafasnya.
“kalau begitu ayo pergi ke kantin ! jangan membuatku kesal karena lapar ! sebentar lagi istirahatnya pun akan berakhir.” Ajak kim bum yang hendak berjalan lebih dulu. Tapi so eun malah menahan lengan kim bum dengan gerakan cepat. Kim bum menatap so eun heran. “wae?” tanyanya.
“Ummm~~~ miaaaaan, aku tidak bisa menemanimu ke kantin sekarang ini, aku sedang sibuk kim bum-ssi. Jadi kau makan sendiri saja, arasseo?Tidak apa-apa kan?” ujar so eun.Kim bum tak menjawab dan malah menatap so eun dengan aneh.
“Wae? Kenapa lagi?” tanya so eun karena kim bum hanya menatapnya saja. “yasudah sana cepat kau pergi ke kantin ! sebelum bel masuk berbunyi !!” so eun mendorong-dorong punggung kim bum untuk segera pergi. Kim bum tidak menolak atau apa, ia hanya pasrah saja kali ini.
“kalau begitu, selamat maaaakaaan, jangan pikirkan aku ne?” ujar so eun lalu ia segera kembali masuk ke dalam kelasnya. kim bum terdiam beberapa saat di tempatnya berdiri.
“ada apa dengannya? Dia aneh sekali.” Gumam kim bum.

 

-today love is begin-

 

“so eun bahkan melewati waktu makan hanya untuk belajar, aku rasa dia sangat bersungguh-sungguh kali ini.” ujar bo young dengan mulut yang penuh dengan makanan.
“yeah kau benar.” Balas hye rim seraya mengaduk-aduk jus jerus dengan sedotan. Lalu tak sengaja matanya menangkap kim bum yang tengah makan sendirian.
“Eo…bukankah itu kim bum-ssi?” Tanya hye rim dengan mata yang menatap ke tempat duduk kim bum.
“Ne?Dimana?” Tanya bo young. Hye rim menunjuk dengan tangannya.
“Ah benar, itu kim bum-ssi.” Ujar bo young. “Bahkan so eun membiarkan kim bum-ssi makan sendirian demi belajar ckckck.” Lanjutnya. Hye rim hanya mengangguk. Lalu mereka berdua malah memilih memerhatikan kim bum dengan seksama, tak memperdulikan lagi makanan mereka yang sudah tersisa sedikit.
“Kim bum-ssi kelihatan sedang tidak senang.”Ujar hye rim.Ia melihat ekspresi wajah kim bum ketika makan tampak tidak berselera, sesekali ia juga melihat kim bum mengerutkan keningnya.
“Bahkan aura di sekelilingnya pun menjadi hitam.” tambah bo young. “Mungkin dia kecewa karena so eun menolak untuk makan bersama dengannya.” Pikir bo young.
“Hmmm…mungkin saja.” Balas hye rim. Tepat pada saat mereka masih memperhatkan kim bum sambil mengomentarinya, mata kim bum menatap ke arah mereka berdua.
“Ah dia melihat ke arah kita?” Tanya hye rim kalem. Bo young mengangguk. Tapi setelah mereka sadar tatapan kim bum menjadi menyeramkan, mereka berdua langsung memalingkan wajah dan berpura-pura makan kembali.
“Tsk…..ada apa dengan dua wanita itu? Membuatku tambah kesal !” Ujar kim bum menyudahi aktifitas makannya.

 

-today love is begin-

 

Sepulang sekolah

“Mworago?” Tanya ulang kim bum. Ia menatap so eun dengan bingung.
“Miaaaan~” so eun merapatkan kedua telapak tangannya.”Aku tidak bisa pulang bersama denganmu sekarang ini, miaaaan~ aku ada urusan.”Ujar so eun.Kim bum masih menatap so eun.”Ada sesuatu yang harus aku kerjakan, jadi kau pulang sendiri saja, ne?”Lanjut so eun.
“Heh, sejak kapan kau punya urusan?” Ejek kim bum.
“Sudahlah, kau tidak perlu tahu apa urusanku.”Balas so eun. Kim bum mengerutkan keningnya. “Ah aku bisa telat~.” So eun menepuk jidatnya sendiri setelah melihat jam tangannya. “Kalau begitu aku pergi lebih dulu ne kim bum-ssi, aku buru-buru….annyeong….” so eun melambaikan tangannya dan segera pergi menghindar dari kim bum.
Kim bum masih menatapi punggung so eun dengan kening berkerut.”Kenapa hari ini dia menjadi aneh?” Gumam kim bum.
So eun berhenti berlari dan memilih bersembunyi di belokan koridor.Nafasnya sedikit ngos-ngosan.
“Fiiuuhhh….” so eun merasa lega karena ia berhasil membohongi kim bum.
“Bagaimana pun juga aku tidak ingin dia menganggapku begitu bodoh, aku harus bisa belajar sendiri.”Gumam so eun. Lalu ia sedikit menyembulkan kepalanya dari balik dinding melihat ke tempat dimana tadi kim bum berada. So eun sudah tidak melihat kim bum disana yang berarti kim bum sudah pergi.
“Baiklah….sudah aman….” ujarnya lalu ia keluar dari persembunyian dengan mengendap-endap. Setelah memastikan kim bum benar-benar pergi, barulah so eun ngacir menuju lantai tiga.

 

Kim bum berjalan sendirian, semenjak so eun tidak bisa pulang bersamanya kim bum jadi merasa bosan karena tidak ada orang yang begitu cerewet di dekatnya dan ia tidak bisa mengejek so eun habis-habisan. Lalu dengan begitu saja suatu tempat terlintas di kepalanya.Kim bum pun memutar arah dan kembali. Ketika di persimpangan koridor, ia tak sengaja bertemu dengan nirin.
“Oh kim bum-ssi?” Sapa nirin.
“Ah hey.” Sapa balik kim bum.
“Kau belum pulang?Kemana so eunni?Kenapa kau tidak bersamanya?”Tanya nirin beruntun.
“Gadis itu ada urusan.” Jawab kim bum.
“Oh arasseo.”Balas nirin.
“Kau sendiri kenapa masih ada disini?” Tanya kim bum. Sekolah memang sudah agak sepi.
“Aku ingin meminjam beberapa buku di perpustakaan, mengingat sebentar lagi ujian kenaikan kelas akan segera dilaksanakan.”Jawab nirin. Kim bum mengangguk.
“Kebetulan aku juga hendak akan ke sana.” Balas kim bum.
“Oh….kalau begitu ayo kita ke perpustakan bersama !”Ajak nirin. Kim bum mengangguk lalu mereka pun berjalan bersama menuju perpustakaan.

 

Setelah memilih beberapa buku di lemari, so eun pun duduk di bangku paling pojok di perpustakaan. Dengan alasan ia ingin mencoba untuk fokus dan serius. Kali ini so eun memilih belajar matematika, bahasa inggris, dan juga kimia.Yeah dia memang anak sains meskipun otaknya tak terlalu memenuhi kriteria untuk masuk ke jurusan sains.
“Semangaaat….kau pasti bisa Kim so eun !!!”So eun mengepalkan tangannya di udara lalu mulai membuka buku pelajaran bahasa inggris.

 

Kim bum dan nirin sedang sibuk mencari dan memilih beberapa buku yang mereka butuhkan.
“Kau membutuhkan buku apa saja kim bum-ssi?” Tanya nirin sambil memilih-milih buku matematika yang paling bagus.
“Hanya beberapa buku bacaan.” Jawab kim bum yang masih sibuk mencari.
“Eh? Jadi kau tidak meminjam buku pelajaran?”Tanya nirin.
“Aku hanya memanfaatkan catatanku saja, lagipula aku lebih mengerti apa yang aku tulis di buku catatan dari pada di buku paket.” Jawab kim bum.
“Hmm…arasseo…bagaimanapun juga kau memang siswa pintar jadi tak terlalu membutuhkan buku paket haha.” Ujar nirin.
“Sesekali aku hanya butuh buku bacaan untuk membuang rasa jenuh setelah belajar.” Balas kim bum. Nirin menatap kim bum takjub.
“kau bahkan memilih membaca buku saat kau jenuh, aku malah akan lebih memilih bermain game, tidur, atau semacamnya.” Ujar nirin.
“Ah dimana buku kimia?”Tanya nirin terlebih pada dirinya sendiri. Lalu ia pun melihat papan kecil dengan tulisan kimia di rak paling atas. Karena tubuh nirin yang kurang tinggi ia pun mengambil kursi khusus untuk mengambil buku-buku yang di simpan di rak paling atas, setelah itu ia menaikinya.

 

“Aigoooo~~” so eun mengacak-acak rambutnya.”Sudah hampir 10 menit aku membaca tapi tak ada satu pun kata yang aku mengerti, apa aku ini sebegitu bodohnya?”So eun merutuki dirinya sendiri.”Aku butuh kamus….aku harus mencarinya.” Ujarnya lalu bangkit berdiri untuk mencari kamus.

 

“Apa kau tidak memberi tahu so eunnie jika ujian kenaikan kelas sebentar lagi? Aku khawatir dia lupa dan nantinya akan mengikuti ujian ulang.”Ujar nirin seraya sibuk memilih-milih dan melihat buku kimia dengan terbitan paling baik.
“Gadis seperti dia hanya akan mengeluh jika mengetahuinya.” Balas kim bum. “Tapi aku akan mencoba berbicara dengannya.”Lanjutnya.
“Bagaimana pun juga, selama aku kenal dengan so eunni, dia punya semangat yang luar biasa, meskipun otaknya hanya sedikit yang bekerja.”Ujar nirin.
“Yeah…..otaknya begitu lamban.” Balas kim bum.
Tiba-tiba ada seorang siswa yang berjalan begitu terburu-buru hingga ia tak sengaja menyenggol kursi yang dinaiki nirin hingga kursi itu pun oleng dan nirin kehilangan keseimbangan. Siswa yang menyenggol pun hanya mengucapkan ‘maaf’ saja dan langsung pergi.Sepertinya memang ada sesuatu yang sangat penting sehingga siswa itu buru-buru pergi.
“Omo !!! Hwaaa…..” nirin sudah benar-benar kehilangan keseimbangan dan ia pun jatuh menimpa kim bum. Kim bum juga tidak keburu menahan tubuh nirin hingga ia juga terjatuh duduk ke lantai.

 

“Aiishh…dimana mereka meletakkan kamus korea-inggris???”Tanya so eun pada dirinya sendiri. Saat ia mencari kamus itu ternyata ia tak sengaja melihat nirin dan kimi bum. So eun kaget karena kim bum juga ternyata berada di perpustakaan. Yang lebih kagetnya lagi adalah saat so eun melihat nirin terjatuh dan menimpa tubuh kim bum. Apalagi sesuatu yang tidak ingin ia ketahui, tidak ingin ia lihat, dan tidak ingin hal itu terjadi, terlihat dengan jelas oleh mata kepalaya sendiri. Ia melihat bibir nirin menyentuh bibir kim bum. Sukses membuat so eun shock berat !!!! Matanya membulat sempurna, mulutnya terbuka lebar, dan ia mematung di tempat.

 

Kim bum dan nirin sama-sama membulatkan mata mereka akibat kecelakaan yang terjadi sekarang ini. Insiden ciuman ini memang sangat sangaaaat tidak di sengaja, dan mereka berdua sangaaaaaat tidak mengharapkan hal ini terjadi.Tapi mau bagaimana lagi toh sudah begini jadinya.Nirin dengan cepat langsung menjauhkan wajahnya. Dan tiba-tiba saja……
Buk~~~ sesuatu telah terjatuh. Ternyata so eun yang masih shock melihat kejadian ini tak sengaja menjatuhkan buku catatan kecil miliknya yang ia bawa. Kim bum dan nirin langsung melihat ke asal suara dan sama-sama terkejut melihat so eun ada disana. Mata kim bum dan nirin membulat dengan sempurna.
‘Mungkinkah dia melihatnya?’ Batin kim bum khawatir.
Menyadari kim bum dan nirin menyadari keberadaanya, dengan cepat so eun pun kabur dari sana masih dengan wajah shocknya. Kim bum dan nirin sama-sama segera bangkit dan berdiri.
“M…mian kim bum-ssi.” Ujar nirin canggung.
“Ah ya….apa kau baik-baik saja?” Tanya kim bum.
“Ah iya….” jawab nirin.Suasana di antara mereka berdua jadi sangat canggung. Terlebih so eun melihat insiden barusan, membuat kim bum maupun nirin khawatir.
“B..bagaimana dengan so eunni, dia mungkin melihatnya tadi.” Ujar nirin was-was dan khawatir.
“Gwaenchana, aku akan berbicara dengannya.” Balas kim bum kalem. Padahal sebenarnya hatinya tidak tenang.
“Eh?” Nirin menatap kim bum.
“Jika kau yang bicara padanya, mungkin saja akan terasa sulit untukmu semenjak kau adalah sahabat dekatnya kan? Mungkin saja dia juga akan sulit mengerti. Jadi lebih baik aku saja yang bicara padanya.” Jelas kim bum.
“B..baiklah, meskipun aku masih ragu dan takut apakah dia akan marah padaku dan tak ingin mengenaliku lagi atau tidak.” Ujar nirin. “Tapi…….”
“Aku harus pergi.” Potong kim bum. Ia sepertinya harus mengejar so eun dan berbicara dengannya. Lalu kim bum pun segera pergi dari perpustakaan.
Nirin memegangi keningnya. “Aku sangat khawatir.” Ujarnya.

 

-today love is begin-

 

Kim bum mencoba menghubungi so eun beberapa kali, tapi telpon darinya tak kunjung di angkat juga. Kim bum juga mencoba mencari so eun siapa tahu so eun belum terlalu jauh dari sekitar sekolah, tapi kim bum tak juga menemukannya.
“Haaahh…..” kim bum membuang nafas beratnya. “Dia pasti akan salah faham dan berujung marah.” Gumam kim bum. Kini ia mencoba menghubungi so eun satu kali lagi tapi masih tak diangkat juga oleh so eun. Pada akhirnya kim bum pun memilih mengirimkan pesan.

 

Ada dimana kau sekarang? Mari kita bicara !

 

Pesan yang diketik kim bum berhasil terkirim. Tapi sudah sekitar 10 menit berlalu tak juga ada balasan. Kim bum mendesah. “Pasti dia memang salah faham.” Ujarnya.

 

-today love is begin-

 

So eun sendiri duduk lemas di bangku kayu di pinggir jalan. Ia mengabaikan beberapa panggilan dari kim bum. Ia menatap lurus ke depan dengan mata kosong, sedari tadi ia juga malah melamun. Melihat kejadian dimana bibir kekasihnya-kim bum menyentuh bibir sahabat baiknya-nirin membuatnya benar-benar shock….!!!! Pikiran-pikiran aneh mulai memenuhi otaknya, dimulai dari kemungknan nirin akan menyukai kim bum, kim bum yang meninggalkannya karena nirin lebih baik daripada dirinya yang gadis bodoh, mereka saling menyukai, dan….dan…dan……
“WAAAAAAA ANDWAEEEE !!!” So eun tiba-tiba berteriak sangat kencang sehingga membuat para pejalan kaki memusatkan perhatian padanya. Mereka menatap aneh ke arah so eun, sementara yang diperhatikan malah tidak peduli.
“Eotteokae???? Eotteokae? Bagaimana jika semua itu terjadiiii????” So eun mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
“ANDWAEEE !!! AKU TIDAK MAU !!!”

 

-today love is begin-

 

Keesokan harinya, Chungju Highschool

Semenjak dari tadi pagi, mulai pelajaran pertama dimulai sampai waktu istirahat tiba, so eun terus saja murung, ia tak semangat seperti biasanya. Bahkan bo young dan hye rim yang menyadari hal itu pun merasa aneh. Lalu ia melihat so eun perlahan bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kelas dengan lemas.
“So eun-ah kau mau kemana?” Teriak bo young. So eun tak menjawab dan ia hampir saja menabrak dinding di dekat pintu keluar.
“So eun-ah….” bo young segera menghampiri so eun diikuti hye rim di belakangnya.
“Ada apa denganmu? Kau tidak apa-apa?” Tanya bo young.
“Iya….aku tidak apa-apa.” Balas so eun dengan lemas.
“Hehhh…” hye rim menghela nafasnya. “Ayo kita makan di kantin !” Ajaknya.
“Kajja so eun.” Bo young menarik tangan so eun. Tapi so eun menahannya.
“Maaf, tapi aku sedang ingin menyendiri.” Tolaknya lalu pergi meninggalkan mereka dengan langkah gontai.
‘Aku sudah berusaha melupakannya, tapi kenapa kejadian kemarin masih terngiang-ngiang di kepalaku.’ Batin so eun. Ia pun memilih atap sekolah untuk menjadi tempatnya menyendiri.
So eun memojokkan dirinya dengan duduk di sudut dinding atas sekolah setinggi 1,2 meter itu. Entah kenapa ia merasa dirinya begitu menyedihkan. Meskipun semalaman kim bum terus menghubunginya dan mengirimkan beberapa pesan tapi tak ada satupun yang ia angkat maupun ia baca. So eun memeluk kedua lututnya dan tatapannya kembali kosong.
‘Kenapa aku sangat merasa terganggu? Itu hanya kecelakaan kan?’ Batinnya. Di sekitarnya pun sudah bermunculan aura-aura gelap seperti suasana hatinya sekarang ini.
“Operasi plastik, huh? Dengan teknologi canggih mungkin para ahli bisa mengembalikan bentuk bibir mereka ke keadaan semula sebelum mereka berciuman, kan? Mungkin saja itu bisa dilakukan, kan?” Gumam so eun.
“Jika saja aku punya mesinnya, aku sendiri yang akan melakukannya.” So eun semakin ngaco saja.
“Waaaa apa yang ada di kepalaku???? Kenapa aku menjadi begitu menyedihkan dan depresi seperti ini????” So eun memegangi kepalanya frustasi.
“Aku harus melupakannya, itu hanya kecelakaan ! Hanya kecelakaan !!!” Ujarnya.
Tap tap tap~~~ ada suara langkah kaki yang mendekat. Begitu so eun mengangkat kepalanya perlahan, ia melihat sosok kim bum tengah berdiri de depannya.
“Akhirnya aku menemukanmu juga.” Ujar kim bum.
“HUAAAAAAA……!” So eun malah berteriak kaget dan langsung berdiri.
“Kenapa kemarin kau tak juga mengangkat telpon atau membalas pesan dariku, huh? Aku perlu bicara denganmu !” Ujar kim bum.
“Ani !!! Aku baik-baik saja, aku tak terlalu memikirkan kejadian itu, aku sudah melupakannya !” Balas so eun cepat. Kim bum menatap so eun aneh.
“Ah ya aku pergi !” So eun buru-buru kabur tanpa kim bum sempat mencegahnya. Kim bum menatap kepergian so eun dengan kecewa bercampur kesal.
“Tsk….” kesalnya.

 

-today love is begin-

 

Di setiap so eun bertemu dengan kim bum, atau berpapasan dengannya, so eun malah terus saja kabur dan menghindar tanpa alasan. Membuat kim bum kebingungan dan tidak nyaman dengan reaksi so eun seakan dia seperti hantu ataupun penjahat yang membuat so eun takut. Mulai saat tadi ketika di atap gedung sekolah, mereka tak sengaja bertemu saat sama-sama keluar dari toilet, lalu saat berpapasan di koridor, saat di ruang guru, dan sebagainya so eun terus saja kabur.

 

Bel pulang sudah berbunyi. Kim bum langsung menuju kelasnya so eun dan berdiri menyender di dinding seraya menunggu so eun keluar. Saat ia menunggu so eun, lalu datanglah nirin menghampririnya.
“Kim bum-ssi?” Panggil nirin.
“Ah, kau nirin-ssi.” Balas kim bum. Lalu kim bum menghela nafas.
“Dia masih belum mau berbicara denganku, mana bisa aku bicara dengannya ketika dia selalu kabur dariku seperti itu?” Kesal kim bum.
“Aku rasa ini memang sulit untuk ia terima, tapi aku juga akan berusaha berbicara dengannya. Tak hanya kau, dia juga menghindariku. Aku tidak ingin hubunganku dengan so eunni menjadi canggung.” Balas nirin.
Tak lama dari itu so eun pun keluar dari kelasnya dengan langkah gontai. Ia tak menyadari ada kim bum dan nirin yang menunggunya.
“Oiii….” panggil kim bum.
Deg~~~ so eun langsung mengangkat wajahnya. Ia melihat ada kim bum dan nirin.
“HUAAAA !!!” So eun kembali berteriak dan hendak kabur lagi, tapi kim bum keburu menahan tangannya.
“Jangan terus-terusan menghindar seperti itu !” Ujar kim bum. So eun menunduk.
“Aku sudah menunggumu, jadi ayo pulang bersama !” Ajak kim bum seraya menarik tangan so eun. Kali ini so eun mencoba pasrah. Nirin pun mengikuti dari belakang.
“Tapi bisakah…..kau melepaskan tanganku?” Pinta so eun. Kim bum melirik so eun lalu mengendurkan pegangan tangannya. Kini so eun pun melepaskan tangan kim bum dari tangannya. Kim bum menghela nafas lalu kembali berjalan. So eun mengikutinya dari belakang dengan langkah pelan, nirin mensejajarkan langkahnya dengan so eun. Nirin ingin bicara, tapi melihat so eun yang murung seperti itu, ia jadi mengurungkan niatnya. Kim bum menoleh ke belakang, so eun berjalan sangat pelan dan tertinggal jauh darinya.
“Yak ! Percepatlah sedikit langkahmu ! Aku akan pegi meninggalkanmu jika kau seperti ini !” Kim bum terpaksa mengancam agar so eun mempercepat langkahnya. Bukannya lebih cepat, so eun malah menghentikan langkahnya.
“Gwaenchana, kau bisa pergi !” Balas so eun lemas. “Aku ingin menyendiri untuk mendinginkan kepalaku.” Lanjutnya dengan kepala yang tertunduk.
Kim bum membuang nafas kesal dengan reaksi so eun tersebut.
“Sampai kapan kau akan terus seperti ini huh??? Menjadi sangat murung karena hal yang tidak penting, tidak akan mengubah apapun !!!” Lanjut kim bum.
“Kim bum-ssi, kata-katamu terlalu……” sanggah nirin.
“INI BUKAN KEINGINANKU MENJADI MURUNG DAN MENYEDIHKAN SEPERTI INI, KAU TAHU !!!??” Teriak so eun, memotong perkataan nirin. Kim bum dan nirin sama-sama terkejut.
“Aku tahu aku tidak bisa melakukan apa-apa tentang apa yang sudah terjadi kepada kalian ! Aku sedang berusaha untuk kembali kepada diriku yang sebelumnya ! Bersikap normal dan bersikap seperti biasa seperti aku tidak pernah melihat kejadian itu ! Tapi…..sampai saat ini aku masih belum bisa melakukannya ! Orang yang sangat merasa terganggu kali ini adalah diriku sendiri.” Ujar so eun panjang lebar. Bukannya membalas perkataan so eun, kim bum malah berjalan mendekat dan melihat wajah so eun dengan seksama. Menyadari hal itu so eun langsung mundur dan mencegah kim bum semakin mendekat.
“Hey…..” panggil kim bum.
“A…..miaaaan~” dengan cepat so eun menutup wajahnya dengan telapak tangannya. “Sudah cukup.” Lanjutnya.
“Hah?” Kim bum bingung.
“A…ani, jangan dengarkan perkataanku ! Soal sikapku, aku akan menenangkan dan menyelesaikannya oleh diriku sendiri ! Aku benar-benar minta maaf !” Ujar so eun.
Kim bum menatap so eun tidak mengerti. “Apa maksudmu?” Tanyanya.
“A..ani….gwaenchana !!! Kalau begitu, sampai jumpa besooook !!!” So eun lagi dan lagi lari kabur dari kim bum.
“Yak hei So eun !!” Teriak kim bum. Namun ia tak sempat untuk mengejarnya. Akhirnya Kim bum dan nirin pun terdiam di tempat mereka.
“Dari reaksinya, ternyata dia masih curiga kepada kita huh….sangat mudah untuk membaca pikirannya.” Ujar nirin. “Yeah dia bilang akan menenangkan dirinya sendiri, jadi tidak ada salahnya kita membiarkannya.” Lanjutnya.
“Tch…..” kim bum malah berdecak lalu pergi meninggalkan nirin.
“Eh? Apa kau akan pergi mengejarnya?” Tanya nirin.
“Jika aku membiarkannya maka semuanya tidak akan selesai, kan?” Balas kim bum seraya menolehkan wajahnya kepada nirin lalu ia melanjutkan langkahnya. Mendengar jawaban kim bum, nirin pun tersenyum.
“Dari cara kim bum-ssi berbicara, dia hanya tidak bisa meninggalkan so eun sendirian.” Gumamnya masih dengan tersenyum.

 

-today love is begin-

 

So eun baru saja mengunci lokernya setelah ia mengambil buku catatan yang ia perlukan untuk di rumah nanti. Ia masih terlihat murung.
“Oooiii, gadis murung yang berdiri disana !!” So eun shock dan langsung menegakkan punggungnya mendengar suara kim bum.
“Aku belum selesai bicara denganmu !” Ujarnya. Tanpa menengok ke arah kim bum, so eun langsung mengambil ancang-ancang dan berlari sekencang mungkin.
“Yak….jangan lari !!!” Cegah kim bum lalu ikut mengejar so eun.
“Aku bilang jangan lari !!!” Kim bun berhasil meraih lengan so eun. “Waaaa….” so eun berteriak.
“Apa kau sedang bermain-main denganku!? Membuatku berlari untuk mengejarmu !?” Kesal kim bum.
“A…aku tidak tahu !!! Itu karena kim bun-ssi mengejutkanku , padahal aku sudah bilang aku baik-baik saja ! Aku akan menenangkan diriku dan menyelesaikannya dengan sendiri !” Balas so eun. “Pergilaaah !” Suruh so eun seraya melepaskan tangan kim bum yang menahan tangannya. Lalu so eun memilih menutup wajahnya dengan kedua lengannya.
“Jangan menghindariku !!” Kim bum mengambil kedua tangan so eun dengan tangannya. Ia lalu menatap mata so eun serius.
“Katakan padaku sekarang !” Suruh kim bum. So eun memalingkan wajahnya dari kim bum.
“Ani……sudah aku bilang aku tidak apa-apa !” Tolak so eun.
“Katakan ! Apa yang kau pikirkan sampai kau terus kabur dan menghindar dariku?” Pertanyaan kim bum mulai melunak. Ia masih menatap so eun serius. So eun perlahan membalas tatapan kim bum.
“Aku……aku rasa…..aku iri dengan nirin….” ujar so eun akhirnya.
“Hah? Tapi itu hanya……” ujar kim bum.
“Itu karena semenjak waktu itu, setelah dari zone park…..” so eun memotong perkataan kim bum. “Kau belum pernah menciumku lagi, jadi…..” so eun tak melanjutkan kata-katanya. Setelah ia mengatakan soal ‘cium’ kepada kim bum, ia jadi merasa malu sendiri. Kim bum pasti sangat jijik dan merasa terganggu dengan perkataannya barusan. Jadi ia memilih untuk diam. Namun tiba-tiba………
CUP~~~
Kim bum mendaratkan ciuman cepat di bibir so eun. So eun membulatkan matanya karena kaget. Ia tak menyangka kim bum akan menciumnya disaat suasana seperti ini. So eun langsung merapatkan bibirnya dengan kening berkerut. Kim bum menatap aneh so eun.
“Ekspresi macam apa itu? Tak bisakah kau membuat ekspresi yang lain?” Ujar kim bum.
“I…itu karena….aku sangat bingung~~~” balas so eun. Kim bum mengerutkan keningnya.
“Di samping aku senang dengan kejadian barusan, tapi aku juga merasa aku seperti orang yang begitu bodoh !” Lanjutnya.
“Kau memang bodoh !” Balas kim bum. So eun menatap kim bum perlahan.
“Semua laki-laki punya hasrat untuk mencium perempuan, tapi tidak denganku tanpa beberapa ‘alasan’. Kejadian kemarin hanyalah sebuah kecelakaan ! Aku maupun nirin-ssi benar-benar tidak menduganya, jadi jangan membuat dirimu murung dan menyedihkan lagi karena hal yg tidak penting, arasseo?” Nasehat kim bum. So eun hanya menatap kim bum dengan polos, lalu mengangguk pelan.
“Janganlah untuk mencoba menghindariku lagi ! Aku benar-benar tidak nyaman dengan sikapmu yang seperti itu !” Perintah kim bum. So eun kembali menangguk dengan pelan lagi. Ia kini menatap mata kim bum dengan ekpresi tanpa dosanya. Kim bum tidak tahan dengan ekspresi imut so eun seperti itu, ia lalu perlahan mendekatkan wajahnya pada so eun dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celana-gaya cool. So eun pun memejamkan matanya, dan mereka berciuman kembali dan kali ini cukup lama.

 

-today love is begin-

 

Akhirnya, setelah masa perjuangan so eun dalam belajar tanpa bantuan kim bum. Ia pun bisa mengerjakan soalnya dengan cukup lancar meskipun masih ada beberapa soal yang cukup sulit bagi so eun. Ia cukup bangga dengan dirinya sendiri. Setelah ia di beri vitamin macam ‘ciuman’ oleh kim bum sekitar 1 bulan yang lalu, semangatnya dalam belajar jadi menggebu-gebu dan menuai sukses saat ia menghadapi soal-soal ujiannya. Hari ini ujian hari terkahir pun selesai. So eun berjalan keluar kelas dengan senang. Ia berpapasan dengan nirin di koridor.
“Nirin-ahhh~~~” so eun merangkul lengan nirin. Nirin menatap aneh so eun.
“Waeyo? Kau tiba-tiba seperti ini?” Tanya nirin. So eun malah tak memberikan jawaban.
“Bagaimana dengan ujiannya menurutmu?” Tanya nirin.
“Lumayaaaaan, aku bisa mengerjakannya !” Balas so eun dengan senyum cerahnya.
“Ah begitukah? Syukur kalau begitu.” Balas nirin. Saat mereka sedang asyik mengobrol, muncullah kim bum.
“Ah kim bum-ssi.” Panggil so eun.
“Kau bisa mengerjakan soalnnya gadis ceroboh?” Tanya kim bum.
“Tentu~~~.” Jawab so eun cepat.
“Baguslah kalau begitu, jangan permalukan aku jika nanti kau ikut ujian ulang lagi.” Ujar kim bum.
“Tidak akan !!! Kali ini nilaiku akan memuaskan !” Bantah so eun.
“Um yeah yeah…..” kim bum hanya angguk-angguk.
“Ah ya….ini berarti setelah pengumuman nilai ujian, akan libur pajang kan?” Tanya so eun. Nirin menatap so eun.
“Setelah ujian selesai, kita akan punya banyak waktu untuk bermain nirin-ah….ayo kita habiskan waktu untuk jalan-jalan dan bermain nirin-ah….!” Ajak so eun. Mereka punya waktu dua minggu untuk berlibur.
“Tapi, sepertinya aku tidak bisa menghabiskan waktuku sesering mungkin denganmu so eun-ah.” Balas nirin.
“Waeyo? Apa kau akan berlibur dengan keluargamu?” Tanya so eun. Kali ini pihak laki-laki (kim bum) diabaikan oleh mereka yang asyik mengobrol.
“Kami sekeluarga akan pergi ke rumah nenekku di Busan, mian.” Jawab nirin.
“Ah….arasseo…..” so eun mengangguk mengerti. Lalu so eun teringat dengan kim bum. Ia langsung memasang wajah cerah menatap kim bum.
“Kalau begitu, kim bum-ssi…..kau pasti punya banyak waktu di hari libur nanti kan?” Tanya so eun.
“Hmmm.” Kim bum mengangguk. So eun tersenyum.
“Ah ya….ngomong-ngomong……kau pernah bilang kau sudah lama tak bertemu dengan ibumu, kan?” Tanya so eun, mengingatkan pada ibunya.
“Siapa yang bilang seperti itu?” Raut wajah kim bum berubah menjadi kesal.
“Tentu saja kau ! Waktu itu kau bilang ibumu tinggal jauh darimu.” Balas so eun. Kim bum diam.
“Apakah kau akan pergi menemui ibumu liburan nanti?” Tanya so eun.
“Tidak !” Jawab kim bum cepat. “Aku tidak ingin menjadi dekat dengannya !” Tambah kim bum dengan ekspresi wajah yang berubah tidak bersahabat. So eun menatap kaget kim bum.
“Ah….a….arasseo….” balas so eun. Ia tahu kim bum memang sudah lama tidak bertemu dengan ibunya. Tapi alasan kenapa ibunya tinggal jauh dengannya, belum so eun ketahui.
“Kim bum-ssi, memangnya dimana ibumu tinggal?” tanya nirin.
“Daegu.” Jawab kim bum singkat.
“Bukankah akan lebih baik jika pergi kesana untuk menemuinya meskipun hanya sebentar? Kenapa kau tidak mau pergi?” Nirin rupanya tak bisa membaca ekspresi wajah kesal kim bum. Ia malah bertanya hal yang mungkin tidak ingin kim bum jawab.
“Ah nirin-ah, kim bum-ssi pasti punya alasan sendiri kenapa ia tidak mau pergi hehe.” Malah so eun yang menjawab, ini ia lakukan agar kim bum tak berujung marah.
“Aku sedang tidak ingin membicarakannya.” Ujar kim bum. Nirin mengangguk mengerti.
Tapi tiba-tiba kim bum menghentikan langkahnya saat ia menangkap seseorang yang tidak asing di matanya sedang berdiri beberapa meter di depannya.
“Waeyo kim bum-ssi?” Tanya so eun heran. Ia melihat ekspresi kaget di wajah kim bum. Kim bum tidak menjawab, lalu so eun pun memilih mengikuti arah pandangan kim bum. So eun melihat ada seorang perempuan dengan perawakan tinggi sekitar 168 cm berjalan menghampiri mereka. Perempuan itu memakai kacamata dan terlihat begitu fashionable dengan baju-baju dan aksesoris yang ia kenakan. Perempuan itu juga terliat cantik dan mempesona.
Perlahan, wanita itu membuka kacamatanya, dan matanya menunjukkan kekagetan saat melihat kim bum.
“Bum-ah? Kim bum-ah???” Panggilnya dengan wajah kaget. Kim bum juga masih menunjukkan wajah kagetnya. Sekarang so eun juga ikutan kaget. Sementara nirin tidak mengerti dengan situasi seperti ini.

 

Apa yang akan terjadi lagi dengan kisahku dengan kim bum-ssi…..setelah semua masalah terselesaikan satu persatu, apakah masalah baru akan muncul lagi???? Perempuan itu? Siapa perempuan itu? Apakah perempuan itu perempuan di masa lalunya kim bum-ssi? Aku tidak pernah melihat kim bum-ssi sekaget ini. OH MY GOD !!!! Jika itu benar, apa yang akan terjadi denganku?

To Be Continued

 

Mian jika ceritanya kurang menarik dan terlalu monoton. Tapi saya harap kalian menyukainya dan meninggalkan komen di ff ini.

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya.

 

Curhat : Alhamdulillah berkat doa dari semuanya akhirnya pada tanggal 20 Mei 2014 saya dinyatakan lulus dari SMA dan Alhamdulillah dengan nilai yang cukup memuaskan. Alhamdulillah juga saya bisa diterima di UNPAD Prodi Tekpang lewat jalur SNMPTN :D Hasil yang begitu membuat saya senang setelah selama ini berusaha dan berdo’a hehehe. Setelah melewati masa ‘galau’ dan perasaan yang tak karuan saat menunggu hasil pengumuman SNMPTN, dengan ragu-ragu saya coba buat cek di webnya pada tanggal 27 Mei 2014 dan akhirnya dinyatakan luluuuuus…..saya sampai nangis karena terharu hehehe gak nyangka banget soalnya. Sekali lagi terimakasih ya bagi readers yang sudah mau mendo’akan…..semoga ini adalah jalan terbaik yang diberikan ALLAH SWT kepada saya dan semoga saya bisa menjalankannya dengan baik karena ini masih awal dari perjuangan :’) sekian deh edisi curhatnya hehehe hanya ingin berbagi kesenangan aja hehe

 

Today, Love Is Begin PART 13

Today, Love Is Begin

kbkse110
Main cast : Kim So Eun & Kim Sang Beom
Other Cast : Jung Il Woo, Kim Woo Bin, Shin Ni Rin, Lee Bo Young, Kang Hye Rim. Mungkin akan ada cast lain yang muncul.
Genre : Romance Comedy
Disclaimer: Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik Tuhan, orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.
Dilarang meng-copy paste tanpa seijin pemilik cerita !

PART 13

“So eun-ssi….” panggil kim bum. So eun menoleh dengan mulut yang sibuk mengunyah. Ia melihat kim bum mendekat ke arahnya dengan mulut yang sedikit terbuka.
“Eh? Apa yang kau lakukan? Kenapa mulutmu terbuka seperti itu?” Tanya so eun bingung. Rupanya ia belum faham apa maksud kim bum membuka mulutnya seperti itu.
“Aku membuka mulutku karena aku punya maksud !” Balas kim bum kesal karena so eun yang tidak mengerti dengan maksudnya.
“Eh…? Ah ya aku mengerti, lalu apa?” Tanya so eun, rupanya ia masih belum faham juga.
“Itu !” Dengan kesal kim bum pun menunjuk teoppeoki yang berada di atas paha so eun.
So eun menatap mengikuti arah tangan kim bum.
“Apa kau mau menyuapiku?” Tanya kim bum.
“Eehhh!?” So eun terkejut. Benarkah apa yang baru saja ia dengar? Kim bum memintanya untuk menyuapinya?
“T…tapi….bukankah kau membenci hal-hal yang seperti ini?” Tanya so eun memastikan.
“Sangat jelas sekali jika aku membencinya. Tapi, bukankah hal yang seperti itu yang ingin kau lakukan, kan?” Tanya balik kim bum. So eun menatap kim bum dengan tatapan tidak menyangka.
“Jika kau mengerti, cepat suapi aku teoppeoki itu !” Pinta kim bum.
“Ah….a..arasseo…” so eun segera menyumpit teoppeokinya.
“A…apakah aku juga harus mengatakan ‘ahh~’? Tanya so eun.
“Ya, terserah padamu.” Balas kim bum. Pipi so eun terasa panas dan memerah kini. Ini adalah yang pertama kalinya ia menyuapi kim bum.
“Ahh~…” ucap so eun lalu ia pun menyuapi teoppeoki itu kepada kim bum. Kim bum dengan cepat melahapnya.
“Ternyata melakukan hal yang seperti ini sangat memalukan.” Ujar so eun. Pipinya masih memerah dan terasa semakin panas saja.
“Kau bukan satu-satunya yang merasa seperti itu. Aku berkali-kali lipat merasa malu dibanding kau.” Balas kim bum. So eun menahan tawanya hingga akhirnya ia pun tak bisa menahannya lagi.
“Ekekekkkkkkkekekkk…” so eun menutupi wajahnya yang merah itu dengan tangannya sambil tertawa senang.
“Tapi…..aku benar-benar sangat senang kekekkkkekk…..” ujarnya.
“Kenapa kau begitu merasa senang hanya karena hal seperti ini?” Tanya kim bum seraya bangkit dari duduknya.
“Tapi aku benar-benar senaaang~” balas so eun yang tidak bisa menyembunyikan senyumnya yang lebar lagi.
“Meskipun kau membencinya, tapi kau masih mau melakukannya untukku ! Aku benar-benar senang~” lanjutnya. Kim bum menatap so eun lalu menyunggingkan senyum setelahnya.
“Jika kau senang itu juga sudah cukup membuatku senang.” Ujar kim bum pelan.
“Ne?” Tanya so eun. Rupanya ia tak mendengar dengan jelas apa yang baru saja kim bum katakan.
“Sudah waktunya kita pulang, kajja !” Ajak kim bum lalu berjalan lebih dulu dari so eun. So eun tersenyum lalu segera mensejajarkan langkahya dengan kim bum.
“Boleh aku menggenggam tanganmu?” Pinta so eun.
“Tidak boleh!” Tolak kim bum.
“Kalau begitu hanya menggandeng lenganmu? Boleh ya?” So eun menunjukkan wajah memelasnya.
“Terserah~” balas kim bum. Akhirnya so eun pun menggandeng lengan kim bum dengan erat dan tak henti-hentinya ia tersenyum. Kim bum juga menyunggingkan senyumnya untuk itu.

 

Hanya aku yang menyukai kim bum-ssi, dan dia yang menyukaiku. Itu sudah cukup membuatku senang. Sebelumnya mungkin aku terlalu terobsesi untuk melakukan hal-hal romantis seperti pasangan kekasih lain. Tapi sekarang, tidak peduli apa yang kita lakukan, atau kemana kita pergi, selama kita baik-baik saja dan merasa nyaman satu sama lain. Aku rasa, itu lebih baik.

-today love is begin-

 

“Ooohh lihatlah ! Mereka bersama lagi?” Tanya seorang siswi perempuan bertubuh gemuk pada ke tiga temannya saat ia melihat so eun dan kim bum makan bersama di kantin.
“Bukankah hubungan mereka baru saja berakhir?” Balas siswi dengan rambut pendek sebahu.
“Jika hubungan mereka berakhir, lalu kenapa mereka bersama-sama seperti itu? Lihatlah~ mereka tampak seperti pasangan yang normal-normal saja.” Tambah siswi dengan rambut yang diikat satu. Ia melihat so eun dan kim bum sedang mengobrol, ia juga melihat so eun yang tersenyum bahagia.
“Kalian tahu? Keadaan kim bum-ssi saat hubungannya dengan so eun-ssi kacau dia tampak sangat menyeramkan !” Cerita temannya yang satu lagi yang berwajah bulat dengan rambut yang digerai.
“Jincha?” Pekik ke tiga temannya yang lain.
“Apa kau tidak mendengar gosip?” Tanyanya. Mereka serentak menggeleng.
“Saat hubungan mereka kacau, ada teman satu kelas kim bum-ssi yang memberikan kim bum-ssi sebuah cupcake. Dan kalian ingin tahu bagaimana reaksi kim bum-ssi pada saat itu?” Ujarnya. Ketiga temannya serentak mengangguk dengan wajah mereka yang menggambarkan ekspresi penasaran.
“Dia bilang…..’jauhkan benda itu ! Jauhkan benda menjijikan itu dariku sekarang !’ ” siswi dengan rambut digerai itu meniru kata-kata dan ekspresi wajah kim bum waktu itu. Ketiga temannya yang lain memasang wajah terkejutnya.
“Benarkah kim bum-ssi berkata seperti itu?” Tanya siswi yang bertubuh gemuk. Siswi dengan rambut digerai itu mengangguk dengan cepat.
“Aku tidak menyangka dia bisa berubah menakutkan seperti itu karena soal perempuan.” Ujar siswi dengan rambut sebahu itu.
“Aku rasa, kim bum-ssi sudah benar-benar jatuh cinta pada so eun-ssi…..betapa beruntungnya diaaaa~” timpal siswi dengan rambut yang diikat satu. Mereka semua kompak mengangguk.
“Aku jadi iri~” ujar siswi yang gemuk.

 

“Kenapa kau tidak mau?” Kesal so eun. Ia mengerucutkan bibirnya.
“Terlalu banyak orang disini ! Apa kau tidak malu jika mereka semua melihat?” Balas kim bum. So eun menghela nafasnya. Sesendok nasi yang hendak ia suapkan kepada kim bum pun dengan terpaksa ia makan sendiri.
“Apakah setiap istirahat kita harus makan di atap gedung agar aku bisa menyuapimu?” Ujar so eun. Kim bum menatap so eun lalu membuang nafasnya.
“Wae?” Tanya so eun.
“Apa kau tidak sadar kau berubah menjadi manja?” Kesal kim bum. “Tidakkah kau merasa jika aku jadi terganggu dengan sikapmu yang seperti ini? Bersikaplah seperti biasanya saat di depanku !” Suruh kim bum. So eun semakin memanyunkan bibirnya.
“Aku bukan manja ! Hanya saja aku ingin melakukan sesuatu yang romantis denganmu ! Seperti yang orang lain lakukan…..” balas so eun.
“Tapi kau tahu betul kan aku membenci hal menggelikan seperti itu?” Ujar kim bum. So eun menunduk.
“Aku mengerti, bahkan sangat mengerti. Tapi hanya untuk sekali-kali kan tidak masalah~.” jawab so eun. Ia kini mengaduk-aduk nasinya.
“heehh~ kau memang benar-benar mengganggu !” Balas kim bum.
“Benar, aku memang selalu membuatmu terganggu.” Timpal so eun.
“Jika kau mengerti akan hal itu, jadi berhentilah untuk meminta hal-hal yang menggelikan denganku.” Ujar kim bum.
“Arasseo….araseo……” balas so eun dengan lemas.
“Karena aku lebih suka kau yang apa adanya di depanku, jadi bersikaplah seperti biasanya !” Ujar kim bum seraya menatap lurus so eun.
“Baiklah~ aku mengerti~.” So eun masih saja membalasnya dengan lemas.
“Anak penurut…..” balas kim bum seraya tangannya menepuk-nepuk pelan kepala so eun.

 

-today love is begin-

 

“Kau dan kim bum-ssi sekarang pacaran sungguhan!?” Pekik nirin saat ia mendengar cerita so eun. So eun mengangguk dengan semangat. So eun dan nirin bertemu saat mereka sama-sama dipanggil ke ruang guru untuk mengumpulkan sesuatu. Dan kini mereka berjalan di koridor menuju kelas mereka masing-masing seraya mengobrol.
“Aigoooo~ kenapa aku telat mengetahuinya, bagaimana bisa kalian jadi resmi berkencan? Bukankah kau hampir saja menyerah?” Tanya nirin bertubi-tubi.
“Ceritanya panjang sekali nirin-ah, aku rasa seharian pun tidak akan selesai.” Balas so eun. Nirin menatap so eun dengan tatapan aneh lalu kemudian geleng-geleng kepala.
“Tapi setidaknya aku ikut senang sekarang, kau tidak akan murung lagi kan? Menangis-nangis lagi karena kim bum-ssi kan? Karena sekarang kau sudah resmi menjadi kekasihnya.” Ujar nirin.
“Tentu saja tidak~ bahkan aku masih merasa jika ini adalah mimpi….” so eun memegangi pipinya yang bersemu merah.
“Yeah yeah….sebenarnya aku juga tidak menyangka kim bum-ssi bisa menyukai orang sepertimu, terasa aneh bagiku…..bukankah seharusnya dia memiliki tipe perempuan yang sangat tinggi?” Balas nirin kalem.
“Yak kau tidak boleh berkata seperti itu nirin-ah, perkataanmu sedikit menusuk hatiku.” Ujar so eun dengan wajah yang dibuat semenyedihkan mungkin. Ia juga memegangi dadanya.
“Tapi aku memang benar-benar tidak menyangka. Lagipula setelah kalian resmi berkencan, apakah sikap kimbum-ssi sudah berubah?” Tanya nirin.
“Itu…….sedikit…sangat sedikit.” Jawab so eun lemas.
“Sudah ku duga.” Balas nirin.
“Yeah terserah…..aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Yang terpenting sekarang adalah aku sedang menantikan sesuatu di bulan ini.” Ujar so eun.
“Eh?” Nirin menatap so eun tidak mengerti.
“Ulang tahunku.” Ujar so eun dengan nada senang.
“Ah aku mengerti, sekarang sudah memasuki bulan september rupanya.” Balas nirin sambil angguk-angguk kepala.
“Nirin-ah, apa jangan-jangan kau tidak mengingatnya?” Tanya so eun curiga.
“Tentu saja aku ingat, tanggal 6 kan?” Balas nirin cepat.
“Ternyata kau masih ingat.” So eun tersenyum senang. “Aku sangat menantikan ulang tahunku kali ini, karena ini akan menjadi yang pertama kalinya bagiku merayakannya dengan kim bum-ssi…….huaaaa aku benar-benar tidak sabar ingin segera membuat momen romantis bersamanya kali ini~” so eun memegangi pipinya dengan mata yang terpejam. Pipinya bersemu merah karena ia kini sedang membayangkan tentang sikap romantis kim bum kepadanya, dimulai memberikan kejutan dan memberikannya sebucket mawar merah. Nirin menampakkan ekpresi wajah aneh melihat so eun seperti itu.
“Tapi so eun-ah…..apakah kim bum-ssi tahu kapan ulang tahunmu?” Pertanyaan yang keluar dari mulut nirin itu berhasil membuat so eun menghentikan langkahnya. Ia diam beberapa saat bagaikan patung. Apa yang ditanyakan nirin telah membuatnya tersindir, apalagi memang benar jika kim bum belum mengetahuinya. Nirin mengerti setelah menyadari reaksi so eun sekarang ini.

 

-today love is begin-

 

“Tanggal 6? Tidak ada yang spesial di hari itu, kan?” Jawab kim bum setelah so eun bertanya tentang tanggal 6 september kepadanya. Mendengar jawaban enteng yang keluar dari mulut kim bum membuat so eun down seketika. Bagaikan ada ribuan truk pengangkut sampah yang menimbun kepalanya. So eun memang sudah menduganya, bahwa kim bum tidak mengetahuinya. Saat ini mereka sedang berjalan pulang dari sekolah bersama.
“Ani….sebenarnya tanggal itu……adalah ulang tahunku.” Ujar so eun dengan kepalanya yang menunduk.
“Ohhhh jadi begitu, baguslah~” balas kim bum singkat. Tanpa ada rasa kaget atau semacamnya pada diri kim bum saat so eun memberitahunya.
“Yeah.” So eun mengangguk dengan lemas.
Hening~ tak ada pembicaraan lagi di antara mereka. Merasa aneh, kim bum pun memutar kepalanya ke samping dan melihat so eun berjalan dengan kepala yang di tekuk. So eun juga kelihatan tidak bersemangat.
“Jangan menampakkan wajah murung seperti itu babo ! Kau tidak pernah memberitahuku sebelumnya, jadi bagaimana bisa aku tahu, kan?” Ujar kim bum seraya menjitak kepala so eun. So eun meringis dan langsung memegangi kepalanya.
“Jika aku tidak memberitahumu dan ternyata kau sudah mengetahuinya secara diam-diam, pasti aku akan merasa sangat tersentuh, kan?” Balas so eun seraya mendonggak menatap kim bum.
“Tidak apa-apa kau tidak memberitahuku, tapi jangan harap aku akan mengetahuinya.” So eun mendengus kesal mendengar ucapan kim bum.
“Lagi pula pasti kau akan berkata ‘aku tidak terlarik’ lagi, kan?” Tanya so eun. Kim bum kini balas menatap so eun.
“Aku tidak punya otak yang sederhana seperti milikmu.” Balas kim bum. “Aku memang tidak terlalu mengingat-ingat tentang merayakan ulang tahun seseorang, tapi…..”
“Ehhh !? Jinchaaa?” Potong so eun. Ia benar-benar tidak menyangka. “Bahkan keluargamu? Atau jung il woo-ssi?” Tanya so eun.
“Yang aku ingat hanya suara mereka saja yang begitu berisik.” Jawab kim bum.
“Hanya itu?” Tanya so eun memastikan. Kim bum tak menjawabnya. “Jadi kalau begitu, bagaimana denganku? Kau tidak akan merayakan ulangtahunku bersama?” Tanya so eun. Kim bum menatapnya. Kini so eun menatap kim bum dengan tatapan penuh harap. Wajahnya ia buat seimut mungkin, membuat kim bum merasa sedikit terganggu.
“Aku tidak tertarik !” Balas kim bum. Benar saja dugaan so eun, kim bum tidak akan mau melakukannya. So eun kembali menampakkan ekpresi murung.
“Jika aku menolak seperti itu, pada akhirnya kau akan mengeluh dan memaksaku lagi, kan? Itu akan menjadi lebih merepotkan.” Lanjut kim bum. So eun kembali mengangkat wajahnya dan menatap kim bum. Mendengar yang keluar dari mulut kim bum barusan membuat senyum mengembang di bibir so eun.
“Jadi, kau akan meluangkan waktumu untukku pada tanggal 6 nanti?” Tanya so eun dengan ekspresi senang yang tak bisa ia sembunyikan lagi.
“Ne ne~.” Jawab kim bum.
“Kita akan bersama-sama seharian penuh? Jalan-jalan? Makan? Atau juga membuat kue bersama-sama?” Tanya so eun beruntun. Ekpresi wajah kim bum sudah kelihatan merasa terganggu.
“Apapun tidak masalah, jadi berhentilah bicara ! Kau terlalu berisik !” Balas kim bum.
“Ekekekkkk baiklaaaah~ aku jadi sangat menantikan hari ulang tahunku~” So eun memejamkan matanya saking rasa senang yang tak bisa ia bendung lagi. Pipinya juga mulai merona merah.
“Jadi, apa yang kau inginkan?” Tanya kim bum tiba-tiba.
“Eh?” So eun menatap kim bum bingung.
“Aku bertanya jika ada sesuatu yang kau inginkan.” Balas kim bum jengkel karena ia harus mengulang pertanyannya.
“J..jincha? Apakah tidak apa-apa? Apa kau rela melakukannya hanya untukku?” Tanya so eun memastikan, pasalnya ia tidak menyangka kim bum akan bertanya mengenai apa yang ia inginkan.
“Sudah aku katakan dari awal apapun tidak masalah, daripada jika aku tidak melakukannya, kau pasti akan mengeluh dan memohon-mohon, benar kan?” Balas kim bum. So eun menatap kim bum dengan takjub.
“Itu berarti…..aku bisa meminta apapun?” Tanya so eun.
“Um yeah yeah.” Balas kim bum pasrah.
So eun mulai berpikir-pikir, apa yang harus ia pinta dari kim bum? So eun tiba-tiba tersenyum sendiri dengan wajah yang mulai memerah. Membuat kim bum menatapnya dengan aneh.
“Kalau begitu….baiklah…..uuuummmmmm…….bagaimana dengan CINTA?” Pinta so eun. Ia menatap kim bum seraya memegangi kedua pipinya. Kim bum menatap so eun dengan mata membulat.
“Huh?” Kim bum menghentikan langkahnya.
“Kau tahu kan…..aku sangat ingin cinta dari kim bum-ssi atau semacamnya.” Jelas so eun. Pipinya semakin memerah saja.
“Apa kau bodoh? Dimana aku bisa membeli hal yang semacam itu? Katakan sesuatu yang lain saja, sesuatu selain itu !” Ujar kim bum.
“Bukankah kau sudah bilang aku bisa meminta apa saja darimu.” Balas so eun dengan pipi yang menggembung. Kim bum lalu mencubit kedua pipi so eun dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah so eun.
“Mintalah sesuatu yang bisa aku beli dengan uang ! Pasti ada sesuatu baik itu benda atau semacamnya yang kau inginkan, kan?” Ujar kim bum.
“Tidak ada yang aku inginkan selain itu.” Jawab so eun dengan polosnya. Cubitan tangan kim bum di pipi so eun semakin keras, membuat so eun meringis. Tiba-tiba saja ponsel so eun berdering dan kim bum perlahan melepaskan cubitannya. Dengan segera so eun mengangkat telponnya yang ternyata dari sang ibu.
“Yobeosaeyo eomma…….ah ye arasseo……..aku akan kesana sekarang……ne.” So eun kembali memasukan ponselnya ke dalam tas saat obrolan dengan sang ibu di telpon selesai.
“Kim bum-ssi, sepertinya kita akan berpisah disini. Eommaku meminta untuk menemuinya di kantor appaku. Kalau begitu sampai bertemu besok~” so eun berjalan menuju zebra cross dan kebetulan lampu pejalan kaki sedang menyala.
“Hei….tunggu sebentar !” Pinta kim bum.
“Mian~ aku buru-buru ! Tentang waktu dan tempat untuk merayakannya, kita bicarakan lagi lain waktu, oke?” Teriak so eun seraya berjalan mundur dan melambai-lambaikan tangannya kepada kim bum saat ia menyebrangi jalan bersama pejalan kaki lainnya.
“Y…ya….Hei….” teriak kim bum. Ia pun hanya bisa diam di tempat dengan aura gelap di sekitarnya. Pasalnya, bagaimana bisa ia memberikan so eun ‘CINTA?’ cinta bukanlah sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Lalu apa yang harus ia lakukan?

 

-today love is begin-

 

“AHAHAHAHA ! bukankah itu akan lebih baik jika kau hanya memberikan cinta kepada so eun-ssi sebanyak yang ia mau!? Ternyata….so eun-ssi bisa juga mengatakan sesuatu yang sangat lucu, huh? Hahahahah.” Il woo tak kuasa untuk menahan tawanya setelah ia mendengar cerita kim bum. Sementara itu kim bum hanya menopang dagunya dengan ekspresi wajah kesal karena il woo yang begitu berisik. Seperti biasa, saat ini il woo sedang ada di apartemen kim bum.
“Dengan wajah yang seserius itu kau tiba-tiba bertanya tentang hal ini kepadaku. Ahahahah pasti kau merasa terganggu dengan permintaan so eun-ssi itu, benar kan?” Il woo masih belum bisa menghentikan tawanya. Bahkan ia sampai memegangi perutnya.
“Ani, aku sama sekali tidak merasa terganggu.” Balas kim bum enteng.
“Ternyata, kau sudah menjadi lebih ramah sekarang ini, huh? So eun-ssi sedikit demi sedikit sudah bisa merubahmu kekekekekk kau begitu menyukainya ternyata, huh?” Ujar il woo panjang lebar. Tidak ada reaksi dari kim bum, il woo pun menghentikan tawanya dan melihat kim bum yang duduk di depannya masih dengan menopang dagu. Aura wajah kim bum terlihat menakutkan, ia menatap il woo dengan tatapan membunuhnya. Il woo jadi ketakutan dan shock.
“A…aahhh…kim bum-ah…..ekspresi macam apa itu? Jangan marah ! Aku hanya memberimu pujian heheheh.” Il woo tertawa hambar untuk mencairkan sedikit suasana, terlebih kim bum menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat.
“Huft….” kim bum membuang nafasnya.
“Jadi, apakah kau akan mengabulkan permintaan so eun-ssi itu?” Tanya il woo kemudian.
“Bagaimana bisa aku mengabulkannya? Dia meminta sesuatu yang aneh, yang bahkan tidak bisa dibeli oleh uang. Itu sangat bodoh !” Jawab kim bum kesal.
“Bukankah kau satu-satunya yang bodoh itu?” Balas il woo. “Ini adalah tentang ulangtahun kekasihmu ! Paling tidak kau harus mencoba menyingkirkan rasa gengsi dan harga dirimu itu ! Terlebih kau sangat menyukai so eun-ssi juga, kan?” Lanjutnya.
“Kau pikir semudah itu menuruti permintaannya?” Balas kim bum.
“Bukan seperti itu ! Aku hanya ingin melihat sisi lain darimu !” Ujar il woo. Kim bum mendesah lalu ia menyenderkan tubuhnya ke sandaran sopa.
“Lagi pula, aku tidak mengerti maksud ‘CINTA’ yang ia inginkan. Semuanya terlalu abstrak hingga aku pun belum faham.” Ujar kim bum. Il woo langsung menatap kim bum dengan mata yang membulat.
“Ehhh……kim bum-ah, apa kau ini benar-benar manusia?” Pekik il woo. Kim bum menatap il woo dengan aneh, pasalnya il woo memasang wajah terkejutnya.
“Kalau begitu apa yang harus aku lakukan, huh?” Tanya kim bum.
“Um~ tentu saja kau harus memuji so eun-ssi sebanyak yang kau bisa, katakanlah sesuatu yang bisa membuatnya senang. Misalnya, kau bisa memuji penampilannya, katakan padanya jika dia cantik, lucu, atau semacamnya.” Usul il woo. Kim bum menatap il woo dengan datar, bagaimana bisa ia melakukan hal semacam itu disamping ia membenci hal yang menggelikan? Mendengar usulan il woo saja sudah membuatnya malas.
“Baiklah…..jika kau tidak ingin melakukannya. Bagaimana jika kau mengajaknya menonton ke bioskop? Atau mengajaknya makan di restoran? Atau mengajaknya jalan-jalan ke suatu tempat yang akan membuatnya takjub?” Usul il woo lagi dengan bersemangat, seakan-akan ia begitu pandai dalam hal menyenangkan hati perempuan.
“Apa kau baik-baik saja melakukan hal semacam itu? Hal yang begitu menggelikan?” Tanya kim bum. Mendengar pertanyaan kim bum, il woo menghela nafasnya.
“Lagipula, kenapa kau sangat benci melakukan hal-hal romantis seperti itu? Apa jangan-jangan kau malu, huh?” Tanya balik il woo.
“Aku tidak malu ! Hanya saja aku tidak ingin melakukan sesuatu yang genit seperti memuji atau merayu perempuan.” Jawabnya enteng.
“Lalu? Kenapa dengan itu semua?” Tanya il woo lagi. “Jika kau mau mencoba untuk mengatakan sesuatu kepada so eun-ssi yang ingin so eun-ssi dengar, bukankah dia akan merasa sangat senang? Pernahkah kau berpikir seperti itu meskipun hanya sekali?” Ujar il woo panjang lebar. Kim bum hanya menatapnya saja.
“Aku tidak pernah memikirkannya.” Balas kim bum.
“Kau…..kau belum sadar juga?” Kini giliran il woo yang kesal. Dibalik otak kim bum yang encer soal pelajaran, ternyata kim bum sangat bodoh soal urusan perempuan. Il woo jadi gemas sendiri melihatnya.
“Membuat hati perempuan senang tidak butuh mengeluarkan banyak tenaga ! Hal seperti itu sangatlah normal, apalagi untuk menyenangkan kekasihmu sendiri, kan? Jika saja so eun-ssi kekasihku, dengan senang hati aku akan melakukan apa saja agar dia senang dan semakin menyukaiku.” Jelas il woo yang kini sukses membuat kim bum diam dan berpikir.

 

-today love is begin-

 

Chungju Highschool

Kim bum baru saja hendak duduk di kursi kantin setelah ia memesan makanan. Tapi tiba-tiba dua orang perempuan duduk begitu saja di hadapannya.
“Annyeong kim bum-ssi !” Sapa bo young. Kim bum mengerutkan keningnya. Di depannya kini sudah ada bo young dan hye rim yang menatapnya seraya tersenyum penuh arti.
“Kami sudah mendengarnya kim bum-ssi, dari mulut so eun sendiri !” Ujar bo young setengah berbisik.
“Mwo?” Kim bum mengerutkan keningnya. Apa maksud dari dua perempuan di depannya ini? Kenapa tiba-tiba duduk dan berbicara tidak jelas? Ia jadi ingin cepat-cepat menyingkir dari sini.
“Kau bilang pada so eun jika kau akan memberikan cintamu sebagai hadiah, benar bukan?” Goda bo young. Sontak kim bum membulatkan matanya.
“Huh? Apa maksud kalian?” Kim bum tidak mengerti.
“Aku tidak menyangka, ternyata masih ada laki-laki sepopuler dirimu yang berani berkata seperti itu.” Ujar hye rim.
“Kau sangaaaat kereeeen kim bum-ssi !!!” Bo young mengacungkan jempolnya di depan wajah kim bum.
Kim bum sudah muak dengan kedua perempuan ini, mereka sudah membuatnya naik darah. Tapi sebisa mungkin kim bum menahannya karena tak mungkin ia menunjukkan sisi aslinya di depan orang banyak kan?
“Bo young-ah…….hye rim-ah…..apakah kalian sudah memesan makanannya?” Teriak so eun seraya berjalan menghampiri mereka.
“Eh? Kim bum-ssi? Kau disini juga?” So eun baru menyadari keberadaan kim bum. Kim bum langsung menatap so eun dengan tatapan marah lalu berdiri dari duduknya.
“Ikut bersamaku sebentar !” Kim bum langsung menarik tangan so eun pergi menjauhi mereka.
“E..eeh? Wae? Ada apa?” Beberapa pertanyaan muncul di kepala so eun karena kim bum secara tidak biasa menarik tangannya begitu saja.
Kim bum baru berhenti menarik tangan so eun setelah mereka berada di tempat sepi.
“Wae? Kenapa tiba-tiba kau…..ouchh !” So eun meringis karena tiba-tiba kim bum mencubit kedua pipinya cukup keras.
“Kenapa kau selalu mengobrol tanpa henti kepada mereka tentang sesuatu yang tidak perlu, huh? Bukankah yang kau ceritakan itu begitu memalukan, hmmm?” Kim bum semakin gemas saja mencubit pipi so eun di samping ia merasa sangat kesal.
“M…mianhae~.” Balas so eun. Kedua tangannya juga menahan tangan kim bum yang mencubit pipinya.
“Jangan katakan hal-hal memalukan lagi ! Atau aku akan mengunci mulutmu agar kau diam !” Ancam kim bum.
“M…mianhae….jeongmal mianhae…..aku terlalu senang hingga aku tak sengaja mengatakannya.” Balas so eun. “Pipiku sakit~.” Lanjut so eun. Perlahan kim bum pun melepaskan tangannya dari pipi so eun. So eun langsung mengusap-usap pipinya yang sedikit memerah karena bekas cubitan kim bum.
“Lagi pula, aku tidak pernah mengatakan akan melakukan apa yang kau inginkan.” Ujar kim bum.
“M..mwo? Kau tidak mau melakukannya?” Pekik so eun. “Jadi artinya, aku tidak akan mendapat apapun? Setelah aku benar-benar menantikannya?” So eun bersuara cukup keras.
“Kau sangat berisik ! Bukan itu maksudku ! Hanya saja akun tidak akan melakukan apa yang kau inginkan sebelumnya !” Balas kim bum kesal.
“Kalau begitu?” Tanya so eun. Kim bum diam. Ia tidak tahu juga harus menjawab apa, pasalnya ia belum memikirkan apa yang harus ia berikan untuk so eun. Bertanya kepada il woo kemarin pun rasanya sangat buang-buang waktu. Melihat kim bum yang hanya diam saja, so eun pun berpikir sejenak. Ia menopang dagunya.
“Baiklah aku mengerti, aku mengganti permintaan hadiah untuk ulangtahunku !” Ujar so eun dengan cepat. Kim bum menatap so eun.
“Maaf karena sudah meminta sesuatu yang aneh darimu, kau pasti merasa terganggu, kan?” Lanjut so eun.
Kim bum menghela nafasnya. “Seharusnya kau menyadari itu dari awal.” Balas kim bum. “Lalu?” Tanyanya.
“Umm….kau tahu kan, kita sekarang sudah resmi berkencan….” so eun meremas-remas tangannya. “Setelah aku berpikir kembali, dari awal kita berkencan kau belum pernah mengatakanya kepadaku dengan jelas kan?” Lanjut so eun.
Kim bum mengerutkan keningnya. “Mengatakan apa maksudmu?” Tanya kim bum.
” ‘aku suka padamu’, kau belum pernah mengatakan itu kepadaku.” Ujar so eun malu. Kim bum sedikit terkejut. Memang benar, ia belum pernah mengatakan itu kepada so eun dengan jelas.
“Aku sangat ingin mendengarkan kata-kata itu dari mulutmu~~~ tidak apa-apa jika kau ingin mengatakannya sekarang juga, dengan senang hati aku akan mendengarkannya? Atau….haruskah aku merekamnya?” So eun tampak bersemangat kali ini. Kim bum menatap so eun dengan tatapan aneh.
“Hanya aku yang akan memutuskan jenis hadiah seperti apa yang akan aku berikan.” Balas kim bum akhirnya.
“W..wae?” So eun kecewa.
“Sudahlah, jangan banyak meminta !” Balas kim bum lalu ia menyentil kening so eun. Alhasil so eun pun meringis kesakitan.

 

-today love is begin-

 

“Aku benar-benar tidak sabar menunggu hari ulang tahunku.” Ujar so eun. Nirin yang berjalan di sampinnya langsung menatap so eun. Hari ini so eun tidak pulang bersama kim bum, karena kim bum ada urusan di club karya tulis ilmiahnya.
“Bagaimana reaksi kim bum-ssi tentang ulang tahunmu?” Tanya nirin.
“Tidak ada yang spesial, terlebih dia sudah menolak dua permintaanku.” Cerita so eun.
“Memangnya apa permintaanmu?” Tanya nirin penasaran.
“Aku hanya….hanya memintanya untuk memberikanku cinta dan memintanya untuk berkata ‘aku suka padamu’. Hanya itu saja, tapi dia terus menolak.” Jawab so eun. Nirin terkekeh geli mendengarnya.
“Waeyo?” Tanya so eun.
“Jelas saja dia menolak, jika saja kau meminta sesuatu yang lebih masuk akal, aku yakin dia akan menurutinya.” Balas nirin.
“Tapi mungkin saja dia mengabulkan keinginanku kan? Tidak ada yang tidak mungkin karena nanti adalah hari ulang tahunku, kau tahu?” Ujar so eun dengan percaya dirinya. “Tapi meskipun itu tidak terjadi, aku baik-baik saja ! Cukup kim bum-ssi merayakannya denganku, aku akan sangat senang.” Lanjutnya. Nirin ikut tersenyum mendengarnya.
“Baiklah jika itu akan membuatmu senang.” Balasnya. Senyum so eun semakin lebar.

 

-today love is begin-

 

Kim bum sedang duduk di lantai seraya menyalakan laptopnya yang ia simpan di atas meja. Ia berniat untuk mencari hadiah untuk so eun lewat online shop. Tapi sebelum ia memutuskan akan memesan apa, terlebih dahulu ia mengetikkan keyword hadiah ulang tahun untuk dijadikan referensi. Setelah ia mencari-cari, kebanyakan hadiah yang muncul adalah semacam perhiasan, boneka, dan bunga. Kim bum benci dengan boneka, apalagi dengan bunga. Ia pun memutuskan untuk memilih perhiasan di salah satu online shop. Setelah melihat-lihat, ada sebuah gelang dengan rantai berbentuk bunga-bunga kecil berwarna ungu yang kim bum rasa lumayan cocok untuk so eun.
“Benda ini tidak apa-apa, kan?” Gumamnya. Tanpa pikir panjang lagi, kim bum pun mengklik kolom ‘beli’ disana. Setelah selesai, kim bum pun segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka sebelum tidur. Saat ia mengelap wajahnya sambil bercermin, tiba-tiba ia teringat dengan perkataan so eun siang tadi di sekolah.
‘aku suka padamu’, kau belum pernah mengatakan itu kepadaku. Aku sangat ingin mendengarkan kata-kata itu dari mulutmu~~~ ‘
Kim bum menatap dirinya di cermin dengan serius. Ia kemudian membuka mulutnya perlahan.
“Aku……” kim bum terdiam beberapa detik. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana harus mengatakan kata-kata itu kepada so eun.
“Aku suka pa…………aiiiiissshhh…..” kim bum mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Ia berusaha mencoba, tapi kenapa lidahnya mendadak kelu dan seperti tidak mau mengatakan kata-kata itu? Sebenarnya ia ingin mengatakan yang sejujurnya kepada so eun soal perasaannya dan mengatakan aku juga suka padamu, tapi rasanya sulit sekali. Kim bum pun meninju dinding di dekat cermin.
“bodoh !” Ujarnya terlebih kepada diri sendiri.

 

-today love is begin-

 

Akhirnya ulang tahun so eun pun tiba juga, 6 Sepember. So eun benar-benar bersemangat hingga ia sedikit merias wajahnya. Sepulang sekolah so eun dan kim bum akan pergi jalan-jalan untuk merayakan ulang tahunnya. So eun merasa jika ulang tahunnya kali ini sangat spesial karena untuk yang pertamakalinya ia merayakannya dengan kim bum-orang yang ia sukai dan tentunya kini sudah menjadi kekasih resminya.
“Gawaaat ! Kenapa jantungku jadi berdetak lebih cepat seperti ini?” Ujar so eun seraya memegangi dadanya.
“Aku ingin tahu bagaimana reaksi kim bum saat melihat penampilanku. Tidak aneh kan?” So eun memutar tubuhnya di depan cermin. Untuk perayaan ulang tahunnya kali ini, so eun memilih memakai dress biru langit selutut tanpa lengan. Di bagian lehernya ada motif bunga-bunga mawar berwarna putih. So eun juga tak lupa menjepit rambutnya untuk lebih mempercantik diri.
Setalah selesai, cepat-cepat so eun pun bergegas menuju halte tempat dimana mereka janjian sebelumnya. Tepat saat so eun sudah sampai, kim bum pun juga baru tiba disana. So eun langsung berlari kecil menghampiri kim bum.
“Kim bum-ssi !” Panggil so eun dengan senyum lebarnya.
“Ah, sangat jarang sekali kau datang tepat waktu, huh !” Ujar kim bum yang melihat so eun datang sesuai waktu yang sudah ditentukan.
“Hehehe hanya sekali-kali…” so eun nyengir seraya membenarkan rambutnya.
Kim bum menatap so eun dengan seksama, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan penampilan so eun.
“Apa kau….berdandan, huh?” Tanya kim bum. Pipi so eun langsung bersemu merah, ternyata kim bum memberikan reaksi soal penampilannya, berarti kim bum memperhatikannya kan?
“Eh…? Ah ya, aku sedikit merias wajahku hehe.” So eun salah tingkah, ia membenarkan rambutnya berkali-kali. “Um~ bagaimana menurutmu?” Tanya so eun. Ia benar-benar berharap kim bum akan memberikan pujian untuknya.
“Soal itu…..” jawab kim bum menggantung. So eun pun langsung menengadahkan wajahnya menatap kim bum dengan wajah penasaran. Melihat ekspresi wajah so eun yang seperti itu, kim bum pun langsung memalingkan wajahnya ke depan.
“Tidak ada bedanya, kan? Mau kau berdandan atau tidak bagiku kau tetap sama saja.” Jawab kim bum akhirnya.
“Eh? Ah ya hehe tidak ada bedanya.” Ujar so eun mengulang kata-kata kim bum. Sebenarnya ia agak kecewa, tapi tidak masalah selama kim bum sedikit memperhatikan penampilannya sekarang ini.
Tepat pada saat itu, bus yang ditunggu pun datang. Kim bum dan so eun pun segera masuk ke dalam bus itu. Mereka duduk di kursi paling belakang.
“Ah ya, apa kita langsung ke bioskop saja? Atau makan terlebih dahulu? Masih ada waktu tersisa sebelum film di mulai.” Ujar so eun kepada kim bum.
“Jika kita pergi kesana sesaat sebelum film dimlai, disana akan sudah dipenuhi banyak orang !” Balas kim bum.
“Jebaaal~ aku belum makan apa-apa setelah pulang sekolah.” Ujar so eun seraya mengerucutkan bibrinya. Kim bum menatap so eun lalu menghela nafasnya.

 

Restoran

“Woooaaa makanannya kelihatan lezat sekali~” takjub so eun saat makanan yang mereka pesan sudah tersimpan di atas meja. “Aku harus mengambil fotonya kalau begitu.” So eun segera mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya dan mengambil beberapa gambar dari makanan itu. Kim bum menatap aneh ke arah so eun.
“Apa yang kau lakukan? bagaimana jika orang lain melihat, huh? Kau membuatku malu saja !” Protes kim bum.
“Gwaenchana~ lagipula aku ingin mengabadikannya….hari ini adalah hari yang spesial.” Balas so eun. “Ataukah aku harus mengambil gambar kim bum-ssi juga?” Tawar so eun.
“Tidak, terimakasih.” Tolak kim bum. “Segera hentikan kerjaanmu itu dan cepat makanlah !” Suruh kim bum. Tapi so eun tidak mendengar, ia malah nekad mengambil gambar kim bum. Dengan segera kim bum pun merebut ponsel so eun, ia juga melotot padanya.
“Kim bum-ssi~” protes so eun.
“Apa kau mau aku melempar ponselmu ke sungai lagi, huh?” Ancam kim bum.
“A…andwae…..andwae….jangan lakukan ! Baiklah aku akan segera makan.” So eun langsung mengulurkan kedua tangannya ke depan kim bum dan merentangkan telapak tangannya.
Kim bum berdecak lalu menyimpan ponsel so eun di atas meja di dekat makanan pesanannya. Dengan sedikit cemberut, so eun pun mulai menyantap makanannya. Kim bum juga kembali memakan makanannya.
“Ummmm~ enak sekali~” mata so eun langsung berbinar saat pertama kali ia merasakan makanannya.
“Kau ingin mencobanya kim bum-ssi?” Tawar so eun seraya mengangkat sendoknya di depan wajah kim bum.
“Ani, kau habiskan saja.” Tolak kim bum.
“Huh padahal sangat enak, kau akan menyesal jika tidak mencobanya.” Oceh so eun seraya sibuk mengunyah. Ia juga makan dengan lahap sekarang.
Kim bum memperhatikan so eun sebentar lalu ia pun merogoh sesuatu di dalam saku celananya.
“Ini, untukmu !” Kim bum menyodorkan kotak kecil dengan bungkus kado berwarna merah muda ke hadapan so eun.
“Eeeeh? Apa itu?” So eun langsung berhenti mengunyah dan menatap kotak kecil yang diberikan kim bum dengan wajah sedikit kaget.
“Hadiah untukmu.” Jawab kim bum, lalu ia menopang dagunya dan menatap so eun.
“Wooooaaa jeongmal??? Wooaaa aku sangat senang sekali~~~” wajah so eun bersemu merah dan matanya berbinar melihat hadiah yang sekarang sudah ada di tangannya.
“Boleh aku membukanya?” So eun menatap kim bum.
“Buka saja.” Balas kim bum.
Dengan tidak sabaran so eun pun membuka hadiah itu. Ia sangat penasaran benda apa yang kim bum berikan untuknya?
“Woooaaaa ini benar-benar cantik, aku menyukainya…..” so eun menatap sebuah gelang dengan bunga-bunga ungu di sekelilingnya.
“Bagaimana iniiii? Aku sangat senang !!!! Terimakasih kim bum-ssi, aku saaaaangaaaaat menyukainya….” ujar so eun. So eun tak bisa menyembunyikan semburat bahagia di wajahnya. Ia tidak menyangka kim bum akan memberikannya sebuah gelang.
“Hmmm…” kim bum hanya mengangguk.
“Gelang ini dan juga kalung, aku sudah menerima dua benda dari kim bum-ssi.” So eun tersenyum lebar. Kim bum hanya menatap so eun saja masih dengan menopang dagu.
“Akan sangat menyenangkan jika aku bisa mengoleksi barang-barang dari kim bum-ssi kekekekek…..” mata so eun sampai menghilang karena senyumnya yang begitu lebar.
“Jadi maksudmu, aku harus menghabiskan uangku untuk membelikanmu barang-barang seperti itu, huh?” Balas km bum.
“Eeehhhh? A…ani….ani….” so eun menggibas-gibaskan tangannya di depan kim bum.
“Bukan seperti itu maksudku~ ” so eun mengerucutkan bibirnya. Kim bum tersenyum melihat so eun seperti itu. Teringat kembali dengan permintaan so eun waktu itu kepadanya. Haruskah ia mengatakannya sekarang kepada so eun jika ia juga menyukainya?
“So eun-ssi….” panggil kim bum. So eun langsung mengalihkan matanya dari gelang itu dan menatap kim bum. Kim bum sendiri mulai menurunkan tangannya yang tadi menopang dagu. Ia lipat kedua tangannya di atas meja dan kim bum mencondongkan wajahnya mendekati so eun. So eun bingung melihat kim bum seperti itu. Apalagi kim bum menatap tepat ke mata so eun, dengan wajah serius. So eun jadi gugup melihatnya.
1 detik
2 detik
3 detik
Kim bum masih menatap so eun dengan serius tanpa mengatakan apa-apa. Hingga di detik ke 5 ia mulai membuka mulutnya.
“So eun aku……” kim bum menggantungkan ucapannya. So eun sudah deg-degan sendiri menanti apa yang akan kim bum katakan. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia juga merasakan pipinya mulai memanas.
1 detik
2 detik
Kim bum belum juga melanjutkan kata-katanya.
“Aku ingin pergi ke toilet sebentar.” Lanjut kim bum akhirnya. Entah kenapa, sangat sulit sekali bagi kim bum untuk mengatakan ‘aku menyukaimu’ pada so eun. Ia belum pernah mengatakan kata-kata itu kepada perempuan jadi ia merasa sulit untuk mengatakannya, apalagi setelah ia melihat wajah so eun.
“Aa…ya…pergilah.” balas so eun. Kim bum langsung berdiri dari duduknya dan segera pergi ke toilet, sementara so eun diam di tempat dengan beberapa dugaan di kepalanya tentang apa yang akan kim bum katakan.
So eun memegangi dadanya. “Jantungku….” ujarnya.

Bukannya masuk ke dalam toilet, kim bum malah menyandarkan tubuhnya di dinding lorong menuju toilet. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia tidak bisa mengatakannya. Ia merasa dirinya begitu bodoh. Kim bum diam disana selama beberapa menit sambil menenangkan hatinya, wajahnya juga sedikit berkeringat. Ia tidak nyaman dengan dirinya yang sekarang ini.

 

-today love is begin-

 

Kini kim bum dan so eun berjalan menuju bioskop yang memang cukup dekat dengan restoran yang tadi mereka singgahi. Sekembalinya kim bum dari toilet, belum ada lagi pembicaraan di antara mereka membuat suasan menjadi canggung. Entah kenapa kepala kim bum tiba-tiba dipenuhi oleh teriakan-teriakan jung il woo yang menyemangati dirinya. “Hwaiting bum-ah !!!! Hwaiting !!!!”
‘Apaan ini? Kenapa suara anak itu terus terngiang-ngiang di kepalaku?’ Batin kim bum.
Sementara itu, so eun terus saja menundukkan kepalanya. Ia benar-benar tidak nyaman dengan suasana seperti ini. Suasana canggung diantara dirinya dengan kim bum. Tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat, so eun memegangi dadanya. Teringat lagi dengan aksi kim bum saat di restoran tadi.
‘Sebenarnya apa yang akan dikatakan kim bum-ssi? Kenapa aku jadi deg-degan seperti ini? Apakah kim bum-ssi hendak mengatakan jika dia menyukaiku?’ Batin so eun. Perlahan ia mengangkat kepalanya, dan menatap kim bum diam-diam. Pipinya mendadak menjadi merah.
‘Apakah benar ia hendak mengatakan itu padaku tadi?’ Batinnya.
Merasa so eun sedang memperhatikannya, kim bum pun langsung menoleh menatap so eun dan dengan cepat tangannya menutup mata so eun.
“Jangan menatapku seperti itu !” Perintah kim bum.
“Eeeh? W..wae?” Tanya so eun.
“Tatapanmu sangat menganggu ! Membuatku tidak nyaman !” Balas kim bum yang kini sudah melepaskan tangannya yang menutup mata so eun.
“Uuu m…mian.” balas so eun.
“Kita akan nonton film kan? Jadi percepatlah langkahmu !” Suruh kim bum. Ia lalu berjalan lebih dulu, sementara so eun masih diam di tempat.
‘Ah ya, kim bum-ssi mana mungkin akan mengatakan hal yang seperti itu, kan? Aku terlalu banyak berharap.’ Batin so eun lalu ia pun mengikuti langkah kim bum.

 

Bioskop

“MMWWWOO? sudah penuh!?” Pekik so eun pada petugas bioskop yang bekerja di bagian pembelian tiket.
“Silakan beli saja tiket film lain.” Ujar petugas itu.
“Ah ye.” So eun menunduk lalu menghampiri kim bum yang tengah melihat-lihat poster beberapa film yang dipajang.
“Waeyo?” Tanya kim bum yang heran karena melihat ekspresi murung so eun.
“Kita kehabisan tiketnya, padahal aku ingin sekali menonton film itu bersamamu.” Jawab so eun. Bukannya menghibur, kim bum malah mencubit gemas pipi so eun.
“Bukankah sudah aku katakan sebelumnya kita tak harus pergi makan duluuu, huh? Penuh kan?” Kesal kim bum.
“M..miaaan.” so eun berusaha melepas tangan kim bum yang mencubit pipinya. Kim bum menghela nafasnya.
“Apakah tidak apa-apa kita menonton film lain saja, kim bum-ssi?” Tanya so eun. Kim bum hanya menatap so eun dengan wajah kesal.
“Ah….masih ada satu film yang akan diputar sekarang, film itu !” So eun menunujuk poster film romance dengan judul confession. Mata kim bum mengikuti arah telunjuk so eun.
“Tapi….pasti kim bum-ssi tidak akan mau menonton film seperti itu, kan?” So eun menggaruk tengkuknya. Kim bum terdiam sejenak seraya memperhatikan poster film itu.
“Kalau begitu, ayo kita nonton lain kali saja ! Untuk hari ini kita habiskan jalan-jalan atau semacamnya~ kim bum-ssi tidak suka dengan……”
“Haruskah kita menontonnya?” Potong kim bum.
“Huuh?” So eun menatap kim bum kurang yakin.
“Cepatlah dan beli tiketnya !” Suruh kim bum. So eun menatap kim bum tidak percaya.
“Huh? Aa…apa kau yakin? Itu film romantis kau tahu?” Balas so eun.
“Terserah padaku aku ingin menonton film macam apa, kan? Apa kau keberatan dengan hal itu!?” Tiba-tiba kim bum marah dan menatap so eun dengan kesal.
“A….arasseo.” balas so eun akhirnya.

 

So eun sangat menikmati film dengan judul confession ini. Filmnya sendiri bercerita tentang seorang laki-laki yang ingin menyatakan perasaannya pada perempuan yang ia sukai namun begitu sulit untuk ia ungkapkan. Hanya untuk mengatakan 3 kata ‘aku suka padamu’ atau ‘aku cinta padamu’ serasa sulit bagi si pemeran laki-laki itu untuk mengatakannya. Hal ini jelas sekali menyindir kim bum. Apa yang ia alami sama percis dengan apa yang ada di film itu. Lama-lama ia merasa terganggu dan menyesal juga memilih menonton film ini.
“Filmnya sangat romantis, aku menyukainya. Pemeran laki-lakinya juga keren.” Ujar so eun setelah film tersebut selesai.
“Oh begitukah?” Balas kim bum. So eun mengangguk.
“Aiiih….aku benar-benar kesal dengan tokoh laki-laki itu? Apa susahnya mengatakan ‘suka’ pada perempuan yang ia sukai? Apakah harus sampai perempuan itu mengalami kecelakaan terlebih dahulu baru ia berani mengatakannya?” Oceh seorang perempuan dengan rambut kriting yang berjalan di belakang kim bum saat bubaran dari menonton film itu.
“Kau benar, lelaki seperti itu adalah lelaki yang pengecut. Untung saja pacarku tidak seperti itu.” Balas temannya dengan rambut sebahu.
Kim bum mulai terganggu dengan perkataan-perkataan kedua perempuan itu karena ia merasa tersindir.
“Kim bum-ssi setelah ini haruskan kita pergi ke nam……”
GRAB~ So eun tak melanjutkan perkataannya karena tiba-tiba kim bum menarik tangannya sehingga tubuhnya mendekat ke kim bum. So eun terkejut.
“K…kim bum-ssi?” Kaget so eun. Kim bum menatap so eun dengan serius tepat pada matanya. Selama beberapa detik kim bum hanya menatapnya saja sehingga so eun menatap kim bum dengan bingung. Menatap wajah polos so eun yang menatapnya membuat kim bum kembali mengurungkan niatnya untuk mengatakan kata-kata itu.
“Tch…” kim bum berdecak sebal. Ia sebal dengan dirinya sendiri.
“A…ada apa kim bum-ssi?” Tanya so eun. Kim bum menghela nafasnya seraya memejamkan matanya sebentar.
“Ani, rambutmu hanya sedikit kusut.” Dusta kim bum seraya merapikan rambut so eun dengan cepat lalu setelah itu berpaling dan berjalan meninggalkan so eun.
“Aah…g..gomawo.” so eun memegangi rambutnya.
“Yeah.” Balas kim bum. ‘Kenapa aku jadi bodoh seperti ini?’ Batin kim bum.
So eun memeperhatikan punggung kim bum seraya tersenyum senang. ‘Kim bum-ssi sangat perhatian padaku hari ini, dia bahkan merapikan rambutku.’ Senang so eun yang masih memegangi rambutnya. Ia pun lalu segera mengejar kim bum.
“Hehe kim bum-ssi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Haruskah kita pergi ke namsan tower atau ke sungai han?” Tawar so eun. Kim bum masih diam.
“Kim bum-ssi….” so eun menyentuh lengan kim bum.
“Terserah~ kemana saja asal kau menyukainya !” Jawab kim bum akhirnya. Senyum di bibir so eun mengembang.
“Baiklaaaah, aku ingin melihat pemandangan kota dari atas namsan tower !!!” Ujar so eun. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya lagi saat ini.

 

-today love is begin-

 

So eun dan kim bum menikmati pemandangan kota seoul dari atas namsan tower. So eun terlihat senang sekali, dan tanpa so eun tahu kim bum memperhatikan dirinya.
“Harusnya kita membeli gembok dan menguncinya disini.” Ujar so eun. Kim bum tersadar dan langsung memalingkan wajahnya.
“Heh kau percaya dengan hal yang seperti itu?” Timpal kim bum.
“Kenapa harus tidak percaya? Aku hanya ingin saja di namsan tower ini ada gembok cinta milik aku dan kim bum-ssi.” Balas so eun. Kim bum hanya menghela nafasnya. Lalu mereka pun kembali diam seraya menikmati lampu-lampu yang menghiasi kota seoul di malam hari.
“Woooa jeongmal yeoppeuda~~~ ini adalah pertama kalinya aku berdiri disini dengan orang yang aku sukai, sangat menyanangkan. Apa kau juga merasakan hal yang sama denganku kim bum-ssi?” Tanya so eun seraya menoleh ke samping dan menatap kim bum. Tapi kim bum tidak merespon, ia menatap lurus jauh ke depan.
“Kim bum-ssi, apa kau mendengarku?” Tanya so eun.
“Eh? Huh?” Kim bum baru tersadar. Ternyata barusan ia sedang melamun.
“Kau kelihatan aneh, apa sesuatu telah terjadi?” Tanya so eun khawatir.
“Ani, aku hanya sedikit muak saja.” Jawab kim bum. ‘Muak dengan diriku sendiri’ lanjut kim bum dalam hati.
“Eeh? Kalau begitu haruskan kita turun saja dan pulang?” Tanya so eun. Ia masih merasa khawatir dengan kim bum karena sedari tadi kim bum bersikap aneh.
“Ani…ani…lagipula kau ingin melihat pemandangan kota dari atas namsan tower, kan? Jadi diamlah dan lihat saja pemandangannya !” Balas kim bum. So eun menatap kim bum cukup lama sementara kim bum sendiri menatap lurus ke depan.
‘Di tempat seperti ini begitu banyak pasangan lain yang juga ingin menikmati pemandangan kota. Meskipun kim bum-ssi benci dengan tempat seperti ini, tapi dia masih berdiri disini menemaniku. Aku sangat senang’ batin so eun yang masih memperhatikan kim bum.
“Haaah anginnya sangat sejuk~” ujar so eun sambil tersenyum, angin itu menerpa rambutnya. Ia kini ikut menatap lurus ke depan. Kim bum menoleh menatap so eun, tepat pada saat so eun masih tesenyum senang.
‘Apa yang sulit dengan kata-kata itu? Melihatnya senang membuatku senang juga. Tidak apa aku mengatakannya sekarang hanya untuk membuatnya senang, kan?’ Batin kim bum.
“So eun…..” panggil kim bum sambil tersenyum. So eun langsung menoleh.
“Ne?” Tanya so eun.
“Dengarkan baik-baik, aku hanya akan mengatakannya satu kali.” Ujar kim bum. So eun menatap kim bum dengan bingung kini. Senyumnya yang tadi tersungging perlahan menghilang digantikan dengan wajahnya yang bengong.
“Ne?” Tanya so eun lagi. Kim bum menatap so eun dengan seksama dan bersiap mengatakan sesuatu. Tapi entah kenapa, lagi dan lagi lidahnya terasa kelu. Seperti ada sesuatu yang menahan lidahnya hingga sulit bagi kim bum untuk mengatakannya.
“Tch….” kim bum kesal dengan dirinya sendiri.
“Kau….riasan wajahmu dan penampilanmu tidak terlalu buruk….” ujar kim bum. Tiba-tiba itulah yang keluar dari mulut kim bum. Kim bum langsung menundukkan kepalanya frustasi.
“Ahh….” wajah so eun langsung memerah setelah mendengarnya.
“J..jinjayo?” Tanya so eun memastikan seraya memegangi pipinya.
“Aku senaaaang, tadinya aku khawatir dengan riasan wajahku dan penampilanku, itu karena kim bum-ssi tidak berkomentar apa-apa. Tapi sekarang aku benar-benar senang !!!” Ujar so eun. “Ekekekekek gomawooooo.” Lanjutnya dengan senyum cerahnya. Kim bum masih kelihatan frustasi karena belum juga berhasil mengatakan kata-kata yang ingin so eun dengar.

 

-today love is begin-

 

“Terimakasih sudah mengantarku sampai rumah.” Ujar so eun saat ia sudah berada di depan rumahnya. Kim bum berdiri di hadapan so eun.
“Tidak apa-apa.” Balas kim bum. Tiba-tiba keduanya saling diam. Entah kenapa so eun merasa tidak ingin hari ini berakhir sekarang, ia masih ingin menghabiskan waktu bersama kim bum. Kim bum memperhatikan so eun yang kini tengah menunduk seperti ingin mengatakan sesuatu.
‘Aku rasa ini sudah cukup. Aku menemaninya seharian dan juga memberikannya hadiah. Aku rasa hanya dengan itu dia sudah cukup senang, kan?’ Batin kim bum. Ia lalu menghela nafasnya.
‘Lagipula, bagaimana seorang lak-laki mengatakan ‘aku suka padamu’ dihadapan wajah orang lain?’ Batin kim bum.
“Baiklah….” kim bum menepuk kepala so eun. “Aku pulang.” Ujarnya lalu pergi meninggalkan so eun.
“Aah….tunggu !” Panggil so eun. Kim bum menghentikan langkahnya dan menoleh menatap so eun.
“Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku saat ini. Ini adalah hari ulangtahunku yang benar-benar spesial. Menghabiskan waktu bersama kim bum-ssi membuatku merasa jika aku terlahir di hari yang sangat spesial.” Cerita so eun. “Jeongmal gomawoyo~~~ aku sangat menyukaimu kim bum-ssi !!!” Lanjut so eun. Senyumnya mengembang hingga matanya juga ikut tersenyum. Kim bum nampak kaget, mendengar so eun mengatakan ia menyukainya terdengar begitu mudah dan mengalir begitu saja. Kenapa dirinya tidak bisa?
“Baiklah, selamat malam.” Ujar so eun lalu berbalik tanpa memperhatikan langkahnya dan ia menginjak jalan yang bolong hingga ia hampir saja terjatuh. Namun dengan cepat kim bum menarik pinggang so eun hingga mendekat padanya.
“Ahh…” so eun terkejut.
“Perhatikan langkahmu bodoh !!!” Ujar kim bum.
“M..mian….gomawo….” ujar so eun seraya sedikit memundurkan tubuhnya dari kim bum. Tapi ternyata kim bum malah mempererat tangannya yang merangkul pinggang so eun.
“Eeeh?” So eun kaget karena kim bum tak juga melepaskan tangannya dari pinggangnya. So eun tambah terkejut lagi saat kim bum menenggelamkan wajahnya di pundak so eun.
“Kk…kim bun-ssi….a…ada apa?” So eun mencoba mundur sedikit dan mengangkat kepalanya untuk menatap wajah kim bum. Tapi dengan cepat kim bum malah memeluknya dengan sangat erat, seakan ia tidak ingin so eun melihat wajahnya yang sekarang ini.
“Eeeehhh?” So eun benar-benar kaget pasalnya kim bum memeluknya begitu erat.
“K…kim bum-ssi ! Sakit !!! Ini sakiiit !!!” Protes so eun karena pelukan kim bum yang sangat erat hingga tak bisa membuatnya bergerak.
“Diam !” Suruh kim bum.
“Tapi ini sangat sakit !!! Aku tudak bisa berna……”
“yak diamlah ! Sampai aku mengatakan ‘ok’ jadi diamlah !” Potong kim bum. Kim bum bahkan menahan kepala so eun dengan erat. So eun jadi terdiam juga, pipinya mulai memanas dan sudah terlihat merah. Lalu so eun tersenyum dan balas memeluk kim bum dengan erat juga.
Wajah kim bum sendiri juga memerah. Salah satu alasan ia memeluk so eun dan tidak ingin melepaskannya adalah karena ia tidak ingin so eun melihat wajahnya yang memerah seperti sekarang ini. Sudah hampir 5 menit berlalu mereka masih berpelukan.
“Umm…bukankah ini sudah cukup, kim bum-ssi?” Tanya so eun karena kim bum belum juga melepaskan pelukannya.
“Kau sangat berisik, diam !!!!” Balas kim bum. So eun pun hanya bisa menurut saja.
“Dengar !” Perintah kim bum. “Aku akan mengatakannya sekarang dan aku hanya akan mengatakannya satu kali.” Lanjutnya. So eun mengangguk.
“Aku-suka-padamu !” Aku kim bum dengan penekanan di setiap kata-katanya. So eun tersenyum mendengarnya. “Kau sudah mendengarnya, kau puas?” Tanya kim bum.
So eun kembali mengangguk. “Aku juga sangaaaat menyukaimu, kim bum-ssi.” Balas so eun. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan so eun sekarang ini? Ia sendiri tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata saking senangnya. So eun terus tersenyum di pelukan kim bum. Sementara kim bum sendiri merasa malu setelah mengatakan kata-kata itu. Tak seperti biasanya bahkan wajahnya pun memerah.
‘Bahkan sampai aku mati pun, aku tidak akan pernah menunjukkan wajahku yang seperti ini kepadanya !’ Batin kim bum.

 

Tidak ada yang lebih baik dari hari ini ! Ini adalah ulang tahun yang terbaik !!! Terimakasih kim bum-ssi, aku sangat menyukaimu ! aku beruntung karena aku jatuh cinta kepadamu. Meskipun aku tahu ada sedikit keterpaksaan saat kau mengatakan kau suka padaku. Aku tidak apa-apa karena aku tahu kau bukanlah tipe laki-laki seperti itu. Hanya dengan sikapmu saja kepadaku aku sudah cukup tahu jika kau juga sangat menyukaiku tanpa kau mengatakannya.

To Be Continued

Mian jika ceritanya kurang memuaskan, tapi saya harap kalian menyukainya.

NB :sekali lagi, FF ini merupakan versi bumssonya dari manga kesukaan saya, saya buat mirip sama manga aslinya dan hanya ditambahkan beberapa khayalan saya sendiri. Jadi, jika ada yang masih bingung sama ceritanya atau karakter kim bum disini yah karena seperti itulah cerita dan karakternya.